Tersedia online di: http:ejournal-balitbang.kkp.go.idindex.phpjra EVALUASI KUALITAS WARNA IKAN KLOWN Amphiprion percula Lacepède 1802 TANGKAPAN ALAM DAN HASIL BUDIDAYA

  Jurnal Riset Akuakult ur, 12 (3), 2017, 231-239

Tersedia online di: ht t p://ej ournal-balit bang.kkp.go.id/index.php/j ra

  

EVALUASI KUALITAS WARNA IKAN KLOW N Lacepède 1802

Amphiprion percula

  

TANGKAPAN ALAM DAN HASIL BUDIDAYA

*)**)# ***) ****) Sukarman , Dewi Apri Astuti , dan Nur Bambang Priyo Utomo
  • *) **)

  

Balai Riset Budidaya Ikan Hias

Program Master Ilmu Nutrisi dan Pakan, Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pert anian Bogor

  • ***) ****)

  

Depart emen Ilmu Nutrisi dan Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pert anian Bogor

Depart emen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelaut an, Institut Pert anian Bogor

(Naskah dit erima: 13 Juli 2017; Revisi final: 18 Sept ember 2017; Diset ujui publikasi: 18 Sept ember 2017)

  ABSTRAK

Kualitas warna ikan klown hasil budidaya lebih rendah dibandingkan tangkapan alam, hal ini dipengaruhi

oleh berbagai faktor, namun belum ada data ilmiah sebagai dasar untuk melakukan perbaikan. Tujuan

penelit ian adalah menganalisis dan mengevaluasi kualitas warna ikan klown ( Amphiprion percula ) hasil

tangkapan alam dibandingkan dengan hasil budidaya. Kualitas warna diukur pada dua zona: zona-I kulit

berwarna oranye antara insang dengan warna putih pada tengah badan dan zona-II adalah bagian

band

kulit warna oranye antara band putih tengah badan dengan band warna putih pada pangkal ekor, dengan

parameter nilai L* (lightness), a* (redness), b* (yellowness), C (chroma), H (Hue). Analisis total karotenoid (TC)

dilakukan pada kulit kedua zona, sirip pekt oral, sirip dorsal, sirip kaudal, dan serum darah. Analisis

kromatografi lapis tipis (KLT) dilakukan pada kulit dan sirip untuk mengonfirmasi jenis karotenoid dalam

kulit dan sirip. Data kualitas warna dianalisis menggunakan t-test, hubungan kualitas warna dengan TC

dianalisis dengan regresi sederhana, dan analisis deskriptif untuk hasil KLT. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa kualitas warna ikan klown tangkapan alam lebih baik dibanding budidaya, didukung oleh tingginya

total karotenoid pada kulit zona-I, kulit zona-II, sirip pektoral, sirip dorsal, sirip kaudal, dan serum darah

berturut-turut 51,64; 51,24; 136,40; 124,37; 194,18 mg/kg; dan 2,2 g/mL; pada ikan hasil budidaya

berurut -turut 2,5; 3,5; 8,45; 10,01; 23,43 mg/kg; dan 0,8 g/mL. Hasil KLT menunjukkan bahwa jenis

  

karotenoid pada kulit dan sirip ikan klown adalah astaxanthin, serta satu jenis karotenoid diduga zeaxanthin.

  

Berdasarkan hasil penelitian, maka perlu ditambahkan pigmen karotenoid, dan prekursor pigmen lainnya

melalui pakan untuk ikan klown budidaya.

  KATA KUNCI: astaxanthin; karotenoid; klown; zeaxanthin ABSTRACT: Color quality evaluation of wild and cultured clownfish (

  Amphiprion percula Lacepède 1802). By: Sukarman, Dewi Apri Astuti, and Nur Bambang Priyo Utomo

The color qualit y of cult ured clownfish is not as good as t he wild one. However, it ’s influenced by several fact ors.

  

However, but t here is not enough scient ific dat a t o be used as t he basis for improvement. The purpose of t his st udy was

t o analyze and evaluat e t he color qualit y difference bet ween cult ured and wild clown fish Amphiprion percula. Color

qualit ies were measured in t wo zones: an orange-colored at zone-I was measured bet ween gills and whit e band at t he

cent er of t he body and an orange-colored at zone-II was measured bet ween t he cent er of whit e band and whit e band

near t he caudal peduncle. Paramet ers analyzed were L* (light ness), a* (redness), b* (yellowness), C (Chroma), H (Hue).

Tot al carot enoid (TC) was analyzed on bot h zones-I and II, pect oral-fins, dorsal-fin, caudal-fin, and blood serum. Thin

layer chromat ography (TLC) was used to analyze t he type of carot enoids in t he skin and fin t issues. Color qualit y dat a

was analyzed by T-t est . Simple linier regression and descript ive analyses were used t o analyzed t he ot her paramet ers.

The result s showed t hat t he color qualit y of wild clown fish was bet t er t han t hat of t he cult ured clown fish, indicat ed

by high TC cont ent in skin of zone-I, skin of zone-II, pect oral-fin, dorsal-fin, caudal-fin, and blood serum (51.64,

#

51.24, 136.40, 124.37, 194.18 mg/kg, and 2.2  g/mL, respect ively); and in cult ured fish 2.5, 3.5, 8.45, 10.01,

  Koresp onde nsi: Balai Rise t Bud id aya Ikan Hias. Jl. Pe rikanan No . 13, Panco ran Mas, De p ok 16436, Ind o nesia. Te l. + 62 21 7520482 car man_ gbg@ yahoo.com E-m ail:

  Evaluasi kualit as warna ikan klown Amphiprion percula Lacepède 1802 ..... (Sukarman)

23.43 mg/kg, and 0.8  g/mL, respect ively. TLC t est result s showed t hat carot enoid t ype in skin and fin of clownfish

were ast axant hin, and one t ype of carot enoid was suspect ed as zeaxant hin. Based on t he result s of t he st udy, it is

necessary t o add carot enoid pigment s, especially ast axant hin or ot her precursor t he feed t o improve t he color qualit y

of cult ured clown fish.

