Level simbolik dalam bahan ajar yang dikembangkan yaitu dalam bentuk

Pilihan bahan ajar yang dimaksud tidak terpaku oleh satu sumber saja, melainkan dari berbagai sumber belajar yang dapat dijadikan suatu acuan dalam penyusunan bahan ajar. c. Memudahkan guru dalam pelaksanaan pembelajaran Guru sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran akan termudahkan karena bahan ajar disusun sendiri dan disampaikan dengan cara yang bervariatif. d. Agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik Dengan berbagai jenis bahan ajar yang bervariatif diharapkan kegiatan pembelajaran tidak monoton hanya terpaku oleh satu sumber buku atau di dalam kelas saja. 2. Peranan Bahan Ajar Greene dan Petty 1981, merumuskan beberapa peranan sebagai berikut : 1. Mencerminkan suatu sudut pandang yang tangguh dan modern mengenai pengajaran serta mendemontrasikan aplikasi dalam bahan pengajaran yang disajikan. 2. Menyajikan suatu sumber pokok masalah atau subject matter yang kaya, mudah dibaca dan bervariasi, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan para siswa, sebagai dasar bagi program-program kegiatan yang disarankan di mana keterampilan-keterampilan ekspresional diperoleh pada kondisi yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya. 3. Menyediakan suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampilan-keterampilan ekspresional. 4. Menyajikan bersama-sama dengan buku manual yang mendampinginya metode-metode dan sarana-sarana pengajaran untuk memotivasi siswa. 5. Menyajikan fiksasi awal yang perlu sekaligus juga sebagai penunjang bagi latihan dan tugas praktis. 6. Menyajikan bahan atau sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat guna. 3. Fungsi Bahan Ajar Menurut panduan pengembangan bahan ajar Depdiknas 2007, fungsi bahan ajar dijabarkan sebagai berikut : a. Pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi yang seharusnya diajarkan ke- pada siswa. b. Pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam pro- ses pembelajaran sekaligus substansi kompetensi yang seharusnya dikuasai. c. Alat evaluasi pencapaian dan penguasaaan hasil pembelajaran yang telah dilakukan.

C. Kriteria Buku Ajar yang Baik

Greene dan Petty yang dikutip oleh Tarigan 1986, menetapkan 10 sepuluh kriteria buku ajar yang baik sebagai berikut : 1. Buku ajar itu haruslah menarik minat anak-anak, yaitu para siswa yang memakainya. 2. Buku ajar itu haruslah memberi motivasi kepada para siswa yang memakainya. 3. Buku ajar itu haruslah memuat ilustrasi yang menarik hati para siswa yang memanfaatkannya. 4. Buku ajar seyogyanya mempertimbangkan aspek-aspek linguistik sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya. 5. Isi buku ajar haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya, lebih baik lagi kalau dapat didukung dengan perencanaan, sehinga semuanya merupakan kebulatan yang utuh dan terpadu. 6. Buku ajar haruslah dapat menstimulasi, merangsang aktivitas-aktivitas pribadi para siswa yang mempergunakannya. 7. Buku ajar harus dengan sadar dan tegas menghindari konsep-konsep yang samar-samar dan tidak biasa agar tidak sempat membingungkan para siswa yang menggunakannya. 8. Buku ajar harus mempunyai sudut pandang atau point of view yang jelas dan tegas sehingga juga pada akhirnya menjadi sudut pandang para pemakainya yang setia. 9. Buku ajar harus mampu memberi pemantapan, penekanan pada nilai- nilai anak dan orang dewasa. 10. Buku ajar harus dapat menghargai pribadi-pribadi para siswa. Sedangkan Arifin dan Kusrianto 2009, memberikan tolok ukur buku ajar yang baik sebagai berikut : 1. Format buku sesuai dengan format ketentuan UNESCO, yaitu ukuran kertas A4 21x29,7 cm. 2. Memiliki ISBN International Standard Book Number. 3. Dengan gaya bahasa semi formal. 4. Struktur kalimat minimal SPOK. 5. Mencantumkan TIU, TIK dan Kompetensi. 6. Disusun sesuai dengan Rencana Pembelajaran. 7. Menyertakan pendapat atau mengutip hasil penelitian pakar. 8. Menggunakan catatan kakicatatan akhirdaftar pustaka dan jika mungkin menyertakan indek. 9. Mengakomodasi hal-halide-ide baru. 10. Diterbitkan oleh penerbit yang kredibel. 11. Tidak menyimpang dari falsafah NKRI. Dengan merujuk UNESCO, Kemendiknas 2007 merumuskan syarat bahan ajar yang baik dan berkualitas yaitu 1 bahan ajar memiliki peran penting untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas tinggi, 2 bahan ajar merupakan produk dari proses yang lebih besar dari pengembangan kurikulum, 3 isi bahan ajar memasukkan prinsip-prinsip hak asasi manusia, mengintegrasi- kan proses pedagogis yang mengajarkan secara damai terhadap penyelesaian konflik, kesetaraan gender, nondiskriminasi, praktik-praktik dan sikap-sikap lain yang selaras dengan kebutuhan untuk belajar hidup bersama, 4 bahan ajar memfasilitasi pembelajaran untuk mendapatkan hasil-hasil spesifik yang dapat diukur dengan memperhatikan berbagai perspektif, gaya pembelajaran, dan