MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK BAGI SISWA KELAS IV SDN 2 TANJUNG SARI TAHUN PELAJARAN 2012/2013

ABSTRAK

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA
DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA
REALISTIK BAGI SISWA KELAS IV
SDN 2 TANJUNG SARI TAHUN
PELAJARAN 2012/2013

Oleh
Badriyah

Berdasarkan hasil observasi awal di SDN 2 Tanjung Sari kualitas aktivitas dan
hasil belajar matematika kelas IV masih di bawah KKM. Penelitian ini untuk
mengetahui penerapan pendekatan matematika realistik dalam usaha meningkatan
aktivitas dan hasil belajar matematika.
Penelitian tindakan kelas ini, terdiri atas dua siklus, dimana setiap siklusnya
terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan tes. Pengumpulan data
digunakan
instrumen berupa lembar pengamatan siswa dalam proses
pembelajaran, dan untuk mengetahui peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa
dalam pembelajaran matematika digunakan tes tertulis.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan matematika
realistik dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
matematika. Peningkatan aktivitas siswa pada siklus 1 (70.1%) menjadi (74,6%)
pada akhir siklus 2. Sedang peningkatan hasil belajar siswa pada siklus 1
diperoleh nilai rerata (66,5) menjadi (72,2) pada akhir siklus 2.

Kata kunci: pendekatan matematika realistik, aktivitas, dan hasil belajar.

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Tujuan pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar dan
pendidikan menengah adalah untuk mempersiapkan siswa agar sanggup
melengkapi perubahan keadaan di dalam kehidupan di dunia yang selalu
berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis,
kritis, rasional, cermat, jujur, efisien dan efektif (Puskur, 2002:9). Siswa
diharapkan dapat menggunakan pola pikir dalam kehidupan sehari-hari
dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang menekankan
pada nalar dan pembentukan siswa serta keterampilan dalam penerapan
matematika.

Selama ini matematika dianggap mata pelajaran yang dianggap sulit bagi
semua siswa baik mulai dari siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah
Menengah sampai ke Perguruan Tinggi, bahkan matematika menjadi
momok para pelajar dan juga adalah faktor penyampaian materi atau
metode pembelajaran matematika yang monoton (tidak bervariasi).

Hal ini jelas sangat berakibat buruk bagi perkembangan pendidikan
matematika ke depan, oleh karena itu perubahan proses pembelajaran

2

matematika yang menyenangkan harus menjadi prioritas utama. Hasil
empiris di atas jelas merupakan suatu permasalahan

yang merupakan

faktor penting dalam mewujudkan tujuan pembelajaran matematika yang
diamanatkan dalam Kurikulum Pendidikan Matematika.

Untuk mengatasi masalah di atas perlu dicari suatu pendekatan yang dapat
mendukung proses pembelajaran matematika yang menyenangkan
sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran
matematika.Salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang saat ini
sedang diuji coba adalah Pendekatan Matematika Realistik.

Berdasarkan tujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap
Matematika, maka para ahli Matematika mencari terobosan baru
menemukan metode pembelajaran lain dengan mengacu pada pengalaman
di negara lain dan dengan melihat karakteristik di negara lain yang
mungkin dapat diterapkan di Indonesia.

Perubahan kurikulum yang saat ini sedang diberlakukan, yaitu Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Pendekatan Matematika Realistik
(PMR) adalah sala satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan
perubahan tersebut. Berdasarkan amanah Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) bahwa setiap individual mempunyai potensi yang
harus dikembangkan, maka proses pembelajaran yang cocok adalah yang
menggali potensi anak untuk selalu kreatif.

3

Melalui Pendekatan Matematika Realistik yang pengajarannya berangkat
dari persoalan dalam dunia nyata, diharapkan pelajaran tersebut menjadi
bermakna bagi siswa dengan demikian mereka termotivasi untuk terlibat.
Dalam pembelajaran Pendekatan Matematika Realistik (PMR) siswa
didorong untuk aktif bekerja, bahkan diharapkan dapat mengkonsentrasi
atau membangun sendiri pengetahuan yang diperolehnya (Dalyana,
2003:7).

Pengalaman yang diperoleh siswa akan semakin berkesan apabila proses
pembelajaran yang diperolehnya merupakan hasil dari penelaahan dan
penemuannya sendiri. Apalagi dalam hal ini siswa menemukan konsepnya
dari kehidupan sehari-hari, lingkungan sekitar, bahkan dari mata pelajaran
lain. Dalam konteks ini proses pembelajaran yang berlangsung melibatkan
siswa sepenuhnya untuk merumuskan sendiri suatu konsep. Keterlibatan
guru hanya sebagi fasilitator, motivator, dan moderator dalam proses
pembelajaran tersebut. Pada dasarnya, matematika adalah pemecahan
masalah karena itu, matematika sebaiknya diajarkan melalui berbagai
masalah yang ada disekitar siswa dengan memperhatikan usia dan
pengalaman yang mungkin dimiliki siswa.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, diketahui bahwa
aktivitas belajar siswa kelas IV SDN 2 Tanjung Sari pada pembelajaran
matematika rendah. Hal ini terlihat pada sebagian siswa mengobrol saat
guru sedang menjelaskan materi pelajaran. Sebagian yang lain melamun
bahkan ada yang mengantuk. Hanya beberapa siswa yang memperhatikan

4

penjelasan guru, karena guru dalam pembelajaran cenderung otoriter
masih

menganggap

siswa

hanya

sebagai

objek.

Siswa

hanya

mendengarkan penjelasan kemudian diberi tugas. Penyebab rendahnya
aktivitas belajar dan hasil belajar siswa adalah penggunaan model
pembelajaran yang tidak bervariasi. Guru hanya menggunakan metode
konvensional yaitu tanya jawab dan ceramah, tanpa disertai dengan modelmodel pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif.

Rendahnya aktivitas belajar siswa pada pembelajaran matematika
mempunyai dampak yang cukup besar terhadap hasil belajar siswa. Hal ini
terlihat pada tabel berikut
Tabel 1.1 Hasil Belajar Matematika Semester Ganjil siswa kelas IV SDN 2
Tanjung Sari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan
Tahun Pelajaran 2012/2013
No.

Rentang
Nilai

Kategori

Jumlah
siswa

persentase

1.

60-90

Tuntas

10

40%

2

30-59

Tidak tuntas

12

48%

3

01-29

Tidak tuntas

3

12%

25

100%

Jumlah

Diperoleh data pada tabel di atas, pada pembelajaran matematika siswa
yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) hanya 10 siswa
(40%) dan 15 siswa (60%) belum mencapai KKM yang ditentukan oleh
sekolah yaitu 60.

5

Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN 2 Tanjung Sari,
diperlukan suatu model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan
tersebut. Dengan pendekatan matematika realistik diharapkan aktivitas belajar

siswa kelas IV SDN 2 Tanjung Sari lebih meningkat.

B.

Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat di identifikasi
permasalahan yang muncul, sebagai berikut :
1. Pembelajaran di kelas belum maksimal, misalnya guru cenderung
menjadi penguasa pembelajaran di kelas (otoriter), sehingga siswa
diperlakukan sebagai objek.
2. Pembelajaran yang digunakan oleh guru bersifat pembelajaran
ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas.
3. Praktik pembelajaran di sekolah belum menggunakan pendekatan
matematika realistik

C.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar masalah diatas maka rumusan masalah yang akan
diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah penerapan Pendekatan Matematika Realistik dapat
meningkatkan aktivitas belajar matematika pada siswa kelas IV SDN 2
Tanjung Sari tahun pelajaran 2012/2013?
2. Bagaimanakah penerapan Pendekatan Matematika Realistik dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN 2 Tanjung Sari tahun
pelajaran 2012/2013?

6

D.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, tujuan yang ingin dicapai melalui
kegiatan penelitian ini adalah untuk :
1. Meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran Matematika dengan
pendekatan matematika realistik pada siswa kels IV SDN 2 Tanjung
Sari tahun pelajaran 2012/2013.
2. Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika
dengan pendekatan matematika realistik pada siswa kelas IV SDN 2
Tanjung Sari tahun pelajaran 2012/2013.

E.

Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin dicapai melalui peneitian ini adalah 4 aspek yaitu:
1. Bagi Guru sebagai bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu
pendidikan dikelasnya.
2. Bagi

Siswa

meningkatkan

aktivitas

dan

hasil

belajar

serta

mempermudah siswa dalam memecahkan masalah kesulitan belajar
matematika.
3. Bagi Sekolah sebagai bahan informasi dalam upaya meningkatkan
mutu pendidikan matematika di SDN 2 Tanjung Sari khususnya dan
Sekolah Dasar di Lampung.
4. Bagi Peneliti
Mengetahui sejauh mana peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa
kelas IV pada mata pelajaran Matematika dengan Pendekatan
Matematika Realistik.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.

Pendekatan Matematika Realistik
Realistic mathematics education yang diterjemahkan sebagai pendidikan
metematika realistik (PMR), adalah sebuah pendekatan belajar matematika
yang dikembangkan sejak tahun 1971 oleh sekelompok ahli matematika
dari Freudenthal Institute, Urecht University di negeri Belanda.
Pendekatan ini didasarkan pada anggapan Hans Freudenthal (990:3)
bahwa matematika adalah kegiatan manusia. Menurut pendekatan ini,
kelas matematika bukan tempat memindahkan matematika dari guru
kepada siswa, melainkan tempat siswa menemukan kembali ide dan
konsep matematika melalui eksplorasi masalah-masalah yang nyata. Disini
metematika dilihat sebagai kegiatan manusia yang bermula dari
pemecahan masalah (Dolk, 2006:3).

Dunia riil adalah segala sesuatu diluar matematika. Ia bisa berupa mata
pelajaran lain selain matematika, atau bidang ilmu yang berbeda dengan
matematika, ataupun kehidupan sehai-hari dan lingkungan sekitar kita
(Blum & Niss, 1989:14). Dunia riil diperlukan untuk mengembangkan
situasi kontekstual dalam menyusun materi kurikulum. Materi kurikulum
yang berisi rangkaian soal-soal kontekstual akan membantu proses
pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Dalam PMR, proses belajar

8

mempunyai peranan penting. Rute belajar (learning route) dimana siswa
mampu menemukan sendiri konsep dan ide matemaika, harus dipetakan
(Gravemeijer, 1997:5). Sebagai konsekuensinya, guru harus mampu
mengembangkan pengajaran yang interaktif dan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk memberikan kontribusi terhadap proses belajar
mereka.

Teori PMR sejalan dengan teori belajar yang berkembang saat ini, seperti
konstruktivisme dan pembelajaran konstektual (contextual teaching and
learning, disingkat CTL). Namun, baik pendekatan kontruktivis maupun
CTL mewakili teori belajar secara umum, PMR adalah suatu teori
pembelajaran yang dikembangkan khusus untuk matematika.
Berdasarkan kajian di atas, maka yang dimaksud dengan Pendekatan
Matematika Realistik siswa dipandang sebagai individu (Subjek) yang
memiliki pengetahuan dan pengalaman sebagai hasil interaksinya dengan
lingkungan. Selanjutnya, dalam pendekatan ini diyakini pula bahwa siswa
memiliki potensi untuk mengembangkan pengetahuan sendiri, dan bila
diberi kesempatan mereka dapat mengembangkan pengetahuan dan
pemahaman mereka tentang matematika melalui eksplorasi berbagai
masalah,

baik

masalah

kehidupan

sehari-hari

maupun

masalah

matematika. Siswa dapat merekonstruksi kembali temuan-temuan dalam
bidang matematika. Jadi berdasarkan pemikiran ini konsepsi siswa dalam
pendekatan ini adalah sebagai berikut:

9

1. Siswa memiliki seperangkat konsep, alternatif tentang ide-ide
matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya.
2. Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan
itu untuk dirinya sendiri.
3. Siswa membentuk pengetahuan melalui proses perubahan yang
meliputi penambahan kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan,
kembali, dan penolakan.
4. Siswa membangun pengetahuan baru untuk dirinya sendiri dari
beragam pengalaman yang dimilikinya.
5. Siswa memiliki kemampuan untuk memahami dan mengerjakan
matematika tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin.

Peran Guru
Dalam pendekatan matematika realistik ini, guru tidak boleh hanya terpaku
pada materi dalam kurikulum dan teks, tetapi harus terus menurus
memutakhirkan materi dengan masalah-masalah baru yang menantang.
Jadi, peran guru dalam pendekatan matematika realistik dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Guru harus berperan sebagai fasilitator belajar
2. Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif
3. Guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif memberi
sumbangan pada proses belajar.
4. Guru harus secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan masalahmasalah dari dunia nyata

10

5. Guru harus secara aktif mengaitkan kurikulum matematika dengan
dunia nyata baik fisik maupun sosial.

B.

Aktivitas Belajar
Aktivitas merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam upaya
untuk mencapai tujuan secara keseluruhan sebagai hasil dari aktivitas yang
dilakukan. Menurut Rohani (2004:5), aktivitas belajar dilakukan oleh
aktivitas fisik dan psikis. Aktivitas fisik ialah peserta didik giat aktif
dengan anggota badan. Siswa mendengarkan, mengamati, menyelidiki,
mengingat, menguraikan dan sebagainya. Sedangkan aktivitas psikis
adalah jiwanya, seperti berpikir, mengingat dan lain-lain.

