HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BELAJAR DAN LINGKUNGAN BELAJAR DI RUMAH DENGAN PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3 JATI AGUNG TAHUN PELAJARAN 2011-2012

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BELAJAR DAN LINGKUNGAN
BELAJAR DI RUMAH DENGAN PRESTASI BELAJAR ILMU
PENGETAHUAN SOSIAL SISWA KELAS VIII
SMP NEGERI 3 JATI AGUNG
TAHUN PELAJARAN 2011-2012

Oleh
FREDY AMRYANSYAH

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Jurusan Pendidikan IPS Program Studi Pendidikan Geografi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

ABSTRAK
HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN BELAJAR DAN LINGKUNGAN
BELAJAR DI RUMAH DENGAN PRESTASI BELAJAR ILMU
PENGETAHUAN SOSIAL SISWA KELAS VIII
SMP NEGERI 3 JATI AGUNG
TAHUN PELAJARAN 2011-2012

Oleh
FREDY AMRYANSYAH

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan belajar dan
lingkungan belajar di rumah dengan prestasi belajar IPS siswa SMP Negeri 3 Jati
Agung tahun 2011-2012. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode korelasional yaitu penelitian yang menggambarkan hubungan antara
kebiasaan belajar di rumah dan lingkungan belajar di rumah dengan prestasi
belajar siswa. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 159 siswa. Sedangkan,
sampel diambil dengan cara proportional random Sampling berjumlah 25% yaitu
sebanyak 40 siswa. Dengan analisis data menggunakan korelasi product moment
dan korelasi ganda.

Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Ada hubungan positif yang erat dan
signifikan antara kebiasaan belajar di rumah dengan prestasi belajar IPS siswa
kelas VIII SMP Negeri 3 Jati Agung dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,711.
(2) Ada hubungan positif yang erat dan signifikan antara lingkungan belajar di
rumah dengan prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Jati Agung
dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,624. (3) Ada hubungan positif yang erat
dan signifikan antara kebiasaan belajar dan lingkungan belajar di rumah dengan
prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Jati Agung dengan nilai
koefisien korelasi sebesar 0,784.

Kata kunci : kebiasaan belajar, lingkungan belajar, prestasi belajar

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ….………………………………………………………... x
DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………....

xi

DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… xii
1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................
B. Identifikasi Masalah ............................................................................
C. Rumusan Masalah ................................................................................
D. Tujuan Penelitian ................................................................................
E. Kegunaan Penelitian ............................................................................
F. Ruang Lingkup Penelitian ....................................................................

1
7
7
8
8
9

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka .................................................................................
1. Pengertian Belajar ............................................................................
2. Teori Belajar Konstruktivisme .........................................................
3. Kebiasaan Belajar ............................................................................
4. Lingkungan Belajar di Rumah .........................................................
5. Prestasi Belajar ................................................................................
B. Kerangka Pikir .....................................................................................
C. Hipotesis ..............................................................................................

10
10
11
12
16
22
23
24

III. METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian ................................................................................
B. Populasi dan Sampel ..........................................................................
1. Populasi ............................................................................................
2. Sampel .............................................................................................
C. Variabel Penelitian ..............................................................................
D. Devinisi Operasional Variabel .............................................................
1. Kebiasaan Belajar ............................................................................
2. Lingkungan Belajar di Rumah .........................................................
3. Prestasi Belajar ................................................................................
E. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................
1. Teknik Observasi .............................................................................

25
25
25
26
27
28
28
30
34
34
34

2. Teknik Dokumentasi ........................................................................
3. Teknik Angket .................................................................................
F. Uji Persyaratan Instrumen ....................................................................
1. Uji Coba Angket ............................................................................
a) Uji Validitas Angket ................................................................
b) Uji Relibilitas Angket ................................................................
G. Analisis Data Penelitian .......................................................................

34
35
35
35
35
39
40

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tinjauan Umum SMP Negeri 3 Jati Agung ........................................ 42
1. Lokasi Penelitian .............................................................................. 42
2. Sejarah Singkat Berdirinya SMP Negeri 3 Jati Agung .................... 44
3. Keadaan Gedung SMP Negeri 3 Jati Agung .................................. 44
4. Keadaan Guru SMP Negeri 3 Jati Agung ........................................ 47
5. Keadaan Siswa SMP Negeri 3 Jati Agung ....................................... 48
6. Keadaan Responden Berdasarkan Kebiasaan Belajar IPS ............... 48
7. Keadaan Responden Berdasarkan Lingkungan Belajar di Rumah... 50
8. Keadaan Responden Berdasarkan Prestasi Belajar IPS ................. 51
B. Analisis Data, Pengujian Hipotesis dan Pembahasan ......................... 52
1. Hubungan Antara Kebiasaan Belajar Dengan Prestasi
Belajar IPS siswa .............................................................................. 52
2. Hubungan Antara Lingkungan Belajar di Rumah Dengan Prestasi
Belajar IPS Siswa ............................................................................. 58
3. Hubungan Antara Kebiasaan Belajar dan Lingkungan Belajar IPS
di rumah Dengan Prestasi Belajar IPS ............................................. 64
4. Perbandingan Hubungan Kebiasaan Belajar dan Prestasi Belajar IPS,
Lingkungan Belajar dan Prestasi Belajar IPS, Kebiasaan Belajar
dan Lingkungan Belajar IPS, Kebiasaan Belajar dan Lingkungan
Belajar IPS di Rumah dengan Prestasi Belajar IPS ......................... 67
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ..........................................................................................
B. Saran .....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

69
70

1

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses belajar merupakan hal yang dialami siswa yang merupakan suatu respon
terhadap segala cara pembelajaran yang diprogramkan oleh guru dan pengelolaan
pembelajaran bertujuan untuk mencapai tujuan belajar. Berkenaan dengan
pembelajaran di SMP Negeri 3 Jati Agung tahun ajaran 2011-2012 untuk siswa
kelas VIII menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Untuk pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) diidealkan pembentukan
guru IPS yang berpandangan integratif. Sebenarnya tidak seluruh topik pengajaran
harus mengandung suatu integrasi. Untuk melakukan integrasi guru tidak saja
membutuhkan wawasan pengetahuan yang cukup luas, tetapi juga kadang-kadang
diperlukan pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu
para guru IPS wajib mendalami berbagai ilmu sosial termasuk teori-teorinya.
Penerapan pembelajaran IPS mengharuskan siswa untuk aktif dalam kegiatan
belajarnya. Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik dan psikis, kegiatan fisik
berupa membaca, mendengar, menulis, dan berlatih sedangkan kegiatan psikis
seperti menggunakan khasanah pengetahuan untuk memecahkan masalah,
menyimpulkan percobaan dan membandingkan satu konsep dengan yang lain.

