Strategi Kebijakan Penanggulangan Illegal, Unreported, dan Unregulated (IUU) Fishing di Laut Arafura

(1)

STRATEGI KEBIJAKAN PENANGGULANGAN

ILLEGAL,

UNREPORTED,

DAN

UNREGULATED

(IUU)

FISHING

DI LAUT ARAFURA

DESENER ONGGE

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2008


(2)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Strategi Kebijakan Penanggulangan

Illegal, Unreported dan Unregulated (IUU) Fishing di Laut Atafura adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, April 2008

Desener Ongge NIM 551050061


(3)

RINGKASAN

DESENER ONGGE. Strategi Kebijakan Penanggulangan Illegal, Unreported

dan Unregulated (IUU) Fishing di Laut Arafura. (Policy strategy in Over

coming Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing in Arafura Sea).

Dibimbing oleh JOHN HALUAN dan DARMAWAN

Salah satu permasalahan pokok dalam usaha pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Indonesia adalah maraknya praktek penangkapan ikan yang tidak bertanggung jawab atau yang dalam dunia internasional dikenal dengan sebutan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) fishing. IUU-Fishing secara langsung merupakan ancaman bagi pengelolaan sumberdaya ikan yang bertanggung jawab dan menghambat pengembangan perikanan tangkap yang berkelanjutan. Saat ini terdapat kurang lebih 335 kapal udang berukuran di atas 30 Gross Tonage (GT)yang mendapat izin dari Departemen Kelautan dan Perikanan melakukan kegiatan penangkapan di Laut Arafura. Disamping kapal-kapal yang mendapat izin tersebut terdapat juga papal-kapal-kapal ikan dan udang yang melakukan kegiatan penangkapan tanpa memiliki izin atau melakukan penangkapan ikan dan udang secara illegal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kegiatan yang diindikasikan termasuk IUU-Fishing di Laut Arafura, mengkaji faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap kegiatan IUU-Fishing, dan menyusun strategi kebijakan penanggulangannya yang dapat dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua. Analisis Strength - Weakness - Oppurtunity –Threats (SWOT) digunakan untuk merumuskan strategi kebijakan penanggulangan IUU-Fishing yang terjadi di Laut Arafura. Hasil identifikasi kegiatan pelanggaran penangkapan ikan yang ditemui terjadi di Laut Arafura yaitu : kegiatan illegal fishing antara lain: kapal-kapal penangkap ikan tidak dilengkapi dengan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIUP) dan Surat Penangkapn Ikan(SIPI), kapal-kapal ikan tidak melakukan ketentuan yang tertera dalam SIUP atau SIPI (jenis dan ukuran alat tangkap yang tidak sesuai, pelanggaran fishing ground), kapal tidak dilengkapi dengan Vessel Monitoring system (VMS.), dan Kegiatan pair trawl. Jenis kegiatan unreported fishing yang terjadi yaitu nelayan melakukan pembongkaran dan penjualan ikan (transhipment) di tengah laut. Strategi kebijakan penanggulangan IUU-Fishing

yang dapat dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua yang dirumuskan lewat analisis SWOT antara lain : meningkatkan peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) perikanan melalui pembentukan lembaga pengadilan perikanan di sekitar Laut Arafura, pengadaan kapal pengawas perikanan untuk meningkatkan pengawasan di perairan selatan Papua, membangun sarana penunjang berupa pelabuhan perikanan di sekitar Laut Arafura, penataan koordinasi antar lembaga terkait, penambahan jumlah personil PPNS Perikanan dan peningkatan jumlah alokasi dana kegiatan pengawasan


(4)

ABSTRACT

DESENER ONGGE. Policy strategy in Over coming Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing in Arafura Sea. Under the direction of JOHN HALUAN, and DARMAWAN.

One of the main problems in developing marine and fishery sector in Indonesia in the great number of irresponsible fishing practices, internationally knouwn as illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing. IUU-Fishing is a serious threat to the responsible management of fish resources and an obstacle to the development of continued cact fishery. In this, there are 335 prawn trawlers above 30 GT as licensed by Marine and Fishery Departement in operation in Arafura Sea. Others prawn also has took the same activity but does not with licensed. Thre result of identifying fishing violations in Arafura Sea ia as follows : many fishing ships were not equipped with a fishing license, many ship did not obey the articles in the license, many ships were not eqipped with veseels monitoring sistem (VMS), and there were pair trawl. Unreported fishing happened because many fishers unload and sold the is cacth at sea (transhipment). Policy strategy in over coming IUU-Fishing by the Papua Province goverment which is formulated using SWOT analysis is to increase the role of government investigating officers from Marine and Fishery Departement through the establishment of fishery yudicial institution, to provide a surveillance ship, to build a supporting fishery port, to increase fund allocation to the supervisory activity, to improve coordination to control crimes at sea, and recruit more fishery personnel.


(5)

STRATEGI KEBIJAKAN PENANGGULANGAN

ILLEGAL,

UNREPORTED,

DAN

UNREGULATED

(IUU)

FISHING

DI LAUT ARAFURA

DESENER ONGGE

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2008


(6)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2008

Hak cipta dilindungi undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini, tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB


(7)

Judul Tesis : Strategi Kebijakan Penanggulangan Illegal, Unreported, dan

Unregulated (IUU) Fishing di Laut Arafura

Nama : Desener Ongge

NIM : C551050061

Disetujui

Komisi Pembimbing

Diketahui

: Prof. Dr. Ir. John Haluan, M, Sc.

K e t u a

Dr. Ir. Darmawan, MAMA Anggota

Dekan Sekolah Pascasarjana,

Prof.Dr.Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS Ketua Program Studi Teknologi Kelautan,

Prof. Dr. Ir. John Haluan, M, Sc.


(8)

(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segalah kasih dan karunia-Nya, sehingga tesis ini berhasil diselesaikan. Tesis ini mencoba mengkaji dan mengidentifikasi kegiatan Illegal, Unreported, dan Unregulated (IUU) fishing yang terjadi di Laut Arafura dan menyusun strategi kebijakan untuk penanggulangannya yang dilaksanakan sejak bulan Februari sampai Juli 2007.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. Ir. John Haluan, M. Sc, dan Bapak Dr. Ir. Darmawan, MAMA, selaku komisi pembimbing yang memberikan bimbingan dan dorongan dalam penyelesaian tesis ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Bpk. Ir. Astiler Maharaja dan Bapak Nixon Laempasa, SH. MT, beserta staf Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua, serta Bapak Ir. Heriyanto, MS dan Ibu Clara, SH, beserta staf Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan RI, yang telah mengizinkan penulis mengumpulkan data untuk penelitian ini. Ungkapan terimah kasih juga penulis sampaikan kepada Bupati Kabupaten Biak Numfor beserta staf yang telah membantu penulis selama mengikuti pendidikan di Institut Pertanian Bogor. Seluruh keluarga atas doa dan kasih sayangnya juga penulis ucapkan terima kasih.

Semoga tesis ini dapat dipergunakan sebagai dasar kebijakan dalam rencana penanggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura maupun di Indonesia.

Bogor, April 2008


(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jayapura Papua pada tanggal 13 Desember 1970 dari ayah Paspesianus Ongge dan Ibu Maria Modouw. Penulis merupakan putra ke tujuh dari tujuh bersaudara.

Tahun 1988 penulis lulus dari Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Daerah Jayapura dan pada tahun 1990 penulis diterima pada Diploma III (DIII) Ahli Usaha Perikanan Jakarta dan lulus tahun 1993. Pada tahun 1999 penulis masuk Institut Pertanian Bogor melalui program Alih Jenjang pada Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan menamatkannya pada tahun 2001. Penulis diterima pada sekolah Pascasarjana IPB tahun 2005 dan memilih Program Studi Teknologi Kelautan (TKL) Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Selama mengikuti perkuliahan penulis menjadi pengurus Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Teknologi Kelautan IPB (FORMULA-IPB) dan sebagai anggota Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (WACANA-IPB).

Penulis bekerja sebagai staf pada Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Biak Numfor sejak tahun 1995. Selama bekerja Penulis pernah mengukuti Diklat Pengelolaan Manajemen Mutu Terpadu (PMMT) bagi Pengawas Mutu di Sorong Papua.


(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... (v)

DAFTAR GAMBAR ... (vi)

DAFTAR LAMPIRAN ... (vii)

DAFTAR ISTILAH ... (viii)

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.5 Kerangka Pemikiran ... 8

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi ... 10

2.2 Kebijakan Pengelolaan Perikanan di Laut Arafura ... 11

2.3 Kondisi Laut Arafura dan Kegiatan IUU-Fishing ... 11

2.4 Analisis SWOT ... 14

3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ... 17

3.2 Identifikasi Kegiatan IUU-Fishing di Laut Arafura ... 17

3.3 Jenis dan Metode Pengumpulan Data ... 17

3.4 Metode Analisis Data ... 19

3.4.1 Identifikasi faktor internal ... 20

3.4.2 Identifikasi faktor eksternal ... 21

3.5 Penyusunan Strategi Kebujakan Penanggulangan IUU-Fishing ... 24

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 25


(12)

4.1.1 Kegiatan pelanggaran penangkapan ikan di Laut Arafura ... 25

4.1.2 Analisis SWOT penaggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura ... 30

4.2 Pembahasan ... 47

4.2.1 Pengertian dan kegiatan kegiatan IUU-Fishing ... 47

4.2.2 Faktor internal yang mempengaruhi kegiatan penanggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura ... 52

4.2.3 strategi penanggulangan IUU-Fishing di Laut arafura ... 59

5 KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan ... 68

5.2 Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 70


(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Matriks alternatif strategi SWOT ... 24 2 Tingkat pendidikan PPNS perikanan pada Dinas Perikanan dan Kelautan

Provinsi Papua sampai Desember 2006 ... 31 3 Matrix internal factor analisis strategic ... 39 4 Perkembangan produksi perikanan Provinsi Papua tahun 2002-2006 ... 41 5 Beberapah peraturan pengelolaan sumberdaya ikan yang digunakan di

Provinsi Papua ... 43 6 Matrix external factor analisis strategic ... 46 7 Matriks alternatif strategi SWOT penanggulangan IUU-Fishing di Laut

Arafura ... 47 8 Pasal dalam Undang-Undang 31 tahun 2004 yang terkait dengan kegiatan

IUU-Fishing ... 48


(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Kerangka pikir strategi penanggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura ... 09

2 Kerangka proses penelitian ... 19

3 Bagan kerangka analisis data ... 23

4 Pemeriksaan dokumen dan kelengkapan kapal penagkapa ikan oleh PPNS perikanan Provinsi Papua ... 26

5 Lokasi beberapa kegiatan IUU-Fishing di Laut Arafura ... 29

6 Kapal patroli Hiu 005 ... 33


(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Kegiatan pelanggaran penangkapan ikan di Laut Arafura

tahun 2003 - 2006 ... 73 2 Sarana dan Prasarana Pengawasan di Perairan Papua ... 78 3 Prosedur pelaksanaan operasi pengawasan oleh PPNS perikanan di Laut

dengan menggunakan kapal pengawas ... 79

4 Form Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) ... 81


(16)

DAFTAR ISTILAH

Illegal = Usaha penangkapan ikan yang dilakukan tanpa izin atau bertentangan dengan hukum dan peraturan yang berlaku

Unreported = Secara sengaja tidak memberikan laporan hasil tangkapan ataupun sengaja memberikan laporan yang salah dengan kondisi sesungguhnya

Unregulated = Kegiatan usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh kapal-kapal penangkap ikan yang tak bernegara, menggunakan cara-cara yang belum diatur ataupun adanya daerah atau stok sumberdaya ikan yang belum diatur tatacara pemanfaatannya dan kegiatan tersebut dilakukan tidak sesuai dengan norma kelestarian sumberdaya perikanan

PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) = Pejabat pegawai negeri yang diangkat dan ditunjuk oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan suatu kegiatan tertentu.

