PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA D (1)


DI KABUPATEN SITUBONDO PROVINSI JAWA TIMUR LAPORAN AKHIR

diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Sarjana Sains Terapan Pemerintahan pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri

oleh

INDIRA MARTHA NANGAMEKA NPP. 24.0981 Program Studi : Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI 2017

TANDA PERSETUJUAN

Judul Laporan Akhir : PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA

BERENCANA DENGAN METODE VASEKTOMI DALAM PENGENDALIAN ANGKA KELAHIRAN DI KABUPATEN SITUBONDO PROVINSI JAWA TIMUR

Oleh

: Indira Martha Nangameka

Nomor Pokok Praja

Fakultas

: Manajemen Pemerintahan

Program Studi : Administrasi Kependudukan Dan Catatan Sipil Tempat dan Tgl Lahir : Situbondo, 5 April 1994

disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji pada Tanggal 08 Juni 2017

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Drs. H. M. Cholid, M.Ag Agus Sumartono, SH, MH NIP. 19531018 198503 1 003 NIP.19521217 198003 1 001

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Akhir dengan judul “PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA

VASEKTOMI DALAM PENGENDALIAN ANGKA KELAHIRAN DI KABUPATEN SITUBONDO

DENGAN

METODE

PROVINSI JAWA TIMUR” oleh Indira Martha Nangameka Nomor Pokok Praja : 24.0981 telah diuji dan dinyatakan lulus pada hari Kamis, tanggal

08 Juni 2017 dihadapan sidang penguji yang terdiri dari :

Drs. H. M. Cholid, M.Ag Ketua …………………………… Agus Sumartono, SH, MH

Sekretaris ……………………………. Drs. Endang Herman, M.Si

Anggota …………………………… Ida Widianingsih, Ph.D

Anggota ……………………………

Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,

Drs. H. M. Cholid, M.Ag Agus Sumartono, SH, MH NIP. 19531018 198503 1 003

NIP. 19521217 198003 1 001

Ketua Program Studi Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil

H. Yana Sahyana, M.Si NIP. 19590701 200012 1 001

Telah diregistrasi pada Program Studi Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil Fakultas Manajemen Pemerintahan Nomor : 423.7/ /KOMPRE/ IPDN.5/2017

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN LAPORAN AKHIR

Saya, yang bertanda tangan di bawah ini : Nama

: Indira Martha Nangameka

Npp

Judul Laporan Akhir : PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA DENGAN METODE VASEKTOMI DALAM PENGENDALIAN ANGKA KELAHIRAN DI KABUPATEN SITUBONDO PROVINSI JAWA TIMUR

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa, Laporan Akhir yang saya tulis ini adalah asli hasil karya sendiri bukan hasil menjiplak atau plagiat dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi manapun.

Sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat, apabila ternyata saya terbukti melakukan pelanggaran akademik tersebut diatas, saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan Lembaga dan/atau peraturan perundangan yang berlaku.

Jatinangor, April 2017 Yang membuat pernyataan

Indira Martha Nangameka

ABSTRAK

program yang diselenggarakan

pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk mengendalikan jumlah penduduk. Program KB diselenggarakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Program KB menyediakan berbagai kontrasepsi yang dapat digunakan oleh seluruh Pasangan Usia Subur (PUS). Masyarakat beranggapan bahwa mengikuti KB merupakan kewajiban kaum wanita. Pada kenyataannya,program KB juga dapat diikuti oleh pria yang disebut Medis Operatif Pria (MOP) atau Vasektomi. Kabupaten Situbondo mendapat rekor MURI pada tahun 2010 dan 2011 sebagai akseptor vasektomi terbanyak. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengambil judul “PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA

DENGAN METODE VASETOMI DALAM PENGENDALIAN ANGKA

KELAHIRAN DI KABUPATEN SITUBONDO PROVINSI JAWA TIMUR ” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program KB khususnya vasektomi di Kabupaten Situbondo , apa saja faktor penghambat dan upaya apa saja yang telah dilakukan pemerintah Kabupaten Situbondo, dan apakah vasektomi berperan terhadap angka kelahiran di Kabupaten Situbondo.

Metode penelitian magang yang digunakan adalah metode eksploratif dengan pendekatan induktif. Metode pengumpulan data adalah dengan menggunakan teknik wawancara, dokumentasi dan triangulasi data. Wawancara dilakukan kepada masyarakat (akseptor/non-akseptor), Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana serta aparat pemerintah terkait.

Dari penelitian yang telah dilaksanakan melalui kegiatan magang adalah pelaksanaan program KB vasektomi dalam beberapa tahun ini mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena pemerintah sudah tidak mengejar target akseptor tidak seperti tahun 2010 dan 2011. Vasektomi tidak menjadi target utama dalam pengembangan program KB di Kabupaten Situbondo. Angka kelahiran di Kabupaten Situbondo pada tahun 2015 di bawah target nasional yaitu 1,9. Namun, bukan berarti vasektomi menjadi satu-satunya kontrasepsi yang paling efektif dalam mengendalikan angka kelahiran di Kabupaten Situbondo.

Kata Kunci : Pelaksanaan, Vasektomi, Pengendalian Penduduk

ABSTRACT

Family Planning program is a program organized by the government of Indonesia which aims to control population number. Family planning program is organized by local governments in accordance with the current legislation.

The family planning program provides a wide range of contraceptives that can be used by all couples of fertile age (CFA). The community considers that taking Family Program is the duty of women. In fact, the Family Planning program can also be taken by men which is called Operative Medical Men (MOP) or vasectomy. Situbondo received record of MURI in 2010 and 2011 as the highest vasectomy acceptors. Therefore, the author is interested to have the title "THE

IMPLEMENTATION OF FAMILY PLANNING PROGRAM WITH VASECTOMY METHOD TO CONTROLLING BIRTH RATE IN

SITUBONDO DISTRICT EAST JAVA PROVINCE" This research aims to study the implementation of Family Program, especially vasectomy in Situbondo, what the factors are inhibiting and what efforts have been made by the regional government of Situbondo, and whether vasectomy contribute to the birth rate in Situbondo.

