Sikap Petani Terhadap Kegiatan Legalisasi Aset Tanah Melalui Program PPAN (Studi Kasus : Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang)

SIKAP PETANI TERHADAP KEGIATAN
LEGALISASI ASET TANAH MELALUI
PROGRAM PEMBAHARUAN AGRARIA NASIONAL (PPAN)
(Studi Kasus : Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak,
Kabupaten Deli Serdang)

SKRIPSI

SAHREZA NASUTION
050304062

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

SIKAP PETANI TERHADAP KEGIATAN
LEGALISASI ASET TANAH MELALUI
PROGRAM PEMBAHARUAN AGRARIA NASIONAL (PPAN)
(Studi Kasus : Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak,
Kabupaten Deli Serdang)

SKRIPSI

SAHREZA NASUTION
050304062
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di
Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanain
Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

SIKAP PETANI TERHADAP KEGIATAN
LEGALISASI ASET TANAH MELALUI
PROGRAM PEMBAHARUAN AGRARIA NASIONAL (PPAN)
(Studi Kasus : Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak,
Kabupaten Deli Serdang)

SKRIPSI

SAHREZA NASUTION
050304062
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di
Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanain
Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh:
Komisi Pembimbing

Ketua

Anggota

Ir.Luhut Sihombing, MP

Ir.Thomson Sebayang, MT

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Skripsi : Sikap Petani Terhadap Kegiatan Legalisasi Aset Tanah
Melalui Program PPAN (Studi Kasus : Desa Lama,
Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang)
Nama
: Sahreza Nasution
Nim
: 050304062
Departemen : Agribisnis
Program Studi : Sosial Ekonomi Pertanian

Disetujui Oleh:
Komisi Pembimbing

Ketua

Ir.Luhut Sihombing, MP
NIP.

Anggota

Ir.Thomson Sebayang, MT
NIP.

Universitas Sumatera Utara

RINGKASAN

SAHREZA NASUTION (050304062), dengan judul “SIKAP DAN
PRILAKU PETANI TERHADAP KEGIATAN LEGALISASI ASET
TANAH MELALUI PROGRAM PEMBAHARUAN AGRARIA NASIONAL
(PPAN)” (Studi Kasus : Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak,
Kabupaten Deli Serdang). Penelitian ini dibimbing oleh Bapak
Ir.Luhut Sihombing, MP selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Ir.
Thomson Sebayang, MT selaku Anggota Komisi Pembimbing.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan Untuk menjelaskan bagaimana
teknis pelaksanaan program PPAN yang dilaksanakan di daerah penelitian, untuk
menjelaskan bagaimana sikap petani di daerah penelitian terhadap program
PPAN,dan untuk menjelaskan hubungan karakteristik sosial ekonomi petani di
daerah penelitian dengan sikapnya terhadap program PPAN.
Metode penentuan daerah penelitian yang digunakan adalah pengambilan sampel
untuk penelitian ini dilakukan secara sensus artinya seluruh petani pemilik lahan
yang telah mensertifikasi tanahnya melalui program PPAN yang berjumlah
sebanyak 30 orang petani, dengan pertimbangan bahan sampel penelitian bersifat
homogen atau rata-rata memiliki karakter yang sama.Seluruh metode analisis data
yang digunakan adalah deskriptif.
Adapun yang menjadi hasil dari penelitian ini adalah : Realisasi program
PPAN desa Lama Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, sudah
berjalan dan telah direalisasikan walaupun belum maksimal. Hal ini terbukti
bahwa petani di daerah penelitian sudah memilki sertifikat tanah. Begitu juga
telah dilakukannya kegiatan penyuluhan pertanian/pertanahan untuk mendukung
dan meningkatkan pengetahuan petani akan proses sertifikasi tanah sehingga
kesejahteraan petanipun bisa lebih baik. Sikap petani terhadap program PPAN
desa Lama Kecamatan Hamparan Perak, Kabupatn Deli Serdang, telah diketahui
bahwa dari 30 sampel yang menunjukkan sikap positif terhadap program PPAN
adalah sebanyak 17 orang dan yang menunjukkan sikap negatif adalah sebanyak
13 orang. Dengan demikian H1 diterima dan H0 ditolak. Dari hasil analisis didapat
bahwa seluruh faktor-faktor sosial ekonomi petani responden tidak menunjukkan
adanya hubungan dengan sikap petani pada program PPAN. Dengan demikian H1
ditolak dan H0 diterima
Kata Kunci : Sikap Petani, Program Pembaharuan Agraria Nasional (PPAN)

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Sahreza Nasution dilahirkan di Medan, 30 Mei 1987 sebagai anak keempat
dari Bapak dr. H. Saad Sahlul Nasution Sp.OG dan ibu Hj. Sri Bahagia lubis.
Pendidikan yang pernah penulis tempuh adalah :
1.
Sekolah Dasar (SD) Tahun 1993 – 1999 di SD Diponegoro ,Kisaran,
Asahan.
2.
Sekolah Lanjut Tigkat Pertama (SLTP) Tahun 1999 – 2002 di SLTP
Diponegoro ,Kisaran, Asahan.
3.
Sekolah Menengah Atas (SMA) Tahun 2002 – 2005 di SMA Negeri 1
Medan.
4.
Tahun 2005 diterima di Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera utara, Medan melalui jalur SPMB.
5.
Pada bulan Juni – Juli 2009, penulis mengikuti Praktek Kerja Lapangan
(PKL) di desa Lae Itam, kecamatan Siempat Nempu Hilir, Kabupaten Dairi.
6.
Pada bulan Februari - Mei 2010 penulis melaksanakan penelitian skripsi
di Desa kota Lama, Kecamatan Hamparan Deli Serdang.
Selama perkuliahan penulis pernah mengikuti Organisasi Ikatan Mahasiswa Sosial
Ekonomi Pertanian (IMASEP) sebagai pj.ketua umum periode 2008 – 2009, dan
anggota Persatuan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian
Indonesia (POPMASEPI) dan Forum Silaturahmi Mahasiswa Muslim Sosial
Ekonomi Pertanian (FSMM SEP) pada tahun 2005 sampai dengan sekarang.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan karuniaNya penulis diberikan kesempatan menyelesaikan skripsi ini
dengan baik. Adapun judul skripsi ini adalah “ Sikap Petani Terhadap Kegiatan
Legalisasi Aset Tanah Melalui Program PPAN (Studi Kasus : Desa Lama,
Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang)”.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menempuh ujian sarjana pada
Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada Kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Bapak Ir.Luhut Sihombing, MP selaku Ketua Komisi Pembimbing yang
telah banyak memberikan motivasi, arahan dan bimbingan kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Ir. Thomson Sebayang , MT selaku Anggota Komisi Pembimbing
yang telah banyak memberikan motivasi, arahan dan bimbingan kepada penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu DR. Ir Salmiah Msi selaku Ketua Departemen Agribisnis Fakultas
pertanian Universitas Sumatera Utara.
4. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Departemen Agribisnis Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara.
5. Seluruh instansi dan para responden yang terkait dalam penelitian ini atas
bantuannya selama penulis mengambil data penelitian.
Segala hormat dan terima kasih yang setulus-tulusnya secara khusus penulis
ucapkan kepada Ayahanda dr. H. Saad Sahlul Nasution Sp.OG dan ibuda Hj. Sri
Bahagia lubis serta Kakak tersayang Decy Sahriani Nasution, SE, dr. Yuliza
Sahrina Nasution, dr. Scheni Regina Lubis serta abangku dr.Januar Sahnanda dan
dr. Ali Imran Harahap, dr. Syukri Asdar Putra Hasibuan untuk doa dan semangat
yang diberikan.
Terima kasih juga penulis ucapkan buat Mayang Damayanti, SP untuk dukungan
dan semangatnya dan teman-teman SEP 05 yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dengan harapan skripsi ini dapat
berguna untuk kita semua.
Medan, Agustus 2011