SIUP (Surat Izin Usaha Perikanan) = Izin tertulis yang harus dimiliki perusahaan perikanan untuk melakukan usaha perikanan dengan menggunakan sarana produksi yang tercantum dalam izin tersebut

SIPI (Surat Izin Penangkapan Ikan) = Izin tertulis yang harus dimiliki setiap kapal perikanan untuk melakukan penangkapan ikan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari SIUP

VMS (Vessel Monitoring System) = Salah satu bentuk sistim pengawasan di bidang penagkapan ikan dengan menggunakan satelit dan peralatan transmitter yang ditempatkan pada kapal perikanan untuk mempermudah pengawasan dan pemantauan di monitor VMS di pusat pemantauan kapal perikanan di Jakarta atau daerah (Regional Monitoring Centre).

Pair trawl = Kegiatan operasi penangkapan udang yang dilakukan dengan menggunakan dua buah kapal penangkap udang (trawlers)

SOP (Standar Operasional Prosedur) = Pedoman dan petunjuk praktis yang dapat digunakan oleh pengawas perikanan dalam melaksanakan tugas pengawasan penangkapan dan atau pengangkutan ikan

WPP (Wilayah Pengelolaan Perikanan) = Wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia yang ditetapkan melalui pejabat yang berwenang dan merupakan daerah penangkapan ikan

OTSUS (Otonomi Khusus) = kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua untuk mengatur dan mengurus kepentingan


(17)

masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua.


(18)

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Laut Arafura merupakan salah satu bagian dari perairan laut Indonesia yang terletak di wilayah timur Indonesia yang merupakan bagian dari paparan sahul yang dibatasi oleh Provinsi Papua di sebelah utara dan Provinsi Maluku di sebelah barat, serta berhubungan langsung dengan Laut Banda dan Laut Timor. Laut Arafura adalah adalah salah satu dari Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang telah ditetapkan secara nasional melalui Keputusan Menteri Pertanian No.995/kpts/IK.210/9/99 dengan luas diperkirakan 150.000 km2 dan kedalaman 5-60 meter. Hampir 70 % dari luas wilayah perairan Arafura memiliki lapisan dasar berupa lumpur tebal dan sedikit pasir (Sadhotomo et al., 2003). Banyaknya sungai-sungai yang bermuara di Laut Arafura serta keberadaan hutan mangrove di sepanjang pantai yang masih terjaga dengan baik, menjadi penopang utama kesuburan perairan ini. Potensi sumberdaya ikan di Laut Arafura mencapai 1.439,8 ribu ton/tahun, tersebar di zona perairan teritorial sebesar 801,3 ribu ton/tahun dan ZEEI sebesar 638,5 ribu ton/tahun (Dinas Perikanan dan Kelautan Merauke, 2004).

Pemanfaatan sumberdaya ikan di Laut Arafura selama ini didominasi oleh perikanan pukat udang. Armada pukat udang industri dengan modal Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) yang mendapat izin operasi di laut Arafura sebanyak 336 kapal. Disamping itu terdapat pula kapal penangkapan ikan yang tidak memiliki izin resmi. Kegiatan operasi penangkapan udang di laut Arafura dilakukan di wilayah perairan teritorial atau wilayah laut hingga sejauh 12 mil dari batas pasang surut terendah wilayah daratan terluar dengan kedalaman 10 – 50 m (Monintja et al., 2006).

Salah satu permasalahan pokok dalam usaha pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Indonesia adalah maraknya praktek penangkapan ikan yang tidak bertanggung jawab atau yang dalam dunia internasional dikenal dengan sebutan

Illegal,Uunreported, and Unregulated (IUU) fishing. Menurut FAO (2002), kegiatan yang termasuk dalam kategori IUU-Fishing secara langsung merupakan ancaman bagi upaya pengelolaan sumberdaya ikan yang bertanggung jawab dan


(19)

menghambat kemajuan pencapaian perikanan tangkap yang berkelanjutan. Menurut Schmidt (2005), kegiatan IUU-Fishing adalah aktivitas yang dipicu oleh faktor ekonomi dimana para pelakunya mengharapkan keuntungan tertentu. Departemen Kelautan dan Perikanan menyatakan bahwa penyebab maraknya aktivitas IUU-Fishing di Indonesia adalah (1) rentang kendali dan luasnya wilayah pengawasan tidak sebanding dengan kemampuan pengawasan yang ada, (2) terbatasnya kemampuan sarana dan prasarana pengawasan di laut, (3) kemampuan sumberdaya manusia (SDM) nelayan Indonesia yang masih rendah, dan (4) penegakan hukum yang belum berjalan optimal. Diperkirakan setiap tahun Indonesia mederita kerugian sebesar 2 miliar dollar AS dari adanya kegiatan IUU-Fishing (Nikijuluw, 2005). Modus kegiatan illegal fishing di Indonesia umumya dilakukan oleh kapal-kapal ikan yang dalam pengoperasiannya belum dilengkapi dengan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) maupun Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI). Kapal-kapal ini sudah pasti tidak melaporkan hasil tangkapannya ke pemerintah termasuk membayar retribusinya. Ada juga kapal-kapal yang memiliki SIUP dan SIPI tetapi tidak mematuhi ketentuan yag tertulis didalamnya yaitu jenis alat tangkap, jalur penangkapan, ukuran Gross tonage (GT) dan mesin kapal (Darmawan, 2006). Kegiatan penangkapan ikan yang termasuk illegal fishing juga adalah penggunaan bahan/alat berbahaya atau penggunaan alat tangkap yang dilarang pengoperasiannya di Indonesia ataupun beroperasi pada wilayah yang tidak sesuai dengan izin yang dikeluarkan.

Adapun kasus kegiatan dengan tidak melaporkan hasil tangkapan/produksi atau melaporkan secara tidak benar dikenal dengan sebutan unreported.

Unreported umumnya dilakukan untuk menghindari pungutan retribusi terhadap hasil tangkapannya. Kegiatan penjualan ikan di tengah laut yang tidak didata atau dilaporkan sebelumnya kepada aparat juga termasuk kategori kegiatan unreported fishing. Ikan-ikan yang telah dijual di tengah laut dan langsung di bawah ke luar negeri juga termasuk dalam kategori unreported karena termasuk kegiatan penyelundupan.

Pengertian unregulated fishing di Indonesia belum diterjemahkan secara hukum. Seharusnya dalam pengelolaan perikanan memerlukan suatu acuan yang baku dan perangkat penunjang yang dapat membantu dengan cepat dan tepat


(20)

dalam menentukan apakah pelanggaran telah dilakukan oleh aktivitas perikanan yang dicurigai. Disisi lain para pelaku juga memerlukan referensi yang dipahami dengan makna yang sama seperti yang dipahami oleh penegak hukum. Beberapa kegiatan perikanan yang belum diatur adalah pencatatan hasil tangkapan dari

sport fishing, penggunaan pemikat ikan (attracting device, adanya ghost fishing

dan beberapa aktivitas lainnya (Darmawan, 2006).

Kinerja suatu organisasi atau perusahaan dapat ditentukan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal (Rangkuti, 2005). Menurut Tripomo dan Udan (2005), analisis faktor internal dan eksternal adalah kegiatan untuk menentukan gambaran kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap organisasi dan kemudian melakukan analisis terhadapnya sehingga dapat ditentukan apakah kondisi tersebut merupakan kekuatan-kelemahan-peluang-ancaman (Analisis

SWOT/Strengk-Weakness-Opportunity-Threat). Faktor-faktor yang

mempengaruhi kinerja suatu organisasi atau perusahaan perlu dikaji secara baik sehingga dapat menentukan arah kebijakan yang jelas dari organisasi atau perusahaan tersebut.

Pada tahun 2001, FAO berhasil merumuskan satu panduan khusus untuk membantu mengatasi kegiatan IUU-Fishing di dunia. Panduan ini dikenal dengan nama “International Plan of Action to Prevent, Deter and Eliminate IUU-Fishing “ (IPOA-IUU Fishing). Pedoman ini disusun untuk mencegah, menghambat dan menghilangkan kegiatan IUU-Fishing dengan menyiapkan langkah-langkah pengelolaan menyeluruh, terintegrasi, efektif, transparan serta memperhatikan kelestarian sumberdaya bagi negara-negara perikanan dunia. Dokumen ini untuk bagian awalnya berisikan pemahaman mengenai arti dari istilah illegal, unreported, unregulated dan selanjutnya berisikan program-program aksi yang dapat diikuti oleh negara perikanan di dunia. Definisi kegiatan IUU-Fishing

menurut panduan ini dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok yaitu : (1) Illegal fishing, mengacu pada kegiatan perikanan yang:

1) dilakukan oleh kapal-kapal penangkap ikan nasional maupun asing dalam perairan di bawah yurisdiksi suatu negara, tanpa melalui ijin dari negara tersebut atau dalam keadaan melawan hukum atau regulasi negara tersebut

2) dilakukan oleh kapal-kapal penangkap ikan berbendera negara anggota dari suatu organisasi pengelolaan yang sesuai, tetapi dalam


(21)

pengoperasiannya melawan aturan-aturan konservasi maupun pengelolaan sumberdaya yang di adopsi oleh organisasi tersebut 3) bertentangan dengan hukum nasional ataupun kewajibann

internasional, termasuk diambil oleh negara-negara yang menyatakan bekerjasama dengan suatu organisasi pengelolaan perikanan reggional terkait.

(2) Unreported fishing, mengacu pada

1) kegiatan penangkapan ikan yang tidak dilaporkan atau dalam pelaporannya tidak sesuai kepada otoritas nasional yang relevan dan bertentangan dengan hukum dan perundangan yang berlaku di negara tersebut.

2) kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan di daerah di bawah kompetensi sebuah organisasi pengelolaan perikanan regional yang tidak dilaporkan atau dilaporkan secara tidak benar dan bertentangan dengan prosedur pelaporan dari organisasi tersebut. c) kegiatan penangkapan ikan yang bertentangan dengan peraturan

dan perundang-undangan

(3) Unregulated fishing, mengacu pada kegiatan penangkapan ikan

1) di dalam daerah suatu organisasi pengelolaan perikanan regional yang dilakukan oleh kapal ikan tanpa identitas, atau kapal dengan bendera suatu negara bukan anggota dari organisasi tersebut. 2) di daerah dari berbagai stok ikan yang berkaitan dengan tiadanya

aturan konservasi dan pengelolaan yang diaplikasikan dan aktivitas penangkapan ikan dilakukan dengan cara-cara yang tidak konsisten dengan tanggung jawab negara bagi konservasi atas sumberdaya hayati kelautan di bawah tanggung jawab hukum internasional.

