Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR PEMEGANG JAMINAN BERUPA HAK TANGGUNGAN YANG MENGALAMI FORCE MAJEURE
DALAM PERJANJIAN KREDIT (Studi pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan)
SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
Oleh : HIRMAWATI FANNY TAMPUBOLON
NIM: 110200242 DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2015
Universitas Sumatera Utara

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR PEMEGATIG JAMINAN BERUPA HAK TANGGUNGAN YAFIG MENGALAMI.FOftCE fuL4JEURE
DALAM PE,RJANJIAN KRE,DIT (Studi pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melenghapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
Oleh :
HIRMAWATI FANI{Y TAMPUBOLON IIIIM: fi4200242
Departemen Hukum Keperdataan Program Kekhususan Hukum Perdata BW
Disetujui OIeh Kefua Departemen Hukum Keperdataan

NrP. I 96603031985081001

95008081980021001

Dosen Pembimbing II

--\\-
-

_r_(
3

Muhammad Husni. SH.. MH.

NrP. 19580202 1988031004

aI g__

G'F'AKULTAS IIT]KT'M
LTNwERsTTAssuMATERAUTARA

t--ka

MEDAN

2015

\

$,q ll,.tt;,t-
CH
ffi il."w*
t*$r, nu

rt*"Universitas Sumatera Utara

ST]RAT PERFiYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya yang bertalda tangan di bawah ini:

lrlAlv'lA

: HItu\,{ AWATI FAI{N Y TAN,IPUBOLOI{

NIX,{

: i 10200242

jiiul;L Siiiiipsi : FEF.Lil-iDLilliGA}li iiliKUivi KREDiTUR FEir{EGAiriC

.TAN{i}iA}.i BERI,]PA HAK TANGGI-iNGAN YA}{G
fuTEI'iGALAh,{I T;OIIC{J iR{:A,(,4.T}-;I DALAM PER-iAiiii;ri''i i{R.EDi I iSTUi}i FADn FT. tsaiiK

MAidDrRr (PERSERO). TBK CABANG MEDAIi)

Dengan ini rnenyatakan:
i. iiafuwa isi skripsi yang saya tuiis tersebui iii atas adaiair benar tidak

merupakan ciplakan dari skripsi atai.r karya ilmiah orang laitr.
2. Apabila terbukti dikemudian hari skripsi tersebut adalah ciplakan rnaka

segaia akibat hukurn yar.lg iiulbui nrenjacii tanggung jarvab sa5.'a.

Dernikian pemvataan ini sa.va buat dengan setrenam-_va tanpa ada paksaan atau

tekanan dari pihak marlapun.

\{edarr. 4 lt,{aret 20I 5

rtrR\.{&\li l\T1 I_AN},iY T ir,ii\,I: 114240242

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Hirmawati Fanny Tampubolon Muhammad Hayat  Muhammad Husni 
Di dalam pelaksanaan kredit dengan jaminan berupa hak tanggungan bisa saja terjadi force majeure sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum bagi kreditur karena obyek jaminan yang diperjanjikan telah musnah. Di dalam skripsi permasalahan yang dibahas adalah akibat musnahnya obyek jaminan yang mengalami force majeure dalam hak tanggungan, perlindungan hukum bagi kreditur terhadap jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure, upaya penyelesaian kredit terhadap jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure.
Metode penelitian dalam skripsi ini adalah yuridis normatif yang bersifat deskriptif. Dilakukan dengan meneliti bahan pustaka atau data sekunder, yaitu melakukan penelusuran terhadap norma-norma hukum serta berbagai literatur yang berkaitan dengan perlindungan hukum kreditur pemegang jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure dalam perjanjian kredit kemudian didukung dengan penelitian lapangan (field research) dilaksanakan dengan wawancara di PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan dan wawancara dengan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah). Alat pengumpul data yang digunakan di dalam penulisan skripsi ini adalah melalui studi dokumen, bukti empiris tidak mendalam dengan melakukan wawancara, dan metode studi pustaka (library research). Metode analisis data menggunakan metode kualitatif, yaitu data yang didapat disusun secara sistematis dan selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa musnahnya obyek jaminan berupa Hak Tanggungan yang disebabkan force majeure tidak menyebabkan hapusnya utang debitur. Selanjutnya perlindungan hukum bagi kreditur pemegang jaminan berupa hak tanggungan adanya pencantuman klausula di dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang menyebutkan bahwa debitur wajib untuk mengasuransikan obyek jaminan hak tanggungan tersebut sebagai uang ganti kerugian bagi kreditur apabila obyek jaminan itu musnah disebabkan karena force majeure. Upaya penyelesaian kredit yang dilakukan oleh kreditur adalah melakukan upaya damai (pendekatan personal), yaitu kreditur meminta kepada debitur untuk mengganti obyek jaminan yang telah musnah dengan obyek jaminan yang baru dan debitur tetap membayar utangnya, namun apabila tidak berhasil dapat melalui somasi lewat pengadilan.
Kata Kunci: Hak Tanggungan, Force Majeure, Jaminan
 Mahasiswa Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum USU.  Dosen Pembimbing I, Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum USU.  Dosen Pembimbing II, Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum USU.
vi
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Dengan segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kemurahan dan rahmat-Nya yang diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat mengikuti perkuliahan dan dapat menyelesaiakan penulisan skripsi ini tepat pada waktunya.
Skripsi ini disusun guna melengkapi dan memenuhi tugas dan syarat untuk meraih gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, di mana hal tersebut merupakana kewajiban bagi setiap mahasiswa/i yang ingin menyelesaikan perkuliahannya.
Adapun judul skripsi yang penulis kemukakan “PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR PEMEGANG JAMINAN BERUPA HAK TANGGUNGAN YANG MENGALAMI FORCE MAJEURE DALAM PERJANJIAN KREDIT”. Skripsi ini membahas tentang obyek jaminan hak tanggungan yang mengalami force majeure.
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari kekurangan sehingga penulis berharap agar semua pihak dapat memeberikan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi menghasilkan sebuah karya ilmiah yang lebih baik dan lebih sempurna lagi ke depannya.
Dalam penulisan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak yang dengan ikhlas memberikan bimbingan, arahan, motivasi, dan doa sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
i
Universitas Sumatera Utara

