Analisis kesulitan guru matematika dalam melaksanakan pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Ciseeng Bogor

ANALISIS KESULITAN GURU MATEMATIKA DALAM
MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN DI MADRASAH
IBTIDAIYAH SWASTA CISEENG BOGOR

Oleh :

SYARIPUDIN
NIM : 503016029905

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010 M / 1431 H

ANALISIS KESULITAN GURU MATEMATIKA DALAM
MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN DI MADRASAH
IBTIDAIYAH SWASTA CISEENG BOGOR
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk memenuhi syarat-syarat gelar
Sarjana Pendidikan Matematika

Oleh :

SYARIPUDIN
NIM : 503016029905

Dibawah Bimbingan

Dra. Maifalinda Fatra M. Pd
NIP :19700528 199603 2002

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H / 2010 M

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
Skripsi berjudul "Analisis Kesulitan Guru Matematika Dalam Melaksanakan
Pembelajaran Di Madrasah Ibtidaiyah Swasta Ciseeng Bogor" yang disusun
oleh: Syaripudin, NIM: 503016029905, Jurusan Pendidikan Matematika,
Program Studi Pendidikan Matematika telah melalui bimbingan dan dinyatakan
sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqosah
sesuai yang ditetapkan fakultas.

Jakarta, 25 Juni 2009

Yang Mengesahkan

Pembimbing

Dra. Maifalinda Fatra. M. Pd
NIP :19700528 199603 2002

LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi berjudul: "ANALISIS KESULITAN GURU MATEMATIKA DALAM
MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN DI MADRASAH IBTIDAIYAH SWASTA
CISEENG BOGOR" telah diujikan dalam ujian munaqasyah Fakultas Ilmu

Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Maret
2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar
Sarjana Strata Satu (S1) pada Jurusan Pendidikan Matematika.
Jakarta, 05 Maret 2010
Panitia Ujian Munaqosah
Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Program Studi)
Dra.Maifalinda Fatra. M.Pd.
NIP :19700528 199603 2002

Tanggal

Tanda tangan

05-03-2010

…………….

05-03-2010

……………..

05-03-2010

……………...

05-03-2010

……………..

Sekretaris Jurusan
Otong Suhyanto M. Si
NIP. 196811041999031001
Penguji I
Otong Suhyanto M. Si
NIP. 196811041999031001
Penguji II
Lia Kurniawati M. Pd
NIP : 150408695

Mengetahui:
Dekan

Prof. Dr. H. Dede Rosyada. MA
NIIP. 19571005 198703 1003

PERNYATAAN KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama

: Syaripudin

NIM

: 503016029905

Jurusan/Semester

: Pendidikan Matematika

Angkatan Tahun

: 2003/2004

Alamat

: Jl. H Usa. Desa Ciseeng Kecamatan Ciseeng
Kabupaten Bogor

Menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa skripsi yang berjudul
“ANALISIS KESULITAN GURU MATEMATIKA DALAM MELAKSANAKAN
PEMBELAJARAN DI MADRASAH IBTIDAIYAH SWASTA CISEENG BOGOR

" adalah benar hasil karya sendiri dibawah bimbingan :

Nama

: Dra Maifalinda Fatra M. Pd

NIP

: 19700528 199603 2002

Dosen Jurusan

: Pendidikan Matematika

Yang Membuat Pernyataan

SYARIPUDIN

KATA PENGANTAR

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat teriring salam semoga selalu tercurah kepada junjungan Alam Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia menuju jalan yang di
Rahmati Allah SWT. Amin
Tiada kata yang dapat penulis ucapakan selain terima kasih yang
sebesr-besarnya atas bantuan dan masukkannya kepada semua pihak yang telah
membantu dan memberi dukungan kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini, terutama kepada :
1.

Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2.

Maifalinda Fatra M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, juga sebagai
pembimbing skripsi terima kasih atas motivasi dan kesabarannya member
kesempatan kepada penulis untuk menyelsaikan skripsi ini.

3.

Bapak dan Ibu Dosen program studi pendidikan matematika, yang telah
dengan sabar dan penuh keikhlasan mendidik penulis, semoga ilmu yang
diberikan kepada penulis dapat bermanfaat.

4.

Yang tercinta ayahanda Djamiat dan Ibunda Engki yang telah melimpahkan
segenap kasih sayang yang tak terhingga.

5.

Ananda dan istri tercinta Latifah Asmul fauziah, Zulfa Nurfaiza dan Siti
Rosmawati yang senantiasa memberikan dorongan dan semangatnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

6.

Segenap guru

matematika MI swasta Kecamatan Ciseeng Bogor, terima

kasih atas partisipasinya membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7.

Bapak Opik Ropiudin S. Pd, kepala MI Taufiqul Athfal Ciseeng Bogor serta
dewan guru dan staf yang selalu memberikan motivasi dan saran-sarannya.

8.

Kepala sekolah MI/SD sekecamatan Ciseeng Bogor yang telah membantu
memberikan data dan informasi untuk kepentingan penelitian.

9.

Teman-teman scholarship angkatan tahun 2003 (Sutisna, Sanwani, Abdillah,
Asep, Ropiudin, Suherman, Oni Yunansih, Umi Kulsum, Indrawati dan
Khanifah) terima kasih atas saran-saran dan kebersamaannya.

10. Adinda tercinta (Mimin Mintarsih, Mimi Jamilah, Rudi Hartono, dan Siti
Maesyaroh), terima kasih atas partispasi, motivasi dan cinta dan kasih sayang
nya.
Semoga bantuan, bimbingan, arahan serta doa yang telah diberikan menjadi
suatu amal sholih di sisi Allah SWT, dan karya kecil ini dapat bermanfaat untuk
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang pendidikan matematika baik
bagi pembaca maupun bagi penulis, Amin.

