Pola Sebaran dan Kajian Stok Ikan Tembang (Sardinella fimbriata) di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten

1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Ikan tembang (Sardinella fimbriata) merupakan sumberdaya ikan pelagis
kecil yang merupakan salah satu komoditas penting dalam perikanan dan salah satu
sumberdaya perikanan yang melimpah di perairan Indonesia, termasuk di Selat
sunda, Banten. Ikan tembang ini sangat digemari masyarakat untuk dikonsumsi
dengan nilai jual yang relatif terjangkau bagi semua kalangan ekonomi masyarakat.
Selain dalam pemenuhan gizi, ikan tembang juga berperan dalam peningkatan
lapangan

kerja

masyarakat

sekitar

melalui

jasa

pengolahan

maupun

perdagangannya. Namun tuntutan permintaan kebutuhan akan sumberdaya ikan
tersebut akan diikuti oleh adanya tekanan eksploitasi sumberdaya ikan yang
semakin intensif (Widodo & Suadi 2006).
Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di dunia dan kebutuhan akan
bahan pangan dan gizi yang lebih baik, maka permintaan akan ikan terus
meningkat dari tahun ke tahun termasuk ikan tembang. ADB (2002) in Widodo &
Suadi (2006) mencatat permintaan ikan di Asia meningkat mencapai 69 juta ton
pada tahun 2010 atau setara dengan 60% dari total permintaan ikan dunia. Adanya
permintaan ikan yang meningkat ini tentunya harus diimbangi dengan upaya
tangkap yang digunakan dalam penangkapan ikan di beberapa wilayah tertentu
khususnya Labuan Banten.
Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan tembang adalah purse
seine. Selain itu untuk daerah Labuan sendiri juga menggunakan rampus dengan
alat bantu pancing obor (penganak). Alat-alat tangkap ini tidak dikhususkan untuk
menangkap ikan tembang melainkan ikan pelagis kecil dan terkadang ikan pelagis
besar seperti tongkol juga ikut tertangkap. Ikan tembang juga bisa tertangkap
dengan menggunakan dogol yang pada dasarnya untuk menangkap ikan-ikan
demersal. Penangkapan ikan tembang dengan menggunakan alat tangkap rampus
dan alat bantu penganak termasuk kedalam perikanan tradisional. Perikanan seperti
ini dicirikan dengan sedikitnya modal yang digunakan, teknologi penangkapan
yang sederhana, daerah penangkapan di sekitar pantai, dan trip operasinya bersifat
harian. Dengan banyaknya upaya penangkapan ikan tembang tidak menutup

2

kemungkinan adanya penambahan produksi tangkapan ikan tembang tiap tahunnya.
Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1 mengenai produksi ikan tembang di Kabupaten
Pandeglang.

Tabel 1. Hasil tangkapan dan upaya penangkapan ikan tembang
Tahun

Upaya tangkap (trip)

Hasil tangkapan (ton)

2005

4745

1429,8

2006

4357

1029,8

2007

4683

1021,8

2008

5922

2549,0

2009

6370

2808,0

Sumber : Dinas Kabupaten Pandeglang (2005-2009)

Meningkatnya hasil produksi tiap tahunnya, tidak menutup kemungkinan
adanya tangkap lebih ikan tembang pada masa yang akan datang. Oleh karena itu
perlu adanya kajian daerah penangkapan ikan agar bisa mengetahui sebaran serta
musim penangkapan ikan sehingga bisa mengetahui kondisi aktual sumberdaya
tersebut dan dapat mengambil kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan demi
menjaga kelestarian sumberdaya alam.

1.2

Perumusan Masalah
Sumberdaya perikanan memiliki sifat dapat pulih (renewable), namun harus

dipertimbangkan tingkat pemanfaatannya agar tidak menimbulkan dampak negatif
seperti adanya penangkapan yang berlebihan baik sekarang maupun masa yang
akan datang. Untuk itu perlu adanya pengetahuan mengenai daerah penangkapan
ikan agar dapat mengetahui pola sebaran dan musiman ikan, sehingga dapat
mengetahui daerah yang sudah atau belum tereksploitasi serta mengupayakan
pengelolaan terhadap keberadaan stok ikan. Ikan tembang tergolong ikan pelagis
yang hidup di perairan pantai dan bersifat bergerombol pada area luas yang
memanfaatkan plankton sebagai makanannya (Giannoulaki et al. 2006).
Penyebaran

plankton di perairan di pengaruhi oleh angin dan arus, sehingga

keberadaan ikan tembang ini juga akan berpindah-pindah apabila sedang mencari
makan maupun memijah. Selain arus penyebaran ikan tembang ini juga akan
dipengaruhi oleh musim sehingga diperlukan kajian mengenai pola sebaran ini.

3

Pada periode sebelumnya, kajian stok ikan lebih didasarkan pada pendekatan
biologi dan belum ada dilakukan dengan pendekatan ekonomi (Maximum
Economic Yield, MEY) maka adanya estimasi potensi, sebaran, dan status
pemanfaatan mengenai suatu jenis usaha perikanan melalui suatu bentuk
pendekatan

bioekonomi

yang

memadukan

antara

aspek

ekonomi

yang

mempengaruhi industri penangkapan dan faktor biologis yang menentukan
produksi dan suplai ikan sangat diperlukan. Dengan mengetahui area penangkapan
(fishing ground) ikan tembang maka pola sebaran ikan tembang secara spasial
dapat diketahui dan kontrol terhadap sumberdaya pun akan lebih tepat dilakukan
bila mengetahui bagaimana pola sebarannya.

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji sebaran spasial dan

musim tangkapan ikan tembang di Labuan Banten, mengestimasi hasil tangkap
ikan dan nilai ekonominya, serta implikasinya bagi pengelolaan.

1.4

Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pola

sebaran dari ikan tembang di perairan Labuan, Banten serta sebagai bahan
pertimbangan untuk pengambilan kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya
perikanan

agar

dapat

menjaga

kelestarian

mempertimbangkan faktor bioekonominya.

sumberdaya

ikan

dengan

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sumberdaya Ikan Tembang
2.1.1 Klasifikasi dan deskripsi
Klasifikasi ikan Tembang (Gambar 1) menurut www.fishbase.org (2012)
adalah sebagai berikut :
Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Ordo

: Clupeiformes

Famili

: Cluipeidae

Subfamili

: Clupeinae

Genus

: Sardinella

Spesies

: Sardinella fimbriata, Valenciennes (1847)

Nama inggris : Fringescale sardinella

Gambar 1 : Ikan Tembang (Sardinella fimbriata)

Ikan Tembang (Sardinella fimbriata) memiliki bentuk badan yang
memanjang dan pipih. Lengkung kepala bagian atas sampai di atas mata agak
hampir lurus dan setelah mata sampai awal dasar sirip punggung agak cembung.
Tinggi badan lebih besar dari pada panjang kepala. Mata tertutup oleh kelopak
mata. Awal dasar sirip punggung sebelum pertengahan badan. Dasar sirip dubur
sama panjang dengan dasar sirip punggung. Kepala dan badan bagian atas hijau
kebiruan, sedangkan bagian bawah putih keperakan. Sirip-sirip berwarna
keputihan. Sirip punggung (dorsal) mempunyai 18 jari-jari lemah, sirip dada

5

(pectoral) mempunyai 15 jari-jari lemah, sirip dubur (anal) memiliki 18 jari-jari
lemah dan sirip perut (ventral) memiliki 8 jari-jari lemah (Lelono et al., 1998 in
Bintoro 2005)
Bentuk badan fusiform, pipih dengan sisik duri di bagian bawah badan, awal
sirip punggung sebelum pertengahan badan dan berjari-jari lemah 17-20, dasar sirip
dubur pendek dan jauh di belakang dasar sirip dorsal serta berjari-jari lemah 16-19,
tapisan insang halus, berjumlah 60-80 pada busur insang pertama bagian bawah,
pemakan plankton. Beberapa dari jenis Sardinella ada yang hampir menyerupai
satu sama lainnya, tapi ada yang mempunyai beberapa perbedaan morfologis, yang
menandakan bahwa ikan itu berbeda spesiesnya (Dwiponggo 1982).