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum, sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Syafruddin Hasibuan, S.H., M.Hum, DFM, sebagai Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. O.K. Saidin, S.H., M.H., sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
5. Bapak Dr. H. Hasyim Purba, S.H., M.Hum selaku Ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
6. Ibu Rabiatul Syahriah, S.H., M.Hum selaku Sekretaris Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
7. Bapak Muhammad Hayat, S.H.,, selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak membantu penulis dalam memberi masukan, arahan, serta bimbingan di dalam pelaksanaan penulisan skripsi ini.
8. Bapak Muhammad Husni, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II banyak membantu penulis dalam memberi masukan, arahan, serta bimbingan di dalam pelaksanaan penulisan skripsi ini.
9. Ibu Dra. Zakiah, M.Pd. sebagai Dosen Penasehat Akademik penulis selama masa perkuliahan.
10. Seluruh Saf Dosen Pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu khususnya dalam bidang hukum.
ii
Universitas Sumatera Utara

11. PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk cabang Medan khususnya untuk Bapak Arif Budi Agustanto selaku Team Leader dan Ibu Elvianna Khairi selaku Proffesional Staff yang telah banyak membantu penulis dengan memberikan data yang diperlukan dalam penyelesaian skripsi ini.
12. Keluarga Tercinta yang telah memberikan doa, semangat, dan dukungan yang begitu besar yang tiada hentinya kepada penulis.
13. Teman-teman penulis khususnya angkatan 2011 yang telah memberikan semangat dan motivasi selama penulis mengerjakan skripsi ini. Medan, 4 Maret 2015
Penulis
iii
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................. ...i DAFTAR ISI................................................................................................. ...iv ABSTRAK .................................................................................................... ...vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ........................................................................ ...1 B. Permasalahan............................................................................ ...5 C. Tujuan Penelitian .................................................................... ...6 D. Manfaat Penelitian ................................................................... ...6 E. Metode Penelitian..................................................................... ...7 F. Keaslian Penulisan ................................................................... ...12 G. Sistematika Penulisan .............................................................. ...13
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian ........................................ ...15 1. Pengertian Umum Perjanjian ............................................... ...15 2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian ........................................... ...17 3. Asas-Asas Perjanjian............................................................ ...20 4. Prestasi dan Wanprestasi...................................................... ...23 B. Pengaturan Perjanjian Kredit Perbankan Pada Umumnya....... ...26
C. Perjanjian Kredit sebagai Perjanjian Baku Antara Debitur dan Kreditur .................................................................33
iv
Universitas Sumatera Utara

BAB III PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN A. Pengertian dan Konsep Teoritis Hukum Jaminan.................... ...40 B. Hak Tanggungan atas Hak atas Tanah ..................................... ...54 C. Force Majeure dan Akibat-Akibat Hukumnya ....................... ...83
BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR PEMEGANG JAMINAN BERUPA HAK TANGGUNGAN YANG MENGALAMI FORCE MAJEURE (STUDI PADA PT. BANK MANDIRI (PERSERO), TBK CABANG MEDAN) A. Akibat Musnahnya Obyek Jaminan yang Mengalami Force Majeure dalam Hak Tanggungan pada PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk Cabang Medan .............................................................................89 B. Perlindungan Hukum Bagi Kreditur terhadap Jaminan Berupa Hak Tanggungan yang Mengalam Force Majeure pada PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk Cabang Medan ......................................................93 C. Upaya Penyelesaian Kredit terhadap Jaminan Berupa Hak Tanggungan yang Mengalami Force Majeure pada PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk Cabang Medan ........................................94
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan .............................................................................. ...98 B. Saran......................................................................................... ...100
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... ...101 LAMPIRAN
v
Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan Nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang dilaksanakan bangsa Indonesia tujuannya untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Guna mencapai tujuan tersebut, pelaksanaan pembangunan harus senantiasa memperhatikan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan berbagai unsur pembangunan, termasuk di bidang ekonomi dan keuangan.
Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya terkadang mengalami kesulitan baik karena keterbatasan dana ataupun sebab yang lain. Namun, dalam hal keterbatasan dana, sekarang dapat diatasi dengan kredit sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara pertumbuhan kegiatan ekonomi ataupun pertumbuhan kegiatan usaha suatu perusahaan dengan perkreditan. Hal ini disebabkan karena dunia perbankan ataupun lembaga keuangan bukan bank merupakan mitra usaha bagi perusahaan ataupun orang pribadi.1
Dewasa ini kegiatan kredit sangat erat hubungannya dengan para pelaku bisnis, dimana masing-masing pihak memiliki alasan dan tujuan tersendiri dalam
1 http://library.usu.ac.id/download/fh/perdata-maria4.pdf (oleh Maria Kaban) diunduh pada tanggal 21 Oktober 2014.
1
Universitas Sumatera Utara

