ANALYSIS OF FARMERS’ ATTITUDES AND SATISFACTION TOWARDS HYBRID CORN SEED VARIETIES IN SOUTH LAMPUNG REGENCY ANALISIS SIKAP DAN KEPUASAN PETANI TERHADAP BENIH JAGUNG HIBRIDA DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

(1)

ABSTRACT

ANALYSIS OF FARMERS’ ATTITUDES AND SATISFACTION TOWARDS HYBRID CORN SEED VARIETIES

IN SOUTH LAMPUNG REGENCY

By

Finko Harki Nugroho

The purposes of this study were to (1) identify the characteristics and decision making process on hybrid corn seed varieties and (2) analyze the farmer’s attitudes and satisfaction on hybrid corn seeds in South Lampung Regency. The location was selected purposively where 68 hybrid corn farmers drawn using simple random sampling. Data were analyzed qualitatively and quantitatively using a descriptive analysis, Fishbein’s Multi-attribute, Important Performance Analysis (IPA), and Customer Satisfaction Index (CSI). The results of the descriptive analysis showed some differences on respondents’ characteristics and the decision making process. The Fishbein’s Multi-attribute scored farmers’ attitude on the three varieties of corn hybrid seeds was at 77.68. However, the farmers’ attitude towards P27 was better than towards NK22 and BISI2. Based on the Important Performance Analysis, dissatisfaction occurred on the seed growing ability attribute and harvesting age attribute. The Customer Satisfaction Index was 75.38% showing that farmers were “very satisfied”. The scores on three hybrid corn seed varieties respectively were 78.44% on P27, 75.56% on NK22, and 72.13% on BISI2


(2)

ABSTRAK

ANALISIS SIKAP DAN KEPUASAN PETANI TERHADAP BENIH JAGUNG HIBRIDA DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Oleh

Finko Harki Nugroho1, Bustanul Arifin2, Eka Kasymir2

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) mengidentifikasi karakteristik petani dan proses keputusan pembelian petani benih jagung hibrida dan (2) menganalisis sikap dan kepuasan petani terhadap benih jagung hibrida di Kabupaten Lampung Selatan.

Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dimana 68 petani jagung hibrida diambil menggunakan tehnik simple random sampling. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan metode deskriptif. Multiatribut Fishbein, Important Performance Analysis (IPA) dan Customer Satisfaction Index(CSI). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan petani jagung hibrida memiliki karakteristik dan proses keputusan pembelian yang berbeda. Skor sikap petani terhadap benih jagung varietas hibrida secara keseluruhan yaitu 77,68. Sikap petani terhadap P27 lebih baik daripada NK22 dan BISI2. Important Performance Analysis menunjukkan bahwa ketidakpuasan petani pada benih jagung hibrida terjadi pada atribut umur panen dan daya tumbuh. Hasil perhitungan Customers Satisfaction Index (CSI) menunjukan bahwa nilai indek kepuasan petani jagung hibrida secara keseluruhan berada di angka 75,38 % dan menunjukkan petani “sangat puas” terhadap kinerja produk-produk benih jagung hibrida.

Kata Kunci : Karakteristik,Proses Keputusan Pembelian, Kepentingan, Kinerja 1

(Sarjana Fakultas Pertanian, Universitas Lampung) 2


(3)

ANALISIS SIKAP DAN KEPUASAN PETANI TERHADAP BENIH JAGUNG HIBRIDA DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Oleh

FINKO HARKI NUGROHO

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN

pada

Jurusan Agribisnis

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

2014


(4)

(5)

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Panjang tanggal 11 Desember 1989 dari pasangan Bapak Supriyadi dan Ibu Supriyati Upit. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara. Penulis menempuh pendidikannya di Taman Kanak-kanak Xaverius Panjang pada tahun 1996, tingkat Sekolah Dasar di SD Xaverius 4 Panjang, Bandar Lampung pada tahun 2002, tingkat SLTP di SMP Xaverius I Teluk Betung, Bandar Lampung pada tahun 2005, tingkat SLTA di SMA Negeri 10 Bandar Lampung pada tahun 2008. Penulis diterima di Universitas Lampung, Fakultas Pertanian, Jurusan Agribisnis pada tahun 2008 melalui jalur Ujian Mandiri (UM).

Pada tahun 2011 penulis mengikuti Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN Tematik) di Desa Purwoadi, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah. Pada tahun 2012 penulis melakukan Praktik Umum (PU) di PT Delta Internusa selaku distributor rokok di Bandar Lampung. Selama di bangku kuliah penulis aktif dalam organisasi kemahasiswaan kampus Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian

(Himaseperta) Universitas Lampung dan pada periode 2011/2012 menjabat sebagai ketua bidang III, yaitu pengembangan minat, bakat dan kreativitas. Penulis


(7)

SANWACANA

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdullilahirobbil ‘alamin, puji dan syukur hanya kepada Allah SWT, yang telah memberikan cahaya dan hikmah dalam menyelesaikan skripsi ini serta shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Baginda Muhammad Rasulullah SAW, yang telah memberikan teladan dalam setiap kehidupan. Dalam penyelesaian skripsi yang berjudul “Analisis Sikap dan Kepuasan Petani Terhadap Benih Jagung Hibrida di Kabupaten Lampung Selatan ”, banyak pihak yang telah memberikan

sumbangsih, bantuan, nasehat, serta saran-saran yang membangun. Penulis mengucapkan banyak terimakasih yang tak terhingga nilainya kepada :

1. Orang tuaku tercinta, Ayahanda Supriyadi, Ibunda Supriyati Upit, Adikku tersayang Pindo Hardi Wibowo atas semua limpahan kasih sayang, dukungan, doa, dan kesabaran hingga tercapainya gelar Sarjana Pertanian ini.

2. Prof. Dr. Ir.Bustanul Arifin., M. Sc. sebagai Pembimbing Pertama, atas bimbingan, masukan, arahan, dan nasihat yang telah diberikan.

3. Ir. Eka Kasymir, M. Si., sebagai Pembimbing Kedua dan selaku Pembimbing Akademik atas bimbingan, masukan, arahan, dan nasihat yang telah diberikan.


(8)

5. Prof. Dr.Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S, selaku Dekan Fakultas Pertanian

Universitas Lampung, atas arahan, bantuan dan nasehat yang telah diberikan.

6. Seluruh Dosen dan Karyawan Jurusan Agribisnis atas semua ilmu yang telah diberikan selama penulis menjadi mahasiswa di Universitas Lampung.

7. Sahabat-sahabat seperjuangan Agribisnis 2008 Risky DS, Ando, Ari, Onie, Nyoman, Vitho, Harris, Eby, Alin, Inong, Iwan, Ribut, Bondan, Taufiq, Arief N, Arif R, Handini, Andi, Tutik, serta teman-teman Agribisnis 2008 lainnya yang senantiasa memberikan pengertian, dorongan, semangat, doa selama ini.

8. Silvya Dara Mitha yang telah memberi semangat, motivasi, do’a, dan kesabaran

menjadi tempat berkeluh kesah selama penulis mengerjakan skripsi.

9. Kakak dan adik Agribisnis 2007, 2009, 2010, 2011, 2012, Kemas, Mandala, Agum, Ajo, dan Almamater tercinta serta seluruh pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan satu per satu dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan terbaik atas segala bantuan yang diberikan dan memberikan rahmat serta hidayah kepada kita semua. Akhirnya, penulis meminta maaf jika ada kesalahan dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun.

Bandar Lampung, Juni 2014 Penulis,


(9)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xv

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1

1.2. Identifikasi masalah ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 11

1.4. Kegunaan Penelitian ... 11

II. LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Landasan Teori ... 12

2.1.1. Perilaku Konsumen ... 12

2.1.2. Karakteristik Konsumen ... 13

2.1.3. Proses Keputusan Pembelian ... 15

2.1.3.1.Pengenalan kebutuhan ... 15

2.1.3.2.Pencarian Informasi ... 16

2.1.3.3.Evaluasi alternatif ... 17

2.1.3.4.Keputusan pembelian ... 18

2.1.3.5.Evaluasi Pembelian ... 18

2.1.4. Atribut Produk ... 19

2.1.5. Sikap Konsumen ... 22

2.1.6. Kepuasan Konsumen ... 23

2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 25

2.3. Kerangka Pemikiran ... 39

III.METODE PENELITIAN 3.1. Konsep Dasar dan Definisi Operasional... 42


(10)

3.2. Lokasi Penelitian, Responden dan Waktu Penelitian ... 45

3.3. Jenis dan Metode Pengumpulan Data... 47

3.3.1. Uji Validitas ... 50

3.3.2. Uji Reliabilitas ... 51

3.4. Metode Analisis Data ... 51

3.4.1. Analisis Deskriptif ... 52

3.4.2. Analisis Multiatribut Fishbein ... 53

3.4.3. Importance Performance Analysis (IPA) ... 56

3.4.4. Customers Satisfaction Indeks (CSI)... 59

IV.GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan ... 62

4.1.1. Keadaan Geografis ... 62

4.1.2. Keadaan Iklim ... 63

4.1.3. Keadaan Demografi ... 64

4.1.4. Keadaan Umum Pertanian ... 65

4.2. Keadaan Umum Kecamatan Jati Agung dan Kecamatan Tanjung Bintang ... 66

4.2.1. Keadaan Geografis ... 66

4.2.2. Keadaan Iklim ... 67

4.2.3. Keadaan Monografi ... 68

4.2.4. Keadaan Pertanian... 69

4.3. Keadaan Umum Desa Sumber Jaya dan Desa Lematang ... 70

4.3.1. Letak Geografis ... 70

4.3.2. Keadaan Demografi ... 71

4.3.3. Profil Responden Penelitian ... 71

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Petani Responden ... 76

5.2. Proses Keputusan Pembelian Benih Jagung Hibrida ... 82

5.2.1. Tahapan Pengenalan Kebutuhan ... 82

5.2.2. Tahapan Pencarian Informasi... 84

5.2.3. Tahapan Evaluasi Alternatif... 86

5.2.4. Tahapan Keputusan Pembelian ... 87

5.2.5. Tahapan Evaluasi Pasca Pembelian ... 90

5.3. Validitas dan Reliabitas Kuesioner ... 92

5.4. Sikap Petani Benih Jagung Hibrida (Multiatribut Fishbein) ... 94

5.4.1. Sikap Petani Benih Jagung Hibrida Berdasarkan Luas Lahan ... 98

5.5. Kepuasan Petani Benih Jagung Hibrida Importance Performance Analysis (IPA)... 99


(11)