2.1.2. Penyebaran dan tingkah laku ikan
Ikan tembang adalah ikan permukaan yang hidup di perairan pantai serta
suka bergerombol pada area yang luas sehingga sering tertangkap bersama ikan
lemuru sampai pada kedalaman sekitar 200 meter (Nybakken 1988). Ikan ini sering
disalah artikan sebagai spesies lain yaitu S. gibossa dan S. albella karena bentuk
nya yang sangat mirip. Ikan tembang biasanya hidup pada kisaran 0-30 m. Panjang
tubuh ikan tembang mencapai 13 cm. Telur dan larva ikan tembang ditemukan di
sekitar perairan mangrove atau bakau. Menurut Pradini (1998) in Rosita (2007)
ikan tembang seperti ikan clupeid lainnya yang memanfaatkan plankton sebagai
makanannya. Menurut Robiyanto (2006) makanan utama ikan tembang di ujung
pangkah pada bulan Juli – Desember adalah Bacillariophieae, makanan pelengkap
terdiri dari kelompok Crustacea, serta makanan tambahan berupa Cilliata dan
Dinophyceae. Dari jenis tersebut maka ikan tembang tergolong omnivora
cenderung herbivora.
Menurut Hanson in Pratiwi (1991) faktor-faktor yang mempengaruhi
penyebaran suatu jenis ikan diantaranya adalah kompetisi antar spesies dan intra
spesies, heterogenitas lingkungan fisik, reproduksi, ketersediaan makanan, arus air,
dan angin. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bakun Md (1980); Laevastu &
Hayes (1981) in Mandelssohn R & Curry P (1989). Ikan yang berada didaerah
tropik akan melakukan ruaya dengan atau tanpa adanya persiapan. Seperti halnya
pada saat mencari makan maka ikan akan beruaya dengan adanya persiapan, namun

6

apabila keadaan perairan disekitarnya berubah secara mendadak ( masuknya
pollutant ) maka tidak ada kesempatan bagi ikan untuk melakukan persiapan.
Demikian juga kalau di pantai yang terjadi angin ribut , maka ikan akan berenang
ketengah untuk menghindarinya. Pergerakan ruaya ikan ke daerah pemijahan
mengandung

tujuan

penyesuaian

dan

peyakinan

tempat

yang

paling

menguntungkan untuk perkembangan telur dan larva ikan. Ikan Sardinella aurita
betina yang sudah dewasa ditemukan hampir setiap tahun di pantai Afrika Barat
dari Mediterania ke Cape Frio. Pada saat pemijahan ikan Sardinella akan berada
pada Continental Shelf , kemudian larva akan hanyut ke pantai yang lebih dangkal
(Troadec & Garcia 1980 in Brainerd TR 1991).
Penyebaran ikan tembang meliputi perairan Indonesia sampai ke utara
Taiwan, ke selatan sampai ke ujung utara Australia dan ke barat sampai Laut
Merah. Penyebaran di Indonesia meliputi Laut Jawa, Sulawesi Selatan, Selat
Malaka, dan Laut Arafura (www.kkp.go.id).

2.2. Alat Tangkap Ikan Tembang
Ikan tembang (S. fimbriata) termasuk ke dalam jenis ikan pelagis kecil yang
ditangkap dengan berbagai macam alat tangkap seperti purse seine, gillnet, payang,
bagan dan jaring insang hanyut. Menurut Aziz (1989) in Monintja et al. (1994),
alat penangkap ikan yang termasuk selektif adalah gillnet, ukuran ikan yang
tertangkap akan memiliki nilai maksimum pada beberapa ukuran ikan optimum dan
menurun untuk ukuran yang lebih besar maupun lebih kecil dari ukuran tersebut.
Selektivitas gillnet dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu yang pertama adalah
dengan cara membandingkan hasil tangkapannya terhadap alat penangkapan lain
yang tidak selektif (trawl) yang sudah diketahui selektivitasnya. Cara kedua adalah
dengan membandingkan hasil tangkapan dari dua atau lebih gillnet dengan ukuran
mata jaring yang berbeda.
Rousenfell (1975) in Monintja et al. (1994), menyatakan gillnet tidak efektif
dioperasikan apabila ikan dapat melihat jaring, sehingga sebagian besar gillnet
dioperasikan pada malam hari, terutama jenis drift gillnet. Gillnet adalah jaring
yang berbentuk empat persegi panjang, mempunyai ukuran mata jaring sama pada
seluruh badan jaring, dimana lebar jaring lebih pendek dari panjangnya. Pemilihan

7

ukuran mata jaring merupakan faktor yang penting dalam pengoperasian gillnet
karena besarnya ukuran mata jaring akan mempengaruhi ukuran ikan yang
tertangkap secara terjerat. Terdapat kecenderungan bahwa ukuran mata jaring
tertentu hanya menjerat ikan-ikan yang mempunyai kisaran ukuran fork length
tertentu. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa ukuran mata
jaring 1,75 inch; 2,0 inch; dan 2,25 inch dengan panjang ikan tembang yang
tertangkap adalah antara 9 cm hingga 14 cm (Monintja et al. 1994).

2.3. Pola Musim Penangkapan
Informasi yang tepat diperlukan untuk melakukan operasi penangkapan yang
efisien

seperti informasi mengenai musim penangkapan yang baik. Informasi

mengenai pola musim penangkapan digunakan untuk menentukan waktu yang tepat
dalam pelaksaan operasi penangkapan (Dajan 1984 in Bahdad 2006). Penggunaan
pendekatan metode rata-rata bergerak (moving average) dapat dilakukan untuk
perhitungan operasi penangkapan menggunakan data hasil penangkapan seperti hal
nya data lainnya yang bersifat musiman. Pendekatan tersebut bertujuan untuk
menghilangkan variasi musiman, residu, dan adakalanya sebagian dari variasi
siklus agar diperoleh trend yang bercampur dengan siklus.
Variasi musim adalah fluktuasi-fluktuasi di sekitar trend yang berulang
secara teratur tiap tahun, residu merupakan jenis fluktuasi yang disebabkan oleh
faktor-faktor random. Trend (kecenderungan) menggambarkan gerakan deret
berkala secara rata-rata dan variasi siklus adalah variasi deret berkala yang meliputi
periode setahun lebih, dengan lama dan amplitudo siklus tidak pernah sama. Nilai
trend bercampur siklus ini akan digunakan sebagai pembagi deret berkala asal
untuk memperoleh data berkala yang bebas dari trend dan siklus. Variasi musim
murni diperoleh dengan cara merata-ratakan deret berkala yang bebas dari trend
dan siklus.
Metode rata-rata bergerak (moving average) memiliki keuntungan yaitu dapat
mengisolasi fluktuasi musiman sehingga dapat menetukan saat yang tepat untuk
melakukan operasi penangkapan dan kecenderungan yang biasa terdapat pada
metode deret waktu dapat dihilangkan. Kerugian dari metode rata-rata bergerak

8

(moving average) adalah tidak dapat menghitung pola musim penangkapan sampai
tahun terakhir data (Bahdad 2006).