Penulis

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Hal
RINGKASAN ................................................................................................ i
RIWAYAT HIDUP ....................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................. v
DAFTAR TABEL ......................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xi
PENDAHULUAN
Latar Belakang ................................................................................................ 1
Identifikasi Masalah ........................................................................................ 8
Tujuan Penelitian ............................................................................................ 8
Kegunaan Penelitian ....................................................................................... 8
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA
PEMIKIRAN
Tinjauan Pustaka............................................................................................. 9
Landasan Teori ............................................................................................... 20
Kerangka Pemikiran........................................................................................ 25
Hipotesa Penelitian ......................................................................................... 26

METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penentuan Daerah Penelitian .............................................................. 27
Metode Pengambilan Sampel .......................................................................... 28
Metode Pengumpulan Data ............................................................................. 28
Metode Analisis Data ...................................................................................... 29
Defenisi dan Batasan Operasional ................................................................... 32
Defenisi .......................................................................................................... 32
Batasan Operasional........................................................................................ 33
DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SOSIAL
EKONOMI PETANI
Deskripsi Daerah Penelitian ............................................................................ 34
Luas Wilayah dan Batas Desa Lama ............................................................... 34
Keadaan Penduduk ......................................................................................... 35
Sarana dan Prasarana ...................................................................................... 37
Karakteristik Sosial Ekonomi Sampel ............................................................. 38
HASIL DAN PEMBAHASAN
Teknis Pelaksanaan Program Pembaharuan Agraria Nasional di daerah Penelitian
....................................................................................................................... 40
Sikap petani terhadap program PPAN di Daerah Penelitian ............................. 44

Universitas Sumatera Utara

Hubungan antara Karakteristik sosial Ekonomi petani dengan sikap petani
terhadap program PPAN di Daerah Penelitian ................................................ 46
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan..................................................................................................... 53
Saran .............................................................................................................. 54
DAFTAR PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No.

1.

Judul Tabel

Hal.

Data sertifikat yang diterbitkan di Kabupaten Deli Serdang menurut
Kecamatan tahun 2010........................................................................
5

2.

3.

Jumlah Peserta PPAN menurut Desa di Kecamatan Hamparan Perak,
kabupaten Deli Serdang 2010............................................................

27

Jumlah Penduduk di Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak
Tahun 2010..........................................................................................
35

Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kegiatan/Pekerjaan di Desa
Lama Tahun 2010

36

5.

Jenis Sarana yang terdapat di Desa Lama, Kecamatan Hamparan
Perak.....................................................................................................

37

6.

Karakteristik Sampel Petani di Daerah Penelitian................................

38

7.

Sikap Petani Terhadap Program PPAN………………………………

45

8.

Hubungan antara Umur dengan Sikap Petani terhadap Program PPAN
..................................................................................................

4.

47

9.

Hasil Analisis Rank Spearman Hubungan Antara Umur dengan
Sikap Petani Terhadap program PPAN.

48

Hubungan antara Luas Lahan dengan Sikap Petani terhadap Program
PPAN

Universitas Sumatera Utara

10.
11.

48

Hasil Analisis Rank Spearman Hubungan Antara Luas Lahan
dengan Sikap Petani Terhadap Program PPAN……………………..

12.

Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Sikap Petani terhadap
Program PPAN………………………………………………………

13.

Hasil Analisis Rank Spearman Hubungan Antara Tingkat Pendidikan
dengan Sikap Petani Terhadap program PPAN…………

14.

15

Hubungan antara Pendapatan Petani dengan Sikap Petani terhadap
Program PPAN……………………………………………………….
Hasil Analisis Rank Spearman Hubungan Antara Pendapatan dengan Sikap
Petani Terhadap Program PPAN………………………………

49
50

51

52
51
31

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No.

Judul Gambar

Hal.

1.

Lingkup Hubungan Agraria................................................................

14

2.

Skema Kerangka Pemikiran................................................................

17

3.

Proses Pembuatan Sertifikasi Tanah Pada Program PPAN................