xi

5.5.1. Diagram Cartesius Important Performance Analysis

Benih Jagung Hibrida ... 101

5.5.2. Diagram Cartesius Important Performance Analysis Benih Jagung Hibrida P27 ... 106

5.5.3. Diagram Cartesius Important Performance Analysis Benih Jagung Hibrida BISI2 ... 109

5.5.4. Diagram Cartesius Important Performance Analysis Benih Jagung Hibrida NK22 ... 111

5.5.5. Diagram Cartesius Important Performance Analysis Benih Jagung Hibrida Menurut Luas Lahan ... 115

5.6. Indeks Kepuasan Petani Benih Jagung Hibrida Customer Satisfaction index(CSI) ... 120

5.6.1. Indeks Kepuasan Petani Benih Jagung Hibrida Customer Satisfaction index(CSI) berdasarkan Luas Lahan ... 123

VI.KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 126

6.2. Saran ... 127

DAFTAR PUSTAKA ... 129


(12)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xv

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1

1.2. Identifikasi masalah ... 6

1.3. Tujuan Penelitian ... 11

1.4. Kegunaan Penelitian ... 11

II. LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Landasan Teori ... 12

2.1.1. Perilaku Konsumen ... 12

2.1.2. Karakteristik Konsumen ... 13

2.1.3. Proses Keputusan Pembelian ... 15

2.1.3.1.Pengenalan kebutuhan ... 15

2.1.3.2.Pencarian Informasi ... 16

2.1.3.3.Evaluasi alternatif ... 17

2.1.3.4.Keputusan pembelian ... 18

2.1.3.5.Evaluasi Pembelian ... 18

2.1.4. Atribut Produk ... 19

2.1.5. Sikap Konsumen ... 22

2.1.6. Kepuasan Konsumen ... 23

2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 25

2.3. Kerangka Pemikiran ... 39

III.METODE PENELITIAN 3.1. Konsep Dasar dan Definisi Operasional... 42


(13)

x

3.2. Lokasi Penelitian, Responden dan Waktu Penelitian ... 45

3.3. Jenis dan Metode Pengumpulan Data... 47

3.3.1. Uji Validitas ... 50

3.3.2. Uji Reliabilitas ... 51

3.4. Metode Analisis Data ... 51

3.4.1. Analisis Deskriptif ... 52

3.4.2. Analisis Multiatribut Fishbein ... 53

3.4.3. Importance Performance Analysis (IPA) ... 56

3.4.4. Customers Satisfaction Indeks (CSI)... 59

IV.GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan ... 62

4.1.1. Keadaan Geografis ... 62

4.1.2. Keadaan Iklim ... 63

4.1.3. Keadaan Demografi ... 64

4.1.4. Keadaan Umum Pertanian ... 65

4.2. Keadaan Umum Kecamatan Jati Agung dan Kecamatan Tanjung Bintang ... 66

4.2.1. Keadaan Geografis ... 66

4.2.2. Keadaan Iklim ... 67

4.2.3. Keadaan Monografi ... 68

4.2.4. Keadaan Pertanian... 69

4.3. Keadaan Umum Desa Sumber Jaya dan Desa Lematang ... 70

4.3.1. Letak Geografis ... 70

4.3.2. Keadaan Demografi ... 71

4.3.3. Profil Responden Penelitian ... 71

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Petani Responden ... 76

5.2. Proses Keputusan Pembelian Benih Jagung Hibrida ... 82

5.2.1. Tahapan Pengenalan Kebutuhan ... 82

5.2.2. Tahapan Pencarian Informasi... 84

5.2.3. Tahapan Evaluasi Alternatif... 86

5.2.4. Tahapan Keputusan Pembelian ... 87

5.2.5. Tahapan Evaluasi Pasca Pembelian ... 90

5.3. Validitas dan Reliabitas Kuesioner ... 92

5.4. Sikap Petani Benih Jagung Hibrida (Multiatribut Fishbein) ... 94

5.4.1. Sikap Petani Benih Jagung Hibrida Berdasarkan Luas Lahan ... 98

5.5. Kepuasan Petani Benih Jagung Hibrida Importance Performance Analysis (IPA)... 99


(14)

5.5.1. Diagram Cartesius Important Performance Analysis

Benih Jagung Hibrida ... 101

5.5.2. Diagram Cartesius Important Performance Analysis Benih Jagung Hibrida P27 ... 106

5.5.3. Diagram Cartesius Important Performance Analysis Benih Jagung Hibrida BISI2 ... 109

5.5.4. Diagram Cartesius Important Performance Analysis Benih Jagung Hibrida NK22 ... 111

5.5.5. Diagram Cartesius Important Performance Analysis Benih Jagung Hibrida Menurut Luas Lahan ... 115

5.6. Indeks Kepuasan Petani Benih Jagung Hibrida Customer Satisfaction index(CSI) ... 120

5.6.1. Indeks Kepuasan Petani Benih Jagung Hibrida Customer Satisfaction index(CSI) berdasarkan Luas Lahan ... 123

VI.KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 126

6.2. Saran ... 127

DAFTAR PUSTAKA ... 129


(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Tahapan Proses Keputusan Pembelian ... 22

2. Kerangka Pemikiran ... 41

3. Diagram Kartesius Importance Performance Analysis ... 57

4. Diagram Cartesius Important Performance Analysis Benih Jagung Hibrida ... 102

5. Diagram Cartesius Important Performance Analysis P27 ... 106

6. Diagram Cartesius Important Performance Analysis BISI2 ... 109

7. Diagram Cartesius Important Performance Analysis NK22 ... 112

8. Diagram Cartesius Important Performance Analysis petani kecil ... 115

9. Diagram Cartesius Important Performance Analysis petani sedang ... 116


(16)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bagi negara berkembang seperti Indonesia landasan pembangunan ekonomi negara dititikberatkan pada sektor pertanian. Produksi sub-sektor tanaman pangan memberikan kontribusi yang paling besar di dalam sektor pertanian. Pembangunan pertanian mempunyai peranan strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional, peranan strategis tersebut yaitu dalam penyediaan pangan, penyediaan bahan baku industri, peningkatan eksport dan devisa negara, penyediaan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, serta peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat.

Di Indonesia terdapat berbagai jenis tanaman pangan antara lain padi, jagung, singkong, ubi jalar, sagu, sorghum dan lain-lain. Jagung sebagai salah satu komoditas sub sektor tanaman pangan pada sektor pertanian memiliki peranan sangat penting dalam perekonomian nasional. Komoditi jagung mempunyai prospek yang cukup baik sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri pakan ternak, yang mana akan terus meningkat seiring dengan pesatnya tingkat pertumbuhan jumlah penduduk. Hal ini menyebabkan perlu adanya upaya peningkatan produksi melalui sumber daya manusia dan


(17)

2

sumber daya alam, ketersediaan lahan maupun potensi hasil serta teknologi pertanian (Kasryno dan Pasandaran. 2007).

Jagung sebagai jenis tanaman pangan yang memiliki manfaat sebagai pangan atau konsumsi, industri pangan dan industri pakan ternak. Kenaikan

kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak semakin meningkat terutama disebabkan oleh semakin berkembangnya industri ternak unggas, seperti industri ternak ayam potong dan ayam petelur. Maka tidak mengherankan, jika komoditas ini mempunyai tingkat permintaan yang relatif tinggi. Bahkan sumbangan jagung terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus meningkat setiap tahun, sekalipun pada saat krisis ekonomi (Kasryno dan Pasandaran. 2007).

Kebutuhan akan komoditas jagung yang terus meningkat tidak seiring dengan produksi nasional. Menurut Badan Pusat Statistik (2012), produksi jagung di Indonesia tidak mencukupi kebutuhan jagung nasional. Setiap tahun

Indonesia selalu mengalami defisit antara produksi dengan kebutuhan nasional. Perkembangan kebutuhan dan produksi jagung di Indonesia tahun 2007-2011 dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan kebutuhan dan produksi jagung Indonesia, 2007-2011

Sumber : Departemen Pertanian, 2012

Tahun Kebutuhan (ton) Produksi (ton) Selisih (ton)

2007 2008 2009 2010 2011

13.299.340 16.317.060 17.664.240 19.764.200 21.945.220

13.287.527 16.327.252 17.619.748 18.327.636 17.643.250

- 11.813 10.192 -44.492 -1.436.564 -4.301.970


(18)

Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa pada tahun 2008 terjadi swasembada jagung dengan jumlah produksi sebesar 16.327.252 ton dan kebutuhan nasional sebesar 16.311,060 ton. Pada tahun 2009 hingga tahun 2011 Indonesia terus mengalami perkembangan negatif, bahkan pada tahun 2011, Indonesia mengalami defisit sebesar 4.301.970 ton. Produksi jagung nasional perlu terus ditingkatkan. Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan peningkatan produksi jagung nasional, hal tersebut dapat ditempuh dengan cara peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam.

Masih rendahnya kinerja produksi jagung secara umum dalam memenuhi kebutuhan jagung disebabkan oleh masih rendahnya rata-rata produktivitas jagung nasional. Hal ini dapat kita lihat pada tabel 2, produksi, luas tanaman dan produktivitas jagung di beberapa sentra produksi jagung di Indonesia.

Tabel 2. Produksi, luas panen dan produktivitas jagung di lima daerah sentra jagung terbesar di Indonesia, tahun 2011

No. Provinsi Produksi (ton) Luas Panen (ha) Produktivitas (ton/ha) 1 2 3 4 5 Jawa Timur Jawa Tengah Lampung Sulawesi Selatan Sumatera Utara 5.443.705 2.772.575 1.817.906 1.4201.54 1.294.645 1.204.063 520.149 380.917 297.126 255.291 4,52 5,33 4,77 4,78 5,07

Sumber : Departemen Pertanian, 2012

Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa produktivitas jagung di provinsi sentra penghasil jagung masih berada di kisaran 4-5 ton/ ha. Provinsi Lampung merupakan penghasil jagung terbesar ketiga di Indonesia setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Provinsi Lampung memiliki luas panen jagung 380.917 ha


(19)

4

dengan produksi sebesar 1.817.906 ton dan produktivitas 4,77 ton/ha, menjadikan Provinsi Lampung berpotensi yang cukup besar untuk pengembangan komoditas pangan, khususnya komoditas jagung.

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi jagung nasional adalah dengan peningkatan produktivitas dan perluasan areal produksi yaitu dengan menambah areal produksi di wilayah sentra dan mendorong penciptaan daerah sentra baru didaerah yang memiliki keunggulan komparatif. Provinsi Lampung merupakan salah satu daerah pengembangan komoditas jagung yang cukup potensial. Perkembangan produksi jagung di Provinsi Lampung tersebar di seluruh kabupaten/kota. Luas panen, produksi dan produktivitas jagung di Provinsi Lampung menurut kabupaten/kota tahun 2011 disajikan pada tabel 3.

Tabel 3. Luas panen, produksi, dan produktivitas usahatani jagung Provinsi Lampung menurut kabupaten/kota, tahun 2011

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2012 No. Kota/Kabupaten Luas panen

(ha) Produksi (ton) Produktivitas (ton/ha) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Lampung Barat Tanggamus Lampung Selatan Lampung Timur Lampung Tengah Lampung Utara Way Kanan Tulang Bawang Pesawaran Pringsewu Mesuji Tuba Barat Bandar Lampung Metro 3.987 4.329 111.627 90.202 95.975 35.681 16.953 1.674 11.450 5.596 2.267 694 56 426 16.040 20.226 539.522 442.579 476.112 146.434 72.286 6.495 56.169 27.132 9.510 2.866 268 1.865 4,02 4,67 4,83 4,91 4,96 4,11 4,26 3,88 4,91 4,84 4,19 4,13 4,78 4,37 Provinsi Lampung 380.917 1.817.906 4,77


(20)

Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa Kabupaten Lampung Selatan merupakan sentra penghasil jagung utama di Provinsi Lampung setelah Lampung Timur. Kabupaten Lampung Selatan memiliki produktivitas di angka 4,83 ton/ha dengan luas panen sebesar 111.627 ha dan produksi sebesar 539.522 ton. Dengan luas panen yang tinggi tersebut, maka Kabupaten Lampung Selatan memiliki peluang dan merupakan potensi yang cukup besar bagi Provinsi Lampung untuk pengembangan komoditas pangan, khususnya komoditas jagung.

