Analisis Pengaruh Kompetensi Dan Tekanan Anggaran Waktu Terhadap Kualitas Audit Pada Kantor Akuntan Publik Di Bandung

  

ANALISIS PENGARUH KOMPETENSI DAN TEKANAN ANGGARAN WAKTU

TERHADAP KUALITAS AUDIT

( Survey Pada Sepuluh Kantor Akuntan Publik di Wilayah Bandung )

  

ANALYSIS INFLUENCE OF COMPETENCE AND TIME BUDGET PRESSURE

ON AUDIT QUALITY

( case Survey of ten public accounting firms in the area of Bandung )

  

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Sidang Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

  Program Studi Akuntansi Disusun Oleh:

  

PRAMA JAKA TAMTAMA

21106107

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

  

2011

  

ABSTRACT

In discharging its duties, an auditor has the right to obtain access to needed

information, to the senior audit must provide the widest opportunity to interact with

junior audit staff or leaders who will in the audit. There are several ways that can be

the auditor in obtaining information from audits, among others, observing the work

process, seek clarification, ask for demonstrations, review documents, cross

checking, looking for evidence and conduct surveys. The purpose of this study is to

determine the competence of the external auditor, time budget pressure, to know the

quality of audit and to analyze the competence and time budget pressure Effect on the

quality of audit.

  The method used is descriptive and verification with qualitative and

quantitative approaches. The unit of analysis in this research is the competence of the

external auditor, external auditor independence and audit quality in ten public

accounting firm in the Territory Bandung. Use the same samples in a population of

27 external auditors. To know competence and independence of external auditors

audit the impact on the quality of statistical tests performed using correlation

analysis, regression analysis, coefficient determination and to test the hypothesis is

then used t tests using the tools SPPS 15.0 for Windows.

  The results qualitatively show that the external auditor competence and time

budget pressure is good enough as well as quality audit, and research results

quantitatively show the amount of external auditors analisiskompetensi effect on the

quality of audit amounted to 60,7% and the rest by 39,3% described other variables

beyond the competence and time budget pressure impact on audit quality as

independence, the number of clients, level of audit fee, financial health of clients Keywords: competence, time budget pressure, external auditors, audit quality

  

ABSTRAK

  Dalam menjalankan fungsinya, seorang auditor mempunyai hak untuk mendapatkan akses informasi yang dibutuhkan, untuk itu audit senior harus memberikan kesempatan seluas- luasnya kepada audit junior dalam berinteraksi dengan staf atau pimpinan yang akan di audit tersebut. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh auditor dalam mendapatkan informasi dari audit, antara lain, mengamati proses kerja, meminta penjelasan, meminta peragaan, menelaah dokumen, memeriksa silang, mencari bukti-bukti dan melakukan survey. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kompetensi auditor eksternal, tekanan anggaran waktu, untuk mengetahui kualitas audit dan untuk menganalisis kompetensi dan tekanan anggaran waktu Pengaruhnya terhadap kualitas audit.

  Metode yang digunakan adalah deskriptif dan verifikatif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah kompetensi auditor eksternal, independensi auditor eksternal dan kualitas audit di sepuluh Kantor Akuntan Publik di Wilayah Bandung. Sampel yang di gunakan sama dengan populasi sebesar 27 auditor eksternal. Untuk mengetahui kompetensi dan independensi auditor eksternal pengaruhnya terhadap kualitas audit maka dilakukan pengujian statistik menggunakan analisis korelasi, analisis regresi, koefisien determinasi dan untuk menguji hipotesis maka yang digunakan adalah uji t dengan menggunakan alat bantu SPPS 15.0 for windows.

  Hasil penelitian secara kualitatif menunjukan bahwa kompetensi auditor eksternal sudah cukup baik dan tekanan anggaran waktu sudah cukup baik begitu pula dengan kualitas audit, dan hasil penelitian secara kuantitatif menunjukan besarnya analisis kompetensi auditor eksternal berpengaruh terhadap kualitas audit sebesar 60,7% dan sisanya sebesar 39,3% dijelaskan variabel lain yaitu indepedensi, jumlah klien, level of audit fee, kesehatan keuangan klien.

  Kata Kunci: kompetensi, tekanan anggaran waktu, auditor eksternal, kualitas audit

KATA PENGANTAR KA

  Puji syukur penulis nulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang t telah melimpahkan rahmat dan kar karunia-Nya kepada penulis, sehingga akhirnya penul penulis dapat menyelesaikan Skrips kripsi yang berjudul

  “ ANALISIS PENGAR RUH

KOMPETENSI DAN TE EKANAN ANGGARAN WAKTU TERHAD DAP

KUALITAS AUDIT” Surve rvey Pada Sepuluh Kantor Akuntan Publik lik di

Wilayah Bandung.

  Skripsi ini disusun ol un oleh penulis dengan maksud memenuhi salah h satu syarat utuk mengikuti ujian ian sidang Sarjana (S1) Program Studi Akunta untansi, Fakultas Ekonomi Universitas tas Komputer Indonesia.

  Mengingat keterbatas tasan, pengetahuan, kemampuan, pengalaman n dan waktu dari penulis, maka penul penulis menyadari bahwa laporan skripsi ini tidak lupu k luput dari berbagai kekurangan. Ol Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kr n kritik yang membangun untuk perba perbaikan serta penambahan pengetahuan bagi penul penulis khususnya, dan untuk peneliti liti selanjutnya yang membutuhkan pada umumnya.

  a. Selama penyusunan skr n skripsi ini, penulis terima kasih kepada Surtikanti nti SE,

  M.si selaku pembimbing ya yang telah banyak memberikan bimbingan, ara rahan, bantuan dan dorongan yang sa sangat berarti. Selain itu, pada kesempatan ini penul penulis ingin menyampaikan rasa teri erima kasih kepada:

  1. Dr. Ir. Eddy Soery ryanto Soegoto, M.Sc selaku Rektor Univers ersitas Komputer Indonesia. .

  2. Prof. Dr. Umi Narimawati, Dra., S.E., M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Komputer Indonesia 3. Sri Dewi Anggadini, S.E., M.Si selaku Ketua Program Studi Akuntansi.