Selanjutnya pedoman ini juga berisikan program-program yang dapat dipergunakan oleh negara untuk memerangi kegiatan IUU-Fishing, baik sendiri maupun berkolaborasi dengan negara tetangga maupun dalam lingkup regional.

Hasil penelitian Sularso (2005) menunjukkan bahwa jumlah kapal pukat udang yang beroperasi di Laut Arafura berukuran diatas 30 GT dengan yang izin dari Departemen Kelautan dan Perikanan, seharusnya hanya 250 kapal, namun sampai saat ini terdapat 335 kapal yang berarti kelebihan 105 kapal. Disamping kapal-kapal yang memiliki izin resmi tersebut juga terdapat kapal-kapal yang tidak memiliki izin resmi (illegal fishing). Berdasarkan hasil evaluasi Badan Riset Kelautan dan Perikanan tahun 2001 juga menunjukan bahwa pemanfatan sumberdaya ikan demersal di Laut Arafura cenderung penuh (fully exploited) dan pemanfaatan udang cenderung berlebih (over-exploited). Hal ini diduga karena selain kapal-kapal yang berizin terdapat juga sejumlah kapal yang melakukan


(22)

penangkapan ikan tanpa izin atau melakukan kegiatan penangkapan ikan secara

illegal. Penangkapan ikan illegal lain yang sering dilakukan oleh nelayan di Laut Arafura adalah melakukan penangkapan ikan pada jalur penangkapan yang tidak sesuai dengan yang terterah pada izin (Sadhotomo et al., 2003).

Berdasarkan paparan kondisi perikanan di Laut Arafura dan pemahaman mengenai maraknya IUU-Fishing di Indonesia termasuk yang diindikasikan kategori IUU-Fishing, maka perlu dilakukan suatu kajian kegiatan perikanan yang berlangsung di daerah tersebut. Kajian tersebut diperlukan untuk mengetahui secara jelas bentuk-bentuk kegiatan perikanan yang diindikasikan IUU-Fishing. Selanjutnya mengkaji berbagai faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap upaya penanggulangan kegiatan tersebut serta menyusun strategi penanganannya.

1.2 Perumusan Masalah

Sumberdaya ikan di Laut Arafura saat ini menghadapi tekanan eksploitasi yang sangat tinggi. Berbagai kajian menunjukan bahwa saat ini kapal-kapal udang yang beroperasi di perairan melebihi batas normal yang dizinkan untuk beroperasi di Laut Arafura. Menurut Sularso (2005), kapal-kapal penangkap ikan yang beroperasi di Laut Arafura selain memiliki izin yang dikeluarkan oleh pemerintah, terdapat juga kapal-kapal ikan yang melakukan penangkapan tanpa memiliki izin resmi atau melakukan kegiatan penangkapan ikan secara illegal (illegal fishing). Kapal-kapal penangkap ikan yang beroperasi di Laut Arafura juga sering melakukan kegiatan penangkapan ikan pada jalur penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan yang terterah pada izin (Sadhotomo, et al., 2003). Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua sebagai salah satu lembaga yang memanfaatkan dan mengelola sumberdaya ikan di Laut Laut Arafura khususnya pada zona 12 mil laut, maka perlunya mengetahui kondisi perikanan tangkap dan kegiatan-kegiatan tindak kejahatan yang terjadi di perairan tersebut. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk dapat secara jelas megetahui adanya kegiatan penangkapan ikan yang tidak bertanggung jawab di Laut Arafura dan menyususn strategi penanggulangannya yaitu :


(23)

(1) Melakukan identifikasi kegiatan penangkapan ikan di Laut Arafura yang mengarah pada kegiatan IUU-Fishing.

(2) Melakukan kajian pada beberapa faktor baik internal maupun eksternal yang berpengaruh terhadap kegiatan IUU-Fishing di Laut Arafura.

(3) Merumuskan dan merekomendasikan strategi yang akan diambil dalam upaya penaggulangan IUU- Fishing di Laut Arafura oleh Pemerintah Daerah Propinsi Papua.

Tantangan yang dihadapi untuk mengelola sumberdaya ikan berkelanjutan di Laut Arafura menjadi sangat berat dengan adanya praktek-praktek penangkapan ikan yang tidak bertanggung jawab seperti pencurian ikan, penyelundupan hasil perikanan dan aktifitas perikanan lain yang merugikan. Sebagai daerah yang memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat tinggi, maka pemerintah baik pusat maupun daerah perlu menjaga agar sumberdaya ikan yang ada di Laut Arafura dapat dikelola secara berkelanjutan. Berbagai pelanggaran penangkapan ikan di Laut Arafura perlu dikaji untuk mengetahui adanya kegiatan yang dianggap merugikan tersebut sehingga dapat diambil langkah-langkah atau upaya penanganannya.

Analisis situasi adalah kegiatan untuk menemukan gambaran lingkungan internal-ekternal yang berpengaruh terhadap organisasi dan kemudian melakukan analisis terhadapnya sehingga dapat ditentukan apakah kondisi tersebut merupakan Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman (Tripomo dan Udan, 2005). Lingkungan diartikan sebagai seluruh elemen diluar batas-batas organisasi yang mempunyai potensi untuk mempengaruhi bagian atau organisasi secara keseluruhan. Gambaran kondisi internal-eksternal akan diketahui setelah dilakukan identifikasi terhadap situasi internal dan eksternal. Bagi sebagian organisasi, mengetahui kondisi atau situasi lingkungan aktual saat ini sudah cukup sebagai dasar pengembangan strategi (Tripomo dan Udan, 2005). Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua sebagai salah satu institusi atau organisasi teknis pemerintah melaksanakan kebijakan pembangunan perikanan salah satunya di bidang pengelolaan dan pengawasan sumberdaya perikanan perlu memiliki arahan strategi yang jelas dalam mengelola sumberdaya perikanan termasuk mengatasi masalah tindak kejahatan di bidang perikanan yang terjadi di


(24)

wilayah kewenangannya. Hal ini dianggap penting karena banyaknya kasus-kasus pelanggaran dibidang perikanan yang terjadi pada saat ini.

Sebuah strategi sangat dibutuhkan dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Sampai saat ini konsep mengenai strategi terus berkembang. Menurut Barry (1986) yang diacu dalam Tripomo dan Udan (2005) bahwa strategi adalah rencana tentang apa yang ingin dicapai atau hendak menjadi apa suatu organisasi di masa depan dan bagaimana cara mencapai keadaan yang diinginkan tersebut. Konsep strategi dapat didefinisikan berdasarkan dua perspektif yang berbeda yaitu 1) Apa yang ingin dilakukan suatu organisasi atau lembaga, dan 2) Apa yang akhirnya dilakukan suatu organisasi. Makna yang terkandung dalam strategi ini adalah bahwa seorang pengambil keputusan mempunyai peran yang sangat penting dalam pengambilan keputusan.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

(1) Mengidentifikasi kegiatan perikanan tangkap di Laut Arafura yang diindikasikan termasuk kategori IUU-Fishing ;

(2) Mengkaji faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap upaya penangggulangan Illegal, Unreported, Unregulated (IUU) fishing yang dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua di Laut Arafura;

(3) Merumuskan strategi kebijakan penanggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura yang dapat dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil akhir dari penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan dan rencana kerja Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua terkait dengan penanganan dan penanggulangan kegiatan IUU-Fishing di Laut Arafura. Strategi kebijakan penanggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura yang disusun diharapkan :


(25)

(1)Memberikan arahan yang jelas bagi upaya yang dilakukan untuk menanggulangi kegiatan IUU-Fishing di Laut Arafura

(2)Mewujudkan pengelolaan perikanan tangkap yang lebih bertanggung jawab oleh semua pihak yang mengelola dan memanfaatkan sumberdaya perikanan di Laut Arafura

1.5 Kerangka Pemikiran

Sumberdaya ikan di Indonesia termasuk Laut Arafura dikategorikan sebagai sumberdaya ikan yang bersifat terbuka (open access), yaitu suatu kondisi dimana setiap individu dapat dengan bebas dan mudah memgeksploitasi sumberdaya yang ada tanpa keharusan untuk mengikuti dan mematuhi peraturan tertentu. Pemanfaatan sumberdaya ikan secara terbuka memberikan peluang bagi nelayan lokal maupun asing untuk mengeksploitasi sumberdaya perikanan tanpa memperhatikan keberlanjutan dan dampak yang akan dihasilkannya. Pengaturan pemanfaatan sumberdaya ikan dan pengelolaannya telah diatur baik oleh peraturan internasinal, nasional maupun maupun peraturan daerah di Provinsi dan Kabupaten. Pengaturan pemanfaaatan sumberdaya ikan yang dibuat tidak sepenuhnya dapat dilaksanakan secara baik oleh pembuat aturan maupun pelaku usaha yang diharapkan melaksanakan aturan tersebut. Arah kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan yang sesuai di Laut Arafura dan penanggulangan kegiatan penangkapan ikan yang tidak bertanggung jawab perlu dilakukan secara baik oleh institusi yang berwenang mengelola dan mengawasi sumberdaya ikan baik di pusat maupun daerah agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan perikanan tangkap di Indonesia secara khusus di Provinsi Papua.


(26)

Gambar 1 Kerangka pikir strategi penanggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura Potensi SDI di Laut Arafura

Pemanfaatan potensi

Nelayan lokal Nelayan asing

Pengaturan pemanfaatan

Peraturan Daerah Peraturan nasional

dan internasional

IUU-Fishing

Strategi Kebijakan Penanggulangan

IUU-Fishing

Identifikasi kegiatan

IUU-Fishing

Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi

Papua

Pelaksanan strategi penanggulangan


(27)

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi

Strategi adalah istilah yang sering kita dengar untuk berbagai konteks pembicaraan, yang sering diartikan sebagai cara untuk mencapai keinginan tertentu atau menyelesaikan suatu masalah (Tripomo dan Udan, 2005). Makna yang terkandung dalam strategi adalah seorang pengambil keputusan mempunyai peran yang aktif, sadar dan rasional dalam merumuskan strategi. Strategi adalah pilihan tentang apa yang ingin dicapai oleh organisasi di masa depan dan bagaimana mencapai keadaan yang diinginkan.

Menurut Chanddler (1962) yang diacu dalam Rangkuti (2005) bahwa konsep strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut serta prioritas alokasi sumberdaya. Menurut Andrews (1980), dan Chaffe (1985) yang diacu dalam Rangkuti (2005) strategi adalah kekuatan motivasi untuk stakeholders

seperti manajer, karyawan, konsumen, komunitas, pemerintah dan sebagainya yang baik secara langsung maupun tidak langsung menerima keuntungan atau biaya yang ditimbulkan oleh semua tindakan yang dilakukan oleh perusahaan.

