RANCANGAN SISTEM TERMINASI UDARA MENURUT SNI 03- 7015-2004

IV.5. RANCANGAN SISTEM TERMINASI UDARA MENURUT SNI 03- 7015-2004

Untuk menentukan penempatan terminasi udara dan untuk mengetahui daerah proteksi, maak tulisan ini menggunakan metode-metode yang terdapat di dalam SNI 03-7015-2004, yaitu :

1. Metode sudut proteksi (Protective Angle Method)

2. Metode bola bergulir (Rolling Sphere Method)

3. Metode jala (Mesh Sized Method) Metode proteksi sebaiknya dipilih oleh perancang proteksi petir dengan pertimbangan sebagai berikut : 3. Metode jala (Mesh Sized Method) Metode proteksi sebaiknya dipilih oleh perancang proteksi petir dengan pertimbangan sebagai berikut :

b. Metode bola gulir (Rolling Sphere Method) cocok untuk bentuk bangunan gedung yang rumit

c. Metode jala (Mesh sized method) dipakai untuk keperluan umum dan khususnya cocok untuk proteksi struktur dengan permukaan datar.

Dilihat dari ketiga metode diatas, maka di dalam perencanaan terminasi udara pada bangunan, ketiga metode diatas dapat dikombinasikan untuk membentuk zona proteksi dan meyakinkan bahwa bangunan tersebut terproteksi seluruhnya.

Standar SNI ini tidak memberikan kriteria untuk pemilhan ssitem terminasi udara karena dianggap batang, kawat rentang, dan konduktor jala adalah sama. Dipertimbangkan bahwa :

1. Tinggi batang terminasi udara sebaiknya antara 2-3 meter untuk mencegah peningkatan frekuensi sambaran petir langsung

2. Rentangan kawat dapat digunakan dalam semua kasus sebelumnya dan untuk bentuk bangunan yang rendah (a/b > 4, dimana a : panjang bangunan, dan b : lebar bangunan)

3. Sistem terminasi udara terdiri dari jala konduktor untuk keprluan umum.

Adapun ukuran minimum bahan SPP (Sistem Penangkal Petir) yang dipakai di dalm standar ini untuk penggunaan terminasi udara adalh dapat dilihat pada tabel

4.3. Tabel 4.3. Dimensi minimum bahan SPP untuk penggunaan terminasi udara

2 Tingkat Proteksi Bahan Terminasi udara (mm )

Cu

I sampai IV

Al

70 Fe 50

IV.5.1. Metode Sudut Proteksi (Angle Protection Method)

Daerah yang diproteksi adalah daerah yang berada di dalam kerucut dengan sudut proteksi sesuai dengan tabel 4.2. Pada metode dengan metode sudut proteksi ini, terminasi udara dipasang pada setiap bagian dari struktur bangunan yang dilindungi yang tidak tercakup pada daerah proteksi yang dibentuk. Nilai sudut yang terbentuk sebagai daerah proteksi adalah bergantung dari ketinggian terminasi uadara (rod/mast) dari daerah yang diproteksi.

Metode sudut proteksi secara geometris mempunyai keterbatasan dan tidak digunakan untuk bangunan/gedung yang lebih tinggi dari radius bola gulir yang ditentukan dalam tabel 4.2.

Konduktor terminasi udara sebaiknya ditempatkan sedemikian sehingga semua bagian bangunan gedung yang diproteksi berada diselah dalam permukaan selubung yang dihasilkan oleh proyeksi titik-titik dari konduktor terminasi udara ke Konduktor terminasi udara sebaiknya ditempatkan sedemikian sehingga semua bagian bangunan gedung yang diproteksi berada diselah dalam permukaan selubung yang dihasilkan oleh proyeksi titik-titik dari konduktor terminasi udara ke

(dianggap bangunan mempunyai panjang dan lebar yang sama).

Keterangan:

Keterangan:

1 : Tiang terminasi udara

1 : Tiang terminasi udara

2 : bangunan yang di proteksi

2 : bangunan yang di proteksi

3 : bidang referensi

3 : bidang referensi

4 : sudut proteksi yang di bentuk sesuai tabel 2 4 : sudut proteksi yang di bentuk sesuai tabel 2

Gambar 4.3.Daerah proteksi tampak depan Gambar 4.4. Daerah proteksi tampak samping

Keterangan

1. Terminasi udara 2.Bangunan yang di proteksi

Gambar 4.5. Daerah proteksi tampak atas

IV.5.2. Metode Bola Bergulir (Rolling Sphere method)

Metode bola bergulir baik digunakan pada bangunan yang bentuknya rumit. Dengan metode ini seolah-olah ada suatu bola dengan radius R yang bergulir diatas tanah, sekeliling struktur dan di atas struktur ke segala arah hingga bertemu dengan tanah atau struktur yang berhubungan dengan permukaan bumi yang mampu bekerja sebagai penghantar (gambar 4.6.). titik sentuh bola bergulir pada struktur yang dapat disambar petir dan pada titik tersebut harus diproteksi oleh konduktor terminasi udara. Semua petir yang berjarak R dari ujung penangkap petir akan mempunyai kesempatan yang sama untuk menyambar bangunan.

