Uji Performansi Getaran Mekanis dan Kebisingan Mist Blower Yanmar MK 150-B

PERFORMANCE TEST OF MECHANICAL VIBRATION AND NOISE OF YANMAR
MIST BLOWER MK 150-B
Ahmad Noval Irvani and Mad Yamin
Department of Mechanical and Biosystem Engineering, Faculty of Agricultural Technology.
Bogor Agricultural University, IPB Dramaga Campus, PO Box 220, Bogor, West Java,
Indonesia.
Phone 62 856 8800345, e-mail : ahmadnovalipb@yahoo.co.id
ABSTRACT
Mist blower is one of the mechanization tool of agriculture considered as a tool that
can assist humans in fertilizer and pesticides spreading activities. Levels of motor speed in
the used mist blower were 1915, 4009, and 7227 rpm. Vibration measurements were
conducted on the engine and handlebar control mist blower with the three-dimensional axes
namely X, Y, and Z. Mist blower noise measurements were performed on the engine,
operator's right ear and left ear. Based on the analysis of vibration and noise from the mist
blower of type MK 150-B was obtained the safe limit values from the use of these tools. The
safe limit of the use of mist blower in motor rotation speed of 1915, 4009, and 7227 rpm after
being compared with the vibration and noise were 1 hour, 1 hour and 24 minutes
respectively. The farther the distance from noise source, the lower the noise level too.
Moreover objectivity study of operator was conducted. The first farmer was tired faster than
the second farmer. In terms of age of farmer, the second farmer (60 years) older than the
first farmers (40 years), but this should not affect significantly. Activity on the previous day
greatly affects the level of fatigue when operating the mist blower. This was because the first
farmers did more activities and had rest periods that less than second farmer.
Keyword: mist blower, vibration, noise

ii

AHMAD NOVAL IRVANI. F14080026. Uji Performansi Getaran Mekanis dan
Kebisingan Mist Blower Yanmar MK 150-B. Di bawah bimbingan Mad Yamin. 2012

RINGKASAN
Mist blower sebagai salah satu alat mekanisasi pertanian, dinilai sebagai alat
yang dapat membantu pekerjaan manusia dalam mengerjakan penebaran pupuk maupun
penebaran pestisida. Melihat keadaan yang ada, potensi bahaya akibat kebisingan dan getaran
yang ditimbulkan oleh alat ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan psikologis dari
operator. Pengukuran getaran dilakukan pada tiga sumbu yaitu sumbu X, Y, dan Z pada
engine dan tuas kendali. Kecepatan putaran motor yang digunakan yaitu 1915, 4009, dan
7227 rpm. Pada engine, percepatan getaran yang ditimbulkan memiliki kisaran rata-rata 1.51
m/s2 – 9.25 m/s2. Sedangkan percepatan getaran rata-rata pada tuas kendali mist blower
memiliki kisaran 0.1 m/s2 – 3.16 m/s2.
Berdasarkan hasil plot grafik exposure limits, sumbu yang dijadikan acuan lama
pengunaan mist blower adalah sumbu Z karena memberikan pengaruh paling signifikan.
Berdasarkan perbandingan percepatan getaran rata-rata pada engine dan tuas kendali, batas
aman penggunaan mist blower pada kecepatan putaran motor 1915 dan 4009 rpm adalah
selama 1 jam. Sedangkan batas aman penggunaan pada kecepatan putaran motor 7227 rpm
adalah selama 25 menit. Batas nyaman penggunaan mist blower pada setiap kecepatan
putaran motor pada sumbu X, Y, dan Z adalah sama yaitu selama 8 jam.
Nilai tingkat kebisingan rata-rata yang terukur pada telinga operator dengan
kecepatan putaran motor 1915 rpm ialah 75,50 dB(A). Sedangkan pada kecepatan putaran
motor 4009 dan 7227 rpm, tingkat kebisingan rata-ratanya yaitu 87,66 dB(A) dan 100,97
dB(A). Nilai standar DOD lebih kritis dibandingkan dengan standar OSHA. Sehingga standar
yang digunakan untuk mengetahui lama mendengar yang diijinkan adalah standar DOD.
Nilai lama mendengar yang diijinkan berdasarkan standar DOD pada pengoperasian mist
blower tipe MK-150-B dengan kecepatan putaran motor 1915, 4009, dan 7227 rpm masingmasing 34.9 jam, 4.2 jam,dan 24 menit.
Batas pengunaan aman pada kecepatan putaran motor 1915, 4009, dan 7227 rpm
setelah dibandingkan dengan getaran dan kebisingan masing-masing adalah 1 jam, 1 jam, dan
24 menit. Semakin tinggi percepatan getaran pada sumbu pengukuran, maka semakin tinggi
pula tingkat kebisingan yang dihasilkan seiring dengan meningkatnya tingkat kecepatan
putaran motor. Kontur kebisingan menggambarkan bahwa semakin jauh jarak dari sumber
kebisingan, maka tingkat kebisingan akan semakin rendah.
Pada uji objektivitas operator, petani merasakan dampak antara lain dengung
pada telinga akibat kebisingan, pegal-pegal pada bagian punggung, serta pusing. Petani
pertama lebih cepat merasa lelah dibandingkan dengan petani kedua. Aktifitas pada hari
sebelumnya sangat berpengaruh terhadap tingkat keletihan saat mengoperasikan mist blower.
Hal ini disebabkan karena petani pertama melakukan lebih banyak aktifitas dan waktu
istirahat yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan petani kedua. Tingkat kecepatan
putaran motor berbanding lurus dengan debit. Semakin tinggi tingkat kecepatan putaran
motor, maka semakin tinggi pula debit yang dihasilkan. Selain itu, semakin tinggi debit,
maka tingkat percepatan getaran dan kebisingan semakin tinggi seiring dengan meningkatnya
tingkat kecepatan putaran motor.

