Indeks Keragaman Jenis Serangga pada Pertanaman Kelapa Sawit (Elais guinensis Jacq.) di Kebun Rambutan

(1)

INDEKS KERAGAMAN JENIS SERANGGA PADA

PERTANAMAN KELAPA SAWIT (Elais guinensis Jacq.)

DI KEBUN RAMBUTAN

SKRIPSI

OLEH :

JOHAN STAFENZER 060302002

HPT

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(2)

INDEKS KERAGAMAN JENIS SERANGGA PADA

PERTANAMAN KELAPA SAWIT (Elais guinensis Jacq.) DI

KEBUN RAMBUTAN

SKRIPSI

OLEH :

JOHAN STAFENZER 060302002

HPT

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

Disetujui oleh: Komisi Pembimbing

(Ir.Marheni MP)

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

(Ir.Fatimah Zahra) Ketua Anggota

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2010


(3)

ABSTRACT

Johan Stafenzer, Index Diversity of Insect on Oilpalm (Elais guinensis

Jacq.) Plantation in Kebun Rambutan, it was under supervised by

Ir.Marheni,MP. and Ir.Fatimah Zahra. This research was done in Kebun Rambutan PTPN III, Tebing Tinggi. This research done in two location,in produced plant and not yet produced plant and have 10 point of trap for each location. The trap which used is light trap, pitt fall trap, and next the identification done in Laboratory of Pest, Departement of Plant Pest and Disease, Agriculture Faculty, North Sumatera University.

The index diversity of insect based on Shanon-Weiner (H) at produced oilpalm plant is 3,045 and on not yet produced oilpalm plant is 3,068 and both included on high or stable category.


(4)

ABSTRAK

Johan Stafenzer, Indeks Keragaman Jenis Serangga pada Pertanaman

Kelapa Sawit (Elais guinensis Jacq.) di Kebun Rambutan, dibawah bimbingan

ibu Ir.Marheni, MP. dan Ibu Ir. Fatimah Zahra. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Rambutan PTPN III, Tebing Tinggi. Penelitian ini dilaksanakan di dua (2) lokasi yaitu tanaman menghasilkan dan tanaman belum menghasilkan dan masing-masing 10 titik pada tiap lokasi. Perangkap yang digunakan adalah perangkap cahaya, perangkap lubang dan pengamatan dilanjutkan di laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Nilai indeks keragaman serangga Shanon-Weiner (H) pada areal tanaman menghasilkan sebesar 3,045 dan pada areal tanaman belum menghasilkan adalah sebesar 3,068 dan keduanya tergolong tinggi (stabil).


(5)

RIWAYAT HIDUP

Johan Stafenzer, dilahirkan pada tanggal 11 November 1988 di Pancurbatu, Deli Serdang, merupakan anak pertama dari lima bersaudara dari Ayahanda Maidin Damanik SP. dan Ibunda tercinta Gustaria Elisabeth br. Sitepu. Pendidikan yang ditempuh :

 Tahun 2000 lulus dari Sekolah Dasar Negeri 104220 Pancurbatu

 Tahun 2003 lulus dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Pancurbatu  Tahun 2006 lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pancurbatu

 Tahun 2006 diterima di Universitas Sumatera Utara Fakultas Pertanian Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan melalui jalur SPMB

Aktifitas yang diikuti selama mengikuti perkuliahan :

 Melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di Kebun Rambutan PTPN III, Tebing Tinggi pada tahun 2010.

 Sebagai peserta pada seminar nasional “Tindak Lanjut Pembangunan Pertanian Pasca Swasembada Beras 2008” di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

 Asisten Laboratorium Ilmu Hama Tumbuhan (2008/2009)  Asisten Laboratorium Hama Hutan (2009/2010)

 Asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Hutan sub Hama (2009/2010)  Asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman sub Hama


(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

Adapun judul skripsi ini adalah “Indeks Keragaman Jenis Serangga

pada Pertanaman Kelapa Sawit (Elais guinensis Jacq.) di Kebun Rambutan”

yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.

Pada kesempatan ini , penulis mengucapkan terimakasih kepada komisi pembimbing saya Ir.Marheni MP selaku Ketua dan Ir.Fatimah Zahra selaku Anggota yang telah banyak memberi saran dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan di masa mendatang.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih, semoga skripsi ini bermanfaat.

Medan, Desember 2010


(7)

DAFTAR ISI

ABSTRACT... i

ABSTRAK... ii

RIWAYAT HIDUP... iii

KATA PENGANTAR……… iv

DAFTAR ISI……….. v

DAFTAR GAMBAR………... vi

DAFTAR TABEL... vii

PENDAHULAN

Latar Belakang………. 1

Tujuan Penelitian………. 2

Hipotesa Penelitian……….. 3

Kegunaan Penelitian………... 3

TINJAUAN PUSTAKA Ekologi Kelapa Sawit (Elais guinensis Jacq.)...…... 4

Keanekaragaman Serangga (Insect Diversity)... 5

Faktor-faktor yang mempengaruhi keanekaragaman Serangga... 7

BAHAN DAN METODA Tempat dan Waktu Penelitian... 9

Bahan dan Alat... 9

Metode Analisa Data... 9

Pelaksanaan Penelitian... 12

Penngambilan Sampel... ... 12

Identifikasi Serangga... 14

Koleksi Serangga... ... 15

Peubah Amatan... 16

HASIL DAN PEMBAHASAN Kelimpahan Serangga Pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)…… 17

Kelimpahan Serangga Pada Tanaman Menghasilkan (TBM) ………… . 20

Nilai Indeks Keanekaragaman Serangga ……….. 23

Nilai Indeks Keseragaman Serangga………. 24

Nilai Kerapatan Mutlak dan Kerapatan Relatif pit fall trap……… 25


(8)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 29 Saran ... 29

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

Perangkap cahaya(Light trap)……….………….. 12 Perangkap lubang (pitfall trap)………..… 13


(10)

DAFTAR TABEL

TABEL Hal

Kelimpahan Serangga Pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)…… 17

Kelimpahan Serangga Pada Tanaman Menghasilkan (TBM) …………. 20

Nilai Indeks Keanekaragaman Serangga ……….. 23

Nilai Indeks Keseragaman Serangga………... 24

Nilai Kerapatan Mutlak dan Kerapatan Relatif pit fall trap……… 25


(11)

ABSTRACT

Johan Stafenzer, Index Diversity of Insect on Oilpalm (Elais guinensis

Jacq.) Plantation in Kebun Rambutan, it was under supervised by

Ir.Marheni,MP. and Ir.Fatimah Zahra. This research was done in Kebun Rambutan PTPN III, Tebing Tinggi. This research done in two location,in produced plant and not yet produced plant and have 10 point of trap for each location. The trap which used is light trap, pitt fall trap, and next the identification done in Laboratory of Pest, Departement of Plant Pest and Disease, Agriculture Faculty, North Sumatera University.

The index diversity of insect based on Shanon-Weiner (H) at produced oilpalm plant is 3,045 and on not yet produced oilpalm plant is 3,068 and both included on high or stable category.


(12)

ABSTRAK

Johan Stafenzer, Indeks Keragaman Jenis Serangga pada Pertanaman

Kelapa Sawit (Elais guinensis Jacq.) di Kebun Rambutan, dibawah bimbingan

ibu Ir.Marheni, MP. dan Ibu Ir. Fatimah Zahra. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Rambutan PTPN III, Tebing Tinggi. Penelitian ini dilaksanakan di dua (2) lokasi yaitu tanaman menghasilkan dan tanaman belum menghasilkan dan masing-masing 10 titik pada tiap lokasi. Perangkap yang digunakan adalah perangkap cahaya, perangkap lubang dan pengamatan dilanjutkan di laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Nilai indeks keragaman serangga Shanon-Weiner (H) pada areal tanaman menghasilkan sebesar 3,045 dan pada areal tanaman belum menghasilkan adalah sebesar 3,068 dan keduanya tergolong tinggi (stabil).


(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya penduduk dunia, kebutuhan akan minyak sawit semakin meningkat, untuk ini perlu pula dipikirkan usaha untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas produksi kelapa sawit (Ginting, 1975).