Peningkatan produktivitas dengan penggunaan benih jagung varietas hibrida menjadi pilihan dalam upaya memenuhi kebutuhan jagung mengingat peningkatan produksi jagung melalui peningkatkan luas areal produksi menghadapi kendala seiring dengan tingginya tingkat konversi lahan pertanian. Dengan produktivitas di kisaran angka 4-5 ton/ ha, sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan jagung yang terus meningkat. Benih jagung varietas hibrida memiliki potensi produktivitas mencapai 7-14 ton pipilan kering per hektar, sedangkan varietas jagung lokal atau bersari bebas rata-rata di bawah 3 ton pipilan kering per hektar. Keadaan ini, memungkinan

Kabupaten Lampung Selatan memiliki produksi sebesar 800.000 ton. Jika penggunaan lahan untuk usahatani jagung hibrida terus ditingkatkan, maka tidak menutup kemungkinan Provinsi Lampung khususnya Kabupaten Lampung Selatan akan menjadi salah sentra produksi jagung (Zubachtirodin, dkk, 2008).


(21)

6

Dalam peningkatan produksi melalui cara peningkatan produktivitas memerlukan benih hibrida yang berkualitas, sehingga diperlukan varietas jagung hibrida baru yang memiliki sifat unggul seperti produktivitas tinggi, resisten terhadap penyakit tanaman, respon terhadap unsur hara tertentu, tahan terhadap deraan lapang dan memiliki daya tumbuh yang baik. Dengan demikian permintaan jagung yang semakin meningkat akan

berdampak pada permintaan terhadap benih jagung hibrida juga meningkat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa benih jagung hibrida di Kabupaten Lampung Selatan sangat diminati dan telah menjadi primadona dalam upaya meningkatkan produktivitas jagung (Bahtiar, dkk, 2007).

1.2. Identifikasi Masalah

Dalam budaya ekonomi tanaman pangan Indonesia, jagung merupakan komoditas penting kedua setelah padi atau beras. Akan tetapi, dengan berkembang pesatnya industri peternakan, jagung merupakan komponen utama (60%) dalam ransum pakan. Diperkirakan lebih dari 55% kebutuhan jagung dalam negeri digunakan untuk pakan, sedangkan untuk konsumsi pangan hanya sekitar 30%, dan selebihnya untuk kebutuhan industri lainnya dan bibit. Dengan demikian, peran jagung sebetulnya sudah berubah lebih sebagai bahan baku industri dibanding sebagai bahan pangan. Kondisi ini membuat budidaya jagung memiliki prospek yang sangat menjanjikan, baik dari segi permintaan maupun harga jualnya (Kasryno dan Pasandaran. 2007).


(22)

Peningkatan produktivitas dengan penggunaan benih jagung varietas hibrida menjadi pilihan dalam upaya memenuhi kebutuhan jagung mengingat peningkatan produksi jagung melalui peningkatkan luas areal produksi menghadapi kendala seiring dengan tingginya tingkat konversi lahan pertanian. Seiring dengan meningkatnya permintaan pasar akan jagung membut para produsen benih hibrida memiliki prospek yang lebih baik, karena secara langsung akan berdampak pada peningkatan permintaan benih jagung hibrida. Perubahan pola permintaan jagung juga mendorong

perubahan adopsi teknologi benih (Purwanto. 2008).

Benih merupakan salah satu bagian yang sangat menentukan produksi suatu tanaman. Benih jagung varietas hibrida berpotensi menghasilkan produksi hingga 7-14 ton pipilan kering per hektar. Benih jagung hibrida memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan benih jagung lokal atau bersari bebas. Keunggulan tersebut antara lain, masa panennya lebih cepat, lebih tahan serangan hama dan penyakit, serta produktivitasnya lebih tinggi (Sustiprijatno, 2008).

Saat ini benih jagung hibrida telah dikembangkan dan diperkenalkan pada petani sehinggadiharapkan petani mau menggunakan benih tersebut guna meningkatkan produksi dan memperoleh pendapatan yang tinggi. Potensi varietas yang dicirikan dengan penampilan berupa karakteristik dan kualitas produksi harus benar-benar memenuhi selera petani tersebut. Para produsen benih jagung hibrida juga harus dapat menciptakan varietas yang dapat sesuai


(23)

8

dan tepat untuk memenuhi kebutuhan yang dimaksud (Kasryno dan Pasandaran. 2007).

Para petani pada umumnya sangat mengetahui akan keunggulan benih jagung hibrida. Namun, penerapan teknologi budidaya yang masih rendah,

penggunaan input produksi yang belum efisien dan modal usahatani yang terbatas masih menjadi kendala di lapangan bagi para petani jagung.

Penggunaan benih jagung hibrida masih rendah akibat harga jual benih yang tergolong mahal serta modal yang dimiliki oleh petani sangat terbatas sehingga hanya petani yang bermodal besar yang mampu membeli benih jagung hibrida. Pemenuhan preferensi petani akan kuantitas dan kualitas produksi jagung memiliki hubungan yang sangat erat dan positif dengan penyediaan benih dari jagung yang diminta.

Pada Tabel 4 menunjukkan persentase preferensi petani terhadap varietas jagung yang dominan di Provinsi Lampung adalah varietas hibrida. Menurut Pujiharti dan Herdiansyah (2008), menyatakan bahwa petani menggunakan benih jagung hibrida di Kabupaten Lampung Selatan adalah BISI2, P21, BISI816 dan NK22. Sedangkan untuk seluruh Lampung, varietas hibrida yang banyak disukai petani di Lampung adalah P12, BISI816, BISI2 dan P21. Hal-hal yang telah diuraikan di atas menandakan selera petani jagung akan benih jagung hibrida sangat tinggi yang mana menjadi modal yang sangat penting dalam peningkatan produksi jagung.


(24)

Tabel 4. Preferensi petani terhadap varietas jagung di Provinsi Lampung, 2010

Varietas

Kabupaten

Lamteng(%) Lamtim(%) Lamsel(%) Tuba Barat(%)

Rata-rata(%)

Bisi-2 10,19 6,67 39,01 13,56 17,38

Bisi-816 16,67 35,35 16,36 6,78 18,79

C-7 - - 3,33 - 0,83

Pertiwi - - 1,82 - 0,46

P-12 53,70 0 - 33,90 21,90

P-21 - 14,44 17,92 11,86 10,89

Nusantara - - 0,61 - 0,15

P-27 1,85 - 3,33 - 1,30

Hybrida26 - - 1,82 - 0,46

NK-22 8,33 20,81 7,27 - 9,56

Fasific - - 2,73 - 0,68

SHS-3 - - 0,91 - 0,23

SHS-11 - - 0,91 - 0,23

DK-979 1,85 8,79 2,73 - 3,34

Lokal 7,41 - - 22,03 6,94

NKJumbo - 5,15 - - 1,29

BisiSweet - 1,82 - - 0,46

DK-3 - 6,97 - - 2,32

NK-99 - - - 5,08 1,27

Bisi-1 - - - 1,69 0,42

Sumber: Pujiharti dan Herdiansyah (2011)

Petani memiliki karakteristik berbeda dalam keputusan pembelian benih. Proses keputusan pembelian petani berkaitan erat dengan karaktersitik petani tersebut. Petani merupakan konsumen akhir dari produk benih hibrida tersebut, dimana proses keputusan pembelian yang dilakukan oleh petani melalui tahap-tahap tertentu dan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Proses keputusan pembelian petani sangat diperlukan dalam melihat bagaimana petani memenuhi selera.

Konsumen dapat mengetahui manfaat penggunaan produk benih jagung hibrida melalui atribut- atribut produk untuk membantu memenuhi kebutuhan


(25)

10

dan keinginannya. Atribut benih adalah faktor yang sangat penting karena konsumen akan menentukan seberapa besar manfaat suatu produk

berdasarkan atribut yang dominan. Oleh karena itu, atribut produk harus mempunyai keistimewaan dan manfaat yang dicari konsumen. Kombinasi keyakinan dan evaluasi konsumen terhadap atribut-atribut produk dapat digambarkan dalam sikap petani.

Kepuasan petani sangat berdampak pada upaya peningkatan produksi jagung. Benih jagung hibrida yang beredar harus memiliki sifat-sifat unggul, karena dengan benih unggul dapat membantu petani mengurangi resiko kegagalan panen. Penyediaan benih jagung hibrida yang bermutu dan secara

berkelanjutan demi memenuhi permintaan petani, dapat membantu para petani memenuhi kepuasan dan meningkatkan hasil produksi tanaman jagung.

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian tentang analisis sikap dan kepuasan petani terhadap benih jagung hibrida di Kabupaten Lampung Selatan sangat diperlukan dan permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik petani dan proses keputusan pembelian petani benih jagung hibrida di Kabupaten Lampung Selatan?

2. Bagaimana sikap dan kepuasan petani terhadap benih jagung hibrida di Kabupaten Lampung Selatan?


(26)

1.3. Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan permasalahan yang diajukan, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis :

1. Mengidentifikasi karakteristik petani dan proses keputusan pembelian petani benih jagung hibrida di Kabupaten Lampung Selatan.

2. Menganalisis sikap dan kepuasan petani terhadap benih jagung hibrida di Kabupaten Lampung Selatan.

1.4. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan akan berguna bagi :

1. Produsen benih jagung hibrida, supaya lebih memenuhi selera petani dan menjadi pedoman dalam menyusun strategi pemasaran yang tepat dengan melihat apa yang dibutuhkan dan diinginkan petani padi terhadap benih jagung hibrida.

2. Petani, sebagai bahan pertimbangan dalam memilih benih jagung hibrida. 3. Dinas dan instansi terkait, sebagai bahan informasi dalam pengambilan

keputusan untuk perencanaan, peningkatan dan pengembangan produksi jagung hibrida.


(27)

II. LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Perilaku Konsumen

Peraturan tentang perlindungan konsumen telah dimuat dalam Undang-undang No. 08 Tahun 1999 yang mendefenisikan bahwa konsumen adalah setiap individu pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Menurut Engel, et al, (1994), perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan yang

mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut. Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang-barang atau jasa ekonomi yang selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu.


(28)

Perilaku konsumen adalah teori ilmu yang bersifat dinamis, artinya perilaku seorang konsumen atau masyarakat luas selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu. Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas dimana seseorang melakukan kegiatan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk barang

dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Pada dasarnya konsumen berperilaku ingin memanfaatkan sumberdaya yang

dimilikinya seekonomis mungkin untuk mengkonsumsi suatu barang (Nugroho, 2003). Demi meningkatkan produktivitas jagung perlu dilakukan upaya untuk lebih memahahi perilaku konsumen petani.

2.1.2. Karakteristik Konsumen

Karakteristik konsumen (petani) sangat beragam. Karakteristik

konsumen tersebut kemudian menimbulkan pengaruh dikarenakan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor

kebudayaan, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikologi (Engel, et al, 1994).

a. Faktor Kebudayaan

Kebudayaan adalah sekumpulan nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku tertentu yang diperoleh dari lingkungan keluarga, agama, kebangsaan, ras dan goegrafis. Budaya dalam suatu masyarakat (petani) tertentu membentuk perilaku konsumen. Produk benih yang dipasarkan harus pula memenuhi harapan mengenai norma dalam masyarakat petani.