Suatu organisasi setiap waktu berusaha mencari kesesuaian antara kekuatan-kekuatan internal organisasi atau perusahaan dan kekuatan-kekuatan eksternal (peluang dan ancaman). Perusahaan atau organisasi dapat mengembangkan strategi untuk mengatasi ancaman eksternal dan merebut peluang yang ada. Proses analisis, perumusan dan evaluasi strategi-strategi itu disebut perencanaan strategis. Tujuan perencanaan strategis agar perusahaan dapat melihat secara obyektif kondisi-kondisi internal dan eksternal, sehingga perusahaan dapat mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal. Suatu perusahaan atau lembaga dapat mengembangkan strategi untuk mengatasi ancaman eksternal. Rumusan strategi yang baik akan memberikan gambaran pola tindakan utama dan pola keputusan yang dipilih untuk mewujudkan tujuan organisasi (Tripomo dan Udan, 2005).


(28)

2.2 Kebijakan Pengelolaan Perikanan di Laut Arafura

Usaha eksploitasi sumberdaya ikan di Laut Arafura dimulai dari kegiatan eksplorasi bersama antara Indonesia dan Jepang. Pada perkembangannya wilayah perairan Arafura menjadi salah satu wilayah potensial perikanan di Indonesia dengan memanfaatkan udang sebagai salah satu komoditi perikanan bernilai ekonomis tinggi. Kondisi ini membuat perairan Arafura perlu dikendalikan pengelolaannya dan dimanfaatkan dengan baik demi kepentingan masyarakat dan bangsa. Prinsip pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab harus dapat diwujudkan untuk mencegah terjadinya penangkapan berlebih (over fishing) dengan mengendalikan kegiatan usaha yang ada untuk menjamin pembangunan perikanan berkelanjutan.

Sejak tahun 1975 pengelolaan sumberdaya perikanan di Laut Arafura telah dimulai dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 02/kpts/Um/I/1975 tentang pembinaan kelestarian kekayaan yang terdapat di Perikanan Laut Irian Jaya (Papua). Keputusan tersebut antara lain mengatur daerah perairan lajur pantai di hadapan daratan Papua, yang dibatasi oleh isobath 10 meter dinyatakan tertutup bagi semua penangkapan dengan jaring trawl dan juga penggunaan unit penangkapan pair trawl dan ukuran mata jaring <3 cm dilarang. Adanya kebijakan pengelolaan yang dikeluarkan tentunya untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan di Laut Arafura. Selanjutnya pada tahun 2004 Ditjen Perikanan tangkap melakukan evaluasi terhadap usaha perikanan ikan demersal di Laut Arafura. Evaluasi yang dilakukan meliputi beberapa aspek yaitu aspek sumberdaya, teknologi penangkapan, pemasaran dan pengolahan hasil. Aspek-aspek ini perlu dilakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana pengelolaan sumberdaya ikan yang ada di perairan tersebut. Sampai saat ini Laut Arafura masih menjadi pilihan pengusaha perikanan untuk menjadi daerah tujuan operasi kegiatan penangkapan ikan.

2.3 Kondisi Laut Arafura dan Kegiatan IUU-Fishing

Sumberdaya udang di Laut Arafura pada tahun 2001 berdasarkan beberapa kajian telah mengalami overfishing yang ditunjukkan dengan adanya indikasi makin lamanya rata-rata hari operasi melaut, menurunnya jumlah hasil tangkapan,


(29)

dan makin kecilnya ukuran udang yang ditangkap. Terjadinya overfishing diduga disebabkan oleh beberapa hal, antara lain (1) kurang efektifnya manajemen pengelolaan yang tertuang dalam peraturan dan kebijakan pemerintah yang sepenuhnya berdasarkan pada input control; (2) lemahnya pengawasan dan penegakkan hukum di laut terhadap kegiatan penangkapan, sehingga peraturan dan regulasi kurang ditaati pelaku; (3) kurangnya kesadaran para pelaku pada prinsip-prinsip pengelolaan dan pemanfaatan yang lestari dan bertanggung jawab (Monintja, 2006).

Saat ini sumberdaya ikan di Laut Arafura dimanfaatkan oleh nelayan lokal maupun perusahaan perikanan lokal dan nasional. Bagi pengusaha perikanan lokal maupun nasional, Laut Arafura merupakan salah satu daerah yang cukup potensial untuk berinvestasi di bidang perikanan. Banyaknya pengusaha perikanan yang memanfaatkan sumberdaya ikan di Laut Arafura, sehingga diduga selain adanya kapal-kapal ikan yang berizin, terdapat juga sejumlah kapal yang tidak memiliki izin dan melakukan kegiatan penangkapan ikan secara illegal. Menurut Sadhotomo et al., (2003) kondisi kegiatan perikanan di Laut Arafura menunjukkan adanya kegiatan penangkapan ikan skala industri mengalami peningkatan secara tajam, peningkatan ukuran kapal dan terjadinya perubahan pola penangkapan, terjadinya interaksi dan kompetisi dalam perikanan antara kegiatan penangkapan ikan dan penangkapan udang dalam mengeksploitasi stok sumberdaya ikan, adanya kegiatan penangkapan yang sering dilakukan pada jalur penangkapan yang tidak sesuai izin, dan perikanan skala kecil belum berperan banyak dari sisi aktivitas maupun produksi.

IUU-Fishing adalah kegiatan pengelolaan perikanan yang tidak bertanggung jawab, hal ini disebabkan karena orang atau badan hukum asing yang memanfaatkan sumberdaya perikanan di Indonesia tidak mengindahkan undang-undang maupun peraturan pengelolaan perikanan yang ada di Indonesia. Kegiatan

IUU-Fishing sangat mengancam manajemen perikanan yang bertanggung jawab. Kegiatan IUU-Fishing sesuai FAO (2001) dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok yaitu :


(30)

1) dilakukan oleh kapal-kapal nasional dalam perairan di bawah yurisdiksi suatu negara, tanpa melalui ijin dari negara tersebut atau dalam keadaan melawan hokum atau regulasi negara tersebut.

2) dilakukan oleh kapal-kapal berbendera negara anggota dari suatu organisasi pengelolaan yang sesuai, tetapi dalam pengoperasiannya melawan aturan-aturan konservasi maupun pengelolaan sumberdaya yang di adopsi oleh organisasi tersebut.

(2) Unreported fishing, mengacu pada :

1) kegiatan penangkapan ikan yang tidak dilaporkan atau dalam pelaporannya tidak sesuai kepada otoritas nasional yang relevan

2) kegiatan penangkapan ikan yang bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan

3) kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan di daerah di bawah kompetensi sebuah organisasi pengelolaan perikanan regional yang tidak dilaporkan atau dilaporkan secara tidak benar dan bertentangan dengan prosedur pelaporan dari organisasi tersebut.

(3) Unregulated fishing, mengacu pada kegiatan penangkapan ikan

1) di dalam daerah suatu organisasi pengelolaan perikanan regional yang dilakukan oleh kapal ikan tanpa identitas, atau kapal dengan bendera suatu Negara bukan anggota dari organisasi tersebut

2) di daerah dari berbagai stok ikan yang berkaitan dengan tiadanya aturan konservasi dan pengelolaan yang diaplikasikan dan aktivitas penangkapan ikan dilakukan dengan cara-cara yang tidak konsisten dengan tanggung jawab negara bagi konservasi atas sumberdaya hayati kelautan di bawah tanggung jawab hukum internasional.

Secara umum dapat dikatakan bahwa definisi dari kegiatan melanggar hukum atau illegal adalah usaha penangkapan ikan yang dilakukan tanpa izin, atau bertentangan dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Sedangkan tindakan yang termasuk kategori tidak dilaporkan atau unreported yaitu pelaku secara sengaja tidak memberikan laporan hasil kegiatan penangkapan ikan atau memberikan laporan yang salah dengan kondisi yang sesungguhnya. Kegiatan yang termasuk aspek tak diatur (unregulated) adalah kegiatan usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh kapal-kapal ikan yang tidak memiliki identitas, menggunakan ketentuan yang belum diatur ataupun adanya daerah atau stok


(31)

sumberdaya ikan yang belum diatur tata cara pemanfaatannya dimana kegiatan tersebut dilakukan tidak sesuai dengan norma kelestarian sumberdaya perikanan.

2.4. Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, and Treats)

Sebelum melaksanakan proses pengambilan keputusan yang layak untuk suatu kasus, terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya. Dalam kondisi yang ada saat ini yang populer digunakan adalah Analisis SWOT. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi (Rangkuti, 2005). Analisis SWOT mempunyai asumsi dasar bahwa suatu strategi yang efektif adalah dengan memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities), serta meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Menurut Tripomo dan Udan (2005) bahwa kegiatan untuk menetapkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman didasarkan identifikasi situasi.

Analisis dengan matriks SWOT bertujuan untuk mengidentifikasikan alternatif-alternatif strategi yang secara intuitif dirasakan sesuai untuk dilaksanakan. Semua alternatif strategi dikaitkan dengan sasaran yang telah disepakati dan tertulis di dalam matriks SWOT. Menurut Tripomo dan Udan (2005), secara umum ada empat jenis kelompok strategi yang dihasilkan dari analisis terhadap matriks SWOT, yaitu :

(1) Strategi memanfaatkan kekuatan

Pendekatan SO. Langkah pertama tetapkan terlebih dahulu kekuatan yang diduga paling mungking digunakan. Perhatian utama pendekatan ini adalah bagaimana merumuskan strategi dengan menggunakan kekuatan yang saat ini dimiliki. Peluang yang akan dimanfaatkan, dipilih dari yang paling sesuai dengan kekuatan yang akan digunakan

Pendekatan ST. Langkah pertama yang dilakukan menetapkan terlebih dahulu kekuatan yang diduga paling mungkin digunakan. Pendekatan ini berusaha merumuskan strategi dengan acuan awal kekuatan yang dimiliki organisasi. Berdasarkan kekuatan ini kemudian dicari bagaimana cara pemanfaatannya untuk menghindari atau mereduksi pengaruh ancaman eksternal.


(32)

(2) Strategi menangani ancaman

Pendekatan WO. Langkah pertama menetapkan kelemahan utama yang perlu ditangani. Pendekatan ini bertujuan untuk merumuskan strategi dengan fokus untuk perbaikan-perbaikan internal. Pendekatan ini berusaha mempertanyakan peluang-peluang yang kemungkinan yang bisa lepas karena kelemahan tersebut.

Pendekatan WT. Langkah pertama menetapkan terlebih dahulu kelemahan utama yang perlu ditangani. Pendekatan ini berusaha untuk merumuskan strategi yang berawal dari perasaan bahwa ada kelemahan yang dirasakan oleh organisasi. Kemudian berpikir seandainya kelemahan ini bisa diatasi, ancaman apa yang bisah dihilangkan.