Berbagai jenis minyak nabati dan lemak yang ada di pasaran dunia mempunyai sifat yang dapat saling menggantikan (barang substitusi ) oleh karenanya penawaran dan permintaan prodik kelapa sawit harus dibicarakan dalam konteks ekonomi minyak nabati dan lemak dunia(Iyung, 2006)

Kelapa sawit telah menjadi komoditi subsektor perkebunan yang memiliki peranan penting bagi perekonomian indonesia. Prospek usaha yang cerah, harga yang kompetitif, dan industri berbasis kelapa sawit yang beragamdengan skala usaha yang fleksibel, telah menjadikan banyak perusahaan dalam berbagai skala maupun petani yang berminat membangun industri kelapa sawit mulai dari kebun hingga hilir (Hanum, 2009)

Kelapa sawit (Elais guinensis) adalah tanaman perkebunan penting penghasil minyak makanan, minyak industri, maupun bahan bakar nabati (biodiesel). Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar kedua setelah malaysia. Diperkirakan Indonesia akan menempati posisi pertama produsen sawit dunia. Untuk meningkatkan produksi kelapa sawit dilakukan kegiatan perluasan areal pertanaman, rehabilitasi kebun yang sudah ada dan intensifikasi(Kiswanto, 2008)


(14)

Tanaman kelapa sawit tergolong tanaman kuat. Walaupun begitu tanaman ini tiudak luput dari serangan hama dan penyakit, baik yang kurang membahayakan maupun yang membahayakan. Sebagian besar hama yang menyerang adalah golongan insekata atau serangga. Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman sawit umumnya disebabkan oleh jamur, bakteri dan virus (Kiswanto, 2008)

Berkembangnya subsektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif. Terutama kemudahan dalam hal perizinan dan bantuan subsidi infestasi untuk pembangunan perkebunan rakyat dengan pola PIR dan dalam perizinan pembukaan wilayah baru untuk wilayah perkebunan-perkebunan besar swasta (Manurung, 2001).

Serangga dapat berperan sebagai pemakan tumbuhan, sebagai parasitoid (hidup secara parasit pada serangga lain), sebagai predator (pemangsa), sebagai pemakan bangkai, sebagai penyerbuk dan sebagai penular (vector) bibit penyakit tertentu (Putra, 1994).

Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui indeks keragaman jenis serangga pada perkebunan kelapa sawit pada tanaman belum menghasilkan dan sudah menghasilkan serta pada tanaman yang diberi perlakuan tandan kosong dan tanpa tandan kosong di Kebun Rambutan.

2. Untuk mengetahui hama penting dan musuh alami pada tanaman kelapa sawit.


(15)

Hipotesa Penelitian

1. Diduga adanya perbedaan indeks keragaman serangga pada perkebunan kelapa sawit pada tanaman dengan tanaman belum menghasilkan dan sudah menghasilkan serta pada tanaman yang diberi perlakuan tandan kosong sawit dan tanpa tandan kosong sawit di Kebun Rambutan.

2. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan untiuk mengidentifikasi jenis- jenis serangga pada tanaman kelapa sawit

Kegunaan Penelitian

1. Sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.


(16)

TINJAUAN PUSTAKA

I. Ekologi Tanaman Kelapa Sawit (Elais guinensis Jacq.)

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memperngaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit (Anonimous, 2010)

Meskipun tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang tergolong tanaman kuat, namun tanaman ini juga tidak luput dari serangan hama dan penyakit, baik yang kurang membahayakan maupun yang sangat membahayakan. Sebagian besar hama yang menyerang adalah golongan insekta atau serangga dan beberapa jenis hewan dari kelompok mamalia yang biasa menyebabkan kerugian (Tim penulis PS, 1997).

Tanaman sawit ini tergolong tanaman yang kuat, walaupun demikian tanaman ini tidak luput dari serangan hama dan penyakit, baik yang kurang membahayakan maupun yang membahayakan. Sebagian besar hama yang menyerang adalah golongan insekta atau serangga. Jenis hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah kumbang, ulat api, ulat kantong, belalang, sedangkan penyakit yang sering menyerang seperti penyakit busuk pangkal batang ,busuk batang atas, antraknosa dan lain-lain (Anonimous, 2005)


(17)

II. Keanekaragaman Serangga (Insect Diversity)

Keragaman jenis adalah sifat komunitas yang memperlihatkan tingkat keanekaragaman jenis organisme yang ada di dalamnya. Untuk memperoleh keanekaragaman jenis cukup diperlukan kemampuan mengenal dan membedakan jenis meskipun tidak dapat mengidentifikasi jenis hama (Krebs, 1978)

Serangga memiliki keanekaragaman yang begitu besar dan pengklasifikasiannya menimbulkan banyak masalah. Agar dapat dimengerti dan digunakan, sebuah klasifikasi harus berdasarkan pada pola evolusi yang sejauh ini dapat dibuktikan dari fakta yang tersedia. Klasifikasi adalah sebuah sistem informasi untuk informasi tentang organisme dan juga informasi untuk memperbaharui sistem itu lagi (Evans, 1984)

Jumlah spesies serangga, sama dengan semua hewan dan tanaman, dengan bermacam – macam tipe komunitas dan tahap suksesi ekologi. Hutan hujan tropis memiliki jumlah spesies yang paling besar, diperkirakan sedikitnya 50 persen dari seluruhnya, dan rantai makanan menjadi sangat kompleks. Areal yang baru diganggu atau areal yang baru diolah manusia berada pada spekrum yang berbeda. Disini, sedikit spesies ditemukan, rantai makanan menjadi sederhana, dan ketidakstabilan komunitas yang besar (Elzinga, 1981)

Menurut Z.P. Metcalf, serangga terdiri dari 1.500.000 spesies, tetapi Gossard menaksir ada 2.500.000 – 10.000.000 spesies serangga. Serangga dibagi dalam dua sub kelas, yaitu apterigota (serangga tidak bersayap)dan pterigota (serangga bersayap) (Pracaya, 2006)


(18)

Beberapa faktor yang saling berkaitan untuk menentukan derajat naik turunnya keanekaragaman jenis, adalah:

1. Waktu, keanekaragaman komunitas bertambah sejalan waktu.

2. Heterogenitas ruang, semakin heterogen keadaan suatu lingkungan fisik maka semakin tinggi keragamannya

3. Kompetisi, terjadi apabila sejumlah organisme membutuhkan sumber yang sama yang ketersediaanya terbatas.

4. Pemasangan, yang mempertahankan komunitas populasi dari jenis bersaing yang berbeda di bawah daya dukung masing-masing selalu memperbesar kemungkinan hidup berdampingan sehingga mempertinggi keragaman, apabla intensitas dari pemasangan terlalu tinggi atau rendah dapat menurunkan keragaman.

5. Kestabilan iklim, makin stabil iklim akan lebih mendukung bagi keberlangsungan evolusi.

6. Produktivitas, merupakan syarat mutlak untuk keanekaragaman yang tinggi (Michael, 1995).

Pola penyebaran dan kepadatan serangga di suatu tempat akan berbeda-beda. Penyebaran dan kepadatan serangga sangat dipengaruhi oleh banyak sedikitnya populasi serangga, prilaku serangga dan tempat hidup (keadaan tofografi) atau habitatnya (Gallangher dan Lilies, 1991).


(19)

Dalam ekosistem alami semua makhluk hidup berada dalam keadaan seimbang, dan saling mengendalikan sehingga tidak terjadi hama. Di ekosistem alamiah keragaman jenis sangat tinggi yang berarti dalam setiap kesatuan ruang terdapat flora dan fauna tanah yang beragam. Sistem pertanaman yang beranekaragam berpengaruh kepada populasi spesies hama (Oka, 1995).

Kita mengetahui bahwa makanan merupakan sumber gizi yang diperlukan oleh serangga untuk hidup dan berkembang. Jika makanan tersedia dengan kualiatas yang cocok dan kuantitas yang cukup, maka populasi serangga akan naik dengan cepat. Sebaliknya jika keadaan makanan kurang maka populasi serangga juga akan menurun (Jumar, 2000)

Perkembangan dan reproduksi serangga sangat terpengaruh oleh beragam faktor abiotik. Faktor ini mungkin menunjukkan pengaruhnya pada serangga baik secara langsung maupun tidak langsung. (Melalui pengaruhnya pada organisme lain) dan pada batas pendek atau jauh (cahaya, sebagai contoh, mungkin menimbulkan efek yang cepat pada orientasi serangga saat mencari makanan, dan banyak menyebabkan perubahan pada fisiologi serangga dalam antisipasi kondisi yang merugikan pada beberapa bulan kedepannya) (Gillot, 1982)

Pada serangga poikilothermal, pada dasarnya metabolisme mereka sangat dipengaruhi oleh temperatur lingkungan yaitu dengan interval temperatur yang mengijinkan untuk dapat bertahan hidup, temperatur lingkungan tertinggi, rata- rata tinggi produksi panas dan konsumsi oksigen (Rockstein, 1973)


(20)

antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan yaitu: umur tanaman, keadaan cuaca saat pengambilan sampel, waktu pengambilan sampel dan keadaan habitat di sekitar tanaman (penggunaan tanaman penutup tanah) (Rizali, Buchori dan Triwidodo, 2002).