(29)

14

b. Faktor Kelas Sosial

Kelas sosial adalah pembagian di dalam masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang berbagi nilai, minat, dan perilaku yang sama. Kelas sosial sebagai pengelompokan masyarakat yang mempunyai minat, nilai-nilai serta perilaku yang serupa,

dikelompokkan secara bejenjang. Kelas sosial adalah pembagian kelompok masyarakat yang relatif homogen dan permanen yang tersusun secara sistematis, anggotanya menganut nilai, minat dan perilaku yang serupa.

c. Faktor Pribadi

Dalam faktor pribadi, terdapat kelompok acuan. Kelompok acuan adalah seseorang atau kelompok orang yang mempengaruhi secara bermakna perilaku individu. Kelompok acuan memberikan standar norma dan nilai yang dapat menjadi perspektif penentu mengenai bagaimana seseorang petani berfikir atau berperilaku.

d. Faktor Psikologis

Faktor psikologis ini dipengaruhi oleh motivasi dan persepsi. Motivasi adalah kebutuhan yang cukup mendorong seseorang untuk bertindak. Sedangkan persepsi didefinisikan sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur, dan mengi nterpretasi kan masukan-masukan informasi untuk menciptaklan gambaran keseluruhan yang berarti.


(30)

2.1.3. Proses Keputusan Pembelian

Keputusan petani dalam memakai suatu produk benih tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses keputusan yang mempengaruhi keputusan pembelian. Secara teori konsumen melalui seluruh lima tahap pada tiap pembelian. Berdasarkan Engel, et al, (1994) terdapat lima tahap proses keputusan pembelian, yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, pembelian dan hasil. Tahapan keputusan tersebut disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Tahapan proses keputusan pembelian Sumber : Engel, et al, 1994.

2.1.3.1.Pengenalan Kebutuhan

Pengenalan kebutuhan merupakan tahap awal pengambilan keputusan. Menurut Nugroho, (2003), pengenalan kebutuhan sebagai tahap awal pengambil keputusan dipengaruhi oleh tiga determinan yaitu informasi yang disimpan dalam ingatan, perbedaan individu dan pengaruh lingkungan. Timbulnya kebutuhan karena adanya rangsangan internal yang merupakan kebutuhan dasar seseorang dan menjadi dorongan yang akan memotivasi orang tersebut untuk memenuhi keinginan yang timbul tersebut. Selain rangsangan internal kebutuhan juga Pengenalan

Kebutuhan

Pencarian Informasi

Evaluasi Alternatif

Keputusan Pembelian

Perilaku Setelah Pembelian


(31)

16

didorong oleh rangsangan eksternal, dimana rangsangan tersebut akan menggerakkan seseorang untuk mencari informasi yang lebih untuk memenuhi keinginan akan kebutuhan tersebut.

Petani akan membeli suatu produk benih hibrida sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapinya seperti produktivitas yang kurang atau hama dan penyakit. Tanpa adanya pengenalan masalah yang muncul, konsumen (petani) tidak dapat menentukan produk benih hibrida mana yang akan dibeli. Contoh dari pengenalan kebutuhan adalah, seorang konsumen (petani) sekarang ini merasa hasil produksinya menurun

(keadaan aktual) dan ingin meningkatkan produksi pada musim tanam selanjutnya (keadaan yang diinginkan). Konsumen ini akan mengalami pengenalan kebutuhan seandainya ketidak sesuaian antara kedua keadaan cukup besar.

1.2.3.2.Pencarian Informasi

Pencarian informasi merupakan tahap kedua dari proses

pengambilan keputusan. Setelah memahami masalah yang ada, petani akan termotivasi untuk mencari informasi tetnag produk benih yang ada melalui pencarian informasi. Pencarian

informasi dapat didefinisikan sebagai kegiatan termotivsi dari pengetahuan yang tersimpan di dalam ingatan (pencarian internal) dan pengumpulan informasi dari pasar (pencarian


(32)

eksternal). Petani dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber meliputi sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, rekan kerja), sumber komersial (iklan, penjual, pengecer, bungkus, situs Web, dan lain-lain), sumber publik (media massa, organisasi pemberi peringkat), dan sumber berdasarkan pengalaman (memegang, meneliti, menggunakan produk).

1.2.3.3.Evaluasi Alternatif

Setelah mendapatkan informasi, seorang akan mengevaluasi berbagai alternatif dan membuat pertimbangan produk benih dengan nilai terbaik untuk memenuhi kebutuhan. Menurut Dwiastuti, dkk, (2012), evaluasi alternatif didefinisikan sebagai proses dimana suatu alternatif pilihan dievaluasi dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Sikap petani terhadap sejumlah merek tertentu terbentuk melalui beberapa prosedur evaluasi. Dalam beberapa kasus, petani menggunakan

kalkulasi yang cermat dan pemikiran yang logis seperti harga, potensi produksi dan lain-lain. Dalam waktu yang lain, petani bersangkutan mengerjakan sedikit atau tidak mengerjakan evaluasi sama sekali, melainkan mereka membeli secara impulsif atau bergantung pada intuisi. Terkadang petani membuat keputusan sendirian, kadang tergantung pada petani lain, atribut yang melekat, penyuluh pertanian atau penjual benih untuk mendapatkan saran pembelian.


(33)

18

1.2.3.4.Keputusan Pembelian

Setelah petani mengevaluasi beberapa alternatif strategis yang ada, petani akan membuat keputusan pembelian. Petani akan sangat berhati-hati dalam membeli suatu produk benih hibrida yang baik. Terkadang waktu yang dibutuhkan antara membuat keputusan pembelian dengan menciptakan pembelian

yang aktual tidak sama dikarenakan adanya hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan. Pada keputusan pembelian konsumen memutuskan untuk membeli, dimana membeli dan bagaimana membayar.

1.2.3.5.Evaluasi Pembelian

Perilaku setelah pembelian merupakan proses evaluasi yang dilakukan petani tidak hanya berakhir pada tahap pembuatan keputusan pembelian. Setelah membeli produk benih tersebut, konsumen akan melakukan evaluasi apakah produk benih tersebut sesuai dengan harapannya. Petani akan puas jika produk benih tersebut sesuai dengan harapannya dan selanjutnya akan meningkatkan popularitas dan permintaan akan merk produk benih tersebut pada masa depan.

Sebaliknya, petani akan merasa tidak puas jika produk benih tersebut tidak sesuai dengan harapannya dan hal ini akan menurunkan permintaan petani untuk membeli dan menggunakan produk benih tersebut pada masa depan.


(34)

2.1.4. Atribut Produk

Petani memandang masing-masing produk benih dari sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda. Pada dasarnya suatu produk benih terdiri dari sekumpulan atribut yang menggabungkan ciri dari produk tersebut. Konsumen memandang masing-masing produk dari sekumpulan atribut dengan kemampuan berbeda dalam

memberikan manfaat yang digunakan untuk merumuskan kebutuhan konsumen tersebut. Atribut objek perilaku konsumen adalah faktor-faktor yang di pertimbangkan konsumen dalam pembelian suatu merek atau kategori produk itu sendiri. Konsumen akan memberikan

perhatian terbesar pada atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya (Kotler, 2002).

Setiap produk benih jagung hibrida memiliki atribut yang berbeda. Atribut produk benih yang melekat dapat menjadi penilaian tersendiri bagi petani terhadap suatu produk benih. Petani akan melakukan penilaian terhadap produk dengan melakukan evaluasi terhadap atribut produk benih. Petani akan menggambarkan pentingnya suatu atribut bagi dirinya. Kekuatan kepercayaan konsumen terhadap atribut produk merupakan kekuatan, harapan dan keyakinan terhadap atribut yang dimiliki oleh suatu produk. Atribut-atribut yang dimiliki oleh benih jagung hibrida meliputi :


(35)

20

a. Merk benih jagung hibrida

Merk benih adalah atribut nama, tanda, simbol, atau kombinasi yang mengidentifikasikan pembuat atau produsen dari produk benih yang dipasarkan.

b. Promosi benih jagung hibrida

Promosi benih merupakan atribut aktivitas yang membuat komunikasi hubungan antara produk benih yang dipasarkan dan membujuk target konsumen (petani) untuk membelinya. c. Produktivitas benih jagung hibrida

Produktivitas benih jagung hibrida adalah atribut dari potensi hasil atau produksi benih selama satu periode tanam diukur dalam satuan ton per hektar (ton/ha).

d. Umur Panen

Umur panen adalah kemampuan umur jagung ketika panen dan diukur dalam satuan hari. Umur panen merupakan komponen bagian dari varietas jagung hibrida. Umumnya varietas jagung hibrida memiliki umur panen 90-120 hari.

e. Daya tumbuh benih jagung hibrida

Daya tumbuh benih jagung hibrida adalah kemampuan benih memiliki kemampuan yang baik untuk berkecambah dan tumbuh. Benih jagung hibrida pada umumnya memiliki daya tumbuh hingga 90%.


(36)

f. Ukuran tongkol jagung

Tongkol jagung adalah atribut bagian organ betina jagung tempat biji atau bulir menempel. Masing-masing varietas jagung hibrida memiliki ukuran tongkol yang berbeda.

g. Ukuran batang jagung

Batang merupakan bagian tubuh tanaman yang menopang tegak tanaman. Ukuran batang jagung sangat mempengaruhi daya tahan jagung terhadap serangan cuaca seperti angin kencang dan hujan badai.

h. Ketahanan hama dan penyakit

Setiap benih jagung hibrida memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit tanaman yang berbeda-beda.

i. Bentuk Klobot

Klobot adalah kulit yang menutup buah atau bulir jagung. Klobot dapat dikatakan baik apabila memiliki bentuk yang menutup rapat bulir jagung.

j. Ketersediaan Benih

Ketersediaan benih yaitu kemudahan petani dalam mendapatkan benih, baik benih bersubsidi dikios saprotan kelompok tani maupun di kios saprotan umum.

k. Harga Benih

Harga benih jagung hibrida adalah harga beli benih jagung hibrida oleh petani jagung dalam satu kali musim tanam dan diukur dalam satuan rupiah per kilogram.


(37)

22

2.1.5. Sikap Konsumen

Dipasaran banyak terdapat berbagai produk benih jagung hibrida yang ditawarkan produsen untuk memenuhi kebutuhan petani. Semakin meningkatnya kebutuhan petani akan benih jagung hibrida mengarah ke sesuatu teknologi yang lebih baru dan berbeda membuat produsen atau para pengusaha benih terus menciptakan berbagai macam produk untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun demikian tidak semua produk tersebut sesuai dengan keinginan petani. Sikap mempengaruhi keinginan seseorang untuk membeli.

