Tingginya Tindak Pidana Penganiayaan Di Kota Medan Dan Upaya Penanggulangannya (Studi Di Polresta Medan)

TINGGINYA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI KOTA
MEDAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA
(Studi di Polresta Medan)

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas - tugas dan
memenuhi syarat – syarat untuk mencapai gelar
Sarjana Hukum

Oleh :
IVO GEMA PRADANA
NIM. 050200243

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

TINGGINYA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI KOTA
MEDAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA
(Studi di Polresta Medan)

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas - tugas dan
memenuhi syarat – syarat untuk mencapai gelar
Sarjana Hukum

Oleh :
IVO GEMA PRADANA
NIM. 050200243

Disetujui oleh:

Ketua Departemen Hukum Pidana

Dr. M. Hamdan, SH, MH

Pembimbing I

Pembimbing II

Abul Khair, SH, M.Hum

Nurmalawaty, SH, M.Hum

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan rakhmat, taufik dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menempuh ujian tingkat
Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini
berjudul “TINGGINYA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI KOTA
MEDAN DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA (Studi di Polresta
Medan)”.
Di dalam menyelesaikan skripsi ini, telah banyak mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
-

Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara Medan.

-

Bapak Dr. M. Hamdan, SH, MH, sebagai Ketua Departemen Hukum Pidana
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

-

Bapak Abul Khair, SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing I Penulis.

-

Ibu Nurmalawaty, SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II Penulis.

-

Bapak dan Ibu Dosen serta semua unsur staf administrasi di Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.

-

Rekan-rekan se-almamater di Fakultas Hukum khususnya dan Umumnya
Universitas Sumatera Utara.

Universitas Sumatera Utara

Pada kesempatan ini juga penulis mengucapkan rasa terima-kasih yang
tiada terhingga kepada isteri tercinta Anna Friska Sibarani, SPd, dan anak-anakku
tersayang Daniel Kristian Pasaribu, Dian Kristy Pasaribu dan Dela Kristanty
Pasaribu, semoga kebersamaan yang kita jalani ini tetap menyertai kita selamanya.
Demikianlah penulis niatkan, semoga tulisan ilmiah penulis ini dapat bermanfaat
bagi kita semua.

Medan,

Juni 2011

Penulis

Ipo Gema Pradana
NIM : 050200243

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
halaman

KATA PENGANTAR ...................................................................................

i

DAFTAR ISI .................................................................................................

iii

ABSTRAKSI .................................................................................................

v

BAB I.

PENDAHULUAN .....................................................................

1

A. Latar Belakang....................................................................

1

B. Permasalahan ......................................................................

3

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ...........................................

3

D. Keaslian Penulisan..............................................................

4

E.

Tinjauan Kepustakaan ........................................................

4

F.

Metode Penelitian ...............................................................

14

G. Sistematika Penulisan .........................................................

16

BAB II.

TINDAK PIDANA YANG MENONJOL DI POLRESTA
MEDAN .....................................................................................

18

A. Situasi Wilayah Tugas Polresta Medan ..............................

18

B. Situasi Personil Pada Polresta Medan ................................

20

C. Jumlah Sarana di Polresta Medan.......................................

23

D. Rekapitulasi Kasus Penganiayaan Tahun 2009 dan
Januari sampai dengan Desember 2010 .............................
BAB III

FAKTOR

PENYEBAB

TERJADINYA

25

KASUS

Universitas Sumatera Utara

PENGANIAYAAN DI POLRESTA MEDAN..........................

27

A. Rendahnya Pendidikan .......................................................

29

B. Melonjaknya Angka Pengangguran ...................................

31

C. Rendahnya Tingkat Kesadaran Masyarakat Tentang
Hukum dan Peraturan .........................................................

38

D. Kemiskinan .........................................................................

57

E.

Lingkungan .........................................................................

62

F.

Lahan ..................................................................................

64

BAB IV. PENEGAKAN

HUKUM

ATAS

TINDAK

PIDANA

PENGANIAYAAN OLEH APARAT KEPOLISIAN DI

BAB V.

POLRESTA MEDAN ................................................................

67

A. Upaya Hukum Preventif .....................................................

67

B. Upaya Hukum Persuasif .....................................................

72

C. Upaya Hukum Represif ......................................................

78

KESIMPULAN DAN SARAN..................................................

79

A. Kesimpulan .........................................................................

79

B. Saran ...................................................................................

80

DAFTAR PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

TINGGINYA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI KOTA MEDAN
DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA
(Studi di Polresta Medan)
Oleh :
IVO GEMA PRADANA
NIM. 050200243

Kepolisian sebagai bagian intgral fungsi pemerintahan negara, ternyata
fungsi tersebut memiliki takaran yang begitu luas, tidak sekedar aspek refresif
dalam kaitannya dengan proses penegakan hukum pidana saja, tetapi juga
mencakup aspek preventif berupa tugas-tugas yang dilakukan yang begitu melekat
pada fungsi utama administrasi negara mulai dari bimbingan dan pengaturan
sampai dengan tindakan kepolisian yang bersifat administrasi dan bukan
kompetensi pengadilan.
Peran kepolisian dalam penelitian ini akan dikaitkan
dengan semakin tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan. Esensi
kepolisian dalam menindak lanjuti terjadinya tindak pidana penganiayaan di Kota
Medan amat sangat penting khususnya dalam memberikan perlindungan terhadap
masyarakat daripada tindak pidana penganiayaan itu sendiri.
Pembahasan yang akan dilakukan adalah tentang bagaimana perkembangan
tindak pidana penganiayaan di Kota Medan, apa faktor penyebab tingginya tindak
pidana penganiayaan di Kota Medan dan bagaimana upaya penanggulangan yang
dilakukan oleh Aparat kepolisian.

 
Setelah dilakukan pembahasan maka diketahui perkembangan 
tindak pidana penganiayaan di Kota Medan semakin tahun semakin 
meningkat hal ini ditandai dengan jumlah kasus penganiayaan tahun 
2009 yang terbesar apabila diperbandingkan dengan penganiayaan 
ringan, dimana penganiayaan berat crime totalnya sebagnyak 868 kasus 
sedangkan penganiayaan ringan sebanyak 135 kasus. Demikian juga 
halnya crime clearance penganiayaan berat sebanyak 427 kasus 
sedangkan penganiayaan ringan sebanyak 38 kasus. Demikian juga 

Universitas Sumatera Utara

halnya penganiayaan tahun 2010 menunjukkan bahwa penganiayaan 
berat lebih besar jumlahnya apabila diperbandingkan dengan 
penganiayaan ringan. Dimana penganiayaan berat dengan jenis crime 
total sebanyak 112 kasus sedangkan crime clearance sebanyak 99 kasus. 
Penganiayaan ringan untuk crime total sebanyak 14 kasus dan untuk 
crime clearance sebanyak 5 kasus. Faktor penyebab tingginya tindak 
pidana penganiayaan di Kota Medan adalah karena rendahnya tingkat 
pendidikan masyarakat, permasalahan pengangguran, kemiskinan, 
rendahnya tingkat kesadaran hukum masyarakat, lingkungan dan lahan. 
Upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian adalah 
melalui tindakan preventif berupa pencegahan dengan jalan razia, upaya 
hukum persuasif berupa pendekatan kepada masyarakat dan upaya 
hukum represif berupa penindakan. 