Sedangkan menurut Paul D.Dierich dalam Hamalik (2004:6), jenis-jenis
aktivitas dibagi dalam delapan kelompok sebagai berikut : (a) kegiatankegiatan visual, yaitu membaca, melihat gambar-gambar, mengamati
eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja dan
bermain; (b) kegiatan-kegiatan lisan (oral), seperti mengemukakan suatu
fakta

atau

prinsip,

menghubungkan

suatu

kejadian,

mengajukan

pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi
dan

interupsi;

(c)

kegiatan-kegiatan

mendengarkan,

misalnya

mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi
kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio; (d)
kegiatan-kegiatan menulis, yaitu menulis cerita, menulis laporan,
memeriksa

karangan,

bahan-bahan

kopi,

membuat

rangkuman,

mengerjakan test dan mengisi angket; (e) kegiatan-kegiatan menggambar,

11

seperti menggambar, membuat grafik, diagram peta, dan pola.; (f)
kegiatan-kegiatan metrik, misalnya melakukan percobaan, memilih alatalat,

melaksanakan

pameran,

membuat

model,

menyelenggarakan

permainan, mencari dan berkebun; (g) kegiatan-kegiatan mental, yaitu
merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktorfaktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat keputusan; serta (h)
kegiatan-kegiatan emosional, seperti minat, membedakan, berani, tenang,
dan lain-lain.

Menurut Djamarah (2000:8), beberapa aktivitas belajar sebagai berikut: (a)
mendengarkan, adalah salah satu aktivitas belajar. Setiap orang yang
belajar di sekolah pasti ada aktivitas mendengarkan. Ketika seorang guru
menggunakan metode ceramah, maka setiap siswa akan mendengarkan apa
yang disampaikan; (b) memandang, adalah mengarahkan penglihatan ke
suatu objek. Aktivitas memandang berhubungan erat dengan mata
pelajaran. Di kelas siswa memandang tulisan dan cara guru menjelaskan
pelajaran yang menimbulkan kesan ke dalam otak; (c) aktivitas meraba,
membau, dan mencicipi atau mengecap adalah indra manusia yang dapat
dijadikan sebagai alat untuk kepentingan belajar; (d) menulis atau
mencatat, adalah kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas
belajar. Dalam pendidikan tradisional kegiatan menulis atau mencatat
adalah kegiatan yang paling sering dilakukan; (e) membaca adalah
aktivitas yang paling banyak dilakukan selama belajar. Kalau belajar
adalah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka membaca adalah jalan
menuju ke ilmu pengetahuan; (f) membuat ikhtisar atau ringkasan dan

12

menggarisbawahi , yaitu menggaris bawahi materi pelajaran di dalam buku
paket untuk kemudian dapat dibaca sebagai keperluan belajar yang
intensif; (g) mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan,
yaitu hal penting untuk diamati karena dapat membantu pemahaman
seseorang tentang suatu hal; (h) menyusun paper atau kertas kerja, adalah
ketika seseorang telah mendapat pengetahuan tingkat menengah keatas,
maka seorang pelajar atau mahasiswa dapat menyusun paper atau kertas
kerja; (i) mengingat, adalah salah satu aktivitas belajar. Ingatan adalah
kemampuan jiwa untuk memasukan (learning), menyimpan (retention),
dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau; serta
(j) latihan atau praktek (Learning by doing), adalah konsep belajar yang
menghendaki adanya penyatuan usaha mendapatkan kesan-kesan dengan
cara berbuat.

Nilai Aktivitas Dalam Pengajaran
Menurut Oemar Hamalik (2004:7) penggunaan asas aktivitas besar
nilainya bagi pengajaran siswa, oleh karena: (a) para siswa mencari
pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri, (b) berbuat sendiri
akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral, (c)
memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa, (d) para siswa
bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri, (e) memupuk disiplin
kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis, (f) mempererat
hubungan sekolah dan masyarakat dan hubungan antara orang tua dan
guru, (g) pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga
mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan

13

verbalistis, serta (h) pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana
aktivitas dalam kehidupan di masyarakat.

Sesuai dengan pendapat di atas tersebut bahwa aktivitas belajar
mampunyai nilai penting dalam pengajaran, dalam pengajaran harus
memberikan keleluasaan pada siswa agar mencari pengalaman dan berbuat
sendiri sesuai dengan minat dan kemampuannya sendiri guna memupuk
disiplin dan mempermudah hubungan dengan masyarakat.

C.

Pengertian Belajar
Skinner berpendapat bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang
belajar maka responnya menjadi lebih baik dan sebaliknya bila tidak
belajar responnya menjadi menurun sedangkan menurut Gagne belajar
adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi
lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapasitas baru
(Dimyati, 2002-10). Sedangkan menurut kamus umum bahasa Indonesia
belajar diartikan berusaha (berlatih dsb). Supaya mendapat suatu pandaian
(Purwadinata:109)

Soekamto (1992:27) mengatakan belajar merupakan suatu proses internal
yang mencangkup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan
faktor-faktor lain berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Morgan menyebutkan bahwa suatu kegiatan dikatakan belajar apabila
memiliki tiga ciri-ciri sebagai berikut :
1. Belajar adalah perubahan tingkah laku

14

2. Perubahan terjadi karena latihan dan pengalaman, bukan karena
pertumbuhan
3. Perubahan tersebut harus bersifat permanen dan tetap ada untuk waktu
yang cukup lama
Tujuan-tujuan pembelajaran telah dirumuskan dalam kurikulum yang
berlaku. Peran guru disini adalah sebagai pengelola proses belajar
mengajar. Dalam system pendidikan kita (UUD. No.2 Tahun 1989),
seorang guru tidak saja dituntut sebagai pengajar yang bertugas
menyampaikan materi pelajaran tertentu tetapi, harus dapat berperan
sebagai pendidik.

Witherington (1977:46) mengatakan belajar adalah suatu perubahan
didalam kepribadian yang menyatakan diri sebaga suatu pola baru dari
reaksi yang berupa kecepatan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu
pengertian. Slameto (1995:23) adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.

Berdasarkan faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar di atas
menunjukkan bahwa belajar itu merupakan proses yang cukup kompleks.
Aktivitas belajar individu memang tidak selamanya menguntungkan.
Kadang-kadang juga tidak lancar, kadang mudah menangkap apa yang
dipelajari, kadang sulit mencerna materi pelajaran. Dalam keadaan dimana

15

siswa dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut kesulitan
belajar.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat dirangkum bahwa belajar adalah
suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan
tingkah laku yang relatif menetap, baik yang dapat diamati maupun tidak
dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau
pengalaman dalam interaksi.

D.

Hasil Belajar
Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh seseorang setelah belajar
berupa,

keterampilan, pengetahuan, sikap. Gagne dalam Dimyati dan

Mujiono (2002:62). Secara umum Gagne dan Briggs melukiskan
pembelajaran sebagai “upaya orang yang tujuannya adalah membantu
orang

belajar”

(Gredler,

1991:205),

secara

lebih

rinci

Gagne

mendefinisikan pembelajarsan sebagai “seperangkat acara peristiwa
eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya beberapa proses
belajar yang bersifat internal” (Gredler, 1991:205).
Dengan demikian dapat disimpulkan secara umum pengertian hasil belajar
yaitu bentuk perubahan tingkah laku secara menyeluruh (komprehensif)
yang terdiri dari unsur kognitif, efektif dan psikhomotorik secara terpadu
terhadap diri siswa setelah mengalami aktifitas belajar.

