ANALISIS PENGHAPUSAN PEMUNGUTAN PAJAK PROGRESIF KENDARAAN BERMOTOR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH DI PROVINSI LAMPUNG

ABSTRAK
ANALISIS PENGHAPUSAN PEMUNGUTAN PAJAK PROGRESIF
KENDARAAN BERMOTOR SEBAGAI UPAYA
MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI
DAERAH DI PROVINSI LAMPUNG
Oleh
Diasti Rastosari

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 jo Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2014 Tentang Pemerintahan Daerah memberikan amanat penyelenggaraan
otonomi daerah dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan
bertanggung jawab kepada daerah. Kewenangan untuk menggunakan sumber
keuangan sendiri dilakukan dalam wadah PAD yang bersumber dari Pajak
Daerah, Retribusi Daerah, Perusahaan Daerah dan pendapatan lain yang sah
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah.
Permasalahan yang akan dibahas yaitu pertimbangan yuridis dan akibat hukum
dari penghapusan pemungutan pajak progresif kendaraan bermotor sebagai upaya
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di Provinsi Lampung. Metode penelitian
dalam skripsi ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif dan yuridis
empiris. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh jawaban bahwa pemungutan tarif
progresif pada Pajak Kendaraan Bermotor dimaksudkan untuk menambah
penerimaan dari PKB akibat kepemilikan kendaraan yang lebih dari satu. Tetapi
pada kenyataannya pelaksanaan tarif progresif Pajak Kendaraan Bermotor di
Provinsi Lampung kurang efektif untuk diterapkan karena Pemberlakuan tarif
progresif Pajak Kendaraan Bermotor tersebut di Provinsi Lampung justru
menurunkan pendapatan daerah provinsi Lampung. Oleh karena itu diharapkan
kepada Pemerintah agar segera dihapuskannya Peraturan Daerah mengenai
pemungutan pajak progresif pada kendaraan bermotor agar tujuan awal
diberlakukannya Peraturan pemungutan pajak kendaraan bermotor untuk
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah terlaksana.

Kata kunci:
Pajak, Pajak Progresif, Pajak Kendaraan Bermotor, PAD

ABSTRACT
ANALYSIS OF TAX COLLECTION PROGRESSIVE REMOVAL OF
MOTOR VEHICLES AS AN EFFORT TO IMPROVE THE
ORIGINAL INCOME AREAS IN THE
PROVINCE OF LAMPUNG
BY
DIASTI RASTOSARI

Act No. 12 of 2008 jo Act No. 23 of 2014 About local governance gives the
mandate of conducting autonomous region by providing a broad authority, real
and responsible to the region. Authority to use financial resources himself
performed in the container PAD sourced from local tax Levy, area, regional and
Company of other legitimate income as set forth in Act No. 28 of 2009 about local
tax and Levy area.
Issues to be discussed, namely the consideration of the juridical and legal
consequences of the abolition of the poll tax progressive motor vehicles in an
effort to improve the original Income areas in Lampung Province. Research
methods in this thesis was using juridical normative approach methods and
juridical empirical approach methodes. Based on the research results obtained
answers that the progressive rate of tax on the motor vehicle is intended to
increase the acceptance of the PKB due to ownership of more than one vehicle.
But in fact the implementation of progressive Tax rates of motor vehicles in the
province of Lampung less effective to apply progressive Tax rates due to the
enforcement of the motor vehicle in the province of Lampung thus lowering the
income area of the province of Lampung. It is therefore expected to the
Government so that local regulations concerning the abolition as soon as quorum
progressive tax on motor vehicles for the purpose of the initial establishment of
the motor vehicle tax collection Regulations to increase the income of the original
Area was effected.

Keywords:
Taxes, Progressive Taxes, Motor Vehicle Taxes, PAD

ANALISIS PENGHAPUSAN PEMUNGUTAN PAJAK PROGRESIF
KENDARAAN BERMOTOR SEBAGAI UPAYA
MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI
DAERAH DI PROVINSI LAMPUNG

Oleh
DIASTI RASTOSARI

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA HUKUM
Pada
Bagian Hukum Administrasi Negara
Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tanjung Karang, Bandar Lampung pada
tanggal 16 November 1992, sebagai anak bungsu dari dua
bersaudara,

putri

dari

pasangan

Bapak

Edi

Suparta

Raswadiputra,S.H dan Ibu Dra. Pentasti Bintari.
Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) AL-KAUTSAR diselesaikan tahun 1998,
Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD AL-KAUTSAR pada tahun 2004, Sekolah
Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 22 Bandar Lampung pada tahun 2007,
dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Negeri 3 Bandar Lampung pada
tahun 2010.
Pada tahun 2010 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas
Lampung melalui SNMPTN jalur Undangan. Penulis mengikuti Kuliah Kerja
Nyata (KKN) pada tahun 2014 di Desa Tanjung Kencono Kecamatan Way
Bungur, Kabupaten Lampung Timur.

HALAMAN PERSEMBAHAN

Dengan Lafadz Hamdallah, ku persembahkan karya ilmiah ini untuk :

Sembah sujud serta syukur kepada Allah SWT. Taburan cinta dan kasih sayangMu telah memberikanku kekuatan dan membekaliku dengan ilmu. Atas karunia
serta kemudahan yang Engkau berikan akhirnya skripsi yang sederhana ini dapat
terselesaikan. Shalawat dan salam selalu terlimpahkan keharibaan Rasullah
Muhammad SAW.
Ibu dan Bapak tercinta yang dengan segenap kasih sayang, kesabaran, dan
nasehatnya dalam membesarkan dan mendidikku, atas setiap doa yang selalu
dipanjatkan untuk keberhasilan dan kebahagianku.
Kakak tercinta Adisti Rastosari yang selalu menyayangiku dan mendukungku
serta menghargaiku sebagai saudara juga teman.
Sahabat-sahabatku yang tidak bisa diucapkan satu persatu, terima kasih telah
memberikan dorongan, motivasi, saran serta doanya sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan.
Seluruh Keluarga Besarku dan Almamaterku.

