PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA D (1)

PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA
BERENCANA DENGAN METODE VASEKTOMI
DALAM PENGENDALIAN ANGKA KELAHIRAN
DI KABUPATEN SITUBONDO PROVINSI
JAWA TIMUR
LAPORAN AKHIR
diajukan guna memenuhi salah satu syarat
untuk menyelesaikan pendidikan Sarjana Sains Terapan Pemerintahan
pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri

oleh
INDIRA MARTHA NANGAMEKA
NPP. 24.0981
Program Studi : Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil

INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI
2017

1

TANDA PERSETUJUAN

Judul Laporan Akhir

: PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA
BERENCANA DENGAN METODE
VASEKTOMI DALAM PENGENDALIAN
ANGKA KELAHIRAN DI KABUPATEN
SITUBONDO PROVINSI JAWA TIMUR

Oleh

: Indira Martha Nangameka

Nomor Pokok Praja

: 24.0981

Fakultas

: Manajemen Pemerintahan

Program Studi

: Administrasi Kependudukan Dan Catatan Sipil

Tempat dan Tgl Lahir

: Situbondo, 5 April 1994

disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji
pada Tanggal 08 Juni 2017

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Drs. H. M. Cholid, M.Ag

Agus Sumartono, SH, MH

NIP. 19531018 198503 1 003

NIP.19521217 198003 1 001

2

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Akhir dengan judul “PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA
BERENCANA
DENGAN
METODE
VASEKTOMI
DALAM
PENGENDALIAN ANGKA KELAHIRAN DI KABUPATEN SITUBONDO
PROVINSI JAWA TIMUR” oleh Indira Martha Nangameka Nomor Pokok
Praja : 24.0981 telah diuji dan dinyatakan lulus pada hari Kamis, tanggal
08 Juni 2017 dihadapan sidang penguji yang terdiri dari :
Drs. H. M. Cholid, M.Ag

Ketua

……………………………

Agus Sumartono, SH, MH

Sekretaris …………………………….

Drs. Endang Herman, M.Si

Anggota

……………………………

Ida Widianingsih, Ph.D

Anggota

……………………………

Dosen Pembimbing I,

Dosen Pembimbing II,

Drs. H. M. Cholid, M.Ag
NIP. 19531018 198503 1 003

Agus Sumartono, SH, MH
NIP. 19521217 198003 1 001

Ketua Program Studi
Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil

H. Yana Sahyana, M.Si
NIP. 19590701 200012 1 001
Telah diregistrasi pada Program Studi Administrasi Kependudukan dan
Catatan Sipil Fakultas Manajemen Pemerintahan
Nomor : 423.7/
/KOMPRE/ IPDN.5/2017

3

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN LAPORAN AKHIR
Saya, yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
: Indira Martha Nangameka
Npp
: 24.0981
Judul Laporan Akhir
: PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA
BERENCANA DENGAN METODE VASEKTOMI
DALAM PENGENDALIAN ANGKA KELAHIRAN
DI KABUPATEN SITUBONDO PROVINSI JAWA
TIMUR
menyatakan dengan sesungguhnya bahwa, Laporan Akhir yang saya tulis
ini adalah asli hasil karya sendiri bukan hasil menjiplak atau plagiat dan
belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan
tinggi manapun.
Sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang
secara tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka.
Demikian surat pernyataan ini saya buat, apabila ternyata saya
terbukti melakukan pelanggaran akademik tersebut diatas, saya bersedia
menerima

sanksi

sesuai

ketentuan

Lembaga

dan/atau

peraturan

perundangan yang berlaku.
Jatinangor, April 2017
Yang membuat pernyataan

Indira Martha Nangameka

4

ABSTRAK
Program
Keluarga
Berencana
adalah
program
yang
diselenggarakan
pemerintah
Indonesia
yang
bertujuan
untuk
mengendalikan jumlah penduduk. Program KB diselenggarakan oleh
pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Program KB menyediakan berbagai kontrasepsi yang dapat
digunakan oleh seluruh Pasangan Usia Subur (PUS). Masyarakat
beranggapan bahwa mengikuti KB merupakan kewajiban kaum wanita.
Pada kenyataannya,program KB juga dapat diikuti oleh pria yang disebut
Medis Operatif Pria (MOP) atau Vasektomi. Kabupaten Situbondo
mendapat rekor MURI pada tahun 2010 dan 2011 sebagai akseptor
vasektomi terbanyak. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengambil
judul “PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA
DENGAN METODE VASETOMI DALAM PENGENDALIAN ANGKA
KELAHIRAN DI KABUPATEN SITUBONDO PROVINSI JAWA TIMUR”
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan
program KB khususnya vasektomi di Kabupaten Situbondo , apa saja
faktor penghambat dan upaya apa saja yang telah dilakukan pemerintah
Kabupaten Situbondo, dan apakah vasektomi berperan terhadap angka
kelahiran di Kabupaten Situbondo.
Metode penelitian magang yang digunakan adalah metode
eksploratif dengan pendekatan induktif. Metode pengumpulan data adalah
dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan triangulasi
data. Wawancara dilakukan kepada masyarakat (akseptor/non-akseptor),
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana serta
aparat pemerintah terkait.
Dari penelitian yang telah dilaksanakan melalui kegiatan magang
adalah pelaksanaan program KB vasektomi dalam beberapa tahun ini
mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena pemerintah sudah tidak
mengejar target akseptor tidak seperti tahun 2010 dan 2011. Vasektomi
tidak menjadi target utama dalam pengembangan program KB di
Kabupaten Situbondo. Angka kelahiran di Kabupaten Situbondo pada
tahun 2015 di bawah target nasional yaitu 1,9. Namun, bukan berarti
vasektomi menjadi satu-satunya kontrasepsi yang paling efektif dalam
mengendalikan angka kelahiran di Kabupaten Situbondo.
Kata Kunci : Pelaksanaan, Vasektomi, Pengendalian Penduduk