Internship research method used is exploratory method with inductive approach. The method of data collection use interview techniques, documentation and data triangulation. Interviews were conducted to society (acceptors / non-acceptors), Head of the Department of Control of Population and Family Planning and the relevant government authorities.

From the research that has been conducted through the apprenticeship is the implementation of Family Planning program vasectomy in recent years has been decreasing. This happened because the government has no longer pursued the target acceptors unlike in 2010 and 2011. Vasectomy is not the main target in the development of family Planning Programs in Situbondo. The birth rate in Situbondo in 2015 was below the national target of 1.9. However, it does not mean that vasectomy has been the most effective contraception in controlling the birth rate in Situbondo.

Keywords: Implementation, Vasectomy, Population Control

Kesusahan sehari cukuplah untuk

sehari

“Whatever you do, work at with all your heart, as working for the Lord, not for human masters ” (Colossians 3 : 23)

Karya sederhana ini Kupersembahkan kepada :

Papa, Yohanes Nangameka Beliau selalu memberikan yang terbaik untuk keempat anaknya, rela membanting tulang kesana kemari untuk keluarganya Mama, Mariana Moi

Selalu menjadi seorang ibu, sahabat, dan teman setiaku. Wanita dengan jiwa

yang kuat namun tetap lembut Saudariku, Mbak Teresa Irmina Nangameka

Orang yang selalu menjadi pendengar dan penasehat yang baik dan selalu

menjadi panutan untuk adik-adiknya Saudaraku, Desmon Petrus Adikara Nangameka

Adik yang sudah mulai beranjak dewasa dan kelak akan menjadi penjaga

saudari-saudarinya Saudariku, Florence Elisabeth Nangameka Si bungsu yang selalu manja dan cuek Dan almamaterku, IPDN

Wherever you go, you can always come home (family)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kupanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan anugerah kesehatan dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir ini yang berjudul “PELAKSANAAN

PROGRAM KELUARGA

DENGAN METODE VASEKTOMI DALAM PENGENDALIAN ANGKA KELAHIRAN DI

BERENCANA

KABUPATEN SITUBONDO PROVINSI JAWA TIMUR” dengan baik. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Laporan Akhir ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman serta keterampilan yang dimiliki, namun penulis berharap karya kecil ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan Pemerintah Kabupaten Situbondo, dalam hal ini Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Situbondo.

Penyelesaian Laporan Akhir ini tidak lepas dari bimbingan dan semangat dari berbagai pihak, terutama dari orang tua tercinta, Ir. Yohanes Nangameka, MP dan Mariana Moi, S.Pd, M.Pd yang telah merawat dan membesarkan penulis dengan penuh cinta dan kasih sayang serta doa yang selalu menyertai penulis, Pater Pius Kila yang mendoakan saya dari surga sana dan saudara dan saudariku tercinta, Teresa Irmina Nangameka, Desmon Petrus Adikara Nangameka, dan Florence Elisabeth Nangameka yang senantiasa memberikan penulis motivasi dan semangat dalam penulisan Laporan Akhir ini.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MS, MH, selaku Gubernur Institut Pemerintahan Dalam Negeri

2. Bapak Dr. Hyronimus Rowa, M.Si, selaku Deputi III Bidang Kemahasiswaan sekaligus pengganti Bapa dalam kampus

3. Bapak Dr. Bambang Supriyadi, M.Si selaku Dekan Fakultas Manajemen Pemerintahan

4. Bapak Yana Sahyana, SH, MH, selaku Kepala Program Studi Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil IPDN

5. Bapak Drs. H. M. Cholid, M.Ag, dan Bapak Agus Sumartono, SH, MH selaku dosen pembimbing yang selalu sabar membimbing dan memberikan sumbangan pemikiran serta motivasi kepada penulis

6. Ibu Tuti Chadijah, MA, beserta staf Laboratorium yang telah membantu dan memberikan kesempatan penulis untuk menggunakan bahasa Inggris dalam laporan akhir ini

7. Segenap dosen pengajar, pelatih dan pengasuh serta seluruh Civitas Akademika IPDN yang memberikan bekal ilmu, pengetahuan dan keterampilan dan bimbingan kepada penulis selama mengikuti pendidikan di IPDN

8. Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Situbondo, Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten

Situbondo yang telah membantu dan memberikan informasi selama penulis melaksanakan magang

9. Seluruh Kontingen Jawa Timur Angkatan XXIV terutama Intan, Fahim Ridho, Nazir, saudara-saudari Kabupaten Situbondo, dan saudara-saudara Karesidenan Besuki XXIV

10. Adik-adik Karesidenan Besuki Angkatan XXV, XXVI, XXVII tercinta

11. Rekan-rekan Petak A, Wisma Nusantara 32 Atas dan Wisma Nusantara 37 Atas

12. Personil Kelas A-Bilingual Wasana Praja, Personil Kelas A1 Madya dan Nindya Praja, Personil Kelas A7 Muda Praja yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung

13. Saudara Asuh Polisi Praja Angkatan XXIV, Gita Puja Wyata, dan Pandawa yang telah memberikan banyak dinas luar

14. Rekan-rekan perjuangan selama kuliah di Jogja, Jenia, Aia, Tania, Monic, Efri, Mia, teman-teman jurusan Sosial Ekonomi Pertanian di Universitas Gadjah Mada, tempat kuliah pertama penulis

15. Kakak Ira Meiyenti, S.IP atas bantuan dan dukungannya

16. Seluruh keluarga dan rekan-rekan yang senantiasa memberikan doa dan dukungannya kepada penulis

Akhir kata penulis berharap semoga Laporan Akhir ini dengan segala bentuk kekurangan dan keterbatasannya dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua, Amin.