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

TINGGINYA TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN DI KOTA MEDAN
DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA
(Studi di Polresta Medan)
Oleh :
IVO GEMA PRADANA
NIM. 050200243

Kepolisian sebagai bagian intgral fungsi pemerintahan negara, ternyata
fungsi tersebut memiliki takaran yang begitu luas, tidak sekedar aspek refresif
dalam kaitannya dengan proses penegakan hukum pidana saja, tetapi juga
mencakup aspek preventif berupa tugas-tugas yang dilakukan yang begitu melekat
pada fungsi utama administrasi negara mulai dari bimbingan dan pengaturan
sampai dengan tindakan kepolisian yang bersifat administrasi dan bukan
kompetensi pengadilan.
Peran kepolisian dalam penelitian ini akan dikaitkan
dengan semakin tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan. Esensi
kepolisian dalam menindak lanjuti terjadinya tindak pidana penganiayaan di Kota
Medan amat sangat penting khususnya dalam memberikan perlindungan terhadap
masyarakat daripada tindak pidana penganiayaan itu sendiri.
Pembahasan yang akan dilakukan adalah tentang bagaimana perkembangan
tindak pidana penganiayaan di Kota Medan, apa faktor penyebab tingginya tindak
pidana penganiayaan di Kota Medan dan bagaimana upaya penanggulangan yang
dilakukan oleh Aparat kepolisian.

 
Setelah dilakukan pembahasan maka diketahui perkembangan 
tindak pidana penganiayaan di Kota Medan semakin tahun semakin 
meningkat hal ini ditandai dengan jumlah kasus penganiayaan tahun 
2009 yang terbesar apabila diperbandingkan dengan penganiayaan 
ringan, dimana penganiayaan berat crime totalnya sebagnyak 868 kasus 
sedangkan penganiayaan ringan sebanyak 135 kasus. Demikian juga 
halnya crime clearance penganiayaan berat sebanyak 427 kasus 
sedangkan penganiayaan ringan sebanyak 38 kasus. Demikian juga 

Universitas Sumatera Utara

halnya penganiayaan tahun 2010 menunjukkan bahwa penganiayaan 
berat lebih besar jumlahnya apabila diperbandingkan dengan 
penganiayaan ringan. Dimana penganiayaan berat dengan jenis crime 
total sebanyak 112 kasus sedangkan crime clearance sebanyak 99 kasus. 
Penganiayaan ringan untuk crime total sebanyak 14 kasus dan untuk 
crime clearance sebanyak 5 kasus. Faktor penyebab tingginya tindak 
pidana penganiayaan di Kota Medan adalah karena rendahnya tingkat 
pendidikan masyarakat, permasalahan pengangguran, kemiskinan, 
rendahnya tingkat kesadaran hukum masyarakat, lingkungan dan lahan. 
Upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian adalah 
melalui tindakan preventif berupa pencegahan dengan jalan razia, upaya 
hukum persuasif berupa pendekatan kepada masyarakat dan upaya 
hukum represif berupa penindakan. 

Universitas Sumatera Utara

BAB I

PENDAHULUAN 

Latar Belakang 

Sebagai suatu negara hukum bangsa Indonesia mempunyai sistem
peradilan dan catur penegak hukum. Namun dalam komponen peradilan yang
cukup urgen adalah Kepolisian. Hal ini disebabkan kepolisian merupakan
bagian yang tidak dapat dipisahkan antar satu dengan lainnya, karena
merupakan bagian satu sistem yang terintegrasi. Sebagai suatu sistem, peradilan
pidana memerlukan keterikatan dan keterkaitan dengan komponen-komponen
lainnya.
Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP telah
mengatur secara lebih rinci tentang kedudukan, peranan dan tugas kepolisian
negara Republik Indonesia dalam kaitannya dengan proses pidana sebagai
penyelidik dan penyidik serta melaksanakan koordinasi dan pengawasan
terhadap penyidik pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus
oleh undang-undang.
Dalam KUHAP Pasal 1 butir 1 disebutkan pengertian penyidik adalah
pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil
tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan
penyidikan.
Pada dasarnya Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana

1

Universitas Sumatera Utara

dimaksud dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia dalam Pasal 4 bertujuan untuk menjamin tertib dan
tegaknya hukum serta terbinanya ketenteraman masyarakat guna mewujudkan
keamanan dan ketertiban masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan
dalam negeri, terselenggaranya fungsi pertahanan keamanan negara, dan
tercapainya tujuan nasional dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia.
Fungsi kepolisian adalah satu fungsi pemerintahan negara di bidang
penegakan

hukum,

perlindungan

dan

pelayanan

masyarakat

serta

pembimbingan masyarakat dalam rangka terjaminnya ketertiban dan tegaknya
hukum.
Kepolisian sebagai bagian intgral fungsi pemerintahan negara, ternyata
fungsi tersebut memiliki takaran yang begitu luas, tidak sekedar aspek refresif
dalam kaitannya dengan proses penegakan hukum pidana saja, tetapi juga
mencakup aspek preventif berupa tugas-tugas yang dilakukan yang begitu
melekat pada fungsi utama administrasi negara mulai dari bimbingan dan
pengaturan sampai dengan tindakan kepolisian yang bersifat administrasi dan
bukan kompetensi pengadilan.
Peran kepolisian dalam penelitian ini akan dikaitkan dengan semakin
tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan. Esensi kepolisian dalam
menindak lanjuti terjadinya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan amat
sangat

penting

khususnya

dalam

memberikan

perlindungan

terhadap

masyarakat daripada tindak pidana penganiayaan itu sendiri.

Universitas Sumatera Utara

Permasalahan 

Adapun permasalahan yang diajukan dalam penulisan skripsi ini adalah:
1. Bagaimana perkembangan tindak pidana penganiayaan di Kota Medan?
2. Apa faktor penyebab tingginya tindak pidana penganiayaan di Kota Medan?
3. Bagaimana upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian ?

Tujuan dan Manfaat Penelitian 

Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perkembangan tindak pidana penganiayaan di Kota
Medan.
2. Untuk mengetahui faktor penyebab tingginya tindak pidana penganiayaan di
Kota Medan.
3. Untuk mengetahui upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Aparat
kepolisian .
Berangkat dari permasalahan-permasalahan di atas penelitian ini
diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Dari segi teoritis sebagai suatu bentuk penambahan literatur di bidang
hukum kepidanaan tentang peran dan tugas kepolisian dan kaitannya dengan
penanggulangan penganiayaan.
2. Dari segi praktis sebagai suatu bentuk sumbangan pemikiran dan masukan
para pihak yang berkepentingan sehingga didapatkan kesatuan pandangan
tentang pelaksanaan penindakan penganiayaan.