2

Kegiatan belajar berkenaan dengan kegiatan fisik merupakan keaktifan siswa
belajar, di dalam mempelajari IPS kebiasaan belajar yang perlu diterapkan adalah
rajin membaca, karena dengan membaca dapat meningkatkan pengetahuan
sehingga siswa dapat berpikir kritis terhadap masalah kehidupan yang terjadi di
lingkungan sekitarnya sebab menurut N. Daldjoeni (1997:12) menyatakan bahwa
materi IPS bersumber pada pusat kegiatan hidup manusia, seperti manusia dengan
alam lingkungannya, manusia dengan kelompoknya, manusia dengan manusia
lainya dalam usaha mencari nafkah, usaha mengadakan inpuls agama dan
seterusnya. Itu menyangkut pusat-pusat kehidupan yang universal maupun yang
dalam lingkungan konkritnya sendiri.
Membaca terkait dengan membuat catatan, setelah membaca siswa dapat
mempertahankan daya ingat tentang materi pelajaran IPS dengan cara membuat
catatan tersebut. Catatan yang dibuat harus teratur dan rapi agar memudahkan
untuk lebih memahami materi pelajaran. Selain itu, mengulang materi pelajaran
IPS perlu dijadikan kebiasaan belajar agar materi dapat dikuasai dengan baik guna
tercapainya prestasi belajar yang baik juga.
Banyak faktor yang mempengaruhi belajar dan tercapainya prestasi belajar. Faktor
tersebut baik yang berasal dari dalam diri siswa maupun faktor dari luar. Hal ini
sesuai dengan pendapat Slameto (2003:54) yang mengemukakan bahwa faktor
yang mempengaruhi belajar digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. Faktor Intern
a. Faktor jasmaniah, seperti kesehatan, dan cacat tubuh.
b. Faktor psikologis, seperti intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif.
c. Faktor kelelahan.

3

2. Faktor Ekstern
a. Faktor keluarga, yaitu cara orang tua mendidik, relasi antar anggota
keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua,
dan latar belakang kebudayaan.
b. Faktor sekolah, yaitu metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan
siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran waktu
sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar,
dan tugas rumah.
c. Faktor masyarakat, yaitu kegiatan siswa dalam dalam masyarakat, teman
bergaul, dan bentuk kehidupan.
Selanjutnya Roestiyah (1994:2) mengatakan faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Faktor internal ialah faktor yang timbul dalam diri anak itu sendiri, seperti
kesehatan, rasa aman, kemampuan, kebiasaan, minat, aktivitas dan sebagainya.
Faktor ini berwujud juga sebagai kebutuhan dari anak itu.
2. Faktor eksternal ialah faktor yang datang dari luar diri si anak, seperti
kebersihan rumah, udara yang panas, lingkungan dan sebagainya.
Dengan demikian, jelas bahwa prestasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh dua
faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang
mempengaruhi belajar dalam penelitian ini adalah kebiasaan belajar dan faktor
eksternal yang berasal dari luar siswa antara lain yaitu lingkungan belajar di
rumah. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Djaali, bahwa:
Kebiasaan belajar cenderung menguasai perilaku siswa pada setiap kali mereka
melakukan kegiatan belajar. Sebabnya ialah karena kebiasaan mengandung
motivasi yang kuat. Kebiasaan belajar yang teratur akan berdampak pada prestasi
belajar yang baik pula (Djaali, 2008:128).
Berdasarkan pendapat di atas bahwa prestasi yang dicapai oleh siswa

salah

satunya ditentukan oleh kebiasaan belajar siswa tersebut. Pelaksanaan belajar
yang baik oleh siswa yang dikerjakan secara terus-menerus, disebut juga dengan

4

kebiasaan belajar yang baik. Pentingnya pembentukan kebiasaan belajar yang baik
ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hutabarat (1986:36) yaitu:
“Kegiatan pendidikan banyak menyangkut pembentukan kebiasaan yang baik”.
Selanjutnya Ahmadi, Abu (1991:161) mengemukakan bahwa “Kebiasaan belajar
yang baik dari segi cara belajar, waktu belajar, keteraturan belajar, suasana belajar
dan lain-lain, merupakan faktor penunjang keberhasilan belajar peserta didik”.
Berdasarkan pendapat tersebut bahwa kebiasaan belajar mempunyai peranan
penting dalam proses pembelajaran.
Kebiasaan belajar yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu kebiasaan siswa
dalam pelaksanaan jadwal belajar IPS di rumah, kebiasaan siswa membaca buku
pelajaran IPS, kebiasaan siswa mengulang pelajaran IPS, dan kebiasaan siswa
mengerjakan tugas secara mandiri.
Setiap siswa memiliki kebiasaan belajar yang berbeda-beda. Kebiasaan yang
kurang baik yang biasaanya diterapkan siswa adalah bermalas-malasan dalam
belajar, mengulangi materi pelajaran hanya menjelang ujian saja, tidak rajin
membaca dan kurang berkonsentrasi dalam belajar. Kebiasaan belajar yang
dilakukan setiap siswa di SMP Negeri 3 Jati Agung berbeda, karena berdasarkan
observasi sementara pada 12 siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Jati Agung hanya
1 siswa yang mempunyai jadwal belajar IPS dan melaksanakan jadwal belajar
yang telah dibuatnya. Kemudian dalam hal mengulang pelajaran di rumah ada dua
dari 12 siswa tersebut yang mengulang kembali pelajaran IPS di rumah. Jadi
kesimpulannya masih ada siswa yang belum memiliki jadwal belajar sebagai
pedoman untuk setiap kegiatan dalam belajarnya, dan masih ada siswa pula
belajar secara tidak teratur dan terus menerus belajar karena keesokan harinya

5

akan ujian atau ulangan. Dengan kebiasaan yang kurang baik tersebut siswa akan
kurang beristirahat, dengan keadaan tersebut setiap siswa perlu belajar secara
teratur setiap hari hendaknya materi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru
hari itu pula diulang, kemudian dengan pembagian waktu yang baik dan memilih
cara belajar yang tepat dan cukup istirahat akan meningkatkan hasil belajarnya.
Prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Jati Agung pada mata pelajaran
IPS tidak sama, karena masih saja ada sebagian besar siswa yang memperoleh
prestasi yang kurang memuaskan. Dalam hal ini dapat ditunjukan pada penelitian
pendahuluan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Jati Agung pada mata pelajaran IPS
seperti yang tercantum pada Tabel 1 berikut ini:
Tabel 1. Jumlah Siswa Berdasarkan Kriteria Ketuntasan dan Kelas Bidang
Studi IPS Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2011-2012
No
1
2