5

ABSTRACT
Family Planning program is a program organized by the
government of Indonesia which aims to control population number. Family
planning program is organized by local governments in accordance with
the current legislation.
The family planning program provides a wide range of
contraceptives that can be used by all couples of fertile age (CFA). The
community considers that taking Family Program is the duty of women. In
fact, the Family Planning program can also be taken by men which is
called Operative Medical Men (MOP) or vasectomy. Situbondo received
record of MURI in 2010 and 2011 as the highest vasectomy acceptors.
Therefore, the author is interested to have the title "THE
IMPLEMENTATION OF FAMILY PLANNING PROGRAM WITH
VASECTOMY METHOD TO CONTROLLING BIRTH RATE IN
SITUBONDO DISTRICT EAST JAVA PROVINCE"
This research aims to study the implementation of Family
Program, especially vasectomy in Situbondo, what the factors are
inhibiting and what efforts have been made by the regional government of
Situbondo, and whether vasectomy contribute to the birth rate in
Situbondo.
Internship research method used is exploratory method with
inductive approach. The method of data collection use interview
techniques, documentation and data triangulation. Interviews were
conducted to society (acceptors / non-acceptors), Head of the Department
of Control of Population and Family Planning and the relevant government
authorities.
From the research that has been conducted through the
apprenticeship is the implementation of Family Planning program
vasectomy in recent years has been decreasing. This happened because
the government has no longer pursued the target acceptors unlike in 2010
and 2011. Vasectomy is not the main target in the development of family
Planning Programs in Situbondo. The birth rate in Situbondo in 2015 was
below the national target of 1.9. However, it does not mean that
vasectomy has been the most effective contraception in controlling the
birth rate in Situbondo.
Keywords: Implementation, Vasectomy, Population Control

6

Kesusahan sehari cukuplah untuk
sehari
“Whatever you do, work at with all your heart, as working for
the Lord, not for human masters” (Colossians 3 : 23)

Karya sederhana ini Kupersembahkan kepada :
Papa, Yohanes Nangameka
Beliau selalu memberikan yang terbaik untuk keempat anaknya, rela
membanting tulang kesana kemari untuk keluarganya
Mama, Mariana Moi
Selalu menjadi seorang ibu, sahabat, dan teman setiaku. Wanita dengan jiwa
yang kuat namun tetap lembut
Saudariku, Mbak Teresa Irmina Nangameka
Orang yang selalu menjadi pendengar dan penasehat yang baik dan selalu
menjadi panutan untuk adik-adiknya
Saudaraku, Desmon Petrus Adikara Nangameka
Adik yang sudah mulai beranjak dewasa dan kelak akan menjadi penjaga
saudari-saudarinya
Saudariku, Florence Elisabeth Nangameka
Si bungsu yang selalu manja dan cuek
Dan almamaterku, IPDN

Wherever you go, you can always come home (family)

7

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kupanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan anugerah kesehatan dan kekuatan sehingga penulis
dapat menyelesaikan Laporan Akhir ini yang berjudul “PELAKSANAAN
PROGRAM

KELUARGA

BERENCANA

VASEKTOMI DALAM PENGENDALIAN

DENGAN

METODE

ANGKA KELAHIRAN

DI

KABUPATEN SITUBONDO PROVINSI JAWA TIMUR” dengan baik.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Laporan Akhir ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman serta keterampilan yang dimiliki, namun
penulis berharap karya kecil ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan
Pemerintah Kabupaten Situbondo, dalam hal ini Dinas Pengendalian
Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Situbondo.
Penyelesaian Laporan Akhir ini tidak lepas dari bimbingan dan
semangat dari berbagai pihak, terutama dari orang tua tercinta, Ir.
Yohanes Nangameka, MP dan Mariana Moi, S.Pd, M.Pd yang telah
merawat dan membesarkan penulis dengan penuh cinta dan kasih sayang
serta doa yang selalu menyertai penulis, Pater Pius Kila yang mendoakan
saya dari surga sana dan saudara dan saudariku tercinta, Teresa Irmina
Nangameka, Desmon Petrus Adikara Nangameka, dan Florence Elisabeth
Nangameka yang senantiasa memberikan penulis motivasi dan semangat
dalam penulisan Laporan Akhir ini.

8

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MS, MH, selaku
Gubernur Institut Pemerintahan Dalam Negeri
2. Bapak Dr. Hyronimus Rowa, M.Si, selaku Deputi III Bidang
Kemahasiswaan sekaligus pengganti Bapa dalam kampus
3. Bapak Dr. Bambang Supriyadi, M.Si selaku Dekan Fakultas
Manajemen Pemerintahan
4. Bapak Yana Sahyana, SH, MH, selaku Kepala Program Studi
Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil IPDN
5. Bapak Drs. H. M. Cholid, M.Ag, dan Bapak Agus Sumartono,
SH, MH selaku dosen pembimbing yang selalu sabar
membimbing dan memberikan sumbangan pemikiran serta
motivasi kepada penulis
6. Ibu Tuti Chadijah, MA, beserta staf Laboratorium yang telah
membantu

dan

memberikan

kesempatan

penulis

untuk

menggunakan bahasa Inggris dalam laporan akhir ini
7. Segenap dosen pengajar, pelatih dan pengasuh serta seluruh
Civitas Akademika IPDN yang memberikan bekal ilmu,
pengetahuan dan keterampilan dan bimbingan kepada penulis
selama mengikuti pendidikan di IPDN
8. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten
Situbondo, Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten

9

Situbondo yang telah membantu dan memberikan informasi
selama penulis melaksanakan magang
9. Seluruh Kontingen Jawa Timur Angkatan XXIV terutama Intan,
Fahim Ridho, Nazir, saudara-saudari Kabupaten Situbondo,
dan saudara-saudara Karesidenan Besuki XXIV
10. Adik-adik Karesidenan Besuki Angkatan XXV, XXVI, XXVII
tercinta
11. Rekan-rekan Petak A, Wisma Nusantara 32 Atas dan Wisma
Nusantara 37 Atas
12. Personil Kelas A-Bilingual Wasana Praja, Personil Kelas A1
Madya dan Nindya Praja, Personil Kelas A7 Muda Praja yang
telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung
13. Saudara Asuh Polisi Praja Angkatan XXIV, Gita Puja Wyata,
dan Pandawa yang telah memberikan banyak dinas luar
14. Rekan-rekan perjuangan selama kuliah di Jogja, Jenia, Aia,
Tania, Monic, Efri, Mia, teman-teman jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian di Universitas Gadjah Mada, tempat kuliah pertama
penulis
15. Kakak Ira Meiyenti, S.IP atas bantuan dan dukungannya
16. Seluruh

keluarga

dan

rekan-rekan

yang

memberikan doa dan dukungannya kepada penulis

10

senantiasa

Akhir kata penulis berharap semoga Laporan Akhir ini dengan
segala bentuk kekurangan dan keterbatasannya dapat berguna dan
bermanfaat bagi kita semua, Amin.

