MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 GUNUNG RAYA TAHUN PELAJARAN 2014/2015

MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
JIGSAW SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 GUNUNG RAYA
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
(Skripsi)

Oleh
HERMAWATI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

ABSTRAK
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS IV SD
NEGERI 1 GUNUNG RAYA TAHUN PELAJARAN 2014/2015
OLEH
HERMAWATI

Masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa
kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya Tahun Pelajaran 2013/2014. Tujuan dalam
penelitian ini untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar melalui Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw siswa kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya
Lampung Timur.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas yang
difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal Classroom Action Research.
Penelitian ini dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas
dengan menggunakan siklus-siklus tindakan, yang berlangsung sebanyak 3 siklus.
Masing-masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi
dan refleksi. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi untuk data
aktivitas belajar dan tes untuk hasil belajar. Teknis analisis data menggunakan
analisis kualitatif dan kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah
50,31. termasuk dalam kualifikasi “Cukup Aktif”. Pada siklus II aktivitas siswa
meningkat menjadi 72,84 termasuk dalam kualifikasi “Aktif”. Pada siklus III
aktivitas siswa 90,66 dengan kualifikasi “Sangat Aktif”. Hasil belajar siswa pada
siklus I rata-rata 64,81. Siklus II sebesar 74,62 dan siklus III sebesar 77,59.
Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw, Aktivitas Belajar,
Hasil Belajar.

RIWAYAT HIDUP

Peneliti dilahirkan di Gunung Sugih Besar Kecamatan
Sekampung Udik Kabupaten Lampung Timur pada
tanggal 25 Oktober 1983. Anak kedua dari lima
bersaudara pasangan dari Bapak Abdullah dan Ibu
Hafiyah. Peneliti pertama kali sekolah di SD Negeri 1
Gunung Sugih Besar lulus tahun 1995. Kemudian
melanjutkan pendidikan di MTs Maarif Penawaja
Pugung Raharjo lulus tahun 1998. Kemudian peneliti melanjutkan pendidikan di
SMA Arjuna Bandar Lampung lulus tahun 2001. TPeneliti diterima sebagai
mahasiswa Program Studi S-1 PGSD Universitas Lampung tahun 2011.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan YME atas rahmat dan karunia-Nya
sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul:
"Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Melalui Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Jigsaw Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya Tahun
Pelajaran 2014/2015". Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar sarjana pendidikan di Universitas Lampung.
Penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan dengan adanya
bantuan dari berbagai pihak, untuk itu peneliti ingin mengucapkan terima
kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., Rektor Universitas Lampung.
2. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si., Dekan FKIP Universitas Lampung.
3. Bapak Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd., Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan
Universilas Lampung.
4. Bapak Dr. Hi. Darsono, M.Pd., Ketua Program Studi S-1 PGSD Universitas
Lampung.
5. Ibu Dra. Asmaul Khair, M.Pd., Ketua UPP Metro S-1 PGSD, dan sebagai
dosen pembahas yang telah bersedia memberikan bimbingan, saran, kritik
dan arahan dalam proses penyusunan skripsi ini
6. Bapak Herman Tarigan, M.Pd., dosen Pembimbing yang telah bersedia
memberikan bimbingan, saran, kritik dan arahan dalam proses penyusunan
skripsi ini.
7. Bapak Rafani, M.Pd., dosen Pembahas yang telah bersedia memberikan
bimbingan, saran, kritik dan arahan dalam proses penyusunan skripsi ini
8. Bapak Suyitno, S.Pd., Kepala SD Negeri 1 Gunung Raya, serta dewan guru
dan staf administrasi yang telah banyak membantu peneliti dalam penyusunan
skripsi ini

9. Sahabat-sahabat peneliti yang selalu memberikan dukungan, keceriaan serta
kebersamaan dalam suka maupun duka selama ini. Semoga kebersamaan itu
tidak akan terkalahkan oleh waktu.
10. Almamater tercinta dan seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu, yang telah ikut serta memberikan bantuan, motivasi, serta dukungan
kepada peneliti.
Peneliti berharap semoga Allah memuliakan dan membalas semua
kebaikan tersebut. Peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaan bagi
semua pihak terutama bagi perkembangan dan peningkatan kualitas pendidikan
di Indonesia.
Bandar Lampung,
Peneliti

Oktober 2014

PERSEMBAHAN

Seiring dengan sujud syukur pada-Allah SWT karya sederhana ini penulis
persembahkan kepada
1. Kedua orang tuaku Bapak Abdullah dan Ibu Hafiyah terima kasih atas
doa dan restumu,
2. Suamiku Samsul Bahri yang telah mendukung dan memberiku semangat
dalam menyelesaikan studiku
3. Kepala sekolah dan rekan-rekan guru yang selalu mendukung
keberhasilanku, dan
4. Almamater Universitas Lampung kebanggaanku

