Maklumat Pemerintah Tanggal 14 November 1945
11. Pangeran Soerjohamidjojo Anggota 12. Pangeran Poerbojo Anggota
13.
Dr. Mohammad Amir Anggota
14. Mr. Abdul Abbas Anggota 15. Mr. Mohammad Hasan Anggota
16.
Dr. GSSJ Ratulangi
Anggota 17. Andi Pangerang Anggota
18. A.H. Hamidan Anggota 19. I Goesti Ketoet Poedja Anggota
20.
Mr. Johannes Latuharhary Anggota
21.
Drs. Yap Tjwan Bing
Anggota Selanjutnya tanpa sepengetahuan
Jepang , keanggotaan bertambah 6 yaitu :
1.
Achmad Soebardjo Anggota
2.
Sajoeti Melik Anggota
3.
Ki Hadjar Dewantara Anggota
4.
R.A.A. Wiranatakoesoema Anggota
5.
Kasman Singodimedjo Anggota
6.
Iwa Koesoemasoemantri Anggota
PERSIDANGAN Tanggal
9 Agustus 1945
, sebagai pimpinan PPKI yang baru, Soekarno
, Hatta
dan Radjiman
Wedyodiningrat diundang ke
Dalat untuk bertemu
Marsekal Terauchi . Setelah pertemuan
tersebut, PPKI tidak dapat bertugas karena para pemuda mendesak agar proklamasi kemerdekaan tidak dilakukan atas nama PPKI, yang dianggap merupakan alat buatan Jepang. Bahkan rencana
rapat 16 Agustus
1945 tidak dapat terlaksana karena terjadi
peristiwa Rengasdengklok .
Setelah proklamasi, pada tanggal 18 Agustus
1945 , PPKI memutuskan antara lain:
1. mengesahkan Undang-Undang Dasar, 2. memilih dan mengangkat Ir. Soekarno sebagai presiden dan Drs. M. Hatta sebagai wakil
presiden RI, 3. membentuk Komite Nasional untuk membantu tugas presiden sebelum DPRMPR
terbentuk.
Berkaitan dengan UUD
, terdapat perubahan dari bahan yang dihasilkan oleh BPUPKI
, antara lain:
1. Kata Muqaddimah diganti dengan kata Pembukaan.
2.
Kalimat Ketuhanan, dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya di dalam
Piagam Jakarta diganti dengan Ketuhanan yang Mahaesa.
3. Mencoret kata-kata … dan beragama Islam pada pasal 6:1 yang berbunyi Presiden ialah orang Indonesia Asli dan beragama Islam.
4. Sejalan dengan usulan kedua, maka pasal 29 pun berubah.
C. PERISTIWA RENGASDENGKLOK
Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa dimulai dari “penculikan” yang dilakukan oleh sejumlah pemuda a.l.
Adam Malik dan
Chaerul Saleh dari Menteng 31 terhadap
Soekarno dan
Hatta . Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30. WIB, Soekarno dan Hatta
dibawa ke Rengasdengklok
, Karawang
, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia,sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua
yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo
dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi
apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA
mendukung rencana tersebut.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Kamis,
16 Agustus 1945
di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Kie Siong
. Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah itu.
Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang
Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus
, karena mereka tahu esok harinya Indonesia akan merdeka.
Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto
dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Mr.
Achmad Soebardjo , kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk
menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati
dan Guntur
. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur
56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus
1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan
dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia
yang diketik oleh Sayuti Melik
menggunakan mesin ketik yang “dipinjam” tepatnya sebetulnya diambil dari kantor Kepala Perwakilan
Angkatan Laut Jerman
, Mayor Laut Dr. Hermann Kandeler.
D. PIAGAM JAKARTA
Piagam Jakarta adalah hasil kompromi tentang dasar negara Indonesia
yang dirumuskan oleh Panitia Sembilan dan disetujui pada tanggal
22 Juni 1945
antara pihak Islam
dan kaum kebangsaan nasionalis. Panitia Sembilan merupakan panitia kecil yang dibentuk oleh
BPUPKI .
Di dalam Piagam Jakarta terdapat lima butir yang kelak menjadi Pancasila
dari lima butir, sebagai berikut:
1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Pada saat penyusunan UUD pada Sidang Kedua BPUPKI
, Piagam Jakarta dijadikan Muqaddimah
preambule . Selanjutnya pada pengesahan
UUD 45 18 Agustus 1945 oleh
PPKI ,
istilah Muqaddimah diubah menjadi Pembukaan UUD setelah butir pertama diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Perubahan butir pertama dilakukan oleh Drs. M.
Hatta atas usul
A.A. Maramis
setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo
dan Ki
Bagus Hadikusumo .
Naskah Piagam Jakarta ditulis dengan menggunakan ejaan Republik
dan ditandatangani oleh Ir.
Soekarno ,
Mohammad Hatta ,
A.A. Maramis ,
Abikoesno Tjokrosoejoso ,
Abdul Kahar Muzakir ,
H.A. Salim ,
Achmad Subardjo ,
Wahid Hasjim , dan
Muhammad Yamin .
E. PROSES PENYUSUNAN SILA-SILA PANCASILA DAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945