Kriteria
Penilaian
≥ 65
< 65
Jumlah

Kelas
VIII.A
19
21
40

VIII.B
3
37
40

VIII.C
1
38
39

VIII.D
6
34
40

Jumlah

%

29
130
159

18,24
81,76
100

Sumber: Dokumentasi Guru mata pelajaran IPS Kelas VIII SMP Negeri 3 Jati Agung

Dari Tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa prestasi belajar IPS yang dicapai
siswa termasuk dalam kategori tidak tuntas. Tercatat hanya 29 siswa (18,24%)
yang tuntas, sedangkan yang nilainya tidak tuntas sebanyak 130 siswa (81,76%).
Hal ini dapat terjadi disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah kebiasaan
yang diterapkan oleh siswa.

6

Hal yang sama juga terlihat pada nilai yang diperoleh pada masing-masing siswa
dengan rentang nilai yang cukup jauh antara nilai tertinggi dan nilai terendah
untuk setiap kelasnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:
Tabel 2. Nilai Rata-rata Kelas Pada Mata Pelajaran IPS, Nilai Tertinggi dan
Nilai Terendah Siswa Tiap Kelas VIII SMP Negeri 3 Jati Agung
Tahun Pelajaran 2011-2012
No

Kelas

Jumlah
Siswa

Nilai
Tertinggi

Nilai
Terendah

Nilai Rata-rata
Kelas

1
2
3
4

VIII A
VIII B
VIII C
VIII D

40
40
39
40

78
72
65
72

44
30
30
43

63,35
50,75
47,92
56,55

159

54,64

Sumber : Dokumentasi Guru mata Pelajaran IPS Kelas VIII SMP Negeri 3 Jati Agung

Dari Tabel 2 dapat terlihat bahwa prestasi belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri
3 Jati Agung belum merata. Hal ini terlihat dari jauhnya perbedaan nilai antar
siswa, yaitu siswa yang mendapat nilai tinggi dan siswa yang mendapat nilai
terendah untuk setiap kelasnya. Nilai rata-rata kelasnya

masih belum cukup

optimal.
Selain kebiasaan belajar, faktor lain yang berhubungan terhadap rendahnya
prestasi belajar IPS adalah lingkungan belajar. Lingkungan belajar yang dimaksud
dalam penelitian ini kondisi dan suasana tempat belajar siswa di rumah yang
mencakup: kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya di rumah,
hubungan antar keluarga, kesehatan ruang belajar yang tidak terjaga dengan baik,
sarana belajar siswa di rumah.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa pencapaian prestasi belajar IPS siswa yang
rendah, perbedaan dalam kebiasaan belajar siswa yang digunakan setiap siswa

7

dalam belajarnya dan lingkungan belajar siswa yang kurang mendukung menarik
bagi peneliti untuk mengadakan penelitian yang berjudul “ Hubungan Antara
Kebiasaan Belajar dan Lingkungan Belajar siswa di rumah dengan Prestasi
Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 3 Jati
Agung Tahun Pelajaran 2011-2012”.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang di atas, dapat diidentifikasikan permasalahan siswa di SMP
Negeri 3 Jati Agung adalah sebagai berikut:
1.

Kebiasaan belajar siswa dalam hal melaksanakan jadwal belajar IPS,
membaca buku pelajaran IPS, mengulangi pelajaran IPS, mengerjakan tugas
IPS secara mandiri cenderung tidak teratur.

2.

Lingkungan belajar siswa di rumah dalam hal kurangnya pengawasan orang
tua terhadap anaknya, hubungan antar keluarga, kebersihan ruang belajar
yang tidak terjaga dengan baik, sarana belajar siswa yang tidak lengkap.

3.

Kebiasaan belajar dan lingkungan belajar di rumah dengan prestasi belajar.

C. Rumusan Masalah

1.

Apakah ada hubungan positif yang erat dan signifikan antara kebiasaan
belajar dengan prestasi belajar IPS siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Jati
Agung?

8

2.

Apakah ada hubungan positif yang erat dan signifikan antara lingkungan
belajar di rumah dengan prestasi belajar IPS siswa kelas VIII di SMP Negeri
3 Jati Agung?

3.

Apakah ada hubungan positif yang erat dan signifikan antara kebiasaan
belajar dan lingkungan belajar di rumah dengan prestasi belajar IPS siswa
kelas VIII di SMP Negeri Jati Agung.

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara kebiasaan belajar dengan
prestasi belajar IPS siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Jati Agung.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara lingkungan belajar di
rumah dengan prestasi belajar IPS siswa kelas VIII di SMP Negri 3 Jati Agung.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara kebiasaan belajar dan
lingkungan belajar di rumah dengan prestasi belajar IPS siswa kelas VIII di
SMP Negeri 3 Jati Agung.

D. Kegunaan Penelitian

1. Sebagai saran kepada siswa dalam kebiasaan belajar dan lingkungan belajar di
rumah dengan prestasi belajar IPS sehingga dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam strategi belajar IPS.
2. Sebagai informasi tentang hubungan antara kebiasaan belajar dan lingkungan
belajar di rumah dengan prestasi belajar IPS baik kepada guru, siswa maupun
pihak lain yang berkepentingan.

9

3. Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana pada Program Studi
Pendidikan Geografi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung.
4. Sebagai bahan masukan bagi siswa dalam meningkatkan prestasi belajar IPS
agar dapat meningkatkan hasil belajar kearah yang lebih baik.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini terbagi atas:
1. Objek penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah hubungan kebiasaan belajar dan lingkungan
belajar di rumah dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
2. Subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP N 3 Jati Agung.
3. Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Jati Agung.
4. Waktu penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun 2012.
5. Ruang lingkup ilmu dalam penelitian ini adalah Pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial.
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial hakikatnya yaitu pembelajaran Suatu
perubahan perilaku yang relatif permanen, dari sekelompok disiplin akademis
yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan
lingkungan sosialnya (Sapriya, 2009:35).

10

II.