(21)

BAHAN DAN METODA

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di areal perkebunan PTPN III Kebun Rambutan Tebing Tinggi, Sumatera Utara dengan ketinggian tempat 75m diatas permukaan laut dan Laboratorium Hama Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian ini berlangsung mulai bulan April 2010 sampai dengan selesai.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah imago serangga yang tertangkap, air bersih, detergen, plastik transparan, kertas kuning , formalin dan alkohol 70%

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah stoples, botol kecil, kain kasa, light trap, fit fall trap dengan menggungkan baskom, mikroskop, selotip, pinset,kalkulator, kamera, killing bottle, jarum suntik, buku kunci identifikasi serangga yaitu Kalshoven (1981) & Borror (1992) dan alat- alat lainnya yang dibutuhkan selama penelitian.

Metode Analisa Data

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diagonal.pengambilan sampel dilakukan dengan cara mengambil satu titik tengah sample kemudian menariknya ke empat titik lain hingga mewakili 10 % luas lahan. Jarak pengambilan data satu perangkap dengan perangkap yang lain pada satu contoh sampling adalah 4 - 5m. Dari serangga- serangga yang diperoleh pada setiap penangkapan setelah dikumpulkan, dikelompokkan dan diidentifikasi


(22)

langsung dan juga dilaboratorium, kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus- rumus sebagai berikut :

-Frekuensi Mutlak (FM) suatu jenis serangga :

Frekuensi mutlak menunjukkan jumlah individu serangga tertentu yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak.

-Frekuensi Relatif(FR) suatu serangga

FR = x100%

FM FM

Frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.

- kerapatan mutlak(KM ) suatu serangga

Kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak

-Kerapatan Relatif(KR) suatu jenis serangga

KR = x100%

KM KM

n penangkapa seluruh Jumlah serangga jenis suatu ditemukan Jumlah FM= % 100 n penangkapa setiap serangga seluruh Jumlah Total n penangkapa setiap serangga jenis suatu FM Nilai

FR= x

n Penangkapa Jumlah p tertangka yang jenis individu Jumlah KM= % 100 n penangkapa setiap dalam individu Total n penangkapa setiap dalam jenis suatu individu Jumlah


(23)

-Indeks keanekaragaman jenis serangga

Untuk membandingkan tinggi rendahnya keanekaragaman jenis serangga digunakan indeks Shanon-Weiner (H`) dengan rumus :

H` = -Σ pi In pi (Michael, 1995).

Dimana : pi = perbandingan jumlah individu suatu jenis dengan keseluruhan jenis.

pi = ni/N

ni = jumlah individu jenis ke-i

N = jumlah total individu semua jenis

Dengan kriteria indeks keanekaragaman (H`) sebagai berikut :

Keragaman jenis rendah bila H = < 1 (kondisi lingkungan tidak stabil) Keragaman jenis sedang bila H = 1-3 (Kondisi lingkungan sedang) Keragaman jenis tinggi bila H = > 3 (Kondisi lingkungan stabil)

-Indeks keseragaman serangga

Untuk menghitung indeks keseragaman serangga yang dikemukakan oleh Magurran(1982) sebagai berikut:

Hmaks H E =

dimana:

E : Indeks keseragaman H : Indeks keanekaragaman Hmaks: Ln S


(24)

Indeks keseragaman berkisar antara 0 – 1. apabila nilai mendekati 1 sebaran individu antar jenis merata. Nilai E mendekati nol apabila sebaran individu antar jenis tidak merata atau ada jenis tertentu yang dominan.

Pelaksanaan penelitian Pengambilan sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil serangga dengan perangkap pada daerah perkebunan kelapa sawit baik yang menghasilkan (TM) maupun belum menghasilkan (TBM) serta yang diberi tandan kosong dan tanpa tandan kosong kemudian dan mengumpulkan semua serangga yang terangkap. Lokasi pengamatan dilakukan di Kebun Rambutan Afdelin I dan Afdelin II, Tebing Tinggi, PT.Perkebunan Nusantara III, lokasi pengambilan sampel dipilih berdasarkan intensitas serangan dan dibedakan atas tanaman yang belum dan sudah menghasilkan. Sampel serangga yang diambil yaitu berupa imago dari serangga yang ada. Penangkapan serangga dilakukan dengan menggunakan berbagai perangkap, yaitu :

1. Perangkap cahaya (light trap)

Perangkap ini merupakan alat untuk menangkap serangga nocturnal (aktif malam hari). Pemasangan perangkap dilakukan pada areal pengamatan dengan titik pengambilan sampel yang telah ditentukan sebanyak sepuluh perangkap.. Perangkap dipasang dengan sistem diagonal . Perangkap ini menggunakan selembar kain kasa yang berukuran 1 x 2 m yang diikatkan pada dua tiang yang terbuat dari bambu. Kemudian di sisi atas kain dipasang lampu emergency sebagai


(25)

alat penerang penarik serangga. Serangga yang datang akan menabrak kain yang diolesi dengan vaselin ataupun terjatuh ke air yang telah disediakan dibawah kain. Pada Pemasangan perangkap dilakukan pukul 18.00 dan diambil pukul 21.00 WIB. serangga yang telah didapat kemudian diidentifikasi di laboratorium.

Gambar 1. Perangkap Cahaya (Light Trap)

2. Perangkap jatuh (pitfall trap)

Perangkap ini dapat digunakan untuk menangkap serangga baik yang aktif pada siang maupun malam hari dan aktif pada permukaan tanah. Alat ini dibuat dengan baskom kecil berdiameter 15 cm yang telah diisi dengan air ± 500 ml dan dilarutkan detergen pada baskom dan dimasukkan kertas berwarna kuning. Setelah itu baskom ditanamkan ke tanah dan diberi naungan supaya air hujan maupun tetesan air tidak masuk kedalam perangkap. Pemasangan perangkap dilakukan secara diagonal, interval pemantauan dilakukan 1 kali dalam tiga hari. Perangkap dipasang pada pukul 08.00 pagi dan kemudian diambil keesokan harinya pada pukul 08.00 pagi pula. Serangga yang didapat kemudian dibawa ke


(26)

laboratorium untuk kemudian diidentifikasi. Lokasi peletakan perangkap berjarak 4-5m dari perangkap cahaya.

Gambar 2.Perangkap jatuh (Pitfall trap) Identifikasi Serangga

Serangga yang diperoleh dilapangan kemudian dikelompokkan berdasarkan ordonya dan dipisahkan antara yang kondisi serangganya yang masih baik dan dapat diidentifikasi dan yang tidak dapat diidentifikasi lagi. Serangga yang dikenali spesiesnya diidentifikasi langsung dilapangan, sedangkan serangga yang belum dapat diidentifikasi dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi dengan menggunakan mikroskop dan mengacu pada buku kunci determinasi serangga, seperti Borror (1992) dan Kalshoven (1981). Identifikasi dilakukan hingga tingkat family.


(27)

Koleksi Serangga

Serangga – serangga yang telah tertangkap dilapangan dan telah diidentifikasi kemudian dikoleksi kering untuk serangga – serangga berukuran besar dan koleksi basah untuk serangga – serangga kecil. Aadapun cara untuk membuat koleksi serangga adalah sebagai berikut:

1. Koleksi kering

Koleksi kering dibuat untuk serangga-serangga yang berukuran besar. Adapun cara yang digunakan untuk membuat koleksi kering, yaitu :

- Dikumpulkan serangga yang tertangkap ke dalam killing bottle - Ditutup rapat dan dibiarkan sampai serangga tersebut lemas.

- Diambil formalin dan disuntikkan ke bagian abdomen serangga yang telah lemas

- Diletakkan ditempat koleksi

- Diatur letak tungkai dan sayapnya bagi serangga yang dapat terbang. - Diberi pelekat pada serangga ke media koleksi.

- Diberi label keterangan identifikasi pada media koleksi 2. Koleksi basah

Koleksi basah dibuat untuk serangga-serangga yang berukuran kecil. Adapun cara yang digunakan untuk membuat koleksi basah, yaitu :

- Disediakan botol koleksi yang transparan.

- Dimasukkan formalin, dan air bersih dengan perbandingan 1::10

- Dimasukkan serangga yang berukuran kecil ke dalam botol koleksi sesuai dengan ciri morfologinya masing-masing


(28)

Peubah Amatan

1. Indeks keanekaragaman serangga

- Jumlah serangga dan jenis serangga yang tertangkap pada perangkap tiap pengamatan.

- Nilai frekuensi mutlak, frekuensi relatif, kerapatan mutlak, kerapatan relatif pada setiap pengamatan.

- Nilai indeks keanekaragaman jenis serangga yang tertangkap pada ke dua areal.


(29)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kelimpahan Serangga Pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

Kelimpahan serangga pada tanaman belum menghasilkan (TBM) yang diperoleh dari perangkap cahaya (light trap) dan perangkap lubang(pit fall trap) dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Serangga Pengamatan KM KR FM FR

I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII (%)

Coleoptera Elateridae 11 8 16 2 16 9 8 7 11 8 5 5 106 6,773 12 4,819

Carabidae 3 5 8 6 11 3 14 6 11 5 14 4 90 5,570 12 4,819

Dystichidae 1 2 3 2 3 5 2 3 21 1,341 8 3,212

Cerambycidae 1 2 9 3 7 3 4 3 32 2,044 9 3,614

Coccinellidae 4 2 1 8 3 6 2 7 9 12 54 3,450 10 4,016

Curculionidae 4 4 8 9 4 1 7 7 5 49 3,130 9 3,614

Chrysomelidae 6 7 9 4 7 6 5 44 2,811 7 2,811

Orthoptera Gryllidae 6 2 7 3 4 4 8 5 6 2 2 2 51 3,258 12 4,819

Gryllotalpidae 2 9 2 7 9 10 39 2,492 6 2,409

Blatellidae 6 2 8 7 3 8 13 4 11 8 2 72 4,600 11 4,418

Acridiidae 3 3 3 3 2 1 3 3 21 1,341 8 3,212

Tettigonidae 3 5 5 5 5 5 2 5 2 37 2,364 9 3,614

Dermaptera Furficulidae 3 6 4 6 4 6 3 32 2,044 7 2,811

Hymenoptera Formicidae 8 11 9 12 7 10 15 11 16 17 18 12 146 9,33 12 4,819

Braconidae 3 1 5 10 7 2 10 16 3 15 8 80 5,112 11 4,418

Aphidae 3 3 1 8 7 3 1 4 30 1,916 8 3,212

Sphecidae 6 8 9 12 9 5 9 10 11 79 5,048 9 3,614

Siricidae 1 3 3 5 7 4 6 29 1,853 7 2,811

Ichneumonidae 2 1 4 5 6 3 6 5 3 35 2,236 9 3,614

Lepidoptera Noctuidae 12 7 9 9 8 7 16 18 11 26 9 17 149 9,52 12 4,819

Pieridae 7 10 7 14 7 5 8 6 14 9 11 8 106 6,774 12 4,819

Sphingidae 9 8 9 6 7 7 46 2,939 6 2,409

Hemiptera Pentatomidae 4 5 4 7 7 5 10 9 5 5 8 69 4,408 11 4,418

Coreidae 5 8 5 2 8 5 6 8 47 3,003 8 3,212

Homoptera Cicadellidae 2 3 4 2 2 1 2 4 4 6 30 1,916 10 4,016

Ephemeroptera Ephemeridae 5 8 4 4 8 12 5 7 8 61 3,897 9 3,614

Odonata Coenagrionidae 2 1 2 3 2 10 0,638 5 2,008


(30)

Dari Tabel 1. dapat diketahui bahwa jumlah keseluruhan serangga yang tertangkap dengan menggunakan berbagai perangkap ( perangkap lubang dan perangkap cahaya) pada tanaman belum menghasilkan cukup beranekaragam yaitu sebanyak 1565 ekor populasi serangga, yang terdiri dari 9 ordo dan 27 famili.

Dari Tabel juga dapat diketahui bahwa nilai Kerapatan Mutlak (KM) tertinggi adalah ordo Lepidoptera (Noctuidae) yaitu berjumlah 149 ekor dengan nilai Kerapatan Relatif (KR) sebesar 9,52% dan nilai KM yang paling rendah adalah ordo Odonata (Coenagrioidae) yaitu hanya 10 ekor dengan nilai KR sebesar 0,638 %. Nilai Frekuensi Mutlak (FM) yang paling rendah dari seluruh penangkapan yaitu ordo Odonata (Coenagrioidae) sebanyak 5 kali dengan nilai Frekuensi Relatif (FR) hanya sebesar 2,008 %.

Serangga yang banyak diperoleh adalah dari ordo Lepidoptera family Noctuidae yang diperoleh dari perangkap cahaya. Bahkan banyak juga serangga ini yang masuk ke perangkap lubang, hal ini di duga karena air pada pit fall trap memantulkan cahaya dari light trap pada malam hari. Hal ini mengakibatkan beberapa serangga tertatik masuk ke perankap lubang juga.

Ini menunjukkan bahwa keadaan ekosistem pada tanaman umur ini belum mengalami gangguan atau masih dalam keadaan yang seimbang, ini juga dapat dipengaruhi oleh keadaan vegetasi disekitar tanaman kelapa sawit masih ditutupi oleh Mucuna sebagai tanaman penutup tanah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rizali, Buchori dan Triwidodo (2002) yang menyatakan bahwa perbedaan


(31)

keanekaragaman seranggga di suatu tempat dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan yaitu: umur tanaman, keadaan cuaca saat pengambilan sampel dan keadaan habitat di sekitar tanaman (penggunaan tanaman penutup tanah).

Lokasi pengamatan pada daerah pengamatan ini terdapat pada daerah yang agak jauh dari daerah pemukiman masyarakat sehingga keanekaragaman serangga juga masih tinggi dan alami.


(32)

Kelimpahan Serangga Pada Tanaman Menghasilkan (TM)

Kelimpahan serangga pada tanaman menghasilkan (TM) yang diperoleh dari perangkap cahaya (light trap) dan perangkap lubang(pit fall trap) dapat dilihat pada tabel 2 berikut:

Serangga Pengamatan KM KR FM FR

I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII (%) (%)

Coleoptera Scarabidae 3 2 1 2 2 3 13 0,745 6 2,352

Coccinellidae 2 6 7 2 3 8 10 9 4 8 3 62 3,557 11 4,313

Carabidae 2 4 6 7 4 7 9 3 4 8 54 3,098 10 3,921

Elateridae 11 18 7 19 21 19 11 15 12 14 5 17 169 9,695 12 4,705

Cerambycidae 9 9 8 13 6 4 4 6 2 9 4 74 4,245 11 4,313

Cincidellidae 2 4 10 1 10 7 16 15 3 7 6 81 4,461 11 4,313

Orthoptera Gryllidae 5 3 4 6 4 3 2 5 3 2 37 2,122 10 3,921

Acridiidae 3 5 7 14 1 7 9 7 7 3 9 72 4,130 11 4,313

Blattidae 2 8 1 6 3 7 6 3 36 2,065 8 3,137

Tettigonidae 2 2 4 6 5 7 4 9 39 2,237 8 3,137

Hemiptera Pentatomidae 7 11 9 10 6 22 1 13 16 16 5 13 129 7,401 12 4,705

Reduviidae 3 1 6 2 3 5 20 1,147 5 1,960

Hymenoptera Formicidae 8 13 13 18 16 17 15 10 20 13 12 16 171 9,810 12 4,705

Anthoridae 4 4 4 1 6 8 1 8 6 1 4 5 52 2,983 12 4,705

Aphididae 3 5 5 4 4 5 7 7 40 2,294 8 3,137

Siricidae 2 7 6 5 4 6 2 5 4 2 6 3 52 2,983 12 4,705

Sphecidae 4 5 6 7 5 8 5 5 7 52 2,983 9 3,529

Pompilidae 5 7 7 5 3 8 5 9 7 6 62 3,557 10 3,291

Lepidoptera Noctuidae 10 9 16 14 17 15 16 17 15 14 7 11 161 9,263 12 4,705

Sphingidae 6 9 9 10 12 13 10 14 4 8 5 100 5,737 11 4,313

Papilionidae 3 5 5 7 3 2 2 8 9 3 47 2,696 10 3,921

Odonata Coenagroidae 6 6 7 8 8 2 7 8 4 56 3,212 9 3,529

Libellulidae 3 3 4 1 3 3 5 5 8 35 2,100 9 3,529

Dermaptera Furficulidae 6 3 3 5 8 3 10 5 4 3 3 53 3,041 10 3,921

Diptera Muscidae 3 4 7 5 4 8 3 8 4 4 6 56 3,212 11 4,313

Lauxanidae 3 5 7 1 4 20 1,147 5 1,960

Total 100 142 137 165 147 189 136 168 147 142 132 138 1743 100 255 100


(33)

Jumlah keseluruhan serangga yang tertangkap dengan menggunakan berbagai perangkap ( perangkap lubang dan perangkap cahaya) pada tanaman menghasilkan adalah sebanyak 1743 ekor populasi serangga, yang terdiri dari 8 ordo dan 26 famili (Tabel 2).

Dari Tabel juga dapat diketahui bahwa nilai Kerapatan Mutlak (KM) tertinggi adalah ordo Hymenoptera (Formicidae) yaitu berjumlah 171 ekor dengan nilai Kerapatan Relatif (KR) sebesar 9,810% dan nilai KM yang paling rendah adalah ordo Coleoptera (Scarabeidae) yaitu hanya 13 ekor dengan nilai KR sebesar 0,745 %. Nilai FM terendah dari seluruh penangkapan adalah ordo Diptera (Lauxanidae) yang hanya terdiri dari 5 penangkapan dengan nilai FR sebesar 1,47%.

