Hubungan Profil Pemotong Ayam dengan Karakteristik Tempat Pemotongan Ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur

(1)

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PEMOTONG AYAM DENGAN PROFIL TEMPAT PEMOTONGAN AYAM

DI KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

RACHMAT WIDODO

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2009


(2)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan tesis Hubungan Profit Pemotong Ayam dengan Kategori Tempat Pemotongan Ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Februari 2009

Rachmat Widodo NRP B551034064


(3)

ABSTRACT

RACHMAT WIDODO. Correlation between Profile of Slaughter Personal and Poultry Slaughtering Facilities in East Jakarta. Under direction of DENNY WIDAYA LUKMAN and ABDUL ZAHID ILYAS.

This research aims to analyze the relationship the characteristics of owner with the profiles of chicken slaughter places in the district of East Jakarta City Administration. The study used 134 samples of chicken slaughter places in 20 Kalurahan in East Jakarta City Administration, and implemented in August-October 2005. The characteristics of the owner were achieved using the questionnaires and involved age, education, knowledge, experience business, income, and bussines scale. The profile of chicken slaughter place was assessed by using the checklist of hygiene and sanitation practices given a good value and diskor. Data collected analyzed using descriptive statistics and analysis of association between the characteristics of owners and profile of chicken slaughter places was analyzed using Spearman's rank correlation coefficients. Characteristics of the chicken slaughter places in East Jakarta which have significantly positive relationship (P <0.05) with the TPA is the profile of knowledge, business experience, and income, with a correlation coefficient of each is 0,376, 0,210, and 0,204.


(4)

R I N G K A S A N

RACHMAT WIDODO. Hubungan Profil Pemotong Ayam dengan Kategori Tempat Pemotongan Ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur. Dibimbing oleh DENNY WIDAYA LUKMAN dan ABDUL ZAHID ILYAS.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik hubungan pemotong ayam terhadap profil dari tempat pemotongan ayam di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur. Studi yang digunakan 134 sampel tempat pemotongan ayam di 20 Kalurahan di Kota Administrasi Jakarta Timur dan dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2005. Hubungan karakteristik pemotong ayam yang dijaring dengan melalui kuesioner meliputi umur, pendidikan, pengetahuan, lama pengalaman usaha, pendapatan, dan skala usaha. Profil tempat pemotongan ayam dinilai dengan menggunakan pertanyaan tentang pengetahuan tata cara pemotongan ayam yang baik kemudian diberikan nilai dan diskor. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan analisis asosiasi antara karakteristik para pemilik pemotongan dan profil tempat pemotongan ayam menggunakan koefisien korelasi Spearman. Karakteristik pemotong ayam pada tempat pemotongan ayam di Jakarta Timur yang memiliki hubungan positif nyata (P<0.05) dengan profil TPA adalah pengetahuan, pengalaman usaha, dan pendapatan, dengan koefisien korelasi masing-masing adalah 0.376, 0.210, dan 0.204.

Namun demikian dari korelasi ketiga variabel ini dengan profil tempat pemotongan ayam tergolong lemah, hal ini dikarenakan oleh adanya sampel responden pemotong ayam yang kurang banyak, ataupun variabel penjaringan informasi mengenai eksiting bangunan tempat pemotongan ayam, proses pemotongan, peralatan pemotongan dan higine personal lebih diperinci lagi.

Sebagian besar profil tempat pemotongan ayam dengan katagori sedang tersebar merata baik dengan latar belakang karakter umur, karakter pendidikan, karakter pengetahuan, karakter pengalaman maupun karakter skala usaha.


(5)

© Hak Cipta Milik IPB, tahun 2009 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, menuliskan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. Pengulipan tidak merugikan yang wajar IPB

b. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB


(6)

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PEMOTONG AYAM DAN PROFIL TEMPAT PEMOTONGAN AYAM

DI KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

RACHMAT WIDODO

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Kesehatan Masyarakat Veteriner

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2009


(7)

Judul Tesis : Hubungan Profil Pemotong Ayam dengan Karakteristik Tempat Pemotongan Ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur

Nama : R. Rachmat Widodo NIM : B5501034064

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. drh. Denny Widaya Lukman, MSi

Ketua

drh. Abdul Zahid Ilyas, MSi Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Veteriner

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. drh. Denny Widaya Lukman, MSi Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS


(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala Rahmat dan HidayahNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus hingga Oktober 2005 ini adalah Hubungan Karakteristik Pemotong Ayam Dengan Profil Tempat Pemotongan Ayam Di Kota Administrasi Jakarta Timur.

Terima kasih Penulis ucapkan kepada bapak Dr. drh. Denny Widaya Lukman, MSi., bapak drh. Abdul Zahid Ilyas, MSi., selaku pembimbing serta drh. Trioso Purnawarman, MSi, selaku penguji luar komisi atas bimbingan, saran dan arahannya.

Ucapan terima kasih Penulis sampaikan kepada bapak drh. Edy Setiarto, MS., selaku Kepala Dinas Kelautan clan Pertanian Provinsi DKI Jakarta., drh. Adnan Ahmad., drh. Dzawil Hijah., drh. E. Kusdiana AD., atas kesempatan yang diberikan hingga penulis dapat menyelesaikan program studi ini. Terima kasih juga di sampaikan kepada ibu Ir. Etih Sudarnika, MS., drh. Choirul Basri atas dorongan dan perhatiannya. Ucapan terima kasih juga di sampaikan kepada Isteri tercinta dan Anak tersayang serta seluruh keluarga juga teman-teman atas segala do'a dan dukungannya.

Bogor, Februari 2009 Rachmat Widodo


(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kutoarjo pada tanggal 4 September 1957 sebagai anak pertama dari lima bersaudara dari bapak Moh. Syatibi dan ibu RNgt. Sulasichin. Pendidikan sarjana ditempuh di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, lulus pada tahun 1988. Pada tahun 2004, penulis diterima di Program Studi Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Sejak tahun 1990 penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Kantor Wilayah Departemen Pertanian Propinsi Timor Timur dipekerjakan sebagai Tenaga Kerja Dokter Hewan pada Dinas Peternakan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur dan pada tahun 1995 sebagai Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Daerah Tingkat lI Baucau, Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur sampai dengan tahun 1999. Selama mengikuti program S2, penulis menjadi anggota Perhimpinan Dokter Hewan Cabang Jakarta. Tahun 2000 pindah bekerja ke Dinas Peternakan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sampai sekarang.


(10)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... 1 PENDAHULUAN ... 1.1 Latar Belakang ... I 1.2 Kerangka Pemikiran ... 2

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 3

1.5 Hipotesis ... 4

2 TINJAUAN PUSTAKA ... 2.1 Karakteristik Individu ... 5

2.2 Pengetahuan Individu ... 6

2.3 Karakteristik Usaha Tempat Pemotong Ayam ... 7

2.4 Tempat Pemotongan Ayam ... 7

3 BAHAN DAN METODE ... 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 11

3.2 Bahan dan Alat ... 11

3.3 Tahapan Penelitian ... 11

3.4 Pengumpulan Data ... 11

3.5 Pengukuran Pengetahuan ... 12

3.6 Definisi Operasional ... 14

3.7 Analisis Data ... 14

4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 4.1 Karakteristik Pemotong Ayam ... 16

4.2 Pengetahuan Pemotong Ayam ... 19

4.3 Profil Tempat Pemotongan Ayam ... 20

4.4 Distribusi Profil Kategori Tempat Pemotongan Ayam Berdasarkan Karakteristik Pemotong Ayam ... 20

4.5 Hubungan Karakteristik Pemotong Ayam dengan Profil Tempat Pemotongan Ayam ... 27

5 SIMPULAN DAN SARAN ... Simpulan ... 29

Saran ... 30

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

I Lokasi pengambilan dan jumlah sampel TPA di wilayah Kota

Administrasi Jakarta Timur ……….. 12

2 Indeks tingkat pemotong ayam berdasarkan jawaban yang benar ………. 13

3 Indeks tingkat TPA berdasarkan jawaban yang benar ……… 13

4 Distribusi pemotong ayam berdasarkan umur, pendidikan, pengalaman

usaha, pendapatan, skala usaha di Kota Administrasi JakartaTimur …………. 17

5 Karakteristik pengetahuan pemotong ayam tentang tempat pemotongan ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur ………. 19

6 Profil tempat pemotong ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur ……… 20

7 Distribusi umur pemotong ayam berdasarkan kategori profil TPA di

Kota Administrasi Jakarta Timur ………. 21

8 Distribusi pendidikan pemotong ayam berdasarkan kategori profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur ……… 22

9 Distribusi tingkat pengetahuan pemotong ayam berdasarkan kategori

profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur ……….... 23

10 Distribusi pengalaman usaha pemotong ayam berdasarkan kategori

profl TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur ………. 24

11 Distribusi pendapatan pemotong ayam berdasarkan kategori profil

TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur ……… 26

12 Distribusi skala usaha pemotong ayam berdasarkan kategori profil

TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur ……….. 27

13 Hubungan antara karakteristik pemotong ayam dan profil tempat pemotongan ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur ……… 28


(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1 Kerangka pemikiran dan kegiatan penelitian 3


(13)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Daging merupakan sumber protein hewani dan mempunyai nilai gizi yang tinggi disamping telur dan susu. Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, produk pangan asal hewan terutama daging masih menjadi komoditi yang mewah, namun penganekaragaman produk olahan daging akan mendukung usaha peningkatan gizi masyarakat. Menurut Soeparno (1992), daging dan olahannya merupakan produk-produk makanan yang unik, karena dapat diolah dengan dimasak, digoreng, dipanggang, disate, diasap atau diolah menjadi produk lain yang menarik antara lain daging kornet, sosis, dendeng dan abon.

Definisi daging adalah semua jaringan hewan baik yang berupa daging dari karkas, organ, kelenjar dan semua produk hasil pengolahan jaringan yang dapat dimakan, dan tidak menimbulkan gangguan bagi yang memakannya. Daging merupakan salah satu hasil ternak yang sangat penting artinya dan hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Selain penganekaragaman sumber pangan, daging dapat menimbulkan kepuasan atau kenikmatan bagi yang memakannya, karena kandungan gizinya lengkap sehingga keseimbangan gizi untuk hidup dapat terpenuhi (Soeparno 1992). Lebih lanjut dikatakan, daging yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah daging yang berasal dari sapi, kerbau, kambing atau domba, babi, kuda, unggas dan ikan, serta organisme lain yang hidup di darat maupun di air.

Peranan daging ayam sebagai alternatif daging pilihan mengalami peningkatan, hal ini terlihat dari produksi ayam pedaging dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Produksi ayam pedaging dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2002 berturut-turut adalah 285.01 ribu ton, 293.00 ribu ton, 515.00 ribu ton, 536.95 ribu ton, dan 555.72 ribu ton (Anonim 2003).

Jakarta merupakan ibukota negara, pusat pemerintahan dengan jumlah penduduk kurang lebih mencapai 10 juta jiwa memerlukan kebutuhan daging cukup tinggi. Pemenuhan kebutuhan pangan khususnya daging bagi warga Jakarta hampir semuanya didatangkan dari luar DKI Jakarta baik berupa daging maupun ternak (Anonim 2003).


(14)

Untuk memenuhi kebutuhan daging tersebut dipenuhi dari hasil pemotongan ternak di DKI Jakarta serta pemasukan dari luar DKI Jakarta yang berupa pemasukan antar daerah dan impor. Saat ini jumlah daging yang masuk dan beredar di Propinsi DKI Jakarta kurang lebih 160.000 ton/tahun, daging tersebut 60% berasal dari unggas dan sisanya 40% dari daging sapi/kerbau/kambing/domba dan babi.

Dalam rangka penyediaan daging ayam memenuhi persyaratan yang halal dan toyyiban, maka selain faktor kebijakan pemerintah dan ketersediaan teknologi (metode) pemotongan unggas. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah faktor hubungan antara pemotong ayam dan profil tempat pemotongan ayam. Pengaruh faktor tersebut sangat menentukan, karena pemotong (penanggung jawab) adalah yang secara langsung terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini perlu agar karkas ayam yang dikonsumsi oleh masyarakat dapat terjamin kehalalannya, keamanan dan kesehatannya (Dit Kesmavet 2005).

Bertolak dari latar belakang tersebut di atas, maka penulis mencoba mengungkapkan hubungan pemotong ayam dan profil tempat pemotongan ayam yang merupakan satu bagian penting dalam proses menghasilkan karkas ayam yang sehat, halal dan toyyiban.

1.2 Kerangka Pemikiran

Kegiatan usaha tempat pemotongan ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur ini dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan berupa peningkatan pendapatan masyarakat, memberikan peluang kerja, peningkatan ketersedian pangan, dan penghematan devisa.

Usaha pemotongan ayam tanpa didasari dengan pendidikan, pengetahuan, pengalaman usaha, tujuan usaha dan pembinaan dari instansi terkait dengan baik, usaha ini berpotensi menimbulkan dampak negatif, terhadap lingkungan dan produk yang dihasilkan.

Penelitian mengenai karakteristik antara pemotong ayam terhadap pengelolaan tempat pemotongan ayam ini harus dilihat dalam konteks hubungannya dengan umur, pendidikan, pengetahuan, pengalaman usaha, pendapatan dan skala usaha. Secara skematis, kerangka pemikiran dari kegiatan penelitian yang direncanakan dapat dilihat pada Gambar 1.


(15)

Gambar 1 Kerangka pemikiran dan kegiatan penelitian.

Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan adakah hubungan antara karakteristik pemotong ayam dan profil tempat pemotongan ayam (TPA) di Kota Administrasi Jakarta Timur.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) melihat karakteristik pemotong ayam di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur, (2) memberikan informasi tentang profil tempat pemotongan ayam di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur, (3) mengetahui katagori profit tempat pemotongan ayam (TPA) berdasarkan karakteristik pemotong ayam, serta (4) melihat korelasi antara karakteristik pemotong ayam dan profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan (1) sebagai bahan pembinaan tempat pemotongan ayam khususnya di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur, (2) menyediakan data base tempat pemotongan ayam di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur, dan (3) memberikan motivasi bagi pemotong ayam akan perlunya penerapan higiene-sanitasi dalam rangka menjamin kehalalan, keamanan dan kualitas daging ayam.

Umur Pendidikan Pengetahuan Pengalaman usaha

Pendapatan Skala usaha Karakteristik Pemotong

Ayam

Baik Sedang

Buruk

Output

Karkas Ayam Profil Tempat

Pemotongan Ayam


(16)

1.5 Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat korelasi antara karakteristik pemotong ayam dan profil tempat pemotongan ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur.


(17)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Individu

Karakteristik individu dapat diklasifikasikan ke dalam karakteristik demografi dan karakteristik psikografi. Karakteristik demografi mencakup umur, jenis kelamin, ukuran keluarga, daur kehidupan keluarga, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, kebangsaan, dan tingkat sosial. Sedangkan karakteristik psikografik meliputi gaya hidup dan kepribadian (Kotler 1980). Berkaitan dengan karakteristik individu, bahwa individu membawa ke dalam tatanan organisasi, kemampuan, kepercayaan, pribadi dan penghargaan kebutuhan dan pengalaman masa lainnya. Ini semua adalah karakteristik yang dimiliki individu dan karakteristik ini akan memasuki suatu lingkungan baru (Thoha 1983).

Sementara itu Setiono (2001) mengemukakan beberapa ciri-ciri pribadi meliputi: jenis kelamin, status perkawinan, usia, pendidikan, pendapatan keluarga, dan masa jabatan. Sejalan dengan hal di atas, Robbins (1996) mengungkapkan beberapa karakteristik individu yang meliputi umur, jenis kelamin, status perkawinan, banyaknya tanggung jawab dan status masa kerja. Menurut Mathis et al. (2002) ada empat karakteristik individu yang mempengaruhi bagaimana orang-orang membuat pilihan karir:

1 Minat, orang cenderung mengejar karir yang mereka yakini cocok dengan minat mereka;

2 Jati diri, karir merupakan perpanjangan jati diri seseorang juga hal yang membentuk jati diri;

3 Kepribadian, faktor ini mencakup orientasi pribadi karyawan dan kebutuhan individual, latihan, kekuasan dan kebutuhan prestis;

4 Latar belakang sosial, status sosial ekonomi dan tujuan pendidikan, pekerjaan orang tua karyawan merupakan faktor yang berfungsi dalam katagori.

Dari beberapa pendapat diatas, karakteristik individu dalam penelitian ini dilihat dari keahlian, pendidikan dan pengalaman kerja.


(18)

2.2 Pengetahuan Individu

Pengetahuan dapat didefinisikan sebagai ingatan mengenai sesuatu yang bersifat spesifik atau umum, ingatan mengenai metode atau proses, ingatan mengenai pola, susunan atau keadaan (Kibler et al. 1981). Dalam merinci pendapat yang dikemukakannya tersebut, Kibler et al. (1981) selanjutnya mengelompokkan jenis pengetahuan secara hirarkis ke dalam: (1) pengetahuan yang bersifat spesifik, (2) pengetahuan mengenai terminologi, (3) pengetahuan mengenai fakta-fakta tertentu, (4) pengetahuan mengenai cara-cara tertentu, (5) pengetahuan mengenai kaidah, (6) pengetahuan mengenai arah dan urutan, (7) pengetahuan mengenai klasifikasi dan kategori, (8) pengetahuan mengenai kriteria, (9) pengetahuan mengenai pola, (11) pengetahuan mengenai prinsip dan generalisasi, serta ( 12) pengetahuan mengenai teori dan struktur.

Winkel (1987) yang diacu dalam Ilyas (1997), mendefinisikan pengetahuan mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajar (fakta, kaidah, prinsip atau metode) dan disimpan dalam ingatan. Pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan ini digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition). Sedangkan Griffith et al. (2003) menyatakan ada tiga jenis pengetahuan individu (1) mengenai pengetahuan eksplisit berbentuk deklaratif, sehingga perpindahan pengetahuan sangat mudah, (2) mengenai pengetahuan tacit pengetahuan yang didapatkan dengan pengalaman, tidak dalam bentuk deklaratif, dan tidak dapat diubah menjadi bentuk deklaratif, sehingga perpindahan pengetahuan ini sangat susah, (3) mengenai pengetahuan implisit pengetahuan yang saat ini belum berada dalam bentuk deklaratif; namLm dapat diubah menjadi bentuk deklaratif. Pengetahuan implisit merupakan pengetahuan yang berada dalam pikiran manusia, yang biasa diserap orang lain melalui kolaborasi dan sharing (Nasseri 1996). Oleh karena itu, pengetahuan individu dapat memacu individu menjadi agen perubahan bagi diri sendiri bahkan untuk orang lain.

Dalam beberapa tahun terakhir, manajemen pengetahuan menjadi suatu isu hangat bagi para profesional informasi. Manajemen pengetahuan diterapkan untuk meningkatkan dan memperbaiki komunikasi antara manajemen puncak dan para pekerja untuk memperbaiki proses kerja, menanarnkan budaya berbagi


(19)

Pengetahuan, dan untuk mempromosikan dan mengimplementasikan system penghargaan berbasis kinerja (Teng dan Hawamdeh 2002).

2.3 Karakteristik Pemotong Ayam

Karakter seorang individu terbentuk sejak dia kecil karena pengaruh genetic dan lingkungan sekitar. Proses pembentukan karakter, baik disadari maupun tidak, akan mempengaruhi cara inividu tersebut memandang diri dan lingkungannya dan akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Hill (2002) mengatakan bahwa karakter menentukan pemikiran pribadi seseorang dan tindakan yang dilakukannya. Karakter yang baik merupakan motivasi dari dalam untuk bertindak benar, menurut standar perilaku tertinggi dalam setiap situasi.

Karakteristik pemotong/penanggung jawab merupakan cirri-ciri individu pemotong/penanggung jawab yang relative tidak berubah dalam waktu singkat. Data karakteristik pemoong/penanggung jawab yang dimaksudkan disini meliputi umur, tingkat pendidikan, pengetahuan, pengalaman berusaha, tingkat pendapatan, dan skala usaha.

2.4 Tempat Pemotongan Ayam

Menurut Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 1992 tentang Penampungan dan Pemotongan Unggas serta Peredaran Daging Unggas di Wilayah DKI Jakarta, tempat pemotongan unggas adalah bangunan atau kompleks dengan disain dan syarat tertentu yang digunakan sebagai tempat pemotongan unggas bagi konsumsi masyarakat. Kebersihan ruangan pemotongan, peralatan, dan tenaga kerja sangat penting karena akan sangat mempengaruhi kualitas karkas dan sampingan yang dihasilkan. Ruangan pemotongan, peralatan, dan karyawan yang kurang terjaga kebersihannya akan menyebabkan pencemaran silang (cross contamination) dengan karkas dan sampingan yang dihasilkan (Martono 2003).

Untuk memberikan jaminan ketersediaan karkas ayam yang sangat sehat di DKI Jakarta, Gubernur Kepala Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 459 Tahun 1996 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penampungan dan Pemotongan Unggas Serta Peredaran Daging Unggas di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dalam keputusan tersebut diatur ketentuan mengenai syarat teknis lokasi tempat pemotongan unggas dan bangunan, yaitu:


(20)

1 Tempat pemotongan unggas tipe A harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Berlokasi sesuai dengan perencanaan kata;

b. Komplek tempat pemotongan unggas harus diberi pagar tertutup setinggi 2 (dua) meter;

c. Komplek tempat pemotongan unggas terdiri dari: 1. Bangunan utama tempat pemotongan unggas;

2. Kandang penampungan unggas yang berfungsi pula untuk pemeriksaan antemortem;

3. Ruang administrasi, tempat penyimpanan alat, kamar mandi dan wc; 4. Tempat pembuangan kotoran yang khusus dan tertutup (septic tank) dan

tempat pembuangan sementara buangan padat sebelum diangkut. d. Bangunan utama tempat pemotongan unggas harus:

1. Memilki tempat penyembelihan, tempat pencelupan dan pembuluan,

tempat pengeluaran dan penanganan jeroan, tempat penanganan karkas, tempat pengemasan dan tempat pencucian peralatan;

2. Dilengkapi dengan alat penggantung atau corong untuk pemotongan, alat pencelupan, jeroan, rak-rak karkas, timbangan, tempat jeroan, tempat karkas dan giblet;

3. Berdinding tembok dengan dinding bagian dalam yang licin dan kedap air, terbuat dari semen berlapis porselin atau bahan sejenis, berwarna terang sudut pertemuan antara dinding dengan dinding dan antara dinding dengan lantai berbentuk lengkung;

4. Berlantai kedap air, landai ke arah saluran pembuangan, agar air mudah mengalir, tidak licin dan sedikit kasar;

5. Dipasang kawat kasa antara dinding dan atap untuk mencegah hewan masuk (kucing dan tikus);

6. Mempunyai pintu dan ventilasi yang diatur untuk menjamin pertukaran udara dan mencegah kemungkinan pencemaran dari luar;


(21)

8. Memiliki tempat pemeriksaan kesehatan daging unggas; 9. Mempunyai persedian air bersih dan pcnerangan yang cukup; 10. Mempunyai persedian air panas yang cukup;

11. Mempunyai ruang atau pendingin untuk menyimpan karkas dan giblet; 12. Tersedia sarana peralatan pemotongan unggas yang terbuat dari bahan tidak berkarat minimal terdiri atas: pisau tajam, bak penirisan karkas,

bak pendingin karkas, bak pendingin giblet, dan kristal/alat untuk mengasah pisau.

2 Tempat pemotongan unggas tipe B harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Berlokasi sesuai dengan perencanaan kota;

b. Tempat pemotongan unggas dapat berupa bangunan tersendiri atau bagian dari bangunan;

c. Bangunan tempat pemotongan unggas meliputi: 1. Kandang/keranjang penampungan unggas; 2. Tempat pemotongan unggas;

3. Tempat pembuangan kotoran yang khusus clan tertutup (septic tank) dan tempat pembuangan sementara buangan padat sebelum diangkut.

d. Bangunan utama tempat pemotongan unggas harus:

1. Memilki tempat penyembelihan, tempat pencelupan dan pembuluan, tempat pengeluaran dan penanganan jeroan, tempat penanganan karkas, tempat pengemasan dan tempat pencucian peralatan;

2. Dilengkapi dengan alat penggantung atau corong untuk pemotongan, alat pencelupan, jeroan, rak-rak karkas, timbangan, tempat jeroan, tempat karkas dan giblet;

3. Berdinding tembok setinggi 2 (dua) meter dengan dinding bagian dalam yang licin dan kedap air, terbuat dari semen berlapis porselin atau bahan sejenis, berwarna terang sudut pertemuan antara dinding dengan dinding dan antara dinding dengan lantai berbentuk lengkung;

4. Berlantai kedap air, landai kearah saluran pembuangan, agar air mudah mengalir, tidak licin dan sedikit kasar;


(22)

5. Mempunyai pintu dan ventilasi yang diatur untuk menjamin pertukaran udara dan mencegah kemungkinan pencemaran dari luar;

6. Mempunyai persedian air bersih dan penerangan yang cukup; 7. Tersedia pisau yang tajam dan alat-alat pengasah pisau (kristal). 3 Tempat pemotongan unggas tipe C harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Berlokasi sesuai dengan perencanaan kota;

b. Tempat pemotongan unggas dapat berupa bangunan tersendiri atau bagian dari bangunan;

c. Bangunan tempat pemotongan unggas meliputi: 1. Kandang/keranjang penampungan unggas; 2. Tempat pemotongan unggas;

3. Tempat pembuangan kotoran yang khusus dan tertutup (septic tank) dan tempat pembuangan sementara buangan padat sebelum diangkut. d. Bangunan utama tempat pemotongan unggas harus:

1 . Memilki tempat penyembelihan, tempat pence lupan/perebusan dan alat pencabut bulu, tempat pengeluaran dan pembersihan/pencucian jeroan, tempat/meja penanganan karkas;

2. Berdinding tembok setinggi 2 (dua) meter dengan dinding bagian dalam yang licin dan kedap air, terbuat dari semen berlapis porselin/keramik atau bahan sejenis, berwarna terang;

3. Berlantai kedap air, landai kearah saluran pembuangan, agar air mudah mengalir, tidak licin dan sedikit kasar;

4. Mempunyai persedian air bersih dan penerangan yang cukup; 5. Tersedia pisau yang tajam dan alat-alat pengasah pisau (kristal).


(23)

BAHAN DAN METODE

3.1 Tcmpat dan Waktu Pcnctitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tempat pemotongan ayam yang masing--masing berlokasi di Kecamatan Mataraman, Kecamatan Pulogadung, Kecamatan Duren Sawit, Kecamatan Cakung, Kecamatan Pasar Rebo. Kecamatan Makassar, Kecamatan Cipayung, Kecamatan Ciracas. Wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Peta lokasi Kecamatan penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1.

Rentang waktu penelitian berlangsung selama tiga bulan mulai bulan Agustus hingga Oktober 2005.

3.2 Bahan dan Alat

Alat yang dipergunakan kuesioner, check list, dan peralatan tulis.

3.3 Tahapan Penelitian

Penelitian ini meliputi lima tahap, yaitu (1) penyusunan dan pengembangan kuesioner untuk menjaring karakteristik pemotong ayam di tempat pemotongan ayam dan check list untuk menjaring profil tempat pemotongan ayam, (2) validasi kuesioner dan check list, (3) penentuan sampel tempat pemotongan ayam, (4) pengambilan data primer dan data sekunder, serta (5) analisis data.

3.4 Pengumpulan Data

Data yang akan dijaring dari tempat pemotongan ayam adalah data mengenai karakteristik pemotong ayam (pemotong ayam sebagai responden) dan perilaku aktual (praktek) pemotong ayam yang dilakukan. Data penelitian diperoleh dari data primer dan data sekunder.

Data karakteristik pemotong ayam yang merupakan peubah bebas dalam penelitian ini meliputi: (1) umur, (2) pendidikan, (3) pengetahuan, (4) pengalaman usaha, (5) tingkat pendapatan, dan (6) skala usaha. Keenam peubah bebas ini dianggap cukup mewakili karakteristik pemotong ayam, yang diduga memiliki hubungan terhadap profil tempat pemotongan ayam. Data tersebut dijaring melalui wawancara kepada pemotong ayam menggunakan kuesioner. Data profil pemotongan ayam diperoleh dari penilaian (observasi) praktek higiene sanitasi menggunakan check list, yang dilakukan oleh enumerator.


(24)

Sampel tempat pemotongan ayam dipilih dengan metode acak sederhana (simple random sampling). Data sekunder berasal dari Laporan Hasil Pembinaan Tempat Pemotongan Ayam (TPA) Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Administrasi Jakarta Timur tahun 2004. Pengumpulan sampel tempat pemotongan ayam dipilih dengan metode acak sederhana (simple random sampling). Besaran sampel sebanyak 134 sampel (Tabel 1).

Tabel I Lokasi pengambilan dan jumlah sampel TPA di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur

Jumlah TPA Besaran

No. Kecamatan Kelurahan Prosentase sampel

1 Matraman 165 3/6 50.0 30

2 Pulogadung 172 3/7 42.0 18

3 Duren Sawit 32 6/7 85.0 28

4 Cakung 16 3/7 42.0 6

Pasar Rcbo 5 2/5 40.0 11

6 Makassar 54 1!5 20.0 26

7 Cipayung 2 1/8 12.0 4

8 Ciracas 3 1/5 20.0 11

Jumlah 449 20/50 40.0 134

3.5 Pengukuran Pengetahuan

Untuk mengukur pengetahuan pernotong ayam digunakan 14 pertanyaan mengenai tatacara pemotongan ayam yang baik dan benar, terdiri dari pertanyaan benar dan salah. Responden pemotong ayam diharapkan dapat memberikan pilihan jawaban dalam bentuk "benar", "salah" atau "tidak tahu". Untuk jawaban yang benar diberi skor 3, sedangkan jawaban yang salah atau jawaban "tidak tahu" diberi skor 0. Jumlah skor untuk setiap responden peternak dihitung berdasarkan jawaban yang benar. Dengan demikian jumlah skor maksimum yang diperoleh responden dari seluruh jawaban adalah 3 x 14 = 42, sedangkan jumlah skor minimun adalah 0 x 14 = 0. Indeks dari tingkat pengetahuan pemotong ayam berdasarkan jawaban yang benar dapat dilihat pada Tabel 2.


(25)

Tabel 2 Indeks tingkat pemotong ayam berdasarkan jawaban yang benar

Indeks pengetahuan responden Skor

- Baik > 33

- Sedang 2 1 - < 3 3

- Buruk < 21

Peprofilan tempat pemotongan ayam/TPA dijaring informasinya dengan menggunakan kuesioner yang berisi tentang pertanyaan meliputi :

1 . Exiling bangunan dengan pertanyaan sebanyak 13 soal. Untuk jawaban yang benar diberi skor 4, dengan rentang skor jawaban 1- 4;

2. Peralatan pemotongan dengan pertanyaan sebanyak 10 soal. Untuk jawaban yang benar diberi skor 5, dengan rentang skor jawaban 1- 5;

3. Proses pemotongan ayam dengan pertanyaan sebanyak 12 soal. Untuk jawaban yang benar diberi skor 5, dengan rentang skor jawaban 1- 5;

4. Sanitasi personal dengan pertanyaan sebanyak 6 soal. Untuk jawaban yang benar diberi skor 5, dengan rentang skor jawaban 1- 5;

Kemudian dilanjutkan penjumlahan masing-masing nilai jawaban dan hasil penjumlahan diberikan skor.

Tabel 3 Indeks tingkat TPA berdasarkan jawaban yang benar

Indeks pemropilan TPA Skor

- Baik > 80

- Sedang > 50 - 80


(26)

3.6 Definisi Operasional

Untuk memberikan pengertian yang jelas dan agar dapat menghilangkan keraguan maka perlu dirumuskan difinisi operasional dari istilah peubah yang digunakan dalam penelitian antara lain yaitu:

1. Karakteristik Pemotong: merupakan ciri-ciri individu pemotong ayam yang relatif tidak berubah dalam waktu singkat. Data karakteristik pemotong ayam yang dimaksud disini meliputi umur, tingkat pendidikan, pengetahuan, pengalaman usaha, pendapatan usaha dan skala uasaha.

2. Tempat Pemotongan Ayam: adalah bangunan atau kompleks dengan desain dan syarat tertentu yang digunakan sebagai tempat pemotongan unggas bagi konsumsi masyarakat.

3. Umur: adalah usia responden pemotong ayam pada jarak ulang tahun terdekat.

4. Tingkat Pendidikan: adalah jumlah tahun dari jenjang pendidikan sekolah (pendidikan formal) yang pernah ditempuh pemotong ayam.

5. Pengetahuan: adalah merupakan tingkat penguasaan mengenai fakta-fakta yang berhubungan dengan aspek pengelolaan tempat pemotongan ayam, yang ditunjukkan oleh „skor indeks" dari uji pengetahuan yang dilakukan.

6. Pengalaman Usaha: adalah rentang waktu dari saat dimulainya kegiatan usaha pemotongan ayam sampai dilakukan wawancara. Ini diklasifikasikan kurang dari 5 tahun, 6-10 tahun dan lebih dari 10 tahun.

7. Pendapatan usaha: adalah penerimaan yang diperolah pemotong ayam dari hasil kegiatan usaha pemotongan ayam setiap bulan setelah dikurangai biaya produsi (penerimaan bersih).

8. Skala usaha: adalah merupakan skala yang dibagi dalam ernpat katagori "≤ 50 ekor/hari", "> 50 - 100 ekor/hari", ">100 - 200 ekor/hari" clan " > 200 ekor/hari".

3.7 Analisis Data

Data yang terkumpul dianalisis secara statistik dengan menentukan distribusi frekuensi, range, persentase, skor, dan analisis korelasi hubungan.

Data hubungan antara karakteristik pemotong ayam dan profil tempat pemotongan ayam dianalisis menggunakan analisis statistik non-parametrik, yaitu


(27)

koefisien korelasi rank Spearman (RS). Menurut Siegel (1992), perhitungan koefisien korelasi Rank Spearman (rs) dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

dimana :

rs = koefisien korelasi rank spearman n = jumlah sampel

d = selisih antara rangking suatu peubah bebas dengan rangking peubah tidak bebas i = nomor responden (1,2,3 ….n)

Rs = I - 6∑di2 (n3-n)


(28)

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Pemotong Ayam

Sebagian besar pemotong ayam di Jakarta Timur berumur di bawah 50 tahun (79.3%) dengan rincian umur 30-<40 tahun sebanyak 28.9% dan umur 40-<50 tahun sebanyak 50.4%. Sebanyak 20.7% pemotong ayam di Jakarta Timur berumur ≥50 tahun.

Hampir semua pemotong ayam di Jakarta Timur berpendidikan minimum SLTP (94.0%) dengan rincian pendidikan SLTP sebesar 52.2% dan SLTA sebesar 41.8%. Hanya sebagian kecil pemotongan ayam berlatar belakang pendidikan SD (6.0%).

Berdasarkan lama pengalaman usaha, sebagian besar pemotong ayam di Jakarta Timur telah menjalankan usahanya lebih dari 6 tahun (87.9%) dengan rincian pengalaman 6-10 tahun sebesar 40.2% dan pengalaman >10 tahun sebesar 47.7%. Hanya sebagian kecil pemotong ayam memiliki pengalaman usaha di bawah 6 tahun ( 12. 1%).

Sebagian besar pendapatan per bulan pemotong ayam di Jakarta Timur berkisar antara 500 000 dan 3 000 000 (88.1%) dengan rincian pendapatan >500 000-1 juta sebesar 26.1%, >1 juta-1.5 juta sebesar 23.1%, >1.5 juta-2_juta sebesar 17.2%, dan >2 juta-3 juta 21.6%. Hanya sebagian kecil pemotong ayam yang memiliki pendapatan per bulan di bawah 500 000 (9.7%) dan di atas 3.000.000 (2.2%).

Berdasarkan skala usaha pemotongan ayam, umumnya pemotong ayam di Jakarta Timur memotong antara ≤50 dan 200 ekor per hari (96.2%) dengan rincian pemotongan ≤50 ekor per hari sebesar 32.8%, >50-100 ekor per hari sebesar 43.3%, dan >100-200 ekor per hari sebesar 20.1%. Sebagian kecil skala usaha pemotong ayam di Jakarta Timur >200 ekor/hari (3.7%). Secara rinci distribusi umur, tingkat pendidikan, lama pengalaman usaha, pendapatan, dan skala usaha dapat dilihat pada Tabel 4.


(29)

Tabel 4 Distribusi pemotong ayam berdasarkan umur, pendidikan, pengalaman

usaha, pendapatan, skala usaha di Kota Administrasi JakartaTimur

karakteristik Jumlah Presentasi

Umur 28.9

≥ 30 – <40 tahun 35 50.4

≥ 40 – <50 tahun 61 20.7

≥ 50 tahun 25

Tingkat pendidikan

SD 8 6.0

SLTP 70 52.2

SLTA 56 41.8

Pengalaman Usaha

1 – 5 tahun 16 12.1

6 – 10 tahun 53 40.2

> 10 tahun 63 47.7

Pendapatan

≥500.000 13 9.7

>500.000 – 1.5 juta 35 26.1

>1 juta – 1.5 juta 31 23.1

1.5 juta – 2 juta 23 17.2

>2juta – 3 juta 29 21.6

>Juta – 3.5 juta 3 2.3

Skala usaha

≤50 ekor/ hari 44 32.8

>50 – 100 ekor/hari 58 43.3

>100 – 200 ekor/ hari 27 20.1


(30)

4.1.1. Hasil pengamatan menunjukkan, tidak terdapat hubungan antara umur responden pemotong ayam dengan profil tempat pemotongan ayam. Nilai korelasi (r) sebesar 0.082. Hasil ini memberikan indikasi tidak terdapat kecenderungan kuat bahwa semakin tinggi usia responden pemotong ayam sernakin baik sikap mereka terhadap pengelolaan tempat pemotongan ayam. Sebagaimana pendapat Betting Haus (Halim, 1992:17), terdapat perbedaan diantara individu yang berbeda usia.

4.1.2. Nilai korelasi antara tingkat pendidikan responden peternak terhadap pengelolaan tempat pemotongan ayamnya diperoleh sebesar -0.130. Secara statistik nilai korelasi ini tidak signifikans. Dengan hasil ini tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan responden pengelolaan tempat pemotongan ayarn. Pendidikan merupakan faktor penting dalam menetukan kemampuan usaha seseorang.

4.1.3. Hasil pengamatan rnemperlihatkan pengalaman usaha diperoleh korelasi positip yang signifikans sebesar 0.210. Dengan kata lain, terdapat kecenderun-an semakin tinggi pengalaman berusaha responden pemotong ayam sernakin baik dalam mengelola usahanya. 4.1.4. Tingkat pendapatan mcmpunyai korelasi (r) 0.204, memberikan hasil yangg signifikans. Dengan kata lain. Tingkat pendapatan merupakan variabel yang secara nyata dapat menunjukkan semakin tinngi pendapatan semakin baik responden pemotong ayarn dalam mengelola tempat pemotongan ayam. 4.1.5. Nilai korelasi skala usaha 0.053, tergolong rendah. "hujuan berusaha mencerminkan tingkat ketergantungan ekonomik responden pernotong ayarn terhadap kegiatan tempat pernotongan ayarnnya. Skala usaha dapat menimbulkan motivasi dalam pengelolaan kegiatan usaha tempet pemotonganayam. 4.1.5. Skala usaha menunjukkan tidak ada assosiasi yang nyata terhadap profil tempat pemotongan ayam. Ini memperlihatkan bahwa profil tempat pemotongan ayam tidak akan dapat dipengaruhi dengan karakteristik usaha. Dengan pengertian skala usaha pemotongan > 200 ekor per hari tidak menunjukkan tempat


(31)

4.2 Pengetahuan Pemotong Ayam

Kebanyakan pemotong ayam di Jakarta Timur memiliki kategori pengetahuan tentang pemotongan ayam yang baik berkisar dari kategori sedang sampai balk (94%) dengan rincian kategori sedang sebesar 60.9% dan kategori baik sebesar 33.1%. Pengetahuan pernotong ayam dijaring dengan jawaban pertanyaan yang di.jawab dengan benar, salah atau tidak tahu tentang pengetahuan proses pemotongan ayam yang benar. Karakteristik pemotong ayam dibagi dalam tiga katagori satuan, yaitu baik dengan skor >70, sedan- dengan skor >40 - 70, dan buruk dengan skor <40. Distribusi kategori pengetahuan pemotong ayam tentang pemotongan ayarn yang baik dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Karakteristik pengetahuan pemotong ayam tentang tempat pemotongan ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur

Katagori Pengetahuan Jumlah Persentase

Buruk 8 6.0

Sedang 81 60.9

Baik 44 33.1

Jumlah 133 100

Pengetahuan responden pemotong ayam mengenal pengelolaan tempat pemotongan ayam merniliki hubungan yang kuat terhadap kepentingan tempau usahanya. Keadaan ini rnenunjukkan kcccndcrungan bahwa sernakin pcngctahuan responden pernotong ayam sernakin baik pula pengelolaan tempat pemotongan ayamnya. Muller (1986) dalarn bukunya „Measuring Social Attitudes", secara implisit mengatakan bahwa pengetahuan individu mengenai suatu objek akan menumbuhkan sikap positip terhadap objek. Responden pemotong ayam yang mempunyal pengetahuan baik akan mengkelola usahanya mengikuti pengalaman yang pernah dilihatnya dirnana akan melakukan proses setiap tahapan agar memghasilkan ayam potong yang baik tampilan maupun warnanya. Pemotongan ayam yang dianjurkan adalah adanya jeda waktu antara kedatangan ayarn potong :' dengan waktu penyembelihan disamping tatacara dan alat yang dipergunakan.


(32)

Adanya tempat pengolahan tempa yang terpisah antara proses pengeluaran isi perut dengan dengan proses partizing.

4.3 profil Tempat Pemotongan Ayam

Hampir semua tempat pemotongan ayarn (TPA) di Kota Administrasi Jakarta Timur berdasarkan praktek higiene sanitasi menunjukkan profit dengan kategori sedang sampai baik (95.5%) dengan kategori profil baik 20.9% dan sedang 74.6%. Sebagian kecii tempat pemotongan ayam menunjukkan protil buruk (4.5%). Secara rinci, profit tempat pemotongan ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Profil tempat pernotong ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur

Profil TPA Jumlah Persentasi

Baik (skor >70) 28 20.9

Sedang ( skor >40 - 70) 100 74.6

Buruk (skor <40) 6 4.5

Jumlah 134 100

4.4 Distribusi Karakteritik Pemotong Ayam Berdasarkan Profil Tempat Pemotongan Ayam

4.4.1 Distribusi Umur Pemotong Ayam Berdasarkan Profil Tempat pemotongan Ayam

Sebagian besar pemotong ayam terdistribusi utama pada TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur dengan kategori sedang dan baik, dengan kisaran umur mulai dari 40 sampai 50 tahun (47.1 %), dengan rincian pada kategori profit TPA sedang sebesar 36.4% dan pada kategori profil TPA baik sebesar 10.7%. Kebanyakan pemotong ayam berumur 30 sampai 40 tahun berada pada kategori profil TPA sedang (21.5%) sampai baik (5.8%). Semua pemotong ayam berumur di atas 50 tahun hanya berada pada kategori profil TPA sedang (14.9%) sampai


(33)

baik (5.8%). Distribusi umur pemotong ayam berdasarkan kategori profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur dapat dilihat lebih rinci pada Tabel 7.

Tabel 7 Distribusi umur pemotong ay am berdasarkan kategori profit TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur

Kategori profil tempat pemotongan ayam

Karakteristik umur Kategori profil tempat pemotongan ayam Jumlah Buruk Sedang Baik

≥30 - < 40 tahun 2 26 7 35

1.7% 21.5% 5.8% 28.9%

≥40 - < 50 tahun 4 44 13 61

3.3% 36.4% 10.7% 50.4%

≥50 tahun 0 18 7 25

0% 14.9% 5.8% 20.7%

Jumlah

6 5.0%

88 72.7%

27 22.3%

121 100%

Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Bettinghaus (Halim, 1992:17), terdapat perbadaan diantara individu yang berbeda usianya. Perbedaan ini rnungkin terletak dalarn segala sifat yang melekat diantara individu yang muda dan yang tua. Oleh karena itu terlihat bahwa tidak ditemukan tempat pemotongan ayarn yang mempunyai profil buruk yang dikelola oleh pemotong ayam dengan umur diatas 50 tahun.

4.4.2 Distribusi Pendidikan Pemotong Ayam Berdasarkan Profil Tempat Pemotongan Ayam

Latar belakang pendidikan pemotong ayam berdasarkan profil TPA banyak terdapat pada tingkat pendidikan SLTP dan SLTA pada kategori profil sedang dan baik (89.6%). Pemotong ayam berlatar belakang SD hanya ditemukan pada kategori profil sedang (2.2%) dan baik (3.7%). Pemotong ayam dengan latar belakang pendidikan SLTP urnumnya berada pada kategori profil TPA sedang (40.3%) dan baik (9.7%), sedangkan pemotong ayam berpendidikan SLTA banyak dijumpai pada kategori profil TPA sedang (32.1%) dan baik (7.5%).


(34)

(35)

Secara rinci distribusi umur pemotong ayam berdasarkan profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Distribusi pendidikan pemotong ayam berdasarkan kategori profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur

Karakteristik pendidikan

Kategori profil tempat pemotongan ayam

Jumlah Buruk Sedang Baik

SD

0 3 5 8

0% 2.2% 3.7% 6.0%

SLTP

3 54 13 70

2.2% 40.3% 9.7% 52.2%

SLTA

3 43 10 56

2.2% 32.1% 7.5% 41.8%

Jumlah

6 100 28 134

4.5% 74.6% 20.9% 100%

Pada tabel 7 disajikan distribusi responden pemotong ayam berdasarkan pendidikan dan berdasarkan katagori profil tempat pemotongan ayam. Terlihat bahwa pendidikan "rendah" mempunyai katagori buruk. Disamping itu cukup besar pula responden pemotong ayam dengan katagori "sedang" yang terdistribusi ke dalam karakteristik pendidikan SLTP maupun SLTA. Secara diskriptif' pola distribusi seperti ini mencerminkan perbedaan pengelolaan tempat pemotong ayam yang kuat diantara ketiga karakteristik pendidikan responden pemotong ayam.

4.4.3 Distribusi Tingkat Pengetahuan Pemotong Ayam Berdasarkan Profil Tempat Pemotongan Ayam

Tingkat pendidikan pemotong ayam berdasarkan profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur terdistribusi terbanyak pada tingkat pendidikan sedang sampai baik pada kategori profil TPA sedang dan baik. Pemotong ayam dengan tingkat pengetahuan buruk lebih banyak ditemukan pada kategori profil TPA buruk (8.0%) dan sedang (5.3%), tetapi tidak ditemukan sama sekali pada kategori profil TPA baik. Pemotong ayam dengan tingkat pengetahuan sedang lebih banyak


(36)

dijumpai pada kategori profil TPA sedang (5 I.1 %) dan baik (6.8%). Selanjutnya pemotong ayam dengan tingkat pengetahuan baik umumnya ditemukan pada kategori profil TPA sedang (18.0%) dan baik (14.3%). Distribusi tingkat pengetahuan pemotong ayam berdasarkan profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Distribusi tingkat pengetahuan pemotong ayam berdasarkan kategori profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur

Karakteristik pengetahuan

Kstegori profil tempat pemotongan ayam Jumlah Buruk Sedang Baik

Buruk 1 7 0 8

8.0% 5.3% 0% 6.0%

Sedang 4 68 9 81

3.0% 51.1 6.8% 60.9%

Baik 1 24 19 44

8.0% 18.0% 14.3% 33.1%

Jumlah

6 99 28 33 4.5% 74.4% 21.1% 100%

Hubungan pengetahuan dengan katagori profil tempat pemotongan ayam akan mempengaruhi sikap individu terhadap objek usahanya. Pengetahuan yang mempunyai karakteristik baik akan menumbuhkan sikap yang baik terhadap usaha tempat pemotongan ayam dan sebaliknya penegtahuan yang buruk dari responden pemotong ayam akan cenderung menimbulkan profil tempat pemotongan ayam yang buruk pula.


(37)

4.4.4 Distribusi Pengalaman Usaha Pemotong Ayam Berdasarkan Profil Tempat Pemotongan Ayam

Lama pengalaman usaha pemotong ayam berdasarkan profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur umumnya dijumpai pada pengalaman di atas 6 tahun di kategori profit TPA sedang (84.9%). Pemotong ayam dengan pengalaman usaha 1-5 tahun hanya ditemukan pada kategori profil TPA buruk (1.5%) dan sedang (10.6%). Pemotong ayam dengan pengalaman usaha 6-10 tahun kebanyakan berada pada kategori profil TPA sedang (28.0%) dan baik (9.2%). Selanjutnya pemotong ayam dengan pengalaman usaha di atas 10 tahun hanya ditemukan pada kategori profil TPA sedang (35.6%) dan baik (12.1%), tidak dijumpai pada kategori profil TPA buruk Tabel 10.

Tabel 10 Distribusi pengalaman usaha pemotong ayam berdasarkan kategori profil "!'PA di Kota Administrasi Jakarta Timur.

Karakteristik pengetahuan

Kstegori prifil tempat pemotongan ayam Jumlah Buruk Sedang Baik

1 – 5 Tahun 2 14 0 16

1.5% 10.6% 0% 12.1%

6 – 10 tahun 4 37 12 53

3.0% 28.0% 9.2% 40.2%

>10 tahun 0 47 16 63

0% 35.6% 12.1% 47.7%

Jumlah

6 98 28 132

4.5% 74.2% 21.3% 100%

Perbedaan pengalaman berusaha ini diduga memiliki implikasi terhadap perbedaan kemarnpuan dalam pola pengelolaan tempat pemotongan ayam. Perbedaan pengalaman ini pada akhirnya dapat menimbulkan sikap yang berbeda pada responden pemotong ayam. Hasil pengamatan memperlihatkan korelasi positip yang signifikans (r = 0.210). Dengan kata lain, terdapat kecenderungan semakin tinggi pengalaman berusaha semakin baik profil tempat pemotongan ayamnya.


(38)

4.4.5 Distribusi Tingkat Pendapatan Pemotong Ayam Berdasarkan Profil Tempat Pemotongan Ayam

Umumnya tingkat pendapatan pernotong ayarn berdasarkan profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur terdistribusi pada kategori sedang dan baik dengan pendapatan berkisar antara 500 ribu dan 3 juta rupiah per bulan (84.3%). Pendapatan pemotong ayam di bawah Rp 500 ribu per bulan hanya ditemukan pada kategori profil TPA buruk (0.7%) dan sedang (9.0%). Pemotong ayarn dengan tingkat pendapatan Rp 500 000 - Rp I 000 000 umumnya ditemukan pada kategori profil TPA buruk (3.0%) dan sedang (20.9%), sedangkan pada kategori profil TPA baik ditemukan 2.2%. Pemotong ayam dengan tingkat pendapatan Rp 1 000 000 - Rp 1 500 000 umurnnya dijumpai pada kategori profil TPA sedang (12.7%) dan baik (9.7%). Pemotong ayam dengan tingkat pendapatan di atas Rp 1 500 000 per bulan tidak dijurnpai pada kategori profil TPA buruk.

Pemotong ayam dengan tingkat pendapatan antara Rp 1 500 000 - Rp 2 000 000 ditemukan pada kategori profil TPA sedang (12.7%) dan balk (4.5%). Pernotong ayam dengan tingkat pendapatan Rp 2 000 000 - Rp 3 000 000 diternukan pada kategori profil TPA sedang (17.9%) dan baik (3.7%). Selanjutnya pemotong ayam dengan tingkat pendapatan di atas Rp 3 000 000 sampai Rp 3 500 000 per bulan ditemukan pada kategori profil TPA sedang (1.5%) dan baik (0.7%). Secara rinci distribusi tingkat pendapatan pemotong ayam berdasarkan protil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur dapat dilihat pada Tabel 11.


(39)

Tabel 11 Distribusi pendapatan pemotong ayam berdasarkan kategori profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur.

Karakteristik pengetahuan

Kategori prifil tempat pemotongan ayam Jumlah Buruk Sedang Baik

≤50.000

1 12 0 13 0.7% 9.0% 0% 9.7%

>500.000 – 1 juta

4 28 3 35 3.0% 20.9% 2.2% 26.1%

>1 juta – 1.5 juta

1 17 13 31 0.7% 12.7% 9.7% 23.1%

>1.5 juta – 2 juta

0 17 6 23 0% 12.7% 4.5% 17.2%

>2 juta – 3 juta

0 24 5 29 0% 17.9% 3.7% 21.6%

>3 juta – 3.5 juta

0 2 1 3 0% 1.5% 0.7% 2.2%

Jumlah

6 100 28 134 4.5% 74.6% 20.9% 100%

Pada tabel 10, disajikan distribusi responden pemotong ayam berdasarkan karakter pendapatan terhadap profil tempat pemotongan ayam. Terlihat distribusi pendapatan menurut protil tempat pemotongan ayam cenderung hanya terdistribusi pada profit tempat pemotongan ayarn yang "sedang" dan "baik". Pola distribusi seperti ini dapat menjelaskan kesimpulan penelitian yang diperoleh, yakni kenyataan hubungan antara pendapatan usaha dengan profil tempat pemotongan ayam.

4.4.6 Distribusi Skala Usaha Pemotong Ayam Berdasarkan Profit Tempat Pemotongan Ayam

Berdasarkan kategori profil TPA, sebagian besar pemotong ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur banyak terdistribusi pada skala usaha di bawah 200


(40)

ekor per hari dengan kategori profil TPA sedang dan baik (91.7%). Pemotong ayam dengan skala usaha <50 ekor per hari banyak dijumpai pada kategori profit TPA sedang (27.5%) dan baik (4.5%). Pemotong ayam dengan skala usaha 50100 ekor per hari umumnya dijumpai pada kategori profil TPA sedang (29.9%) dan baik 11.2%). Selanjutnya, pemotong a\ a m dengan skala usaha 100 - 200 ekor per hari ditemukan terbanyak pada kategori profil TPA sedang (14.1%) dan baik (4.5%). Pemotong dengan skala usaha pernotongan di atas 200 ekor per hari hanya terdapat di kategori profil TPA sedang (3.0%) dan baik (0.8%), tidak ditemukan pada kategori profil TPA buruk Tabel 12 .

Tabel 12 Distribusi skala usaha pemotong ayam berdasarkan kategori profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur.

Karakteristik pengetahuan

Kstegori prifil tempat pemotongan ayam

Jumlah Buruk Sedang Baik

≤50 ekor/ hari

1 37 6 44 0.7% 27.5% 4.5% 32.8%

>50 – 100 ekor/hari

3 40 15 58 2.2% 29.9% 11.2% 43.3%

>100 – 200 ekor/hari

2 19 6 27 1.5% 14.1% 4.5% 20.1%

>200 ekor/hari

0 4 1 5 0% 3.0% 0.8% 3.8%

Jumlah

6 100 28 134 4.5% 74.6% 20.9% 100%

4.5 Hubungan Karakteristik Pemotong Ayam dengan Profil Tempat Pemotongan Ayam

Berdasarkan analisis statistik. karakteristik pemotong ayam memiliki hubungan nyata (P<0.05) dengan profil tempat pemotongan ayam (TPA) di Kota Administrasi Jakarta Timur, yaitu pengetahuan. pengalaman usaha, dan


(41)

pendapatan pemotong ayam, namun hubungannya tidak terlalu kuat dengan koefisien relasi masing-masing berturut-turut 0.376, 0.210, dan 0.204. Karakteristik lainnya (umur, pendidikan, clan skala usaha) tidak memiliki hubungan nyata dengan profil TPA di Kota Administrasi Jakarta Timur Tabel 13.

Tabel 13 Hubungan antara karakteristik pemotong ayam clan profil tempat pemotongan ayam di Kota Administrasi Jakarta Tibur

Karakteristik pemotong ayam Nilai X2 Koefisien korelasi

Umur 2.085 0.084

Pendidikan 9.088 -0.130

Pengetahuan 20.882* 0.376*

Pengalaman usaha 10.627* 0.2 10*

Pendapatan 21.770* 0.204*

Skala usaha 3.963 0.053 *

* mempunyai hubungan secara nyata (P<0.05)

Pengetahuan pemotong ayam terhadap tatalaksana serta sanitasi clan higiene profit tempat pemotongan ayam berasosiasi positif terhadap profit tempat pemotongan ayam, artinya semakin tinggi pengetahuan pemilik tempat pemotongan ayam maka akan semakin baik profil tempat pemotongan ayamnya. Hal ini disebabkan karena bila seseorang mempunyai pcngctahuan yang tinggi maka ia selalu berupaya mencari yang baru clan baik.

"I'erdapatnya hubungan nyata antara pengalaman usaha clan profil tempat pemotongan ayam berkaitan dengan anggapan para pemotong ayam di daerah penelitian bahwa profil tempat pemotongan ayam dapat meningkatkan pendapatan clan kemampuan ekonomi mereka yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan. Hal ini sesuai dengan penelitian Maryam (1994) yang menyatakan bahwa pengalaman masyarakat dalam suatau usaha akan membuat masyarakat untuk berusaha lebih maju atau berpartisipasi.

Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa besar kecilnya pendapatan dari usaha yang diperoleh pemotong ayam akan merangsang pemotong ayam


(42)

untuk memperbaiki dan melengkapi sarana yang dimilikinya. Penelitian Artika (1998) menyatakan bahwa besar atau kecilnya pendapatan yang diperoleh petani akan merangsang mereka untuk terlibat dan berpartisipasi penuh dalam usaha.


(43)

S I M P U L A N D A N S A R A N

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini di peroleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Sebagian besar usia pemotong ayam termasuk dalam rentang usia produktif (di bawah 50 tahun), mempunyai latar belakang pengalaman dalam mernotong ayam tergolong lama ( diatas 6 tahun), clan pendidikan formal yang dicapai umumnya hingga SLTP dan SLTA. Namun ada sebagian kecil pemotong ayam yang berpendidikan hanya tingkat Sekolah Dasar. Tingkat pendapatan perbulan sebagian besar pemotong berkisar antara Rp 500 000,- - Rp 3 000 000,-, dengan skala usaha antara 50 ekor per hari hingga 200 ekor per hari.

Sedangkan pengetahuan sebagian besar pemotong mengenai pemotongan ayam yang baik dan benar tergolonga sedang (60%) sampai baik (33. I%).

2. Secara keseluruhan profit TPA dalam hat lokasi bangunan, peralatan pernotongan, proses pemotongan clan higiene personal tergolong sedang. Hanya sebagian kecil mempunyai profit TPA didaearah studi yang tergolong buruk.

3. Sebagaian besar profit TPA dengan katagori sedang tersebar merata baik dengan latar belakang karakter umur, karakter pendidikan, karakter pengetahuan, karakter pengalaman, maupun karakter skala usaha. Demikian juga kategori profit TPA sedang dengan pandapatan >500 000 - 3 juta tersebar secara merata.

4. Karakteristik pemotong ayam yang memiliki hubungan nyata dengan profit TPA adalah pengetahuan, pengalaman usaha dan pendapatan. Namun demikian dari korelasi ketiga variabel ini dengan profit TPA tergolong lemah, yakni masing-masing 0.376 untuk tingkat pengetahuan, 0.210 untuk pengalaman usaha dan 0.204 untuk pendapatan.


(44)

5.2 Saran

1. Kegiatan usaha pemotongan ayam di Kota Administrasi Jakarta Timur perlu ditata kembali, khususnya terkait dengan lokasi, serta praktek higiene dan sanitasi di TPA.

2. Guna meningkatkan pengetahuan dan bimbingan teknis terkait pengelolaan usaha dan praktek higiene dan sanitasi terhadap para pemotong ayam perlu direncanakan dan diprogramkan secara berkala.

3. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang higiene dan cemaran pada daging ayam yang dipotong di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur.


(45)

DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, Sirait C.H., Triyantini, Hadi S., dan Tribudi M. 1992. Laporan Penelitian Residu Pestisida Antibiotika dan Standardisasi Kualitas Karkas Broiler untuk Ekspor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bogor, Bogor.

Agus Setiono, Benny. (2001). Pengaruh Karakteristik Organisasi, Karakteristik Individu dan Karakteristik Pekerjaan Terhadap Kinerja Karyawan, dalam Aplikasi Administrasi; Media Analisa Masalah Administrasi Vol. 2 No. 2 Desember, FIA Hang Tuah, Surabaya.

Anonim. 2003. Laporan Tahunan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Propinsi DKI Jakarta Tahun 2003. Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta, Jakarta.

Anonim. 2004. Laporan Hasil Pembinaan Tempat Pernotongan Ayam (TPA)/Tempat Penampungan Ayam (TPnA) Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Kotamadya Jakarta Timur Tahun 2004. Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Kotamadya Jakarta Timur, Jakarta.

Artika, DA. 1998. Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Kebijaksanaan Pembangunan. Tesis. Program Pascasarjana IPB. Tidak dipublikasikan.

Capita R, Prieto M, Calleja CA. 2004. Sampling Methods for Microbiologycal Analysis of Red Meat and Poultry Carcases, J Food Prot 67 (6) : 13031308. Halim, Neddy R. 1992. Hubungan Karakteristik Sosial Ekonomi dengan Perilaku

Komunikasi Anggota Kelompok Simpan Pinjam KUD dan Pemanfaatan Kredit Pedesaan di Kabupaten Cianjur-Jawa Barat. Tesis Magister Sains Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Hill, T.A., 2005. Character First! Kimray Inc., http://www.charactercities.org./down loads/publ ications/\\'hat i sc haracter. pd f'

International Meat and Poultry HACCP Alliance. 1996. Generic HACCP Model for Poultry Slaughter.

Kibler R.R., Cegala D.J., Watson K.W., Barker L.L., dan Miles D.T. 1981. Objectives for Instruction and Evaluation. 2"d Edition. Allin and Bacon, Boston.

Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus lbukota Jakarta Nomor 459 Tahun 1996. Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penampungan dan Pemotongan Unggas Serta Peredaran Daging Unggas Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta.


(46)

Kotler P. 1980. Marketing Management Analysis, Planning and Control. Edisi Ke-4. Prentice Hall, New Jersey.

Maryam, A. 1994. Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Proyek Pemerintah. Tesis. Program Pascasarjana I PB. Tidak dipublikasikan.

Nasseri, T. 1996. Knowledge leverage: The ultimate Advantage. http://CMyfiles/nasseri.htm. (14 Maret 2008).

Robbins, Stephen P. (1996). Perilaku Organisasi : Konsep, Kontroversi, Aplikasi, Jilid I dan 2, (Edisi Bahasa Indonesia), PT Prehallindo, Jakarta.

Siegel S. 1992. Statistik Non Parametric untuk Ilmu-ilmu Sosial. Gramedia. Jakarta.

Teng, S. and S. Hawamdeh. 2002. Knowledge management in public libraries. Aslib Proceedings 54: 3.

T.L.Grittith, J.E. Sawyer, M.A. Neale. Virtualness and Knowledge in Terms : Managing of the Love Triangle of Organizations, Individuals and Information Technology. MIS Quarterly Vol. 27 No.2, Juni 2003.

Thoha, Miftah, (1983), Perilaku Organisasi; Konsep Dasar dan Aplikasinya, PT Radja Grafindo Perdasa, Jakarta.

Winkel W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Gramedia, Jakarta.

Zahid A. 1997. Hubungan Karakteristik Peternak Sapi Perah Dengan Sikap Dan Perilaku Aktual Dalam Pengelolaan Limbah Peternakan.). Tesis. Program Pasca Sarjana IPB. Tidak dipublikasikan.


(47)

(48)

KUESIONER PEMOTONG AYAM.

Karakteristik Pemotong Ayam

1. Nama : ……….

2. Umur : ……….

3. Alamat : - Kelurahan : ……… - Kecamatan: ………

4. Pendidikan formal Pemotong :

- SD/sederajat : ... tahun - SLP/sederajat : ... tahun - SLA/sederajat : ... tahun - Perg. Tinggi/sederajat : ... tahun

5. Jenis/bangsa ayam potong : Broiler-Layer afkir---Kampung

6. Tujuan dalam usaha pemotongan ayam (tandai jawaban yang benar) :

Usaha pokok

Usaha sambilan

Lain-lain, sebutkan :

7. Pekerjaan lain selain usaha memotong ayam :

Petani

Pegawai Negeri Sipil

Pegawai Swasta


(49)

Lain-lain, sebutkan

8. Luas lahan yang digunakan untuk usaha pemotongan ayam (tidak termasuk rumah tinggal dan halamannya) : hektar/m2.

9. Jarak lokasi tempat pemotongan ayam dengan pemukiman penduduk setempat terdekat meter

10. Jarak lokasi tempat pemotongan ayam dengan sungai/kali terdekat : Jarak : meter; Nama sungai/kali : .

11. Apakah proses pemotongan menggunakan alat :

Mesin

Semi mesin

Mannual

12. Pengalaman sebagai pemotong ayam :

1 - 5 tahun

6 - 10 tahun

lebih dari 10 tahun

13. Kapasitas pemotongan perhari :

50 ekor/hari 100 ekor/hari 200 ekor/hari 300 ekor/hari >300 ekor/hari


(50)

14. Berapakah pendapatan yang bapak terima setiap bulan dari usaha pemotongan ayam ?

≤500.000

501.000 - 1000.000

1.001.000 - 1.500.000

1.501.000 - 2.000.000

2.001.000 - 3.000.000

3.001.000 - 3.500.000

15. Berapa jumlah tenaga kerja yang ada dalam kegiatan usaha pemotongan ayam bapak :

a. Tenaga kerja keluarga : ... orang b. Tenaga kerja luar : ... orang

16. Dari manakah sumber air yang bapak gunakan untuk keperluan hidup sehari-hari (mencuci, memasak, mandi dan minum) ?

Sungai/kali

Sumur

Ledeng


(51)

17. Apakah air yang dipergunakan telah diperiksa oleh Dinas Kesehatan/ pertambangan ?

Pernah

Tidak pernah

II. BANGUNAN

1. Apakah lokasi TPA berada di permukiman ?

2. Apakah lokasi TPA di berada di kawasan usaha ?

3. Apakah bangunan TPA terpisah dari bangunan lain ?

4. Apakah bangunan TPA bagian lain dari bangunan induk ?

5. Apakah ada tempat penyembelihan ?

6. Apakah ada tempat kandang/keranjang penampungan unggas ?

7. Apakah ada tempat khusus untuk pembuangan kotoran ?

8. Apakah ada tempat pencelupan/perebusan dan pencabut bulu ?

9. Apakah ada meja/tempat penanganan karkas ?

10.Apakah lantai bangunan kedap air, mengarah kearah saluran Pembuangan ?

11.Apakah tempat penanganan usus terpisah dari tempat lain ?


(52)

13.Apakah bangunan kamar mandi/wc terpisah dari lokasi TPA ?

III.ALAT

1. Apakah ada alat penggantung untuk proses pemotongan ?

2. Apakah alat penggantung dengan bahan dasar anti karat ?

3. Apakah alat penggantung dengan bahan dasar dari kayu?

4. Apakah ada alat pencabut bulu ?

5. Apakah ada meja/ruangan untuk pemeriksaan jerohan ?

6. Apakah ada alat untuk pencelupan (Scalding tank) ?

7. Apakah ada alat/tempat pencucian giblet/lemak ?

8. Apakah mempunyai persedian air bersih ?

9. Apakah mempunyai air panas untuk pencelupan dan mencuci peralatan ?

10. Apakah mempunyai pisau yang tajam ?


(53)

IV.PROSES

1. Apakah penyembelihan dilakukan oleh orang muslim ?

2. Apakah penyembelihan dilakukan menghadap kiblat ?

3. Apakah penyembelihan dengan membaca Basmallah ?

4. Apakah dilakukan pemeriksaan antemortem ?

5. Apakah dilakukan pemeriksaan postmortem ?

6. Apakah karkas dicelupkan pada cairan pemutih/pengawet ?

7. Apakah karkas disimpan terpisah dari Jerohan ?

8. Apakah karkas yang telah dibersihkan direndam dalam air dingin /air +es?

9. Apakah karkas yang telah dibersihkan diletakkan : - diatas lantai + alas ?

ƒ Diatas lantai tanpa alas ?

ƒ Dalam karung ?

ƒ Dalam keranjang ?

ƒ Dalam ember ?


(54)

10. Apakah karkas diangkut menggunakan wadah /tempat khusus ?

11. Apakah karkas diangkut menggunakan kendaraan khusus ?

12. Tempat pengiriman ke lakosi penjualan menggunakan alat :

ƒ Boks tertutup

ƒ Karung

ƒ Ember

ƒ Diikat tali/raffia

V. PERSONAL

1. Apakah pemotong cuci tangan dahulu sebelum bekerja ?

2. Apakah kuku tangan pemotong panjang/hitam ?

3. Apakah pemotong menggunakan sarung tangan ?

4. Apakah pemotong memakai pakaian khusus/celemek ?

5. Apakah pemotong menderita luka pada kulit/korengen ?

6. Apakah pemotong berambut gondrong ?

VI. PENGETAHUAN PEMOTONG AYAM

Untuk mengetahui pengetahuan pemotong ayam saudara dimohon membaca pernyataanpernyataan berikut dengan teliti. Setelah membaca setiap pernyataan, silahkan berikan jawaban saudara sejujurnya terhadap pernyataan tersebut. Jawaban dilakukan dengan memberi tanda silang (X) pada salah satu kolom jawaban, yakni "benar","salah",atau "tidak tahu".


(55)

Pertanyaan Jawaban

Benar Salah Tidak tahu

1. TPA yang berlokasi dipermukiman dapat menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan

…... …... …...

2. Dengan menyediakan tempat khusus pembuangan kotoran dapat menjamin karkas yang sehat dan bersih

…... …... …...

3. Pencelupan dengan air panas akan mematikan kuman-kuman pada bulu ayam sehingga daging telihat bersih

…... …... …...

4. Agar menghindari pencemaran lingkungan penanganan kotoran dan bulu ayam sebaiknya dengan cara menampungnya

…... …... …...

5. Lantai yang kedap air dan miring mengarah kea rah saluran agar tidak terjadi genangan yang memungkinkan perkembangan kuman

…... …... …...

6. Manfaat pencelupan air panas dan alat pencabut bulu adalah agar bulu mudah dicabut dankarkas yang dihasilkan bersih

…... …... …...

7. Dalam proses pemotongan sangat diperlukan penggunaan air bersih agar produk tidak mengandung kuman.

…... …... …...

8. Tempat pemotogan tidak perlu dipisahkan dari tempat pencelupan agar memudahkan proses pemotongan

…... …... …...

9. Tempat pemotongan tidak perlu dipisahkan dari tempat penanganan perkakas

…... …... …...

10. Untuk menghindari pencemaran dari kuman, perlu pembersihan lantainya sebelum bekerja

…... …... …...

11. Untuk mengurangi rasa sakit pada waktu pemotongan maka dibutuhkan alat pengasahpisau.

…... …... …...

12. Setiap kegiatan pemotongan ayam seharusnya dilakukan oleh orangmuslim dengan membaca basmalalah.

…... …... …...

13. Pemotong ayam berkewajiban memeriksa ayamnya sebelum dipotong agar ayam yang sakit tidak ikut terpotong.

…... …... …...

14 Penggunaan obat ayam / formalin untuk mendapatkan produk karkas yang bersih dan putih tidak berbahaya terhadp kesehatan.

…... …... …...

 


(56)

Tujuan usaha

Count %

Pokok 129 98.5.%

Sambilan 2 1.5%

Total 131 100.0%

 

Tujuan usaha

Count %

1 – 5 tahun 16 12.1%

6 – 10 tahun 53 40.2%

>10 tahun 63 47.7%

Total 132 100.0%

 

Pengalaman sebagai pemotong

Count % <=500.000

>500.000 – 1 juta >1 juta – 1.5 juta >1.5 juta – 2 juta >2 juta – 3 juta >3 juta – 3.5 juta Total

 

Tingkat pengetahuan

Count %

Baik 44 33.1%

Sedang 81 60.9%

Buruk 8 6.0%


(57)

Pendidikan

Count %

SD 8 6.0%

SLTP 70 52.2%

SLTA 56 41.8%

Total 134 100.0%

 

Umur

Count %

<30 - <40 tahun 53 28.9%

<40 - <50 tahun 61 50.4%

>= 50 tahun 25 20.7%

Total 121 100.0%

 

Kapasitas pemotongan/ hari

Count %

<=50 ekor/ hari 44 32.8%

>50 – 100 ekor/ hari 58 43.3%

>100 – 200 ekor/ hari 27 20.1%

>200 ekor/ hari 5 3.7%

Total 134 100.0%

 

Tingkat pengetahuan

Count %

Buruk 6 4.5%

Sedang 100 74.6%

Baik 28 20.9%

Total 134 100.0%


(58)

Kat_Umur * Profil TPA

Crosstab

Profil TPA Total

Buruk Sedang Baik

Kat_umur <30 - <40 tahun Count 2 26 7 35

% of total 1.7% 21.5% 5.8% 28.9%

<40 - <50 tahun Count 4 44 13 61

% of total 3.33% 36.4% 10.7% 50.4%

>= 50 tahun Count 0 18 7 25

% of total 0% 14.9% 5.8% 20.7%

Count 6 88 27 121

Total % of total 5.0% 72.7% 22.3% 100.0%

Chi-Square teste

Value df Asymp. Sig

(2(sided)

Person Chi Scuare 2.085a 4 .720

Likelihood ratio 3.269 4 .514

Linier-by-linier .964

Association 121 1 .326

N of Valid Cases

a. 3 cellls (33.3%0 Have ecpected count less than 5. The minimum expected count is 1.24.

Symantric measuress

Value Asymp

. Std. errora

Apporo x. Tb

Appro g. Sig

Nominal by Phi .131 .720

Nominal Cramer’s V .093 .720

Interval by interval

Perarson’s R .090 0.86 .982 .328c

Ordinal by ordinal

Spearman Correlation .084 .088 .922 358c

N of Valid cases .121

a. Not assuming the null hypothesis

b. Using the asymptotic standartd error assuming the null hypothesis


(59)

Pendidikan * Tingkat TPA

Crosstab

Profil TPA Total

Buruk Sedang Baik

Pendidikan SD Count 0 3 5 8

% of total 0% 2.2%% 6.0%

SLTP Count 3 54 13 70

% of total 2.2% 40.3% 9.7% 52.2%

SLTA Count 3 43 10 56

% of total 2.2% 32.1% 7.5% 41.8%

Total Count 6 100 28 134

% of total 4.5% 74.6% 20.9% 100.0%

Chi-Square teste

Value df Asymp. Sig

(2(sided)

Person Chi Scuare 9.088a 4 .059

Likelihood ratio 7.466 4 .113

Linier-by-linier 3.234 .072

Association 134 1

N of Valid Cases

a. 4 cellls (44.4%0 Have ecpected count less than 5. The minimum expected count is 1.24.

Symantric measuress

Value Asymp

. Std. errora

Apporo x. Tb

Appro g. Sig

Nominal by Phi .260 .59

Nominal Cramer’s V .184 .59

Interval by interval

Perarson’s R -.156 .092 -1.814 .72c

Ordinal by ordinal

Spearman Correlation -.130 .091 -1.510 .133c

N of Valid cases 134

a. Not assuming the null hypothesis

b. Using the asymptotic standartd error assuming the null hypothesis


(60)

Tingkat pengetahuan * Profil TPA

Crosstab

Profil TPA Total

Buruk Sedang Baik

Tingkat Buruk Count 1 7 0 8

Pengetahuan % of total 8 5.3 0 6.0%

Sedang Count 4 68 9 81

% of total 3.0% 51.1% 6.8% 60.9%

Baik Count 1 24 19 44

% of total .8% % % 33.1%

Count 6 99 28 133

Total % of total 4.5% 74.4% 21.1% 100.0%

Chi-Square teste

Value df Asymp. Sig

(2(sided)

Person Chi Scuare 20.882a 4 .000

Likelihood ratio 20.886 4 .000

Linier-by-linier 17.509 1 .000

Association 133

N of Valid Cases

a. 4 cellls (44.4%) Have ecpected count less than 5. The minimum expected count is 36.

Symantric measuress

Value Asymp

. Std. errora

Apporo x. Tb

Appro g. Sig

Nominal by Phi .396 .000

Nominal Cramer’s V .280 .000

Interval by interval

Perarson’s R .364 077 4.476 .000c

Ordinal by ordinal

Spearman Correlation .376 079 4.643 000c

N of Valid cases 133

a. Not assuming the null hypothesis

b. Using the asymptotic standartd error assuming the null hypothesis


(61)

Pengalaman Sebagai pemotong * Profil TPA

Crosstab

Profil TPA

Total

Buruk Sedang Baik

Pengalaman Sebagai pemotong

1-5 tahun Count 2 14 0 16

% of total 1.5% 10.6% 0% 12.1%

6-10 tahun Count 4 37 12 53

% of total 3.0% 28.0% 9.1% 40%

>10 tahun Count 0 47 16 63

% of total 0% 35.6% 12.1% 47.7%

Total Count 3 98 28 132

% of total 4.5% 74.2% 21.2% 100.0%

Chi-Square teste

Value df Asymp. Sig

(2(sided)

Person Chi Scuare 10.627 4 .031

Likelihood ratio 15.932 4 .003

Linier-by-linier 7.169

Association 132 1 .007

N of Valid Cases

a. 4 cellls (44.4%0 Have ecpected count less than 5. The minimum expected count is 73

Symantric measuress

Value Asymp

. Std. errora

Apporo x. Tb

Appro g. Sig

Nominal by Phi .284 .031

Nominal Cramer’s V .201 031

Interval by interval

Perarson’s R 234 .068 2.743 .007c

Ordinal by ordinal

Spearman Correlation 210 .074 2.455 .015c

N of Valid cases 132

a. Not assuming the null hypothesis

b. Using the asymptotic standartd error assuming the null hypothesis


(62)

Pendapatan dari usaha TPA * Profil TPA

Total Profil TPA Pendapatan dari usaha TPA

Buruk Sedang Baik

≤50.000 1 12 0 13

0.7% 9.0% 0% 9.7%

>500.000 – 1 juta 4 28 3 35

3.0% 20.9% 2.2% 26.1%

>1 juta – 1.5 juta 1 17 13 31

0.7% 12.7% 9.7% 23.1%

>1.5 juta – 2 juta 0 17 6 23

0% 12.7% 4.5% 17.2%

>2 juta – 3 juta 0 24 5 29

0% 17.9% 3.7% 21.6%

>3 juta – 3.5 juta 0 2 1 3

0% 1.5% 0.7% 2.2%

Jumlah 6 100 28 134

4.5% 74.6% 20.9% 100%

Chi-Square teste

Value df Asymp. Sig

(2(sided)

Person Chi Square 21.770a 10 .016

Likelihood ratio 25.070 10 .005

Linier-by-linier 5.272 1 .022

Association

N of Valid Cases 134

a. 10 cellls (55.6%) Have ecpected count less than 5. The minimum expected count is 13

Symantric measuress

Value Asymp

. Std. errora

Apporo x. Tb

Appro g. Sig

Nominal by Phi .403 .016

Nominal Cramer’s V .285 .016

Interval by interval

Perarson’s R .199 .066 2.334 .021c

Ordinal by ordinal

Spearman Correlation .204 .069 2.392 018c

N of Valid cases 134


(63)

b. Using the asymptotic standartd error assuming the null hypothesis


(64)

Kapassitas pemotongan/ hari * profil TPA

Crosstab

Kapasitas pemotongan/ hari Profil TPA Total

Buruk Sedang Baik

<=50 ekor/ hari Count 1 37 6 44 % of total .7% 27.6% 4.5% 32.8% >50 – 100 ekor/

hari

Count 3 40 15 58

% of total 2.2% 29.9% 11.2% 43.3% >100-200

ekor/hari

Count 2 19 6 27

% of total 1.5% 14.2% 4.5% 21.1%

>200 ekor/hari Count 0 4 1 5

% of total 0% 3.0% .7% 3.7%

Jumlah Count 6 100 28 134

% of total % % % %

Chi-Square teste

Value df Asymp. Sig

(2(sided)

Person Chi Scuare 3.963a 6 .682

Likelihood ratio 4.298 6 .636

Linier-by-linier .223 1 .637

Association

N of Valid Cases 134

a. 6 cellls (50.0%) Have ecpected count less than 5. The minimum expected count is 22.

Symantric measuress

Value Asymp

. Std. errora

Apporo x. Tb

Appro g. Sig

Nominal by Phi .172 .682

Nominal Cramer’s V .122 .682

Interval by interval

Perarson’s R .041 .080 .471 .638c

Ordinal by ordinal

Spearman Correlation .053 .081 .608 .544c

N of Valid cases 134

a. Not assuming the null hypothesis

b. Using the asymptotic standartd error assuming the null hypothesis


(65)

Correlations

Profil TPA

Spearman’srho Umur Correlation Coefficient 0.084231

Sig. (2-tailed) 0.358328

N 121

Pendidikan Correlation Coefficient -0.13034

Sig. (2-tailed) 0.1333325

N 134

Tingkat

pengetahuan Correlation Coefficient 0.375892

Sig. (2-tailed) 8.25E-06

N 133

Pengalaman

sebgai pemotong Correlation Coefficient 0.210486

Sig. (2-tailed) 0.015414

N 132

Pendapatan dari

usaha TPA Correlation Coefficient 0.203807

Sig. (2-tailed) 0.018178

N 134

Kapasitas

pemotongan/ hari Correlation Coefficient 0.052872

Sig. (2-tailed) 0.544023

N 134

Ringkasan dan keterangan analisis data

Untuk melihat hubungan karakteristik pemotong ayam yaitu umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, pengalaman usaha, pendapatan dari usaha TPA dan kapasitas pemotongan terhadap profil TPA, maka data dianalisis dengan menggunakan uji chi square. Adapun untuk mengetahui beberapa besar tingkat keeratan hubungan antara peubah-peubah tersebut maka dilakukan uji korelasi peringkat spearman.

Berikut ini adalah ringkasan hasil uji χ2 da nperingkat sperman hubungan antara

karakteristik pemotong ayam terhadap profil tempat pemotong ayam :

Karakteristik pemotong ayam Nilai χ2 Nilai korelasi sperman

Umur 2.085 0.084

Pendidikan 9.088 -0.130

Pengetahuan 20.882* 0.376*

Pengalaman usaha 10.627* 0.210*

Pendapatan dari usaha TPA 21.770* 0.204


(1)

Tingkat pengetahuan * Profil TPA

Crosstab

Profil TPA Total

Buruk Sedang Baik

Tingkat Buruk Count 1 7 0 8

Pengetahuan % of total 8 5.3 0 6.0%

Sedang Count 4 68 9 81

% of total 3.0% 51.1% 6.8% 60.9%

Baik Count 1 24 19 44

% of total .8% % % 33.1%

Count 6 99 28 133

Total % of total 4.5% 74.4% 21.1% 100.0%

Chi-Square teste

Value df Asymp. Sig

(2(sided)

Person Chi Scuare 20.882a 4 .000

Likelihood ratio 20.886 4 .000

Linier-by-linier 17.509 1 .000

Association 133

N of Valid Cases

a. 4 cellls (44.4%) Have ecpected count less than 5. The minimum expected count is 36.

Symantric measuress

Value Asymp

. Std. errora

Apporo x. Tb

Appro g. Sig

Nominal by Phi .396 .000

Nominal Cramer’s V .280 .000

Interval by interval

Perarson’s R .364 077 4.476 .000c

Ordinal by ordinal

Spearman Correlation .376 079 4.643 000c

N of Valid cases 133

a. Not assuming the null hypothesis

b. Using the asymptotic standartd error assuming the null hypothesis


(2)

Pengalaman Sebagai pemotong * Profil TPA

Crosstab

Profil TPA

Total

Buruk Sedang Baik

Pengalaman Sebagai pemotong

1-5 tahun Count 2 14 0 16

% of total 1.5% 10.6% 0% 12.1%

6-10 tahun Count 4 37 12 53

% of total 3.0% 28.0% 9.1% 40% >10 tahun Count 0 47 16 63 % of total 0% 35.6% 12.1% 47.7%

Total Count 3 98 28 132

% of total 4.5% 74.2% 21.2% 100.0%

Chi-Square teste

Value df Asymp. Sig

(2(sided)

Person Chi Scuare 10.627 4 .031

Likelihood ratio 15.932 4 .003

Linier-by-linier 7.169

Association 132 1 .007

N of Valid Cases

a. 4 cellls (44.4%0 Have ecpected count less than 5. The minimum expected count is 73

Symantric measuress

Value Asymp

. Std. errora

Apporo x. Tb

Appro g. Sig

Nominal by Phi .284 .031

Nominal Cramer’s V .201 031

Interval by interval

Perarson’s R 234 .068 2.743 .007c

Ordinal by ordinal

Spearman Correlation 210 .074 2.455 .015c

N of Valid cases 132

a. Not assuming the null hypothesis

b. Using the asymptotic standartd error assuming the null hypothesis


(3)

Pendapatan dari usaha TPA * Profil TPA

Total

Profil TPA

Pendapatan dari usaha TPA

Buruk Sedang Baik

≤50.000 1 12 0 13

0.7% 9.0% 0% 9.7%

>500.000 – 1 juta 4 28 3 35

3.0% 20.9% 2.2% 26.1%

>1 juta – 1.5 juta 1 17 13 31

0.7% 12.7% 9.7% 23.1%

>1.5 juta – 2 juta 0 17 6 23

0% 12.7% 4.5% 17.2%

>2 juta – 3 juta 0 24 5 29

0% 17.9% 3.7% 21.6%

>3 juta – 3.5 juta 0 2 1 3

0% 1.5% 0.7% 2.2%

Jumlah 6 100 28 134

4.5% 74.6% 20.9% 100%

Chi-Square teste

Value df Asymp. Sig

(2(sided)

Person Chi Square 21.770a 10 .016

Likelihood ratio 25.070 10 .005

Linier-by-linier 5.272 1 .022

Association

N of Valid Cases 134

a. 10 cellls (55.6%) Have ecpected count less than 5. The minimum expected count is 13

Symantric measuress

Value Asymp

. Std. errora

Apporo x. Tb

Appro g. Sig

Nominal by Phi .403 .016

Nominal Cramer’s V .285 .016

Interval by interval

Perarson’s R .199 .066 2.334 .021c

Ordinal by ordinal

Spearman Correlation .204 .069 2.392 018c

N of Valid cases 134


(4)

b. Using the asymptotic standartd error assuming the null hypothesis


(5)

Kapassitas pemotongan/ hari * profil TPA

Crosstab

Kapasitas pemotongan/ hari Profil TPA Total

Buruk Sedang Baik

<=50 ekor/ hari Count 1 37 6 44

% of total .7% 27.6% 4.5% 32.8%

>50 – 100 ekor/ hari

Count 3 40 15 58

% of total 2.2% 29.9% 11.2% 43.3%

>100-200 ekor/hari

Count 2 19 6 27

% of total 1.5% 14.2% 4.5% 21.1%

>200 ekor/hari Count 0 4 1 5

% of total 0% 3.0% .7% 3.7%

Jumlah Count 6 100 28 134

% of total % % % %

Chi-Square teste

Value df Asymp. Sig

(2(sided)

Person Chi Scuare 3.963a 6 .682

Likelihood ratio 4.298 6 .636

Linier-by-linier .223 1 .637

Association

N of Valid Cases 134

a. 6 cellls (50.0%) Have ecpected count less than 5. The minimum expected count is 22.

Symantric measuress

Value Asymp

. Std. errora

Apporo x. Tb

Appro g. Sig

Nominal by Phi .172 .682

Nominal Cramer’s V .122 .682

Interval by interval

Perarson’s R .041 .080 .471 .638c

Ordinal by ordinal

Spearman Correlation .053 .081 .608 .544c

N of Valid cases 134

a. Not assuming the null hypothesis

b. Using the asymptotic standartd error assuming the null hypothesis c. Based on normal approximation


(6)

Correlations

Profil TPA

Spearman’srho Umur Correlation Coefficient 0.084231

Sig. (2-tailed) 0.358328

N 121

Pendidikan Correlation Coefficient -0.13034

Sig. (2-tailed) 0.1333325

N 134

Tingkat

pengetahuan Correlation Coefficient 0.375892

Sig. (2-tailed) 8.25E-06

N 133

Pengalaman

sebgai pemotong Correlation Coefficient 0.210486

Sig. (2-tailed) 0.015414

N 132

Pendapatan dari

usaha TPA Correlation Coefficient 0.203807

Sig. (2-tailed) 0.018178

N 134

Kapasitas

pemotongan/ hari Correlation Coefficient 0.052872

Sig. (2-tailed) 0.544023

N 134

Ringkasan dan keterangan analisis data

Untuk melihat hubungan karakteristik pemotong ayam yaitu umur, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, pengalaman usaha, pendapatan dari usaha TPA dan kapasitas pemotongan terhadap profil TPA, maka data dianalisis dengan menggunakan uji chi square. Adapun untuk mengetahui beberapa besar tingkat keeratan hubungan antara peubah-peubah tersebut maka dilakukan uji korelasi peringkat spearman.

Berikut ini adalah ringkasan hasil uji χ2 da nperingkat sperman hubungan antara karakteristik pemotong ayam terhadap profil tempat pemotong ayam :

Karakteristik pemotong ayam Nilai χ2 Nilai korelasi sperman

Umur 2.085 0.084

Pendidikan 9.088 -0.130

Pengetahuan 20.882* 0.376*

Pengalaman usaha 10.627* 0.210*

Pendapatan dari usaha TPA 21.770* 0.204