MOTO

“Pendidikan merupakan perlengkapan paling baik di hari tua.”
“Manusia yang paling pandai adalah manusia yang bisa menguasai
dirinya sendiri

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .................................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xiv
BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………..........
1.1. Latar Belakang Masalah ...................................................................................
1.2. Identifikasi Masalah. ........................................................................................
1.3. Rumuasan Masalah ...........................................................................................
1.4. Tujuan Penelitian. .............................................................................................
1.5. Manfaat Penelitian. ...........................................................................................
1.6. Penegasan Istilah. .............................................................................................

1
1
5
5
5
6
7

BAB II KAJIAN PUSTAKA………………………………………….................
2.1. Belajar .............................................................................................................
2.1.1 Pengertian Belajar. .................................................................................
2.1.2 Aktivitas Belajar.....................................................................................
2.1.3 Hasil Belajar...........................................................................................
2.2. Pembelajaran Tematik Kurikulum 2013. ........................................................
2.2.1 Pengertian Kurikulum 2013. ...................................................................
2.2.2 Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Kurikulum 2013. ........................
2.3. Pendekatan Scientific. .....................................................................................
2.4. Model Pembelajaran Kooperatif......................................................................
2.4.1 Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif.................................................
2.4.2 Prinsip Dasar Model Pembelajaran Kooperatif. .....................................
2.4.3 Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif. ................................................
2.5. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. ................................................
2.6. Hipotesis Tindakan. .........................................................................................

9
9
9
11
13
15
15
15
20
24
24
26
26
27
33

BAB III METODE PENELITIAN…………………………………....................
3.1 Metode Penelitian. ..........................................................................................
3.2 Setting Penelitian .............................................................................................
3.3 Subyek Penelitian. ...........................................................................................
3.4 Teknik Pengumpulan Data. .............................................................................
3.5 Alat pengumpulan Data. ..................................................................................
3.6 Teknik Analisa Data. .......................................................................................
3.7 Prosedur Penelitian ..........................................................................................
3.8 Indikator Keberhasilan. ...................................................................................

34
34
35
35
35
36
36
43
52

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………………….
4.1 Profil SD Negeri 1 Gunung Raya. .....................................................................
4.2 Prosedur Penelitian. ............................................................................................
4.3 Hasil Penelitian...................................................................................................

55
55
55
58

4.3.1 Pelaksanaan Siklus I. .................................................................................
4.3.2 Pelaksanaan Siklus II. ................................................................................
4.3.3 Pelaksanaan Siklus III. ...............................................................................
4.4 Pembahasan . ......................................................................................................

58
69
81
90

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………………… 101
5.1 Kesimpulan. ....................................................................................................... 101
5.2 Saran ................................................................................................................... 102
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 103
LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Lembar Observasi Efektivitas Pembelajaran ................................

37

2. Lembar Observasi Sikap Spiritual. ...............................................

40

3. Lembar Penilaian Diri Sikap Jujur. ...............................................

41

4. Lembar Penilaian Antarpeserta Didik Sikap Disiplin. ..................

42

5. Aktivitas Siswa Siklus I ...............................................................

63

6. Kinerja Guru Siklus I. ..................................................................

64

7. Hasil Belajar Siswa Siklus I.........................................................

65

8. Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus II ........................................

74

9. Kinerja Guru Siklus II..................................................................

76

10. Hasil Belajar Siswa Siklus II. ......................................................

77

11. Aktivitas Belajar Siswa pada Siklus III .......................................

85

12. Kinerja Guru Siklus III. ...............................................................

86

13. Hasil Belajar Siswa Siklus III. .....................................................

87

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Hubungan Yang Terjadi Antara Kelompok Asal Dan Kelompok Ahli…

29

2. Siklus Kegiatan PTK ..............................................................................

44

3. Diagram Kenaikan Rata-rata Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Model
Kooperatif Tipe Jigsaw. .........................................................................

91

4. Diagram Kenaikan Rata-rata Kinerja Guru dalam Pembelajaran Model
Kooperatif Tipe Jigsaw. .........................................................................