  (b*) (Skrede & St o reb akken, 1 987 ). L* memiliki kisaran nilai 0 untuk hitam, hingga 100 untuk warna putih. Zona-I adalah bagian badan depan yang berwarna oranye, antara insang dengan strip putih di tengah badan, zona-II adalah bagian badan warna oranye antara strip putih di tengah badan dengan strip putih di pangkal ekor (Gambar 1).

  d i lingkungan budidaya.

  BAHAN DAN M ETODE

  Ikan uji yang digunakan adalah ikan

  A. percula strain

  normal hasil tangkapan alam (panjang total 5,25 ± 0,49 cm; bobot badan 2,59 ± 0,81 g/ekor) sejumlah 43 ekor berasal dari pengumpul ikan hias laut di Jakarta, dan hasil budidaya (panjang total 4,87 ± 0.39 cm, bobot badan 2,27 ± 0,55 g/ekor) berasal dari Balai Besar Perikanan Budidaya Laut, Lampung.

  Kualit as warna dianalisis pada dua zo na kulit , menggunakan kolorimeter (Minolta Chroma CR-400, Osaka Japan), berdasarkan sistem warna CIE L*a*b* (CIE LAB) dengan parameter light nes (L*), redness (a*),

  yellow ness

  Parameter

  Hasil penelitian bermanfaat untuk menentukan strategi p e n in gkat an ku alit as warn a ikan

  Chromat icit y

  , a* menentukan kualit as warna merah jika bernilai positif, abu-abu jika bernilai 0, dan hijau jika bernilai negat if; b* menent ukan kualitas warna kuning jika bernilai positif, abu-abu jika bernilai 0, dan biru jika bernilai negatif. Hue (H) dan Chroma (C) dihitung berdasarkan rumus H= arc tan (b*/a*) dan C= (a *2 + b *2 ) 1/2 . Hue (H) merupakan jenis warna pada objek pengukuran (seperti kuning, merah, atau hijau), dan Chroma (C) adalah kepekatan warna, semakin tinggi nilai chroma semakin pekat warna suatu objek.

  Kandungan to tal karot eno id (TC) jaringan ikan diekst raksi menggunakan met o de Teimo uri et al . (2013a). Sampel kulit/sirip/ekor diambil dari dua bagian d e p an (zo n a-1 ) d an b a gian b e lak an g (z o n a-2 ), sedangkan sampel sirip yang dianalisis adalah sirip pektoral (1), sirip dorsal (2), dan sirip kaudal (3). To - t a l k a ro t e n o id d a lam s e ru m d a r a h d ian a lis is menggunakan met o de Teimo uri et al . (2013b). Uji kro mat o grafi lap is t ipis (KLT) dilaku kan d en gan mengekstrak karotenoid dari bagian kulit dan ekor

  yang diperoleh, ditotolkan sebanyak 20 µL pada

  lempeng silica gel 60 GF 254 , kemudian dielusi dengan fraksi gerak n-heksan-kloroform-aceton dengan rasio 6:2:2 (Kusmiati

  et al ., 2010).

  Analisis data kualitas warna dan total karotenoid d ilaku kan me n ggu nakan T-t es t . Analis is regres i sederhana untuk ant ara paramet er kualit as warna dengan karotenoid, dan data KLT dijelaskan secara deskript if.

  HASIL DAN BAHASAN Kualitas Warna Ikan A. percula

  A. per cul a

  A. per cu l a tangkapan alam dibandingkan dengan hasil budidaya.

  KEYW ORDS: astaxanthin; carotenoid; clownfish; zeaxanthin PENDAHULUAN

  Salah s at u s pes ies ikan h ias yang me ngalami penurunan kualit as warna pada saat dipelihara di akuarium adalah

  Warna me rup akan as p ek pe nt ing d an s an gat berpengaruh terhadap nilai jual ikan hias (Ahilan et

  al

  ., 2008; Singh & Kumar, 2016; Sun

  et al

  ., 2012; Wang

  et al ., 2006; Yuangsoi et al ., 2010). Umumnya warna

  ikan hias yang dipelihara di akuarium mengalami penurunan kualitas dibandingkan hasil tangkapan alam (Ako et al ., 2012; Uthayasiva, 2014). Hal serupa juga terjadi pada ikan hasil tangkapan alam yang dipelihara di akuarium (Ezhil et al ., 2008), namun demikian perbedaan kualitas warna pada beberapa spesies belum didukung dengan data-dat a ilmiah, sehingga sulit membuat strategi dalam mengatasi masalah tersebut.

  Amphiprion percula Lacepède 1802.

  Tu ju an p e n e lit ian ad a la h m e n g an a lis is d a n m e n ge valu as i ku alit as wa rn a an t ara

  Setiawati et al . (2016) menambahkan bahwa benih A.

  percula hasil pemijahan di hatcheri memiliki warna

  oranye pucat, padahal warna oranye mendominasi bagian t ubuh spesies ini. Permasalahan ini sudah diketahui, namun belum ada data ilmiah yang dapat dijadikan dasar untuk memperbaiki warna oranye pada spesies A. percula .

