Studi keanekaragaman burung di hutan kota Buperta Cibubur Jakarta Timur

STUDI KEANEKARAGAMAN BURUNG
DI HUTAN KOTA BUPERTA CIBUBUR
JAKARTA TIMUR

ADANG

PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2008 M / 1429 H

STUDI KEANEKARAGAMAN BURUNG DI HUTAN KOTA
BUPERTA CIBUBUR
JAKARTA TIMUR

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh:
ADANG
103095029750

Menyetujui,

Pembimbing 1

Pembimbing 2

Fahma Wijayanti, M.Si

Paskal Sukandar, M.Si

NIP. 150 326 910

NIP. 131 128 364

Mengetahui,
Ketua program Studi Biologi

DR. Lily Surayya Eka Putri, M.Env. Stud
NIP. 150 375 182

PENGESAHAN UJIAN

Skripsi yang berjudul” Studi Keanekaragaman Burung di Hutan Kota BUPERTA
Cibubur, Jakarta Timur”, telah diuji dan dinyatakan lulus dalam Munaqosah
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta pada hari Rabu tanggal 24 Desember 2008. Skripsi ini telah diterima
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) Pada
Program Studi Biologi.

Jakarta, Desember 2008

Tim Penguji
Penghuji I

Penguji II

Menyetujui,

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi

Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis
NIP. 150 317 956

Ketua Program Studi

Dr. Lili Surayya Eka Putri , M.Env. Stud
NIP. 150 375 182

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN KEASLIAN SKRIPSI INI BENARBENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN
SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI
ATAU LEMBAGA APAPUN.

Jakarta, 22 Desember 2008

Adang
103095029750

ABSTRAK

Adang. Studi keanekaragaman burung di hutan kota Bumi Perkemahan Pramuka
dan Graha Wisata (BUPERTA) Cibubur, Jakarta Timur. Skripsi. Program Studi
Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, Jakarta, 2008.
BUPERTA Cibubur merupakan salah satu kawasan yang yang dijadikan sebagai
hutan kota oleh PEMDA DKI Jakarta. Kurang terarahnya perencanaan tata ruang
hutan kota tersebut menjadi ancaman kelangsungan hidup burung-burung yang
ada di hutan kota tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi
tentang keanekaragaman burung dan profil habitat sebagai penunjang kelangsugan
hidup bagi burung di hutan kota BUPERTA Cibubur. Metode penelitian
dilakukan dengan metode survey. Sensus burung dilakukan dengan metode IPA
Indices Puctue d’Abondance atau Indek titik kelimpahan pada stasiun yang telah
ditentukan dan untuk profil habitat sketsa yang menitikberatkan wilayah yang
banyak dimanfaatkan oleh burung dengan cara membuat plot yang telah
ditentukan di masing-masing stasiun. Analisis data secara deskriptif. Hasil
penelitian menunjukkan keanekaragaman burung di 2 stasiun yaitu 1.159 pada
stasiun 1 dan 1.173 pada stasiun 2 sedangkan profil habitat burung didapat dalam
3 lokasi yang secara umum dimanfaatkan oleh burung yaitu lokasi mencari
makan, lokasi bermain dan lokasi istirahat atau tidur. Kelimpahan burung di hutan
kota BUPERTA Cibubur bervariasi dengan tingkat dominansi tinggi sampai
rendah.
Kata Kunci: Hutan kota, burung, keanekaragaman, habitat, kelimpahan

ABSTRACT

Adang. Study of bird diversity in urban forest at Bumi Perkemahan Pramuka and
Graha Wisata (BUPERTA) Cibubur, Eastern Jakarta. Skripsi. Direction of
Biology, Faculty Science and Technology. Islamic State of University Syarif
Hidayatullah, Jakarta, 2008.
BUPERTA Cibubur are anyting area who to increase as urban forest by
goverment DKI Jakarta. Undirection planning place order urban forest to appoint
to threaten directly life birds who life in urban forest. The riset purpose to visit
information about of diversity bird and profil habitat as to kick continue life to
bird in urban forest BUPERTA Cibubur. The method riset to perform with
method survey. Cencus bird to perform with method IPA Indices Puctue
d’Abundance. For station who aready to ascertain and for profil habitat sketsa
who concentration area who much useful by bird with according makes ploting
who aready to ascertaion at each station. The analysis date use descriptif. The
result riset to indicate diversity bird in 2 station are 1.159 to station 1 and 1.173 to
station 2 exactly profil habitat bird to find in 3 location who use general useful by
bird are feeding location, playing location and rest or sleft location. The
abundance bird in urban forest BUPERTA Cibubur variation with stratification
dominant high to low.

Key words: Urban forest, bird, diversity, habitat, abundance

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. wb.
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga penulis dapat
menyelesaikan Skripsi ini yang berjudul “STUDI KEANEKARAGAMAN
BURUNG DI HUTAN KOTA BUMI PERKEMAHAN DAN GRAHA WISATA
(BUPERTA) CIBUBUR, JAKARTA TIMUR”. dibuat sebagai tugas akhir dan
sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Program Studi
Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima
kasih kepada:
1. Ibunda Hj. Rodyah dan Ayahanda H. Anwar Madali (Alm.) yang telah
mencurahkan segala kasih sayang dan pengorbanan yang tidak terhingga
dan kupesembahkan skripsi ini kepada ayahku yang telah berada di sana.
2. DR. Sopiansyah Jaya Putra, M.Si, selaku Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.
3. DR. Lily Surayya Eka Putri, M. Env. Stud, selaku Ketua Program Studi
Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan sebagai dosen penguji II
pada seminar Proposal Penelitan.
4. Dra. Nani Radiastuti, M. Si, selaku dosen Pembimbing Akademik.
5. Fahma Wijayanti, M.Si, selaku Dosen Pembimbing I dan Paskal Sukandar,
M.Si, selaku dosen Pembimbing II yang telah memberikan semangat,
motivasi dan pinjaman bukunya dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Narti Fitriana, M.Si, selaku dosen Penguji I pada seminar Proposal
Penelitain.
7. Megga Ratnasari Pikoli, M.Si, selaku dosen penguji I dan Priyanti, M.Si,
selaku penguji II pada siding Munaqosah.
8. Dosen-dosen Biologi yang telah mencurahkan ilmunya dengan tulus
terhadap kami selaku mahasiswa.

9. Antariksa, selaku Kepala BUPERTA dan staf jajarannya yang telah
menerima penulis untuk melakukan penelitian di hutan kota BUPERTA
Cibubur.
10. Kakak-kakakku dan adiku yang telah memberikan dorongan, kasih sayang
dan juga do’anya kepada penulis.
11. Ano atas pinjaman kameranya, Deden, Mardiansyah, Mae, Suci, Irul,
Sahriah, Mini, yang telah banyak membantu penulis selama penelitian dan
juga sarannya.
12. Teman-teman angkatan 2003: Ano, Mardiansyah, Nova, Angga, Deden,
Danil, Bahri, Mae, Wila, Yeni, Ade, Era, Irul dan semua teman-teman
angkatan 2003 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Semoga
kebersamaan baik canda, tawa selalu kita bina.
13. Dukungan teman-teman Biologi angkatan 2002, 2004 – 2008 yang tidak
dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.
14. Inta, Giok, Farhana yang ada dalam satu kampus meskipun beda fakultas
terima kasih atas dorongan dan motivasinya kepada penulis.
15. Teman-teman JGM dan Green Monster: Adi, Putri, Suci, Dimas, Lia,
Martha atas pinjaman bukunya.
16. Dan semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam pembuatan
skripsi baik secara moril maupu materil.

Harapan penulis dengan skripsi ini semoga bermanfaat dan memberikan
nilai edukasi khususnya kepada saya pribadi umumnya kepada khalayak umum.
Namun sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan dengan keikhlasan hati
penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi adanya
suatu perubahan di masa yang akan datang. Semoga Allah SWT memberikan
jalan yang lurus kepada kita semua. Amiin
Wassalamu’alaikum wr. wb
Jakarta, Desember 2008

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL……………………………………………………

i

LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………….

ii

ABSTRAK………………………………………………………………

v

ABSTRACT…………………………………………………………….

vi

KATA PENGANTAR…………………………………………………

vii

DAFTAR ISI……………………………………………………………

viii

DAFTAR TABEL………………………………………………………

xi

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………

xii

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………

xiii

BAB I. PENDAHULUAN………………………………………………

1

1.1. Latar Belakang………………………………………………… 1
1.2. Perumusan Masalah…………………………………………...

3

1.3. Hipotesis………………………………………………………

3

1.4. Tujuan Penelitian……………………………………………… 3
1.5. Manfaat Penelitian…………………………………………….

4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA………………………………………. 5
2.1. BUPERTA…………………………………………………….

5

2.2. Hutan Kota…………………………………………………….

7

2.3. Bioekologi Burung…………………………………………….

10

2.3.1. Klasifikasi Burung………………………………………..

10

2.3.2. Keanekaragaman Burung…………………………………

10

2.3.3. Habitat Burung……………………………………………

11

2.3.4. Gangguan Terhadap Burung Kota………………………..

14

2.3.5. Manfaat dan Fungsi Burung………………………………

15

2.4. Kerangka Berfikir…………………………………………….

17

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN…………………………….

19

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian………………………………… . 19
3.2. Peralatan Penelitian……………………………………………. 19
3.3. Metode Penelitian……………………………………………… 20
3.4. Cara Kerja……………………………………………………… 20
3.4.1. Penelitian Pendahuluan……………………………………. 21
3.4.2. Penelitian Inti……………………………………………… 21
3.4.2.1. Sensus Burung………………………………………. 21
3.4.2.2. Profil Habitat……………………………………….. 22
3.5. Anaisis Data……………………………………………………. 25
3.5.1. Analisis Data Burung……………………………………… 25
3.5.2. Analisis Data Vegetasi…………………………………….. 27
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………….. 30
4.1. Hasil Penelitian…………………………………………………. 30
4.1.1. Kelimpahan dan Indeks Dominansi Burung……………… 29
4.1.2. Keanekaragaman Burung………………………………….. 31
4.1.3. Profil Habitat Burung……………………………………… 31
4.1.4. Analisis Vegetasi…………………………………………... 35
4.2. Pembahasan……………………………………………………. 36

4.2.1. Kelimpahan dan Indeks Dominansi Burung……………… 36
4.2.2. Keanekaragaman Burung………………………………….. 40
4.2.3. Tipe Pakan dan Pencarian Pakan………………………….. 44
4.2.4. Stratifikasi Vertikal Wilayah Pencarian Pakan…………… 48
4.2.5. Profil Habitat Hutan Kota BUPERTA Cibubur…………..

49

4.2.5.1. Profil Habitat Tidur………………………………… 49
4.2.5.2. Profil Habitat Makan……………………………….

50

4.2.5.3. Profil Habitat Bermain……………………………... 50
4.2.6. Vegetasi…………………………………………………… 51
4.2.6.1. Tingkat Pohon……………………………………...

51

4.2.6.2. Tingkat Pancang……………………………………

53

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN………………………………..

55

5.1. Kesimpulan…………………………………………………… 55
5.2. Saran………………………………………………………….. 56
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 57
LAMPIRAN……………………………………………………………..

61

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Ukuran Ketinggian Pohon……………………………………… 23
Tabel 2. Tingkatan Stratifikasi…………………………………………… 23
Tabel 3. Nilai Kelas Tingkat Dominansi dan Perananan Vegetasi………. 28
Tabel 4. Kelimpahan dan Dominansi Burung pada Stasiun 1 dan 2 ……. 30
Tabel 5. Indeks Keanekaragaman Burung pada Stasiun 1 dan 2 ………..

31

Tabel 6. Indeks Nilai Penting dan Keanekaragaman Vegetasi Tingkat
Pohon dan Pancang pada Stasiun 1…………………………….

35

Tabel 7. Indeks Nilai Penting dan Keanekaragaman Vegetasi Tingkat
Pohon dan Pancang pada Stasiun 2……………………………

34

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pintu Gerbang Hutan Kota BUPERTA Cibubur……………..

2

Gambar 2. Diagram Kerangka Berfikir…………………………………..

17

Gambar 3. Peta BUPERTA Cibubur……………………………………..

18

Gambar 4. Petak Contoh Vegetasi………………………………………..

23

Gambar 5. Profil Habitat Bermain pada Stasiun 1………………………..

31

Gambar 6. Profil Habitat Makan pada Stasiun 1…………………………

31

Gambar 7. Profil Habitat Tidur pada Stasiun 1…………………………..

32

Gambar 8. Profil Habitat Bermain pada Stasiun 2……………………….

32

Gambar 9. Profil Habitat Makan pada Stasiun 2…………………………

33

Gambar 10. Profil Habitat Tidur di Stasiun 2……………………………. 33

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar 1.1 Lokasi Stasiun 1 Plot 1…………………………

60

Gambar 1.2 Lokasi Stasiun 1 Plot 2…………………………

60

Gambar 1.3 Lokasi Stasiun 2 Plot 1………………………….

60

Gambar 1.4 Lokasi Stasiun 2 Plot 2………………………….

60

Gambar 1.5 Sarang Burung Bondol………………………….

60

Gambar 1.6 Elang Alap Nipon (Accipiter gularis)…………..

61

Gambar 1.7 Bentet Kelabu (Lanius schah)…………………..

61

Gambar 1.8 Cekakak Sungai (Todirhamphus chloris)……….

61

Gambar 1.9 Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster)……….. 61
Gambar 1.10 Wiwik Lurik (Cacomantis soeratii)……………

61

Gambar 1.11 Caladi Tilik (Dendrocopus moluccensis)………

61

Gambar 1.12 Tekukur (Streptopelia chinensis)………………

62

Gambar 1.13 Bondol Haji (Lonchura punculata)……………

62

Gambar 1.14 Cinenen pisang (Orthotomus sutorius)………...

62

Gambar 1.15 Sepah Kecil (Pericrocotus cinnmomeus)………

62

Gambar 1.16 Buah Tanaman Buni……………………………

62

Lampiran 2. Tabel Perjumpaan Burung di Stasiun 1 dan 2………………..

63

Lampiran 3. Nilai Kelas Tingkat Dominansi dan Peranan Vegetasi
pada Stasiun 1……………………………………………….

64

Lampiran 4. Nilai Kelas Tingkat Dominansi dan Peranan Vegetasi
pada Stasiun 2………………………………………………..

65

Lampiran 5. Indeks Nilai Penting dan Keanekaragaman Burung
pada Stasiun 1………………………………………………..

66

Lampiran 6. Indeks Nilai Penting dan Keanekaragaman Burung
pada Stasiun 2……………………………………………….
Lampiran 7. Indeks Nilai Penting dan Keanekaragaman Vegetasi
Tingkat Pohon pada Stasiun 1……………………………….
68
Lampiran 8. Indeks Nilai Penting dan Keanekaragaman Vegetasi
Tingkat Pancang pada Stasiun 1……………………………..
69
Lampiran 9. Indeks Nilai Penting dan Keanekaragaman Vegetasi
Tingkat Pohon pada di Stasiun 2…………………………….
70
Lampiran 10.Indeks Nilai Penting dan Keanekaragaman Vegetasi
Tingkat Pancang pada Stasiun 2…………………………….
71

67

AYAT-AYAT PERSEMBAHAN
Bismillahirrohmaanirrochim

Dan ketika Allah mengatakan : Hai Isya anak Maryam ! ingatilah karuniaKu
kepada engkau dan ibu engkau, ketika Aku menolong engkau dengan Ruh suci, dan engkau
berkata-kata kepada manusia dalam buaian dan sesudah dewasa dan ingati pula ketika Aku
ajarkan kepada engkau kitab, Hikmat (kebijaksanaan), Taurat dan Injil dan ingati pula
ketika engkau membuat bentuk burung dari tanah dengan izinKu, kemudian engkau hembus
ke dalamnya, lalu ia menjadi burung dengan izinKu; dan engkau sembuhkan orang-orang
buta dan orang-orang berpenyakit lepra dengan izinKu; dan ingati pula ketika engkau
menghidupkan orang mati dengan izinKu; dan Aku tahan anak-anak Israil menentang
engkau (hendak membinasakan) ketika engkau mengemukakan kepada mereka keteranganketerangan yang jelas, lalu orang-orang yang tidak percaya diantara mereka mengatakan ini
tidak lain dari sihir yang terang (QS Al-Maidah : 6 :110)

Dan binatang-binatang yang ada di bumi dan burung yang terbang dengan kedua
sayapnya adalah bangsa-bangsa seperti kamu juga. Tiadalah Kami alpakan sedikitpun dalam
Kitab, kemudian mereka akan dikumpulkan kepada Tuhan. (QS Al – An’aam : 6 :38)

Dan apa yang diadakan Tuhan di bumi bermacam-macam warnanya. Sesungguhnya
dalam hal itu, keterangan bagi kaum yang berpikir.
(QS An– Nahl : 16 : 13)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pesatnya pembangunan di wilayah perkotaan telah membawa dampak
positif maupun negatif bagi lingkungan, pengaruh pembangunan kota kepada
lingkungan pada umumnya mengubah keadaan fisik lingkungan alam menjadi
lingkungan buatan manusia. Banyaknya anggapan masyarakat bahwa penggunaan
ruang terbuka hijau tidaklah begitu penting jika dibandingkan dengan
pembangunan sarana kota lainnya seperti gedung-gedung, jalan-jalan, jembatan
atau apa saja yang terbangun di atas permukaan tanah. Kini ruang terbuka hijau
yang seharusnya diperluas dan dikembangkan, justru dialihfungsikan untuk
keperluan sarana lainnya seperti kantor, gedung, hotel dan lain-lain.
Dampak positif dari pembangunan dapat berupa meningkatnya taraf hidup
masyarakat dan bertambahnya sarana dan prasarana di perkotaan sedangkan
dampak negatif dari pembangunan ini antara lain terjadinya penurunan kualitas
lingkungan dan terganggunya kestabilan ekosistem perkotaan. Besarnya manfaat
hutan kota membuat PEMDA DKI Jakarta menetapkan kawasan BUPERTA
Cibubur menjadi hutan kota dimana di dalam kawasan tersebut terdapat beberapa
sumber kehidupan bagi keangsungan hidup makhluk hidup selain sebagai habitat
bagi satwa di kawasan tersebut terdapat danau, dimana pada saat musim
penghujan danau tersebut berfungsi sebagai daerah resapan air hujan dari wilayah
sekitar Cibubur, selain itu danau sering dijadikan sebagai wahana wisata air.

Sebagian satwa yang masih dapat bertahan hidup di hutan kota BUPERTA
Cibubur sampai sekarang yaitu jenis burung. Menurut Sujatnika et al. (1995)
keberadaan suatu jenis burung dapat dijadikan sebagai indikator keanekaragaman
hayati, karena kelompok burung memiliki sifat-sifat yang mendukung, yaitu hidup
di seluruh habitat, peka terhadap perubahan lingkungan dan kehidupanya serta
penyebarannya telah cukup diketahui.

Gambar 1. Pintu Gerbang Hutan Kota BUPERTA Cibubur
(Sumber: http://www.bupertacibubur.com 15 Oktober, 2008, pkl 21.30)

Konservasi burung di Indonesia saat ini masih terpusat pada kawasan
konservasi saja seperti Cagar Alam, Suaka Margasatwa, dan Taman Nasional.
Burung merupakan satwa liar yang memiliki tingkat mobilitas yang tinggi dan
mampu beradaptasi pada berbagai tipe habitat yang luas ( Welty, 1992), sehingga
upaya konservasi juga diperlukan di kawasan non konservasi, salah satunya hutan
kota karena letaknya yang berada di tengah-tengah kota di mana pengaruh
eksternal akan terasa langsung dampaknya terhadap hutan kota.
Untuk meningkatkan konservasi burung di daerah hutan kota diperlukan
kualitas lingkungan yang baik ditunjang dengan adanya areal vegetasi yang besar

(Dudun, dalam Ernawati dan Miarsyah 2003). Mengingat belum adanya data-data
terhadap keanekaragaman burung di hutan kota BUPERTA Cibubur, maka perlu
adanya suatu penelitian tentang keanekaragaman burung di hutan kota
BUPPERTA Cibubur demi menjaga kelestarianya di habitat tersebut mengingat
pembangunan di kawasan Cibubur yang kurang terarah seperti pembangunan rest
area di sekitar hutan kota dan pengelolaan yang kurang tepat.

1.2. Perumusan Masalah
1. Bagaimana keanekaragaman burung yang ada di hutan kota BUPERTA
Cibubur?
2. Bagaimana profil habitat sebagai penunjang kehidupan burung di hutan kota
BUPERTA Cibubur?

1.3. Hipotesis
1. Terdapat perbedaan keanekaragaman burung di dua stasiun hutan kota
BUPERTA Cibubur.
2. Terdapat lokasi yang baik untuk kehidupan burung di dua stasiun hutan kota
BUPERTA Cibubur.

1.4. Tujuan Penelitian
Adapun

tujuan

dari

penelitian

ini

adalah

untuk

mengetahui

keanekaragaman burung yang ada di hutan kota BUPPERTA Cibubur dan

mengetahui profil habitat sebagai penunjang kehidupan burung di hutan kota
BUPERTA Cibubur.

1.5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai :
1. Dasar bagi penelitian lanjutan dalam usaha pelestarian keseimbangan
ekosistem perkotaan.
2. Dapat memberikan informasi mengenai keanekaragaman burung yang
terdapat di hutan kota BUPPERTA Cibubur.
3. Dapat memberikan informasi tentang keanekaragaman hayati kepada kepada
BUPPERTA sebagai pengelola hutan kota dalam menjaga ekosistem kota.
4. Bahan Pertimbangan dalam memilih jenis tanaman yang dapat menunjang
kelestarian burung-burung liar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur (BUPERTA)
Sejak tahun 1970 timbul pemikiran agar Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka memiliki tempat yang memadai untuk mengembangkan kegiatan
pendidikan, latihan dan rekreasi sehat yang bertaraf nasional, Gerakan Pramuka
yang pada waktu itu belum mempunyai lahan perkemahan dan akan mengadakan
acara perkemahan atau pertemuan besar anggota pramuka seluruh Indonesia
(Jambore Nasional) serta Jambore Asia Pasifik, maka ketua Kwarnas Gerakan
Pramuka membicarakan hal tersebut kepada Bapak M. Soeharto Presiden RI
sebagai Pramuka Tertinggi di Indonesia.
Bumi Perkemahan Pramuka dan Graha Wisata (BUPPERTA) secara
geografis terletak di ujung timur kota Jakarta dengan luas areal 210 hektar,
sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Administratif Depok Jawa Barat
(sebelumnya Kabupaten Bogor tepatnya desa Cibubur), Utara berbatasan dengan
Munjul Jakarta Timur, Barat berbatasan dengan jalan tol Jagorawi, Timur
berbatasan dengan Pondok Ranggon Jakarta Timur, Kabupaten Bogor mempunyai
suhu rata-rata 30 oC dan kelembaban 70 % sedangkan kondisi fisik di hutan kota
BUPERTA Cibubur memiliki temperature hampir sama dengan Bogor yaitu 30 oC
dan kelembapan 70 %. Sebelumnya kawasan tersebut adalah kebun karet milik
pemerintah Koloni Belanda, pada tahun 1971 kawasan ini diambil alih oleh
pemerintah Indonesia, atas prakarsa Ibu Tien Soeharto kawasan tersebut

dialihfungsikan menjadi bumi perkemahan dan tempat pendidikan kepramukaan
Indonesia, BUPPERTA Cibubur diresmikan pada tahun 1973 oleh Presiden
Republik Indonesia Soeharto.
Selanjutnya dilanjutkan dengan peresmian komplek sarana pendidikan dan
rekreasi Gerakan pramuka yang kemudian diberi nama Widya Mandala Krida
Bhakti Pramuka (WILADATIKA) yang diartikan sebagai tempat ilmu
pengetahuan dan tempat mengolah pramuka untuk dapat berbakti kepada
masyarakat, nusa dan bangsa.
Pada tahun 1983 bangunan fasilitas pendukung seperti: Graha Wisata
Pramuka Youth Hostel, Aula Cut Nyak Dien, Loka Dewi Sinta dan Ruang Makan
Ken Dedes. Kesemuanya itu diperuntukkan bagi tamu-tamu dari luar seperti para
Pembina, Pendamping, Andalan Nasional dan tamu undangan asing diresmikan
oleh presiden Republik Indonesia Bapak Soeharto.
Pada tanggal 25 Juni 1987 dikeluarkan Surat Keputusan Kwarnas Nomor:
068 Tahun 1987 tentang penggabungan Unit Usaha Bumi Perkemahan dan Unit
Usaha Graha Wisata Pramuka menjadi Unit Usaha Bumi Perkemahan dan Graha
Wisata Pramuka yang disingkat BUPERTA. (http://www.bupertacibubur.com 15
Oktober 2008)
Melihat peranan hutan kota yang sangat vital apalagi keberadaannya di
kota mendorong Pemda DKI Jakarta untuk menyediakan beberapa tempat untuk
keperluan tersebut. Menyadari pentingnya fungsi RTH membuat Pemerintah DKI
Jakarta pada tahun 2004 meresmikan kawasan Bumi Perkemahan dan Graha
Wisata Pramuka (BUPERTA) Cibubur sebagai hutan kota. Pencanangan wilayah

tersebut dijadikan sebagai hutan kota ditandai dengan penanaman 1000 pohon
yang berasal dari sumbangan Bank Indonesia.

2. 2. Hutan Kota
Hutan kota adalah daerah seluas kira-kira seperempat hektar yang
ditanami pohon-pohon yang berdekatan, untuk mengatasi lingkungan yang keras
demi memenuhi syarat dalam rancangan pembangunan kota. Hutan kota adalah
lapangan yang ditumbuhi vegetasi berkayu di wilayah perkotaan yang memberi
manfaat lingkungan yang sebesar-besarnya kepada penduduk kota dalam
kegunaan khusus lainnya (Fakultas Kehutanan IPB, 1987).
Hutan kota akan dirasakan belum lengkap jika suatu hutan kota belum
dapat menghadirkan satwa liar terutama burung karena kehadirannya memberikan
suasana riang dengan bunyi kicauannya. Kehadiran burung dapat menambah nilai
estetika dan ekologis suatu hutan kota. Keberadaan burung di daerah perkotaan
pada saat ini sudah semakin terdesak oleh pesatnya pembangunan. Adanya
pembukaan areal untuk dijadikan pemukiman atau lainnya secara tidak langsung
dapat merubah atau mengurangi komposisi tumbuhan sehingga menjadi tidak
cocok untuk dijadikan habitat burung. Kondisi yang demikian itu dapat
menyebabkan populasi burung di perkotaan berkurang dan akhirnya menghilang.
Padahal menurut penelitian-penelitian yang dilakukan diketahui bahwa kota
sesungguhnya masih mampu dihuni oleh berbagai jenis burung (Janala, 1995).
Menurut Dahlan (1972) hutan kota memiliki peranan sebagai identitas
kota, pelestarian plasma nutfah, penahan dan penyaring partikel padat dari udara,

penyerap dan penjerap partikel timbal, penyerap dan penjerap debu semen,
peredam kebisingan, mengurangi bahaya hujan asam, penyerap karbondioksida,
penghasil oksigen, penahan angin, penyerap dan penepis bau, mengatasi
penggenangan, mengatasi intrusi air laut, ameriolasi iklim, pengelolaan sampah,
pelestarian air tanah, penapis cahaya silau, meningkatkan keindahan, sebagai
habitat

burung,

mengurangi

stress,

mengamankan

pantai

dari

abrasi,

meningkatkan industri pariwisata sebagai hobi dan pengisi waktu.
Menurut Rachman (1996) penggunaan tanaman yang menghasilkan bunga
dalam kawasan hutan kota akan memberikan daya tarik tersendiri seperti
Flamboyan. Warna bunga akan menjadi daya tarik bagi satwa burung dan kupukupu serta dapat memberikan suasana yang ceria. Kehadiran satwa tersebut akan
menambah suasana tampak alami yang dikelilingi oleh bangunan bertingkat serta
hiruk pikuk kegiatan transportasi. Kehadiran burung akan menambah keasrian
yang tampak sehingga akan memperindah kawasan tersebut. Penggunaan vegetasi
yang memiliki bunga atau buah akan menjadi daya tarik bagi burung tersebut
untuk datang dan tinggal di kawasan tersebut.
Menurut penelitian Handayani (1995) tipe vegetasi daun lebar memiliki
nilai keanekaragaman jenis tertinggi tetapi memiliki kelimpahan yang rendah, hal
yang mempengaruhi pemilihan vegetasi yang disukai burung adalah makanan
yang dihasilkan oleh tumbuhan dan struktur vegetasi, yang meliputi tinggi tajuk,
tipe percabangan dan organisasi kanopi. Sebagai sumber makanan, vegetasi yang
dalam hutan kota terdiri dari jenis vegetasi berbunga, berbuah, evergreen, dan
menggugurkan daun, yang menyediakan biji-bijian (rumput/penutup tanah), buah-

buahan (pohon/semak berbuah), beberapa contoh tumbuhan yang menjadi sumber
makanan burung adalah tanaman rumput, tanaman yang menghasilkan buah,
tanaman yang menghasilkan bunga, dan tanaman yang mengundang serangga.
Berbagai spesies burung mempunyai berbagai jenis makanan seperti buah,
biji, madu dari bunga dan serangga. Komposisi vegetasi dicapai melalui
penanaman beranekaragam pohon, perdu, semak, tanaman merambat, tanaman
penutup tanah atau rumput yang menghasilkan makanan bagi burung tersebut
(Hails et al., 1990). Selain menghasilkan makanan, tumbuhan yang dihadirkan
dalam hutan kota harus menghasilkan material dan memberi tempat bersarang.
Beberapa spesies burung menggunakan jerami, jaring laba-laba, lumut, bulu dan
material lain untuk bersarang pada pohon dan cabang-cabang pohon (Hails et al.,
1990).
Beberapa jenis burung memang benar-benar membutuhkan jenis pohon
tertentu sebagai sumber pakan atau tempat hidupnya dan jenis tersebut akan
hilang jika pohon tersebut tidak ada. Oleh karena itu jumlah jenis burung
tergantung pada profil lapisan vegetasi (Grubb, 1979).
Keanekaragaman struktur vegetasi dan penutupan vegetasi merupakan
faktor penting yang mempengaruhi keanekaragaman dan populasi burung di
daerah perkotaan (Hails et al., 1990). Jenis tumbuhan yang disukai burung sebagai
tempat tinggal atau mencari makan berkaitan dengan tinggi tumbuhan, struktur
kelebatan dedaunan, diameter tajuk, struktur dedaunan, kelebatan dedaunan,
kelebatan tajuk, tinggi bebas cabang dan arsitektur pohon (Pakpahan, 1993 a).

2.3. Bio-ekologi Burung
2.3.1. Klasifikasi Burung
Burung termasuk dalam kelas aves, sub Phylum vertebrata dan masuk ke
dalam Phylum Chordata, yang diturunkan dari hewan berkaki dua (Welty, 1982).
Di Indonesia terdapat 1549 jenis (± 17 % dari jumlah di dunia), dengan 381 jenis
burung (24,83 %) endemik, yang meliputi 90 suku (Andrew, 1992), sedangkan
Sukmantoro dkk, 2007, menyebutkan jumlah burung Indonesia saat ini 1598
spesies.
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Subphylum

: Vertebrata

Class

: Aves

(Linnaeus, 1758)

2.3.2. Keanekaragaman Burung
Hernowo (1985) berpendapat bahwa keanekaragaman merupakan ciri khas
bagi komunitas yang dipengaruhi oleh banyaknya jenis dan perimbangan jumlah
individu tiap jenis. Besarnya nilai keanekaragaman dapat dijadikan indikator
kemantapan komunitas dan kondisi lingkungan karena menurut Pakpahan (1993
b) burung merupakan kelompok satwaliar yang responsif dengan perubahan
habitat.
Menurut MacArthur (1964) dalam Arumasari (1989) keanekaragaman
jenis burung yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya, hal ini tergantung
pada kondisi lingkungan dan faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang

mempengaruhi keanekaragaman adalah distribusi vertikal dari dedaunan atau
stratifikasi tajuk. Keanekaragaman jenis burung berhubungan dengan jumlah
lapisan vegetasi atau stratifikasi tajuk pohon. Sedangkan menurut Odum (1993)
keanekaragaman jenis mempunyai sejumlah komponen yang dapat memberikan
reaksi berbeda terhadap faktor geografis, perkembangan atau fisik. Blake et al.
(2000) mengatakan bahwa keanekaragaman jenis burung akan semakin berubah
dengan

perubahan

ketinggian,

dimana

semakin

rendah

ketinggian,

keanekaragaman jenis burung semakin tinggi.
Menurut Hernowo dan Prasetyo (1989) dalam Suryowati (2000)
menyatakan bahwa burung termasuk satwa yang harus dilestarikan karena
mempunyai manfaat yang tidak kecil artinya bagi masyarakat. Manfaat kelestarian
burung antara lain sebagai sumber plasma nutfah, membantu mengendalikan
hama, suaranya menyenangkan bagi manusia, sebagai objek pendidikan dan
penelitian.

2.3.3. Habitat Burung
Menurut Alikodra (1980) burung sebagai salah satu komponen ekosistem
memerlukan tempat atau ruang untuk mencari makan, minum, berlindung,
bermain dan tempat untuk berkembang biak, tempat yang menyediakan kebutuhan
tersebut membentuk suatu kesatuan yang disebut habitat. Sedangkan Odum
(1971) berpendapat bahwa habitat secara sederhana dapat dikatakan sebagai
tempat hidup burung itu berada. Pada prinsipnya burung memerlukan tempat
untuk mencari makan, berlindung, berkembang biak dan bermain.

Faktor yang menentukan keberadaan burung adalah ketersediaan makanan,
tempat untuk beristirahat, bermain, kawin, bersarang, bertengger dan berlindung.
Kemampuan areal menampung burung yang ditentukan oleh luasan, komposisi
dan struktur vegetasi, banyaknya tipe ekosistem dan bentuk habitat. Burung
merasa betah tinggal di suatu tempat apabila terpenuhi tuntutan hidup antara lain
habitat yang mendukung dan aman dari gangguan (Hernowo, 1985). Kelengkapan
komponen habitat mempengaruhi banyaknya jenis burung di habitat tersebut
(Mulyani, 1985).
Bentuk habitat yang baik untuk kelangsungan hidup burung adalah habitat
yang mampu melindungi dari gangguan maupun menyediakan kebutuhan
hidupnya (Hernowo dan Prasetya, 1989).
Faktor habitat merupakan faktor utama seberapa besar jumlah jenis burung
berada dalam suatu komunitas. Semakin kompleks dan kaya hutan sebagai suatu
habitat, semakin banyak jenis burung yang dapat menempatinya (Beehler, 1981
dalam Sumartono, 1999). Namun jika suatu habitat seragam, maka produktifitas
habitat yang tinggi tidak selalu diikuti dengan tingginya jumlah jenis, bahkan
mungkin hanya satu jenis saja yang dapat hidup pada kondisi tersebut
(MacArthur, 1972 dalam Sumartono, 1999).
Emlen (1974) dalam Indrawan (1989) mengemukakan bahwa pada
ekosistem perkotaan ketersediaan tempat hinggap merupakan suatu faktor yang
mempengaruhi keanekaan jenis burung. Orians (1969) dalam Ernawati dan
Miarsyah (2003) menyatakan bahwa keanekaan burung dipengaruhi beberapa

faktor antara lain kelimpahan efipit, bunga, buah-buahan, keterbukaan lantai hutan
dan sebagainya.
Menurut Janala (1995) kota Jakarta memiliki potensi keanekaragaman
burung yang cukup tinggi, mengingat letaknya berdekatan dengan pusat-pusat
konsentrasi burung (misalnya Suaka Margasatwa Pulau Rambut). Kantor SubBalai KSDA Jakarta melalui leaflet (Maret, 1979) menyatakan bahwa jumlah total
jenis burung di kawasan ini adalah 113 spesies (Suwelo, 1993) sedangkan
Bapedalda DKI Jakarta (2002) menyatakan bahwa tidak kurang dari 49 jenis
burung yang terdeteksi di Suaka Margasatwa Pulau Rambut dan ada sekitar 18
jenis burung di Lindungi dari kepunahan yang diantaranya adalah Elang Bondol,
Pecuk Ular, Ibis Roko-roko, Bluwok, Kuntul Pelatuk Besi, Raja Udang Biru Kecil
dan Raja Udang Kalung Putih.
Dari penelitian Pakpahan (1993 a) diketahui bahwa di hutan rawa
mangrove Kemayoran mampu mendukung sedikitnya 59 spesies burung, yang
terdiri dari 18 spesies burung merandai, 5 spesies burung rawa, 4 spesies burung
pantai dan 32 spesies burung teresterial. Jenis burung selama ini umum dijumpai
di pusat kota (down town) Jakarta hanya terbatas pada beberapa jenis saja, antara
lain burung Gereja (Passer montanus), Layang-layang Rumah (Apus affinis) dan
Walet Perut Putih (Collocalia esculent).
Keanekaragaman jenis burung bervariasi menurut ketinggian pohon. Ada
burung-burung yang lebih sering berada pada puncak tajuk, pertengahan tajuk
maupun bawah tajuk. Menurut Mulyani (1985) dalam penelitian lapisan atau
strata yang digunakan burung-burung dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu :

1. Stratum A berupa bagian puncak tajuk pohon
2. Stratum B berupa pertengahan tajuk pohon
3. Stratum C berupa pangkal tajuk atau tajuk pohon bagian bawah
4. Stratum D berupa bagian di bawah tajuk yaitu semak-semak dan tanah
Relung

ruang

dimana

burung-burung

tersebut

dapat

ditemukan,

beristirahat, mencari makan dan berkembangbiak oleh Handayani (1995)
dikelompokkan dalam beberapa strata yaitu strata I (0 – 0,6 m), strata (0,6 – 1,8
m), strata III (1,8 – 4,5 m), strata IV (4,5 – 15 m) dan strata V (di atas 15 m). Jenis
burung yang menggunakan strata I dan II adalah burung kecil (seperti perenjak,
burung gereja dan pipit), strata III sampai IV lebih banyak digunakan sebagai
tempat untuk beristirahat dan bersarang bagi burung-burung karena lebih banyak
menyediakan tempat bersembunyi. Selain itu juga menyediakan makanan, baik
buah-buahan maupun serangga. Hampir semua jenis burung menggunakan ruang
ini. Sedang strata V digunakan oleh jenis burung yang menyukai mahkota pohon,
baik untuk mencari makan, bersarang dan beristirahat. Burung yang sering terlihat
pada strata ini adalah kutilang dan kepodang.

2.3.4. Gangguan Terhadap Burung Kota
Ward (1968) menyatakan bahwa fauna burung di kota lebih miskin
daripada di habitat berhutan. Kelangkaan fauna burung ini paling sedikit
disebabkan oleh kecenderungan anak-anak untuk menembak burung dengan
ketapel atau bahkan tembakan angin. Alasan ekologis kelangkaan burung ini
antara lain adalah dengan kelangkaan sumber pakan dari tanaman produktif yang

sesuai bagi burung, hanya sedikit serangga yang dapat menggunakan pohonpohon asing, sehingga makanan yang tersedia bagi burung-burung pemakan
serangga seluruhnya atau burung pemakan serangga sebagian menjadi semakin
sedikit. Sebagian besar burung yang ada adalah pemakan biji-bijian di atas tanah
daripada pemakan serangga pada batang-batang pohon atau tajuk pohon yang
merupakan ciri khas burung hutan.
Pakpahan dan Mulyani (1994) juga menyatakan bahwa masyarakat masih
menganggap burung sebagai objek yang dapat dijadikan sumber penghasilan atau
sebagai satwa buruan, adapula sebagian masyarakat yang mendapat kesenangan
dengan menembak burung walaupun tidak dapat dikonsumsi. Selanjutnya
Pakpahan (1993 c) menyatakan bahwa penurunan keanekaragaman burung
disebabkan oleh perburuan liar, perdagangan dalam maupun luar negeri,
berkurangnya habitat terutama tempat mencari makan dan bersarang.

2.3.5. Manfaat dan Fungsi Burung
Burung merupakan salah satu jenis satwaliar yang memiliki banyak fungsi
dan sering dimanfaatkan manusia. Manfaat dan fungsi burung secara garis besar
dapat digolongkan dalam:
a. Nilai Ekologis
Manfaat yang dijadikan penilaian adalah peran ekologis yang secara jelas
dapat dilihat dan dirasakan langsung. Peran tersebut adalah seperti membantu
penyerbukan bunga seperti burung sesap madu, pemakan hama seperti burung
pemakan serangga atau tikus dan penyangga ekosistem terutama jenis burung

pemangsa (Sozer, 1999). Hernowo et al. (1989) mengatakan bahwa dengan
pentingnya peranan burung bagi komponen ekosistem alam, burung dapat
digunakan sebagai indikator lingkungan, karena apabila terjadi degradasi
lingkungan burung, komponen alam terdekat yang terkena dampaknya.
Menurut Welty (1982) jenis burung juga mempunyai peranan penting
dalam penyebaran biji tanaman. Burung yang dapat menyebarkan biji tersebut
antara lain adalah burung dari famili Anatidae, Columbidae, Picidae, Turdidae,
Sittidae dan Corvidae.
b. Nilai Ekonomis
Burung memiliki nilai ekonomis tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai
bahan makanan (daging, telur, sarang) produk dari burung yang dapat
diperdagangkan dan dipelihara oleh masyarakat. Menurut Welty (1982), bulu
burung yang indah banyak dimanfaatkan oleh perancang mode untuk desain
pakaian atau asesoris lainnya. Manfaat lain yang dapat diambil adalah sarang
seperti sarang burung walet. Sarang burung ini memiliki khasiat untuk
menyembuhkan beberapa jenis penyakit, sehingga memiliki harga yang sangat
mahal. Selain manfaat tersebut, daging dan telur burung merupakan salah satu
sumber protein yang sangat berguna bagi manusia.
c. Nilai Budaya
Keberadaan burung dapat juga dijadikan kalender musim tani. Lahan
pertanian yang dikerjakan lantas disemai, bertepatan dengan kedatangan dan
lewatnya burung kicuit Motacilla yang bermigrasi. Seperti yang dilakukan warga
dataran tinggi Kalimantan seperti suku Iban, Dayak dan lainnya di Kalimantan.

Lebih jauh lagi menggunakan kebudayaan pemakaian jenis burung ini sebagai
petunjuk bertani (MacKinnon, 1992).
d. Nilai Estetika
Burung menjadi inspirasi para seniman dalam berkarya, dalam bentuk
tulisan, nyanyian maupun lukisan. Banyak cerita-cerita dan lagu yang
menggambarkan keindahan burung. Lukisan Bali, baik tradisional maupun
modern banyak yang bertemakan burung (Surata, 1993 dalam Yuda, 1995).
e. Nilai Ilmu Pengetahuan
Burung dapat dijadikan hewan percoban dalam bidang farmasi dan
kedokteran. Pemahaman terhadap malaria pada manusia tidak terlepas dari
penelitian malaria pada burung. Selain itu keberhasilan pembuatan vaksin
penyakit demam Yellow fever juga tidak terlepas dari penelitian burung (Welty,
1982). Menurut Sozer et al., (1990) burung juga memiliki kepekaan tertentu
terhadap kesehatan lingkungan dalam habitatnya, sehingga dapat digunakan
sebagai indikator kesehatan lingkungan, salah satu diantaranya adalah sebangsa
raja udang.

2.4. Kerangka Berpikir
Hutan kota BUPERTA Cibubur merupakan habitat satwa sekaligus objek
wisata baik secara ekonomi maupun edukatif. Dinamika yang terjadi kiranya
dapat mengganggu atau bahkan mengurangi nilai ekologis sebagai hutan kota
yang menampung satwa liar salah satunya burung namun dengan tidak
terdapatnya data tentang burung di kawasan tersebut membuat penelitian “Studi

Keanekaragaman Burung Di Hutan Kota Bumi Perkemahan Dan Graha Wisata
(BUPERTA) Cibubur Jakarta Timur” dilakukan sebagai bahan rekomendasi bagi
pengelola kawasan hutan kota BUPERTA dalam menjada kelestarian burung dan
keseimabangan ekosistem hutan kota. Diagram kerangka berpikir disajikan pada
gambar 2.

Intervensi manusia :
Pembangunan
Perburuan

Keanekaragaman Hayati
Flora dan Fauna

Hutan kota BUPERTA
Cibubur
Burung sebagai salah satu fauna yang masih terdapat di hutan kota
BUPERTA Cibubur

Tidak terdapatnya data mengenai keanekaragaman burung di hutan kota
BUPERTA Cibubur

STUDI KEANEKARAGAMAN BURUNG DI HUTAN KOTA
BUPERTA CIBUBUR

Sebagai bahan rekomendasi bagi pengelola hutan kota BUPERTA
Cibubur dalam menjaga kelestarian burung dan keseimbangan hutan kota

Gambar 2. Diagram Kerangka Berfikir

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Hutan Kota Bumi Perkemahan dan Graha Wisata
(BUPPERTA) Cibubur Jakarta Timur, penelitian dilakukan selama 4 bulan yaitu
bulan Desember 2007 sampai Maret 2008.

Gambar 3. Peta BUPERTA Cibubur
Sumber : Pengelola BUPERTA, 2007

3.2. Peralatan Penelitian
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Peta BUPPERTA Cibubur Jakarta.
2. Alat tulis dan buku catatan lapangan

3.

Buku pengamatan burung “Panduan Lapangan Buurng-Burung di Sumatera,
Jawa, Bali dan Kalimantan dan juga buku Flora, buku Taksonomi Tumbuhan
(Spermatophyta).

4. Alat penunjuk waktu atau jam tangan
5. Klinometer Suunto
6. Teropong Binokuler
7. Kamera Digital
8. “Counter” hitung
9. Alat Perekam
10. Meteran
11. Tali Plastik
12. Milimeter Block

3.3. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian burung kali ini adalah metode
survey yang dikombinasikan dengan metode IPA (Indices Puctue d’Abondance
atau Indek titik kelimpahan (Bibby, 1992 Dalam Ernawati, 2002).

3.4. Cara Kerja
Cara kerja pada penelitian burung di Hutan Kota BUPERTA Cibubur di
bagi dalam dua tahapan sebagai berikut:

3.4.1 Penelitian Pendahuluan
Pada penelitian pendahuluan dilakukan kegiatan yang lebih menekankan
pada pengenalan lokasi dengan maksud mendapatkan informasi secara pasti lokasi
yang biasa di kunjungi oleh burung di hutan kota BUPERTA Cibubur, jenis
vegetasi yang terdapat di hutan kota BUPERTA Cibubur, waktu penampakan
jenis burung di hutan kota BUPERTA Cibubur dan Metode Penelitian burung
yang akan dilakukan di hutan kota BUPERTA Cibubur.

3.4.2 Penelitian Inti
3.4.2.1. Sensus Burung
Sensus burung di hutan kota BUPERTA Cibubur menggunakan metode
IPA (Indices Puctue d’Abondance atau Indek titik kelimpahan (Bibby, 1992
Dalam Ernawati, 2002), alokasi waktu pengamatan dimulai pada pukul 06.00
WIB sampai 08.00 WIB untuk pagi hari karena pada jam-jam tersebut burung
mengawali aktifitasnya dipagi hari sedangkan menjelang malam hari burung
mengakhiri aktifitasnya pada jam 15.00 WIB sampai 17.00 WIB.
Data yang dicatat pada pengamatan burung di masing-masing stasiun
meliputi lokasi yang banyak digunakan oleh burung sebagai berikut:
1. Mencatat waktu dan tanggal penelitian
2. Mencatat jenis burung yang teramati
3. Mencatat jumlah burung yang teramati
4. Mencatat jenis vegetasi yang digunakan oleh burung
5. Mencatat waktu burung menggunakan vegetasi.

Sensus burung dilakukan dengan metode indek titik kelimpahan pada
masing-masing stasiun dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pengamat berdiri atau duduk dalam suatu plot di masing-masing stasiun
penelitian
2. Pengamat melakukan pencatatan jenis dan jumlah burung di plot penelitian
yang telah ditentukan.
3. Durasi waktu yang digunakan oleh pengamat pada saat pengamatan antara 10
–30 menit.
4. Pengamatan dilakukan 5 kali pengulangan untuk memastikan keakuratan data.
5. Pengamat mencatat jenis burung yang teramati dalam lembar kerja.

3.4.2.2. Profil Habitat
Profil habitat merupakan suatu sketsa dari penampakan vegetasi di
sepanjang garis transek dimana komposisi dari suatu habitat sangat bermanfaat
untuk membuat suatu kesimpulan tentang hubungan antara derajat kelimpahan
satwa liar dengan tipe habitatnya (Alikodra,1990).
Pembuatan profil habitat ini lebih ditekankan pada daerah yang lebih
banyak digunakan oleh burung dengan tahapan sebagai berikut:
1. Pada pembuatan profil habitat vegetasi dibagi menjadi 3 kelas utama yaitu
pohon, pancang dan semai
2. Karakteristik vegetasi dicatat seperti jenisnya, tinggi dan penutupan tajuk
3. Hasil pengamatan akan berbentuk sketsa profil habitat dengan kriteria tingkat
vegetasi di bawah ini:

Tabel 1. Ukuran Ketinggian Pohon
Kriteraia Tingkat Vegetasi

Kisaran Ketinggian

Pohon

> 8 meter

Pancang

0.5 meter – 8 meter

Semai

< 0.5 meter

Strahler (1978) dalam Ruslan (2004)
Sedangkan kiasaran ketinggian vegetasi dengan ukuran sebagai berikut:

Tabel 2. Tingkat Stratifikasi
Tingkat Stratifikasi
Kisaran Ketinggian
7
> 25 m
6
10 m – 25 m
8 m – 10 m
5
4
2m–8m
3
0.5 m – 2 m
2
10 cm – 0.5 m
1
0 cm – 10 cm
Strahler (1976) dalam Ruslan (2004)
Analisis vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode jalur berpetak
dengan teknik sampling kuadrat:
1. Petak contoh yang digunakan dalam penelitian merupakan petak ganda
(Kusman, 1997) dengan ukuran petak berdasarkan kurva spesies area.
2. Dibuat kurva sepesies area untuk medapatkan luas minimum area dari satuan
petak contoh yang mewakili satu tipe komunitas.
3. Penentuan area tipe vegetasi ditekankan pada daerah sebaran vegetasi dan
daerah yang banyak dimanfaatkan burung yaitu daerah bermain, mencari
makan dan tidur.

Kriteria tingkat vegetasi berdasarkan Warsito (1988) dalam Yusri (2003)
yaitu:
1. Pohon: Tumbuhan yang memiliki diameter batang 1.30 cm (setinggi dada)
>10 cm keliling batang > 31.40 cm.
2. Pancang:Tumbuhan yang memiliki diameter 2 – 10 cm keliling batang antara
6.3 cm – 31.40 cm yang diukur 0.5 dari permukaan tanah.
3. Semai: Tumbuhan yang memiliki batang lebih kecil dari 2 cm atau kelilig
batang kurang dari 6.3 cm.
Ukuran petak contoh adalah: Petak contoh untuk ukuran semai (5 m x 5
m), petak contoh untuk ukuran pancang (10 m x 10 m) dan petak contoh untuk
ukuran pohon (20 m x 20 m).

5 cm
5 cm

10
10 cm

10

20 cm

10 cm

20 cm
Gambar 4. Petak Contoh Vegetasi
Sumber : Kusmana 1997 dalam Ruslan 2004
Keterangan gambar:
Ukuran 5 m x 5 m untuk petak tingkat vegetasi semai
Ukuran 10 m x 10 m untuk petak tingkat vegetasi pancang
Ukuran 20 m x 20 m untuk petak tingkat vegetasi pohon

Dalam petak contoh dicatat setiap individu jenis yang terdapat dalam petak contoh
1. Pada kegiatan pengukuran dan pengenalan jenis diperlukan kriteria untuk
dihitung atau tidak dihitungnya jenis individu. Apabila individu tersebut
berada di dalam petak contoh kurang dari setengahnya maka individu tersebut
tidak perlu dihitung atau dikeluarkan dari petak contoh. Namun jika individu
tersebut sama dengan atau lebih besar dari setengahnya berada di dalam batas
petak contoh maka individu tersebut harus dihitung.
2. Di dalam ringkasan data akan diperoleh nilai Kerapatan, Dominansi dan
Frekuensi untuk setiap jenis, Indek Nilai Penting dan Keragaman jenis.

3.5. Analisis Data
3.5.1. Analisis Data Burung
Dalam penelitian ini analisis data burung dilakukan dengan cara deskriptif.
.dimana data-data tersebut diolah dengan menggunakan Microsoft Excel
berdasarkan penghitungan kelimpahan, dominansi dan keanekaragaman.
1. Kelimpahan dan Dominansi
Kelimpahan burung merupakan total jumlah individu burung yang
ditemukan selama pengamatan, dalam hal ini kelimpahan burung disajikan
berdasarkan plot-plot pengamatan. Penghitungan jumlah dari jenis-jenis burung
yang ada dengan melihat nilai kelimpahan tiap-tiap spesies (Pi) (van Balen, 1984)
yaitu :
Σ burung spesies i
Pi =
Σ total burung

Sedangkan untuk mengetahui dominansi terhadap jenis burung yang
terdapat di hutan kota BUPERTA Cibubur dapat dihitung dengan menggunakan
rumus indeks dominansi (Cox, 1976)

Di = Pi x 100 %

Keterangan:

Di = Indeks dominansi jenis ke-i
Pi = Proporsi nilai penting jenis ke-i

Kemudian mengikuti cara Jorgensen (lihat Van Helvoort, 1981) guna
mengetahui jenis-jenis burung yang terdapat di hutan kota dengan pembagian tiga
kelas dominansi, yaitu: dominan (Di > 5 %), subdominan (Di 2 – 5 %) dan
nondominan (Di < 2 %).
2. Keanekaragaman
Keanekaragaman burung di hutan kota BUPERTA Cibubur dapat dihitung
dengan menggunakan Indeks Keanekaan Shannon-Wiener dengan rumus:
H’ = - Σ Pi In Pi

Keterangan:

H’= Indeks keanekaragaman
Pi = Proporsi nilai penting jenis ke-i
Ln = Logaritma natural

3.5.2. Analisis Data Vegetasi
Data yang telah diperoleh di lapangan kemudian dilakukan pengolahan
dalam lembar kerja dengan menghitung nilai Kerapatan, Frekuensi, Dominansi
dan Indek Nilai Penting (Setiadi dkk,1989).
1. Kerapatan atau kepadatan = Densitas

Jumlah individu suatu jenis i
Kerapatan Mutlak / KM (i) =
Jumlah total luas area yang digunakan untuk
penarikan contoh

Kerapatan mutlak jenis (i)
Kerapatan Relatif / KR (i) =

100 %
Kerapatan seluruh jenis yang terambil
dalam penarikan cotoh

2. Frekuensi

Jumlah suatu petak contoh yang diduduki oleh jenis i
Frekuensi Mutlak =
/ FM (i)

Jumlah banyaknya plot yang diduduki oleh jenis i

Frekuensi mutlak jenis i
Freku

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3885 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1034 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 927 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 623 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 777 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1323 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1222 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 808 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1093 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1322 23