ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI DANA TILANG PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (Studi Putusan Nomor: 32/Pid.TPK/2014/PN.TJK)

ABSTRAK

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU
TINDAK PIDANA KORUPSI DANA TILANG PENERIMAAN
NEGARA BUKAN PAJAK
(Studi Putusan Nomor: 32/Pid.TPK/2014/PN.TJK)
Oleh
FAHMI REZA INTAMA

Tindak pidana korupsi merupakan tindak pidana dan perbuatan melawan hukum
yang dilakukan oleh seseorang atau korporasi yang berdampak pada kerugian
keuangan negara, sehingga pelakunya harus dihukum maksimal. Permasalahan
dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana
terhadap pelaku tindak pidana korupsi dana tilang Penerimaan Negara Bukan Pajak
dalam Putusan Nomor: 32/Pid.TPK/2014/PN.TJK? (2) Apakah dasar pertimbangan
hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi dana tilang
Penerimaan Negara Bukan Pajak dalam Putusan Nomor: 32/Pid.TPK/2014
/PN.TJK?
Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan yuridis normatif dan yuridis
empiris. Jenis data menggunakan data sekunder dan data primer. Narasumber
penelitian terdiri dari Jaksa pada Kejaksaan Negeri Bandar Lampung, Hakim pada
Pengadilan Negeri Tanjung Karang dan Dosen Bagian Pidana Fakultas Hukum
Universitas Lampung. Analisis data menggunakan analisis kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku
tindak pidana korupsi dana tilang Penerimaan Negara Bukan Pajak dilakukan
dengan pemidanaan sebagaimana tertuang dalam Putusan Pengadilan Nomor:
32/Pid.TPK/2014/PN.TJK, karena perbuatan tersebut telah memenuhi unsur-unsur
pertanggungjawaban pidana yaitu pelaku telah cakap atau dewasa untuk melakukan
perbuatan melawan hukum, tidak ada alasan pembenar dan alasan pemaaf bagi
terdakwa, sehingga pelaku harus mempertanggungjawabkan tindak pidana korupsi
karena memenuhi unsur kesengajaan. Majelis hakim menjatuhkan pidana terhadap
terdakwa Rika Aprilia dengan pidana penjara selama 5 tahun penjara dan denda
sebesar Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) subsidair selama 3 bulan kurungan.
Selain itu hakim juga menjatuhkan pidana uang pengganti sebesar Rp.
1.418.479.500 (satu miliar empat ratus delapan belas juta empat ratus tujuh puluh
Sembilan ribu lima ratus rupiah). (2) Dasar pertimbangan hakim dalam
menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi dana tilang Penerimaan
Negara Bukan Pajak adalah pertimbangan yuridis yaitu terpenuhinya alat-alat bukti
dalam persidangan sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHAP, terdiri dari
keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Selain

Fahmi Reza Intama
itu hakim juga memiliki dasar pertimbangan non yuridis (di luar ketentuan
KUHAP), baik yang meringankan yaitu terdakwa mengakui perbuatannya, belum
pernah dihukum dan memiliki anak yang masih kecil, serta yang memberatkan
hukuman bagi terdakwa yaitu merugikan keuangan negara dan tidak mendukung
program pemerintah di bidang pemberantasan korupsi.
Saran dalam penelitian ini adalah: (1) Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku
tindak pidana korupsi hendaknya dioptimalkan melalui pemidanaan yang maksimal
sesuai dengan ancaman yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan. (2)
Hakim dalam menjatuhkan pidana kepada pelaku tindak pidana korupsi disarankan
untuk mempertimbangkan berbagai aspek yang menyebabkan terjadinya tindak
pidana, kepentingan masyarakat terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi dan
besarnya kerugian negara yang diakibatkan oleh perbuatan terdakwa.
Kata Kunci: Pertanggungjawaban Pidana, Korupsi, Tilang

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU
TINDAK PIDANA KORUPSI DNA TILANG PENERIMAAN NEGARA
BUKAN PAJAK
(Studi Putusan Nomor: 32/PID.TPK/2014/PN.TJK)

Oleh

FAHMI REZA INTAMA

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
Sarjana Hukum
Pada
Bagian Hukum Pidana
Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015

RIWAYAT HIDUP

Fahmi Reza Intama lahir di Tanjung Karang tanggal 6
September 1991, anak kedua dari tiga bersaudara dari
pasangan Edy sofyan, S.E., dan Dra. Nadiah. Penulis
mempunyai satu orang kakak bernama Farhan Wahyudi
Intama dan adik bernama Ferdiyansyah Ariesta Intama.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh penulis, yaitu Taman Kanak-Kanak
AL-Azhar III, diselesaikan pada tahun 1997. Sekolah Dasar AL-Kautsal,
diselesaikan pada tahun 2003. Sekolah Menengah Pertama AL-Kautsar,
diselesaikan pada tahun 2006. Dan Sekolah Menengah Atas AL-Kautsar,
diselesaikan pada tahun 2009.

Pada tahun 2011 penulis diterima sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi
Negeri (SNMPTN) Tertulis dan pada semester lima penulis mengambil bagian
Hukum Pidana. Pada bulan Januari tahun 2015, penulis mengikuti Kuliah Kerja
Nyata (KKN) Tematik Unila Tahap I yang di laksanakan dalam bentuk Kuliah Kerja
Nyata di Kampung Marga Jaya Kecamatan Negara Batin Kabupaten Way Kanan
selama 40 hari di laksanakan bersama 9 orang peserta yang berasal dari berbagai
Fakultas di Universitas Lampung.

PERSEMBAHAN

Teriring Do’a dan Rasa Syukur Kehadirat Allah SWT Atas Rahmat dan HidayahNya Serta Junjungan Tinggi Rasulullah Muhammad SAW

Kupersembahkan Skripsi ini kepada :

Abi dan Mamah, sebagai orang tua penulis tercinta yang telah mendidik,
membesarkan dan membimbing penulis menjadi sedemikian rupa yang selalu
memberikan kasih sayang yang tulus dan memberikan do’a
yang tak pernah putus untuk setiap langkah yang penulis lewati

Kakak penulis, Farhan Wahyudi Intama
dan Adik penulis, Ferdiyansyah Ariesta Intama
yang selalu Mendukung dan Membantu.

