Tersedia online di: http:ejournal-balitbang.kkp.go.idindex.phpjra KARAKTERISTIK, KESESUAIAN, DAN DAYA DUKUNG PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE, SULAWESI UTARA

  Jurnal Riset Akuakult ur, 12 (2), 2017, 187-196

Tersedia online di: ht t p://ej ournal-balit bang.kkp.go.id/index.php/j ra

  

KARAKTERISTIK, KESESUAIAN, DAN DAYA DUKUNG PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA

RUM PUT LAUT DI KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE, SULAW ESI UTARA

  • *)# *) *) **)

  

Akhmad M ustafa , Tarunamulia , Hasnawi , dan I Nyoman Radiart a

*)

Balai Rise t Pe rikanan Budidaya Air Payau d an Penyu luhan Pe rikanan

**)

Balai Riset dan Observasi Laut

  

(Naskah dit erima: 5 Juli 2017; Revisi final: 25 Sept ember 2017; Diset uj ui publikasi: 25 Sept ember 2017)

ABSTRAK

Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan tiga pulau terdepannya dan panjang pantai 297 km memiliki potensi

untuk p engembangan bu didaya rumput laut ( Kappaphycus alvarezii ), te tapi belu m tersedia data ko ndisi

perairannya. Penelitian bertu juan untu k mengkaji karakteristik, kesesuaian, dan daya du kung perairan

untuk budidaya rumput laut di kawasan pesisir Kab upaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara,

Indonesia. Data karakteristik perairan yang dikumpulkan berupa pasang surut, kecepatan arus, arah arus,

kedalaman, kecerahan, suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, nitrat, nitrit, nitrogen amonia total, fosfat,

padatan tersuspensi total, bahan organik total, dan jenis substrat. Analisis dengan weight ed linear combinat ion

dalam SIG dilakukan untuk penentuan kesesuaian perairan dan b esarnya kapasitas perairan digunakan

untuk penentuan daya dukung perairan. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakteristik perairan Kabupaten

Kepulauan Sangihe dapat mendukung usaha budidaya rumput laut, tetapi kedalaman perairan yang relatif

dangkal dan adanya alur pelayaran yang menjadi faktor pembatas dalam kesesuaian lahan untuk budidaya

rumput laut. Dari 4.839,35 ha kawasan pesisir yang dikaji di Teluk Talengen (Kecamatan Tabukan Tengah),

Teluk Manalu (Kecamatan Tabukan Selatan), dan Teluk Dagho (Kecamatan Tamako dan Manganitu Selatan)

dijumpai kawasan pesisir seluas 181,79 ha yang tergolong sangat sesuai; 852,82 ha yang tergolong cukup

se su ai; 3.633,75 h a yang te rgolong kurang sesuai; dan 170,99 ha yang t ergolon g tid ak sesu ai u nt uk

bu didaya rumpu t laut m etod e tali p anjang. Berd asarkan daya dukung perairan , bu didaya rumpu t laut

metode tali panjang di Kabupaten Kepulauan Sangihe dapat dilakukan di Teluk Talengen, Teluk Manalu,

dan Teluk Dagho dengan pengembangan kawasan maksimal masing-masing seluas 324; 559; dan 1.171 ha

yang dap at digunakan un tuk masing-masin g 1.296, 2.236, dan 4.684 u nit rakit bud idaya rum put laut

berukuran 50 m x 50 m.

  KATA KUNCI: karakteristik; kesesuaian; daya dukung; Kappaphycus alvarezii; Kepulauan Sangihe

ABSTRACT: Characteristic, suitability, and carrying capacity of waters for seaweed culture in Sangihe Archipelago

Regency, North Sulawesi. By: Akhmad M ustafa, Tarunamulia, Hasnawi, and I Nyoman Radiarta

Sangihe Archipelago Regency wit h it s t hree out lying islands and 297 km of coast al line has t he pot ent ial for seaweed

farming development (Kappaphycus alvarezii). Regret t ably, reliable wat er qualit y dat a are scarcely available for

region. The st udy was aimed t o det ermine t he charact erist ics, suit abilit y, and carr ying capacit y of wat ers for seaweed

cult ure in t he coast al areas of Sangihe Archipelago Regency, Sout h Sulawesi Province, Indonesia. The obser ved

environment al qualit y of coast al wat ers included t idal, current velocit y, current direct ion, dept h, t ransparency,

t emperat ure, salinit y, dissolved oxygen, pH, nitrat e, nit rite, tot al ammonia nit rogen, phosphat e, t otal suspended solid,

t ot al organic mat t er, and t ype of bot t om subst rat e. A weight ed linear combinat ion in a GIS environment was applied

t o determine the suit abilit y of wat ers. The capacit y of coast al wat er t o accommodat e the maximum surface area of the

farm was used t o det ermine t he carrying capacity of t he waters. The result s of the st udy indicated t hat t he characteristics

of wat ers in Sangihe Archipelago Regency are suit able for seaweed cult ure. However t he relat ively shallow waters and

the existence of shipping lanes in the study region can be the major limiting factors for seaweed cult ure and development.

#

Of 4,839.35 ha of t he coast al areas st udied in Talengen Bay (Tabukan Tengah Subdist rict ), M analu Bay (Sout h

  Ko r esp o n d e n si: Balai Rise t Per ikan an Bu d id aya Air Payau d an Pe nyu lu han Per ikanan . Jl. Makm u r Dg . Sit akka No . 1 2 9, Maro s, Su lawe si Se lat an 9 0 5 1 2 , In d o n e sia. Te l. + (0 4 1 1 ) 3 7 1 5 4 4 akhmadmust afa@ yahoo.com

  E-m ail: Co p yright @ 201 7, Jurn al Rise t Akuakult ur, e-ISSN 25 02-6534

  187 Co p yright @ 2 017 , Ju rnal Riset Akuaku ltu r, e-ISSN 250 2-65 34 Karakt erist ik, kesesuaian, dan daya dukung perairan untuk budidaya ..... (Akhmad M ust afa)

  

Tabukan Subdist rict ), and Dagho Bay (Tamako and M anganit u Selat an Subdist rict s), a t ot al of 181.79 ha were

classified as very suit able; 852.82 ha were moderat ely suit able; 3,633.75 ha were less suit able; and 170.99 ha were

not suit able for seaweed long-line cult ure met hod. Based on t he carrying capacit y of wat ers, seaweed cult ure of long-

line met hod can be effect ively pract iced in Talengen Bay, Manalu Bay, and Dagho Bay wit h the maximum development

areas of 324, 559, and 1,171 ha respect ively of which can be used for allocat ing 1,296, 2,236, and 4,684 cult ure

raft unit s respect ively, wit h t he size of 50 m x 50 m per unit .

