Keanekaragaman Rayap Tanah di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rayap adalah serangga sosial pemakan selulosa temasuk ke dalam ordo
Blatodea dan diperkirakan telah menghuni bumi sekitar 220 juta tahun yang lalu
atau 100 juta tahun sebelum serangga sosial lainnya menghuni Bumi (Nandika et
al. 2003). Rayap memiliki keragaman spesies yang tinggi, tercatat 2500 spesies
telah berhasil diidentifikasi. Spesies tersebut terbagi ke dalam 7 famili, 15 subfamili, dan 200 genus yang tersebar diberbagai negara di dunia (Nandika et al.
2003). Rayap mudah di jumpai di dataran rendah tropik, hal ini dikarenakan
penyebaran dan aktivitas rayap sangat dipengaruhi oleh faktor suhu dan curah
hujan. Namun demikian, beberapa genus rayap dapat hidup di daerah-daerah
dingin seperti Archotermopsis yang hidup di Puncak Pegunungan Himalaya pada
ketinggian 3000 m dpl. Di Indonesia ditemukan 200 spesies rayap yang terdiri
dari 3 famili yaitu Kalotermitidae, Rhinotermitidae dan Termitidae.
Rayap banyak memberikan manfaat bagi ekosistem bumi, sebagai
makrofauna tanah rayap memiliki peran dalam pembuatan lorong-lorong di dalam
tanah dan mengakibatkan tanah menjadi gembur sehingga baik untuk
pertumbuhan tanaman (Sigit & Hadi 2006), rayap memiliki peran dalam
membantu manusia sebagai dekomposer dengan cara menghancurkan kayu atau
bahan organik lainnya dan mengembalikan sebagai hara ke dalam tanah (Nandika
et al. 2003). Sebagian masyarakat beranggapan bahwa rayap merupakan serangga
perusak, hal tersebut tidak terlepas dari berbagai kegiatan rayap yang
menimbulkan kerusakan pada tanaman dan kerusakan pada bangunan yang terbuat
dari kayu sehingga merugikan dari sisi ekonomi.
Rayap bersifat polimorfis yaitu terdapat sistem kasta yang terdiri dari kasta
reproduksi, pekerja dan prajurit. Ketiga kasta ini memiliki ciri tubuh yang khas.
Rayap dapat diidentifikasi dengan mengamati ukuran kepala serta mandibel dari
kasta prajurit (Nandika et al. 2003).

2

Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) yang luasnya mencapai 359 Ha
dan memiliki berbagai spesies tegakan pohon diantaranya agathis, pinus dan
puspa namun tidak memiliki data mengenai keragaman rayap, sehingga penelitian
mengenai keanekaragaman rayap perlu dilakukan untuk melengkapi data fauna di
HPGW.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman rayap di
wilayah Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat.

1.3 Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang
keranekaragaman spesies rayap di wilayah Hutan Pendidikan Gunung Walat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bioekologi Rayap
Rayap adalah serangga sosial yang termasuk ke dalam ordo Blatodea,
kelas heksapoda yang dicirikan dengan metamorfosis sederhana, bagian-bagian
mulut mandibula. Rayap hidup secara koloni dan diklasifikasikan ke dalam tujuh
famili

diantaranya

famili

Mastotermitidae,

Kalotermitidae,

Termopsidae,

Hodotermitidae, Rhinotermitidae, Serritermitidae, Termitidae (Nandika et al.
2003). Klasifikasi rayap menurut Borror et al. (1992) ialah sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthopoda

Kelas

: Heksapoda

Ordo

: Blatodea

Famili

: Mastotermitidae

Famili

: Kalotermitidae

Famili

: Termopsidae

Famili

: Hodotermitidae

Famili

: Rhinotermitidae

Famili

: Serritermitidae

Famili

: Termitidae

Ciri-ciri dari masing-masing famili rayap adalah sebagai berikut:
Famili Kalotermitidae. Ada 16 spesies rayap termasuk rayap kayu
kering, kayu basah dan bubuk. Rayap ini tidak memiliki kasta pekerja, sehingga
yang melakukan pekerjaan koloni yaitu rayap-rayap muda dari kasta-kasta lain.
Rayap kayu kering menyerang kayu kering yang tidak bersentuhan dengan tanah.
Kebanyakan rayap yang terdapat dalam famili ini beraktivitas di dalam gedunggedung, perabotan rumah tangga, tiang-tiang (Borror 1992).
Rayap bubuk menyerang kayu-kayu kering yang kontak maupun tidak
dengan tanah. Rayap spesies ini menyerang kayu-kayu kering yang kemudian
direduksi menjadi bubuk. Berbagai barang yang diserang rayap ini diantaranya:

4

perabotan rumah tangga, buku-buku, kertas-kertas, barang-barang kering dan
kayu-kayu bangunan (Borror 1992).
Famili Mastotermitidae adalah rayap yang tinggal bawah tanah dari
sarang interkoneksi oleh bagian-bagian yang dekat dengan permukaan.
Mastotermes darwiniensis spesies yang masih hidup hanya dari keluarga
Mastotermitidae rayap. Rayap ini ditemukan di Australia Utara (Tyler 2012).
Famili Termopsidae adalah keluarga dampwood rayap yang berada
tempat-tempat yang lembab dan kayu busuk di atas tanah. Rayap ini tumbuh
subur dengan koloni kecil sehingga tidak menyebabkan banyak kerusakan
ekonomi (Tyler 2012).
Famili Hodotermitidae. Merupakan rayap kayu basah. Rayap ini
menyerang kayu-kayu mati, dan walaupun mereka tidak memerlukan kontak
dengan tanah, sejumlah kelembaban dalam kayu diperlukan. Rayap yang
termasuk dalam famili ini biasanya dapat ditemukan di kayu-kayu gelondongan
yang sudah membusuk, lembab dan mati, namun sering pula merusak gedunggedung terutama di daerah pantai yang cukup kabut (Borror 1992).
Famili Rhinotermes. Kelompok ini diwakili rayap-rayap di bawah tanah
dan rayap-rayap kayu lembab dalam genus Prorhinotermes. Coptotermes
formosanus Shiraki, satu nama yang merusak didaratan China dan Taiwan. Sarang
di bawah tanah atau di dalam kayu (Borror 1992).
Famili Serritermitidae keluarga merupakan salah satu taksa paling
misterius. Salah satu anggota dari famili ini yaitu Glossotermes ocolutas. G.
oculatus memiliki tiga kelenjar yaitu kelenjar labral, frontal, dan bibir (Sobotnik
2012).
Famili Termitidae. Kelompok ini mencakup rayap-rayap tanpa prajurit,
dan rayap-rayap berhidung panjang (Nasutitermes dan Tenuirostriter). Rayaprayap tanpa prajurit membuat lubang di bawah kayu. Rayap-rayap ini menyarang
pohon-pohon dan benda lain di atas tanah (Borror 1992).
Rayap tidak hidup secara soliter namun rayap hidup secara koloni, dalam
koloninya rayap terbagi atas tiga kasta yang masing-masing memiliki fungsi dan
peranan yang berbeda. Ketiga kasta tersebut adalah kasta pekerja, kasta prajurit
dan kasta reproduktif. Pada dasarnya kasta pekerja mendominasi dari segi jumlah

