ANALISIS PENENTUAN POLA PRODUKSI YANG OPTIMAL UNTUK KAIN GREY TENUN PADA DEPARTEMEN WEAVING DI PT. ISKANDAR INDAH PRINTING TEXTILE SURAKARTA

(1)

commit to user

ANALISIS PENENTUAN POLA PRODUKSI YANG OPTIMAL UNTUK KAIN GREY TENUN PADA DEPARTEMEN WEAVING DI PT. ISKANDAR INDAH

PRINTING TEXTILE SURAKRTA

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memenuhi syarat-syarat mencapai Gelar Ahli Madya Program D3 Manajemen Industri

Oleh:

ASNOWO AJI PRIAWAN

F3507063

PROGRAM STUDI DIPLOMA III MANAJEMEN INDUSTRI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2010


(2)

(3)

(4)

commit to user PERSEMBAHAN

Dengan segala rasa bangga dan kerendahan hati Tugas Akhir ini pennulis persembahkan kepada :

1. Ayah dan Ibuku tersayang yang selalu mendoakan dan memberi dukungan untuk masa depanku.

2. Teman-teman MI A dan MI B 3. Semua orang yang ku sayangi


(5)

commit to user MOTTO MOTTO :

1. Janganlah menjadi segala-galanya bagi seseorang tapi menjadilah sesuatu bagi seseorang.

2. Hiduplah hari ini dan song-songlah hari esok, biarkanlah hari ini berjalan dengan begitu saja dan buatlah hari mu esok lebih ceria dan bermanfaat. 3. Janganlah pernah Putus asa sebelum mencoba.

4. Bukan mengharap menjadi yang terbaik, tetapi belajar dan berusaha menjadi lebih baik


(6)

commit to user KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini yang berjudul “ANALISIS

PENENTUAN POLA PRODUKSI YANG OPTIMAL UNTUK KAIN GREY TENUN PADA DEPARTEMEN WEAVING DI PT. ISKANDAR INDAH PRINTING TEXTILE SURAKARTA”.

Tugas Akhir ini dapat terselesaikan tidak lepas dari arahan serta bimbingan oleh berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada :

1. Prof. Dr. Bambang Sutopo, M.Com, Ak selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

2. Intan Novela, SE, MSi selaku ketua Program Studi Manajemen Industri pada Program Diploma III FE UNS.

3. Ibu Siti Khoiriyah, SE., Msi. Selaku pembimbing Tugas Akhir

4. Dosen seta seluruh staf akademi Fakultas Ekonomi Universitas Sebalas Maret Surakarta yang telah memberi bekal ilmu yang tak ternilai bagi penulis

5. Bapak Suprapto, selaku Kepala Bagian Departemen Weaving PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta

6. Bapak Agus Mulya, selaku pembimbing lapangan di PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta

7. Ibu Riyani, selaku pembimbing lapangan di PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta


(7)

commit to user

8. Rekan-rekan dan semua pihak yang penulis tidak bias sebutkan satu persatu atas bantuan, doa, dan dorongan dalam pelaksanaan penelitian dan penyelesaian Tugas Akhir ini.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi perbaikan.

Besar harapan penulis semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan serta bermanfat bagi penulis sendiri.

Surakarta, November 2010 Penulis


(8)

commit to user DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

ABSTRAKSI ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Metode Penelitian ... 6

F. Kerangka Pemikiran ... 7

G. Teknik Analisis Data ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Manajemn Produksi ... 13

B. Pola produksi ... 14

C. Jenis Pola Produksi ... 15

D. Cara Menentukan Pola Produksi ... 19

E. Faktor-faktor Pola Produksi ... 20

F. Peramalan ... 21

BAB III PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Perusahaan ... 26


(9)

commit to user

C. Pembahasan ... 56

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 73 B. Saran ... 75 DAFTAR PUSTAKA


(10)

commit to user DAFTAR TABEL

Tabel III.1 Rincian Jumlah Karyawan PT. Iskandar Indah Printing Textile

Surakarta ... 40

Tabel III.2 Data Penjualan kain Grey Tenun Tahun 2006 – 2009 ... 57

Tabel III.3 Data Biaya Operasional Kain Grey Tenun tahun 2009 ... 58

Tabel III.4 Perhitungan Trend Penjualan Kain Grey Tenun ... 59

Tabel III.5 Penjualan Kain Grey Tenun per Triwulan Tahun 2006 -2009 ... 60

Tabel III.6 Ramalan Penjualan Kain Grey per Triwulan Tahun 2010 ... 62

Tabel III.7 Analisis Incremental Cost Pola Produksi Konstan ... 66

Tabel III.8 Analisis Incremental Cost Pola Produksi Bergelombang ... 68

Tabel III.9 Analisis Incremental Cost Pola Produksi Moderat ... 70


(11)

commit to user DAFTAR GAMBAR GAMBAR

Halaman

I.1 Kerangka Pemikiran ... ... 8 III.1 Struktur Organisasi Karyawan ... ... 2 8


(12)

commit to user ABSTRAKSI

ANALISIS PENENTUAN POLA PRODUKSI YANG OPTIMAL UNTUK KAIN GREY TENUN PADA DEPARTEMEN WEAVING DI PT. ISKANDAR INDAH

PRINTING TEXTILE SURAKARTA

ASNOWO AJI PRIAWAN F3507063

Penelitian ini dilakukan pada departemen weaving di PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data mengenai penjualan kain grey tenun tahun 2006, 2007, 2008, 2009 serta data biaya administrasi gudang pada PT Iskandar Indah Printing Textile Surakarta. Data penjualan kain grey tenun tahun 2006 sampai 2009 digunakan untuk mengetahui peramalan penjualan kain grey tenun pada tahun 2010 beserta fluktuasinya. Sedangkan data biaya administrasi gudang digunakan untuk menganalisis biaya tambahan ( Incremental Cost ) yang diakibatkan pada setiap alternatif pola produksi ( pola produksi konstan, pola produksi bergelombang, pola produksi moderat ).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola produksi yang optimal diterapkan pada departemen weaving di PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta tahun 2010. selain itu melalui penelitian ini juga dapat dilihat ramalan penjualan kain grey tenun pada tahun 2010.

Berdasarkan analisis data yang telah disusun maka dapat ditarik kesimpulan bahwa (i) hasil ramalan penjualan kain grey tenun pada departemen weaving tahun 2010 adalah 10.036.810 meter dengan MAD (Mean Absolute Deviation) = 325.549; MSE (Mean Sequare Error) = 123.113.390.000; dan MFE (Mean Forecast Error) = -1. (ii) Hasil ramalan penjualan kain grey tenun per triwulan pada departemen weaving di PT Iskandar Indah Printing Textile Surakarta adalah triwulan I = 2.760.122 meter, triwulan II = 2.484.110 meter, triwulan III = 2.735.030 meter, dan triwulan IV = 2,007.368 meter. (iii) Dari ketiga alternatif pola produksi yang ada pola produksi moderat memiliki biaya tambahan atau incremental cost terendah yaitu sebesar Rp 95.549.622, sedangkan pola produksi konstan memiliki biaya tambahan sebesar Rp 261.747.203 dan pola produksi bergelombang sebesar Rp 227.218.150. (iv) Penentuan pola produksi suatu perusahaan dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi yaitu : pola penjualan, pola biaya dan kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan.


(13)

commit to user ABSTRACT

ANALYSIS OF THE OPTIMAL PRODUCTION PATTERNS FOR WEAVING FABRIC IN GREY Weaving DEPARTMENT AT. ISKANDAR SURAKARTA

INDAH TEXTILE PRINTING

ASNOWO AJI PRIAWAN F3507063

This research was conducted at the weaving department at PT. Indah Iskandar Textile Printing Surakarta. Data used in this research is data concerning the sale of gray woven fabric in 2006, 2007, 2008, 2009 and data warehouse administration costs at PT Indah Iskandar Textile Printing Surakarta. Gray woven fabric sales data in 2006 to 2009 is used to determine the sales forecasting gray woven fabric in 2010 and its fluctuation. While the administrative cost data warehouse is used to analyze the additional costs (Incremental Cost) resulting from each alternative patterns of production (constant production patterns, production patterns of wavy, moderate production patterns).

This study aims to determine the optimal production pattern applied to the weaving department at PT. Indah Iskandar Textile Printing Surakarta in 2010. other than that through this research can also be viewed forecast sales of gray woven fabric in 2010.

Based on the analysis of the data has been compiled, it can be concluded that (i) the sales forecast gray cloth woven on weaving department in 2010 is 10,036,810 meters with MAD (Mean Absolute Deviation) = 325 549; MSE (Mean Square Error) = 123 113 390 000 ; and MFE (Mean Forecast Error) = -1. (Ii) Proceeds from sales forecast per quarter woven gray fabric on the weaving department at PT Indah Iskandar Textile Printing Surakarta is the quarter I = 2,760,122 meters, quarter II = 2,484,110 meters, third quarter = 2,735,030 meters, and fourth quarter = 2,007.368 meters. (Iii) Of the three alternative patterns of production of existing production patterns have a moderate additional cost or the lowest incremental cost is Rp 95,549,622, while the constant production pattern has a surcharge of USD 261,747,203 and wavy patterns of production amounting to Rp 227,218,150. (Iv) Determination of the production pattern of an enterprise is influenced by the factors of production namely: the pattern of sales, costs and patterns of production capacity owned by the company.


(14)

commit to user 1 BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Persaingan di dunia bisnis sekarang ini sangatlah ketat, hal ini

menuntut suatu perusahaan agar dapat merencanakan kapasitas produksi yang sesuai dengan kemampuan perusahaan tersebut. Pada umumnya perencanaan produksi dilakukan untuk satu tahun produksi dan jumlahnya relatif stabil jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Adanya fluktuasi penjualan memaksa manajer operasi mengambil keputusan yang rasional untuk mencapai sasaran perusahaan yang bersangkutan. Manajer perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang dikombinasikan dengan kapasitas yang dimiliki perusahaan agar dapat menghasilkan barang atau jasa secara efektif dan efisien. Hal ini perlu dilakukan dalam upaya menjaga mutu dari barang atau jasa ditengah permintaan konsumen yang semakin kritis atas produk yang mereka inginkan.

Perusahaan perlu mengantisipasi adanya fluktuasi penjualan ini agar tetap dapat menjamin kelangsungan hidupnya dan bersaing dengan perusahaan lain. Oleh sebab itu ramalan penjualan (sales forecast) sangat penting. Dari peramalan ini perusahaan dapat mengatur produksi yang sesuai kapasitas perusahaan untuk memenuhi permintaan yang mungkin berfluktuasi. Selain itu dari peramalan ini juga dapat ditentukan


(15)

commit to user 2

pola produksi yang tepat. Yang dimaksud dengan pola produksi adalah distribusi dari produksi tahunan kedalam periode yang lebih kecil (misalnya : bulanan, minggu, atau unit waktu yang lainya) untuk mengantisipasi rencana penjualan (Yamit,1998:77).