Jatinangor,………April 2017
Penulis

INDIRA MARTHA NANGAMEKA

11

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................... v
DAFTAR TABEL .................................................................................. vii
PETA LOKASI PENELITIAN ................................................................ viii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang ........................................................... 1

1.2

Ruang Lingkup, Fokus dan Lokasi Magang ............... 9
1.2.1 Ruang Lingkup Magang .................................... 9
1.2.2 Fokus Magang .................................................. 10
1.2.3 Lokasi Magang ................................................. 10

1.3 Maksud dan Tujuan Magang ..................................... 10
1.3.1 Maksud Magang ................................................ 10
1.3.2 Tujuan Magang ................................................. 11
1.4 Kegunaan Magang ..................................................... 11
1.4.1 Kegunaan Teoritis ............................................. 11
1.4.2 Kegunaan Praktis ............................................. 12
BAB II

LANDASAN NORMATIF DAN TEORETIS
2.1 Landasan Normatif .................................................... 13
2.1.1 Keluarga Berencana ......................................... 13
2.1.2 Partisipasi Pria dalam KB ................................. 17
2.2 Landasan Teoretis ……................................................19
2.2.1 Pelaksanaan ...................................................... 19
2.2.2 Program ............................................................ 22
2.2.3 Keluarga Berencana .......................................... 24
2.2.2 Vasektomi ......................................................... 26
2.2.3 Angka Kelahiran ............................................... 28
2.3 Operasionalisasi Fokus Magang ............................... 32

12

BAB III

BAB IV

METODE MAGANG
3.1

Desain ....................................................................... 35

3.2

Teknik Pengumpulan Data ......................................... 38

3.3

Teknik Analisis Data .................................................. 43

3.4

Jadwal Magang ......................................................... 45

ANALISIS FOKUS MAGANG
4.1

Gambaran Umum Lokasi Magang ............................. 47
4.1.1 Keadaan Geografis ........................................... 47
4.1.2 Kondisi Demografi ............................................ 49
4.1.3 Kondisi Ekonomi ............................................... 56
4.1.4 Gambaran Umum Dinas Pengendalian
Penduduk dan Keluarga Berencana
Kabupaten Situbondo ........................................ 57

4.2

Analisis Fokus Magang dari Perspektif Normatif ....... 75
4.2.1 Keluarga Berencana ......................................... 76
4.2.2 Partisipasi Pria dalam Keluarga Berencana ...... 85

4.3

Analisis Fokus Magang dari Perspektif Teoretis ........ 90
4.3.1 Faktor Penghambat .......................................... 92
4.3.2 Upaya yang Dilakukan ...................................... 95
4.3.3 Biaya ................................................................ 99
4.3.4 Jumlah Akseptor Menurun ................................ 100
4.3.5 Angka Kelahiran ............................................... 103

4.4
BAB V

Keterampilan dan Keahlian yang Diperoleh ............ 103

KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan .............................................................. 105

5.2

Saran ....................................................................... 107

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP

13

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1

Jumlah Penduduk di Kabupaten Situbondo Tahun
2010-2015 ........................................................................... 6
Tabel 1.2 Jumlah Akseptor Vasektomi di Kabupaten Situbondo
Tahun 2010–2015 .............................................................. 8
Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Magang Tahun 2017 ............................... 46
Tabel 4.1 Kecamatan dan Luas Wilayah Kecamatan ........................ 48
Tabel 4.2 Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Kecamatan ................... 49
Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun
2010-2015 .......................................................................... 50
Tabel 4.4 Distribusi dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan
di Kabupaten Situbondo, 2015 ........................................... 51
Tabel 4.5 Tenaga Kerja di Kabupaten Situbondo .............................. 52
Tabel 4.6 Jumlah PUS dan Peserta KB Tahun 2016 ......................... 78
Tabel 4.7 Jumlah Keluarga Menurut Kecamatan dan Klasifikasi
Keluarga Tahun 2015 ........................................................ 81
Tabel 4.8 Akseptor MOP/Vasektomi Aktif Kabupaten Situbondo ....... 86
Tabel 4.9 Perbandingan PUS dan KB Aktif MOP Kabupaten
Situbondo ........................................................................... 90
Tabel 4.10 Jumlah Peserta KB Aktif Per Mix Kontrasepsi
Menurut PUS Sampai Tahun 2016 .................................... 94
Tabel 4.11 Peserta KB BAru Vasektomi Tahun 2010-2015 ................. 101
Tabel 4.12 Angka Kelahiran Kabupaten Situbondo Tahun
2010-2015 .......................................................................... 102

14

PETA KABUPATEN SITUBONDO

15

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Perkembangan jumlah penduduk di Indonesia yang semakin lama

semakin meningkat menimbulkan kekhawatiran. Angka fertilitas yang
semakin meningkat dan tidak dikendalikan akan menyebabkan masalahmasalah baru pada suatu negara. Apabila hal ini tidak ditangani dengan
baik, maka cita-cita bangsa Indonesia yang telah tercantum pada
Pembukaan UUD RI 1945 di alinea keempat yaitu memajukan
kesejahteraan umum tidak akan tercapai.
Faktor utama yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk
adalah tingkat kelahiran. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971,
angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) diperkirakan 5,6, anak per
wanita usia reproduksi, dan saat ini telah turun lebih dari 50 persen
menjadi 2,6 anak per wanita (Survei Demografi dan Kesehatan IndonesiaSDKI 2002-2003). TFR berhubungan erat dengan Angka Kelahiran Ibu
(AKI)

hamil

atau

melahirkan.

Tingginya

angka

kelahiran

akan

mengakibatkan setiap daerah di Indonesia padat penduduknya. Hal yang
paling berpengaruh pada peningkatan jumlah penduduk saat ini ialah
tingginya angka kelahiran dari setiap ibu. Rata-rata wanita Indonesia
melahirkan

4,5

juta

bayi

setiap

16

tahunnya

(SDKI

2002-2003).

Jumlah penduduk perlu untuk dikendalikan mengingat bahwa
pembangunan berwawasan kependudukan dinilai lebih efektif untuk
mensejahterahkan suatu negara. Pembangunan kependudukan dan
keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai
pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Gold). Hal ini
diselenggarakan

melalui

pengendalian

kuantitas

penduduk

dan

peningkatan kualitas insani dan sumber daya manusia. Ada beberapa
alasan

mengapa

pembangunan

berkawasan

kependudukan

perlu

mendapat perhatian, yaitu:
1. Indonesia sebagai negara berkembang yang berhasil mencapai
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi gagal dalam mengurangi
kesenjangan sosial dan kemiskinan.
2.

Ketika pertumbuhan ekonomi tinggi dan menjadi negara maju, tetapi
tetap

tidak

bisa

mengurangi

masalah-masalah

sosial,

seperti

penyalahgunaan obat, AIDS, dan kekerasan dalam rumah tangga.
3. Beberapa negara dengan pendapatan rendah memiliki indeks
pembangunan manusia (IPM) yang tinggi, jika negara tersebut mampu
untuk menggunakan secara bijaksana semua sumber daya untuk
mnegembangkan

semua

kemampuan

dasar

manusia.