Sahabat-sahabat penulis yang tidak bisa untuk disebutkan satu-persatu
yang telah banyak membantu, menemani dan memberikan dukungan
kepada penulis selama ini.
Terimakasih atas persahabatan yang indah yang telah kalian berikan
dan waktu yang telah kalian luangkan

Almamaterku Tercinta Universitas Lampung

MOTO

“Kamu sekalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya
mengenai orang yang dipimpinnya”
(H.R. Bukhari Muslim)

“Kesuksesan tidak akan bertahan jika dengan jalan pintas”
“Learn from the past, live for today and plan for tomorrow”
(Penulis)

SANWACANA

Segala puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah SWT dan shalawat serta
salam selalu tercurahkan kepada Rasululla Muhammad SAW beserta sahabatnya.
Allhamdulillah atas Kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi
yang berjudul “Analisis Pertanggungjawaban Pidana terhadap Pelaku Tindak
Pidana Korupsi Dana Tilang Penerimaan Negara Bukan Pajak”, sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Lampung.

Terselesaikannya skripsi ini tak lepas dari bantuan, dukungan dan bimbingan
berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini dengan segala kerendahan hati
penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tulus kepada:
1.

Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., selaku Rektor Universitas
Lampung.

2.

Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H.,M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Lampung.

3.

Ibu Diah Gustiniati M, S.H.,M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Pidana
Fakultas Hukum Universitas Lampung.

4.

Maya Shafira, S.H.,M.H., selaku Pembimbing Akademik penulis atas
kesediaanya membantu, mengarahkan dan memberi masukan selama penulis
menempuh pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Lampung.

i

5.

Ibu Diah Gustiniati M, S.H.,M.H., selaku Pembimbing I (satu) yang telah
meluangkan waktu dan fikirannya serta memberikan kritik,saran, masukan
dan semangat untuk penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

6.

Bapak Tri Andarisman, S.H.,M.H., selaku Pembimbing II (dua) yang telah
meluangkan waktu dan fikirannya serta memberikan kritik, saran, masukan
dan semangat untuk penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

7.

Ibu Dr. Erna Dewi, S.H.,M.H., selaku Pembahas I (satu) yang telah
memberikan kritik, saran dan masukan yang membangun terhadap skripsi ini.

8.

Bapak A. Irzal Fardiansyah, S.H.,M.H., selaku Pembahas II (dua) yang telah
memberikan kritik, saran dan masukan yang membangun terhadap skripsi ini.

9.

Seluruh Dosen beserta seluruh staf karyawan Fakultas Hukum Universitas
Lampung yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan juga pembelajaran
berharga bagi penulis.

10. Ibu Nursiah Sianipar, S.H.,M.H., selaku Hakim Tipikor Pengadilan Negri
Kelas 1 A yang telah bersedia memberi masukan dan pendapat.
11. Kepada Orang tuaku Papa Mama tercinta yang tak pernah berhenti berdoa
dan tak pernah letih berusaha untuk keberhasilanku, serta seluruh keluarga
besar yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.
12. Kepada kekasih tersayang Rizkifa Marfinda Sinungan yang telah membantu,
memberikan semangat dan mendoakanku.
13. Kepada teman seperjuanganku selama perkuliahan di Fakultas Hukum
Universitas Lampung, Mute, Dea, Almira, Shintya Sardi, Deswandi, Darvi,
mamet, Gery, Himawan, Hilman, Abdul, Abah, indah, Ferdiyan, Danan, Mia,
Gracelda, Dopdon, Fitry, Fima Agatha, Tyo, Putra dan semua teman-teman

ii

Angkatan 2011 Fakultas Hukum Universitas Lampung yang selalu membantu
dan memberi semangat dalam penyelesaian skripsi ini.
14. Sahabat-sahabatku CDT, M. Fariz Banuwa, S.H., M.Kn., Reveni Softiani,
S.IP., Revina Softiana, S.E., Arief Merianto, S.H., Ridza Ananda Lubis, S.H.,
Riga Limba, S.T., Bambang Seprianto, S.H., Dafson Rafsanjani, S.H.,
Raditya Satwika, S.H., M.H., Susan Dercelina, S.IP., M.IP., Boller dan Adi
Permana.
15. Teman-teman KKN-ku (Muklis, Eko, Fanny, Ical, Asoly, Lena, Dona,
Puspita) yang memberikan kenangan selama menjalankan KKN selama 40
hari di Desa Margajaya Kecamatan Negara Batin Kabupaten Way Kanan.
16. Teman-temanku yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu, yang selalu
menjadi bagian dalam ingatan dan hidupku.
17. Almamaterku tercinta Fakultas Hukum Universitas Lampung.
Akhirnya, harapan penulis semoga skripsi yang sangat sederhana ini dapat
memberikan manfaat bagi para pembaca. Dalam penulisan ini tentunya masih
banyak terdapat kekurangan, kekurangan yang ada semata-mata karena
ketidakmampuan penulis dalam meluangkan ide-ide, dan semoga akan banyak
penulis-penulis lain yang menyempurnakannya.

Bandar Lampung, 27 April 2015
Penulis,

Fahmi Reza Intama

iii

DAFTAR ISI

I

II

III

IV

PENDAHULUAN .................................................................................

1

A. Latar Belakang Masalah ....................................................................

1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian ..................................

7

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .....................................................

8

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ....................................................

9

E. Sistematika Penulisan .......................................................................

15

TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................

17

A. Pertanggungjawaban Pidana .............................................................

17

B. Pengertian Tindak Pidana .................................................................

23

C. Pengertian Tindak Pidana Korupsi ...................................................

25

D. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Pidana..................

29

METODE PENELITIAN .....................................................................

32

A. Pendekatan Masalah ..........................................................................

32

B. Sumber dan Jenis Data ......................................................................

33

C. Penentuan Narasumber......................................................................

34

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ..................................

35

E. Analisis Data .....................................................................................

36

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ....................................

37

A. Karakteristik Narasumber .................................................................

37

B. Pertanggungjawaban Pidana terhadap Pelaku Tindak Pidana
Korupsi Dana Tilang Penerimaan Negara Bukan Pajak
dalam Putusan Nomor 32/Pid. TPK/2014/PN.TJK ...........................

38

V

C. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Pidana terhadap
Pelaku Tindak Pidana Korupsi Dana Tilang Penerimaan Negara
Bukan Pajak dalam Putusan Nomor 32/Pid. TPK/2014/PN.TJK .....