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
PENDAHULUAN...........................................................................................................i
DAFTAR ISI ................................................................................................................iv
DAFTAR TABEL .......................................................................................................vii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah....................................................................... 7
C. Pembatasan Dan Perumusan Masalah ............................................. 8
D. Tujuan penelitian............................................................................ 9
E. Kegunaan penelitian....................................................................... 9
BAB II ACUAN TEORITIK
1. Tinajauan tentang belajar matematika...................................……..10
a. Pengertian Matematika dan ruang Lingkupnya..................... 10
b. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Matematika................ 14
c. Metode Pembelajaran Matematika ....................................... 18
d. Pendekatan pembelajaran Matematika................................ 22
e. Strategi Pembelajaran Matematika ........................................ 26
2. Tinjauan Tentang Guru .................................................................. 28

a. Pengertian guru ...................................................................... 28
b.Peranan Guru Matematika dalam Proses Pembelajaran............ 31
3. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar ....................... 35
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian ........................................................ 42
B. Metode Penelitian. ........................................................................ 42
C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel .................................... 42
D. Teknik Pengumpulan Data. ............................................................ 43
E. Teknik Analisa Data....................................................................... 43
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian................................................ 45
B. Deskripsi Data ............................................................................... 47
C.Pembahasan .................................................................................... 57
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan.................................................................................... 63
B. Saran.............................................................................................. 64
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 65
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
1. Keadaan Guru Matematika Di MI Swasta Ciseeng Bogor…………………….
2. Kesulitan Dalam Merencanakan Proses Pembelajaran……………………….
3. Sebab Kesulitan Dalam Merencanakan proses Pembelajaran……………….
4. Kesulitan Dalam Melaksanakan proses pembelajaran………………………
5. Sebab kesulitan Dalam Proses Pembelajaran………………………………..
6. Kesulitan Dalam Berkomunikasi Dengan Siswa…………………………….
7. Sebab Kesulitan Dalam Berkomunikasi Dengan Siswa……………………..
8. Supervisi Terhadap Guru Matematika……………………………………….

DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar Angket Guru……………………………………………………………
2. Pertanyaan Wawancara……………………………………………………….
3. Berita Acara Wawancara………………………………………………………
4. Pengajuan Judul Skripsi……………………………………………………….
5. Pemohonan Dosen Pembimbing………………………………………………
6. Permohonan Riset………………………………………………………………
7. Surat Keterangan Penelitian……………………………………………………

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sesuai dengan kemajuan zaman, maka peningkatan pendidikan mutlak
diperlukan untuk menyeimbangi kemajuan teknologi yang semakin pesat.
Pendidikan sangat penting dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan, baik dalam kehidupan seseorang, keluarga, maupun bangsa dan
Negara. Maju mundurnya suatu bangsa banyak ditentukan oleh maju mundurnya
pendidikan bangsa itu.
Mengingat sangat pentingnya bagi kehidupan, maka pendidikan harus
dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga memperoleh hasil yang diharapkan. Untuk
melaksanakan pendidikan harus dimulai

dengan pengadaan tenaga pendidik

sampai pada usaha peningkatan mutu pendidikan. Kemampuan guru sebagai
tenaga kependidikan, baik secara personal, sosial, maupun profesional, harus
benar-benar dipikirkan karena pada dasarnya guru sebagai tenaga kependidikan
merupakan tenaga lapangan yang langsung melaksanakan kependidikan dan
sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan.
"Pendidikan adalah aktifitas dan usaha manusia untuk meningkatkan
kepridiannya dengan jalan membina potensi-potesi pribadinya, yaitu rohani,
(pikir, karsa, rasa, cipta, dan nurani) dan jasmani (panca indra serta

keterampilan)"1. Pendidikan menurut

John Dewey adalah suatu proses

pembaharuan makna pengalaman, mungkin akan terjadi dalam pergaulan biasa
atau pergaulan orang tua dengan pergaulan orang dewasa, mungkin juga terjadi
secara sengaja dilembagakan menghasilkan kesinambungan sosial. Lebih lanjut
Hamdani Ali mengatakan, " Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha
dan perbuatan dari generasi tua mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya,
kecakapannya,

serta

keterampilannya

kepada

generasi

muda

untuk

memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama dengan
sebaik-baiknya". 2
Pendidikan merupakan proses pembentukan sumber daya manusia
sehingga manusia dapat mengembangkan dirinya baik itu berupa keimanan
(religius) maupun

sosial (etika) dalam masyarakat. Mengenai hal itu Undang-

Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
nasional bab II menjelaskan:
"Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
agar menjadi manusia berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
yang demokratis serta bertanggung jawab "3
Masalah pendidikan dan pengajaran merupakan masalah yang cukup
kompleks dimana banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satu diantaranya
adalah guru. Posisi guru sesungguhnya tidak sekedar instrumen dalam sistem

1

Tim Dosen IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, ( malang : IKIP Malang,1978)
HB.Hamdani Ali,Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta:PN .Kota Kembang,1987), hal 8
3
DEPDIKNAS, Undang –Undang RI No. 20 tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, ( Jakarta :
CV. Mini Jaya Abadi, 2003), Cet, ke-1, hal 3
2

pendidikan belaka,

sama halnya dengan gedung sekolah,

kurikulum, dan

prasarana lainnya, tetapi guru juga merupakan komponen pengajaran yang
memegang peranan penting dan utama, karena keberhasilan proses belajar
mengajar sangat ditentukan oleh faktor guru. Dengan demikian guru harus
mempunyai kemampuan dalam mengajar dan menciptakan kondisi belajar yang
lebih nyaman, asyik, santai tapi serius. Oleh karena itu guru harus
memahami

proses

membangkitkan

belajar,

mengetahui

psikologis

siswa,

dan

mampu

minat siswa agar mempunyai semangat yang besar dalam

belajar.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ditawarkan sejak
pertama masuk sekolah, dengan demikian, belajar matematika sangatlah penting
untuk membekali diri dalam belajar ilmu yang lain, khususnya pelajaran eksakta,
apalagi peran matematika banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui belajar matematika, siswa diharapkan memiliki :
1. Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam
memecahkan masalah matematika, pelajaran lain, atau masalah yang berkaitan
dengan kehidupan nyata.
2. Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi.

3.

Kemampuan menggunakan matematika
dialihgunakan

pada

setiap

keadaan,

sebagai cara bernalar
seperti

berfikir

kritis,

yang
logis,

sistematis,

obyektif,

jujur,

disipin

dalam

memandang

dan,

menyelesaikan masalah.4

Melihat tujuan tersebut, nampaklah bahwa matematika, sangat penting
baik sebagai ilmu pengetahuan,
Maier

maupun pembentuk sikap. Mengenai hal ini

mengatakan:

"Matematika demikianlah dikatakan tidak mengenai benda pemikiran
tertentu yang mungkin menarik perhatian seseorang dan yang lain tidak,
matematika
lebih-lebih, manyangkut pikiran itu sendiri, karena itu
pelajaran matematika tidak hanya diberikan dalam pendidikan tertentu
yang bersangkutan dengan pekerjaannya dikemudian hari, melainkan juga
dalam rangka pembentukan kepribadian, matematika mempunyai arti
penting."5
Kegiatan pembelajaran matematika, memerlukan keterampilan khusus
bagi guru untuk dapat menyalurkan ilmunya, guru yang tidak memahami
matematika dengan luas, tidak mampu memberikan pelajaran itu dengan baik,
sebab mengetahui yang tidak sempurna dapat menimbulkan pengertian dan
pemahaman yang samar-samar kepada anak, mengacaukan pikiran mereka, dan
dengan demikian menyulitkan hidup anak-anak dan akan memupuk sikap yang
negatif terhadap pelajaran yang diberikan oleh guru.6