MOTO

Orang yang menuntut ilmu berarti menuntut Rahmat,
Orang yang menuntut ilmu berarti menjalankan Rukun Islam, dan
Pahala yang diberikan sama dengan para Nabi.
-HR. Dailani dari Anas r.a-

Bukanlah hidup kalau tidak ada masalah,
Bukanlah sukses kalau tidak melalui rintangan,
Bukanlah menang kalau tidak dengan pertarungan,
Bukanlah lulus kalau tidak ada ujian, dan
Bukanlah berhasil kalau tidak berusaha
-Jim Goodwin-

SANWACANA

Alhamdulillahirabbil ’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT, Tuhan sekalian alam yang maha kuasa atas bumi, langit dan seluruh
isinya, serta hakim yang maha adil di hari akhir nanti, sebab hanya dengan
kehendaknya maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam
tak lupa semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai
pembawa Rahmatan Lil’Aalaamiin.

Skripsi dengan judul “Analisis Penghapusan Pemungutan Pajak Progresif
Kendaraan Bermotor Sebagai Upaya Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Di
Provinsi Lampung “ adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Hukum di Universitas Lampung.

Terimakasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada pihak yang secara
langsung maupun tidak langsung telah memberiakan bantuan, bimbingan dan
dorongan yang sangat berguna hingga terselesaikannya penulisan skripsi ini,
yaitu:
1.

Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H.,M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Ibu
Upik Hamidah, S.H.,M.H. selaku Ketua Bagian Hukum Administrasi Negara;

2.

Ibu Nurmayani, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembimbing I atas kesediannya
untuk memberikan masukan, dorongan dan bimbingan dalam proses
penyelsaian skripsi ini;

3.

Ibu Eka Devianti, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak
meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta dengan penuh perhatian dan
kesabaran sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;

4.

Bapak Elman Eddy Patra, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembahas I yang telah
banyak memberikan saran dalam penulisan skripsi ini;

5.

Ibu Ati Yuniati, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembahas II yang telah memberikan
kritik dan saran dalam penulisan skripsi ini;

6.

Bapak Zulkarnaen Ridlwan, S.H.,M.H. selaku Pembimbing Akademik;

7.

Bapak Ahmad Saleh, S.H.,M.H. selaku Pembimbing Akademik;

8.

Para Dosen Pengajar dan Staff di Fakultas Hukum Universitas Lampung,
terimakasih banyak atas bimbingan dan ilmu yang telah diberikan kepada
penulis selama dalam pendidikan;

9.

Bapak Dr. Agus Nompitu, S.E.,M.T.P., selaku Sekretaris Dinas Pendapatan
Daerah Provinsi Lampung atas bantuan dalam penulisan skripsi ini;

10. Yang tercinta Bapak Edi Suparta Raswadiputra, S.H. dan Ibu Dra. Pentasti
Bintari yang selalu mendoakan dan mendukungku dalam menyelesaikan
skripsi ini, terimakasih atas doa dan dukungannya;
11. Satu-satunya Kakakku tercinta Adisti Rastosari, S.Pt.,M.Sc. Terima kasih
telah selalu meluangkan waktunya untuk mendengarkan keluh kesah adikmu;
12. Sahabat-sahabatku tersayang Sarah Gartika, Lirta Amalia, Ika Nur Apriyanti,
Nabila Hanum, Desi Herdyen, Murni Triana, Untari Rachma, Almira Balqis,

Indah Nurfitria terima kasih selalu menemaniku dalam keadaan sedih dan
senang serta bantuan pemikirannya sehingga skripsi ini terselesaikan;
13. Mona Vindytia dan Gusti Mona Sindytia, terima kasih sudah meluangkan
waktu untuk menemaniku selama melakukan riset skripsi ini sehingga dapat
selesai tepat waktu;
14. Sahabatku BOSTON3, Mona Ayu Wanda Hani Ira Rosani Iqbal terima kasih
kuucapkan kepada kalian yang selalu menghiburku selama mengerjakan
skripsi ini. Semoga kita semua akan menjadi sahabat yang saling menjaga
satu sama lain;
15. Keluarga Besar HIMA HAN yang tidak bisa kuucapkan satu persatu.
16. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis

mengucapkan

terima

kasih

atas

doa

dan dukungannya

dalam

menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT mencatat dan mengganti semuanya
sebagai amal sholeh. Sangat penulis sadari bahwa berakhirnya masa studi
ini adalah awal dari perjuangan panjang untuk menjalani kehidupan yang
sesungguhnya. Semoga karya kecil ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita
semua.
Bandar Lampung, 2015
Penulis

Diasti Rastosari

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian .............................. 6
1.2.1 Permasalahan ...................................................................... 6
1.2.2 Ruang Lingkup .................................................................... 7
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ................................................. 7
1.3.1 Tujuan Penelitian ................................................................ 7
1.3.2 Kegunaan Penelitian............................................................ 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pajak Progresif Kendaraan Bermotor........................................... 9
2.1.1 Pengertian Pajak .................................................................... 9
2.1.2 Pajak Progresif Kendaraan Bermotor ................................. 12
2.1.3 Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor............................... 16
2.2 Pendapatan Asli Daerah ............................................................. 18
2.2.1 Pengertian Pendapatan Asli Daerah ................................... 18
2.2.2 Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah ........................... 20
2.2.3 Fungsi Pendapatan Asli Daerah .......................................... 20
2.3 Konsep Otonomi Daerah ............................................................ 23
2.3.1 Pengertian Otonomi Daerah ............................................... 23
2.3.2 Asas-Asas Otonomi Daerah................................................ 25
2.3.3 Prinsip-Prinsip Otonomi Daerah ........................................ 27
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Masalah ................................................................... 29
3.2 Sumber dan Jenis Data ............................................................... 29
3.3 Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data............................ 31
3.4 Analisis Data .............................................................................. 32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Lampung
dan Sistem Manunggal Satu Atap ( SAMSAT )
Bandar Lampung ........................................................................ 33
4.2 Pertimbangan Yuridis Penghapusan Pemungutan Pajak
Progresif Kendaraan Bermotor Sebagai Upaya
Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di Provinsi Lampung. 43
4.3 Akibat Hukum Penghapusan Pemungutan Pajak
Progresif Kendaraan Bermotor di Provinsi Lampung………….59
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................................ 61
5.2 Saran ........................................................................................... 62
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pembangunan daerah pada dasarnya adalah upaya untuk mengembangkan
kemampuan ekonomi daerah untuk menciptakan kesejahteraan dan memperbaiki
kehidupan material secara adil dan merata; meningkatkan kondisi kesehatan,
pendidikan, perumahan, dan kesempatan kerja; mendorong penegakan hak-hak
asasi manusia, kebebasan politik dan demokrasi mengembangkan peradaban dan
meningkatkan kesadaran perlunya pembangunan berkelanjutan.1
Pelaksanaan pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
pembangunan nasional yang berkelanjutan, Undang-Undang Nomor 34 Tahun
2004 jo Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah
memberikan amanat penyelenggaraan otonomi daerah dengan memberikan
kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara
proporsional serta diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan
sumber daya nasional serta perimbangan keuangan pusat dan daerah.