Menurut Engel, et al, (1994), sikap merupakan suatu eveluasi menyeluruh yang memungkinkan seseorang berespon dengan cara menguntungkan atau tidak menguntungkan secara konsisten berkenaan dengan objek atau alternatif yang yang diberikan. Kepercayaan

konsumen terhadap suatu produk memungkinkan timbulnya evaluasi yang positif terhadap produk tersebut. Sebaliknya, konsumen yang tidak percaya kepada suatu produk memungkinkan timbulnya evaluasi negatif terhadap produk tersebut. Salah satu alat analisis yang dapat menganalisis sikap konsumen adalah model sikap multiatribut Fishbein.

Model sikap multiatribut dapat digunakan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan produk yang dimiliki konsumen dengan sikap terhadap produk berkenan dengan ciri atau atribut produk. Salah satu model multiatribut yang biasa dipakai adalah model atribut Fishbein.


(38)

Model multiatribut Fishbein dipopulerkan oleh Martin Fishbein, mengidentifikasi bagaimana konsumen mengkombinasikan keyakinan mereka mengenai atrbut-atribut produk sehingga akan membentuk sikap mereka terhadap berbagai merek alternatif. Apabila konsumen memiliki sikap yang memdukung terhadap suatu merek, maka merek tersebut yang akan dipilih dan dibelinya (Dwiastuti, dkk, 2012).

Menurut Engel, et al, (1994), terdapat dua sasaran pengukuran yang penting dalam mengevaluasi atribut produk yaitu mengidentifikasi kriteria evaluasi yang mencolok dan memperkirakan saliensi relatif dari masing-masing atribut produk. Kriteria evaluasi yang mencolok dapat diketahui dengan menentukan atribut yang menduduki peringkat tertinggi. Saliensi biasanya diartikan sebagai kepentingan, yaitu konsumen diminta untuk menilai kepentingan dari berbagai kriteria evaluasi.

2.1.6. Kepuasan Konsumen

Kotler (2002) mendefinisikan kepuasan sebagai perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara kinerja (hasil) produk yang di pikirkan terhadap kinerja (hasil) yang

diharapkan, jika kinerja berada dibawah harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan maka pelenggan puas dan jika kinerja melebihi harapan maka pelanggan amat puas atau senang.


(39)

24

Menurut Engel, et al, (1995), kepuasan konsumen merupakan evaluasi purnabeli, dimana alternatif yang dipilih sekurang kurangnya sama atau melampaui harapan konsumen sedangkan ketidakpuasan

konsumen muncul apabila hasil tidak memenuhi harapan. Kepuasan adalah semacam langkah perbandingan antara pengalaman dengan hasil evaluasi, dapat menghasikan sesuatu yang nyaman secara rohani, bukan hanya nyaman karena dibayangkan dan diharapkan. Puas atau tidak puas bukan merupakan emosi melainkan sesuatu hasil evaluasi dari emosi. Beberapa alat analisis yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan adalah dengan menggunakan metode Importance andPerformance Analyis (IPA) dan Customer Satisfaction Index (CSI).

1) Important Performance Analysis (IPA)

Important Performance Analysis (IPA) adalah alat analisis yang menggambarkan kinerja sebuah merek dibandingkan dengan tingkat kepentingan konsumen akan kinerja yang seharusnya ada, dengan menggunakan diagram kartesius. Analisis IPA

menggunakan titik (kordinat) untuk menggambarkan kinerja merek pada suatu produk.

2) Customer Satisfaction Index (CSI)

Customer Satisfaction Index (CSI) digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen secara menyeluruh dengan melihat tingkat kepentingan dari atribut-atribut produk atau jasa. Cara untuk mengukur CSI dilakukan melalui empat tahap yaitu :


(40)

a) Menentukan Mean Important Skor (MIS) b) Membuat Weigh Factors (WF)

c) Membuat Weigh Score (WS)

d) Menentukan Custumers Satisfaction Index (CSI)

2.2. Penelitian Terdahulu

Sebelum memulai sebuah penelitian, peneliti harus mempelajari penelitian sejenis di masa lalu untuk mendukung penelitian yang dilakukan. Penelitian terdahulu akan memberikan gambaran kepada penulis tentang penelitian sejenis yang akan dilakukan. Untuk itu penulis juga melakukan penelusuran tentang penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Subekti (2009) mengenai analisis proses pengambilan keputusan dan kepuasan petani terhadap benih jagung varietas P12 menggunakan Important Performance Analysis (IPA) dan CustumersSatisfaction Index (CSI). Hasil analisis tahap proses pengambilan keputusan petani terhadap pembelian benih jagung hibrida varietas P12 menunjukan bahwa motivasi utama petani dalam pembelian benih jagung hibrida varietas P12 karena produksi jagung yang tinggi.

Berdasarkan hasil perhitungan indeks kepuasan konsumen (CSI) petani responden secara keseluruhan menyatakan kinerja PT Pioneer Seed telah memenuhi harapan para petani yang menunjukkan bahwa pada atribut yang memuaskan para petani berada pada kuadran II. Hal ini dikarenakan karena tingkat kinerja dan tingkat kepentingan sangat tinggi, oleh karena itu


(41)

atribut-26

atribut tersebut harus di pertahankan. Sedangkan yang perlu diperbaiki karena memiliki kinerja yang rendah antara lain harga dan ketersediaan benih jagung P12, atribut yang berada pada kuadran I ini harus menjadi prioritas utama bagi perusahaan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga kepuasan petani pada atribut ini akan terpenuhi

Penelitian yang dilakukan oleh Fahmi (2008) dengan judul analisis sikap dan kepuasan petani padi terhadap benih padi varietas unggul di Kabupaten Kediri, Jawa Timur menggunakan alat analisis sikap adalah model

multiatribut Fishbein, sedangkan untuk menganalisis kepuasan menggunakan Importance andPerformance Analysis dan Customer Satisfaction Index.

Hasil proses keputusan pembelian menunjukkan bahwa petani padi di Kabupaten Kediri memiliki motivasi dalam bertani padi karena turun temurun dari ayah maupun kakek mereka. Mereka menyadari bahwa penggunaan benih varietasunggul sangatlah penting karena dengan

menggunakan varietas unggul hasil panen akan lebih bagus atau meningkat. Informasi yang dibutuhkan petani tentang benih varietas adalah kualitas benih, harga benih tidak terlalu menjadi pertimbangan. Varietas yang menjadi pertimbangan para petani adalah varietas IR 64, Ciherang, Memberamo, Ciboga, Cilamaya dan Intani. Secara keseluruhan petani responden puas terhadap pembelian dan mereka tetap akan membeli jika harga mengenai kenaian. Jika tidak tersedia di tempat biasa membeli, petani akan mencari di tempat lain.


(42)

Berdasarkan hasil Importance and Performance Analysis, atribut-atribut yang dirasakan oleh petani memiliki kinerja yang rendah adalah harga GKG, umur tanaman, tahan hama penyakit dan tahan rebah. Sedangkan atribut-atribut yang memiliki kinerja yang baik adalah produktivitas, pemasaran hasil panen, rasa nasi, ketersediaan dan harga benih. Berdasarkan hasil Customer

Satisfaction Index, menunjukkan bahwa para petani puas terhadap kinerja atribut-atribut varietas unggul. Berdasarkan hasil model multiatribut

Fishbein, petani lebih menyukai varietas Memberamo daripada Ciherang dan IR-64.

Irawati (2009) melakukan penelitian dengan judul analisis sikap dan kepuasan petani padi terhadap benih padi (Oriza sativa) varietas unggul di Kota Solok, Sumatera Barat. Pengolahan data dalam penelitian ini

menggunakan analisis Deskriptif, Importance Performance Analysis dan Customer Satisfaction Index. Berdasarkan hasil yang diperoleh dengan menggunakan analisis deskpitif petani lebih banyak perempuan, sebagian besar berumur 41-50 tahun, tingkat pendidikan terakhir adalah SD, dan pada umumnya memiliki lima orang anak.

Penggunaan benih varietas unggul sangat penting. Petani di kota Solok yang lebih banyak dipilih adalah Cisokan dan Anak Daro. Varietas ini lebih banyak di pilih karena rasa nasi yang enak dan harga gabah yang tinggi. Hasil analisis sikap yang diperoleh diketahui Anak Daro dan Cisokan memiliki atribut tingkat kinerja tinggi dan kepentingan tinggi sedangkan untuk tingkat kepuasannya, semua varietas berada pada kategori puas.


(43)

28

Anggraini (2013) penelitian tentang tingkat kepuasan dan loyalitas konsumen Gulaku di Kota Bandar Lampung menggunakan alat analisis Importance Performance Analysis, Customer Satisfaction Index dan Structural equation models (SEM) . Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kepuasan

konsumen Gulaku di Kota Bandar Lampung berada pada level sangat puas dengan nilai indeks kepuasan (CSI) sebesar 81,68 persen, dan konsumen termasuk konsumen yang loyal. Bauran pemasaran tidak berpengaruh secara nyata terhadap tingkat kepuasan dan loyalitas konsumen Gulaku di

KotaBandar Lampung. Hal tersebut karena nilai yang diterima oleh konsumen dari keempat variabel bauran pemasaran tidak secara

nyata/langsung. Oleh karena itu, diharapkan pihak Sugar Group Company dapat melakukan perbaikan terhadap atribut bauran pemasaran Gulaku, seperti atribut harga, kemudahan memperoleh produk Gulaku, layanan konsumen dan promo penjualan yang dianggap masih belum memuaskan, agar pada masa yang akan datang semakin banyak konsumen yang merasa puas dan tetap setia menggunakan Gulaku.

Penelitian yang dilakukan Aryanti (2013) mengenai analisis tingkat pelayanan restoran terhadap kepuasan pelanggan: studi kasus pada dua restoran di kompleks pertokoan Way Halim Permai Kota Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA). Kesesuaian kinerja masing–masing restoran terhadap harapan konsumen secara keseluruhan dianggap memuaskan, dengan rata-rata kesesuaian diatas 90%. Skor harapan pelanggan terhadap atribut kenyamanan restoran dan keramahan pramusaji, di kedua restoran yang di teliti lebih tinggi


(44)

dibandingkan dengan skor kinerjanya. Secara khusus, di Restoran A atribut yang belum sesuai dengan harapan pelanggan adalah kesesuaian rasa, sedangkan pada Restoran B yakni kebersihan dan kerapihan; ketersediaan toilet ; dan ketersediaan tempat cuci tangan.

Pada restoran A atribut yang terdapat di kuadran I yaitu kesesuaian rasa, keramahan pramusaji, serta kenyamanan restoran. Pada Restoran B atribut yang terdapat di kuadran I yaitu keramahan pramusaji, kebersihan dan kerapihan restoran, ketersediaan toilet, ketersediaan cuci tangan, dan

kenyamanan restoran. Pada Restoran A atribut yang termasuk di kuadran II yaitu kesesuian harga, kecepatan dan kemudahan dalam melayani

pemesanan, serta ketersediaan toilet. Pada Restoran B atribut yang terdapat pada kuadran ini yaitu kesesuaian rasa, kehalalan, kesesuiaan harga,

kecepatan pelayanan, ketelitian perhitungan pembayaran, kerapihan pramusaji, dan kesesuaian lokasi restoran.