Jatinangor,………April 2017 Penulis

INDIRA MARTHA NANGAMEKA

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Jumlah Penduduk di Kabupaten Situbondo Tahun 2010-2015 ........................................................................... 6 Tabel 1.2 Jumlah Akseptor Vasektomi di Kabupaten Situbondo Tahun 2010 –2015 .............................................................. 8 Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Magang Tahun 2017 ............................... 46 Tabel 4.1 Kecamatan dan Luas Wilayah Kecamatan ........................ 48 Tabel 4.2 Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Kecamatan ................... 49 Tabel 4.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun

2010-2015 .......................................................................... 50 Tabel 4.4 Distribusi dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Situbondo, 2015 ........................................... 51 Tabel 4.5 Tenaga Kerja di Kabupaten Situbondo .............................. 52 Tabel 4.6 Jumlah PUS dan Peserta KB Tahun 2016 ......................... 78 Tabel 4.7 Jumlah Keluarga Menurut Kecamatan dan Klasifikasi

Keluarga Tahun 2015 ........................................................ 81 Tabel 4.8 Akseptor MOP/Vasektomi Aktif Kabupaten Situbondo ....... 86 Tabel 4.9 Perbandingan PUS dan KB Aktif MOP Kabupaten

Situbondo ........................................................................... 90 Tabel 4.10 Jumlah Peserta KB Aktif Per Mix Kontrasepsi Menurut PUS Sampai Tahun 2016 .................................... 94 Tabel 4.11 Peserta KB BAru Vasektomi Tahun 2010-2015 ................. 101 Tabel 4.12 Angka Kelahiran Kabupaten Situbondo Tahun

2010-2015 .......................................................................... 102

PETA KABUPATEN SITUBONDO

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan jumlah penduduk di Indonesia yang semakin lama semakin meningkat menimbulkan kekhawatiran. Angka fertilitas yang semakin meningkat dan tidak dikendalikan akan menyebabkan masalah- masalah baru pada suatu negara. Apabila hal ini tidak ditangani dengan baik, maka cita-cita bangsa Indonesia yang telah tercantum pada Pembukaan UUD RI 1945 di alinea keempat yaitu memajukan kesejahteraan umum tidak akan tercapai.

Faktor utama yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah tingkat kelahiran. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971, angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) diperkirakan 5,6, anak per wanita usia reproduksi, dan saat ini telah turun lebih dari 50 persen menjadi 2,6 anak per wanita (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia- SDKI 2002-2003). TFR berhubungan erat dengan Angka Kelahiran Ibu (AKI) hamil atau melahirkan. Tingginya angka kelahiran akan mengakibatkan setiap daerah di Indonesia padat penduduknya. Hal yang paling berpengaruh pada peningkatan jumlah penduduk saat ini ialah tingginya angka kelahiran dari setiap ibu. Rata-rata wanita Indonesia melahirkan 4,5 juta bayi setiap tahunnya (SDKI 2002-2003).

Jumlah penduduk perlu untuk dikendalikan mengingat bahwa pembangunan berwawasan kependudukan dinilai lebih efektif untuk mensejahterahkan suatu negara. Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Gold). Hal ini diselenggarakan melalui pengendalian kuantitas penduduk dan peningkatan kualitas insani dan sumber daya manusia. Ada beberapa alasan mengapa pembangunan berkawasan kependudukan perlu mendapat perhatian, yaitu:

1. Indonesia sebagai negara berkembang yang berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi gagal dalam mengurangi kesenjangan sosial dan kemiskinan.

2. Ketika pertumbuhan ekonomi tinggi dan menjadi negara maju, tetapi tetap tidak bisa mengurangi masalah-masalah sosial, seperti penyalahgunaan obat, AIDS, dan kekerasan dalam rumah tangga.

3. Beberapa negara dengan pendapatan rendah memiliki indeks pembangunan manusia (IPM) yang tinggi, jika negara tersebut mampu untuk menggunakan secara bijaksana semua sumber daya untuk mnegembangkan

dasar manusia. ( http://repository.unej.ac.id/ ) Pemerintah Indonesia menyadari bahwa pembangunan berbasis kependudukan merupakan upaya untuk mensejahterahkan masyarakat. Karakteristik pembangunan antara lain dilaksanakan melalui pengendalian

semua

kemampuan kemampuan

Pemerintah Indonesia pada tahun 1970 mendirikan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional yang sekarang berganti nama menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. BKKBN merupakan badan yang ditunjuk pemerintah pusat dalam mengendalikan jumlah penduduk dengan membatasi kelahiran. Dalam pembatasan kelahiran tersebut, BKKBN mencanangkan Program Keluarga Berencana (Family Planning).

Program Keluarga Berencana (KB) adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi angka kelahiran. Maknanya adalah perencanaan pembatasan jumlah keluarga yang bisa dilakukan adalah dengan penggunaan alat kontrasepsi, penundaan usia perkawinan, dan lain-lain. Jumlah anak dalam sebuah keluarga dianggap ideal apabila berjumlah 2 (dua). Tujuan dari Keluarga Berencana itu sendiri ialah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dan untuk mengatasi laju pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat agar tercapai wujud dari keluarga kecil bahagia dan sejahtera yang menjadi dasar masyarakat sejahtera.

Pada tahun 1971, angka prevalensi penggunaan kontrasepsi kurang dari 5 persen, tahun 1980 meningkat menjadi 26 persen, tahun 1987 menjadi 48 persen, tahun 1997 menjadi 57 persen, dan tahun 2002 Pada tahun 1971, angka prevalensi penggunaan kontrasepsi kurang dari 5 persen, tahun 1980 meningkat menjadi 26 persen, tahun 1987 menjadi 48 persen, tahun 1997 menjadi 57 persen, dan tahun 2002

Program Keluarga Berencana mempunyai 2 metode yaitu Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) dan Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP). MKJP meliputi IUD, MOP (Medis Operatif Pria), Medis Operatif Wanita (MOW), dan Implant. Sementara itu, Non MKJP meliputi Suntik, Pil, dan Kondom. MKJP adalah kontrasepsi yang dapat dipakai dalam jangka waktu lama (lebih dari 2 tahun), sangat efektif dan efisien dalam upaya untuk menjarangkan kelahiran, sedangkan Non MKJP jangka waktunya kurang dari 2 tahun.