2.4. Tangkapan per Satuan Upaya
Tangkapan per satuan upaya (TPSU) merupakan jumlah atau bobot hasil
tangkapan yang diperoleh dari satuan alat tangkap atau dalam waktu tertentu, yang
merupakan indeks kelimpahan suatu stok ikan (UU No. 45 tahun 2009). TPSU
dapat dipengaruhi oleh satuan waktu, besarnya stok, kegiatan penangkapan, dan
kondisi lingkungan di daerah penangkapan ikan. Apabila satuan waktu yang
digunakan adalah tahun, perubahan kondisi lingkungan perairan dalam satu tahun
tertentu memiliki kecenderungan pola yang sama pada tahun-tahun berikutnya
(DKP DKI Jakarta 2005 in Damayanti 2007).

2.5. Bioekonomi
Istilah bioekonomi diperkenalkan oleh seorang ekonom dari Kanada yaitu
Scott Gordon. Gordon pertama kali menggunakan pendekatan ekonomi untuk
menganalisa pengelolaan sumberdaya ikan yang optimal, dengan menggunakan
basis biologi yang sebelumnya diperkenalkan oleh Schaefer seorang biolog
sehingga kemudian dikenal dengan istilah pendekatan bioekonomi atau model
Gordon Schaefer.
Model Gordon Schaefer ini dibangun dari model produksi surplus yang telah
dikembangkan sebelumnya oleh Graham (1935). Pada model produksi surplus
pertumbuhan populasi ikan diasumsikan mengikuti fungsi pertumbuhan logistik
dimana perubahan stok ikan tergantung dari pertumbuhan alamiah (r), stok ikan
(x), dan daya dukung lingkungan (k).
Pendekatan bioekonomi Gordon Schaefer merupakan pendekatan sederhana
dalam pengelolaan sumberdaya ikan yang bertujuan untuk melihat aspek ekonomi
dengan kendala aspek biologi sumberdaya ikan, yaitu berapa tingkat input (jumlah
kapal, GT, trip, dan sebagainya) yang harus dikendalikan untuk menghasilkan
manfaat ekonomi yang maksimum ( Fauzi 2010).
Didalam akses tidak terbatas, net benefit atau rente ekonomi
perikanan adalah positif ketika tingkat upaya aktual kurang dari tingkat upaya open

9

access dan menjadi nol ketika biaya total sama dengan penerimaan total. Daerah
dibawah kurva penerimaan total dan diatas kurva biaya total menggambarkan rente
ekonomi yang mana akan maksimal pada kondisi MEY dan berkaitan dengan
tingkat upaya MEY, dimana perbedaan antara kurva penerimaan total dan biaya
total paling besar. Posisi kurva biaya total adalah tergantung dari perubahan tingkat
MEY dan open access ( Seijo et al. 1998 in
2.6. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan
Dalam Undang–undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, dijelaskan
bahwa pengelolaan sumberdaya ikan Hasanuddin 2005).
adalah semua upaya yang dilakukan bertujuan untuk mencapai kelangsungan
produktivitas sumberdaya hayati perairan secara optimal dan terus menerus.
Dwiponggo (1983) in Pranggono (2003) mengatakan bahwa tujuan
pengelolaan sumberdaya perikanan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu :
1.

Pemeliharaan proses sumberdaya perikanan, dengan memelihara ekosistem
penunjang bagi kehidupan sumberdaya ikan.

2.

Menjamin pemanfaatan berbagai jenis ekosistem secara berlanjut.

3.

Menjaga keanekaragaman hayati (plasma nuftah) yang mempengaruhi ciriciri, sifat dan bentuk kehidupan.

4.

Mengembangkan perikanan dan teknologi yang mampu menumbuhkan
industri yang mengamankan sumberdaya secara bertanggung jawab.
Sutono (2003) menyebutkan beberapa pendekatan pengelolaan sumberdaya

perikanan, yaitu :
1.

Pendekatan dengan pengaturan musim penangkapan
Pendekatan pengelolaan sumberdaya perikanan dengan pengaturan musim

penangkapan dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada sumberdaya
ikan untuk berkembang biak. Secara biologi ikan mempunyai siklus untuk
memijah, bertelur, telur menjadi larva, ikan muda dan baru kemudian menjadi ikan
dewasa. Bila salah satu dari siklus tersebut terpotong, misalnya karena
penangkapan, maka sumberdaya ikan tidak dapat melangsungkan daur hidupnya.
Hal ini dapat menyebabkan ancaman kepunahan sumberdaya ikan tersebut. Oleh
karena itu diperlukan suatu pengaturan musim penangkapan ikan.

10

Pengaturan musim penangkapan ikan dapat efektif pada negara – negara yang
sistem hukumnya dilaksanakan dengan ketat. Bila penegakan hukum tidak dapat
dilaksanakan, maka pengaturan musim penangkapan ikan tidak dapat efektif,
karena tentu terjadi banyak pelanggaran. Dalam pengaturan musim penangkapan
ikan juga perlu diketahui terlebih dahulu sifat biologi dari sumberdaya ikan
tersebut. Sifat biologi dimaksud meliputi siklus hidup, lokasi dan waktu
terdapatnya, serta bagaimana reproduksinya. Pengaturan musim penangkapan dapat
dilaksanakan secara efektif bila telah diketahui antara musim ikan dan bukan
musim ikan dari jenis sumberdaya ikan tersebut. Selain itu juga perlu diketahui
musim ikan dari jenis ikan yang lain, sehingga dapat menjadi alternatif bagi
nelayan dalam menangkap ikan. Misalnya, bila terhadap suatu jenis ikan dilarang
untuk ditangkap pada waktu tertentu, maka nelayan dapat menangkap jenis lain
pada waktu yang sama.
2.

Pendekatan dengan penutupan daerah penangkapan
Penutupan daerah penangkapan dimaksudkan untuk memberi kesempatan

pada sumberdaya ikan yang mendekati kepunahan untuk berkembang kembali
sehingga stoknya dapat bertambah. Guna menentukan suatu daerah penangkapan
ditetapkan untuk ditutup, maka perlu dilakukan penelitian tentang stok sumberdaya
ikan yang ada pada daerah tersebut, dimana dan kapan terdapatnya, serta
karakteristik lokasi yang akan dilakukan penutupan daerah penangkapan.
Penutupan daerah penangkapan juga dapat dilakukan terhadap daerah–daerah
yang merupakan habitat vital, seperti daerah hutan bakau dan daerah terumbu
karang. Seperti diketahui bahwa daerah vital tersebut merupakan daerah berpijah
(spawning ground) dan daerah asuhan (nursery ground). Penutupan daerah
penangkapan untuk daerah vital dimaksudkan agar telur–telur ikan, larva dan ikan
yang masih kecil dapat tumbuh menjadi ikan dewasa. Untuk mendukung kebijakan
penutupan daerah penangkapan, diperlukan pengawasan yang ketat oleh pihak
aparat. Demikian pula halnya dengan peraturan yang ada, perlu ditetapkan
peraturan yang bersifat represif. Upaya ini dilakukan demi menjaga kelestarian
sumberdaya ikan jenis tertentu yang mengalami ancaman kepunahan.
3.