5

koloni dibandingkan dengan kasta yang lainnya, tidak kurang dari 80–90%
merupakan kasta pekerja (Prasetyio & Yusuf 2005).
Kasta pekerja memiliki warna pucat dan memiliki penebalan di daerah
kutikulanya (Prasetyio & Yusuf 2005). Kasta ini tidak memiliki sayap, mandul
dan terdiri dari dua spesies kelamin (Borror 1992). Kasta pekerja memiliki tugas
mencari makan, bekerja membangun sarang, memelihara ratu, rayap muda, dan
telur. Kasta inilah yang paling bertanggung jawab atas berbagai kerusakan yang
terjadi.
Kasta prajurit memiliki ciri morfologi kepala yang besar, sedikit keras dan
memiliki rahang yang lebih besar dibandingkan kasta yang lain (Sigit & Hadi
2006). Ciri khas mendibula ini yang dapat digunakan sebagai identifikasi (Borror
1992). Beberapa spesies rayap diantaranya Macrotermes, Odontotermes,
Rhinotermes dan Schedorhinotermes dijumpai ukuran kasta prajurit yang berbeda.
Raya prajurit berukuran besar (prajurit major), berukuran kecil (prajurit minor)
dan ada yang berukuran sedang (prajurit intermediet) (Nandika et al. 2003). Kasta
perajurit bertugas menjaga dan mempertahankan koloni dari serangan musuh atau
predator (Sigit & Hadi 2006).
Kasta reproduktif terdiri dari individu-individu seksual yaitu betina (ratu)
dan jantan (raja). Kasta ini terbagi atas dua bagian yaitu kasta reproduktif
suplemen (sekunder) dan kasta reproduktif primer (laron). Kasta reproduktif
supleman (sekunder) terdiri atas jantan dan betina yang keduanya tidak memiliki
sayap, bilapun ada sayap berukuran kecil dan relatif tidak berfungsi. Kasta
reproduktif sekunder ini terbentuk dengan tujuan sebagai cadangan ratu primer
bila suatu saat ratu primer mati atau sakit. Kasta reproduktif primer (laron)
memiliki ciri khusus diantaranya memilki sayap (Sigit & Hadi 2006). Ukuran dan
bentuk pada bagian sayap depan dan belakang sama. Ratu rayap dapat berumur
mencapai 20 tahun bahkan 50 tahun lebih lama dibandingkan dengan umur Raja.
Ukuran badan sang Ratu lebih besar dibandingkan Raja pada bagian abdomen
(Prasetyo & Yusuf 2005), hal ini karena pertumbuhan ovari, usus, dan
penambahan lemak tubuh akibat kapasitas telur yan meningkat (Borror 1992).
Rayap dalam aktivitas dan distribusinya dipengaruhi oleh beberapa faktor
lingkungan diantaranya suhu, kelembaban dan curah hujan. Suhu memiliki

6

peranan penting dalam aktivitas dan perkembangan rayap. Sebagian besar
serangga memiliki suhu optimum berkisar antara 15–38%. Kelembaban cukup
memiliki peranan dalam aktivitas jelajah rayap. Rayap tanah seperti Coptotermes,
Macrotermes, Odontotermes memerlukan kelembaban yang tinggi (75–90%).
Curah hujan memiliki peran dalam hal perkembangbiakan eksternal dan
merangsang keluarnya kasta reproduksi keluar dari tanah. Laron tidak akan keluar
bila curah hujan rendah (Nandika et al. 2003).
Rayap dapat dikelompokan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan
habitatnya yaitu rayap yang hidup di dalam tanah, kayu basah dan kayu kering.
Rayap tanah hidup di atas permukaan tanah, di batang-batang pohon dan dalam
kayu. Genus yang termasuk ke dalam kelompok rayap tanah salah satu
diantaranya Macrotermes dan Odontotermes (Rismayadi 2007).
Rayap kayu basah bersarang pada kayu lembab dan lapuk, kelompok ini
diwakili oleh genus Glypototermes dan Protermes. Rayap kayu kering bersarang
pada kayu-kayu kering dengan kadar air rendah dan kelembaban yang rendah.
Rayap ini hidup pada pohon-pohon hidup seperti pada rayap genus Neotermes
(Rismayadi 2007).
Keberadaan rayap di muka Bumi sering memberikan dampak negatif bagi
manusia. Rayap sering menyerang kayu dan bangunan gedung sehingga
merugikan dari segi ekonomi bagi manusia. Namun demikian rayap memberikan
berbagai manfaat yang dapat kita rasakan diantaranya membuat lorong-lorong di
dalam tanah dan mengakibatkan tanah menjadi gembur sehingga baik untuk
pertumbuhan tanaman (Sigit & Hadi 2006), membantu manusia sebagai
dekomposer dengan cara menghancurkan kayu atau bahan organik lainnya dan
mengembalikannya sebagai hara ke dalam tanah (Nandika et al. 2003).
Keberadaan rayap di tanah mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah.
Ketersediaan nutrisi tanah, porositas, aerasi dan lain-lain, tidak terlepas dari peran
rayap di muka bumi (Rismayadi 2007).

7

2.2

Vegetasi
Pinus
Pinus merkusii merupakan famili dari Pinaceae dan memiliki berbagai

nama daerah diantaranya damar batu, damar bunga, huyam, kayu sala, kayu sugi,
tusam uyam (Sumatra), pinus (Jawa). Pohon ini memiliki daerah penyebaran di
Indonesia mulai dari Aceh, Sumatra Utara, Suamatra Barat, dan seluruh wilayah
Jawa. Pinus dapat mencapai tinggi 20 – 40 m dengan tinggi bebas cabang 2–23 m,
sementara diameter dapat mencapai 100 cm. Pohon ini memiliki ciri khas secara
visual dari penampakan luarnya diantaranya kulit luar kasar berwarna coklatkelabu sampai coklat tua, tidak mengelupas, beralur lebar dan dalam.
Ciri-ciri umum yang lain dari pohon pinus kayu teras berwarna coklatkuning muda dengan pita dan gambar yang berwarna lebih gelap, kayu yang
berdamar berwarna coklat atau coklat tua. Kayu gubal berwarna putih atau
kekuning-kuningan, tebal 6–8cm. Kayu pinus memiliki kadar selulosa 54,9% dan
lignin 24,3%. Kayu pinus masukan ke dalam kelas awet IV, daya tahan terhadap
rayap kayu kering termasuk kelas awet V. Kayu tusam termasuk mudah
dikeringkan, mudah mengalami pencekungan, retak, pecah ujung, retak
permukaan dan sangat mudah diserang jamur biru (Martawijaya 1989).
Agathis
Agathis yang merupakan salah satu anggota dari famili Araucariaceae.
Pohon ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia diantaranya Sumatra Barat,
Sumatra Utara, seluruh Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya. Tinggi
Pohon ini bisa mencapai 55 m, panjang batang bebas cabang 12–25 m, diameter
150 cm atau lebih, bentuk batang silindris dan lurus. Pohon ini memiliki ciri khas
kayu teras berwarna keputih-putihan sampai kuning-coklat. Kayu gubal tidak
berbeda dengan kayu teras. Kayu agathis termasuk ke dalam kelas awet IV. Daya
tahan kayu agathis terhadap rayap Cryptotermes cyncocephalus termasuk ke
dalam kelas V. Sifat kayu agathis bila dikaitkan dengan pengeringan kayu, kayu
agathis mudah dikeringkan tanpa banyak cacat. Agathis tumbuh pada hutan
primer pada tanah berpasir, berbatu-batu atau liat yang selamanya tidak tergenang
air, dengan ketinggian 2–1.750 m dari permukaan laut (Martawijaya 1981).