(3) strategi menghadapi peluang

Pendekatan OS. Langkah pertama menetapkan terlebih dahulu peluang yang ingin di raih. Perhatian utama pendekatan ini adalah merumuskan strategi dengan menggunakan peluang sebagai acuan awal. Kemudian dicari kekuatan yang paling sesuai untuk digunakan menangkap peluang tersebut.

Pendekatan OW. Langkah pertama menetapkan peluang yang benar-benar ingin diraih. Pendekatan ini berusaha merancang strategi dengan acuan awal suatu peluang yang ingin dimanfatkan. Berdasarkan peluang-peluang tersebut kemudian dicari kelemahan-kelemahan yang perlu diperbaiki agar perusahaan mampu merebut peluang. Strategi ini dirasa perlu karena seringkali suatu organisasi melihat peluang yang sedemikian menarik dilingkungan eksternal, tetapi organisasi memiliki kendala serius yaitu pada kelemahan internal yang menghambat kemampuan bersaing untuk mengeksploitasi peluang tersebut. (4) Strategi menghadapi ancaman

Pendekatan TS. Langkah pertama menetapkan ancaman yang ingin ditangani. Pendekatan ini berusaha merumuskan strategi dengan acuan awal berupa ancaman yang dirasakan, kemudian mencari kekuatan yang bisa diandalkan untuk mengatasi ancaman tersebut.

Pendekatan TW. Langkah pertama menentukan ancaman yang ingin ditangani. Pendekatan ini berusaha merumuskan strategi yang berangkat dari usaha untuk mengatasi ancaman. Selanjutnya berpikir kelemahan apa yang


(33)

dapat dihilangkan dan bagaimana mengatasi kelemahan tersebut agar ancaman bisa diatasi.


(34)

3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Februari s/d Juli 2007 di Kabupaten Jayapura dan Merauke Provinsi Papua.

3.2 Identifikasi kegiatan IUU-Fishing di Laut Arafura

Identifikasi kegiatan perikanan tangkap dan kegiatan yang mengarah pada IUU Fishing di Laut Arafura dilakukan dengan melakukan pengumpulan data dan informasi yang diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua dan beberapah instansi terkait seperti Satuan Polisi Perairan (SATPOLAIR) Papua, Lamtamal X Papua, Ditjen Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan. Jenis pelanggaran yang diperoleh selanjutnya dikategorikan menurut kategori illegal, unreported, maupun unregulated fishing.

3.3 Jenis dan Metode Pengumpulan Data

Data dan informasi yang dibutuhkan meliputi berbagai informasi yang diperoleh tentang kegiatan IUU-Fishing di Laut Arafura dan pelaksanaan program perikanan dari Instansi Pemerintah Propinsi Papua. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder, dimana data primer merupakan merupakan hasil wawancara dan diskusi dengan responden. Responden yang dipilih dalam penelitian ini sebanyak 5 responden yaitu : Plh. Kepala Sub Dinas Pengawasan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua, Kepala seksi pengawasan budidaya dan penangkapan ikan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua, Kepala seksi humas Satuan Polisi Perairan Papua, Ketua tim Badan koordinasi keamanan laut dan Kepala Seksi penanganan pelanggaran Ditjen pengawasan dan pengendalian sumberdaya kelautan dan perikanan DKP. Pemilihan responden ini didasarkan pada kompetensi dan kewenangannya dalam mengelola dan menjaga sumberdaya laut dan perikanan di Perairan Papua termasuk Laut Arafura. Data dan informasi sekunder merupakan referensi atau laporan-laporan resmi dan pelaksanaan program dari Dinas Perikanan dan


(35)

Kelautan Propinsi Papua, Lantamal X Papua, Satuan Polisi Perairan (SATPOLAIR) Papua dan Direktorat Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Lautan dan Perikanan-DKP. Data sekunder yang dikumpulkan yaitu data tahun 2002 - 2006, yang berhubungan langsung dengan faktor-faktor yang diteliti yaitu :

(1) Data jenis-jenis pelanggaran yang terjadi di Laut Arafura. Data dan informasi diperoleh dengan dengan melakukan wawancara dan laporan kejadian pelanggaran yang terjadi di Laut Arafura. Data dan informasi yang dikumpulkan selanjutnya diklasifikasikan kedalam illegal, unreported atau

unregulated fishing.

(2) Data jumlah armada dan tenaga pengawas perikanan Pemerintah Provinsi Papua untuk kegiatan pengawasan di Perairan Papua termasuk Laut Arafura. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara dengan Kepala Sub Dinas Pengawasan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua dan laporan kegiatan pengawasan yang dikeluarkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua.

(3) Data fasilitas yang digunakan dalam kegiatan pengawasan kegiatan pengawasan di Laut Arafura.

Data sekunder yang dikumpulkan yaitu :

(1) Data jumlah kapal ikan yang mendapat izin dari pemerintah propinsi Papua. Data dan informasi diperoleh dengan cara mengumpulkan laporan kegiatan

perizinan yang dikeluarkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua.

(2) Data produksi perikanan dari perairan Laut Arafura

Data dan informasi diperoleh dengan cara mengumpulkan dan mencatat laporan kegiatan produksi perikanan di Propinsi Papua.

(3) Data kemampuan teknis teknis aramada dan jumlah armada perikanan yang beroperasi di Laut Arafura.


(36)

Gambar 2 Kerangka proses penelitian

3.4 Metode Analisis Data

Seluruh data dan informasi yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Nazir (1988) mengatakan bahwa metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran maupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Identifikasi kegiatan pelanggaran penangkapan ikan yang terjadi di Laut Arafura dikaji menurut dokumen hukum nasional dan identifikasi alternatif strategi penanggulangan IUU-Fishing dengan menggunakan matriks analisis SWOT. Menurut Tripomo dan Udan (2005), matriks analisis SWOT bertujuan untuk mengidentifikasi alternatif-alternatif strategi yang secara intuitif dirasakan sesuai untuk dilaksanakan. Selanjutnya menurut Rangkuti (2005), analisis SWOT adalah analisis berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi

Pengumpulan data

Wawancara dan diskusi

Laporan resmi

Kondisi Perikanan yang diindikasikan

IUU-Fishing di L. Arafura

Identifikasi Pelanggaran PI

Definisisi IUU-Fishing (IPOA IUU-Fishing)

Hukum dan Peraturan nasional (UU 31/2004)

Kegiatan IUU-Fishing

Alternatif Strategi Penanggulangan

IUU-Fishhing

Analisis SWOT

(

Strength-Weaknes-Opportunity-Threats)

Strategi kebijakan penanggulangan


(37)

dengan asumsi dasar bahwa suatu strategi yang efektif adalah dengan memaksimalkan kekuatan dan peluang serta meminimalkan kelemahan dan ancaman. Hasil analisis yang diperoleh selanjutnya digunakan sebagai program untuk menanggulangi kegiatan IUU-Fishing di Laut Arafura oleh pemerintah Provinsi Papua. Analisis SWOT adalah penilaian/assessment terhadap hasil identifikasi situasi untuk menentukan apakah situasi kondisi dikategorikan sebagai kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

3.4.1 Identifikasi faktor internal

Faktor internal diperoleh dari identifikasi berbagai faktor yang terdapat dalam organisasi atau perusahaan. Organisasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua. Faktor internal yang digunakan seperti yang dikemukakan Rangkuti (2005) yaitu :

(1) Kemampuan sumberdaya manusia (SDM)

Kemampuan sumberdaya manusia (SDM) yaitu sumberdaya manusia yang berhubungan dengan penanganan kasus-kasus pelanggaran perikanan yang terjadi di wilayah pengelolaan perikanan Provinsi Papua. Data dan informasi yang dikumpulkan yaitu :

1) Jumlah Pengawas perikanan dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang berada di Dinas perikanan dan Kelautan Provinsi Papua dan pelatihan atau kursus yang pernah diikuti.

2) Tingkat pendidikan PPNS perikanan yang terdapat pada Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua

3) Kinerja PPNS dalam pelaksanaan tugas-tugas pengawasan

(2) Sarana dan prasarana

Hal ini dengan secara pasif mendata kegiatan operasional kegiatan penanggulangan dan kemampuan teknologi berupa sarana dan prasarana yang digunakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua. Data dan informasi yang dikumpulkan berdasarkan hasil wawancara dan pengumpulan data sekunder yaitu :

1) Jumlah sarana berupa armada pengawasan yang dimiliki oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua


(38)

1) Kapasitas dan kemampuan armada pengawas

3) Sarana penunjang kegiatan pengawasan yang dimiliki oleh PPNS perikanan

(3) Sistim koordinasi

Data dan informasi diperoleh dengan melihat sistim koordinasi yang dilakukan selama ini oleh instansi terkait yaitu antara Dinas Perikanan dan Kelautan, TNI AL, Satuan Polisi Perairan (SATPOLAIR) Papua maupun koordinasi dengan pemerintah pusat dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan. Data dan infomasi yang dikumpulkan yaitu antara lain :

1) Bentuk koordinasi yang dilakukan selama ini baik internal yaitu dalam Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua maupun koordinasi dengan instansi terkait

2) Intensitas atau banyaknya koordinasi/pertemuan yang dilakukan dalan setahun

(4) Aspek Keuangan

Data dan informasi dikumpulkan dengan melihat besarnya biaya operasional dan biaya-biaya lain yang digunakan dalam upaya penanggulangan pelanggaran kegiatan penangkapan ikan di Perairan Papua termasuk Laut Arafura.

3.4.2 Identifikasi faktor eksternal

Faktor eksternal diperoleh melalui identifikasi berbagai faktor dari luar sistem atau organisasi. Menurut Tripomo dan Udan (2005), struktur lingkungan dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

(1) Lingkungan Umum (General Environment), adalah komponen-komponen di luar organisasi yang tidak memiliki hubungan langsung dengan manajeman praktis, misalnya ekonomi, sosial politik, hukum dan teknologi

(2) Lingkungan operasi (Operating Environment), adalah komponen-komponen di luar organisasi yang berpengaruh langsung terhadap manajemen praktis (persaigan, suplier, konsumen dll.)


(39)

(3) Lingkungan internal (Internal Environment), adalah komponen dari dalam organisasi yang secara langsung mempengaruhi kinerja organisasi (aspek organisasi, aspek produksi, aspek SDM, aspek keuangan dll.)

Faktor eksternal dalam penelitian ini menggunakan faktor lingkungan umum (General Environment) yaitu ekonomi, hukum dan pemerintahan. Penentuan faktor eksternal ini karena dianggap berpengaruh terhadap organisasi dalam hal ini Dinas Perikanan dan kelautan Provinsi Papua dalam upaya pengelolaan dan kegiatan penanganan IUU-Fishing di Laut Arafura.

1) Faktor ekonomi

Penerimaan Asli Daerah (PAD)

Pengumpulan data dilakukan dengan melihat besar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Propinsi Papua melalui Dinas Perikanan dan Kelautan dari pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan Papua termasuk Laut Arafura yang dilakukan oleh kapal-kapal ikan yang mendapat izin dari Pemerintah Provinsi Papua.