  Penelitian tentang penutupan pola warna ikan A.

  percula

  telah dilakukan oleh Kusumah

  et al

  . (2015), tetapi belum menjelaskan kualitas dan bagaimana cara meningkatkannya, padahal menurut Sembiring et al . (2013) syarat kualitas warna ikan klown untuk ekspor adalah warna oranye pekat dengan pita hitam tebal, art inya ku alit as warna o ranye harus b enar-b enar diperhat ikan . Oleh karena it u, m asih d iperlukan evaluasi kualitas warna terkait warna ikan klown.

  Hasil pengukuran kualit as warna menunjukkan b ah w a d a t a m a s in g -m a s in g p a r a m e t e r s a n g a t

  Jurnal Riset Akuakult ur, 12 (3), 2017, 231-239

  ), C= kep ekatan warna ( chroma

  

H (°) 56.1 ± 5.45 71.5 ± 9.56 55.8 ± 5.56 65.9 ± 6.10

Zona-I ( Zone-I ) Zona-II ( Zone-II ) Param et er

  ) (n= 53)

L* (%) 37.2 ± 5.15 37.7 ± 4.70 36.3 ± 4.37 41.1 ± 3.06

a* 15.1 ± 5.69 2.8 ± 1.40 15.8 ± 4.35 5.1 ± 2.29

b* 22.9 ± 10.68 9.3 ± 4.02 23.4 ± 6.73 11.2 ± 3.35

C (%) 27.4 ± 11.92 9.6 ± 4.02 28.5 ± 7.85 12.4 ± 4.14

  ) (n = 43) Budidaya ( Cultured

  ) (n= 53) Al am ( W ild

  ) (n = 43) Budi daya ( Cultured

  Alam ( W ild

  Zona I Zona II

  

Figure 1. Color measurement for clown fish Amphiprion percula.

  Gambar 1. Pengukuran warna pada ikan klown Amphiprion percula.

  )

  ), H= je nis warna ( Hue

  Table 1. Color qualit y of orange hue of t he wild and cult ured clownfish skin

Ke terangan ( Not e ): L*= ke cerahan warna ( li ght ness ), a*= kualitas warna merah ( redness ),

b*= kualitas warna kuning ( yellow ness

  ber variasi. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, sebagaimana dijelaskan oleh Meyer & Latscha (1 9 9 7 ) b a h w a w ar n a p ad a ik an d a n kr u s t a s e a dipengaruhi oleh pigmen, pakan, faktor internal hewan tersebut, lingkungan, dan penyakit. Variasi data hasil penelit ian ini lebih rendah dibandingkan lapo ran Kusumah

  Tabel 1. Kualitas warna oranye kulit ikan klown alam dan hasil budidaya

  Interfensi warna hitam ini diduga kuat dipengaruhi pigmen melanin, berupa eumelanin yang berwarna coklat tua-hitam (Sköld et al ., 2016), dapat disintesis oleh hewan dari asam amino t yrosin, phenilalanin (McGraw, 2006), sert a cysteine (Wakamat su & It o,

  ., 2016). Penutupan warna hitam pada spesies ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama pencahayaan yang menginduksi pola pigmentasi melalui stimulus pada sistem neuron dan migrasi melanofor (Kusumawati et al ., 2012).

  et al

  yang dimaksud adalah jenis xanthofor dan erytrofor, namun pada spesies ini rendahnya nilai L* disebabkan adanya penutupan warna hitam pada bagian tertentu. Sebagaimana diketahui bahwa warna hitam merupakan ekspresi dari sel chromatofor jenis melanofor yang menyimpan melanin (Sköld

  et al . (2014) menambahkan bahwa sel chromatofor

  belakang (zona-II) hasil budidaya cenderung lebih terang dibandingkan pada bagian depan (zona-I), sedangkan p e rb a n d in g an n ila i L* p ad a ik a n a la m z o n a -I dibandingkan ikan hasil budidaya zona-I, ikan alam zona-I dibandingkan ikan alam zona-II, dan dan ikan bu did aya zo na-I dib and in gkan ikan alam zo na-II menunjukkan nilai yang t idak berbe da (P> 0,05). Simps o n et al . (1981) menjelaskan bah wa warna kuning, o ranye-merah pada ikan disebabkan oleh karotenoid yang disimpan dalam sel chomatofor. Sefc

  A. per cula pada bad an bagian

  populasi alam dan hasil budidaya disajikan pada Tabel 1. Analisis T-test pada paramet er L* menunjukkan bahwa nilai zo na-II ikan budidaya lebih tinggi dan berbeda (P= 0,000) dibandingkan zona-II ikan alam dan zona-I, baik ikan alam maupun budidaya. Artinya warna o ranye ikan

  A. percula

  . (2015), disebabkan oleh perbedaan sistem warna dan cara pengukuran yang digunakan yaitu sistem warna HSB dengan metode pengukuran menggunakan foto digital, sedangkan pada penelitian ini sistem warna yang digunakan adalah sistem CIE LAB d e n g a n p e n g u k u r a n la n gs u n g p a d a ika n menggunakan ko lorimet er pada badan ikan. Dat a kualitas warna oranye ikan

  et al

  Par ameter s

  Kualitas warna merah ( Redness ) (a*) K u al it as w ar n a k u n in g ( Y e ll o w n es s ) (b

  et al

   H*

  Hue Hu e d iffr een ce

  Zone-II of cult ured fish )

  ) Zo na-II ikan alam ( Zone-II of w ild fish ) Zo na-II ikan budidaya (

  ) Zo na-I ikan bud idaya ( Zone-I of cult ured fish

  Zo na-I ikan alam ( Zone-I of wi ld fish

  Figure 2. Dist ribut ion of skin color of wild and cult ured A. percula.