94

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Surat Izin Penelitian ......................................................................... 104
2. Surat keterangan. ............................................................................... 105
3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I ................................... 106
4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II ................................... 120
5. Lembar Observasi. ............................................................................ 132
6. Hasil Belajar Siswa . ......................................................................... 142
7. Dokumen Photo Penelitian. ............................................................... 156

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran merupakan interaksi timbal balik antara siswa
dengan guru dan antara siswa dengan siswa, yang melibatkan banyak
komponen untuk mencapai tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran
sebagai suatu sistem pada prinsipnya bukan hanya bertujuan untuk memenuhi
ingatan pengetahuan para siswa dengan berbagai fakta dan materi yang harus
dihafalnya, melainkan untuk membina mental yang sadar akan tanggung
jawab terhadap hak dirinya sendiri dan kewajiban kepada masyarakat, bangsa
dan negara.
Pasal 31, ayat 3 UUD 1945 menyebutkan, Pemerintah mengusahakan
dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan
keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam UndangUndang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

2

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya penyederhanaan,
dan tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi
yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun
untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Titik beratnya, bertujuan
untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam
melakukan

observasi,

bertanya,

bernalar,

dan

mengkomunikasikan

(mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah
menerima materi pembelajaran. Adapun obyek yang menjadi pembelajaran
dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada
fenomena alam, sosial, seni, dan budaya.
Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,
dan Negara.
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional
Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu
tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya,
pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak

3

itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah
mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Untuk menciptakan potensi guru yang baik, maka harus dilakukan
upaya guna meningkatkan profesionalisme keguruan, karena hal ini sangat
menunjang bagi pelaksanaan proses pembelajaran yang baik. Upaya yang
dapat dilakukan untuk memperbaiki PBM diantaranya mengadakan Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) yang didasarkan pada desain kajian seorang guru agar
bisa diterima siswa yang nantinya akan menciptakan suasana pembelajaran
yang baik. Apabila siswa sudah bisa menerima pembelajaran yang guru
sampaikan, dengan demikian proses pembelajaranpun akan diikuti dengan
baik. Maka dari itu tentunya hasil belajar akan meningkat.
Perolehan hasil belajar

SD Negeri 1 Gunung Raya Kecamatan

Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur di Kelas IV yang masih jauh
dari hasil belajar yang diharapkan 75% di atas KKM, sedangkan KKM yang
telah ditetapkan yaitu dengan batasas minimal ketuntasan B- atau 2,66
berdasarkan tabel penilaian tersebut terdapat di Permendikbud no 81A tahun
2013 tentang implementasi kurikulum. Dengan demikian, penulis mencoba
melakukan penelitian tindakan kelas pada siswa kelas IV SD Negeri 1
Gunung Raya Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur
dengan Model Kooperatif tipe Jigsaw.
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, siswa
kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderung tidak begitu
tertarik dengan pelajaran , karena selama ini pelajaran dianggap sebagai

4

pelajaran yang sulit dan bersifat monoton. Dikatakan proses pembelajaran
bersifat monoton karena, siswa di buat pasif, mereka duduk dan
mendengarkan ceramah guru, lalu mencatat materi pelajaran dan mengerjakan
latihan atau tugas yang diperintah guru. Sebaliknya guru mendominasi proses
pembelajaran dengan metode ceramah tanpa divariasikan dengan berbagai
metode dan pendekatan yang lebih tepat dengan sifat dan karakteristik siswa
maupun mata pelajaran yang diajarkan sehingga menyebabkan rendahnya
hasil belajar siswa di kelas IV SDN 1 Gunung Raya Kecamatan Marga
Sekampung Lampung Timur.
Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di dalam proses pembelajaran,
sehingga ketuntasan belajar dapat tercapai.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka peneliti akan mencoba
menerapkan salah satu model pembelajaran yaitu Pembelajaran Kooperatif
Tipe Jigsaw, karena melalui model pembelajaran ini siswa diharapkan akan
meningkatkan aktivitas dan hasil belajarnya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis akan mengadakan
suatu penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas yang berjudul
“Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Melalui Model Koperatif Tipe
Jigsaw Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya Kecamatan Marga
Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 2014/2015”.

5

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas perlu diidentifikasi permasalahan yang
ada, yaitu:
1. Rendahnya aktivitas belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya
Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur .
2. Rendahnya hasil belajar

siswa kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya

Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur .
3. Guru belum menerapkan model pembelajaran yang tepat.
1.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas penulis menyusun rumusan
masalah dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut:
1. Bagaimanakah cara meningkatkan aktivitas belajar

melalui model

kooperatif tipe Jigsaw terhadap siswa kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya
Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun
Pelajaran 2014/2015?
2. Apakah pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe Jigsaw dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya
Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun
Pelajaran 2014/2015?