8

Puspa
Puspa dengan nama botanis Schima wallichii merupakan salah satu
anggota dari famili Theaceae. Pohon ini tersebar di Aceh, Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, lampung, seluruh Jawa, Kalimantan
Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur. Pohon Puspa dapat mencapai
tinggi 40 m dengan tinggi bebas cabang 25 m, diameter pohon ini bisa mencapai
250 cm dan tidak berbanir. Ciri lain dari pohon ini diantaranya kulit luar berwarna
merah muda, merah tua sampai hitam, beralur dangkal dan mengelupas. Kayu
teras berwarna coklat-merah atau coklat-kelabu. Sementara kayu gubal berwarna
lebih muda dan tidak mempunyai batas yang jelas dengan kayu teras. Kayu ini
memiliki tekstur yang halus dan permukaan kayu yang licin. Memiliki kadar
selulosa 51,2%. Kayu puspa termasuk ke dalam kelas awet III. Daya tahan
terhadap serangan rayap termasuk ke dalam kelas II. Sifat kayu puspa bila
dikaitkan dengan pengeringan kayu, kayu puspa termasuk sulit dan lambat untuk
dikeringkan karena mudah mengalami perubahan bentuk seperti pencekungan dan
pemilinan serta pecah pada mata kayu (Martawijaya 1989).
Kapulaga
Kapulaga terdapat dua macam di Indonesia yaitu dengan Eletta
cardamaomum Maton berasal dari marga Eletrria dan Amomum cardamomum L
berasal dari marga Amomum keduanya berasal anggota dari famili Zingiberacea.
E. cardamaomum memiliki umbi batang yang agak besar atau gemuk, dari umbi
batangnya ini tumbuh batang semu yang tingginya 2–3 m. Daun-daun E.
cardamaomum berbentuk tombak, berujung runcing, berwarna hijau tua, agak
licin atau sedikit berbulu, pajang kurang lebih 1 m, lebar antara 8–15 cm. Bunga
2–3 rangkai, kelopak bunga berwarna hijau panjang 3,5 cm. Mahkota bunga kecil
melebar berwarna hijau muda dengan panjang 1,5 cm. Buah berbentuk bulat telur,
agak memanjang, bersegi tiga. Buah terdiri dari tiga ruas dan tiap ruas terdiri dari
5–7 biji yang berwarna coklat dan beraroma harum (Indo 1987).
A. cardamomum mempunyai umbi batang dalam tanah. batang semu
berdaun agak banyak dan tinggi mencapai 1–1,5 m. Daun berbentuk pisau bedah,
bunga tegak lurus ke atas dan tingginya mencapai 8 cm. Kuncup pada tangkai
bunga dilindungi oleh kelopak-kelopak yang kemudian menjadi daun pelindung

9

bunga. Kelopak bunga terdiri atas 3–8 dan memiliki warna merah. Tangkai buah
memiliki panjang 6 cm, buah memiliki bentuk pipih bersegi tiga terdiri atas tiga
ruang, buah memilki panjang 1–1,2 cm dengan lebar 1–1,5 cm. Biji besar dengan
ukuran 4 mm, berbentuk pipih, berwarna coklat (Indo 1987).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2011 sampai dengan Februari
2012. Pengambilan contoh dilakukan di HPGW Sukabumi, Jawa Barat.
Pengukuran spesimen, analisis data dan mengambilan foto dilakukan di
Laboratorium Teknologi Pemanfaatan Mutu Kayu (TPMK) Departemen Hasil
Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
3.2 Alat dan Bahan.
Bahan yang digunakan yaitu rayap dari kasta prajurit dan alkohol 70%.
Alat yang digunakan pinset, botol film, plastik, Global Positioning Sistem (GPS),
cawan Petri dan National DC2-456 Digital Microscope.
3.3 Metodologi.
3.3.1 Pengambilan Contoh.
Pengambilan contoh rayap menggunakan metode purposive sampling
dengan parameter yang digunakan adalah rayap pada permukaan tanah yang
tertutup oleh serasah dan pohon-pohon yang telah rebah pada tegakan agathis,
puspa, pinus, agroforestri dan mess (penginapan). Pencarian rayap dilakukan
dengan cara berjalan kaki di wilayah HPGW dan pembuatan lubang pada tanah
dengan kedalaman 10 cm atau pada pohon-pohon yang telah rebah yang diduga
terdapat rayap. Contoh rayap yang diambil merupakan rayap yang berkasta
prajurit. Rayap kasta prajurit diawetkan dan dimasukan ke dalam tabung film
yang sebelumnya telah diberi alkohol 70%. Tiap tabung film diberi label dan
ditulis nomor, lokasi ditemukan.
3.3.2 Identifikasi rayap.
Pengambilan foto rayap dan pengukuran tubuh rayap menggunakan
National DC2-456 Digital Microscope dengan perbesaran 10x dan 30x.
Identifikasi rayap dilakukan secara deskriptif dengan mengamati karakter tubuh
rayap diantaranya ukuran badan, mandibula, ukuran kepala dan segmen antena.
Prosedur identifikasi rayap adalah rayap difoto secara utuh kemudian dilakukan

11

pengukuran panjang total tubuh rayap. Tubuh rayap yang utuh kemudian dipotong
pada bagian kepala. Pengambilan foto diulang kembali pada bagian kepala dan
selanjutnya dilakukan pengukuran kepala rayap dari mandibel sampai pangkal
kepala. Identifikasi pada penelitian ini berdasarkan kunci identifikasi oleh Tho
(1992) dan Ahmad (1958).
3.4 Kondisi Umum
3.4.1 Lokasi dan Luas
HPGW terletak 2,4 km dari poros jalan Sukabumi - Bogor (Desa Segog).
Dari simpang Ciawi berjarak 46 km dan dari Sukabumi 12 km. Secara Geografis
Hutan

Pendidikan

Gunung

Walat

berada

pada

106°48'27''BT

sampai

106°50'29''BT dan -6°54'23''LS sampai -6°55'35''LS. Secara administrasi
pemerintahan HPGW terletak di wilayah Kecamatan Cibadak, Kabupaten
Sukabumi. Secara administrasi kehutanan termasuk dalam wilayah Dinas
Kehutanan Kabupaten Sukabumi.Luas kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat
adalah 359 ha, terdiri dari tiga blok, yaitu Blok Timur (Cikatomas) seluas 120 ha,
Blok Barat (Cimenyan) seluas 125 ha, dan Blok Tengah (Tangkalak) seluas 114
ha.
3.4.2 Topografi dan Iklim
HPGW terletak pada ketinggian 460–715 m dpl. Topografi bervariasi dari
landai sampai bergelombang terutama di bagian selatan, sedangkan di bagian
utara mempunyai topografi yang semakin curam. Pada punggung bukit kawasan
ini terdapat dua patok triangulasi KN 2.212 (670 m dpl) dan KN 2.213 (720 m
dpl). Klasifikasi iklim HPGW menurut Schmidt dan Ferguson termasuk tipe B,
dengan dengan nilai Q = 14,3%–33% dan banyaknya curah hujan tahunan
berkisar antara 1600–4400 mm. Suhu udara maksimum di siang hari 29°C dan
minimum 19°C di malam hari.
3.4.3Tanah dan Hidrologi
Tanah Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) adalah kompleks dari
podsolik, latosol dan litosol dari batu endapan dan bekuan daerah bukit,
sedangkan bagian di barat daya terdapat areal peralihan dengan spesies batuan