iii

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin pesat, menuntut
manusia untuk dapat berkembang sesuai dengan arus percepatan ilmu pengetahuan dan
teknologi tersebut. Indonesia merupakan negara agraris dimana sektor pertanian sampai saat ini
masih merupakan sektor terpenting bagi negara. Institut Pertanian Bogor merupakan salah satu
perguruan tinggi yang dituntut untuk menghasilkan sarjana-sarjana yang mampu
mengaplikasikan dan mengembangkan kemampuan serta profesi keilmuannya dalam
kehidupan sehari-hari. Teknik Mesin dan Biosistem merupakan pendekatan teknik secara luas
dalam bidang pertanian yang sangat dibutuhkan untuk melakukan aplikasi keteknikan yang
dapat mempermudah kegiatan manusia.
Dalam hal pembudidayaan dan perawatan tanaman, kegiatan pemupukan dan
pengendalian hama merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Pemupukan menurut
pengertian khusus ialah pemberian bahan yang dimaksudkan untuk menyediakan hara bagi
tanaman. Umumnya pupuk diberikan dalam bentuk padat atau cair melalui tanah dan diserap
oleh akar tanaman. Namun pupuk dapat juga diberikan lewat permukaan tanaman, terutama
daun. Tujuan utama pemupukan adalah menjamin ketersediaan hara secara optimum untuk
mendukung pertumbuhan tanaman sehingga diperoleh peningkatan hasil panen. Penggunaan
pupuk yang efisien pada dasarnya adalah memberikan pupuk dalam jumlah yang sesuai dengan
kebutuhan tanaman, dengan cara yang tepat dan pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhan
dan tingkat pertumbuhan tanaman tersebut (Nasih 2010).
Selain itu, peranan pestisida dalam upaya penyelamatan produksi pertanian dari
gangguan hama dan penyakit tanaman masih sangat besar, terutama apabila telah melebihi
ambang batas pengendalian atau ambang batas ekonomi. Pestisida merupakan bahan yang
banyak memberikan manfaat sehingga banyak dibutuhkan masyarakat pada bidang pertanian
(pangan, perkebunan, perikanan, peternakan), penyimpanan hasil pertanian, kehutanan
(tanaman hutan dan pengawetan hasil hutan), rumah tangga dan penyehatan lingkungan,
pemukiman, bangunan, pengangkutan dan lain-lain. (Pedoman Pembinaan Penggunaan
Pestisida, 2011)
Manusia sebagai sumberdaya yang kurang efisien dan efektif karena kemampuanya
yang terbatas, menuntut teknologi yang dibutuhkan dalam proses pembudidayaan dan
pemeliharaan tersebut. Mist blower sebagai salah satu alat mekanisasi pertanian, dinilai sebagai
alat yang dapat membantu pekerjaan manusia dalam mengerjakan penebaran pupuk maupun
penebaran pestisida. Melihat keadaan yang ada, potensi bahaya akibat kebisingan dan getaran
yang ditimbulkan oleh alat ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan maupun psikologis dari
operator. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran secara jelas tentang getaran
mekanis dan kebisingan yang ditimbulkan oleh mist blower terhadap kesehatan dan waktu
kerja yang aman dalam mengoperasikan alat ini.

B. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Melakukan analisis tingkat getaran mekanis dan kebisingan yang diterima operator saat
mengoperasikan mist blower.

1

2.
3.
4.

Menentukan lama pemakaian optimal per hari bagi operator mist blower berdasarkan
parameter getaran dan kebisingan.
Mengetahui tingkat kebisingan terhadap lingkungan dan disekitar telinga operator.
Membandingkan tingkat keletihan yang dialami dua operator mist blower dengan
perbedaan umur menurut hasil studi obyekvifitas operator.

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui tingkat keamanan dan
keselamatan kerja pada saat mengoperasikan mist blower berdasarkan parameter getaran dan
kebisingan terhadap operator.

2

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Mist Blower
Mist blower adalah mesin yang menghembuskan cairan obat atau pupuk cair seperti
mesin semprot menjadi butir-butir kecil oleh tenaga angin dari blower, maka dapat dikatakan
bahwa mesin tersebut adalah mesin penyemprot dengan sistem tekanan angin. Bagian-bagian
utama pada mist blower dapat dilihat pada Gambar 1. (Anwar 2011)

Gambar 1. Bagian-bagian Mist Blower
(Sumber: http://www.scribd.com/doc/56875504/LAPORAN-AKHIR-MP)

Mist blower dapat digunakan untuk pemupukan (pupuk cair) atau penyemprotan
pestisida untuk menanggulangi hama pada tanaman. Pemupukan merupakan usaha memasukkan
usaha zat hara kedalam tanah dengan maksud memberikan/menambahkan zat tersebut untuk
pertumbuhan tanaman agar didapatkan hasil (produksi) yang diharapkan. Hara dalam tanah
secara berangsur-angsur akan berkurang karena terangkut bersama hasil panen, air limpasan
permukaan, erosi atau penguapan. Pengelolaan hara terpadu antara pemberian pupuk dan
pembenah akan meningkatkan efektivitas penyediaan hara, serta menjaga mutu tanah agar tetap
berfungsi secara lestari. Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap tanah dan tanaman bahan
organik dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair menyediakan nitrogen dan
unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk
nitrogen kimia (Nasih 2010).
Selain itu, mist blower juga dapat digunakan dalam penyebaran pestisida. Tujuan dari
penggunaan pestisida ialah menekan atau mengurangi populasi jasad pengganggu sasaran (hama,
penyakit, dan gulma) hingga di bawah batas nilai ambang ekonomi, tanpa menimbulkan dampak
yang merugikan seperti antara lain : terjadi resistensi, resurgensi, keracunan tanaman pokok, dan
pencemaran lingkungan. Keberhasilan penggunaan pestisida sangat ditentukan oleh teknik
aplikasi yang tepat. Selain itu, keberhasilan juga dipengaruhi oleh faktor jenis, dosis dan saat
aplikasi yang tepat.

3

Ada beberapa keuntungan penggunaan mist blower pada aplikasinya di lahan.
Pertama, mempermudah pekerjaan manusia dalam menyebarkan pestisida/larutan pupuk cair.
Kedua, waktu yang terbuang berkurang sehingga kapasitas kerja dapat meningkat. Ketiga,
umumnya butiran cairan pestisida atau pupuk cair yang dihasilkan mist blower lebih halus
sehingga penggunaannya lebih efektif. Keempat, jumlah penggunaan jam kerja peralatan dan
manusia dapat dikurangi. Kerugian penggunaan mist blower yaitu biaya investasi tinggi,
sehingga kurang ekonomis bila hanya digunakan untuk ukuran kebun kecil. Selain itu,
pengenaan secara menyeluruh dari bagian-bagian mahkota daun oleh butiran pestisida atau
larutan pupuk cair sangat sulit untuk tanaman yang rapat daunnya (Anwar 2001).
Petunjuk penggunaan mist blower antara lain (Anwar 2001) :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Udara pada waktu penyemprotan harus memungkinkan antara lain keadaan tanah (tidak
berangin) dan udara masih dingin misalnya pada waktu pagi hari atau sore hari.
Penggunaan pestisida atau pupuk cair dan cara mencampurnya harus sesuai dengan
petunjuk yang telah ditentukan.
Menghindari kontak langsung dengan larutan agar tidak terjadi keracunan.
Melakukan penyemprotan tidak pada waktu banyak embun serta sebelum dan selama hujan
agar jangan sampai terjadi pencucian/pengeceran.
Mengamati ukuran butiran cairan yang keluar, pola sebaran butiran cairan waktu mengenai
bagian-bagian tanaman selama penyemprotan berlangsung.
Dalam keadaan udara berangin, sebaiknya berjalan mengikuti arah angin dan menghindari
pengenaan pestisida atau pupuk cair secara langsung pada bunganya.

Cara merawat mist blower yaitu dengan mencuci semua bagian terutama bagianbagian yang berhubungan dengan pestisida atau pupuk cair. Kemudian, mengeringkan sampai
semua bagiannya kering. Setelah itu, alat tersebut disimpan dalam ruangan yang kering terpisah
dengan barang-barang lain dan jauh dari jangkauan manusia (Anwar 2001).

