Studi Keanekaragaman Jenis Serangga Di Areal Pertanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Pada Berbagai Umur Tanaman Di PTPN III Kebun Huta Padang

STUDI KEANEKARAGAMAN JENIS SERANGGA DI AREAL
PERTANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
PADA BERBAGAI UMUR TANAMAN DI PTPN III
KEBUN HUTA PADANG

SKRIPSI

OLEH :
ALMANAH RAMBE
050302027/HPT

DEPARTEMEN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara

STUDI KEANEKARAGAMAN JENIS SERANGGA DI AREAL
PERTANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
PADA BERBAGAI UMUR TANAMAN DI PTPN III
KEBUN HUTA PADANG

SKRIPSI

OLEH :
ALMANAH RAMBE
040302027/HPT
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

Disetujui Oleh:
Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS)
Ketua

( Ir. Marheni, MP )
Anggota

DEPARTEMEN ILMU HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Almanah Rambe, Study of varieties insect at any age of palm oil in PTPN
III UNIT HUTA PADANG farm area, KABUPATEN ASAHAN. The objective
of this research was to study index of varieties insect at first age of plant area,
second age plant area, Thrid age plant area, fifth age plant area, sixth age plant
area and nineth age of palm area (Elaeis guinensis Jacq.).
Research was done in PTPN III UNIT KEBUN HUTA PADANG farm,
Kabupaten Asahan with places height ± 120 m on surface of sea. Catch on the
insect done with use sweep net, pit fall trap, and light trap. Then continued
research in Hama Penyakit Tumbuhan laboratory, North Sumatera University.
The result of research showed that insect was caught in first age of plant
area was 547 consist of 11 ordo and 37 family, second age plant area was 392
consist of 11 ordo and 32 family, Thrid age palant area was 302 consist of 10 ordo
and 30 family, fifth age plant area was 269 consist of 9 ordo and 31 family. Sixth
age plant area was 301 consist of 10 ordo and 29 family and Last Ninth age plant
area was 330 consist of 9 ordo and 33 family.
From result of researsh showed that insect from Isoptera ordo; Termitidae
was Most summary from each areal observation axcept at fifth age plant area there
was 6 insects only, where at first age of plant area had 135, second age plant area
had 75, Thrid age plant area 67, Sixth age plant area had 53 and the last ninth
age plant rea had 70 insects.
Shanon-Weiner (H) Index varieties value of insect highest in fifth age
area is 3,3646 (high), at first age area is 3,2977 (high), nineth age area is 3,1369
(high), first age area is 3,1346., at second age area is 3,1346 but third age area is
2,8358 (medium).

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Almanah

Rambe,

STUDI

KEANEKARAGAMAN

JENIS

SERANGGA DI AREAL PERTANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis
guineensis Jacq.) PADA BERBAGAI UMUR TANAMAN DI PTPN III
KEBUN HUTA PADANG, dibawah bimbingan Bapak Prof. Dr. Ir. Darma Bakti,
MS., selaku ketua dan Ibu Ir. Marheni, MP. selaku anggota.
Penelitian dilaksanakan di PTPN III Unit Kebun Huta Padang Kabupaten
Asahan dengan ketinggian tempat 120 m di atas permukaan laut. Penelitian ini
dilaksanakan pada enam (6) lokasi yaitu pada Tanaman Umur Satu Tahun, Dua
Tahun, Tiga Tahun, Lima Tahun, Enam Tahun dan Sembilan Tahun.
Penangkapan serangga dilakukan dengan menggunakan Tanggok perangkap,
Perangkap lubang (Pit Fall Trap), dan Perangkap Cahaya (Light Trap) Kemudian
dilanjutkan Pengamatan di Laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan, Universitas
Sumatera Utara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga yang tertangkap pada areal
Tanaman Umur Satu Tahun sebanyak 547 ekor yang terdiri dari 11 ordo dan 37
famili, areal Tanaman Umur Dua Tahun sebanyak 392 ekor yang terdiri dari 10
ordo dan 32 famili, areal Tanaman Umur Tiga Tahun sebanyak 302 ekor yang
terdiri dari 10 ordo dan 30 famili, areal tanaman Umur Lima Tahun sebanyak 269
ekor yang terdiri dari 9 ordo dan 31 famili, areal Tanaman Umur Enam Tahun
sebanyak 301 ekor yang terdiri dari 10 ordo dan 29 famili dan areal Tanaman
Umur Sembilan Tahun sebanyak 330 ekor yang terdiri dari 9 ordo dan 33 famili.