41

Universitas Sumatera Utara

RINGKASAN

SAHREZA NASUTION (050304062), dengan judul “SIKAP DAN
PRILAKU PETANI TERHADAP KEGIATAN LEGALISASI ASET
TANAH MELALUI PROGRAM PEMBAHARUAN AGRARIA NASIONAL
(PPAN)” (Studi Kasus : Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak,
Kabupaten Deli Serdang). Penelitian ini dibimbing oleh Bapak
Ir.Luhut Sihombing, MP selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Ir.
Thomson Sebayang, MT selaku Anggota Komisi Pembimbing.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan Untuk menjelaskan bagaimana
teknis pelaksanaan program PPAN yang dilaksanakan di daerah penelitian, untuk
menjelaskan bagaimana sikap petani di daerah penelitian terhadap program
PPAN,dan untuk menjelaskan hubungan karakteristik sosial ekonomi petani di
daerah penelitian dengan sikapnya terhadap program PPAN.
Metode penentuan daerah penelitian yang digunakan adalah pengambilan sampel
untuk penelitian ini dilakukan secara sensus artinya seluruh petani pemilik lahan
yang telah mensertifikasi tanahnya melalui program PPAN yang berjumlah
sebanyak 30 orang petani, dengan pertimbangan bahan sampel penelitian bersifat
homogen atau rata-rata memiliki karakter yang sama.Seluruh metode analisis data
yang digunakan adalah deskriptif.
Adapun yang menjadi hasil dari penelitian ini adalah : Realisasi program
PPAN desa Lama Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, sudah
berjalan dan telah direalisasikan walaupun belum maksimal. Hal ini terbukti
bahwa petani di daerah penelitian sudah memilki sertifikat tanah. Begitu juga
telah dilakukannya kegiatan penyuluhan pertanian/pertanahan untuk mendukung
dan meningkatkan pengetahuan petani akan proses sertifikasi tanah sehingga
kesejahteraan petanipun bisa lebih baik. Sikap petani terhadap program PPAN
desa Lama Kecamatan Hamparan Perak, Kabupatn Deli Serdang, telah diketahui
bahwa dari 30 sampel yang menunjukkan sikap positif terhadap program PPAN
adalah sebanyak 17 orang dan yang menunjukkan sikap negatif adalah sebanyak
13 orang. Dengan demikian H1 diterima dan H0 ditolak. Dari hasil analisis didapat
bahwa seluruh faktor-faktor sosial ekonomi petani responden tidak menunjukkan
adanya hubungan dengan sikap petani pada program PPAN. Dengan demikian H1
ditolak dan H0 diterima
Kata Kunci : Sikap Petani, Program Pembaharuan Agraria Nasional (PPAN)

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanah mempunyai arti penting bagi kehidupan bangsa Indonesia. Hal ini
dikarenakan bahwa Negara Indonesia merupakan negara agraris, sehingga setiap
kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar rakyat Indonesia senantiasa
membutuhkan dan melibatkan soal tanah. Bahkan pada sebagian masyarakat,
tanah dianggap sebagai sesuatu yang sakral, karena di sana terdapat simbol status
sosial yang dimilikinya (Hutagalung, 2009).
Problematika pertanahan terus mencuat dalam dinamika kehidupan bangsa
kita. Berbagai daerah di nusantara tentunya memiliki karakteristik permasalahan
pertanahan yang berbeda di antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Keadaan
ini semakin nyata sebagai konsekuensi dari dasar pemahaman dan pandangan
orang Indonesia terhadap tanah. Kebanyakan orang Indonesia memandang tanah
sebagai sarana tempat tinggal dan memberikan penghidupan sehingga mempunyai
fungsi yang sangat penting (Sumarjono, 2009).
Pembaruan agraria adalah suatu upaya korektif untuk menata ulang
struktur agraria yang timpang, yang memungkinkan eksploitasi manusia atas
manusia, menuju tatanan baru dengan struktur yang bersendi kepada keadilan
agraria. Keadilan agraria itu sendiri adalah suatu keadaan dimana tidak ada
konsentrasi berlebihan dalam penguasaan dan pemanfaatan atas sumber-sumber
agraria pada segelintir orang ( Sitorus, 2002 ).

Universitas Sumatera Utara

Reforma Agraria merupakan agenda bangsa yang diharapakan dapat
memberikan titik terang bagi terwujudnya keadilan sosial dan tercapainya
kesejahteraan masyarakat. Dengan berbagai program pelengkapnya, Reforma
Agraria diharapakan dapat membantu masyarakat miskin (sebagian besar petani)
beranjak dari keterpurukan ekonomi menuju kehidupan yang layak dan mandiri.
(Satiawan, 1999).
Upaya pelaksanaan pembaruan agraria dimulai dari dilaksanakannya
program landreform, yaitu suatu upaya yang mencakup pemecahan dan
penggabungan satuan-satuan usaha tani, dan perubahan skala pemilikan.
Kemudian dilanjutkan dengan peningkatan kemampuan petani dengan berbagai
program-program pendidikan, upaya penyediaan kredit, pemilikan teknologi
pertanian, sistem perdagangan yang adil, dan mendorong tumbuhnya organisasiorganisasi massa petani dan koperasi petani, serta infrastruktur lainnya
(Anonimous,2005).
Konsep Reforma Agraria tidak lepas dari apa yang disebut dengan konsep
Landreform.

landreform

merupakan

bagian

dari

agrarianreform

dan

agrarianreform itu sendiri tidak tidak bisa dijalankan tanpa adanya landreform.
Dalam konteks reforma agraria, peningkatan produksi tidak akan mampu dicapai
secara optimal apabila tidak didahului oleh landreform. Sementara, keadilan juga
tidak mungkin dapat dicapai tanpa landreform. Jadi, landreform tetaplah menjadi
langkah dasar yang menjadi basis pembangunan pertanian dan pedesaan.
(Soetarto, 2006)

Universitas Sumatera Utara

Pada Negara- Negara maju di dunia,ada kecendrungan menurunnya jumlah
petani dan bertambahnya luas daerah- daerah pertanian, sehingga lahan
garapannya semakin luas. Beda dengan Indonesia, walaupun jumlah persentase
jumlah petani menurun, tetapi secara absolute meningkat, sementara itu luas lahan
pertanian justru berkurang (Husodo,2004).
Sejak tahun 2006 petani dan rakyat miskin di Indonesia dijanjikan suatu
program landreform melalui Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) oleh
presiden SBY. Pada bulan Mei 2007 pemerintah mengeluarkan Rancangan
Peraturan Pemerintah (RPP) tentang PPAN. Dari draft tersebut dapat disimpulkan
bahwa secara umum PPAN hanya berbicara masalah pembagian tanah saja, dan
bukan pelaksanaan pembaruan agraria secara hakiki. RPP tersebut juga
menunjukkan tidak jelasnya proses penyediaan tanah yang disebutkan akan
berasal dari tanah bekas HGU, bekas kawasan pertambangan dan kawasan hutan.
Peta lokasi objek tanah yang akan dibagikan dan waktu pelaksanaan
PPAN tidak dijelaskan. Tujuan dari landreform yang sesungguhnya untuk
menumbuhkan keadilan struktur penguasaan dan kepemilikan tanah masih jauh
dari

harapan.