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Belajar

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan
kegiatan yang paling pokok, ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan
pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami
oleh siswa sebagai anak didik.
Hampir semua pakar bidang psikologi dan pendidikan menyepakati bahwa belajar
adalah suatu proses perubahan tingkah laku. Menurut Oemar Hamalik (2001:37)
menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu
melalui interaksi dengan lingkungan. Sesuai dengan pendapat tersebut Slameto
(2003:2) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang lain secara keseluruhan,
sebagaimana pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali, baik sifat maupun
jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang
merupakan perubahan dalam arti belajar.

11

Terhadap masalah belajar, Gagne memberikan dua definisi, yaitu:
a) Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan,
keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.
b) Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh
dari instruksi.
Dari pengertian di atas, jelas bahwa belajar adalah suatu proses dari yang tidak
tahu menjadi tahu suatu hal.

2. Teori Belajar Konstruktivisme

Teori belajar Konstruktivisme merupakan pengelompokan atas teori-teori baru
dalam psikologi pendidikan, walau demikian teori konstruktivisme berkaitan
dengan teori perkembangan mental peaget. Teori konstruktivis ini menyatakan
bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi
kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya
apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami
dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah,
menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan
ide-ide.
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir yang dipergunakan dalam
pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia
sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan
tidak begitu saja. Siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan
sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Dalam
pandangan kontruktivitas, “strategi memperoleh” lebih diutamakan dibandingkan

12

seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas
guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:
1. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,
2. Memberikan kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,
3. Menyadarkan siswa agar menerapakan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Dengan demikian, kaitannya terhadap penelitian ini adalah bahwa dari variabel
penelitian yang akan diteliti bisa saja hasil yang didapat berbeda dengan kondisi
siswa dalam kebiasaan belajar, dengan lingkungan belajar, terhadap prestasi
belajar IPS.

3. Kebiasaan Belajar

Kebiasaan merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar secara
berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis.
Perbuatan kebiasaan tidak memerlukan konsentrasi, perhatian, dan pikiran dalam
melakukannya. Kebiasaan dapat berjalan terus, sementara individu memikirkan
atau memperhatikan hal-hal lain. Hal ini sejalan dengan pendapat slameto,
(2003:53) bahwa banyak siswa dan mahasiswa gagal atau tidak mendapat hasil
yang baik dalam pelajarannya karena mereka tidak mengetahui cara-cara belajar
yang tidak efektif. Mereka hanya mencoba untuk menghafal pelajaran.
Selain itu juga, bagaimana kebiasaan belajar seseorang dapat ditentukan dari
kondisi atau situasi yang sedang dihadapi, seperti yang dikemukakan oleh Wasty
Soemanto, (2006,109) bahwa meskipun orang telah mempunyai tujuan tertentu
dalam belajar serta telah memiliki set yang tepat untuk merealisasi tujuan itu,

13

namun tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan sangat dipengaruhi oleh situasi.
Setiap situasi ciri manapun dan kapan saja memberi kesempatan kebiasaan belajar
kepada seseorang.
Kebiasaan belajar dapat diartikan sebagai cara atau teknik yang menetap pada diri
siswa pada waktu menerima pelajaran, membaca buku, mengerjakan tugas, dan
pengaturan waktu untuk menyelesaikan kegiatan. (Djaali, 2008:128).
Kebiasaan belajar cenderung menguasai perilaku siswa pada setiap kali mereka
melakukan kegiatan belajar. Sebabnya ialah karena kebiasaan mengandung
motivasi yang kuat. Pada umumnya setiap orang bertindak berdasarkan force of
habit, sekalipun ia tahu bahwa ada cara lain yang mungkin lebih menguntungkan.
Hal ini disebabkan oleh kebiasaan sebagai cara yang mudah dan tidak
memerlukan konsentrasi dan perhatian yang besar.
Kebiasaan belajar yang teratur akan berdampak pada prestasi belajar yang baik.
Sesuai dengan law of effect dalam belajar, perbuatan yang menimbulkan
kesenangan cenderung untuk diulangi, yang paling penting adalah siswa
mempraktekannya dalam belajar sehari-hari, sehingga lama kelamaan menjadi
kebiasaan.
a. Perencanaan jadwal belajar IPS dan pelaksanaannya
Merupakan suatu rancangan waktu untuk sejumlah kegiatan yang dilaksanakan
oleh seseorang setiap harinya. Agar belajar dapat berjalan dengan baik dan
berhasil

maka seseorang siswa perlu mempunyai

melaksanakannya dengan teratur.

jadwal

belajar dan

14

Adapun cara membuat jadwal yang baik menurut Slameto (2003:82) sebagai
berikut:
1) Memperhitungkan waktu setiap hari untuk keperluan-keperluan tidur, belajar,
makan, mandi, olah raga, dan lain-lain.
2) Menyelidiki dan menentukan waktu-waktu yang tersedia setiap hari.
3) Merencanakan penggunaan belajar itu dengan cara menetapkan jenis-jenis
mata pelajarannya dan urutan-urutan yang harus dipelajari.
4) Menyelidiki waktu-waktu mana yang dapat dipergunakan untuk belajar
dengan hasil terbaik. Sesudah waktu itu diketahui, kemudian dipergunakan
untuk mempelajari pelajaran yang dianggap sulit. Pelajaran yang dianggap
mudah dipelajari pada jam belajar lain.
5) Berhematlah dengan waktu, setiap siswa janganlah ragu-ragu untuk memulai
pekerjaan, termasuk juga belajar.
Supaya berhasil dalam belajar, jadwal yang sudah dibuat haruslah dilaksanakan
secara teratur, disiplin dan efisien. Dengan demikian, perencanaan jadwal
merupakan hal yang termaksuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
b. Membaca Buku Pelajaran IPS
Kegiatan membaca merupakan bagian yang tak terpisahkan dari belajar, karena
hampir sebagian besar kegiatan belajar adalah dengan membaca. Dengan
membaca teratur, diharapkan siswa memperoleh pengetahuan yang luas.
Akhirnya, hasil belajar yang dicapai menjadi lebih baik.
Agar siswa dapat membaca dengan efisien perlu memiliki cara-cara yang baik.
Menurut Surya Hendra (2004:87) pembaca yang baik adalah:

15

1) Mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam membaca, artinya
memperhatikan kesehatan membaca dan memberi tanda-tanda pada buku
pelajaran.
2) Mengerti betul buku yang dibaca.
3) Sehabis membaca dapat mengingat sebagian besar dari pokok-pokok apa yang
dibacanya.
4) Dapat membaca dengan cepat.
Lebih lanjut Surya Hendra mengatakan bahwa ada hubungan yang pasti dan
penting antara kesanggupan membaca dengan angka hasil ujian para siswa di
sekolah. Siswa yang sanggup secara efisien dan teratur membaca buku-buku yang
diwajibkan biasanya memperoleh angka yang baik dan akhirnya sukses dalam
studinya.
c. Mengulangi Bahan Pelajaran IPS
Mengulangi besar pengaruhnya dalam belajar, karena dengan adanya pengulangan
akan tetap tertanam dalam otak seseorang, seperti halnya pisau yang selalu diasah
akan menjadi tajam. Mengulang dapat secara langsung sesudah membaca tetapi
juga mempelajari kembali bahan pelajaran yang sudah dipelajari.
Agar dapat mengulang dengan baik maka perlulah kiranya disediakan waktu
untuk mengulang dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Untuk menghafal
dengan bermakna dan memahami bahan yang diulang secara sungguh-sungguh.
Menghafal dapat dengan cara diam tapi otaknya berusaha mengingat-ingat, dapat
dengan membaca keras atau mendengarkan dan juga dengan cara menulisnya.

16

d. Mengerjakan Tugas IPS
Salah satu prinsip dalam belajar adalah ulangan atau latihan-latiahan.
Mengerjakan tugas dapat berupa pengerjaan tes, ulangan atau ujian yang diberikan
guru, tetapi juga termasuk membuat atau mengerjakan latihan-latihan yang ada
dalam buku atau soal-soal buatan sendiri. Agar siswa berhasil dalam belajarnya,
perlulah mengerjakan tugas secara teratur. Tugas ini mencakup mengerjakan PR,
menjawab soal latihan, tes atau ulangan harian, ulangan umum dan ujian.

4. Lingkungan Belajar di Rumah
Lingkungan menurut Ngalim Purwanto (1990:28) adalah “semua kondisi dalam
dunia ini dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan
dan perkembangan”. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang
sangat menunjang keberhasilan siswa dalam mencapai studinya. Seorang siswa
hidup di dalam lingkungan masyarakat yang tidak lepas dari lingkungan fisik dan
sosial, baik keluarga maupun masyarakat luas maka dapat diduga lingkungan
belajar sangat berkaitan dengan siswa dalam mencapai prestasi belajar yang
diinginkan.
Lingkungan merupakan suatu keadaan yang dapat memberikan pengaruh besar
kepada suatu individu baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Menurut
Slameto (2003:57) lingkungan yang baik perlu diusahakan agar dapat memberi
pengaruh yang positif terhadap anak atau siswa sehingga dapat belajar dengan
sebaik-baiknya. Hal ini juga dipertegas dengan pendapat Syaiful Bahri Djamarah
dalam buku yang berjudul Psikolog Belajar tahun 2008, lingkungan merupakan

17

bagian penting dari kehidupan anak didik, karna baik buruknya lingkungan akan
berpengaruh pada anak didik.
Jadi yang dimaksud dengan lingkungan belajar adalah kesatuan ruang atau kondisi
yang dipergunakan oleh perubahan tingkah laku dalam diri seseorang untuk
melakukan kegiatan belajar. Lingkungan belajar ini merupakan penciptaan suatu
sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang baik.
Dengan adanya lingkungan yang baik, tentu akan dapat mendukung lancarnya
kegiatan belajar. Agar siswa mengalami proses belajar yang berhasil, harus sesuai
dengan tujuan yang mesti dicapainya salah satunya yaitu harus dapat
menyesuaikan dengan lingkungan belajarnya.
Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang sangat menunjang
keberhasilan siswa. Lingkungan belajar yang menjadi permasalahan dalam
penelitian ini merupakan salah satu faktor eksternal yang ada di luar diri siswa
yang dapat mempengaruhi belajar. Siswa hidup dalam masyarakat tidak akan
lepas dari lingkungan baik fisik maupun sosial, baik keluarga maupun masyarakat
luas diduga lingkungan belajar sangat berkaitan bagi siswa dalam mencapai
prestasi belajar yang diinginkannya. Untuk itu lingkungan belajar yang akan
diteliti dalam penelitian ini adalah lingkungan belajar yang ada di rumah yang
dapat mempengaruhi kegiatan belajarnya.
Lingkungan belajar di rumah menurut Bimo Walgito (1987:25) adalah “Semua
kondisi atau keadaan tempat belajar seseorang yang ada di sekitar rumah tempat
tinggal yang mencakup hubungan dengan keluarga dan masyarakat sekitarnya”.
Lingkungan di rumah khususnya lingkungan keluarga merupakan lingkungan

18

yang pertama kali bagi siswa dalam kehidupanya. Keadaan keluarga akan
memegang peranan penting dalam menentukan berhasil tidaknya siswa mencapai
prestasi yang diinginkannya di sekolah.
Menurut Hutabarat (1986:21) lingkungan rumah adalah “Keadaan keluarga dan
suasana tempat belajar seseorang yang ada di rumah tempat tinggal yang
mencakup hubungan dengan keluarga”. Hubungan yang kurang serasi dengan
keluarga dapat mengganggu konsentrasi pikiran dalam belajar. Siswa dengan latar
belakang kehidupan yang harmonis, hubungan anggota keluarga sangat terbuka
satu dengan yang lain, hal ini sangat berpengaruh terhadap sikap maupun pribadi
siswa, kebiasaan-kebiasaan yang dipelajari di rumah dan cara mendidik orang tua
akan memberi corak kepada keadaan pribadi siswa yang kemudian berinteraksi
dengan siswa lain yang mungkin keadaannya berlainan, sehingga hal tersebut
dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa lingkungan belajar di
rumah adalah semua keadaan dan suasana tempat belajar siswa di rumah tempat
tinggal termasuk hubungan antar anggota keluarga. Lingkungan belajar di rumah
dalam penelitian ini akan diuraikan sebagai berikut:
a.