Pada umumnya terdapat tiga macam pola produksi yaitu pola produsi konstan, pola produksi bergelombang dan pola produksi moderat (Yamit,1998:78). Masing-masing pola produksi tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Perusahaan akan menerapkan pola produksi konstan apabila jumlah barang atau jasa yang diproduksi sama setiap periodenya. Kelebihan atau kekurangan produksi akan masuk atau diambil dari persediaan. Pada saat permintaan meningkat melebihi jumlah yang diproduksi maka perusahaan akan melakukan lembur atau sub kontrak. Hal ini memungkinkan terjadinya tambahan biaya yaitu biaya lembur dan biaya sub kontrak. Sebaliknya ketika permintaan turun dari jumlah yang diproduksi maka akan terjadi penyimpanan barang yang menimbulkan adanya biaya penyimpanan.

Pada pola produksi bergelombang jumlah barang atau jasa yang

diproduksi tidak sama. Perusahaan umumnya akan melakukan lembur atau sub kontrak apabila permintaan diatas kapasitas produksi maksimal. Pola ini biasanya diterapkan pada perusahaan yang produksinya didasarkan pada pesanan. Sedangkan pola produksi moderat biasanya akan diterapkan apabila fluktuasi antara persediaan dan produksi tak terlalu tajam sehingga dapat mendekati konstan. Biaya perputaran tenaga


(16)

commit to user 3

kerja dan biaya simpan pada pola produksi ini tidak sebesar pola produksi lain (Yamit,1998:79-82).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pola produksi suatu perusahaan antara lain : pola penjualan, pola biaya, serta kapasitas produksi maksimal. Selain itu pola produksi yang diterapkan hendaknya dapat memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen dan menanggung beban biaya yang paling minimum (Yamit,1998:78).

Melalui penerapan pola produksi yang tepat diharapkan dapat merencanakan kebutuhan tenaga kerja, bahan baku, maupun fasilitas lain secara tepat. Apabila terlalu banyak tenaga kerja tentu saja biaya yang ditanggung perusahaan lebih besar dan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh perusahaan. Begitu juga apabila perusahaan kekurangan tenaga kerja, akan banyak permintaan konsumen yang tak terpenuhi apabila terjadi peningkatan permintaan produk. Hal ini dapat

mengurangi kepercayaan konsumen terhadap perusahaan yang

bersangkutan. Begitu juga dengan bahan baku, perlu dikendalikan sesuai kebutuhan perusahaan agar tidak merugikan perusahaan. Misalnya apabila perusahaan mengalami surplus bahan baku, hal ini tentu akan menimbulkan biaya apabila disimpan dalam gudang, mulai dari biaya simpan dan biaya lain. Sama halnya jika perusahaan mengalami keterlambatan bahan baku, produksi akan terhambat dan perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen tepat pada waktunya. Apabila perusahaan dapat menentukan pola produksi yang optimal maka


(17)

commit to user 4

hal-hal tersebut dapat ditekan karena perusahaan dapat

merencanakannya sesuai kapasitas yang dimiliki perusahaan sehingga biaya juga dapat ditekan.

PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta adalah perusahaan yang bergerak dibidang industri textile, dengan produk utamanya yaitu kain printing dan kain grey tenun. PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta menerapkan pola produksi bergelombang untuk produknya, hal ini dapat dilihat dari produksi yang didasarkan dari permintaan konsumen khususnya pada Departemen Weaving yang memproduksi kain grey tenun. Menurut data yang penulis peroleh, terjadi fluktuasi penjualan kain grey tenun antara tahun 2006 sampai 2009 pada PT. Iskandar Indah Printing Textile. Selain itu biaya administrasi gudang juga mengalami peningkatan dari periode sebelumnya sedangkan kapasitas produksi perusahaan sendiri cenderung tetap.

Dengan mempertimbangkan efisiensi biaya dan adanya fluktuasi

penjualan penulis tertarik untuk mengetahui apakah pola produksi yang

digunakan Departemen Weaving untuk produk kain grey tenun tahun 2010 sudah optimal atau tidak. Maka dalam penulisan tugas akhir ini penulis mengambil judul : “ANALISIS PENENTUAN POLA PRODUKSI

YANG OPTIMAL UNTUK KAIN GREY TENUN PADA DEPARTEMEN

WEAVING DI PT. ISKANDAR INDAH PRINTING TEXTILE


(18)

commit to user 5 B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan pola produksi pada departemen weaving di PT. Iskandar Indah Printing Textile sudah optimal?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian terkait dengan penyusunan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui pola produksi yang optimal pada departemen weaving di PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi Perusaahaan

Sebagai bahan pertimbangan khususnya dalam menentukan pola produksi yang optimal untuk kain grey tenun.

2. Bagi Penulis

a. Memperoleh pengalaman kerja di dunia kerja nyata.

b. Dapat menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah khususnya ilmu mengenai peramalan dan penentuan pola produksi.

3. Bagi Pembaca Dan Pihak lain

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman bagi pembacanya khususnya yang terkait dengan pola produksi.


(19)

commit to user 6 E. Metode Penelitian

1. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian dilakukan di PT. ISKANDAR INDAH PRINTING TEXTILE SURAKARTA yang berlokasi di Jln. Pakel no 11 Surakarta.

2. Sumber Data

Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder yang berupa : a. Data penjualan kain grey tahun 2006 sampai 2009

b. Data biaya administrasi gudang

F. Kerangka Pemikiran

Adanya fluktuasi permintaan setiap tahun membuat perusahaan harus menentukan pola produksi yang paling optimal. Untuk menentukan pola produksi pada periode selanjutnya dilakukan dengan melihat data fluktuasi paenjualan yang ada dan melakukan forecast terhadapnya.

Hasil dari forecast atau peramalan penjualan tadi digunakan untuk menganalisis masing-masing pola produksi sehingga dapat dilihat pola produksi mana yang memiliki jumlah biaya yang terendah. Pola produksi yang memiliki incremental cost atau biaya tambahan terendah merupakan pola produksi yang paling optimal diterapkan pada perusahaan yang bersangkutan.


(20)

commit to user 7

Gambar I.1 Kerangka Pemikiran

G. Teknik Analisis Data

1. Menentukan Ramalan Penjualan Tahun 2010

a. Ramalan Penjualan Tahunan

Pola Produksi Optimal Untuk Kain Grey Tenun

Analisis Biaya Tambahan 1. Biaya Simpan 2. Biaya Sub Kontrak 3. Biaya Lembur

4. Biaya Perputaran Tenaga Kerja

Pola Produksi

1. Pola Produksi Konstan 2. Pola Produksi

Bergelombang

3. Pola Produksi Moderat Ramalan Penjualan Kain Grey Tenun Tahun 2010

Data Penjualan Kain Grey Tenun Tahun 2006 - 2009


(21)

commit to user 8

Untuk merencanakan ramalan tahunan digunakan trend linier dengan metode kuadrat terkecil (least square method) dengan rumus :

,dimana nilai variabel dan dari persamaan trend diatas diperoleh dengan rumus :

atau

Sedangkan diperoleh dengan rumus :

atau

Keterangan : = nilai trend atau forecast

= bilangan konstan

= slope atau kecondongan garis trend

= waktu atau tahun

= jumlah periode peramalan

b. Ramalan penjualan Triwulanan

Fluktuasi penjualan dari periode ke periode dipengaruhi oleh adanya variasi musim. Menurut Gitosudarmono, (1999:137) variasi musim adalah gejala naik turun secara teratur cenderung untuk


(22)

commit to user 9

terulang dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Diperoleh dengan rumus :

Dimana : = indeks musim triwulan

= rata-rata penjualan triwulan

= rata-rata dari rata-rata penjualan pertriwulan Sedangkan untuk mencari jumlah penjualan pertriwulan dicari menggunakan rumus :

Dimana : = ramalan penjualan triwulan

= nilai trend atau forecast penjualan tahunan = indeks musim triwulan

c. Tingkat Kesalahan Peramalan

Ukuran akurasi hasil peramalan yang merupakan ukuran kesalahan peramalan merupakan ukuran tingkat perbedaan antara hasil peramalan dengan permintaan yang sebenarnya terjadi (Nasution,2003:30). Ada empat ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur akurasi hasil peramalan yaitu :


(23)

commit to user 10

Keterangan :

= rata-rata deviasi mutlak (Mean Absolute Deviation) = rata-rata kuadrat kesalahan (Mean Square Error)

= rata-rata kesalahan peramalan (Mean Forecast Error) = permintaan aktual pada periode t dimana

= peramalan permintaan (forecast) dimana = jumlah periode peramalan

d. Peramalan Dengan POM For Windows

Peramalan penjualan kain grey tenun tahun 2010 pada PT. Iskandar Indah Printing Textile dilakukan menggunakan metode POM for Windows. Peramalan menggunakan data penjualan selama empat tahun yaitu tahun 2006 sampai 2009.

Metode POM adalah metode yang dapat membantu

mempermudah dalam kerja manajemen operasi. Dalam peramalan dipilih forecasting dalam POM, dan untuk metodenya dipilih trend analysis (regress over time). Dengan POM dapat dilihat tingkat kesalahan peramalan.


(24)

commit to user 11 2. Analisis Biaya Tambahan

Pola produksi yang optimal adalah pola produksi yang mempunyai incremental cost terendah yang dapat menguntungkan perusahaan. Yang termasuk biaya tambahan adalah :

a. Biaya Simpan

Yang dimaksud disinni adalah biaya penyimpanan barang-barang hasil produksi yang belum atau tidak laku terjual. Hal ini terjadi pada saat jumlah produksi meningkat lebih tinggi dari jumlah penjualan.

b. Biaya Perputaran Tenaga Kerja

Yaitu biaya yang harus dikeluarkan sehubungan dengan penarikan atau pengeluaran tenaga kerja.

c. Biaya Lembur

Yaitu biaya yang harus dikeluarkan apabila perusahaan melakukan kerja lembur untuk memenuhi permintaan. Kerja lembur ini dilakukan diluar jam kerja normal yang ditetapkan perusahaan.


(25)

commit to user 12

d. Biaya sub Kontrak

Yaitu biaya yang harus dikeluarkan perusahaan bila kapasitas maksimal produksi tidak mampu memenuhi volume produksi yang diharapkan,kekurangan disub kontrakan pada perusahaan lain.