  Gambar 2. Distribusi warna kulit ikan A. percula alam dan budidaya.

  Hal tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian Yasir & Qin (2010), yang menjelaskan bahwa ikan klown yang diberi pakan astaxanthin selama lima minggu menurunkan nilai Hue , sehingga warnanya menjadi lebih merah.

  al . (2014), nilai Hue dipengaruhi oleh jenis pakan, dan interaksi jenis pakan dengan waktu mengonsumsinya.

  alam. Perbedaan ini disebabkan oleh asal ikan dan jenis pakan yang dikonsumsi di habitatnya. Menurut Ho et

  A. percula hasil tangkapan

  . (2015) sebesar 19°-33° pada ikan

  Berdasarkan jenis warnanya, ikan hasil tangkapan alam lebih oranye dibandingkan dengan hasil budidaya, baik di zona-I maupun di zona-II, hal ini diindikasikan dengan lebih rendahnya nilai Hue (P= 0,000). Warna paling o ranye ditunjukkan pada zo na-II ikan alam d e n g an n ila i H ue s e b e s ar 5 5 ,8 °; le b ih t in g g i dibandingkan dengan laporan Kusumah

  Evaluasi kualit as warna ikan klown Amphiprion percula Lacepède 1802 ..... (Sukarman)

  Nilai chroma pada zona-I dan zona-II ikan hasil tangkapan alam relatif sama (P= 0,545), namun lebih tinggi dibandingkan dengan ikan budidaya (P= 0,000). Tin g gin ya n ila i ch r o m a m e n u n ju k ka n s e m ak in banyaknya timbunan pigmen karotenoid pada jaringan (Guillaume et al ., 2001), baik pigmen merah yang direfleksikan melaui a* maupun pigmen kuning (b*). Semakin tinggi a* dan b* maka warna oranye semakin pekat, meskipun tingkat iluminitasnya (L*) berbeda.

  t angkapan alam mempunyai warna kuning hingga oranye, dengan distribusi warna dit ampilkan pada Gambar 2. Kondisi tersebut berbeda dengan ikan hasil budidaya.

  A. percula

  ., 1999), yang mengandung karotenoid berupa zeaxanthin, lutein, dan astaxanthin (Matsuno, 2001), membuat warna kulit ikan

  et al

  (b*) berturut-turut 2, 4, dan 2 kali lebih tinggi (Tabel 1). Berdasarkan hasil T-test, warna zona-I dan zona-II ikan hasil tangkapan alam yang tidak berbeda, baik nilai a* (P= 0,488 ) m aup un nilai b * (P= 0,759 ), sedangkan jika dibandingkan dengan ikan budidaya (P= 0,000) nilainya lebih tinggi (Tabel 1). Hal tersebut menunjukkan bahwa pigmen warna kuning dan merah lebih banyak terdapat pada ikan hasil tangkapan alam. Kondisi ini merupakan implikasi dari jenis pakan yang dikonsumsi, sebab ikan tidak mampu menyintetis pigmen di dalam tubuhnya (Goodwin, 1984) dan harus m e n d a p at k a n p igm e n d a r i z o o p la n kt o n d a n fitoplankton (Matsuno

  yellowness value

  hasil tangkapan alam lima dan tiga kali lebih tinggi dibandingkan hasil budidaya, sedangkan

  A. percula

  (a*) pada zona-I dan II ikan

  Redness value

  Perbedaan kualitas warna merah dan kuning pada ikan klown dijelaskan melalui parameter a* dan b*.

  2 0 0 2 ) m e n gg u n ak a n e n z im t yro s in a s e m e lalu i rangsangan pencahayaan radiasi ult ravio let cahaya matahari (Solano, 2014).

  • )

  Jurnal Riset Akuakult ur, 12 (3), 2017, 231-239 Tot al Karotenoid (TC) dalam Jaringan Tubuh Ikan A. percula

  = 0,689%; P-value= 0,000. Perbedaan ini oleh faktor genetik, keduanya merupakan dua spesies yang berbeda dalam satu genus. Data ini selaras dengan hasil penelitian Teimo ri et al . (2 0 13 b ) yang me n je laskan b ahwa hubungan antara konsentrasi karotenoid dengan nilai

  AKD BKD AKB BKB ASI BSI ASP BSP ASE BSE 400

  T o ta l k a ro te n o id ( m g /k g )/ T o ta l c a ro te n o id ( m g /k g ) To ta l k ar o te n o id ( To ta l ca ro te n o id ) ( m g /k g )

  Figure 3. Concent rat ions of t ot al carot enoids in t he t issue of clownfish, AKD= skin of zone-I wild fish, BKD= skin of zone-I cult ured fish, AKB= skin zone-II of wild fish, BKD= zone-II of farmed fish, ASI= pect oral fin of wild fish, BSI= pect oral fin of cult ured fish, ASP= dorsal fin of wild fish, BSP= dor sal fin of farmed fish, ASE= caudal fin of wild fish, BSE= caudal fin of cult ured fish. BSE ASE BSP ASP BSI ASI BKB AKB BKD AKD 400 300 200 100

  , AKD= kulit zona-I ikan alam, BKD= kulit zona-I ikan budidaya, AKB= kulit zona-II ikan alam, BKD= kulit zona-II ikan budidaya, ASI= sirip pektoralikan alam, BSI= sirip pectoral ikan budidaya, ASP= sirip dorsal ikan alam, BSP= sirip dorsal ikan budiadaya, ASE= sirip caudal ikan alam, BSE= sirip caudal ikan budidaya.