Universitas Sumatera Utara

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga dari ordo Isoptera;
Termitidae merupakan jumlah yang terbanyak diperoleh dari setiap areal
pengamatan kecuali pada areal tanaman umur Tanaman Lima Tahun yang hanya
berjumlah 6 ekor saja, dimana pada areal tanaman Umur Satu Tahun terdapat
sebanyak 135 ekor, areal tanaman Umur dua Tahun sebanyak 75 ekor, areal
tanaman Umur Tiga Tahun sebanyak 67 ekor, pada areal tanaman Umur Enam
Tahun sebanyak 53 ekor dan pada areal Tanaman Umur Sembilan Tahun
berjumlah 70 ekor
Nilai indeks keragaman serangga Shanon-Weiner ( H ) tertinggi pada areal
tanaman Umur Lima Tahun sebesar 3,3691 (tinggi), pada areal tanaman umur
Sembilan Tahun adalah sebesar 3,1368 (Tinggi), areal tanaman umur Dua Tahun
sebesar 3,1346 (Tinggi), pada areal tanaman umur Satu Tahun sebesar 3,1057
(Tinggi), sedangkan pada areal tanaman umur Enam Tahun sebesar 3,0060
(Sedang) dan areal tanaman umur Tiga Tahun sebesar 2,8358 (Sedang).

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Tanjungbalai pada tanggal 03 Februari 1987
dari Seorang Ayah Chaidir Rambe dan didampingi seorang Ibu Nurmaini
Nasution. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara.
Tahun 2005 penulis lulus dari MAN Tanjungbalai yang dan pada tahun
2005 diterima di Fakultas Pertanian USU Medan, Departemen Ilmu Hama dan
Penyakit Tumbuhan melalui jalur PMP.
Penulis melakukan Praktek kerja Lapangan (PKL) di Perkebunan Kelapa
Sawit dan Karet PTPN III Unit Kebun Sei Silau Kisaran pada tahun 2009.
Penulis pernah menjadi Asisten Laboratorium Entomologi Pertanian,
Asisten Laboratorium Mikologi dan Bakteriologi Organisme Pengganggu
Tanaman, Asisten Laboratorium Mikrobiologi Organisme pengganggu Tanaman,
Asisten Virologi Tumbuhan, Asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman
Sub Penyakit dan Asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Sub Hama.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang maha Esa karena
atas berkat dan anugerahNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adapun
judul dari skripsi adalah STUDI KEANEKARAGAMAN JENIS SERANGGA
DI AREAL PERTANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
PADA BERBAGAI UMUR TANAMAN DI PTPN III KEBUN HUTA
PADANG.
Adapun tujuan dan kegunaan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat
untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
Penulis

mengucapkan

terima

kasih

kepada

Bapak

Prof. Dr. Ir. Darma Bakti, MS., selaku ketua dan Ibu Ir. Marheni, MP. selaku
anggota komisi Pembimbing. yang telah banyak memberikan arahan dan
bimbingan kepada penulis, dan tidak lupa juga kepada rekan-rekan yang telah
banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga skripsi ini
bermanfaat.

Medan, Februari 2009

Almanah Rambe

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Hlm
ABSTRACT ................................................................................................ .. i
ABSTRAK................................................................................................... . ii
RIWAYAT HIDUP ..................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iv
DAFTAR ISI ............................................................................................... .v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ....................................................................................... .ix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... ..x
PENDAHULUAN
Latar Belakang ..................................................................................
Tujuan Penelitian ..............................................................................
Hipotesa Penelitian ............................................................................
Kegunaan Penelitian ..........................................................................