  4. Ony Widilestariningtyas, SE., M. Si, Ak selaku Dosen Wali Ak-3 yang selama ini telah membimbing kami semua dalam menyelesaikan studi di Universitas Komputer Indonesia.

  5. Bapak/Ibu Dosen Program Studi Akuntansi Universitas Komputer Indonesia.

  6. Sekretariat Prodi Akuntansi, terima kasih atas pelayananya selama penulis kuliah.

  7. Seluruh Akuntan Senior dan staf pada Sepuluh Kantor Akuntan Publik di Wilayah Bandung, atas bantuan dan kesempatan yang diberikan kepada penulis pada penelitian ini.

  8. Kepada Kedua Orang Tua Mamah dan Papah tercinta, yang senantiasa tulus memberikan dukungan, doa, kasih sayang, dan perhatian yang tak henti-hentinya mengalir untukku. Atas kemudahan yang aku dapatkan khususnya materi yang tak sedikit kalian keluarkan, tanpa kalian aku bukan apa-apa.

  9. Adik-adikku yang selalu memberikan dukungan selama penulis menyusun skripsi.

  10. Seseorang yang selalu membantu, memberi dukungan, semangat dalam banyak hal, dan selalu setia serta sabar menemani penulis.

  11. Sahabat-sahabat terbaikku, Dani, Rohan, Taufik, Fajar, Robi, Qiki, Imbang, Ondos yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

  12. Teman-teman seperjuangan angkatan 2006 khususnya Ak-3 yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, terima kasih atas kerja sama dan bantuannya.

  13. Untuk Teman-teman, kerabat dan saudara yang telah memberikan doa dan dukungan semangatnya kepada penulis.

  14. Kepada rekan-rekan di Fakultas Ekonomi Program Studi Akuntansi yang mungkin telah lulus lebih awal ataupun yang masih berada di UNIKOM, ayo tetap semangat dan terus berjuang.

  15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis, secara langsung ataupun tidak langsung dalam menyelesaikan laporan Skripsi ini. Harapan penulis semoga apa yang disajikan dalam laporan penelitian ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi penulis khususnya, dan bagi pihak yang membaca pada umumnya. Akhir kata penulis panjatkan doa kepada Allah SWT, semoga amal berupa bantuan, dorongan, dan doa yang telah diberikan kepada penulis akan mendapat balasan yang berlipat ganda.

  Amin ya rabbal’alamin.

  Bandung,Juli 2011 Penulis

  Prama Jaka Tamtama

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN

  Profesi akuntan publik merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Dari profesi akuntan publik, masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas dan tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan. Profesi akuntan publik bertanggungjawab untuk menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan, sehingga masyarakat memperoleh informasi keuangan yang andal sebagai dasar pengambilan keputusan (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:3).

  Peran akuntan publik dewasa ini menunjukkan perkembangan pesat. Pengaruh globalisasi menyebabkan kaburnya batas-batas antar Negara. Dampaknya, semakin jauh jarak pembuat dan pengguna informasi yang akhirnya menyebabkan bisa pada informasi tersebut. Selain itu, terdapat pula perbedaan kepentingan antara pembuat laporan dan pengguna laporan. Untuk itu diperlukan suatu opini dari pihak ketiga yang independen untuk menilai informasi tersebut.

  Pihak ketiga yang dimaksud dalam hal penilaian informasi yang terkait dengan keuangan tersebut adalah akuntan publik. Disini akuntan publik bertugas memberikan opini terhadap laporan keuangan suatu perusahaan. Opini tersebut nantinya akan digunakan oleh pengguna laporan keuangan seperti pemegang demikian, opini yang dibuat akuntan publik akan sangat berpengaruh pada kegiatan perusahaan tersebut di masa yang akan datang.

  Kualitas audit yang baik pada prinsipnya dapat dicapai jika auditor menerapkan standar-standar dan prinsip-prinsip audit, bersikap bebas tanpa memihak (Independen), patuh kepada hukum serta mentaati kode etik profesi. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) adalah pedoman yang mengatur Standar umum pemeriksaan akuntan publik,

  Kepercayaan yang besar dari pemakai laporan keuangan auditan dan jasa lainnya yang diberikan oleh akuntan publik inilah yang akhirnya mengharuskan akuntan publik memperhatikan kualitas audit yang dihasilkannya. Adapun pertanyaan dari masyarakat tentang kualitas audit yang dihasilkan oleh akuntan publik semakin besar setelah terjadi banyak skandal yang melibatkan akuntan public baik diluar negeri maupun didalam negeri. Skandal didalam negeri terlihat dari akan diambilnya tindakan oleh Majelis Kehormatan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) terhadap 10 Kantor Akuntan Publik yang diindikasikan melakukan pelanggaran berat saat mengaudit bank-bank yang dilikuidasi pada tahun 1998. Selain itu terdapat kasus keuangan dan manajerial perusahaan public yang tidak bisa terdeteksi oleh akuntan publik yang menyebabkan perusahaan didenda oleh Bapepam (Christiawan 2003:82).

  Kane dan Velury (2005), mendefinisikan kualitas audit sebagai kapasitas auditor eksternal untuk mendeteksi terjadinya kesalahan material dan bentuk penyimpangan lainnya. jaminan dimana kualitas tersebut akan digunakan untuk membandingkan kondisi yang sebenarnya dengan yang seharusnya Kane dan Velury (2005), mendefinisikan kualitas audit sebagai kapasitas auditor eksternal untuk mendeteksi terjadinya kesalahan material dan bentuk penyimpangan lainnya. Russel (2000), menyebutkan bahwa kualitas audit merupakan fungsi jaminan dimana kualitas tersebut akan digunakan untuk membandingkan kondisi yang sebenarnya dengan yang seharusnya.