  A. percula

  kuning hingga merah. Selain itu, warna merah juga dapat disebabkan karena adanya pt eridin pada sel Gambar 3. Konsentrasi total karotenoid pada jaringan tubuh ikan

  A. percula beragam dari

  sp. merupakan ikan jenis omnivora (Setiawati et al ., 20 16 ) yan g mem pu nyai kem am puan me nyimp an astaxanthin, cantaxanthin, dan mampu mengonversi lutein, zeaxanthin, serta sedikit betakaroten menjadi as t axan t h in (Lat s ch a, 19 9 0 ). Hal t e rs eb u t yan g menyebabkan nilai Hue dari

  Amphiprion

  Menurut Matsuno (2001), warna merah dihasilkan o le h ka r o t e n o id a s t a xan t h in (m e r a h m u d a ), cantaxanthin (merah), lut ein (kuning), bet akarot en (oranye), dan zeaxanthin (oranye), karena

  A. percula semakin merah.

  pada ikan salmon (Y= -0,1065x + 4, 2966; R 2 = 0,142; P-value= 0,166). Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa semakin banyak total karotenoid di dalam kulit, warna ikan

  Hue

  A. occelaris yaitu Y= -68,748 x + 27,423; R 2

  Bu k t i a d a n ya ka r o t e n o id d ala m k u lit yan g direfleksikan dalam nilai a* dan b*, telah dikonfirmasi dengan melakukan analisis karotenoid pada berbagai jaringan tubuh ikan

  . (2013) pada ikan

  et al

  (Gam bar 3 ), art in ya s et iap ke naikan karo t e n o id sejumlah satu satuan akan mengurangi nilai Hue sebesar 0,3597°. Menurunnya nilai Hue dari kisaran 90° hingga 0° menunjukkan perubahan jenis warna dari kuning- oranye hingga merah (Sukarman et al ., 2014). Model h u b u n g an an t ara t o t al karo t e n o id d e n gan Hu e mendekati hasil penelitian Ho

  bersifat linier negatif (Y= -0,3597x + 71.889; R 2 = 0,663%; P value= 0,000)

  A. percula

  ) kulit ikan

  Hue

  Hubungan antara total karotenoid terhadap warna oranye (

  A. percula dipengaruhi oleh karotenoid.

  dibandingkan hasil budidaya, memperkuat bahwa warna pada

  A. per cula alam lebih tinggi

  Kandungan total karotenoid tertinggi terdapat pada bagian sirip caudal, diikuti sirip pektoral, sirip dor- sal, dan kulit baik unt uk ikan alam maupun hasil budidaya. Secara umum, kandungan total karotenoid pada seluruh jaringan

  . Data TC pada kulit (zona- I dan zona-II), sirip pectoral, sirip dorsal, dan sirip kaudal ditampilkan pada Gambar 3.

  A. percula

  300 200 100

  • karo t en yait u lebih dari 80%, diikut i, zeaxant hin, cantaxanthin, dan astaxanthin. Hasil penelitian justru lebih selaras dengan penelitian Ho et al . (2013), yang menunjukkan bahwa terdapat dua jenis karotenoid paling banyak pada
  • karoten sebagian besar dikonversi menjadi vitamin A di dalam usus hewan.

  • * v a lu e
  • * a n d b
  • (
  • d an b

  ) (mg/kg) 0 25 50 75 100 To tal karo tenoid ( Tot al carot enoi d ) (mg/kg)

  N il ai h u e ( H u e v a lu e ) (Õ )

  90

  80

  70

  60

  50

  40

  30 y= -0.3597x + 71.889 R 2 = 0.6635 Linear (TC vs H)

  Y r edness = 0.1947x + 3.5306 R 2 = 0.6596 Y yel lowness = 0.1751x + 9.8604 R 2 = 0.4016 a* ( Redness ) b* ( Yellow ness ) Linear (a* (

  N ila a

  Redness )) Linear (b* ( Yellow ness ))

  a

  )

  40.0

  35.0

  30.0

  25.0

  20.0

  15.0

  10.0

  5.0

  0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 To tal karo tenoid ( Tot al carot enoi d

  A. percula , (a), hubungan antara kandungan total karotenoid pada kulit dengan nilai a* dan b* pada ikan A percula (b).

Figure 4. Corelat ion of t ot al carot enoid concent rat ion wit h hue in A. percula fish (a) , c orelat ion of t ot al carot enoid

concent rat ion in fish skin wit h a* and b* value of A. percula fish (b).