Guru merupakan komponen sistem pendidikan yang bersifat human
resources. Maka banyak sekali perhatian yang seharusnya diberikan kepada guru
agar ia mampu melaksanakan tugasnya dalam menciptakan suasana belajar yang

4

Kurikulum Berbasis Kompetensi, Mata Pelajaran Matematika Sekolah Dasar, (Jakarta,2001)
Herman Maier, Kopendium Didaktif Matematika, (Bandung :Remaja karya, 1989), hal.6
6
S. Nasution, Didaktif Asas-asas Mengajar ,(Jakarta: Bumi Aksara,1995,hal.3
5

baik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Koran Jawa Pos edisi
Senin, 17 Mei 2004, dari 70 responden pelajar dan mahasiswa di Jakarta,
menunjukan bahwa tiga jawaban urutan teratas adalah guru dalam mengajar
masih belum dapat dengan mudah difahami siswa,

karena guru yang belum

sepenuhnya menguasai materi, sikapnya yang kurang baik, dan susah diajak
kompromi. Artinya, guru harus benar-benar memperhatikan hal itu sehingga
dalam perjalanan pembelajaran dapat diterima dengan baik oleh siswa.

Tidak dapat dipungkiri, sampai sekarang matematika

masih menjadi

pelajaran yang tidak disukai oleh kebanyakan siswa, hal ini menjadi pekerjaan
besar bagi guru untuk bisa menumbuhkan minat siswa dalam belajar matematika.
Meskipun demikian, tapi itulah bagian dari cara peningkatan mutu pendidikan.
Terlepas dari hal tersebut, sebenarnya ada masalah penting yang harus menjadi
perhatian bersama yakni kenapa pelajaran matematika menjadi pelajaran yang
demikian sulitnya? Apakah siswa yang belum bisa memahaminya, ataukah justru
guru yang tidak mampu memberikan formula dan inovasi dalam mengajar
sehingga siswa menjadi jemu dan pada akhirnya akan sulit untuk menangkap apa
yang diberikan guru.

Menurut Prof. Dr. Santoso Murwani dari Universitas Negeri Jakarta,
bahwa pembelajaran matematika di sekolah merupakan persoalan kompleks,
karena saling

terkait, mulai dari faktor guru, murid, orang tua, bahan ajar,

tujuan pembelajaran matematika sampai faktor kesejahteraan guru. Tetapi faktor
sumber daya manusia atau guru masih harus menjadi perhatian bersama, karena

ia merupakan titik persoalan sebenarnya. Soal pembelajaran matematika lanjut
Santoso sangat terkait dengan kemauan para guru dalam mengajar. Bukan tidak
mungkin guru sebenarnya tahu konsep matematika, tetapi tetap malas mengajar.
Karena mereka tidak mempunyai unsur segar, pintar dan benar. Segar dapat
diartikan guru secara fisik dan fsikis tampil penuh siap untuk mengajar.7

Lebih lanjut Santoso mengatakan, tentang masih adanya orang tua atau
murid yang mengeluhkan sulitnya pelajaran matematika, hal itu karena sebagian
mereka dari awal sudah apriori terhadap pelajaran matematika, karena pada
umumnya guru matematika bersikap angker. Akibatnya anak didik menilai
matematika sebagai momok yang menakutkan. Sebab utama sebenarnya ada pada
siswa yang belum sepenuhnya menguasai konsep dasar pelajaran matematika,
sementara itu orang tua tidak mengerti karena pada pelajaran berhitung dahulu
tidak ada konsep. Atau kemungkinan yang lain bisa jadi buku ajar yang terlalu
dipaksakan kepada murid untuk dikuasai, padahal kemampuan setiap anak antar
yang satu dengan yang lain berbeda. Kenyataannya tetap saja pembelajaran
matematika masih menjadi pembelajaran yang rumit.

Dari berbagai persoalan tentang pembelajaran matematika, nampaknya
posisi guru menjadi sentral. Hal ini juga disinyalir oleh

Prof. Dr. Santoso

Muwarni, yang menekankan keberhasilan pembelajaran matematika pada sumber
daya manusia yaitu guru sebagai perancang proses pembelajaran. Guru juga
sebagai motivator, pendidik, pembmbing yang mempunyai peran penting dalam

7

Pengajaran matematika itu Sulit, Kompas,(Jakarta), 14 Mei 1999, hal. 4

mengarahkan anak didiknya untuk mampu dan mengaktualisasikan dalam
kehidupan nyata tentang pelajaran yang dapat di sekolah.8 Adanya kesan guru
matematika umumnya angker menjadi krirtik tajam bagi guru matematika yang
harus diperhatikan. Tetapi dalam kenyataannya, menurut Santoso, guru juga
merasa sulit dalam melaksanakan pembelajaran matematika. Kesulitan ini bisa
saja datang dari dalam guru itu sendiri ketika mengajar maupun dari faktor lain di
luar kelas.

Begitu penting peran guru matematika dalam menentukan keberhasilan
pembelajaran, penulis merasa tertantang sekaligus tertarik untuk mengkaji
masalah ini dan mencari solusi yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi guru
dan peminat masalah ini, dengan mengambil judul "Analisis Kesulitan Guru
Matematika Dalam Melaksanakan Pembelajaran Di Madrasah Ibtidaiyyah
Ciseeng Bogor."

B. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana cara mengatasi kesulitan guru dalam merencanakan proses
pembelajaran untuk menentukan media pembelajaran dan mendesain ruang
belajar ?

2. Hal-hal apa saja yang dilakukan guru dalam melaksanakan proses
pembelajaran agar siswa termotivasi untuk bertanya ?

8

Pengajaran matematika itu Sulit, Kompas, (Jakarta), 14 Mei 199,9 hal 4

3. Usaha apa saja yang dilakukan oleh guru dalam berkomunikasi dengan
siswa, agar siswa itu terangsang minatnya terhadap pelajaran matematika ?

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Berdasarakan judul tersebut ada beberapa hal yang perlu penulis
kemukakan sesuai dengan pembatasan masalah, yakni :

9. Kesulitan-kesulitan guru matematika dalam melaksanakan pembelajaran
10.

Kesulitan-kesulitan yang dimaksud adalah yang terjadi ketika

merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran berlangsung,
misalnya:

a) Kesulitan dalam media pembelajaran dan mendesain ruang belajar.
b) Kesulitan dalam berkomunikasi dengan siswa, untuk merangsang
minat siswa terhadap belajar matematika.
c) Kesulitan dalam melaksanakan evaluasi.