  Kualitas audit yang buruk dapat merugikan bagi pihak yang menggunakan jasa audit, sebagaimana kasus pada perusahaan Kima Farma Tbk. Pada laporan auditnya Bapepam menemukan adanya indikasi mark up terhadap laba dimana tahun 2001 ditulis Rp. 132 milyar padahal sebenarnya hanya senilai Rp. 99,594 milyar . PT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah di Indonesia. Pada audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM). Akan tetapi, Kementerian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002 laporan keuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali (restated), karena telah ditemukan kesalahan yang cukup mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba awal yang dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral berupa overstated persediaan barang sebesar Rp

  23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar Farmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar. Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada tanggal 1 dan 3 Februari 2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan nilainya dan dijadikan dasar penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31 Desember 2001. Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah dengan dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi. Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa KAP yang mengaudit laporan keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti standar audit yang berlaku, namun gagal mendeteksi kecurangan tersebut. Selain itu, KAP tersebut juga tidak terbukti membantu manajemen melakukan kecurangan tersebut. Kemampuan untuk menemukan kecurangan dari laporan keuangan ditentukan oleh Kompetensi auditor. Akibat adanya manipulasi tersebut maka Bapepam menjatuhkan sanksi denda sebesar Rp. 500 juta kepada PT. Kimia Farma Tbk dan kepada auditornya sebesar Rp. 100 juta (Media Akuntansi, 2003).

  Kemudian pada kasus Bank Lippo terjadi pembukuan ganda pada tahun 2002. Pada tahun tersebut Bapepam menemukan adanya tiga versi laporan keuangan. Laporan yang berbeda itu, pertama, yang diberikan kepada publik ke BEJ pada 27 Desember 2002, dan ketiga, laporan yang disampaikan akuntan publik, dalam hal ini kantor akuntan publik Prasetio, Sarwoko dan Sandjaja dengan auditor Ruchjat Kosasih dan disampaikan kepada manajemen Bank Lippo pada 6 Januari 2003. Dari ketiga versi laporan keuangan tersebut yang benar-benar telah diaudit dan mencantumkan ”opini wajar tanpa pengecualian” adalah laporan yang disampaikan pada 6 Januari 2003. Akibat adanya manipulasi tersebut maka Bapepam menjatuhkan sanksi denda kepada Bank Lippo sebesar Rp 2,5 miliar, karena pencantuman kata ”diaudit” dan ”opini wajar tanpa pengecualian” di laporan keuangan 30 September 2002 yang dipublikasikan pada 28 Nopember 2002, dan sanksi denda sebesar Rp 3,5 juta kepada Ruchjat Kosasih selaku partner kantor akuntan publik (KAP) Prasetio, Sarwoko & Sandjaja karena keterlambatan penyampaian informasi penting mengenai penurunan agunan yang diambil alih (AYDA) Bank Lippo selama 35 hari. (http://nem-idunggede.blogspot.com/2009/11/skandal- manipulasi-laporan-keuangan-pt.html).

  Selain itu, terdapat fenomena khusus yang pernah terjadi pada salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP) yaitu Kantor Akuntan Publik xxx wilayah Bandung. Salah satu kesalahan yang terjadi yaitu kesalahan mengaudit dan perbedaan persepsi antara auditor dan klien suatu perusahaan. Auditor senior yang bertugas untuk melaksanakan audit atas laporan keuangan terkadang masih ada yang melakukan kesalahan, penyebab terjadinya kesalahan tersebut yaitu kurangnya kompetensi. kompetensi sangat penting bagi auditor dalam melakukan audit walaupun auditor tersebut memiliki pendidikan formal yang tinggi. Dengan adanya kesalahan tersebut maka audit yang dihasilkan tidak berkualitas karena kurangnya keahlian auditor yang merupakan bagian dari standar umum. Maka dari itu masih banyak auditor yang melakukan kesalahan mengaudit dan perbedaan persepsi anatara auditor maka audit yang dihasilkan tidak berkualitas

  (Sumber: Auditor di Kantor Akuntan Publik xxx).

  Dampak penurunan kualitas audit dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap profesi akuntansi, menurunkan kredibilitas para akuntan public atas hasil-hasil audit yang mereka lakukan. Pada akhirnya akibat dari penurunan kualitas audit dapat mematikan profesi itu sendiri serta akan menimbulkan campur tangan pemerintah yang berlebihan terhadap profesi itu sendiri (Otley dan Pierce 1995).

  Berbagai penelitian sehubungan dengan kualitas audit telah dilakukan antara lain oleh Kelly dan Margheim (1990), menyebutkan bahwa penurunan kualitas audit adalah akibat dari tekanan (pressure), system pengendalian (control system) dan gaya pengendalian (supervissory style). Otley dan Pierce (1995), menjelaskan bahwa beberapa perilaku disfungsional auditor seperti Prematur Sign-Off Audit Procedures (menghentikan prosedur audit)

  

Underreportingof Time (keterlambatan atau tidak tepat waktu), Altering Audit

Process dan Gathering Unsufficient Evidence (mengganti proses audit dan

  mengumpulkan bukti yang tidak cukup) akan berdampak terhadap penurunan kualitas audit .

  De Angelo dalam Kusharyanti (2003:25) mendefinisikan kualitas audit sebagai kemungkinan (joint probability) dimana seorang auditor akan menemukan dan melaporkan pelanggaran yang ada dalam sistem akuntansi kliennya. Kemungkinan dimana auditor akan menemukan salah saji tergantung pada kualitas pemahaman auditor (kompetensi) sementara tindakan pembuatan laporan audit, auditor harus mempunyai tekanan anggaran waktu yang baik.

  Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary mendefinisikan kompetensi

  adalah ketrampilan dari seorang ahli. Dimana ahli didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki tingkat ketrampilan tertentu atau pengetahuan yang tinggi dalam subyek tertentu yang diperoleh dari pelatihan dan pengalaman (Sri Lastanti, 2005:88)

  Kompetensi diperoleh melalui pendidikan formal, peningkatan ketrampilan dan jam terbang akuntan tersebut. Hal ini juga tidak lepas dari pengaruh input saat memasuki perguruan tinggi. Dengan kata lain, jika sejak awal input yang dimiliki sudah bagus, kompetensi yang dimiliki akuntan akan cenderung bagus pula. Selain itu, untuk peningkatan kompetensi, akuntan publik juga diwajibkan untuk mengikuti pendidikan berkelanjutan. Secara garis besar, kompetensi profesionsal dibagi menjadi dua fase terpisah:

  1. Pencapaian kompetensi profesional Pencapaian ini diperoleh melalui pendidikan tinggi, kemudian diikuti pendidikan khusus, pelatihan, dan ujian professional dalam subjek-subjek yang relevan, dan pengalaman kerja.

  2. Pemeliharaan kompetensi professional Pemeliharaan kompetensi dilakukan melalui pendidikan yang berkelanjutan, peningkatan berkesinambungan dalam kehidupan profesionalnya. (Jurnal SNA X 26-28Juli 2007).

  Auditor seringkali bekerja dalam keterbatasan waktu. Setiap KAP perlu mengestimasi waktu yang dibutuhkan (membuat anggaran waktu) dalam kegiatan pengauditan. Anggaran waktu ini dibutuhkan untuk menentukan cost audit dan mengukur efektifitas kinerja auditor (waggoner dan Cashell 1991).

  Namun seringkali anggaran waktu tidak realistis dengan pekerjaan yang harus dilakukan, akibatnya muncul perilaku-perilaku kontraproduktif yang menyebabkan kualitas audit menjadi lebih rendah. Anggaran waktu yang sangat terbatas ini salah satunya disebabkan oleh tingkat persaingan yang semakin tinggi antar Kantor Akuntan Publik (KAP) (Irene 2007).

  Berdasarkan latar belakang dan fenomena diatas, maka penulis tertarik meneliti masalah “Analisis Kompetensi dan Tekanan Waktu Audit Terhadap

  Kualitas Audit”

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH DAN RUMUSAN MASALAH.

1.2.1 Identifikasi Masalah

  Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis mengidentifikasi masalah di dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Bagaimana kualitas audit pada Kantor Akuntan Publik (KAP)

  2. Apakah semua auditor eksternal pada Kantor Akuntan Publik (KAP) mempunyai kompetensi

  3. Bagaimana tekanan anggaran waktu auditor dalam melakukan tugas laporan hasil auditnya

1.2.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan diatas, penulis merumuskan masalah-masalah sebagai berikut :

  1. Seberapa besar hubungan Kompetensi Auditor Eksternal dan Tekanan Anggaran Waktu auditor terhadap Kualitas Audit pada Kantor Akuntan Publik

  2. Seberapa besar pengaruh Kompetensi dan tekanan waktu berpengaruh terhadap kualitas audit secara parsial

  3. Seberapa besar pengaruh Kompetensi dan tekanan waktu berpengaruh terhadap kualitas audit secara simultan

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 Maksud Penelitian

  Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh, mengolah dan menganalisis data mengenai Analisis Kompetensi dan Tekanan Waktu Auditor dan untuk memperoleh gambaran perbandingan antara teori dengan pelaksanaannya di lapangan.

1.3.2 Tujuan Penelitian

  Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui adanya hubungan antara kompetensi dan tekanan anggaran waktu auditor eksternal pada Kantor Akuntan Publik

  2. Untuk mengetahui besaran tekanan waktu auditor eksternal pada Kantor Akuntan Publik

  3. Untuk mengetahui kualitas audit

1.4 KEGUNAAN PENELITIAN

1.4.1 Kegunaan Akademis

  Penelitian atas analisis pengaruh kompetensi dan tekanan waktu auditor eksternal terhadap kualitas jasa audit di bandung diharapkan dapat berguna bagi semua pihak yang berkepentingan dan disamping itu, penelitian itu dapat memberikan manfaat :

  1 Bagi Pengembangan Ilmu Akuntansi Penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi analisis kompetensi dan tekanan waktu auditor eksternal pengaruhnya terhadap kualitas jasa audit

  2 Bagi Peneliti Lain Diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi penelitian lain yang ingin

  3 Bagi Peneliti Penelitian ini dijadikan sebagai uji kemampuan dalam menerapkan teori-teori yang diperoleh di perkuliahan terkait dengan kompetensi dan tekanan waktu auditor eksternal dan kualitas jasa audit di kantor akuntan publik.

1.4.2 Kegunaan Praktis

  Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi :

  1. Bagi Kantor Akuntan Publik Dapat memberikan informasi tentang bagaimana kompetensi dan tekanan anggaran waktu Auditor eksternal yang dapat di gunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

  2. Bagi Auditor Memberikan informasi tentang pemahaman kompetensi dan independensi auditor eksternal dan kualitas jasa audit sehingga dalam prakteknya dapat lebih meningkatkan kompetensi independensi auditor eksternal

1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian

1.5.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kantor Akuntan Publik di Wilayah Bandung.

  Dalam penelitian ini dilakukan survei terhadap akuntan publik Kantor Akuntan Publik yang dilihat berdasarkan tingkat jabatan, pendidikan dan pengalaman.