12

karst, sehingga di wilayah tersebut terbentuk beberapa gua alam karst (gamping).
HPGW merupakan sumber air bersih yang penting bagi masyarakat sekitarnya
terutama di bagian selatan mempunyai anak sungai yang mengalir sepanjang
tahun, yaitu anak sungai Cipeureu, Citangkalak, Cikabayan, Cikatomas dan Legok
Pusar. Kawasan HPGW masuk ke dalam sistem pengelolaan DAS Cimandiri.
3.4.4 Vegetasi
Tegakan Hutan di HPGW didominasi tanaman damar (A. lorantifolia),
pinus (P. merkusii), puspa (S. wallichii), sengon (Paraserianthes falcataria),
mahoni (Swietenia macrophylla) dan spesies lainnya seperti kayu afrika
(Maesopsis eminii), rasamala (Altingia excelsa), Dalbergia latifolia, Gliricidae
sp., Shorea sp., dan akasia (Acacia mangium). Di HPGW paling sedikit terdapat
44 spesies tumbuhan, termasuk 2 spesies rotan dan 13 spesies bambu. Selain itu
terdapat spesies tumbuhan obat sebanyak 68 spesies. Potensi tegakan hutan ±
10.855 m3 kayu damar, 9.471 m3 kayu pinus, 464 m3 puspa, 132 m3 sengon dan 88
m3 kayu mahoni. Pohon damar dan pinus juga menghasilkan getah kopal dan
getah pinus. Di HPGW juga ditemukan lebih dari 100 pohon plus damar, pinus,
kayu afrika sebagai sumber benih dan bibit unggul.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Sebaran rayap tanah di berbagai vegetasi
Hutan Pendidikan Gunung Walat memiliki luas wilayah 359 ha, dari
penelitian ini diperoleh dua puluh enam contoh rayap dari lima lokasi yaitu,
tegakan pinus, puspa, agathis, agroforestri dan di sekitar mess. Setelah melakukan
pengamatan, pengambilan dan identifikasi sampel maka jumlah species yang
dapat ditemukan pada wilayah HPGW yaitu delapan belas spesies, lima genus
yang dikelompokan ke dalam dua famili (Tabel 1 dan Gambar 1). Tegakan Hutan
di HPGW didominasi tanaman damar (A. lorantifolia), pinus (P. merkusii), puspa
(S. wallichii), dan spesies lainnya seperti sengon (P. falcataria), mahoni (S.
macrophylla) kayu afrika (M. eminii), rasamala (A. excelsa), Dalbergia latifolia,
Gliricidae sp., Shorea sp., dan akasia (A. mangium). Penelitian ini hanya
mengamati lima lokasi yaitu damar (A. lorantifolia), pinus (P. merkusii), puspa (S.
wallichii), agroforestri dan disekitar mess (penginapan).
Tabel 1 Sebaran famili, genus dan species rayap berdasarkan lokasi di Hutan
Pendidikan Gunung Walat.
No

Lokasi

1

Agathis

2
3

Agroforestri
Mess

4

Pinus

5

Puspa

Jumlah

Jumlah
Famili
Contoh
7 Rhinotermitidae
Termitidae

1 Termitidae
4 Termitidae
10 Rhinotermitidae
Termitidae
4 Termitidae

26

2

Genus
Macrotermes
Odontotermes
Pricapritermes
Schedorhinotermes
Odontotermes
Macrotermes
Odontotermes
Macrotermes
Schedorhinotermes
Odontotermes
Macrotermes
Nasutitermes
Odontotermes
5

Species
6

1
4
6

4

21

14

Gambar 1 Peta penyebaran rayap di Hutan Pendidikan Gunung Walat

15

Hasil pengamatan pada kawasan tersebut diperoleh 2 famili yaitu
Rhinotermitidae dan Termitidae dan diperoleh lima genus diantaranya genus.
Schedorhinotermes

merupakan

genus

dari

famili

Termitidae

sementara

Macrotermes, Nasutitermes, Odontotermes dan Pericapritermes merupakan
genus-genus yang termasuk ke dalam famili Termitidae (Gambar 2).
1mm

A

B
1mm

C

1mm

D

1mm

E

Gambar 2 Morfologi genus rayap: A) genus Schedorhinotermes, B) Macrotermes, C)
Pericapritermes, D)Odontotermes, E) Nasutitermes

Pada tegakan agathis diambil tujuh contoh rayap, setelah dilakukan
identifikasi maka diperoleh enam spesies yaitu Macrotermes sp1. (minor), S.
medioobscurus,

Schedorhinotermes

sp1.

(minor),

S.

tarakensis,

Schedorhinotermes sp1. (major), dan Pericapritermes. Agroforestri diperoleh satu
spesies yaitu Odontotermes sp1. Sementara pada tegakan pinus terdapat sepuluh
contoh rayap dan setelah dilakukan identifikasi maka diperoleh enam spesies yaitu
Schedorhinotermes sp2. (minor), S. longirositis (minor), S. medioobscurus
(minor), Macrotermes sp3., S. tarakensis (minor) dan Odontotermes sp2.
Tegakan puspa diperoleh empat contoh rayap dengan hasil identifikasi
empat spesies rayap diantaranya N. javanicus, M. gilvus (minor), Odontotermes
sp4. dan Odontotermes sp5. Disekitar mess dilakukan pengambilan contoh rayap
dan diperoleh empat contoh rayap, setelah dilakukan identifikasi maka terdapat

16

empat spesies rayap yaitu M. gilvus (minor), Macrotermes sp2 (minor), M. gilvus
(major), Odontotermes sp2. Secara lengkap disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Spesies rayap yang ditemukan di tegakan agathis,
puspa, pinus, agroforestri, dan mess
Tegakan
Agathis 1
Agathis2
Agathis3
Agathis4
Agathis5
Agathis6
Agathis7
Agroforestri
Mess1
Mess2
Mess3
Mess4
Pinus1
Pinus2
Pinus3
Pinus4
Pinus5
Pinus6
Pinus7
Pinus8
Pinus9
Pinus10
Puspa1
Puspa2
Puspa3
Puspa4

Species
Macrotermes sp1. (minor)
Schedorhinotermes medioobscurus (minor)
Schedorhinoterme sp1. (minor)
S. tarakensis (minor)
S. tarakensis (minor)
Schedorhinotermes sp1. (major)
Pericapritermes mohri
Odontotermes sp1.
M. gilvus (minor)
Macrotermes sp2. (minor)
M. gilvus (major)
Odontotermes sp 2.
S. longirositis (minor)
S. medioobscurus (minor)
S. medioobscurus (minor)
Macrotermes sp3. (minor)
S. tarakensis (minor)
S. medioobscurus (minor)
Odontotermes sp3.
Schedorhinotermes sp2. (minor)
S. medioobscurs (minor)
S. longirositis (minor)
Nasutitermes javanicus
M. gilvus (minor)
Odontotermes sp4.
Odontotermes sp5.