16

E.

Tinjauan Tentang Matematika
Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani “Mathematikos” berarti
secara ilmu pasti atau “Matheis” yang berarti ajaran, pengetahuan abstrak
dan deduktif, dimana kesimpulan tidak ditarik berdasarkan pengalaman
keindraan, tetapi asas kesimpulan yang ditarik dari kaidah-kaidah tertentu
melalui deduksi (Ensiklopedia Indonesia).
Matematika adalah suatu mata pelajaran yang mempelajari tentang
kemampuan berhitung yang memiliki ciri-ciri yang abstrak, berpola pikir
deduktif dan konsisten. Dalam Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP)
terdapat istilah matematika sekolah yang dimaksudnya untuk memberi
penekanan bahwa materi atau pokok bahasan yang terdapat dalam GBPP
merupakan arti pokok bahasan yang diajarkan pada jenjang Pendidikan
Dasar dan Menengah.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa matematika
merupakan ilmu pasti dan konsisten yang memiliki peranan penting dalam
meningkatkan daya fikir manusia yang menunjang berbagai disiplin ilmu
pengetahuan lainnya serta aspek-aspek disiplin ilmu pengetahuan lainnya.
Serta aspek-aspek perkembangan teknologi dan komunikasi. Oleh karena
itu mata pelajaran matematika perlu diajarakan dari jenjang pendidikan
Sekolah Dasar, Menengah, bahkan Perguruan Tinggi.

17

F.

Kerangka Berpikir
Akhir-akhir ini banyak keluhan yang muncul baik guru maupun siswa
dalam

pembelajaran

matematika,

banyak

siswa

yang

berusaha

menghindari mata pelajaran tersebut. Mereka menganggap pelajaran
matematika itu sangat menjengkelkan, bahkan membosankan. Hal ini jelas
sangat berakibat buruk bagi perkembangan pendidikan matematika
kedepan. Oleh karena itu, proses pembelajaran matematika yang
menyenangkan harus menjadi prioritas utama. Hasil empiris diatas jelas
merupakan

permasalahan

yang

merupakan

fakta

penting

dalam

mewujudkan tujuan pembelajaran matematika sesuai yang tercantum
dalam kurikulum pendidikan matematika. Untuk mengatasi permasalahan
di atas perlu dicari suatu pendekatan yang dapat mendukung proses
pembelajaran

matematika

yang

menyenangkan

sehingga

dapat

meningkatkan motivasi sekaligus mempermudah siswa dalam belajar
matematika.

Pada dasarnya matematika adalah pemecahan masalah, karena itu
matematika sebaiknya diajarkan melalui berbagai masalah yang ada di
sekitar siswa dengan memperhatikan pengalaman yang dimiliki siswa.
Konsep matematika merupakan konsep yang banyak dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari, oleh karena itu pembelajarannya disekolah harus
relavan dengan dunia riil siswa sehari-hari. Matematika diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui
pemecahan masalah-masalah yang dapat di identifikasi.

18

Melalui Pendekatan Matematika Realistik (PMR) yang pengajarannya
berangkat dari persoalan dalam dunia nyata, diharapkan pelajaran tersebut
menjadi bermakna bagi siswa, dengan demikian mereka termotivasi untuk
terlibat dalam pelajaran, dan akhirnya berimbas pada hasil belajar mereka.
Untuk mendukung proses pembelajaran yang mengaktifkan siswa
diperlukan pengembangan materi pelajaran, matematika yang difokuskan
kepada aplikasi dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual) dan disesuaikan
dengan tingkat pengetahuan siswa serta penggunaan metode yang relevan
dan terintegrasi pada proses pembelajaran.
Skema Kerangka Fikir
Aktivitas belajar
siswa rendah

Pendekatan
matematika
realistik

Hasil belajar
siswa meningkat

Pembelajaran Belum
menggunakan PMR

Siswa Hasil Belajar
Matematika belum
tercapai KKM

Tindakan

PTK. Peneliti berkelaborasi
guru kelas IV

Siklus 1: Pembelajaran
menggunakan PMR

Kondisi
Akhir

Hasil Belajar MTK
Mencapai KKM

Kondisi Awal

Gambar 2.1. Kerangka Pikir Realistik

Siklus 2: Pembelajaran
menggunakan PMR

19

F. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir seperti yang diungkapkan
di atas, maka dalam penelitian ini akan diajukan hipotesis tindakan,
apabila dalam pembelajaran menggunakan pendekatan matematika
realistik, dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mata pelajaran
matematika pada siswa kelas IV SDN 2 Tanjung Sari tahun pelajaran
2012/2013.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.

Metode Penelitian
Dalam melaksanakan suatu kegiatan ilmiah, baik itu berupa penelitian
maupun pra penelitian, diperlukan suatu metode agar kegiatannya terarah
dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Sutrisno hadi dalam (Narbuko dan Ahmadi,2008:17) yang mengatakan
“Metode ialah suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan
menguji suatu kebenaran pengetahuan”.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka metode penelitian dapat diartikan
sebagai suatu usaha dengan menggunakan beberapa metode untuk mencari
data, mengumpulkan data dan menganalisa data dan menyimpulkan hasilhasil yang ditemukan dalam kegiatan ilmiah.

B.

Pemilihan Metode Penelitian
Penentuan bentuk peneltian ini berusaha untuk menguji salah satu bentuk
model Pendekatan Matematika Realistik. Pemilihan metode penelitian
dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penentuan
bentuk penelitian ini karena penelitian ini berusaha merefleksikan secara
kritis dan kolaboratif pendekatan pembelajaran yang dilakukan dengan

21

upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian Tindakan
Kelas adalah sebuah penelitian yang dilakukan di kelas. Menurut Arikunto
(2008) ada tiga kata yang membentuk pengertian tersebut, maka ada tiga
pengertian yang dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Penelitian, menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek
dengan menggunakan cara dan aturan tertentu untuk memperoleh data
atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatakan mutu suatu hal
yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2. Tindakan, menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja
dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk
rangkaian siklus kegiatan untuk siswa
3. Kelas, dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi
dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama dikenal
bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan istilah kelas
adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima
pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.

Dari uraian di atas, peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas
(PTK) sebagai model penelitian yang digunakan untuk menguji
hipotesis peneliti dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa
di kelas IV SDN 2 Tanjung Sari pada mata pelajaran matematika.

22

C.

Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 2 Tanjung Sari Natar kelas IV pada
materi pokok sekitar semester genap tahun pelajaran 2012/2013 dengan
waktu penelitian selama 3 bulan yaitu Januari – Maret 2013.
Proses Penelitian Tindakan Kelas

Rencana Tindakan
Refleksi

Siklus 1
Pelaksanaan
Observasi

Tindakan

Perbaikan Rencana

Tindakan
Refleksi

Siklus 2
Pelaksanaan
Observasi

Tindakan

Gambar 3.1. Sumber : Metode PTK (Kemmis dalam Wiriaatmaja, 2006: 66)

D.

Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian adalah siswa kelas IV SDN 2 Tanjung Sari dengan
jumlah siswa 25 orang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 13 siswa
perempuan. Penelitian dilakukan pada siswa kelas IV yang memiliki

23

karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan kelas IV lainnya yaitu
sebagai berikut:
a. Aktivitas siswa kurang
b. Hasil belajar relatif rendah
c.

E.

Guru mendominasi pelajaran

Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang digunakan dari pembelajaran ini adalah
lembar observasi untuk data kualitatif dan lembar observasi untuk data
kuantitatif.

F.

Teknik Analisa Data
Penentuan bentuk analisis data yang digunakan adalah anlisis data
kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa aktivitas siswa setiap
siklus I dan II yang diperoleh dari pengamatan aktivitas siswa
menggunakan lembar observasi. Sedangkan data kuantitatif berupa nilainilai yang diperoleh dari hasil tes belajar pada setiap akhir siklus. Analisis
data kualitatif dan kuantitatif diuraikan sebagai berikut :
1. Analisis data kualitatif
Analisis

data

kualitatif

pada

penelitian

tindakan

kelas

ini,

menggunakan analisis deskripsi kualitatif yaitu, suatu metode
penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai
dengan data yang diperoleh dalam penelitian

24

2. Analisis data kuantitatif
Pada analisi data kuantitatif dilakukan melalui penggunaan statistik
sederhana berupa nilai-nilai yang diperoleh dari hasil aktivitas belajar
setiap siswa per siklus dan tes hasil belajar pada setiap akhir siklus
menggunakan rumus sebagai berikut :
a. Aktivitas belajar
Menentukan tingkat aktivitas siswa di setiap siklus menggunakan
rumus yang di kemukakan Solihatin dan Raharjo (2008:55)
( x)2

NAS =
n

Keterangan :
NAS = Nilai Aktivitas Siswa
X
= Jumlah skala nilai yang didapat siswa
n
= Nilai skala tertinggi
b. Menentukan persentasi siswa yang aktif menurut Anas Sedjiono
(2009:43)
p=

100%

keterangan
p
f
N

:

= Persentase siswa yang aktif
= frekuensi yang sedang dicari persentasenya (jumlah siswa
yang aktif)
= Number of class ( banyaknya siswa)

c. Penilaian hasil belajar (rata-rata)
Untuk

mengetahui

hasil

belajar

siswa

setelah

diterapkan

pembelajaran pendekatan matematika realistik diambil dari ratarata nilai tes yang diperoleh setiap akhir siklus. (Khusnul
Khotimah, 2009:40)

25

=

d.

Keterangan :
X
= Nilai rata-rata
X
= Jumlah semua nilai siswa
N
= jumlah siswa
Penilaian ketuntasan belajar (persentase)
P=

G. Urutan Penelitian Tindakan Kelas

1. Perencanaan Tindakan
a. menetapkan jumlah siklus yaitu dua siklus yang pada siklus 1
dilaksanakan dua kali pertemuan dan siklus ke 2 dilaksanakan dua kali
pertemuan.
b. menetapkan kelas yang dijadikan objek penelitian, yaitu kelas IV SDN 2
Tanjung Sari Kecamatan Natar.
c. menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan
dilakukan penelitian.
d. menyusun perangkat pembelajaran,meliputi :
1) merancang alat pengumpul data
2) merancang lembar observasi kegiatan siswa dan guru
3) menyusun rencana pembelajaran
4) membuat lembar kerja siswa (LKS)
5) memilih dan menentukan alat peraga yang sesuai materi pelajaran.

26

2. Pelaksanaan Tindakan
Adapun pelaksanaan tindakan yang telah dilaksanakan sesuai dengan rencana
yang telah disusun sebagai berikut:
Siklus pertama dilaksanakan sesuai rencana. Pada siklus ini dilakukan dengan
pengenalan penggunaan pendekatan matematika realistik dalam pelajaran
matematika. Kompetensi dasar 6.1 Menjelaskan arti pecahan dan urutannya
Kegiatan yang dilakukan guru meliputi :
a.

Kegiatan awal : Memberi tes awal, penyampaian tujuan pembelajaran,
mengaitkan pembelajaran dalam pengetahuan siswa.

b.

Kegiatan inti : Mengelompokkan siswa dalam beberapa kelompok dan
memberi tugas kepada siswa melakukan kerja kelompok serta
membimbing siswa untuk memahami pendekatan matematika realistik
dan membuat kesimpulan akhir.

c.

Kegiatan akhir : Membimbing siswa membuat rangkuman dari hasil
pembelajaran..

Kegiatan yang dilakukan siswa :
a. Kegiatan awal : Melakukan tanya jawab dengan guru mengenai materi,
mempersiapakan gambar-gambar yang akan dibahas dalam kegiatan
pembelajaran.
b. Kegiatan inti : Siswa melakukan kerja kelompok dengan mengerjakan
lembar kerja siswa. Sesuai dengan pendekatan matematika realistik setelah
itu mempresentasikan hasil kerja kelompok masing-masing serta
mengumpulkan hasilnya.

27

c. Kegiatan Akhir : Membuat rangkuman dari materi yang telah dipelajari dan
mengerjakan tes akhir, bertanya pada guru tentang materi yang kiranya sulit
dimengerti agar lebih jelas.

3. Observasi
a. Observasi, mengamati jalannya kegiatan belajar mengajar baik siswa
maupun guru berdasarkan lembar observasi
b. Peneliti mengamati kemampuan siswa menyelesaikan soal evaluasi.

4. Refleksi
Dari hasil observasi dan hasil penyekoran siswa dilakukan refleksi jika dalam
menyusun rencana tindakan masih banyak kelemahan-kelemahan maka perlu
diadakan perubahan dan perbaikan untuk diterapkan pada siklus berikutnya.

1. Perencanaan Tindakan
a.

Menetapkan siklus dua yaitu dilaksanakan dua kali pertemuan

b.

Menetapkan kelas yang dijadikan objek penelitian, yaitu kelas IV
SDN 2 Tanjung Sari Kecamatan Natar.

c.

Menetapkan kompetensi dasar yang akan dilakukan penelitian yaitu 6.2
menyederhanakan berbagai bentuk pecahan.

d.

Menyusun perangkat pembelajaran,meliputi :
1)

Merancang alat pengumpul data

2)

Merancang lembar observasi kegiatan siswa dan guru

3)

Rencana perbaikan pembelajaran

4)

Lembar kerja siswa (LKS)

28

5)

Memilih dan menentukan alat peraga gambar yang sesuai.