6

1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk:
1. Meningkatkan aktivitas belajar

melalui Model kooperatif tipe Jigsaw

terhadap siswa kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya Kecamatan Marga
Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 2014/2015.
2. Meningkatkan hasil belajar

melalui Model kooperatif tipe Jigsaw

terhadap siswa kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya Kecamatan Marga
Sekampung Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran 2014/2015.

1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian tindakan kelas melalui model koperatif tipe Jigsaw
dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran
kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten
Lampung Timur, sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Apabila pembelajaran model Jigsaw ini dapat dirasakan manfaat dan
kebenarannya dalam menyelesaikan suatu masalah, maka guru, para
tenaga pendidik, kepala sekolah, dan para peneliti lainnya dapat
menggunakan model ini sebagai alternatif yang baik dalam pembelajaran.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa yaitu :
Dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran kelas IV SD Negeri 1 Gunung Raya Kecamatan Marga
Sekampung Kabupaten Lampung Timur .

7

b. Bagi Guru yaitu :
Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan guru bahwa model Jigsaw merupakan salah satu model
pembelajaran yang efektif dan menyenangkan siswa, sehingga dapat
diterapkan dalam pembelajaran di sekolah, khususnya pada mata
pelajaran.
c. Bagi Sekolah yaitu :
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan mutu proses, dan hasil
belajar siswa, dan sebagai pencapaian Visi Sekolah.
d. Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam menerapkan
model-model pembelajaran khususnya model Jigsaw.
1.6 Penegasan Istilah
Untuk menghindari salah tafsir pengertian istilah-istilah dalam penelitian ini
maka perlu adanya penegasan istilah
1. Aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam proses
interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar.
2. Hasil Belajar adalah kemampuan keterampilan, dan sikap yang diperoleh
siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga
dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari
3. Pembelajaran Kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan
pembentukan kelompok yang bertujuan untuk menciptakan pendekatan
pembelajaran yang efektif.

8

4. Model Jigsaw adalah sebuah teknik pembelajaran kooperatif dimana
siswa, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam pelaksanaan
pembelajaran untuk mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar
kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak
mungkin diperoleh bila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi
sendirian.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Belajar
2.1.1 Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau
potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.
Menurut Ernest R. Hilgard (Sumardi Suryabrata, 2008: 252) belajar
merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian
menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang
ditimbulkan oleh lainnya.
Menurut Oemar Hamalik (2004: 28), belajar adalah “Suatu proses
perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Aspek
tingkah

laku

tersebut

adalah:

pengetahuan,

pengertian,

kebiasaan,

keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi
pekerti dan sikap. Sedangkan, Sardiman A.M. (2004: 22) menyatakan:
“belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan
lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 12) belajar adalah
berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku
atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Menurut james O.

10

Whittaker (Djamarah, Syaiful Bahri, 1999: 21) Belajar adalah Proses dimana
tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Ciriciri belajar adalah sebagai berikut :
1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat
pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan
sikap (afektif).
2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat
disimpan.
3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha.
Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/
kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.
Berikut beberapa faktor pendorong mengapa manusia memiliki
keinginan untuk belajar:
1. Adanya dorongan rasa ingin tahu.
2. Adanya keinginan untuk menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
sebagai tuntutan zaman dan lingkungan sekitarnya
3. Mengutip dari istilah Abraham Maslow bahwa segala aktivitas manusia
didasari atas kebutuhan yang harus dipenuhi dari kebutuhan biologis
sampai aktualisasi diri.
4. Untuk melakukan penyempurnaan dari apa yang telah diketahuinya.
5. Agar mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya.
6. Untuk meningkatkan intelektualitas dan mengembangkan potensi diri.
7. Untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.

11

8. Untuk mengisi waktu luang.
Menurut analisis penulis, Belajar merupakan proses yang aktif untuk
memahami hal-hal baru dengan pengetahuan yang kita miliki. Disini terjadi
penyesuaian dari pengetahuan yang sudah kita miliki dengan pengetahuan
baru. Dengan kata lain, ada tahap evaluasi terhadap informasi yang didapat,
apakah pengetahuan yang kita miliki masih relevan atau kita harus
memperbarui pengetahuan kita sesuai dengan perkembangan zaman.

2.1.2

Aktivitas Belajar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2002: 32) aktivitas artinya
adalah “kegiatan/keaktifan”. W.J.S. Poewadarminto menjelaskan aktivitas
sebagai suatu kegiatan atau kesibukan. S. Nasution (2004: 89) menambahkan
bahwa aktivitas merupakan keaktifan jasmani dan rohani dan kedua-keduanya
harus dihubungkan. Belajar menurut Dimyati dan Mudjiono (2002: 7)
merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks.