Schedorhinotermes merupakan genus dari anggota Famili Rhinotermitidae
yang paling sering dijumpai, dari dua puluh enam contoh yang diperoleh tiga
belas

diantaranya

merupakan

spesies

rayap

dari

anggota

genus

Schedorhinotermes. Hal ini dikarenakan ordo Schedorhinotermes memiliki daya
jelajah yang cukup luas. Rismayadi (1999) melaporkan bahwa luas wilayah
jelajah dua koloni rayap tanah S. javanicus di sekitar Gedung Rektorat IPB
masing-masing memiliki daya jelajah mencapai 295 m dan 100 m dengan jarak
maksimum 118 meter dan 35 meter. Menurut Krisna dan Weesner (1970) dalam
Rismayadi (1999) menyatakan bahwa rayap S. javanicus mudah dijumpai hampir
di seluruh wilayah di pulau Jawa terutama pada ketinggian di bawah 1000 meter
dari permukaan laut sementara kondisi lingkungan HPGW terletak pada

17

ketinggian 460–715 m dpl. Daya jelajah merupakan salah satu bagian dari prilaku
rayap untuk mencari sumber makanannya (Nandika et al. 2003). Wilayah jelajah
adalah daerah yang selalu dikunjungi oleh suatu organisme secara tetap untuk
aktivitas hidupnya baik mencari makan, istirahat, reproduksi dan berlindung
(Moen 1973) dalam Rismayadi (1999).
Daya jelajah suatu organisme dipengaruhi oleh sifat khas suatu organisme
dan kualitas habitatnya. Apabila suatu organisme memiliki habitat wilayah yang
baik maka wilayah jelajahnya cenderung sempit. Namun apabila kualitas habitat
dari suatu organisme itu rendah maka organisme tersebut cenderung memperluas
wilayah jelajahnya (Rismayandi 1999). Daya jelajah dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya ketersediaan makanan, variasi mikro klimat, kondisi fisik
habitat dan resiko perjumpaan dengan predator. Schedorhinotermes merupakan
spesies rayap tingkat rendah dan bila dikelompokan dalam jenis makanannya
genus ini dimasukan ke dalam kelompok I yaitu kelompok spesies rayap tingkat
rendah yang memakan material pohon mati, sehingga tidak salah bila rayap
spesies ini mudah untuk ditemukan (Faszly et al. 2005).
Rayap yang termasuk ke dalam famili Termitidae merupakan spesies rayap
tingkat tinggi, kebanyakan anggota dari rayap yang termasuk ke dalam famili
Temitidae bila dibedakan dalam makanannya maka masuk ke dalam grup II yaitu
anggota rayap famili Termitidae memakan kayu, rumput dan lumut. Namun tidak
semua dari anggota famili Termitidae masuk ke dalam grup II. Sebagai contoh
pada genus Pericapritermes. Genus ini termasuk ke dalam grup III yaitu anggota
rayap yang termasuk famili Termitidae memakan tanah dengan kandungan
organik tinggi (Faszly et al. 2005), sehingga rayap ini sulit untuk ditemukan
dikarenakan habitat yang spesifik. Penelitian ini menemukan bahwa genus
Pericapritermes hanya terdapat satu sampel dan hanya ditemukan pada tegakan
agathis.
Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa genus Macrotermes tersebar
secara merata disetiap lokasi pengambilan sampel. Subekti et al. (2008)
melaporkan bahwa genus Macrotermes memiliki sebaran yang luas ini terlihat
dari data yang menyebutkan bahwa genus Macrotermes ditemukan pada empat
tempat yang berbeda dengan ketinggian yang beragam yaitu Taman Nasional

18

Gunung Halimun Salak dengan ketinggian 600–700 m dpl dan 900–1000 m dpl,
Cagar Alam Yanlappa Bogor dengan ketinggian 200–300 m dpl dan Taman
Nasional Ujung Kulon dengan ketinggian 0–100 mdpl, dari data tersebut terlihat
bahwa genus Macrotermes memiliki kemampuan adaptasi yang cukup baik.
Beberapa spesies rayap pada sub famili Macrotermitidae diantarnya genus
Odontotermes dan genus Macrotermes menunjukan kesukaannya terhadap jamur.
Menurut Nandika et al. (2003) ini terlihat pada bagian sarang Macrotermes
banyak dijumpai kebun jamur sebagai sumber makanannya. Menurut United
Nations Food and Agriculture Organitation dan United Nations Environment
Programme (2000) melaporkan bahwa jamur merupakan faktor penting dalam
rantai makanan bagi rayap Macrotermes dan Odontotermes. Jamur berperan
dalam menjaga iklim mikro. Jamur Termitomycetes ini dimakan oleh koloni yang
masih muda untuk membantu dalam mencerna selulosa.
Genus Nasutitermes merupakan genus yang paling sedikit ditemukan.
Dalam penelitian ini genus Nasutitermes terdapat pada tegakan puspa. United
Nastion Food and Agriculture Organitation dan United Nations Environment
Programme (2000) melaporkan bahwa rayap ini dapat hidup di dalam semua
spesies habitat hanya saja yang menjadi faktor pembatas dalam distribusinya
adalah makanan. Sumber makanan rayap ini mulai dari kayu, lumut dan humus
yang berasal dari daun atau sampah.

Keberadaan lumut pada tegakan puspa

sangat mungkin terjadi karena habitus pohon puspa yang memiliki kanopi yang
luas menyebabkan kelembaban meningkat dan intensitas matahari rendah
sehingga kondisi di bawah kanopi menjadi temperatur relatif basah dan dingin
(suhu rendah) (Setyawan 2000), kondisi ini menyebabkan lumut dapat tumbuh
optimal, dengan tersedianya cukup makan maka rayap dapat tumbuh dengan baik.