B. Ergonomika
Istilah “ergonomi” berasal dari Bahasa Yunani, yaitu: “ergos” yang berarti kerja dan
“nomos” yang berarti ilmu, hukum atau aturan. Jadi, secara harfiah ergonomi dapat diartikan
sebagai suatu ilmu atau aturan tentang bagaimana seharusnya melakukan kerja. Seiring dengan
perkembangan sistem dan teknologi kerja itu sendiri, maka berbagai hal yang mengkaji dan
mengatur interaksi antara manusia sebagai pelaku atau tenaga kerja dengan peralatan, mesin
ataupun lingkungan kerja berkembang menjadi suatu cabang ilmu tersendiri, yaitu Ergonomi.
Walaupun sebagian besar negara di dunia menggunakan istilah yang berasal dari
padanan kata “ergonomi” (Ergonomics dalam Bahasa Inggris, ergonomi atau ergonomika dalam
Bahasa Indonesia) untuk disiplin ilmu ini, ada beberapa negara menggunakan istilah lain. Seperti
misalnya: Human Engineering atau Human Factors Engineering lazim digunakan di Amerika
Utara atau Labour Science (Roudou Kagaku) digunakan di Jepang. Meskipun ada perbedaan
istilah yang digunakan di beberapa negara tersebut, namun secara umum semuanya itu
mempunyai definisi, misi dan tujuan yang sama (Herodian dkk 1999).
Ergonomika merupakan multi disiplin ilmu yaitu perpaduan dari berbagai disiplin ilmu,
antara lain antropologi, fisiologi, kesehatan, teknik, teknologi dan perencanaan kerja (Soeripto
1988 dalam Fitriani 2003). Secara umum ergonomi dapat didefinisikan sebagai suatu aplikasi
sistematik dari berbagai informasi dan kajian yang relevan tentang karakteristik, kemampuan dan
keterbatasan manusia serta interaksinya terhadap alat, mesin, prosedur dan lingkungan dimana

4

manusia melakukan kerja/aktivitas dengan tujuan agar tercapai kondisi keselamatan, kesehatan
dan kenyamanan serta produktivitas kerja yang optimal.
Dari definisi di atas terlihat bahwa pada dasarnya pendekatan ergonomi terdiri atas dua
sub-sistem, yaitu sub-sistem perlengkapan dan lingkungan kerja serta sub-sistem manusia. Subsistem perlengkapan dan lingkungan kerja meliputi aspek-aspek yang terkait dengan desain
alat/mesin, desain operasi/proses serta desain lingkungan kerja. Sedangkan sub-sistem manusia
meliputi aspek-aspek yang terkait dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, baik dari segi
fisik, fisiologis, psikologis, latar belakang sosial, dan sebagainya. Ergonomi akan mengarahkan
proses perancangan agar menghasilkan produk yang tidak saja memiliki kemampuan teknis yang
lebih baik, tetapi juga produk yang sesuai dan serasi dengan kemampuan dan keterbatasan
manusia sebagai pengguna ataupun operatornya.
Menurut Internasional Ergonomics Association (IEA), ergonomika dapat diartikan
sebagai disiplin ilmu yang mempelajari tentang interaksi antara manusia dan elemen lainnya
dalam sistem yang berhubungan dengan perancangan, pekerjaan, produk, dan lingkungannya
untuk mendapatkan kesesuaian antara kebutuhan, kemampuan, dan keterbatasan manusia
(Syuaib 2003 dalam Nuryadi 2011).
Aplikasi ergonomi berupaya untuk menciptakan suatu kombinasi yang paling sesuai dan
serasi (match/compatible) antara sub-sistem peralatan dan lingkungan kerja dengan sub-sistem
manusia sebagai user ataupun operatornya. Dengan terciptanya keserasian antara kedua subsistem kerja tersebut, maka keselamatan dan kenyamanan kerja dapat ditingkatkan serta
kesalahan dan kecelakaan kerja dapat direduksi sehingga efektivitas dan efisiensi kerja (kinerja)
dapat ditingkatkan dan pada akhirnya akan menghasilkan sistem kerja yang lebih produktif.
Salah satu aspek penting dari ergonomika adalah getaran dan tingkat kebisingan yang akan
menjadi pembahasan utama penelitian ini.

C. Getaran
Getaran adalah suatu gerak zarah atau benda yang secara teratur (periodik) melalui titik
tertentu (Martono 1980 dalam Fitriani 2003), sedangkan menurut Kromer et al. (1994) dalam
Fitriani (2003), getaran diartikan sebagai suatu gerak yang berulang-ulang terhadap suatu titik
yang tetap atau gerak isolasi yang bergerak bolak-balik melalui lintasan yang sama, dimana
terjadi suatu gerakan cycle selama selang waktu satu detik (satu putaran perdetik/Hertz).
Terdapat dua jenis getaran pada tubuh manusia yaitu Whole Body Vibration dan Handarm Vibration. Whole Body Vibration yaitu getaran pada seluruh tubuh secara signifikan dapat
terjadi pada pengemudi traktor, alat berat, kendaraan off-road, truk dan bus. Jenis getaran ini
ditimbulkan oleh permukaan lahan tempat kendaraan beroperasi dan kurangnya absoprsi shock
pada sistem suspensi. Getaran dan shock pada kendaraan tersebut bertransmisi pada
pengemudinya melalui tempat duduk. Hal ini sangat berbahaya bagi sistem rangka (punggung),
sistem pencernaan, dan organ reproduksi wanita. Getaran dengan frekuensi 1-80 Hz memiliki
efek yang kuat pada keseluruhan tubuh manusia. Sedangkan Hand-arm Vibration yaitu getaran
pada tangan dan lengan mungkin terjadi pada penggunaan perkakas listrik (hand-held power
tool), bor pneumatik, chain saw, chipping hammer, riveter, gerinda dan vibrator beton.
Frekuensi antara 5-1500 Hz sangat berpengaruh pada getaran jenis ini (Herodian dkk 1999).
Pada dasarnya, getaran dibedakan menjadi dua tipe yaitu getaran sinusoidal dan getaran
random (acak). Getaran sinusoidal digambarkan sebagai gerak partikel pada satu sumbu dengan
frekuensi dan amplitudo tertentu, tipe ini biasanya dijadikan patokan dalam percobaan di

5

laboratorium. Getaran random (acak) adalah getaran yang tidak beraturan dan tidak dapat
diprediksi, jenis ini biasanya terjadi di alam (Sanders dan Cormick 1987 dalam Nugroho 2005).
Getaran pada umumnya terjadi akibat efek-efek dinamis dan toleransi-toleransi pembuatan,
keregangan, kontak-kontak berputar dan bergesek antara elemen-elemen mesin serta gaya-gaya
yang menimbulkan suatu momen yang tidak seimbang pada bagian-bagian yang berputar. Osilasi
kecil dapat memicu frekuensi resonansi dari beberapa bagian struktur dan diperkuat menjadi
sumber-sumber kebisingan dan getaran yang utama. Getaran sinusoidal dapat dilihat pada
Gambar 2.