1
2

Rayanto Sofian, Pembangunan Daerah di Era Otonomi. hlm.23
Philipus M. Hadjon, Hubungan Kewenangan Pusat dan Daerah di Era Otonomi. hlm 11

2

2

Pelaksanaan otonomi daerah pada dasarnya tidak terlepas persyaratan yang
bersifat politis, di mana persyaratan ini menuntut tiga kondisi, yaitu pertama
adanya political will dari pemerintah, yang bentuknya bermula dari sebuah
pengakuan akan perlunya otonomi daerah, yang kemudian dibuktikan dengan
adanya peraturan-peraturan dasar dan peraturan pelaksana, dan pada akhirnya
dukungan dari pemerintah pusat; kedua adanya kekuatan ekonomi daerah, di mana
dalam hal ini yang akan dipermasalahkan adalah sejauh mana daerah memberi
sumbangan yang memadai bagi anggaran pendapatan dan belanja; penataan
organisasi birokrasi dan sumber daya manusia. Ketiga adalah bersifat manajemen,
di mana persyaratan ini menuntut tiga langkah yaitu reorientasi paradigma
pemerintah, restrukturisasi pemerintah, dan aliansi dengan organisasi-organisasi
dalam masyarakat.3
Otonomi daerah juga menuntut adanya kemampuan pemerintah daerah untuk
menggali sumber-sumber penerimaan yang tidak tergantung kepada pemerintah
pusat dan mempunyai kekuasaan di dalam menggunakan dana-dana tersebut untuk
kepentingan masyarakat daerah, dalam batas-batas yang ditentukan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku. Konsekuensinya daerah harus mampu dan
mandiri dalam menyelenggarakan pemerintahan daerahnya. Tingkat kemandirian
diturunkan dari tingkat desentralisasi yang diselenggarakan. Semakin tinggi
derajat desentralisasi, semakin tinggi tingkat otonomi daerah, jika tidak besar
kemungkinan akan digabung dengan daerah lain. Sebab tidaklah efektif bila

3

Rayanto Sofian, Pembangunan Daerah di Era Otonomi. hlm.24

3

daerah yang otonom selalu menggantungkan kehidupannya pada subsidi
pemerintah pusat.4
Keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah tidak terlepas pada kemampuan
keuangan daerah. Artinya daerah harus memiliki kemampuan dan kewenangan
untuk menggali sumber keuangannya sendiri, mengelola dan menggunakannya
dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah. Maknanya adalah
pemerintah daerah tidak selalu bergantung kepada bantuan dari pemerintah pusat,
dan menunjukkan kemandirian daerah dalam pelaksanaan otonomi. Salah satu
kriteria penting untuk mengetahui secara nyata, kemampuan daerah dalam
mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri adalah kemampuan self
supporting di bidang keuangan.5
Keuangan menjadi salah satu faktor pendukung pelaksanaan otonomi daerah, di
mana sumber pendapatan daerah menurut Pasal 157 Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan
Daerah sumber Pendapatan Asli Daerah terdiri dari hasil pajak daerah, hasil
retribusi daerah, hasil perusahaan daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah
lainnya yang dipisahkan dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah.
Terkait dengan pemberian otonomi kepada daerah dalam merencanakan,
menggali, mengelola dan menggunakan keuangan daerah sesuai dengan kondisi
daerah, PAD dapat dipandang sebagai salah satu indikator atau kriteria untuk
mengurangi ketergantungan suatu daerah kepada pusat. PAD merupakan sumber
penerimaan yang murni dari daerah, yang merupakan modal utama bagi daerah
4
5

Ibid. hlm.25.
Warsito. Otonomi Daerah, Sebuah Kajian Kritis. hlm.12

4

sebagai biaya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.
Meskipun PAD tidak seluruhnya dapat membiayai total pengeluaran daerah,
namun proporsi PAD terhadap total penerimaan daerah tetap merupakan indikasi
derajat kemandirian keuangan suatu pemerintah daerah.
Daerah otonom harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali
sumber-sumber keuangannya sendiri, mengelola dan menggunakan keuangan
sendiri yang cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan
daerahnya. Ketergantungan daerah kepada pusat tidak lagi dapat diandalkan,
sehingga Pendapatan Asli Daerah (PAD) harus menjadi bagian sumber keuangan
terbesar, yang didukung kebijakan perimbangan keuangan pusat dan daerah
sebagai prasyarat mendasar dalam sistem pemerintahan negara.
Kewenangan untuk mendayagunakan sumber keuangan sendiri dilakukan dalam
wadah PAD yang bersumber dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Perusahaan
Daerah dan lain-lain pendapatan yang sah sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Pemberlakuan keputusan di atas dihadapkan pada berbagai permasalahan, baik
secara internal (organisasi) maupun secara eksternal (masyarakat atau stakeholder
terkait). Secara internal, kendala yang dihadapi adalah belum diaplikasikannya
sistem informasi komputer untuk mengetahui secara otomatis kendaraan baik roda
dua maupun roda empat dengan identitas pemilik yang sama, sehingga identifikasi
kepemilikan masih dilakukan secara manual untuk mementukan bahwa kendaraan
tersebut terkena pajak progresif. Sumber Daya Manusia (SDM) pelaksana
kebijakan