Pengawasan orang tua

Oemar Hamalik menyatakan bahwa:
“ Orang tua turut bertanggung jawab atas kemajuan studi anaknya. Pengawasan
yang kurang bisa menimbulkan kecendrungan adanya bebas mutlak pada
sekelompok siswa dan hal ini sangat tidak menguntungkan bagi siswa itu sendiri.
Pengawasan itu tidak berarti menghambat atau menekan akan tetapi mendorong
ke arah kesadaran diri. Karena itu pengawasan akan berkurang apabila kita telah
menunjukan rasa tanggung jawab terhadap belajar”.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Thamrin Nasution bahwa:

19

“ Orang tua harus bersedia mendampingi anak-anak pada waktu yang demikian
kepada mereka yang diberikan nasehat, bertujuan agar mereka meningkatkan
kegairahan belajar baik di rumah maupun di sekolah. Anak-anak haruslah diberi
motivasi untuk belajar lebih giat, lebih semangat. Dengan demikian si anak lebih
percaya diri, di samping rasa bangga karena mendapat perhatian dari orang tua”.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa perlakuan orang tua ini adalah
suasana hubungan antar anggota keluarga di rumah. Dalam hal pengawasan yang
dilakukan orang tua terhadap anak di rumah.
b.

Hubungan dengan keluarga

Roestiyah (1994:155) menyatakan bahwa:
“ Hubungan antara keluarga yang kurang harmonis akan menimbulkan suasana
kaku, tegang di dalam keluarga dan menyebabkan seseorang kurang semangat
dalam belajar. Suasana yang menyenangkan, akrab, dan penuh kasih sayang akan
memberi semangat yang mendalam pada seseorang untuk melakukan kegiatan
belajar”.
Menurut Aziz Hastari hubungan antarsaudara (kakak-adik) yang harmonis
menunjukan:
1. Adanya perasaan saling menyayangi dan saling mengasihi antaranak.
2. Adanya keinginan dan kebutuhan untuk saling melindungi diantara anak
3. Munculnya perasaan saling menghormati dan menghargai kewajiban dan hak
antarsaudara
4. Saling membantu satu sama lain (kakak-adik) yang diwujudkan melalui
pemberian bimbingan dari kakak kepada adik dan sebaliknya.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan antaranggota keluarga
yang harmonis akan memberikan motivasi yang mendalam pada siswa.
Sedangkan

hubungan

antaranggota

keluarga

yang

kurang

intim

akan

20

menimbulkan suasana yang kaku dalam keluarga, yang menyebabkan siswa
kurang bersemangat untuk belajar di rumah.
c.

Ruang belajar di rumah

Menurut pendapat Surya Hendra (2004:32) bahwa sebuah syarat untuk dapat
belajar dengan sebaik-baiknya adalah tersedianya tempat belajar. Selanjutnya
Slameto (2003:76) mengungkapkan bahwa untuk dapat belajar yang efektif
diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur. Lingkungan fisik tersebut
berkaitan erat dengan penyediaan fasilitas belajar bagi siswa, misalnya:
1. Ruang belajar harus bersih, tak ada bau-bauan yang mengganggu konsentrasi
pikiran.
2. Ruangan cukup terang, tidak gelap yang dapat mengganggu mata.
3. Cukup sarana yang diperlukan untuk belajar, misalnya alat pelajaran, bukubuku, dan sebagainya.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa ruang belajar erat hubungannya
dengan kegiatan belajar siswa, dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa.
Dengan tersedianya ruang belajar yang bersih, memiliki sirkulasi udara yang
lancar, tidak ada bau-bauan dalam ruangan yang dapat mengganggu konsentrasi
pikiran maka akan menggairahkan siswa untuk belajar sehingga prestasi
belajarnya akan lebih baik.
d.

Sarana belajar IPS di rumah

Menurut Hasbullah Tabrani (1994:48) sarana belajar adalah segala kebutuhan
logistik tertentu yang dibutuhkan dalam belajar, seperti ruang belajar yang bebas

21

dari gangguan, situasi dan suhu udara yang baik, dan penerangan serta
perlengkapan yang baik dan cukup.
Selanjutnya menurut pendapat Roestiyah (1994:151) bahwa belajar juga
memerlukan sarana secukupnya, jika sarana belajar yang dibutuhkan siswa tidak
tercukupi maka siswa tersebut dapat terganggu belajarnya. sebab sarana belajar
yang memadai akan dapat mendorong siswa bergairah dalam belajar sehingga
tujuan belajar dapat tercapai.
Dari pendapat di atas belajar memerlukan sarana belajar yang lengkap yang akan
menunjang keberhasilan dalam belajar. Sarana belajar yang lengkap akan
membuat siswa bergairah dalam belajar sehingga prestasi belajarnya akan lebih
baik, sebaliknya apabila sarana belajar yang dimiliki siswa tidak lengkap maka
siswa akan terganggu dalam belajarnya.
Selanjutnya Oemar Hamalik (2001:196) menyebutkan bahwa suatu lingkungan
belajar memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi Psikologis
Stimulus berfungsi dari lingkungan yang merupakan rangsangan terhadap
individu sehingga terjadi respons dan pada gilirannya menjadi suatu stimulus
baru yang menimbulkan respons baru demikian seterusnya. Ini berarti
lingkungan mengandung makna dan melaksanakan fungsi psikologis tertentu.
2. Fungsi Pedagogis
Lingkungan memberikan pengaruh yang bersifat mendidik, khususnya
lingkungan yang sengaja disiapkan sebagai suatu lembaga pendidikan,
misalnya keluarga, sekolah dan lembaga latihan. Masing-masing lembaga
tersebut memiliki program pendidikan, baik tertulis maupun yang tidak tertulis.
3. Fungsi Instruksional
Program intruksional merupakan suatu lingkungan pengajaran dari
pembelajaran yang dirancang secara khusus. Guru yang mengajar, media
pengajaran dan kondisi lingkungan kelas merupakan lingkungan yang sengaja
dikembangkan untuk mengembangkan tingkah laku kita.

22

Berdasarkan kutipan di atas dapat disimpulkan lingkungan belajar yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah kondisi dan suasana tempat belajar siswa di
lingkungan rumah yang mencakup pengawasan orang tua, hubungan dengan
keluarga, ruang belajar di rumah, sarana belajar di rumah. Lingkungan belajar
merupakan penciptaan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya
proses belajar yang baik. Dengan adanya lingkungan belajar yang baik, maka akan
dapat mendukung lancarnya kegiatan belajar.
5. Prestasi Belajar