BAB II

TINJAUAN PUTAKA

A. Manajemen Produksi

Pengertian produksi dalam arti luas adalah segala kegiatan yang mentransformasikan masukan (input) menjadi (output), tercakup semua aktivitas atau kegiatan yang menghasilkan produk tersebut. Sedangkan arti produksi dalam arti sempit adalah sebagai kegiatan yang menghasilkan barang, baik barang jadi maupun barang setengah jadi, bahan industri dan suku cadang atau spare part (Assauri, 1999:11).

Menurut Handoko, (1993:3) manajemen produksi dan operasi merupakan usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya-sumber daya (atau sering disebut faktor-faktor produksi), tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah, dan sebagainya dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi


(26)

commit to user 13

berbagai produk atau jasa. Sedangkan tujuan dari manajemen produksi itu sendiri adalah untuk mengatur faktor-faktor produksi yang ada, baik yang berupa bahan baku, tenaga kerja, mesin-mesin, dan peralatan lain sedemikian rupa sehingga proses roduksi dapat berjalan efektif dan efisien (Gitosudarmono,1999:3). Sehingga manajemen

produksi dapat disimpukan sebagai kegiatan atau aktivitas

penanganan barang mulai dari input hingga output, yang disesuaikan dengan kemampuan perusahaan sehingga dapat berjalan efektif dan efisien.

B. Pola Produksi

Menurut Ahyari, (2002:184) pola produksi adalah distribusi dari produksi tahunan kedalam periode yang lebih kecil misalnya bulanan atau mingguan atau unit waktu yang lainnya. Sedangkan menurut Yamit, (1998:77) yang dimaksud dengan pola produksi adalah distribusi dari produksi tahunan kedalam periode yang lebih kecil (misalnya : bulanan, minggu, atau unit waktu yang lainya) untuk mengantisipasi rencana penjualan.

Pola produksi juga dikatakan sebagai ukuran akan berapa banyak

barang-barang yang diproduksi oleh suatu perusahaan

(Gitosudarmono,2002:149). Tidak hanya satu produk melainkan semua produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Dengan demikian


(27)

commit to user 14

pola produksi dapat dikatakan sebagai pendistribusian produksi tahunan kedalam unit lainnya guna mengantisipasi rencana penjualan.

Adanya fluktuasi penjualan membuat perusahaan harus memilih pola produksi yang tepat. Pola produksi dapat digunakan untuk mengantisipasi rencana penjualan yang tepat, karena melalui pola produksi juga memperhatikan kapasitas maksimal yang dimiliki perusahaan.

Biaya tambahan atau incremental cost juga diperhitungkan dalam penerapan pola produksi sehingga efisiensi produksi dapat dicari. Biaya-biaya tersebut antaralain biaya simpan, biaya lembur, biaya perputaran tenaga kerja, dan biaya sub kontrak. Pola produksi yang optimal diterapkan pada perusahaan yaitu pola produksi yang memiliki biaya tambahan atau incremental cost terendah dibandingkan jenis pola produksi yang lain.

C. Jenis Pola Produksi

Pada umumnya terdapat tiga macam pola produksi yaitu pola produksi konstan, pola produksi bergelombang, dan pola produksi moderat.

1. Pola Produksi Konstan

Merupakan distribusi dari jumlah produksi selama satu tahun kedalam jumlah produksi setiap bulan, dimana jumlah produksi dari bulan ke bulan tersebut adalah sama atau relatif sama


(28)

commit to user 15

(Ahyari,1994:185). Adapun kelebihan dan kekurangan pola produksi konstan yaitu :

a.) Kelebihan :

1.) Memudahkan manajer operasi dalam merencanakan

kapasitas produksi tahunan, merencanakan bahan baku, tenaga kerja dan fasilitas lainnya.

2.) Pembelian bahan baku yang terus menerus (kontinyu).

3.) Mencegah terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

untuk karyawan perusahaan. b.) Kelemahan :

1.) Jumlah produksi yang terbatas menyebabkan permintaan

pasar atau konsumen tidak semuanya terpenuhi.

2.) Tingkat kerusakan barang yang disimpan dalam gudang

cukup tinggi.

3.) Menimbulkan biaya tambahan (incremental cost) berupa

biaya simpan dan biaya lembur ataupun biaya sub kontrak. 2. Pola Produksi Bergelombang


(29)

commit to user 16

Menurut Ahyari, (1994;186) pola produksi bergelombang merupakan suatu distribusi dari jumlah produksi selama satu tahun kedalam jumlah produksi seetiap bulan, dimana jumlah produksi dari bulan ke bulan tersebut adalah selalu berubah mengikuti perubahan tingkat penjualan dalam perusahaan bersangkutan. Kebaikan dan kelemahan pola produksi ini adalah :

a.) Kebaikan :

1.) Terpenuhinya permitaan pasar yang berfluktuasi.

2.) Perusahaan mampu memenuhi kebutuhan konsumen akan

produk yang diinginkan.

3.) Pola produksi bergelombang mampu menekan biaya

tambahan (incremental cost). b.) Kelemahan :

1.) manajer operasi kesulitan dalam merencanakan kapasitas

produksi tahunan, bahan baku, tenaga kerja, dan fasilitas-fasilitas lainnya.

2.) Pembelian bahan baku yang tidak tentu jumlah dan

waktunya.

3.) Sering terjadi pemutusan kerja bagi karyawan perusahaan.

3. Pola Produksi Moderat

Merupakan suatu distribusi jumlah produksi selama satu tahun kedalam jumlah produksi setiap bulan dimana jumlah produksi maupun jumlah persediaan barang jadi yang ada dalam


(30)

commit to user 17

perusahaan yang bersangkutan ini akan berubah-ubah untuk menutup perubahan-perubahan yang ada dalam penjualan produk perusahaan tersebut(Ahyari,1994:186). Kebaikan dan kelemahan pola produksi moderat adalah :

a.) Kebaikan :

Pola produksi moderat adalah penggabungan antara pola produksi konstan dengan pola produksi bergelombang. Kebaikan dari pola produksi konstan mampu menutupi kelemahan pola produksi bergelombang, begitu pula sebaliknya kelemahan pola produksi konstan akan tertutupi oleh kebaikan pola produksi bergelombang.

b.) Kelemahan :

Kemungkinan timbulnya semua biaya tambahan (incremental cost).

Sedangkan menurut Gitosudarmono, (2002:175) jenis pola produksi antaralain:

a.) Pola Produksi Konstan

Pola produksi dimana jumlah yang diproduksi setiap hari/minggu/bulan itu selalu sama.

b.) Pola Produksi Bergelombang

Pola produksi dimana jumlah yang diproduksi setiap hari/minggu/bulan itu tidak selalu sama.


(31)

commit to user 18

Pola produksi yang bergelombang tetapi diusahakan agar gelombang produksi itu tidak terlalu tajamsehingga dapat mendekati konstan.

D. Cara Menetukan Pola Produksi

Cara menentukan pola produksi yang paling optimal bagi perusahaan yaitu dengan menganalisis biaya tambahan (incremental cost). Biaya tambahan yang ada berupa biaya lembur, biaya sub kontrak, biaya simpan, dan biaya perputaran tenaga kerja. Biaya tambahan ini akan terjadi apabila kapasitas produksi tahunan didistribusikan ke unit waktu lainnya seperti mingguan, bulanan, ataupun triwulanan.

Setiap pola produksi akan menimbulkan biaya tambahan yang berbeda-beda. Pola produksi yang menimbulkan biaya tambahan (incremental cost) paling sedikit dipilih sebagai pola produksi yang peling tepat. Incremental cost atau biaya tambahan dihitung dengan melihat kapasitas produksi maksimal yang dimiliki perusahaan serta pola biaya yang mencakup biaya sub kontrak, biaya simpan, biaya lembur, serta biaya perputaran tenaga kerja.


(32)

commit to user 19 E. Faktor-faktor Pola Produksi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pola produksi adalah : a. Pola Penjualan

Merupakan bentuk penjualan yang terjadi dalam perusahaan dalam kurun waktu tertentu.

b. Pola Biaya

Adalah fluktuasi biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan

karena kebutuhan-kebutuhan dalam perusahaan. Dalam

pembahasan pola biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang timbul atau dikeluarkan sebagai akibat dari adanya perubahan produksi. Terdiri dari:

1.) Biaya Perputaran Tenaga Kerja 2.) Biaya Simpan

Yang dimaksud disini adalah biaya penyimpanan barang-barang hasil produksi yang tidak atau belum laku terjual. Hal ini


(33)

commit to user 20

terjadi ketika jumlah produksi meningkat lebih tinggi dari jumlah penjualan sehinnga sisa hasil produksi harus disimpan.

3.) Biaya Lembur

Yaitu biaya yang harus dikeluarkan jika perusahaan melakukan kerja lembur untuk memenuhi permintaan. Lembur dilakukan diluar jam kerja normal.

4.) Biaya Sub Kontrak

Yaitu biaya yang harus dikeluarkan perusahaan apabila perusahaan mensub kontrakan produksi ke perusahaan lain karena kapasitas maksimal yang dimiliki perusahaan tak memenuhi permintaan.

c. Kapasitas Produksi

Adalah tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pasar atau konsumen (Gitosudarmono,2002:173). Kapasitas perusahaan dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain jumlah karyawan, jumlah mesin, jumlah jam kerja.

F. Peramalan

Peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan dalam ukuran kuantitas waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang atau jasa(Nasution,2003:25).


(34)

commit to user 21

Sedangkan menurut Subagyo, (2000:1) peramalan (forecasting) adalah peramalan (perkiraan mengenai sesuatu yang belum terjadi.

Secara umum metode peramalan dapat dibagi dalam dua kategori utama, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Pada metode kuantitatif dapat dibagi kedalam deret berkala/runtun waktu (time series) dan metode kausal, sedangkan metode kualitatif dibagi menjadi metode eksploratoris dan normatif(Yamit,1998:37).

Menurut Zulian Yamit, (1998:38) metode runtun waktu dipilih dengan mempertimbangkan jenis pola data. Pola data sendiri dibedakan menjadi :

1. Pola Horisontal

Terjadi apabila nilai data berfluktuasi disekitar nilai data yang konstan.

2. Pola Musiman

Terjadi bila deret dipengaruhi pola musiman. 3. Pola Siklus

Terjadi bila datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi jangka panjang seperti bisnis.

4. Pola Trend

Terjadi apabila terdapat kenaikan atau penurunan jangka panjang dalam data.