.1
.3
.3
.3

TINJAUAN PUSTAKA
Indeks Diversitas/Keanekaragaman ......................................................4
Keragaman Jenis Serangga dan Faktor Yang Mempengaruhinya ..........5
Ledakan Populasi Serangga .................................................................7
BAHAN DAN METODA
Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................. 10
Bahan dan Alat ................................................................................... 10
Metoda Analisa Data .......................................................................... 11
Pelaksanaan Penelitian ....................................................................... 14
Pengambilan Sampel............................................................... 14
Identifikasi Serangga .............................................................. 20
Koleksi Serangga .................................................................... 20
Peubah Amatan .................................................................................. 21
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal Tanaman
Umur 1 (Satu) Tahun ........................................................................ 22
Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal Tanaman
Umur 2 (Dua) Tahun ......................................................................... 24
Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal Tanaman
Umur 3 (Tiga) Tahun......................................................................... 26
Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal Tanaman
Umur 5 (Lima) Tahun ........................................................................ 28
Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal Tanaman
Umur 6 (Enam) Tahun........................................................................ 30
Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal Tanaman
Umur 9 (Sembilan) Tahun .................................................................. 32

Universitas Sumatera Utara

Nilai Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga .................................... 36

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ........................................................................................ 65
Saran .................................................................................................. 66
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No

Judul

Hlm

1.

Alat Perangkap Tanggok Kain................................................ 16

2.

Perangkap Pit Fall Trap (Perangkap Jatuh) .............................. 18

3.

Perangkap Lampu (Light trap) ................................................ 19

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No

Judul

Hlm

1.

Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal
Tanaman Umur Satu Tahun ..................................................... 22

2.

Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal
Tanaman Umur Dua Tahun ..................................................... 24

3.

Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal
Tanaman Umur Tiga Tahun..................................................... 26

4.

Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal
Tanaman Umur Lima Tahun ................................................... 28

5.

Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal
Tanaman Umur Enam Tahun................................................... 30

6.

Kelimpahan Serangga Yang Tertangkap Pada Areal
Tanaman Umur Sembilan Tahun ............................................... 32

13.

Indeks Keanekaragam Jenis Serangga Pada
Masing-Masing Lokasi ............................................................ 36

14.

Kerapatan mutlak dan Kerapata relatif serangga pada
masing-masing perangkap ....................................................... 38

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No

Judul

Hlm

1.

Kelimpahan serangga pada masing-masing lokasi berdasarkan
perangkap yang digunakan ...................................................... 42

2.

Nilai Indeks Keanekaragaman Serangga Pada
Berbagai areal yang direliti ..................................................... 50

7.

Peta Lokasi Afdeling IV Huta Padang dan jumlah pokok ....... 56

8.

Peta Lokasi Afdeling IV Huta Padang ..................................... 57

9.

Gambar serangga .................................................................... 58

10.

Daerah Huta Padang ............................................................... 62

11.

Peta bentangan kebun Huta Padang ......................................... 63

12.

Data curah hujan ..................................................................... 64

13.

Data Kelembapan ................................................................... 65

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Almanah Rambe, Study of varieties insect at any age of palm oil in PTPN
III UNIT HUTA PADANG farm area, KABUPATEN ASAHAN. The objective
of this research was to study index of varieties insect at first age of plant area,
second age plant area, Thrid age plant area, fifth age plant area, sixth age plant
area and nineth age of palm area (Elaeis guinensis Jacq.).
Research was done in PTPN III UNIT KEBUN HUTA PADANG farm,
Kabupaten Asahan with places height ± 120 m on surface of sea. Catch on the
insect done with use sweep net, pit fall trap, and light trap. Then continued
research in Hama Penyakit Tumbuhan laboratory, North Sumatera University.
The result of research showed that insect was caught in first age of plant
area was 547 consist of 11 ordo and 37 family, second age plant area was 392
consist of 11 ordo and 32 family, Thrid age palant area was 302 consist of 10 ordo
and 30 family, fifth age plant area was 269 consist of 9 ordo and 31 family. Sixth
age plant area was 301 consist of 10 ordo and 29 family and Last Ninth age plant
area was 330 consist of 9 ordo and 33 family.
From result of researsh showed that insect from Isoptera ordo; Termitidae
was Most summary from each areal observation axcept at fifth age plant area there
was 6 insects only, where at first age of plant area had 135, second age plant area
had 75, Thrid age plant area 67, Sixth age plant area had 53 and the last ninth
age plant rea had 70 insects.
Shanon-Weiner (H) Index varieties value of insect highest in fifth age
area is 3,3646 (high), at first age area is 3,2977 (high), nineth age area is 3,1369
(high), first age area is 3,1346., at second age area is 3,1346 but third age area is
2,8358 (medium).

Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) diperkirakan baerasal dari
Nigeria, Afrika Barat. Tanaman ini masuk ke Indonesia pada tahun 1848
sebanyak empat batang, kemudian ditanam di kebun raya bogor sebagai tanaman
hias. Selanjutnya percobaan penanaman kelapa sawit dilakukan di Muara Enim
(1869), Musi Hulu (1870) dan Belitung (1890). Pada tahun 1911 kelapa sawit
dibudidayakan secara komersial dalam bentuk perkebunan di Sungai Liput (Aceh)
dan Pulo Raja (Sumatera Utara) (Risza, 1994).
Keanekaragaman hayati adalah variabilitas antara makhluk hidup dari
semua sumber daya, sepuluh persen dari ekosistem alam berupa suaka alam,
suaka marga satwa, taman nasional, hutan lindung dan sebagian lagi digunakan
untuk kepentingan pembudidayaan plasma nutfah (Arief, 2001).
Kajian ekologi dapat diketahui dengan membagi lingkungan hidup atau
biosfer dalam beberapa bagian sesuai dengan komponen-komponen yang
membentuk lingkungan tersebut, diantaranya adalah: lingkungan fisik/abiotik
yaitu: tanah, suhu, pH, air, iklim, cuaca dan angin. Lingungan biotik mencakup
keseluruhan lingkungan yang terbentuk dari semua fungsi hayati makhlukmakhluk hidup yang saling berinteraksi (Heddy dan Kurniawaty, 1996).
Menurut Dally et all., dalam Ewusie (1990) serangga adalah salah satu
anggota kerajaan hewan yang mempunyai jumlah anggota terbesar. Hampir lebih
dari 72 % anggota binatang masuk kedalam golongan serangga. Jadi ekologi
serangga adalah keseluruhan pola hubungan timbal balik serangga dengan
lingkungannnya yang merupakan faktor abiotik. Kajian ekologi memungkinkan

Universitas Sumatera Utara

kita memahami komunitas secara keseluruhan. Supaya dapat memastikan
kenyataan ini perlu diadakan penelitian.
Keanekaragaman famili suatu ekosistem serangga dapat diambil untuk
menandai jumlah famili serangga dalam suatu daerah tertentu atau sebagian
jumlah famili diantara jumlah total individu yang ada dari seluruh famili yang
ada.

Hubungan

keanekaragaman

ini

dapat

dinyatakan

secara

numerik

sebagai

indeks

(Michael, 1995).

Tujuan Penelitian

Universitas Sumatera Utara

1. Untuk

mengetahui

indeks

keanekaragaman

serangga

pada

areal

pertanaman kelapa sawit di kebun Huta Padang kabupaten Asahan.
Hipotesis Penelitian
1. Adanya

perbedaan

indeks

keanekaragaman

serangga

pada

areal

perkebunan Huta Padang di kabupaten Asahan.
2. Terdapat perbedaan Nilai frekuensi mutlak, frekuensi relatif, kerapatan
mutlak, kerapatan relatif pada setiap pengamatan.
Kegunaan Penelitian
1. Salah satu syarat untuk dapat meraih gelar sarjana di Departemen Ilmu
Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara.
2. Sebagai bahan informasi bagi pihak

yang

membutuhkan untuk

mengidentifikasi jenis-jenis serangga pada berbagai umur tanaman kelapa
sawit.

Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA

Indeks keanekaragaman/ Indeks Diversitas

Insdeks keanekaragaman dapat dipegunakan dalam menyatakan hubungan
kelimpahan spesies dalam suatu komunitas. Keanekaragaman jenis terdiri dari dua
komponen yaitu:
1. Jumlah spesies dalam satu komunitas yang sering disebut dengan
kekayaan spesies.
2. Kesamaan spesies, menunjukkan bagaimana kelimpahan spesies tersebut
(yaitu jumlah individu, biomassa, tanaman penutup tanah)tersebar antara
banyak spesies tersebut (Anonimus, 2008).
Contohnya : pada suatu komunitas terdiri dari 10% species, jika 90%
adalah 1 species dan 10% adalah 9 jenis yang tersebar, kesamaan disebut rendah.
Sebaliknya

jika

masing-masing

species

jumlahnya

10%,

kesamaannya

maksimum. Beberapa tahun kemudian muncul penggolongan indeks kesamaan
dan indeks kekayaan kemudian digabungkan menjadi indeks keanekaragaman
dengan variable yang menggolongkan struktur komunitas, yaitu:
1. Jumlah Spesies
2. Kelimpahan relative
3. Homogenitas, dan
4. Ukuran area sampel (Irwanto, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Kelimpahan individu dan kekayaan spesies serangga diperoleh pada setiap
lahan saat melakukan penelitian keanekaragaman akan jelas terlihat berbeda
antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh
beberapa faktor yang saling berkaitan yaitu: umur tanaman, keadaan cuaca saat
pengambilan sampel, waktu pengambilan sampel dan keadaan habitat di sekitar
tanaman (penggunaan tanaman penutup tanah) (Rizali, Buchori dan Triwidodo,
2002).
Keanekaragaman Serangga dan Faktor yang Mempengaruhinya