Selanjutnya

Sardiman (2004: 24) menyatakan: “Belajar sebagai suatu proses interaksi
antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi,
fakta, konsep ataupun teori”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas
belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan
siswa) dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Aktivitas yang

dimaksudkan disini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya
aktivitas siswa dalam proses pembelajaran akan berdampak terciptanya situasi
belajar aktif.

12

Aktivitas belajar sendiri banyak sekali macamnya, sehingga para ahli
mengadakan klasifikasi. Paul B. Diedrich dalam (Sardiman. 2004: 101)
membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang
digolongkan ke dalam 8 kelompok.
1. Visual Activities, meliputi kegiatan seperti membaca, memperhatikan
(gambar, demonstrasi, percobaan dan pekerjaan orang lain)
2. Oral Activities, seperti : menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi
saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, dan
interupsi.
3. Listening Activities, seperti : mendengarkan uraian, percakapan diskusi,
musik dan pidato.
4. Writting Activities, seperti : menulis cerita, menulis karangan, menulis
laporan, angket, menyalin, membuat rangkuman.
5. Drawing Activities, seperti ; menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
6. Motor Activities, seperti : melakukan percobaan, membuat konstruksi,
model, mereparasi, bermain dan berternak.
7. Mental Activities, seperti menanggapi, mengingat, memecahkan soal,
menganalisis, melihat hubungan dan mengambil keputusan.
8. Emotional Activities, seperti : menaruh minat, merasa bosan, bergairah,
berani, tenang dan gugup
Aktivitas guru dalam mengatur kelas sebaik-baiknya dan menciptakan
kondisi yang kondusif sehingga murid dapat belajar . Aktifnya siswa selama
proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau
motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila
ditemukan ciri – ciri perilaku seperti : sering bertanya kepada guru atau siswa
lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mampu menjawab
pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya. Semua ciri
perilaku tersebut pada dasarnya dapat ditinjau dari dua segi yaitu segi proses
dan dari segi hasil.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas
belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi
(guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar.

13

2.1.3

Hasil Belajar

Menurut

Oemar

Hamalik

(2004:

159)

bahwa

hasil

belajar

menunjukkan kepada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu
merupakan indikator adanya derajat perubahan tingkah laku siswa.
Menurut Nasution (2004: 36) hasil belajar adalah hasil dari suatu
interaksi tindak belajar mengajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes
yang diberikan guru. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2002: 36)
hasil belajar adalah hasil yang ditunjukkan dari suatu interaksi tindak belajar
dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses
pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru
setiap selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004: 22). Sedangkan
menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam
hasil belajar mengajar: (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan
pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa
setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat
mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

14

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni
faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa (Sudjana, 2004:
39). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri siswa
perubahan kemampuan yang dimilikinya seperti yang dikemukakan oleh
Clark (1981: 21) menyatakan bahwa hasil belajar siswa disekolah 70%
dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.
Demikian juga faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan yang paling
dominan berupa kualitas pembelajaran (Sudjana, 2004: 39)
Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar siswa dipengaruhi
oleh dua faktor dari dalam diri siswa berupa kemampuan personal (internal)
dan faktor dari luar diri siswa yakni lingkungan. Dengan demikian hasil
belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh siswa berkat adanya usaha
atau pikiran yang mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan,
pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek
kehidupan sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian terhadap
sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek
kehidupan sehingga nampak pada diri individu perubahan tingkah laku secara
kuantitatif.

2.2 Pembelajaran Tematik Kurikulum SD Tahun 2013
2.2.1

Pengertian Kurikulum 2013
Kurikulum

2013

merupakan

kurikulum

terbaru,

hasil

penyempurnaan kurikulum sebelumnya, Kurukum KTSP atau Kurikulum
tingkat satuan pendidikan. Perubahan mendasar adalah dikuruanginya

15

beberapa mata pelajaran di tingkat satuan pendidikan SD dan SMP, serta
dihilangkannya sistem penjurusan pada jejang atau tingkat satuan
pendidikan SMA, jadi nanti tidak akan adalah lagi kasta terbaik dan kasta
nomor 2 (pembuangan) seperti yang terjadi pada saat ini, yang katanya
jurusan IPA itu favorit, anaknya pintar-pintar, sedangkan jurusan IPS dan
bahasa itu nomor dua, jurusan “pembuangan” anaknya pada bandelbandel. Kurikul 2013 sendiri akan mulai diterapkan secara bertahap mulai
tahun pelajaran 2013 – 2014.