Metode-metode program keluarga berencana diperuntukkan tidak hanya untuk wanita tetapi juga untuk pria. Keikutsertaan lelaki atau suami dalam upayanya untuk ikut serta mengurangi jumlah kelahiran adalah usaha tanggung jawab ber-KB, berperilaku seksual yang aman bagi dirinya sendiri maupun pasangan. Pelaksanaan kebijakan peran serta pria dalam melaksanakan program keluarga berencana sebagai objek langsung memang relatif baru dan masih belum maksimal. Dengan turut Metode-metode program keluarga berencana diperuntukkan tidak hanya untuk wanita tetapi juga untuk pria. Keikutsertaan lelaki atau suami dalam upayanya untuk ikut serta mengurangi jumlah kelahiran adalah usaha tanggung jawab ber-KB, berperilaku seksual yang aman bagi dirinya sendiri maupun pasangan. Pelaksanaan kebijakan peran serta pria dalam melaksanakan program keluarga berencana sebagai objek langsung memang relatif baru dan masih belum maksimal. Dengan turut

Akseptor KB wanita jika dibandingkan dengan akseptor KB pria masih sangat jauh kesenjangannya. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi pria dalam menggunakan alat kontrasepsi masih sangat rendah. Dalam pengendalian kelahiran, penundaan perkawinan, dan penundaan kehamilan tidak hanya melibatkan wanita saja tapi juga pria. Oleh karena itu, sudah sepatutnya pria juga ikut berpartisipasi dalam ber- KB. Hal ini diperkuat dengan adanya pernyataan dari Badan Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Fund for Population Activities (UNFPA). UNFPA menyatakan bahwa peran pria salah satunya ialah berbagi peran sebagai orang tua dengan cara meyakinkan kesehatan reproduksi keluarga, merencanakan keluarga dan partisipasi dalam ber-KB untuk menentukan jumlah, jarak, dan waktu kehamilan serta tempat persalinan.

Dewasa ini, penggunaan alat kontrasepsi tidak hanya diperuntukkan untuk wanita, tapi juga untuk pria agar dapat berkontribusi secara penuh dalam program KB. Metode KB untuk pria yang efektif haruslah aman, reversible, bereaksi cepat, diterima oleh pemakai dan tidak mempengaruhi kemampuan seksual atau libido. Alat kontrasepsi yang diperuntukkan bagi pria ialah MOP/ Vasektomi dan kondom. Penggunaan kondom sebenarnya sudah cukup tinggi karena dianggap lebih mudah didapat dan tidak merepotkan. Namun, penggunaan kondom Dewasa ini, penggunaan alat kontrasepsi tidak hanya diperuntukkan untuk wanita, tapi juga untuk pria agar dapat berkontribusi secara penuh dalam program KB. Metode KB untuk pria yang efektif haruslah aman, reversible, bereaksi cepat, diterima oleh pemakai dan tidak mempengaruhi kemampuan seksual atau libido. Alat kontrasepsi yang diperuntukkan bagi pria ialah MOP/ Vasektomi dan kondom. Penggunaan kondom sebenarnya sudah cukup tinggi karena dianggap lebih mudah didapat dan tidak merepotkan. Namun, penggunaan kondom

Kabupaten Situbondo mengalami penambahan jumlah penduduk setiap tahun, hal ini dibuktikan pada tabel berikut:

Tabel 1.1

Jumlah Penduduk di Kabupaten Situbondo Tahun 2010-2015

Tahun

Jumlah Penduduk

Sumber : BPS Kabupaten Situbondo

Setiap tahunnya, penduduk di wilayah ini semakin meningkat. Oleh karena itu, Kabupaten Situbondo melalui Kantor Keluarga Berencana berusaha untuk mengendalikan jumlah angka kelahiran melalui program keluarga berencana.

Kabupaten Situbondo merupakan salah satu kabupaten yang turut serta melaksanakan program KB pria yaitu MOP/ Vasektomi. Vasektomi merupakan suatu metode kontrasepsi operatif minor pada pria yang sangat aman, sederhana, dan sangat efektif, waktu operasi singkat dan tidak memerlukan anestesi umum. Vasektomi adalah tindakan memotong saluran sperma yang menghubungkan buah zakar (testis) dengan kantong Kabupaten Situbondo merupakan salah satu kabupaten yang turut serta melaksanakan program KB pria yaitu MOP/ Vasektomi. Vasektomi merupakan suatu metode kontrasepsi operatif minor pada pria yang sangat aman, sederhana, dan sangat efektif, waktu operasi singkat dan tidak memerlukan anestesi umum. Vasektomi adalah tindakan memotong saluran sperma yang menghubungkan buah zakar (testis) dengan kantong

Pandangan masyarakat selama ini menganggap bahwa metode vasektomi berbahaya untuk kesehatan reproduksi pria. Kantor KB Situbondo sebagai leading sector yang menangani program KB khususnya MOP/ Vasektomi, Pemerintah Daerah serta seluruh elemen masyarakat dan peserta MOP yang sudah berpengalaman dijadikan sebagai bukti bahwa MOP tidak berbahaya. Selain itu, Kabupaten Situbondo mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk layanan KB pria (akseptor vasektomi terbanyak pada tahun 2010).