Pada tanaman menghasilkan ini serangga terbanyak adalah dari Hymenoptera (Formicidae). Hal ini karena pada perangkap yang digunakan terutama pada pit fall trap semut saring sekali masuk ke dalam perangkap. Hal ini karena serangga semakin tertarik karena ada pantulan cahaya lampu pada air di pit fall trap.

Apabila Tabel 1 dan 2 dibandingkan maka dapat diketahui bahwa populasi serangga lebih banyak ditemukan pada tanaman umur menghasilkan dibandingkan dengan tanaman belum menghasilkan, hal ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan fisik yang heterogen misalnya vegetasi disekitar pertanaman dan juga lingkungan pertanaman yang dekat dengan perumahan penduduk dan pada daerah tersebut terdapat tanaman karet. Hal seperti yang dinyatakan oleh Michael (1995) semakin heterogen keadaan suatu lingkungan fisik maka semakin tinggi


(34)

tanaman mempengaruhi keanekaragaman serangga. Pada tanaman belum menghasilkan, lingkungan jauh dari penduduk dan tanaman kelapa sawit dikelilingi oleh Mucuna yang merupakan tanaman penutup tanah (cover crop).

Bila diamati kembali kondisi dilapangan, ada perbedaan diantara keduanya. Pada tanaman belum menghasilkan di Afdelin I lokasi jauh dari pemukiman dan keadaan lingkungan yang stabil. Pertanaman kelapa sawit di Afdelin I juga merupakan lahan konversi bekas pertanaman karet. Hal ini menyebabkan beberapa hama khusus kelapa sawit kurang diperoleh kehadirannya, misalkan kehadiran hama Oryctes rhinoceros yang merupakan hama utama kelapa sawit.

Pada kondisi pertanaman Afdelin II terdiri dari kelapa sawit dan karet. Umur tanaman kelapa sawit juga beragam, terdapat tahun tanam 1994, 1997, dan 2003. Pada afdelin ini juga terdapat buangan tandan kosong dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Rambutan. Sisa-sisa tandan kosong ini juga akan menjadi tempat yang baik untuk bertelurnya hama, terutama hama Oryctes rhinoceros yang merupakan hama utama tanaman kelapa sawit. Hama ini juga diperoleh pada saat pengambilan data light trap di lapangan.

Seperti yang terlihat pada tabel, jumlah populasi serangga yang tertangkap lebih tinggi pada TM dari pada TBM. Rizali, Buchori dan Triwidodo (2002) menyatakan perbedaan populasi serangga dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan yaitu: umur tanaman, keadaan cuaca saat pengambilan sampel dan keadaan habitat di sekitar tanaman. Misalkan pada saat pengambilan data Light Trap pada minggu I populasi serangga yang diperoleh cukup sedikit karena pada saat pengamatan cuaca sedang hujan.


(35)

Nilai Indeks Keanekaragaman Serangga

Hasil perhitungan indeks keanekaragaman jenis serangga dari beberapa lokasi Pengkajian di areal PTPN III unit Kebun Rambutan pada jenis perangkap cahaya (light trap) dan perangkap lubang (pit fall trap) pada tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM) disajikan dalam tabel 3 berikut ini :

No. Lokasi Indeks

Keanekaragaman Keterangan

1

Tanaman Belum Menghasilkan tahun tanam 2007

(Afdelin I)

3,068 Tinggi

2

Tanaman sudah Menghasilkan Tahun tanam 2003

(Afdelin II)

3,045 Tinggi

Tabel 3. Nilai Indeks Keanekaragaman Serangga

Menurut Michael (1995), ada 3 kriteria keanekaragaman jenis serangga yaitu, bila H’<1 berarti keanekaragaman serangga tergolong rendah., bila H’ 1-3 berarti keanekaragaman serangga tergolong sedang, bila H’>3 berarti keanekaragaman serangga tergolong tinggi.

Berdasarkan kriteria tersebut maka keanekaragaman jenis serangga pada stanaman belum menghasilkan dan tanaman menghasilkan tergolong tinggi, hal ini menunjukkan keadaan pada ekosistem yang ada di pertanaman tersebut antara hama dan predator (musuh alaminya) dan keadaan lingkungan fisik adalah tergolong stabil (seimbang). Hal ini sesuai dengan Oka (1995) yang menyatakan bahwa ekosistem yang stabil semua makhluk hidup berada dalam keadaan seimbang dan saling mengendalikan sehingga tidak terjadi hama.


(36)

Indeks Keseragaman Serangga pada Tanaman Belum Menghasilkan(TBM)

Indeks keseragaman serangga yang terdapat pada ekosistem tanaman belum Menghasilkan berdasarkan Magguran dapat kita lihat pada table 6. berikut:

No. Lokasi Indeks Keseragaman Keterangan

1

Tanaman Belum Menghasilkan tahun tanam 2007

(Afdelin I)

0,917 Merata

2

Tanaman sudah Menghasilkan Tahun tanam 2003

(Afdelin II)

0,922 Merata

Tabel 4. Nilai indeks keseragaman Serangga pada TBM

Pada indeks keseragaman serangga dapat kita lihat bahwa nilai indeks keseragaman pada tanaman belum menghasilkan adalah 0,917 dan pada tanaman menghasilkan adalah 0,922. Berdasarkan Magguran (1982), indeks keseragaman berkisar antara 0 – 1 apabila nilai mendekati 1 maka sebaran individu antar jenis pada suatu daerah merata. Nilai indeks keseragaman (E) mendekati nol apabila sebaran individu antar jenis tidak merata atau ada jenis tertentu yang dominan pada suatu daerah. Dari data tesebut, dapat kita lihat bahwa nilai Indeks keseragaman mendekati 1 maka kemerataan atau sebaran keseragaman serangga pada kedua daerah termasuk dalam kategori merata.

Hal ini juga dapat kita lihat pada jumlah serangga di kedua daerah bahwa jumlah serangga pada tiap spesies masih ada beberapa spesies yang tidak begitu berbeda jauh yang tertangkap jumlahnya.


(37)

Nilai Kerapatan Mutlak dan Kerapatan Relatif pada perangkap Pit Fall Trap

Pada table berikut ini akan disajikan data tentang kerapatan mutlak dan kerapatan relative pada perangkap lubang (pit fall trap). Data ini menyajikan jumlah serangga yang tertangkap pada perangkap lubang (Pit fall trap) dari dua daerah penangkapan yaitu tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM).

Seranggga KM KR(%) Coleoptera

Elateridae 155 10,90 Cerambycidae 68 4,78 Cincidellidae 81 5,70 Carabidae 47 3,31 Dystichidae 21 1,47 Orthoptera

Gryllidae 85 5,98 Blattidae 77 5,41 Gryllotalpidae 39 2,74 Dermaptera Furficulidae 74 5,20 Hymenoptera

Formicidae 285 20,05 Anthoridae 52 3,66 Braconidae 30 2,11 Aphidae 70 4,92 Lepidoptera

Noctuidae 136 9,57 Sphingidae 67 4,71 Pieridae 40 2,81 Hemiptera Pentatomidae 64 4,50 Homoptera Cicadellidae 30 2,11

Total 1421 100

Tabel 5. Kerapatan Mutlak dan Kerapatan Relatif Serangga pada perangkap lubang (Pit Fall Trap)

.

Jumlah serangga yang tertangkap dengan menggunakan perangkap lubang (fit fall trap) adalah sebanyak 1421 ekor yang terdiri dari 7 ordo dan 18 famili. Pada Tabel juga dapat dilihat bahwa famili yang paling banyak tertangkap


(38)

adalah dari family Formicidae dari ordo Hymenoptera. Dengan nilai Kerapatan Relatif dari seluruh penangkapan adalah 20,05%. Jumlah dari serangga yang tertangkap juga cukup bervariasi dan banyak. Hal ini membuktikan bahwa perangkap lubang cukup efektif dan efisien digunakan sebagai alat untuk menduga keanekaragaman serangga di suatu tempat, terutama yang aktif di permukaan tanah.

Pada perangkap ini family formicidae (semut) merupakan yang paling banyak ditemukan. Hal ini karena pada perangkap lubang (pit fall trap) ditanamkan ke dalam tanah dan permukaan lubangnya diletakkan sejajar dengan tanah, sehingga serangga yang memiliki aktifitas di permukaan tanah mudah masuk ke dalam perangkap. Kemudian pantulan lampu pada malam hari pada air pit fall trap menarik serangga untuk masuk ke dalam perangkap.


(39)

Kerapatan Mutlak dan Kerapatan Relatif Serangga pada perangkap Cahaya (Light Trap).

Pada table berikut ini akan disajikan data kerapatan mutlak dan kerapatan relative pada perangkap cahaya (light trap). Data ini menyajikan jumlah serangga yang tertangkap pada perangkap cahaya (light trap) dari dua daerah penangkapan yaitu tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM).

Serangga KM KR(%)

Coleoptera Elateridae 126 6,64

Scarabaeidae 13 0,68

Carabidae 97 5,11

Coccinellidae 116 6,12

Cerambycidae 38 2,00

Curculionidae 49 2,58

Chrysomelidae 44 2,32

Hemiptera Pentatomidae 122 6,43

Coreidae 47 2,48

Diptera Muscidae 56 2,95

Lauxanidae 20 1,05

Stratiomydae 39 2,05

Bombyliidae 41 2,16

Orthoptera Acridiidae 71 3,57

Tettigonidae 76 4,01

Blattellidae 27 1,42

Hymenoptera Formicidae 26 1,37

Siricidae 81 4,27

Sphecidae 131 6,92

Pompilidae 62 3,27

Ichneumonidae 35 1,84

Braconidae 50 2,63

Lepidoptera Noctuidae 174 9,18

Sphingidae 89 4,69

Papilionidae 47 2,48

Pieridae 66 3,48

Odonata Coenagrionidae 56 2,95

Libellulidae 35 1,84

Ephemeroptera Ephemeridae 61 3,22

Total 1895 100

Tabel 6. Kerapatan mutlak dan kerapatan relatif Serangga pada perangkap cahaya (Light Trap).


(40)

Dari Tabel 6. diketahui bahwa jumlah serangga yang tertangkap dengan menggunakan perangkap cahaya adalah 1895 ekor, yang terdiri dari 8 ordo dan 29 famili. Serangga yang paling banyak tertangkap adalah ordo Lepidoptera (Noctuidae) yaitu sebayak 174 ekor dengan nilai KR sebesar 9,18%.

Dibandingkan dengan semua perangkap, perangkap cahaya memiliki jumlah serangga yang berada diantara Hand picking dan pitt fall trap, hal ini karena pengambilan data hanya dilaksanakan pada pukul 18.00-21.00. Disamping itu perekat yang digunakan yaitu Vaseline kurang efektif untuk perekat serangga. Namun perangkap cahaya cukup efektif untuk mengamati serangga yang aktif di malam hari, karena cahaya begitu mencolok dimalam hari.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman populasi serangga di suatu tempat sangat dipengaruhi oleh waktu pengambilan sampel atau pemasangan perangkap, keadaan cuaca seperti curah hujan, dsb. Hal ini sesuai dengan pendapat Rizali, Buchori dan Triwidodo (2002) perbedaan populasi serangga dapat dipengaruhi oleh umur tanaman, keadaan cuaca saat pengambilan sampel, waktu pengambilan sampel dan keadaan habitat di sekitar tanaman.


(41)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pada tanaman belum menghasilkan(TBM) serangga dari ordo Lepidoptera (Noctuidae)adalah yang tertinggi populasinya sebesar 149 ekor dan pada tanaman menghasilkan (TM) serangga yang tertinggi populasinya adalah dari Ordo Hymenoptera (Formicidae) sebesar 171 ekor.

2. Indeks keanekaragaman serangga pada TBM adalah 3,068 dan pada TM adalah 3,045 dan tergolong tinggi.

3. Pada perangkap lubang (pitt fall trap) jumlah serangga yang tertangkap adalah 1421 ekor yang terdiri dari 7 ordo dan 18 family.

4. Pada perangkap cahaya (light trap) jumlah serangga yang tertangkap adalah 1895 ekor yang terdiri dari 8 ordo dan 29 family.

5. Indeks keseragaman serangga pada TBM adalah 0,917 dan pada TM adalah 0,922 dan tergolong merata.

Saran

Perlu dilakukan penelitian tentang status serangga yang ditemukan dilapangan dan perlu dicoba penangkapan serangga dengan metode lainnya.


(42)

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous,2005.Budidaya Kelapa Sawit.http://www.agroindonesia.com/. (03 April 2010)

Anonimous,2010.Kelapa Sawit. April 2010)

Elzinga,R.J.1981.Fundamentals of Entomology.Departement of Entomology Kansas State University.Prentice hall inc.Englewood Cliffs.New Jersey Evans, H.E.1984. Insect Biology A text Book of Entomology. Colorado State

University.Addison Wesley Publishing Company. London.

Gallangher, D. K dan S. Lilies, Ch., 1991. Metode Ekologi Lapangan. Program Nasional Pelatihan dan Pengembangan Pengendalian Hama Terpadu. Jakarta.

Gillot,C.1982.Entomology.University of Saskatchewan, Saskatoon, Canada. Plennum Press.New York and London

Ginting,D.1975 Bercocok Tanam – Tanaman Kelapa Sawit (Elais guinensis Jacq.) dan pengolahan hasilnya.SPMA Negeri Medan.Medan

Hanum,C.2008.Teknik Budidaya Tanaman.Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.

Krebs,1978.Ecology.The Experimental Analysis of Distribution and Abundance.Third Edition.Harper and Row Distribution.New York

Jumar,2000.Entomologi Pertanian.Rineka Cipta. Jakarta

Kiswanto,2008.Teknologi Budidaya kelapa sawit. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.Bogor

Manurung,E.G.T.2001.Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia April 2010)

Michael, P., 1995. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Terjemahan Yanti R. Koester. UI Press. Jakarta

Oka, I.N., 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. UGM-Press, Yogyakarta.


(43)

Pahan, Iyung.2006. Panduan lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir.Penebar Swadaya. Jakarta

Putra, N.S., 1994. Serangga Di Sekitar Kita. Kanisius, Yogyakarta

Rizali, A., Bukhori, D., Triwidodo, H., 2002. Keanekaragaman Serangga pada Lahan Persawahan-tepaian Hutan indicator untuk Kesehatan Lingkungan. Jurnal Penelitian Juni 2002 Vol 9 (2).

Rockstein,M.1973.The Physiology of insecta.Academic Press.New York and London

Tim Penulis PS,1997/Kelapa Sawit.Usaha Budidaya.Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran.Penebar Swadaya.Jakarta


(44)

Lampiran 1.

Tabel. Kelimpahan serangga yang tertangkap pada tanaman belum menghasilkan ( TBM ) berdasarkan jenis perangkap yang digunakan.

Perangkap Lubang (Tanaman Belum Menghasilkan)

Serangga Pengamatan KM KR(%) FM FR(%)

I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII Coleoptera Elateridae 6 8 9 2 8 5 5 7 4 2 5 61 7,90 11 7,53 Carabidae 3 5 6 4 3 5 4 5 8 4 47 6,08 10 6,84 Dystichidae 1 2 3 2 3 5 2 3 21 2,72 8 5,47 Cerambycidae 1 2 9 3 7 3 4 3 32 4,14 8 5,47 Orthoptera Gryllidae 6 2 7 3 4 4 8 5 6 2 2 2 51 6,60 12 8,21 Gryllotalpidae 2 9 2 7 9 10 39 5,05 6 4,10 Blatellidae 3 2 4 7 6 8 8 3 41 5,31 8 5,47 Dermaptera Furficulidae 3 6 4 6 4 6 3 32 4,14 7 4,79 Hymenoptera Formicidae 8 11 9 12 7 10 15 11 16 17 18 12 146 18,91 12 8,21 Braconidae 1 5 2 5 9 6 2 30 3,88 7 4,79 Aphidae 3 3 1 8 7 3 1 4 30 3,88 8 5,47 Lepidoptera Noctuidae 2 3 3 4 3 6 8 5 9 9 4 56 7,25 11 7,53 Pieridae 2 3 2 5 5 6 9 4 4 40 5,18 9 6,16 Hemiptera Pentatomidae 4 5 4 7 7 5 10 9 5 5 8 69 8,93 11 7,53 Coreidae 5 8 5 2 8 5 6 8 47 6,08 8 5,47 Homoptera Cicadellidae 2 3 4 2 2 1 2 4 4 6 30 3,88 10 6,54 Total 40 51 49 72 63 61 76 74 72 65 90 59 772 100 146 100


(45)

Perangkap Cahaya (Tanaman Belum Menghasilkan)

Serangga Pengamatan KM KR FM FR

I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII (%) (%) Coleoptera Elateridae 5 7 8 4 3 7 6 5 45 5,23 8 5,29 coccinellidae 4 2 1 8 3 6 2 7 9 12 54 6,28 10 6,62 Curculionidae 4 4 8 9 4 1 7 7 5 49 5,70 9 5,96 Carabidae 8 7 9 6 7 6 43 5,00 6 3,97 Chrysomelidae 6 7 9 4 7 6 5 44 5,12 7 4,63 Diptera Stratiomydae 8 4 4 5 7 2 9 39 4,54 7 4,63 Bombyliidae 4 7 6 3 8 5 5 3 41 4,77 8 5,29 Hymenoptera Sphecidae 6 8 9 12 9 5 9 10 11 79 9,19 9 5,96 Siricidae 1 3 3 5 7 4 6 29 3,37 7 4,63 Ichneumonidae 2 1 4 5 6 3 6 5 3 35 4,07 9 5,96 Braconidae 3 5 5 7 5 7 3 9 6 50 5,82 9 5,96 Orthoptera Blattellidae 3 4 3 2 5 3 5 2 27 3,14 8 5,29 Acridiidae 3 3 3 3 2 1 3 3 21 2,44 8 5,29 Tettigonidae 3 5 5 5 5 5 2 5 2 37 4,30 9 5,96 Lepidoptera Noctudidae 10 7 6 6 4 4 10 10 6 17 13 93 10,82 11 7,28 Sphingidae 9 8 9 6 7 7 46 5,35 7 4,63 Pieridae 5 7 5 9 7 8 6 8 7 4 66 7,68 10 6,62 Ephemeroptera 5 8 4 4 8 12 5 7 8 61 7,11 9 5,96 Total 50 59 73 80 79 46 95 79 67 88 64 79 859 100 151 100


(46)

Lampiran 2.