(http://repository.unej.ac.id/)
Pemerintah Indonesia menyadari bahwa pembangunan berbasis
kependudukan merupakan upaya untuk mensejahterahkan masyarakat.
Karakteristik pembangunan antara lain dilaksanakan melalui pengendalian

13

pertumbuhan

penduduk,

keluarga

berencana,

dan

dengan

cara

pengembangan kualitas penduduk, melalui perwujudan keluarga kecil
yang berkualitas.
Pemerintah Indonesia pada tahun 1970 mendirikan Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional yang sekarang berganti nama
menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.
BKKBN merupakan badan yang ditunjuk pemerintah pusat dalam
mengendalikan jumlah penduduk dengan membatasi kelahiran. Dalam
pembatasan

kelahiran

tersebut,

BKKBN

mencanangkan

Program

Keluarga Berencana (Family Planning).
Program Keluarga Berencana (KB) adalah gerakan untuk
membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi angka
kelahiran. Maknanya adalah perencanaan pembatasan jumlah keluarga
yang bisa dilakukan adalah dengan penggunaan alat kontrasepsi,
penundaan usia perkawinan, dan lain-lain. Jumlah anak dalam sebuah
keluarga dianggap ideal apabila berjumlah 2 (dua). Tujuan dari Keluarga
Berencana itu sendiri ialah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan
anak dan untuk mengatasi laju pertumbuhan penduduk yang semakin
meningkat agar tercapai wujud dari keluarga kecil bahagia dan sejahtera
yang menjadi dasar masyarakat sejahtera.
Pada tahun 1971, angka prevalensi penggunaan kontrasepsi
kurang dari 5 persen, tahun 1980 meningkat menjadi 26 persen, tahun
1987 menjadi 48 persen, tahun 1997 menjadi 57 persen, dan tahun 2002

13

sebesar 60 persen (SDKI 2002-2003). Kecenderungan meningkatnya
angka prevalensi (penggunaan alat dan obat kontrasepsi) merupakan
hasil dari peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB, serta
ketersediaan alat kontrasepsi. Dengan demikian, angka prevalensi perlu
terus ditingkatkan agar angka kelahiran terkendali sehingga dapat
mencapai kondisi penduduk tumbuh seimbang. Oleh karena itu,
peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB, dan penyediaan alat
kontrasepsi menjadi sangat penting untuk menurunkan tingkat kelahiran,
Program Keluarga Berencana mempunyai 2 metode yaitu Metode
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dan Non Metode Kontrasepsi Jangka
Panjang (Non MKJP). MKJP meliputi IUD, MOP (Medis Operatif Pria),
Medis Operatif Wanita (MOW), dan Implant. Sementara itu, Non MKJP
meliputi Suntik, Pil, dan Kondom. MKJP adalah kontrasepsi yang dapat
dipakai dalam jangka waktu lama (lebih dari 2 tahun), sangat efektif dan
efisien dalam upaya untuk menjarangkan kelahiran, sedangkan Non
MKJP jangka waktunya kurang dari 2 tahun.
Metode-metode program keluarga berencana diperuntukkan tidak
hanya untuk wanita tetapi juga untuk pria. Keikutsertaan lelaki atau suami
dalam upayanya untuk ikut serta mengurangi jumlah kelahiran adalah
usaha tanggung jawab ber-KB, berperilaku seksual yang aman bagi
dirinya sendiri maupun pasangan. Pelaksanaan kebijakan peran serta pria
dalam melaksanakan program keluarga berencana sebagai objek
langsung memang relatif baru dan masih belum maksimal. Dengan turut

13

sertanya pria dalam program keluarga berencana dimaksudkan agar
semakin nyata terwujudnya keluarga berkualitas.
Akseptor KB wanita jika dibandingkan dengan akseptor KB pria
masih sangat jauh kesenjangannya. Hal ini menunjukkan bahwa
partisipasi pria dalam menggunakan alat kontrasepsi masih sangat
rendah. Dalam pengendalian kelahiran, penundaan perkawinan, dan
penundaan kehamilan tidak hanya melibatkan wanita saja tapi juga pria.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya pria juga ikut berpartisipasi dalam berKB.

Hal

ini

diperkuat

dengan

adanya

pernyataan

dari

Badan

Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Fund
for Population Activities (UNFPA). UNFPA menyatakan bahwa peran pria
salah satunya ialah berbagi peran sebagai orang tua dengan cara
meyakinkan kesehatan reproduksi keluarga, merencanakan keluarga dan
partisipasi dalam ber-KB untuk menentukan jumlah, jarak, dan waktu
kehamilan serta tempat persalinan.
Dewasa

ini,

penggunaan

alat

kontrasepsi

tidak

hanya

diperuntukkan untuk wanita, tapi juga untuk pria agar dapat berkontribusi
secara penuh dalam program KB. Metode KB untuk pria yang efektif
haruslah aman, reversible, bereaksi cepat, diterima oleh pemakai dan
tidak mempengaruhi kemampuan seksual atau libido. Alat kontrasepsi
yang diperuntukkan bagi pria ialah MOP/ Vasektomi dan kondom.
Penggunaan kondom sebenarnya sudah cukup tinggi karena dianggap
lebih mudah didapat dan tidak merepotkan. Namun, penggunaan kondom

13

dinilai belum efektif untuk mencegah kehamilan sehingga metode
vasektomi dinilai lebih efektif.
Kabupaten Situbondo mengalami penambahan jumlah penduduk
setiap tahun, hal ini dibuktikan pada tabel berikut:
Tabel 1.1
Jumlah Penduduk di Kabupaten Situbondo Tahun 2010-2015
Tahun

Jumlah Penduduk

2010

647.619

2011

652.042

2012

656.691

2013

660.702

2014

666.013

2015

669.713

Sumber : BPS Kabupaten Situbondo

Setiap tahunnya, penduduk di wilayah ini semakin meningkat. Oleh karena
itu, Kabupaten Situbondo melalui Kantor Keluarga Berencana berusaha
untuk mengendalikan jumlah angka kelahiran melalui program keluarga
berencana.
Kabupaten Situbondo merupakan salah satu kabupaten yang turut
serta melaksanakan program KB pria yaitu MOP/ Vasektomi. Vasektomi
merupakan suatu metode kontrasepsi operatif minor pada pria yang
sangat aman, sederhana, dan sangat efektif, waktu operasi singkat dan
tidak memerlukan anestesi umum. Vasektomi adalah tindakan memotong
saluran sperma yang menghubungkan buah zakar (testis) dengan kantong
13

sperma. Akibat dari pemotongan dan/atau pengikatan saluran ini, maka
sel benih yang diproduksi pada buah zakar tidak bisa keluar dan
terbendung pada saluran benih bagian sisi testis yang diikat.
Pandangan masyarakat selama ini menganggap bahwa metode
vasektomi berbahaya untuk kesehatan reproduksi pria. Kantor KB
Situbondo sebagai

leading sector yang menangani program KB

khususnya MOP/ Vasektomi, Pemerintah Daerah serta seluruh elemen
masyarakat dan peserta MOP yang sudah berpengalaman dijadikan
sebagai bukti bahwa MOP tidak berbahaya. Selain itu, Kabupaten
Situbondo mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk
layanan KB pria (akseptor vasektomi terbanyak pada tahun 2010).
Jumlah akseptor vasektomi di Kabupaten Situbondo dapat dilihat
pada tabel berikut :

13

Tabel 1.2
Jumlah Akseptor Vasektomi di Kabupaten Situbondo
Tahun 2010 s.d 2015
Tahun
Kecamatan
2010
2011
2012
2013
2014
2015

No.