Universitas Sumatera Utara

Keaslian Penulisan 

Adapun penulisan skripsi yang berjudul “Tingginya Tindak Pidana
Penganiayaan di Kota Medan dan Upaya Penanggulangannya (Studi di Polresta
Medan)” ini merupakan luapan dari hasil pemikiran penulis sendiri. Penlisan
skripsi yang bertemakan mengenai kepolisian memang sudah cukup banyak
diangkat dan dibahas, namun skripsi perihal penganiayaan belum pernah ditulis
sebagai skripsi. Dan penulisan skripsi ini tidak sama dengan penulisan skripsi
lainnya.

Sehingga

penulisan

skripsi

ini

masih

asli

serta

dapat

dipertanggungjawabkan secara moral dan akademik.

Tinjauan Kepustakaan 

1. Pengertian Tindak Pidana
Berdasarkan literatur hukum pidana sehubungan dengan tindak pidana
banyak sekali ditemukan istilah-istilah yang memiliki makna yang sama dengan
tindak pidana. Istilah-istilah lain dari tindak pidana tersebut adalah antara lain :
1. Perbuatan melawan hukum.
2. Pelanggaran pidana.
3. Perbuatan yang boleh dihukum.
4. Perbuatan yang dapat dihukum.1
1

Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, Aksara Baru, Jakarta, 1983,
hlm. 32.

Universitas Sumatera Utara

Menurut R. Soesilo, tindak pidana yaitu suatu perbuatan yang dilarang
atau yang diwajibkan oleh undang-undang yang apabila dilakukan atau
diabaikan, maka orang yang melakukan atau mengabaikan diancam dengan
hukuman.2
Menurut Moeljatno “peristiwa pidana itu ialah suatu perbuatan atau
rangkaian perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang atau
peraturan undang-undang lainnya terhadap perbuatan mana diadakan tindakan
penghukuman Simons, peristiwa pidana adalah perbuatan melawan hukum
yang berkaitan dengan kesalahan (schuld) seseorang yang mampu bertanggung
jawab, kesalahan yang dimaksud oleh Simons ialah kesalahan yang meliputi
dolus dan culpulate.3
Secara dogmatis masalah pokok yang berhubungan dengan hukum pidana adalah membicarakan tiga hal, yaitu :

1. Perbuatan yang dilarang.
Dimana dalam Pasal-Pasal ada dikemukakan masalah mengenai perbuatan
yang dilarang dan juga mengenai masalah pemidanaan seperti yang termuat
dalam Titel XXI Buku II KUH Pidana.
2. Orang yang melakukan perbuatan dilarang.
Tentang orang yang melakukan perbuatan yang dilarang (tindak pidana)
yaitu : setiap pelaku yang dapat dipertanggung jawabkan secara pidana atas
perbuatannya yang dilarang dalam suatu undang-undang.

2

R. Soesilo, Pokok-Pokok Hukum Pidana Peraturan Umum dan Delik-Delik Khusus, Politeia,
Bogor, 1991, hlm. 11.
3
Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2002, hlm. 62.

Universitas Sumatera Utara

3. Pidana yang diancamkan.
Tentang

pidana

yang

yang dapat dijatuhkan

diancamkan

terhadap si pelaku yaitu hukuman

kepada setiap pelaku yang melanggar undang-

undang, baik hukuman yang berupa hukuman pokok maupun sebagai
hukuman tambahan.4
Pembentuk

Undang-undang

telah

menggunakan

perkataan

“Straafbaarfeit” yang dikenal dengan tindak pidana. Dalam Kitab Undangundang hukum Pidana (KUHP) tidak memberikan suatu penjelasan mengenai
apa yang sebenarnya dimaksud dengan perkataan “Straafbaarfeit”.5
Perkataan “feit” itu sendiri di dalam Bahasa Belanda berarti “sebagian
dari suatu kenyataan” atau “een gedeele van werkwlijkheid” sedang “straaf
baar” berarti “dapat di hukum” hingga cara harafia perkataan “straafbaarfeit”
itu dapat diterjemahkan sebagai “sebagian dari suatu kenyataan yang dapat di
hukum” oleh karena kelak diketahui bahwa yang dapat di hukum itu sebenarnya
adalah manusia sebagai pribadi dan bukan kenyataan, perbuatan ataupun
tindakan. 10
Oleh karena seperti yang telah diuraikan diatas, ternyata pembentuk
Undang-undang telah memberikan suatu penjelasan mengenai apa yang
sebenar-nya telah dimaksud dengan perkataan “straafbaarfeit” sehingga
timbullah doktrin tentang apa yang dimaksud dengan “straafbaarfeit”6
4

Pipin Syarifin, Hukum Pidana di Indonesia, Pustaka Setia, Bandung, 2000, hlm. 44.
Ibid., hlm. 45.
6
Hilman Hadikusuma, Bahasa Hukum Indonesia, Alumni, Bandung, 1992, hlm. 21.

5

Universitas Sumatera Utara

Hazewinkel Suringa dalam Hilaman memberi defenisi tentang
“straafbaarfeit”

adalah

sebagai

perilaku manusia yang pada saat tertentu

telah ditolak didalam suatu pergaulan hidup dan dianggap sebagai perilaku
yang harus ditiadakan oleh hukum pidana dengan menggunakan sarana-sarana
yang bersifat memaksa yang terdapat didalamnya.7
Selanjutnya Van Hamel memberi defenisi tentang “straafbaarfeit”
sebagai suatu serangan atas suatu ancaman terhadap hak-hak orang lain.8
Menurut Pompe straafbaarfeit dirumuskan sebagai “suatu pelanggaran
norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan sengaja atau tidak
sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, dimana penjatuhan hukuman
terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan
terjaminya kepentingan umum.9
Simons memberi defenisi “straafbaarfeit” adalah sebagai suatu
tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak
dengan sengaja oleh seorang yang dapat dipertanggung jawabkan atas
tindakannya dan yang oleh Undang-undang telah dinyatakan suatu tindakan
yang dapat di hukum.
Hukum pidana Indonesia mengenal istilah tindak pidana. Istilah ini di
pakai sebagai pengganti perkataan straafbaarfeit, yang berasal dari Bahasa
Belanda.
7

Ibid., hlm. 46.
EY Kanter dan SR Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, Storia Grafika, Jakarta, hlm.
102.
9
Ibid., hlm. 103.
8