Pengertian prestasi belajar menurut Abu Ahmadi (1998:21) adalah hasil yang
dicapai dalam suatu usaha kegiatan belajar, dan kegiatan belajar itu sendiri adalah
berusaha mengadakan perubahan situasi dalam proses perkembangan dirinya
untuk mencapai tujuan. Sedangkan Muhibin (2009:141) menyebutkan bahwa
prestasi belajar merupakan taraf keberhasilan siswa dalam mempelajari materi
pelajaran di sekolah dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh hasil tes
mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai siswa dalam suatu usaha (kegiatan
belajar) dan perwujudan belajar siswa dapat dilihat pada nilai yang diperoleh
siswa setelah mengikuti tes (Abu Ahmadi, 1991:21). Berdasarkan definisi di atas
dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar ialah hasil yang dicapai siswa setelah
mengikuti kegiatan belajar dari sejumlah materi yang diberikan guru dalam
bentuk nilai atau angka selama waktu tertentu.
Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menurut Sapriya (2009:18) adalah
merupakan nama mata pelajaran ditingkat sekolah dasar dan menengah atau nama

23

program studi diperguruan tinggi yang identik dengan istilah “social studies”. Jadi
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah ilmu-ilmu sosial yang dipilih dan
disesuaikan bagi pengguna program pendidikan di sekolah atau bagi kelompok
belajar lainnya yang sederajat. Jadi pengertian tentang prestasi belajar dan IPS
yang telah dikemukakan di atas maka diperoleh pengertian prestasi belajar IPS
adalah nilai yang dicapai siswa dalam mata pelajaran IPS setelah seorang siswa
selesai mengikuti kegiatan belajar.

B. Kerangka Pikir

Setiap kebiasaan belajar yang teratur dapat berhubungan dengan prestasi belajar.
Adapun indikator dalam menentukan kebiasaan belajar adalah perencanaan jadwal
dan pelaksanaannya, membaca buku pelajaran IPS, mengulangi bahan pelajaran
IPS, mengerjakan tugas IPS, tetapi pada dasarnya, kemauan dan keteraturan dalam
kebiasaan belajar ini, serta lingkungan belajar di rumah yang mendukung menjadi
suatu motivasi yang diduga berhubungan terhadap pencapaian prestasi belajar
pada setiap siswa. Atas hal tersebut, maka ada ketertarikan dari peneliti untuk
mengadakan penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Kebiasaan Belajar dan
Lingkungan Belajar di Rumah dengan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas VIII di
SMP Negeri 3 Jati Agung”.
Dalam penelitian ini akan terlihat hubungan dari variabel bebas (X), yaitu
kebiasaan belajar (X1) dan lingkungan belajar di rumah (X2), terhadap variabel
terikat (Y), yaitu prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Lebih jelasnya
dapat dilihat pada diagram alir berikut:

24

Kebiasaan belajar (X1)
Prestasi belajar IPS
(Y)
Lingkungan belajar di rumah (X2)

Gambar 1. Diagram alir kerangka pikir hubungan antara kebiasaan belajar dan
lingkungan belajar di rumah dengan prestasi belajar siswa.

C. Hipotesis

Hipotesis yang akan diuji adalah:
1. Ada hubungan positif yang erat dan signifikan antara kebiasaan belajar dengan
prestasi belajar IPS siswa Kelas VIII di SMP Negeri 3 Jati Agung.
2. Ada hubungan positif yang erat dan signifikan antara lingkungan belajar di
rumah dengan prestasi belajar IPS siswa Kelas VIII di SMP Negeri 3 Jati
Agung.
3. Ada hubungan positif yang erat dan signifikan antara kebiasaan belajar dan
lingkungan belajar di rumah dengan prestasi belajar IPS siswa Kelas VIII di
SMP Negeri 3 Jati Agung.

25

III.

METODE PENELITIAN

A. Metode penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian korelasi.
Menurut Iskandar (2008:63) penelitian korelasi yaitu penelitian hubungan sebab
akibat. Menurut Sumadi Suryabrata, (2003:82). Tujuan penelitian korelasi adalah
untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan
variasi-variasi pada satu atau lebih faktor berdasarkan koefisien korelasi.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Suharsimi Arikunto (2006:130) yang dimaksud dengan populasi adalah
seluruhan subyek penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah
seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 3 Jati Agung tahun pelajaran 2011-2012
yang terdiri dari 4 kelas yang berjumlah 159 siswa.

26

2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Suharsimi Arikunto
(2006:131) menyatakan bahwa untuk sekadar ancer-ancer, maka apabila
subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya
merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat
diambil antara 10-15%, atau 20-25, atau lebih.
Melihat jumlah populasi yang cukup banyak, maka dalam penelitian ini akan
diambil sampel sebesar 25% dari jumlah populasi 159 siswa, yaitu berjumlah 40
siswa dengan sampel cadangan pada masing-masing kelas sebanyak 2 siswa.
Sementara itu, pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik
Proporsional

Random

Sampling,

yaitu

pengambilan

sampel

dengan

memperhatikan jumlah populasi dalam tiap-tiap kelas yang dilakukan secara acak
(random) dengan diundi untuk penarikan calon responden sesuai dengan jumlah
yang ditentukan.
Adapun cara pengambilan sampelnya yaitu sebagai berikut:
1. Menentukan jumlah sampel setiap kelas dengan cara: jumlah siswa masingmasing kelas yang merupakan anggota populasi dikalikan banyaknya sampel
yang akan diambil yaitu sebesar 25%.
2. Menulis nama populasi per kelas pada kertas kemudian digulung dan
dimasukan ke dalam kotak untuk diundi. Nama yang keluar diambil sebagai
responden untuk sampel tiap kelas, setelah itu dimasukkan lagi sehingga
setiap populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih kembali.
Kemudian dilakukan pengundian kembali untuk mendapatkan nama

27

responden lain. Jika nama sampel sebelumnya keluar kembali maka tidak
ditulis lagi sebagai sampel. Demikian seterusnya sampai jumlah sampel dan
cadangannya sebanyak yang sudah ditentukan. Untuk selanjutnya jumlah
sampel dan cadangan tiap kelas dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:
Tabel 3. Jumlah Populasi, Sampel, dan Sampel Cadangan Penelitian
menurut Kelas
No
1
2
3
4
Jumlah

Kelas
VIII..A
VIII. B
VIII. C
VIII. D

Populasi
40
40
39
40
159

Sampel
10
10
10
10
40

Cadangan
2
2
2
2
8

Sumber: Hasil Perhitungan

C. Variabel Penelitian

Variabel penelitian diartikan sebagai segala sesuatu yang menjadi objek
pengamatan penelitian, sering juga dinyatakan variabel penelitian ini sebagai
faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala-gejala yang akan diteliti.
(Sumadi Suryabrata, 2003:25). Variabel dalam penelitian ini ada tiga variabel,
yaitu dua variabel bebas dan satu variabel terikat:
1. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah kebiasaan belajar siswa (X1) dan
lingkungan belajar siswa di rumah (X2)
2. Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah prestasi belajar IPS siswa kelas
VIII di SMP Negeri 3 Jati Agung.