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

1.

Sumbermalang

47

174

184

204

197

176

2.

Jatibanteng

84

209

215

229

175

182

3.

Banyuglugur

71

180

239

251

191

190

4.

Besuki

127

211

279

353

366

377

5.

Suboh

94

156

163

179

197

197

6.

Mlandingan

78

83

96

104

134

139

7.

Bungatan

59

107

165

178

262

337

8.

Kendit

73

91

162

155

230

210

9.

Panarukan

188

262

312

334

334

336

10.

Situbondo

156

231

331

348

191

384

11.

Mangaran

79

190

278

296

295

277

12.

Panji

200

347

396

401

411

354

13.

Kapongan

436

665

739

741

654

527

14.

Arjasa

103

144

154

160

153

153

15.

Jangkar

140

406

454

457

466

463

16.

Asembagus

26

141

224

229

153

162

17.

Banyuputih

135

270

299

383

324

299

2096

3867

4690

5002

4733

4763

Jumlah

13

Sumber : Situbondo Dalam Angka 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016

Dari data yang telah ditampilkan di atas, angka partisipasi pria di
Kabupaten Situbondo dalam menggunakan metode vasektomi cukup
tinggi. Padahal, vasektomi masih banyak menuai kontroversi dalam hal
penerapannya. Masih banyak masyarakat yang menganggap vasektomi
haram sehingga banyak yang menolak untuk menjadi akseptor. Namun,
beberapa tahun belakangan ini, akseptor vasektomi menurun. Hal ini yang
melatarbelakangi penulis untuk meneliti fenomena yang terjadi di
Kabupaten Situbondo. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti
tentang “Pelaksanaan Program Keluarga Berencana dengan Metode
Vasektomi dalam Pengendalian Angka Kelahiran di Kabupaten
Situbondo Provinsi Jawa Timur”.

1.2 Ruang Lingkup, Fokus dan Lokasi Magang
1.2.1 Ruang Lingkup Magang
Berdasarkan latar belakang yang telah ditulis, maka ruang lingkup
penelitian melalui magang ini meliputi pelaksanaan program keluarga
berencana terutama dengan program vasektomi dalam upaya untuk
mengendalikan angka kelahiran di Kabupaten Situbondo selama 7 tahun
terakhir.

1.2.2 Fokus Magang
Pada penulisan usulan laporan akhir magang ini, penulis
membatasi masalah-masalah yang dibahas mengingat keterbatasan

13

waktu penelitian dan agar pembahasan tidak terlalu meluas dan fokus.
Fokus penelitian ini meliputi:
1. Pelaksanaan program keluarga berencana di Kabupaten Situbondo
2. Pelaksanaan metode vasektomi di Kabupaten Situbondo
3. Perbandingan angka kelahiran di Kabupaten Situbondo

1.2.3 Lokasi Magang
Penulis akan melaksanakan penelitian dengan lokus di Kantor
Keluarga Berencana Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur.

1.3

Maksud dan Tujuan Magang
1.3.1 Maksud Magang
Dengan melihat permasalahan tersebut, maka maksud dari

magang ini adalah untuk mengetahui dan mengumpulkan data, informasi,
dan fakta yang relevan maupun argumen di lapangan terkait program KB
dengan metode vasektomi di Kabupaten Situbondo.

1.3.2 Tujuan Magang
Adapun tujuan magang ini ialah untuk:
1. Mengetahui bagaimana pelaksanaan program keluarga berencana di
Kabupaten Situbondo
2. Mengetahui bagaimana pelaksanaan metode vasektomi di Kabupaten
Situbondo

13

3. Menganalisis perbandingan angka kelahiran dan angka kematian di
Kabupaten Situbondo

1.4

Kegunaan
1.4.1 Kegunaan Teoretis
Hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi dan dapat

digunakan sebagai tambahan informasi untuk penelitian selanjutnya yang
berkaitan dengan metode MOP/ Vasektomi di Kabupaten Situbondo atau
di tempat penelitian lainnya. Selain itu, diharapkan juga dapat memberikan
wawasan dengan membandingkan antara teori dengan kenyataan yang
terjadi di lapangan.

1.4.2 Kegunaan Praktis
Program magang diharapkan mampu memberi pengaruh positif
pada semua pihak, terutama:
a. Untuk lokasi magang
Penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten Situbondo ini diharapkan
dapat

memberikan

pemerintah

sumbangan

Kabupaten

pemikiran

Situbondo

dan

khususnya

masukan

Kantor

bagi

Keluarga

Berencana dan juga kepada masyarakat Kabupaten Situbondo yang
berkitan

dengan

penurunan

angka

vasektomi.

13

kelahiran

melalui

metode

b. Bagi Lembaga
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan
bagi Praja dan/atau pihak lain lembaga yang berniat untuk
melanjutkan penelitian pelaksanaan program vasektomi di Kabupaten
Situbondo ataupun daerah lain. Penelitian ini juga diharapkan dapat
menjadi

acuan

ataupun

pembanding

bagi

Praja

yang

akan

melaksanakan kegiatan magang berikutnya. Selain itu, penelitian ini
diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam penentuan
kebijakan penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Situbondo
yang berkaitan dengan keluarga berencana dan kependudukan.

13

BAB II
LANDASAN NORMATIF DAN TEORETIS

2. 1

Landasan Normatif
2.1.1 Keluarga Berencana
Keluarga Berencana merupakan suatu program pemerintah yang

dirancang

untuk

menyeimbangkan

antara

kebutuhan

dan

jumlah

penduduk. Program keluarga berencana oleh pemerintah adalah agar
keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan menerima
Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) yang berorientasi
pada pertumbuhan yang seimbang. Gerakan Keluarga Berencana
Nasional telah berumur sangat lama yaitu pada tahun 1970-an dan
masyarakat dunia menganggap program keluarga berencana ini berhasil
menurunkan angka kelahiran.
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang
sekarang dikenal dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasional didirikan pada tahun 1970 melalui Keputusan Presiden (Kepres)
Nomor 8 Tahun 1970 didirikanlah. BKKBN adalah lembaga non
Departemen yang mempunyai tanggung jawab pada bidang pengendalian
penduduk

Indonesia.