Berdasarkan indikator di atas, maka rumusan masalahnya adalah
"Kesulitan-kesulitan

apa

yang

dialami

oleh

guru

pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyyah Ciseeng Bogor."

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk :

dalam

melaksanakan

1. Mendapatkan informasi yang lebih akurat tentang kesulitan guru
matematika, terutama dalam melaksanakan pembelajaran.
2. Memberikan sumbangan pikiran demi usaha peningkatan kualitas guru
matematika

di Madrasah Ibtidaiyah Kecamatan Ciseeng dalam

melaksanakan pembelajaran

E. Kegunaan Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan antara lain:

1) Sebagai bahan informasi bagi para guru, khususnya dalam meningkatkan
kualitas dan profesi.
2) Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam meningkatkan mutu
guru dan pengangkatannya.
3) Sebagai bahan pertimbangan fakultas dalam memberikan mata kuliah
tentang materi kependidikan.
4) Sebagai bahan dokumentasi penulis dalam menambah perbendaharaan
pengetahuan dalam rangka memadukan ilmu pengetahuan teoritis dan
empiris.

BAB II
ACUAN TEORITIK
1. Tinjauan Tentang Pembelajaran Matematiaka

a. Pengertian matematika dan ruang lingkupnya

Matematika dikenal sebagai suatu ilmu yang abstrak, yang dapat
dipandang sebagai instruktur untuk berfikir secara sistematis, kritis, logis, cermat,
dan konsisten. Sekalipun abstrak, berbagai konsep maupun teori matematika
disusun berdasarkan berbagai fenomena nyata, atau dipicu oleh kebutuhan dalam
memecahkan permasalahan dalam situasi nyata. Hal ini menjadi dasar mengapa
matematika acapkali berperan besar dalam pengembangan berbagai bidang ilmu
lain. Bahkan sering pula secara langsung menyelesaikan permasalahan nyata.
Oleh karenanya, aspek teori yang abstrak dan aspek terapan matematika pada
situasi nyata merupakan dua aspek yang sangat berhubungan erat.9

Matematika merupakan bahasa yang mampu menerjemahkan pengertian
yang kita inginkan. Matematika juga yang melambangkan serangkaian makna dari
pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat
artificial, maksudnya hanya dapat dimengerti setelah diketahui arti darinya. Tanpa
itu,

matematika hanyalah merupakan kumpulan rumus-rumus yang akan

membuat orang jadi malas untuk bergelut dengannya. Matematikapun
mengembangkan bahasa

9

numerik,

disamping

bahasa

sains,

yang akan

Tim Penulis PEKERTI, Hakekat Pembelajaran Matematika di Perguruan Tinggi, (Jakarta: PAUPPAI), hal. 13

mengantarkan kita pada pengertian-pengertian kuantitatif. Karena sangat
pentingnya, matematika dapat memberikan makna tersendiri ketika orang
membutuhkannya dalam menafsirkan secara eksak dari berbagai ide dan
kesimpulan-kesimpulan.

Kata

matematika

yang

berasal

dari

bahasa

asing

seperti

mathematic(Inggris), mathematic (Jeman), Mathematique (Prancis), mathematic
(Italy), matematiceski (Rusia) atau mathematick/Wiskunde (belanda) mempunyai
arti sama dengan mathema yaitu

"belajar atau hal yang dipelajari".10 Menurut

Reys dkk (1984), seperti dikutip Russeffendi, matematika adalah telaah tentang
pola dan hubungan, suatu pola berfikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat.
Matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan
idea, peroses,

dan penalaran. Terdiri atas 4 (empat)

wawasan yang luas:

aritmetika, aljabar, geometri, analisis.11 Sementara itu menurut Herman Hudoyo,
matematika berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun
secara hierarkis dan penalaran yang deduktif.12

Ada dua golongan pemikiran yang mempengaruhi ahli matematika.
Golongan pertama berpendapat bahwa matematika itu tak ubahnya seperti hukumhukum tertentu fisika di alam, ia ada di alam, sedangkan unsur-unsur dan hukumhukum matematika telah ditemukan oleh ahli matematika, berbeda dengan

10

Badan Penelitian dan Bimbingan, KBK Mata Pelajaran Matematika SD (Jakarta: DEPDIKNAS,
2001), hal 148
11
E.T. Russeffendi, Pengajaran Matematika Modern Untuk Orang Tua Murid, Guru dan SPG
(Bandung:Tarsito, 1980), hal.148
12
H.Hudoyo, Strategi Belajar Mengajar matematika, (Malang: IKIP Malang, 1990), hal.13

sebelumnya, karakter golongan kedua mengatakan bahwa matematika itu
diciptakan oleh ahlinya. Matematika diibaratkan seperti karya seni, sebuah lukisan
tidak mungkin ada sebelum seniman (dalam hal ini ahli matematika)
menciptakannya.

Terlepas dari pengaruh yang mana ahli matematika berkomentar tentang
definisi matematika, sesungguhnya mencari kesamaan dari masing-masing
definisi tidaklah begitu sulit, karena mereka tertuju makna yang terangkum
dalam ciri-ciri atau karakteristik matematika, disamping memang mereka
melihatnya dari sudut pandang berbeda serta disiplin ilmu yang dikaji juga tidak
sama, maka pantaslah kalau tidak ada kesepakatan tunggal tentang matematika.

Untuk lebih jelasnya berikut definisi-definisi menurut para ahli tentang
matematika:

1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara
sistematis.
2) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
3) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah
tentang ruang dan bentuk.
4) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logis dan berhubungan
dengan bilangan .
5) Matematika adalah pengeetahuan tentang struktur-struktur yang logis.

6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan –aturan yang ketat.13

b. Pengertian belajar dan pembelajaran matematika.

Dalam proses pembelajaran, belajar mempunyai kedudukan yang
penting,

sebab melalui belajar akan berkembang tiga dasar hubungan manusia

yaitu kemampuan berkomunikasi, dan kesadaran masyarakat, dan kesadaran
lingkungan. Dengan belajar seseorang diharapkan mampu merubah tingkah
lakunya melalui pengalaman yang ia dapatkan, baik dengan melihat orang lain,
lingkungan maupun dengan diberi pelajaran oleh orang lain.