Jumlah akseptor vasektomi di Kabupaten Situbondo dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1.2

Jumlah Akseptor Vasektomi di Kabupaten Situbondo

Tahun 2010 s.d 2015 Tahun

No. Kecamatan

1. Sumbermalang

2. Jatibanteng

3. Banyuglugur

4. Besuki

5. Suboh

6. Mlandingan

7. Bungatan

8. Kendit

9. Panarukan

10. Situbondo

11. Mangaran

12. Panji

13. Kapongan

14. Arjasa

15. Jangkar

16. Asembagus

324 299 Jumlah

17. Banyuputih

Sumber : Situbondo Dalam Angka 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2016

Dari data yang telah ditampilkan di atas, angka partisipasi pria di Kabupaten Situbondo dalam menggunakan metode vasektomi cukup tinggi. Padahal, vasektomi masih banyak menuai kontroversi dalam hal penerapannya. Masih banyak masyarakat yang menganggap vasektomi haram sehingga banyak yang menolak untuk menjadi akseptor. Namun, beberapa tahun belakangan ini, akseptor vasektomi menurun. Hal ini yang melatarbelakangi penulis untuk meneliti fenomena yang terjadi di Kabupaten Situbondo. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Pelaksanaan Program Keluarga Berencana dengan Metode

Vasektomi dalam Pengendalian Angka Kelahiran di Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur”.

1.2 Ruang Lingkup, Fokus dan Lokasi Magang

1.2.1 Ruang Lingkup Magang

Berdasarkan latar belakang yang telah ditulis, maka ruang lingkup penelitian melalui magang ini meliputi pelaksanaan program keluarga berencana terutama dengan program vasektomi dalam upaya untuk mengendalikan angka kelahiran di Kabupaten Situbondo selama 7 tahun terakhir.

1.2.2 Fokus Magang

Pada penulisan usulan laporan akhir magang ini, penulis membatasi masalah-masalah yang dibahas mengingat keterbatasan Pada penulisan usulan laporan akhir magang ini, penulis membatasi masalah-masalah yang dibahas mengingat keterbatasan

1. Pelaksanaan program keluarga berencana di Kabupaten Situbondo

2. Pelaksanaan metode vasektomi di Kabupaten Situbondo

3. Perbandingan angka kelahiran di Kabupaten Situbondo

1.2.3 Lokasi Magang

Penulis akan melaksanakan penelitian dengan lokus di Kantor Keluarga Berencana Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur.

1.3 Maksud dan Tujuan Magang

1.3.1 Maksud Magang

Dengan melihat permasalahan tersebut, maka maksud dari magang ini adalah untuk mengetahui dan mengumpulkan data, informasi, dan fakta yang relevan maupun argumen di lapangan terkait program KB dengan metode vasektomi di Kabupaten Situbondo.

1.3.2 Tujuan Magang

Adapun tujuan magang ini ialah untuk:

1. Mengetahui bagaimana pelaksanaan program keluarga berencana di Kabupaten Situbondo

2. Mengetahui bagaimana pelaksanaan metode vasektomi di Kabupaten Situbondo

3. Menganalisis perbandingan angka kelahiran dan angka kematian di Kabupaten Situbondo

1.4 Kegunaan

1.4.1 Kegunaan Teoretis

Hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi dan dapat digunakan sebagai tambahan informasi untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan metode MOP/ Vasektomi di Kabupaten Situbondo atau di tempat penelitian lainnya. Selain itu, diharapkan juga dapat memberikan wawasan dengan membandingkan antara teori dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.

1.4.2 Kegunaan Praktis

Program magang diharapkan mampu memberi pengaruh positif pada semua pihak, terutama:

a. Untuk lokasi magang Penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten Situbondo ini diharapkan

dapat memberikan sumbangan pemikiran dan masukan bagi pemerintah Kabupaten Situbondo khususnya Kantor Keluarga Berencana dan juga kepada masyarakat Kabupaten Situbondo yang berkitan dengan penurunan angka kelahiran melalui metode vasektomi.

b. Bagi Lembaga Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan

bagi Praja dan/atau pihak lain lembaga yang berniat untuk melanjutkan penelitian pelaksanaan program vasektomi di Kabupaten Situbondo ataupun daerah lain. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi acuan ataupun pembanding bagi Praja yang akan melaksanakan kegiatan magang berikutnya. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam penentuan kebijakan penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Situbondo yang berkaitan dengan keluarga berencana dan kependudukan.

BAB II LANDASAN NORMATIF DAN TEORETIS

2. 1 Landasan Normatif

2.1.1 Keluarga Berencana

Keluarga Berencana merupakan suatu program pemerintah yang dirancang untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dan jumlah penduduk. Program keluarga berencana oleh pemerintah adalah agar keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan menerima Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) yang berorientasi pada pertumbuhan yang seimbang. Gerakan Keluarga Berencana Nasional telah berumur sangat lama yaitu pada tahun 1970-an dan masyarakat dunia menganggap program keluarga berencana ini berhasil menurunkan angka kelahiran.

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang sekarang dikenal dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional didirikan pada tahun 1970 melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 8 Tahun 1970 didirikanlah. BKKBN adalah lembaga non Departemen yang mempunyai tanggung jawab pada bidang pengendalian penduduk

Indonesia.

Program KB memiliki makna yang sangat strategis, komprehensif, dan fundamental dalam upaya mewujudkan manusia Indonesia sejahtera yang tidak terpisahkan dengan program pendidikan dan kesehatan. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera yang kemudian direvisi menjadi Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan

Pembangunan Keluarga menyebutkan bahwa Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas.