2. Pelaksanaan Tindakan
Adapun pelaksanaan tindakan yang telah dilaksanakan sesuai dengan rencana
yang telah disusun sebagai berikut:
Siklus kedua merupakan perbaikan dari siklus 1. Pada siklus ini tetap
menggunakan alat peraga gambar. Kegiatan ini dilakukan tidak jauh berbeda
dari siklus 1 yaitu melakukan proses pembelajaran sesuai indikator yang telah
ditentukan tentang belajar matematika menggunakan pendekatan matema
tika realistik.
Kegiatan yang dilakukan guru meliputi:
a.

Kegiatan awal : Memberi tes awal, penyampaian tujuan pembelajaran
matematika, mengaitkan pembelajaran dalam pengetahuan siswa.

b.

Kegiatan inti : Mengelompokkan siswa dalam beberapa kelompok dan
memberi tugas kepada siswa dengan menggunakan pendekatan
matematika realistik serta membimbing siswa untuk memahami
pendekatan matematika realistik dan membuat kesimpulan akhir.

c.

Kegiatan akhir : Membimbing siswa membuat rangkuman dari hasil
Pembelajaran..

Kegiatan yang dilakukan siswa :
a.

Kegiatan awal : Melakukan tanya jawab dengan guru mengenai materi

b.

Kegiatan inti : Siswa melakukan kerja kelompok dengan mengerjakan
lembar kerja siswa. menggunakan pendekatan matematika realistik setelah

29

itu mempresentasikan hasil kerja kelompok masing-masing serta
mengumpulkan hasil diskusi.
c.

Kegiatan Akhir : Membuat rangkuman dan materi yang telah didapat dari
praktek dan mengerjakan tes akhir.

3. Observasi
Observasi, mengamati jalannya kegiatan belajar mengajar
lembar

observasi.Peneliti

mengamati

kemampuan

berdasarkan
siswa

dalam

menyelesaikan soal evaluasi dan guru dalam kegiatan pembelajaran.

4. Refleksi
Dari hasil observasi dan hasil penyekoran siswa dilakukan refleksi untuk
melihat peningkatan yang dicapai siswa guna menyusun laporan hasil
penelitiasn yang dilakukan
H. Indikator Keberhasilan PTK
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini apabila minimal
70% dari jumlah siswa yang ada di kelas aktif dan telah mencapai KKM yang
ditentukan oleh sekolah..

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembahasan Pelaksanaan Pembelajaran Siklus 1
Deskripsi Pelaksanaan Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
Kompetensi Dasar

:

6.1 Menjelaskan arti pecahan dan urutannya
Materi

:

Arti Pecahan sebagai operasi pembagian

a. Perencanaan

:

1) Menyiapkan silabus, pemetaan SK dan KD, dan RPP.
2) Menyiapkan potongan-potongan kertas dan potongan kertas yang telah
ditulisi bilangan pecahan
3) Menyiapkan lembar observasi aktivitas siswa dan guru
4) Membagi kelompok belajar, menjadi 5 kelompok tiap kelompok yang
terdiri atas 5 orang siswa.
b. Pelaksanaan Praktik
Berikut ini kondisi riil yang dilaksanakan selama proses belajar mengajar
berlangsung.
1. Kegiatan awal.

31

Apersepsi:
a. Kegiatan ini dimulai dengan menunjukkan potongan-potongan kertas
yang berhubungan dengan pecahan
b. Siswa diminta memperhatikan potongan kertas yang ditunjukkan
c. Guru mengajukan berbagai pertanyaan, sesuai dengan materi yang
disajikan, seperti:
o Ini potongan apa anak-anak?
o Potongan kertas ini ada tulisan apa?
o Dst
d. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

2. Kegiatan Inti
a) Siswa dibagi dalam 5 kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari
5 siswa.
b) Siswa diminta menyiapkan alat tulis dan buku pelajaran.
c) Guru membagi potongan-potongan kertas dan siswa kerja kelompok
untuk menyatukan potongan-potongan kertas baik yang tidak ada
tulisannya maupun yang ada tulisan bilangan pecahan.
d) Siswa kerja kelompok mengumpulkan potongan kertas bertuliskan
bilangan pecahan yang senilai.
e) Guru membagi lembar kerja latihan penjumlahan, pengurangan, dan
membandingkan pecahan untuk dikerjakan siswa secara kelompok

32

f) Siswa melakukan kerja kelompok untuk menyelesaikan masalah atau
tugas tentang penjumlahan, pengurangan, dan membandingkan
pecahan dengan kelompoknya masing-masing.
g) .Guru mengawasi dan membimbing siswa dalam melakukan kerja
kelompok
h) Setelah kerja kelompok selesai guru menyuruh masing-masing
kelompok untuk membacakan hasilnya ke depan.
i) .Salah satu orang siswa dari kelompoknya masing-masing maju ke
depan untuk membacakan hasil diskusi kelompoknya.
j) Kelompok yang lain memberikan komentar/tanggapan dari hasil yang
telah dibacakan oleh masing-masing temannya
k) .Siswa diminta menyimpulkan hasilnya dari beberapa kelompok
tentang menghitung penjumlahan, pengurangan, membandingkan
pecahan dengan bimbingan guru
l) Siswa mengerjakan LKS yang di persiapkan guru
m) Melalui kegiatan tersebut diharapkan pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan matematika realistik, sehingga aktivitas dan
hasil belajar matematika siswa meningkat

3. Kegiatan Penutup
Pemantapan materi yang baru dipelajari
Untuk menguatkan pemahaman siswa diberi kesempatan bertanya, dan
diberi tugas untuk pekerjaan di rumah.

33

c. Hasil Observasi Siklus 1
1). Aktivitas Belajar Siswa
Pada siklus 1, observasi dilakukan oleh supervisor selama pembelajaran
berlangsung sebanyak dua kali yaitu pada pertemuan 1 dan 2, yaitu tentang
aktivitas Belajar Siswa dengan hasil rata-rata

mencapai 70,1%. Berarti

mengalami peningkatan 6,7% atau (70-63,4=6,7) jika dibandingkan dengan ratarata aktivitas belajar siswa pada prasiklus yang baru tercapai 63,4%. Hasil
observasi secara terinci dapat dilihat pada lampiran.

2). Penilaian Hasil Belajar Siswa
Untuk menentukan nilai hasil belajar siswa, peneliti menggunakan tes tertulis dan
pedoman penscoran seperti yang tercantum pada RPP. Dari hasil penilaian (tes
tertulis) yang dilakukan oleh peneliti dan supervisor

pada saat pelaksanaan

Pembelajaran tanggal 9 Januari 2013, tentang penilaian proses dan penilaian hasil
belajar siswa, diperoleh rata-rata

nilai proses pada siklus 1 yaitu 68.1 Jika

dibandingkan dengan nilai proses prasiklus terjadi peningkatan 11,5% atau 68,1 –
56,6 = 11,5. Sedangkan rata-rata nilai hasil belajar siswa pada siklus 1 adalah
64,8. Jika dibandingkan dengan nilai hasil belajar pada prasiklus yang rata-ratanya
58,3. Ini berarti mengalami peningkatan sebesar 6,5%. atau (64,8 -58,3 = 6,5).
Maka nilai rata-rata hasil belajar meningkat 9% atau (66,5-57,5=9). Data nilai
secara terinci lihat lampiran.