19

4. 2. Identifikasi Spesies Rayap yang tersebar di HPGW.
Contoh

rayap

yang

telah

diperoleh

selanjutnya

dilakukan

pengidentifikasian dengan menggunakan mikroskop dan dibantu dengan buku
kunci identifikasi spesies rayap berdasarkan Ahmad (1958) dan Tho (1992). Hasil
untuk identifikasi rayap di HPGW disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Hasil identifikasi rayap di HPGW
No

Rayap yang ditemukan

Deskripsi berdasarkan kunci
determinasi

1A

Spesies-spesies rayap dengan
ukuran besar, dimorfis
(mempunyai dua ukuran).
Panjang tubuh dengan mandibel
adalah 8–15 mm.
Macrotermes (major)

1B

Warna kepala coklat merah.
Panjang kepala dengan mandibel
4,8–5,48 mm. Panjang kepala
tanpa mandibel 3,4–3,65 mm.
Lebar kepala 2,88–3.17 mm.
Ruas antena 17 segmen.
Macrotermes gilvus (major)

1C

Panjang kepala dengan mandibel
3.07–3.43 mm. Panjang kepala
tanpa mandibel 1.84–2.29 mm.
Lebar kepala 1.52–1.92 mm.
M. gilvus (minor)

20

Lanjutan Tabel 4
No

Rayap yang ditemukan

Deskripsi berdasarkan kunci
determinasi

2A

Bentuk mandibel sangat tidak
simetris, dengan mandibel kiri
melengkung ditengah seperti
kait.
Pericapritermes

2B

Panjang kepala dengan mandibel
3,36–3,65 mm. Panjang kepala
tanpa madibel 1,84–2, 18 mm.
Lebar kepala 1,16–1,23 mm.
P. mohri

3A

Spesies-spesies ukuran sedang.
Panjang tubuh 2,17 mm.
Odontotermes

3B

Panjang kepala dengan mandibel
2,89 mm.
Panjang kepala tanpa mandibel
2,55 mm.
Lebar kepala 1,58 mm.
Odontotermes sp.

21

Lanjutan Tabel 4
No

Rayap yang ditemukan

Deskripsi berdasarkan kunci
determinasi

4A

Kepala berwarna kuning muda,
panjang kepala dengan mandibel
1,8 mm, lebar 1,33 mm dan 16
segmen antena.
Schedorhinotermes (major)

4B

Kepala berwarna kuning muda,
panjang kepala dengan mandibel
1,98 mm. Panjang kepala tanpa
mandibel 1.44–1,54 mm. Lebar
kepala 1.38–1.44 mm. 16
segmen antena.
S. longirostris (major)

4C

Panjang kepala dengan mandibel
1,33–1,40 mm. Panjang kepala
tanpa mandibel 0,84–1,04 mm.
Lebar kepala 0,72–0,80 mm.
S. longirostris (minor)

4D

Panjang kepala dengan mandibel
1,22–1,35 mm. Panjang kepala
tanpa mandibel 0,78–0,83 mm.
Ruas antena 16 segment
S. medioobscurus (minor)

22

Lanjutan Tabel 4
No

Rayap yang ditemukan

Deskripsi berdasarkan kunci
determinasi

4E

Panjang kepala dengan mandibel
1,17–1,18 mm. Panjang kepala
tanpa mandibel 0,65–0,72 mm.
S. tarakensis (minor)

5A

Mandible prajurit sangat kecil
dan nyaris tidak terlihat dahi
(frons) menonjol ke depan
berbentuk alat penusuk (nasus)
Prajurit berbentuk kerucut,
bagaian pangkal menebal dan
agak lengkung. Anggota koloni
berwarna gelap, coklat tua
sampai hitam.
Nasutitermes

5B

Jumlah antena 12–13 segmen.
Panjang kepala dengan nasut
1,23 mm.
Lebar kepala 0,72 mm.
Nasutitermes javanicus

23

4.3. Potensi rayap sebagai hama di HPGW

Dari kelima genus yang berhasil ditemukan hanya dua genus yang
berpotensi sebagai hama yaitu Macrotermes dan Odontotermes. Nandika (2003)
melaporkan bahwa serangan Macrotermes pada tegakan kayu putih tahun 1976 di
Tasikmalaya menyebabkan kematian sebesar 91%. Rahmat (1984) melaporkan
terjadi kerusakan kayu di TPK Pongpok Landak yang disebabkan M. gilvus. Kayu
yang diserang merupakan kayu kualitas IV, kayu yang memilik diameter 4–19
cm. Kayu-kayu tersebut tidak bisa dijual atau menimbulkan kerugian ekonomi
karena bagian dalam kayu telah habis dimakan rayap.
Santoso (1995) melaporkan bahwa terjadi kerusakan tanaman Shorea spp.
di RPH Jasinga yang disebabkan oleh rayap M. gilvus. Tingkat kerusakan yang
ditimbulkan M. gilvus mulai dari ringan hingga berat. M. gilvus menimbulkan
kerusakan berat pada akar tanaman S. pinanga dan menimbulkan kerusakan berat
pada batang S. stenoptera. Nandika (2003) melaporkan Odontotermes menyerang
tegakan kayu putih di Gunung Kidul dengan menyebabkan kematian sebesar
87,07%.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan dua

famili rayap

yaitu

Rhinotermitidae dan Termitidae. Genus yang berhasil ditemukan pada famili
Rhinotermitidae di antaranya Macrotermes, Nasutitermes, Odontotermes dan
Pericapritermes. Famili Termtidae hanya satu genus yang dapat ditemukan yaitu
Schedorhinotermes. Genus Macrotermes dan Odontotermes merupakan genus
yang paling banyak ditemukan dan memiliki sebaran yang luas tersebar dihampir
semua lokasi. Pericapritermes dan Nasutitermes adalah genus yang paling sedikit
ditemukan hanya berada di satu lokasi.

5.2 Saran
1. Perlu dilakukan pengamatan di luar lima lokasi yang telah dilakukan sehingga
mencakup keseluruhan area HPGW.
2. Perlu dilakukan pengamatan rayap pada berbagai musim untuk memperoleh
kelengkapan data pada musim yang berbeda.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Ahmad M. 1958. Key to the Indomalayan Termites Biologi. Volume ke-4.
Departement of Zoology University of the Panjab Lahore.
Borror DJ, Thriphelehorn CA, Johnson NF. 1992. Pengenalan Serangga Edisi 6
(terjemahan). Yogyakarta: UGM Press.
Faszly R, Idris AB and Sajap AS. 2005. Termites (Insecta: Isoptera) Assemblages
from Sungai Bebar Peat Swamp Forest, Pahang. Biodeversity Expedition
Sungai Bebar, Pekan, Pahang 4:137–140.
FAO. 2000. Termite Biology and Management Workshop. Geneva: Food and
Agriculture Organitation
Hutan Pendidikan Gunung Walat. 2012. Hutan Pendidikan Gunung Walat
“Leuweung Sakolaan Sagala Bangsa. http://gunungwalat.net/id [21 Mei
2012].
Indo MABD. 1987. Kapulaga Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran. Jakarta: PT
Penebar Swadaya.
Martawijaya A, Kartasujana I, Kadir K, Prawira SA. 1981. Atlas Kayu Indonesia
Jilid I. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Indonesia,
Departemen Kehutanan.
Martawijaya A, Kartasujana I, Mandang YI, Prawira SA, Kadir K. 1989. Atlas
Kayu Indonesia Jilid II. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan, Departemen Kehutanan.
Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap: Biologi dan Pengendaliannya.
Surakarta: Muhamadiyah University Press.
Prasetyo WK, Yusuf S. 2007. Mencegah dan Membasmi rayap secara Ramah
Lingkungan. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.
Rahmat E. 1984. Studi tentang akibat serangan rayap terhadap kayu bulat jati
(Tectona grandis L.F.) di tempat penimbuanan kayu (TPK) Pongpok
Landak KPH, Cianjur [skripsi]. Bandung: Akademi Ilmu Kehutanan
Bandung.
Rismayadi Y. 1999. Penelahaan daya jelajah dan ukuran populasi koloni rayap
tanah Schedorhinotermes javanicus Kemmer (Isoptera:Rhinotermitidae)
serta Microtermes inspiratus Kemmer (Isoptera:Termitidae)[tesis]. Bogor:
Teknologi Hasil Hutan. Institut Pertanian Bogor
Rismayadi Y. 2007. Ekologi Rayap. Bogor: [penerbit tidak diketahui].