Menurut pendapat Kimble dan Garmezi bahwa belajar adalah
perubahan tingkah laku yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil pengalaman. 14
Sedangkan Garry Kingsley menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah
laku yang orisinil melalui pengalaman –pengalaman dan latihan. Belajar
merupakan kegiatan dinamis dimana siswa dapat berkembang secara aktif. Lebih
lanjut Piaget menyatakan,"Pengetahuan dibangun dalam diri setiap orang melalui
keterlibatannya secara aktif dengan orang lain."

Perkembangan intelektual, menurut Piaget, melalui empat priode
yaitu :

13

R.Soedjadi, Kiat Pendidika matematika di Indonesia Konstalasi Keadaan Masa Depan,
(Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi DEPDIKNAS, 1999), hal.11
14
Nana Sudjana, Cara belajar siswa Aktif, ( Bandung : PN. Sinar baru,1987), hal.17

1. Priode sensorik motorik ( 0 - 2 tahun ) karakteristik ini merupakan
gerakan –gerakan sebagai akibat reaksi langsung dari rangsangan.
2. Priode pra operasional ( 2 – 7 tahun), anak didalam berfkir tidak didasarkan
pada keputusan yang logis melainkan didasarkan pada keputusan yang dapat
dilihat

seketika.

3. Priode operasi kongkrit ( 7 -11 tahun), pada priode ini berfikir logikanya
didasarkan atas manipulasi fisik dari objek-objek.
4. Priode operasi formal (11 tahun keatas), sudah mampu memberikan alasan
dengan menggunakan lebih banyak simbol atau gagasan dalam cara berfikir.

Sementara itu, Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa
belajar matematika akan lebih berhasil apabila proses pengajaran diarahkan pada
konsep dan struktur-struktur yang terbuat dalam pokok bahasan yang diajarkan,
disamping hubungan yang terkait antara konsep-konsep dan struktur-struktur.15

Mengajar adalah peristiwa yang bertujuan, artinya mengajar adalah
peristiwa yang terkait oleh tujuan, terarah pada tujuan yang dilaksanakan sematamata uuntuk mencapai tujuan itu. Apabila yang dituju adalah titik C, maka dengan
sendirinya proses pengajaran belum tercapai apabila yang dituju atau yang akan
dicapai didalam kenyataan berubah ke titikA atau B. Dengan kata lain, taraf
pencapaian tujuan pengajaran merupakan petunjuk praktis tentang sejauh mana
interaksi edukatif itu harus dibawa untuk mencapai tujuan yang terakhir. Hal ini
berlaku umum, baik dalam situasi keluarga maupun dalam situasi kelompok-

15

Sutrisman Murtadho dan Drs.G. Tanbunan,op.cit.hal.2.11

kelompok sosial seperti dalam organisasi dan sekolah.16

Dari pengertian

tersebut terlihat bahwa mengajar haruslah mempunyai tujuan , tujuan mengajar
secara umum agar peserta didik dapat merubah tingkah lakunya setelah menerima
pelajaran dari seseorang.

Ada dua teori yang mendukung konsep pembelajaran yaitu teori belajar
konvesional dan modern. Teori yang pertama mengatakan bahwa belajar adalah
menambah atau mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Bila siswa belajar, maka
dirinya diibaratkan sebagai bejana kosong yang siap diisi ilmu sehingga penuh
dengan berbagai ilmu pengetauan. Sehingga pendapat yang modern menyatakan
bahwa belajar adalah kegiatan mental seseorang sehingga terjadi perubahan
tingkah laku yang berbeda dari tingkah laku sebelumnya ketika ada respon
menghadapi situasi baru.17

Pembelajaran adalah upaya untuk siswa dalam bentuk kegatan memilih,
menetapkan, dan mengembangkan metode dan strategi yang optimal untuk
mencapai

hasil belajar yang diinginkan.18 Menurut Arif Sadiman, bahwa

pembelajaran lebih umum dari pengajaran. Ia mengatakan, pembelajaran bisa
berlangsung meskipun guru tidak berada dalam ruang kelas, sementara pengajaran
terjadi jika guru dan murid sam-sama berada dalam ruang kelas. Senada dengan
Arif, Corey melengkapi dengan menyatakan bahwa pembelajaran merupakan

16

Winarno Surakhmat, Metodologi pengajaran nasional, (Bandung: PN. Jemmars,1979)
Margaret E. Bell Gretler, Belajar dan Membelajarkan, terjemahan munandir, (Jakarta
:Rajawali, 1986), hal.12
18
I Nyoman Sudan Degeng,Strategi Pembelajaran : Mengorganisasikan Isi Dan Model Elaborasi
, ( Malang, 1997 ), hal 1
17

suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk
memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan
respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset

khusus dari

pendidikan. (Miarso dan kawan-kawan, 1997). Pembelajaran menurut Gagne dan
Briggs adalah upaya orang yang tujuannya membantu orang belajar.19

Dari berbagai pengertian diatas nampaklah bahwa pembelajaran ditekankan
bukan pada guru mengajar melainkan siswa belajar. Hal ini juga berlaku didalam
pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika sendiri juga dimaksudkan
sebagai proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana
lingkungan (kelas/sekolah ) yang memungkinkan siswa dapat belajar matematika
di sekolah. Unsur pokok dalam pembelajaran matematika adalah guru sebagai
perancang, proses-proes yang telah dirancang kemudian disebut proses
pembelajaran, siswa sebagai pelaksana kegiatan belajar, dan matematika sebagai
objek pembelajaran.

Menurut

Demunth

(1976)

seperti

dijelaskan

Erman

Suherman,

membedakan konsepsi-konsepsi matematika berdasarkan falsafah mejadi :

1. Konsepsi bahwa pembelajaran matematika berorientasi pada matematika
formal. Pengertian-pengertian seperti hubungan, fungsi, kelompok,
vector, diperkenalkan dan dimasukkan dengan definisi dan dihubugkan
satu sama lain dalam suatu sistem yang disusun secara deduktif.

