PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS TINGGI SD NEGERI 2 KAMPUNG BARU BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2013/2014

ABSTRAK
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBER
HEAD TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR
MATEMATIKA SISWA KELAS TINGGI SD NEGERI 2
KAMPUNG BARU BANDAR LAMPUNG
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
Oleh
AMRISA NURUL AINI

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh modelpembelajaran kooperatif
tipe
Number
Head
Together(NHT)
terhadap
hasilbelajar
matematikasiswa.Penelitian ini menggunakan desain pretest-posttestnon-equivalen
control group design.Sampel penelitian adalah siswa kelas VAdan VByang dipilih
dari populasi kelas tinggiyang terdiri dari enam kelas secara purposive sampling.Data
penelitian yang digunakan yaitu data kuantitatif berupa data nilaipretest-posttest
yang diubah ke dalam bentuk skor gain.Hasil penelitian dan analisis data N-Gain menunjukkan rata-rataN-gain kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipeNumber Head Together lebih tinggi dari rata-rataN-gain kelas yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Dengandemikiandapatdisimpulkanbahwamodel
pembelajaran
Number
Head
Together(NHT)
berpengaruhpositif
terhadappeningkatan hasilbelajar matematika siswa SD Negeri 2 Kampung Baru
Bandar Lampung.

Kata kunci: Model pembelajaran NHT, model konvensional, hasil belajarmatematika.

RIWAYAT HIDUP

Penulisdilahirkandi Martapurapada05Februari 1992, merupakananak

bungsu

daritiga

belasbersaudarapasangan

BapakSa’ari

BurniatdanIbuSiti

Aminah.Penulisbertempat

tinggal di jalan Jend. Sudirman nomor 514Martapura, OKU
Timur, Sumatera Selatan 32181.
Penulis

menempuh

pendidikanformal

diSD

Negeri

121Martapura(1997-

2003),SMPNegeri2 Martapura (2003-2006),SMANegeri1 Martapura(2006-2009),
dan diterima pada program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)FKIP
Unilamelalui jalur SNMPTN.Penulis aktif dalam organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler sejak duduk dibangku SMP. Saat SMP, penulis aktif sebagai pengurus
OSIS dan anggotamarching band sekolah. Sedangkan saat duduk di bangku SMA,
penulis aktif dalam kegiatan Paskibra Sekolah dan Paskibra Kabupaten OKU
Timur, serta Ikatan Mourli Mekhanai OKU Timur.

Selamamenjadimahasiswa, penulis berpartisipasi padaUnit Kegiatan Mahasiswa
(UKM) Pramuka tingkat universitas. Pada periode 2010-2011 penulis terdaftar
sebagai calon anggota Pramuka Unila, periode 2011-2012

penulis diberikan

kepercayaan untuk menjadi koordinator Informasi-perpustakaan, dan pada periode
2012-2013 penulis menjabat sebagai Pemangku Adat Racana Puteri SilamayaPramuka Unila. Selain itu, penulis juga berkesempatan menjadi asisten pengajar

mata kuliah kepramukaan FKIP Unila pada tahun 2011-2013. Selain itu penulis
mengikuti beberapa pelatihan, seminar dan pengabdian, yaitu:
1.

Panitia Pelaksana Sosialisasi Kurikulum 2013 di kecamatan Way Kenangan
(Program KKN-KT Kec. Way Kenanga) pada tahun 2013.

2.

Seminar Kewirausahaan Kopma Unila, pada tahun 2013.

3.

Seminar Budaya Daerah, pada tahun 2013.

4.

Panitia Bakti Pramuka Racana Unila (BPRU) tahun 2010, 2011, 2012, dan
2013.

5.

Panitia Napak Tilas tahun 2010, 2011, 2012, dan 2013.

6.

Panitia Lokabina Karana Adiguna (LKA) tahun 2010, 2011, 2012, dan 2013.

7.

Training Pengurus Racana (Tapra) UKM Pramuka Universitas Lampung pada
tahun 2012.

8.

Panitia Kursus Mahir Pembina Pramuka Tingkat Dasar (KMD) tahun 2012.

9.

Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) Kwartir Cabang
Gerakan Pramuka Kota Bandar Lampung pada tahun 2011.

10. Latihan Pendidikan Dasar Kepramukaan (Ladiksar) UKM Pramuka
Universitas Lampung pada tahun 2010.
11. Seminar Bela Negara Komando Resimen Mahasiswa Raden Intan Satuan
201 Universitas Lampung, pada tahun 2010.
12. Panitia Temu Pembina Pramuka Perguruan Tinggi Nasional (TP3TN),
kerjasama antara UKM Pramuka Unila dengan Dirjen Dikti pada tahun 2010.

Moto
“"Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)
“Jika engkau tidak bisa menjadi batang nyiur yang tegar
Jadilah segumpal rumput tetapi mampu memperindah taman.”
(Sandi Racana Putera Saburai)
“Jika kata-Nya sampai, maka pasti akan sampai.
Jangan berhenti berusaha, dan berdoa!”
(Penulis)

PERSEMBAHAN

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang

Kupersembahkan karya sederhanaku ini untuk:
Keluargaku tercinta, Bapak(Sa’ari Burniat) dan Emak (Siti Aminah) yang luarbisa sabar,
selalu mendukung, memberikan limpahan kasih sayang tulus tanpa henti dan senantiasa
mendoakan kesuksesan ananda.
Kanda - yundaku: Salmah, Rosnah, Tabroni, Habi Hasan (Alm), Lisnawati (Alm), Ahmad
Zunaidi, Akmalina, Minawati, S.Pd., Samsudin, Sahrin, Rosita (alm), dan Ami Sarti yang
senantiasa memberikan dukungan dan motivasi pada adinda.
Keponakanku Agis, Asti, Diah, Dimas, Rizal, Abel, Amar, Alya, Jeje, Dito, Desya yang telah
menghadirkan warna-warni di hari-hariku.
Sahabat, teman-teman seperjuangan PGSD’10.
Serta Guru-guruku, Pahlawan tanpa tanda jasa.
Keluarga Besar Racana Raden Intan – Puteri Silamaya
Almamater tercinta
(I love you because Allah.)

SANWACANA

Pujisyukurkehadirat Allah SWT, karenaberkat rahmatdanhidayah-Nya penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai syarat memperoleh gelar sarjana
pendidikan pada program studi pendidikan guru sekolah dasar (PGSD).

Penulis menyadari dalam penyusunan skripsiinitidak terlepas dari bimbingan dan
bantuanberbagaipihak.Oleh karenaitupenulismenyampaikanterimakasihkepada:
1. Bapak Dr.Hi.Bujang Rahman,M.Si. selaku Dekan FKIP Universitas Lampung.
2. BapakDr.M.Thoha B.S. Jaya, M. S. selaku Pembantu Dekan I, dan Pembimbing I sekaligus Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan
dan motivasi selama masa studi dan dalam menyelesaikan skripsi.
3. BapakDrs.BaharuddinRisyak, M.PdselakuKetuaJurusanIlmu Pendidikan FKIP
Universitas Lampung.
4. Bapak Dr. Hi. Darsono, M.Pd. selaku Ketua Program Studi PGSD
5. Ibu Dra. Rini Asnawati, M.Pd.selaku Pembimbing IIyang telah memberikan
bimbingan dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi.
6. BapakDrs. M. Coesamin, M. Pd. selaku Pembahas yang telah memberikan
saran-saran perbaikan dan motivasi dalam penyelesaian skripsi.
7. Dosen serta Staf Jurusan Ilmu Pendidikan, semoga ilmu yang diberikan oleh
bapak/ibumenjadi amal jariyah dan bisa penulis sampaikan dengan benar di
kemudian hari.

iii

8. Ibu Ratna Aini, S.Pd., M.Pd.selaku Kepala SD N 2 Kampung Baru, Ibu Umi
Atiyah, S.Pd.dan Ibu Nurlela selakuWali Kelas yang telah membantu penulis
dalam melakukan penelitian.
9. Siswa-siswiKelasVA dan VBSD Negeri 2 Kampung Baru Bandar Lampung
TahunPelajaran 2013/2014atas partisipasi dankerjasamanya dalam penelitian
ini, semoga kalian mencapai cita-cita yang didambakan.
10. Keluarga yang selalu mendukung dan mendo’akan keberhasilanku.
11. Bapak Drs. Tontowi Amsia, M.Si.dan ibu Dra. Sasmiati, M.Hum., yang telah
memberikan motivasi dan dukungan baik dalam bidang akademik maupun
nonakademik
12. Keluarga keduaku, UKM Pramuka Unila. Anggota Racana RI-PS angkatan
29+ : kak Erwin, kak Uji, kak Oding, Sandi, Fajar, Maryeni, Wulan, Devi,
Nani, Annisa, Ilma, Ma’sum, Dewi, Fina, Ceppy, dan Ai, serta abangabangku: Sigit Juliadi, Joni Saputra, muhammad yusuf al-islami dan Ahmad
Fauzi, terimakasih atas segala rasa persaudaraan, perhatian, kasih sayang,
motivasi dan pengalaman berharga yang telah dilewati bersama.
13. Sahabat di PGSD angkatan 2010, Seiner, Suci, Duli, Fiko, Sule kiki, Cica,
Dedew, Tanti Ahjuma, Ibnu, Dwi Indah, Marin, Winda, Nio, Reni, Ria, Rika,
Cimul, Linda, Lady, Pindo, Fina, Rahmad, Imam, dan Dedi. Berbagi ilmu,
canda-tawa-haru, semangat untuk sukses bersama kalian sungguh sangat
luarbiasa.
14. Murobbi serta teman-teman halaqahku, terus istiqomah dan tetap semangat
mencari Ilmu Allah.

iv

15. Keluarga besar KKN-KT Way Kenangan, Bapak Budi Kadaryanto, Ina, Devy,
Tiur, Ngah Ririn, Riri, Ida, Aan, Eka dan Bambang. Belajar banyak hal
bersama kalian, dan melewati waktu yang sungguh penuh dengan manfaat.
16. Semuapihak yang telahmembantudalammenyelesaikanskripsiini.

Semoga

skripsiini

menjadi

lembaran-lembaran

curahan

fikiran

yang

bermanfaat,dan menjadi jalan untuk menuai amalbagi kita semua, aamiin.

Bandar Lampung, 25Juli2014
Penulis

Amrisa Nurul Aini

v

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL... ............................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. ix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................x
I.

PENDAHULUAN ............................................................................................1
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Latar Belakang ........................................................................................
Identifikasi Masalah ................................................................................
Rumusan Masalah dan Permasalahan .....................................................
Tujuan .....................................................................................................
Manfaat Penelitian ..................................................................................
Ruang Lingkup........................................................................................

1
7
8
8
8
9

II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 10
A. Belajar ..................................................................................................... 10
B. Hasil Belajar............................................................................................ 11
1. Pengertian Hasil Belajar ..................................................................... 11
2. Tujuan Pembelajaran .......................................................................... 12
C. Pembelajaran Kooperatif ........................................................................ 14
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif .................................................. 14
2. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif ............................................... 16
3. Tujuan Pembelajaran Kooperatif ........................................................17
4. Kelemahan Pembelajaran Kooperatif................................................. 18
5. Kelebihan Pembelajaran Kooperatif .................................................. 20
D. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together(NHT) ....21
E. Model Pembelajaran Konvensional ..................................................... 24
F. Matematika Sekolah Dasar (SD) ............................................................ 25
G. Kerangka Pemikiran............................................................................. 27
H. Hipotesis ................................................................................................. 30
III. METODE PENELITIAN............................................................................... 31
A. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................. 31
B. Populasi dan Sampel Penelitian ............................................................... 31

vi

C.
D.
E.
F.

Desain Penelitian ..................................................................................... 32
Prosedur penelitian ....................................................................................33
Jenis Data Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 34
Instrumen Penelitian ................................................................................ 35
1. Uji Validitas ....................................................................................... 35
2. Uji Reliabilitas ................................................................................... 36
3. Uji Daya Beda .................................................................................... 37
4. Tingkat Kesukaran ............................................................................. 38
G. Teknik Analisis Data ................................................................................ 39
1. Uji Normalitas .................................................................................... 39
2. Uji Homogenitas ................................................................................ 40
3. Uji Hipotesis ..................................................................................... 40
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..........................................

43

A. Gambaran Lokasi Penelitian .................................................................
B. Hasil Penelitian .....................................................................................
1. Pelaksanaan Pembelajaran ..............................................................
2. Analisis Data ...................................................................................
C. Analisis Uji Hipotesis ...........................................................................
D. Pembahasan ...........................................................................................

43
44
44
53
62
62

V. KESIMPULAN DAN SARAN...................................................................

66

A. Kesimpulan ...............................................................................................66
B. Saran ...................................................................................................... 66
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 68
LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Sebaran Nilai Matematika Siswa Kelas IV SDN 2 Kampung Baru............

5

2. Sebaran Nilai Matematika Siswa Kelas V SDN 2 Kampung Baru. ............

5

3. Sebaran Nilai Matematika Siswa Kelas VI SDN 2 Kampung Baru............

5

4. Jumlah siswa SD Negeri 2 Kampung Baru Bandar Lampung Tahun
Pelajaran 2013/2014 .................................................................................... 44
5. Distribusi frekuensi nilai pretest kelas eksperimen ..................................... 54
6. Distribusi frekuensi nilai pretest kelas kontrol............................................ 54
7. Distribusi frekuensi nilai posttest kelas eksperimen ................................... 54
8. Distribusi frekuensi nilai posttest kelas kontrol .......................................... 55
9. Perbandingan persentase antara nilai pretest dan posttest pada kelas
eksperimen dan kelas kontrol ...................................................................... 55
10. Data nilai hasil belajar matematika siswa sebelum pembelajaran ............ 56
11. Data nilai hasil belajar matematika siswa setelah pembelajaran .............. 57
12. Distribusi frekuensi data N-gain kelas eksperimen.................................. 58
13. Distribusi frekuensi data N-gain kelas kontrol ........................................ 59
14. Data N-gain kelas eksperimen dan kelas kontrol ...................................... 59
15. Hasil uji normalitas data hasil belajar kognitif siswa ............................... 61
16. Hasil uji homogenitas data hasil belajar kognitif siswa ............................ 61
17. Hasil uji-t data N-Gain .............................................................................. 62

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Diagram Hubungan antar Variabel ......................................................
2. DesainPretest-PosttestNon Equivalent. ...............................................
3. Grafik perbandingan persentase nilai pretest dan posttestpada kelas
eksperimen & kelas kontrol..................................................................
4. Grafik perbadingan data
nilaihasilbelajarmatematikasiswasebelumpembelajaran ......................
5. Grafik perbadingan data nilaihasilbelajarmatematikasiswa
sesudahpembelajaran ............................................................................
6. Grafik perbadingan data N-gain Kelas Ekserimen dan Kelas kontrol .

30
32
56
57
58
60

1

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki kualitas pendidikan yang baik.
Sudah menjadi pendapat umum bahwa maju atau tidaknya suatu bangsa dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Proses pendidikan dalam suatu bangsa merupakan upaya untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu
dan mampu bersaing dalam kehidupan bermasyarakat baik nasional maupun
global. Hal ini sejalan dengan bunyi pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional dimana fungsi dan tujuan pendidikan nasional
adalah sebagai berikut,

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu diwujudkan suatu pendidikan yang
berkualitas. Di Indonesia dikenal adanya istilah Tripusat Pendidikan, yaitu
Pendidikan Keluarga, Pendidikan Sekolah, dan Pendidikan Masyarakat (Suherman, 1994).

Ketiga komponen pendidikan tersebut dapat menjadi sebuah

formula yang akan menciptakan pendidikan yang berkualitas.

Komponen-

2
komponen tripusat tersebut dikemas dalam jalur, jenjang dan jenis pendidikan
yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Di dalam Undang-undang no. 20 Tahun 2003 pada pasal 13 dijelaskan bahwa
jalur pendidikan terdiri dari tiga jalur yaitu formal, nonformal dan informal.
Pendidikan formal merupakan wujud dari pendidikan sekolah dan keberadaannya diatur oleh Undang-undang. Jalur pendidikan formal atau pendidikan sekolah ini menjadi sangat penting setelah pendidikan keluarga, karena keberadaannya sebagai tolak ukur kemampuan siswa ketika mereka terjun dalam kehidupan masyarakat. Jalur pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Dalam Undang-undang tersebut dijelaskan pula,
Pendidikan Dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa pendidikan dasar

memiliki pengaruh yang besar terhadap keberlanjutan proses pendidikan siswa
pada jenjang berikutnya. Bisa dikatakan pula bahwa pendidikan dasar menjadi
fondasi awal bagi siswa, yang kelak akan menentukan kesuksesan mereka dalam menapaki jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu, penting bagi
para stakeholder untuk menyiapkan pendidikan yang bermutu terutama pendidikan dasar, agar kelak siswa memiliki kemampuan yang cukup dalam memain
peran mereka di masyarakat.

Dalam menciptakan pendidikan yang bermutu, diperlukan penciptaan keadaan
pembelajaran yang bermutu dan efektif pula, karena proses pendidikan tidak

3
bisa dilepaskan dari kegiatan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan dikemukakan Dalle (Winataputra: 1996) bahwa,

Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan,
yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk
mempersiapkan siswa agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.
Selanjutnya Usman (dalam Jihad, 2012) mengatakan, “Inti dari proses pendidikan secara keseluruhan adalah pembelajaran, dengan guru sebagai pemegang
peranan utama”. Karena eratnya hubungan antara pendidikan dengan kegiatan
pembelajaran, maka bisa dikatakan bahwa keberhasilan pendidikan ditentukan
oleh keberhasilan kegiatan pembelajaran.

Keberhasilan proses pembelajaran diukur dengan kualitas siswa. Hasil studi
Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2012 yang
telah dirilis hari Rabu, 4 Desember 2013 lalu, yang dikutip dari harian Suara
Pembaharuan (2013), Indonesia berada di peringkat kedua terbawah untuk skor
kemampuan Matematika. Dari total 65 negara dan wilayah yang masuk survei
PISA, Indonesia menduduki ranking ke-64 atau hanya lebih tinggi satu peringkat dari Peru yang ada diperingkat ke-65. PISA menguji kemampuan siswa di
tiga bidang yaitu Matematika, Membaca, dan Sains. Di bidang membaca, Indonesia berada di ranking 60 atau setingkat di bawah Malaysia yang berada di
ranking 59. Sedangkan untuk bidang Sains, Indonesia juga berada di urutan 64.
Alasan diadakannya studi yang dilakukan ditiga bidang yaitu Matematika,
Membaca dan Sains, adalah karena keberhasilan atau kemajuan suatu negara
akan sangat dipengaruhi oleh tingkat kemajuan di tiga bidang tersebut. Dari

4
hasil studi tersebut terlihat rendahnya kemampuan siswa di Indonesia, terutama
dalam matematika dan sains. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa kualitas pendidikan atau kegiatan pembelajaran yang ada di Indonesia masih belum maksimal. Ketidakmaksimalan proses pembelajaran di sekolah-sekolah dipengaruhi
oleh beberapa faktor, misalnya saja permasalahan kurangnya kompetensi atau
profesionalitas guru dalam mengajar, sarana prasarana penunjang pendidikan
yang kurang memadai, dan sistematisasi kegiatan belajar mengajar, atau bahkan bisa juga disebabkan kurikulum yang kurang efektif, serta bisa juga kemampuan siswa yang heterogen, dan masih banyak lagi permasalahan lainnya.

Permasalahan tersebut juga muncul hampir di sebagian sekolah yang ada di
Bandar Lampung. Berdasarkan hasil pengamatan di beberapa sekolah, dan dari
hasil wawancara dengan beberapa guru, terdapat beberapa hambatan dalam
pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas antara lain kurangnya sarana belajar di sekolah, lemahnya daya serap siswa dan kemampuan pemecahan soal yang bersifat terbuka. Terutama dalam mata pelajaran matematika, masih lemahnya kemampuan siswa dalam memahami permasalahan yang
bersifat penggabungan konsep-konsep matematika. Serta belum diterapkannya
metode atau model pembelajaran yang variatif dan efektif dalam pembelajaran,
dan kurangnya pengetahuan guru tentang alat peraga sehingga guru tidak
menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Salah satu sekolah di Bandar
Lampung yang juga memiliki permasalahan dengan pembelajaran terutama dalam pembelajaran matematikanya, adalah SD Negeri 2 Kampung Baru. Data
nilai hasil Ulangan Harian, Ujian Tengah semester, dan Ujian Akhir Semester
pada mata pelajaran Matematika siswa di Kelas Tinggi SD Negeri 2 Kampung

5
Baru, yang tergambar pada tabel sebaran nilai matematika dari siswa kelas
Tinggi SD Negeri 2 Kampung Baru berikut,

Tabel 1. Sebaran Nilai Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 2 Kampung
Baru.
FREKUENSI (f)
NO.

SEBARAN
NILAI

ULANGAN
HARIAN

PERSENTASE (%)

UTS

UAS

1
< 59
4
16
20
2
60-70
21
14
8
3
71-80
16
9
10
4
81-90
1
3
5
> 90
Sumber: Data daftar nilai wali kelas IV

ULANGAN
HARIAN

10,00
51,00
39,00
0,00
0,00

UTS

UAS

KKM

39,00 49,00
34,00 20,00
22,00 24,00
2,00 7,00
0,00 0,00

60

Tabel 2. Sebaran Nilai Matematika Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kampung
Baru.
FREKUENSI (f)

NO.

SEBARAN
NILAI

ULANGAN
HARIAN

1
2
3
4
5

< 59
60-70
71-80
81-90
> 90

2
31
15
2
-

UTS

PERSENTASE (%)

UAS

ULANGAN
HARIAN

UTS

UAS

19
12
11
8
-

4,00
62,00
30,00
4,00
0,00

42,00
32,00
16,00
10,00
0,00

38,00
24,00
22,00
16,00
0,00

21
16
8
5
-

KKM

60

Sumber: Data daftar nilai wali kelas V

Tabel 3. Sebaran Nilai Matematika Siswa Kelas VI SD Negeri 2 Kampung
Baru
FREKUENSI (f)

PERSENTASE (%)

NO.

SEBARAN
NILAI

ULANGAN
HARIAN

UTS

UAS

ULANGAN
HARIAN

UTS

UAS

1

< 59

4

8

0

8,00

17,00

0,00

2

60-70

10

15

13

21,00

31,00

27,00

3

71-80

18

17

29

38,00

35,00

60,00

4

81-90

16

8

6

33,00

17,00

13,00

5

> 90

-

-

-

0,00

0,00

0,00

Sumber: Data daftar nilai wali kelas VI

KKM

60

6
Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa pada kelas IV dan V persentase
siswa yang belum mencapai KKM masih cukup tinggi, sementara itu pada kelas VI persentase siswa yang belum mencapai KKM cukup rendah, hanya saja
masih belum ada siswa yang mencapai nilai rata-rata di atas 90. Persentase
yang terbanyak rata-rata berada di kisaran 60-80. Data tersebut manjadi gambaran juga bahwa nilai kemampuan siswa masih belum maksimal. Faktor yang
menjadi penyebab rendahnya nilai siswa dalam mata pelajaran matematika bisa
berasal dari dalam diri siswa sendiri (intrinsik) dan dari luar diri siswa (ekstrinsik). Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas di kelas tinggi (IVA,
IVB, VA, VB, VIA, VIB) dan hasil pengamatan di setiap kelas, sebagian besar
siswa mengalami kesulitan ketika mereka dihadapkan pada soal-soal yang bersifat pengabungan konsep-konsep, dan siswa nampak kurang antusias dalam
pelajaran matematika. Kurangnya antusiasme siswa dalam pembelajaran matematika mencermin kurangnya motivasi dan minat siswa, hal ini bisa digolongkan ke dalam faktor intrinsik. Sementara faktor ekstrinsik terlihat pada saat
pembelajaran berlangsung, guru masih mengajar dengan model pembelajaran
konvensional. Sehingga pembelajaran masih berpusat kepada guru, dan kurang
memberikan ruang kepada siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Berangkat
dari kenyataan ini perlu dicari solusi yang dapat mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut.

Solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan
membuat pembelajaran yang menarik, efektif dan variatif, salah satu caranya
dengan menggunakan model pembelajaran yang memberikan keleluasaan bagi
siswa untuk bereksplorasi dan berdiskusi dengan siswa lainnya, serta mampu

7
memberikan motivasi pada siswa untuk mampu memahami setiap materi atau
konsep yang didiskusikan. Hasil penelitian dari Elvira Rohmawati yang dilakukan pada tahun 2012, di kelas V SDN Keceme 1, model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) memiliki pengaruh terhadap perbaikan hasil belajar matematika siswa. Dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT,
semua siswa harus berperan aktif dalam mengikuti semua proses pembelajaran
di kelas.

Guru tidak lagi mendominasi proses pembelajaran dan hanya

bertindak sebagai fasilitator. Oleh karena itu, diperlukan adanya eksperimen
peneparan model Pembelajaran Kooperatif tipe NHT di dalam pembelajaran
matematika, di kelas tinggi SD Negeri 2 Kampung Baru pada tahun pelajaran
2013/2014. Namun seperti yang diketahui, pada kelas VI sedang berlangsung
transisi kurikulum, dan untuk kelas VI sedang difokuskan pada persiapan ujian
kelulusan. Oleh karena itu eksperimen penerapan model pembelajaran NHT ini
akan dilakukan di kelas V.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang dapat diidentifikasi masalah, yaitu:
1. Masih rendahnya hasil belajar matematika Siswa di kelas tinggi SD Negeri 2
Baru Kampung, dimana persentase nilai siswa di bawah KKM masih cukup
tinggi.
2. Siswa di SD Negeri 2 Kampung Baru mengalami kesulitan ketika dihadapkan kepada soal yang merupakan gabungan dari beberapa konsep matematika, dan kurangnya motivasi siswa dalam pembelajaran matematika.

8
3. Kurangnya penerapan metode atau model pembelajaran yang variatif. Guru
masih banyak mengajar dengan cara konvensional, kegiatan belajar masih
teacher center.

C. Rumusan Masalah dan Permasalahan

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah masih rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas V SD
Negeri 2 Kampung Baru Bandar Lampung.
Atas dasar rumusan masalah tersebut, maka permasalah dalam penelitan ini
adalah:
Apakah ada pengaruh dari penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe
NHT terhadap hasil belajar matematika siswa di kelas tinggi SD Negeri 2 Kampung Baru Bandar Lampung?

D.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh dari
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap peningkatan
hasil belajar matematika Siswa di kelas tinggi SD Negeri 2 Kampung baru
Bandar Lampung

E.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa manfaat, diantaranya adalah:
1. Sebagai masukan bagi para guru supaya dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada pembelajaran matematika.

9
2. Sebagai alternatif pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
3. Sebagai penambah wawasan ilmu pengetahuan dan memberikan pengalaman belajar bagi peneliti dalam keterampilan melakukan penelitian.

F. Ruang Lingkup

Agar penelitian ini mencapai sasaran sebagaimana yang telah dirumuskan,
maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada:
1. Hasil belajar
Hasil belajar yang dimaksud khusus dalam aspek kognitif, dan diketahui dari
nilai tes sebelum dan setelah dilakukan kegiatan pembelajaran.
2. Model Pembelajaran Kooperatif tipe NHT
Model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan pembelajaran dimana
siswa bekerja bersama-sama di dalam kelompok. setiap anggota akan mendapatkan nomor (numbering), kemudian siswa bersama-sama berpikir (head
together) untuk mencari pemecahan masalah yang mereka hadapi (questioning), dan saling membantu menemukan konsep ilmu serta mengkonstrusi
pemahaman tentang konsep ilmu yang mereka temukan (answering).
3. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dikatakan berpengaruh pada hasil
belajar siswa apabila N-gain nilai hasil belajar matematika siswa di kelas
yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih tinggi
daripada N-gain nilai hasil belajar matematika siswa yang menggunakan
model pembelajaran konvensional.

10

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Belajar

Secara konstruktivisme, istilah belajar diartikan sebagai proses pengkonstruksian
pengetahuan yang dilakukan oleh siswa sendiri. Sardiman (2012: 38) mengatakan,
“Belajar adalah kegiatan yang aktif dimana si subjek belajar membangun sendiri
pengetahuannya, dan subjek belajar juga mencari sendiri makna dari sesuatu yang
mereka pelajari”. Pendapat Sardiman senada dengan apa yang dikemukakan oleh
Brunner (Trianto, 2010) bahwa:

Belajar adalah suatu proses aktif dimana siswa membangun (mengkonstruk)
pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman/ pengetahuan yang sudah
dimilikinya. Belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar tidak
dipandang sebagai kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan kegiatan belajar adalah suatu kegiatan atau proses dimana siswa membuat
bangunan ilmu pengetahuan atau konsep dengan cara mereka sendiri. Guru hanya
sebagai fasilitator bagi siswa dalam menyusun pemahamannya tentang suatu konsep ilmu pengetahuan. Seperti yang dikatakan oleh Nur (dalam Trianto, 2010),
“Guru dapat memberikan anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang
lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga ter-

11
sebut”. Guru harus memiliki keyakinan bahwa siswa mampu meniti setiap anak
tangga menuju puncak pemahaman tentang suatu ilmu pengetahuan. Seperti
Brunner (dalam Sardiman, 2012) yang memandang bahwa manusia adalah sebagai
pemroses, pemikir, dan pencipta informasi.

Istilah belajar terkait dengan kegiatan pembelajaran. Trianto (2010: 17) mengemukakan, “Pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru untuk
membelajarkan peserta didiknya (mengarahkan interaksi peserta didik dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan”. Sementara
Suherman (dalam Jihad, 2012) berpendapat bahwa, “Pembelajaran pada hakikatnya
merupakan proses komunikasi antara peserta didik dengan pendidik serta antar
peserta didik dalam rangka perubahan sikap”. Sejalan dengan Suherman, Rusman
(2013) menyatakan bahwa pembelajaran pada hakikatnya suatu proses interaksi
antara guru dan siswa, baik secara langsung seperti kegiatan tatap muka, maupun
secara tidak langsung yaitu menggunakan beragam media.

Berdasarkan pemikiran para ahli tersebut, pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang membuat peserta didik mengalami proses belajar, melalui kegiatan
interaksi antara guru atau sumber belajar dengan siswa.

B. Hasil Belajar

1.

Pengertian Hasil Belajar

Menurut Abdurahman (dalam Jihad dan Haris, 2012), hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Romizowski (dalam Winataputra, 1996) menyatakan, “Hasil Belajar merupakan keluaran

12
(output) dari suatu sistem pemrosesan masukan (input)”. Sejalan dengan pendapat dua ahli tersebut, Hamalik (2013, 31) mengatakan bahwa “hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan sikapsikap, serta apersepsi dan abilitas”. Sudjana (2004, 22) berpendapat bahwa,
“Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik
setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Berdasarkan pendapat para ahli
tersebut dapat disimpulkan bahwa, hasil belajar adalah segala sesuatu atau
perubahan yang terjadi pada peserta didik yang diakibatkan adanya proses
belajar atau pengalaman belajar yang dilakukan oleh peserta didik.

2.

Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran adalah rumusan kemampuan yang diharapkan dikuasai
siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran (Herry, 2007). Jihad dan Haris
(2012: 14) berpendapat, pencapaian hasil belajar atau kompetensi mencakup
ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Seperti yang dikemukakan Jihad dan
Haris, Bloom (dalam Winataputra, 1996) juga menyatakan bahwa kompetensi
yang dicapai siswa mencakup 3 ranah tersebut, yang biasa dikenal dengan sebutan Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom tersebut dijadikan acuan dalam
perencanaan tujuan pembelajaran. Bloom dan kawan-kawan (dalam Khusnulnisa, 2013) yang mengemukakan bahwa, Domain kognitif terdiri dari Remember (mengingat), Understand (memahami), Apply (mengaplikasikan), Analize
(Menganalisis), Evaluate (mengevaluasi), Create (mencipta). Sementara domain afektif mencakup hasil belajar berupa sikap yang tampak pada setiap

13
prilaku siswa. Sementara domain psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan, kemampuan bertindak siswa.

Selanjut Usman (dalam Jihad, 2012) menjelaskan setiap bagian-bagian dari
setiap domain, yaitu:
a. Domain Kognitif
1) Pengetahuan , jenjang yang paling rendah dalam kemampuan kognitif
meliputi pengingatan tentang hal-hal yang bersifat khusus atau universal,
mengetahui metode dan proses, pengingatan terhadap suatu pola, struktur
atau setting.
2) Pemahaman, jenjang setingkat di atas pengetahuan ini akan meliputi
penerimaan

dalam

komunikasi

yang

akurat,

menematkan

hasil

komunikasi dalam bentuk penyajian yang berbeda, mereorganisasikannya
secara setingkat tanpa merubah pengertian dan dapat mengeksplorasinya.
3) Aplikasi atau penggunaan prinsip atau metode pada situasi yang baru.
4) Analisa, jenjang keempat ini akan menyangkut terutama kemampuan
anak dalam memisah-misah (breakdown) terhadap suatu materi menjadi
bagian-bagian yang membentuknya, mendeteksi hubungan di antara
bagian-bagian itu dan cara materi itu diorganisir.
5) Sintesa, jenjang yang sudah satu tingkat lebih sulit dari analisa ini adalah
meliputi anak untuk menaruhkan/menempatkan bagian-bagian atau
elemen satu/bersama sehingga membentuk suatu keseluruhan yang
koheren.
6) Evaluasi, jenjang yang paling atas atau yang dianggap paling sulit dalam
kemampuan pengetahuan anak didik. Meliputi kemampuan anak didik

14
dalam pengambilan keputusan atau dalam menyatakan pendapat tentang
nilai sesuatu tujuan, ide, pekerjaan, pemecaha masalah, metoda, materi
dan lain-lain.

b. Domain Kemampuan Sikap (affective) yaitu menerima atau memperhatikan,
merespon, penghargaan, mengorganisasikan, dan mempribadi (Mewatak).

c. Domain Psikomotorik yaitu menirukan, manipulasi, keseksamaan, artikulasi, dan aktulisasi.

Matematika erat kaitannya dengan kemampuan kognitif. Oleh karena itu dalam penelitian ini kemampuan siswa yang diamati difokuskan pada ranah kognitif. Jenjang ranah kognitif yang digunakan mulai dari jenjang kognitif 1 (C1)
yaitu remember (mengingat) sampai jenjang kognitif 3 (C3) yaitu apply
(mengaplikasikan).

C. Pembelajaran Kooperatif

1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Dalam bahasa Inggris Pembelajaran Kooperatif lazimnya disebut sebagai Cooperative Learning. Johnson (dalam Isjoni, 2013) mengemukakan,
Cooperanon means working together to accomplish shared goals. Within
cooperative activities individuals seek outcomes that are beneficial to all
other groups members. Cooperative Learning is the instructional use off
small groups that allows student to work together to maximize their own
and each other as learning.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diartikan bahwa pembelajaran kooperatif
berarti bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kerjasama

15
individu mencari hasil yang menguntungkan bagi semua anggota kelompok.
Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompokkelompok kecil yang memungkinkan peserta didik untuk bekerja sama dan memaksimalkan kemampuan mereka sendiri dan orang lain sebagai pembelajaran.
Sejalan dengan Johnson, Slavin (2005: 15) mengatakan bahwa, “In Cooperative
Learning methods, student work together in four members teams to master material initially presented by the teacher”. Hal tersebut berarti dalam pembelajaran
kooperatif, para peserta didik akan duduk bersama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang untuk menguasai materi yang disampaikan oleh guru.

Lie (Isjoni, 2013) menyebut Pembelajaran Kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan
kepada Peserta didik untuk bekerjasama dengan peserta didik lainnya dalam
tugas -tugas terstruktur. Selanjutnya menurut Isjoni (2013: 19), Cooperative
Learning merupakan strategi belajar dengan sejumlah peserta didik sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap peserta didik anggota kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Thompson
(Isjoni, 2013) mengemukakan, dalam Cooperative Learning

peserta didik

belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu
sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4-6 orang dengan
kemampuan yang heterogen.

Berdasarkan pendapat dari para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa
pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang berlandaskan pada prin-

16
sip kerjasama tim atau gotong royong. Kerjasama yang dilakukan bertujuan untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok secara bersama. Keberhasilan individu
bergantung pada keberhasilan kerja dari semua anggota kelompoknya. Sehingga
mau tidak mau ketika seorang Peserta didik ingin berhasil, maka dia harus membantu teman sekelompoknya untuk berhasil. Jika salah satu teman mereka ada
yang tidak memahami materi atau tugas yang diberikan, maka kelompok
tersebut dianggap gagal.

2. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif

Salah satu unsur yang paling terlihat dalam pembelajaran kooperatif tentunya
adalah kerjasama. Setiap siswa diajarkan atau diarahkan agar dapat bekerjasama
dengan baik di dalam kelompoknya. Sementara itu terdapat unsur lain dari pembelajaran kooperatif, yaitu tanggung jawab,
menghargai.

kebersamaan dan sikap saling

Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif menurut

Lungdren (dalam Isjoni, 2013) adalah sebagai berikut:
a.

Para peserta didik harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau
berenang bersama”.

b.

Para peserta didik harus memiliki tanggung jawab terhadap peserta didik
atau Peserta didik lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap
diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.

c.

Para peserta didik harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki
tujuan yang sama.

d.

Para peserta didik membagi tugas dan berbagi tanggung jawab di antara
para anggota kelompok.

17
e.

Para peserta didik diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut
berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.

f.

Para peserta didik berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh
keterampilan bekerjasama selama belajar.

g.

Setiap peserta didik akan diminta mempertanggungjawabkan secara
individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif

Bennet (dalam Isjoni, 2013) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap Cooperative Learning. Ada lima unsur yang membedakan kerja kelompok dan Pembelajaran Kooperatif:
a.

Positive Independent

b.

Interaction face to face

c.

Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam kelompok

d.

Membutuhkan keluwesan

e.

Meningkatkan keterampilan bekerjasama dalam memecahkan masalah
(proses kelompok).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan secara garis besar unsur-unsur
Pembelajaran Kooperatif adalah bekerja bersama-sama, rasa tanggungjawab individu, rasa saling ketergantungan positif antar anggota kelompok, dan penghargaan atau recognisi terhadap keberhasilan kelompok peserta didik.

3. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Ibrahim dalam rangkumannya (Jihad, 2012),
Model Cooperative Learning dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan
pembelajaran penting yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap

18
perbedaan individu dan pengembangan keterampilan sosial. Para pengembang model ini telah menunjukkan, model struktur penghargaan kooperatif
telah dapat meningkatkan nilai peserta didik pada hasil belajar akademik
dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
Isjoni (2013: 27-28) mengemukakan, “Beberapa ahli berpendapat bahwa model
ini unggul membantu peserta didik memahami konsep-konsep sulit, dan mengajarkan kepada peserta didik keterampilan bekerjasama dan kolaborasi”. Berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut, tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah
hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaab individu, menumbuhkan
keterampilan sosial, membantu siswa dalam pemahaman konsep-konsep sulit,
dan mengajarkan siswa bekerjasama dan berkolaborasi.

4. Kelemahan Pembelajaran Kooperatif

Setiap model pembelajaran akan berjalan dengan efisien jika dirancang dengan
baik. Namun bila tidak dirancang dengan baik, maka akan muncul hambatanhambatan selama pelaksanaannya. Slavin (2005: 90) mengemukakan beberapa
hambatan yang muncul jika kegiatan pembelajaran kooperatif tidak dirancang
dengan baik, yaitu:
a. Memicu munculnya “Pengendara Bebas” atau para pembonceng.
Sebagian anggota kelompok melakukan semua atau sebagian besar
pembelajaran, sementara yang lain hanya mengendarainya.
b. Difusi tanggung jawab
Untuk memudahkan kita memahami maknanya, Slavin (2005) memberikan
contoh apa yang dimaksud dengan difusi tanggung jawab. Misalnya, jika
tugas kelompok adalah menyelesaikan soal matematika yang rumit, ide atau

19
kontribusi peserta didik yang dianggap kurang mampu dalam matematika bisa
jadi diabaikan atau ditiadakan, dan hanya sedikit insentif yang dapat diperoleh partisipan yang lebih aktif dalam kegiatan penyelesaian masalah untuk
punya kesempatan menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan kepada
anggota kelompok yang kurang aktif.

Untuk meminimalisir adanya pengendara bebas pembelajaran kooperatif dapat
dilakukan dengan cara membuat undian nomor atau nama siswa yang akan menjelaskan hasil diskusi kelompok. Difusi tanggung jawab dalam pembelajaran
kooperatif dapat diminimalisir dengan mencoba menjelaskan kepada siswa bahwa pendapat setiap anggota wajib dipertimbangkan, dan guru pun harus
mengontrol kinerja dari setiap kelompok untuk memastikan bahwa kegiatan
kelompok berlangsung baik.

Sedangkan menurut Isjoni (2013), kelemahan dari model Pembelajaran Kooperatif ini bisa bersumber pada dua faktor, yaitu faktor dari dalam (intern) dan
faktor dari luar (ekstern). Faktor dari dalam yaitu :
a.

Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu
memerlukan lebih banyak pemikiran, tenaga dan waktu.

b.

Agar proses berjalan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan
biaya yang cukup memadai.

c.

Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecendrungan topik
permasalahan yang sedang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

20
d.

Saat diskusi kelas, terkadang didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan
peserta didik yang lain menjadi pasif.

Agar tidak banyak pemikiran, tenaga dan waktu yang digunakan untuk menyusun pembelajaran yang matang, untuk setiap rencana yang telah disusun hendaknya diarsipkan. Agar tidak banyak biaya yang dikeluarkan dalam pembuatan
alat peraga atau media, jangan membuat alat atau media pembelajaran yang bersifat sekali pakai. Perluasan pembahasan dan adanya dominasi oleh siswa yang
aktif dalam diskusi kelompok dapat diminimalisir dengan mengadakan kontrol
pada setiap kinerja kelompok diskusi siswa.

5. Kelebihan Pembelajaran Kooperatif

Dalam Model Pembelajaran Kooperatif, bukan hanya keterampilan bekerjasama
saja yang ditumbuh. Tetapi ada banyak kelebihan dari Model Pembelajaran
Kooperatif ini, seperti yang dikemukakan oleh Stahl (Isjoni, 2013), “Melalui
model Cooperatif Learning peserta didik dapat memperoleh pengetahuan, kecakapan sebagai pertimbangan untuk berpikir dan menentukan serta berbuat dan
berpartisipasi sosial”.

Zaltman (Isjoni, 2013) mengemukakan juga bahwa,

“Peserta didik yang sama-sama bekerja dalam kelompok akan menimbulkan
persahabatan yang akrab, yang terbentuk di kalangan peserta didik, ternyata sangat berpengaruh pada tingkah laku atau kegiatan masing-masing peserta didik
secara individu”.

Jerolimek dan Parker (Isjoni, 2013) mengatakan bahwa keunggulan yang diperoleh dari pembelajaran ini adalah:

21
a.

Saling Ketergantungan Positif

b.

Adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu

c.

Peserta didik dilibatkan dalan perencanaan dan pengelolaan kelas

d.

Suasana kelas yang rileks dan menyenangkan

e.

Terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara peserta didik dan
guru

f.

Memiliki banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi
yang menyenangkan.

Sedangkan Slavin (2005: 120) mengatakan bahwa dalam pembelajaran kooperatif bukan hanya sekedar pencapaian saja yang dihasilkan, namun ada keluaran
lain yang dihasilkan, yaitu mampu memunculkan hal-hal berikut:
a.

Hubungan antar kelompok

b.

Penerimaan terhadap peserta didik yang lemah secara akademik

c.

Rasa harga diri

d.

Waktu mengerjakan tugas dan prilaku di kelas

e.

Kesukaan terhadap kelas dan sekolah

f.

Kesukaan terhadap teman sekelas dan merasa disukai teman sekelas

g.

Kooperasi, Altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain), dan kemampuan melihat persektif orang lain.

D. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

Model Pembelajaran kooperatif tipe NHT atau penomoran berpikir bersama
adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi peserta didik.

Model Pembelajaran kooperatif

22
tipe NHT pertama kali dikembangkan oleh Kagan (Trianto, 2010) yaitu untuk
melibatkan lebih banyak peserta didik dalam menelaah materi yang tercakup
dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran
tersebut. Struktur yang dikembangkan oleh Kagan ini menghendaki peserta
didik belajar saling membantu dalam kelompok kecil dan lebih dicirikan oleh
penghargaan kooperatif dari pada penghargaan individual. Pendapat seperti di
atas juga di dukung oleh Muslimin (dalam www.eazhul. org.uk, 2010) yang
mengemukakan bahwa:
“NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan sintaks:
pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor
tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama
tetapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa
dengan nomor yang sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja
dalam kelompok, presentasi kelompok dengan nomor siswa yang sama
sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual
dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri
reward”.
Berdasarkan pendapat tentang pengertian dari model pembelajaran kooperatif
tipe NHT, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe NHT
adalah suatu model pembelajaran yang menganut sistem pembelajaran peserta
didik aktif, seluruh siswa diarahkan untuk memahami materi pembelajaran yang
didapatkannya serta dapat mempresentasikannya di depan kelas.

Susunan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT menurut
Kagan (dalam Slavin, 2005) yaitu:
a. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat
nomor.
b. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.

23
c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya.
d. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil
melaporkan hasil kerja sama mereka.
e. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor lainnya.
f. Kesimpulan.

Tahapan-tahapan pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT diungkapkan oleh Trianto (2010) ada 4 langkah yaitu sebagai berikut Penomoran
(Numbering), Pengajuan Pertanyaan (Questioning), Berpikir Bersama (Head
Together), dan Pemberian Jawaban (Answering).

Pada tahapan penomoran

siswa dibagi kedalam kelompok yang beranggotakan 3-5 orang dan setiap
anggota akan mendapatkan nomor. Selanjutnya guru menyampaikan pertanyaan
atau permasalahan yang harus dipecahkan siswa bersama-sama, tahapan inilah
yang dinamakan tahap Questioning. Setelah siswa menerima pertanyaan atau
permasalahan dari guru, siswa secara bersama berpikir atau berdiskusi dengan
kelompoknya untuk menemukan jawaban dari permasalahan tersebut. Kegiatan
diskusi inilah yang dinamakan Tahap Head Together atau berpikir bersama. Selanjutnya tahap akhir dari langkah pembelajaran dengan NHT adalah tahap
answering, dimana hasil diskusi kelompok berupa jawaban dari p

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) MATA PELAJARAN MATEMATIKA PADA KELAS V SD NEGERI 3 CANDIMAS T.P 2011/2012

0 12 49

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) MATA PELAJARAN MATEMATIKA PADA KELAS V SD NEGERI 3 KEMILING PERMAI BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014

0 4 39

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PKn SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 PENENGAHAN BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 11 47

PENGGUNAAN MODEL NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN PROSES BELAJAR DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KEDAMAIAN BANDAR LAMPUNG

0 4 38

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS TINGGI SD NEGERI 2 KAMPUNG BARU BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 13 63

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS TINGGI SD NEGERI 2 KAMPUNG BARU BANDARLAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 29 147

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER TERHADAP HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 3 LABUHAN RATU BANDARLAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 8 66

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 RAJABASA RAYA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2014/2015

1 8 51

1 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 RAMBAH SAMO

0 0 6

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER TERHADAP HASIL BELAJAR PKN SISWA SD

0 0 8