Keaneka ragaman jenis adalah sifat komunitas yang diperlihatkan tingkat
keanekaragaman jenis organisme yang ada di dalamnya. Menurut Odum (1971)
untuk

memperoleh

keanekaragaman

cukup

diperlukan

mengenal

dan

membedakan jenis meskipun tidak dapat mengidentifikasi secara mendetail
tentang serangga tersebut (Kreb, 1978).
Dalam ekosistem alami semua makhluk hidup berada dalam keadaan
seimbang dan saling mengendalikan sehingga tidak terjadi hama, di ekosistem
alamiah

keanekaragaman

jenis

sangat

tinggi.

Tingkat

keanekaragaman

pertanaman mempengaruhi timbulnya masalah hama. Sistem peranaman yang
beranekaragam akan berpengaruh terhadap populasi hama (Oka, 1995).
Beberapa faktor yang saling berkaitan untuk menentukan derajat naik
turunnya keanekaragaman jenis, adalah:
1. Waktu, keanekaragaman komunitas bertambah sejalan waktu.

Universitas Sumatera Utara

2. Heterogenitas ruang, semakin heterogen keadaan suatu lingkungan fisik
maka semakin tinggi keragamannya
3. Kompetisi, terjadi apabila sejumlah organisme membutuhkan sumber yang
sama yang ketersediaanya terbatas.
4. Pemasangan, yang mempertahankan komunitas populasi dari jenis
bersaing yang berbeda di bawah daya dukung masing-masing selalu
memperbesar kemungkinan hidup berdampingan sehingga mempertinggi
keragaman, apabla intensitas dari pemasangan terlalu tinggi atau rendah
dapat menurunkan keragaman.
5. Kestabilan iklim, makin stabil iklim akan lebih mendukung bagi
keberlangsungan evolusi.
6. Produktivitas, merupakan syarat mutlak untuk keanekaragaman yang
tinggi (Michael, 1995).
Keenam faktor yang telah dipaparkan di atas saling berinteraksi untuk
menetapkan

keanekaragaman

jenis

dalam

komunitas

yang

berbeda.

Keanekaragaman ini sangatlah penting dalam menentukan batas kerusakan yang
dilakukan terhadap sistemalam akibat turut campur tangannya manusia
(Michael, 1995).
Faktor-faktor yang mengatur kepadatan suatu populasi dapat dibagi
menjadi dua golongan yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal
antara lain : persaingan antar individu dalam suatu populasi atau dengan spesies
lain, perubahan lingkungan kimia akibat adanya sekresi dan metabolisme,
kekurangan makanan, serangan predator/penyakit, emigrasi, faktor iklim misalnya

Universitas Sumatera Utara

cuaca, suhu dan kelembapan. Sedangkan faktor internal perubahan genetik dari
populasi

(Oka, 1995).

Ledakan Populasi Serangga
Peledakan populasi serangga dapat terjadi jika suatu spesies dimasukkan
ke dalam suatu daerah yang baru, dimana terdapat sumber-sumber yang belum
dieksploitir oleh manusia dan tidak ada interaksi negatif (misalnya predator dan
parasit), dimana sebenarnya predator dan parasit memainkan peranan dalam
menahan peledakan populasi dan memang menekan laju pertumbuhan populasi
(Heddy dan Kurniawaty, 1996).
Tindakan yang mengganggu hubungan yang terjadi secara alami antara
musuh alami dan hama sering kali menyebabkan timbulnya ledakan populasi
hama. Hal ini dapat terjadi karena suatu spesies hama mengklonisasi daerah
geografis yang baru tanpa diikuti perkembangan musuh alami karena musuh alami
banyak yang terbunuh akibat aplikasi pestisida atau habitat yang ditempati oleh
hama dan musuh alami dimodifikasi sehingga sangat sesuai untuk perkembangan
hama. Pestisida yang sering digunakan sebagai pilihan utama untuk memberantas
OPT mempunyai daya bunuh yang tinggi, hasilnya cepat diketahui, namun bila
aplikasinya kurang bijaksanadapat membawa dampak pada pengguna, hama
sasaran, maupun lingkungan yang sangat berbahaya (Wudianto, 1997).
Untuk menjaga keseimbangan ekosistem, konservasi (pelestarian) perlu
lebih digalakkan. Sebagai bagian terbesar dari spesies di bumi serangga menjadi
entry point upaya pelestarian ekologi. Tanpa konservasi serangga bisa terjadi
ledakan hama yang mengganggu kehidupan pertanian (Anonimus, 2008a).