Kependudukan

dan

Sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 Pasal 21 ayat (1), Kebijakan Keluarga Berencana dilaksanakan untuk membantu calon atau pasangan suami istri dalam mengambil keputusan dan mewujudkan hak reproduksi secara bertanggung jawab tentang:

a. Usia ideal perkawinan;

b. Usia ideal untuk melahirkan;

c. Jumlah ideal anak;

d. Jarak ideal kelahiran anak;

e. Penyuluhan kesehatan reproduksi. Pasal 21 ayat (2) menyebutkan bahwa Keluarga Berencana

bertujuan untuk: a) mengatur kehamilan yang diinginkan; b) menjaga bertujuan untuk: a) mengatur kehamilan yang diinginkan; b) menjaga

Pasal 23, pemerintah dan pemerintah daerah wajib meningkatkan akses dan kualitas informasi, pendidikan, konseling, dan pelayanan kontrasepsi dengan cara:

a. Menyediakan metode kontrasepsi sesuai dengan pilihan pasangan suami istri dengan mempertimbangkan usia, paritas, jumlah anak,kondisi kesehatan, dan norma agama;

b. Menyeimbangkan kebutuhan laki-laki dan perempuan;

c. Menyediakan informasi yang lengkap, akurat, dan mudah diperoleh tentang efek samping, komplikasi, dan kegagalan kontrasepsi, termasuk manfaatnya dalam pencegahan penyebaran virus penyebab penyakit penurunan daya tahan tubuh dan infeksi menular karena hubungan seksual;

d. Meningkatkan keamanan, keterjangkauan, jaminan kerahasiaan, serta ketersediaan alat, obat, dan cara kontrasepsi yang bermutu tinggi.

e. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia petugas keluarga berencana; e. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia petugas keluarga berencana;

g. Menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi esensial di tingkat primer dan komprehensif pada tingkat rujukan;

h. Melakukan promosi pentingnya air susu ibu serta menyusui secara eksklusif untuk mencegah kehamilan 6 (enam) bulan pasca kelahiran, meningkatkan derajat kesehatan ibu, bayi dan anak; dan

i. Melalui pemberian informasi tentang pencegahan terjadinya ketidakmampuan pasangan untuk mempunyai anak setelah 12 (dua belas) bulan tanpa menggunakan alat pengaturan kehamilan bagi pasangan suami istri.

Guna mencapai tujuan keluarga berencana yang dimaksud diatas, perlu dilakukan upaya-upaya dari instansi terkait. Upaya yang dapat dilakukan ialah: a) peningkatan keterpaduan dan peran serta masyarakat;

b) pembinaan keluarga; c) pengaturan kehamilan dangan memperhatikan agama, kondisi perkembangan sosial, ekonomi, dan budaya, serta tata nilai yang hidup dalam masyarakat.

Pemerintah (presiden) juga mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Pada Peraturan Presiden ini disebutkan pula tugas dan fungsi serta wewenang dari BKKBN itu sendiri. Seperti yang terdapat pada Pasal 2 yang berbunyi “BKKBN mempunyai Pemerintah (presiden) juga mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Pada Peraturan Presiden ini disebutkan pula tugas dan fungsi serta wewenang dari BKKBN itu sendiri. Seperti yang terdapat pada Pasal 2 yang berbunyi “BKKBN mempunyai

2.1.2 Partisipasi Pria dalam KB

Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 Pasal 23 menyebutkan bahwa pemerintah wajib meningkatkan akses dengan cara menyediakan metode kontrasepsi sesuai dengan pilihan pasangan suami istri dengan mempertimbangkan usia, paritas, jumlah anak, kondisi kesehatan, dan norma agama. Pada Pasal 24, pelayanan kontrasepsi yang dilaksanakan oleh pemerintah diselenggarakan dengan tata cara yang berdaya guna dan berhasil guna dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan suami atau istri.

Lebih jelas disebutkan pada Pasal 25 bahwa suami dan/atau istri mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama dalam melaksanakan keluarga berencana. Pemerintah juga wajib menyediakan alat kontrasepsi yang diperuntukkan bagi suami ataupun istri.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah diberikan kewenangan untuk membentuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam mengakomodir perbedaan geografis dan perbedaan budaya yang Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten/Kota menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah diberikan kewenangan untuk membentuk Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam mengakomodir perbedaan geografis dan perbedaan budaya yang

Sasaran dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009 dijelaskan bahwa partisipasi pria menjadi salah satu indikator terpenting keberhasilan program KB dalam memberikan kontribusi yang nyata untuk mewujudkan keluarga kecil yang berkualitas. Dalam RPJMN tahun 2004-2009 disebutkan bahwa peningkatan jumlah keluarga kecil berkualitas melalui meningkatnya kesertaan KB laki-laki menjadi 4,5% dan meningkatnya penggunaan kontrasepsi yang efektif dan efisien.

RPJMN tahun 2010-2015 Bagian IV Bab 30 menyebutkan bahwa kegiatan pokok yang dilaksanakan meliputi peningkatan penggunaan kontrasepsi yang efektif dan efisien melalui penyediaan sarana prasarana pelayanan kontrasepsi mantap dan berjangka panjang yang lebih terjangkau dan merata di seluruh wilayah Indonesia. Kontrasepsi mantap merupakan kontrasepsi metode vasektomi untuk pria dan metode tubektomi untuk wanita.

Peraturan yang secara khusus mengatur tentang partisipasi pria dalam program KB adalah Keputusan Kepala BKKBN Nomor 145/HK- 01/B5/2009 tentang Standar Pelayananan Minimal Bidang Keluarga

Berencana di Kabupaten/Kota yang juga memuat tentang pedoman peningkatan partisipasi pria dalam program keluarga berencana. Dalam peraturan ini menyebutkan bahwa partisipasi pria dalam program KB merupakan bentuk nyata kepedulian dan tanggung jawab pria dalam pelaksanaan program KB khususnya vasektomi dan kesehatan reproduksi.

Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 2012 Kabupaten Situbondo melaporkan bahwa strategi dari pembangunan Kabupaten Situbondo sendiri adalah meningkatnya mutu pelayanan KB terhadap pasangan usia subur dan terpenuhinya kebutuhan pelayanan KB. Hal ini juga mencakup mengenai partisipasi pria dalam ber-KB dengan metode vasektomi. Untuk menunjukkan keseriusan dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera di Situbondo, Bupati Situbondo membuat Surat Edaran kepada setiap Kecamatan di Situbondo untuk memberikan akseptor vasektomi terutama dari keluarga miskin pada tahun 2010.