2.2.2

Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Kurikulum 2013
Pengembangan

kurikulum

adalah

sebuah

proses

yang

merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan
pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga
dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kata lain
pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum
baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil
penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
Pada umumnya ahli kurikulum memandang kegiatan pengembnagn
kurikulum sebagai suatu proses yang kontinu, merupakan suatu siklus
yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen tujuan, bahan,
kegiatan dan evaluasi.
Prinsip-prinsip

yang

akan

digunakan

dalam

kegiatan

pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau
hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan

16

kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang
dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsipprinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu
lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip
yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan
lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang
digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum
Terkait dengan pengembangan kurikulum 2013, terdapat sejumlah
prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Kurikulum satuan pendidikan atau jenjang pendidikan bukan
merupakan daftar mata pelajaran. Atas dasar prinsip tersebut maka
kurikulum sebagai rencana adalah rancangan untuk konten pendidikan
yang harus dimiliki oleh seluruh peserta didik setelah menyelesaikan
pendidikannya di satu satuan atau jenjang pendidikan tertentu.
Kurikulum sebagai proses adalah totalitas pengalaman belajar peserta
didik di satu satuan atau jenjang pendidikan untuk menguasai konten
pendidikan yang dirancang dalam rencana. Hasil belajar adalah
perilaku peserta didik secara keseluruhan dalam menerapkan
perolehannya di masyarakat.
2. Standar kompetensi lulusan ditetapkan untuk satu satuan pendidikan,
jenjang pendidikan, dan program pendidikan. Sesuai dengan kebijakan
Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar
Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum
adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti

17

proses pendidikan selama 12 tahun. Selain itu sesuai dengan fungsi dan
tujuan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta fungsi
dan tujuan dari masing-masing satuan pendidikan pada setiap jenjang
pendidikan maka pengembangan kurikulum didasarkan pula atas
Standar Kompetensi Lulusan pendidikan dasar dan pendidikan
menengah serta Standar Kompetensi satuan pendidikan.
3. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan
kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan
keterampilan psikomotorik yang dikemas dalam berbagai mata
pelajaran. Kompetensi yang termasuk pengetahuan dikemas secara
khusus dalam satu mata pelajaran. Kompetensi yang termasuk sikap
dan ketrampilan dikemas dalam setiap mata pelajaran dan bersifat
lintas mata pelajaran dan diorganisasikan dengan memperhatikan
prinsip penguatan (organisasi horizontal) dan keberlanjutan (organisasi
vertikal) sehingga memenuhi prinsip akumulasi dalam pembelajaran.
4. Kurikulum didasarkan pada prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan
dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk
Kemampuan Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik
(mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis
kompetensi.
5. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan
dan minat. Atas dasar prinsip perbedaan kemampuan individual peserta
didik, kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk

18

memiliki tingkat penguasaan di atas standar yang telah ditentukan
(dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan). Oleh karena itu
beragam program dan pengalaman belajar disediakan sesuai dengan
minat dan kemampuan awal peserta didik.
6. Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik

serta

lingkungannya.

Kurikulum

dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada
posisi sentral dan aktif dalam belajar.
7. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
budaya, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar
kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni
berkembang secara dinamis. Oleh karena itu

konten kurikulum

harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, budaya,
teknologi, dan seni; membangun rasa ingin tahu dan kemampuan bagi
peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat hasilhasil ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
8. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pendidikan
tidak boleh memisahkan peserta didik dari lingkungannya dan
pengembangan kurikulum didasarkan kepada prinsip
pendidikan dengan kebutuhan

relevansi

dan lingkungan hidup. Artinya,

kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mempelajari permasalahan

di lingkungan masyarakatnya sebagai

konten kurikulum dan kesempatan untuk mengaplikasikan yang
dipelajari di kelas dalam kehidupan di masyarakat.

19

9. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Pemberdayaan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat dirumuskan
dalam sikap, keterampilan,

dan pengetahuan dasar yang dapat

digunakan untuk mengembangkan budaya belajar.
10. Kurikulum

dikembangkan

dengan

memperhatikan

kepentingan

nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional
dikembangkan melalui

penentuan struktur

Kemampuan/SK dan Kemampuan Dasar/KD

kurikulum, Standar
serta

silabus.

Kepentingan daerah dikembangkan untuk membangun manusia yang
tidak tercabut dari akar budayanya dan mampu berkontribusi langsung
kepada masyarakat di sekitarnya. Kedua kepentingan ini
mengisi dan memberdayakan

saling

keragaman dan kebersatuan yang

dinyatakan dalam Bhinneka Tunggal Ika untuk membangun Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
11. Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki
pencapaian kompetensi. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat
untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau
sekelompok peserta didik. Kekurangan tersebut harus segera diikuti
dengan proses

perbaikan terhadap kekurangan dalam aspek hasil

belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik.