2
memberikan kredit dengan tujuan untuk memperoleh bunga dari pokok pinjamannya. Sedangkan bagi pihak debitur atau pihak yang meminjam uang, alasannya karena tidak memilki dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya.2
Di dalam pelaksanaan kredit pada umumnya dilakukan dengan mengadakan suatu perjanjian. Perjanjian yang dibuat tersebut terdiri dari perjanjian pokok yaitu perjanjian utang piutang dan dengan perjanjian tambahan berupa perjanjian pemberian jaminan oleh pihak debitur. Pada dasarnya, pemberian kredit oleh bank diberikan kepada siapa saja yang memilki kemampuan untuk membayar kembali dengan syarat melalui suatu perjanjian utang piutang di antara kreditur dan debitur.3
Bagi perbankan, setiap pemberian kredit yang disalurkan kepada pengusaha selalu mengandung risiko. Oleh karena itu, perlu unsur pengamanan dalam pengembaliannya. Unsur pengamanan (safety) adalah suatu prinsip dasar dalam peminjaman kredit selain unsur keserasian (suitability) dan keuntungan (profitability). Bentuk pengamanan kredit dalam praktik perbankan dilakukan dengan pengikatan jaminan.4
Secara garis besar, dikenal dua macam bentuk jaminan yaitu jaminan perorangan dan jaminan kebendaan. Salah satu jenis jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum positif adalah Jaminan Hak Tanggungan.
2 http://silapcity.blogspot.com/2009/03/pengertian-kredit.html diunduh pada tanggal 21 Oktober 2014.
3 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Jaminan Fidusia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000, hlm. 1.
4 Tan Kamello, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan yang Didambakan, PT. Alumni, Bandung, 2014, hlm. 2.
Universitas Sumatera Utara

3
Hak tanggungan merupakan lembaga jaminan dengan tanah sebagai obyeknya, sehingga sudah bisa kita duga, bahwa ia merupakan hak jaminan kebendaan yang merupakan bagian daripada Hukum Jaminan pada umumnya. Karena obyeknya adalah benda, khususnya benda yang berupa tanah.5
Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah, yang dimaksud dengan Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur yang lain atau yang lazim disebut sebagai Kreditur Preferent.
Perlindungan dan pemberian kepastian hukum yang seimbang dalam Undang-Undang Hak Tanggungan diberikan kepada Kreditur, Debitur, maupun Pemberi Hak Tanggungan dan pihak ketiga yang terkait. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan bahwa Hak Tanggungan mempunyai ciri sebagai “Hak Kebendaan” (sebagaimana dalam ketentuan sebelumnya dipunyai oleh lembaga hipotik) yaitu dapat dipertahankan terhadap pihak ketiga, selalu mengikuti bendanya di tangan siapa pun benda itu berada (“droit de suit”), mudah dan pasti pelaksanaan
5 J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak Jaminan Kebendaan, Hak Tanggungan Buku 1, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm. 1.
Universitas Sumatera Utara

4
eksekusinya serta memberikan kedudukan yang diutamakan (preferent) kepada krediturnya.6
Dalam Pasal 20 ayat 1 UUHT menyebutkan bahwa apabila debitur cidera janji, kreditur pemegang hak tanggungan berhak untuk menjual obyek yang dijadikan jaminan melalui pelelangan umum menurut peraturan yang berlaku dan mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut, dengan hak mendahulu daripada kreditur-kreditur lain yang bukan pemegang hak tanggungan atau kreditur pemegang hak tanggungan dengan peringkat yang lebih rendah.
Peristiwa cidera janji atau wanprestasi yang dilakukan oleh debitur menyebabkab obyek jaminan hak tanggungan dapat dilelang untuk melunasi utangnya kepada debitur, akan tetapi bagaimana jika obyek jaminannya tersebut musnah disebabkan oleh peristiwa force majeure yang dapat mengganggu jalannya pelunasan utang debitur.
Force Majeure sebagai “keadaan memaksa” merupakan keadaan dimana seorang debitur terhalang untuk melaksanakan prestasinya karena keadaan atau peristiwa yang tak terduga pada saat dibuatnya kontrak, keadaan atau peristiwa tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada debitur, sementara si debitur tersebut tidak dalam keadaan beritikad buruk.7
Dalam Pasal 1244 KUHPerdata menyebutkan bahwa dalam hal ini, kejadian-kejadian yang merupakan force majeure tersebut tidak pernah terduga
6 Eugenia Liliawati Muljono, Tinjauan Yuridis UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan dalam Kaitannya dengan Pemberian Kredit oleh Perbankan, Harvarindo, Jakarta, 2003, hlm. 2.
7 Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007, hlm. 113.
Universitas Sumatera Utara

5
oleh para pihak sebelumnya. Sebab, jika para pihak dapat menduga sebelumnya akan adanya peristiwa tersebut, maka seyogianya hal tersebut harus sudah dinegoisasikan diantara para pihak.
Dengan perkataan lain, bahwa peristiwa yang merupakan force majeure tersebut tidak termasuk ke dalam asumsi dasar (basic assumption) dari para pihak ketika perjanjian tersebut dibuat. Dengan demikian, berdasarkan kemungkinan adanya force majeure tersebut haruslah diberikan perlindungan hukum yang jelas terhadap kreditur pemegang jaminan hak tanggungan atas kredit yang telah diberikannya kepada debitur tersebut.
Dengan uraian di atas tersebut, penulis memilih skripsi dengan judul “Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan yang Mengalami Force Majeure dalam Perjanjian Kredit (Studi Pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan)”.
A. Permasalahan Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan permasalahan dalam
penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut : 1. Apa akibat musnahnya obyek jaminan yang mengalami force majeure dalam hak tanggungan pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan? 2. Bagaimana perlindungan hukum bagi kreditur terhadap jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan?
Universitas Sumatera Utara