57

PENUTUP ...............................................................................................

66

A. Simpulan ...........................................................................................

66

B. Saran ..................................................................................................

67

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tindak pidana korupsi merupakan salah satu tindak pidana dan perbuatan
melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang atau korporasi dengan tujuan
untuk menguntungkan diri sendiri atau korporasi, dengan cara menyalahgunakan
wewenang, kesempatan atau sarana yang melekat pada jabatannya dan berdampak
pada kerugian keuangan negara.

Menurut ketentuan Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
sebagaimana telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UUPTPK) disebutkan:
“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan
pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat)
tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit
Rp.200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak 1.000.000.000,(satu milyar rupiah).”
Berdasarkan pengertian korupsi dalam Pasal 2 Ayat (1) UUPTPK di atas, maka
diketahui bahwa terdapat tiga unsur tindak pidana korupsi yaitu secara melawan
hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi yang dapat merugikan negara atau perekonomian negara.

2

Secara ideal setiap pelaku tindak pidana korupsi harus dipidana secara maksimal
sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yaitu
setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau
suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun
dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).

Tindak pidana korupsi berdampak pada kerugian keuangan negara dan
menghambat pembangunan nasional, sehingga harus diberantas dalam rangka
mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Akibat tindak pidana korupsi yang terjadi selama ini selain merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara, juga menghambat pertumbuhan dan
kelangsungan pembangunan nasional yang menuntut efisiensi tinggi.

Tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana tidak saja
terhadap kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa
dan bernegara pada umumnya. Tindak pidana korupsi yang meluas dan sistematis
juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi
masyarakat, dan karena itu semua maka tindak pidana korupsi tidak lagi dapat
digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi suatu kejahatan luar

3

biasa (extra ordinary crime), oleh karena itu diperlukan penegakan hukum yang
komprehensif.

Pemerintah Indonesia dalam upaya mewujudkan supremasi hukum, telah
meletakkan landasan kebijakan yang kuat dalam usaha memerangi korupsi.
Berbagai kebijakan tersebut tertuang dalam peraturan perundang-undangan, antara
lain dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia Nomor
XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas korupsi,
Kolusi dan Nepotisme. Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 tentang
Penyelenggara Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme serta Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.1

Upaya untuk menjamin penegakan hukum harus dilaksanakan secara benar, adil,
tidak ada kesewenang-wenangan, tidak ada penyalahgunaan kekuasaan, ada
beberapa asas yang harus selalu tampil dalam setiap penegakan hukum, yaitu asas
tidak berpihak (impartiality), asas kejujuran dalam memeriksa dan memutus
(fairness), asas beracara benar (prosedural due process), asas menerapkan hukum
secara benar yang menjamin dan melindungi hak-hak substantif pencari keadilan
dan kepentingan sosial (lingkungan), asas jaminan bebas dari segala tekanan dan
kekerasan dalam proses peradilan. Sistem peradilan pidana sebagai pelaksanaan
dan penyelenggaan penegakan hukum terdiri dari beberapa badan yaitu
1

Eddy Mulyadi Soepardi, Memahami Kerugian Keuangan Negara sebagai Salah Satu Unsur
Tindak Pidana Korupsi, Yograkarta: Ghalia Indonesia, 2009, hlm. 3.

4

kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan, yang saling
berhubungan antara satu dengan yang lainnya. 2

Tindak pidana korupsi di Indonesia dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang pada
umumnya memiliki posisi penting dalam pemerintahan, termasuk oleh para
Pegawai Negeri Sipil di dalam lingkungan pemerintahan daerah. Beberapa modus
operandi korupsi sebagai berikut:
1) Penggelapan; tindak pidana korupsi penggelapan antara lain ditandai
dengan adanya para pelaku, seperti menggelapkan aset-aset harta kekayaan
negara atau keuangan negara untuk memperkaya dirinya sendiri atau orang
lain.
2) Pemerasan; bentuk tindak pidana korupsi pemerasan antara lain dengan
ditandainya adanya pelaku seperti memaksa seorang secara melaan hukum
yang berlaku agar memberikan sesuatu barang atau uang kepada yang
bersangkutan.
3) Penyuapan; bentuk tindak pidana korupsi penyuapan antara lain ditandai
adanya para pelakunya, seperti memberikan suap kepada oknum-oknum
pegawai negeri agar si penerima suap memberikan kemudahan dalam
pemberian izin, kredit Bank dll. yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
4) Manipulasi; antara lain ditandai dengan adanya para pelakunya yang
melakukan mark-up proyek pembangunan, SPJ, pembiayaan gedung/
kantor, pengeluaran anggaran fiktif.
5) Pungutan Liar; bentuk korupsi pungutan liar antara lain ditandai dengan
adanya para pelakunya yang malakukan pungutan liar di luar ketentuan
peraturan. Umumnya pungutan liar ini dilakukan terhadap
seseorang/koorporasi jika ada kepentingan atau berurusan dengan instansi
pemerintah.
6) Kolusi dan Nepotisme; yaitu pengangkatan sanak saudara, teman-teman
atau kelompok politiknya pada jabatan dalam kedinasan aparat pemerintah
tanpa memandang keahlian dan kemampuan.3
Tindak Pidana Korupsi sebagai tindak pidana khusus di luar KUHP dinyatakan
secara tegas dalam Pasal 25 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun1960 yang
mulai berlaku pada tanggal 9 Juni 1960 tentang pengusutan, penuntutan dan
pemeriksaan tindak pidana.
2

Andi Hamzah, Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana, Jakarta: Ghalia Indonesia,
2001, hlm. 22.
3
Eddy Mulyadi Soepardi, op cit, hlm. 4.

5

Setiap

pelaku

yang

terbukti

melakukan

tindak

pidana

korupsi

harus

mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum, sesuai dengan
ketentuan undang-undang. Setiap warga negara wajib menjunjung hukum, namun
demikian dalam kenyataan sehari-hari adanya warga negara yang lalai/sengaja
tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan masyarakat, dikatakan
bahwa warga negara tersebut melanggar hukum karena kewajibannya tersebut
telah ditentukan berdasarkan hukum. Seseorang yang melanggar hukum harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan aturan hukum.