26

Šobotník J, Bourguignon T, Roisin Y, Hanus R, Weyda F. 2012. Biologi of
Glossotermes oculus (Isoptera: Serritermitidae). http://www.uochb.cz/
infochem/termites/termitesglossotermes.htm [12 Juli 2012].
Santosa I. 1995. Inventarisasi dan deskripsi serangga perusak tanaman muda
Shorea spp. di RPH Jasinga, BKPH Jasinga, KPH Bogor [skripsi]. Bogor:
Jurusan Manajemen Hutan. Institut Pertanian Bogor
Setyawan DA. 2000. Tumbuhan efipit pada tegakan pohon Schima Wallichii
(D.C.) Khorth. di Gunung Lawu [skripsi]. Surakarta: Jurusan Biologi
Fakultas MIPA UNS Surakarta.
Sigit SH. Hadi UK. 2006. Hama Pemukiman Indonesia. Bogor: Unit Kajian
Pengendalian Hama Pemukiman, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut
Pertanian Bogor.
Subekti N, Duryadi D, Nandika D, Surjokusumo S dan Anwar S. 2008. Sebaran
dan karakter morfologi rayap tanah Macrotermes givus Hagen di habitat
hutan alam. Jurnal dan Teknologi Hasil Hutan 1:27–33.
Tho YP. 1992. Termites of Peninsular Malaysia. Kualalumpur: Forest Research
Institute Malaysia.
Tyler CI. 2012. The Classification of Termites. http://www.ehow.com/info
8004197 classification-termites.html [12 Juli 2012].

KEANEKARAGAMAN RAYAP TANAH
DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI

ANDRI FIRMANSYAH

DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

KEANEKARAGAMAN RAYAP TANAH
DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI

ANDRI FIRMANSYAH

DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

KEANEKARAGAMAN RAYAP TANAH
DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI

ANDRI FIRMANSYAH

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kehutanan pada
Departemen Silvikultur

DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

RINGKASAN
ANDRI FIRMANSYAH. Keanekaragaman Rayap Tanah Di Hutan Pendidikan
Gunung Walat, Sukabumi. Dibimbing oleh NOOR FARIKHAH HANEDA.
Rayap merupakan serangga sosial yang termasuk ke dalam ordo Blatodea.
Rayap mudah di jumpai di dataran rendah tropik hal ini dikarenakan penyebaran
dan aktivitas rayap sangat dipengaruhi oleh faktor suhu dan curah hujan. Rayap
banyak memberikan manfaat bagi ekosistem bumi, sebagai makrofauna tanah
rayap memiliki peran dalam pembuatan lorong-lorong di dalam tanah dan
mengakibatkan tanah menjadi gembur sehingga baik untuk pertumbuhan tanaman
(Sigit & Hadi 2006), rayap memiliki peran dalam membantu manusia sebagai
dekomposer dengan cara menghancurkan kayu atau bahan organik lainnya dan
mengembalikan sebagai hara ke dalam tanah (Nandika et al. 2003). Sebagian
masyarakat beranggapan bahwa rayap merupakan serangga perusak, hal tersebut
tidak terlepas dari berbagai kegiatan rayap yang menimbulkan kerusakan pada
tanaman dan kerusakan pada bangunan yang terbuat dari kayu sehingga
merugikan dari sisi ekonomi.
Rayap bersifat polimorfis yaitu hidup secara berkoloni yang memiliki
sistem kasta. Setiap kasta memiliki morfologi tubuh yang berbeda. Kasta prajurit
memiliki bentuk mandibula yang khas. Rayap dapat diidentifikasi dengan
mengamati ukuran kepala serta mandibel dari kasta prajurit. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman rayap di wilayah Hutan Pendidikan
Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat. Rayap yang ditemukan selanjutnya
diawetkan ke dalam tabung film yang berisi alkohol 70%. Berdasarkan hasil
penelitian rayap dari lima lokasi yaitu pada tegakan agathis, pinus, puspa,
agroforestri dan disekitar mess (penginapan). Penelitian dilakukan pada bulan
Desember 2011 sampai dengan Februari 2012. Pengambilan contoh dilakukan di
HPGW Sukabumi, Jawa Barat. Pengukuran spesimen, analisis data dan
mengambilan foto dilakukan di Laboratorium Teknologi Pemanfaatan Mutu Kayu
(TPMK) Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Schedorhinotermes merupakan
genus dari anggota famili Rhinotermitidae yang paling sering dijumpai, dari dua
puluh enam contoh yang diperoleh tiga belas diantaranya merupakan spesies
rayap dari anggota genus Schedorhinotermes. Tiga belas contoh rayap lainnya
berasal dari genus Macrotermes, Odontotermes, Pericapritermes dan
Nasutitermes. Genus Macrotermes memiliki enam spesies, Odontotermes
memiliki lima spesies, genus Pericapritermes dan Nasutitermes masing-masing
berjumlah satu contoh. Genus Macrotermes dan Odontotermes merupakan genus
yang paling banyak ditemukan dan memiliki sebaran yang luas tersebar dihampir
semua lokasi. Pericapritermes dan Nasuitermes adalah genus yang paling sedikit
ditemukan hanya berada di satu lokasi.
Perlu dilakukan pengamatan di luar lima lokasi yang telah dilakukan
sehingga mencakup keseluruhan area HPGW. Perlu dilakukan pengamatan rayap
pada berbagai musim untuk memperoleh kelengkapan data pada musim yang
berbeda.
Kata kunci: Hutan Pendidikan Gunung Walat, kasta prajurit, rayap,
Schedorinotermes

SUMMARY
ANDRI FIRMANSYAH. Termite diversity of Hutan Pendidikan Gunung Walat,
Sukabumi. Under Supervised of NOOR FARIKHAH HANEDA.
Termites are social insects are included in the order blatodea. Termites are
easily encountered in the lowland tropics and this is due to the spread of termite
activity is influenced by temperature and precipitation. Termites are many benefits
to the ecosystem of the earth, as makrofauna ground termites have a role in the
manufacture of passageways in the soil and cause soil to be loose, so good for
plant growth (Sigit & Hadi 2006), termites have a role in helping people as a way
to destroy wood decomposers or other organic material and return the nutrients to
the soil (Nandika et al. 2003). Most of the people thought that termites are
destructive insects, it is not out of the activities of termites that cause damage to
crops, properties, and damage to buildings made of wood to the detriment of the
economy.
Which is polymorphic termites live in colonies that have a caste system.
Each caste has a different body morphology. Soldier caste has a distinctive form
of the mandible. Termites can be identified by observing the size of the head and
mandibel of the warrior caste. This study aims to determine the diversity of
termites in the area of Mount Forest Education Walat Sukabumi West Java.
Termites are found preserved into the film canister containing 70% alcohol. Based
on the results of the study of termites from five locations: on the stand agathis,
pine, puspa, agroforestry and mess around. The study was conducted in December
2011 to February 2012. Sampling occurs in HPGW Sukabumi, West Java.
Specimen measurement, data analysis and image retrieval conducted at the
Teknologi Pemanfaatan Mutu Kayu (TPMK) Department of Forest Products,
Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University.
The results of this study indicate that Schedorhinotermes is a genus of
Rhinotermitidae family members are most often found, of twenty-six samples
obtained thirteen species of termites of whom are members of the genus
Schedorhinotermes. Thirteen samples were from termite genus Macrotermes,
Odontotermes, Pericapritermes and Nasutitermes. Has six species of the genus
Macrotermes, Odontotermes has five species, genus Nasutitermes,
Pericapritermes and each amounted to one example. Genus Macrotermes and
Odontotermes is the most common genus and has a widespread distribution in
almost all locations. Pericapritermes and Nasutitermes is the least genus is found
only in one location. Observation needs to be done outside of the five locations
that have been made to cover the entire area HPGW. Termite observation needs to
be done at various seasons to obtain the completeness of data in different seasons.
Keywords: Hutan Pendidikan Gunung Walat, the warrior caste, termite,
Schedorinotermes