  Gambar 4. Hubungan antara kandungan total karotenoid dengan nilai Hue pada ikan

  t e rde t eks i p ada ikan h asil b udid aya (Gambar 5 ), menunjukkan bahwa t erdapat astxant hin di dalam jaringan yang diuji. Nilai Rf ast axant hin, berbeda dengan laporan Yuangsoi

  Evaluasi kualit as warna ikan klown Amphiprion percula Lacepède 1802 ..... (Sukarman)

  e r yt ro fo r (Maa n & Se fc, 2 0 1 3 ), ke m u n gk in kan d iin t e r fen s i o le h p h e o m e lan in e yan g b e r warn a kun ing-co klat kem erahan (It o et al ., 2000 ), at au eumelanin yang berwana hitam (Skold et al ., 2016) sehingga warna ikan menjadi lebih gelap.

  Meskipun demikian, dalam sistem warna CIE L*a*b* dapat diduga jenis warna karotenoid dalam kulit ikan

  A. per cul a

  d o m in an m e rah at au ku n in g d e n gan melakukan analisis regresi sederhana. Hasil analisis regresi diketahui bahwa model hubungan antara TC pada kulit dengan nilai a* (redness) mempunyai R 2 lebih tinggi dibandingkan model hubungan antara TC dengan b* (yellowness), di mana kedua model bersifat positif (Gambar 4b). Hal tersebut selaras dengan laporan Sa- fari & Atash (2015) dan Teimori et al . (2013b), bahwa regresi hubu ngan ant ara ko nsen t ras i karo t en o id bernilai positif dan lebih memengaruhi warna merah dibandin gkan warna kuning daging ikan salmo n. Berdasarkan hal tersebut dapat diduga bahwa t ipe karot eno id ber warna merah merupakan jenis yang dominan dalam kulit

  A. percula

  , dan ada kemungkinan pigmen yang berwarna kuning diko nversi menjadi warna merah sebelum disimpan dalam kulit ikan, sebagaimana disampaikan Latscha (1990) bahwa jenis ikan o mnivor mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mengonversi berbagai jenis karotenoid lutein (kuning) dan zeaxanthin (kuning-oranye) menjadi jenis astaxanthin (merah).

  Secara kualitatif jenis karotenoid dapat diketahui melalui analisis kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat karotenoid astaxanthin (Rf = 0,45) pada sampel sirip dan kulit ikan

  A. percula hasil t angkapan alam, namun tidak

  et al

  

  . (2011), yaitu sebesar 2,0; disebabkan o leh pe rbedaan fase gerak yang digunakan dalam analisis. Selain itu, terdeteksi adanya karotenoid jenis lainnya pada sirip dan kulit ikan hasil tangkapan alam (Rf = 0,29). Hal tersebut menunjukkan bahwa ikan

  A. percula menyimpan karotenoid dalam

  bentuk selain astaxanthin, namun bukan dalam bentuk cantaxanthin, lutein, dan

   -karoten.

  Hasil penelitian ini berbeda dengan laporan Yasir & Qin (2009) yang menyatakan bahwa jenis karotenoid dalam kulit ikan

  A. occelaris paling banyak berupa 

  A. occelaris berupa astaxanthin dan

  4-hydroksizeaxanthin pada kulit ikan klown

  A. occelaris ,

  dan hanya sedikit terdapat lutein, sert a  -karoten; karena

  0.0

  Figure 6. Tot al carot enoids in A. percula fish serum.

  2 T

  2.2

  0.8

  0.5

  1

  1.5

  2

  2.5

  1

  o ta l k ar o te n o id ( m g /m L)

  Lut B-Caroten S-A S-B K-A K-B

  C a ro te n o id t o ta l (u g /m L )

  Se ries1

  0.8 T

  o ta l k a ro te n o id

  T o ta l c a r o te n o id ( µ g /m L)

  Sampel ( Sample ) Ikan alam ( Wild fish ) Ikan budidaya (

  Cult ured fish

  ) Gambar 6. Total karotenoid pada serum ikan A. percula.

  Rf= 0.29 Rf= 0.45

  Rf =0.45 Rf =0.29 Ast Cant

  Jurnal Riset Akuakult ur, 12 (3), 2017, 231-239

  Gambar 5. Hasil uji kro mat o grafi lap is t ipis (KLT), Ast = st andar ast axant hin , Cant = st andar cantaxanthin, Lut= standar lutein,

  • karoten= standar
  • karoten, S-A= sampel sirip ikan alam, S-B= sampel sirip ikan budidaya, K-A= sampel kulit ikan alam, K-B= sampel kulit ikan budidaya.

  

  . (2010) bahwa kandungan TC pada serum ikan koi yang diberi pakan tanpa karotenoid sebesar 0,86-1,1

  Karotenoid yang terdapat dalam kulit, sirip, dan ekor ikan pada dasarnya berasal dari makanannya, karen a p igm e n t ers e b u t h an ya d ip ro d u ks i o le h tumbuhan, alga, dan mikroorganisme yang mempunyai kemampuan melakukan fo t osint esis (Dharmaraj & Dhevendaran, 2011). Analisis karotenoid dalam darah telah dilakukan untuk memastikan hal tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total karotenoid dalam serum darah ikan hasil tangkapan alam sebesar 2,2

  

  g/mL; lebih tinggi dibandingkan karotenoid dalam serum ikan hasil budidaya (0,8

  

  g/mL) sebagaimana disajikan dalam Gambar 6.

  Hasil penelitian sesuai dengan laporan Yuangsoi et

  al

   g/mL; setelah diberi pakan berkarotenoid sebesar

  

  

Figure 5. Result of t hin layer chromat ogrhapy t est (TLC), Ast = ast axant hin st andard, Cant = cantaxant hin

st andard, Lut = lut ein st andard,  -carot en=  -carot en st andard, S-A= fin of wild fish, S-B= fin of cult ured fish, K-A= skin of wild fish, K-B= skin of cult ured fish.