2.2 Landasan Teoretis

2.2.1 Pelaksanaan

Pelaksanaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah actuating yang merupakan salah satu fungsi manajemen seperti yang dikemukakan oleh George R. Terry. Terry (2006:313) mendefinisikan bahwa:

Actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa sehingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran Actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa sehingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran

Manajemen (2012:17) menyatakan bahwa “Actuating atau disebut juga ‘gerakan aksi’ mencakup kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer untuk mengawali dan melanjutkan kegiatan yang ditetapkan oleh unsur perencanaan dan pengorganisasian agar tujuan- tujuan dapat tercapai.”

Koontz dan O’Donnel dalam Hasibuan (2008:188) mendefinisikan “Pelaksanaan sebagai hubungan antara aspek-aspek individual yag ditimbulkan oleh adanya pengaturan terhadap bawahan-bawahan untuk dapat dipahami dan pembagian pekerjaan yang efektif untuk tujuan yang nyata”. Syaukani dkk (2009:294-295) menyatakan

Pelaksanaan merupakan salah satu tahap dalam proses kebijakan publik, dalam proses kebijaksanaan publik dalam sebuah Negara. Biasanya pelaksanaan dilakukan setelah sebuah kebijakan dirumuskan dengan tujuan yang jelas, termasuk jangka menengah dan jangka panjang.

Menurut Abdullah (1987:40) mendefinisikan bahwa: Pelaksanaan adalah aktifitas atau usaha-usaha yang

dilaksanakan untuk melaksanakan semua rencana dan kebijaksanaan yang telah dirumuskan dan ditetapkan dengan dilengkapi segala kebutuhan, alat-alat yang diperlukan, siapa yang melaksanakan, dimana tempat pelaksanaannya mulai dan bagaimana cara yang harus dilakukan, suatu proses rangkaian kegiatan tindak lanjut setelah program atau kebijaksanaan yang ditetapkan yang terdiri atas pengambilan keputusan, langkah yang strategis maupun operasional atau kebijaksanaan yang menjadi kenyataan guna mencapai sasaran dari program yang ditetapkan semula. Weimer dan Vinning dalam Subarsono (2011:103) disebutkan

bahwa ada 3 (tiga) kelompok variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan. Variabel tersebut yaitu:

1. Logika kebijakan, suatu kebijakan yang ditetapkan masuk akal dan mendapat dukungan teoritis.

2. Lingkungan tempat kebijakan dioperasikan akan mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan.

3. Kemampuan implementasi kebijakan; keberhasilan suatu kebijakan dapat dipengaruhi oleh tingkat kompetensi dan keberhasilan implementor kebijakan.

Menurut beberapa pandangan ahli sebagaimana telah dikemukakan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan adalah suatu proses yang sistematis dalam menggerakkan anggota- anggota organisasi untuk menjalankan tugas sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Semua anggota harus bergerak dan bekerja agar tujuan organisasi dapat tercapai. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, perlu adanya usaha-usaha yang mendukung dan sarana dan prasarana yang menunjang proses tersebut. Keberhasilan suatu kegiatan pelaksanaan dipengaruhi 3 unsur yaitu program, sasaran, dan unsur organisasi pelaksana itu sendiri. Pelaksanaan yang berkaitan dengan penelitian ini adalah pelaksanaan program vasektomi dengan tujuan untuk mempengaruhi jumlah kelahiran guna mencapai masyarakat sejahtera

2.2.2 Program

Dalam pelaksanaan suatu kegiatan, diperlukan program-program yang telah disetujui bersama oleh orang-orang yang terlibat di dalamnnya.

Menurut Dwiwibawa dan Riyanto (2012:54) “Program kerja adalah kumpulan dari berbagai kegiatan yang merupakan uraian dan penjabaran dari suatu rencana kerja. Program kerja menjadi pedoman kerja bagi sebuah organisasi.” Selain itu, Saifuddin Anshari mengatakan bahwa “Program adalah daftar terinci mengenai acara dan usaha yang akan dilaksanakan.”( https://www.seputarpengetahuan.com/2016/06/10pengertia n-program-menurut-para-ahli-lengkap.html )

Menurut Arikunto dan Safruddin (2004:3) mengatakan bahwa: Program merupakan satu kesatuan dari beberapa bagian atau

komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh sistem tersebut. Komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Masing-masing komponen terdiri atas beberapa subkomponen dan masing-masing subkomponen terdapat beberapa indikator.

Arikunto (2004:2) mendefinisikan program dalam dua pengertian, yaitu: Program dapat diartikan secara umum sebagai rencana atau

rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. Pengertian program secara khusus biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari

dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang.

Dengan demikian yang perlu ditekankan bahwa program terdapat tiga unsur penting yaitu:

a. Program adalah realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan.

b. Terjadi dalam kurun waktu yang lama dan bukan kegiatan tunggal tetapi jamak berkesinambungan.

c. Terjadi dalam organisasi yang melibatkan sekelompok orang.

Sebuah program bukan hanya kegiatan tunggal yang dapat terselesaikan dalam waktu singkat, tetapi merupakan kegiatan yang berkesinambungan karena melaksanakan suatu kebijakan. Oleh karena itu, sebuah program dapat berlangsung dalam kurun waktu relatif lama. Pelaksanaan program selalu terjadi dalam sebuah organisasi yang artinya harus melibatkan sekelompok orang.

Menurut Widoyoko (2013:2), “Program diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang direncanakan dengan saksama dan dalam pelaksanaannya berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam sua tu organisasi yang melibatkan banyak orang.” Lebih lanjut, dikemukakan oleh Tayibnapis (2008:2) bahwa “Program ialah segala sesuatu yang dicoba dilakukan seseorang/kelompok dengan harapan akan mendatangkan hasil/pengaruh.”