Pola trend sendiri dapat diukur dengan berbagai metode,antaralain :


(35)

commit to user 22

1. Metode bebas (freehand method)

2. Metode setengah rata-rata (semi average method) 3. Metode rata-rata bergerak (moving average method) 4. Metode kwadrat terkecil (least quares method)

Metode peramalan yang baik adalah metode yang bisa meminimumkan kesalahan, sehingga perlu dipilih metode yang paling sesuai dengan masalahnya. Metode trend liner adalah salah satu metode yang dapat digunakan dalam mengatasi atau meramalkan masalah fluktuasi penjualan.

Untuk merencanakan ramalan tahunan digunakan trend linier dengan metode kuadrat terkecil (least square method) dengan rumus :

,dimana nilai variabel dan dari persamaan trend diatas diperoleh dengan rumus :

atau

Sedangkan diperoleh dengan rumus :

Atau


(36)

commit to user 23

= bilangan konstan

= slope atau kecondongan garis trend

= waktu atau tahun

= jumlah periode peramalan

Ramalan penjualan Triwulanan

Fluktuasi penjualan dari periode ke periode dipengaruhi oleh adanya variasi musim. Menurut Gitosudarmono, (1999:137) variasi musim adalah gejala naik turun secara teratur cenderung untuk terulang dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Diperoleh dengan rumus :

Dimana : = indeks musim triwulan

= rata-rata penjualan triwulan

= rata-rata dari rata-rata penjualan pertriwulan Sedangkan untuk mencari jumlah penjualan pertriwulan dicari menggunakan rumus :

Dimana : = ramalan penjualan triwulan

= nilai trend atau forecast penjualan tahunan


(37)

commit to user 24

Tingkat Kesalahan Peramalan

Ukuran akurasi hasil peramalan yang merupakan ukuran kesalahan peramalan merupakan ukuran tingkat perbedaan antara hasil

peramalan dengan permintaan yang sebenarnya

terjadi(Nasution,2003:30).

Ada empat ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur akurasi hasil peramalan yaitu :

Keterangan :

= rata-rata deviasi mutlak (Mean Absolute Deviation) = rata-rata kuadrat kesalahan (Mean Square Error)

= rata-rata kesalahan peramalan (Mean Forecast Error) = rata-rata presentase kesalahan absolute (Mean Absolute

Percentage Error)

= permintaan aktual pada periode t dimana = peramalan permintaan (forecast) dimana


(38)

commit to user 25 = jumlah periode peramalan

BAB III PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Perusahaan

1. Sejarah perkembangan perusahaan

PT. ISkandar Indah Printing textile merupakan sala satu dari sekian banyak perusahaan textile di Indonesia. Perusahaan ini mengolah bahan baku dari benang menjadi kain grey yang kemudian diolah menjadi batik printing untuk meningkatkan jenis produksi perusahaan dan meningkatkan nilai jual dari kain tersebut.

Pada mulanya adalah perusahaan keluarga yang dirintis oleh keluarga Wahyu Iskandar. Produk yang dihasikan adalah kain batik


(39)

commit to user 26

cap lokasi usahanya yang masih berada di daerah laweyan. Karena usaha tersebut mengalami kemajuan, maka keluarga Wahyu Iskandar sepakat untuk mendirikan badan usaha yang berbentuk CV (commanditer mennonschap) pada tanggal 23 Mei 1975 dengan bentuk usaha bernama CV Iskandartex berdasarkan akta perusahaan No. 98 tanggal 23 Mei 1975.

CV Iskandartex didirikan di daerah lokasi yang tempatnya berada di jalan Pakel No. 11 RT.03 RW.VIII Kelurahan Kerten, Kecamatan Laweyan, Surakarta. Perusahaan ini memulai produksinya satu tahun setelah didirikan yaitu pada tahun 1976. Pada awal didirikan, perusahaan mempunyai 25 unit mesin tenun, dan mulai mengalami perkembangan yang begitu pesat pada tahun 1977 perusahaan telah memilki 77 unit mesin tenun. Produksi perusahaan juga terus mengalami peningkatan dengan dibuktinkan pada tahun 1980, perusahaan mendatangkan mesin kanji dari Negara Taiwan yang mempunyai fungsi mengeringkan kain secara otomatis. Ditahun yang sama perusahaan juga menambah mesin tenun menjadi 300 unit.

Karena permintaan pasar semakin meningkat maka perusahaan menambah kapasitas produksi dengan menambah mesin tenun, hingga akhir 1993 CV Iskandartex mencapai 614 unit. Dan saat ini seluruh mesin tenun yang dimiliki adalah 625 unit.

Mesin – mesin tersebut terdiri dari :


(40)

commit to user 27

b. Mesin warping : 3 unit

c. Mesin kanji : 2 unit

d. Mesin diesel : 1 unit

Melihat perkembangan yang begitu pesat dari perusahaan ini, maka pimpinan perusahaan mengambil kebijakan untuk mengubah bentuk CV menjadi bentuk PT. Dengan bentuk PT. ini perusahaan lebih mempunyai peluang untuk mengembangkan usahanya. Perusahaan ini resmi menjadi PT. Iskandartex pada tanggal 2 Januari 1991 dengan nomor izin usaha 199/IIPB/1991/PT. Penggantian nama sejak bulan Februari 1996 menjadi PT. Iskandar Indah Printing Textile.

2. Struktur Organisasi Karyawan

Gambar III.1


(41)

commit to user 28

3. Tugas dan Tanggung Jawab.

Tugas dan tanggung jawab dari tiap – tiap bagian organisasi perusahaan pada PT. Iskandar Indah Printing Textile, adalah sebagai berikut :

a. Dewan Komisaris.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Menjamin keadaan perusahaan dalam melaksanakan

kegiatan sesuai dengan kepentingan pemegang saham. 2) Menandatangani laporan tahunan.

3) Memberhentikan pengurus dari jabatan.

4) Mengawasi pekerjaan direksi baik secara preventif maupun representative.

5) Menunjuk akuntan public untuk melaksanakan

pemeriksaan tahunan terhadap laporan keuangan

perusahaan. b. Direktur Utama.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Bertanggung jawab atas pengembangan perusahaan

secara keseluruhan.

2) Mengkoordinir dan memimpin rapat departemen

mengenai rencana – rencana penjualan, pembelian, produksi, keuangan, dan manajemen.


(42)

commit to user 29

3) Memepelajari situasi dan perkembangan bisnis

pertekstilan secara keseluruhan.

4) Menjaga dan mengembangkanhubungan – hubungan dengan supplier, chanel pemasaran, badan – badan usaha, asosiasi, perbankan, investasi, dan lain – lain. 5) Menerima dan mempelajari laporan – laporan global

mengenai produksi, keuangan, penjualan dan umum. c. Sekretaris.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Menyiapkan surat – surat, laporan dan formulir untuk

pemerintah.

2) Melanjutkan transaksi penjualan dan pembelian dengan pengarahan dari atasan.

3) Menampung, memproses, dan mematangkan smua urusan dari dalam dan luar perusahaan sebelum diteruskan kepada Direktur.

d. Manajer Produksi.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Bertanggung jawab atas kelancaran produksi yang

mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian dalam mencapai produksi yang tepat.

2) Bertanggung jawab dalam mengatur tenaga kerja, mesin, dan material dalam kegiatan produksi.


(43)

commit to user 30

3) Berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi sesuai dengan perkembangan teknologi dan kemajuan zaman.

e. Kabag Produksi Printing.

Bertanggung jawab dalam kegiatan pemberian motif pada kain dan mengatur cara karyawan agar mencapai penggunaan waktu, tempat, dan tenaga yang lebih efisien. Serta mendelegasikan tugas yang dikerjakan bagian bawahan, yaitu :

1) Bagian persiapan.

Tugas bagian persiapan :

a) Memilih dan menetapkan warna untuk kain yang akan dibuat.

b) Membantu persiapan alat, bahan baku, dan bahan penolong yang akan digunakan.

c) Menentukan takaran obat untuk kain.

d) Mengatur dan mengawasi pelaksanaan kerja sekaligus memeriksa warna kain yang sudah selesai dibuat. 2) Bagian Proses.

Tugas bagian Proses :

a) Menyusun jadwal kerja pada bagian proses sesuai dengan rencana.


(44)

commit to user 31

c) Mengatur dan mengawasi pelaksanaan kerja dibagian proses.

3) Bagian Finishing

Tugas bagian Finishing :

a) Menyusun jadwal kerja pada bagian proses sesuai dengan rencana.

b) Mengatur dan mengawasi pelaksanaan kerja di bagian printing.

c) Menyiapkan laporan hasil produksi per hari tiap shift. 4) Bagian Teknik.

Tugas bagian Teknik :

a) Mengatur kerja mesin – mesin produksi.

b) Mengganti dan memperbaiki peralatan mesin atau suku cadang mesin yang rusak.

f. Kabag Produksi Weaving

Bertanggung jawab atas penenunan dari bahan baku benang yang diproses menjadi kain dan memberikan tugas kepada bagian yang di bawahnya, yaitu :

1) Bagian Persiapan. Tugas bagian persiapan.

a) Menyusun jadwal kerja kelompok warping,

pengkanjian, cucuk, dan palet sesuai dengan rencana produksi.


(45)

commit to user 32

b) Membantu menyiapkan peralatan, bahan baku dan bahan penolong yang akan digunakan.

c) Mengatur dan mengawasi pelaksanaan kerja bagian proses.

2) Bagian Proses

Tugas bagian proses :

a) Menyusun jadwal kerja bagian proses sesuai dengan yang direncanakan.

b) Membantu menyiapkan pelaksanaan. 3) Bagian Finishing.

Tugas bagian Finishing :

a) Menyusun jadwal kerja bagian finishing sesuai dengan yang direncanakan.

b) Mengatur dan mengawasi pelaksanaan kerja bagian weaving.

c) Menyiapkan laporan hasil perhari tiap shift. 4) Bagian Teknik.

Tugas bagian teknik :

a) Mengatur kerja mesin – mesin produksi.

b) Mengganti dan memperbaiki peralatan mesin atau suku cadang mesin yang rusak.

g. Kabag Quality Control.


(46)

commit to user 33

1) Melaksanakan pengontrolan kualitas terpadu dari bahan baku, bahan pembantu, sampai kain jadi.

2) Mempelajari laporan – laporan grafik hasil produksi, kegitan montir, dan naik turun beam.

3) Melaksanakan koreksi atas pelaksanaan produksi

bersama dengan bagian gudang, bagian persiapan, proses, finishing, dan maintenance.

h. Manajer Pemasaran.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Melakukan pekerjaan administrasi penjualan.

2) Mengatur dan menetapkan pejualan pokok. 3) Membuat permintaan produksi.