Universitas Sumatera Utara

Populasi setiap organisme pada ekosistem tidak pernah sama dari waktu ke
waktu, tetapi selalu berfluktuasi (Untung, 1996). Demikian pula ekosistem yang
terbentuk dari populasi serta lingkungan fisiknya senantiasa berubah dan
bertambah sepanjang waktu (Tarumingkeng, 2001 dalam Anonimus, 2008a).
Odum (1971) menyatakan bahwa dalam keadaan ekosistem yang stabil,
populasi suatu jenis organisme selalu dalam keadaan seimbang dengan populasi
organisme lainnya dalam komunitasnya.
Menurut Harahap (1994) di dalam ekosistem alami populasi suatu jenis
serangga atau hewan pemakan tumbuhan tidak pernah eksplosif (meledak) karena
banyak faktor pengendalinya baik yang bersifat biotik maupun yang bersifat
abiotik maupun biotik. Dengan demikian dalam ekosistem alami serangga tidak
berstatus sebagai hama. Di dalam ekosistem pertanian faktor pengendali tersebut
sudah banyak berkurang sehingga kadang-kadang populasinya meledak dan
menjadi hama.
Serangga fitopag dapat berubah status dari non hama menjadi hama atau
dari hama penting menjadi hama tidak penting, karena:
1. Perubahan lingkungan atau cara budidaya
2. Perpindahan tempat
3. Perubahan pandangan manusia
4. Aplikasi insektisida yang tidak bijaksana (Gallangher dan Lilies, 1991).

Universitas Sumatera Utara

Pola penyebaran dan kepadatan serangga di suatu tempat akan berbedabeda. Penyebaran dan kepadatan serangga sangat dipengaruhi oleh banyak
sedikitnya populasi serangga, prilaku serangga dan tempat hidup (keadaan
tofografi) atau habitatnya

(Gallangher dan Lilies, 1991).

Dalam keadaan ekosistem yang stabil, populasi suatu jenis organisme
selalu dalam keadaan keseimbangan dengan populasi organisme lainnya dalam
komunitasnya. Keseimbangan ini terjadi karena adanya mekanisme pengendalian
yang bekerja secara umpan balik negatif yang berjalan apa tingkat antar spesies
(persaingan, predasi) dan tingkat inter spesies (Untung, 1996).
Tindakan yang mengganggu hubungan yang terjadi secara alami antara
musuh alami dan hama sering kali menyebabkan timbulnya ledakan populasi
hama. Hal ini dapat terjadi karena suatu spesies hama mengkolonisasi daerah
geografis yang baru tanpa diikuti oleh perkembangan musuh alami, musuh alami
terbunuh oleh aplikasi pestisida, atau habitat yang ditempati oleh hama dan musuh
alami dimodifikasi sehingga sangat sesuai untuk hama (BP2TP, 2009)

Universitas Sumatera Utara

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di areal kebun Huta Padang Kabupaten Asahan
dengan ketinggian tempat 120 m di atas permukaan laut. Identifikasi serangga
yang tertangkap dilakukan di Laboatorium Hama Fakultas Pertanian, Universitas
Sumatera Utara, yang dilakukan mulai bulan Agustus sampai selesai.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah imago serangga yang
tertangkap, air bersih, detergen, plastik transfaran, formalin 70%, alkohol 70%
dan vaselin sebagai perekat.
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah stoples, botol spesimen,
kain kasa, tanggok kaon berdiameter 50 cm, light trap dengan menggunakan
lampu neon dan kain berwarna putih, fit fall trap dengan menggunakan ember
plastik berdiameter 25 cm, kuas kecil, kertas label, sekop kecil, selotip, pinset,
gunting, killing bottle, jarum suntik, lup, kamera, mikroskop stereo binokuler, alat
tulis menulis, kayu atau bambu sebagai toggak penyangga perangkap cahaya,
serta buku pedoman identifikasi seperti Suin (1997), Dindall (1990), Chung
(1995), Kalshoven (1981), Sulthoni dan subiyanto (1980) dan Purba, dkk (2005),
Siwi (2005) dan Borror (1992).