Gambar 4.6. Daerah proteksi dengan metode bola bergulir

Metode bola gulir (rolling sphere) ini sebaiknya digunakan untuk mengidentifikasi ruang yang terproteksi dari bagian atau luasan bangunan/gedung yang tidak tercakup oleh metode sudut proteksi (angle protection method).

Dengan metode ini, penempatan sistem terminasi udara dianggap memadai jika tidak ada titik pada daerah yang diproteksi tersentuk oleh bola gulir dengan radius R, di sekeliling dan diatas bangunan/gedung kesemua arah. Untuk itu, bola hanya boleh menyentuh tanah atau sistem terminasi udara.

Radius bola gulir harus sesuai dengan tingkat proteksi SPP (Sistem Proteksi Petir) yang dipilih menurut tabel 4.1. Pada gambar diatas, bola dengan radius R digulirkan sekeliling dan diatas bangunan/gedung hingga bertemu dengan bidang tanah atau bangunan/gedung permanen atau obyek yang berhubungan dengan bidang bumi yang mampu bekerja sebagai konduktor petir. Titik sentuh bola gulir pada bangunan/gedung merupakan titik yang dapat disambar petir dan pada titik tersebut harus diproteksi oleh konduktor terminasi udara.

IV.5.3. Metode Jala (Meshed Sized Method)

Metode ini digunakan untuk keperluan permukaan yang datar karena bisa dilindungi seluruh permukaan bangunan. Daerah yang diproteksi adalah keseluruhan daerah yang ada didalam jala-jala (Gambar 4.7.). Ukuran jala sesuai tingkat proteksi dapat dipilih pada tabel 4.2.

Gambar 4.7. Daerah Proteksi dengan metode jala

Untuk keperluan perlindungan permukaan yang datar, SPP (Sistem Proteksi Petir) jala diyakini melindungi seluruh permukaan jika dapat memenuhi kondisi berikut:

a. Konduktor terminasi udara ditempatkan pada: • Garis pinggir sudut atap • Serambi atap

• Garis bubungan atap jika kemiringan lebih dari 1/10

b. Permukaan samping pada bangunan/gedung yang tingginya lebih dari radius bola gulir yang relevan dengan tingkat proteksi yang dipilih sesuai tabel 4.2 harus dilengkapi dengan sistem terminasi udara.

c. Dimensi jala pada jaringan terminasi udara tidak lebih dari nilai yang diberikan dalam tabel 4.2.

d. Jaringan sistem terminasi udara disempurnakan sedemikian rupa hingga arus petir akan selalu mengalir melalui dua lintasan logam berbeda, tidak boleh d. Jaringan sistem terminasi udara disempurnakan sedemikian rupa hingga arus petir akan selalu mengalir melalui dua lintasan logam berbeda, tidak boleh

e. Konduktor terminasi udara harus mengikuti lintasan terpendek yang dimungkinkan.

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN IMPLEMENTASI PERAWAT TENTANG PATIENT SAFETY DENGAN RESIKO CEDERA PADA INFANT DAN TODDLER

38 264 22

PENILAIAN MASYARAKAT TENTANG FILM LASKAR PELANGI Studi Pada Penonton Film Laskar Pelangi Di Studio 21 Malang Town Squere

17 165 2

ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN DALAM PROSES PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) (StudiKasusPada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Oro-Oro Dowo Malang)

160 705 25

PENERIMAAN ATLET SILAT TENTANG ADEGAN PENCAK SILAT INDONESIA PADA FILM THE RAID REDEMPTION (STUDI RESEPSI PADA IKATAN PENCAK SILAT INDONESIA MALANG)

43 322 21

PROSES KOMUNIKASI INTERPERSONAL DALAM SITUASI PERTEMUAN ANTAR BUDAYA STUDI DI RUANG TUNGGU TERMINAL PENUMPANG KAPAL LAUT PELABUHAN TANJUNG PERAK SURABAYA

97 602 2

PEMAKNAAN MAHASISWA TENTANG DAKWAH USTADZ FELIX SIAUW MELALUI TWITTER ( Studi Resepsi Pada Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2011)

59 326 21

KONSTRUKSI MEDIA TENTANG KETERLIBATAN POLITISI PARTAI DEMOKRAT ANAS URBANINGRUM PADA KASUS KORUPSI PROYEK PEMBANGUNAN KOMPLEK OLAHRAGA DI BUKIT HAMBALANG (Analisis Wacana Koran Harian Pagi Surya edisi 9-12, 16, 18 dan 23 Februari 2013 )

64 565 20

PENGARUH BIG FIVE PERSONALITY TERHADAP SIKAP TENTANG KORUPSI PADA MAHASISWA

11 131 124

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TENTANG DESAIN KEMASAN PRODUK DENGAN INTENSI MEMBELI

9 123 22

ANALISIS YURIDIS TENTANG PENYELESAIAN SENGKETA MEREK AIR MINUM MINERAL "AQUA-versus-INDOQUALITY" (Studi Putusan Mahkamah Agung RI No. 04.PK/N/HaKI/2004)

2 65 91