Tabel. Kelimpahan serangga yang tertangkap pada tanaman menghasilkan (TM) berdasarkan jenis perangkap yang digunakan.

Pitt Fall Trap (Tanaman Menghasilkan)

Serangga Pengamatan KM KR FM FR I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII (%) (%) Coleoptera Elateridae 7 13 10 17 9 3 9 3 7 5 11 94 12,72 11 8,52 Cerambycidae 5 7 3 6 4 3 4 4 36 4,53 8 6,20 Cincidellidae 2 4 10 1 10 7 16 15 3 7 6 81 10,21 11 8,52 Orthoptera Gryllidae 5 3 4 6 4 3 2 5 2 34 4,28 9 6,97 Blattidae 2 8 1 6 3 7 6 3 36 4,53 8 6,20 Dermaptera Furficulidae 4 3 5 5 2 8 6 7 2 42 5,29 9 6,97 Hymenoptera Formicidae 6 13 10 14 16 17 14 10 15 15 6 3 139 17,52 12 9,30 Anthoridae 4 4 4 1 6 8 1 8 6 1 4 5 52 6,55 12 9,30 Aphididae 3 5 5 4 4 5 7 7 40 5,04 8 6,20 Lepidoptera Noctuidae 7 4 8 11 10 4 10 8 8 5 4 1 80 10.08 12 9,30 Sphingidae 6 6 7 3 4 13 8 7 4 2 7 67 8,44 11 8,52 Hemiptera Pentatomidae 4 5 9 4 1 13 8 5 7 8 64 8,07 10 7,75 Reduviidae 3 1 2 6 2 3 7 4 28 3,53 8 6,20 Total 58 69 64 67 74 89 64 82 67 68 39 52 793 100 129 100


(47)

Light Trap (Tanaman Menghasilkan)

Serangga

Pengamatan

KM KR

(%) FM FR (%) I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII

Coleoptera Elateridae 4 5 7 9 10 10 8 6 9 7 6 81 8,80 11 6,14 Scarabaeidae 3 2 1 2 2 3 13 1,41 6 3,35 Carabidae 2 4 6 7 4 7 9 3 4 8 54 5,86 10 5,58 Coccinellidae 2 6 7 2 3 8 10 9 4 8 3 62 6,73 11 6,14 Cerambycidae 4 2 5 7 6 4 3 2 5 38 4,13 9 5,02 Hemiptera Pentatomidae 3 6 6 5 9 1 5 1 7 5 5 53 5,76 11 6,14 Diptera Muscidae 3 4 7 5 4 8 3 8 4 4 6 56 6,08 11 6,14 Lauxanidae 3 5 7 1 4 20 2,17 5 2,79 Orthoptera Acridiidae 3 5 7 1 4 7 7 7 3 6 50 5,43 10 5,58 Tettigonidae 2 2 4 6 5 7 4 9 39 4,23 8 4,46 Hymenoptera Formicidae 2 3 4 1 5 5 6 26 2,82 7 3,91 Siricidae 2 7 6 5 4 6 2 5 4 2 6 3 52 5,65 12 6,70 Sphecidae 4 5 6 7 5 8 5 5 7 52 5,65 9 5,02 Pompilidae 5 7 7 5 3 8 5 9 7 6 62 6,73 10 5,58 Lepidoptera Noctuidae 3 5 8 3 7 11 6 9 7 9 3 10 81 8,80 12 6,70 Sphingidae 3 2 7 8 2 7 6 8 43 4,67 9 5,02 Papilionidae 3 5 5 7 3 2 2 8 9 3 47 5,10 10 5,58 Odonata Coenagrionidae 6 6 7 8 8 2 7 8 4 56 6,08 9 5,02 3 3 4 1 3 3 5 5 8 35 3,80 9 5,02 Total 40 70 73 86 79 94 69 84 78 82 86 79 920 100 179 100


(48)

Lampiran 3.

Tabel Indeks keanekaragaman jenis serangga pada tanaman belum menghasilkan(TBM).

Serangga KM pi lnpi H'

Coleoptera

Elateridae 106 0,067 -2,692 0,180

Carabidae 90 0,057 -2,855 0,162

Dystichidae 21 0,013 -4,311 0,056

Cerambycidae 32 0,020 -3,889 0,077

Coccinellidae 54 0,034 -3,366 0,114

Curculionidae 49 0,031 -3,463 0,107

Chrysomelidae 44 0,028 -3,571 0,099

Orthoptera

Gryllidae 51 0,032 -3,423 0,109

Gryllotalpidae 39 0,024 -3,692 0,088

Blatellidae 72 0,046 -3,078 0,141

Acridiidae 21 0,013 -4,311 0,056

Tettigonidae 37 0,023 -3,744 0,086

Dermaptera Furficulidae 32 0,020 -3,889 0,077

Hymenoptera

Formicidae 146 0,093 -2,372 0,220

Braconidae 80 0,051 -2,973 0,151

Aphidae 30 0,019 -3,954 0,075

Sphecidae 79 0,050 -2,986 0,149

Siricidae 29 0,018 -3,988 0,071

Ichneumonidae 35 0,022 -3,800 0,083

Lepidoptera

Noctuidae 149 0,095 -2,351 0,223

Pieridae 106 0,067 -2,692 0,180

Sphingidae 46 0,029 -3,256 0,094

Hemiptera

Pentatomidae 69 0,044 -3,121 0,137

Coreidae 47 0,030 -3,505 0,105

Homoptera Cicadellidae 30 0,019 -3,954 0,075

Ephemeroptera Ephemeridae 61 0,038 -3,244 0,123

Odonata Coenagrionidae 10 0,006 -5,053 0,030


(49)

Lampiran 4.

Tabel Indeks keanekaragaman jenis Serangga pada tanaman menghasilkan (TM).

Serangga KM pi lnpi H'

Coleoptera Scarabidae 13 0,007 -4,898 0,034

Coccinellidae 62 0,035 -3,336 0,116

Carabidae 54 0,030 -3,474 0,104

Elateridae 169 0,096 -2,333 0,223

Cerambycidae 74 0,042 -3,159 0,132

Cincidellidae 81 0,046 -3,068 0,141

Orthoptera Gryllidae 37 0,021 -3,852 0,080

Acridiidae 72 0,041 -3,817 0,156

Blattidae 36 0,020 -3,879 0,077

Tettigonidae 39 0,022 -3,799 0,083

Hemiptera Pentatomidae 129 0,074 -2,603 0,192

Reduviidae 20 0,011 -4,467 0,049

Hymenoptera Formicidae 171 0,098 -2,321 0,227

Anthoridae 52 0,029 -3,512 0,101

Aphididae 40 0,022 -3,774 0,083

Siricidae 52 0,029 -3,512 0,101

Sphecidae 52 0,029 -3,512 0,101

Pompilidae 62 0,035 -3,336 0,116

Lepidoptera Noctuidae 161 0,092 -2,381 0,219

Sphingidae 100 0,057 -2,858 0,162

Papilionidae 47 0,026 -3,613 0,093

Odonata Coenagroidae 56 0,032 -3,438 0,110

Libellulidae 35 0,021 -3,908 0,082

Dermaptera Furficulidae 53 0,030 -3,493 0,104

Diptera Muscidae 56 0,032 -3,438 0,110

Lauxanidae 20 0,011 -4,467 0,049

Total 1743 1 3,045


(50)


(1)

Perangkap Cahaya (Tanaman Belum Menghasilkan)

Serangga Pengamatan KM KR FM FR

I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII (%) (%)