Salah satu perkara tindak pidana korupsi di wilayah hukum Kota Bandar
Lampung adalah korupsi dana tilang yang dilakukan oleh Rika Aprilia (34)
Mantan Bendahara Kejaksaan Negeri Bandar Lampung diduga melakukan korupsi
penerimaan

negara

bukan

pajak

(PNBP)

tahun

2012-2013

senilai

Rp 1.418.479.500. Rika bertugas menerima, menyimpan, menyetorkan, dan
mempertanggungjawabkan uang PNBP di kantor dan satuan kerja kementerian
negara. Ia diangkat sebagai bendahara khusus penerimaan berdasar Surat
Keputusan Kepala Kejari Bandarlampung Nomor: KEP-03/N.8.10/Cu.1/01/2012
tertanggal 2 Januari 2012 dan Nomor: KEP-05/N.8.10/Cu.1/02/2013 pada 14
Februari 2013. Sebagai bendahara, seharusnya terdakwa menyetorkan seluruh
PNBP ke kas negara dalam waktu 1 x 24 jam. Ini sesuai UU Nomor 20/1997
tentang PNBP, namun, terdakwa tidak menyetorkan uang itu ke kas negara. Ia
menggunakan uang yang telah disetorkan dari Kasipidum maupun Kasipidsus
Kejari Bandar Lampung sebagai PNBP untuk kepentingan pribadi. Untuk
memuluskan aksinya, terdakwa memalsukan bukti surat tanda setoran (STS) serta
surat setor bukan pajak (SSPB) dengan tanda tangan pihak bank sebagai PNPB.

6

Dengan begitu, ia seolah-olah sudah menyetorkan dana tersebut. Akibat perbuatan
terdakwa, negara dirugikan sebesar Rp 1.418.479.500. 4

Jaksa Penuntut Umum menjerat terdakwa dengan pasal berlapis. Pada dakwaan
primer yaitu Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kemudian dakwaan subsider melanggar
Pasal 3 ayat 1 juncto Pasal 18 Ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dakwaan primair perbuatan
terdakwa telah diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 Ayat (1) jo Pasal 18
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo-Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Dakwaan subsider, terdakwa diancam Pasal 3 Ayat (1) juncto Pasal 18 Ayat (1)
huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun
1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP.
Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Tanjung Karang
menenjatuhkan vonis terhadap terdakwa Rika Aprilia selama lima tahun penjara
dan pidana uang pengganti sebesar Rp 1.418.479.500.5

4

http://lampung.tribunnews.com/2014/08/26/breaking-news-rika-aprilia-divonis-lima-tahunpenjara. Diakses. 6 September 2014
5
Ibid.

7

Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Tanjung
Karang melalui Putusan Nomor: 32/Pid.TPK/2014/PN.TJK, menjatuhkan pidana
terhadap Terdakwa Rika Aprilia dengan pidana penjara selama 5 tahun penjara
dan denda sebesar Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) subsidair selama 3 bulan
kurungan. Selain itu hakim juga menjatuhkan pidana uang pengganti sebesar Rp.
1.418.479.500 (satu miliar empat ratus delapan belas juta empat ratus tujuh puluh
Sembilan ribu lima ratus rupiah). Pidana yang dijatuhkan majelis hakim terhadap
Terdakwa tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban pidana atas tindak
pidana korupsi yang dilakukan terdakwa.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis melaksanakan penelitian dalam
rangka penyusunan Skripsi dengan judul: “Pertanggungjawaban pidana terhadap
pelaku tindak pidana korupsi dana tilang Penerimaan Negara Bukan Pajak dalam
Putusan Nomor: 32/Pid.TPK/2014/PN.TJK” (Studi Kasus Kejaksaan Negeri
Bandar Lampung)

B. Permasalaham dan Ruang Lingkup Penelitian

1. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana
korupsi dana tilang Penerimaan Negara Bukan Pajak dalam Putusan Nomor:
32/Pid.TPK/2014/PN.TJK?
b. Apakah dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap
pelaku tindak pidana korupsi dana tilang Penerimaan Negara Bukan Pajak
dalam Putusan Nomor: 32/Pid.TPK/2014/PN.TJK?

8

2. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup studi dalam penelitian ini adalah kajian ilmu Hukum Pidana,
khususnya yang berkaitan dengan penegakan hukum pidana terhadap pelaku
tindak pidana korupsi dana tilang. Ruang lingkup lokasi penelitian adalah pada
Pengadilan Negeri Tanjung Karang dan waktu penelitian adalah pada tahun 2014.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk menganalisis pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak
pidana korupsi dana tilang Penerimaan Negara Bukan Pajak dalam Putusan
Nomor: 32/Pid.TPK/2014/PN.TJK
b. Untuk menganalisis dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana
terhadap pelaku tindak pidana korupsi dana tilang Penerimaan Negara Bukan
Pajak dalam Putusan Nomor: 32/Pid.TPK/2014/PN.TJK

2. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Kegunaan Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam
pengembangan kajian hukum pidana, khususnya yang berkaitan dengan
pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi dana tilang
Penerimaan Negara Bukan Pajak.

9

b. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna secara positif bagi aparat
penegak hukum dalam upaya penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana
korupsi. Selain itu hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi berbagai
pihak-pihak

lain

yang

akan

melakukan

penelitian

mengenai

pertanggungjawaban pidana di masa-masa yang akan dating.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis
Kerangka teoritis adalah abstraksi hasil pemikiran atau kerangka acuan atau dasar
yang relevan untuk pelaksanaan penelitian hukum6. Berdasarkan definisi tersebut
maka kerangka teoritis dalam penelitian ini adalah:

a. Teori Pertanggungjawaban Pidana
Untuk dapat dipertanggungjawabkan secara pidana, maka suatu perbuatan
harus mengandung kesalahan. Kesalahan tersebut terdiri dari dua jenis yaitu
kesengajaan (opzet) dan kelalaian (culpa).
1) Kesengajaan (opzet)
Kesengajaan terdiri dari tiga macam, yaitu sebagai berikut:
a. Kesengajaan yang bersifat tujuan
Bahwa dengan kesengajaan yang bersifat tujuan, si pelaku dapat
dipertanggungjawabkan dan mudah dapat dimengerti oleh khalayak
ramai. Apabila kesengajaan seperti ini ada pada suatu tindak pidana, si
pelaku pantas dikenakan hukuman pidana.
b. Kesengajaan secara keinsyafan kepastian
Kesengajaan ini ada apabila si pelaku, dengan perbuatannya tidak
bertujuan untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari delik, tetapi
ia tahu benar bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan itu.