  

  g/mL t ergant un g pada do sis dan lama pemberiannya. Sementara itu, menurut Guillaume et

  al

  . (2001), TC dalam serum ikan salmon sebelum diberi pakan karotenoid berkisar 0,8-2,0

  

  g/mL dan sesudah diberi astaxanthin meningkat menjadi 6,0-12,0  g/mL. Berdasarkan hasil t e rs e bu t dapat d id uga bahwa tingginya karotenoid dalam serum ikan hasil tangkapan alam b eras al d ari karo t e no id d alam p akan yan g

  1,3 -9,3 1

  Evaluasi kualit as warna ikan klown Amphiprion percula Lacepède 1802 ..... (Sukarman)

  6, 164-1 93. Abramo , L.R.D.’, Co nklin, D.E., & Akiyama, D.M. (Eds.). Bat on Ro uge. LA: Wo rld Aquaculture Society.

  Latscha, T. (1990). Carotenoid in animal nutrition: their nature and significance in the animal feeds. Roche

  publicat ion , No. 2175, F. Hoffmann-La Roche, Ani- mal Nutrition and Health, Basel, Switzerland.

  Maan, M.E., & Sefc, K.M. (2013). Colour variation in cichlid ûsh: developmental mechanisms, selective pressures and evolutionary consequences. Semi-

  nar in Cell Development Biology , 24, 516-528.

  Matsuno, T., Ohkubo, M., Toriiminami, Y., Tsuhima, M., Sakaguchi, S., Minami, T., & Makoa, T. (1999).

  Carotenoid in food chain between fresh water fish and aquatics insect. Comparat ive Biochemist ry and

  Physiology Part B , 124, 341-345.

  Matsuno, T. (2001). Aquatic animal carotenoid. Fish- eries Sci ., 67, 771-783. McGraw, K.J. (2006). Dietary mineral cont ent influ- ences the expression of melanin-based ornamen- tal coloration. Behavioral Ecology , 18(1), 137–142. Meyer, S.P., & Latscha, T. (1997). Carotenoids. In Crus- tacean Nutrition, Advance in World Aquaculture,

  Safari, O., & Atash, M.M.S. (2015). The effects of di- etary supplement of annatto ( Bixa orellana ) seed meal on blood carotenoid content and ûllet color stabilit y in rainbow t rout (

  M. (2010). Ekstraksi dan purifikasi senyawa lutein dari mikroalga Chlorella pyrenoidosa galur lokal INK.

  Oncor hynchus mykiss ). Aquacult ure , 437, 275–281.

  Sefc, K.M., Bro wn, A.C., & Clot felter, E.D. (2014).

  Caro t eno id-based co lo rat io n in cichlid fishes.

  Compilation Biochemist ry Physiology , Part A, 173, 42– 51.

  Sembiring, S.B.M., Setiawati, K.M., Hutapea, J.H., & Subamia, W. (2013). Pewarisan pola warna ikan klo wn biak Amphipr ion percula . Jur nal Ilmu dan

  Teknologi Kelaut an Tropis , 5(2), 343-351.

  Setiawat i, K.M., Gunawan, & Hutapea, J.H. (2016).

  Pemeliharaan larva ikan klown (

  Amphiprion percula

  Jurnal Kimia Indonesia , 5(1), 30-34.

  Haryanti. (2012). Peran gen AIM1 dan intensitas cahaya terhadap karakter pola pigmen ikan badut hitam ( Amphiprion percula ). J. Ris. Akuakult ur , 7(2), 205-219. Kusmiat i, Agust ini, N.W.S., Tamat , S.R., & Irawati,

  dikonsumsi di habitat aslinya, sedangkan pada ikan budidaya terbatas pada pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan.

  Xiphophorus helleri .

  Kualit as warn a ikan Am phi pr i on per cul a h as il tangkapan alam lebih baik dibandingkan hasil budidaya, disebabkan oleh tingginya karotenoid pada jaringan kulit , sirip, dan serum darah yang dipero leh dari makanannya.

  UCAPAN TERIM A KASIH

  Ucapan terima kasih kepada Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Kementerian Kelautan Perikanan yang telah memfasilitasi kegiatan penelitian ini.

  DAFTAR ACUAN Ahilan, B., Jegan, K., Felix, N., & Raveneswaran, K.

  (2008). Influence of bot anical additives o n t he growth and coloration of adult goldfish. Tamil Nadu

  J. Vet enar y Animal Science , 4(4), 129-134.

  Ako, H., Tamaru, C.S., & Yamamoto, M. (2012). Achiev- ing natural coloration in fish under culture. UNJR

  Tech Report , 28, 1–4.

  Dharmaraj, S., & Dhevendaran, K. (2011). Application o f m icro b ial car o t e n o id s a s a s o u r ce o f co lo u ra t io n an d gro wt h o f o rn am e n t al fis h

  World Journal Fish M arine Sci- ence , 3(2), 137-144.

  analisis gambar digital. J. Ris. Akuakultur , 10(3), 345- 355. Ku su mawat i, D., Pe rm an a, S., Set iawat i, K.H., &

  Ezhil, J., Jeyanthi, C., & Narayanan, M. (2008). Mari- gold as carotenoid source on pigmentation and gro wth red swordtail, Xiphoporus helleri. Turkish Journal of Fisheries and Aquat ic Science , 8, 99-102. Go o dwin, T.W. (1984). The bio chemist r y o f caro - tenoids. 2nd ed. London: Chapman & Hall. Guillaume, J., Kaushik, S., Bergot, P., & Métailler, R.