Universitas Sumatera Utara

Tindak pidana merupakan suatu pengeritan dasar dalam hukum pidana.
Tindak pidana adalah suatu pengertian yuridis. Lain halnya dengan istilah
perbuatan jahat atau kejahatan yang dapat diartikan secara yuridis (hukum) atau
secara kriminologis.
Mengenai isi dari pengertian tindak pidana ada kesatuan pendapat di
antara para sarjana. Menurut ajaran Causalitas (hubungan sebab akibat) di
sebutkan pada dasarnya setiap orang harus bertanggung jawab atas segala
perbuatan yang dilakukannya, namun harus ada hubungan kausa antara
perbuatan dengan akibat yang di larang dan di ancam dengan pidana. Hal ini
tidak selalu mudah , peristiwa merupakan rangkaian peristiwa serta tiada akibat
yang timbul tanpa sesuatu sebab.
Kemampuan bertanggung jawab, menurut Kitab Undang-Undang Pidana
Indonesia seseorang yang dapat dipidana tidak cukup apabila orang tersebut
telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat
melawan hukum, akan tetapi dalam penjatuhan pidana orang tersebut juga harus
memenuhi syarat “Bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai
kesalahan atau bersalah. Dengan perkataan lain orang tersebut dapat
dipertanggung jawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut
perbuatannya, perbuatannya itu dapat dipertanggung jawabkan”, disini berlaku
asas tiada pidana tanpa kesalahan (Nulla poena sine culpa).10
Berdasarkan rumusan di atas disebutkan bahwa untuk adanya

10

Ibid., hlm. 105

Universitas Sumatera Utara

pertanggung jawaban pidana diperlukan syarat bahwa pembuat mampu
bertanggung jawab. Tidaklah mungkin seseorang dapat dipertanggung
jawabkan apabila ia tidak mampu untuk di pertanggung jawabkan.

2. Bentuk-Bentuk Penganiayaan
Masalah tindak penganiayaan adalah satu masalah sosial yang selalu
menarik dan menuntut perhatian yang serius dari waktu ke waktu. Terlebih lagi,
menurut asumsi umum serta beberapa hasil pengamatan dan penelitian berbagai
pihak, terdapat kecenderungan perkembangan peningkatan dari bentuk dan
jenis tindak penganiayaan tertentu, baik secara kualitas maupun kuantitasnya.
Berbicara tentang konsep dan pengertian tentang tindak penganiayaan itu
sendiri, masih terdapat kesulitan dalam memberikan definisi yang tegas karena
masih terdapat keterbatasan pengertian yang disetujui secara umum.
Dalam pengertian legal tindak penganiayaan menurut Sue Titus Reid
sebagaimana dikutip Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa adalah :
Suatu aksi atau perbuatan yang didefinifikan secara hukum, kecuali jika
unsur-unsur yang ditetapkan oleh hukum kriminal atau hukum pidana
telah diajukan dan dibuktikan melalui suatu keraguan yang berlasan,
bahwa seseorang tidak dapat dibebani tuduhan telah melakukan suatu aksi
atau perbuatan yang dapat digolongkan sebagai tindak penganiayaan.
Dengan demikian, tindak penganiayaan adalah suatu perbuatan yang
disengaja atau suatu bentuk aksi atau perbuatan yang merupakan
kelalaian, yang kesemuanya merupakan pelanggaran atas hukum kriminal,
yang dilakukan tanpa suatu pembelaan atau dasar kebenaran dan diberi
sanski oleh negara sebagai suatu tindak pidana berat atau tindak
pelanggaran hukum yang ringan.11
Penganiayaan dalam Kamus Bahasa Indonesia diartikan sebagai perihal

11

Topo Santoso dan Eva Achjani Zilfa, Kriminologi, Rajawali Pers, Jakarta, 2003, .hlm. 21.

Universitas Sumatera Utara

(yang bersifat, berciri) keras, perbuatan seseorang atau kelompok orang yang
menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan
fisik atau barang orang lain.12 Dari uraian di atas, tampaklah bahwa batasan dan
pengertian tentang tindak penganiayaan yang diberikan adalah meliputi setiap
aksi

atau perbuatan yang melanggar undang-undang saja, dalam hal ini

adalah hukum kriminal atau hukum pidana.
Batasan tindak penganiayaan tidaklah hanya tindakan melanggar
hukum atau undang-undang saja, tetapi juga merupakan tindakan yang
bertentangan dengan conduct norms, yaitu tindakan-tindakan yang bertentangan
dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat walaupun tindakan itu belum
dimasukkan atau diatur dalam undang-undang. 13
Dalam kaitannya dengan pengertian tersebut, Mannheim menggunakan
istilah morally wrong atau deviant behaviors untuk tindakan yang melanggar
atau bertentangan dengan norma-norma sosial, walaupun belum diatur dalam
undang-undang (hukum pidana). Sedangkan istilah legally wrong atau crime
untuk menunjuk setiap tindakan yang melanggar undang-undang atau hukum
pidana.14
Keterbatasan pengertian atau definisi secara legal tersebut, juga
disadari oleh Reid dalam Chazawi dalam uraian-uraian selanjutnya.
Ada kecenderungan pendapat para pakar ilmu sosial bahwa pembatasan
studi tentang tindak penganiayaan dan pelaku terhadap seseorang yang
12

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka, Jakarta,
2003, hlm. 550.
13
Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002,
hlm. 65.
14
Ibid, hal. 66.

Universitas Sumatera Utara

dihukum karena melanggar hukum pidana adalah terlalu terbatas. Jika kita
tertarik untuk mengetahui mengapa seseorang cenderung bertingkah laku
merugikan masyarakat, kita harus keluar dari definisi hukum yang
ketat. Kita harus juga memasukkan tingkah laku yang disebut
penganiayaan tetapi tidak dihukum jika diperbuat.15
Seorang kriminolog, Thorsten Sellin dalam Chazawi mengatakan :
Ada pendekatan yang lain yaitu norma-norma tingkah laku yang terbentuk
melalui interaksi sosial dalam kelompok. Norma-norma ini didefinisikan
secara sosial, berbeda pada setiap kelompok dan tidak perlu dijadikan
hukum tertulis. Sellin, dengan demikian lebih suka untuk menunjuk
pelanggaran norma tingkah laku sebagai tingkah laku yang abnormal
daripada memberikan definisi tindak penganiayaan.16
Terlepas dari belum adanya keseragaman konsep tentang tindak
penganiayaan itu sendiri pada dasarnya usaha pendefinisian adalah penting dan
harus merupakan usaha yang mendahului studi tentang tindak penganiayaan itu
sendiri.
KUH Pidana di dalam Pasal-Pasalnya tidak ada mengatur secara tegas
tentang pengertian penganiayaan. Tetapi apabila menilik keberadaan Pasal 89
yang mengatur perihal kekerasan maka dapat dikatakan terdapat persamaannya
dengan istilah penganiayaan. Adapun bunyi Pasal 89 KUH Pidana adalah
“Yang disamakan melakukan kekerasan itu, membuat orang jadi pingsan atau
tidak berdaya lagi (lemah)”.
Bunyi Pasal 89 KUH Pidana di atas tidak secara jelas apa sebenarnya
tindakan-tindakan

penganiayaan

tersebut

atau

dengan

kata

lain apa

sebenarnya perbuatan-perbuatan yang dapat mengakibatkan seseorang tersebut
menjadi pingsan dan tidak berdaya tidak ada diterangkan.