6
3. Bagaimana upaya penyelesaian kredit terhadap jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan?
B. Tujuan Penelitian Yang menjadi tujuan penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah: a. Untuk mengetahui akibat yang timbul dari musnahnya suatu obyek jaminan hak tanggungan yang disebabkan karena force majeure dalam sebuah perjanjian kredit pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan. b. Untuk mengetahui perlindungan hukum bagi kreditur pemegang jaminan hak tanggungan yang disebabkan karena force majeure pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan. c. Untuk mengetahui upaya penyelesaian kredit yang dilakukan oleh bank sebagai kreditur terhadap obyek jaminan hak tanggungan yang mengalami force majeure pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Medan.
C. Manfaat Penelitian Kegiatan penulisan ini diharapkan dapat memberi kegunaan baik secara
teoritis maupun secara praktis. 1. Secara Teoritis
Universitas Sumatera Utara

7
Secara teoritis, penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi bahan pengembangan pengetahuan dan wawasan serta kajian lebih lanjut bagi pembaca yang ingin mengetahui dan memperdalam tentang masalah hukum jaminan khususnya mengenai jaminan hak tanggungan. 2. Secara Praktis Secara praktis, penulisan skripsi ini dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga jaminan hak atas tanah yaitu hak tanggungan. D. Metode Penelitian Untuk menghasilkan karya tulis ilmiah yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, maka harus didukung dengan faktafakta/dalil-dalil yang akurat yang diperoleh dari suatu penelitian. Penelitian pada dasarnya merupakan suatu upaya pencarian dan bukannya sekedar mengamati dengan teliti terhadap sesuatu obyek yang mudah terpegang di tangan.8 Penelitian merupakan sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk memperkuat, membina, serta mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang merupakan kekuatan pemikiran, pengetahuan manusia senantiasa dapat diperiksa dan ditelaah secara kritis, akan berkembang terus atas dasar penelitian-penelitian yang dilakukan oleh pengasuh-pengasuhnya. Hal itu
8 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hlm. 27.
Universitas Sumatera Utara

8
terutama disebabkan oleh karena penggunaan ilmu pengetahuan bertujuan agar manusia lebih mengetahui dan mendalami.9
Metode merupakan suatu penelitian yang dilakukan oleh manusia, merupakan logika dari penelitian ilmiah, studi terhadap prosedur dan teknik penelitian, maupun sistem dari prosedur dan teknik penelitian.10. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :
1. Jenis Penelitian Jenis Penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah yuridis
normatif. Penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriptif dilakukan dengan meneliti bahan pustaka atau data sekunder dahulu dengan melakukan penelusuran terhadap norma-norma hukum serta berbagai literatur yang berkaitan dengan perlindungan hukum kreditur pemegang jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure dalam perjanjian kredit kemudian dilanjutkan dengan mengadakan penelitian terhadap data primer dengan penelitian lapangan (field research) dilaksanakan di PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, Medan dengan melakukan wawancara dengan pihak bank dan juga dengan melakukan wawancara kepada PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) selaku pejabat yang berwenang di dalam membuat Akta Pemberian Hak Tanggungan, dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas pada skripsi ini.
2. Sumber Data
9 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta, 1984, hlm.30.
10 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta, 1991, hlm. 27.
Universitas Sumatera Utara

9
Materi dalam skripsi ini diambil dari data sekunder dan didukung dengan data primer penelitian lapangan (field research) yang dilaksanakan dengan wawancara kepada pihak PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, Medan, yaitu Bapak Arif Budi Agustanto selaku Team Leader dan Ibu Elvianna Khairi selaku Proffesional Staff, serta melakukan wawancara dengan Bapak Nofril, S.H. selaku Notaris/PPAT di Medan. Adapun data sekunder yang dimaksud terdiri dari: a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer adalah dokumen-dokumen hukum yang mengikat dan diterapkan oleh pihak yang berwenang seperti peraturan perundang-undangan. Dalam penulisan skripsi ini antara lain menggunakan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah, serta bahan hukum primer lainnya yang terkait dengan pembahasan skripsi ini. b. Bahan Hukum Sekunder Bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah semua dokumen yang merupakan informasi atau hasil kajian terkait jaminan hak tanggungan, seperti hasil kajian seminarseminar, jurnal-jurnal, buku-buku, makalah-makalah, serta karya tulis ilmiah lainnya maupun tulisan-tulisan yang terdapat pada website yang terpercaya yang mengulas tentang pelaksanaan
Universitas Sumatera Utara

10
jaminan hak tanggungan dan hal lainnya yang ada kaitnya dengan pembahasan pada skripsi ini sebagai bahan acuan didalam penulisan skripsi ini. c. Bahan Hukum Tersier Bahan hukum tersier yang digunakan didalam penulisan skripsi ini adalah bahan-bahan yang memberikan petunjuk dan penjelasan dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, kamus bahasa umum, kamus hukum, ensiklopedia hukum serta bahan-bahan lain diluar bidang hukum yang relevan dan dapat digunakan untuk melengkapi data di dalam penulisan skripsi ini.
3. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpul data yang digunakan di dalam penulisan skripsi ini adalah melalui studi dokumen, bahan pustaka, serta penelitian lapangan (field research). Bahan pustaka yang dimaksud terdiri dari bahan hukum primer yaitu peraturan perundang-undangan, dokumen-dokumen dan teori yang berkaitan dengan penelitian ini serta bukti empiris tidak mendalam dengan melakukan wawancara. Penelitian lapangan (field research) dilaksanakan di PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, Medan dengan melakukan wawancara dengan pihak bank dan juga dengan melakukan wawancara kepada PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) selaku pejabat yang berwenang di dalam membuat Akta Pemberian Hak Tanggungan dengan cara mengajukan
Universitas Sumatera Utara