Pendekatan dengan selektifitas alat tangkap
Kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan dengan pendekatan selektifitas

alat tangkap bertujuan untuk mencapai atau mempertahankan struktur umur atau

11

struktur ukuran ikan dalam suatu stok pada suatu daerah. Selektifitas alat tangkap
dilakukan untuk menyeleksi ikan yang akan ditangkap. Dengan demikian hanya
ikan–ikan yang telah mencapai ukuran tertentu saja yang ditangkap. Sementara
ikan–ikan yang lebih kecil tidak tertangkap, sehingga dapat memberi kesempatan
bagi ikan–ikan kecil untuk tumbuh menjadi besar. Contoh penerapan pengelolaan
sumberdaya ikan dengan pendekatan selektifitas alat tangkap ialah :
a.

Penentuan ukuran minimum mata jaring (mesh size) pada alat tangkap
gill net, purse seine dan alat tangkap tarik, misalnya payang, pukat dan
sebagainya.

b.

Penentuan ukuran mata pancing pada longline.

c.

Penentuan lebar bukaan pada alat tangkap perangkap

Dalam pelaksanaan pengelolaan sumberdaya perikanan dengan selektifitas
alat tangkap ini, peran nelayan sangat penting. Pengetahuan dan kesadaran nelayan
akan

pentingnya

pelestarian

sumberdaya

ikan

merupakan

faktor

utama

keberhasilan kebijakan pengelolaan ini. Kendala pelaksanaan kebijakan dengan
selektifitas alat tangkap yaitu diperlukan biaya yang tinggi untuk memodifikasi alat
tangkap yang sudah ada. Sehingga peran nelayan untuk memodifikasi alat
tangkapnya sangat diharapkan sesuai dengan keadaan lokasi penangkapannya.
4.

Pendekatan dengan pelarangan alat tangkap
Pengelolaan sumberdaya ikan dengan pendekatan pelarangan alat tangkap

didasarkan pada adanya penggunaan bahan atau alat berbahaya dalam menangkap
ikan baik bagi ekosistem perairan maupun berbahaya bagi yang menggunakan,
misalnya penggunaan racun ikan dan bahan peledak (bom ikan). Tujuan dari
pelarangan penggunaan alat atau bahan berbahaya ini adalah melindungi
sumberdaya ikan dan ekosistem yang ada yang bermanfaat bagi kehidupan biota
air. Sebagai contoh penggunaan racun ikan, selain menyebabkan kematian ikan
sasaran, juga menyebabkan kematian pada ikan–ikan yang masih kecil dan telur
ikan. Penggunaan bahan peledak dapat menyebabkan kerusakan habitat ikan dan
kematian biota air lainnya yang bukan merupakan sasaran penangkapan.
Seringkali pelanggaran terhadap peraturan pelarangan penggunaan alat atau
bahan berbahaya ini tidak ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Hal ini
menyebabkan pelaksanaan peraturan pelanggaran penggunaan alat atau bahan
berbahaya ini tidak efektif. Oleh karena itu efektifitas pengelolaan sumberdaya

12

perikanan dengan pendekatan pelarangan alat tangkap ini sangat tergantung pada
penegakan hukum yang dilakukan oleh aparat. Dalam pelaksanaan pengelolaan
perikanan dengan pendekatan pelarangan alat tangkap ini, kepedulian nelayan dan
masyarakat pesisir menjadi faktor yang sangat penting. Pengawasan yang
dilakukan oleh masyarakat dalam pelaksanaannya sangat membantu aparat untuk
menindak secara tegas pelanggaran yang terjadi.
5.

Pendekatan dengan kuota penangkapan
Pengelolaan sumberdaya perikanan dengan pendekatan kuota penangkapan

adalah upaya pembatasan jumlah ikan yang boleh ditangkap (Total Allowable
Catch = TAC). Kuota penangkapan diberikan oleh Pemerintah kepada industri atau
perusahaan penangkapan ikan yang melakukan penangkapan pada suatu perairan di
wilayah negara Indonesia.Untuk menjaga kelestarian sumberdaya suatu jenis ikan,
maka nilai TAC harus di bawah Maximum Sustainable Yield (MSY)–nya. Sehingga
sebelum nilai TAC ditentukan, perlu diketahui terlebih dahulu nilai MSY – nya.
Implementasi dari kuota penangkapan dengan TAC ialah, (1) penentuan TAC
secara keseluruhan pada skala nasional atas suatu jenis ikan di perairan tertentu,
kemudian diumumkan kepada semua nelayan sampai secara total mencapai TAC
yang ditentukan, bila telah tercapai TAC, maka aktifitas penangkapan terhadap
jenis ikan tersebut dihentikan dengan kesepakatan bersama; (2) membagi TAC
kepada semua nelayan dengan keberpihakan kepada nelayan atas dasar keadilan,
sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial akibat perbedaan pendapatan
nelayan; (3) dengan membatasi atau mengurangi efisiensi penangkapan ikan
sehingga TAC tidak terlampaui.
6.

Pendekatan dengan pengendalian upaya penangkapan
Pengelolaan sumberdaya perikanan dengan pendekatan pengendalian upaya

penangkapan didasarkan pada hasil tangkapan maksimum agar dapat menjamin
kelestarian sumberdaya ikan tersebut. Pengendalian upaya penangkapan dapat
dilakukan dengan membatasi jumlah alat tangkap, jumlah armada, maupun jumlah
trip penangkapan. Untuk menentukan batas upaya penangkapan diperlukan data
time series yang akurat tentang jumlah hasil tangkapan suatu jenis ikan dan jumlah
upaya penangkapannya di suatu daerah penangkapan. Mekanisme pengendalian
upaya penangkapan yang paling efektif adalah dengan membatasi izin usaha
penangkapan ikan pada suatu daerah penangkapan.

13

Pengelolaan perikanan harus dilakukan dengan baik, dengan salah satu upaya
dalam suatu pengelolaan adalah monitoring sehingga kondisi sumberdaya dapat
terus terpantau dengan baik. Tujuan pengelolaan sumberdaya perikananan adalah
tercapainya kesejahteraan para nelayan, penyediaan bahan pangan, bahan baku
industri, penghasil devisa, dan mengetahui porsi optimum pemanfaatan oleh
armada penangkapan ikan serta menentukan jumlah tangkapan yang diperbolehkan
berdasarkan tangkapan maksimum lestari.
Menurut Widodo & Suadi (2006) secara umum tujuan pengelolaan perikanan
dapat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu biologi, ekologi, ekonomi, dan sosial
dimana tujuan sosial mencakup tujuan politik dan budaya. Beberapa contoh yang
termasuk dalam setiap kelompok tujuan meliputi :


Menjaga spesies target berada ditingkat atau diatas tingkat yang diperlukan
untuk menjamin produktivitas yang berkelanjutan.



Meminimalkan berbagai dampak penangkapan atas lingkungan fisik dan non
target (by catch)



Mamaksimalkan pendapatan bersih bagi nelayan yang terlibat dalam
perikanan (tujuan ekonomi)



Memaksimumkan kesempatan kerja bagi mereka yang tergantung pada
perikanan bagi kelangsunga hidup mereka (tujuan sosial)
Widodo & Suadi (2006) juga menyatakan bahwa pengelolaan perikanan

dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya :
1) Pengaturan ukuran mata jaring
2) Pengaturan batas ukuran ikan yang boleh ditangkap, didaratkan atau
dipasarkan
3) Kontrol terhadap musim penangkapan ikan
4) Kontrol terhadap daerah penangkapan ikan
5) Pengaturan terhadap alat tangkap serta kelengkapannya
6) Perbaikan dan peningkatan sumberdaya hayati
7) Pengaturan hasil tangkapan total per jenis, kelompok jenis, atau bila
memungkinkan per lokasi atau wilayah
8) Setiap tindakan langsung yang berhubungan dengan konservasi semua jenis
ikan dan sumberdaya hayati lainnya dalam wilayah tertentu.