Tabel 1.1 Daftar Kantor Akuntan Publik

  6. KAP Roebiandini dan Rekan Jln. Raden Patah No.7

  Adapun waktu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh penulis berdasarkan pada tabel berikut :

  10 KAP Suhardjadinata, AK., MM Jl. Venus Raya No.14 Metro

  Jl. Soekarno Hatta. MTC blok F No. 29 Bandung 40286

  9 KAP Prof.Dra.H.TB.Hasanuddin,& Rekan

  8. KAP Mansur Suripto dan Rekan Jln. Turangga No 23 Bandung

  7. DRS. Moch. Zaenuddin Holis Pesona Taman Burung Blok c7 Bandung

  5. KAP. DR. La Midjan & Rekan Jl. IR. H. Djuanda No.207 Bandung 40135

  No. Nama Kantor Akuntan Publik Alamat

  4. KAP. DRS. Gunawan Sudrajat Komplek Taman Golf Arcamanik Endah Jl. Golf Timur III No. 1 Bandung 40293

  Jln. Ciakwao No. 40 Bandung

  3. KAP DRS. SANUSI, SUPARDI DAN SOEGIHARTO

  2. Hendrawinata gani & hidaya Kopo plaza Blok A-14 Jln. Peta

  3 Jl. Pasir Kaliki, Bandung

  1. KAP DRS. Bambang Budi Tresno Pascal Hyper Square. Blok B-61 Lantai

1.5.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2010 sampai dengan juli 2011.

Tabel 1.2 Pelaksanaan Penelitian

  Maret April Mei juni Juli No Keterangan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

  1

  2

  3 4 1 2 3 4 Survey Awal

  1 Pengajuan

  2 Judul Penelitian Penelitian

  3 Lapangan Penyususnan

  4 dan Bimbingan UP Pelaksanaan

  5 Sidang UP Penyusunan

  6 dan Bimbingan Skripsi Pelaksanaan

  7 Sidang Skripsi

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA, DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Kompetensi

2.1.1.1 Pengertian Kompetensi

  Dalam melakukan suatu penelitian kita perlu memaparkan tentang apa yang kita

teliti, hal tersebut dapat memudahkan dan menjelaskan lebih rinci tentang variabel yang

akan kita teliti.

  Kompetensi adalah keseluruhan pengetahuan, kemampuan, atau keterampilan dan sikap kerja ditambah atribut kepribadian yang dimiliki oleh seseorang yang mencakup kemampuan berfikir kreatif, keluasan pengetahuan, kecerdasan emosional, pengalaman, pelatihan, sikap positif, keterampilan kerja serta kondisi kesehatan yang baik dan bisa dibuktikan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya (Iskandar Dinata, 2006:36)

  Dalam melaksanakan audit, auditor harus bertindak sebagai seorang yang ahli dibandingkan auditing dan akuntansi. Pencapaian keahlian dimulai dengan pendidikan formal yang selanjutnya diperluas melalui pengalaman dalam praktek audit. Selain itu, auditor harus menjalani pelatihan teknis yang cukup dan mengcakup aspek teknis maupun pendidikan umum (SPAP, SA Seksi 210,PSA No. 04, 2001)

  Menurut Sukrisno Agoes (2004:35) mengatakan bahwa pendidikan formal auditor dan pengalaman profesionalnya saling melengkapi satu sama lain adalah

  1. Pendidikan formal diperoleh melalui perguruan tinggi, yaitu falkutas Ekonomi jurusan Akuntansi Negri (PTN) atau swasta (PTS).

  2. Telah mengikuti UNA Dasar dan UnA Profesi.

  3. Telah memiliki nomor register Negara Akuntan (Registered Accountant).

  4. Telah mengikuti pendidikan profesi berkelanjutan (continuing professional education) baik yang diadakan di KAP sendiri, oleh IAI atau seminar dan

  lokalisasinya.

  5. Seorang auditor harus selalu mengikuti perkembangan-perkembangan

  yang berkaitan dengan profesinya dan peraturan-peraturan pemerintah termasuk perpajakan.

  Seorang asisten junior, untuk pencapaian kompetensinya harus memperoleh pengalaman profesionalnya dengan mendapatkan supervisi memadai dan review atas pekerjaannya dari atasan yang lebih berpengalaman. Seorang auditor harus secara terus-menerus mengikuti perkembangan yang terjadi dalam tugas dan profesinya. Selain itu, auditor harus memperlajari, memahami dan menerapkan ketentuan-ketentuan baru dalam prinsip akuntansi pemerintah dab standar audit yang telah ditetapkan.

  Kompetensi t e r b a g i dalam 4 (empat) komponen yaitu pengetahuan, pengalaman, pendidikan dan pelatihan. (SPAP, PSA No.04, 2001)

2.1.1.1.1 Pengetahuan

  Pengetahuan m e n u r u t Meinhard et.al (1987) diukur dari seberapa tinggi pendidikan seorang auditor karena dengan demikian auditor akan mempunyai semakin banyak pengetahuan (pandangan) mengenai bidang yang digelutinya sehingga dapat mengetahui berbagai masalah secara lebih mendalam, selain itu auditor akan lebih mudah dalam mengikuti perkembangan yang semakin kompleks (Harhinto, 2004:35)

2.1.1.1.2 Pengalaman

  Pengalaman merupakan akumulasi gabungan dari semua yang diperoleh melalui berhadapan dan berinteraksi secara berulang-ulang dengan sesama benda alam, keadaan, gagasan, dan penginderaan (Loeher, 2002)

  Didalam SPAP Seksi 210 PSA No.04 (2001:210.1) yang tercantum dalam standar umum pertama berbunyi : “Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor”.

  Standar umum pertama ini menegaskan bahwa betapapun kemampuan seseorang dalam bidang-bidang lain, termasuk dalam bidang bisnis dan keuangan, ia tidak dapat memenuhi persaratan yang dimaksudkan dalam standar auditing ini, jika tidak memiliki pendidikan serta pengalaman memadai dalam bidang auditing.

  Sedangkan Yulius Jogi Cristiawan (2002:83) mengartikan kompetensi sebagai berikut : “Kompetensi berkaitan dengan pendidikan dan pengalaman memadai yang dimiliki auditor sektor publik dalam bidang auditing dan akuntansi”.

  Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpilkan bahwa melaksanakan audit untuk dapat sampai pada suatu pernyataan pendapat, auditor harus senantiasa bertindak sebagai seseorang yang ahli dalam bidang akuntansi dan bidang auditing. Pencapaian keahlian tersebut dimulai dengan pendidikan formalnya, yang diperluas melalui pengalaman-pengalaman selanjutnya dalam

  2.1.1.1.3 Pendidikan

  Auditor eksternal harus selalu memelihara atau mempertahankan kualitas profesionalnya serta kemampuan teknisnya melalui pendidikan secara berkesinambungan. Mereka harus berusaha memperoleh informasi tentang kemajuan dan perkembangan baru dalam standar, prosedur dan teknik-teknik audit.

  2.1.1.1.4 Pelatihan

  Satuan Kerja Audit eksternal harus terdiri dari para auditor yang memiliki latar belakang pendidikan dan keahlian yang relevandengan tugas-tugas audit.

  Setiap auditor internal harus memiliki pengetahuan dan kecakapan dalam menerapkan berbagai standar, prosedur dan teknik pemeriksaan, prinsip-prinsip dan teknik-teknik akuntansi, prinsip-prinsip manajemen, serta pemahaman terhadap dasar dari berbagai pengetahuan, seperti akuntansi, ekonomi, hukum, perdagangan, perpajakan, keuangan, metode-metode kuantitatif dan sistem informasi yang dikomputerisasi. Kesemuanya bisa diperoleh dari pelatihan- pelatihan yang dilakukan lembaga-lembaga yang menunjang pelatihan tersebut

  Dari beberapa kutipan diatas, penulis dapat menarik sebuah kesimpulan mengenai hal tersebut bahwa, kompetensi auditor dapat dibentuk diantaranya melalui pengetahuan dan pengalaman, keahlian dan pemahaman dibidangnya untuk dapat mendukung kualitas dari pekerjaan yang dilakukan serta keterkaitannya dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dalam menjalankan suatu pekerjaan auditnya untuk selalu mempertahankan sikap auditor yang kompeten dan berkualitas.

  Kompetensi seorang auditor dapat dilihat dati substansi masalah yang diangkat dalam pelaksanaan audit. Bila masalah yang diangkat adalah hal-hal yang kurang penting sementara masih banyak masalah-masalah yang lebih penting namun tidak dibahas secara rinci, maka hal ini sedikit banyak mengindikasikan derajat kompetensi seorang auditor.

  Hogan (1997) menjelaskan bahwa kantor auditor besar dapat memberikan kualitas audit yang baik dimana dapat mengurangi terjadinya underpricing pada saat perusahaan melakukan Initial Public Offering (IPO). Teoh dan Wong (1993) juga memberikan Earning Response Confficient (ERC) perusahaan yang menjadi klien pada kantor audit besar, secara statistik signifikan lebih besar dibandingkan perusahaan yang menjadi klien pada kantor akuntan audit kecil. Kantor audit yang besar menunjukkan kredibilitas auditor yang semakin baik, berarti kualitas audit yang dilakukan akan semakin baik pula (Hogan, 1997 ; Teoh dan Wong, 1993)

  2.1.1.2 karakteristik Kompetensi

  Menurut Lyle & Spencer yang dikutip Syaiful F Pribadi (2004:92) menyatakan bahwa terdapat lima karakteristik dari kompetensi adalah sebagai berikut:

  1. Motives (motif) adalah hal-hal yang berfikir oleh seseorang untuk berfikir dan memiliki keinginan secara konsisten yang akan dapat menimbulkan tindakan.

  2. Trains (karekteristtik) adalah karakteristik fisik-fisik dan respons- respons yang konsisten terhadap situasi atau informasi.

  3. Self-consept adalah sikap-sikap, values, atau self-image seseorang.

  4. Knowladge (pengetahuan) adalah informasi yang dimiliki seseorang dalam bidang-bidang content tertentu.

  5. Skill (keterampilan) adalah kemampuan untuk melakukan tugas fisik atau mental. Dari kelima karakteristik diatas, penulis dapat mengungkapkan pendapat tentang pandangan mengenai kompetensi auditor berkenaan dengan masalah kemampuan atau keahlian yang dimiliki auditor didukung dengan pengetahuan yang bersumber dari pendidikan formal dan disiplin ilmu yang relavan dan pengalaman yang sesuai dengan bidang pekerjaan

2.1.1.3 Kode Etik

  yang menjadi landasan dari etika profesional setiap profesi adalah kebutuhan profesi tersebut tentang kepercayaan masyarakat terhaadap mutu jasa yang diserahkanoleh profesi, setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya.

  Masyarakat akan sangat menghargai profesi yang menerapkan standar mutu tinggi terhdap pelaksanaan pekerjaan anggota profesi, kepercayaan masyarakat terhadap mutu audit akan menjadi lebih tinggi terhdap pelaksanaan audit yang dilakukan oleh anggota profesi tersebut.

  Menurut Alvin A. Arens (2003:110) mendefinisikan Etika itu sendiri adalah sebagai berikut : “Etika secara garis besar dapat didefinisikan sebagai serangkaian prisnsip atau nilai-nilai normal”.

  Etika profesional dikeluarkan oleh organisasi profesi untuk mengatur Etika professional bagi praktik akuntan Indonesia (IAI). Dengan demikian etika professional yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia tidak hanya mengatur anggotanya dalam berpraktik sebagai akunntan publik, namin dalam profesi akuntan lainnya.

  Anggota IAI yang berpraktik sebagai akuntan publik bertanggung jawab untuk mematuhi pasal-pasal yang tercantum dalam Kode Etik Akuntan Indonesia.