Padahal konstitusi kita mengamanatkan bahwa penerima

redistribusi tanah dalam landreform adalah petani miskin, penggarap, buruh tani
dan subyek lainnya sesuai Undang-undang No.5 tahun 1960 tentang pokok-pokok
agraria atau lebih dikenal dengan UUPA 1960. Bukan untuk kepetingan investor
seperti yang diinginkan Bank Dunia (Anonimus, 2008).
Tanah adalah benda tidak bergerak karena sifatnya. Tanah tidak dapat
dipindah- pindahkan, yang dapat dipindahkan atau berpindah ialah hak- hak atas

Universitas Sumatera Utara

sebidang tanah. Pemindahan atau peralihan hak atas tanah ini harus dibuktikan
dengan akta otentik (Sumardjono, 2009).
Tanah atau lahan merupakan salah satu sumber daya yang penting dalam
kehidupan manusia karena setiap aktivitas manusia selalu terkait dengan tanah.
Tanah merupakan sekumpulan tubuh alamiah, mempunyai kedalaman lebar yang
ciri-cirinya mungkin secara langsung berkaitan dengan vegetasi dan pertanian
sekarang ditambah ciri-ciri fisik lain seperti penyediaan air dan tumbuhan penutup
yang dijumpai (Sihombing, 2009).
Lahan sebagai modal alami yang melandasi kegiatan kehidupan dan
penghidupan, memiliki dua fungsi dasar, yakni:
1)

Fungsi kegiatan budaya; suatu kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk
berbagai penggunaan, seperti pemukiman, baik sebagai kawasan perkotaan
maupun pedesaan, perkebunan hutan produksi dan lain-lain.

2)

Fungsi lindung; kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utamanya untuk
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang ada, yang mencakup
sumberdaya alam, sumberdaya buatan, dan nilai sejarah serta budaya bangsa
yang bisa menunjang pemanfaatan budidaya (Utomo, 1992).
Penggunaan tanah dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu:

1)

Masyarakat yang memiliki tanah luas dan menggarapkan tanahnya kepada
orang lain, pemilik tanah menerapkan sistem sewa atau bagi hasil.

2)

Pemilik tanah sempit yang melakukan pekerjaan usaha tani dengan tenaga
kerja keluarga, sehingga tidak memanfaatkan tenaga kerja buruh tani.

Universitas Sumatera Utara

3)

Pemilik

tanah

yang

melakukan usaha tani

sendiri tetapi banyak

memanfaatkan tenaga kerja buruh tani, baik petani bertanah sempit maupun
bertanah luas.
(Sihaloho, 2004).
Untuk menindaklanjuti realisasi program pembaharuan agraria di provinsi
Sumatera Utara khususnya di daerah penelitian kabupaten Deli Serdang, maka
Badan Pertanahan Nasional (BPN) kabupaten menerbitkan sertifikat secara
otentik sesuai dengan penggunaannya pada tiap- tiap kecamatan, seperti yang
terlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Banyaknya sertifikat yang diterbitkan di Kabupaten Deli Serdang
menurut Kecamatan tahun 2010
No

Kecamatan

Hak
Milik

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Patumbak
Sibolangit
Namo Rambe
Percut Sei Tuan
Lubuk Pakam
Tanjung Morawa
Sunggal
Deli Tua
Hamparan Perak
Pantai Labu

246
4
131
1.315
104
961
679
312
2.764
68

Hak Guna
bangunan
2
12
3
7
9
-

Hak
Guna
Usaha
5
1
-

Sumber : Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Deli Serdang

Obyek Reforam Agraria atau tanah merupakan komponen dasar dalam
Reforma Agraria. Berkenaan dengan penetapan obyek Reforma Agraria, maka
pada dasarnya tanah yang ditetapkan sebagai obyek Reforma Agraria adalah
tanah-tanah Negara dari berbagai sumber yang menurut peraturan perundangundangan dapat dijadikan sebagi obyek Reforma Agraria.
Sesuai dengan tahapan perencanaan luas tanah yang dibutuhkan untuk
menunjang Reforma Agraria, maka luas kebutuhan tanah obyek Reforma Agraria

Universitas Sumatera Utara

dalam kurun waktu 2007-2014 adalah seluas 9,25 juta Ha. Pada dasarnya subyek
Reforma Agraria adalah penduduk miskin di perdesaan baik petani, nelayan
maupun non-petani/nelayan (BPN RI, 2007).
Program Reforma Agraria yang dicanangkan pemerintah merupakan suatu
program yang terdiri dari kegiatan-kegiatan pengembangan kapasitas subyek
Reforma Agraria (petani miskin). Pengembangan kapasitas petani miskin
merupakan suatu proses penguatan petani agar mereka dapat mengenali masalahmasalah yang dihadapinya dan secara mandiri dapat menyelesaikan masalahnya
sendiri. Kemandirian adalah suatu sikap yang mengutamakan kemampuan diri
sendiri dalam mengatasi berbagai masalah demi mencapai suatu tujuan, tanpa
menutup diri terhadap berbagai kemungkinan kerja sama yang saling
menguntungkan ( Ismawan, 2005).
Dari beberapa penjelasan tersebut, pengembangan kapasitas dapat
diartikan sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk dapat
mengatasi keterbatasan yang membatasi kesempatan hidup mereka, sehinga
memperoleh hak yang sama tehadap sumberdaya dan menjadi perencana
pembangunan bagi diri mereka. Melalui pengembangan kapasitas, masyarakat
akan lebih berdaya dan mandiri dalam meningkatkan kualitas hidup dan
kesejahteraannya.
Minat seseorang / masyarakat untuk menyertipikatkan tanah bisa
didasarkan pada informasi tertentu yang didapatkannya yang dapat mendorongnya
untuk melakukan sertipikasi tanah. Informasi tersebut bisa mengenai manfaat
sertipikat tanah, tujuan dari sertipikasi tanah, tentang biaya, dan jangka waktu
pendaftaran sampai dikeluarkannya sertipikat tanah. Sehingga dengan penelitian

Universitas Sumatera Utara

ini akan dilihat, apakah ada hubungan antara pengetahuan masyarakat tentang
manfaat sertipikat tanah, tujuan sertipikasi tanah, persepsinya tentang biaya, dan
tentang jangka waktu pendaftaran sampai dikeluarkannya sertipikat tanah, atau
apakah ada faktor kebutuhan yang lebih menentukan pilihan seseorang untuk
melakukan sertipikasi tanah (Husodo,2004).

Universitas Sumatera Utara

1.2 Identifikasi Masalah
1) Bagaimana teknis pelaksanaan program PPAN yang dilaksanakan di daerah
penelitian?
2) Bagaiman sikap petani di daerah penelitian terhadap program PPAN?
3) Bagaimana hubungan karakteristik sosial ekonomi petani di daerah penelitian
dengan sikapnya terhadap program PPAN?

1.3 Tujuan Penelitian
1) Untuk menjelaskan bagaimana teknis pelaksanaan program PPAN

yang

dilaksanakan di daerah penelitian.
2) Untuk menjelaskan bagaimana sikap petani di daerah penelitian terhadap
program PPAN.
3) Untuk menjelaskan hubungan karakteristik sosial ekonomi petani di daerah
penelitian dengan sikapnya terhadap program PPAN.