6

Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. Rineka Cipta. Jakarta. 1983. hlm.72

10

c. Kesengajaan secara keinsyafan kemungkinan
Kesengajaan ini yang terang-terang tidak disertai bayangan suatu
kepastian akan terjadi akibat yang bersangkutan, melainkan hanya
dibayangkan suatu kemungkinan belaka akan akibat itu.
2) Kelalaian (culpa)
Kelalaian (culpa) terletak antara sengaja dan kebetulan, bagaimanapun
juga culpa dipandang lebih ringan dibanding dengan sengaja, oleh karena
itu delik culpa, culpa itu merupakan delik semu (quasideliet) sehingga
diadakan pengurangan pidana. Delik culpa mengandung dua macam, yaitu
delik kelalaian yang menimbulkan akibat dan yang tidak menimbulkan
akibat, tapi yang diancam dengan pidana ialah perbuatan ketidak hatihatian itu sendiri, perbedaan antara keduanya sangat mudah dipahami
yaitu kelalaian yang menimbulkan akibat dengan terjadinya akibat itu
maka diciptalah delik kelalaian, bagi yang tidak perlu menimbulkan akibat
dengan kelalaian itu sendiri sudah diancam dengan pidana.7

Berdasarkan hal tersebut maka pertanggungjawaban pidana atau kesalahan
menurut hukum pidana, terdiri atas tiga syarat, yaitu:
a. Kemampuan bertanggung jawab atau dapat dipertanggungjawabkan
dari si pembuat.
b. Adanya perbuatan melawan hukum yaitu suatu sikap psikis si pelaku
yang berhubungan dengan kelakuannya yang disengaja dan sikap
kurang hati-hati atau lalai
c. Tidak ada alasan pembenar atau alasan pemaaf dapat yang
menghapuskan pertanggungjawaban pidana bagi si pembuat8
Pelaku tindak pidana harus mempertanggungjawabkan perbuataannya, dengan
dasar kemampuan bertanggung jawab, ada perbuatan melawan hukum dan
tidak ada alasan pemaaf atau pembenar atas tindak pidana yang dilakukannya.

b. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Pidana
Hakim dalam mengadili pelaku tindak pidana harus melalui proses penyajian
kebenaran dan keadilan dalam suatu putusan pengadilan sebagai rangkaian
proses penegakan hukum, maka dapat dipergunakan teori kebenaran. Dengan

7

Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggung jawaban Dalam Hukum Pidana, Jakarta: Bina
Aksara, 1993, hlm. 46.
8
Ibid, hlm. 51.

11

demikian, putusan pengadilan dituntut untuk memenuhi teori pembuktian,
yaitu saling berhubungan antara bukti yang satu dengan bukti yang lain,
misalnya, antara keterangan saksi yang satu dengan keterangan saksi yang lain
atau saling berhubungan antara keterangan saksi dengan alat bukti lain (Pasal
184 KUHAP).

Kekuasaan kehakiman merupakan badan yang menentukan dan kekuatan
kaidah-kaidah hukum positif dalam konkretisasi oleh hakim melalui
putusanputusannya. Bagaimanapun baiknya segala peraturan perundangundangan yang siciptakan dalam suatu negara, dalam usaha menjamin
keselamatan masyarakat menuju kesejahteraan rakyat, peraturan-peraturan
tersebut tidak ada artinya, apabila tidak ada kekuasaan kehakiman yang bebas
yang diwujudkan dalam bentuk peradilan yang bebas dan tidak memihak,
sebagai salah satu unsur Negara hukum.9

Hakim sebagai pelaksana dari kekuasaan kehakiman mempunyai kewenangan
dalam peraturan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan hal ini
dilakukan oleh hakim melalui putusannya. Fungsi hakim adalah memberikan
putusan terhadap perkara yang diajukan, di mana dalam perkara pidana, hal itu
tidak terlepas dari sistem pembuktian negatif, yang pada prinsipnya
menetukan bahwa suatu hak atau peristiwa atau kesalahan dianggap telah
terbukti, disamping adanya alat-alat bukti menurut undang-undang juga

9

Ahmad Rifai, Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Persfektif Hukum Progresif, Jakarta: Sinar
Grafika.2010, hlm.101.

12

ditentukan keyakinan hakim yang dilandasi denganintegritas moral yang
baik.10

Secara kontekstual ada tiga esensi yang terkandung dalam kebebasan hakim
dalam melaksanakan kekuasaan kehakiman yaitu:
a. Hakim hanya tunduk pada hukum dan keadilan;
b. Tidak seorangpun termasuk pemerintah dapat mempengaruhi atau
mengarahkan putusan yang akan dijatuhkan oleh hakim;
c. Tidak ada konsekuensi terhadap pribadi hakim dalam menjalankan
tugas dan fungsi yudisialnya.11
Kebebasan hakim dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara merupakan
mahkota bagi hakim dan harus tetap dikawal dan dihormati oleh semua pihak
tanpa kecuali, sehingga tidak ada satu pihak yang dapat menginterpensi hakim
dalam menjalankan tugasnya tertentu. Hakim dalam menjatuhkan putusan
harus mempertimbangkan banyak hal, baik itu yang berkaitan dengan perkara
yang sedang diperiksa, tingkat perbuatan dan kesalahan yang dilakukan
pelaku,

kepentingan

pihak

korban,

keluarganya

dan

rasa

keadilan

masyarakat12

Menurut Mackenzie ada beberapa teori atau pendekatan yang dapat
dipergunakan oleh hakim dalam penjatuhan putusan dalam suatu perkara,
yaitu sebagai berikut:
a. Teori keseimbangan
Yang dimaksud dengan keseimbangan disini keseimbangan antara syaratsyarat yang ditentukan undang-undang dan kepentingan pihak-pihak yang
tersangkut atau berkaitan dengan perkara, yaitu antara lain seperti adanya
keseimbangan yang berkaitan dengan masyarakat dan kepentingan
terdakwa.

10

Ibid. hlm.102.
Ibid, hlm.103.
12
Ibid, hlm.104.