Pada Restoran A atribut yang terdapat pada kuadran III yaitu kehalalan, keragaman menu, ketersediaan menu, ketelitian pencatatan pemesanan, ketelitian perhitungan pembayaran, kerapihan pramusaji, keserasian dekorasi ruangan, ketersediaan cuci tangan, ketersediaan tempat ibadah dan

ketersediaan musik. Pada Restoran B atribut yang terdapat pada kuadran ini yaitu ketersediaan menu, ketanggapan terhadap ketidaksesuaian, keserasian dekorasi ruangan, ketersediaan variasi plihan tempat duduk, ketersediaan tempat ibadah, dan ketersedian musik. Pada Restoran A atribut yang terdapat pada kuadran IV yaitu konsistensi menu, keadilan pelayanan, ketanggapan


(45)

30

terhadap ketidaksesuaian, ketersediaan variasi pilihan tempat duduk. Pada Restoran B atribut yang terdapat pada kuadran ini yaitu keragaman menu, konsistensi menu, keadilan pelayanan, dan ketelitian pencatatan pemesanan.

Jurnal penelitian Nurmalina dan Astuti (2007) dengan judul Analisis Proses Keputusan Pembelian Dan Kepuasan Konsumen Terhadap Beras (Studi Kasus Di Kecamatan Mulyorejo Surabaya Jawa Timur) dilakukan dengan menggunakan metode Important Performance Analysis (IPA) dan Custumers Satisfaction Index (CSI). Analisis deskriptif memperlihatkan beberapa perbedaan dalam karakteristik responden dan proses pengambilan keputusan pada ketiga kelas sosial. Perbedaan tersebut terkait dengan tingkat

pendidikan dan tingkat pendapatan keluarga, pertimbangan awal pembelian beras, dan pemilihan tempat pembelian beras.

Hasil analisis CSI menunjukkan bahwa kepuasan total pada ketiga kelas sosial seluruhnya berada pada range ”puas”. Namun semakin tinggi kelas sosial, kepuasan terhadap beras yang dikonsumsinya semakin tinggi karena kualitas beras yang dikonsumsinya juga lebih tinggi . Hasil analisis data dengan IPA menunjukkan bahwa kinerja yang harus segera ditingkatkan berdasarkan preferensi dan kepuasan konsumen kelas atas adalah kemudahan mendapatkan beras dan pelayanan penjual. Konsumen kelas menengah menilai daya tahan beras, keseragaman butir, dan broken sangat penting dan kinerjanya perlu ditingkatkan. Sedangkan bagi konsumen kelas bawah, atribut yang penting dan perlu ditingkatkan kinerjanya adalah harga, aroma nasi, broken, dan kebersihan beras.


(46)

Penelitian Fatonah dan Soebandiono (2010) dengan judul analisis faktor faktor marketing mix yang mempengaruhi keputusan konsumen membeli benih jagung hibrida Pioneer P21 di Kabupaten Bantul menggunakan alat analisis uji instrumen penelitian, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis. Berdasarkan hasil uji t yang digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh yang signifikan dari variabel produk, harga, promosi dan distribusi secara parsial terhadap keputusan membeli memberikan hasil bahwa dari semua variabel bebas tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan membeli.

Hasil uji F diperoleh nilai F hitung sebesar 141,192 > F tabel = 2,47, sehingga terjadi penolakan atas Ho atau dengan kata lain terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel produk, harga, promosi dan distribusi secara bersama-sama terhadap keputusan membeli dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai koefisien determinasi (Adjusted R2) yang dihasilkan sebesar 0,850. Nilai ini memberikan arti bahwa 85% variasi dari keputusan membeli dapat dijelaskan oleh variabel produk, harga, promosi dan distribusi.

Sedangkan sisanya sebesar 15% diterangkan oleh variabel lain selain produk, harga, promosi dan distribusi.

Analisis Tingkat Loyalitas Merek Benih Jagung Hibrida Merek DK979 di Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Priana (2012) menggunakan alat analisis metode statistik deskriptif dalam penelitian

tentang analisis tingkat loyalitas merek benih jagung hibrida merek DK979 di Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini


(47)

32

mengemukakan prosentase responden yang termasuk dalam tingkat loyalitas merek switcher, habitual buyer, satisfied buyer, liking of the brand, dan committed buyer di Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk berturut-turut adalah 24,66%; 45,20%; 50,68%; 71,23% dan

68,49%. Tingkat loyalitas merek benih jagung hibrida merek DK979 di Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk yang paling dominan adalah tingkat Liking the brand sebesar 71,23%.

Penelitian tentang preferensi konsumen terhadap buah jeruk lokal dan buah jeruk impor di Kabupaten Kudus oleh Riska (2012) menggunakan analisisi Chi-Square dan multitribut Fishbein. Hasil penelitian menunjukkan responden yang membeli buah jeruk lokal maupun buah jeruk impor didominasi oleh perempuan dengan mayoritas kisaran usia produktif yaitu antara 20 hingga 40 tahun (77,08%). Tingkat pendidikan mayoritas SLTA (39,58%). Pekerjaan mayoritas adalah pegawai swasta (29,17%). Tingkat pendapatan mayoritas adalah Rp 1.500.000,00 - Rp 2.499.000,00 (26,04%). Jumlah anggota keluarga mayoritas 4-5 orang (54,17%).

Berdasarkan analisis Chi Square terdapat perbedaan preferensi konsumen terhadap semua atribut-atribut yang ada buah jeruk lokal dan buah jeruk impor, kecuali pada atribut warna buah jeruk impor. Buah jeruk lokal yang menjadi preferensi konsumen di Kabupaten Kudus adalah yang mempunyai rasa manis sedikit asam, warna buah kuning kehijauan, ukuran buah sedang (8-9 buah/kg), dan aroma buah segar. Sedangkan buah jeruk impor yang menjadi preferensi konsumen di Kabupaten Kudus adalah yang mempunyai


(48)

rasa manis, warna buah oranye, ukuran sedang (8-9 buah.kg), dan aroma buah yang segar. Berdasarkan analisis Multiatribut Fishbein Atribut yang dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian buah jeruk lokal maupun buah jeruk impor di Kabupaten Kudus berturut-turut adalah rasa buah, warna buah, ukuran buah, dan aroma buah.

Berdasarkan penelitian terdahulu terdapat kesamaan dalam komoditas benih palawija jagung yang digunakan pada penelitian Subekti. Penelitian Irawati dan Fahmi menganalisis komoditas benih padi hibrida. Dilihat dari alat analisis yang digunakan, Subekti menggunakan alat analisis Important

Performance Analysis (IPA) dan CustumersSatisfaction Index (CSI). Irawati dan Fahmi yang menggunakan alat analisis Multiatribut Fishbein, Important Performance Analysis (IPA) dan CustumersSatisfaction Index (CSI).

Penelitian yang akan dilakukan ini memiliki kesamaan metodelogi penelitan dengan penilitan yang dilakukan oleh Irawati dan Fahmi, hanya saja terdapat perbedaan komoditas benih yang diteliti yaitu benih padi hibridadengan benih jagung hibrida. Berbeda dengan penelitian terdahulu, penelitian ini

menganalisis sikap dan kepuasan petani terhadap benih jagung hibrida secara keseluruhan yang beredar atau dipasarkan di Kabupaten Lampung Selatan.


(49)

34

Tabel 5. Ringkasan penelitian terdahulu

No Nama Peneliti

(Tahun) Judul penelitian

Metodologi

Penelitian Hasil Penelitian

1. Subekti (2009) Analisis proses pengambilan keputusan dan kepuasan petani terhadap benih jagung varietas P12

Important Performance Analysis (IPA) dan Customers

Satisfaction Index (CSI).

Hasil analisis tahap proses pengambilan keputusan petani terhadap pembelian benih jagung hibrida

varietas P12 menunjukan bahwa motivasi utama petani dalam pembelian benih jagung hibrida varietas P12 karena produksi jagung yang tinggi. Berdasarkan hasil perhitungan indeks kepuasan konsumen (CSI) petani responden secara keseluruhan menyatakan kinerja PT Pioneer Seed telah memenuhi harapan para petani, yang menunjukkan bahwa pada atribut yang memuaskan para petani berada pada kuadran II 2 Fahmi

(2008)

Analisis Sikap dan Kepuasan Petani Padi terhadap Benih Padi

Varietas Unggul di Kabupaten Kediri, Jawa Timur

Importance Performance Analysis (IPA), dan Customer

Satisfaction Index (CSI)

Hasil proses keputusan pembelian menunjukkan bahwa petani menyadari penggunaan benih varietas unggul sangatlah penting karena dengan menggunakan varietas unggul hasil panen akan lebih bagus atau meningkat. Informasi yang dibutuhkan petani tentang benih varietas adalah kualitas benih, harga benih tidak terlalu menjadi pertimbangan.

Berdasarkan hasil Importance and Performance Analysis, atribut-atribut yang dirasakan oleh petani memiliki kinerja yang rendah adalah harga GKG, umur tanaman, tahan hama penyakit dan tahan rebah.

Sedangkan atribut-atribut

yang memiliki kinerja yang baik adalah produktivitas, pemasaran hasil panen, rasa nasi, ketersediaan dan


(50)

harga benih. Berdasarkan hasil Customer Satisfaction Index,

menunjukkan bahwa para petani puas terhadap kinerja atribut-atribut varietas unggul. Berdasarkan hasil model multiatribut Fishbein, petani lebih menyukai varietas Memberamodaripada varietas IR46 dan Ciherang.

3. Irawati (2009) Analisis Sikap Dan Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih Padi (Oriza sativa)

Varietas Unggul di Kota Solok, Sumatera Barat

model multiatribut fishbein,

Importance Performance Analysis dan Customer

Satisfaction Index

Berdasarkan hasil yang diperoleh dengan

menggunakan analisis deskpitif petani lebih banyak perempuan, sebagian besar berumur 41-50 tahun, tingkat pendidikan terakhir adalah SD, dan pada umumnya memiliki lima orang anak. Penggunaan benih varietas unggul sangat penting. Petani di kota Solok yang lebih banyak dipilih adalah Cisokan dan Anak Daro. Varietas ini lebih banyak di pilih karena rasa nasi yang enak dan harga gabah yang tinggi. Hasil analisis sikap yang diperoleh diketahui Anak Daro dan Cisokan memiliki atribut tingkat kinerja tinggi dan kepentingan tinggi sedangkan untuk tingkat

kepuasannya, semua varietas berada pada kategori puas.

4. Vientika Anggraini (2013)

Tingkat Kepuasan dan Loyalitas Konsumen Gulaku di Kota Bandar Lampung

Importance Performance Analysis dan Customer

Satisfaction Index

Indeks kepuasan konsumen Gulaku di Kota Bandar Lampung berada pada level sangat puas dengan nilai indeks kepuasan (CSI) sebesar 81,68 persen, dan konsumen termasuk konsumen yang loyal. Bauran pemasaran tidak berpengaruh secara nyata terhadap tingkat kepuasan dan loyalitas konsumen Gulaku di KotaBandar Lampung. Hal tersebut karena nilai yang


(51)

36

diterima oleh konsumen dari keempat variabel bauran pemasaran tidak secara nyata/langsung. atribut bauran pemasaran Gulaku, seperti atribut harga, kemudahan memperoleh produk Gulaku, layanan konsumen dan promo penjualan yang dianggap masih belum memuaskan, agar pada masa yang akan datang semakin banyak konsumen yang merasa puas dan tetap setia menggunakan Gulaku

5 Dwi Aryanti (2013)

Analisis Tingkat Pelayanan Restoran Terhadap Kepuasan Pelanggan:

Studi Kasus pada Dua Restoran di Kompleks Pertokoan Way Halim Permai Kota Bandar Lampung

Important Performance Analysis (IPA)

Skor harapan pelanggan terhadap atribut

kenyamanan restoran dan keramahan pramusaji, di kedua restoran yang di teliti lebih tinggi dibandingkan dengan skor kinerjanya. Secara khusus, di Restoran A atribut yang belum sesuai dengan harapan pelanggan adalah kesesuaian rasa, sedangkan pada Restoran B yakni kebersihan dan kerapihan; ketersediaan toilet ; dan ketersediaan tempat cuci tangan. Kesesuaian kinerja masing–masing restoran terhadap harapan konsumen secara keseluruhan dianggap memuaskan, dengan rata-rata

kesesuaian diatas 90%. 6 Rita

Nurmalina dan Endang Pudji Astuti (2007) Analisis Proses Keputusan Pembelian Dan Kepuasan Konsumen Terhadap Beras

(Studi Kasus Di Kecamatan Mulyorejo

Important Performance Analysis (IPA) dan Customer

Satisfaction Index (CSI).