  et al

  desk st udy

  ., 2015), hasil dari

  et al

  ) dilaksanakan di Tahuna, Ibu ko t a Kabupat en Kepulauan Sangihe. Pemilihan lo kasi kajian didasarkan pada lapo ran pendahuluan (Mustafa

  Focus Group Discussion

  Kajian dilaksanakan di kawasan pesisir Kabupat en Kepulauan Sangihe yaitu di Teluk Talengen (Kecamatan Tabukan Tengah), Teluk Manalu (Kecamat an Tabukan Selat an ), d an Te lu k Dagho , Te luk Beb u , d an Se lat Mahumu (Kecamat an Tamako ) sert a Teluk So weang (Ke cam at an Man gan it u Se lat an ) yan g se lan ju t n ya disebut dengan Teluk Dagho . Diskusi Grup Terfo kus (

  BAHAN DAN M ETODE Lokasi dan Waktu Kajian

  ) di kawasan pesisir Kab u p a t e n Ke p u lau an San gih e , Pro vin si Su lawe si Ut ara.

  Kappaphycus alvarezii

  ., 2012). Penelit ian bert ujuan unt uk mengkaji karakt erist ik perairan yang selanjutnya digunakan untuk menentukan kesesuaian dan daya dukung perairan unt uk budidaya rumput laut (

  et al

  ., 2012). Fakt o r lainnya yang perlu dip erhat ikan selain kesesuaian lahan /perairan yang menent ukan o pt imal dan keberlanjut annya dari u sah a b u d id aya ru m p u t lau t ad alah d aya d u ku n g p e rairan . Pe m an faat an lah an /p e ra ira n yan g t id ak t erkendali sebagai akibat ant usiasme masyarakat yang sangat t inggi t erhadap budidya rumput laut di suat u ka wa sa n p e sisir ya n g t a n p a ad an ya p e n ga t u ra n , dikhawatirkan akan terlampauinya daya dukung lahan/ perairan yang berdampak pada penurunan kuant it as, kualit as, dan ko nt inuit as pro duksi rumput laut . Daya dukung lahan/perairan merupakan ko nsep dasar yang dikembangkan unt uk pengelo laan sumber daya alam dan lingku ngan secara b erkelanjut an (Aylló n

  et al

  ., 2012; Ro driguez-Gallego

  . , 2 0 0 3 ), d a n m e m b u a t penggunaan lahan lebih rasio nal (Go ng

  KEYW ORDS: characteristic; suitability; carrying capacity; Kappaphycus alvarezii; Kepulauan Sangihe PENDAHULUAN

  Kappaphycus alvarezii

  Pe m e r in t a h m e n e r b it ka n Ke p u t u s a n Me n t e r i Kelaut an dan Perikanan No mo r 12/KEPMEN-KP/2015 t ent ang Tim Percepat an Invest asi di Bidang Kelaut an dan Perikanan unt uk lima pulau t erdepan: Simeulue, Nat una, Sangihe, Saumlaki, dan Merauke. Kabupat en Kepulauan Sangihe t erdiri at as gugusan pulau yang b e sar d an ke cil b e rju m la h 1 0 5 p u lau (3 p u lau d i antaranya sebagai pulau-pulau t erdepan) dan memiliki g ar is p a n t ai m e n ca p a i s e k it a r 2 9 7 k m se h in gg a memiliki luas wilayah laut yang sangat besar yait u 95% d ar i lu a s t o t a l (BPS, 2 0 1 4 ). Ha l in i m e m e r lu ka n penyesuaian fo kus pembangunan melalui pemanfaat an po t ensi sumberdaya laut dan pesisir berupa budidaya la u t a t a u m a r ik u lt u r. Ma r ik u lt u r m e m b e r ik a n kesempat an untuk peningkatan produksi makanan dari laut seiring dengan meningkat nya permint aan akan p ro t e in dari lau t d an t e rb at asn ya h asil p e rikan an t angkap (Gent r y et al ., 2017).

  Bu d id aya ru m p u t lau t m e r u p a k a n s a la h sa t u kegiat an budidaya laut yang dapat menjadi alt ernat if kegiat an yang ber wawasan lingkungan dan pro dukt if b agi p e n du d u k di kawasan pe sisir (Su kad i, 2 00 6 ; Radiart a

  et al

  ., 2014; Diant o

  et al

  ., 2017). Rumput laut adalah makro alga laut mult iselular yang dit emukan di se m u a e ko sist e m p e sisir d i d u n ia , d e n gan p e ran pe nt in g dalam m en jaga ke an ekaragaman h ayat i di lingkungan kawasan pesisir (Sangha et al ., 2014; Erlania & Ra d ia r t a , 2 0 1 5 ). Me n u r u t Do t y & No r r is (1985),rumput laut (

  ) merupakan salah sat u jenis rumput laut merah (Rho do phyceae) d an b erub ah nama d ari

  et al

  Eucheuma cot t onii

  me n jad i

  Kappaphycus alvarezii

  karena karaginan yang dihasilkan t ermasuk fraksi kappa-karaginan. Rumput laut t ermasuk ko mo dit as perikanan yang berbasis lahan/perairan, maka untuk dapat tumbuh atau h id u p d a n b e rp ro d u ksi m e m e rlu kan p e rs yarat an - p e rsyara t an t e rt e n t u . Eva lu a si ke s e su aia n lah a n / perairan sangat penting dilakukan karena memiliki sifat fisik, so sial, e ko no mi, dan geo grafi yang ber variasi at au lahan/perairan dicipt akan t idak sama (Ro ssit er, 1996). Lahan/perairan memiliki karakt erist ik yang juga d ap at b e rb e d a a n t ar a ya n g s at u d e n g an lain n ya. Kesesuaian lahan/pe rairan u nt uk aku akult u r dapat m e n g u r an g i p e n ga ru h n e g at if m a n u s ia t e rh ad ap p e n g e lo la a n s u m b e r d a ya a la m d a n u n t u k m e ngid e nt ifikasi pe n ggun aan lah an /p e rairan yan g t e p at (Ab d e lRahm an

  et al

  ., 2 0 1 6 ). Selain it u ju ga memberikan po t ensial maksimal bagi pert umbuhan k o m o d it a s , m e m in im a lk a n b ia ya p r o d u k s i d a n meminimalkan at au mencegah po t ensi ko nflik ant ar- p e n g g u n a (Pé r e z