28

D. Definisi Operasional Variabel

1. Kebiasaan Belajar
Kebiasaan belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah cara bertindak yang
diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang yang pada akhirnya menjadi
menetap dan bersifat otomatis. Dalam penelitian ini, keteraturan kebiasaan belajar
yang dimaksud mencakup:
a. Pelaksanaan jadwal IPS, merupakan perencanaan pembagian waktu untuk
sejumlah kegiatan yang dilaksanakan oleh seseorang setiap harinya secara
teratur.
1. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang baik, apabila siswa
melaksanakan jadwal IPS yang telah dibuatnya, maka diberi skor 3.
2. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang kurang baik, apabila siswa
jarang melaksanakan jadwal IPS yang telah dibuatnya, maka diberi skor 2.
3. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang buruk, apabila siswa tidak
pernah malaksanakan jadwal IPS yang telah dibuatnya, maka diberi skor 1.
b. Membaca buku pelajaran IPS, merupakan suatu kegiatan memahami isi
(makna) dari apa yang tertulis pada buku tersebut.
1. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang baik, apabila siswa rajin
membaca buku pelajaran IPS, maka diberi skor 3.
2. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang kurang baik, apabila siswa
jarang rajin membaca buku pelajaran IPS, maka diberi skor 2.
3. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang buruk, apabila siswa jarang
membaca buku pelajaran IPS, maka diberi skor 1.

29

c. Mengulangi bahan pelajaran IPS, merupakan kegiatan mempelajari kembali
materi pelajaran yang telah didapatnya, baik hasil dari membaca atau
mendengarkan penjelasan yang telah disampaikan oleh guru.
1. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang baik, apabila siswa
mengulangi bahan pelajaran IPS di rumah, maka diberi skor 3.
2. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang kurang baik, apabila siswa
jarang mengulangi bahan pelajaran IPS di rumah, maka diberi skor 2.
3. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang buruk, apabila siswa tidak
pernah mengulangi bahan pelajaran IPS di rumah, maka diberi skor 1.
d. Mengerjakan tugas, adalah melakukan kegiatan yang telah diperintahkan oleh
guru dan wajib dikerjakan oleh siswa.
1. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang baik, apabila siswa
mengerjakan tugas IPS secara mandiri, maka diberi skor 3.
2. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang kurang baik, apabila siswa
jarang mengerjakan tugas IPS secara mandiri, maka diberi skor 2.
3. Dikategorikan sebagai kebiasaan belajar yang buruk, apabila siswa tidak
pernah mengerjakan tugas IPS secara mandiri, maka diberi skor 1.
Untuk mendapatkan data mengenai keteraturan kebiasaan belajar siswa, siswa
diberi 22 pertanyaan dalam bentuk angket. Skor yang diberikan untuk tiap item
adalah skor 3 untuk jawaban yang digolongkan kebiasaan belajar yang baik, skor
2 untuk jawaban yang digolongkan kebiasaan belajar yang kurang baik, dan skor 1
untuk jawaban yang digolongkan kebiasaan belajar yang buruk.
Rumus interval yang digunakan untuk menentukan kategori kebiasaan belajar ini
sebagai berikut:

(Soegyarto Mangkuatmodjo, 1997:37)

30

Keterangan:
NT = Skor yang paling tinggi
NR = Skor yang paling rendah
K = Kelas interval
Jadi:

Berdasarkan rumus interval di atas, maka kebiasaan belajar dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
Skor 52-66

= Kebiasaan belajar yang baik

Skor 37-51

= Kebiasaan belajar kurang baik

Skor 22-36

= Kebiasaan siswa yang buruk

2. Lingkungan Belajar di Rumah

Lingkungan belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kondisi dan
suasana tempat belajar siswa di rumah. Kondisi lingkungan yang dimaksud adalah
lingkungan fisik maupun sosial yang berasal dari keluarga. Indikatornya adalah
sebagai berikut pengawasan orang tua, hubungan dengan keluarga, ruang belajar
di rumah, sarana belajar di rumah.
a. Kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya di rumah, adalah kontrol
atau pengawasan orang tua yang hubungannya dengan kegiatan belajar, dalam
rangka mencapai prestasi belajar yang baik. Seperti orang tua selalu
memberikan perhatian dan pengawasan pada saat belajar di rumah, orang tua
sela

Dokumen yang terkait

KORELASI ANTARA KEBIASAAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS X MAN BANDING AGUNG OKU SELATAN TAHUN PELAJARAN 2012-2013

1 39 47

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR DAN LINGKUNGAN BELAJARTERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN ILMU Pengaruh Motivasi Belajar Dan Lingkungan Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu Pada Siswa Kelas VIII Di Sekolah Meneng

0 1 18

PENGARUH MOTIVASI BELAJAR DAN LINGKUNGAN BELAJARTERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN ILMU Pengaruh Motivasi Belajar Dan Lingkungan Belajar Terhadap Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu Pada Siswa Kelas VIII Di Sekolah Meneng

0 2 11

HUBUNGAN MINAT BELAJAR DAN KEDISIPLINAN SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA BIDANG STUDI EKONOMI KELAS VIII SMP NEGERI 3 STABAT TAHUN AJARAN 2011/2012.

0 3 20

HUBUNGAN ANTARA KENAKALAN REMAJA DAN LINGKUNGAN KELUARGA DENGAN PRESTASI HUBUNGAN ANTARA KENAKALAN REMAJA DAN LINGKUNGAN KELUARGA DENGAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN EKONOMI PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 3 MOJOSONGO TAHUN AJARAN 2010/2011.

0 2 16

Hubungan minat belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VI SD Negeri Babarsari tahun pelajaran 2011/2012.

0 0 153

Hubungan bimbingan guru di kelas, minat belajar dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial : studi kasus pada siswa kelas VIII SMP Santa Theresia, Pangkalpinang.

0 2 151

HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DAN MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS XI ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SMA NEGERI 3 BOYOLALI TAHUN AJARAN 2012/2013.

0 0 17

PENGARUH MINAT DAN KEBIASAAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL KELAS V SD NEGERI SUDIMARA

0 0 16

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN NUMERIK DAN KEBIASAAN BELAJAR SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 BAYAT TAHUN PELAJARAN 20162017 SKRIPSI

1 3 26