pun

masih

terbatas,

karena

diperlukan

staf

khusus

yang

5

bertanggungjawab dalam penentuan pajak progresif, selama ini SDM yang
diposisikan pada pengenaan pajak progresif masih merangkap tugas lain.
Secara eksternal, kebijakan pengenaan kendaraan bermotor progresif tersebut
menuai kritik dari berbagai komponen wajib pajak, seperi koperasi, yayasan,
instansi pemerintahan, BUMD dan berbagai perusahaan swasta lainnya yang
memiliki banyak kendaraan baik roda dua dan roda empat sebagai sarana untuk
operasionalisasi kegiatan usaha, mereka. Mereka diwajibkan membayar pajak
progresif sesuai dengan banyaknya jumlah dan jenis kendaraan yang dimilikinya.
Langkah kongkrit yang ditempuh oleh Provinsi Lampung dalam mengoptimalkan
penerimaan pajak daerah adalah dengan memberlakukan Peraturan Daerah
Provinsi Lampung Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Pajak Daerah. Salah satu
komponen pajak dalam Peraturan Daerah tersebut yang menjadi kajian dalam
penelitian ini adalah pajak progresif. Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi
Lampung Nomor: 973/0037/III.18/01/2012 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan
Pengenaan Kendaraan Bermotor Progresif, yang secara efektif diberlakukan sejak
12 Maret 2012.
Akan tetapi Dinas Pendapatan Provinsi Lampung merespon keberatan dari wajib
pajak tersebut dengan memberlakukan Keputusan Kepala Dinas Pendapatan
Provinsi Lampung Nomor: 973/0117/111.18/01/2012 Tentang Perubahan.Atas
Keputusan

Kepala

Dinas

Pendapatan

Provinsi

Lampung

Nomor:

973/0037/111.18/01/2012 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengenaan
Kendaraan Bermotor Progresif dan secara efektif diberlakukan mulai 4 Juni 2012.
Salah satu poin dalam perubahan ini adalah terhadap kepemilikan kedua dan

6

seterusnya untuk kendaraaan milik badan/lembaga yang berbadan hukum
(lembaga sosial/keagamaan, yayasan, koperasi, CV/PT/Perusahaan), Lembaga
Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota (Plat Nomor
Polisi Merah), serta untuk Kendaraan Umum (Plat Nomor Polisi Kuning), tidak
dikenakan pajak progresif. Pengenaaan pajak progresif terhadap kepemilikan
kedua dan seterusnya atas kendaraan roda dua, roda empat atau lebih, hanya
ditujukan kepada kepemilikan pribadi atau perorangan.
Pentingnya kajian mengenai pajak progresif ini berkaitan dengan kemampuan
pemerintah daerah dalam memaksimalkan PAD ini merupakan salah satu
indikator atau kriteria untuk mengukur kemampuan keuangan suatu daerah.
Semakin besar kontribusi PAD terhadap APBD akan menunjukkan semakin besar
kemampuan daerah dalam mengelola pembangunan di daerah sendiri dan semakin
kecil ketergantungan daerah pada pemerintah pusat. PAD merupakan sumber
penerimaan yang murni dari daerah, yang merupakan modal utama bagi daerah
sebagai biaya penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan melakukan penelitian dan
menuangkannya ke dalam Skripsi yang berjudul: "Analisis Penghapusan
Pemungutan Pajak Progresif Sebagai Upaya Meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah di Provinsi Lampung"
1.2 Permasalahan dan Ruang Lingkup
1.2.1 Permasalahan
Berdasarkan Latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut:

7

1. Apakah pertimbangan yuridis penghapusan pemungutan pajak progresif
kendaraan bermotor sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di
Provinsi Lampung?
2. Apakah akibat hukum penghapusan pemungutan pajak progresif kendaraan
bermotor sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di Provinsi
Lampung?
1.2.2 Ruang Lingkup
Ruang lingkup kajian penelitian adalah Hukum Administrasi Negara yang dibatasi
pada, masalah sebagai berikut:
1. Pertimbangan yuridis terhadap penghapusan pemungutan pajak progresif
kendaraan bermotor sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di
Provinsi Lampung.
2. Akibat hukum dari penghapusan pemungutan pajak progresif kendaraan
bermotor sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di Provinsi
Lampung.
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pertimbangan yuridis penghapusan pemungutan pajak
progresif kendaraan bermotor sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah di Provinsi Lampung.

8

2. Untuk mengetahui akibat hukum penghapusan pemungutan pajak progresif
sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di Provinsi Lampung.
1.3.2 Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam menambah wawasan dan
kajian Hukum Administrasi Negara, khususnya yang berkaitan dengan
penghapusan pemungutan pajak progresif sebagai upaya meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah di Provinsi Lampung
2. Secara praktis
Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan berguna:
a. Sebagai sumbangan pemikiran dan kontribusi ilmiah bagi Pemerintah
Provinsi Lampung dalam mengoptimalkan penerimaan pajak daerah,
khususnya yang bersumber pajak kendaraan bermotor.
b. Sebagai salah satu referensi bagi pihak-pihak yang akan melakukan
penelitian mengenai pajak progresif di masa-masa yang akan datang.

9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pajak Progresif Kendaraan Bermotor
2.1.1 Pengertian Pajak
Beberapa pengertian pajak menurut beberapa ahli sebagaimana dikemukakan
adalah sebagai berikut:
a. Pajak adalah bantuan, baik secara langsung maupun tidak yang dipaksakan
oleh kekuasaan publik dari penduduk atau dari barang untuk menutup belanja
pemerintah.
b. Pajak adalah bantuan uang secara insidental atau secara periodik (dengan tidak
ada kontraprestasinya), yang dipungut oleh badan yang bersifat umum
(negara), untuk memperoleh pendapatan, dimana tedadi suatu. tatbestand
(sasaran pemajakan), yang karena undang-undang telah menimbulkan hutang
pajak.
c. Uang pajak digunakan untuk produksi barang dan jasa, jadi benefit diberikan
kepada masyarakat hanya tidak mullah ditunjukkannya apalagi secara
perorangan.
d. Pajak adalah prestasi yang dipaksakan, sepihak oleh dan terhutang kepada
penguasa (menurut norma-norma yang ditetapkan secara umum) tanpa adanya

10

e. kontraprestasi dan semata-mata digunakan untuk menutupi pengeluaranpengeluaran umum.
f. Pajak adalah prestasi kepada pemerintah yang terhutang melalaui normanorma umum dan yang dapat dipaksakan tanpa adakalanya kontraprestasi
yang dapat ditunjukkan dalam hal yang individual untuk membiayai
pengeluaran pemerintah.
g. Pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang yang dipungut oleh
penguasa berdasarkan norma-norma hukum guna menutup biaya produksi
barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.
h. Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang
(yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi)
yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar
pengeluaran umum.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian pajak
adalah iuran rakyat kepada Negara berupa uang yang dipungut oleh penguasa
berdasarkan undang-undang yang digunakan untuk membiayai pengeluaran
pemerintah. Serta pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam
kehidupan bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena
pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran
termasuk pengeluaran pembangunan. Pajak mempunyai beberapa fungsi sebagai
berikut:

11

a. Fungsi anggaran (budgetair)
Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara
dan melaksanakan pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat
diperoleh dari penerimaan pajak. Dewasa ini pajak digunakan untuk
pembiayaan rutin seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan
lain sebagainya. Untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari
Tabungan pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran
rutin. Tabungan pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai
kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini
terutama diharapkan dari sektor pajak.
b. Fungsi mengatur (regulerend)
Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak.
Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai
tujuan. Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam
negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan
pajak. Dalam rangka melindungi produksi dalam negeri, pemerintah
menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar negeri.
c. Fungsi stabilitas
Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan
yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan,
hat ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di
masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.
d. Fungsi redistribusi pendapatan
Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai
semua kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan
sehingga dapat membuka kesempatan kedaerah, yang pada akhirnya akan dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat.
Tidaklah mudah untuk membebankan pajak pada masyarakat. Bila terlalu tinggi,
masyarakat akan enggan membayar pajak, namun bila terlalu rendah maka
pembangunan tidak akan berjalan karena dana yang kurang. Agar tidak
menimbulkan berbagai masalah, maka pemungutan pajak harus memenuhi
persyaratan yaitu:
a. Pemungutan pajak harus adil
Seperti halnya produk hukum pajak pun mempunyai tujuan untuk menciptakan
keadilan dalam hal pemungutan pajak. Adil dalam perundangundangan
maupun adil dalam pelaksanaannya. Contohnya adalah dengan mengatur hak
dan kewajiban para wajib pajak, pajak diberlakukan bagi setiap warga negara

12

yang memenuhi syarat sebagai wajib pajak dan sanksi atas pelanggaran pajak
diberlakukan secara umum sesuai dengan berat ringannya pelanggaran
b. Pengaturan pajak harus berdasarkan undang-undang
Sesuai dengan Pasal 23 UUD 1945 yang berbunyi: "Pajak dan pungutan yang
bersifat untuk keperluan negara diatur dengan Undang-Undang", ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan UU tentang pajak, yaitu
pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara yang berdasarkan UU tersebut
harus dijamin kelancarannya
c. Jaminan hukum
Jaminan hukum bagi para wajib pajak untuk tidak diperlakukan secara umum.
Jaminan hukum akan terjaganya kerahasiaan bagi para wajib pajak.
d. Pungutan pajak tidak mengganggu perekonomian
Pemungutan pajak harus diusahakan sedemikian rupa agar tidak mengganggu
kondisi perekonomian, baik kegiatan produksi, perdagangan, maupun jasa.
Pemungutan pajak jangan sampai merugikan kepentingan masyarakat dan
menghambat lajunya usaha masyarakat pemasok pajak, terutama masyarakat
kecil dan menengah.
e. Pemungutan pajak harus efesien
Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka pemungutan pajak harus
diperhitungkan. Jangan sampai pajak yang diterima lebih rendah daripada biaya
pengurusan pajak tersebut. Oleh karena itu, sistem pemungutan pajak harus
sederhana, dan mudah untuk dilaksanakan. Dengan demikian, wajib pajak tidak
akan mengalami kesulitan dalam pembayaran pajak baik dari segi
penghitungan maupun dari segi waktu.
f. Sistem pemungutan pajak harus sederhana
Bagaimana pajak dipungut akan sangat menentukan keberhasilan dalam
pungutan pajak. Sistem yang sederhana akan memudahkan wajib pajak dalam
menghitung beban pajak yang harus dibiayai sehingga akan memberikan dapat
positif bagi para wajib pajak untuk meningkatkan kesadaran dalam pembayaran
pajak. Sebaliknya, jika sistem pemungutan pajak remit, orang akan semakin
enggan membayar pajak.6

2.1.2 Pajak Progresif Kendaraan Bermotor
Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak
Daerah Dan Retribusi Daerah maka diketahui bahwa pengaturan mengenai pajak
progresif kendaraan bermotor adalah sebagai berikut:
6

Joseph R. Kaho. Keuangan di Era Otonomi Daerah. hlm.46-47

13

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah diketahui bahwa:
(1) Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan/atau penguasaan
kendaraan bermotor.
(2) Termasuk dalam pengertian Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) adalah kendaraan bermotor beroda beserta
gandengannya,yang dihasilkan di semua jenis jalan darat dan kendaraan
bermotor yang dioperasikan di air dengan ukuran isi kotor GT 5 (lima
Gross Tonnage) sampai dengan GT 7 (tujuh Gross Tonnage)
(3) Dikecualikan dari pengertian Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud
pada ayat 2 adalah:
a. Kereta api;
b. Kendaraan bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan
pertahanan dan keamanan negara;
c. Kendaraan Bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan,
konsulat, perwakilan negara asing dengan asas timbal batik dan
lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas pembebasan
pajak dari Pemerintah;
d. Objek Pajak lainnya yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.

Pasal 4 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah diketahui bahwa:
(1) Subjek Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang
memiliki dan/atau menguasai Kendaraan Bermotor.
(2) Wajib Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang
memiliki Kendaraan Bermotor.
(3) Dalam hal Wajib Pajak Badan, kewajiban perpajakannya diwakili oleh
pengurus atau kuasa Badan tersebut.
·
Pasal 5 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah diketahui bahwa:
(1) Dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor adalah hasil perkalian dari 2
(dua) unsur pokok:
a. Nilai Jual Kendaraan Bermotor; dan