Gambar 2. Getaran Sinusoidal (Wilson 1989 dalam Nugroho 2005)

Pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa titik proyeksi tersebut berupa satu garis lurus yang
panjangnya menunjukkan amplitudo getaran. Ketika terjadi perubahan beban, maka akan terjadi
kecepatan sudut dan terjadi percepatan sehingga menimbulkan getaran. Persamaan gerak dari
titik hasil proyeksi tersebut adalah :
x = A X sin (

+ ) ......................................................................................................(1)

dimana :
x = jarak perpindahan titik (m)
A = amplitudo (m)
ω = kecepatan sudut (radian/detik)
t = waktu (detik)
= sudut awal (radian)
= percepatan (m/

)

Persamaan kecepatan getaran adalah turunan pertama dari persamaan gerak :
v=A

cos (

+ ) .....................................................................................................(2)

Persamaan percepatan getaran adalah turunan kedua dari persamaan gerak :
=A

sin (

+ ) ....................................................................................................(3)

Pengaruh getaran dalam waktu singkat hanya memberikan sedikit efek psikologis dan
tidak terjadi perubahan nyata secara kimiawi dalam darah dan kelenjar endokrin tubuh. Akan
tetapi dalam jangka panjang, efek getaran menimbulkan masalah dalam spinal disorders,

6

hermotroids, hernias, dan kesulitan pembuangan air kemih (Waterman 1975 dalam Adinata
2003). Pengetahuan tentang hubungan getaran dan kesehatan belum nyata, tetapi terlihat bahwa
getaran meningkatkan tensi otot. Salah satu fenomena yang tampak akibat getaran mekanis
adalah yang disebut vibration induced finger atau pemucatan telapak tangan oleh pengecilan
pembuluh darah.
Menurut Wilson (1989) getaran dengan tingkat tinggi dapat menyebabkan kerusakan
tulang-tulang sendi, sistem peredaran darah dan organ-organ lain. Masa getaran yang lama pada
semua bagian tubuh atau getaran pada lengan tangan dapat menyebabkan kelumpuhan atau cacat,
masa getaran yang pendek dapat meyebabkan kehilangan rasa, ketajaman penglihatan dan lainlain yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Getaran pada seluruh tubuh memberikan efek
yang lebih kompleks mulai dari jantung, peredaran darah hingga penurunan daya lihat dan
konsentrasi seseorang.
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 16-7063-2004), nilai ambang batas
getaran yaitu sebesar 4 m/s2. Sedangkan untuk mengetahui waktu terpapar (exposure limit)
operator pada tempat kerjanya dengan memperhatikan faktor keamanan dan kenyamanan dapat
dilihat dari grafik di Gambar 3. Dengan menghubungkan percepatan dan frekuensi yang
dihasilkan (Herodian dkk 1999).

Gambar 3. Grafik Hubungan Percepatan dan Frekuensi Sumbu-Z Untuk Perfomance Exposure
Limits.

D. Kebisingan
Kebisingan didefinisikan sebagai bunyi yang tidak diinginkan, termasuk diantaranya
bunyi tak beraturan dan bunyi yang ditimbulkan sebagai hasil sampingan suatu kegiatan industri
atau transportasi. Bunyi dalam bentuk percakapan atau musik yang mengganggu juga dianggap
sebagai kebisingan. Secara umum, kebisingan dapat diartikan sebagai suara yang merugikan
terhadap manusia dan lingkungannya, termasuk pada ternak, satwa liar dan sistem di alam
(Suratmo 1998 dalam Fitriani 2003).

7

Kebisingan mempengaruhi konsentrasi dan dapat menjadi penyebab terjadinya
kecelakaan. Tingkat kebisingan ekstrim di atas 90 dB(A) dan puncak kebisingan di atas 100
dB(A) dapat menyebabkan sakit kepala dan meningkatnya tekanan darah, tegangan otot, dan
kelelahan. Kebisingan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan ketulian dan penyakit lain
yang berhubungan dengan pendengaran. Kebisingan dalam waktu yang relatif singkat dapat
menimbulkan iritasi dan mengganggu kenyamanan.
Menurut Suma’mur (1988) dalam Nuryadi (2011), kebisingan yang sering ditemukan di
lingkungan kerja adalah :
1. Kebisingan kontinu dengan spektrum frekuensi yang luas (steady state, wide band noise)
misalnya mesin-mesin, kipas angin, dapur pijar, dll.
2. Kebisingan kontinu dengan spektrum frekuensi sempit (steady state, narrow band noise)
misalnya gergaji siruler, katup gas, dll.
3. Kebisingan terputus-putus (intermitten) misalnya lalu lintas, pesawat terbang di lapangan
udara, dll.
4. Kebisingan impulsif (impact or impulsif noise) misalnya pukulan, tembakan bedil atau
meriam, ledakan, dll.
5. Kebisingan impulsif berulang misalnya mesin tempa di perusahaan.
Menurut Buchari (2007) dalam Nuryadi (2011), berdasarkan pengaruhnya terhadap
manusia bising dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Bising yang mengganggu (Irritating Noise). Intensitasnya tidak terlalu keras, misalnya : suara
mendengkur.
2. Bising yang menutupi (Masking Noise). Merupakan bunyi yang menutupi pendengaran yang
jelas. Secara tidak langsung bunyi ini akan membahayakan keselamatan dan kesehatan tenaga
kerja, karena teriakan atau tanda bahaya tenggelam dalam bising sumber bunyi.
3. Bising yang merusak (Damaging/Injurious Noise). Merupakan bunyi yang intensitasnya
melebihi nilai ambang batas kebisingan. Bunyi jenis ini akan merusak atau menurunkan
fungsi pendengaran.
Pada dasarnya pengaruh kebisingan pada jasmani para pekerja dibagi menjadi dua
golongan (Soemanegara 1975 dalam Nuryadi 2011), yaitu :
1. Tidak mempengaruhi sistem penginderaan tetapi mempengaruhi berupa keluhan samar-samar
dan tidak jelas berwujud penyakit.
2. Pengaruh terhadap indera pendengaran baik bersifat sementara maupun bersifat permanen
(tetap), terdiri dari :
a. Accoustic trauma, yaitu tiap-tiap pelukan insidental yang merusakkan sebagian atau
seluruh alat-alat pendengaran disebabkan oleh letupan senjata api, ledakan-ledakan atau
suara dahsyat.
b. Occutional deafnedet2, yaitu kehilangan sebagian atau seluruh pendengaran seseorang
yang bersifat permanen pada satu atau kedua telinga yang disebabkan oleh kebisingan
atau suara gaduh yang terus menerus di lingungan kerja.
Frekuensi adalah jumlah gelombang lengkap yang merambat per satuan waktu dengan
satuan Hertz. Bunyi yang dapat diterima manusia biasanya mempunyai batas frekuensi antara
20-20000 Hz. Apabila frekuensi kurang dari 20 Hz maka disebut infrasound dan bila frekuensi
lebih dari 20000 Hz maka disebut ultrasound dan tidak dapat didengar oleh telinga manusia.

8

Menurut Sears (1962), intensitas gelombang bunyi yang merambat didefinisikan
sebagai jumlah rata-rata energi yang dibawa per satuan waktu oleh gelombang per satuan luas
permukaan yang tegak lurus pada arah rambatannya. Singkatnya, intensitas itu ialah daya ratarata yang dibawa per satuan luas. Lama mendengar ditentukan oleh beban bising yaitu jumlah
perbandingan antara waktu mendengar pada tingkat bising bersangkutan.
Untuk menghitung beban bising digunakan persamaan :
Beban bising = ∑

< 1 ............................................................................................. (4)

dimana:

Cn = Lama mendengar pada tingkat bising tertentu (jam)
Tn = Lama mendengar yang diijinkan pada tingkat bising bersangkutan

Sedangkan untuk perhitungan lama mendengar yang diizinkan dapat dihitung dengan
menggunakan standar Department of Defenses (DOD) dan Occupational Safety and Health
Administration (OSHA). Rumus yang digunakan kedua standar tersebut adalah :

Waktu (jam) =

DOD .......................................................................................(5)

Waktu (jam) =

OSHA .....................................................................................(6)