13

Program KB memiliki makna yang sangat strategis, komprehensif,
dan fundamental dalam upaya mewujudkan manusia Indonesia sejahtera
yang tidak terpisahkan dengan program pendidikan dan kesehatan.
Undang-undang

Nomor

10

Tahun

1992

tentang

Perkembangan

Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera yang kemudian
direvisi menjadi Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang
Perkembangan

Kependudukan

dan

Pembangunan

Keluarga

menyebutkan bahwa Keluarga Berencana adalah upaya mengatur
kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan,
melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi
untuk mewujudkan keluarga berkualitas.
Sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 52 Tahun
2009 Pasal 21 ayat (1), Kebijakan Keluarga Berencana dilaksanakan
untuk membantu calon atau pasangan suami istri dalam mengambil
keputusan dan mewujudkan hak reproduksi secara bertanggung jawab
tentang:
a. Usia ideal perkawinan;
b. Usia ideal untuk melahirkan;
c. Jumlah ideal anak;
d. Jarak ideal kelahiran anak;
e. Penyuluhan kesehatan reproduksi.
Pasal 21 ayat (2) menyebutkan bahwa Keluarga Berencana
bertujuan untuk: a) mengatur kehamilan yang diinginkan; b) menjaga

13

kesehatan dan menurukan angka kematian ibu, bayi, dan anak; c)
meningkatkan akses dan kualitas informasi, pendidikan, konseling, dan
pelayanan

Keluarga

Berencana

dan

Kesehatan

Reproduksi;

d)

meningkatkan partisipasi dan kesertaan pria dalam praktek keluarga
berencana; dan e) mempromosikan penyusuan bayi sebagai upaya untuk
menjarangkan jarak kehamilan.
Pasal 23, pemerintah dan pemerintah daerah wajib meningkatkan
akses dan kualitas informasi, pendidikan, konseling, dan pelayanan
kontrasepsi dengan cara:
a. Menyediakan metode kontrasepsi sesuai dengan pilihan pasangan
suami

istri

dengan

mempertimbangkan

usia,

paritas,

jumlah

anak,kondisi kesehatan, dan norma agama;
b. Menyeimbangkan kebutuhan laki-laki dan perempuan;
c. Menyediakan informasi yang lengkap, akurat, dan mudah diperoleh
tentang efek samping,

komplikasi, dan kegagalan

kontrasepsi,

termasuk manfaatnya dalam pencegahan penyebaran virus penyebab
penyakit penurunan daya tahan tubuh dan infeksi menular karena
hubungan seksual;
d. Meningkatkan keamanan, keterjangkauan, jaminan kerahasiaan, serta
ketersediaan alat, obat, dan cara kontrasepsi yang bermutu tinggi.
e. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia petugas keluarga
berencana;

13

f. Menyediakan pelayanan ulang dan penanganan efek samping dan
komplikasi pemakaian alat kontrasepsi;
g. Menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi esensial di tingkat
primer dan komprehensif pada tingkat rujukan;
h. Melakukan promosi pentingnya air susu ibu serta menyusui secara
eksklusif untuk mencegah kehamilan 6 (enam) bulan pasca kelahiran,
meningkatkan derajat kesehatan ibu, bayi dan anak; dan
i. Melalui

pemberian

informasi

tentang

pencegahan

terjadinya

ketidakmampuan pasangan untuk mempunyai anak setelah 12 (dua
belas) bulan tanpa menggunakan alat pengaturan kehamilan bagi
pasangan suami istri.
Guna mencapai tujuan keluarga berencana yang dimaksud diatas,
perlu dilakukan upaya-upaya dari instansi terkait. Upaya yang dapat
dilakukan ialah: a) peningkatan keterpaduan dan peran serta masyarakat;
b) pembinaan keluarga; c) pengaturan kehamilan dangan memperhatikan
agama, kondisi perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya, serta tata
nilai yang hidup dalam masyarakat.
Pemerintah (presiden) juga mengeluarkan Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2010 tentang Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional. Pada Peraturan Presiden ini
disebutkan pula tugas dan fungsi serta wewenang dari BKKBN itu sendiri.
Seperti yang terdapat pada Pasal 2 yang berbunyi “BKKBN mempunyai

13

tugas melaksanakan tugas pemerintah di bidang pengendalian penduduk
dan penyelenggaraan keluarga berencana”.

2.1.2 Partisipasi Pria dalam KB
Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 Pasal 23 menyebutkan
bahwa pemerintah wajib meningkatkan akses dengan cara menyediakan
metode kontrasepsi sesuai dengan pilihan pasangan suami istri dengan
mempertimbangkan usia, paritas, jumlah anak, kondisi kesehatan, dan
norma agama. Pada Pasal 24, pelayanan kontrasepsi yang dilaksanakan
oleh pemerintah diselenggarakan dengan tata cara yang berdaya guna
dan berhasil guna dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan suami
atau istri.
Lebih jelas disebutkan pada Pasal 25 bahwa suami dan/atau istri
mempunyai

kedudukan,

hak,

dan

kewajiban

yang

sama

dalam

melaksanakan keluarga berencana. Pemerintah juga wajib menyediakan
alat kontrasepsi yang diperuntukkan bagi suami ataupun istri.
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi,
dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan Peraturan Pemerintah
Nomor

41

Tahun

2007

tentang

Organisasi

Perangkat

Daerah

Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah diberikan
kewenangan untuk membentuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
dalam mengakomodir perbedaan geografis dan perbedaan budaya yang

13

beraneka ragam di setiap daerah di Indonesia demi percepatan tujuan
nasional

dalam

kesejahteraan

peningkatan

masyarakat,

pembangunan

maka

sehingga

Pemerintah

Daerah

tercapainya
Kabupaten

Situbondo membentuk Kantor Keluarga Berencana dengan salah satu
tugasnya ialah meningkatkan partisipan pria dalam KB metode vasektomi.
Sasaran dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009 dijelaskan bahwa partisipasi pria
menjadi salah satu indikator terpenting keberhasilan program KB dalam
memberikan kontribusi yang nyata untuk mewujudkan keluarga kecil yang
berkualitas.