20

2.3 Pendekatan Scientific
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah pembelajaran
yang terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang
ingin diketahui), merumuskan pertanyaan (dan merumuskan hipotesis),
mencoba/mengumpulkan
mengasosiasi/

data

(informasi)

menganalisis/mengolah

data

dengan

berbagai

(informasi)

dan

teknik,
menarik

kesimpulan serta mengkomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan
untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Langkah-langkah
tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan mencipta.
Kurikulum 2013 mengajak kita semua untuk semangat dan optimis
akan meraih pendidikan yang lebih baik. Kurikulum 2013 yang menekankan
pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran menggunakan
pendekatan ilmiah sebagai katalisator utamanya atau perangkat atau apa pun
itu namanya. Pendekatan ilmiah (scientific approach) diyakini sebagai titian
emas

perkembangan

dan

pengembangan

sikap,

keterampilan,

dan

pengetahuan peserta didik dalam pendekatan atau proses kerja yang
memenuhi kriteria ilmiah. Dalam konsep pendekatan scientific yang
disampaikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dipaparkan
minimal ada 7 (tujuh) kriteria dalam pendekatan scientific. Ketujuh kriteria
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat
dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu ; bukan sebatas kirakira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa
terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau
penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

21

3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analitis,
dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah,
dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
4. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam
melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi
pembelajaran.
5. Mendorong dan menginspirasi siswa dalam memahami, menerapkan,
dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam
merespon materi pembelajaran.
6. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat
dipertanggungjawabkan.
7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, tetapi
menarik system penyajiannya. (Kemdikbud, 2013 : 4)
Proses pembelajaran scientific merupakan perpaduan antara proses
pembelajaran yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi
dilengkapi

dengan

mengamati,

menanya,

menalar,

mencoba,

dan

mengkomunikasikan (Kemendikbud, 2013 : 5). Meskipun ada yang
mengembangkan lagi menjadi mengamati, menanya, mengumpulkan data,
mengolah data, mengkomunikasikan, menginovasi dan mencipta. Namun,
tujuan dari beberapa proses pembelajaran yang harus ada dalam pembelajaran
scientific sama, yaitu menekankan bahwa belajar tidak hanya terjadi di ruang
kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat. Selain itu, guru
cukup bertindak sebagai scaffolding ketika anak/siswa/peserta didik
mengalami kesulitan, serta guru bukan satu – satunya sumber belajar. Sikap
tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan keteladanan.
Menurut Kemdikbud (2013 : 8) Prinsip-prinsip kegiatan dalam
pembelajaran dengan pendekatan saintifik kurikulum 2013, yakni :

1.
2.
3.
4.
5.

Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu;
Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar;
Proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah;
Pembelajaran berbasis kompetensi;
Pembelajaran terpadu;

22

6. Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki
kebenaran multi dimensi;
7. Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif;
8. Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hardskills dan soft-skills;
9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan
peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan
(Ing Ngarso Sung Tulodo), membangun kemauan (Ing Madyo Mangun
Karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran (Tut Wuri Handayani);
11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat;
12. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran;
13. Pengakuan atas perbedaan individualdan latar belakang budaya peserta
didik; dan
14. Suasana belajar menyenangkan dan menantang.
Berikut

contoh

kegiatan belajar dan deskripsi

langkah-langkah

pendekatan saintifik pada pembelajaran kurikulum 2013 adalah:
1. Mengamati: membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan
alat) untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui - Mengamati
dengan indra (membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan
sebagainya) dengan atau tanpa alat.
2. Menanya: mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak dipahami dari
apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan
tentang apa yang diamati - Membuat dan mengajukan pertanyaan, tanya
jawab, berdiskusi tentang informasi yang belum dipahami, informasi
tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai klarifikasi.
3. Mencoba/mengumpulkan

data

(informasi):

melakukan

eksperimen,

membaca sumber lain dan buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas,
wawancara dengan narasumber - Mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi,
mendemonstrasikan, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen, membaca

23

sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara sumber melalui
angket, wawancara, dan memodifikasi/ menambahi/mengembangkan.
4. Mengasosiasikan/mengolah informasi: Siswa mengolah informasi yang
sudah

dikumpulkan

baik

terbatas

dari

hasil

kegiatan

mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan
kegiatan mengumpulkan informasi, mengolah informasi yang sudah
dikumpulkan,

menganalisis

data

dalam

bentuk

membuat

kategori,

mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam
rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan.
5. Mengkomunikasikan: Siswa menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan
berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun
laporan tertulis; dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan
kesimpulan secara lisan.
6. (Dapat dilanjutkan dengan) Mencipta: Siswa menginovasi, mencipta,
mendisain model, rancangan, produk (karya) berdasarkan pengetahuan yang
dipelajari.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang
dirancang sedemikian rupa agar

peserta didik secara aktif mengonstruk

konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk
mengidentifikasi

atau

menemukan

masalah),

merumuskan

masalah,

mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan

24

berbagai

teknik,

menganalisis

data,

menarik

kesimpulan

dan

mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.