3.

METODOLOGI

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama delapan bulan dari bulan Maret 2011 hingga
Oktober 2011 dengan mengikuti penelitian bagian Manajemen Sumberdaya
Perikanan (MSPi). Pengambilan contoh dilakukan dengan interval 1 bulan di PPP
Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten (Gambar 2).

Gambar 2. Peta lokasi penangkapan ikan tembang (Sardinella fimbriata)
Sumber : Dinas Hidro-Oseanografi (2004)

3.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis,
kuisioner, peta, alat dokumentasi, dan ikan tembang. Jenis data yang dikumpulkan
terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari data panjang
total ikan tembang, produksi, biaya per trip, harga ikan, biaya operasional per trip,

15

dan daerah penangkapan. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi produksi hasil
tangkapan dan data upaya penangkapan ikan (trip) selama 8 tahun.

3.3. Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Dalam
penelitian ini pengumpulan data primer diperoleh dari pengambilan contoh ikan
yang dilakukan secara acak terhadap ikan tembang yang hanya tertangkap di
perairan Selat Sunda dan didaratkan di PPP Labuan, Kabupaten Pandeglang,
Banten. Pengambilan ikan contoh dilakukan selama delapan bulan dengan interval
waktu pengambilan satu bulan sekali. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pengukuran panjang total ikan dan penentuan tingkat kematangan gonad
ikan berdasarkan penelitian terdahulu mengenai reproduksi ikan tembang yang
nantinya akan diplotkan dalam bentuk matriks yang ditemukan ditiap bulan
pengamatan.
Pengambilan ikan contoh dilakukan dengan metode Penarikan Contoh Acak
Berlapis (PCAB). Pada masing-masing gundukan ikan tembang dipilih secara acak
sebanyak kurang lebih 100 ekor, dimana ikan contoh yang diambil proporsional
terhadap masing-masing kelas ukuran panjang. Pengumpulan data dan informasi
lain yang terkait dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara langsung
kepada para nelayan yang menangkap ikan tembang (purposive sampling) dan
pejabat pemerintah setempat dengan menggunakan kuisioner (Lampiran 1).
Wawancara kepada nelayan dilakukan setiap 1 kali dalam 1 bulan yang bertujuan
untuk mengetahui jumlah dan jenis tangkapan nelayan per trip dalam kurun waktu
tertentu, rata-rata biaya operasional penangkapan per trip, jumlah trip selama 1
tahun, serta musim dan daerah penangkapan ikan tembang. Selain itu pengambilan
data primer ini juga bertujuan untuk mengetahui daerah penangkapan ikan tembang
serta frekuensi penangkapan dalam beberapa kurun waktu tertentu yang nantinya
digunakan dalam analisis pola sebaran spasial dari ikan tembang.
Data sekunder diperoleh dari Unit Pelaksanaan Teknis di PPP Labuan. Data
yang dikumpulkan meliputi jumlah produksi dan upaya penangkapan ikan
tembang. Dari data produksi dan upaya ini akan dianalisa tangkapan per satuan
upaya (TPSU) atau CPUE, dimana hasil analisis ini akan digunakan dalam

16

penentuan pola musim penangkapan ikan serta bioekonominya sehingga dapat
menentukan strategi pengelolaan perikanan untuk kedepannya.

3.4. Analisis Data
3.4.1. Tangkapan per satuan upaya
Data tangkapan dan upaya ikan Tembang dapat dikaji dengan menghitung
nilai hasil tangkapan per upaya penangkapan, yang dapat dirumuskan sebagai
berikut :

TPSU adalah jumlah tangkapan per satuan upaya, T adalah jumlah tangkapan
tahunan ikan Tembang (ton) dan U adalah jumlah upaya tahunan ikan Tembang.
Selanjutnya TPSU ini disajikan dalam satuan kg, sedangkan data upaya
penangkapan (effort) yaitu alat tangkap purse seine, dan gillnet yang disajikan
dalam satuan trip.

3.4.2. Analisis pola sebaran penangkapan ikan
Analisis pola sebaran penangkapan ikan tembang dilakukan dengan teknik
sebagai berikut :
1.

Wawancara
Analisis pola sebaran penangkapan ikan digunakan untuk mengetahui

informasi mengenai daerah penangkapan ikan serta musim penangkapan ikan
melalui hasil wawancara dengan nelayan setempat. Data yang diperlukan dalam
menganalisis pola sebaran ini seperti arah atau posisi nelayan saat menangkapa
ikan dan frekuensi trip nelayan saat berada di daerah penangkapan yang sama. Dari
hasil yang diperoleh kemudian dilakukan pemetaan sehingga dapat dilihat daerah
penangkapan ikan tembang yang bagus bagi kesejahteraan nelayan serta pola
sebaran dari ikan tembang itu sendiri.
2.

Matriks sebaran spasial dan temporal ikan
Analisis pola sebaran penangkapan ikan selanjutnya dianalisis berdasarkan

matriks sebaran sapsial dan temporal ikan tembang. Informasi yang digunakan
dalam matriks ini diantaranya daerah atau lokasi penangkapan ikan tembang,
selang kelas panjang ikan, dan tingkat kematangan gonad ikan selama penelitian.

17

Langkah awal yang dilakukan adalah dengan menentukan selang kelas panjang
ikan tembang jantan dan ikan tembang betina yang didapat dari pengukuran
panjang total ikan contoh yang diplotkan berdasarkan bulan penelitian.
Berdasarkan penelitian terdahulu diketahui informasi mengenai tingkat
kematangan gonad (TKG) ikan yang tertangkap selama bulan penelitian. Informasi
ini dapat menentukan sebaran dan waktu pemijahan ikan tembang yang dilihat
berdasarkan persentase TKG 3 dan 4 tertinggi selama bulan penelitian. Dari
penentuan selang kelas panjang dan TKG ikan juga dapat menentukan kapan
ukuran ikan tembang mencapai matang gonad pertama kali. Hasil matriks sebaran
ini dapat memberikan solusi mengenai upaya pengelolaan perikanan tembang di
wilayah Selat Sunda, khususnya PPP Labuan, Banten untuk masa yang akan
datang.

3.4.3. Analisis pola musim penangkapan ikan
Pola musim penangkapan dianalisis dengan menggunakan metode rata-rata
bergerak (moving average) seperti yang dekemukakan oleh Dajan (1986) in Taeran
(2007) dengan langkah sebagai berikut :
a)

Menyusun deret TPSUi bulan Januari 2008 hingga Desember 2011

Keterangan :
i : 1, 2, 3, ... , 108
ni : TPSU urutan ke-i
b)
Menyusun rata-rata bergerak TPSU selama 12 bulan (RG)

Keterangan :
Rgi
: Rata-rata bergerak 12 bulan urutan ke-i
TPSUi : CPUE urutan ke-i
i : 1, 2, 3, ... , 108
i : 7, 8, 9, ... , 103
c)
Menyusun rata-rata bergerak TPSU terpusat (RGP)

d)

Rasio rata-rata bulan (Rb)

18

Keterangan :
Rbi
: Rasio rata-rata bulan ke-i
TPSUi : CPUE urutan ke-i
i
: 1, 2, 3, ... , 103
e)
Menyusun nilai rata-rata dalam suatu matriks berukuran i x j yang disusun
untuk setiap bulannya, dimulai dari bulan Juli. Kemudian menghitung nilai
total rasio rata-rata tiap bulan, menghitung total rasio rata-rata secara
keseluruhan, dan menghitung indeks musim penangkapan.
1) Rasio rata-rata untuk bulan ke-i (RRBi)

Keterangan :
RRBi : Rata-rata RBij untuk bulan ke-i
RBij : Rasio rata-rata bulanan dalam matriks ukuran i x j
i
: 1, 2, 3, ... , 12
j
: 1, 2, 3, ... , n
2) Jumlah rasio rata-rata bulanan (JRRB)

Keterangan :
JRRBi : Jumlah rasio rata-rata bulan
RRBi : Rata-rata RBij untuk bulan ke-i (i : 1, 2, 3, ... , 12)
3) Menghitung faktor koreksi :

Keterangan :
FK : Nilai faktor koreksi
JRRB : Jumlah rasio rata-rata bulanan
4) Indeks musim penangkapan

Keterangan :
IMPi : Indeks musim penangkapan bulan ke-i
RBBi : Rasio rata-rata untuk bulanan ke-i (i: 1, 2, 3, ... , 12)
Kriteria Indeks Musim Penangkapan (IMP) :
IMP < 50 %
: Musim paceklik
IMP 50%
: Bukan musim penangkapan

IMP>100%

: Musim penangkapan

19

3.4.4. Model bioekonomi perikanan
Model bioekonomi merupakan salah satu cara pendekatan yang paling mudah
dan sederhana untuk mengetahui MSY,

,

, MEY dan open access.

Pendekatan analisis bioekonomi dalam penelitian ini menggunakan model WaltersHilbron. Model Walters-Hilbron dikenal sebagai suatu model yang berbeda dari
model Schaefer. Perbedaan antara model Walters-Hilbron dengan model Schaefer
adalah model Walters-Hilbron dapat memberikan dugaan masing-masing untuk
parameter fungsi produksi surplus r, q, dan K dari tiga koefisien regresi (Walters
dan Hilbron 1992 in Tinungki 2005). Walters-Hilbron menggambarkan
persamaannya sebagai berikut :
........................................................ (1)
Prosedur model Walters-Hilbron adalah sebagai berikut :
,
jika
........................................................ (2)
maka diperoleh :
yang menyatakan CPUE atau tangkapan per satuan upaya
Persamaan dasar model surplus produksi dapat diformulasikan kembali
sebagai berkut :
........................................................ (3)
Penyusunan kembali persamaan diatas dengan memindahkan
dan mengalikan persamaan dengan

kesisi kiri

sehingga diperoleh persamaan model

Walters-Hilbron sebagai berikut :
........................................................ (4)
Persamaan diatas digunakan dalam regresi linear dalam peubah tidak bebas
yang merupakan laju perubahan biomassa dan peubah bebas merupakan

dan

(Walters dan Hilbron 1992 in Tinungki 2005). Secara umum bentuk persamaan
regresi diatas dapat dituliskan sebagai berikut :
dimana

,

,

........................................................ (5)
,
,
,
,

merupakan error dari persamaan regresi. Error ini diasumsikan mempunyai rataan
nol dan ragam yang konstan, sehingga regresi OLS dapat digunakan (Fauzi 1998 in
Tinungki 2005).

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
4.1.1. Kondisi umum perairan Selat Sunda
Perairan Selat Sunda terletak di antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa
sehingga perairan ini merupakan pertemuan antara perairan Samudera Hindia dan
Laut Jawa. Selat Sunda dipengaruhi oleh angin musim tenggara dan musim barat
laut. Angin musim tenggara terjadi pada bulan April - September, sedangkan untuk
musim barat laut terjadi pada bulan Oktober - Maret. Bulan April - Mei angin yang
bertiup berkecepatan 2-8 m/detik dari arah utara dan timur. Sedangkan untuk angin
yang bertiup dari barat daya cenderung ke barat pada bulan Desember, ke arah
barat pada bulan Januari, dan angin dari arah barat laut cenderung ke barat pada
bulan Januari dengan kecepatan bervariasi antara 5-10 m/detik (Birowo 1983 in
Amri 2002).
Selama musim barat umumnya gelombang cukup besar yaitu sekitar 0,5 m
sampai 1,5 m bahkan bisa mencapai 1,5-2 m pada bulan Desember dan Januari.
Sedangkan untuk musim timur ketinggian gelombang biasanya antara 0,5-1 m, dan
bisa kurang dari 0,5 m pada bulan April, Mei, dan Juni. Di Selat Sunda pergerakan
massa airnya merupakan kombinasi pasang surut dan arus musiman. Pada waktuwaktu tertentu arus perairan akan terasa kuat, akan tetapi sirkulasi air antara Laut
Jawa dan Samudera Hindia lemah (0,5 x 106 m3/detik). Sepanjang tahun arah
alirannya ke barat daya (S. Hindia), dan pada bulan November arahnya kadang
berubah ke timur laut (Wyrtki 1961 in Amri 2002).
Rata-rata suhu permukaan air laut Selat Sunda yaitu 29,32 0C pada bulan
Mei, 30,01 0C pada bulan Juni, 29,19 0C pada bulan Juli, dan 27,28 0C pada bulan
Agustus (Amri 2002). Menurut Birowo & Uktolseja (1981) in Amri (2002), suhu
permukaan laut perairan Selat Sunda akan relatif tinggi pada musim peralihan dan
akan lebih rendah pada musim barat dan timur. Rendahnya suhu di musim timur
karena tingginya evaporasi, angin yang kuat, dan kelembapan udara yang rendah
sehingga energi evaporasi lebih tinggi dari pada radiasi matahari yang diterima.
Hal inilah yang menyebabkan pendinginan permukaan laut. Rendahnya suhu
dimusim barat disebabkan karena masukan air hujan dan masukan massa air tawar
dari timur laut yang dingin (Birowo & Uktolseja 1981 in Amri 2002).

21

4.1.2. Kondisi umum Labuan
Labuan terletak di wilayah Kabupaten Pandeglang yang berada pada bagian
Barat Daya Provinsi Banten. secara geografis Kabupaten Pandeglang terletak
antara 60 21’ – 70 10’ LS dan 1040 48’ – 1060 11’ BT dengan batas administrasinya
sebelah Utara berbatasan dengan Kab. Serang, sebelah Timur berbatasan dengan
Kab. Lebak, sebelah Selatan dengan Samudera Hindia, dan sebelah Barat dengan
Selat Sunda. Perairan pesisir Pandeglang mempunyai iklim yang lebih dingin
dibandingkan dengan daratannya. Rata-rata curah hujan dikawasan ini 3250
mm/tahun. Kisaran suhu diperairan ini antara 250 C – 300 C dengan kelembapan
mencapai 80%-90%. Curah hujan terbesar akan terjadi pada bulan Desember dan
Januari yang seringkali disertai dengan badai dan angin kencang.
Angin Musim Barat Laut terjadi selama bulan Desember – Februari dan
Angin Musim Tenggara terjadi antara bulan Juni – Agustus. Sedangkan pada bulan
Maret - Mei menampilkan periode transisi dari angin Musim Barat Laut ke
Tenggara, dan bulan September – November adalah peralihan antara musim
tenggara ke angin musim barat laut. Selama peralihan ini angin bertiup kencang
kearah timur yang menyebabkan hujan besar. Sifat pasang surut di perairan
pandeglang adalah mixed semi diurnal (campuran kearah ganda), yaitu mengalami
dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari. Berdasarkan data kedalaman
survei lapang dan informasi data kedalaman perairan dari peta (LPI) daerah Labuan
(Amri 2002), diperoleh informasi bahwa kedalaman perairan Labuan berkisar
antara 0-70 m.

4.1.3. Kondisi perikanan tembang di PPP Labuan Banten
Hasil tangkapan ikan di Pelabuhan Perikanan Pantai Labuan pada umumnya
didominasi oleh sumberdaya ikan pelagis dengan hasil tangkapan utamanya yaitu
ikan tongkol, banyar, tembang, selar, tenggiri, dan cumi. Komposisi hasil
tangkapan ikan di PPP Labuan pada tahun 2011 dapat dilihat pada Gambar 3.

22

tembang
17%
banyar
24%

cumi
9%

selar tenggiri
2%
1%

tongkol
47%

Gambar 3. Komposisi tangkapan ikan Pelagis dari hasil tangkapan nelayan di PPP
Labuan, Banten (berdasarkan data berat)
Berdasarkan Gambar 3 dapat diketahui bahwa komposisi hasil tangkapan
terbesar yaitu ikan tongkol sebesar 47% dan komposisi hasil tangkapan terendah
yaitu ikan selar sebesar 1%. Komposisi tangkapan ikan tembang merupakan
tangkapan ketiga terbesar di PPP Labuan yang ditangkap dengan menggunakan
jaring Purse Seine dengan alat bantu lampu (obor).

4.1.4. Hasil tangkapan ikan tembang
Hasil tangkapan atau produksi ikan tembang berasal dari data sekunder yang
didapat dari Kantor PPP Labuan Banten periode 2002 - 2011 yang disajikan pada
Gambar 4. Dapat dilihat bahwa hasil tangkapan ikan tembang tahun 2002 – 2011

produksi (kg)

mengalami fluktuasi.

450000
400000
350000
300000
250000
200000
150000
100000
50000
0
2000

391.649

154.913

27.000
1.342

2002

2004

27.119

2006

2.440

2008

tahun

Gambar 4. Hasil produksi ikan tembang periode 2002 – 2011

16.429 27.964

2010

2012

23

Berdasarkan Gambar 4 dapat diketahui bahwa untuk hasil tangkapan tertinggi
terdapat pada tahun 2009 sebesar 391.649 kg dan untuk hasil tangkapan terendah
terdapat pada tahun 2002 sebesar 1.342 kg.

4.1.5. Upaya penangkapan (effort)
Upaya penangkapan (effort) ikan tembang berasal dari data sekunder yang
didapat dari Kantor PPP Labuan Banten periode 2002 - 2011 yang disajikan pada
Gambar 5.

3000

2472

effort (trip)

2500
2000
1500

958

1000
500

15

180

176

2004

2006

217

295

19

0
2000

2002

2008

2010

2012

tahun

Gambar 5. Upaya penangkapan ikan Tembang periode 2002-2011
Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat mengenai upaya penangkapan ikan
tembang periode 2002 - 2011 yang mengalami fluktuasi. Jumlah trip terbanyak
terdapat pada tahun 2009 sebanyak 2.472 trip dan jumlah trip terendah berada pada
tahun 2002 sebanyak 15 trip.

4.1.6. Tangkapan per satuan upaya
Besaran atau nilai dari Tangkapan per satuan upaya (TPSU) menggambarkan
tingkat produktivitas dari upaya penangkapan (effort). Nilai TPSU semakin tinggi
menunjukkan bahwa tingkat produkstivitas alat tangkap yang digunakan semakin
tinggi pula. Berdasarkan Gambar 6 dapat dilihat bahwa sepanjang tahun 2002-2011
hasil tangkapan per satuan upaya ikan tembang mengalami fluktuasi.

24

TPSU (kg/trip)

200,0000

154,0852
150,0000

150,0000

158,4341

161,7046
128,4211

100,0000

89,4667

94,7932
75,7097

50,0000
0,0000
2000

2002

2004

2006
tahun

2008

2010

2012

Gambar 6. Tangkapan per satuan upaya ikan tembang tiap tahun
Nilai tangkapan per satuan upaya tertinggi terdapat pada tahun 2005 yaitu
sebesar 161,7046 kg per trip dan untuk nilai tangkapan per satuan upaya terendah
terdapat pada tahun 2010 sebesar 75,7097 kg per trip.

4.1.7. Pola musim penangkapan
Analisis pola musim penangkapan ikan tembang di Labuan Banten
menggunakan metode moving average (rata - rata bergerak) dengan menghitung
nilai IMP pada setiap bulan. Pergerakan nilai IMP ikan tembang dapat dilihat pada
Gambar 7 dan Gambar 8.

250

IMPi

200
150
100
50
0

BULAN

Gambar 7. Nilai rata–rata IMP Ikan Tembang tahun 2002–2007

Berdasarkan nilai rata – rata indeks musim penangkapan (IMP) pada tahun
2002–2007 (Lampiran 3) musim penangkapan terjadi pada bulan Juli, Agustus,

25

September, Januari, Februari, dan Mei. Musim biasa (bukan musim penangkapan)
terjadi pada bulan Oktober, November, Desember, April, dan Juni. Sedangkan
untuk musim paceklik terjadi pada bulan Maret. Terjadi perbedaan pergerakan nilai
IMP ikan tembang antara tahun 2002 – 2007 dengan tahun 2009 – 2011 seperti
yang terlihat pada Gambar 8.

250

IMP

200
150
100
50
0

BULAN

Gambar 8. Nilai rata – rata IMP Ikan Tembang tahun 2009 – 2011
Berdasarkan nilai rata – rata indeks musim penangkapan (IMP) pada tahun
2009-2011 (Lampiran 5) musim penangkapan terjadi pada bulan Oktober,
November, Februari, Maret, April, dan Juni. Musim biasa (bukan musim
penangkapan) terjadi pada bulan Juli, Agustus, September, dan Mei dan untuk
musim paceklik terdapat pada bulan Desember dan Januari.

4.1.8. Daerah penangkapan
Daerah penangkapan ikan tembang yang didaratkan di PPP Labuan, Banten
diperoleh dari hasil wawancara dengan nelayan setempat khususnya nelayan yang
menangkap ikan tembang dengan menggunakan jaring purse seine dengan alat
bantu lampu (obor). Penentuan dari daerah penangkapan ini biasanya berdasarkan
pada pengetahuan atau tradisi sebelumnya secara turun-temurun. Keberadaan ikan
dapat diketahui oleh nelayan berdasarkan gejala alam yang ada seperti gemericik
air, warna air yang biru kehijauan, serta banyaknya gerombolan burung diatas
permukaan air. Berdasarkan Gambar 9 dapat diketahui persebaran ikan berdasarkan
musim penangkapannya.

26

Gambar 9. Peta daerah penangkapan ikan tembang

27

Tabel berikut menampilkan ukuran panjang dan TKG ikan tembang yang
diplotkan berdasarkan bulan dan lokasi penangkapan.