  , dan hasil dari Diskusi Grup Terfokus. Kajian dilaksanakan pada bulan Agust us dan Sept ember 2015. Co p yright @ 201 7, Jurn al Rise t Akuakult ur, e-ISSN 25 02-6534

  189

  . Analisis dengan

  pair-wise compari- son , yang merupakan bagian dari pro ses pengambilan

  kep ut usan yang dike nal d en gan m et o d e

  analyt ical hierarchy process

  (Banai-Kashani, 1989). Set elah seluruh skor dan bobot ditent ukan, langkah selanjut nya adalah m e lak u ka n a n a lis is sp as ial k e se su a ia n p e r a ir an . Analisis ini dilakukan dengan met o de

  weight ed linear combinat ion

  (Malcze wski, 1 9 9 9 ), yan g m e ru p akan aplikasi dari

  mult i-crit eria evaluat ion

  w ei g h t ed l i n ear com b i na t i on

  et al.,

  d ila k u k a n d e n g a n p e m o d e lan yan g t e rdap at d alam p e ran gkat lu n ak ArcGISve rsi 9 .3.

  Pendekat an yang dilakukan dalam penent uan daya dukung perairan unt uk budidaya rumput laut adalah pendekat an kapasit as perairan sepert i telah dijelaskan o leh Azis (2011). Dalam pendekat an ini, informasi luas lahan yang sesuai unt uk budidaya rumput laut juga m erup akan fakt o r yan g me n en t u kan d aya d ukun g perairan.

  HASIL DAN BAHASAN Karakt eristik Perairan

  Fe n o m e n a p asu t d iu ku r se t iap jam se lam a 1 5 piant an at au sekitar 15 hari, yang kemudian digunakan u n t u k m e n ca ri n ila i ke d alam an p e ra ir an d e n g an ket inggian air surut t erendah. Berdasarkan ko nst ant a harmonik tersebut, maka didapatkan bilangan

  formzhal

  (F= 0 , 2 7 ) ya n g m e n u n ju k k a n b a h w a p a s u t d i Kab u p at e n Ke p u lau an San gih e b ert ip e cam p u ran , co ndo ng ke semi-diurnal, dengan nilai muka laut rat a- rat a sebesar 240 cm di at as no l rambu pasut . Rent ang pasut pada saat rat a-rat a pasang purnama dihit ung se kit ar 2 0 0 cm . Nam u n d e m ik ian r e n t an g p as u t maksimal pada saat pengukuran dapat mencapai 250 cm pada saat pasang purnama (maksimal 370 cm dan minimal 120 cm).

  Ke ce p at a n ar u s d i lo ka si ka jian d i Kab u p a t e n Kepulauan Sangihe berkisar ant ara 1,6 dan 82,5 cm/dt (Tabel 1). Arah arus di ket iga lo kasi relat if sama yait u a r u s b e r g e r a k d a r i u t a r a k e s e la t a n . Me n u r u t Parenrengi

  et al

  1990; BAKOSURTANAL, 2005; Wo ut huyzen, 2006; FAO, 2012). Bo bo t dari masing- masing peubah dit ent ukan dengan

  Kriteria kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut met o da t ali panjang didasarkan pada krit eria yang telah ada (Mubarak

  Jurnal Riset Akuakult ur, 12 (2), 2017, 187-196 Pengum pulan Data

  . Co n t o h a ir d ip re s e r va s i m e n g ik u t i p e t u n ju k APHA (2 0 1 2 ). Kualit as air yang dianalisis di Labo rat o rium Air Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Pe rikan an , Maro s, Su lawe si Se lat an a d alah n it rat dengan meto da reduksi nat rium, nit rit dengan met oda ko lo rimet ri, nit ro gen amo nia t o t al dengan met o da fenat , fo sfat dengan met o de asam asko rbat , padat an t ersuspensi t o t al dengan met o da gravimet ri, bahan o rgan ik t o t al d engan met o de t e t rimet ri m engiku t i petunjuk APHA (2012) dan Sut risyani & Rohani (2009).

  Selama pelaksanaan kajian dilakukan pengumpulan dat a baik dat a primer maupun dat a sekunder. Dat a primer yang dikumpulkan dibagi at as dat a lingkungan fisik d an ku alit as air. Dat a lin gku n gan fisik yan g dikumpulkan berupa pasang surut (pasut) dengan dat a lo gger dan papan berskala, kedalaman perairan dengan GPSMap Garmin 585, kecepat an arus pada kedalaman 1 m d en gan

  cur rent met er

  Vale po rt 10 5, arah aru s d e n g an ko m p as ge o lo gi, d an je n is su b st rat at au sedimen dasar perairan dengan

  eickman crab .

  Kualit as air diukur secara langsung di lapan gan untuk peubah salinitas, suhu, pH, dan o ksigen terlarut dengan menggunakan YSI Pro Plus, sert a kecerahan de ngan m en ggun akan p irin g

  secchi

  . Unt uk p eu bah kualit as air lainnya yang d ianalisis di labo rat o rium, m a ka d ilak u kan p e n gam b ilan co n t o h air d e n g an m e n gg u n a kan

  kemerer w at er sampler

  Dat a sekunder sepert i Pet a Rupabumi Indo nesia dipero leh dari Badan Info rmasi Geo spasial dan Pet a Pola Ruang Wilayah dari Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Dat a lain berupa cit ra SPOT-5, SPOT-6, dan SPOT-7 akuisisi Februari 2 0 1 5 d ip e r o le h d a r i Le m b a g a An t a r ik s a d a n Penerbangan Nasio nal.

  kr ig ing (Mo rain, 1999).