iv

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Keanekaragaman
Rayap Tanah di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi” adalah benar-benar
hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah
digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juni2012

Andri Firmansyah
NRP E44070062

Judul Skripsi
Nama
NIM

: Keanekaragaman Rayap Tanah di Hutan Pendidikan
Gunung Walat, Sukabumi.
: Andri Firmansyah
: E44070062

Menyetujui:
Dosen Pembimbing,

Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MSc
NIP . 19660921 199003 2 001

Mengetahui:
Ketua Departemen Silvikiultur
Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Nurheni Wijayanto, MS
NIP . 19601024 198403 1 009

Tanggal lulus:

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji dan Syukur penulis senantiasa panjatkan kehadiran
Allah SWT karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
karya ilmiah ini yang berjudul Keanekaragaman Rayap di Hutan Pendidikan
Gunung Walat (HPGW), Sukabumi. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu
syarat untuk memperoleh gelar sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengharapkan agar skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna
bagi semua pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada segala pihak atas
bantuannya baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap penyelesaian
skripsi ini.

Bogor, Juni 2012
Penulis

iii

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu proses
penyusunan skripsi ini dan juga pihak yang selama ini membimbing penulis,
antara lain :
1.

Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MSc yang telah mencurahkan segala
kesabaran, perhatian, waktu, tenaga, serta pikiran beliau dalam memberikan
arahan dan bimbingan.

2.

Dr. Ir. Agus Hikmah, MSc selaku dosen penguji sidang komprehensif, Dr.
Ulfah Juniarti Siregar M.Agr sebagai ketua sidang dan Dr. Ir. Prijanto
Pamungkas., M.Sc.F.Trop sebagai moderator seminar hasil penelitian.

3.

Kedua orang tua, Bapak Ugan dan Ibu Tati, kedua adik, Anggie
Herdiansyah dan Ayu Listriyani serta Tiya atas motivasi, dukungan dan rasa
kasih sayang yang tak henti-hentinya diberikan kepada penulis.

4.

Staf Tata Usaha departemen Silvikultur : Ibu Aliyah, Pak Ismail, Pak Dedi,
dan Mas Saiful, serta keluarga Laboratorium Entomologi Hutan : Bu Eli dan
teh Lia atas semua bantuan dan keramahannya selama penulis melakukan
penelitian.

5.

Teman-teman satu laboratorium : Wiwit, Said, Mba Anna, Mba Dita, Kak
Asep dan Awank atas semangat perjuangannya.

6.

Pihak pengelola Hutan Pendidikan Gunung Walat dan Dr. Ir. Cahyo
Wibowo ., M.Sc. F.trop atas bantuannya dalam pembuatan skripsi.

7.

Staf Laboratorium Teknologi Pemanfaatan Mutu kayu dan Punto atas semua
bantuan dan keramahannya dalam penelitian.

8.

Teman-teman Silvikultur 44 dan se-Fakultas Kehutanan IPB: Ucik, Eri
Sugiarto, Puspitasari, Satriavi, Dhinda, Rahmad, Lilis, Aziz, Eko, Fitri dan
seluruh teman-teman atas segala bantuan, dukungan, motivasinya dan
kebersamaan ini semoga bisa tetap terjalin.

9.

Semua pihak yang belum disebutkan, tanpa mengurangi rasa hormat.
Semoga segala kebaikan dibalas Allah SWT.

iv

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bogor, pada tanggal 5 Februari 1989 sebagai anak
pertama dari tiga bersaudara pasangan Ugan dan Tati. Pendidikan formal yang
telah dilalui penulis antara lain di SDN Panaragan I tahun 1995-2001, Sekolah
Menengah Pertama di SMP Negeri 6 Bogor tahun 2001-2004, dan Sekolah
Menengah Atas di SMA Negeri 6 Bogor pada tahun 2004-2007. Pada Tahun 2007
penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur
Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) sebagai mahasiswa jurusan
silvikultur, Fakultas Kehutanan.
Selama menuntut ilmu di IPB penulis sempat aktif dalam organisasi TGC
sebagai staf Bisnis Development Tree Grower Community (TGC). Selain itu,
penulis juga aktif di kepanitiaan kegiatan kemahasiswaan. Penulis juga melakukan
beberapa kegiatan praktek lapang. Kegiatan praktek tersebut, yaitu Praktek
Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH) di Sancang Timur dan Gunung Papandayan
di Garut Jawa Barat, Prakek Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan
Gunung Walat (HPGW) Sukabumi serta Praktek Kerja Profesi (PKP) di PT. Amal
Nusantara, Sulawesi Barat.
Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan
skripsi dengan judul Keanekaragaman Rayap di Hutan Pendidikan Gunung Walat
(HPGW), Sukabumi,dibimbing oleh Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MSc.

v

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ...................................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR ...............................................................................

viii

BAB I

PENDAHULUAN .....................................................................

1

1.1 Latar Belakang......................................................................

1

1.2 Tujuan ..................................................................................

2

1.3 Manfaat ...............................................................................

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................

3

2.1 Bioekologi Rayap ...............................................................

3

2.2 Vegetasi ..............................................................................

6

BAB III METODE PENELITIAN .........................................................

9

3.1 Waktu dan Tempat ...............................................................

9

3.2 Bahan dan Alat ....................................................................

9

3.3 Metodologi ..........................................................................

9

3.3.1 Pengambilan sampel ........................................................

9

3.3.2 Identifikasi rayap ............................................................

9

3.4 Kondisi umum .......................................................................

10

3.4.1 Lokasi dan Luas .............................................................

10

3.4.2 Topografi dan Iklim ........................................................

11

3.4.3 Tanah dan Hidrologi .......................................................

11

3.4.4 Vegetasi .........................................................................

11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................

12

4. Hasil dan pembahasan ............................................................

12

4.1 Sebaran Rayap Tanah Di Berbagai Vegetasi ..........................

12

4.2 Identifikasi Rayap Yang Tersebar Di HPGW ........................

17

4.3 Potensi Rayap Di HPGW ........................................................

21

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............

Dokumen yang terkait

Dokumen baru