19

Ismail dkk, Kapita Selekta Pembelajaran Matematika, ( Jakarta: UT, 2000),1.13

2. Bahwa pembelajaran matematika berorientasi pada dunia sekeliling.
Titik tolaknya adalah tema yang diambil dari jangkauan pengalaman
belajarnya. Pelajaran bertugas mematematiskan sekelilingnya.
3. Konsep heuristik yaitu pembelajaran matematika sebagai sistem dimana
pelajarnya dilatih untuk menemukan sesuatu secara mandiri.
4. Pembelajaran matematika berorientasi pada matematika sebagai alat.
Dalam konsep ini kesiapan menjadi menonjol dan hanya digunakam
sebagai kesiapan teknis.

c. Metode Pembelajaran Matematika

Seorang

guru

wajib

membuat

rencana

pembelajaran

sebelum

melaksanakan kegiatan mengajar. Dalam rencana mengajar tersebut terdapat
komponen-komponen, seperti, tujuan, materi, strategi pembelajaran, termasuk di
dalamnya metode dan media pembelajaran. Jadi, metode mengajar merupakan
salah satu koponen yang perlu diperhatikan guru dalam perencanaan mengajar.20

Metode adalah suatu cara yang teratur atau yang telah dipikirkan secara
mendalam untuk digunakan dalam mencapai sesuatu. Sedangkan metode
mengajar adalah suatu cara yang direncanakan dan digunakan guru dalam proses
pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai. Jadi, sebelum menggunakan
metode tersebut, seorang guru perlu terlebih dahulu mengetahui macam-macam
metode

20

lalu

memilihnya

berdasarkan

tujuan

yang

Sri Anitah W, Strategi Pembelajaran Matematika ( UT. 2008). Hal 4.1

akan

dicapai

dan

menggunakannya bersama dengan komponen lain agar proses pembelajaran
berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, jelaslah bahwa
metode termasuk komponen yang penting21.

Metode mengajar yang diperlukan dalam pembelajaran matematika,
diantaranya :

1. ceramah
Metode ini sering digunakan oleh kalangan guru pada umumnya,
karena begitu mudah dijalankan. Dengan cara menyampaikan keterangan atau
informasi secara lisan kepada pendengar,

metode ini sudah dapat dikatakan

berjalan. Karena lebih dikendalikan oleh penceramah yang mendominasi seluruh
kegiatan maka komunikasi yang terjadi hanya satu arah, dari pusat (penceramah)
ke pendengar (siswa).

2. Ekspositori
Metode ini lebih aktif dari pada metode ceramah,

dimana guru

memberikan bahan ajar dengan ceramah kemudian siswa membuat soal latihan
dan

bertanya jika terdapat penjelasan yang kurang dimengerti.

3. Demontrasi
Merupakan cara menyampaikan bahan pelajaran yaitu guru
memberikan penjelasan sambil memperagakan atau memperlihatkan suatu proses
kepada siswa, sedang siswa hanya melihat apa yang dikerjakan oleh guru.

21

Sri Anitah W, Strategi Pembelajaran Matematika , hal. 4.3

4. Drill
Metode ini lebih mengedepankan pada kemampuan untuk cepat
ingat dan bagaimana supaya mudah untuk hafalan. Fakta dasar operasi hitung,
definisi, rumus, sifat, serta aplikasai-aplikasinya dan hal-hal lain yang tidak
memerlukan prosedur pengerjaan pada materi yang diajarkan.

5. Latihan
Seperti ditulis Khoerunnisa dalam skripsinya, bahwa latihan
berhubugan dengan algoritma, berhitung atau prosedur matematika serta terampil
menggunakannya. Semakin banyak berlatih maka kesempurnaan penguasaan
makin mudah diraih.

6. Tanya Jawab

Metode ini juga sering digunakan guru dalam menyampaikan
materi,

biasanya sebelum guru memulai dengan tanya jawab, terlebih dahulu

guru memberikan apersepsi kepada siswa perihal materi yang akan dibahas,
gunanya untuk merangsang siswa lebih aktif dalam menjawab masalah yang ada.

7. Penemuan (Discovery)
Metode pembelajaran yang mengusahakan agar setelah mengalami
berbagai pengalaman siswa memungkinkan menemukan hal baru. Hal baru itu
bisa

berupa teorema, rumus, pola aturan dan lain sebagainya.

8. Permainan
Biasanya metode ini dilakukan sekolah tingkat dasar, tujuannya agar
siswa tidak jemu dan bosan dalam belajar matematiak. Permainan dalam
matematika adalah suatu kegiatan yang menyenangkan yang mapu menunjang
tujuan pembelajaran matematika.

9. Pemberian tugas
Dengan cara memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan
dirumah, misalnya tugas membaca bahan materi yang akan disampaikan pada
perteemuan berikutnya, tugas menjawab soal, tugas mencari rumus, dan tugastugas yang lain yang berhubungan dengan materi matematika, sehingga mampu
mencapai tujuan pembelajaran matematika.

10. Laboratorium
Learning by Doing atau belajar dengan berbuat adalah sebuah
perinsip yang diterapkan dalam metode ini. Oleh karenanya, tujuan pembelajaran
akan dapat

tercapai dengan baik. Metode ini ditujukan supaya siswa dibimbing

sehingga mampu menemukan fakta-fakta dalam matematika serta menerapkan
pengetahuannya.

11. Kegiatan Lapangan
Dengan menggunakan metode ini, siswa dapat langsung mengalami
dan melakukan suatu pekerjaan yang memanfaatkan hasil belajarnya, sehingga

siswa mengetahui secara langsung kegunaan matematika dalam kehidupan seharihari. Misalnya,bagaimana mengukur tinggi pohon, jarak, luas tanah, pembelian
dan lain-lain.

12. Diskusi
Metode ini merupakan metode pembelajaran yang didalamnya
terjadi interaksi antar guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa.

Dengan

diskusi, siswa menjadi lebih aktif dalam menyalurkan pendapatnya, sekaligus
akan membawa siswa pada keterampilan berbicara di depan umum.

Intinya,

siswa dilatih untuk mengekspresikan pendapatnya dalam belajar matematika
ketika guru memberikan suatu permasalahan.

d. Pendekatan Pembelajaran yang efektif

Dalam proses pembelajaran, suatu pendekatan tertentu sangat penting
dilakukan untuk memberikan kosep atau prosedur yang dapat disalurkan dalam
membahas pelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran. Artinya, ketika sebuah
proses pembelajaran mengabaikan pendekatan, maka tujuan pembelajaran sulit
tercapai ataupun kalau hal ini dilakukan maka tujuan pembelajaran berhasil diraih
secara tidak optimal. Pendekatan pembelajaran adalah suatu konsep atau prosedur
yang digunakan dalam membahas suatu pelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran.22 Jadi, pendekatan

22

pembelajaran matematika merupakan suatu

Ismail dkk, Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. hal. 53

konsep yang diperlukan untuk membahas pelajaran matematika agar tujuan
pembelajaran matematika dapat tercapai dengan

maksimal.