4) Mengatur promosi dan menetapkan pencapaian target penjualan. Dan tugas ini didelegasikan bersama – sama dengan karyawan yang bekerja di bagian bawahnya. i. Manajer Keuangan.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Menyetujui dan menandatangani permintaan biaya

belanja sehari – hari.

2) Menyetujui anggaran sesuai dengan rencana produksi. 3) Menyusun cash flow tahunan.

4) Menerima dan mencocokkan rekening Koran. 5) Menyusun neraca dan laporan rugi/laba periode.


(47)

commit to user 34

6) Menyetujui penjualan tunai atas barang – barang bekas atau rusak.

j. Kabag Kas.

Tugas – tugas dari bagian kas adalah :

1) Melakukan pekerjaan administrasi keuangan.

2) Mengatur pemasukan dan pengeluaran keuangan

perusahaan.

3) Melaksanakan pembayaran gaji. k. Kabag Pembukuan.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Mencatat dan mengarsip kartu persediaan, retur

penjualan, retur pembelian, dan kartu piutang.

2) Mempersiapkan daftar pembayaran utang dan daftar penagihan piutang.

3) Melakukan cross check daftar pembayaran utang dan daftar penagihan piutang.

4) Menjalankan jurnal.

5) Menyiapkan laporan – laporan penjualan, pembelian, stok, biaya, dan produksi.

6) Melakukan stock opname dengan bagian gudang. l. Kabag Pembelian.


(48)

commit to user 35

1) Mengkoordinir pembelian bahan baku yang diperlukan perusahaan serta pembelian peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan.

2) Mengawasi barang – barang yang dibeli jika tidak sesuai dengan pesanan baik kualitas maupun kuantitas serta harga yang telah disepakati sebelumnya.

3) Mengatur dan menetapkan cara pembelian dan

pengadaan bahan – bahan yang diperlukan dalam proses produksi.

4) Menentukan atau memilih supplier.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas yang diberikan pada bawahannya dan atas kelancaran penyediaan bahan kebutuhan proses produksi.

m. Kabag Gudang

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Mengikuti pelaksanaan dari rencana pengadaan barang

dan sparepart.

2) Melakukan stock opname dengan bagian pembukuan setiap hari.

3) Melakukan seleksi terhadap spare part bekas bersama dengan bagian workshop.

4) Melakukan koreksi terhadap sparepart yang hamper habis.


(49)

commit to user 36

5) Menyerahkan dokumen – dokumen administrasi ke bagian pembelian, penjualan, keuangan dan pembukuan. n. Manajer Personalia.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Menangani administrasi pegawai.

2) Mengarahkan, mengkoordinir, dan mendelegasikan tugas – tugas kepada bawahan.

3) Menyerahkan persoalan yang berhubungan dengan tenaga kerja.

o. Manajer Umum.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Mengatur pelaksanaan pelayanan kesehatan dan PPPK. 2) Mengatur pekerjaan koperasi.

3) Mengatur dan mengawasi kebersihan bangunan,

kendaraan, dan peralatan.

4) Mengatur pelaksanaan dan social.

5) Melakukan absensi karyawan setiap hari.

6) Melakukan koordinasi dengan semua kepala bagian tentang kebutuhan – kebutuhan pelayanan umum.

p. Kepala Sie Kendaraan.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Bertanggung jawab atas perawatan dan perbaikan alat


(50)

commit to user 37

2) Mempersiapkan pengendara beserta alat transportasi yang digunakan dalam kegiatan perusahaan.

q. Kepala Sia Keamanan.

Bertanggung jawab atas tugas – tugas sebagai berikut : 1) Melayani tamu di pos pelayanan terdepan.

2) Bertanggung jawab terhadap keamanan dan ketertiban di lingkungan perusahaan.

r. Kepala Sie Rumah Tangga.

Bertanggung jawab terhadap hal – hal yang bersifat kegiatan yang dilakukan di lingkungan rumah tangga misalnya perawatan taman, pembuangan sampah, pembersihan selokan, dan lain sebagainya.

4. Personalia Perusahaan. a. Jumlah tenaga kerja

Di PT. ISkandar Indah Printing Textile, system ketenagakerjaan di bagi ke dalam dua bagian yaitu :

1) Bagian Produksi

Yaitu bagian yang bekerja di departemen unit weaving dan departemen unit printing serta bagian finishing.

2) Bagian non produksi

Yaitu bagian yang bekerja sebagai karyawan kantor dan gudang.


(51)

commit to user 38

Saat ini jumlah tenaga kerja di PT. Iskandar Inda Printing Textile berjumlah 1295.

Dengan pembagian kerja sebagai berikut : Tabel III.1

Shift bagian dan jumlah karyawan

Shift dan Bagian Jumlah karyawan

(orang)

a. Day Shift 70

b. Shift

1) Operator RRT52 2) Operator Picanol 3) Operator Toyoda 4) Pengisi Palet 5) Palet

6) Warping 7) Pengkanjian 8) Cucuk

9) Pengawasan Monitor 10) Pengawasan Umum 11) Bengkel

12) Listrik 13) Inspecting 14) Roll Kain

210 135 22 60 105 60 90 80 45 20 45 15 45 10


(52)

commit to user 39

15) Finishing 16) Keamanan 17) Transportasi 18) Umum

30 20 20 10

Jumlah 1.129

b. Shift

Pada PT. Iskandar Indah Printing Textile, sistem kerja shift dibagi menjadi tiga group, yaitu :

1) Shift I atau disebut sebagai Group A masuk pagi. 2) Shift II atau disebut sebagai Group B masuk siang. 3) Shift III atau disebut sebagai Group C masuk Malam.

Tiap - tiap shift dikepalai dengan kepala shift, pengawas dan staff masing – masing bagian dan mendapatkan jam istirahat selama 1 jam yang diatur dengan efektif sehingga tidak mengganggu proses produksi.

Pembagian kerja PT. Iskandar Indah Printing Textile adalah sebagai berikut.

1) Group A : pukul 07:00 WIB – 15:00 WIB dengan waktu istirahat mulai pukul 11:30 WIB – 12:30 WIB.

2) Group B : pukul 15:00 WIB – 23:00 WIB dengan waktu istirahat mulai pukul 18:45 WIB – 19:45 WIB.

3) Group C : pukul 23:00 WIB – 07:00 WIB dengan waktu istirahat mulai pukul 02:00 WIB – 03:00 WIB.


(53)

commit to user 40

System pembagian kerja karyawan di atas berlaku untuk karyawan bagian produksi dan teknik, sedangkan untuk karyawan bagian non produksi jam kerjanya 40 jam/ minggu dengan system pembagian jam mulai dari hari senin sampai jum’at, dimulai pukul 07:00 WIB – 16:00 WIB dengan istirahat mulai 11:45 WIB – 12:45 WIB dan hari sabtu masuk setengah hari mulai pukul 07:00 WIB – 12:00 WIB. Pergantian masuk jam kerja tiap bagian produksi setiap minggu sekali dan dimulai setiap hari senin.

c. Sistem Pemberian upah

Sistem pemberian upah kepada karyawan yang ditetapkan PT. Iskandar Indah Printing Textile adalah sebagai berikut :

1) Sistem Upah Bulanan.

Sistem upah ini dilakukan untuk karyawan yang bekerja di bagian staf, kepala bagian atau mandor dengan menerima upah pada bulan akhir.

2) Sistem Upah Mingguan.

Sistem ini diberlakukan untuk karyawan yang bekerja sebagai operator mesin produksi paada unit weaving, printing, dan finishing dengan menerima upah pada akhir minggu.

3) Sistem Upah Borongan.

Sistem upah ini diberikan sesuai dengan jumlah pekerjaan yang telah disesuaikan, misalnya untuk bagian pengepakan dan pembungkusan.


(54)

commit to user 41

Selain itu, perusahaan juga memberikan upah lembur, yaitu upah yang diberikan di luar jam kerja.

Upah lembur dapat dihitung dengan perhitungan sebagai berikut:

Upah mingguan : 150% dari gaji x hari lembur

Upah bulanan : 5. Bagian Produksi.

a. Bahan Produksi

Bahan – bahan yang digunakan dalam proses produksi adalah sebagai berikut :

1) Bahan baku yang digunakan terdiri atas dua jenis benang : a) Benang katun yaitu benang yang berasal dari serat alami

berupa kapas.

b) Benang rayon yaitu benang yang berasal dari serat buatan. 2) Bahan penolong atau bahan obat yang digunakan terdiri dari:

a) PVA seperti film untuk melapisi bulu – bulu benang.

b) Tepung jagung ( cornstat ), yang berfungsi untuk melenturkn benang.

c) Wax sejenis malam pet

d) Acrylic, yang berfungsi untuk melenturkan benang tetapi kelenturannya lebih dari tepung jagung.

b. Mesin – mesin produksi.

Mesin – mesin produksi yang digunakan dalam proses produksi antara lain :


(55)

commit to user 42

1) Mesin Warping.

Mesin yang digunakan untuk memproses bahan baku benang dari cones ke beam.

2) Mesin Kelos.

Mesin yang digunakan untuk memproses kembali benangg yang putus dari mesin warping sehingga benang dapat dipakai kembali.

3) Mesin Sizing.

Mesin yang digunakan untuk memproses bahan baku benang, dengan cara melapisi benang hasil dari mesin warping dengan menggunakan bahan penolong atau bahan obat berupa campuran dari bermacam – macam bahan kimia.

4) Mesin Cucuk.

Mesin yang digunakan untuk memproses benang lusi yang dimasukkan ke mata jarum agar bias di pilah – pilah untuk memudahkan proses tenun.

5) Mesin Winding.

Mesin yang digunkan untuk memproses bahan baku benang menjadi benang pakan.

6) Loom

Untuk memproses benang lusi dan benang pakan menjadi kain grey.


(56)

commit to user 43

Mesin untuk melipat kain tenun setelah dilakukan pemeriksaan. 8) Mesin Inspecting

Mesin yang digunakan untuk pemeriksaan kualitas kain dari mesin tenun.

9) Mesin Printing.

Mesin yang digunakan dalam proses printing kain yaitu proses memberikan corak kain putih.

10) Mesin Diesel.

Mesin yang digunakan sebagai sumber tenaga untuk menggerakkan mesin – mesin produksi.

11) Ketel Uap.