Coleoptera Elateridae 5 7 8 4 3 7 6 5 45 5,23 8 5,29

coccinellidae 4 2 1 8 3 6 2 7 9 12 54 6,28 10 6,62

Curculionidae 4 4 8 9 4 1 7 7 5 49 5,70 9 5,96

Carabidae 8 7 9 6 7 6 43 5,00 6 3,97

Chrysomelidae 6 7 9 4 7 6 5 44 5,12 7 4,63

Diptera Stratiomydae 8 4 4 5 7 2 9 39 4,54 7 4,63

Bombyliidae 4 7 6 3 8 5 5 3 41 4,77 8 5,29

Hymenoptera Sphecidae 6 8 9 12 9 5 9 10 11 79 9,19 9 5,96

Siricidae 1 3 3 5 7 4 6 29 3,37 7 4,63

Ichneumonidae 2 1 4 5 6 3 6 5 3 35 4,07 9 5,96

Braconidae 3 5 5 7 5 7 3 9 6 50 5,82 9 5,96

Orthoptera Blattellidae 3 4 3 2 5 3 5 2 27 3,14 8 5,29

Acridiidae 3 3 3 3 2 1 3 3 21 2,44 8 5,29

Tettigonidae 3 5 5 5 5 5 2 5 2 37 4,30 9 5,96

Lepidoptera Noctudidae 10 7 6 6 4 4 10 10 6 17 13 93 10,82 11 7,28

Sphingidae 9 8 9 6 7 7 46 5,35 7 4,63

Pieridae 5 7 5 9 7 8 6 8 7 4 66 7,68 10 6,62

Ephemeroptera 5 8 4 4 8 12 5 7 8 61 7,11 9 5,96


(2)

Lampiran 2.

Tabel. Kelimpahan serangga yang tertangkap pada tanaman menghasilkan (TM) berdasarkan jenis perangkap yang digunakan. Pitt Fall Trap (Tanaman Menghasilkan)

Serangga Pengamatan KM KR FM FR

I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII (%) (%)

Coleoptera Elateridae 7 13 10 17 9 3 9 3 7 5 11 94 12,72 11 8,52

Cerambycidae 5 7 3 6 4 3 4 4 36 4,53 8 6,20

Cincidellidae 2 4 10 1 10 7 16 15 3 7 6 81 10,21 11 8,52

Orthoptera Gryllidae 5 3 4 6 4 3 2 5 2 34 4,28 9 6,97

Blattidae 2 8 1 6 3 7 6 3 36 4,53 8 6,20

Dermaptera Furficulidae 4 3 5 5 2 8 6 7 2 42 5,29 9 6,97 Hymenoptera Formicidae 6 13 10 14 16 17 14 10 15 15 6 3 139 17,52 12 9,30

Anthoridae 4 4 4 1 6 8 1 8 6 1 4 5 52 6,55 12 9,30

Aphididae 3 5 5 4 4 5 7 7 40 5,04 8 6,20

Lepidoptera Noctuidae 7 4 8 11 10 4 10 8 8 5 4 1 80 10.08 12 9,30

Sphingidae 6 6 7 3 4 13 8 7 4 2 7 67 8,44 11 8,52

Hemiptera Pentatomidae 4 5 9 4 1 13 8 5 7 8 64 8,07 10 7,75

Reduviidae 3 1 2 6 2 3 7 4 28 3,53 8 6,20


(3)

Serangga

Pengamatan

KM KR

(%) FM FR (%) I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII

Coleoptera Elateridae 4 5 7 9 10 10 8 6 9 7 6 81 8,80 11 6,14

Scarabaeidae 3 2 1 2 2 3 13 1,41 6 3,35

Carabidae 2 4 6 7 4 7 9 3 4 8 54 5,86 10 5,58

Coccinellidae 2 6 7 2 3 8 10 9 4 8 3 62 6,73 11 6,14

Cerambycidae 4 2 5 7 6 4 3 2 5 38 4,13 9 5,02

Hemiptera Pentatomidae 3 6 6 5 9 1 5 1 7 5 5 53 5,76 11 6,14

Diptera Muscidae 3 4 7 5 4 8 3 8 4 4 6 56 6,08 11 6,14

Lauxanidae 3 5 7 1 4 20 2,17 5 2,79

Orthoptera Acridiidae 3 5 7 1 4 7 7 7 3 6 50 5,43 10 5,58

Tettigonidae 2 2 4 6 5 7 4 9 39 4,23 8 4,46

Hymenoptera Formicidae 2 3 4 1 5 5 6 26 2,82 7 3,91

Siricidae 2 7 6 5 4 6 2 5 4 2 6 3 52 5,65 12 6,70

Sphecidae 4 5 6 7 5 8 5 5 7 52 5,65 9 5,02

Pompilidae 5 7 7 5 3 8 5 9 7 6 62 6,73 10 5,58

Lepidoptera Noctuidae 3 5 8 3 7 11 6 9 7 9 3 10 81 8,80 12 6,70

Sphingidae 3 2 7 8 2 7 6 8 43 4,67 9 5,02

Papilionidae 3 5 5 7 3 2 2 8 9 3 47 5,10 10 5,58

Odonata Coenagrionidae 6 6 7 8 8 2 7 8 4 56 6,08 9 5,02

3 3 4 1 3 3 5 5 8 35 3,80 9 5,02


(4)

Lampiran 3.

Tabel Indeks keanekaragaman jenis serangga pada tanaman belum menghasilkan(TBM).

Serangga KM pi lnpi H'

Coleoptera

Elateridae 106 0,067 -2,692 0,180 Carabidae 90 0,057 -2,855 0,162 Dystichidae 21 0,013 -4,311 0,056 Cerambycidae 32 0,020 -3,889 0,077 Coccinellidae 54 0,034 -3,366 0,114 Curculionidae 49 0,031 -3,463 0,107 Chrysomelidae 44 0,028 -3,571 0,099 Orthoptera

Gryllidae 51 0,032 -3,423 0,109 Gryllotalpidae 39 0,024 -3,692 0,088 Blatellidae 72 0,046 -3,078 0,141 Acridiidae 21 0,013 -4,311 0,056 Tettigonidae 37 0,023 -3,744 0,086 Dermaptera Furficulidae 32 0,020 -3,889 0,077 Hymenoptera

Formicidae 146 0,093 -2,372 0,220 Braconidae 80 0,051 -2,973 0,151 Aphidae 30 0,019 -3,954 0,075 Sphecidae 79 0,050 -2,986 0,149 Siricidae 29 0,018 -3,988 0,071 Ichneumonidae 35 0,022 -3,800 0,083 Lepidoptera

Noctuidae 149 0,095 -2,351 0,223 Pieridae 106 0,067 -2,692 0,180 Sphingidae 46 0,029 -3,256 0,094 Hemiptera

Pentatomidae 69 0,044 -3,121 0,137 Coreidae 47 0,030 -3,505 0,105 Homoptera Cicadellidae 30 0,019 -3,954 0,075 Ephemeroptera Ephemeridae 61 0,038 -3,244 0,123 Odonata Coenagrionidae 10 0,006 -5,053 0,030


(5)

Tabel Indeks keanekaragaman jenis Serangga pada tanaman menghasilkan (TM).

Serangga KM pi lnpi H'

Coleoptera Scarabidae 13 0,007 -4,898 0,034

Coccinellidae 62 0,035 -3,336 0,116

Carabidae 54 0,030 -3,474 0,104

Elateridae 169 0,096 -2,333 0,223

Cerambycidae 74 0,042 -3,159 0,132

Cincidellidae 81 0,046 -3,068 0,141

Orthoptera Gryllidae 37 0,021 -3,852 0,080

Acridiidae 72 0,041 -3,817 0,156

Blattidae 36 0,020 -3,879 0,077

Tettigonidae 39 0,022 -3,799 0,083

Hemiptera Pentatomidae 129 0,074 -2,603 0,192

Reduviidae 20 0,011 -4,467 0,049

Hymenoptera Formicidae 171 0,098 -2,321 0,227

Anthoridae 52 0,029 -3,512 0,101

Aphididae 40 0,022 -3,774 0,083

Siricidae 52 0,029 -3,512 0,101

Sphecidae 52 0,029 -3,512 0,101

Pompilidae 62 0,035 -3,336 0,116

Lepidoptera Noctuidae 161 0,092 -2,381 0,219

Sphingidae 100 0,057 -2,858 0,162

Papilionidae 47 0,026 -3,613 0,093

Odonata Coenagroidae 56 0,032 -3,438 0,110

Libellulidae 35 0,021 -3,908 0,082

Dermaptera Furficulidae 53 0,030 -3,493 0,104 Diptera Muscidae 56 0,032 -3,438 0,110

Lauxanidae 20 0,011 -4,467 0,049

Total 1743 1 3,045


(6)