15

Ibid, hal. 67.

Universitas Sumatera Utara

Dalam Pasal yang lain juga diterangkan yaitu pada Pasal 285 KUH
Pidana bahwa “ Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia. di luar
hukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua
belas tahun “.
Kekerasan

yang

dapat

disamakan

dengan

penganiayaan

yang

dimaksudkan dalam Pasal 285 KUH Pidana di atas secara jelas ditentukan
perbuatannya sehingga dengan demikian pengertian penganiayaan tersebut
tidak menjadi mengambang.17
Dengan uraian-uraian tersebut di atas maka dapat dikatakan dalam
bagian ini bahwa jenis-jenis penganiayaan yang diatur di dalam KUH Pidana
adalah :
1. Penganiayaan yang mengakibatkan seseorang menjadi pingsan dan tidak
berdaya, serta
2. Penganiayaan yang dalam hal melakukan perkosaan.18
Apabila kita melihat Pasal-Pasal yang diuraikan di dalam Pasal 351 sampai dengan 356 KUH Pidana adalah
Pasal-Pasal tentang penganiayaan sesuai dengan judul sub babnya yaitu Bab IX Tentang Penganiayaan.

Untuk lebih lanjutnya akan diuraikan Pasal 351 sampai dengan Pasal
356 KUH Pidana :
Pasal 351. (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling
lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak
tiga tahun.
16

Ibid, hlm. 66.
Wirjono Prodjodikoro, Tindak-Tindak Pidana Tertentu di Indonesia, Eresco, Bandung, 1986,
hlm. 41.
18
R. Soesilo, Pokok-Pokok Hukum Pidana Peraturan Umum dan Delik-Delik Khusus, Politeia,
Bogor, hlm. 77.
17

Universitas Sumatera Utara

Pasal 352.

Pasal 353.

Pasal 354.

Pasal 355.

Pasal 356

(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka berat yang bersalah
dikenakan pidana penjara paling lama lima tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara
paling lama tujuh tahun.
(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak
kesehatan.
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
(1) kecuali yang tersebut dalam Pasal 353 dan 356, maka
penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencarian diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan
pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling
banyak tiga ratus rupiahlm.
Pidana dapat ditambah sepertigaa bagi orang yang
melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja
padanya atau menjadi bawahannya.
(2) percobaab untuk melakukan kejahatan tidak dipidana.
(1) Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam
dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang
bersalah dikenakan pidana penjara paling lama tujuh
tahun.
(3) jika perbuatan mengakibatkan mati, dia dikenakan pidana
penjara paling lama sembilan tahun.
(1) Barang siapa sengaja melukai berat orang lain diancam,
karena melakukan penganiayaan berat, dengan pidana
penjara paling lama delapan tahun.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah
dikenakan pidana penjara paling lama sepuluh tahun.
(1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih
dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua
belas tahun.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah
dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Hukuman yang ditentukan dalam Pasal 351, 353, 354 dan 355
dapat ditambah dengan sepertiganya:
1e. Juga sitersalah melakukan kejahatan itu kepada ibunya,
bapanya yang sah, isterinya (suaminya) atau anaknya.
2e Jika kejahatan itu dilakukan kepada seorang pegawai
negeri pada waktu atau sebab ia menjalankan pekerjaan
yang sah.
3e Jika kejahatan itu dilakukan dengan memakai bahan yang
merusakkan jiwa atau kesehatan orang.

Apabila dilihat isi Pasal tentang penganiayaan tersebut dapat juga

Universitas Sumatera Utara

digolongkan kepada tindakan penganiayaan. Atau dengan kata lain tindakantindakan penganiayaan dengan konsekuensi hukuman pidana ditentukan di
dalam Pasal 351 s/d 355 KUH Pidana di atas dapat juga diterapkan terhadap
tindakan penganiayaan.
Yang menjadi pertanyaan adalah perihal apabila yang menjadi objek
penganiayaan tersebut adalah wanita. Wanita sebagaimana diuraikan terdahulu
adalah makhluk yang lemah, sehingga sangat riskan sekali sebagai objek dari
penganiayaan tersebut.
Maka apabila dihubungkan dengan pembahasan ini adalah sangat
berhubungan sekali apabila telah terjadi peristiwa pidana penganiayaan
terhadap wanita maka hukuman maksimal yang diatur di dalam Pasal 351 s/d
355 dapat dikenakan terhadap pelaku penganiayan terhadap wanita tersebut.

Metode Penelitian 

1. Jenis dan Sumber Data
Adapun jenis data penelitian ini adalah data sekunder Sedangkan
sumber data penelitian ini didapatkan melalui:
a. Bahan hukum primer, dalam penelitian ini dipakai
1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik
Indonesia.
2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
b. Bahan hukum sekunder, berupa bacaan yang relevan dengan materi yang

Universitas Sumatera Utara

diteliti.
c. Bahan hukum tertier, yaitu dengan menggunakan kamus hukum maupun
kamus umum dan website internet baik itu melalui Google maupun Yahoo.

2. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah meliputi pihak keplisian. Sedangkan
sampel penelitian ini adalah 3 orang Polisi.

3. Cara Memperoleh Data
Untuk memperoleh data penelitian maka dilakukan penelitian secara
kepustakaan melalui bahan-bahan pustaka yang berkaitan dengan pembahasan
skripsi ini.

4. Alat Pengumpulan Data
Banyak alat yang dapat dipakai oleh peneliti untuk mengumpulkan data.
Alat pengumpulan data yang dipergunakan didalam penelitian ini, yaitu :
1) Studi dokumen atau bahan pustaka
Bahan pustaka dimaksud yaitu bahan hukum primer, bahan hukum
sekunder, dan bahan hukum tersier.
2) Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap informen dan responden yang telah
ditetapkan. Wawancara dimaksud berupa wawancara terarah yang lebih

Universitas Sumatera Utara

dahulu dipersiapkan pelaksanaannya dengan membuat pedoman wawancara
sehingga hasil wawancara relevan dengan permasalahan yang teliti.

5. Analisis Data
Untuk menganalisis data, digunakan analisis yuridis kualitatif adalah
pengkajian hasil olah data yang tidak berbentuk angka yang lebih menekankan
analisis hukumnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif dengan
menggunakan cara-cara berfikir formal dan argumentatif.19
Data yang terkumpul mengenai perumusan suatu Perda akan diolah
dengan cara mengadakan sistematisasi bahan-bahan hukum dimaksud, yaitu
membuat klasifikasi terhadap bahan-bahan hukum. Data yang diolah tersebut
diinterprestasikan dengan menggunakan cara penafsiran hukum dan kontruksi
hukum yang lazim dalam ilmu hukum dan selanjutnya dianalisis secara yuridis
kualitatif dalam bentuk penyajian yang bersifat yuridis normatif.