Digunakan sebagai alat pemanas. c. Proses Produksi

Departemen produksi weaving adalah departemen yang

menangani proses produksi dari bahan baku yang berupa benang menjadi kain jadi berupa kain grey. Pada departemen weaving di PT. Iskandar Indah Printing Textile, tiap proses produksi terbagi menjadi beberapa tahap :

1) Tahap Persiapan.

a) Pembuatan benang lusi

Benang lusi adalah benang yang diarahkan membujur atau memanjang dalam proses penenunan. Benang ini digulung ke dalam alat yang disebut beam, kemudian setelah itu


(57)

commit to user 44

dilakukan penarikan benang untuk penyusunan benang yang disesuaikan dengan banyaknya benang pada lebar kain.

b) Penghanian (warping)

Awal dari pembuatan benang lusi melalui proses penghanian dalam mesin warping yang melakukan proses penggulungan benang, sekaligus menentukan jumlah dan panjang benang yang diperlukan.

c) Pengkanjian (sizing)

Merupakan proses pemberian bahan penolong (bahan obat) berupa kanji pada benang lusi yang sudah terbentuk melalui proses pengeringan. Tujuan proses ini adalah untuk meratakan bulu – bulu yang terdapat pada benang, menghilangkan kotoran agar benang tidak kaku sehingga nantinya benang tidak mudah putus.

d) Proses Cucuk (racing)

Benang dimasukkan kedalam mesin cucuk dengan melewati jarum menuju ke sisir atau disebut dengan gun dengan jumlah mata sisir tergantung dari jumlah benang yang tersedia dari proses pengkanjian tadi. Proses ini bertujuan untuk memisah – misahkan benang lusi sehingga jumlah dan kerapatan benang pada lembar kain yang akan diproduksi dapat diatur dalam proses penenunan.


(58)

commit to user 45

e) Pembuatan benang pakan.

Benang pakan adalah benang yang arahnya menyilang dalam proses penenunan. Benang ini dimasukkan kedalam mesin kelos kemudian diteruskan ke mesin palet yang akan menggulung benang ke dalam kayu klinting. Kemudian klinting yang telah berisi benang di pindahkan ke bagian penenunan bersama – sama benang lusi.

2) Tahap Penenunan.

Tahap penenunan dilakukan dalam mesin tenun yang melakukan proses penyilangan benang lusi dan benang pakan sehingga terbentuklah sebuah kain. Benang lusi yang berada pada mesin tenun secara otomatis akan ditenun oleh benang pakan yang arahnya melintang. Dalam proses ini harus ada operator yang menjalankan mesin tenun.

3) Tahap Pengawasan. a) Inspecting

Kegiatan yang dilakukan untuk mengawasi dan memeriksa hasil kain grey bila terdapat kerusakan atau cacat kain yang perlu diperbaiki.

b) Repairing.

Kegiatan memperbaiki anyaman kain grey yang rusak atau ada yang ganda pakan atau ganda lusi.


(59)

commit to user 46

Kegiatan membersihkan kain grey dari sisa – sisa benang, serat, bulu – bulu.

d) Folding

Kegiatan terakhir yang dilakukan dengan melipat sekaligus menghitung panjang kain.

d. Penetapan standar kualitas.

Kerusakan atau cacat kain terjadi karena : 1) Putus Lusi.

Yaitu putusnya benang tenun yang arahnya memanjang pada kain tenun.

2) Putus Pakan.

Yaitu putusnya benang tenun yang arahnya memanjang pada kain tenun.

3) Ganda Lusi.

Terdapat dua atau lebih jumlah benang lusi yang menempel pada kain tenun.

4) Ganda Pakan.

Terdapat dua atau lebih jumlah benang pakan yang menempel pada kain tenun.

5) Penenunan Loncat.

Penenunan tidak berurutan. 6) Kotor Oli.


(60)

commit to user 47

6. Bidang Pemasaran. a. Saluran Distribusi.

Pada PT. Iskandar Indah Printing Textile saluran industri yang digunakan adalah :

1) Produsen – distributor industry – pemakai industri.

2) Produsen – agen – distributor industry – pemakai industri. b. Daerah pemasaran.

Pada awal usaha ini dirintis dalam bentuk perusahaan perseorangan, pemasaran hasil produksinya masih sekitar Surakarta. Tetapi dengan semakin maju dan berkembangnya usaha maka pemasaran hasil produksi turut berkembang hampir di seluruh kota – kota besar di Indonesia, antara lain : Surabaya, bali, Jakarta, Medan, Semarang, Yogyakarta, Makasar, Pekalongan, Purwokerto, dan Surakarta sendiri. Sedangkan untuk daerah

pemasaran ekspor adalah Singapura, Timur Tengah,

Bruneidarusallam, dan Negara Amerika Latin.

B. Laporan Magang

1. Pengertian Magang.

Program Magang Kerja adalah suatu upaya mengarahkan mahasiswa agar dapat merasakan situasi dunia kerja, melihat, dan melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan program studinya. Magang kerja


(61)

commit to user 48

merupakan kegiatan penunjang perkuliahan yang sifatnya wajib,

dengan berorientasi pada dunia usaha / dunia kerja.

2. Tujuan Magang Kerja.

Program Magang kerja adalah kegiatan intrakurikuler dan bersifat wajib bagi semua mahasiswa Program Diploma III Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sehingga mahasiswa yang belum atau tidak menempuh magang kerja tidak bisa mengikuti ujian tugas akhir dan tidak dapat dinyatakan lulus. Adapun tujuan pelaksanaan magang kerja ini adalah:

a. Mahasiswa dapat mengamati permasalahan yang ada di dunia kerja.

b. Mahasiswa dapat belajar dan memperoleh pengalaman secara langsung di lapangan tentang berbagai persoalan yang dihadapi perusahaan/instansi tempat magang kerja.

c. Mahasiswa dapat melakukan adaptasi sebelum memasuki dunia usaha / dunia kerja yang sesungguhnya, sehingga dapat menciptakan tenaga terampil yang siap kerja serta mampu mengembangkan diri secara profesional sesuai dengan bidangnya.

3. Manfaat Magang Kerja

Magang kerja dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, yaitu : a. Bagi Mahasiswa


(62)

commit to user 49

sudah didapat selama menempuh pendidikan.

2) Agar setelah lulus mahasiswa dapat menghadapi masalah yang akan timbul dalam dunia kerja.

b. Bagi Perusahaan

1) Perusahaan akan mendapat sumber daya manusia yang berkualitas di masa yang akan datang.

2) Hasil penelitian mahasiswa selama magang kerja dapat

dijadikan sebagai masukan dalam menentukan

kebijakan-kebijakan dalam perusahaan. 4 Pelaksanaan Magang Kerja

a. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Magang Kerja

Tempat : PT. Iskandar Indah Printing Textile. Alamat : Jl. Pakel No. 11 Surakarta

Waktu : 17 Maret – 17 April 2010

Kegiatan magang kerja dimulai pukul 08.00 WIB – 15.00 WIB untuk hari Senin – Jum’at. Sedangkan pada hari sabtu, kegiatan magang kerja dimulai pukul 08.00 WIB – 12.00 WIB. Mahasiswa magang wajib mengenakan pakaian yang sopan dan berjas almamater. Selain itu mahasiswa juga harus mentaati semua peraturan yang ada di PT. Iskandar Indah Priting Textile.


(63)

commit to user 50

Kegiatan Magang Kerja dilaksanakan pada tanggal 17 Maret – 17 April 2010. Kegiatan – kegiatan yang dilakukan pada waktu penelitian kurang lebih adalah sebagai berikut :

1) Pada hari pertama masuk magang digunakan untuk perkenalan dengan staff karyawan bagian administrasi PT. Iskandar Indah Printing Textile.

2) Minggu I

Adapun kegiatan yang dilakukan pada minggu I : a) Observasi bagian Produksi.

Jumlah karyawan pada PT. Iskandar Indah Printing Textile mencapai lebih dari 1200 keryawan, dengan day shift sekitar 70 orang karyawan. PT. Iskandar Indah Printing Textile sendiri menggunakan sistem kerja 3 shift per harinya, dengan rincian :

Shift I : Pukul 07.00 WIB sampai 15.00 WIB

Shift II : Pukul 15.00 WIB sampai 23.00 WIB

Shift III : Pukul 23.00 WIB sampai 07.00 WIB

b) Wawancara dengan kepala bagian produksi mengenai proses produksi.


(64)

commit to user 51

Menurut Bapak Suprapto selaku kepala bagian Depertemen Weaving PT. iskandar Indah Printing Textile, produksi dilakukan atas adanya pesanan dari konsumen. Departemen weaving sendiri adalah bagian yang bertugas memproduksi kain grey tenun yang merupakan salah satu produksi utama PT. Iskandar Indah Printing Textile.

3) Minggu II

a) Mencatat hasil produksi harian.

Mahasiswa dilibatkan dalam kegiatan kerja di PT. Iskandar Indah Printing Textile, salah satunya dengan dilibatkan dalam pencatatan hasil produksi harian. Dari pencatatan hasil produksi harian tersebut dapat dilihat jika produksi yang dilakukan mengalami fluktuasi yang disesuaikan permintaan konsumen.

b) Observasi cara kerja mesin dari proses weaving sampai finishing.

Mahasiswwa diijinkan berkeliling disekitar area produksi dengan didampingi oleh seorang karyawan untuk melihat bagaimana proses produksi kain grey tenun dilakukan.


(65)

commit to user 52

a) Input data dari bagian produksi.

Mahasiswa melakukan input data yang akan menjadi bahan dalam penulisan tugas akhir dengan metode wawancara. Bapak Suprapto selaku kepala bagian Departemen Weaving yang menjadi narasumbernya. Data-data tersebut antara lain yaitu tentang biaya administrasi gudang, produksi selama tahun 2006 sampai 2009, serta bagaimana proses produksi kain grey tenun dilakukan.

b) Wawancara dengan kepala bagian personalia mengenai latar belakang perusahaan.

Dari proses wawancara tersebut mahasiswa dapat

mengetahui sejarah perkembangan PT. Iskandar Indah Printing Textile.

5) Minggu IV.

a) Mengolah data mengenai konstruksi benang.

Mahasiwa diajarkan mengenai cara mengukur konstruksi benang dalam proses produksi kain.

b) Melengkapi data – data yang digunakan sebagai bahan penelitian.


(66)

commit to user 53 C. Pembahasan

Analisis dilakukan dengan memberikan gambaran tentang menentukan pola produksi yang optimal khususnya produksi kain grey tenun terkait dengan kapasitas yang dimiliki perusahaan PT. Iskandar Indah Printing Textile. Sehubungan dengan hal tersebut maka dilakukan analisis antaralain mengenai :

1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pola Produksi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pola produksi suatu perusahaan antaralain :

a. Pola Penjualan

Pola penjualan adalah fluktuasi permintaan produk oleh konsumen selama periode tertentu, dalam hal ini adalah tingkat penjualan kain grey tenun selama empat tahun terakhir yaitu tahun 2006, 2007, 2008, dantahun 2009. Untuk menentukan pola penjualan yang baik dilakukan peramalan. Peramalan ini dilakukan berdasarkan data penjualan empat tahun terakhir tersebut.