  Analisis Dat a

  Lapo ran sebelumnya (Mudeng

  et al

  ., 2015; Must afa

  et al

  ., 2015) yang pengukuran dan pengambilan conto h air dilakukan pada musim hujan pada lo kasi yang sama m en un ju kkan dat a yang relat if sama d e ngan yan g dipero leh dalam kajian ini (musim kemarau), sehingga diasumsikan kualit as air di kawasan pesisir Kabupat en Kepulauan Sangihe relat if sama sepanjang t ahun. Hal ini diperkuat dengan t emuan Set iawan

  et al

  . (2016) b ahwa salin it as di p erairan Kab u p at e n Kep u lau an Sangihe hanya berkisar antara t erendah 33,7 ppt pada bulan No vember dan t ert inggi 34,4 ppt pada bulan Okt o ber. St at it ist ik deskript if yang meliput i rat a-rat a dan simpangan baku d igunakan un t uk m enget ahui ko nd isi umu m dat a perairan yang ada. Pet a dibuat dengan memanfaatkan cit ra sat elit yang t ersedia yang diint egrasikan dengan dat a sekunder dan dat a primer dari hasil kajian. Unt uk mendapat kan pet a t e mat ik masing-masing peubah kualit as air t ersebut dilakukan in t e rp o lasi d e n gan m e n ggu n akan m e t o d e

  . (20 12), kece pat an aru s yang baik unt uk budidaya rumput laut adalah 20-40 cm/dt . Pada lo kasi yang kaya nut rien, maka kecepat am arus yang lamb at , se kit ar 1 0 cm /d t su dah d ap at m en du ku ng

  • r a ta , st a n d a r d e v is a si , ju m la h p e n g u k u ra n a ta u c o n to h ) d i k a w a sa n p e si s ir K a b u p a te n K

  Co p yright @ 2 017 , Ju rnal Riset Akuaku ltu r, e-ISSN 250 2-65 34 Karakt erist ik, kesesuaian, dan daya dukung perairan untuk budidaya ..... (Akhmad M ust afa)

  T a b e l

  1 . K a ra k te ri st ik p e ra ir a n ( ra ta

  e p u la u a n S a n g ih e P ro v in si

  S u la w e si U ta ra

  Ta b le

   1 . W a te rs c h a ra ct er is ti cs ( m ea n , st a n d a rd d ev ia ti o n , n u m b er o f m ea su re m en ts o r sa m p le s) i n c o a st a l a re a s o f S a n g ih e A rc h ip el a g o R eg en cy N o rt h S u la w es i

  Co p yright @ 201 7, Jurn al Rise t Akuakult ur, e-ISSN 25 02-6534

  C. Kisaran suhu demikian masuk dalam kat ego ri perairan yang sangat sesuai unt uk kegiat an budidaya rumput laut . Vairapp an & Chu ng (20 06 ) m en yat akan su hu yan g t erbaik unt uk pert umbuhan rumput laut adalah 25-

  m e ru p akan n u t rie n t e rp e n t in g yan g m e n e n t u kan pert umbuhan plankt o n dan t umbuhan t ingkat t inggi s e p e r t i r u m p u t la u t . Ko n s e n t r a s i n it r a t ya n g didapat kan di lo kasi kajian di Kabupat en Kepulauan Sangihe 0,0195–0,9913 mg/L (Tabel 1). Ko nsent rasi n it r a t ya n g le b ih t in g g i d i t e m p a t ya n g s a m a didapat kan o leh Mudeng et al . (2015) yait u 5,20-5,50 m g/L d an 5,1 5 -5 ,80 m g/L m asing-m asing d i Te lu k Talengen dan Manalu. Menurut Kapraun (1978), rumput laut dapat t umbuh pada ko nsent rasi nit rat air 1,0-3,5 m g /L, s e d a n g k a n Ng a n g i (2 0 0 1 ) m e n ya t a k a n ko n se n t rasi n it rat yan g b aik u n t u k p e rt u m b u h an rumput laut adalah 1,0-3,2 mg/L.

  et al ., 2 0 1 5 ). Se car a u m u m d i p e ra ir an lau t , n it ra t

  ., 2011; Olanrewaju

  et al

  Nut rien dalam kont eks kualit as air adalah molekul- mo lekul dalam air yang dapat langsung digunakan oleh t anaman t ermasuk rumput laut unt uk pert umbuhan s e ln ya (La n d a u , 1 9 9 5 ). Nu t r ie n ya n g b a n ya k dimanfaat kan o leh rumput laut adalah nit rat , nit rit , amo nia, dan fo sfat (Ko t iya

  (2 015 ) men dap at kan pH air di Teluk Talen ge n d an Manalu masing-masing 7,8-8,0 dan 7,7-7,9.

  et al .

  Un t uk pe rt umb uhan yang o pt imal, rump ut laut m e m b u t u h kan p H 7 ,0 -9 ,0 d e n gan kis aran san gat s e s u a i 7 ,5 -8 , 5 (BAKOSURTANAL, 2 0 0 5 ). Ha l in i menunjukkan bahwa pH perairan Kabupaten Kepulauan Sangihe dapat mendukung budidaya rumput laut . pH perairan di Kabupat en Kepulauan Sangihe berada pada pH air laut secara umum. Sebelumnya, Mudeng

  Dikat akan o le h Lan d au (1 9 9 5 ) b ah wa o ksige n t erlarut diperlukan unt uk pro ses respirasi, sehingga ko nsent rasi o ksigen t erlarut dalam perairan menjadi fakt o r pem bat as un t u k p ert um buh an ru mpu t lau t . Ko nsent rasi o ksigen t erlarut pada semua lo kasi kajian p e rairan yan g dikaji b e rad a p ad a 3 ,4 6 -8,1 6 m g/L, s e h in g g a s e m u a lo k a s i b u d id a ya r u m p u t la u t d ik a t e g o r ik a n s e s u a i s e b a g a i lo k a s i b u d id a ya . Ko nsent rasi o ksigen t erlarut unt uk menunjang usaha budidaya rumput laut adalah 3-8 mg/L (Dit jenkanbud, 2008).

  et al . (2015).

  1990). Di t empat yang sama yait u di Teluk Talengen dan Manalu didapat kan salinit as 33-34 ppt o leh Mudeng

  et al.,

  Salinit as perairan Kabu pat en Kepulauan Sangihe 32,95-35,13 ppt , di mana salinit as yang relat if rendah dijumpai di Teluk Talengen dan Dagho sebagai akibat ad anya su n gai yan g t e rgo lo ng su n gai h id u p yan g bermuara di lokasi tersebut . Dalam melakukan budidaya rumput laut dibut uhkan kisaran salinit as 31-35 ppt (Mubarak

  31 o C.

  . (2015) melapo rkan di t empat yang sama bahwa suhu air di Teluk Talengen 29,5-31,0 o C dan di Teluk Manalu 30,0-31,0 o

  191

  Ke ce r a h a n p e r aira n lo k as i yan g co co k u n t u k budidaya rumput laut lebih dari 2 m. Apabila semakin t in ggi t ingkat kece rahannya, maka semakin e fekt if p ro s e s fo t o s in t e sis t e rse b u t , u n t u k p e n am b ah an jumlah massa sel penyusun t alus rumput laut (Hayashi

  Jurnal Riset Akuakult ur, 12 (2), 2017, 187-196

  pert umbuhan rumput laut yang baik, sebaliknya pada lo kasi yang miskin nut rien diperlukan kecepat an arus yan g le b ih be sar n am u n t id ak m e le b ih i 4 0 cm /dt . Dikat akan o leh Do t y & No rris (1985) dan Ko t iya et al . (2011) bahwa arus mengontro l kesuburan lo kasi unt uk budidaya rumput laut .