14

b. Bobot yang mencerminkan secara relatif tingkat kerusakan jalan
dan/atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan Kendaraan
Bermotor.
(2) Khusus untuk Kendaraan Bermotor yang digunakan di luar jalan umum,
termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar Berta kendaraan di air, dasar
pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor adalah Nilai Jual Kendaraan
Bermotor.
(3) Bobot sebagaimana dimaksud pada. ayat (1) huruf b dinyatakan dalam
koefisien yang nilainya 1 (satu) atau lebih besar dari 1 (satu), dengan
pengertian sebagai berikut:
a.
koefisien sama dengan 1 (satu) berarti kerusakan jalan dan/atau
pencemaran lingkungan oleh penggunaan Kendaraan Bermotor
tersebut dianggap masih dalam batas toleransi; dan
b.
koefisien lebih besar dari 1 (satu) berarti penggunaan Kendaraan
Bermotor tersebut dianggap melewati batas toleransi.
(4) Nilai Jual Kendaraan Bermotor ditentukan berdasarkan Harga Pasaran
Umum atas suatu Kendaraan Bermotor.
(5) Harga Pasaran Umum sebagaimana dimaksud pada, ayat (4) adalah harga
rata-rata yang diperoleh dari berbagai cumber data yang akurat.
(6) Nilai Jual Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada, ayat (4)
ditetapkan berdasarkan Harga Pasaran Umum pada, minggu pertama bulan
December Tahun Pajak sebelumnya.
(7) Dalam hal Harga Pasaran Umum suatu Kendaraan Bermotor tidak
diketahui, Nilai Jual Kendaraan Bermotor dapat ditentukan berdasarkan
sebagian atau seluruh faktor-faktor:
a.
harga Kendaraan Bermotor dengan isi silinder dan/atau satuan
tenaga yang sama;
b.
penggunaan Kendaraan Bermotor untuk umum atau pribadi;
c.
harga Kendaraan Bermotor dengan merek Kendaraan Bermotor
yang sama;
d.
harga Kendaraan Bermotor dengan tahun pembuatan Kendaraan
Bermotor yang sama;
e.
harga Kendaraan Bermotor dengan pembuat Kendaraan Ben rotor;
f.
harga Kendaraan Bermotor dengan Kendaraan Bermotor sejenis;
dan
g.
harga Kendaraan Bermotor berdasarkan dokumen Pemberitahuan
Impor Barang (PIB).·
(8) Bobot sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dihitung berdasarkan
faktor-faktor:
a.
tekanan gandar, yang dibedakan atas dasar jumlah sumbu/as, rods,
dan berat Kendaraan Bermotor;

15

b.

c.

jenis bahan bakar Kendaraan Bermotor yang dibedakan menurut
solar, bensin, gas, listrik, tenaga surya, atau jenis bahan bakar
lainnya; dan
jenis, penggunaan, tahun pembuatan, dan ciri-ciri mesin Kendaraan
Bermotor yang dibedakan berdasarkan jenis mesin 2 tak atau 4 tak,
dan isi silinder.

(9) Penghitungan dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), ayat (6), ayat
(7), dan ayat (8) dinyatakan dalam suatu Label yang ditetapkan dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri setelah mendapat pertimbangan dari
Menteri Keuangan.
(10)
Penghitungan dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor
sebagaimana dimaksud pada ayat (9) ditinjau kembali setiap tahun.

Pasal 6 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah diketahui bahwa:
(1) Tarif Pajak Kendaraan Bermotor pribadi ditetapkan sebagai berikut:
a. Untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor pertama paling rendah
sebesar 1% (satu persen) dan paling tinggi sebesar 2% (dua persen);
b. Untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor kedua dan seterusnya tarif
dapat ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2% (dua
persen) dan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).
c. Kepemilikan Kendaraan Bermotor didasarkan atas nama dan/atau
alamat yang sama.
d. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor angkutan umum, ambulans, pemadam
kebakaran, sosial keagamaan, lembaga sosial dan keagamaan,
Pemerintah/TNI/POLRI, Pemerintah Daerah, dan kendaraan lain yang
ditetapkan dengan Peraturan. Daerak ditetapkan paling rendah sebesar
0,5% (nol koma lima persen) dan paling tinggi sebesar 1% (satu
persen).
e. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar
ditetapkan paling rendah sebesar 0,1 % (no] koma satu persen) dan
paling tinggi sebesar 0,2% (nol koma dua persen).
f. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor ditetapkan dengan Peraturan. Daerah.
·
Pasal 7 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah diketahui bahwa:
(1) Besaran pokok Pajak Kendaraan Bermotor yang terutang dihitung dengan
cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (5)

16

dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana, dimaksud dalam Pasal 5 ayat
(9).
(2) Pajak Kendaraan Bermotor yang terutang dipungut di wilayah daerah
tempat Kendaraan Bermotor terdaftar.
(3) Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dilakukan bersamaan dengan
penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor.
(4) Pemungutan pajak tahun berikutnya dilakukan di kas daerah atau bank
yang ditunjuk oleh Kepala Daerah.
Pasal 8 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan.
Retribusi Daerah diketahui bahwa:
(1) Pajak Kendaraan Bermotor dikenakan untuk Masa Pajak 12 (dua betas)
bulan berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran Kendaraan Bermotor.
(2) Pajak Kendaraan Bermotor dibayar sekaligus di muka.
(3) Untuk Pajak Kendaraan Bermotor yang karma keadaan kahar (force
majeure) Masa Pajaknya tidak sampai 12 (dua betas) bulan, dapat
dilakukan restitusi atas pajak yang sudah dibayar untuk porsi Masa Pajak
yang belum dilalui.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tats cara pelaksanaan restitusi diatur
dengan Peraturan Gubernur.
(5) Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor paling sedikit 10% (sepuluh
persen), termasuk yang dibagihasilkan kepada kabupaten/kota,
dialokasikan untuk pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan serta
peningkatan moda dan sarana transportasi umum.

2.1.3 Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah maka, diketahui bahwa pajak kendaraan bermotor adalah pajak
atas kepemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor. Sedangkan kendaraan
bermotor adalah semua kendaraan beroda dua atau lebih, beserta gandengannya
yang digunakan di semua jenis jalan darat dan digerakan oleh peralatan teknik,

17

berupa motor atau peralatan lain yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber
daya energi tertentu menjadi tenaga.
Kendaraan bermotor itu sendiri adalah kendaraan yang digerakkan oleh motor/
mekanik, tidak termasuk kendaraan yang berjalan diatas rel. jadi kendaraan
bermotor adalah kendaraan yang berjalan diatas aspal dan tanah seperti mobil
sedan, bis, truck, trailer, pick-up, kendaraan beroda tiga dan beroda dua dan
sebagainya.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah maka diketahui bahwa pajak kendaraan bermotor termasuk pada
pajak daerah maka subjek retribusi daerah sebagai berikut:
1. Retribusi jasa umum adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/
menikmati pelayanan jasa umum yang bersangkutan.
2. Retribusi jasa usaha adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/
menikmati pelayanan jasa usaha yang bersangkutan.
3. Retribusi perizinan tertentu adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh
izin tertentu dari pemerintah daerah.
Sama seperti subjek retribusi daerah karena pajak kendaraan bermotor termasuk
pada pajak daerah maka Objek retribusi daerah terdiri dari
1. Jasa umum yaitu berupa pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah
daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat diminati
oleh orang pribadi atau badan.