2.4 Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Davidson dan Warsham (Isjoni, 2011: 28), “Pembelajaran
kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk
tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang berefektivitas yang
mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademik”.
Slavin dalam (Isjoni, 2011: 15) menyatakan bahwa “pembelajaran
kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja
sama dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya
terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen”. Jadi dalam model
pembelajaran kooperatif ini, siswa bekerja sama dengan kelompoknya untuk
menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan begitu siswa akan bertanggung
jawab atas belajarnya sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada mereka.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan
pembentukan kelompok yang bertujuan untuk menciptakan pendekatan
pembelajaran yang efektif.

2.4.1

Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif

Tujuan model pembelajaran kooperatif menurut Nur Widyantini (2006: 4)
adalah “hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat
menerima berbagai keragaman dari temannya serta pengembangan

25

keterampilan sosial”, Trianto (2010: 57) menyatakan bahwa tujuan pokok
belajar

kooperatif

adalah

memaksimalkan

belajar

siswa

untuk

peningkatan prestasi akademik dan pemahaman yang baik secara individu
maupun secara kelompok. Louisell dan Descamps, Trianto (2010: 57)
juga menambahkan, karena siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan
sendirinya dapat memperbaiki hubungan diantara para siswa dari latar
belakang

etnis

dan

kemampuan,

mengembangkan

keterampilan-

keterampilan proses dan pemecahan masalah. Jadi inti dari tujuan
pembelajaran kooperatif adalah untuk meningkatkan partisipasi siswa,
memfasilitasi siswa, dan memberikan kesempatan pada siswa untuk
berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa lainnya.

2.4.2

Prinsip Dasar Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Nur Widyantini, (2006: 4), prinsip dasar dalam pembelajaran
kooperatif sebagai berikut:
a) Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
dikerjakan dalam kelompoknya dan berpikir bahwa semua anggota
kelompok memiliki tujuan yang sama.
b) Dalam kelompok terdapat pembagian tugas secara merata dan
dilakukan evaluasi setelahnya.
c) Saling membagi kepemimpinan antar anggota kelompok untuk belajar
bersama selama pembelajaran.
d) Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas semua pekerjaan
kelompok

26

2.4.3

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif

Menurut Nur dalam (Widyantini, 2006: 4) sebagai berikut:
a) Siswa dalam kelompok bekerja sama menyelesaikan materi belajar
sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b) Kelompok dibentuk secara heterogen.
c) Penghargaan lebih diberikan kepada kelompok, bukan kepada individu

Pada model pembelajaran kooperatif memang ditonjolkan pada
diskusi dan kerjasama dalam kelompok. Kelompok dibentuk secara
heterogen sehingga siswa dapat berkomunikasi, saling berbagi ilmu,
saling menyampaikan pendapat, dan saling menghargai pendapat teman
sekelompoknya. Tipe pembelajaran koperatif antara lain : Student TeamAchievement Divisions (STAD), Numberred Head Together (NHT), dan
Jigsaw.

2.5 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot
Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh
Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 1997: 110).
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai
metode Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran
membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. Dalam teknik ini, guru
memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu
siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna.
Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong

27

royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan
meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran
kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang
bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu
mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends
1997: 111).
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model
pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang
terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan
yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran
yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepa

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DALAM PELAJARAN IPS KELAS IV SDN 1 KERTOSARI TAHUN PELAJARAN 2010/2011

0 5 35

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DALAM PELAJARAN IPS KELAS IV SDN 1 KERTOSARI TAHUN PELAJARAN 2010/2011

0 4 56

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SD NEGERI 5 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2011/2012

1 14 50

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 GUNUNG RAYA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 13 44

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 3 53

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 GUNUNG RAYA TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 5 76

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 4 METRO UTARA TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 5 66

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 11 51

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 PRINGSEWU BARAT KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 9 47

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 RAJABASA RAYA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015

1 8 51

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3877 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1031 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1216 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1087 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23