  Kedalaman perairan di kawasan pesisir Kabupat en Kep u lau an San gih e de n gan ko re ksi ket inggian air surut t erendah dari dat a pasut disajikan pada Tabel 1.

  Kisaran kedalaman air di Teluk Talengen, Manalu, dan Dagho berturut -t urut 0,7-52,0; 1,5-62,0; dan 1,0-122,0 m. Kedalaman perairan yang dangkal dengan subst rat dasar berlumpur sangat besar kemungkinannya t erjadi kekeruhan perairan melalui pengadukan gelo mbang dan arus sampai ke dasar perairan. Menurut Mubarak

  et al

  . (19 90 ), m et o d e t ali p an jang u nt uk b ud id aya rumput laut membut uhkan kedalaman perairan sangat sesuai yait u 5-10 m. Subst rat yang dikehendaki unt uk budidaya rumput laut adalah pasir, pecahan karang, dan karang (Vairapp an & Ch un g, 2 006 ). Sub st rat d asar perairan di Teluk Talengen, Teluk Manalu, dan Teluk Dagho sangat ber variasi sepert i masing-masing dapat dilihat pada Tabel 1. Dengan demikian, berdasarkan subst rat dasar, maka ada lo kasi-lo kasi t ert ent u yang se suai de ngan bu didaya rump ut laut di Kab upat en Kepulauan Sangihe.

  et al ., 2 0 0 7 ). Keke ru han yan g t in ggi d ari p ad at an

  et al

  t e rs u s p e n s i t id a k b a ik u n t u k k e g ia t a n b u d id a ya rumput laut karena mengurangi penet rasi cahaya ke dalam air sehingga mengganggu pro ses fo t o sint esis ru m p u t lau t ; d an ju ga m e n u t u p p e rm u kaan t alu s se hin gga men ghambat p enye rap an nut rie n me lalui permukaan t alus (Hidayat , 1990; Vairappan & Chung, 2006). Kecerahan perairan di Teluk Talengen 1,5-13,5 m at au 18-100%, di perairan Teluk Manalu 0,7-4,5 m at au 7-100%, dan di perairan Teluk Dagho 1,0-16,0 m at au 8-100% (Tabel 1).

  Semua lo kasi perairan yang dikaji unt uk budidaya rumput di Kabupaten Kepulauan Sangihe laut memiliki suhu perairan yang berkisar 27,0-30,8 o

  C. Hasil yang dipe ro le h in i re lat if sam a de ngan yan g dilapo rkan sebelumnya o leh Set iawan

  et al

  . (2016) bahwa suhu permukaan laut di Kabupat en Kepulauan Sangihe 28- 31 o

  C. Sebelumnya Mudeng

  Ko n s e n t ra si n it r it d i lo ka si ka jia n Ka b u p at e n Kepulauan Sangihe 0,0008-0,0982 mg/L (Tabel 1). Di Co p yright @ 2 017 , Ju rnal Riset Akuaku ltu r, e-ISSN 250 2-65 34 Karakt erist ik, kesesuaian, dan daya dukung perairan untuk budidaya ..... (Akhmad M ust afa)

  t empat yang sama yait u di Teluk Talengen dan Manalu d id ap at k an b e r t u ru t -t u ru t ko n se n t r asi d a ri t id ak t erdet eksi sampai 0,02 mg/L dan dari t idak t erdet eksi sampai 0,01 mg/L dari nit rit o leh Mudeng et al . (2015). Di perairan, ko nsent rasi nit rit jarang melebihi 1 mg/ L (Sawyer & McCart y, 1978).

  Konsent rasi amonia dalam bentuk nit ro gen amo nia t o t al di Kabupat en Kepulauan Sangihe 0,0090-0,1567 mg/L di Teluk Dagho ; 0,0 382-0,159 7 mg/L di Teluk Talengen; dan 0,0525-0,1192 mg/L di Teluk Manalu. Ko n sent rasi t erse but apabila diband ingkan dengan ko nsent rasi ideal unt uk habit at pert umbuhan rumput laut yakni 1,0-3,2 mg/L (Lo urenco et al ., 2006), maka masih jauh dari ko ndisi o pt imal.

  Ko nsent rasi fo sfat yang didapat kan di lo kasi kajian Kabupat en Kepulauan Sangihe 0,0019–0,3631 mg/L, di mana ko nsent rasi fo sfat yang t inggi didapat kan di Te lu k Tale n g e n (Ta b e l 1 ). Me n u ru t Lat if (2 0 1 2 ), k o n s e n t r a s i fo s fa t m e r u p a k a n p e u b a h k o n d is i oseano grafi yang juga mengontrol nilai karaginan pada rumput laut . Ko nsent rasi fo sfat pada perairan yang baik unt uk budidaya rumput laut adalah 0,02-1,0 mg/L (Sulist ijo , 1996).

  Rat a-ra t a p a d at a n t e rsu sp e n si t o t a l d a ri yan g t erkecil hingga t erbesar d i lo kasi kajian Kabupat en Kep u lau an Sangihe adalah 1 ,0 -2 26 ,0 m g/L. Se suai dengan Keputusan Ment eri Negara Lingkungan Hidup No mo r 51 Tahun 2004 t en t ang baku mut u air laut unt uk bio t a laut , dipero leh nilai baku mut u padat an t ersuspensi t o t al unt uk kehidupan ko ral dan lamun adalah lebih rendah dari 20 mg/L, sedangkan unt uk mangro ve lebih rendah 80 mg/L. Keberadaan padat an t e rsu sp e n si t o t al m asih d ap at b e rd a m p ak p o sit if ap ab ila t id ak m e le b ih i t o le ran si se b aran p ad at an t ersuspensi t o t al baku mut u kualit as perairan yang ditet apkan o leh Kement erian Lingkungan Hidup, yait u t idak melebihi 70 mg/L.

  Ko nsent rasi bahan o rganik t o tal air di lo kasi kajian Kab up at e n Ke p ulau an Sangihe re lat if sam a, hanya 24,02-86,81 mg/L (Tabel 2). Konsent rasi bahan o rganik t ot al dalam air laut biasanya rendah dan tidak melebihi 3 m g /L. Me n u r u t Re id (1 9 6 1 ), p e r a ir a n d e n g a n ko nsent rasi bahan o rganik t o t al lebih besar dari 26 mg/L adalah t ergo lo ng perairan yang subur.