  Kewajiban untuk memenuhi kode etik ini tidak terbatas pada akuntan yang menjadi anggota IAI saja, namun mencakup pada semua orang yang bekerja dalam praktik profesi akuntan publik. Seperti karyawan, partner, dan staf

2.1.1.3.1 Kecakapan Profesional Akuntan Publik

  Didalam Kode Etik Akuntan Indonesia Bab II Kecakapan Profesional dicantumkan dalam dua pasal. Pasal 3 dalam kode etik tersebut mengatur :

  1. Kewajiban bagi semua anggota IAI untuk melaksanakan pekerjaannya berdasarkan standar profesional yangberlaku bagi pekerjaannya tersebut.

  2. Kewajiban bagi setiap anggota IAI untuk mengikat orang-orang lain yang bekerja dalam pelaksanaan tugas profesionalnya untuk mematuhi Kode Etik Akuntan Indonesia.

  3. Kewajiban bagi setiap anggota IAI untuk senantiasa meningkatkan kecakapan profesinal.

  4. Kewajiban untuk menolak setiap penugasan yang tidak sesuai dengan kecakapan profesionalnya.

  Dalam Pasal 2 Ayat 1a Kode Etik Akuntan Indonesia diatur mengenai kewajiban akuntan publik untuk melaksanakan pekerjaannya berdasarkan Standar Profesional Akuntan Publik yang berisi tiga standar yaitu : (1) Standar Auditing, (2) Standar Atestasi, (3) Standar Jasa Akuntan Publik, diwajibkan untuk melaksanakan pekerjaannya berdasarkan standar profesional yang berlaku.

  Dalam Pasal 2 Ayat 1b Kode Etik Akuntan Indonesia diatur mengenai kewajiban akuntan publik untuk menjelaskan kepada staf dan ahli lainnya yang bekerja padanya mengenai keterkaitan mereka terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia. Seperti telah disebutkan di muka, Kode Etik Akuntan Indonesia hanya mengikat akuntan yang menjadi anggota IAI, namun juga mengikat orang lain yang bekerja pada kantor akuntan publik untuk mematuhi pasal-pasal Kode Etik Akuntan Indonesia. Jika dalam menjalankan pekerjaan auditnya, auditor memerlukan tenaga ahli lain (selain ahli akuntansi dan audit), ia tetap bartanggung jawab atas ahli pekrjaan ahli tersebut.

  Dalam pasal 2 ayat 2 kode Etik Akuntan Indonesia, akuntan publik diwajibkan untuk memelihara dan meningkatkan kecakapan profesionalnya, agar jasa yang dihasilkan senantiasa relavan dengan kebutuhan pemakai jasanya. Pemeliharaan dan peningkatan kecakapan profesional auditor dilaksanakan melalui progam pendidikan profesional berkelanjutan yang diselenggarakan oleh

  IAI.

  Dalam pasal 2 ayat 3 Kode Etik Akuntan Indonesia melarang akuntan publik menerima pekerjaan jika ia atau kantornya diperkirakan tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan kompetensi profesional. Akuntan publik dapat dikatakan memiliki kompetensi profesional jika ia mampu melaksanakan pekerjaan auditnya sesuai dengan standar auditing, mampu melaksanakan pelaksanaan pekerjaan atastasinya sesuai dengan standar atestasinya mampu melaksanakan pekerjaaan jasa konsultan sesuai dengan standar konsultasi.

  Dalam Pasal 3 Kode Etik Akuntan Indonesia berisi larangan bagi anggota

  IAI yang tidak bekerja sebagai akuntan publik untuk memberikan pernyataan pendapatan atas asrsi yang dibuat oelh pihak lain, kecuali bagi akuntan yang menurut perundang-undangan yang berlaku harus memberikan pernyataan akuntan.

2.1.2 Tekanan Anggaran Waktu Audit ( Time Budget Pressure)

  Tekanan anggaran waktu adalah suatu keadaan yang menunjukkan auditor dituntut untuk melakukan efisiensi terhadap anggaran waktu yang telah disusun atau terdapat pembatasan waktu dan anggaran yang sangat ketat dan baku (Sososutikno, 2003)

  Tekanan Anggaran Waktu merupakan rentang waktu yang diberikan oleh yang memberikan tugas untuk melakukan audit terhadap auditor untuk menyelesaikan tugas auditnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Samekto dan Agus menunjukan bahwa jika waktu pelaksanaan audit yang diberikan tidak cukup, maka auditor dalam melaksanakan tugasnya secara tergesa-gesa sesuai dengan kemampuannya atau mengerjakanya hanya sebagian tugasnya. Sebaliknya bila batasan waktu terlalu longgar, maka fokus perhatian auditor akan berkurang sehingga akan cenderung gagal mendeteksi bukti audit yang signifikan. Hasil penelitian tersebut bertentangan dengan eksperimen yang dilakukan oleh Waggoner dan Cashell dalam yang menunjukkan bahwa semakin banyak waktu yang diberikan, semakin banyak transaksi yang dapat dites oleh auditor.

  Tekanan anggaran waktu merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja auditor (Ahituv dan Igbaria, 1998).

  Penelitian lain dilakukan oleh Kelley dan Margheim yang menyebutkan bahwa

ketika auditor menetapkan alokasi waktu audit yang sangat ketat, akan mengakibatkan

efek samping yang merugikan publik, yaitu memunculkan perilaku yang mengancam

kualitas audit antara lain penurunan tingkat pendeteksian dan penyelidikan aspek

kualitatif salah saji, gagal meneliti prinsip akuntansi, melakukan review dokumen secara

dangkal, menerima penjelasan klien secara lemah dan mengurangi pekerjaan pada salah

satu langkah audit di bawah tingkat yang diterima.