11
sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas pada skripsi ini. 4. Analisis Data Di dalam penulisan skripsi ini menggunakan analisis kualitatif. Metode analisis data menggunakan metode kualitatif, yaitu data yang didapat disusun secara sistematis dan selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang akan dibahas dengan cara mencatat, mengorganisasikan, mengelompokkan dan mensintesiskan data selanjutnya memaknai setiap kategori data, mencari dan menemukan pola, hubungan-hubungan, dan memaparkan temuantemuan mengenai perlindungan hukum kreditur pemegang jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure dalam perjanjian kredit dalam bentuk deskripsi naratif yang bisa dimengerti dan dipahami oleh orang lain.
Dalam penulisan skripsi, metode pendekatan yang digunakan yaitu secara deskriptif, dimulai dengan analisis terhadap perjanjian kredit perbankan sesuai dengan masalah yang diteliti. Spesifikasi suatu penelitian bisa dicapai sampai tahap deskriptif atau inferensial. Penelitian deskriptif apabila hanya menggambarkan keadaan obyek, sebaliknya penelitian inferensial tidak hanya melukiskan, tetapi dengan keyakinan tertentu mengambil kesimpulan-kesimpulan. Selanjutnya, berdasarkan kesimpulan itu nantinya dijadikan dasar deduksi untuk
Universitas Sumatera Utara

12
menghadapi persoalan khusus atau tindakan praktis dengan kejadian tertentu.11
Dengan spesifikasi demikian, diharapkan penulisan skripsi ini dapat mendeskripsikan mengenai perlindungan hukum kreditur pemegang jaminan berupa hak tanggungan yang mengalami force majeure dalam perjanjian kredit berdasarkan permasalahan yang diteliti.
E. Keaslian Penulisan Skripsi ini merupakan karya asli dari penulis. Menelusuri kepustakaan
telah banyak karya ilmiah dan hasil penelitian tentang jaminan hak tanggungan, namun berdasarkan uji bersih yang dilakukan, penelitian dengan judul “Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan berupa Hak Tanggungan yang Mengalami Force Majeure dalam Perjanjian Kredit (Studi Pada PT. Bank Mandiri, Tbk Cabang Medan)” hingga saat ini belum ada. Dengan demikian, keaslian judul penulis dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan judul di Perpustakaan Fakultas Hukum USU terdapat 4 (empat) judul yang mirip dengan judul penulis, yaitu :
1. Tinjauan yuridis terhadap penyelesaian wanprestasi debitur atas perjanjian kredit Bank dengan jaminan Hak Tanggungan Studi pada PT. Bank Negara Indonesia, Tbk SKC Polonia Medan (Alexander Johannes M. Simanjuntak 080200278).
11 Sujitno Hadi, Metodologi Research, Yogyakarta, Penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada,, 1982, hlm. 3
Universitas Sumatera Utara

13

2. Pelaksanaan pemberian kredit dengan jaminan hak tanggungan pada PT. Bank Perkreditan Rakyat Solider Badan Kredit Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang (E. Daylon Sitanggang 070200347).
3. Perjanjian kredit serta kaitannya dengan hak tanggungan UU No. 4 Tahun 1996 (Albert Pangaribuan 920200009).
4. Segi-segi hukum perjanjian kredit dengan jaminan hak tanggungan (Helinda Y. Lubis 920200707).

F. Sistematika Penulisan
Agar materi dalam skripsi ini dapat diikuti dan dimengerti dengan baik, maka skripsi ini tersusun secara sistematis yakni di mana masing-masing bab dibagi atas beberapa bagian sub bab dan berkaitan satu dengan yang lainnya. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

BAB I BAB II

PENDAHULUAN Dalam bab ini akan membahas mengenai Latar Belakang, Permasalahan, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, Keaslian Penulisan, dan Sistematika Penulisan.
TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN Dalam bab ini akan membahas mengenai Tinjauan Umum tentang Perjanjian, Pengaturan Perjanjian Kredit Perbankan pada

Universitas Sumatera Utara

14

Umumnya, dan Perjanjian Kredit sebagai Perjanjian Baku Antara Debitur dan Kreditur. Tinjauan Umum tentang Perjanjian meliputi Pengertian Umum Perjanjian, Asas-Asas Perjanjian, Syarat Syahnya suatu Perjanjian, Prestasi dan Wanprestasi.

BAB III BAB IV

PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN Dalam bab ini akan membahas mengenai Pengertian dan Konsep Teoritis Hukum Jaminan, Hak Tanggungan atas Hak atas Tanah, dan Force Majeure dan Akibat-Akibat Hukumnya. PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR PEMEGANG JAMINAN BERUPA HAK TANGGUNGAN YANG MENGALAMI FORCE MAJEURE DALAM PERJANJIAN KREDIT (STUDI PADA PT. MANDIRI, TBK MEDAN) Dalam bab ini akan membahas mengenai Akibat Musnahnya Obyek Jaminan yang Mengalami Force Majeure dalam Hak Tanggungan, Perlindungan Hukum Bagi Kreditur terhadap Jaminan Berupa Hak Tanggungan yang Mengalami Force Majeure, dan Upaya Penyelesaian Kredit terhadap Jaminan Berupa Hak Tanggungan yang Mengalami Force Majeure.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN Dalam bab ini akan membahas mengenai Kesimpulan dan Saran yang diperoleh dari penulisan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN
A. Tinjauan Umum tentang Perjanjian
1. Pengertian Umum Perjanjian
Perjanjian diatur dalam Buku III KUH Perdata, dimana didalamnya juga mengatur tentang perikatan. Buku III KUH Perdata menganut sistem terbuka, artinya memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk mengadakan perjanjian yang berisi apa saja, asalkan tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan.
Istilah “perjanjian” dalam hukum perjanjian merupakan kesepadanan dari kata “overeenkomst” dalam bahasa Belanda atau istilah ”agreement” dalam bahasa Inggris. Di dalam Pasal 1313 KUH Perdata menyebutkan bahwa suatu persetujuan adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.
Menurut Prof. Subekti, S.H., yang dimaksud dengan “Perjanjian” adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada seorang yang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Dari peristiwa ini, timbullah suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan.
Menurut Prof. Subekti, S.H., yang dimaksud dengan “Perikatan” adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang
15
Universitas Sumatera Utara