  Kesesuaian Perairan

  De ngan me mpe rt imb an gkan fakt o r krit e ria d an fakt o r pembat as t elah dit et apkan kese suaian lahan untuk budidaya rumput laut met ode tali panjang (Tabel 2 ) d i Kab u p at e n Ke p u lau an San gih e . Ke d a la m a n perairan merupakan fakt o r krit eria yang membat asi ke se su aian lah an u n t u k b u d id aya ru m p u t lau t d i Kabupat en Kepulauan Sangihe. Adanya alur pelayaran a d a la h fa k t o r p e m b a t a s ya n g ju g a m e m b a t a s i kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut t erutama d i Te lu k Dagho . Unt uk kajian ke se su aian p erairan u n t u k b u d id a ya r u m p u t la u t , fa k t o r p e m b a t a s m e r u p a k a n p e u b a h p e n t in g ya n g h a r u s d ip e r t im b a n g k a n . Pe u b a h p e n t in g ya n g d a p a t dikat ego rikan sebagai pe mbat as ke giat an bud idaya laut, di ant aranya eksosistem padang lamun, pelabuhan kapal, kawasan industri, dan kawasan pariwisata (Pérez

  et al

  ., 2 0 0 3 ). Di Telu k Dagh o d iju m p ai Pe labu h an Perikanan Pant ai Dagho. Berdasarkan Perda Kabupaten Kep u lau an Sangih e No m o r 4 Tah u n 2 0 14 t e n t an g Ren cana Tat a Ruang Kabu pat en Kepu lauan Sangihe 2014-2034 t elah dit et apkan Klast er Teluk Dagho dan sekit arnya dengan pusat kawasan Teluk Dagho yang meliput i: Kecamat an Tamako , Kecamat an Manganit u Selat an dan Kepulauan Tato areng. Klast er ini diarahkan seb agai kawasan sen t ra p en ge mb angan p e rikanan t a n g k a p , p e n g e m b a n g a n p r o d u k s i d a n in d u s t r i p e r ik a n a n , k a w a s a n a g r o p o lit a n , s e r t a p u s a t pele st arian hut an lindun g maupu n kawasan pesisir yang berpo t ensi pariwisat a, budidaya kebaharian, dan kawasan pariwisat a bahari/kelaut an.

  Dari 4.839,3 5 ha kawasan pe sisir yang dikaji di Teluk Talengen, Manalu, dan Dagho , seluas 181,80 ha (3 ,7 6 %) t e r go lo n g s an gat s e s u ai (S1 ), 8 5 2 ,8 2 h a (1 7,6 2%) t e rgo lo n g cuku p sesu ai (S2 ), 3.6 33,75 ha (75,09%) t ergo lo ng kurang sesuai (S3), dan 170,99 ha (3 ,5 3%) t ergo lo n g t id ak se su ai (N) unt uk bu didaya rumput laut met o de t ali panjang (Tabel 2, Gambar 1).

  Daya Dukung Perairan

  Pe m a n fa a t a n k a w a s a n p e r a ir a n Ka b u p a t e n Kepulauan Sangihe sebagai lokasi budidaya rumput laut belum begit u berkembang. Namun demikian, dalam pengembangannya ke depan perlu dit unjang dengan p en ilaian daya du kun g p e rairan b e rb asis kawasan berkelanjutan.

  Luas perairan yang sesuai (sangat sesuai, cukup sesuai, dan kurang sesuai) unt uk budidaya rumput laut di Teluk Talengen, Manalu, dan Dagho masing-masing adalah 736,51; 1.269,75; dan 2.662,10 ha. Berdasarkan hasil penghit ungan kapasit as perairan di Kabupat en Kepulauan Sangihe didapat kan nilai 44% dan ukuran rakit yang umum digunakan di Kabupat en Kepulauan Sangihe adalah 50 m x 50 m (Reiyn Oskar, Ko munikasi Pribad i, 2 0 15 ), maka daya du kun g p erairan un t u k budidaya rumput laut met o de t ali panjang di Teluk Talengen, Manalu, dan Dagho seluas 324 ha, 559 ha, dan 1.171 ha. Jumlah unit budidaya rumput laut yang dapat didukung unt uk budidaya rumput laut di Teluk Talengen, Manalu, dan Dagho masing-masing 1.296; 2.236; dan 4.684 unit rakit budidaya yang berukuran 50 m x 50 m (Tabel 3).

  Jurnal Riset Akuakult ur, 12 (2), 2017, 187-196 Kappaphycus alvarezii

  Tabel 2. Kelas kesesuaian perairan unt uk budidaya rumput laut ( ) met o de t ali panjang di kawasan pesisir Kabupat en Kepulauan Sangihe Pro vinsi Sulawesi Ut ara

  Table 2. Wat ers suit abilit y classes for seaweed (Kappaphycus alvarezii) cult ure using long- line met hod in coast al areas of Sangihe Archipelago Regency Nort h Sulawesi Province Kel as kesesuaian Teluk Talengen Teluk M analu Teluk Dagho Tot al Suitability classes Talengen Bay M analu Bay Dagho Bay

  San gat sesu ai 44 .90 5 0 .0 7 86 .82 1 8 1.7 9 Very suitable (h a) Cu ku p sesuai 1 2 8 .0 8 26 4 .0 5 4 6 0 .6 9 8 5 2.8 2 M oderately suitable (h a) Ku r an g sesu ai 5 6 3 .5 3 95 5 .6 3 2 ,11 4 .5 9 3 ,63 3 .7 5 Less suitable (h a) Tidak sesu ai 10 .07 7 0 .9 0 90 .02 1 7 0.9 9 Not suit able (h a)

  Tot al (ha) 746.58 1,340.65 2,752.12 4,839.35 Datum Hrizontal : ..... Datum Wordl Geodetik Sistem WG 3 84 Sistem Gri : ..... Grid Geografi dan UTM Zona 51N Peta Indeks Proyeksi : ..... Transverse Mercator 0 2 4 8 12 16 20 0 2 4 8 12 16 20 Skala pet a 1:350.000 Km Kappaphycus alvarezii

  Gambar 1. Pet a kesesuaian perairan unt uk budidaya rumput laut ( ) me t o de t ali panjang di kawasan pesisir Kabupat en Kepulauan Sangihe Pro vinsi Sulawesi Ut ara.