Analisis deskriptif memperlihatkan beberapa

perbedaan dalam karakteristik responden dan proses pengambilan keputusan pada ketiga kelas sosial. Hasil analisis CSI menunjukkan bahwa kepuasan total pada ketiga kelas sosial seluruhnya berada pada range ”puas”. Hasil analisis data dengan IPA menunjukkan bahwa kinerja yang harus segera ditingkatkan


(52)

Surabaya Jawa Timur)

berdasarkan preferensi dan kepuasan konsumen kelas atas adalah kemudahan mendapatkan beras dan pelayanan penjual.

7. Siti Fatonah dan R. Sigit Soebandiono (2010) Analisis Faktor Faktor Marketing Mix Yang Mempengaruhi Keputusan Konsumen Membeli Benih Jagung Hibrida Pioneer P21 Di Kabupaten Bantul

Uji Instrumen Penelitian, Uji Asumsi Klasik, dan Uji Hipotesis

Uji t yang digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh yang signifikan dari variabel produk, harga, promosi dan distribusi secara parsial terhadap

keputusan membeli memberikan hasil bahwa dari semua variabel bebas tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan membeli.

Dari hasil uji F diperoleh nilai F hitung sebesar 141,192 > F tabel = 2,47, sehingga terjadi penolakan atas Ho atau dengan kata lain terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel produk, harga, promosi dan distribusi secara bersama-sama terhadap keputusan membeli dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai koefisien determinasi (Adjusted R2) yang dihasilkan sebesar 0,850. Nilai ini memberikan arti bahwa 85% variasi dari keputusan membeli dapat dijelaskan oleh variabel produk, harga, promosi dan distribusi. Sedangkan sisanya sebesar 15% diterangkan oleh variabel lain selain produk, harga, promosi dan distribusi.

8 Heri Priana (2012)

Analisis Tingkat Loyalitas Merek Benih Jagung Hibrida Merek Dk979 Di Desa Trayang, Kecamatan

Metode statistik deskriptif

Prosentase responden yang termasuk dalam tingkat loyalitas merek switcher, habitual buyer, satisfied buyer, liking of the brand, dan committed buyer di Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk berturut-turut adalah 24,66%; 45,20%; 50,68%; 71,23% dan 68,49%. Tingkat loyalitas merek


(53)

38

Ngronggot,

Kabupaten Nganjuk

benih jagung hibrida merek DK979 di Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk yang paling dominan adalah tingkat Liking the brand sebesar 71,23%.

9. Isni Yuniar Riska (2012)

Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Buah Jeruk Lokal dan Buah Jeruk Impor di Kabupaten Kudus

Analisis Chi Squaredan model multiatribut fishbein

preferensi konsumen terhadap semua atribut-atribut yang ada buah jeruk lokal dan buah jeruk impor berbeda, kecuali pada atribut warna buah jeruk impor. Buah jeruk lokal yang menjadi preferensi konsumen di Kabupaten Kudus adalah buah jeruk yang mempunyai rasa manis sedikit asam, warna buah kuning kehijauan, ukuran buah sedang, dan aroma buah yang segar. Sedangkan buah jeruk impor yang menjadi preferensi konsumen di Kabupaten Kudus adalah buah jeruk yang mempunyai rasa manis, warna buah oranye, ukuran sedang, dan aroma buah yang segar. Atribut yang dipertimbangkan konsumen dalam keputusan

pembelian buah jeruk lokal maupun buah jeruk impor di Kabupaten Kudus berturut-turut adalah rasa buah, warna buah, ukuran buah, adan aroma buah.


(54)

2.3. Kerangka Pemikiran

Seiring dengan meningkatnya permintaan pasar akan jagung membuat para produsen benih hibrida memiliki prospek yang lebih baik, karena secara langsung akan berdampak pada peningkatan permintaan benih jagung hibrida. Perubahan pola permintaan jagung juga mendorong perubahan adopsi teknologi benih. Saat ini benih jagung hibrida telah dikembangkan dan diperkenalkan pada petani sehingga diharapkan petani mau

menggunakan benih tersebut guna meningkatkan produksi dan memperoleh pendapatan yang tinggi.

Benih jagung varietas hibrida berpotensi menghasilkan produksi hingga 7-14 ton pipilan kering per hektar. Benih jagung hibrida memiliki banyak

keunggulan dibandingkan dengan benih jagung lokal atau bersari bebas. Keunggulan tersebut antara lain, masa panennya lebih cepat, lebih tahan serangan hama dan penyakit, serta produktivitasnya lebih tinggi. Potensi tersebut akan sangat membantu petani untuk memperoleh produksi jagung yang maksimal dibandingkan menggunakan benih jagung komposit dengan potensi produksi 7-8 ton pipilan kering per hektar atau benih jagung lokal dengan potensi produksi 4-5 ton pipilan kering per hektar.

Mulai awal tahun 1990-an, industi benih jagung hibrida berkembang pesat yang diikuti oleh percepatan adopsi teknologi jagung hybrid. Peningkatan produktivitas jagung terutama didorong oleh semakin gencarnya promosi yang digelar oleh produsen benih jagung hibrida. Saat ini telah banyak dikenal varietas jagung hibrida, seperti benih hibrida P5, P21, P12, BISI-2,


(55)

40

BISI-12, BISI-16, NK33, NK22, DK3, C-7, C-9 C-3 dan Semar 2. Potensi hasilnya rata-rata tinggi, yaitu antara 7-14 ton/ha.

Perilaku petani sangat berdampak pada upaya peningkatan produksi jagung. Penyediaan benih jagung hibrida yang bermutu dan secara kontinyu dapat memenuhi permintaan petani, dapat membantu para petani untuk

meningkatkan hasil produksi tanaman . Potensi varietas hibrida yang dicirikan dengan penampilan jagung dilapang berupa karakteristik produksi dilapang dan kualitas harus benar-benar memenuhi selera petani tersebut. .

Petani memiliki beberapa karakteristik dan faktor-faktor dalam menentukan keputusan pembelian suatu varietas hibrida. Faktor-faktor tersebut diatas akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Dalam penelitian ini, alat analisis yang digunakan untuk mengukur sikap petani terhadap

atribut-atribut benih jagung hibrida adalah model sikap multiatribut Fishbein. Sedangkan teknik Importance Performance Analysis (IPA) digunakan untuk menilai kepentingan, kinerja dan kepuasan responden terhadap masing-masing atribut varietas unggul berdasarkan pendapat responden. Untuk mengukur tingkat kepuasan petani secara menyeluruh terhadap varietas hibrida digunakan Costumer Satification Index (CSI) yang akan mengukur tingkat kepuasan dengan mengukur tingkat kepentingan dan kinerja. Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi penelitian selanjutnya. Kerangka operasional dapat dilihat pada Gambar 2.


(56)

Gambar 2. Kerangka Pemikiran

Pentingnya Benih Hibrida untuk Meningkatkan

Produktivitas

Rekomendasi Bagi Produsen Benih dan Pemerintah Keanekaragaman Benih Jagung yang Beredar

Perilaku Petani Produksi Jagung

Karakteristik petani dan Proses Keputusan Pembelian

Analisis Sikap (Miltiatribut fishbein)

Analisis Important &

Peformance Analysis

(IPA) dan Costumer Satisfaction index

(CSI)

Harapan dan Kepercayaan terhadap

atribut-atribut benih Jagung Hibrida

Kepuasan Petani terhadap Benih Jagung

Hibrida


(57)

III. METODE PENELITIAN

3.1.Konsep Dasar dan Definisi Operasional

Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan penelitian.

Benih adalah bibit atau biji dari tanaman yang digunakan untuk ditanam atau disemaikan.

Benih jagung hibrida adalah benih jagung varietas hibrida yang memiliki keunggulan produksi dan mutu hasil, umur tanaman pendek, tahan terhadap hama penyakit, dan tanggap terhadap pemupukan.

Petani jagung hibrida adalah semua petani yang menanam dan

mengelola jagung dengan menggunakan benih jagung hibrida dengan tujuan memperoleh keuntungan yang maksimum.

Karakteristik petani adalah spesifikasi petani menurut umur,

pendidikan, luas lahan, pendapatan usaha tani, pengeluaran usaha tani, status lahan, pengalaman usaha tani, pendapatan dan lain-lain.


(58)

Sikap petani yaitu evaluasi secara keseluruhan terhadap suatu produk input usaha tani yang akan dibeli untuk memuaskan kebutuhan berdasarkan atribut-atribut yang melekat

Kepuasan petani merupakan evaluasi purnabeli, alternatif yang dipilih sekurang kurangnya sama atau melampaui harapan petani sedangkan ketidakpuasan petani muncul apabila hasil tidak memenuhi harapan. Kepuasan petani diukur melalui atribut yang ada.

Atribut benih jagung hibrida yaitu sekumpulan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh suatu produk benih jagung hibrida meliputi : merk, promosi, produktivitas, umur, daya tumbuh, ukuran batang, ukuran tongkol, ketahanan hama dan penyakit, bentuk klobot dan harga benih.

Atribut merk benih jagung hibrida adalah nama, tanda, simbol, atau kombinasi yang mengidentifikasikan pembuat atau produsen dari produk benih yang dipasarkan (dihitung dalam satuan skala Likert).

Atribut Promosi benih jagung hibrida merupakan aktivitas yang membuat komunikasi hubungan antara produk benih yang dipasarkan dan membujuk target konsumen (petani) untuk membelinya

berdasarkan intensitas promosi yang ada (dihitung dalam satuan skala Likert).

Atribut produktivitas jagung adalah jumlah hasil atau produksi palawija (jagung) selama satu periode. (dihitung dalam satuan skala Likert).


(59)

44

Atribut umur panen adalah umur jagung ketika panen dan diukur dalam satuan hari. Umur panen merupakan komponen bagian dari varietas jagung hibrida (dihitung dalam satuan skala Likert).

Atribut daya tumbuh benih jagung hibridaadalah atribkemamptuan benih memiliki persentase kemampuan yang baik untuk berkecambah dan tumbuh (dihitung dalam satuan skala Likert).

Atribut ukuran tongkol jagung adalah ukuran atau diameter bagian organ betina jagung tempat biji atau bulir menempel (dihitung dalam satuan skala Likert).