16
lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.12 Pihak-Pihak yang ada dalam suatu perjanjian disebut sebagai subyek perjanjian yang terdiri dari manusia dan badan hukum.
Jadi, istilah “hukum perjanjian” berbeda dengan istilah “hukum perikatan”. Karena dengan istilah “perikatan” dimaksudkan sebagai semua ikatan yang diatur dalam KUH Perdata, jadi termasuk juga baik perikatan yang terbit karena undangundang maupun perikatan yang terbit dari perjanjian. Dalam hal ini jika dengan hukum perikatan, termasuk baik perikatan yang terbit dari undang-undang maupun perikatan yang terbit karena undang-undang, maka dengan hukum perjanjian, yang dimaksudkan hanya terhadap perikatan-perikatan yang terbit dari perjanjian saja. Sedangkan hukum yang berlaku terhadap perjanjian pada prinsipnya adalah KUH Perdata.13
Perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya. Dalam bentuknya, perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis. Dengan demikian, hubungan antara perikatan dan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu menerbitkan perikatan. Perjanjian adalah sumber perikatan, disampingnya sumber-sumber lain. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena dua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Dapat
12 Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 2001, hlm. 1. 13 Munir Fuady, Konsep Hukum Perdata, Rajawali Pers, Jakarta, 2014, hlm. 179.
Universitas Sumatera Utara

17
dikatakan bahwa dua perkataan (perjanjian dan persetujuan) itu adalah sama artinya.14
Pihak-pihak yang ada dalam suatu perjanjian disebut sebagai subyek perjanjian yang terdiri dari manusia dan badan hukum.
2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat15 : 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian; 3. Mengenai suatu hal tertentu; 4. Suatu sebab yang halal.
Keempat syarat sahnya perjanjian di atas, dapat dibagi dalam 2 (dua) kelompok, yaitu16 :
1. Syarat Subyektif Adalah suatu syarat yang menyangkut pada subyek perjanjian apabila yang menyangkut pada subyek ini tidak dipenuhi, maka salah satu pihak dapat meminta supaya perjanjian tersebut dibatalkan. Pihak yang dapat meminta pembatalan itu adalah pihak yang tidak cakap atau pihak yang memberiksan sepakatnya (perizinannya) secara tidak bebas. Syarat subyektif terdiri dari :
14 Subekti, Op.Cit. 15 Ibid., hlm. 17. 16 Ibid.
Universitas Sumatera Utara

18
a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya Maksud dari kata sepakat adalah tercapainya persetujuan kehendak antara para pihak mengenai pokok-pokok perjanjian yang dibuat itu. Kata sepakat itu dinamakan juga perizinan, artinya bahwa kedua belah pihak yang mengadakan suatu perjanjian harus bersepakat.
b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian Pasal 1329 KUH Perdata menyebutkan bahwa setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan jika ia oleh undangundang tidak dinyatakan tidak cakap.
Berkaitan dengan hal ini, Pasal 1330 KUH Perdata menemukan tentang orang-orang yang tidak cakap membuat suatu perjanjian, yaitu : - Orang-orang yang belum dewasa; - Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan; - Orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang
dan semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu. Tetapi hal ini sudah dihapuskan berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3/1963 tanggal 4 Agustus 1963 kepada Ketua Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia. Bahwa Mahkamah Agung menganggap Pasal 108 dan Pasal 110 KUH Perdata tentang wewenang suatu isteri untuk melakukan suatu perbuatan hukum dan untuk menghadap di depan pengadilan tanpa izin atau bantuan dari suaminya sudah tidak berlaku lagi.
Universitas Sumatera Utara

19
2. Syarat Obyektif Adalah syarat yang menyangkut pada obyek perjanjian, yang meliputi suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal. Apabila syarat ini tidak dipenuhi, maka perjanjian itu batal demi hukum. Artinya dari semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian dan tidak pernah ada suatu perikatan. Syarat obyektif terdiri dari : a. Suatu hal tertentu Suatu hal tertentu maksudnya adalah obyek perjanjian. Obyek perjanjian biasanya berupa barang atau benda. Menurut Pasal 1332 KUH Perdatan menyebutkan bahwa hanya barang-barang yang dapat menjadi pokok persetujuan-persetujuan. Selain itu dalam Pasal 1333 ayat (1) KUH Perdata menyebutkan bahwa suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya. Jadi penentuan obyek perjanjian sangatlah penting untuk menentukan hak dan kewajiban para pihak dalam suatu perjanjian jika timbul perselisihan dalam pelaksanaannya. b. Suatu sebab yang halal Suatu sebab yang halal berhubungan dengan isi perjanjian. Menurut pengertiannya, “sebab causa” adalah isi dan tujuan perjanjian, dimana hal tersebut tidak boleh bertentangan dengan undangundang, ketertiban umum dan kesusilaan Pasal 1337 KUH Perdata.
Universitas Sumatera Utara

20
Sedangkan dalam Pasal 1335 KUH Perdata menyebutkan bahwa suatu persetujuan tanpa sebab, atau yang telah dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan. Berkaitan dengan hal ini, maka akibat yang timbul dari perjanjian yang berisi sebab yang tidak halal adalah batal demi hukum. Dengan demikian tidak dapat memenuhi pemenuhannya di depan hukum.17
3. Asas-Asas Perjanjian Menurut Salim H.S. didalam Hukum Kontrak atau Hukum Perjanjian, dikenal adanya 5 (lima) asas penting, yaitu18 :
a. Asas Kebebasan Berkontrak Asas Kebebasan Berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata menyebutkan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Asas Kebebasan Berkontrak memberikan kebebasan kepada para pihak untuk : (a) membuat atau tidak membuat perjanjian, (b) mengadakan perjanjian dengan siapapun, (c) menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya, (d) menentukan bentuk perjanjian yaitu tertulis dan lisan.
17 Ibid., hlm. 20 18 Salim HS., Hukum Kontrak : Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, hlm. 9.
Universitas Sumatera Utara