Ukuran kebisingan dinyatakan dengan istilah sound pressure level (SPL) dengan satuan
dB(A). Alat yang digunakan untuk mengukur kebisingan yaitu sound level meter. Alat ini
mengukur kebisingan diantara 30-130 dB(A) dengan frekuensi 20-20000 Hz. Hasil keluaran
pengukuran dengan alat ini adalah desibel (dB(A)) dengan menggunakan dasar persamaan
(Chanlet 1979 dalan Nuryadi 2011) :
SPL =10 Log (P/Pref)2....................................................................................................(7)
dimana :
SPL
P
Pref

: Tingkat tekanan kebisingan (Sound Pressure Level) (dB)
: Tekanan suara (N/m2)
: Tekanan bunyi reference (2 x 10-5 N/m2)

Menurut Sukarmadijaya (1995), intensitas bising akan semakin berkurang jika jarak
dengan sumber bising semakin jauh. Perambatan atau pengurangan tingkat bising dari
sumbernya dinyatakan dengan persamaan :

Untuk sumber diam :
-

= 20 log ( / ) ..........................................................................................(8)

Untuk sumber bergerak :
-

= 10 log ( / ) ..........................................................................................(9)

9

dimana :
: Intensitas suara sumbu 1 pada jarak
: Intensitas suara sumbu 2 pada jarak
: Jarak pertama ke sumber bising
: Jarak kedua ke sumber bising
Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : KEP-51/MEN/1999 tanggal 16
April 1999 ditetapkan ambang batas (NAB), antara lain menyebutkan NAB kebisingan ditempat
kerja adalah 85 dB(A). Sebagai perbandingan dengan peraturan lainnya, berikut beberapa standar
nilai ambang batas kebisingan dan lama kerja yang diperkenankan pada Tabel 1 :

Tabel 1. Standar Nilai Ambang Batas Kebisingan dan Lama Kerja yang Diperkenankan
Intensitas (dB(A))
ISO

OSHA

Indonesia (Menaker)

Waktu Kerja
(Jam)

85

90

85

8

...

92

87.5

6

88

95

90

4

...

97

92.5

3

91

100

95

2

94

105

100

1

97

110

105

0.5

100

115

110

0.25

Sumber : Sudirman 1992 dalam Wijaya A. 2005

Pada lingkungan kerja, kebisingan yang terjadi tidak boleh menimbulkan kerugian bagi
pekerja maupun bagi masyarakat sekitar. Untuk meminimalkan efek kebisingan yang
ditimbulkan terhadap kesehatan manusia. Menurut Peterson dalam Nuryadi (2011), bahwa upaya
pengendalian kebisingan diantaranya sebagai berikut:
1. Pengendalian keteknikan, yaitu memodifikasi peralatan penyebab kebisingan, modifikasi
proses dan modifikasi lingkungan dimana peralatan dan proses tersebut berjalan dengan
bahan konstruksi yang tepat.
2. Pengendalian sumber kebisingan, yaitu dilakukan dengan substitusi antar mesin, proses dan
material terutama penambahan penggunaan spesifikasi kebisingan pada masing-masing
peralatan dan mesin lama maupun baru.
3. Pengendalian dengan modifikasi lingkungan, bila radiasi kebisingan dari bagian-bagian
peralatan tidak dapat dikurangi maka dapat digunakan peredam getaran, rongga resonansi,
dan peredam suara (isolator).
4. Alat pelindung diri, yaitu menggunakan Alat Pelindung Telinga (APT), misalnya sumbat
telinga, tutup telinga, dan helmet. Alat-alat tersebut dapat mengurangi intensitas kebisingan
sekitar 25-50 dB.

10

III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapangan Siswadhi Soepardjo Departemen
Teknik Mesin dan Biosistem. Penelitian ini berlangsung pada bulan Februari–Juli 2012.
Kegiatan yang dilakukan adalah studi pustaka, pengambilan data, pengukuran, dan analisis
perhitungan.

B. Alat dan Bahan
1. Mist Blower
Mist blower yang digunakan adalah merek Yanmar tipe MK 150-B

1

Keterangan :
1. Tangki Pupuk Cair
2. Tangki Bahan Bakar
3. Engine
4. Blower
5. Pipa Penghembus
6. Nozel

6

2

5
3

4

Gambar 4. Mist Blower Yanmar Tipe MK 150-B

Keterangan :

9

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8

1

8.
9.

4
5
6
7

Tangki Pupuk Cair
Blower
Tuas Kendali
Tangki Bahan Bakar
Bantalan Busa
Engine
Tuas Pengatur Kecepatan
Putaran motor
Pipa Penghembus
Nozel

2
3
Gambar 5. Pandangan Orthogonal Mist Blower Yanmar Tipe MK 150-B

11

7. Vibration Meter
Alat ini digunakan untuk mengukur getaran yang dihasilkan oleh mist blower. Jenis Vibration
meter yang digunakan dalam penelitian ini adalah merek Luxtron tipe 8200.

Gambar 6. Vibration Meter

8. Sound Level Meter
Alat ini digunakan untuk mengukur kebisingan pada mist blower. Hasil pengukuran diperoleh
dengan satuan desibel (dB(A)).

Gambar 7. Sound Level Meter

9. Tachometer
Alat ini digunakan untuk mengukur kecepatan putaran motor mist blower

Gambar 8. Tachometer

12

10. Stopwatch

Gambar 9. Stopwatch
(sumber: http://watchtypes.com/wp-content/uploads/2010/02)
11. Pupuk Cair
Pupuk cair yang digunakan bermerek Super-O. Pupuk tersebut merupakan pupuk cair
organik. Perbandingan penggunaan pupuk tersebut yaitu pupuk dicampurkan dengan air.
Rasio pencampuran pupuk dengan air adalah 1:700 yaitu 10 cc pupuk cair dicampurkan
dengan 7 liter air.

Gambar 10. Pupuk Cair Organik

12. Komputer dan Alat Tulis
Alat ini berfungsi sebagai alat pencatatan dan pengolahan data
13. Subjek
Subjek dalam penelitian ini terdiri dari seorang operator yang mengoperasikan mist blower
untuk pengambilan data getaran dan kebisingan. Serta dua orang petani yang akan
menggunakan mist blower untuk pengambilan data obyektivitas operator.
14. Alat Dokumentasi
15. Meteran
16. Software Surfer 8

13

C. Metode Penelitian
1. Pengukuran Getaran
Pengujian getaran dengan cara mengukur percepatan getaran dilakukan pada saat
mist blower mulai beroperasi. Dalam pengukuran getaran dilakukan dengan tiga kecepatan
putaran motor (rpm) yang berbeda-beda. Tingkat kecepatan motor yang digunakan adalah
1915, 4009, dan 7227 rpm. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat percepatan getaran
yang ditimbulkan oleh masing-masing kecepatan putaran motor tersebut. Kecepatan
putaran motor diukur menggunakan tachometer. Sedangkan tingkat percepatan getaran
diukur menggunakan vibration meter.
Sensor getaran dipasang pada engine dan tuas kendali mist blower dengan tiga
dimensi yaitu sumbu X, Y, dan Z. Pengukuran dilakukan sebanyak 10 kali ulangan pada
tiap kecepatan putaran motor yang berbeda-beda. Setelah semua ulangan diperoleh,
kemudian dirata-ratakan pada setiap sumbu pengukuran serta dilakukan analisa dan
diplotkan pada grafik hubungan antara frekuensi dengan percepatan getaran rata-rata untuk
memperoleh batas aman dan batas nyaman. Letak sumbu X, Y, dan Z yang akan diukur
pada engine maupun pada tuas kendali mist blower dapat dilihat pada Gambar 11 dan
Gambar 12.