Atribut ukuran batang merupakan ukuran atau diameter bagian tubuh tanaman yang menopang tegak tanaman (dihitung dalam satuan skala Likert).

Atribut ketahanan hama dan penyakit adalah kemampuan suatu tanaman tahan atau rentan terhadap hama dan penyakit yang menyerang tanaman jagung (dihitung dalam satuan skala Likert).

Atribut bentuk klobot adalah bentuk kulit yang tidak menutup atau menutup baik buah atau bulir jagung (dihitung dalam satuan skala Likert).

Atribut harga benih jagung hibrida adalah harga beli benih jagung hibrida oleh petani jagung dalam satu kali musim tanam dan diukur dalam satuan rupiah per kilogram (dihitung dalam satuan skala Likert).


(60)

Atribut ketersediaan benih yaitu kemudahan petani dalam mendapatkan benih, baik benih bersubsidi dikios saprotan kelompok tani maupun di kios saprotan umum (dihitung dalam satuan skala Likert).

Model multiatribut Fishbein adalah tehnik yang digunakan untuk memperoleh konsistensi antara sikap dan perilaku konsumen, penilaian suka dan tidak suka serta penilaian positif dan negatif terhadap atribut benih varietas hibrida.

Importance Performance Analysis (IPA) merupakan suatu teknik penerapan yang digunakan untuk mengukur atribut dari tingkat kepentingan (importance) dan tingkat pelaksanaan/kinerja

(performance) yang berguna untuk pengembangan program pemasaran yang efektif.

Customers Satisfaction Indeks adalah metode yang digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen secara menyeluruh dengan melihat tingkat kepentingan dari atribut-atribut produk dan jasa.

3.2. Lokasi Penelitian, Responden dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Jati Agung dan Desa Lematang, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Lampung Selatan merupakan sentra pengembangan agribisnis jagung, khususnya


(61)

46

jagung varietas hibrida di Provinsi Lampung. Kecamatan Jati Agung dan Tanjung Bintang dipilih dengan pertimbangan bahwa kecamatan tersebut memiliki produksi jagung yang tinggi di Kabupaten Lampung Selatan. Pengambilan data dilaksanakan bulan Agustus 2013 hingga November 2013. Responden dalam penelitian ini adalah petani jagung varietas hibrida. Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan

menggunakan tmetode acak sederhana atau simple random sampling. Penentuan jumlah sampel mengacu pada Soegiarto (2003), dengan rumus :

2 2 2

2 2

S Z Nd

S NZ n

 

Keterangan :

n = Jumlah sampel N = Jumlah petani S2 = Varian sampel (5%)

Z = tingkat kepercayaan (95% =1,96) d = derajat penyimpangan (5%)

Perincian jumlah responden ditentukan dari masing-masing wilayah (ni) dan dipergunakan alokasi proposional sebagai berikut:

n

n

N

n

i

i

Keterangan :

ni = Jumlah sampel i

Ni = Jumlah petani wilayah i N = Jumlah petani


(1)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan, 1. Karakteristik dan keputusan pembelian dapat disimpulkan sebagai

berikut:

a. Karakteristik petani responden mayoritas laki-laki menikah berusia antara 31-50 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir adalah SD dan telah melakukan budidaya jagung hibrida selama 6-10 tahun serta luas lahan kurang dari 1 hektar

b. Berdasarkan hasil proses keputusan pembelian, petani memiliki motivasi bertani jagung hibrida karena produktivitas tinggi, oleh sebab itu mereka menganggap penggunaan benih hibrida sangat penting. Petani mengetahui dan mempercayai tentang benih jagung hibrida dari kelompok tani. Petani memutuskan

membeli secara terencana dengan keyakinan dari diri sendiri di kios pertanian yang dekat dengan rumah dengan jarak 1-5 km. Mereka memilih alternatif dengan melihat produktivitas benih jagung hibrida. Petani sepenuhnya merasa puas terhadap benih jagung hibridakarena memiliki produktivitas yang tinggi.


(2)

2. Sikap dan kepuasan dapat disimpulkan sebagai berikut:

a. Hasil analisis sikap multiatribut fishbein, sikap petani terhadap varietas P27 lebih baik daripada varietas BISI2 dan varietas NK2. Skor ketiga varietas secara berturut-turut adalah P27 (80,84), NK22 (77,87) dan BISI2 (74,34). Berdasarkan luas lahannya, sikap petani kecil lebih baik daripada petani sedang dan besar dalam menerima benih jagung hibrida.

b. Hasil analisis Importance Performance Analysis (IPA), atribut yang harus ditingkatkan adalah daya tumbuh dan umur panen (kuadran I), sedangkan atribut yang harus dipertahankan adalah produktivitas, merk dan ketahanan HPT (kuadran II). Indeks kepuasan benih jagung hibridaberada di angka 75,38 % dan menunjukkan petani “sangat puas” terhadap kinerja benih jagung hibrida. CSI berdasarkan karakteristik luas lahan petani menunjukkan benih jagung hibrida lebih memenuhi preferensi petani dengan luas lahan yang lebih kecil.

6.2. Saran

Saran dari penelitian ini adalah

1. Menjaga kepercayaan petani terhadap benih jagung hibrida dengan cara selalu menyediakan benih jagung yang sudah terjamin

kualitasnya.

2. Produsen benih jagung hibrida harus mempertahankan atribut

kepercayaan terhadap merek, produktivitas dan ketahanan hama dan penyakit tanaman.


(3)

128

3. Perlu terus diupayakan pengembangan varietas yang lebih baik dan dapat diterima petani maupun konsumen, seperti varietas yang memiliki produktivitas yang tinggi, memiliki umur pendek, dan daya tumbuh yang baik


(4)

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Vientika. 2013. Tingkat Kepuasan dan Loyalitas Konsumen Gulaku di Kota Bandar Lampung. Jurnal Ilmu-Ilmu Agribisnis Volume 1 Nomer 2, April 2013. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Lampung

Aryanti, Dwi. 2013. Analisis Tingkat Pelayanan Restoran terhadap Kepuasan Pelanggan : Studi Kasus Dua Restoran di Kompleks Pertokoan Wayhalim Permai Kota Bandar Lampung. Jurnal Ilmu-Ilmu Agribisnis Volume 1 Nomer 2, April 2013. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Lampung

Bahtiar, S. Pakki, dan Zubachtirodin. 2007. Sistem Perbenihan Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros.

Bakhri, Syamsul. 2009. Budidaya Jagung dengan Konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu.

http://pfi3pdata.litbang.deptan.go.id/dokumen/one/29/file/07-juknis-jagung.pdf. Diakses tanggal 20 November 2012.

Departemen Pertanian. 2012. Perkembangan Kebutuhan dan Produksi Jagung Indonesia, 2007-2011. www.deptan.go.id. Diakses 20 November 2012.

______________________. Produksi, luas panen dan produktivitas jagung per provinsi di Indonesia, tahun 2011. www.deptan.go.id. Diakses 20 November 2012.

Dwiastuti, R. Shinta, A. Riyanti Isaskar. 2012. Ilmu Perilaku Konsumen, Universitas Brawijaya Press. Malang.

Badan Pusat Statistik. 2012. Lampung Dalam Angka 2012. BPS Provinsi Lampung. Bandar Lampung.

Badan Pusat Statistik. 2012. Lampung Selatan Dalam Angka 203.. BPS Provinsi Lampung. Bandar Lampung.

Badan Pusat Statistik. 2012. Jati Agung Dalam Angka 2013. BPS Provinsi Lampung. Kalianda.


(5)

130

Badan Pusat Statistik. 2012. Tanjung Bintang Dalam Angka 2013. BPS Provinsi Lampung. Kalianda.

Engel, J. F., Blackwell, R. R., Miniard, P.W. 1995. Prilaku Konsumen, Jilid I. Binarupa Aksara. Jakarta.

___________________________________. 1995. Prilaku Konsumen, Jilid II. Binarupa Aksara. Jakarta.

Fahmi, D. 2008. Analisis Sikap dan Kepuasan Petani Padi terhadap Benih Padi Varietas Unggul di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Skripsi. Departemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut

Pertanian Bogor. Bogor.

Fatonah, Siti dan R. Sigit Soebandiono. 2010. Analisis Faktor Faktor Marketing Mix yang Mempengaruhi Keputusan Konsumen Membeli Benih Jagung Hibrida Pioneer P21 di Kabupaten Bantul. Jurnal. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi AUB Surakarta. Solo.

Irawati, Nike. 2009. Analisis Sikap dan Kepuasan Petani Padi Terhadap Benih Padi (Oryza Sativa) Varietas Unggul di Kota Solok Sumatera Barat. Skripsi. Departemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kasryno, F. Pasandaran, E. 2007 Gambaran Umum Ekonomi Jagung Indonesia. Jurnal. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jakarta. Jakarta.

Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran, Jilid II, Edisi Millennium. PT. Prenhallindo. Jakarta.

Nugroho. J. S. 2003. Perilaku Konsumen (Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran). Prenada Media. Jakarta. Nurmalina, Rita dan Endang Pudji Astuti. 2009. Analisis Proses Keputusan

Pembelian dan Kepuasan Konsumen Terhadap Beras (Studi Kasus di Kecamatan Mulyorejo Surabaya Jawa Timur). Jurnal Sains Terapan. Departemen Agbribisnis. Fakultas Ekonomi Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Priana, Heri. 2010. Analisis Tingkat Loyalitas Merek Benih Jagung Hibrida Merek Dk979 di Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Naskah Publikasi Jurnal. Program Studi Agribisnis. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Universitar Brawijaya. Malang. Priyatno, Dwi. 2009. Belajar Olah Data dengan SPSS17. ANDI.


(6)

Pujiharti, Yulia Dan Herdiansyah, Edwin. 2010. Peluang Agribisnis Benih Jagung Komposit di Lampung. Seminar Nasional Serealia 2011. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. Bandar Lampung Purwanto, S. 2008. Perkembangan Produksi dan Kebijakan dalam

Peningkatan Produksi Jagung. Direktorat Budi Daya Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Jakarta.

Riska, Isni Yuniar. 2012. Analisis Preferensi Konsumen terhadap Buah Jeruk Lokal dan Buah Jeruk Impor di Kabupaten Kudus. Naskah Publikasi Jurnal Volume 1 Nomor 2 Tahun 2012. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta

Rustandi, Yudi dan Isyunani. 2011, Analisis Faktor Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberhasilan Kemitraan Pembenihan Jagung antara Pt. Dupont Indonesia dengan Petani Jagung di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Jurnal. Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Malang. Malang.

Simamora, Bilson. 2002. Panduan Riset Perilaku Konsumen. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Subekti, Puji. 2009. Proses Keputusan Pembelian dan Kepuasan Petani Terhadap Benih Jagung Pioneer Varietas P12 di Kecamatan Caringin Kabupaten Sukabumi. Skripsi. Program Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sugiarto, D. Siagian, L.S. Sunarto, dan D.S. Oetomo. 2003. Teknik

Sampling. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Sustiprijatno. 2008. Jagung Transgenik dan Perkembangan Penelitian di Indonesia. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Bogor.

Zubachtirodin, M.S. Pabbage, dan Subandi. 2008. Wilayah Produksi dan Potensi Pengembangan Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia. Maros.