Dalam

RPJMN

tahun

2004-2009

disebutkan

bahwa

peningkatan jumlah keluarga kecil berkualitas melalui meningkatnya
kesertaan KB laki-laki menjadi 4,5% dan meningkatnya penggunaan
kontrasepsi yang efektif dan efisien.
RPJMN tahun 2010-2015 Bagian IV Bab 30 menyebutkan bahwa
kegiatan pokok yang dilaksanakan meliputi peningkatan penggunaan
kontrasepsi yang efektif dan efisien melalui penyediaan sarana prasarana
pelayanan kontrasepsi mantap dan berjangka panjang yang lebih
terjangkau dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Kontrasepsi mantap
merupakan kontrasepsi metode vasektomi untuk pria dan metode
tubektomi untuk wanita.
Peraturan yang secara khusus mengatur tentang partisipasi pria
dalam program KB adalah Keputusan Kepala BKKBN Nomor 145/HK01/B5/2009 tentang Standar Pelayananan Minimal Bidang Keluarga

13

Berencana di Kabupaten/Kota yang juga memuat tentang pedoman
peningkatan partisipasi pria dalam program keluarga berencana. Dalam
peraturan ini menyebutkan bahwa partisipasi pria dalam program KB
merupakan bentuk nyata kepedulian dan tanggung jawab pria dalam
pelaksanaan

program

KB

khususnya

vasektomi

dan

kesehatan

reproduksi.
Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 2012
Kabupaten Situbondo melaporkan bahwa strategi dari pembangunan
Kabupaten Situbondo sendiri adalah meningkatnya mutu pelayanan KB
terhadap pasangan usia subur dan terpenuhinya kebutuhan pelayanan
KB. Hal ini juga mencakup mengenai partisipasi pria dalam ber-KB
dengan metode vasektomi. Untuk menunjukkan keseriusan dalam
mewujudkan masyarakat yang sejahtera di Situbondo, Bupati Situbondo
membuat Surat Edaran kepada setiap Kecamatan di Situbondo untuk
memberikan akseptor vasektomi terutama dari keluarga miskin pada tahun
2010.

2.2

Landasan Teoretis
2.2.1 Pelaksanaan
Pelaksanaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah actuating

yang merupakan salah satu fungsi manajemen seperti yang dikemukakan
oleh George R. Terry. Terry (2006:313) mendefinisikan bahwa:
Actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota
kelompok sedemikian rupa sehingga mereka berkeinginan dan
berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran

13

anggota-anggota perusahaan tersebut, oleh karena itu para
anggota itu juga ingin mencapai tujuan tersebut.
Pendapat Terry yang lain dalam bukunya Prinsip-prinsip
Manajemen (2012:17) menyatakan bahwa “Actuating atau disebut juga
‘gerakan aksi’ mencakup kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer
untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oleh unsur
perencanaan dan pengorganisasian agar tujuan-tujuan dapat tercapai.”
Koontz dan O’Donnel dalam Hasibuan (2008:188) mendefinisikan
“Pelaksanaan sebagai hubungan antara aspek-aspek individual yag
ditimbulkan oleh adanya pengaturan terhadap bawahan-bawahan untuk
dapat dipahami dan pembagian pekerjaan yang efektif untuk tujuan yang
nyata”. Syaukani dkk (2009:294-295) menyatakan
Pelaksanaan merupakan salah satu tahap dalam proses kebijakan
publik, dalam proses kebijaksanaan publik dalam sebuah Negara.
Biasanya pelaksanaan dilakukan setelah sebuah kebijakan
dirumuskan dengan tujuan yang jelas, termasuk jangka menengah
dan jangka panjang.
Menurut Abdullah (1987:40) mendefinisikan bahwa:
Pelaksanaan adalah aktifitas atau usaha-usaha yang
dilaksanakan untuk melaksanakan semua rencana dan
kebijaksanaan yang telah dirumuskan dan ditetapkan dengan
dilengkapi segala kebutuhan, alat-alat yang diperlukan, siapa yang
melaksanakan, dimana tempat pelaksanaannya mulai dan
bagaimana cara yang harus dilakukan, suatu proses rangkaian
kegiatan tindak lanjut setelah program atau kebijaksanaan yang
ditetapkan yang terdiri atas pengambilan keputusan, langkah yang
strategis maupun operasional atau kebijaksanaan yang menjadi
kenyataan guna mencapai sasaran dari program yang ditetapkan
semula.
Weimer dan Vinning dalam Subarsono (2011:103) disebutkan
bahwa ada 3 (tiga) kelompok variabel yang dapat mempengaruhi
keberhasilan pelaksanaan. Variabel tersebut yaitu:

13

1. Logika kebijakan, suatu kebijakan yang ditetapkan masuk akal dan
mendapat dukungan teoritis.
2. Lingkungan tempat kebijakan dioperasikan akan mempengaruhi
keberhasilan implementasi suatu kebijakan.
3. Kemampuan implementasi kebijakan; keberhasilan suatu kebijakan
dapat

dipengaruhi

oleh

tingkat

kompetensi

dan

keberhasilan

implementor kebijakan.
Menurut

beberapa

pandangan

ahli

sebagaimana

telah

dikemukakan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan
adalah suatu proses yang sistematis dalam menggerakkan anggotaanggota organisasi untuk menjalankan tugas sesuai dengan tujuan-tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya. Semua anggota harus bergerak dan
bekerja agar tujuan organisasi dapat tercapai. Untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan, perlu adanya usaha-usaha yang mendukung dan
sarana dan prasarana yang menunjang proses tersebut. Keberhasilan
suatu kegiatan pelaksanaan dipengaruhi 3 unsur yaitu program, sasaran,
dan unsur organisasi pelaksana itu sendiri. Pelaksanaan yang berkaitan
dengan penelitian ini adalah pelaksanaan program vasektomi dengan
tujuan untuk mempengaruhi jumlah kelahiran guna mencapai masyarakat
sejahtera
.
2.2.2 Program
Dalam pelaksanaan suatu kegiatan, diperlukan program-program
yang telah disetujui bersama oleh orang-orang yang terlibat di dalamnnya.
13

Menurut Dwiwibawa dan Riyanto (2012:54) “Program kerja adalah
kumpulan dari berbagai kegiatan yang merupakan uraian dan penjabaran
dari suatu rencana kerja. Program kerja menjadi pedoman kerja bagi
sebuah organisasi.” Selain itu, Saifuddin Anshari mengatakan bahwa
“Program adalah daftar terinci mengenai acara dan usaha yang akan
dilaksanakan.”(https://www.seputarpengetahuan.com/2016/06/10pengertia
n-program-menurut-para-ahli-lengkap.html)
Menurut Arikunto dan Safruddin (2004:3) mengatakan bahwa:
Program merupakan satu kesatuan dari beberapa bagian atau
komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang
ditentukan oleh sistem tersebut. Komponen tersebut merupakan
satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Masing-masing komponen
terdiri atas beberapa subkomponen dan masing-masing
subkomponen terdapat beberapa indikator.
Arikunto (2004:2) mendefinisikan program dalam dua pengertian, yaitu:
Program dapat diartikan secara umum sebagai rencana atau
rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di
kemudian hari. Pengertian program secara khusus biasanya jika
dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau
kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi
dari
suatu
kebijakan,
berlangsung
dalam
proses
berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang
melibatkan sekelompok orang.
Dengan demikian yang perlu ditekankan bahwa program terdapat tiga
unsur penting yaitu:
a. Program adalah realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan.
b. Terjadi dalam kurun waktu yang lama dan bukan kegiatan tunggal
tetapi jamak berkesinambungan.
c.