21
b. Asas Konsensualisme Asas Konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUH Perdata. Dalam pasal itu ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian yaitu adanya kesepakatan kedua belah pihak. Asas Konsensualisme merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal tetapi cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan merupakan persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat kedua belah pihak. Asas Konsesualisme yang dikenal dalam KUH Perdata adalah berkaitan dengan bentuk perjanjian. c. Asas Kepastian Hukum (Asas Pacta Sunt Survanda) Asas Pacta Sunt Servanda disebut juga dengan Asas Kepastian Hukum. Asas ini berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas ini merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak sebagaimana layaknya sebuah undang-undang. Mereka tidak boleh melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak. Asas Pacta Sunt Servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata menyebutkan bahwa perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang.
Universitas Sumatera Utara

22
Namun dalam perkembangannya, Asas Pacta Sunt Servanda diberi arti pactum, yang berarti sepakat tidak perlu dikuatkan dengan sumpah dan tindakan formalitas lainnya. Sedangkan nudus pactum sudah cukup dengan sepakat saja.
d. Asas Iktikad Baik (Goede Trouw) Asas Iktikad Baik dapat disimpulkan dari Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata menyebutkan bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Asas Iktikad Baik merupakan asas bahwa para pihak, yaitu kreditur dan debitur, harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan dan keyakinan teguh atau kemauan baik para pihak. Asas ini dibagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu : (a) Iktikad Baik Nisbi, orang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subjek perjanjian. (b) Iktikad Baik Mutlak, penilaiannya terletak pada akal sehat dan keadilan, dengan dibuat ukuran yang obyektif untuk menilai keadaan atau membuat penilaian yang tidak memihak menurut norma-norma yang obyektif.
e. Asas Kepribadian (Personalitas) Asas Kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan membuat kontrak hanya untuk kepentingan
Universitas Sumatera Utara

23
perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUH Perdata. Pasal 1315 menyebutkan bahwa pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri. Pasal 1340 menyebutkan bahwa perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya. Namun ketentuan tersebut ada pengecualiannya sebagaimana diatur dalam Pasal 1317 KUH Perdata menyebutkan bahwa dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, apabila suatu perjanjian dibuat untuk dirinya sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung suatu syarat semacam itu. Sedangkan dalam Pasal 1318 KUH Perdata tidak hanya mengatur perjanjian untuk diri sendiri tetapi juga untuk kepentingan ahli warisnya atau orang-orang yang memperoleh hak dari padanya. Pasal 1317 KUH Perdata mengatur perjanjian untuk kepentingan pihak ketiga, sedangkan Pasal 1318 KUH Perdata mengatur perjanjian untuk kepentingan dirinya sendiri, ahli waris, dan orangorang yang memperoleh hak darinya.
3. Prestasi dan wanprestasi Suatu perjanjian dapat menimbulkan prestasi dan kontra prestasi bagi para pihak dari perjanjian tersebut. Prestasi (performance) dari suatu perjanjian adalah pelaksanaan terhadap hal-hal yang telah diperjanjikan atau yang telah ditulis
Universitas Sumatera Utara

24
dalam suatu perjanjian oleh kedua belah pihak yang telah mengikatkan diri untuk itu. Jadi, memenuhi prestasi dalam perjanjian adalah ketika para pihak memnuhi janjinya.19
Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1234 KUH Perdata, maka prestasi dari suatu perjanjian terdiri dari :
1. Memberikan sesuatu; 2. Berbuat sesuatu; 3. Tidak berbuat sesuatu.
Suatu perjanjian dapat dikatakan dilaksanakan dengan baik apabila para pihak telah memenuhi syarat yang telah diperjanjikan. Namun demikian pada kenyataannya, sering dijumpai bahwa pelaksanaan dari suatu perjanjian tidak dapat berjalan dengan baik karena salah satu pihak wanprestasi. Dapat pula dikemukakan, bahwa ia lalai atau alpa atau ingkar janji atau bahkan melanggar perjanjian dengan melakukan suatu hal yang tidak boleh dilakukan.
Pengertian wanprestasi, yang kadang-kadang disebut juga dengan istilah “cidera janji” adalah kebalikan dari pengertian prestasi. Dalam bahasa Inggris disebut dengan “default” atau “nonfulfillment” atau “breach of contract”. Yang dimaksudkan adalah tidak dilaksanakannya suatu prestasi atau kewajiban sebagaimana mestinya yang telah disepakati bersama, seperti yang tersebut dalam kontrak yang bersangkutan.20
19 Munir Fuady, Konsep Hukum Perdata, Rajawali Pers Jakarta, 2014, hlm. 207. 20 Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis Menata Bisnis Modern di Era Global, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2012, hlm. 17.
Universitas Sumatera Utara

25
Menurut pendapat R. Subekti, wanprestasi (kelalaian atau kealpaan) seorang debitur dapat berupa21 :
a. tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya; b. melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana
dijanjikan; c. melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat; d. melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya. Hukuman atau akibat-akibat bagi debitur yang wanprestasi ada 4 (empat) macam, yaitu22 : 1. membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau membayar ganti
rugi; 2. pembatalan perjanjian; 3. peralihan risiko; 4. membayar biaya perkara jika sampai diperkarakan di pengadilan. Debitur yang dituduh lalai atau wanprestasi oleh krediturnya dapat melakukan pembelaan guna mencegah terjadinya eksekusi obyek jaminan atau menghindari kewajiban membayar ganti rugi. Pembelaan debitur dapat meliputi 3 (tiga) macam, yaitu23 :
21 Subekti, Op.Cit., hlm. 45. 22 Ibid. 23 Iswi Hariyani dan R. Serfianto D.P., Bebas Jeratan Utang Piutang, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2010, hlm. 68.
Universitas Sumatera Utara