34

b. Kendala dan Masalah

Selama kegiatan pelaksanaan pembelajaran pada siklus 1, peneliti mengalami
beberapa masalah seperti:
1) Siswa kurang aktif mengajukan pertanyaan
2) Siswa kurang memahami tentang pendekatan matematika realistik.
3) Terbatasnya sarana dan kemampuan peneliti dalam proses pengambilan
dokumentasi/foto kegiatan pembelajaran.

c. Setrategi Penyelesaian
1) Lebih memotifasi siswa untuk aktif bertanya dan memberikan gagasan,
sehingga secara bertahap timbul keberanian pada diri siswa untuk bertanya
dan memberikan gagasannya.
2) Guru membuat pertanyaan-pertanyaan menggiring, agar siswa mampu
membuat kesimpulan sendiri
3) Peneliti perlu mempersiapkan materi pembelajaran, dengan memberikan
tabel pengamatan yang berisi pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan halhal pengamatan dengan alternative jawabannya.
4) Proses pengambilan dokumentasi/foto kegiatan pembelajaran dilakukan
oleh teman sejawat.

d. Hasil Refleksi Pembelajaran
Berdasarkan kumpulan data yang diperoleh dari hasil observasi dan kolaborasi
dengan supervisor dan dosen pembimbing selama proses pembelajaran siklus 1,
ternyata tingkat keaktifan siswa baru mencapai 70% baik dari tahap awal

35

pembelajaran, kegiatan inti, dan kegiatan penutup, aktivitas terendah adalah
aktivitas siswa dalam mengajukan pertanyaan, yaitu hanya ada 6 siswa yang
mengajukan pertanyaan selama proses pembelajaran atau 25%. Sedangkan ratarata nilai proses adalah 68,1 rata-rata nilai hasil belajar siswa adalah 66,5, Jika
dibandingkan dengan nilai hasil belajar siswa pada prasiklus yang rata-ratanya
57,5. Ini berarti mengalami peningkatan sebesar 9%.

Beberapa hal yang menjadi catatan peneliti selama implementasi siklus 1 adalah
sebagai berikut:

1. Tidak semua siswa memahami pendekatan matematika realistik.
2. Siswa kurang aktif mengajukan pertanyaan/gagasan
3. Siswa kurang aktif dalam membuat kesimpulan sendiri.

Berdasarkan permasalahan dan kegagalan di atas, maka peneliti dan supervisor
mencarikan solusinya untuk siklus ke-2 yaitu:

a) Memberi kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh siswa untuk
mencoba/berinteraksi aktif dengan pendekatan matematika realistik dan
metode pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran, dan
mencatat hasil kerja kelompok Guru mempersiapkan materi pembelajaran,
soal-soal latihan,.
b) Pada kegiatan inti pembelajaran,

setiap siswa diberi tugas

untuk

mengajukan/membuat minimal satu pertanyaan tentang materi yang
diajarkan.

36

c) Lebih memotivasi siswa untuk aktif bertanya dan memberikan gagasan,
memperbaiki kualitas dan cara bertanya, sehingga secara bertahap timbul
keberanian pada diri siswa untuk bertanya dan memberikan gagasannya.
d) Guru membuat pertanyaan-pertanyaan penggiring, agar siswa mampu
membuat kesimpulan sendiri.

e. Perbaikan Rancangan Pembelajaran untuk siklus ke-2
Sesuai dengan hasil refleksi dan kelemahan yang mencolok pada siklus ke- 1,
maka yang menjadi permasalahan pada siklus ke-2 adalah “Bagaimana
meningkatkan aktivitas dan
pecahan

hasil

belajar

siswa dalam memahami materi

melalui pendekatan matematika realistik, dengan fokus perbaikan

pembelajarannya adalah “memperbaiki pelaksanaan pendekatan matematika
realistik”. Siklus ke-2 ini akan dilakukan dua kali tatap muka (4 x 35 menit).
Seluruh perangkat (RPP, LKS, media dan metode pembelajaran, dan lembar
observasi kegiatan siswa) disusun sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan.
Setelah berkolaborasi dengan supervisor dan dosen pembimbing maka disepakati
hal-hal berikut:
Kompetensi Dasar

: 6.2 Menyederhanakan berbagai bentuk pecahan

a. Tujuan perbaikan pembelajaran:
Meningkatkan

keterlibatan

siswa

memanfaatkan

pendekatan

matematika realistik dalam pembelajaran.
Memperbaiki kualitas dan kuantitas interaksi tanya jawab selama
proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan matematika
realistik.

37

b. Berdasarkan permasalahan dan kelemahan yang terjadi pada siklus ke-1,
maka peneliti berkolaborasi dengan supervisor dan dosen pembimbing
mencarikan solusinya untuk dilaksanakan pada siklus ke-2 yaitu:
Memberi kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh siswa untuk
mencoba/berinteraksi aktif dengan media dan metode pembelajaran
yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk merasa bertanggung
jawab terhadap kerja siswa mencatat hasil kerja kelompoknya. guru
perlu mempersiapkan materi pembelajaran, soal-soal latihan, untuk
menuju tujuan yang dimaksud.
Pada kegiatan inti pembelajaran, setiap siswa diberi tugas untuk
mengajukan/membuat minimal satu pertanyaan tentang materi yang
diajarkan.
Lebih memotivasi siswa untuk aktif bertanya dan memberikan
gagasan, memperbaiki kualitas dan cara bertanya, sehingga secara
bertahap timbul keberanian pada diri siswa untuk bertanya dan
memberikan gagasannya.

B. Laporan Pelaksanaan Pembelajaran Siklus 2
a. Perencanaan Tindakan
Kompetensi Dasar

:

6.2 Menyederhanakan berbagai bentuk pecahan
a. Perencanaan

:

1) Menyiapkan sekenario pembelajaran

38

2) Menyiapkan lembar observasi siswa dan guru serta RPP dan LKS
3) Menyiapkan peralatan yang diperlukan gambar-gambar contoh pecahan
dan cara penyelesaiannya
4) Menyiapkan format observasi dan instrumen penilaian
5) Membagi kelompok belajar menjadi 5 kelompok, yang tiap kelompok
terdiri atas 5 orang

b. Pelaksanaan Praktik
Berikut ini kondisi riil yang dilaksanakan selama proses belajar mengajar
berlangsung pada siklus 2.
1. Kegiatan awal.
.

Apersepsi:
a.

Kegiatan ini dimulai dengan menunjukan berbagai gambar contoh
pecahan dan penyelesaiannya.

b.