Universitas Sumatera Utara

Metode Analisa Data
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode diagonal.
Luas pengambilan areal sampel pada berbagai umur tanaman adalah kurang lebih
529.43 Ha, masing-masing dari jumlah tanaman pada berbagai umur di ambil
sampel 5 %, dengan rincian sebagai berikut:
1. Blok sampling I, umur tanaman satu tahun (Tahun tanam 2008) berjumlah
5.475 pokok dengan luas areal sekitar 33,65 Ha. Jadi julah pokok sampel
adalah 270 pokok.
2. Blok sampling II, tanaman umur 2 tahun (tahun tanam 2007) jumlah
tanaman sekitar 21.423 pokok dengan luas areal 160.05 Ha. Jadi jumlah
pokok sampel adalah 1.070 pokok.
3. Blok sampling III, tanaman umur 3 tahun (tahun tanam 2006) jumlah
tanaman 17.884 pokok dengan luas areal 134,5 Ha. Jadi jumlah pokok
sampel adalah 890 pokok.
4. Blok sampling IV. Tanaman umur 5 tahun (tahun tanam 2004) jumlah
tanaman 16.335 pokok dengan luas areal 123.38 Ha. Jadi jumlah pokok
sampel adalah 810 pokok.
5. Blok sampling V. Tanaman umur 6 tahun (tahun tanam 2003) jumlah
tanaman 2080 pokok dengan luas areal 17.65 Ha. Jadi jumlah pokok
sampel adalah 100 pokok.

Universitas Sumatera Utara

6. Blok sampling VI. Tanaman umur 9 tahun (tahun tanam 2000) jumlah
tanaman 7175 pokok dengan luas areal 55,20 Ha. Jadi jumlah pokok
sampel adalah 350 pokok.
Serangga-serangga yang diperoleh pada setiap penagkapan setelah
dikumpulkan, dikelompokkan dan selanjutnya diidentifikasi di Laboratorium,
kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus-rumus berikut:
Frekuensi Mutlak (FM) suatui serangga :
Frekuensi Mutlak (FM) suatu jenis serangga yang ditemukan pada habitat
yang dinyatakan secara mutlak (Suin, 1997).
FM =

Jumlah ditemukan suatu jenis serangga
Jumlah seluruh penangkapan

Frekuensi Relatif (FR) suatu jenis serangga :

FR =

FR =

FM
x100%
∑ FM
Nilai FM suatu jenis serangga setiap penangkapan
x100%
Total Jumlah seluruh serangga setiap penangkapan

Frekuensi Relatif (FR)

menunjukkan kesering hadiran suatu jenis

serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga
tersebut (Suin, 1997).

Universitas Sumatera Utara

Kerapatan Mutlak (KM) suatu jenis serangga:
Kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada
habitat yang dinyatakan secara mutlak (Suin, 1997).

KM =

Jumlah individu jenis yang tertangkap
Jumlah seluruh Penangkapan

Kerapatan Relatif (KR) suatu jenis serangga:

KR =

KR =

KM
x100%
∑ KM
Jumlah individu suatu jenis dalam setiap penangkapan
x100%
Total individu dalam setiap penangkapan

Indeks keanekaragaman jenis serangga
Untuk membandingkan tinggi rendahnya keragaman jenis serangga
digunakan indeks Shanon-Weiner (H) dengan rumus:


H = -Σ pi In pi (Michael, 1995).

Dimana:


pi = perbandingan jumlah individu suatu jenis serangga dengan
keseluruhan jenis



pi = ni/N



ni = jumlah individu jenis ke-i

Universitas Sumatera Utara



N = jumlah total individu semua jenis

Dengan kriteria indeks keanekaragaman menurut Krebs (1989) sebagai berikut:
H’> 3-5

(Tinggi)

H’ 1-3

(Sedang)

H’