Pendekatan pembelajaran yang efektif adalah pendekatan pembelajaran
yang berpusat pada pebelajar. Pada saat ini telah ada perubahan paradigma dalam
pembelajaran, yaitu bahwa pembelajaran tidak lagi

berpusat pada guru,

melainkan berpusat pada pebelajar. Dalam hal ini banyak pendekatan yang dapat
dipelajari, diantaranya23 :

1. Pendekatan Spiral
Pendekatan spiral digunakan untuk membelajarkan konsep matematika.
Pada pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan ini, suatu konsep
tidak diajarkan dari awal hingga akhir secara tuntas dan berurutan dalam angka
waktu tertentu. Pendekatan ini, juga dimulai dari yang sederhana, dari abstrak ke
kongkrit, dari cara intuitif ke analisis, dari penyelidikan ke penguasaan. Suatu
konsep diberikan secara sebagian-sebagian, berulang-ulang dalam selang waktu
yang terpisah. Mula-mula konsep tersebut dikenalkan dengan cara dan dalam
bentuk yang sederhana yang makin lama makin kompleks. Misalnya dalam
pembelajaran konsep A, selang pertama dikenalkan dalam sebuah topik dengan
cara intuitif melalui benda-benda kongkrit, nyata sesuai kemampuan siswa dan
konsep A dinyatakan dengan notasi atau simbol yang sederhana . setelah selang
waktu selesai, pembelajaran dilanjutkan dengan konsep-konsep lain, misal konsep

Sri Anitah W, StrategiPembelajaran Matematika ( UT. 2008). Hal 2.20

B atau konsep C, mungkin konsep A yang sederhana itu digunakan dalam konsep
B dan konsep C diselang-selang waktu yang terpisah. Selanjtnya, konsep A
diajarkan lagi, yang semakin lama makin kompleks dan dalam bentuk yang lebih
abstrak, yang akhirnya menggunakan notasi umum dalam matematika.

2. Pendekatan deduktif
Pendekatan deduktif sudah biasa dilakukan, maisalnya pemakaian
teorema atau rumus untuk membuktikan atau menyelesaikan masalah. Pendekatan
deduktif memerlukan waktu yang relatif singkat sehingga dapat lebih efisien,
setiap kesimpulan yang diperoleh dijamin berlaku secara umum. Pendekatan
pembelajaran ini menggnakan proses penalaran deduktif. Sehingga metode ini
tidak layak digunakan dikalangan anak-anak. Karena terlalu sulit untuk bisa
memahami. Pendekatan deduktif merupakan cara memetik kesimpulan dari hal
yang umum menjadi kasus yang khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif
biasanya menggunakan pola pikir silogisme.24

Contoh :

Premis mayor : P → Q

Premis minor : Q → R
___________________
Kesimpulan : P → R

24

Erman Suherman, dkk, Strategi Belajar Mengajar Matematika, ( Jakarta :UT, 1999), hal 223

3. Pendekatan Induktif
Pendekatan ini merupakan pendekatan pembelajaran matematika yang
prosedurnya menggunakan proses penalaran induktif. Dengan menggunakan
contoh-contoh yang menuju pada satu rumus tertentu akan membawa siswa pada
pengenalan sebuah teorema, dengan demikian pendekatan ini lebih cocok dan
sesuai jika digunakan pada siswa-siswa tingkat rendah yang masih menggunakan
rumus dalam

menyelesaikan masalah matematika.

4. Pendekatan Intuitif
Sesuai dengan namanya, maka pendekatan ini lebih mengacu pada
kemampuan memahami sesuatu hal tanpa harus mempelajari ( proses penalaran
intuisi ), tetapi dikoneksikan dengan keadaan kongkrit sehari-hari, permainan,
maupun masalah matematika yang menarik sehingga siswa lebih mudah untuk
mengingat.

5. Pendekatan Pendidikan Matematika Realistic (RME).
Meskipun tergolong baru popular tiga tahun belakang, tetapi pendekatan
ini cukup menggugah kalangan pendidik, khususnya pemerhati pendidikan
matematika. Secara konseptual, sebenarnya pendekatan ini sudah sering
digunakan oleh guru matematika, hanya saja popularitasnya kemudian baru ada
dalam beberapa tahun terakir ini. Pendekatan pendidikan matematika realistis
adalah pendekatan pembelajran matematik yang bertitik tolak pada hal nyata,

menghubungkan matematika dengan kehidupan nyata dan siswa biarkan
menemukan diri tentang matematika. Lebih tegas lagi Zulkardi mengatakan,

"RME adalah pendekatan pengajaran yang bertitik tolak dari hal-hal
yang 'real' bagi siswa, menekankan keterampilan 'proses of doing
mathematices', berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan
teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri ( 'student
inventing' sebagai kebalikan dari 'teacher telling' ) dan pada akhirnya
menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara
individu maupun kelompok. Pada pendekatan ini peran guru tak lebih
dari seorang fasilitator, moderator atau evaluator, sementara siswa
berfikir, mengkomunikasikan 'reasoningnya' melatih nuansa demokrasi
dengan

menghargai pendapat orang lain".25

Ada beberapa karakteristik yang terdapat dalam pendekatan ini, yaitu
(1) penggunaan

real konteks sebagai titik tolak belajar matematika;

penggunaan model yang menekankan penyelesaian secara informal
menggunakan cara

(2)

sebelum

formal atau rumus , (3) mengaitkan sesama topik dalam

matematika ; (4) penggunaan metode interaktif dalam belajar matematika dan, (5)
menghargai ragam jawaban dan kontribusi siswa.

e. Strategi Pembelajaran Matematika

25

Zulkardi, RME: Teori, Contoh Pembelajaran, dan Taman Belajar di Internet "makalah Seminar
RME", (Bandung: UPI.bandung, 2001).hal 1

Guru sebaiknya memahami strategi pembelajaran matematika yang cocok
dan mampu menerapkannnya dalam peraktek mengajar di kelas, sehingga siswa
dapat pelajaran matematika dengan baik. Menurut Roth Well, seperti ditulis Drs.
H. Muhammad Ali Hamzah, mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan
langkah selanjutnya dari proses desain pembelajaran atau bagaimanakah caranya
menuju ke proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang dimaksud adalah
serangkaian kejadian eksternal bagi siswa yang dirancang unutk meningkatkan
proses internal dalam belajar. Sementara itu, Miarso menyatakan bahwa strategi
pembelajaran

merupakan pendekatan menyeluruh

dalam suatu sistem

pembelajaran, berupa pedoman umum dan kerangka kegiatan untuk mencapai
tujuan umum, pembelajaran yang dijabarkan dari teori belajar tertentu.26
Suharsimi Arikunto27 membagi strategi pembelajaran menjadi dua tahap
yaitu :

1. Tahap sebelum siswa masuk kelas. Disebut juga tahap persiapan atau
precondition.
2. Tahap saat siswa masuk kelas. Tahap ini dilakukan didalam kelas dan
disebut sebagai operating prosedurs.