Sumbu X

Sumbu Y

Sumbu Z

Z

X

Y

Gambar 11. Letak Sumbu-Sumbu Pengukuran Getaran pada Engine Mist Blower Yanmar Tipe MK
150-B

14

Sumbu X

Sumbu Y

Sumbu Z

Z

X

Y

Gambar 12. Letak Sumbu-Sumbu Pengukuran Getaran pada Tuas Kendali Mist Blower Yanmar Tipe
MK 150-B

2.

Pengukuran Kebisingan
Pengukuran tingkat kebisingan dilakukan dengan menggunakan sound level meter yang
memiliki sensor untuk mengukur tingkat suara atau bunyi dalam satuan decibel (dB(A)).
Pengukuran getaran dilakukan pada lahan yang terbuka. Pengukuran kebisingan pada mist
blower ini dilakukan pada engine, telinga kanan operator, dan telinga kiri operator. Pada engine
tersendiri, terdapat enam titik pengukuran yaitu atas, bawah, samping kanan, samping kiri,
depan, dan belakang. Jarak sound level meter ke engine sekitar 10 cm. Pengukuran kebisingan
pada engine dan telinga dilakukan sebanyak 10 kali pengulangan dan dihitung rata-rata
kebisingan pada setiap titik pengukuran. Setelah data diperoleh, maka dilakukan analisa dan
dibandingkan dengan standar kebisingan yang ada. Titik-titik pengukuran kebisingan pada
engine dan telinga operator dapat dilihat pada Gambar 13 dan Gambar 14.
Selain itu dilakukan pengukuran tingkat kebisingan terhadap lingkungan. Pengukuran
tingkat kebisingan terhadap lingkungan dilakukan pada petakan tanah seluas 20 x 20 m, dimana
mist blower dioperasikan pada titik tengah petakan. Pengukuran dilakukan pada empat arah
terhadap sumber kebisingan, yaitu depan, samping kanan, belakang, dan samping kiri. Setiap
arah memiliki jarak sebesar 10 m, dengan interval pengurkuran berjarak 2 m. Pengukuran
dilakukan dengan 10 kali ulangan pada setiap titik pengukuran. Kemudian di analisis dan dibuat

15

kontur kebisingan terhadap lingkungan dan kontur kebisingan disekitar telinga kanan operator.
Titik – titik pengukuran kontur kebisingan terhadap lingkungan dapat dilihat pada Gambar 15.

Titik 1

Titik 2

Titik 4

Titik 5

Titik 3

Titik 6

Gambar 13. Titik-titik Pengukuran Kebisingan pada Engine Mist Blower Tipe MK 150-B

Telinga Kiri

Telinga Kanan

Gambar 14. Titik-titik Pengukuran Kebisingan pada Engine Mist Blower Tipe MK 150-B

16

20 m
10 m

KIRI

KANAN

20 m

DEPAN

10 m

2m

BELAKANG

Depan

Belakang

Kanan

Kiri

Gambar 15. Titik-titik Pengukuran Kontur Kebisingan pada Lingkungan

17

3.

Studi Obyektivitas Operator Mist Blower
Penelitian lanjutan dilakukan di laboratorium lapangan Siswadhi Soepardjo untuk
mengetahui efek penggunaan alat secara obyektif. Pengaplikasian mist blower pada lahan
tersebut, dilakukan oleh dua orang petani dan memiliki perbedaan umur pada kebun ubi jalar
seluas 500 m2. Petani yang pertama berumur 40 tahun dan petani kedua berumur 60 tahun. Hal
ini bertujuan untuk membandingkan tingkat keletihan yang dirasakan oleh kedua petani tersebut.
Kedua petani tersebut mengoperasikan mist blower untuk memupuk lahan tersebut. Setelah
mengoperasikan mist blower, kedua petani tersebut akan diberikan pertanyaan-pertanyaan yang
menyangkut penggunaan alat tersebut dan apa yang dirasakan terkait dengan tingkat
keletihannya. Pada Gambar 16 merupakan petani yang mengoperasikan mist blower.

Bapak Saan (60 tahun)

Bapak Dadang (40 tahun)

Gambar 16. Petani yang Mengoperasikan Mist Blower ke Lahan Ubi Jalar

18

D. Diagram Alir Rancangan Penelitian
START

Pengambilan data Spesifikasi Mist
Blower, Debit, Kecepatan Putaran
Motor, Getaran, dan Kebisingan,
Studi Obyektivitas Operator

Pengolahan data percepatan getaran
Pada engine dan tuas kendali

Pengolahan data kebisingan
Pada engine dan telinga

Faktor
Batas aman : 2
Batas Nyaman : 0.317

Perbandingan
Kebisingan pada
telinga
Standar DOD
:
Standar OSHA

Plot grafik exposure limits

Batas aman penggunaan mist blower
berdasarkan parameter getaran
Lama mendengar yang
diizinkan (standar DOD)
Kontur kebisingan terhadap
lingkungan

Batas penggunaan optimal mist blower
perhari berdasarkan parameter getaran dan
kebisingan
Kontur kebisingan terhadap lingkungan dan
di sekitar telinga operator
Hubungan debit dengan kecepatan putaran
motor, percepatan getaran, dan kebisingan

STOP

END

Gambar 17. Diagram Alir Rancangan Penelitian

19

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan mist blower merek Yanmar tipe MK 150-B. Sistem yang
digunakan pada alat tersebut didasarkan oleh hembusan aliran udara berkecepatan tinggi. Oleh karena
itu, keefektifannya sangat tergantung kemampuan aliran udaranya untuk mendesak (memindahkan)
udara disekelilingnya. Mist blower tersebut dilengkapi dengan bantalan busa yang berada dibelakang
engine yang berfungsi mengurangi getaran dan melindungi punggung operator dari getaran tersebut.
Pada Tabel 2 dapat dilihat spesifikasi teknis mengenai mist blower.
Tabel 2. Spesifikasi Mist Blower

MIST BLOWER
Model

MK 150-B

Merek

Yanmar

Tahun Pembuatan

1980

Dimensi (P x L x T)

35 cm x 30 cm x 67 cm

Berat Bersih

12 kg

Kapasitas Tangki Pupuk Cair

12 liter

Tipe Mesin

Motor bensin 2 tak

Sistem Pendinginan

Udara

Kecepatan Putaran Motor

9000 rpm

Bahan Bakar

Bensin+Oli

Kapasitas Tangki Bahan Bakar

1.5 liter

Tenaga

1 HP

Dimensi Bantalan Busa

Panjang 32 cm
Lebar 26 cm
Tebal 3 cm

Panjang Lengan / Pipa Penyemprotan

143 cm

Jarak penyemprotan pestisida atau pupuk cair pada kecepatan putaran motor 1915, 4009
dan 7227 rpm masing-masing sejauh 1 meter, 1.8 meter dan 5 meter. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pupuk cair merek Super-O yang telah dicampur dengan air. Perbandingan antara
pupuk cair pekat dengan air yaitu 1:700 artinya untuk 10 cc pupuk cair, dicampur dengan 7 liter air.

A. Getaran
Getaran yang terjadi pada mist blower ditimbulkan dari kerja engine sebagai sumber
tenaga penggerak. Komponen-komponen motor yang bergerak dan saling bergesekan
menghasilkan tenaga dan perubahan bentuk energi dalam engine yang menyebabkan timbulnya
getaran mekanis dan kebisingan. Getaran dengan nilai tertentu dalam jangka panjang dapat
membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, perlu diketahui batas aman dan nyaman penggunaan
alat tersebut.