Dari beberapa pengertian program diatas, penulis menyimpulkan bahwa program dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau aktifitas yang terencana dengan sistematis untuk diimplementasikan dalam kegiatan nyata secara berkelanjutan dalam organisasi serta melibatkan banyak orang di dalamnya dan terdapat harapan akan hasil/pengaruh.

2.2.3 Keluarga Berencana

BKKBN (2010) mengutip pernyataan World Health Organization (WHO) pada Expert Committee tahun 1970, Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak BKKBN (2010) mengutip pernyataan World Health Organization (WHO) pada Expert Committee tahun 1970, Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak

Tujuan dari program Keluarga Berencana adalah untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan menciptakan keluarga kecil berkualitas. Selain itu, Program KB bertujuan untuk membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara mengatur kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Soetjiningsih (1995:147) mengatakan bahwa:

Secara umum tujuan program KB adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan penurunan tingkat kelahiran untuk menuju suatu norma keluarga kecil, sebagai jembatan meningkatkan kesehatan ibu, anak, dan anggota keluarga lainnya menuju suatu keluarga atau masyarakat bahagia dan sejahtera. Adapun manfaat dari program KB (Mochtar, 1998) adalah:

a. Untuk kepentingan orang tua Orang tua (ayah dan ibu) adalah pihak yang paling bertanggung jawab

atas keselamatan dirinya dan keluarganya (anak). Oleh karena itu, orang tua haruslah sadar akan batas-batas kemampuannya selama masa baktinya dalam memenuhi kebutuhan anak-anaknya sampai menjadi orang yang berguna.

b. Untuk kepentingan anak-anak

Perencanaan kehamilan merupakan salah satu cara dalam menghargai kepentingan anak. Orang tua mempunyai persiapan yang matang agar dapat memberikan kehidupan yang baik kepada anak- anaknya agar mereka kelak menjadi anggota masyarakat yang berguna.

c. Untuk kepentingan masyarakat Orang tua bertugas untuk memelihara dengan baik keluarga dan

anak-anaknya agar dapat membantu terlaksananya kesejahteraan seluruh komunitas sehingga secara makro telah ikut memelihara keseimbangan penduduk dan pelaksanaan pembangunan nasional. Tanpa adanya kesungguhan dari keluarga dalam menekan pertumbuhan penduduk, maka pembangunan tidak akan berarti.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat antara lain sosialisasi dan tingkat pendidikan. Proses sosialisasi dan promosi dapat lebih efektif apabila ada kesadaran dari masyarakat untuk mengikutinya. Menurut Rakhmat (2000), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesadaran diantaranya adalah sifat internal dan karakteristik individu seperti usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, dan faktor eksternal.

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan sikap tentang metode kontrasepsi. Menurut Wijono (1999), secara langsung maupun tidak langsung pendidikan yang tinggi mempengaruhi tingkat kesadaran dalam melaksanakan KB. Semakin tinggi tingkat pendidikan pasangan yang Pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan sikap tentang metode kontrasepsi. Menurut Wijono (1999), secara langsung maupun tidak langsung pendidikan yang tinggi mempengaruhi tingkat kesadaran dalam melaksanakan KB. Semakin tinggi tingkat pendidikan pasangan yang

2.2.2 Vasektomi

Menurut Manuaba Chandranita (2009:245), vasektomi merupakan alat kontrasepsi mantap atau medis operatif pria (MOP) dengan jalan memotong vas deferens sehingga saat ejakulasi tidak terdapat spermatozoa dalam cairan sperma. Syahrum dkk (1994) mengatakan bahwa vasektomi adalah tindakan bedah memotong dan mengangkat sebagian kecil ves deferens kanan dan kiri masing-masing kurang dari 1 (satu) cm. dengan demikian vasektomi hanya menghalangi transportasi spermatogenesis dan tidak sama dengan kastrasi (kebiri); sedangkan kastrasi adalah merusak kedua testis atau kedua ovarium.

Dachlan dan Sungsang (1999) membagi-bagi vasektomi dalam 3 jenis, yaitu: 1) vasektomi metode standar; 2) vasektomi tanpa pisau; dan

3) vasektomi semi permanen. Vasektomi yang marak digunakan sekarang ialah vasektomi semi permanen. Vasektomi semi permanen merupakan pengikatan vas deferens dan bisa dibuka kembali untuk berfungsi secara normal kembali.

Kontrasepsi mantap (kontap) pria atau vasektomi mempunyai beberapa keunggulan. Hal ini dikemukakan oleh Hanafi (2010:180), yaitu:

1. Merupakan cara kontrasepsi yang paling efektif, angka kegagalannya kecil, sehingga sesuai bagi pasangan yang tidak mau menambah anak lagi.

2. Prosedur pelaksanaan yang hanya 1 (satu) kali.

3. Resiko komplikasi dan kematian sangat kecil.

4. Relatif lebih murah dari cara lain karena tidak perlu diganti dengan alat baru atau diberi obat berulang dan tidak perlu kunjungan ulang yang teratur.

Persyaratan seorang pria yang akan melakukan Medis Operatif Pria/ Vasektomi :

1. Harus secara sukarela

2. Mendapat persetujuan istri

3. Mengetahui akibat-akibat yang ditimbulkan

4. Umur calon akseptor tidak kurang dari 30 tahun

5. Umur istri kurang dari 20 tahun dan tidak lebih dari 45 tahun

6. Pasangan suami istri telah mempunyai minimal 2 (dua) orang anak,

dan anak yang paling kecil harus berusia lebih dari 2 (dua) tahun. Keterbatasan Medis Operatif Pria (MOP)/ Vasektomi antara lain:

1. Akibat dilakukan dangan tindakan medis/ pembedahan, maka masih memungkinkan terjadi pendarahan, nyeri, dan infeksi.

2. Tidak melindungi pasangan dari penyakit menular seksual termasuk HIV dan AIDS.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA BERENCANA D (1)