11

13

b. Teori pendekatan seni dan intuisi
Penjatuhan putusan oleh hakim merupakan diskresi atau kewenangan dari
hakim. Sebagai diskresi, dalam penjatuhan putusan hakim menyesuaikan
dengan keadaan dan pidana yang wajar bagi setiap pelaku tindak pidana,
hakim akan melihat keadaan pihak terdakwa atau penuntut umum dalam
perkara pidana. Pendekatan seni dipergunakan oleh hakim dalam
penjatuhan putusan, lebih ditentukan oleh instink atau intuisi dari pada
pengetahuan dari hakim
c. Teori pendekatan keilmuan
Titik tolak dari teori ini adalah pemikiran bahwa proses penjatuhan pidana
harus dilakukan secara sistematik dan penuh kehati-hatian khususnya
dalam kaitannya dengan putusan-putusan terdahulu dalam rangka
menjamin konsistensi dari putusan hakim. Pendekatan keilmuan ini
merupakan semacam peringatan bahwa dalam memutus suatu perkara,
hakim tidak boleh semata-mata atas dasar intuisi atau instink semata, tetapi
harus dilengkapi dengan ilmu pengetahuan hukum dan juga wawasan
keilmuan hakim dalam menghadapi suatu perkara yang harus
diputuskannya.
d. Teori Pendekatan Pengalaman
Pengalaman dari seorang hakim merupakan hal yang dapat membantunya
dalam menghadapi perkara-perkara yang dihadapinya sehari-hari, dengan
pengalaman yang dimilikinya, seorang hakim dapat mengetahui
bagaimana dampak dari putusan yang dijatuhkan dalam suatu perkara
pidana yang berkaitan dengan pelaku, korban maupun masyarakat.
e. Teori Ratio Decidendi
Teori ini didasarkan pada landasan filsafat yang mendasar, yang
mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara
yang disengketakan, kemudian mencari peraturan perundang-undangan
yang relevan dengan pokok perkara yang disengketakan sebagai dasar
hukum dalam penjatuhan putusan, serta pertimbangan hakim harus
didasarkan pada motivasi yang jelas untuk menegakkan hukum dan
memberikan keadilan bagi para pihak yang berperkara.
f.

13

Teori kebijaksanaan
Teori ini diperkenalkan oleh Made Sadhi Astuti, di mana sebenarnya teori
ini berkenaan dengan putusan hakim dalam perkara di pengadilan anak.
Aspek ini menekankan bahwa pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang
tua ikut bertanggungjawab untuk membimbing, membina, mendidik dan
melindungi anak, agar kelak dapat menjadi manusia yang berguna bagi
keluarga, masyarakat dan bagi bangsnya.13

Ahmad Rifai, op cit. hlm.105-106.

14

2. Konseptual
Konseptual adalah susunan konsep-konsep sebagai fokus pengamatan dalam
melaksanakan penelitian, khususnya dalam penelitian ilmu hukum. Analisis
pokok-pokok bahasan dalam penelitian ini dan memberikan batasan pengertian
yang berhubungan dengan yaitu sebagai berikut:
a. Pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility) adalah suatu mekanisme
untuk menentukan apakah seseorang terdakwa atau tersangka dipertanggung
jawabkan atas suatu tindakan pidana yang terjadi atau tidak. Untuk dapat
dipidananya si pelaku, disyaratkan bahwa tindak pidana yang dilakukannya itu
memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan dalam undang-undang. 14
b. Tindak Pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum,
larangan mana yang disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu
bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. Tindak pidana merupakan
pelanggaran norma atau gangguan terhadap tertib hukum, yang dengan
sengaja atau tidak sengaja telah dilakukan terhadap seorang pelaku15
c. Pelaku tindak pidana adalah setiap orang yang melakukan perbuatan
melanggar atau melawan hukum sebagaimana dirumuskan dalam undangundang. Pelaku tindak pidana harus diberi sanksi demi terpeliharanya tertib
hukum dan terjaminnya kepentingan umum16
d. Tindak pidana korupsi adalah menurut Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UUPTPK) adalah setiap orang yang

14

Moeljatno, op cit, hlm. 49.
Ibid, hlm. 53.
16
Satjipto Rahardjo, Bunga Rampai Permasalahan Dalam Sistem Peradilan Pidana, Jakarta:
Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum. 1998, hlm. 25.
15

15

secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau
orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun dan denda paling sedikit Rp.200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan
paling banyak 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).
e. Tilang menurut Pasal 1 angka 4 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2012
tentang Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan dan Penindakan
Pelanggaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, merupakan kependekan dari
istilah Bukti Pelanggaran, yaitu alat bukti pelanggaran tertentu di bidang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan dengan format tertentu yang ditetapkan disebutkan
f. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menurut Pasal 1 angka 1 UndangUndang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak,
adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari
penerimaan perpajakan.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika yang disajikan agar mempermudah dalam penulisan skripsi secara
keseluruhan diuraikan sebagai berikut:
I

PENDAHULUAN
Berisi pendahuluan penyusunan skripsi yang terdiri dari Latar Belakang,
Permasalahan dan Ruang Lingkup, Tujuan dan Kegunaan Penelitian,
Kerangka Teori dan Konseptual serta Sistematika Penulisan.

16

II

TINJAUAN PUSTAKA
Berisi tinjauan pustaka dari berbagai konsep atau kajian yang berhubungan
dengan penyusunan skripsi yaitu pengertian Pertanggungjawaban Pidana,
Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Pidana, Pengertian dan
Dasar Hukum Tindak Pidana Korupsi.

III

METODE PENELITIAN
Berisi metode yang digunakan dalam penelitian, terdiri dari Pendekatan
Masalah, Sumber Data, Penentuan Populasi dan Sampel, Prosedur
Pengumpulan dan Pengolahan Data serta Analisis Data.

IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berisi deskripsi berupa penyajian dan pembahasan data yang telah didapat
penelitian,

terdiri

dari

deskripsi

dan

analisis

mengenai

pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi dana
tilang Penerimaan Negara Bukan Pajak dalam Putusan Nomor:
32/Pid.TPK/2014/PN.TJK

dan dasar pertimbangan hakim dalam

menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana korupsi dana tilang
Penerimaan

Negara

Bukan

Pajak

dalam

Putusan

Nomor:

32/Pid.TPK/2014/PN.TJK

V

PENUTUP
Berisi kesimpulan umum yang didasarkan pada hasil analisis dan
pembahasan penelitian serta berbagai saran sesuai dengan permasalahan
yang ditujukan kepada pihak-pihak yang terkait dengan penelitian.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pertanggungjawaban Pidana

Pertanggungjawaban pidana mengandung asas kesalahan (asas culpabilitas), yang
didasarkan pada keseimbangan monodualistik bahwa asas kesalahan yang
didasarkan pada nilai keadilan harus disejajarkan berpasangan dengan asas
legalitas yang didasarkan pada nilai kepastian. Walaupun Konsep berprinsip
bahwa pertanggungjawaban pidana berdasarkan kesalahan, namun dalam
beberapa hal tidak menutup kemungkinan adanya pertanggungjawaban pengganti
(vicarious liability) dan pertanggungjawaban yang ketat (strict liability). Masalah
kesesatan (error) baik kesesatan mengenai keadaannya (error facti) maupun
kesesatan mengenai hukumnya sesuai dengan konsep merupakan salah satu alasan
pemaaf sehingga pelaku tidak dipidana kecuali kesesatannya itu patut
dipersalahkan kepadanya1

Pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility) adalah suatu mekanisme
untuk

menentukan

apakah

seseorang

terdakwa

atau

tersangka

dipertanggungjawabkan atas suatu tindakan pidana yang terjadi atau tidak. Untuk
dapat dipidananya si pelaku, disyaratkan bahwa tindak pidana yang dilakukannya
itu memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan dalam Undang-undang.

1

Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan,
Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2001, hlm. 23.

18

Pertanggungjawaban pidana mengandung makna bahwa setiap orang yang
melakukan tindak pidana atau melawan hukum, sebagaimana dirumuskan dalam
undang-undang, maka orang tersebut patut mempertanggungjawabkan perbuatan
sesuai dengan kesalahannya. Dengan kata lain orang yang melakukan perbuatan
pidana akan mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut dengan pidana apabila
ia mempunyai kesalahan, seseorang mempunyai kesalahan apabila pada waktu
melakukan perbuatan dilihat dari segi masyarakat menunjukan pandangan
normatif mengenai kesalahan yang telah dilakukan orang tersebut2

Pertanggungjawaban pidana diterapkan dengan pemidanaan, yang bertujuan untuk
untuk mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum
demi pengayoman masyarakat; menyelesaikan konflik yang ditimbulkan tindak
pidana; memulihkan keseimbangan; mendatangkan rasa damai dalam masyarakat;
memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi
orang baik dan membebaskan rasa bersalah pada terpidana.

Pertanggungjawaban pidana harus memperhatikan bahwa hukum pidana harus
digunakan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur merata materiil dan
spirituil. Hukum pidana tersebut digunakan untuk mencegah atau menanggulangi
perbuatan yang tidak dikehendaki. Selain itu penggunaan sarana hukum pidana
dengan sanksi yang negatif harus memperhatikan biaya dan kemampuan daya
kerja dari insitusi terkait, sehingga jangan sampai ada kelampauan beban tugas
(overbelasting) dalam melaksanakannya3

2
3

Moeljatno, Op Cit. hlm. 41.
Ibid, hlm. 23.

19

Perbuatan agar dapat dipertanggungjawabkan secara pidana, harus mengandung
kesalahan. Kesalahan tersebut terdiri dari dua jenis yaitu kesengajaan (opzet) dan
kelalaian (culpa).
1. Kesengajaan (opzet)
Sesuai teori hukum pidana Indonesia, kesengajaan terdiri dari tiga macam,
yaitu sebagai berikut:
a. Kesengajaan yang bersifat tujuan
Bahwa dengan kesengajaan yang bersifat tujuan, si pelaku dapat
dipertanggungjawabkan dan mudah dapat dimengerti oleh khalayak ramai.
Apabila kesengajaan seperti ini ada pada suatu tindak pidana, si pelaku
pantas dikenakan hukuman pidana. Karena dengan adanya kesengajaan
yang bersifat tujuan ini, berarti si pelaku benar-benar menghendaki
mencapai suatu akibat yang menjadi pokok alasan diadakannya ancaman
hukuman ini.
b. Kesengajaan secara keinsyafan kepastian
Kesengajaan ini ada apabila si pelaku, dengan perbuatannya tidak
bertujuan untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari delik, tetapi ia
tahu benar bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan itu.
c. Kesengajaan secara keinsyafan kemungkinan
Kesengajaan ini yang terang-terang tidak disertai bayangan suatu
kepastian akan terjadi akibat yang bersangkutan, melainkan hanya
dibayangkan suatu kemungkinan belaka akan akibat itu. Selanjutnya
mengenai kealpaan karena merupakan bentuk dari kesalahan yang
menghasilkan dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan
seseorang yang dilakukannya4
2. Kelalaian (culpa)
Kelalaian (culpa) terletak antara sengaja dan kebetulan, bagaimanapun juga
culpa dipandang lebih ringan dibanding dengan sengaja, oleh karena itu delik
culpa, culpa itu merupakan delik semu (quasideliet) sehingga diadakan
pengurangan pidana. Delik culpa mengandung dua macam, yaitu delik
kelalaian yang menimbulkan akibat dan yang tidak menimbulkan akibat, tapi
yang diancam dengan pidana ialah perbuatan ketidak hati-hatian itu sendiri,
perbedaan antara keduanya sangat mudah dipahami yaitu kelalaian yang
menimbulkan akibat dengan terjadinya akibat itu maka diciptalah delik
kelalaian, bagi yang tidak perlu menimbulkan akibat dengan kelalaian itu
sendiri sudah diancam dengan pidana. 5
Sesuai dengan uraian di atas maka diketahui bahwa terdapat dua unsur kesalahan
sehingga seseorang patut mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan
hukum, yaitu kesengajaan dan kelalaian.
4
5

Ibid, hlm. 46.
Ibid, hlm. 48.

20

Syarat-syarat elemen yang harus ada dalam delik kealpaan yaitu:
1) Tidak mengadakan praduga-praduga sebagaimana diharuskan oleh hukum,
adapun hal ini menunjuk kepada terdakwa berpikir bahwa akibat tidak akan
terjadi karena perbuatannya, padahal pandangan itu kemudian tidak benar.
Kekeliruan terletak pada salah piker/pandang yang seharusnya disingkirkan.
Terdakwa sama sekali tidak punya pikiran bahwa akibat yang dilarang
mungkin timbul karena perbuatannya. Kekeliruan terletak pada tidak
mempunyai pikiran sama sekali bahwa akibat mungkin akan timbul hal mana
sikap berbahaya
2) Tidak mengadakan penghati-hatian sebagaimana diharuskan oleh hukum,
mengenai hal ini menunjuk pada tidak mengadakan penelitian kebijaksanaan,
kemahiran/usaha pencegah yang ternyata dalam keadaan yang tertentu/dalam
caranya melakukan perbuatan. 6

Seseorang akan dipertanggungjawabkan atas tindakan-tindakan tersebut, apabila
tindakan tersebut melawan hukum serta tidak ada alasan pembenar atau peniadaan
sifat melawan hukum untuk pidana yang dilakukannya. Dilihat dari sudut
kemampuan bertanggung jawab maka hanya seseorang yang mampu bertanggung
jawab yang dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya. Tindak pidana jika
tidak ada kesalahan adalah merupakan asas pertanggungjawaban pidana, oleh
sebab itu dalam hal dipidananya seseorang yang melakukan perbuatan
sebagaimana yang telah diancamkan, ini tergantung dari soal apakah dalam
melakukan perbuatan ini dia mempunyai kesalahan

Kemampuan bertanggung jawab merupakan unsur kesalahan, maka untuk
membuktikan adanya kesalahan unsur tadi harus dibuktikan lagi. Mengingat hal
ini sukar untuk dibuktikan dan memerlukan waktu yang cukup lama, maka unsur
kemampuan bertanggung jawab dianggap diam-diam selalu ada karena pada
umumnya setiap orang normal bathinnya dan mampu bertanggung jawab, kecuali
kalau ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa terdakwa mungkin jiwanya tidak
6

Ibid, hlm. 49.

21

normal. Dalam hal ini, hakim memerintahkan pemeriksaan yang khusus terhadap
keadaan jiwa terdakwa sekalipun tidak diminta oleh pihak terdakwa. Jika hasilnya
masih meragukan hakim, itu berarti bahwa kemampuan bertanggung jawab tidak
berhenti, sehingga kesalahan tidak ada dan pidana tidak dapat dijatuhkan
berdasarkan asas tidak dipidana jika tidak ada kesalahan. 7

Masalah kemampuan bertanggung jawab ini terdapat dalam Pasal 44 Ayat 1
KUHP yang mengatur: “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau
terganggu karena cacat, tidak dipidana”. Menurut Moeljatno, bila tidak
dipertanggungjawabkan itu disebabkan hal lain, misalnya jiwanya tidak normal
dikarenakan dia masih muda, maka Pasal tersebut tidak dapat dikenakan.apabila
hakim

akan

menjalankan

Pasal

44

KUHP,

maka

sebelumnya

harus

memperhatikan apakah telah dipenuhi dua syarat yaitu syarat psikiatris dan syarat
psikologis.

Penjelasan mengenai kedua syarat tersebut adalah sebagai berikut:
a) Syarat psikiatris yaitu pada terdakwa harus ada kurang sempurna
akalnya atau sakit berubah akal, yaitu keadaan kegilaan (idiote), yang
mungkin ada sejak kelahiran atau karena suatu penyakit jiwa dan
keadaan ini harus terus menerus.
b) Syarat psikologis ialah gangguan jiwa itu harus pada waktu si pelaku
melakukan perbuatan pidana, oleh sebab itu suatu gangguan jiwa yang
timbul sesudah peristiwa tersebut, dengan sendirinya tidak dapat
menjadi sebab terdakwa tidak dapat dikenai hukuman8
Kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan yang
buruk, adalah merupakan faktor akal (intelektual factor) yaitu dapat membedakan

7
8

Ibid hlm. 49.
Ibid, hlm. 51.

22

perbuatan yang diperbolehkan dan yang tidak. Kemampuan untuk menentukan
kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik buruknya perbuatan tersebut
adalah merupakan faktor perasaan (volitional factor) yaitu dapat menyesuaikan
tingkah lakunya dengan keinsyafan atas mana yang diperbolehkan dan mana yang
tidak. Sebagai konsekuensi dari dua hal tersebut maka orang yang tidak mampu
menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik buruknya perbuatan,
dia tidak mempunyai kesalahan kalau melakukan tindak pidana, orang demikian
itu tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat dinyatakan bahwa pertanggungjawaban
pidana mengandung makna bahwa setiap orang yang melakukan tindak pidana
atau melawan hukum, sebagaimana dirumuskan dalam undang-undang, maka
orang tersebut patut mempertanggungjawabkan perbuatan sesuai dengan
kesalahannya.

Orang

yang

melakukan

mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut

perbuatan

pidana

akan

dengan pidana apabila ia

mempunyai kesalahan, seseorang mempunyai kesalahan apabila pada waktu
melakukan perbuatan dilihat dari segi masyarakat menunjukan pandangan
normatif mengenai kesalahan yang telah dilakukan orang tersebut.

Hal yang mendasari pertangungjawaban tindak pidana adalah pemahaman bahwa
setiap manusia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa dengan akal budi dan nurani
yang memberikan kepadanya kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang
buruk yang akan membimbing dan mengarahkan sikap dan perilaku dalam
menjalani kehidupannya. Dengan akal budi dan nuraninya itu, maka manusia
memiliki kebebasan untuk memutuskan sendiri perilaku atau perbuatannya. Selain

23

untuk mengimbangi kebebasan, manusia memiliki kemampuan untuk bertanggung
jawab atas semua tindakan yang dilakukannya.

B. Pengertian Tindak Pidana

Menurut P.A.F. Lamintang:
Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana. Tindak
pidana merupakan suatu pengertian yuridis, lain halnya dengan istilah
perbuatan jahat atau kejahatan. Secara yuridis formal, tindak kejahatan
merupakan bentuk tingkah laku yang melanggar undang-undang pidana.
Oleh sebab itu setiap perbuatan yang dilarang oleh undang-undang harus
dihindari dan arang siapa melanggarnya maka akan dikenakan pidana. Jadi
larangan-larangan dan kewajiban-kewajiban tertentu yang harus ditaati
oleh setiap warga Negara wajib dicantumkan dalam undang-undang
maupun peraturan-peraturan pemerintah. 9

Tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang
memiliki unsur kesalahan se

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

84 2133 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 551 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 478 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 309 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 422 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 673 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 580 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 379 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 559 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 676 23