20

1. Pengukuran Getaran
Mist blower dioperasikan untuk menghembuskan pupuk cair ke lahan. Pengukuran
getaran dilakukan pada engine dan tuas kendali mist blower. Getaran pada tangan operator
ditimbulkan dari engine yang berputar dan merambat ke tuas kendali. Pengukuran getaran
dilakukan pada tiga sumbu yaitu sumbu X, Y, dan Z pada engine dan tuas kendali.
Pengukuran juga berdasarkan tingkat kecepatan putaran motor yang berbeda-beda.
Kecepatan putaran motor yang digunakan yaitu 1915, 4009, dan 7227 rpm.
Alat vibration meter yang digunakan hanya dapat mengukur tingkat percepatan
getaran dan tidak bisa untuk mengukur besar frekuensi. Frekuensi pada putaran motor
penggerak tentunya tidak sama dengan frekuensi pada tuas kendali. Hal ini disebabkan
karena adanya rambatan getaran dari engine ke bagian-bagian lain dari mist blower. Oleh
karena itu, dalam penelitian ini diasumsikan frekuensi dari putaran motor penggerak sama
dengan frekuensi pada tuas kendali mist blower. Nilai frekuensi diperoleh dari kecepatan
putaran motor dibagi dengan 60. Frekuensi masing-masing kecepatan putaran motor secara
berturut-turut sebesar 31.9, 66.8, dan 120.5 Hz.
Lama pemakaian mist blower yang aman diperoleh dari nilai percepatan getaran
rata-rata dikalikan 2. Sedangkan untuk penentuan tingkat kenyamanan penggunaan mist
blower adalah nilai percepatan getaran rata-rata dikalikan 0.317. Grafik standar dan nilai
faktor pengali tersebut merupakan batas toleransi getaran berdasarkan ISO. (Nugroho 2005)

2. Analisa Getaran

Percepatan Getaran rata-rata
(m/s2)

Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 16-7063-2004), nilai ambang
batas getaran yaitu sebesar 4 m/s2. Pada Gambar 18 merupakan grafik hubungan antara
kecepatan putaran motor yaitu 1915, 4009, dan 7227 rpm dengan percepatan getaran rata-rata
pada engine mist blower tipe MK 150-B.

10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

9,25

4,71

4,75

3,88
1,64 1,51

2,15

1915

4,15

Sumbu X
Sumbu Y

2,3

Sumbu Z
4009

7227

Kecepatan Putaran Motor (rpm)

Gambar 18. Grafik Hubungan antara Kecepatan Putaran Motor dengan Percepatan Getaran
Rata-rata pada Engine Mist Blower Tipe MK 150-B
Sumbu pengukuran yang paling tinggi tingkat percepatan getaran rata-ratanya
adalah sumbu Z. Sedangkan sumbu Y memiliki tingkat percepatan getaran rata-rata paling
rendah. Sumbu Z merupakan sumbu yang searah dengan gerakan piston sehingga sumbu Z
ini memiliki tingkat percepatan getaran rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan sumbu

21

Percepatan Getaran rata-rata
(m/s2)

pengukuran yang lainnya. Gambar 19 merupakan grafik hubungan antara kecepatan putaran
motor yaitu 1915, 4009, dan 7227 rpm dengan percepatan getaran rata-rata pada tuas kendali
mist blower tipe MK 150-B.
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Sumbu X
3,16
2,2
0,1 0,2 0,11

1915

2,34
1,51

Sumbu Y
Sumbu Z

0,78

4009

2,54

7227

Kecepatan Putaran Motor (rpm)
Gambar 19. Grafik Hubungan antara Kecepatan Putaran Motor dengan Percepatan Getaran
Rata-rata pada Tuas Kendali Mist Blower Tipe MK 150-B
Pada tuas kendali mist blower, nilai percepatan getaran rata-rata pada sumbu Y
lebih besar dibandingkan dengan percepatan getaran rata-rata pada sumbu X dan Z. Pada tuas
kendali, getaran dari engine ditransmisikan melalui komponen-komponen mist blower ke tuas
kendali mist blower sehingga percepatan getaran yang lebih besar adalah yang searah sumbu
Y.
Berdasarkan data tersebut dapat dianalisa bahwa percepatan getaran pada engine
lebih besar dibandingkan percepatan getaran pada tuas kendali mist blower. Pada engine,
percepatan getaran yang ditimbulkan memiliki kisaran rata-rata 1.51 m/s2 – 9.25 m/s2.
Sedangkan percepatan getaran rata-rata pada tuas kendali mist blower memiliki kisaran 0.1
m/s2 – 3.16 m/s2. Hal ini disebabkan karena pada engine merupakan sumber putaran serta
terdapat bagian yang berputar dan bergesekan sehingga menimbulkan getaran. Getaran pada
engine merambat ke tuas kendali melalui berbagai komponen sehingga telah mengalami
peredaman. Pada engine, nilai percepatan getaran yang terukur melebihi nilai ambang batas
SNI, yaitu pada kecepatan putaran motor 4009 dan 7227 rpm.
Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecepatan putaran motor
berbanding lurus terhadap tingkat getaran yang dihasilkan. Semakin tinggi kecepatan putaran
motor, maka semakin tinggi pula getaran yang dihasilkan dan begitu pula sebaliknya. Bagian
tubuh operator yang menerima getaran paling tinggi adalah bagian punggung, dan getaran
yang ditimbulkan engine langsung ditransmisikan ke bagian punggung. Selain itu, massa dari
mist blower itu sendiri ditumpu oleh punggung. Oleh karena itu, diberikan bantalan busa
pada bagian punggung untuk meredam getaran secara langsung yang berasal dari engine.
Percepatan getaran yang diterima punggung diasumsikan sebagai getaran yang diterima oleh
seluruh tubuh.

2.1. Batas Aman Penggunaan Mist Blower Yanmar Tipe MK 150-B
Penentuan lama pemakaian mist blower yang aman, diperoleh dari nilai
percepatan getaran rata-rata dikalikan 2. Nilai pengali tersebut berdasarkan standar ISO
yang telah ditetapkan (Nugroho 2005). Gambar 20 merupakan grafik hubungan antara

22

Percepatan Getaran rata-rata
(m/s2)

kecepatan putaran motor yaitu 1915, 4009, dan 7227 rpm dengan percepatan getaran
rata-rata pada engine mist blower tipe MK 150-B.
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

18,5

9,42

9,5

4,3

3,28 3,02

Sumbu X

8,3

7,76

Sumbu Y

4,6

Sumbu Z
1915

4009

7227

Kecepatan Putaran Motor (rpm)
Gambar 20. Grafik Hubungan antara Kecepatan Putaran Motor dengan Percepatan
Getaran Rata-rata Pada Engine Mist Blower Tipe MK 150-B (Setelah
Dikalikan 2)

Percepatan Getaran rata-rata
(m/s2)