Terjadi dalam organisasi yang melibatkan sekelompok orang.

13

Sebuah program bukan hanya kegiatan tunggal yang dapat
terselesaikan dalam waktu singkat, tetapi merupakan kegiatan yang
berkesinambungan karena melaksanakan suatu kebijakan. Oleh karena
itu, sebuah program dapat berlangsung dalam kurun waktu relatif lama.
Pelaksanaan program selalu terjadi dalam sebuah organisasi yang artinya
harus melibatkan sekelompok orang.
Menurut

Widoyoko

(2013:2),

“Program

diartikan

sebagai

serangkaian kegiatan yang direncanakan dengan saksama dan dalam
pelaksanaannya berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan
terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan banyak orang.” Lebih
lanjut, dikemukakan oleh Tayibnapis (2008:2) bahwa “Program ialah
segala sesuatu yang dicoba dilakukan seseorang/kelompok dengan
harapan akan mendatangkan hasil/pengaruh.”
Dari beberapa pengertian program diatas, penulis menyimpulkan
bahwa program dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau aktifitas yang
terencana dengan sistematis untuk diimplementasikan dalam kegiatan
nyata secara berkelanjutan dalam organisasi serta melibatkan banyak
orang di dalamnya dan terdapat harapan akan hasil/pengaruh.

2.2.3 Keluarga Berencana
BKKBN (2010) mengutip pernyataan World Health Organization
(WHO) pada Expert Committee tahun 1970, Keluarga Berencana adalah
tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk
mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak
13

diinginkan, mendapat kelahiran yang memang diinginkan, mengatur
interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kehamilan dalam
hubungan dengan umur suami istri, dan menentukan jumlah anak dalam
keluarga dengan umur suami istri, dan menentukan jumlah anak dalam
keluarga.
Tujuan

dari

program

Keluarga

Berencana

adalah

untuk

mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan menciptakan keluarga
kecil berkualitas. Selain itu, Program KB bertujuan untuk membentuk
keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga
dengan cara mengatur kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga
bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Soetjiningsih (1995:147) mengatakan bahwa:
Secara umum tujuan program KB adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, dengan penurunan tingkat kelahiran
untuk menuju suatu norma keluarga kecil, sebagai jembatan
meningkatkan kesehatan ibu, anak, dan anggota keluarga lainnya
menuju suatu keluarga atau masyarakat bahagia dan sejahtera.
Adapun manfaat dari program KB (Mochtar, 1998) adalah:
a. Untuk kepentingan orang tua
Orang tua (ayah dan ibu) adalah pihak yang paling bertanggung jawab
atas keselamatan dirinya dan keluarganya (anak). Oleh karena itu, orang
tua haruslah sadar akan batas-batas kemampuannya selama masa
baktinya dalam memenuhi kebutuhan anak-anaknya sampai menjadi
orang yang berguna.
b. Untuk kepentingan anak-anak

13

Perencanaan

kehamilan

merupakan

salah

satu

cara

dalam

menghargai kepentingan anak. Orang tua mempunyai persiapan yang
matang agar dapat memberikan kehidupan yang baik kepada anakanaknya agar mereka kelak menjadi anggota masyarakat yang berguna.
c.

Untuk kepentingan masyarakat
Orang tua bertugas untuk memelihara dengan baik keluarga dan

anak-anaknya agar dapat membantu terlaksananya kesejahteraan seluruh
komunitas sehingga secara makro telah ikut memelihara keseimbangan
penduduk dan pelaksanaan pembangunan nasional. Tanpa adanya
kesungguhan dari keluarga dalam menekan pertumbuhan penduduk,
maka pembangunan tidak akan berarti.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat
antara lain sosialisasi dan tingkat pendidikan. Proses sosialisasi dan
promosi dapat lebih efektif apabila ada kesadaran dari masyarakat untuk
mengikutinya.
mempengaruhi

Menurut

Rakhmat

kesadaran

(2000), faktor-faktor

diantaranya

adalah

sifat

yang
internal

dapat
dan

karakteristik individu seperti usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan,
dan faktor eksternal.
Pendidikan

merupakan

salah

satu

faktor

yang

dapat

mempengaruhi pengetahuan dan sikap tentang metode kontrasepsi.
Menurut Wijono (1999), secara langsung maupun tidak langsung
pendidikan

yang

tinggi

mempengaruhi

tingkat

kesadaran

dalam

melaksanakan KB. Semakin tinggi tingkat pendidikan pasangan yang

13

mengikuti KB, semakin besar pasangan suami istri memandang anaknya
sebagai alasan penting untuk mengikuti KB.

2.2.2 Vasektomi
Menurut Manuaba Chandranita (2009:245), vasektomi merupakan
alat kontrasepsi mantap atau medis operatif pria (MOP) dengan jalan
memotong

vas

deferens

sehingga

saat

ejakulasi

tidak

terdapat

spermatozoa dalam cairan sperma. Syahrum dkk (1994) mengatakan
bahwa vasektomi adalah tindakan bedah memotong dan mengangkat
sebagian kecil ves deferens kanan dan kiri masing-masing kurang dari 1
(satu) cm. dengan demikian vasektomi hanya menghalangi transportasi
spermatogenesis dan tidak sama dengan kastrasi (kebiri); sedangkan
kastrasi adalah merusak kedua testis atau kedua ovarium.
Dachlan dan Sungsang (1999) membagi-bagi vasektomi dalam 3
jenis, yaitu: 1) vasektomi metode standar; 2) vasektomi tanpa pisau; dan
3) vasektomi semi permanen. Vasektomi yang marak digunakan sekarang
ialah vasektomi semi permanen. Vasektomi semi permanen merupakan
pengikatan vas deferens dan bisa dibuka kembali untuk berfungsi secara
normal kembali.
Kontrasepsi mantap (kontap) pria atau vasektomi mempunyai
beberapa keunggulan. Hal ini dikemukakan oleh Hanafi (2010

Dokumen yang terkait

Dokumen baru