Mengenai strategi mana yang akan dipilih, sebaiknya didasarkan atas
pertimbangan sebagai berikut28 :

26
27
28

Yusuf hadi Miarso, Monograf Tehnik Pembelajaran, (Jakarta: DepDikBud, 1993),hal 5
Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa ( Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2000),
Yusuf Hadimiarso, Monograf Tehnik ……… hal. 15

a) Tujuan belajar, jenis, dan jenjang
b) Sifat kedalaman dari banyaknya isi ajaran
c) Latar belakang, motivasi, dan kondisi siswa
d) Jumlah, kualifikasi, kompetensi tenaga pengajar
e) Lama dan jadwal
f) Sarana yang dapat dimanfaatkan dan biaya

2. Tinjauan tentang guru

a. Pengertian guru

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan usia anak dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah, guru juga sebagai agen pembelajaran (learning agent) yaitu
sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi
inspirasi belajar bagi peserta didik.29

Dalam proses pembelajaran, diperlukan adanya komunikasi yang tepat agar tujuan
pembelajaran yang telah direncanakan dapat tercapai degan baik. Adanya tujuan
pembelajaran itu, menjadikan possisi guru dalam proses pebelajaran mempunyai
peran penting. Guru sebagaimana telah diketahui secara popular berarti orang
yang pekerjaannya mengajar. Namun demikian, arti guru dikalangan para ahli
juga berbeda meskipun merujuk pada satu pengertian tunggal. Menurut

29

Undang-undang Guru dan Dosen (Jakarta : CV Eka Jaya hal 43 th 2006).

pandangan tradisional guru adalah orang yang berdiri di depan kelas untuk
menyampaikan ilmu pengetahuan.30

Berdasarkan pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa guru adalah
orang yang pekerjaannya mengajar, baik mengajar bidang studi ataupun
mengajarkan suatu ilmu pengetahuan kepada orang lain yang diharapkan orang
yang diajar dapat mengerti dan mampu melaksanakannya. Jadi, yang dimaksud
guru matematika adalah guru yang mengajarkan matematika yang diarapkan siswa
dapat memahami konsep matematika dan mampu menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari.

Jabatan guru adalah jabatan propesional karena tidak semua orang dapat
melaksanakan tugas keguruan dengan baik kecuali orang yang telah disiapkan
melalui pendidikan untuk guru. Ketidakmampuan dasar yaitu proesional,
intelektual, dedikasi sosial, hendaknya dimiliki oleh guru sehingga ia mampu
mendidik, baik dikalangan keluarga maupun masyarakat. Di sekolah guru
memiliki peran sebagai pengajar dan pendidik murid, di rumah guru sebagai orang
tua, dan di masyarakat guru berperan sebagai tokoh masyarakat yang
mencerminkan kepribadian yang baik, sehingga perilaku dan gerak-geriknya dapat
menjadi contoh bagi lingkungan sekitar.

Tidak semua orang dapat menjadi guru dengan mudah, apalagi menjadi
guru matematika yang harus mempunyai keterampilan tersendiri. Matematika

30

Roestiyah NK, Masala-masalah Ilmu Keguruan, ( Jakarta; PN. Bina Aksara, 1989).hal 176

sebagai ilmu pengetahuan abstrak, menuntut adanya penyampai pesan ( guru
matematik ) yang mampu mengkondisika

keadaan belajar lebih rilek dan

pengetahuan matematika yang memadai. Hal ini dilakukan agar materi
matematika benar-benar tersalurkan dan tidak menimbulkan pengertian ganda
dikalangan siswa. Sutrisman murtadho.31 Mengatakn bahwa guru matematika
harus mengetahui sifat dan dasar dari subyek yang akan, walaupun subyek ini
kurang sempurna. Guru matematika, lanjut Sutrisman merupakan pengabdi dan
pemikir-pemikir yang telah mengetahui kelemahan dan kekuatan matematika akan
melatih kesabarannya untuk menolong murid supaya mawas diri dan mengerti apa
yang di maksud konsep yang jelas.

Beberapa paradigma baru yang harus diperhatikan guru dewasa ini
adalah32:

1. Guru tidak terjebak pada rutinitas belaka, tetapi selalu mengembangkan
dan memberdayakan diri secara terus-menerus untuk meningkatkan
kualifikasi dan kompetensinya, baik melalui pendidikan formal maupun
pelatihan, seminar, lokakarya, dan kegiatan sejenisnya. Guru jangan
terjebak pada aktifitas dating, mengajar, pulang, begitu berulang-ulang
sehingga lupa mengembangkan potensi secara maksimal.

2. Guru mampu menyusun dan melaksanakan strategi dan model pembelajaran
yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM) yang
31

" Sutrisman murtadho. Dan Drs.Tambunan
Kunandar, S. Pd., M. Si. Guru professional Implementasi KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi
Guru ( Jakarta :PT Rajagrafindo Persada, 2008) Hal. 42.
32

dapat menggairahkan motivasi belajar peserta didik. Guru harus
menguasai berbagai macam strategi dan pendekatan serta model
pembelajaran sehingga proses belajar-mengajar berlangsung dalam
suasana yang kondusif dan menyenangkan.

3. Dominasi guru dalam pembelajaran, dikurangi sehingga memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk lebih berani, mandiri, dan kreatif
dalam proses belajar mengajar.

4. Guru mampu memodifikasi dan memperkaya bahan pembelajaran sehingga
peserta didik mendapatkan sumber belajar yang bervariasi.

5. Guru menyukai apa yang diajarkannya dan menyukai mengajar sebagai
suatu profesi yang menyenangkan.

6. Guru mengikuti pekembangan ilmu pengetehuan dan teknologi yang
mutakhir sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak tertinggal
dengan informasi terkini.

7. Guru mampu menjadi teladan bagi pserta didik dan masyarakat luas
dengan selalu menunjukkan sikap dan perbuatan yang terpuji dan
mempunyai integritas yang tinggi.

8. Guru mempunyai visi kedepan dan mapu membaca tantangan zaman
sehingga siap menghadapi perubahan dunia yang tak menentu yang
membutuhkan kecakapan dan kesiapan yang baik.

b. Peranan Guru Dalam Proses Pembelajaran Matematika

Guru bukan semata-mata sebagai pengajar ( transfer of knowledge ),
bukan juga sekedar pendidik ( transfer of Values ), tetapi ia juga pendukung
norma. Ia tidak hanya menunjuk atau mengambil nilai-nilai atau n

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

102 3170 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 795 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 706 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 461 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 612 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1055 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 963 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 580 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 849 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1045 23