18

2. Jasa, usaha yaitu berupa pelayanan yang disediakan oleh pemerintah daerah
dengan menganut prinsip komersial.
3. Perizinan tertentu yaitu kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka
pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk
pembinaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan atas kegiatan
pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana,
atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga
kelestarian lingkungan.
Salah satu sumber dana yang dapat digunakan untuk membiayai sarana dan
prasarana di setup daerah yaitu berasal dari pajak atau pendapatan asli daerah
sendiri. Berdasarkan undang-undang pemerintahan daerah, khususnya asas
desentralisasi, pemerintah daerah memiliki sumber penerimaan yang terdiri atas
hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, laba perusahaan daerah, dan pendapatan
asli daerah yang sah. Salah satu pendapatan asli daerah sendiri adalah dari sektor
kendaraan bermotor. Sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah yang
berpengaruh,

terhadap

pendapatan

daerah.

Dengan

ditetapkannya

suatu

penerimaan pajak diharapkan mampu meningkatkan dari sector pajak, dalam hal
ini khususnya dari pajak kendaraan bermotor.
2.2 Pendapatan Asli Daerah
2.2.1 Pengertian Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari
sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan Peraturan
Daerah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Untuk menentukan

19

corak otonomi daerah, maka salah satu variabel pokok yang digunakan adalah
kemampuan keuangan daerah. Selanjutnya, kemampuan keuangan daerah dapat
dilihat dari rasio PAD terhadap APBD. Dengan demikian maka besarnya PAD
menjadi unsur yang sangat penting dalam mengukur tingkat kemampuan daerah
untuk melaksanakan otonomi daerah.
Peran PAD sebagai sumber pembiayaan pembangunan daerah masih rendah.
Kendatipun perolehan PAD setiap tahunnya relatif meningkat namun masih
kurang mampu menambah laju pertumbuhan ekonomi daerah. Untuk beberapa
daerah yang relatif minus dengan kecilnya pecan PAD dalam APBD, maka upaya
satu-satunya adalah menarik investasi swasta domestik ke daerah minus.
Pendekatan ini tidaklah mudah dilakukan sebab swasta justru lebih berorientasi
kepada daerah yang relatif menguntungkan dari segi ekonomi.7
Melihat kenyataan yang ada bahwa PAD yang diperoleh pada umumnya masih
relatif rendah, maka tidak sedikit Pemerintah Daerah yang merasa khawatir
melaksanakan otonomi daerah. Kekhawatiran yang berlebihan bagi daerah,
terlebih bagi daerah miskin dalam menghadapi otonomi daerah mestinya tidak
perlu terjadi. Pertimbangan pemberian otonomi daerah tidaklah mesti dilihat dari
pertimbangan keuangan semata, sekiranya pertimbangan ini masih tetap
mendominasi pemberian otonomi ini tidak akan terlaksana. Sebenarnya apabila
diberikan mekanisme kewenangan yang lebih luas dalam bidang keuangan, maka
Pemerintah Daerah dapat menggali dan mengembangkan potensi yang
dimilikinya.
7

Baswir, R, Paradigma Baru Pengelolaan Keuangan Daerah Dalam Pelaksanaan Otonomi
Daerah. hlm 12

20

Otonomi daerah diharapkan lebih menekankan kepada mekanisme yang
memberikan kewenangan yang luas kepada daerah dalam bidang keuangan,
karena dengan kewenangan tersebut uang akan dapat dicari semaksimal mungkin
tentu saja dengan memperhatikan potensi daerah serta kemampuan aparat
pemerintah untuk mengambil inisiatif guna menemukan sumber-sumber keuangan
yang baru. Kewenangan yang luas bagi daerah akan dapat menentukan mana
sumber dana yang dapat digali dan mana yang secara potensial dapat
dikembangkan.
2.2.2 Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah
Sumber-sumber PAD sebagaimana telah dikemukakan pada bab terdahulu, terdiri
dari beberapa unsur yaitu pajak daerah, retribusi daerah, perusahaan daerah, dan
lain-lain pendapatan yang sah.
1. Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan
kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang dapat
digunakan untuk pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan
pembangunan daerah.
2. Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan Pemerintah
Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
3. Perusahaan daerah adalah badan usaha milik daerah yang didirikan oleh
Pemerintah Daerah dengan tujuan untuk menambah pendapatan daerah dan
mampu memberikan rangsangan berkembangnya perekonomian daerah

21

tersebut. Hasil perusahaan daerah sebagai salah satu sumber PAD meskipun
memiliki potensi yang cukup besar tetapi dengan pengelolaan perusahaan
yang tidak/kurang profesional dan terlebih lagi dengan adanya intervensi dari
Pemerintah Daerah sendiri, maka kontribusi PAD dari sumber ini masih
kurang memadai.
4. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah diperoleh antara lain dari hasil
penjualan asset daerah dan jasa giro, penerimaan dari pihak ketiga yang bukan
perusahaan daerah, deviden BPD, ganti biaya dokumen lelang, dan lain-lain.
2.2.3 Fungsi Pendapatan Asli Daerah
PAD sebagai anggaran sektor publik mempunyai beberapa fungsi utama yaitu
sebagai berikut:
1) Anggaran Sebagai Alat Perencanaan (Planning Tool)
Anggaran merupakan alat perencanaan manajemen untuk mencapai tujuan
organisasi. Anggaran sektor publik dibuat untuk merencanakan tindakan apa
yang akan dilakukan oleh pemerintah, berapa, biaya yang dibutuhkan, dan
berapa, hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut.
Anggaran sebagai alat perencanaan digunakan untuk:
a) Merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi dan
misi yang ditetapkan.
b) Merencanakan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan
organisasi serta merencanakan alternatif sumber pembiayaannya.
c) Mengalokasikan dana pada berbagai program dan kegiatan yang telah
disusun,
d) Menentukan indikator kinerja dan tingkat pencapaian strategi.