Sistematika Penulisan 

Sistematika penulisan skripsi ini adalah:
BAB I.

PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang: Latar Belakang, Permasalahan,
Tujuan dan Manfaat Penelitian, Keaslian Penulisan, Metode

19

M. Syamsuddin, Operasionalisasi Penelitian Hukum, Jakarta: Grafindo Persada, 2007,

hal. 133.

Universitas Sumatera Utara

Penelitian, serta Sistematika Penulisan.
BAB II. TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN YANG MENONJOL DI
POLRESTA MEDAN
Bab ini membahas tentang Situasi Wilayah Tugas Polresta
Medan, Situasi Personil Pada Polresta Medan, Jumlah Sarana di
Polresta Medan, Kasus Penganiayaan Yang Paling Menonjol di
Polresta Medan, serta Rekapitulasi Kasus Penganiayaan Tahun 2009
dan Januari s/d Desember 2010.
BAB III. FAKTOR-FAKTOR

PENYEBAB

TERJADINYA

KASUS

PENGANIAYAAN DI POLRESTA MEDAN
Bab ini membahas tentang Rendahnya Pendidikan, Melonjaknya
Angka Pengangguran, Rendahnya Tingkat Kesadaran Masyarakat
Tentang Hukum dan Peraturan, Kemiskinan, Lingkungan dan Lahan.
BAB IV. PENEGAKAN HUKUM ATAS TINDAK PENGANIAYAAN
OLEH APARAT KEPOLISIAN DI POLRESTA MEDAN
Bab ini membahas tentang Upaya Hukum Preventif, Upaya
Hukum Persuasif dan Upaya Hukum Represif.
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan bab kesimpulan dan saran.

Universitas Sumatera Utara

BAB II

TINDAK PIDANA YANG MENONJOL DI POLRESTA MEDAN

Situasi Wilayah Tugas Polresta Medan
Polresta Medan memiliki wilayah tugas di Kota Medan dan sebagian
kecil wilayah Kabupaten Deli Serdang. Kota Medan adalah merupakan Ibukota
Provinsi Sumatera Utara, sehingga selain tempat dan kedudukan Polrestas
Medan, Kota Medan juga juga tempat dan kedudukan Kepolisian Daerah
Sumatera Utara.
Polresta Medan terletak pada koordinat 03.24’ Lintang Utara dan 98 41’
Bujur Timur. Luas daerah Polresta Medan 125,349,28 Ha, meliputi 12 (dua
belas) beserta jajarannya sebagai berikut:
1. Polsekta Medan Area dengan luas wilayah 1.409 Ha, meliputi:
a. Kecamatan Medan Area
b. Kecamatan Medan Denai.
2. Polsekta Medan Kota dengan luas wilayah 9,345 Ha, meliputi:
a. Kecamatan Medan Kota
b. Kecamatan Medan Maimun.
3. Polsekta Medan Timur dengan luas wilayah 1,297 Ha, meliputi:
a. Kecamatan Medan Timur.
b. Kecamatan Medan Perjuangan.

Universitas Sumatera Utara

4. Polsekta Medan Barat dengan luas wilayah 382 Ha.
5. Polsekta Medan Baru dengan luas wilayah 3,926 Ha, meliputi:
a. Kecamatan Medan Baru.
18

b. Kecamatan Medan petisah.
c. Kecamatan Medan Polonia.
6. Polsekta Medan Helvetia dengan luas wilayah 1.157,25 Ha
7. Polsekta Percut Sei Tuan dengan luas wilayah 18,840 Ha, meliputi:
a. Kecamatan Medan Tembung dengan luas daerah 8.110 Ha
b. Kecamatan Percut Sei Tuan dengan luas daerah 10.530 Ha.
8. Polsekta Medan Patumbak dengan luas wilayah 6.028,3 Ha, meliputi:
a. Kecamatan Medan Amplas dengan luas daerah 1.378,3 Ha.
b. Kecamatan Patumbak dengan luas daerah 4.650 Ha.
9. Polsekta Deli Tua, dengan luas daerah 36,675 Ha, meliputi:
a. Kecamatan Medan Johor.
b. Kecamatan Medan Tuntungan.
c. Kecamatan Deli Tua.
10. Polsekta Sunggal dengan luas wilayah 12.524.609 Ha, meliputi:
a. Kecamatan Medan Sunggal dengan luas daerah 1.329,609 Ha
b. Kecamatan Medan Selayang dengan luas daerah 2.379 Ha
c. Kecamatan Sunggal dengan luas daerah 8.816 Ha.
11. Polsekta Pancur Batu dengan luas wilayah 29.109,35 Ha, meliputi:
a. Kecamatan Pancur Batu dengan luas daerah 11.147,35 Ha
b. Kecamatan Sibolangit dengan luas daerah 17.962 Ha.

Universitas Sumatera Utara

12. Polsekta Kutalimbaru dengan luas wilayah 17.696 Ha.
Batas wilayah Hukum Polresta Medan yaitu:
1. Sebelah Utara dengan Selat Malaka.
2. Sebelah Selatan dengan Polres Deli Serdang dan Polres Tanah Karo.
3. Sebelah Timur dengan Polres Deli Serdang dan Selat Malaka.
4. Sebelah Barat dengan Polres Deli Serdang dan Polres Langkat.

Situasi Personil Pada Polresta Medan
Situasi personil pada Polresta Medan dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Bagian Ops, yaitu:
a. Komisaris Polisi sebanyak 1 orang
b. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 3 orang.
c. Inspektur Polisi sebanyak 7 orang
2. Bagian Ren, yaitu:
a. Komisaris Polisi sebanyak 1 orang
b. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 2 orang.
c. Inspektur Polisi sebanyak 3 orang.
3. Bagian Sumda, yaitu:
a. Komisaris Polisi sebanyak 1 orang
b. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 3 orang.
c. Inspektur Polisi sebanyak 7 orang
4. Satuan Binmas, yaitu:
a. Komisaris Polisi sebanyak 1 orang

Universitas Sumatera Utara

b. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 4 orang.
c. Inspektur Polisi sebanyak 5 orang
5. Satuan Intelkam, yaitu:
a. Komisaris Polisi sebanyak 1 orang
b. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 5 orang.
c. Inspektur Polisi sebanyak 10 orang.
6. Satuan Lantas, yaitu:
a. Komisaris Polisi sebanyak 1 orang
b. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 5 orang.
c. Inspektur Polisi sebanyak 10 orang.
7. Satuan Narkoba, yaitu:
a. Komisaris Polisi sebanyak 1 orang
b. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 3 orang.
c. Inspektur Polisi sebanyak 6 orang
8. Satuan Pam Obvit:
a. Komisaris Polisi sebanyak 1 orang
b. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 2 orang.
c. Inspektur Polisi sebanyak 4 orang
9. Satuan Reskrim, yaitu:
a. Komisaris Polisi sebanyak 1 orang
b. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 9 orang.
c. Inspektur Polisi sebanyak 14 orang
10. Satuan Sabhara, yaitu:

Universitas Sumatera Utara

a. Komisaris Polisi sebanyak 1 orang
b. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 4 orang.
c. Inspektur Polisi sebanyak 9 orang
11. Satuan Tahti, yaitu:
a. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 1 orang.
b. Inspektur Polisi sebanyak 2 orang
12. Sikeu, yaitu:
a. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 1 orang.
b. Inspektur Polisi sebanyak 4 orang
13. Sipropam, yaitu:
a. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 1 orang.
b. Inspektur Polisi sebanyak 2 orang
14. Sitipol, yaitu:
a. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 1 orang.
b. Inspektur Polisi sebanyak 2 orang
15. Sium, yaitu:
a. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 1 orang.
b. Inspektur Polisi sebanyak 2 orang
16. Siwas, yaitu:
a. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 1 orang.
b. Inspektur Polisi sebanyak 2 orang
17. SPKT, yaitu:
a. Ajun Komisaris Polisi sebanyak 1 orang.

Universitas Sumatera Utara

b. Inspektur Polisi sebanyak 3 orang.

Jumlah Sarana di Polresta Medan
Sarana-sarana yang terdapat di Polresta Medan meliputi:
1. Ruang bekerja untuk polisi.
2. Ruang pemeriksaan.
3. Ruang tahanan.
4. Ruang pelayanan masyarakat seperti untuk mengambil surat berkelakuan
baik,
5. Kendaraan atau Mobil patroli.
6. Ruang pelayanan pelaporan.
7. Tempat menampung kendaraan hasil rasia
8. Tempat penyimpanan barang sitaan.
9. Dan lain-lain.

Kasus Penganiayaan Yang Paling Menonjol di Polresta Medan
Kasus penganiayaan yang paling menojol di Polresta Medan dapat
diuraikan sebagai berikut:

1. Tindak Pidana Penganiayaan atas nama Mei Yong Alias Go Miong.
Mei Yong Alias Go Miong, perempuan, umur 45 tahun, pekerjaan ibu
rumah tangga, alamat Jalan Belitung No. 26 Medan atau Jalan Sutrisno Gang C
No. 52 D Medan.

Universitas Sumatera Utara

Mei Yong Alias Go Miong dituduh melakukan tindak pidana
penganiayaan pada tanggal 03 Juli 2010 sekira pukul 19.30 WIB dan pukul
21.30 WIB di Jalan Belitung No. 26 Medan dengan cara melakukan
penganiayaan terhadap korban Lili Juliana secara berulang kali dengan
menggunakan satu potong kayu bulat panjang sekira-kira 175 Cm, Sandal dan
tangan serta mencekik leher korban sehingga mengakibatkan luka memar pada
punggung, leher dan tangan kanan korban.
Tersangka Mei Yong Alias Go Miong dipersangkakan melanggar bunyi
Pasal 351 KUHP “Barang siapa yang dimuka umum melakukan kekerasan
terhadap orang atau barang”.

2. Tindak Pidana Penganiayaan atas nama Ahmad Faisal Alias Lubis.
Ahmad Faisal Alias Lubis, umur 36 Tahun, Lahir di Kota Nopan
Tanggal 27 Agustus 1974, Pekerjaan : Wiraswasta, Pendidikan Terakhir: SMA,
Kewarganegaraan: Indonesia, Agama Islam, Suku Batak, Jenis kelamin LakiLaki, Status Menikah, Alamat Jalan Baru Gang Abdul Halim Nur No. 10
Kelurahan Tembung Kecamatan Medan Tembung.
Diterangkan dalam perkara penganiayaan tersebut telah terjadi antara
tersangka Ahmad Faisal Lubis alias Lubis dengan Saudari Masrona Harahap
Br. Harahap.
Hasil pemeriksaan menyimpulkan berdasaran keterangan saksi korban
dan saksi-saksi serta dengan adanya Vosum maka terhadap tersangka terpenuhi
unsur Pasal 351 KUH Pidana perihal penganiayaan.

Universitas Sumatera Utara

Rekapitulasi Kasus Penganiayaan Tahun 2009 dan Januari sampai dengan
Desember 2010
Rekapitulasi kasus penganiayaan dari Tahun 2009 dan Tahun 2010
dapat diuraikan sebagai berikut:
Tabel 1
Rekapitulasi Kasus Penganiayaan Tahun 2009
Di Polresta Medan

No.

Kelompok Kejahatan

1.
Pembunuhan
2.
Penganiayaan Berat
3.
Penganiayaan Ringan
Sumber : Sat Reskrim Polresta Medan

Crime Total
13
868
135

Crime Clearance
16
427
38

Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat bahwa pada dasarnya kasus penganiayaan dapat digolongkan kepada
penganiayaan berat dan penganiayaan ringan. Tetapi meskipun demikian sekedar sebagai pembanding diuraikan juga
kejahatan pembunuhan yang juga didahului dengan penganiayaan, tetapi disebabkan korbannya kehilangan nyawa maka
kejahatan tersebut digolongkan kepada kejahatan pembunuhan.

Tabel di atas juga menjelaskan bahwa penganiayaan berat memiliki
jumlah kasus yang terbesar apabila diperbandingkan dengan penganiayaan
ringan, dimana penganiayaan berat crime totalnya sebagnyak 868 kasus
sedangkan penganiayaan ringan sebanyak 135 kasus. Demikian juga halnya
crime clearance penganiayaan berat sebanyak 427 kasus sedangkan
penganiayaan ringan sebanyak 38 kasus.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2
Rekapitulasi Kasus Penganiayaan Tahun 2010
Di Polresta Medan

No.

Kelompok Kejahatan

1.
Pembunuhan
2.
Penganiayaan Berat
3.
Penganiayaan Ringan
Sumber : Sat Reskrim Polresta Medan

Crime Total

Crime Clearance

1
112
14

6
99
5

Demikian juga halnya penganiayaan tahun 2010 menunjukkan bahwa penganiayaan berat lebih besar jumlahnya
apabila diperbandingkan dengan penganiayaan ringan. Dimana penganiayaan berat dengan jenis crime total sebanyak 112
kasus sedangkan crime clearance sebanyak 99 kasus. Penganiayaan ringan untuk crime total sebanyak 14 kasus dan untuk
crime clearance sebanyak 5 kasus.