Peramalan yang baik adalah peramalan yang menunjukan tingkat kesalahan yang signifikan antara hasil peramalan dengan kenyataannya sehingga perlu dilakukan tingkat kesalahan peramalan.


(67)

commit to user 54

Data Penjualan Kain Grey Tenun PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta

Tahun 2006-2009 (Meter)

Bulan Tahun

2006 2007 2008 2009

Januari 1.076.113 1.100.340 1.098.811 1.031.019

Februari 804.594 747.339 948.702 830.960

Maret 800.124 944.675 745.500 831.008

April 766.438 821.340 702.273 642.233

Mei 706.003 765.839 689.742 759.843

Juni 889.301 1.049.876 1.100.340 1.009.212

Juli 930.762 723.781 837.243 1.011.970

Agustus 951.554 843.677 852.973 943.652

September 1.277.436 529.664 890.974 1.042.313

Oktober 560.488 430.398 702.435 606.226

November 633.470 700.023 518.860 743.692

Desember 823.587 727.883 698.502 783.442

Jumlah 10.219.870 9.384.889 9.786.355 10.253.570

Sumber : Data PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta Tahun 2010

Dari tabel diata dapat dilihat jika penjulan kain grey tenun pada PT. Iskandar Indah Printing Textile mengalami fluktuasi penjualan.

Tabel III.3

Data Biaya Operasional Gudang Kain Grey Tenun PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta


(68)

commit to user 55

Keterangan Jumlah

Biaya Bahan Bakar 1.800.000

Biaya Listrik 5.400.000

Biaya Telepon 3.600.000

Biaya Administrasi 5.400.000

Biaya Asuransi Gudang 150.000.000

Biaya Depresiasi Gedung 3.600.000

Biaya Depresiasi Peralatan Gedung

1.800.000

Jumlah 171.600.000

Sumber : Data PT. Iskandar Indah Printing Textile Tahun 2010

Berdasarkan tabel III.2 dan III.3 diatas maka dapat dilakukan peramalan penjualan kain grey tenun tahun 2010 dengan metode POM For Windows sebagai berikutl :


(69)

commit to user 56

Dari peramalan dengan POM diatas maka dapat diliha hasilnya pada tabel III.4 berikut ini :


(70)

commit to user 57

Tabel III.4

Perhitungan Trend penjualan Kain Grey Tenun PT. Iskandar Indah Printing Textile Surakarta

Tahun 2010

Nomor Keterangan Hasil

1. Persamaan trend penjualan = 9.785.536 +

50254,4

2. Ramalan penjualan kain grey tahun

2010

10.036.810 meter

3. Tingkat kesalahan peramalan :

a. MAD (Mean Absolute Deviation) b. MSE (Mean Sequare Error) c. MFE (Mean Forecast Error)

325.549

123.113.390.000 -1

Sumber : Data yang diolah

Keterangan : Perhitungan Terlampir Pada Lampiran

Untuk memudahkan menganalisis adanya fluktuasi musiman maka peramalan pejualan tahunan diubah menjadi ramalan penjualan triwulanan dengan menggunakan indeks musiman (seasonal index). Dalam menghitung indeks musim pengaruh trend dihilangkan sehingga dapat dicari persentase rata-rata tiap penjualan triwulan.

Berdasarkan table maka perhitungan indeks musim atau seasonal index serta ramalan penjualan kain grey tenun pertriwulan tahun 2010 dan fluktuasinya diperoleh sebagai berikut :


(71)

commit to user 58

Tabel III.5

Ramalan Penjualan Kain Grey Tenun perTriwulan Tahun 2006-2009 (Meter)

Tahun Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Jumlah

2006 2.680.831 2.361742 3.159.752 2.017.545 10.219.870

2007 2.792.354 2.637.109 2.097.122 1.858.304 9.384.889

2008 2.739.013 2.492.355 2.581.190 1.919.797 9.786.355

2009 2.692.987 2.411.288 2.997.935 2.133.360 10.235.570

Jumlah

Rata-rata

10.959.185

2.739.796,25

9.902.494

2.475.623,5

10.835.999

2.708.999,75

7.929.006

1.982.251,5

2.476.667,75

Sumber : Data yang diolah

Dari table tersebut maka dapat diperoleh dengan rumus :

Dimana : = indeks musim triwulan


(72)

commit to user 59

= rata-rata dari rata-rata penjualan

pertriwulan

Maka IT1 = = 1,106

IT2 =

=

0,99

IT3 =

=

1,09

IT4 =

=

0,8

Dari angka indeks tersebut, digunakan untuk menyusun ramalan penjualan triwulanan dengan fluktuasinya.

Maka :

TW1 = 1,1 = 2.760.122

TW2 = 0,99 = 2.484.110

TW3 = 1,09 = 2.735.030


(73)

commit to user 60

Tabel III.6

Ramalan penjualan kain Grey tenun per triwulan Tahun 2010 (meter)

Triwulan Penjualan

I 2.760.122

II 2.484.110

III 2.735.030

IV 2.007.368

Sumber : data yang diolah

b. Pola Biaya

Pola biaya adalah fluktuasi biaya yang harus dikeluarkan perusahaan karena kebutuhan produksi perusahaan. Biaya yang diperhitungkan disini adalah biaya tambahan yang harus dikeluarkan perusahaan sebagai akibat adanya perubahan dalam produksi. Biaya tersebut antaralain :

1.) Biaya Simpan

Jumlah biaya simpan PT Iskandar Indah Printing Textil tahun 2010 diasumsikan sama dengan tahun 2009 yaitu sebesar Rp 119. Perhitungan sebagai berikut :

Biaya Simpan

Jumlah biaya operasional gudang = Rp 171.600.000


(74)

commit to user 61

Biaya simpan per meter per tahun

Rp 171.600.000 : 360.000 m = Rp 476,67

= Rp 477

Biaya simpan per meter per triwulan = Rp 477 : 4

= Rp 119 2.) Biaya Sub Kontrak

Biaya Sub kontrak yang diterapkan PT Iskandar Indah Printing Textil sebesar Rp 575. Perhitungan sebagai berikut :

Biaya Sub Kontrak

Harga jual kain grey tenun per meter = Rp 4.500

Keuntungan yang diambil perusahaan = 35%

35% Rp 4.500 = Rp 1.575

Harga pokok kain grey per meter

Rp 4.500 – Rp 1.575 = Rp 2.925

Harga kain grey jika membeli dari perusahaan lain Rp 3.500

Biaya sub kontrak per meter per triwulan

Rp 3.500 – Rp 2925 = Rp 575

3.) Biaya Lembur

PT Iskandar Indah Printing Textile tidak mengadakan lembur untuk memenuhi permintaan. Kekurangan akan produksi ditutup dengan melakukan sub kontrak sehingga biaya lembur nol.


(75)

commit to user 62

4.) Biaya Perputaran Tenaga Kerja

Biaya perputaran tenaga kerja merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan karena adanya penarikan atau pengeluaran karyawan. Pada PT Iskandar Indah Printing Textile Surakarta biaya perputaran tenaga kerja tidak berpengaruh terhadap kapasitas produksi karena perputaran tenega kerja dilakukan jika terdapat kekosongan formasi sehingga biaya perputaran tenaga kerja nol.

c. Kapasitas yang Dimiliki Perusahaan

Kapasitas yang dimiliki perusahaan sebesar 2.549.995 meter. Perhitungan sebagai berikut :

Jumlah karyawan produksi = 847

Produksi Jumlah hari kerja dalam satu bulan = 26 hari

Jumlah jam kerja normal per hari = 7 jam

Jumlah jam kerja normal satu bulan per karyawan 26 7 = 182 jam

rata-rata per bulan = 850.000 m

Produksi per karyawan per bulan = 850.000 : 847

=1.003,54 meter

Produksi per karyawan per jam = 1.003,54 ; 182

= 5,513 m


(76)

commit to user 63

= 1.003,5 m

Hasil produksi per triwulan = 1.003,5 3

= 3.010,61 m

Kapasitas perusahaan per triwulan = 3.010,61 m 847 = 2.549.995

2. Analisis Biaya Tambahan

Dalam menganalisis pola produksi yang optimal pada PT Iskandar Indah Printing Textile maka digunakan analisis biaya tambahan (incremental cost) mencakup biaya simpan, biaya sub kontrak, biaya lembur, dan biaya perputaran tenaga kerja yang terendah, yang ditimbulkan karena adanya fluktuasi produksi.

Dalam menganalisis incremental cost digunakan tiga alternative pola produksi yaitu :

a. Pola Produksi Konstan

Pada pola produksi ini rencana produksi tiap triwulan sama, sehingga :

1.) Rencana produksi dari triwulan I, II, III, IV adalah sama

diasumsikan sebesar kapasitas produksi yang dimiliki

perusahaan yaitu sebesar

2.) Diasumsikan persediaan akhir tahun 2009 adalah nol sehingga persediaan awal tahun 2010 adalah nol


(77)

commit to user 64

Tabel III.7

Analisis Incremental cost Pola Produksi Konstan Tahun 2010 PT Iskandar Indah Printing Textile Triwula

n

Persediaa n Awal

Produksi Jumlah

persediaa n Penjuala n Persediaa n Akhir

I 0 2.549.99

5

2.549.995 2.760.12 2

-210.127

II 0 2.549.99

5

2.549.995 2.484.11 0

65.885

III 65.885 2.549.99

5

2.615.880 2.735.03 0

-119.150

IV 0 2.549.99

5

2.549.995 2.007.36 8

542.627

Sumber : data yang diolah

a.) Biaya Simpan

Dari tabel di atas terdapat biaya simpan pada TW II dan TW IV.

TW2 = 65.885 119 = 7.840.315

TW4 = 542.627 64.572.613

Jadi biaya simpan = 7.840.315 64.572.613 = 72.412.928 b.) Biaya Sub Kontrak

Dari tabel di atas terdapat biaya sub kontrak pada TW1 dan TW3.

TW1 = 210.127 575 = 120.823.025 TW3 = 119.150 575 = 68.511.250


(78)

commit to user 65

Jadi biaya sub kontrak = 120.823.025 + 68.511.250 = 189.334.275

c.) Biaya Lembur

Pada pola produksi konstan tidak terdapat biaya lembur karena kekurangan produksi dipenuhi dengan melakukan sub kontrak, sehingga biaya lembur nol.

d.) Biaya Perputaran Tenaga Kerja

Pada pola produksi konstan biaya perputaran tenaga kerja tak berpengaruh terhadap produksi sehingga biaya perputaran tenaga kerja nol.