26
1. Debitur mengajukan alasan adanya keadaan memaksa (force majeure/overmacht) sehingga debitur tidak dapat melaksanakan kewajibannya.
2. Debitur mengajukan alasan bahwa pihak kreditur juga telah lalai melaksanakan kewajiban sesuai perjanjian, misalnya kreditur terlambat mencairkan kredit.
3. Debitur mengajukan alasan bahwa pihak kreditur telah menetapkan aturan kredit yang tidak wajar misalnya menetapkan bunga dan denda yang terlalu tinggi atau menetapkan syarat agunan yang terlalu ketat.
B. Pengaturan Perjanjian Kredit Perbankan pada Umumnya Yang dimaksud dengan perkreditan adalah suatu penyediaan uang atau
yang dipersamakan dengannya, yang didasari atas perjanjian pinjam-meminjam antara pihak kreditur (bank, perusahaan atau perorangan) dengan pihak debitur (peminjam), yang mewajibkan pihak debitur untuk melunasi hutangnya dalam jangka waktu tertentu, di mana sebagai imbalan jasanya, kepada pihak kreditur (pemberi pinjaman) diberikan hak untuk mendapatkan bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan selama masa kredit tersebut berlangsung.24
Istilah kredit dapat didefinisikan dalam beberapa golongan, yaitu : 1. Berdasarkan Etimologis
24 Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis Menata Bisnis Modern di Era Global, Op.Cit., hlm.111.
Universitas Sumatera Utara

27
Kredit berasal dari bahasa Yunani, yaitu “credere” yang berarti kepercayaan (trust atau faith). Dengan demikian istilah kredit memiliki arti khusus, yaitu meminjamkan uang (atau penundaan pembayaran). Apabila orang mengatakan membeli secara kredit maka hal itu berarti si pembeli tidak harus membayarnya pada saat itu juga.25
2. Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan a. Pasal 1 angka 12 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menyebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain, yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan. b. Pasal 1 butir 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menyebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunsai utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
25 H. Budi Untung, Kredit Perbankan di Indonesia, Andi Yogyakarta, Yogyakarta, 2005, hlm.1.
Universitas Sumatera Utara

28
c. Pasal 1 angka 5 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum (disebut PBI 7/2005) menyebutkan bahwa penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga, termasuk : - Cerukan (overdraft), yaitu saldo negatif pada rekening giro nasabah yang tidak dapat dibayar lunas pada akhir hari; - Pengambilalihan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang; - Pengambilalihan atau pembelian kredit dari pihak lain.”
3. Berdasarkan Pendapat Ahli Raymond P. Kent dalam bukunya Money and Banking mengatakan
bahwa kredit adalah hak untuk menerima pembayaran atas kewajiban untuk melakukan pembayaran pada waktu yang diminta atau pada waktu yang akan datang karena penyerahan barang-barang sekarang.26
Menurut O.P. Simorangkir, kredit adalah pemberian prestasi (misalnya uang, barang) dengan batas prestasi (kontra prestasi) akan terjadi pada waktu mendatang. Dewasa ini kehidupan ekonomi modern
26 Thomas Suyatno, dkk, Dasar-Dasar Perkreditan, Gramedia Pustaka Umum, Jakarta, 2007, hlm. 12.
Universitas Sumatera Utara

29
adalah prestasi uang, maka transaksi kredit menyangkut uang sebagai alat kredit yang menjadi pembahasan.27
Kredit berfungsi kooperatif antara si pemberi kredit dan si penerima kredit atau antara kreditur dan debitur. Mereka menarik keuntungan dan saling menanggung risiko. Singkatnya, kredit dalam arti luas didasarkan atas komponen-komponen kepercayaan risiko, dan pertukaran ekonomi pada masa-masa mendatang.28
Peraturan tentang perkreditan atau regulasi perkreditan di sektor perbankan secara nasional diatur dalam UU Perbankan dan Peraturan Bank Indonesia. Di samping itu, pengaturan perkreditan juga diatur secara internal di masing-masing bank dalam bentuk Pedoman Perkreditan atau Peraturan Perkreditan.29
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan di dalam Pasal 8 ayat (2) secara tegas meyebutkan bahwa Bank Umum wajib memiliki dan menerapkan Pedoman Perkreditan dan Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
Pedoman Perkreditan yang harus ada di masing-masing Bank Umum, berdasarkan Penjelasan Pasal 8 ayat (2) dari UU Nomor 10 Tahun 1998, harus memuat aturan tentang :
27 H.R. Daeng Naja, Hukum Kredit dan Bank Garansi, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm. 123.
28Ibid. 29 Iswi Hariyani dan R. Serfianto D.P., Op.Cit., hlm. 101.
Universitas Sumatera Utara

30
a. Perjanjian kredit harus dibuat dalam bentuk perjanjian tertulis; b. Bank harus memiliki keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan
nasabah debitur untuk melunasi utangnya. Keyakinan tersebut harus berdasarkan hasil penilaian terhadap Prinsip 5-C (Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition of Economy); c. Bank wajib menyusun dan menerapkan prosedur pemberian kredit atau Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah; d. Bank wajib memberikan informasi yang jelas mengenai prosedur dan persyaratan kredit atau pembiayaan berda

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

110 3490 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 891 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 804 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 525 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 676 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1174 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1066 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 672 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 947 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1165 23