Universitas Sumatera Utara

BAB III
FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KASUS PENGANIAYAAN DI
POLRESTA MEDAN

Dalam masalah kriminalitas dan kejahatan, upaya penanggulangan dan
pencegahan perlu dilakukan secara terpadu, yaitu antara kebijakan hukum
pidana (melalui penanganan oleh aparat keamanan) dan kebijakan non hukum
pidana, berupa kebijakan ekonomi, sosial, budaya, agama, pendidikan, politik,
dan lain-lain.
Upaya pencegahan dan penanggulangan kejahatan tidak bisa dilakukan bila hanya mengandalkan kebijakan
hukum pidana saja. Upaya ini tidak akan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang begitu kompleks yang terjadi
di masyarakat. Adanya sanksi pidana hanya menyelesaikan masalah yang sudah terjadi. Ia tidak dapat menghilangkan sebabsebab terjadinya kejahatan. Sanksi pidana hanya berusaha mengatasi akibat dari penyakit, bukan sebagai obat untuk
mencegah munculnya penyakit.

Pernyataan yang sering diungkapkan dalam kongres-kongres PBB
mengenai kriminalitas dan kejahatan adalah "the prevention of crime and the
treatment of offenders", yaitu : pencegahan kejahatan dan tindakan terhadap
pelaku. Pertama, pencegahan kejahatan dan peradilan pidana jangan dilihat
sebagai problem yang terpisah dan ditangani dengan metode yang simplistik
dan parsial, tetapi seyogyanya dilihat sebagai masalah yang lebih kompleks dan
ditangani dengan kebijakan/tindakan yang luas dan menyeluruh.
Kedua, pencegahan kejahatan harus didasarkan pada penghapusan
27

sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang menyebabkan timbulnya kejahatan.
Ketiga, perlunya dibangun kesadaran bahwa penyebab utama dari kejahatan
yang sebenarnya ialah adanya ketimpangan sosial, masalah ekonomi,
kemiskinan, pengangguran, dan semacamnya.

Universitas Sumatera Utara

Dalam upaya penanggulangan dan pencegahan kejahatan harus
didukung juga dengan meningkatnya kesadaran hukum masyarakat. Kesadaran
hukum masyarakat merupakan salah satu bagian dari budaya hukum. Budaya
hukum juga mencakup kesadaran hukum dari pihak pelaku usaha, parlemen,
pemerintah, dan aparat penegak hukum. Hal ini menunjukkan kesadaran hukum
yang masih rendah dari pihak yang seharusnya menjadi tauladan bagi
masyarakat dalam mematuhi dan menegakkan hukum.
Kejahatan merupakan produk dari masyarakat, sehingga apabila
kesadaran hukum telah tumbuh dimasyarakat, kemudian ditambah dengan
adanya upaya strategis melalui kolaborasi antara sarana pidana dan non pidana,
maka dengan sendiri tingkat kriminalitas akan turun, sehingga tujuan akhir
politik kriminal, yaitu upaya perlindungan masyarakat (social defence) dan
upaya mencapai kesejahteraan masyarakat (social welfare) akan terwujud.
Strategi pencegahan kejahatan yang paling efektif adalah kebersamaan
masyarakat dengan polisidalam

melakukan pencegahan kejahatan sekecil

apapun ditengah masyarakat. Keberhasilan tugas polisi sangat tergantung pada
hubungan yang positif antara masyarakat dengan polisinya. Sebagaimana
dinyatakan oleh G. Richards bahwa : “Prevention and detection of crime are
basic function of the police and successful prevention and detection of crime
depend most on a productive relationship between the community and the
police”. 20

20

Publikasi, “Membangun Budaya Hukum Masyarakat
http://www.prihandoko.com, Diakses tanggal 29 April 2011.

Untuk

Cegah

Kejahatan”,

Universitas Sumatera Utara

Keberadaan Pos Polisi yang saat ini sedang dikembangkan di Medan harus dilihat sebagai bagian dari warga
setempat dan bukan sebagai polisi yang dipanggil untuk menangani situasi darurat. Tugas Pos Polisi justru untuk membuat
warga tidak memerlukan bantuan petugas Polisi dari luar. Pos Polisi harus dilihat sebagai dokter umum dalam pemolisian.
Pos Polisi berkonsentrasi melakukan konsultasi dengan warga yang menghadapi masalah dan membantu warga setelah
kejahatan ditangani. Pos Polisi seharusnya tinggal dan berkantor di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya sehingga
warga dapat menemuinya dengan mudah. Dengan demikian, keharmonisan akan tercipta dan secara otomatis tingkat
kejahatan di lingkungan kita akan jauh berkurang.

Rendahnya Pendidikan

Rendahnya pendidikan digolongkan sebagai faktor penyebab terjadinya
kasus penganiayaan di Polresta Medan, adalah karena dengan tanpa adanya
pendidikan maka seseorang melakukan suatu perbuatan yang bertentangan
dengan hukum seperti penganiayaan sedemikian saja melakukan perbuatannya
tanpa pernah dipikir dan dipertimbangkan terlebih dahulu.
Dengan rendahnya pendidikan maka seseorang tidak memiliki penalaran
ke depan tentang akibat perbuatannya seperti melakukan penganiayaan,
sehingga banyak kasus-kasus penganiayaan yang terjadi di lingkungan Polresta
Medan akibat dari rendahnya pendidikan. Pelaku penganiayaan di Kota Medan
rata-rata memiliki pendidikan tamat SD atau tidak tamat SMP sebanyak 63%
dari seluruh total pelaku penganiayaan. Kondisi ini menggambarkan bahwa
pelaku penganiayaan lebih banyak didominasi oleh faktor pendidikan yang
rendah.
Berbicara tentang pendidikan semua pasti sudah tahu bahwa betapa
pentingnya hal tersebut. Pendidikan, kemampuan, pengetahuan merupakan
salah satu modal yang harus dimiliki untuk hidup di zaman yang serba sulit ini.
Dikatakan demikian karena dengan pendidikan seseorang dapat mengajukan

Universitas Sumatera Utara

surat lamaran perkerjaan. Dengan pendidikan seseorang akan mengetahui apa
yang dibutuhkan ketika ingin memulai suatu bisnis atau usaha.
Di dalam bangku pendidikan banyak sekali hal yang didapatkan.Tetapi
entah mengapa banyak sekali warga di Indonesia ini yang tidak mengenyam
bangku pendidikan sebagaimana mestinya, khususnya di daerah-daerah
terpencil di sekitar wilayah Indonesia ini. Mungkin karena memang mereka
mempunyai jalan pikiran yang sempit atau mungkin juga karena otak mereka
tidak mampu untuk mengikuti pelajaran di bangku pendidikan tersebut. Jadi
faktor ekonomi bukan penyebab utamanya.

Melonjaknya Angka Pengangguran

Apakah maraknya kejahatan seperti penganiayaan terkait dengan jumlah
pengangguran. Kriminolog asal Malang Reinekso Kartono mengungkapkan,
kejahatan termasuk penganiayaan adalah anak dari sebuah kemiskinan dan
kemiskinan adalah saudara dari pengangguran.21
Dari perkataan tersebut, dia menjabarkan bahwa jumlah kejahatan akan berba