Tabel 2. Matriks sebaran spasial, temporal, ukuran panjang dan TKG ikan
tembang tahun 2011.
Kriteria

4

5

6

Bulan
7

8

9

10

Lokasi Penangkapan
P. Legundi

v

P. Rakata

v

v
v

P. Liwungan, Tanjung lesung

v

P. Oar, Sumur

v

v

P. Papole

v

v

v

v

v

P. Panaitan, P. Peucang

v

v

v

v

v

v
v

v

v

v

v

P. Sebesi, P. Sertung

v

v

Tanjung Alang-alang
Selang Kelas Panjang

v

100-107

v

j

108-115

j&b

j

116-123

j&b

j&b

b

124-131

j&b

j&b

j&b

b

j&b

j&b

j&b

j&b

b

132-139

j

140-147

j&b

j&b

j&b

j&b

j&b

148-155

j&b

j&b

j&b

j&b

j&b

j&b

156-163

j&b

j&b

j&b

j&b

j&b

164-171

j&b

b

j&b

j&b

j&b

172-179

b

b

180-187

b

j&b
b

TKG betina
I

21,82

3,92

79

7,32

8,57

II

20

19,6

21

56,1

62,86

35,14

III

45,45

17,7

29,3

28,57

64,86

IV

12,73

58,8

2,44

V

4,88

TKG jantan
I

38,64

12,2

92,1

9,26

1,82

II

18,18

18,4

7,89

33,3

5,45

4,76

III

29,55

59,2

29,6

85,45

68,25

IV

13,64

10,2

27,8

7,27

20,63

V

Keterangan : v = keberadaan ikan tembang pada bulan kej = ikan tembang jantan, b = ikan tembang betina
* = bukan bulan penelitian

6,35

v

28

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat mengenai lokasi penangkapan ikan
tembang di Selat Sunda. Selang kelas ikan tembang yang tertangkap umumnya
berkisar antara 100 – 187 mm dari TKG 1 sampai 5. Pada bulan Maret dan Mei
tidak tersedia data mengenai selang kelas panjang dan TKG ikan dikarenakan
penelitian dilakukan saat bulan terang, sehingga tidak ada operasi penangkapan
ikan tembang pada saat tersebut.

4.1.9. Bioekonomi
Analisis bioekonomi dengan pendekatan biologi dan ekonomi merupakan
salah satu alternatif pengelolaan yang dapat diterapkan dalam salah satu upaya
menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan tembang di PPP Labuan Banten. Hasil
analisis menggunakan model surplus produksi Walters-Hilbron diperoleh nilai
parameter biologi (K, q, r) dan nilai parameter ekonomi (p, c) seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil estimasi parameter biologi dan ekonomi
Parameter
Koefisien kemampuan alat tangkap (q)
Daya dukung perairan (K)
Laju pertumbuhan intrinsik (r)
Harga (p)
Biaya (c)

satuan
kg/trip
kg/tahun
kg/tahun
Rp/kg
Rp/trip

Nilai
0,0002
789.204,5000
0,6439
2.427,7780
26.433,0470

Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa koefisien kemampuan alat
tangkap ikan tembang (q) sebesar 0,0002 kg/trip, yang berarti bahwa setiap
peningkatan satuan upaya penangkapan purse seine akan mempengaruhi
peningkatan hasil tangkapan sumberdaya tembang sebesar 0,0002 kg/trip. Daya
dukung perairan (K) sebesar 789.204,5000 kg/tahun, yang berarti bahwa
lingkungan mendukung produksi sumberdaya ikan tembang sebesar 789.204,5000
kg/tahun dari aspek biologinya seperti kelimpahan makanan, pertumbuhan
populasi, dan ukuran ikan. Laju pertumbuhan intrinsik (r) sebesar 0,6439 kg/tahun,
yang berarti bahwa sumberdaya ikan tembang ini akan tumbuh secara alami tanpa
gangguan dari gejala alam maupun kegiatan manusia dengan koefisien sebesar
0,6439 kg/tahun. Harga ikan tembang per kg nya didapat Rp 2.427,7780 dan biaya

29

penangkapannya sebesar Rp 26.433,0470 per trip. Dari hasil estimasi parameter
biologi dan ekonomi maka dapat ditentukan hasil analisis parameter bioekonomi
diberbagai rezim seperti pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil perhitungan bioekonomi ikan tembang dalam berbagai rezim
variabel
Yield (kg)
Effort (trip)
Rente (Rp)

MEY

MSY

126.550,74
127.042,39
1.361
1.452
271.249.909,80 270.056.289,79

Open access (OA)

Aktual

29.646,19
80.797,00
2.723
539
0 181.919.678,83

Nilai yield (hasil tangkapan), effort, dan keuntungan yang didapat dari ketiga
rezim memiliki nilai yang berbeda-beda, sedangkan untuk kondisi aktual
merupakan kondisi yang terjadi pada saat ini yaitu rata-rata data hasil tangkapan
dan upaya tangkapan dari tahun 2002 – 2011.

4.2. Pembahasan
4.2.1. Hasil tangkapan
Pelabuhan perikanan pantai Labuan merupakan pelabuhan perikanan yang
hasil tangkapannya berasal dari Selat Sunda. Sumberdaya perikanan yang berasal
dari Selat Sunda ini meliputi ikan pelagis kecil, ikan pelagis besar, udang,
rajungan, dan cumi – cumi. Untuk PPP Labuan sendiri lebih didominasi oleh ikan
tongkol, ikan kembung, ikan tembang, ikan selar, ikan tenggiri, dan cumi.
Persentase ikan tembang terdapat pada urutan ketiga disebabkan karena ikan
tembang bukan merupakan tangkapan utama nelayan di PPP Labuan, Banten.
Hasil tangkapan di PPP Labuan menunjukkan fluktuasi setiap tahunnya.
Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa hasil tangkapan tertinggi terdapat pada
tahun 2009 sebesar 391.649 kg dan hasil tangkapan terendah terdapat pada tahun
2002 sebesar 1.342 kg. Tingginya hasil tangkapan pada tahun 2009 dikarenakan
data yang tercatat untuk hasil tangkapan ikan tembang di PPP Labuan berasal dari
semua TPI yang tersedia di PPP Labuan. Pada tahun-tahun sebelumnya di dapatkan
hasil yang sedikit karena hasil tangkapan tidak tercatat untuk setiap bulannya. Pada
tahun 2010 terjadi penurunan hasil tangkapan yang sangat drastis, hal ini

30

disebabkan oleh pengumpulan data hasil tangkapan sudah dibedakan berdasarkan
besarnya ukuran kapal serta jenis tangkapan. Untuk TPI baru khusus untuk kapal
yang berukuran besar seperti kapal purse seine yang berukuran lebih dari 12 GT,
sedangkan untuk TPI lama dikhususkan untuk pendaratan ikan demersal serta
untuk TPI pasar dikhususkan untuk mendaratkan ikan-ikan pelagis kecil.
Peningkatan dan penurunan hasil tangkapan ikan tembang juga disebabkan
oleh adanya perubahan musim yang tidak menentu di PPP Labuan itu sendiri.
Perkiraan cuaca diperoleh dengan pengamatan sendiri berdasarkan berbagai gejala
alam, seperti angin besar, gelombang tinggi, dll. Musim merupakan faktor yang
sangat berbengaruh pada aktivitas penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan.
Pada musim penghujan atau musim barat, nelayan pada umumnya tidak perg

Dokumen yang terkait

Dokumen baru