  De Zoort dan Lord (1997), menyebutkan ketika menghadapi tekanan anggaran waktu, auditor akan memberikan respon dengan dua cara yaitu; fungsional dan disfungsional. Tipe fungsional adalah perilaku auditor untuk bekerja lebih baik dan menggunakan waktu sebaik-baiknya, hal ini sesuai juga dengan pendapat yang dikemukakan oleh Glover (1997), yang mengatakan bahwa anggaran waktu diidentifikasikan sebagai suatu potensi untuk meningkatkan penilaian audit (audit judgement) dengan mendorong auditor lebih memilih informasi yang relevan dan menghindari penilaian yang tidak relevan. Sementara itu tipe disfungsional perilaku auditor yang dikemukakan oleh Rhode (1978), mengatakan bahwa tekanan anggaran waktu berpotensi menyebabkan perilaku penurunan kualitas audit.

  De zoort (2002) mendefenisikan tekanan anggaran waktu sebagai bentuk tekanan yang muncul dari keterbatasan sumber daya yang dapat diberikan untuk melaksanakan tugas. Sumber daya diartikan sebagai waktu yang digunakan

  Otley dan Pierce (1995), menjelaskan juga bahwa perilaku auditor dalam hal Prematur Sign-Off Audit Procedures (menghentikan prosedur audit),

  

Underreporting of Time (keterlambatan atau tidak tepat waktu), Altering Audit

Process dan Gathering Unsufficient Evidence (mengganti proses audit dan

  mengumpulkan bukti yang tidak cukup) termasuk kepada perilaku disfungsional auditor.

  Tekanan anggaran waktu adalah keadaan yang menunjukkan auditor dituntut untuk melakukan efisiensi terhadap anggaran waktu yang telah disusun atau terdapat pembatasan waktu dan anggaran waktu yang sangat ketat dan baku (Sososutikno, 2003)

  Tekanan anggaran waktu merupakan faktor yang mempengaruhi kinerja auditor (Ahituv dan Igbaria, 1998).

2.1.3 Kualitas Audit

  Pengertian Kualitas adalah suatu hasil yang telah dicapai oleh subjek/objek untuk memperoleh tingkat kepuasan, sehingga akan menimbulkan hasrat subjek/objek untuk menilai suatu kegiatan tersebut (Akmal, 2006:65)

  Kualitas audit adalah Probabilitas seorang auditor dapat menemukan dan melaporkan penyelewengan yang terjadi dalam sistem akuntansi klien (Sososutikno, 2003)

  Adapun untuk mengukur kualitas audit pada auditor di Bandung digunakan indikator kualitas audit yang dikemukakan SPAP, SA Seksi 411, PSA No.72, 2001 yaitu sebagai berikut:

  (a) Ketepatan waktu penyelesaian audit (b) Ketaatan pada standar auditing (c) Komunikasi dengan tim audit dengan manajemen klien (d) Perencanaan dan pelaksanaan (e) Independensi dalam pembuatan outcome / laporan audit

  Akuntan publik atau auditor independen dalam menjalankan tugasnya harus memegang prinsip-prinsip profesi. Ada 8 prinsip yang harus dipatuhi akuntan publik yaitu : 1. Tanggung jawab profesi.

  Setiap anggota harus menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

  2. Kepentingan publik.

  Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan public dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

  3. Integritas.

  Setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan intregitas setinggi mungkin.

  4. Objektivitas.

  Setiap anggota harus menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

  5. Kompetensi dan kehati-hatian profesional. kompetensi dan ketekunan serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional.

  6. Kerahasiaan.

  Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa professional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan 7. Perilaku Profesional.

  Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

  8. Standar Teknis.

Dokumen yang terkait

Pengaruh Tekanan Anggaran Waktu dan Etika Auditor terhadap Kualitas Audit (Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik di Wilayah Bandung)

8 38 77

Pengaruh Fee Audit dan Tekanan Anggaran Waktu Audit Terhadap Kualitas Audit (Penelitian Pada Kantor Akuntan Publik di Wilayah Kota Bandung yang terdaftar di IAPI)

1 10 37

PENGARUH TEKANAN ANGGARAN WAKTU DAN KOMPLEKSITAS AUDIT TERHADAP KUALITAS AUDIT PENGARUH TEKANAN ANGGARAN WAKTU DAN KOMPLEKSITAS AUDIT TERHADAP KUALITAS AUDIT (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik).

0 2 16

PENDAHULUAN PENGARUH TEKANAN ANGGARAN WAKTU DAN KOMPLEKSITAS AUDIT TERHADAP KUALITAS AUDIT (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik).

0 2 6

LANDASAN TEORI PENGARUH TEKANAN ANGGARAN WAKTU DAN KOMPLEKSITAS AUDIT TERHADAP KUALITAS AUDIT (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik).

0 13 17

PENGARUH KOMPETENSI, INDEPENDENSI, PENGALAMAN KERJA, AKUNTABILITAS, TEKANAN Pengaruh Kompetensi, Indepedensi, Pengalaman Kerja, Akuntabilitas, Tekanan Anggaran Waktu Dan Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit (Studi pada Kantor Akuntan Publik di Solo dan

0 6 20

Pengaruh Tekanan Anggaran Waktu dan Kompleksitas Audit Terhadap Kualitas Audit (Survei pada Kantor Akuntan Publik di Bandung.

0 8 26

Pengaruh Fee Audit, Pengalaman Audit Dan Independensi Akuntan Publik Terhadap Tekanan Anggaran Waktu Audit Dan Dampaknya Terhadap Kualitas Audit (Survei Pada Kantor Akuntan Publik Yang Terdaftar Di Bapepam-Lk).

0 0 2

Pengaruh Kompetensi, Independensi, Audit Tenure, Tekanan Anggaran Waktu dan Kompleksitas Tugas Terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik di Semarang) - Unika Repository

0 0 12

Pengaruh Kompetensi, Independensi, Audit Tenure, Tekanan Anggaran Waktu dan Kompleksitas Tugas Terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik di Semarang) - Unika Repository

0 0 18

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

110 3491 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 891 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 805 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 526 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 677 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1176 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1068 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 672 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 948 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1165 23