2) Faktor hukum dan pemerintahan

Faktor hukum dan pemerintahan dikaji dengan melihat ketentuan perundang-undangan yang terkait dengan kegiatan penanggulangan IUU-Fishing.

3.4.3 Analisis kekuatan – kelemahan ( SW )

Menurut Tripomo dan Udan (2005), menetapkan SW dapat dibantu dengan menggunakan acuan arah organisasi yaitu tujuan atau kondisi masa depan yang diinginkan oleh organisasi. Tujuan dan sasaran pembangunan perikanan di Provinsi Papua salah satunya adalah menurunkan tingkat pelanggaran pemanfaatan dan perusakan sumberdaya ikan di wilayah yang menjadi hak dan kewenangan Pemerintah Provinsi Papua yang di dalamnya termasuk Laut Arafura. (Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua, 2006).

Menetapkan suatu kondisi apakah sebagai kekuatan dan kelemahan dapat dijelaskan sebagai berikut : Kekuatan (strength) adalah situasi internal organisasi yang berupa kompetensi/kapabilitas/sumberdaya yang dimiliki organisasi yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk menangani peluang dan ancaman;


(40)

kompetensi/kapabilitas/sumberdaya organisasi sulit digunakan untuk menangani kesempatan dan ancaman.

3.4.4 Analisis peluang - ancaman (OT)

Analisis ancaman – peluang adalah analisis pengaruh lingkungan saat ini dan kecenderungan masa depan terhadap kondisi organisasi. Menurut Tripomo dan Udan (2005), salah satu alat bantu untuk menetapkan OT adalah dengan menggunakan acuan arah organisasi yaitu dengan tujuan atau kondisi masa depan yang diinginkan. Analisis ini dilakukan terhadap isu strategis yang menghambat pencapaian sasaran organisasi disebut sebagai ancaman (O) sedangkan yang mendukung pencapaian sasaran disebut sebagai peluang (T). Ancaman adalah suatu keadaan eksternal yang berpotensi menimbulkan kesulitan. Organisasi akan merasa dirugikan/dipersulit/terancam bila diperhadapkan pada kondisi eksternal tersebut. Sedangkan Peluang (O) adalah situasi eksternal organisasi yang berpotensi menguntungkan. Organisasi akan merasa diuntungkan bila diperhadapkan pada kondisi tersebut.

Gambar 3 Bagan kerangka analisis data Analis faktor

internal

Analis faktor eksternal

Sumberdaya manusia Sarana dan prasarana Penelitian dan pengembangan

Sistim koordinasi Aspek keuangan

Faktor ekonomi

Faktor hukum dan pemerintahan

Kekuatan dan kelemahan Peluang dan ancaman

Strategi kebijakan penanggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura


(41)

3.5 Penyusunan strategi kebijakan penanggulangan IUU-Fishing

Alternatif strategi yang diturunkan dari analisis SWOT dapat divisualisasikan seperti Tabel 1.

Tabel 1 Matriks alternatif strategi SWOT INTERNAL

Strategi yang fokus pada kondisi internal

EKSTERNAL

Strategi yang fokus pada kondisi eksternal

Kekuatan (S) ... ... ... Kelemahan (W) ... ... ... Peluang (O) ... ... ...

Ancaman (T) ... ... ...

Menetapkan kekuatan yang akan digunakan

Menetapkan kelemahan yang sangat penting ditangani

Menetapkan peluang yang akan di raih

Menetapkan ancaman mana yang mendapat prioritas untuk ditangani. Alternatif strategi dengan fokus menggunakan kekuatan (S) :

S - O S – T

Alternatif strategi dengan fokus mengatasi kelemahan (W) :

W - O W – T

Alternatif strategi dengan fokus memanfaatkan kesempatan (O) : O - S

O - W

Alternatif strategi dengan fokus menangani ancaman (T) :

T - S T - W

Strategi SO. Peluang mana yang akan diraih dan bagaimana cara mendapatkannya tergantung pada kekuatan yang akan digunakan

Strategi ST. Satu atau beberapa kekuatan dipilih untuk mengeliminasi ancaman

Strategi WO. Memperbaiki suatu kelemahan untuk memperoleh O.

Strategi WT. Memperbaiki kelemahan tertentu agar terhindar dari ancaman tertentu

Strategi OS. Ada peluang menarik. Cari kekuatan untuk mendapatkan peluang. Strategi OW. Ada peluang menarik, cari kelemahan yang harus ditutupi untuk mendapatkan peluang tersebut.

Strategi TS. Ada ancaman, cari kekuatan untuk mengeliminasi ancaman

Strategi TW. Ada ancaman, cari kelemahan yang dapat ditutupi untuk mengeliminasi ancaman


(42)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Kegiatan pelanggaran penangkapan ikan di Laut Arafura

Berdasarkan hasil wawancara dan pengumpulan data kegiatan pelanggaran kegiatan perikanan tangkap yang terjadi di Laut Arafura dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua,Satuan Keamanan Laut TNI AL X Papua, Satuan Polisi Perairan (SATPOLAIR) POLDA Papua, dan Dirjen Pengawasan dan Pengendalian sumberdaya kelautan dan perikanan DKP, maka ditemukan beberapa pelanggaran penangkapan ikan yang terjadi di Laut Arafura selama tahun 2003 - 2006 yaitu :

(1) Kategori Illegal Fishing

1) Kapal-kapal penangkap ikan tidak dilengkapi dengan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIUP)dan Surat Izin Penangkapn Ikan (SIPI)

Berdasarkan Undang-undang No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan bahwa setiap orang yang melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran di wilayah pengelolaan Republik Indonesia wajib memiliki Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP), sedangkan bagi yang melakukan kegiatan penangkapan ikan wajib memiliki Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI). Kapal-kapal penangkap ikan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan tanpa memiliki dokumen SIUP maupun SIPI diaggap melakukan kegiatan penangkapan ikan secara illegal

Penangkapan kapal-kapal ikan yang tidak memiliki SIUP dan SIPI di Laut Arafura dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.KEP.02/MEN/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan Penangkapan Ikan yang tertuang dalam Standar Operasional dan Prosedur (SOP) pengawasan penangkapan ikan bagi kapal yang melakukan pengawasan (Lampiran 4). Kegiatan penangkapan kapal-kapal ikan yang melakukan kegiatan illegal fishing

di Laut Arafura yang dilakukan oleh kapal pengawas perikanan dengan prosedur sebagai berikut :

i. Selama dalam kegiatan operasi pengawasan, bila ditemui adanya kapal-kapal ikan yang beroperasi, maka petugas/nakoda kapal


(43)

memerintahkan kapal ikan menghentikan kegiatan dan merapat ke kapal patroli untuk dilakukan pemeriksaan.

ii. Setelah kapal penangkap ikan merapat ke kapal patroli, pengawas perikanan, dan penyidik langsung memeriksa dokumen yang dimiliki oleh kapal ikan seperti Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP), Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI), Surat Layak Operasional (SLO), Surat Izin Berlayar (SIB) dan tindakan lainya berdasarkan permintaan pengawas. Selama pemeriksaan bila ditemukan kapal ikan yang melakukan operasi penangkapan tidak memiliki SIUP maupun SIPI, maka kapal dikawal menuju pelabuhan terdekat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di darat utau melakukan pengurusan SIUP dan SIPI sebelum melakukan kegiatan operasi.

iii. Pelabuhan yang menjadi tujuan merapat bagi kapal-kapal yang melakukan pelanggaran adalah pelabuhan umum dan pelabuhan milik TNI AL

Gambar 4 Pemeriksaan dokumen dan kelengkapan kapal penangkap ikan oleh PPNS perikanan Provinsi Papua

2) Kapal-kapal penangkap ikan tidak melakukan ketentuan yang tertera dalam SIUP atau SIPI yaitu jenis dan ukuran alat tangkap yang tidak sesuai, melanggar jalur penangkapan, dan pelanggaran fishing ground.

Kapal-kapal ikan yang memiliki SIUP dan SIPI tetapi tidak melakukan ketentuan yang tercantum didalamnya juga termasuk melakukan kegiatan

illegal fishing. Hal ini mengacu pada Undang-Undang No.31 tahun 2004 tentang Perikanan (pasal 7) tentang kewajiban memenuhi ketentuan yang


(44)

ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dalam kegiatan pengelolaan usaha perikanan.

Penangkapan kapal-kapal ikan oleh kapal pengawas atau patroli dilakukan juga berdasarkan standar operasional dan prosedur (SOP) pengawasan penangkapan yaitu :

i. Selama dalam kegiatan operasi pengawasan, bila ditemui adanya kapal-kapal ikan yang beroperasi dan menunjukkan adanya indikasi pelanggaran dalam kegiatan penangkapan ikan, maka petugas/nakoda kapal patroli memerintahkan nakhoda kapal ikan menghentikan kegiatannya dan merapat ke kapal patroli untuk dilakukan pemeriksaan oleh pengawas

ii. Pengawas perikanan memeriksa dokumen, bila terdapat dugaan kasus pelanggaran dokumen (dokumen perizinan, alat tangkap tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku), pelanggaran daerah operasi penangkapan (dugaan pelanggaran langsung terlihat), maka pengawas perikanan memerintahkan sebagian ABK kapal penangkap ikan naik ke kapal ikan untuk pengamanan. Kapal penangkap ikan yang diindikasikan melakukan pelanggaran selanjutnya dikawal ke pelabuhan terdekat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di darat. Pelabuhan yang menjadi tujuan merapat bagi kapal-kapal ikan yang melakukan pelanggaran di Laut Arafura adalah pelabuhan umum dan pelabuhan milik TNI AL.

3) Kapal tidak dilengkapi atau mengaktifkan Vessel Monitoring system (VMS)

Berdasarkan Undang-Undang No.31 tahun 2004 tentang Perikanan (pasal 7) bahwa setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan pengelolaan perikanan wajib memenuhi ketentuan sistim pemantauan kapal perikanan dan mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.05/men/2007 tentang Penyelenggaraan Sistim Pemantauan Kapal Perikanan pasal (11) menyatakan bahwa kapal perikanan Indonesia berukuran 60 Gross Tonage (GT) keatas dan seluruh kapal perikanan asing wajib dilengkapi transmitter yang diadakan sendiri oleh pengguna transmitter. Kapal-kapal ikan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan dan tidak memasang atau mengaktifkan VMS dinyatakan melakukan kegiatan illegal fishing.


(45)

Pemeriksaan kapal-kapal ikan yang tidak menggunakan atau mengaktifkan Vessel Monitoring System (VMS) oleh kapal pengawas dilakukan dengan cara :

i. Bila ditemui kapal-kapal ikan melakukan opetrasi penangkapan di laut, maka petugas/nakoda kapal memerintahkan kapal ikan menghentikan kegiatannya dan merapat ke kapal patroli.

ii. Pengawas perikanan yang ada di kapal patroli langsung memeriksa fisik kapal, bila ditemukan adanya kapal ikan yang tidak memasang transmiter, maka selanjutnya nakhoda kapal penangkap diminta kembali ke pelabuhan untuk memasang transmiter.

iii. Kapal penangkap yang ditemui tidak menghidupkan transmiter, nakhoda kapal penangkap ikan diminta untuk menghidupkan transmiter.

4) Kapal penangkap udang melakukan kegiatan penangkapan dengan menggunakan 2 kapal ikan (pair trawl).

Kapal penangkap udang yang melakukan penangkapan udang dengan menggunakan dua kapal (pair trawl) dilakukan dengan cara:

i. Selama kegiatan operasi pengawasan di laut, kapal-kapal ikan yang ditemui di laut, maka petugas/nakoda kapal memerintahkan kapal ikan menghentikan kegiatan dan merapat ke kapal patroli.

ii. Pengawas perikanan memeriksa dokumen, bila terdapat indikasi pelanggaran melakukan pengoperasian pukat ikan ditarik dua

kapal/pair trawl, maka pengawas perikanan memerintahkan sebagian anak buah kapal penangkap ikan naik ke kapa pengawas untuk pengamanan

iii. Nakhoda kapal pengawas memerintahkan nakhoda kapal penangkap ikan untuk menuju pelabuhan terdekat untuk proses pemeriksaan lebih lanjut

(2) Kategori Unreported Fishing

1) Kapal-kapal ikan melakukan pembongkaran dan penjualan ikan di tengah laut (transhipment)

Berdasarkan hasil wawancara dan pengumpulan data yang dilakukan, bahwa di Laut Arafura juga sering terjadi kegiatan pembongkaran dan penjualan ikan di tengah laut. Kegiatan pelanggaran penangkapan ikan ini belum secara jelas tertuang dalam UU No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan, tetapi menurut FAO (2001) menyatakan bahwa kegiatan ini termasuk unreported fishing yaitu


(46)

kegiatan yang dilakukan oleh kapal penangkap ikan dengan tidak memberikan laporan hasil tangkapan atau melaporkan secara tidak benar kepada otoritas yang berwenang. Kegiatan penjualan ikan di tengah laut merupakan kegiatan pelanggaran karena tidak adanya laporan yang masuk ke otoritas yang berwenang dan tidak membayar retribusi hasil perikanan. Penangkapan kapal-kapal ikan yang melakukan pembongkaran dan penjualan ikan di tengah laut di lakukan oleh kapal pengawas dilakukan dengan cara :

i. Ketika melakukan operasi bila terlihat adanya indikasi kapal-kapal yang melakukan pelanggaran berupa pembongkaran dan penjualan ikan di tengah laut, maka petugas/nakoda kapal memerintahkan kapal ikan menghentikan kegiatan dan merapat ke kapal pengawas/patroli.

ii. Pengawas perikanan langsung memeriksa fisik kapal dan dokumen yang dimiliki oleh kapal ikan seperti Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP), dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI).

iii. Pemeriksaan yang dilakukan, bila ditemukan adanya indikasi pelanggaran melakukan bongkar muat ikan tidak dalam satu armada dan melakukan pembongkaran di tempat yang tidak sesuai dengan SIUP atau melakukan kegiatan penjualan (transipment) di Laut, maka pengawas perikanan memerintahkan kapal untuk merapat ke pelabuhan terdekat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kegiatan pelanggaran penangkapan ikan yang terjadi di Laut Arafura selama tahun 2003 – 2006 seperti terlihat pada Lampiran 1.


(47)

4.1.2 Analisis SWOT penanggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura

Penentuan upaya penanggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura didasarkan pada analisis SWOT yang bersumber dari analisis faktor internal dan eksternal yang diperkirakan mempengaruhi upaya penanggulangan IUU-Fishing di masa yang akan datang.

(1) Faktor internal

Faktor internal yang diperoleh bersumber dari identifikasi kekuatan dan kelemahan yang diperoleh selama penelitian yang selanjutnya dituangkan dalam matriks Internal Factor Analysis Strategic (IFAS). Kisaran bobot yang digunakan berkisar antara 0,0 -1,0 (Tripomo dan Udan, 2005). Nilai bobot semakin tinggi mengindikasikan faktor tersebut memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Rating yang diberikan dalam matriks IFAS dengan skala mulai 4 (out standing) sampai dengan 1 (poor) untuk kekuatan, sebaliknya untuk kelemahan rating yang diberikan merupakan invers dari nilai-nilai tersebut . Pemberian nilai rating untuk faktor kekuatan bersifat positif yang artinya bila kekuatan semakin besar diberi rating 4 tetapi bila kekuatannya kecil diberi rating 1, sedangkan bila nilai kelemahan besar nilai ratingnya 1 dan bila kelemahannya kecil ratingnya 4.

Faktor-faktor yang menjadi kekuatan pada organisasi Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua dalam upaya penanggulangan IUU-Fishing di Laut Arafura yaitu :

1) Sumberdaya manusia (SDM) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)

Sumberdaya manusia (SDM) yang berhubungan langsung dengan penanganan pelanggaran sumberdaya perikanan adalah Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) perikanan. Menurut Plt. Kepala Subdin pengawasan Dinas Perikanan jumlah PPNS bidang perikanan yang saat ini berada di Provinsi Papua sebanyak 15 orang dan semuanya telah memiliki sertifikasi sebagai PPNS bidang perikanan. Sertifikasi PPNS bidang perikanan diperoleh dengan mengikuti pelatihan Penyidik Pegawai Negeri Sipil reguler bidang perikanan yang diselenggarakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua bekerjasama dengan Polisi Daerah (POLDA) Papua maupun pelatihan yang diselenggarakan oleh Departemen Kelautan


(48)

dan Perikanan. Pengalaman atau kursus-kursus yang pernah diikuti yaitu; Pelatihan Penyidik Pelatihan Pegawai Negeri Sipil bidang perikanan reguler dilaksanakan untuk pegawai Golongan I dan II (pegawai non struktural). Selain pelatihan PPNS reguler bidang perikanan dilaksanakan juga Crash

Program PPNS oleh Departemen Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Kepolisian Republik Indonesia. Crash program ini dilaksanakan bagi pejabat eselon III dan II. Pelaksanaan crash program dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan daerah. Berdasarkan kompetensi yang dimiliki sebagai PPNS maupun penyidik memungkinkan PPNS perikanan melakukan kegiatan-kegiatan penyidikan.

Tingkat pendidikan PPNS yang ada pada Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua yaitu magister 1 orang, sarjana 9 orang dan SLTA sebanyak 4 orang. Pelatihan yang diikuti dan tingkat pendidikan PPNS perikanan seperti terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Tingkat pendidikan PPNS perikanan pada Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua sampai Desember 2006

Nama / NIP Pelatihan PPNS yang diikuti Tingkat Pendidikan Nixon Laempasa, SH.M.MT SPN POLDA Irian Jaya Magister NIP. 640 019 822 Tahun 1992

Amari Soegianto, SE Crash Program PPNS di Sarjana NIP. 640 008 818 Jakarta Tahun 2003

Ir. Yosefo R. Lasse Crash Program PPNS di Sarjana NIP.080 079 2590 Jakarta Tahun 2003

Drs. Daniel Bonsapia Crash Program PPNS di Sarjana NIP. 080 067 115 Jakarta Tahun 2003

Ir. Max Apituley Crash Program PPNS di Sarjana NIP. 640 019 858 Jakarta Tahun 2003

Inonseus Yoga Pribadi PPNS Reguler Sarjana NIP. 640 067 115 Tahun 2006

Burhan silaen PPNS Reguler Sarjana NIP. 640 025 681 Tahun 1992

Achmat Matdoan PPNS Reguler Sarjana Melianus Djitmau, SH Crash Program PPNS di Sarjana

NIP. 080 067 115 Jakarta Tahun 2003 Trisabdo Wibowo PPNS Reguler Sarjana Muda


(49)

Fredrik Koibur SPN POLDA Irian Jaya SLTA NIP. 640 025 681 Tahun 1992

Fileb Marbo Pusdik Serse POLRI Mega SLTA NIP. 640 015 740 Mendung-Jabar tahun 1991

Florentinus Suhono S Pusdik Serse POLRI Mega SLTA NIP. 080 106 618 Mendung-Jabar tahun 1991

Abraham L Duwiri SPN POLDA Irian Jaya SLTA NIP. 640 026 115 Tahun 1999

Yones N. Arobaya SPN POLDA Irian Jaya SLTA NIP. 640 018 956 Tahun 1999

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua, 2006

Jumlah PPNS perikanan yang berada di Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua jumlahnya masih sangat sedikit dibanding dengan luasnya perairan yang ada di Papua. Khusus bagi beberapa kabupaten yang berhubungan langsung dan memanfaatkan sumberdaya perikanan dari Laut Arafura seperti Kabupaten Merauke, Mimika, Timika, Mappi dan Asmat jumlah PPNS perikanannya juga masih sangat terbatas. Sobari et al. (2003) menyatakan bahwa adanya rezim sentralistik menyebabkan rendahnya pengawasan sumberdaya perikanan karena terlalu sedikitnya aparat dan sangat luasnya daerah yang harus diawasi

2) Sarana dan prasarana pengawasan

Sarana dan prasarana pengawasan merupakan faktor terpenting dalam melakukan kegiatan pengawasan. Sarana yang digunakan dalam mendukung kegiatan pengawasan sumberdaya perikanan dan kelautan di Perairan Papua termasuk Laut Arafura yang dimiliki oleh Dinas Perikanan dan Kelautan yaitu 2 (dua) buah speed boat fibreglass masing-masing berukuran 8 meter yang berada di Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Biak Numfor (Utara Papua). Selain memiliki speed boat untuk kegiatan pengawasan PPNS Perikanan juga dilengkapi dengan sarana komunikasi berupa HT dan SSB yang tersebar di setiap kabupaten Provinsi Papua. Sarana komukasi ini digunakan untuk memudahkan komunikasi antara PPNS dan untuk memonitor kegiatan pengawasan perikanan yang terjadi di Perairan Papua. Pengadaan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan pengawasan.


(50)

Sarana dan prasarana yang digunakan untuk kegitan pengawasan ini masih sangat terbatas sekali jumlah dan kemampuannya. Saat ini untuk wilayah perairan selatan Papua atau beberapa Dinas Perikanan kabupaten yang mempunyai kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya ikan dari Laut Arafura seperti Merauke, Asmat, Mimika, Kaimana, belum memiliki sarana yang memadai untuk menunjang kegiatan pengawasan. Keberadaan speedboat yang selama ini digunakan untuk kegiatan pengawasan disekitar perairan pesisir karena kemampuannya yang sangat terbatas. Pelaksanaan pengawasan untuk perairan yang lebih jauh selama ini tidak dapat dilakukan sendiri oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Papua karena belum memiliki kapal pengawas perikanan. Kegiatan pengawasan dengan menggunakan kapal-kapal pengawas selama ini menggunakan kapal pengawas yang dimiliki Departemen Kelautan dan Perikanan yaitu Km. Macan 002 dan Km.Hiu 005 yang beroperasi di selatan dan utara Papua. Kapal pengawas yang beroperasi di selatan Papua yaitu Km.Hiu 005 yang berkedudukan di Merauke, namun sejak tahun 2005 kapal tersebut telah ditarik ke Jakarta oleh Departemen Kelautan dan Perikanan.