Nilai percepatan getaran rata-rata yang telah dikalikan faktor pengali 2,
diplotkan dalam grafik exposure limits. Batas aman pemakaian mist blower tipe MK
150-B dengan kecepatan putaran motor 1915, 4009, dan 7227 rpm pada engine
berdasarkan sumbu X dan Y ialah sama yaitu selama 8 jam. Namun terdapat perbedaan
berdasarkan sumbu Z yaitu untuk kecepatan putaran motor 1915 dan 4009 rpm adalah
selama 1 jam, dan untuk kecepatan putaran motor 7227 rpm adalah selama 25 menit.
Gambar 21 merupakan grafik hubungan antara kecepatan putaran motor yaitu 1915,
4009, dan 7227 rpm dengan percepatan getaran rata-rata pada tuas kendali mist blower
tipe MK 150-B.
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

Sumbu X
6,32
4,4
0,2 0,4 0,22

1915

4,68

5,08

3,02

Sumbu Z

1,56

4009

Sumbu Y

7227

Kecepatan Putaran Motor (rpm)

Gambar 21. Grafik Hubungan antara Kecepatan Putaran Motor dengan Percepatan
Getaran Rata-rata pada Tuas Kendali Mist Blower Tipe MK 150-B
(Setelah Dikalikan 2).
Nilai percepatan getaran rata-rata yang telah dikalikan faktor pengali 2,
diplotkan dalam grafik exposure limits. Batas aman pemakaian mist blower dengan
kecepatan putaran motor 1915, 4009, dan 7227 rpm pada tuas kendali berdasarkan

23

sumbu X dan Y ialah sama yaitu selama 8 jam. Sedangkan berdasarkan sumbu Z, batas
pemakaian aman mist blower dengan kecepatan putaran motor 1915 rpm ialah selama 8
jam, namun berbeda pada kecepatan putaran motor 4009 dan 7227 rpm yaitu selama 4
jam.
Nilai lama penggunaan mist blower yang aman berdasarkan sumbu X, Y, dan
Z , kemudian dibandingkan antara engine dengan tuas kendali. Berdasarkan hasil plot
grafik exposure limits, sumbu yang dijadikan acuan lama penggunaan mist blower
adalah sumbu Z karena memberikan pengaruh paling signifikan. Berdasarkan
perbandingan percepatan getaran rata-rata pada engine dan tuas kendali, batas aman
penggunaan mist blower pada kecepatan putaran motor 1915 dan 4009 rpm adalah
selama 1 jam. Sedangkan batas aman penggunaan mist blower pada kecepatan putaran
motor 7227 rpm adalah selama 25 menit.

2.2. Batas Nyaman Penggunaan Mist Blower Yanmar Tipe MK 150-B

Percepatan Getaran ratarata (m/s2)

Penentuan lama pemakaian mist blower yang aman diperoleh dari nilai
percepatan getaran rata-rata dikalikan 0.317. Nilai pengali tersebut berdasarkan standar
ISO yang telah ditetapkan (Nugroho 2005). Gambar 22 merupakan grafik hubungan
antara kecepatan putaran motor yaitu 1915, 4009, dan 7227 rpm dengan percepatan
getaran rata-rata pada engine mist blower tipe MK 150-B.
2,93

3
2,5
2

1,49

1

1,51

1,23

1,5
0,52 0,48

0,68

1,32

0,73

Sumbu X
Sumbu Y

0,5

Sumbu Z

0
1915

4009

7227

Kecepatan Putaran Motor (rpm)
Gambar 22. Grafik Hubungan antara Kecepatan Putaran Motor dengan Percepatan
Getaran Rata-rata pada Engine Mist Blower Tipe MK 150-B (Setelah
Dikalikan 0.317).
Gambar 23 merupakan grafik hubungan antara kecepatan putaran motor yaitu
1915, 4009, dan 7227 rpm dengan percepatan getaran rata-rata pada tuas kendali mist
blower Tipe MK 150-B.

24

Percepatan Getaran rata-rata
(m/s2)

3
2,5
2
Sumbu X

1,5
1

1

0,74

0,7

0,81

0,48

0,5

0,03 0,06 0,04

Sumbu Y
Sumbu Z

0,25

0
1915

4009

7227

Kecepatan Putaran Motor (rpm)
Gambar 23. Grafik Hubungan antara Kecepatan Putaran Motor dengan Percepatan
Getaran Rata-rata pada Tuas Kendali Mist Blower Tipe MK 150-B
(Setelah Dikalikan 0.317).
Batas nyaman diperoleh setelah data yang telah dikalikan faktor pengali
0.317, diplotkan pada grafik exposure limits. Batas nyaman penggunaan mist blower
pada kecepatan putaran motor 1915, 4009, dan 7227 rpm pada sumbu X, Y, dan Z
adalah sama yaitu selama 8 jam. Nilai batas aman tersebut merupakan nilai batas aman
dari engine maupun tuas kendali. Jadi dapat disimpulkan bahwa operator akan masih
merasa nyaman menggunakan mist blower ini dengan kecepatan putaran motor 1915,
4009, dan 7227 rpm selama 8 jam per hari. Namun, pada kenyataannya tingkat
kenyamanan itu tidak hanya berdasarkan getaran yang diperoleh tetapi juga tingkat
kebisingan. Selain itu, faktor beban alat yang digendong operator mist blower dan
kondisi fisik pekerja juga mempengaruhi tingkat kenyamanan. Misalnya beban dari alat
tersebut terlalu berat sehingga operator merasa lelah untuk menggendong alat tersebut
bila terlalu lama.

B. Kebisingan
Kebisingan merupakan bunyi yang tidak dikehendaki. Kebisingan yang terjadi di tempat
kerja dapat menyebabkan berbagai gangguan terhadap kesehatan dan konsentrasi para pekerja.
Pengendalian kebisingan diperlukan agar dapat mengurangi dampak buruk bagi operator maupun
lingkungan.

1.

Pengukuran Kebisingan
Pengukuran kebisingan dilakukan dengan menggunakan sound level meter yang
memiliki satuan dB(A). Pengukuran kebisingan pada mist blower ini dioperasikan pada
kecepatan putaran motor sebesar 1915, 4009, dan 7227 rpm. Pengukuran kecepatan putaran
motor menggunakan tachometer. Pada pengukuran tersebut, tachometer diarahkan pada
blower yang berputar yang sebelumnya telah diberi tanda titik putih. Kemudian nilai
kecepatan putaran motor akan terbaca pada display digital.
Pada pengukuran kebisingan, mist blower di gendong oleh operator di lahan
sambil menyemprotkan pupuk cair ke lahan. Pengukuran kebisingan pada engine dilakukan
pada enam titik pengukuran dengan jarak sekitar 10 cm dari engine terhadap sound level
meter. Titik pengukuran pada engine yaitu bawah, atas, samping kiri, depan, samping

25

kanan, dan belakang. Pengukuran kebisingan juga dilakukan pada telinga operator dengan
kecepatan putaran motor yang berbeda-beda. Pengukuran kebisingan ini dilakukan pada
lahan yang terbuka dan tidak ada penghalang seperti pepohonan. Selain itu, pengukuran
kebisingan juga dilakukan terhadap lingkungan kerja.

Analisa Kebisingan
Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : KEP-51/MEN/1999
tanggal 16 April 1999 ditetapkan ambang batas (NAB), antara lain menyebutkan NAB
kebisingan adalah 85 dB(A). Oleh karena itu, pada lingkungan kerja yang memiliki tingkat
kebisingan yang melebihi NAB harus diadakan usaha

Dokumen yang terkait

Uji Performansi Getaran Mekanis dan Kebisingan Mist Blower Yanmar MK 150-B