2) Anggaran Sebagai Alat Pengendalian (Control Tool)
Anggaran merupakan suatu alat yang esensial untuk menghubungkan antara
proses perencanaan dan proses pengendalian. Sebagai alat pengendalian,
anggaran memberikan rencana detail atas pendapatan dan pengeluaran
pemerintah agar pembelanjaan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan

22

kepada, publik. Anggaran sebagai instrumen pengendalian digunakan untuk
menghindari adanya overspending, underspending, dan salah sasaran
(misappropiation) dalam pengalokasian anggaran pada bidang lain yang bukan
merupakan prioritas. Anggaran merupakan alat untuk memonitor kondisi
keuangan dan pelaksanaan operasional program atau kegiatan pemerintah.
Sebagai alat pengendalian manajerial, anggaran sektor publik digunakan untuk
meyakinkan bahwa pemerintah mempunyai uang yang cukup untuk memenuhi
kewajibannya. Selain itu, anggaran digunakan untuk memberi informasi dan
meyakinkan legislatif bahwa pemerintah bekerja secara efisien, tanpa ada,
korupsi dan pemborosan.
3) Anggaran Sebagai Alat Kebijakan Fiskal (Fiscal Tool)
Anggaran sebagai alat kebijakan fiskal pemerintah digunakan untuk
menstabilkan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Melalui
anggaran publik tersebut dapat diketahui arch kebijakan fiskal pemerintah,
sehingga dapat dilakukan prediksi-prediksi dan estimasi ekonomi. Anggaran
dapat digunakan untuk mendorong, memfasilitasi, dan mengkoordinasikan
kegiatan ekonomi masyarakat sehingga dapat mempercepat pertumbuhan
ekonomi.
4) Anggaran Sebagai Alat Politik (Politis Tool)
Anggaran digunakan untuk memutuskan prioritas-prioritas dan kebutuhan
keuangan terhadap prioritas tersebut. Pada sektor publik, anggaran merupakan
political tool sebagai bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif
atas penggunaan dana, publik untuk kepentingan tertentu. Pembuatan
anggaran publik membutuhkan politisal skill, coalition building, keahlian
bernegosiasi, dan pemahaman tentang prinsip manajemen keuangan publik
oleh pars manajer publik. Manajer publik harus sadar sepenuhnya bahwa
kegagalan dalam melaksanakan anggaran yang telah disetujui dapat
menjatuhkan kepemimpinannya, atau paling tidak menurunkan kredibilitas
pemerintah.
5) Anggaran Sebagai Alat Koordinasi dan Komunikasi (Coordination and
Communication Tool)
Setiap unit keda pemerintahan terlibat dalam proses penyusunan anggaran.
Anggaran publik merupakan alat koordinasi antar bagian dalam pemerintahan.
Anggaran publik yang disusun dengan baik akan mampu mendeteksi
tedadinya inkonsistensi suatu unit keda dalam pencapaian tujuan organisasi.
Di samping itu, anggaran publik juga berfungsi sebagai alat komunikasi antar
unit keda dalam lingkungan eksekutif. Anggaran harus dikomunikasikan ke
seluruh bagian organisasi untuk dilaksanakan.

23

6) Anggaran Sebagai Alat Penilaian Kinerja (Performance Measurement Tool)
Anggaran merupakan wujud komitmen dari budget holder (eksekutif) kepada
pemberi wewenang (legislatif). Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan
pencapaian target anggaran dan efisiensi pelaksanaan anggaran. Anggaran
merupakan alat yang efektif untuk pengendalian dan penilaian kinerja.
7) Anggaran Sebagai Alat Motivasi (Motivation Tool)
Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajer dan stafnya
agar bekeda secara ekonomis, efektif, dan efisien dalam mencapai target dan
tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Agar dapat memotivasi pegawa4
anggaran hendaknya bersifat challenging but attainable atau demanding but
achievable. Maksudnya adalah target anggaran hendaknya jangan terlalu
tinggi sehingga tidak dapat dipenuhi namun juga jangan terlalu rendah
sehingga terlalu mudah untuk dicapai.8

2.3 Konsep Otonomi Daerah
2.3.1 Pengertian Otonomi Daerah
Pengertian otonomi daerah menurut Pasal 1 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan
Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Otonomi daerah merupakan wewenang yang dimiliki daerah otonom untuk
memanfaatkan hak-hak yang dimilikinya, dan salah satu wewenang yang dimiliki
daerah otonom adalah wewenang untuk menyusun suatu kebijaksanaan daerah
dalam mengelola rumah tangganya dan mengatur kepentingan masyarakat.
Perbedaan kepentingan antara kebebasan berotonomi dengan mempertahankan
persatuan dan kesatuan bangsa selalu menjadi ajang konflik kepentingan, karena
8

Irwan Taufiq Ritonga, Perencanaan dan Penganggaran Daerah. hlm.24-31

24

masing-masing meninjaunya dari prespektif yang berbeda, misalnya dari
prespektif nasional bahwa pemer

Dokumen yang terkait

Pengaruh Sistem Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Upaya Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara

8 182 62

Pengaruh Pelayanan Pengurusan Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Kepuasan Masyarakat Di Kantor UPT SAMSAT Aek Kanopan Labuhan Batu Utara

7 144 95

ANALISIS KONTRIBUSI PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH.

4 21 12

ANALISIS KONTRIBUSI, EFEKTIVITAS PEMUNGUTAN, DAN PERTUMBUHAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT.

0 0 13

Pengaruh Sistem Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Upaya Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara

0 0 8

Pengaruh Sistem Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Upaya Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara

0 0 5

Pengaruh Sistem Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Upaya Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara

0 1 17

Pengaruh Sistem Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Upaya Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (Pad) Pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Sumatera Utara

0 0 1

ANALISIS PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DALAM UPAYA PENINGKATAN PENERIMAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH PADA UPTD SURABAYA TIMUR - Perbanas Institutional Repository

0 0 14

ANALISIS KONTRIBUSI PAJAK KENDARAAN BERMOTOR PAJAK BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR DAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN

0 1 12

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3864 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1026 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 924 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 616 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 772 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1320 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1214 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 803 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1084 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1315 23