  Figure 1. Wat ers suit abilit y maps for seaweed (Kappaphycus alvarezii) cult ure using long-line met hod in coast al areas of Sangihe Archipelago Regency Nort h Sulawesi Province.

  Co p yright @ 201 7, Jurn al Rise t Akuakult ur, e-ISSN 25 02-6534

  193

  Prosedur dan Spesifikasi Teknis Analisis Kesesuaian Budidaya Rumput Laut

  Kappaphycus alvarezii

  . Pu s a t Su r ve i Su m b e rd a ya Ala m La u t , Ba d a n Ko o r d in a s i Su r ve i d a n Pe m e t a a n Na s io n a l, Cibino ng Bo go r, 36 hlm.

  Banai-Kashani, R. (1989). A new met ho d fo r sit e suit - ab ilit y analysis: The analyt ic hierarchy pro cess.

  Environment al M anagement , 13, 685-693.

  BPS (Badan Pusat St at ist ik). (2014). Kepulauan Sangihe

  dalam Angka 2014

  . Badan Pusat Stat istik Kabupat en Kepulauan Sangihe, Tahuna, 388 hlm. Tabel 3. Daya dukung perairan dan jumlah unit rakit unt uk pengembangan budidaya rumput laut (

  ) met o de t ali panjang yang maksimal di perairan pesisir Kabupat en Kepulauan Sangihe Pro vinsi Sulawesi Ut ara

  BAKO SURTANAL (Ba d a n Ko o rd in a s i Su r ve i d a n Pemet aan Nasional). (2005).

  

Table 3. Wat ers carr ying capacit y and maximum number of raft unit s for development of seaweed

  (Kappaphycus alvarezii)

  cult ure using long-line met hod in coast al areas of Sangihe Archi- pelago Regency Nort h Sulawesi Province D aya dukung perairan Jum lah unit raki t *

  W aters car rying capacity (ha)

  Number of raft unit* Talen g en 3 24 1 ,2 9 6 Man alu 5 59 2 ,2 3 6 Dag h o 1 ,1 7 1 4 ,6 8 4

  Tot al 2,054 8,216

  • : Ukuran unit rakit 50 x 50 m/ Raft uni t size of 50 x 50 m

  . Dis e r t a s i. Se k o la h Pascasarjana, Inst it ut Pert anian Bo go r, Bo go r, 164 hlm.

  Co p yright @ 2 017 , Ju rnal Riset Akuaku ltu r, e-ISSN 250 2-65 34 Karakt erist ik, kesesuaian, dan daya dukung perairan untuk budidaya ..... (Akhmad M ust afa)

  DAFTAR ACUAN Ab d e lRahm an , M.A.E., Nat arajan , A., & He gd e , R.

  Secara um um karakt erist ik pe rairan Kabu pat e n Kepulauan Sangihe dapat mendukung usaha budidaya rumput laut (

  Kappaphycus alvarezii

  ), t et api kedalaman perairan yang relatif dangkal serta adanya alur pelayaran yang menjadi fakto r pembat as dalam kesesuaian lahan unt uk budidaya rumput laut. Dari 4.839,35 ha kawasan p e sisir yan g d ikaji d i Te lu k Tale n ge n (Ke cam at an Tabukan Tengah), Teluk Manalu (Kecamat an Tabukan Selat an), dan Teluk Dagho (Kecamat an Tamako dan Manganit u Selat an) dijumpai kawasan pesisir seluas 181,79 ha yang t ergo lo ng sangat sesuai; 852,82 ha ya n g t e r go lo n g cu k u p s e s u a i; 3 .6 3 3 ,7 5 h a yan g tergo lo ng kurang sesuai; dan 170,99 ha yang tergolo ng t idak sesuai unt uk budidaya rumput laut met o de t ali panjang. Budidaya rumput laut met o de t ali panjang di Kabupat en Kepulauan Sangihe dapat dilakukan di Teluk Talen ge n, Te lu k Man alu, d an Te lu k Dagho d en gan p en gem b an gan kawasan m aksim al m asing-masin g se lu as 32 4 h a; 5 5 9 h a; d an 1 .1 7 1 h a yan g d ap at digu nakan unt uk m asing-m asing 1.296, 2.236, dan 4.684 unit rakit budidaya rumput laut berukuran 50 m x 50 m . Disarankan agar p en ge mb an gan bu didaya rumput laut diawali pada lo kasi yang tergolo ng sangat se su ai, kem ud ian cukup sesuai, dan t e rakhir pada lo kasi kurang sesuai.

  UCAPAN TERIM A KASIH

  Diu cap kan t e rim a ka sih ke p ad a Ba p ak Hak im Madeng, Muhammad Arno l, dan Ilham atas bant uanya d a la m p e n g am b ila n co n t o h a ir d a n s e d im e n d i lap an gan . Te rim a kasih ju ga d isam p aika n ke p ad a Ke p a la d a n s t a f Din a s Ke la u t a n d a n Pe r ik a n a n Kabupat en Kepulauan Sangihe at as bant uannya selama pelaksanaan kajian ini. Juga diucapkan t erima kasih ke p ad a Ib u Sit i Ro h an i d an Ku rn iah a t as an alisis kualit as air d i labo rat o rium. Kajian ini dibiayai dari Daft ar Isian Pelaksanaan Anggaran yang ada di Pusat

  Pen elit ian d an Pen gem bangan Pe rikanan Bud id aya Tahun Anggaran 2015.

  (2016). Assessment o f land suit abilit y and capa- bilit y by int egrat ing remo t e sensing and GIS fo r agricult ure in Chamarajanagar dist rict , Karnat aka, India.

  Opt imasi Pengelolaan Sumberdaya Rumput Laut di Wilayah Pesisir Kabupat en Bant aeng Pr ovi nsi Sul a w esi Sel at an

  The Egypt ian Journal of Remot e Sensing and Space Science , 19(1), 125-141.

  APHA (American Public Healt h Asso ciat io n). (2012).

  St andard M et hods for t he Examinat ion of Wat er and Wast ewat er

  . American Public Healt h Asso ciat io n- Ame rican Wat er Wo rks Asso ciat io n-Wat e r En vi- ro nment Federat io n, Washingt o n, DC, 1496 pp.

  Aylló n, D., Almo dó var, A., Nico la, G.G., Parra, I., & Elvira, B. (2012). Mo delling carr ying capacit y dy- namics fo r t he co nser vat io n and management o f t errit o rial salmo nids.