Gambar 6 Kapal patroli Hiu 005

Kegiatan patroli dalam rangka kegiatan pengawasan sumberdaya perikanan di Laut Arafura biasanya dilakukan sendiri oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provnsi Papua maupun bersama tim gabungan dari Dinas Perikanan dan Kelautan, SATPOLAIR Papua, TNI AL dan Bea Cukai yang tergabung dalam Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) dengan frekuensi 2


(51)

kali dalam setahun. Kegiatan patroli laut dalam rangka pengawasan di Laut Arafura selama ini lebih banyak diperankan oleh TNI AL, karena memiliki kemampuan armada pengawas yang lebih baik di banding lembaga-lembaga yang lain. Pengawasan yang dilakukan oleh TNI AL dilakukan secara rutin setiap dua minggu sekali untuk perairan teritorial. Pengawasan yang dilakukan oleh SATPOLAIR Papua menurut Kepala seksi hukum dan pelanggaran SATPOLAIR dilakukan biasanya secara terpadu maupun sendiri oleh phak SATPOLAIR dengan menggunakan kapal patroli yang dimiliki oleh SATPOLAIR Papua yaitu KM.Teluk Youtefa dengan ukuran 52 GT dan beberapa speat boat untuk penyisiran di daerah pesisir. Kegiatan operasi pengawasan yang dilakukan terkadang juga menghadapi kendala karena cuaca dan tingginya gelombang di sekitar perairan Papua.

Gambar 7 Kapal patroli Tanjung You Tifa milik SATPOLAIR Papua

3) Pelaksanaan koordinasi

Sistim koordinasi yang dilakukan untuk memonitor dan mengevaluasi kegiatan yang berhubungan dengan pengawasan sumberdaya perikanan dan kelautan di Laut Arafura. Sistim koordinasi yang dilakukan selama ini yaitu


(52)

secara internal dalam Dinas Perikanan dan Kelautan baik yang dilakukan sendiri oleh Subdin Pengawasan maupun secara keseluruhan oleh semua subdin dan seksi yang ada pada Dinas Perikanan dan Kelautan. Kegiatan pertemuan atau koordinasi yang dilakukan ini bertujuan untuk mengevaluasi program kerja yang telah dilakukan oleh Subdin pengawasan dan hal-hal yang akan dilakukan kedepan. Selain koordinasi secara internal, juga dilakukan koordinasi dengan melibatkan beberapa instansi yang berhubungan dengan kegiatan pengawasan di laut yang dilaksanakan secara insidentil atau sewaktu-waktu bila terjadi sesuatu masalah. Beberapa instansi yang sering melakukan koordinasi yaitu Dinas Perikanan dan Kelautan, TNI AL, Pihak Imigrasi dan Satuan Polisis Perairan (SATPOLAIR). Pertemuan ini biasanya dilakukan oleh Tim Badan koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) untuk mengevaluasi kegiatan Pengawasan yang dilakukan selama ini.

Guna lebih meningkatkan koordinasi antara penegak hukum di Laut dan dengan masyarakat maka telah dibentuk Sistim pengawasan berbasis masyarakat (SISWASMAS) yang melibatkan peran aktif masyarakat dalam mengawasi dan mengendalikan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan dan kelautan secara bertanggung jawab. Hal ini juga dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan sumberdaya kelautan perikanan. Daerah yang selama ini masyarakatnya mempunyai kearifan lokal telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pengelolaan sumberdaya laut yang berkelanjutan dan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anggota masyarakatnya (Sobari et al. 2003) Beberapa kabupaten yang memanfaatkan sumberdaya perikanan dan kelautan di Laut Arafura telah dibentuk Kelompok Masyarakat pengawas (POKMASWAS) yang merupakan pelaksana pengawasan di tingkat lapangan yang terdiri dari unsur tokoh masyarakat, tokoh agama, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), nelayan dan petani ikan. Pembentukan SISWASMAS mengacu pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.58/MEN/2001 tentang Tata cara Pelaksanaan Sistem Pengawasan Masyarakat dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan.


(1)

Lampiran Surat izin Usaha Perikanan (SIUP)

LAMPIRAN IZIN USAHA

PERIKANAN

NO. : 523.3 / 744 / IUP / 2005

BEROPERASI SENDIRI N O. JENIS KAPAL PERIKAN AN UKURAN MESIN (PK) JUMLAH KAPAL (UNIT) DAERAH

PENANGKAPAN DAERAH

PENGUMPUL AN

PELABUHAN PANGKALAN / MUAT

WILA YAH

KOORDI NAT

3 Ketinting - 16

BEROPERASI DALAM SATUAN ARMADA JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN: ……… N O. JENIS KAPAL PERIKAN AN UKURAN KAPAL (GT) JUMLAH KAPAL (UNIT) DAERAH

PENANGKAPAN DAERAH

PENGUMPUL AN

PELABUHAN PANGKALAN / MUAT

WILA YAH KOORDI NAT Catatan :

1. Dilarang menggunakan bahan peledak, racun, obat bius dan bahan

kimia lainnya;

2. Dalam melalukan kegiatan usaha agar bekerja sama dengan nelayan setempat dengan menerapkan Pola Kemitraan Usaha sesuai SK. Mentan Nomor : 509/Kpts/IK.120/7/95;

3. Kegiatan penangkapan hanya boleh dilakukan oleh Kelompok Nelayan setempat dengan menggunakan alat

tangkap pancing, bubu dan gill net;

4. Setiap pengiriman ikan atau ekspor wajib dilengkapi dengan dokumen SKA yang diterbitkan oleh Dinas

Perikanan dan Kelautan Kabupaten setempat;

5. Bekerjasama dengan petugas melaksanakan

pengendalian/pengawasan sumberdaya ikan.

DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PROVINSI PAPUA

NAMA :

NIP :


(2)

SURAT IZIN PENANGKAPAN IKAN ( SIPI )

REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH PROVINSI PAPUA

SURAT IZIN PENANGKAPAN IKAN NO. : 523.3 / 842 / SPI / 2005

PERUSAHAAN REFERENSI

NAMA PERUSAHAAN / PERORANGAN : NO. SIUP :

TANGGAL :

IDENTITAS KAPAL SURAT PERMOHONAN SIPI :

1. NAMA KAPAL : NO. :

2. TEMPAT & NO.REGISTRASI / NO.GROSS AKTE :, TANGGAL :

3. TEMPAT & TANDA SELAR :

4. NAMA PANGGILAN : - DAERAH PENANGKAPAN :

5. ASAL KAPAL :

6. NEGARA ASAL :

7. TEMPAT PEMBUATAN :

JENIS KAPAL / ALAT PENANGKAP IKAN DAERAH PENANGKAPAN TERLARANG

JENIS :

SPESIFIKASI KAPAL PELABUHAN PANGKALAN

1. BERAT KOTOR : GT

2. MUATAN BERSIH NT

3. KEKUATAN MESIN : DK

4. MERK MESIN :

5. NO.SERI MESIN :

6. BAHAN CASCO :

NOMOR TRANSMITTER ANAK BUAH KAPAL

1. INDONESIA =

CATATAN MASA BERLAKU IZIN

SURAT PENANGKAPAN IKAN INI

BERLAKU SEJAK : SPI ini merupakan SPI Baru.

SAMPAI DENGAN :

DISTRIBUSI COPY JAYAPURA,

1. Gubernur Provinsi Papua; DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

PROVINSI PAPUA

2. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap - DKP;

3. DAN LANTAMAL X di Jayapura;

NAMA :

NIP :

JABATAN : KEPALA DINAS

Apabila ada data dan atau informasi dan atau dokumen pendukung penerbitan izin ini yang ternyata dikemudian hari terbukti tidak benar dan atau tidak absah yang dinyatakan oleh instansi yang berwenang menerbitkan dokumen tersebut, maka izin ini akan dicabut dan pungutan perikanan yang telah dibayarkan tidak dapat ditarik kembali


(3)

Lampiran Surat izin Penangkapan Ikan (SIPI)

LAMPIRAN SURAT PENANGKAPAN IKAN

NO. :

JENIS ALAT TANGKAP :

NO. KOMPONEN SPESIFIKASI SATUAN

DAERAH PENANGKAPAN :

NO. WILAYAH PENANGKAPAN KOORDINAT

WILAYAH TERLARANG


(4)

Lampiran 5 Cara pengisian matriks Internal Factor Analisis Strategic dan External Factor Analisis Strategic (Tripomo dan Udan, 2005) Pengisian data pada matriks Internal Factor Analisis Strategic (IFAS) dilakukan dengan cara :

1. Dalam kolom 1 (faktor-faktor strategi internal) disusun kekuatan dan kelemahan dari masalah ;

2. Pada kolom 2 masing-masing faktor diberi bobot, nilai bobot mulai dari 1,00 (sangat penting) sampai dengan 0,00 (tidak penting). Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh lebih dari skor total yakni 1.00;

3. Dalam kolom 3 ditentukan rating untuk masing-masing faktor berdasarkan pengaruhnya terhadap permasalahan. Nilai rating mulai dari 4 sampai dengan 1. Pemberian nilai rating untuk kekuatan bersifat positif (semakin besar kekuatan semakin besar pula nilai rating yang diberikan), Sedangkan untuk kelemahan pemberian nilai rating dilakukan sebaliknya (semakin besar kelemahan semakin kecil nilai rating yang diberikan);

4. Kolom 4 diisi perkalian bobot dengan rating. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor; dan

5. Kemunkinan total jumlah nilai dengan bobot tertinggi adalah 4,0 dan kemungkinan terendah adalah 1,0 dan rata-rata jumlah nilai berbobot 2,5. Nilai dibawah 2,5 menunjukkan bahwa organisasi lemah secara internal dan nilai diatas 2,5 menunjukkan bahwa organisasi memiliki posisi yang kuat secara internal.

Pengisian data pada matriks External Factor Analisis Strategic dengan cara : 1. Dalam kolom 1 (faktor-faktor strategi Eksternal) disusun peluang dan

ancaman ;

2. Pada kolom 2 masing-masing faktor diberi bobot, nilai bobot mulai dari 1,00 (sangat penting) sampai dengan 0,00 (tidak penting). Faktor-faktor tersebut kemungkinan akan memberikan dampak terhadap faktor strategis:

3. Dalam kolom 3 ditentukan rating untuk masing-masing factor berdasarkan pengaruhnya terhadap kondisi daerah. Nilai rating mulai dari 4 sampai dengan 1. Pemberian nilai rating untuk kekuatan bersifat positif (semakin besar peluang semakin besar pula nilai rating yang diberikan), Sedangkan untuk kelemahan pemberian nilai rating dilakukan sebaliknya (semakin besar ancaman semakin kecil nilai rating yang diberikan);

4. Kolom 4 diisi perkalian bobot dengan rating. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor; dan

5. Jika nilai total skor pada matriks EFAS ≤ 2,5 berarti bahwa sistim mampu merespon situasi eksternal yang ada.


(5)

(6)