Guru mengajukan berbagai pertanyaan, sesuai dengan masalah
pecahan yang disajikan, seperti:
o

Gambar apakah ini anak?

o

Masih pahamkah kalian tentang penjumlahan dan pengurangan
pecahan?

o
c.

Dst.

Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

39

2. Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, siswa:
a. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok yang setiap kelompoknya
terdiri 5 orang siswa.
b. Siswa diminta untuk mengerjakan lembar kerja kelompok yang
dibagikan guru. .
c. Siswa tampak berinteraksi dalam mencatat yang ditugaskan.
d. Aktif merespon dari pertanyaan-pertanyaan yang ditugaskan
e. Berinteraksi positif antar siswa, guru, dan materi pelajaran.
f. Siswa tampak senang dan semangat ketika diminta untuk
membacakan hasil diskusinya.
g. Siswa tampak serius dan tidak tertekan melakukan kerja dalam
kelompok

untuk

memecahkan

masalah-masalah

yang

berhubungan dengan bilangan pecahan.
h. 17 siswa (70,8%) membuat/menulis 1 (satu) pertanyaan yang
sesuai dengan materi arti pecahan dan urutannya dan diajukan
kepada siswa yang lain.
i. Guru memberikan respon positif dan pemantapan kepada siswa
yang berpartisipasi aktif dalam bertanya atau menjawab
pertanyaan.

40

3. Kegiatan Penutup
Memberikan penekanan

tentang cara menyelesaiakan masalah yang

berhubungan dengan operasi pembagian pecahan dan dua orang siswa
diminta mengerjakan soal pecahan di papan tulis.

c. Hasil Observasi Siklus 2
1). Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa
Pada siklus 2, observasi dilakukan oleh supervisor sebanyak satu kali
yaitu pada pada saat praktik pembelajaran berlangsung, tentang aktivitas
belajar siswa dengan hasil rata-rata aktivitas belajar siswa mencapai
74,6. Jika dibandingkan dengan siklus 1 berarti mengalami peningkatan
4,5% atau (74,6% - 70,1% = 4,5%). aktivitas belajar yang mengalami
peningkatan tertinggi

adalah hasil belajar siswa dalam mengajukan

pertanyaan, yaitu dari 25% (6 siswa) menjadi 75% (18 siswa) yang
mengajukan pertanyaan selama proses pembelajaran. Hasil observasi
dapat dilihat pada lampiran.
2). Hasil Penilaian Proses dan Penilaian Hasil Belajar Siswa
Untuk menentukan nilai hasil belajar siswa, praktikan menggunakan tes
tertulis dan pedoman penskoran seperti yang tercantum pada RPP. Dari
hasil penilaian (tes tertulis) yang dilakukan oleh peneliti dan supervisor
pada saat pelaksanaan Pembelajaran tanggal 15 Januari 2013, diperoleh
nilai proses 72,5 jika dibandingkan dengan nilai proses siklus 1
mengalami peningkatan 4,4% atau (72,5-68,1=4,4) data nilai hasil

41

belajar siswa dengan rata-rata 71,8, jika dibandingkan dengan hasil
belajar pada siklus 1 berarti mengalami peningkatan sebesar 7% atau
(71,8 – 64,8 = 7). Sedangkan rata-rata hasil belajar siswa 5,7% atau
(72,2-66,5=5,7). Ada 3 atau 12,5% siswa yang belum mencapai KKM.
Hasil penilaian secara terinci lihat di lampiran.

d. Kendala dan Masalah
Selama kegiatan pelaksanaan pembelajaran pada siklus 2, peneliti
mengalami beberapa masalah seperti:
Siswa masih malu-malu untuk mengajukan pertanyaan atau gagasan baik
pada guru maupun pada temannya.

e. Setrategi Penyelesaian
1) Lebih memotifasi siswa untuk aktif bertanya dan memberikan gagasan,
sehingga secara bertahap timbul keberanian pada diri siswa untuk
bertanya dan memberikan gagasannya.
2) Peneliti meminta dan membimbing siswa (setiap maju 2 siswa) untuk
membuat soal dan jawabannya.

f. Hasil Refleksi Pembelajaran Siklus 2

Berdasarkan kumpulan data yang diperoleh dari hasil observasi dan
kolaborasi dengan supervisor dan dosen pembimbing selama proses
pembelajaran siklus 2, ternyata tingkat keaktifan siswa mencapai 74,6.
Jika dibandingkan dengan siklus 1 berarti mengalami peningkatan 4,5%

42

atau 74,6% - 70,1% = 4,5%. Aktivitas yang mengalami peningkatan
tertinggi adalah aktivitas siswa dalam mengajukan pertanyaan, yaitu dari
25% (6 siswa) menjadi 70,8% (17 siswa) yang mengajukan pertanyaan
selama proses pembelajaran. Rata-rata nilai hasil belajar siswa juga
mengalami peningkatan 5,7% jika dibandingkan dengan hasil belajar pada
siklus 1, atau (72,2 – 66,5 = 5,7).

C. Pembahasan
Dari implementasi siklus 1 dan siklus 2 dalam pembelajaran matematika kelas
IV terlihat adanya hasil peningkatan-peningkatan baik dari aktivitas belajar
siswa maupun hasil belajar siswa. Hal ini dikarenakan:
a. Dalam pembelajaran menggunakan pendekatan matematika realistik
dapat memotivasi minat belajar siswa.
b. Adanya kegiatan siswa yang termotivasi dalam pembelajaran melalui
penggunaan pendekatan matematika realistik.
c. Masing-masing siswa diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan
dari temannya.
d. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa dengan menggunakan
bahasa yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami siswa.
e. Guru memberikan respon positif kepada siswa yang berpartisipasi aktif
dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam proses belajar.

Untuk lebih jelasnya gambaran perubahan aktivitas belajar siswa antara prasiklus

Dokumen yang terkait

PENGGUNAAN MEDIA VISUAL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS IVA SDN 2 BANJAR NEGERI TAHUN PELAJARAN 2011/2012

1 14 46

PENGGUNAAN MEDIA REALIA UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS IV SDN 2 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

4 32 62

PENGGUNAAN MEDIA REALIA UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS IV SDN 2 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

6 29 61

PENGGUNAAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SDN 2 PURWODADI TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 12 44

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN METODE KERJA KELOMPOK MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS IV SDN 4 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 14 63

ENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN CTL PADA SISWA KELAS IV SDN 1 SUKADANA ILIR LAMPUNG TIMUR TAHUN PELAJARAN 2012/2013

1 14 40

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK KELAS III SD NEGERI 08 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2009/2010

0 3 5

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STAD PADA SISWA KELAS IV SDN 5 SUNGAI LANGKA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 7 45

UPAYA PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR BAGI SISWA KELAS I B SDN 2 METRO UTARA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

1 13 40

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK BAGI SISWA KELAS IV SDN 2 TANJUNG SARI TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 8 50

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

109 3449 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 879 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 788 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 515 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 664 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1157 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

59 1055 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 656 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 935 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1144 23