Rekapitulasi Incremental Cost pola produksi konstan adalah sebagai berikut :

1.) Biaya simpan = Rp 72.412.928

2.) Biaya sub kontrak = Rp 189.334.275

3.) Biaya lembur = Rp -

4.) Biaya Perputaran Tenaga Kerja = Rp -

Total incremental cost =Rp 261.747.203

b. Pola Produksi Bergelombang

Pada pola produksi bergelombang rencana produksi tiap triwulan tidak sama, disesuaikan dengan permintaan produk perusahaan, sehingga :


(79)

commit to user 66

2.) Diasumsikan persediaan akhir tahun 2009 adalah nol sehingga persediaan awal tahun 2010 nol.

Tabel III.8

Analisis Incremental cost Pola Produksi Bergelombang Tahun 2010 PT Iskandar Indah Printing Textile Triwulan Persediaan

Awal

Produksi Jumlah

persediaan

Penjualan Persediaan Akhir

I 0 2.760.122 2.760.122 2.760.122 0

II 0 2.484.110 2.484.110 2.484.110 0

III 0 2.735.303 2.735.303 2.735.303 0

IV 0 2.007.368 2.007.368 2.007.368 0

Sumber ;data yang diolah Keterangan : a.) Biaya Simpan

Pada pola produksi bergelombang tidak terdapat biaya simpan karena tidak ada produk yang disimpan, sehingga biaya simpan nol.

b.) Biaya Sub Kontrak

Terdapat biaya sub kontrak pada TW1 dan TW3

TW1 = 2.760.122 – 2.549.995 = 210.127 575 =

120.823.025

TW3 = 2.735.030 – 2.549.995 = 185.035 575 =


(80)

commit to user 67

c.) Biaya Lembur

Biaya lembur nol karena perusahaan melakukan sub kontrak untuk menutup kekurangan produk.

d.) Biaya Perputaran Tenaga Kerja

Biaya perputaran tenaga kerja nol karena tak berpengaruh terhadap kapasitas produk

Rekapitulasi Incremental Cost pola produksi bergelombang adalah sebagai berikut :

1.)Biaya simpan = Rp -

2.)Biaya sub kontrak = Rp 227.218.150

3.)Biaya lembur = Rp -

4.)Biaya Perputaran Tenaga Kerja =

Rp

Total incremental cost = Rp 277.218.150

c. Pola Produksi Moderat

Pola produksi moderat diasumsikan :

1.) Rencana produksi triwulan I dan II mengikuti tingkat penjualan pada triwulan I.

2.) Rencana produksi triwulan III dan IV mengikuti tingkat penjualan pada triwulan II.

3.) Diasumsikan persediaan akhir tahun 2009 adalah nol sehingga persediaan awal tahun 2010 adalah nol.


(81)

commit to user 68

Tabel III.9

Analisis Incremental Cost Pola Produksi Moderat Tahun 2010 PT Iskandar Indah Printing Textile Triwul

an

Persedia an Awal

Produksi Jumlah

Persediaan

Penjualan Persediaan

akhir

I 0 2.760.122 2.760.122 2.760.122 0

II 0 2.760.122 2.760.122 2.484.110 276.012

III 276.012 2.484.110 2.760.122 2.735.030 25.092

IV 25.092 2.484.110 2.509.202 2.007.368 501.834

Sumber : Data yang diolah

Keterangan : a.) Biaya Simpan

Terdapat biaya simpan pada TW2, TW3, TW,4. TW2 = 276.012 119 = 32.845.428

TW3 = 25.092 119 = 2.985.948 TW4 = 501.834 119 = 59.718.246 b.) Biaya Sub Kontrak

Pada pola produksi ini tidak terdapat biaya sub kontrak. c.) Biaya Lembur

Tidak terdapat biaya lembur karena kekurangan produksi dipenuhi dengan melakukan sub kontrak, sehingga biaya lembur nol.


(82)

commit to user 69

Biaya perputaran tenaga kerja nol karena tak berpengaruh terhadap kapasitas produksi.

Rekapitulasi Incremental Cost pola produksi moderat adalah sebagai berikut :

1.)Biaya simpan = Rp 95.549.622

2.)Biaya sub kontrak = Rp -

3.)Biaya lembur = Rp -

4.)Biaya Perputaran Tenaga Kerja = Rp -

Total incremental cost = Rp

Dari perhitungan yang telah dilakukan, maka incremental cost dari masing-masing pola produksi dapat dilihat pada tabel III.10 berikut :

Tabel III.10

Rekapitulasi Incremental Cost Alternatif Pola Produksi PT Iskandar Indah Printing Textile Surakarta (Rupiah)

Jenis biaya Pola Produksi

Konstan

Pola Produksi Bergelombang

Pola Produksi Moderat

Biaya Simpan 72.412.928 - 95.549.622

Biaya Lembur - - -

Biaya Sub

Kontrak

189.334.275 227.218.150 -

Biaya Perputaran Tenaga Kerja

- - -


(83)

commit to user 70

Jumlah 261.747.203 227.218.150 95.549.622

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan tabel III.10 diatas dapat dilihat jika pola produksi moderat memiliki biaya tambahan atau incremental cost paling rendah dibandingkan pola produksi yang lain

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :


(1)

commit to user

68

Tabel III.9

Analisis Incremental Cost Pola Produksi Moderat

Tahun 2010 PT Iskandar Indah Printing Textile

Triwul

an

Persedia

an Awal

Produksi

Jumlah

Persediaan

Penjualan

Persediaan

akhir

I

0

2.760.122

2.760.122

2.760.122

0

II

0

2.760.122

2.760.122

2.484.110

276.012

III

276.012

2.484.110

2.760.122

2.735.030

25.092

IV

25.092

2.484.110

2.509.202

2.007.368

501.834

Sumber : Data yang diolah

Keterangan :

a.) Biaya Simpan

Terdapat biaya simpan pada TW2, TW3, TW,4.

TW2 = 276.012 119 = 32.845.428

TW3 = 25.092 119 = 2.985.948

TW4 = 501.834 119 = 59.718.246

b.) Biaya Sub Kontrak

Pada pola produksi ini tidak terdapat biaya sub kontrak.

c.) Biaya Lembur

Tidak terdapat biaya lembur karena kekurangan produksi

dipenuhi dengan melakukan sub kontrak, sehingga biaya

lembur nol.


(2)

commit to user

69

Biaya perputaran tenaga kerja nol karena tak berpengaruh

terhadap kapasitas produksi.

Rekapitulasi Incremental Cost pola produksi moderat adalah

sebagai berikut :

1.)Biaya simpan

= Rp 95.549.622

2.)Biaya sub kontrak

= Rp -

3.)Biaya lembur

= Rp -

4.)Biaya Perputaran Tenaga Kerja = Rp -

Total incremental cost

= Rp

Dari perhitungan yang telah dilakukan, maka incremental cost dari

masing-masing pola produksi dapat dilihat pada tabel III.10 berikut :

Tabel III.10

Rekapitulasi Incremental Cost Alternatif Pola Produksi

PT Iskandar Indah Printing Textile Surakarta (Rupiah)

Jenis biaya

Pola Produksi

Konstan

Pola Produksi

Bergelombang

Pola Produksi

Moderat

Biaya Simpan

72.412.928

-

95.549.622

Biaya Lembur

-

-

-

Biaya

Sub

Kontrak

189.334.275

227.218.150

-

Biaya

Perputaran

Tenaga Kerja

-

-

-


(3)

commit to user

70

Jumlah

261.747.203

227.218.150

95.549.622

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan tabel III.10 diatas dapat dilihat jika pola produksi moderat

memiliki biaya tambahan atau incremental cost paling rendah

dibandingkan pola produksi yang lain

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data pada bab sebelumnya, maka dapat

diambil kesimpulan sebagai berikut :


(4)

commit to user

71

1. Selama ini PT. Iskandar Indah Printing Textile menerapkan

pola produksi bergelombang untuk produk kain grey tenun

yang memeiliki biaya tambahan atau incremental cost bukan

yang terendah dibandingkan pola produksi lain sehingga

belum optimal.

2. Berdasarkan hasil perhitungan dari ketiga pola produksi

yaitu pola produksi konstan, pola produksi bergelaombang,

dan pola produksi moderat diperoleh hasil sebagai berikut :

a.

Pola Produksi Konstan

= Rp 261.747.203

b. Pola Produksi Bergelombang= Rp 227.218.150

c. Pola Produksi Moderat

= Rp 95.549.622

3. Pola produksi moderat adalah pola produksi yang optimal

diterapkan pada PT. Iskandar Indah printing Textile karena

memeiliki biaya tambahan atau incremental cost terendah

dibandingkan pola produksi yang lain.

4. Hasil peramalan penjualan kain grey tenun pada PT.

Iskandar Indah Printing Textile tahun 2010 adalah

10.036.810 meter dengan tingkat kesalahan peramalan

sebagai berikut :

MAD = 325.549

MSE = 123.113.900.000

MFE = -1


(5)

commit to user

72

Hasil peramalan penjualan kain grey tenun pada PT

Iskandar Indah Printing Textile per triwulan adalah sebagai

berikut :

Triwulan I

= 2.760.122 meter

Triwulan II

= 2.484.110 meter

Triwulan III = 2.735.030 meter

Triwulan IV = 2.007.368 meter

.

5. Pola produksi dipengaruhi berbagai faktor antara lain pola

penjualan, pola biaya, dan kapasitas yang dimiliki

perusahaan yang bersangkutan.

B. SARAN

Melihat hasil penelitian yang dilakukan maka penulis

menyarankan :

1. Perusahaan hendaknya melakukan peramalan permintaan

terhadap produknya dengan memakai metode yang paling

optimal atau memiliki tingkat kesalahan yang paling kecil

yaitu menggunakan menggunakan model matematis dengan


(6)

commit to user

73

pendekatan kuantitatif yang berdasarkan data historis yang

ada. Metode ini memiliki keunggulan antaralain :

a. Akurasi

Peramalan dengan metode kuantitatif akan lebih kecil

tingkat kesalahannya dibandingkan metode ualitatif.

b. Biaya

Metode kuantitatif dapat menekan biaya atau lebih

murah.

c. Kemudahan

Penggunannya sederhana, mudah dibuat dan mudah

diaplikasikan.

2. Kebijakan pemilihan pola produksi yang dilakukan PT.

Iskandar Indah Printing Textile hendaknya melihat terlebih

dahulu pola biaya, pola penjualan, dan kapasitas produksi

maksimal yang dimiliki sehingga diperoleh pola produksi

yang optimal. Berdasarkan data tahun 2006-2009 pola

produksi yang optimal adalah pola produksi moderat karena

memiliki incremental cost paling rendah.