1.4 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penilitian ini adalah:
1) Sebagai bahan masukan bagi pemerintah dan instansi terkait lainnya dalam
mengambil kebijakan, khususnya yang berhubungan dengan program
PPAN di daerah penelitian.
2) Sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan.

3) Sebagai bahan informasi bagi pihak akademik yang ingin mengadakan
penelitian mengenai analisis program PPAN.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA,
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

Tinjauan Pustaka
Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah secara terus menerus, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan
dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta
dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun,
termasuk pemberian sertifikat sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidangbidang tanah yang sudah ada hak tertentu yang membebaninya (Sumarjono,
2009).
Pendaftaran berasal dari kata Cadaster (Bahasa Belanda kadaster) yaitu
istilah untuk record (rekaman), menunjukkan tentang luas, nilai dan kepemilikan
atau lain – lain atas hak terhadap suatu bidang tanah. Selain itu, pendaftaran
berasal dari bahasa latin “Capilastrum” yang berarti suatu register atau unit yang
diperbuat untuk pajak tanah Romawi. Dalam artian yang tegas Cadaster adalah
rekord (rekaman daripada lahan – lahan, nilai daripada tanah dan pemegang
haknya dan untuk kepentingan hukum lainnya) (Purba, 2006)
UUPA memberi pengertian pendaftaran tanah diatur dalam Pasal 19 ayat
(2) yaitu rangkaian kegiatan yang meliputi :
1.) Pengukuran, pemetaan, dan pembukuan tanah.
2.) Pendaftaran hak atas tanah dan peralihan hak tersebut.
3.) Pembuktian surat – surat tanda bukti hak, yang berlaku sebagai alat
pembuktiaan yang kuat.

Universitas Sumatera Utara

Kegiatan yang berupa pengukuran, pemetaan, dan pembukuan tanah akan
menghasilkan pula peta-peta pendaftaran tanah dan surat ukur. Di dalam peta
pendaftaran tanah dan surat ukur akan diperoleh keterangan tentang letak, luas,
dan batas-batas tanah yang bersangkutan, sedangkan kegiatan yang berupa
pendaftaran hak atas tanah dan peralihan hak tersebut akan diperoleh keteranganketerangan tentang status tanahnya, beban-beban apa yang ada diatasnya, dan
subyek dari haknya. Kegiatan terakhir dari pendaftaran tanah adalah pemberian
surat bukti atas tanah yang lazim disebut dengan sertifikat.

Sedangkan pengertian pendaftaran tanah menurut Pasal 1 angka 1 PP No.
24 Tahun 1997 adalah : “Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh pemerintah secara terus – menerus, berkesinambungan dan teratur
meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan
data fisik dan data yuridis dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang – bidang
tanah dan satuan – satuan rumah susun termasuk pemberian surat bukti haknya
bagi bidang – bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan
rumah susun serta hak – hak tertentu yang membebani (Santoso, 2008)

Pendaftaran tanah adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh negara
atau pemerintah secara terus menerus dan teratur, berupa pengumpulan
keterangan atau data tertentu yang ada di wilayah – wilayah tertentu, pengolahan,
penyimpanan dan penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam memberikan
jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan, termasuk penerbitan tanda bukti
dan pemeliharaannya.

Universitas Sumatera Utara

Pendaftaran tanah mengandung unsur – unsur sebagai berikut :
1.) Dilakukan secara terus – menerus
Terus – menerus dimaksudkan apabila sekali tanah itu didaftarkan maka setiap
terjadi perubahan atas tanah maupun subyeknya harus diikuti dengan pendaftaran
tanah. Boedi Harsono berpendapat bahwa kata “ terus – menerus ” menunjuk
kepada pelaksanaan kegiatan, yang sekali dimulai tidak akan ada akhirnya. Data
yang sudah terkumpul dan tersedia selalu harus disesuaikan dengan perubahan –
perubahan yang kemudian, hingga tetap sesuai dengan keadaan yang terakhir.
2.) Pengumpulan Data Tanah
Data yang dikumpulkan pada dasarnya meliputi 2 macam, yaitu :
a. Data fisik, yaitu data mengenai letak tanahnya, batas – batas tanahnya dan
luasnya berapa serta, bangunan dan tanaman yang ada diatasnya.
b.

Data yuridis, yaitu mengenai nama hak atas tanah, siapa pemegang hak

tersebut, serta peralihan dan pembebanannya jika ada.
3.) Tujuan tertentu
Pendaftaran tanah diadakan untuk menjamin kepastian hukum (legal cadastre)
dan kepastian hak atas sebagaiman tercantum dalam ketentuan Pasal 19 UUPA.
Hal tersebut berbeda dengan pendaftaran tanah sebelum UUPA, yang bertujuan
untuk dasar penarikan pajak (fiskal cadastre).
4.) Penerbitan alat bukti hak / sertifikat
Sertifikat adalah surat tanda bukti hak, diterbitkan untuk kepentingan pemegang
hak yang bersangkutan, sesuai dengan data fisik yang ada dalam surat ukur dan
data yuridis yang telah di daftar dalam buku tanah. Menurut Peraturan Pemerintah
Nomor 24 tahun 1997 sertifikat terdiri atas salinan buku tanah yang memuat data

Universitas Sumatera Utara

yuridis dan surat ukur yang memuat data fisik hak yang bersangkutan, yang dijilid
menjadi satu dalam suatu sampul dokumen. Sertifikat hanya boleh diserahkan
kepada pihak yang namanya tercantum dalam buku tanah yang bersangkutan
sebagai pemegang hak atau pihak lain yang dikuasakan olehnya.
Konsep agraria tidak hanya mencakup tanah atau pertanian saja, tetapi
memiliki cakupan yang lebih luas dari itu. Konsep agraria juga merujuk pada
berbagai hubungan antara manusia dengan sumber-sumber agraria serta hubungan
antar manusia dalam rangka penguasaan dan pemanfaatan sumber-sumber agraria
(Sitorus,2002).
Pengembangan dan penyederhanaan proses-proses pelayanan pertanahan
terus dijalankan, dengan membangun terobosan-terobosan baru menjadi
keniscayaan ketika menghadapi kenyataan bahwa masih ada 69% dari ± 85 juta
bidang tanah yang belum teregalisasi. Jika menggunakan skema yang sudah
dijalankan selama ini, maka perlu 110 tahun untuk dapat mensertifikatkan semua
tanah diseluruh Indonesia.
Badan Pertanahan Nasional (BPN) adalah Lembaga Pemerintah Non
Departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dan
dipimpin oleh Kepala. BPN berperan aktif didalam mensukseskan program PPAN
(Program Pembaharuan Agraria Nasional) dan di dalam pembuatan sertifikat
tanah untuk petani sehingga dapat meningkatkan hak tanah juga daya saing petani
pedesaan.
Paradigma pembangunan yang mengejar pertumbuhan telah membawa
kondisi pertanian dan pedesaan Indonesia menjadi terpuruk. Padahal, pedesaan
dan pertanian merupakan dua wilayah vital dalam pembangunan. Dimulai dari

Universitas Sumatera Utara

bergulirnya revolusi hijau yang justru telah menggadaikan kemandirian dan
kedaulatan para petani. Saat ini arah pembangunan masih diarahkan semata-mata
pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan ekspor. Ujung-ujungnya, kondisi
sosial ekonomi menjadi keropos dan negara tidak mampu memenuhi hak sebagian
besar rakyatnya untuk hidup layak dan bermartabat (Sumardjono, 2009).
Secara kategoris, subyek agraria dibedakan menjadi tiga yaitu komunitas
(sebagai kesatuan dari unit-unit rumah tangga), pemerintah (sebagai representasi
negara), dan swasta (private sector). Ketiga subyek agraria tersebut memiliki
ikatan dengan sumber-sumber agraria melalui institusi penguasaan/pemilikan
(tenure

institution).

Dalam

hubungan-hubungan

itu

akan

menimbulkan

kepentingan-kepentingan social ekonomi masing-masing subjek berkenaan
dengan penguasaan/pemilikan dan pemanfaatan sumber-sumber agraria tersebut.
Bentuk dari hubungan ini adalah hubungan sosial atau hubungan sosial agraria
yang berpangkal pada akses (penguasaan, pemilikan, penggunaan) terhadap
sumber agraria.

Komunitas

Sumber
Agraria

Swasta

Pemerintah

Universitas Sumatera Utara

Keterangan :
: hubungan teknis agraria
: hubungan sosio agraria
Gbr 1. Lingkup Hubungan - Hubungan Agraria ( Sitorus, 2002 )
Makna Reforma Agraria adalah restrukturisasi penggunaan, pemanfaatan,
penguasaan, dan pemilikan sumber-sumber agraria, terutama tanah yang mampu
menjamin keadilan dan keberlanjutan peningkatan kesejahteraan rakyat. Apabila
makna ini di dekomposisikan, terdapat lima komponen mendasar di dalamnya,
yaitu:
1) Resturukturisasi penguasaan aset tanah ke arah penciptaan struktur sosial
ekonomi dan politik yang lebih berkeadilan (equity),
2) Sumber peningkatan kesejahteraan yang berbasis keagrariaan (welfare),
3) Penggunaan atau pemanfaatan tanah dan faktor-faktor produksi lainnya
secara optimal (efficiency),
4) Keberlanjutan (sustainability), dan
5) Penyelesaian sengketa tanah (harmony).

Berdasarkan makna Reforma Agraria di atas, dirumuskan tujuan Reforma
Agraria sebagai berikut:
1) Menata kembali ketimpangan struktur penguasaan dan penggunaan tanah
ke arah yang lebih adil,
2) Mengurangi kemiskinan,
3) Menciptakan lapangan kerja,

Universitas Sumatera Utara

4) Memperbaiki akses rakyat kepada sumber-sumber ekonomi, terutama
tanah,
5) Mengurangi sengketa dan konflik pertanahan,
6) Memperbaiki dan menjaga kualitas lingkungan hidup, dan
7) Meningkatkan ketahanan pangan.
Badan Petanahan Nasional RI (2007)
Inti dari reforma agraria adalah upaya politik sistematis untuk melakukan
perubahan struktur penguasaan tanah dan perbaikan jaminan kepastian
penguasaan tanah bagi rakyat yang memanfaatkan tanah dan kekayaan alam yang
menyertainya, dan yang diikuti pula oleh perbaikan sistem produksi melalui
penyediaan fasilitas teknis dan kredit pertanian, perbaikan metode bertani, hingga
infrastruktur sosial lainnya.
Adapun tujuan dari Program Pembaharuan Agraria Nasional (PPAN)
adalah:
1) Menciptakan pemerataan hak atas tanah diantara para pemilik tanah. Ini
dilakukan melalui usaha yang intensif yaitu dengan redistribusi tanah,
untuk mengurangi perbedaan pendapatan antara petani besar dan kecil
yang dapat merupakan usaha untuk memperbaiki persamaan diantara
petani secara menyeluruh.
2) Untuk meningkatkan dan memperbaiki daya guna penggunaan lahan.
Dengan ketersediaan lahan yang dimilikinya sendiri maka petani akan
berupaya

meningkatkan

produktivitasnya

terhadap

lahan

yang

diperuntukkan untuk pertanian tersebut, kemudian secara langasung akan

Universitas Sumatera Utara

mengurangi jumlah petani penggarap yang hanya mengandalkan sistem
bagi hasil yang cenderung merugikan para petani.
Tanah merupakan sumberdaya strategis yang memiliki nilai ekonomis.
Saat ini, jumlah luasan tanah pertanian tiap tahun terus mengalami penurunan.
Berkurangnya jumlah lahan pertanian ini merupakan akibat dari adanya
peningkatan jumlah dan aktivitas penduduk serta aktivitas pembangunan. Hal
tersebut mengakibatkan permintaan akan lahanpun meningkat. Pada akhirnya,
terjadilah konversi lahan pertanian ke non-pertanian seperti perumahan, industri,
dan lain sebagainya untuk memenjuhi permintaan yang ada. Konversi lahan yang
terjadi tak lepas dari kepentingan berbagai pihak seperti pemerintah dan pihak
swasta yang cenderung membawa dampak negatif terhadap lingkungan.
Pembaruan agraria merupakan prasyarat utama bagi rakyat pedesaan yang
selalu dalam posisi termarginalkan untuk melepaskan diri dari eksploitasi
kekuatan ekonomi besar dan penindasan kekuasaan politik rezim yang dominan.
Pembaruan agraria bertugas untuk menciptakan proses perombakan dan
pembangunan kembali struktur sosial masyarakat, khususnya masyarakat
pedesaan, sehingga tercipta dasar pertanian yang sehat, terjaminnya kepastian
pemilikan tanah bagi rakyat sebagai sumber daya kehidupan, terciptanya sistem
kesejahteraan sosial dan jaminan sosial bagi rakyat pedesaan, serta penggunaan
sumberdaya alam sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dengan demikian
pembaruan agraria yang dicita-citakan harus menganut falsafah kedaulatan rakyat
(Santoso,2008).

Universitas Sumatera Utara

Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) mengingatkan pemerintah agar
tidak sekadar merealisasikan PPAN tapi juga memberi dukungan modal dan
pemberdayaan petani sehingga dapat produktif. Ketika PPAN digulirkan, maka
pemerintah segera mem-back up dengan kebijakan penyediaan sarana pendukung
pertanian

seperti penyediaan

pasar,

akses

permodalan,

dan

penguatan

kelembagaan petani lewat koperasi.
Badan Pertanahan Nasional (BPN) adalah Lembaga Pemerintah Non
Departemen yang berada di bawah pemerintah dan bertanggung jawab kepada
presiden dan dipimpin oleh kepala (Sesuai dengan Perpres No. 10 Tahun 2006).
Badan Pertanahan Nasional mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan
di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral (Anonimus,2009).
Menurut Badan Petanahan Nasional RI (2007) makna Reformasi agraria
melalui Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) adalah restrukturisasi
penggunaan, pemanfaatan, penguasaan, dan pemilikan sumber-sumber agraria,
terutama tanah yang mampu menjamin keadilan dan keberlanjutan peningkatan
kesejahteraan rakyat. Apabila makna ini di dekomposisikan, terdapat lima
komponen mendasar di dalamnya, yaitu:
1) Resturukturisasi penguasaan aset tanah ke arah penciptaan struktur sosialekonomi dan politik yang lebih berkeadilan (equity),
2) Sumber peningkatan kesejahteraan yang berbasis keagrariaan (welfare),
3) Penggunaan atau pemanfaatan tanah dan faktor-faktor produksi lainnya
secara optimal (efficiency),
4) Keberlanjutan (sustainability), dan
5) Penyelesaian sengketa tanah (harmony).

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan makna Reforma Agraria di atas, maka tujuan Reforma
Agraria diantaranya adalah untuk menata kembali ketimpangan struktur
penguasaan dan penggunaan tanah ke arah yang lebih adil, mengurangi
kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, memperbaiki akses rakyat kepada
sumber-sumber ekonomi, terutama tanah, mengurangi sengketa dan konflik
pertanahan, memperbaiki dan menjaga kualitas lingkungan hidup, dan
meningkatkan ketahanan pangan.
Untuk menunjang keberhasilan PPAN, maka tanah atau obyek PPAN harus
tersedia dalam jumlah yang memadai dan dengan kualitas yang baik. Demikian
pula jangka waktu penyediaan tanahnya tidak boleh terlalu lama, dengan cara
yang sederhana sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sejalan dengan tahapan
perencanaan yang telah ditentukan.
Tanah-tanah obyek reforma agraria pada dasarnya adalah tanah negara
yang menurut peraturan perundang-undangan dapat dijadikan sebagai obyek
reforma agraria. Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, tanah-tanah yang
dapat dijadikan sebagai obyek reforma agraria adalah :
1)

Tanah yang haknya tidak diperpanjang atau tidak mungkin diperpanjang;

2)

Tanah yang berasal dari pelepasan hak

3)

Tanah hak yang pemegangnya melanggar ketentuan dan atau yang tidak
sejalan dengan keputusan pemberian haknya;

4)

Tanah obyek landreform;

5)

Tanah bekas obyek landreform;

6)

Tanah timbul;

7)

Tanah bekas kawasan pertambangan

Universitas Sumatera Utara

8)

Tanah yang dihibahkan oleh Pemerintah untuk reforma agraria;

9)

Tanah tukar menukar dari pemerintah;

10) Tanah yang diadakan oleh pemerintah untuk reforma agraria;
11) Tanah pelepasan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi;
12) Tanah yang sudah dilepaskan dari kawasan kehutanan menjadi tanah
negara yang pemanfaatan tanahnya tidak sesuai dengan peruntukannya.
Tanah-tanah obyek Reforma Agraria ini, tersebar baik di wilayah padat
maupun kurang padat penduduk. Keberadaan tanah obyek Reforma Agraria dalam
wilayah yang berpenduduk padat dipandang strategis dan diharapkan dapat
menyelesaikan permasalahan-permasalahan pertanahan seperti sengketa dan
konflik pertanahan. Sengketa dan konflik pertanahan diperkirakan lebih
terkonsentrasi di wilayah-wilayah yang berpenduduk padat.
Sedangkan untuk wilayah berpenduduk kurang padat, tanah diperkirakan
lebih tersedia dan lebih luas sehingga lebih dimungkinkan untuk melaksanakan
restrukturisasi penguasaan dan penggunaannya. Untuk wilayah berpenduduk
kurang padat, alternatif penyediaan tanah yang dapat dilaksanakan adalah tanah
yang berasal dari kawasan hutan, tepatnya pada kawasan Hutan Produksi yang
dapat di-Konversi (HPKv).
Pertimbangan penyediaan tanah dari kawasan Hutan Produksi yang dapat
di-Konversi ini antara lain adalah:
1)

Menata penguasaan dan penggunaan tanahnya, sehingga fungsi ekosistem
kawasan ini tetap terjaga,

2) Peruntukan penggunaan sebagai kawasan hutan produksi dapat lebih
diefektifkan,

Universitas Sumatera Utara

3)

Peraturan perundang-undangan yang ada memungkinkan dilepaskannya
tanah-tanah tersebut dari kawasan hutan, dan

4) Meminimalkan persinggungan dengan tanah-tanah yang telah dikuasai oleh
masyarakat.

Landasan Teori
Reforma Agraria, yang dalam implementasinya disebut juga Program
Pembaruan Agraria Nasional (PPAN), merupakan upaya bersama seluruh
komponen bangsa dalam rangka menata kembali ketimpangan penguasaan,
pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah menuju struktur yang lebih
menjamin keadilan, keberlanjutan dan meningkatkan kesejahteraan, sesuai dengan
prinsip tanah untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat. PPAN merupakan suatu
proses yang berkesinambungan berkenaan dengan penataan kembali penguasaan,
kepemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah. Dilaksanakan dalam rangka
tercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran
bagi seluruh rakyat Indonesia (Sumarjono, 2009).
Sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecendrungan untuk
bertindak terhadap objek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu,
artinya tidak ada sikap tanpa objek. Sikap diarahkan kepada benda- benda, orang,
peristiwa, pemandangan, lembaga, norma, dan lain- lain. Jika individu bersikap
positif terhadap objek tertentu, maka ia akan cenderung membantu atau memuji
atau mendukung objek tersebut , jika ia bersikap negatif, maka ia akan cenderung
untuk

mengganggu,

atau

menghukum

atau

merusak

objek

tersebut.

(Soetarno,1989)

Universitas Sumatera Utara

Definisi sikap antara lain sebagai berikut :
1) Berorientasi kepada respon
Sikap adalah suatu bentuk dari perasaan, yaitu perasaan mendukung atau
memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung (Unfavourable)
pada suatu objek.
2) Berorientasi kepada kesiapan respon
Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan caracara tertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki
adanya respon. Suatu pola perilaku, tendenasi atau kesiapan antisipatif untuk
menyesuaikan diri dari situasi sosial yang telah terkondisikan.
3) Berorientasi kepada skema triadik
Sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif
yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku
terhadap suatu objek di lingkungan sekitarnya.
Komponen atau Struktur Sikap, antara lain terdiri dari :
1) Komponen kognisi yang berhubungan dengan belief (kepercayaan atau
keyakinan), ide, konsep, persepsi, stereotipe, opini yang dimiliki individu
mengenai sesuatu.
2) Komponen Afeksi yang berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang,
menyangkut perasaan individu terhadap objek sikap dan menyangkut masalah
emosi.
3) Komponen Kognisi yang merupakan kecenderungan belum berperilaku.
(Mar’at ,1984).

Universitas Sumatera Utara

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap antara lain:
-

Pengalaman pribadi

-

Kebudayaan

-

Orang lain yang dianggap penting (Significant Otjhers)

-

Media massa

-

Institusi / Lembaga Pendidikan dan Agama

-

Faktor Emosional

Pengamatan terhadap indikator sikap sewaktu individu berkesempatan
untuk mengungkap sikapnya. Dalam berbagai bentuk skala sikap yang umumnya
harus dijawab dengan”setuju” atau “tidak setuju”.
Prosedur penskalaan dengan metode likert didasari oleh dua asumsi, yaitu:
1) Setiap pernyataan sikap yang telah ditulis dapat disepakati sebagai termasuk
pertanyaan yang favorable atau pertanyaan yang tak favorable
2) Jawaban yang diberikan oleh individu yang mempunyai sikap positif harus
diberi bobot atau nilai yang lebih tinggi daripada jawaban yang diberikan
oleh responden yang mempunyai sikap negatif.
(Azwar,1995).
Struktur sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu
komponen kognitif yang berhubungan dengan kepercayaan atau keyakinan, ide,
konsep persepsi, opini yang dimiliki individu mengenai sesuatu, komponen afektif
yang berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang menyangkut perasaan
individu terhadap objek, sikap dan menyangkut masalah emosi serta bertingkah
laku (Rahayuningsih, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Para petani dalam kemampuannya menerima pemberitahuan atau hal – hal
yang baru sifatnya tidak sama atau akan sangat tergantung kepada keadaan status
sosial, ekonomi, psikologis serta tingkat pengetahuan dan pendidikannya. Petani
yang berusia lanjut berumur sekitar lebih dari 50 tahun biasanya fanatik terhadap
tradisi dan sulit untuk diberikan pengertian – pengertian yang dapat mengubah
cara berfikir, cara bekerja dan cara hidupnya. Petani ini bersikap apatis terhadap
adanya tekhnologi baru (Kartasapoetra,1991).
Luas lahan pertanian akan dipengaruhi oleh skala usaha dan skala usaha
ini pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi atau tidaknya suatu peningkatan
usaha pertanian ( Kartasapoetra, 1991).
Hubungan antara nilai – nilai individu dan sikapnya tidaklah sederhana.
Dalam satu hal, sejauh mana berbagai sistem nilai individu membentuk
perkembangan dan pengaturan sikap tampaknya merupakan fungsi dari
keterpusatan nilai. Jika bagi seorang ini merupakan nilai sentral (pusat) maka
sikap kelompok minoritas dapat bersifat sama nilainya dengan kelompok
mayoritas (Krech dkk, 1996).
Sikap – sikap yang selaras dengan sikap – sikap lain dalam suatu
kumpulan seyogyanya relatif lebih mudah bergerak kearah yang selaras
dibandingkan dengan sikap – sikap yang tidak selaras dengan sikap – sikap lain.
Teori keseimbangan memperkirakan bahwa suatu sikap yang dalam keadaan yang
tidak seimbang dengan sikap lain dalam suatu kumpulan akan bergerak cenderung
menurut arah yang akan menyeimbangkan sistem tersebut (Krech dkk, 1996)

Universitas Sumatera Utara

Kerangka Pemikiran
Tanah mempunyai ciri khusus yang bersegi dua, yakni sebagai benda dan
sumberdaya alam. Seperti halnya air dan udara, yang merupakan sumber daya
alam karena tidak dapat diciptakan oleh manusia. Tanah menjadi benda bila telah
diusahakan oleh manusia, misalnya menjadi tanah pertanian atau dapat pula
dikembangkan menjadi tanah perkotaan. Pengembangannya dilakukan oleh
pemerintah melalui penyediaan prasarana yang akan meningkatkan nilai tanah dan
disadari bahwa tanah adalah benda yang dimiliki oleh masyarakat kerena di
ciptakan melaui investasi dan keputusan masyarakat melalui pemerintah.

Dalam implementasi program PPAN tersebut memunculkan sikap yang bervariasi
sesuai apa yang dialami masing-masing petani di daerah penelitian terhadap
program PPAN tersebut yang dipangaruhi oleh dorongan-dorongan dari dalam
diri petani, baik faktor sosial seperti umur, tingkat pendidikan, dan faktor ekonomi
seperti luas lahan pertanian yang dimiliki, dan total pendapatan keluarga.

Dimana sikap petani terhadap program PPAN merupakan bentuk dari reaksi
ataupun respon terhadap stimulus, yakni memunculkan dalam bentuk sikap positif
atau negatif.

Universitas Sumatera Utara

Secara skematis, kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut:

Program PPAN

Petani

• Umur
• Tingkat
pendidikan

Faktor sosial:




---------- Faktor Ekonomi:

Sikap Petani

Luas Lahan
Total
Pendapatan
Petani

Negatif

Postif

Keterangan :

: Menyatakan Hasil
: Menyatakan Proses
----------

: Menyatakan Hubungan

Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran

Universitas Sumatera Utara

Hipotesis Penelitian
Berdasarkan teori dan kerangka pemikiran, dapat diidentifikasikan beberapa
hipotesis yang berhubungan dengan penelitian sebagai berikut :
1) Sikap petani sampel terhadap program PPAN adalah positif
2) Ada hubungan karakteristik sosial ( umur, tingkat pendidikan formal,)
ekonomi ( luas lahan, dan total pendapatan keluarga) p

Dokumen yang terkait

Dokumen baru