  Fisheries Research

  , 134-136, 95-103. Azis, H.Y. (2 01 1).

  Teluk (Bay ) Co p yright @ 201 7, Jurn al Rise t Akuakult ur, e-ISSN 25 02-6534

  195

  Mudeng, J.D., Ngangi, E.L.A., & Ro mpas, R.J. (2015).

  Advances in Applied Science Research

  , 2(3), 99-106.

  Landau, M. (1995). Int roduct ion t o Aquacult ure . Jo hn Wiley and So ns Inc., New Yo rk, 440 pp. Lat if, N. (2012)

  Opt imasi Pemanfaat an Perairan Pulau Sa ug i Ka b u pa t en Pa ng k ep u n t u k Bu d i da ya Ka ppa phycus a lva r ez ii . Dis e r t a s i Un ive r s it a s Hasanuddin, Makassar, 140 hlm.

  Lo urenco , S.O., Barbarino , E., Nasciment o , A., Freit as, J.N.P., & Diniz, G.S. (20 06). Tissue nit ro gen and pho spho rus in seaweeds in a t ro pical eut ro phic enviro nment: What a long-t erm st udy t ells us.

  Jour- nal of Applied Phycology

  , 18(3-5), 389-398. Malczewski, J. (1 999). GIS and M ut licr it er ia Decision

  Analysis . Jo hn Wiley & So ns, New Yo rk, 392 pp.

  Mo rain , S. (1 9 99 ). GIS Solut ion in Nat ur al Resource

  M anagement : Balancing t he Technical Polit ical Equa- t ion

  . On Wo rd Press, USA, 361 pp. Mubarak, H., Ilyas, S., Ismail, W., Wahyuni, I.S., Hart at i, S.H., Prat iwi, E., Jangkaru, Z., & Arifudin, R. (1990).

  Pet unj uk Teknis Budi daya Rum put Laut

  . Pu s a t Penelit ian dan Pengembangan Perikanan, Jakart a, 93 hlm.

  Id e n t ifik a s i p a r a m e t e r k u a lit a s a ir u n t u k kepent ingan marikult ur di Kabupat en Kepulauan Sangihe Pro vinsi Sulawesi Ut ara.

  Kappaphycus alvarezii

  Jurnal Budidaya Perairan, 3(1), 141-148.

  Mu st afa, A., Pat o nglo an, E., Yu liu s, Pin gkan , K.R., Rahmat ia, Susant o , H.A., Allo , S.P., Makasangkil, L., Labo a, M., To ekijo , E., Kansil, B., & Mansauda, D. (20 15 ).

  Profil Perikanan Budidaya dan W isat a Bahari unt uk Pengembangan Kelaut an dan Perikanan Terintegrasi di Kabupat en Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara

  . Badan Penelitian dan Pengembangan Kelaut an dan Perikanan, Jakart a, 10 hlm. Ngan gi, E.L. (2 00 1 ).

  Kaj ian Ident ifikasi dan Analisis Finansial Usaha Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii di Desa Bent enam Tumbak Kecam at an Belang , Provinsi Sulaw esi Ut ar a

  . Te sis. Se ko lah Pascasarjana, Inst it ut Pert anian Bo go r, Bo go r, 100 hlm.

  Olan re waju, O.S., Te e, K.F., & Kad er, A.S.A. (20 15 ).

  Wat er qualit y t est and sit e select io n fo r suit able species fo r seaweed farm in East Co ast o f Malay- sia.

  Biosciences Biot echnology Research Asia

  , 12(2), 33-39. Pare nren gi, A., Rachmansyah, & Su r yat i, E. (20 12 ).

  Bu di Daya Rum p ut Laut Peng h asi l Kar a g i n an (Karaginofit )

  . Balai Penelit ian dan Pengembangan Budidaya Air Payau, Maro s, 54 hlm. Pé re z, O.M., Ro ss, L.G., Te lfe r, T.C., & d e l Cam p o

  Barquin, L.M. (2003). Wat er qualit y requirement s fo r marine fish cage sit e select io n in Tenerife (Ca- nar y Islands): Predict ive m o delling and analysis using GIS.

  in nine different co ast al areas o f Gujarat co ast , In dia.

  Dave, T., So lanki, J.B., & Nayan, P.M. (2011). Gro wt h co mpariso n o f t he seaweed

  Jurnal Riset Akuakult ur, 12 (2), 2017, 187-196

  . La Jo lla, Califo rnia, Califo rnia Sea Grant Co llege Pro gram (T-CSGCP- 011), 47-61.

  Diant o , I K., Art hana, I W., & Ernawat i, N.M. (2017).

  The ut ilizat io n o f

  Halymenia durvillaei

  t o suppo rt t he management o f

  Eucheuma spinosum

  seaweed fa r m in g in Ge g e r Co a s t a l Ar e a , Ba li. Jur na l

  M et amorfosa , IV(1), 65-71.

  Dit jenkanbud (Direkto rat Jendral Perikanan Budidaya).

  (2 0 0 8 ). Pet unj uk Teknis Budidaya Rum put Laut . Direkt orat Jendral Perikanan Budidaya, Departemen Keluat an dan Perikanan, Jakart a, 41 hlm.

  Do t y, M.S. & No rris, J.N. (198 5).

  Eucheuma

  spe cies (So lieriaceae, Rho do phyta) t hat are majo r so urces o f carrageenan. In: Abbo t , A. & No rris, J.N. (eds.),

  Taxonomy of Economic Seaweeds with Reference t o some Pacific and Caribbean Species

  Erlania & Radiart a, I N. (2015). Dist ribusi rumput laut alam berdasarkan karakt erist ik dasar perairan di k a w a s a n r at a a n t e r u m b u La b u h an b u a , Nu s a Te n g g a r a Ba r a t : St r a t e g i p e n g e lo la a n u n t u k pengembangan budidaya.

  , 21, 143-153. Ko t iya, A.S., Gunalan, B., Parmar, H.V., Jaikumar, M.,

  Jurnal Riset Akuakult ur

  , 10(3), 449-457. FAO (Fo o d and Agricult ure Organizat io n). 2012.

  Cul- t ur ed Aquat i c Speci es I nf or m at i on Pr og r am m e: Eucheuma spp

  . Fisheries and Aquacult ure Depart - m e n t , FAO, h t t p ://w w w. fa o . o r g /fis h e r y/ cu lt uredsp ecies/Euche uma_spp /en. [Diakses: 12 April 2012]. Gent r y, R.R., Fro e

Dokumen yang terkait

Dokumen baru