PENGENALAN ALAT APLIKASI PESTISIDA

PRAKTIKUM IV PENGENALAN ALAT APLIKASI PESTISIDA

1. Tujuan Praktikum

a. Untuk mengetahui alat – alat pengendalian OPT.

b. Untuk mengetahui pemakaian alat – alat pengendalian OPT.

2. Dasar Teori

Istilah "mengendalikan" OPT bukan berarti harus diberantas habis. Namun pengendalian disini adalah usaha pengendalian populasi atau tingkat kerusakan karena OPT agar kerusakan dapat ditekan serendah mungkin sehingga secara ekonomis tidak merugikan.Dalam proses pengendalian tersebut digunakan beberapa macam alat pertanian. Hal ini bergantung pada jenis pengendalian yang diaplikasikan. (Pirdaus, 2015).

Fungsi utama semua jenis alat pengendalian adalah untuk membantu mengendalikan suatu organisme pengganggu tanaman sasaran sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien. Berbagai jenis dan tipe alat pengendalian yang digunakan saat ini sebagian besar adalah alat pengendalian untuk mengaplikasikan pestisida, dan beberapa alat yang digunakan untuk pengendalian secara fisik/mekanik. Alat pengendalian untuk aplikasi pestisida bertujuan untuk menghasilkan butiran-butiran cairan atau percikan-percikan (droplet) yang berasal dari cairan yang ditempatkan di dalam salah satu bagian dari alat tersebut. Cairan yang disemprotkan dapat berupa larutan, emulsi, atau suspensi. Alat aplikasi pestisida yang efisien dapat menjamin penyebaran bahan yang ratapada sasaran tanpa pemborosan. Selain itu pekerjaan dapat dilakukan dengan cepat

kerja minimal. Saat ini tersedia berbagai macam jenis alat aplikasi pestisida baik tipe maupun mereknya. Tergantung pada konstruksinya, alat semprot dapat menghasilkan butiran halus dengan diameter 100 – 200 mikron, atau butiran sedang dengan diameter 250 – 400 mikron, dan butiran besar dengan diameter lebih dari 400 mikron. Sebagai sumber tenaga dapat

dan dengan

jumlah

tenaga tenaga

a. Alat Semprot Macam dan tipe alat semprot antara lain:

1. Alat semprot manual

2. Alat semprot dukung semi otomatis, ada 2 macam yaitu:  Alat semprot semiotomatis dengan pompa piston  Alat semprot semi otomatis dengan pompa diafragma.

 Alat semprot kompresi

3. Alat semprot bermotor  Alat semprot bermotor bertenaga hidrolik tipe gotong

 Alat semprot dukung bermotor

b. Alat Penghembus Macam dan tipe alat penghembus antara lain:

 Alat Penghembus Debu bermotor  Alat Penghembus (blower)  Alat penghembus pompa  Alat penghembus beroda (Sumenep, 2010)

3. Alat dan Bahan

a. Alat tulis

b. Kertas HVS

c. Mesin Fogging

d. Spayer tangan

e. Spayer gendong semi otomastis

4. Cara Kerja

a. Menyiapkan alat dan bahan pada meja praktikum.

b. Menggambar preparat penyakit pada tumbuhan.

c. Menulis keterangan alat.

5. Hasil (Terlampir)

6. Pembahasan

Praktikum kali ini mengenai alat – alat aplikasi pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman. Alat ini berguna untuk mempermudah para petani untuk mengendalikan gulma, hama maupun penyakit. Berikut adalah alat – alat pengendalian oragnisme pengganggu tanaman :

a. Mesin Fogging Mesin fogging atau Swingfog adalah pengasapan insektisida dengan mesin swingfog dilaksanakan dengan cara menyemprotkan insektisida ke dalam bangunan rumah atau lingkungan sekitar rumah diharapkan nyamuk yang berada dihalaman maupun didalam rumah terpapar dengan isektisida dan dapat dibasmi. Upaya untuk menekan laju penularan penyakit DBD salah satunya ditunjukkan untuk mengurangi kepadatan vektor DBD secara kimiawi yang dikenal dengan istilah pengasapan (fogging) yaitu menggunakan alat yang diberi nama swingfog. Fogging adalah untuk membunuh sebagian besar vektor infektife dengan cepat, sehingga rantai penularan segera dapat diputuskan. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk menekan kepadatan vektor selama waktu yang cukup sampai dimana pembawa virus tumbuh sendiri. Alat yang digunakan untuk fogging terdiri dari portable thermal fog machine dan ultra low volume ground sprayer mounted.

Dalam kondisi seperti itu, penggunaan insektisida selain kurang efektif dan mahal juga berbahaya mterhadap kesehatan dan lingkungan. Bahaya Fogging:

1. Dapat mengganggu saluran pernapasan

2. Bila dilakukan fogging terus menurun nyamuk dapat kebal terhadap bahan kimia.

3. Dapat mengakibatkan keracunan terhadap makanan yang terkena asap fogging.

Cara-cara Pelaksanaan Fogging: Selama ini masyarakat begitu mengandalkan fogging untuk menekan laju penularan penyakit DBD. Karena itu ada beberapa hal penting yang perlu kita ketahui mengenai fogging antara ain sebagai berikut:

1. Bahwa fogging efektif untuk membasmi vektor atau nyamuk Aedes agyepti dewasa saja karena itu upaya fogging saja tidaklah terlal efekif untuk menekan laju penularan DBD dimasyarakat meski tidak berarti upaya melakuka fogging sia-sia.

2. efek fogging hanya efektif bertahan selama dua hari.

3. selain itu, jenis insektisida yang dipergunnakan mesti diganti secara periodik untuk menghindari kekebalan (resistensi nyamuk Aedes) (Hudiman, 2015).

b. Spayer tangan Hand sprayer atau spayer tangan memiliki mekanisme kerja : pestisida dimasukkan dalam tangki. Ketika handle ditarik maka udara masuk, cairan pestisida akan masuk ke dalam pipa kapiler. Sat handle didorong, ada tekanan sehingga mendorong cairan keluar. Mekanisme kerja alat ini menggunakan prinsip kapilaritas. Mula-mula cairan dimasukkan dalam tangki, setelah itu handle ditarik dan didorong hingga cairan keluar. Fungsi dari alat ini adalah untuk aplikasi pestisida cair atau pestisida yang dilarutkan dengan air. (anonym, 2013) b. Spayer tangan Hand sprayer atau spayer tangan memiliki mekanisme kerja : pestisida dimasukkan dalam tangki. Ketika handle ditarik maka udara masuk, cairan pestisida akan masuk ke dalam pipa kapiler. Sat handle didorong, ada tekanan sehingga mendorong cairan keluar. Mekanisme kerja alat ini menggunakan prinsip kapilaritas. Mula-mula cairan dimasukkan dalam tangki, setelah itu handle ditarik dan didorong hingga cairan keluar. Fungsi dari alat ini adalah untuk aplikasi pestisida cair atau pestisida yang dilarutkan dengan air. (anonym, 2013)

Dari hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis sprayer yang banyak digunakan petani di lapangan adalah jenis ini, namun hasilnya kurang efektif, tidak efisien dan mudah rusak. Hasil studi yang dilakukan oleh Departemen Pertanian pada tahun 1977 di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan bahwa sprayer tipe gendong sering mengalami kerusakan. Komponen-komponen sprayer yang sering mengalami kerusakan tersebut antara lain : tabung pompa bocor, batang torak mudah patah, katup bocor, paking karet sering sobek, ulir aus, selang penyalur pecah, nozzle dan kran sprayer mudah rusak, tali gendong putus, sambungan las korosi, dsb.

Di samping masalah pada perangkat alatnya, masalah lain adalah kebanyakan pest yang direkomendasikan dan ini salah satunya disebabkan oleh disain sprayer yang kurang menunjang aplikasi. Bagian-bagian alat semprot semi otomatis antara lain tuas penyemprot, noozle, batang semprot, mult tangki, memiliki satu tabung untuk menampung cairan pestisida sekaligus menampung tekanan udara serta tali untuk menggendong alat. Kapasitas atau daya tampung alat 17 liter dan terbuat dari logam besi. (Hudiman, 2015).

7. Kesimpulan

Berdasarkan pembahsan sebelumnya, maka praktikum kali ini dapat disimpukan sebgai berikut :

a. Alat – alat aplikasi pengendalian organism pengganggu tanaman,seperti mesin fogging, spayer tangan dan spayer gendong semi otomatis.

b. Keuntungan dari alat-alat aplikasi pestisida tersebut adalah mudah dalam aplikasi, lebih efektif dan efisien terhadap tenaga dan waktu, dan menghemat biaya.

c. Kerugian dari alat-alat aplikasi pestisida tersebut adalah masih mahal dan jarang untuk alatnya, memerlukan ketelitian ilmu dalam menggunakan.

DAFTAR PUSTAKA

Hudiman. 2015.Pengenalan Alat dan Aplikasi Pestisida. http://brintek.blogspot .com/2015/04/pengenalan-alat-dan-aplikasi-pestisida.html (Diaksese Minggu, 28 Juni 2015)

Pirdaus. 2015.

– Alat Aplikasi Pestisida. http://agroteknologiunila.blogspot.com/2015/04/pengenalan-alat-alat-aplikasi- pestisida.html (Diaksese Minggu, 28 Juni 2015)

Pengendalian

Alat

Sumenep. 2010.Pengenalan

alat Aplikasi. http://bpplentengsumenep.blogspot.com/2010/12/pengenalan-formulasi-dan-alat- aplikasi.html (Diaksese Minggu, 28 Juni 2015)

Terlampir dua lembar