  (2001). Nutrition and feeding of fish and crusta- cean (408 pp). Chichester: Praxis Publishing Ltd. Ho, A.L.F.C., Zo ng, S., & Lin, J. (2014). Skin co lo r retention after dietary carotenoid deprivation and dominance mediated skin coloration in clownfish, Amphiprion ocellaris . AACL Bioflux , 7(2), 103-115. Ho, A.L.F.C., Bertran, N.M.O., & Lin, J. (2013). Dietary esterified ast axant hin concentrat io n effect o n dermal coloration and chromastophore physiol- o gy in s p in e ch e e k a n e m o n e fis h , Pr em n a s

  biaculeat us .

  Journal Wold Aquacult ure Societ y

  , 44(1), 76-85. Ito, S., Wakamatsu, K., & Ozeki, H. (2000). Chemical analysis of melanins and its application to the study of the regulation of melanogenesis, Pigment Cell.

  Ress ., 13, 103–109.

  Kusumah, R.V., Cindelaras, S., & Prasetio, A.B. (2015).

  Ke ragaan warna ikan clo wn biak (

  Am phipr i on percula ) populasi alam dan budidaya berdasarkan

  )

  Jurnal Riset Akuakult ur, 12 (3), 2017, 231-239

  Aquacult ure , 396-399, 14–19.

  Tabthipwon, P. (2011). The pigmenting effect of differen t caro t eno ids o n fancy carp (

  Kamel, C. (2010). Ulitization of carotenids in fancy carp ( Cyprinus carpio ): astaxanthin, lutein & –caro - tene. World Applied Science Journal , 11(5), 590-598. Yuangso i, B., Jint as at ap o rn, O., Aree ch o n , N., &

  , 40(3), 337-350. Yuangso i, B., Jint asat apo rn, O., Tabthipwo n, P., &

  Journal of t he World Aquacult ure Societ y

  occelaris .

  Wang, Y., Chien, Y., & Pan. (2006). Effect of dietary s u p le m e n t at io n o f caro t e n o id s o n s u r vival, growth, pigmentation and antioxidant capacity of charancis, Hyphessobrycon callit us . Aquacult ure , 261, 641-648. Yasir, I., & Qin, J.G. (2009). Effect of light intensity on color performance of false clownfish, Amphiprion

  Res ., 15, 174-183.

  Wakamatsu, K., & It o, S. (2002). Advance chamical methods in melanin determination. Pigment Cell.

  Amphiprion clarkii (Bennett, 1830) in captivity. Int ’l. J. Fauna Bio. St udies , 1(4), 14–18.

  Uthayasiva, M. (2014). Significance of light intensity to enhance the colour of marine ornamental fish

  The effects of Spir ulina plat ensis meal as a feed supplement on growth performance and pigmen- t atio n of rainbo w t ro ut ( Oncor hynchus mykiss ).

  dengan pakan alami berbeda. J. Ris. Akuakult ur , 11(1), 67-73. Simpson, K.L., Katayama, T., & Chichester, C.O. (1981).

  fillet color stability in rainbow trout ( Oncorhynchus mykiss ). Aquacult ure , 414-415, 224–228. Teimouri, M., Amirkolaie, A.K., & Yeganeh, S. (2013b).

  The effects of dietary supplement of Spir ulina plat ensis on blood carotenoid concentration and

  Teimouri, M., Amirkolaie, A.K., & Yeganeh, S. (2013a).

  Aquacul- t ure , 342-343, 62-68.

  Cyprinus carpio L.).

  Sun, X., Chang, Y., Ye, Y., Ma, Z., Liang, Y., Li, T., Jiang, N., Xing, W., & Luo, L. (2012). The effect of di- etary pigments on the coloration of Japanese or- namental carps (Koi,

  Akuakult ur , 9(2), 237-249.

  & Subamia, I W. (2014). Penggunaan tepung bunga marigold dan tepung Haematococcus pluvialis sebagai sumber karotenoid pengganti astaxanthin untuk meningkat kan kualit as warna ikan Ko i. J. Ris.

  (2 016 ). Fis h chro mat o p ho res-fro m m o le cular motor to animal behavior. Int ’l. Rev. Cell. M ol. Bio ., 32, 171-199. Skrede, G., & Storebakken, T. (1987). Characteristics of colour in raw, baked and smoked wild and pen- reared Atlantic salmon. J. Food Sci. Tech ., 5, 123– 134. Solano, F. (2014). Melanins/ : in pigments and much more-types , structural models, biological func- tions, and formation routes. New Journal Science , 28 pp. Sukarman, Hirnawati, R., Subandiyah, S., Meilisza, N.,

  Caro t e n o id in fis h fe e d s . I n Caro t e n o id s as co lo r an t s a n d vit am in A p re cu rs o r s . (Ed s .) Bauernfeind, J.C. New York: Academic Press Inc., p. 463-538. Singh, R.N., & Kumar, A. (2016). Beetroot as a caro - tenoid source on growth and color development in Red Swordtail ( Xiphophorushelleri ) fish. Imperial Journal of Int erdiscliplinary Research , 2(10), 637-642. Skçld, H.N., Aspengren, S., Cheney, K.L., & Wallin, M.

  Cypr inus carpio ). Aquacult ure Nut rit ion , 17, e306-e316.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru