ANALISA KEBIJAKAN JAMINAN SOSIAL DI INDO

TUGAS ADMINISTRASI KEBIJAKAN KESEHATAN

ANALISA KEBIJAKAN JAMINAN SOSIAL DI INDONESIA

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2
1.
2.
3.
4.
5.

ANDHY NOFALIZA
CHRISTINE VITA GLORIA PURBA
DELI SYAPUTRI
FITRI DIAN NILA SARI
HALIMAH FITRIANI PANE

(117032161)
(117032162)
(117032163)
(117032164)
(117032165)

PROGRAM STUDI PASCA SARJANA ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
MAGISTER KESEHATAN LINGKUNGAN INDUSTRI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011/ 2012

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya semua kegiatan manusia itu memiliki resiko. Risiko adalah faktor
ketidakpastian dari suatu aktivitas yang kita lakukan baik dalam hubungan kerja maupun di
luar hubungan kerja. Pengertian lain dari risiko adalah potensi kehilangan atau kerugian.
Risiko dapat dibedakan atas tiga (3) hal: yaitu risiko finansial, risiko operasional dan risiko
murni.
Risiko murni atau risiko pasti (pure-risk) adalah potensi kerugian karena peristiwa
yang berulang-ulang seperti sakit dan kecelakaan menyusul adanya peristiwa yang tidak
berulang-ulang atau terjadi sekali secara alami seperti menjadi tua serta meninggal dunia.
Kemudian risiko murni yang dimaksud tidak berhubungan dengan peristiwa orang per
orangan melainkan bersifat kolektif dalam komunitas, karena dalam mekanisme
pengelolaannya diperlukan pemusatan risiko untuk keperluan mitigasi risiko secara merata.
Selain risiko-risiko murni sebagaimana disebutkan di atas, juga terdapat resiko sisa, yaitu
suatu risiko yang akan dihadapi komunitas tertentu apabila pemerintah memberlakukan
kebijakan kontrak kerja dan kebijakan pembatasan subsidi BBM. Komunitas tertentu yang
dimaksudkan adalah tenaga kerja sebagai penerima upah minimum yang bersifat rentan
miskin bisa jadi miskin, kemungkinan kehilangan pekerjaan yang berarti kehilangan
penghasilan. Penanganan risiko sisa sebaiknya tidak dikelola sendiri melainkan dialihkan
dalam skema asuransi sosial atau jaminan sosial agar penanganannya menjadi lebih efektif
dan pendanaannya dapat dipikul bersama atau dilakukan dengan gotong royong.
Dalam kontek ini, asuransi sosial atau jaminan sosial adalah sebuah sistem proteksi
bagi komunitas khususnya tenaga kerja melalui fungsi manajemen risiko yang antara lain
melakukan identifikasi, analisis dan mitigasi risiko untuk penanganan yang efektif terhadap
peristiwa-peristiwa sakit, kecelakaan, kematian prematur, pemutusan hubungan kerja (PHK)
sebelum usia pensiun dan PHK karena usia pensiun. Dengan kata lain, jaminan sosial adalah
skema preventif atau program pencegahan sebagai sistem yang tak berdiri sendiri. Karena
jaminan sosial sebagai sebuah sistem, maka diperlukan prasarana umum dan kesehatan yang
difasilitasi oleh pemerintah pusat dan pemerintah-pemerintah daerah serta operator yang
handal sebagai badan penyelenggara yang independen. Semua peristiwa, kecuali peristiwa
kematian, pada dasarnya dapat dicegah. Sifat pencegahan satu sama lain tidak sama. Sifat
pencegahan terhadap perisitwa sakit tak terstruktur, sedangkan pencegahan terhadap
peristiwa kecelakaan kerja bersifat terstruktur.

Adapun peristiwa PHK sebelum usia pensiun bisa jadi pasti dan tidak pasti tergantung
dari intervensi serikat pekerja. PHK sebelum usia pensiun dapat diatasi dengan penempatan
kerja melalui pasar tenaga kerja. Dengan memperkerjakan kembali tenaga kerja yang terPHK, maka kepesertaan dalam sistem jaminan sosial khususnya ”Jaminan Sosial Tenaga
Kerja (Jamsostek)” dapat berkelanjutan hingga mencapai usia pensiun.
Apakah implementasi sistem jaminan sosial khususnya penyelenggaraan program
Jamsostek yang berdasarkan UU No 3 Tahun 1992 sudah sesuai kaidah, asas dan prinsip
yang berlaku secara universal? Maka dalam makalah ini akan dilakukan telaah terhadap
penyelenggaraan sistem jaminan sosial di Indonesia dengan melakukan analisis komparasi
terhadap penyelenggaraan sistem jaminan sosial di Amerika Serikat, Korea Selatan dan China
sebagai salah satu bentuk metodologi dalam penulisan makalah ini. Dalam telaah tersebut
akan diawali dengan deskripsi tentang filosofi, definisi, asas dan prinsip jaminan sosial yang
diadopsi dari UU No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
Kemudian hasil dari analisis komparasi di ketiga negara tersebut dapat digunakan sebagai
salah satu masukan bagi pemerintah dalam menyempurnakan dan atau memperbaiki sistem
jaminan sosial di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah dari makalah ini yaitu,
bagaimanakah implementasi sistem jaminan sosial di Indonesia.

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui implementasi sistem jaminan sosial di Indonesia.
2. Untuk mengetahui

II. FILOSOFI, DEFINISI, ASAS, PRINSIP JAMINAN SOSIAL, TATA KELOLA DAN
BEBARA

SARANA

YANG

DIPERLUKAN

SEBAGAI

PRASYARAT

DALAM

PENYELENGGARAAN SISTEM JAMINAN SOSIAL
1. Filosofi Jaminan sosial
Jaminan sosial adalah sistem proteksi yang diberikan kepada orang per orang untuk
mencegah kemiskinan, karena risiko risiko sosial ekonomi yang kemungkinannya dapat
menimbulkan hilangnya pekerjaan. Karena itu, jaminan sosial sebagai salah satu pilar
kesejahteraan yang bersifat operasional.
Sistem jaminan sosial adalah lintas disiplin ilmu ekonomi, hukum, sosial dan ilmu
pemerintahan. Jaminan sosial dalam dimensi ekonomi adalah faktor investasi terhadap iuran
yang belum jatuh tempo dan faktor konsusmsi dalam bentuk pemberian manfaat tunai.
Kemudian jaminan sosial dalam dimensi hukum adalah bahwa implementasi jaminan sosial
berdasarkan UU jaminan sosial sebagai tindak-lanjut dari UUD 1945 yang berarti terkait
dengan hukum tata negara sedang pelanggaran terhadap UU jaminan sosial terkait dengan
hukum pidana. Operasionalisasi jaminan sosial dalam dimensi sosial adalah prinsip gotong
royong baik vertikal antar penghasilan yang berbeda maupun horizontal antar generasi.
Adapun jaminan sosial dalam dimensi ilmu pemerintahan terkait dengan tata kelola,
tata pamong dan hubungan pelembagaan antara BPJS sebagai penyelenggara serta lembaga
pemerintah sebagai regulator yang sekaligus fasilitator terhadap penyelenggaraan jaminan
sosial yang berkelanjutan. Implementasi sistem jaminan sosial sarat dengan intervensi politik,
tekanan masyarakat dan kemauan politik pemerintah. Konsekuensi penyelenggaraan jaminan
sosial diperlukan pendanaan yang terus menerus, karena jaminan sosial sebagai program
permanen seumur hidup. Karena itu pendanaan sistem jaminan sosial melibatkan seluruh
pemegang kebijakan yang meliputi pemberi kerja, penerima kerja dan pemerintah. Perlu
dicatat, bahwa program jaminan sosial yang didanai oleh peserta tidak berarti tidak didanai
oleh pemerintah. Pemerintah berkewajiban mendanai program jaminan sosial apabila
penyelenggaraannya mengalami defisit karena krisis ekonomi.
Kunci sukses dalam penyelenggaraan sistem jaminan sosial adalah pelaksanaan
penindakan hukum yang efektif. Ketidak-konsistenan dalam penindakan hukum terjadi
karena terbatasnya anggaran pengawasan, terbatasnya kualitas pengawas tenaga kerja dan
terbatasnya kewenangan badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS). Sukses tidaknya dalam
implementasi sistem jaminan sosial tergantung dari kondisi ekonomi, situasi ketenagakerjaan, kemampuan pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan, memberlakukan
upah memadai dan mengkondisikan kenyamanan kerja, karena prinsip bekerja berbasis pada

pekerjaan yang berkelanjutan. Karena itu, lapangan pekerjaan atau pekerjaan yang bersifat
tetap merupakan landasan yang kuat bagi BPJS dalam perluasan kepesertaan sistem jaminan
sosial yang efektif dan berkelanjutan.

2. Kesejahteraan Sosial
Kesejahteraan sebagaimana dijelaskan dalam filosofi jaminan sosial adalah
tercapainya kondisi keamanan ekonomi yang ditandai dengan terkendalinya inflasi dan
rendahnya

tingkat

pengangguran.

Tercapainya

keamanan

ekonomi

belum

tentu

memperlihatkan adanya kemakmuran orang per orang. Indonesia pernah mengalami
keamanan ekonomi yang ditandai dengan tingginya pertumbuhan ekonomi dengan rata-rata
6-7% per tahun selama periode 1987-1996. Akan tetapi dengan tercapainya keamanan
ekonomi belum tentu berhasil dalam menyelenggarakan sistem jaminan sosial dengan
kepesertaan universal. Untuk mengetahui adanya kemakmuran orang per orang perlu dilihat
dari sukses dalam penyelenggaraan sistem jaminan sosial, karena dalam operasionalisasi
sistem jaminan sosial telah dilakukan pendataan perusahaan dan tenaga kerja termasuk
pendaftaran penduduk miskin dalam program bantuan sosial.
Menurut UU No 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, kesejahteraan sosial
adalah suatu kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual dan sosial warga negara agar
dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi
sosialnya. Adapun pemahaman kesejahteraan sosial secara operasional adalah upaya yang
terarah, terpadu dan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah, pemerintah daerah dan
masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga
negara, yang meiliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, dan perlindungan sosial.
Implementasi kesejahteraan atau kesejahteraan sosial mengacu pada konsep ekonomi
dasar, yaitu teori preferensi, selera dan atau nilai ekonomi. Karena itu teori kesejahteraan
adalah interaksi dari preferensi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Secara esensi, program kesejahteraan sosial ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar
manusia dalam tiga (3) dimensi, yaitu material, spiritual dan sosial. Teori kesejahteraan
adalah konsep kebutuhan dasar bagi masyarakat yang membutuhkannya agar dapat
melaksanakan kembali fungsi-fungsi sosialnya. Jaminan sosial melakukan mitigasi risiko
dalam menetapkan besarnya kompensasi penghasilan dengan menetapkan besarnya income
substitute maksimal 2/3 dari penghasilan tenaga kerja yang masih aktif.

3. Definisi
Jaminan sosial sebagai pilar utama kesejahteraan sosial dalam implementasinya perlu
ditopang dengan berbagai persyaratan yang antara lain adanya lapangan pekerjaan,
terbentuknya pasar tenaga kerja yang independen dan fasilitas fasilitas lain untuk
memperlancar operasionalisasi program program jaminan sosial oleh badan badan
penyelenggara jaminan sosial. Beberika beberapa pengertian atau definisi tentang konsep
jaminan sosial sebagai acuan dalam merumuskan kebijakan sosial:
a.

Pasal 3 UU No. 3/1992 tentang Jamsostek mendefinisikan jaminan sosial tenaga kerja
(Jamsostek) sebagai suatu proteksi bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang
sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang hilang atau berkurang dan pelayanan
sebagai akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja berupa kecelakaan
kerja, sakit, hamil, hari tua dan meninggal dunia.

b.

Rejda (1994) mendefinisikan bahwa jaminan sosial sebagai skema preventif bagi
komunitas yang bekerja terhadap peristiwa ketidakamanan ekonomi seperti inflasi,
flukstuasi kurs dan penganggutan sebagai akibat kebijakan publik yang bersifat ekspansif
sehingga menimbulkan penurunan daya beli masyarakat bahkan rentan miskin dan
miskin sama sekali. Karena itu diperlukan jaring pengaman sosial atau program
pemberdayaan untuk memulihkan kondisi masyarakat yang mengalami penurunan daya
beli.

c.

Konstitusi ISSA 1998 mengartikan jaminan sosial sebagai suatu program perlindungan
dengan kepesertaan wajib yang berdasarkan UU Jaminan Sosial, kemudian dengan
memberikan manfaat tunai maupun pelayanan kepada setiap peserta beserta keluarganya
yang mengalami peristiwa-peristiwa kecelakaan, pemutusan hubungan kerja sebelum
usia pensiun, sakit, persalinan, cacat, kematian prematur dan hari tua.

d.

Konvensi ILO 1998 memberikan pemahaman tentang jaminan sosial sebagai sistem
proteksi yang dipersiapkan oleh masyarakat (pekerja) itu sendiri bersama pemerintah
untuk mengupayakan pendanaan bersama guna membiayai program-program jaminan
sosial sebagaimana tertuang dalam seperangkat kebijakan publik yang pada umumnya
dalam bentuk UU Sistem Jaminan Sosial. Jika tidak, maka akan terjadi kemungkinan
hilangnya penghasilan atau bahkan hilangnya pekerjaan sebagai akibat adanya peristiwa
peristiwa sakit-persalinan, kecelakaan kerja, kematian prematur, PHK sebelum usia
pensiun, cacat sementara atau cacat tetap, hari tua dan penurunan penghasilan keluarga
karena dampak kebijakan publik.

e.

Pasal 1 Ketentuan Umum UU No. 40/2004 tentang SJSN mendefinisikan jaminan sosial
sebagai salah satu bentuk perlindungan untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya yang layak. Adapun SJSN itu sendiri sebagai suatu tatakelola penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggara
jaminan sosial.

f.

Purwoko (2006) menyatakan bahwa jaminan sosial sebagai salah satu faktor ekonomi
yang memberikan manfaat tunai kepada peserta sebagai pengganti penghasilan yang
hilang, karena peserta mengalami berbagai musibah seperti sakit, kecelakaan, kematian
prematur, pemutusan hubungan kerja sebelum usia pensiun dan hari tua.
Penyelenggaraan sistem jaminan sosial ini bersifat nasional sesuai UU Jaminan Sosial

dimana pendanaannya berasal dari iuran iuran peserta yang terdiri dari iuran pemberi kerja
dan pekerja. Adapun iuran yang belum jatuh tempo berfungsi sebagai tabungan dan atau
investasi sedang iuran yang telah jatuh tempo merupakan fungsi konsumsi.
Definisi atau pemahaman tentang konsep jaminan sosial sebagaimana dikemukakan di
atas mengandung kesamaan esensi, yaitu suatu skema proteksi yang ditujukan untuk tindakan
pencegahan khususnya bagi masyarakat yang memiliki penghasilan terhadap berbagai risiko /
peristiwa yang terjadi secara alami seperti sakit, kecelakaan, kematian prematur, PHK
sebelum usia pensiun dan hari tua. Timbulnya peristiwa tersebut dapat mengakibatkan
hilangnya sebagian atau keseluruhan penghasilan masyarakat. Karena itu, diperlukan
pendanaan secara bersama antara pemberi kerja atau perusahaan, penerima kerja atau pekerja
dan pemerintah. Keunikan dalam penyelenggaraan sistem jaminan sosial adalah bahwa
pemerintah disamping sebagai regulator, juga bertindak sebagai fasilitator termasuk terlibat
dalam pembiayaan program apabila diperlukan karena adanya krisis ekonomi. Pemerintah
tidak boleh menyelenggarakan sistem jaminan sosial termasuk program bantuan sosial yang
didanai dari APBN kecuali sebagai regulator dan fasilitator, karena terkait prinsip tata kelola
pemerintahan yang baik.

4. Asas, Tujuan, Prinsip dan Tata Kelola Penyelenggaraan
Setelah kita memahami beberapa definisi sistem jaminan sosial yang digunakan
sebagai acuan dalam merumuskana kebijakan jaminan sosial, maka berikut ini dipaparkan
asas, tujuan, prinsip dan tata-kelola penyelenggaraan sistem jaminan sosial agar dapat
dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada anggota masyarakat sebagai komponen
pemangku kepentingan yang terbesar.

a.

Asas-asas jaminan sosial mencakup kemanusiaan, manfaat dan keadilan. Asas
kemanusiaan adalah asas yang berhubungan dengan martabat manusia bahwa untuk
menjunjung harga diri manusia diperlukan sistem jaminan sosial sebagai hak dasar bagi
seluruh penduduk. Hak dasar bagi seluruh penduduk untuk memperoleh jaminan sosial
dinyatakan dalam pasal-pasal 28-h dan Pasal 34 UUD 1945 yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan Pasal 2 UU No 40/2004 tentang SJSN. Adapun asas manfaat jaminan
sosial biasanya berupa pemberian nilai tunai dan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan
dasar hidup yang layak seperti pangan, sandang, papan dan kebutuhan medis dasar.
Pemberian manfaat jaminan sosial berasaskan keadilan dalam arti bahwa manfaat yang
diberikan berlaku bagi seluruh warga negara kaya, hampir miskin atau miskin, karena
jaminan sosial bersifat permanen seumur hidup. Ketiga asas tersebut merupakan
landasan dalam implementasi sistem jaminan sosial berkelanjutan.

b.

Agar terwujud penyelenggaraan sistem jaminan sosial yang berkelanjutan, maka jaminan
sosial diselenggarakan secara nasional dengan membentuk BPJS indenpenden yang
berdasarkan UU Jaminan sosial. Hal ini karena jaminan sosial memberikan kepastian
jaminan bagi masyarakat agar tercapai pemenuhan kebutuhan dasar hidup yang layak
secara merata sebagai amanat pada pasal 28-h dan 34 UUD 1945.
Secara empirik, tujuan diselenggarakannya sistem jaminan sosial disamping untuk
mematuhi asas hak asasi manusia, juga dimaksudkan untuk minimalisasi tingkat korupsi.
Tingkat korupsi di negara negara maju seperti Jerman, Belanda, Swiss, Australia dan
Inggris relatif rendah karena adanya sistem jaminan sosial yang berkesinambungan. Di
negara negara tersebut berlaku jaminan kesehatan yang bersifat universal an jamainan
pensiun seumur hidup sebagai salah satu program jaminan sosial yang berkelanjutan.
Dalam hal ini, negara melalui pemerintah yang sah memberikan kepastian jaminan bagi
seluruh warga negara manakala mengalami sakit dan pensiun dijamin adanya kepastian
pendapatan.

c.

BPJS yang berwenang menyelenggarakan sistem jaminan sosial harus mematuhi
sembilan (9) prinsip UU No 40/2004 tentang SJSN, agar dapat dipertanggungjawabkan
secara terbuka kepada publik Adapun kesembilan prinsip UU SJSN tersebut bersifat
universal seperti prinsip-prinsip (i) gotong royong, (ii) kepesertaan wajib, (iii) nirlaba,
(iv) keterbukaan, (v) akuntabilitas, (vi) portabilitas, (vii) dana amanah, (viii) konservatif
dan (ix) pengembalian hasil investasi kepada peserta. Dari kesembilan prinsip tersebut,
prinsip nirlaba merupakan kekhasan bagi BPJS bahwa yang dimaksud dengan mematuhi

prinsip nirlaba terkait dengan bentuk badan hukum BPJS sebagaimana seharusnya
(Purwoko, 2010).
d.

Dengan menggaris-bawahi fungsi pemerintah baik pemerintah pusat maupun
pemerintah-pemerintah

daerah,

yaitu

sebagai

regulator

dan

fasilitator,

maka

penyelenggaraan sistem jaminan sosial menjadi kewenangan BPJS. Artinya adalah
bahwa penyelenggaraan sistem jaminan sosial yang didanai sendiri oleh masyarakat
bukan merupakan kewenangan pemerintah pusat dan tidak juga menjadi kewenangan
pemerintah daerah. Karena kewenangan BPJS begitu menentukan dalam memberikan
kepastian jaminan sebagaimana mengacu pada amanat Pasal-pasal 28-h dan 34 UUD
1945, maka penyelenggaraannya secara teori di luar kapasitas BUMN Persero yang
tunduk dengan UU No 40/2007 tentang Perseroan Terbatas dalam artian tanggung jawab
pemerintah sebagai pemegang saham menjadi terbatas, menyalahi prinsip jaminan sosial
dan amanat Pasal 28-h dan 34 UUD 1945 (Purwoko, 2010).
Selanjutnya prinsip jaminan sosial yang hakiki adalah gotong royong, maka dalam
pembayaran manfaat berlaku model anggaran. Karena itu diperlukan pendanaan bersama
antara perusahaan, tenaga kerja dan pemerintah. Pemerintah perlu menyiapkan anggaran
jaminan sosial untuk mengantisipasi timbulnya krisis ekonomi seperti peristiwa PHK
sebelum usia pension dan wabah penyakit.

5. Alasan sistem jaminan sosial diselenggarakan secara nasional dengan UU
Sebagaimana dijelaskan dalam tata kelola penyelenggaraan sistem jaminan sosial
bahwa implementasi sistem jaminan sosial dilakukan secara nasional oleh BPJS yang
independen berdasarkan UU Jaminan Sosial. Adapun alasan teknis mengapa sistem jaminan
sosial diselenggarakan secara nasional adalah sebagai berikut:
a.

Pada dasarnya jaminan sosial ditujukan untuk proteksi dasar bagi seluruh rakyat
sehingga diperlukan penyelenggaraan secara nasional.

b.

Adanya mobilitas penduduk lintas batas, mutasi tenaga kerja lintas sektoral dan
urbanisasi masyarakat lintas wilayah yang memungkinan penyelenggaraan secara
nasional untuk memenuhi prinsip portabilitas.

c.

Penyelenggaraan jaminan sosial secara nasional dapat menjamin pelayanan kesehatan
lintas wilayah. Pembayaran manfaat pensiun dilakukan di mana saja, karena bekerja bisa
di mana saja, karena iuran pensiun dikelola secara nasional di cabang-cabang BPJS yang
tersebar di seleuruh daerah.

d.

Implementasi

jaminan

sosial

secara

nasional

sangat

memudahkan

dalam

penyelenggaraan jaminan seumur hidup termasuk menjamin eksistensi prinsip gotong
royong baik vertikal maupun horizontal yang merupakan kekhasan sistem jaminan sosial.
Penyelenggaraan sistem jaminan sosial yang bersifat nasional untuk memenuhi
prinsip gotong royong memastikan adanya kepesertaan yang bersifat wajib dengan UU
Jaminan sosial. Kepesertaan jaminan sosial yang bersifat wajib harus dengan UU jaminan
sosial dikarenakan oleh:
a.

Jaminan sosial adalah bukan barang dagangan melainkan sebagai hak dan kewajiban
masyarakat, perusahaan bahkan negara melalui pemerintah yang sah.

b.

Kepesertaan wajib dalam sistem jaminan sosial ditujukan untuk memenuhi prinsip
gotong royong vertikal dan horizontal. Hal ini merupakan prinsip dasar jaminan sosial
untuk terus meningkat perluasan kepesertaan sebagai satu satunya kinerja bagi sukses
tidaknya BPJS.

c.

Sistem jaminan sosial adalah skema publik yang ditujukan untuk memberikan
kompensasi hilangnya sebagian atau keseluruhan penghasilan masyarakat sebagai akibat
peristiwa kecelakaan, sakit, PHK sebelum usia pensiun, hari tua dan kematian prematur.

d.

Program jaminan sosial didanai dari iuran peserta yang dipotong dari upah/gaji, bahwa
iuran peserta tersebut sebagai komponen pajak yang akan dikembalikan kepada peserta
pada saat tidak bekerja lagi karena usia pensiun. Kemudian jaminan sosial ditujukan
untuk pencegahan kemiskinan di hari tua karena adanya pemusatan resiko secara
nasional.

6. Fasilitas-fasilitas yang diperlukan sebagai prasyarat bagi Penyelenggaraan Sistem Jaminan
Sosial
Penyelenggaraan sistem jaminan sosial disamping memperhatikan asas, prinsip dan
tata kelola yang baik, juga diperlukan beberapa fasilitas untuk memperluas kepesertaan dan
memberikan pelayanan kesehatan kepada peserta. Penyelenggaraan sistem jaminan sosial
perlu ditopang dengan keberadaan sektor formal dan bursa tenaga kerja sebagai fasilitas
umum menyusul rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan.
a. Sektor Formal
Sektor formal adalah badan hukum yang terdafatar di Kementerian yang terkait
dengan bidang usahanya dengan memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP), karena
memperkerjakan tenaga kerja untuk memproduksi barang dan jasa dengan imbalan upah/ gaji
yang diterima secara reguler. Pengusaha dan tenaga kerja disamping sebagai peserta sistem

jaminan sosial, juga sebagai pembayar pajak dan sekaligus berfungsi sebagai investor
khususnya untuk kegiatan investasi langsung seperti penyertaan modal untuk menciptakan
lapangan pekerjaan sebagaimana diperlihatkan dalam panah 1 dan panah 4 (lihat Bagan 1).
Pajak merupakan penerimaan negara yang dapat digunakan sebagai sumber dana
pembangunan seperti bursa tenaga kerja, rumah sakit, pharmasi dan pengadaan peralatan
medis (lihat panah 2). Bursa tenaga kerja yang berfungsi untuk penempatan kerja baru
maupun untuk penempatan keambali bagi tenaga kerja yang ter PHK sebelum usia 55 tahun
berdampak terhadap pertambahan kepesertaan, menyusul fungsi rumah sakit dan farmasi
untuk mempermudah penyelenggaraan sistem jaminan sosial sebagaimana diperlihatkan
dalam panah 3. Kegiatan investasi langsung juga dapat memperluas kesempatan kerja, karena
penyertaan modal dapat berarti perluasan usaha atau ekspansi bisnis sehingga berhubungan
dengan perekrutan tenaga kerja baru untuk memperbesar porsi sektor formal (lihat panah 5).
Perekrutan tenaga-kerja baru sebagai hasil dari kegiatan investasi langsung pada dasarnya
merupakan potensi penambahan kepesertaan sistem jaminan sosial (lihat panah 6 Bagan 1).
Hubungan antara sektor formal yang terdiri dari para pengusaha dan tenaga kerja dan sistem
jaminan sosial adalah sebagai hubungan kemitraan dimana iuran mengalir dari sektor formal
secara reguler sebagaimana dipaparkan dalam panah 7 dan sistem jaminan sosial melakukan
pengelolaan dana serta pencatatan / penerbitan kartu identitas untuk disampaikan kepada
peserta (lihat panah 8 Bagan1).
b. Fasilitas-fasilitas Umum dan Kesehatan
Fasilitas umum selain bursa tenaga kerja seperti pembangunan jalan, sarana
komunikasi umum dan transportasi publik diperlukan untuk mempermudah penyelenggaraan
sistem jaminan sosial, misalnya untuk perluasan kepesertaan tenaga kerja baru. Hubungan
timbal balik secara tidak langsung antara kegiatan investasi langsung dan sistem perpajakan
begitu nyata (lihat panah 9). Kemudian hubungan timbal baik antara kegiatan pembangunan
fasilitas fasilitas dan penambahan tenanga kerja sektor formal begitu signifikan (lihat panah
10). Hubungan timbal balik antara penerimaan pajak dan jumlah tenaga kerja memiliki
korelasi yang kuat terhadap penambahan penerimaan pajak (lihat panah 11), kemudian
hubungan timbal balik antara kegiatan investasi langsung terhadap pembangunan fasilitas
kesehatan yang mencakup pembangunan rumah sakit, pengadaan peralatan medis,
penyediaan laboratorium dan farmasi adalah untuk perekrutan tenaga medis dan atau sebagai
sebagai salah satu kegiatan investasi komersial di bidang kesehatan (lihat panah 12).

Sumber: Purwoko (2006)

III. PENYELENGGARAAN JAMINAN SOSIAL

A. Penyelenggaran Jaminan Sosisal di Indonesia
Sistem jaminan sosial telah lama diperkenalkan di Indonesia seperti program pensiun
bagi Anggota ABRI (sekarang TNI-Polri) dan PNS Departemen Pertahanan & Keamanan
(sekarang Kementerian Pertahanan) sejak tahun 1967 yang berdasarkan UU No 6/1966.
Menyusul pengenalan program pensiun bagi PNS terjadi pada tahun 1970 yang berdasarkan
pada UU No 11/1969. Metode pembiayaan program program pensiun tersebut berdasarkan
sistem anggaran (pay as you go) dari APBN sedangkan iuran TNI-Polri dan PNS sebesar
4,75% dari gaji pokok terhadap program pensiun merupakan suplemen, karena iuran PNS
yang terakumulasi setelah dibayarkan secara berkala hanya menyumbang 10% dari manfaat
pensiun yang dibayarkan kemudian sisanya yang sebesar 90% berasal dari APBN.
Program pensiun bagi pegawai negeri tersebut memenuhi prinsip portabilitas
(berkelanjutan sampai pensiun ahli waris). Sementara sistem jaminan sosial bagi karyawan /
pegawai sektor swasta juga telah lama berlaku wajib, yaitu pada tahun 1978 berdasarkan PP
No. 3/1977 tentang asuransi sosial tenaga kerja (Astek). Kemudian program Astek
diamendemen dalam UU No. 3/1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek). Tujuan
dari amendemen program Astek menjadi program Jamsostek adalah untuk memperluas
kepesertaan agar seluruh tenaga kerja baik sektor formal maupun sektor informal
mendapatkan akses perlindungan dalam program Jamsostek.
Akan tetapi hingga berlakunya UU No. 40/2004 tentang SJSN, masih belum seluruh
tenaga kerja khususnya sektor formal dilindungi, karena kepesertaan tenaga kerja sektor
formal dalam program Jamsostek masih belum mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini
bukan kesalahan PT Jamsostek, karena Jamsostek tidak memiliki kewenangan investigasi dan
penindakan hukum. Tantangan dalam penambahan kepesertaan Jamsostek terkait dengan
kebijaksanaan ketenaga-kerjaan yang membolehkan penarikan dana JHT oleh peserta
Jamsostek karena PHK sebelum usia pensiun sepanjang memiliki masa kepesertaan 5 tahun.
Berarti kebutuhan hari tua tidak terpenuhi dan tenaga kerja yang ter-PHK yang tak
tersalurkan lagi akan memasuki sektor informal sehingga menambah jumlah sektor informal
menjadi besar dari tahun ke tahun. UU SJSN masih belum dapat diimplementasikan
walaupun sudah berlaku, karena UU tersebut harus ditindak-lanjuti dengan UU BPJS yang
saat sekang masih menunggu pengesahan RUU BPJS menjadi UU BPJS. Perlu digarisbawahi
bahwa problem mendasar dalam penyelenggaraan sistem jaminan sosial di Indonesia adalah
terbatasnya kesempatan kerja di sektor formal dan masalah penduduk miskin. Ada beberapa

masalah pokok yang sangat mendasar, sehingga menyulitkan dalam membangun sistem
jaminan sosial yang inklusif sebagai berikut:
a.

Masalah kemiskinan menunjukkan bahwa 1/3 penduduk Indonesia miskin (76/230)
menyusul kesempatan kerja lebih dari 70% berada di sektor informal di tahun 2009.

b.

Rendahnya upah minimum secara nasional yang hanya sebesar USD 2 per hari akan
menyulitkan dalam penetapan iuran jaminan sosial yang disarankan berkisar antara 1417% upah.

c.

Adanya range upah yang sangat mencolok yaitu 1:160, misalnya gaji Gubernur BI
sebesar Rp 160 juta akan tetapi masih ada tenaga kerja BUMN dengan gaji Rp 1 juta per
bulan.

d.

Keterbatasan pengawasan dan penindakan hukum dalam penyelenggaraan program
Jamsostek. Salah satu penyebabnya adalah tidak ada lagi perekrutan pegawai
pengawasan perburuhan yang menanganai pelanggaran terhadap program Jamsostek.

e.

Masalah bentuk badan hukum badan penyelenggara jaminan sosial yang sekarang
berlaku kurang pas / kurang sesuai prinsip prinsip UU SJSN.
Salah satu penyebab kemiskinan di Indonesia adalah bahwa kebijakan jaminan sosial

dalam periode 1970-1990an tidak disiapkan secara terintegrasi dengan perluasan kesempatan
kerja di sektor formal. Karena itu sistem jaminan sosial di Indonesia di periode itu cenderung
eksklusif. Penyelenggaraan sistem jaminan sosial yang bersifat eksklusif utamanya di negaranegara berkembang di Asia hanya berkonsentrasi pada kepesertaan tenaga kerja sektor formal
secara parsial. Penyelenggaraan sistem jaminan sosial secara parsil sesungguhnya
bertentangan dengan asas dan prinsip prinsip jaminan sosial. Secara konstitusi, jaminan sosial
memiliki asas kemanusiaan, asas manfaat dan asas keadilan sedangkan prinsip prinsip
jaminan sosial yang utama meliputi gotong-royong, kepesertaan wajib, nirlaba, portabilitas
dan akuntabilitas.
Asas kemanusiaan adalah terpenuhinya hak atas pekerjaan untuk mendapatkan
penghasilan yang layak. Asas manfaat pada dasarnya menjamin setiap warga negara untuk
mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya. Asas
keadilan pada prinsipnya mengupayakan pengembangan sistem jaminan sosial inklusif yaitu
menuju kepesertaan universal.
Kepesertaan jaminan sosial yang bersifat universal adalah keikutsertaan seluruh
warga negara secara wajib ke dalam sistem jaminan sosial agar memudahkan dalam
melakukan mitigasi risiko. Kepesertaan universal telah diadopsi di Korea, Thailand dan
China.

Jaminan sosial adalah skema publik yang ditujukan untuk memberikan perlindungan
dasar sebagai amanat Pasal 28-H dan Pasal 34 UUD 1945. Amanat tersebut selanjutnya
ditindak-lanjuti dengan UU No. 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
Jaminan sosial pada prinsipnya dapat diselenggarakan melalui pendekatan fiskal akan tetapi
dengan cakupan/program yang terbatas. Karena itu tujuan utama dalam penyelenggaraan
jaminan sosial diupayakan dengan pembiayaan bersama dalam bentuk iuran perusahaan,
masyarakat dan pemerintah. Jaminan sosial diperlukan untuk mengantisipasi adanya
peristiwa peristiwa sosial ekonomi yang kemungkinannya dapat menimpa masyarakat seperti
sakit-persalinan, kecelakaan kerja, kematian prematur, PHK dan hari tua. Dengan jaminan
sosial terciptalah ketenangan kerja dan kepastian manfaat untuk kelangsungan hidup.
Kelima peristiwa tersebut adalah risiko murni yang dapat menimpa setiap anggota
masyarakat yang memungkinkan hilangnya sebagian atau keseluruhan penghasilan. Karena
itu diperlukan SJSN sebagai sistem jaminan sosial inklusif dalam arti memperluas
kepesertaan universal yang bersifat wajib agar memperingan pelayanan kesehatan dan
program jaminan hari tua. Hal ini mengacu pada prinsip jaminan sosial yang antara lain:
kepesertaaan wajib dan gotong royong. Dengan memperhatikan prinsip jaminan sosial
tersebut, maka bentuk badan hukum BPJS yang sekarang berlaku ”persero negara” perlu
disesuaikan dengan bentuk badan hukum BPJS yang sesuai dengan prinsip prinsip jaminan
sosial. Karena bentuk badan hukum BPJS yang sekarang sebagai persero menempatkan
kedudukan pemerintah yang terbatas karena sebagai pemegang saham BUMN Persero.

B. Penyelenggaran Jaminan Sosisal di Berbagai Negara
Program jaminan sosial dikelompokkan ke dalam lima program besar, yaitu (a)
program hari tua, cacat dan ahli waris; (b) program sakit dan persalinan; (c) program
kecelakaan; (d) program sementara tidak bekerja dan (e) program bantuan keluarga. Program
hari tua, cacat dan ahli waris terkait dengan penyelenggaraan pensiun (manfaat pasti) yang
memberikan manfaat berkala sampai pencari nafkah utama meninggal dunia kemudian
beralih ke pensiun janda/ duda hingga sampai ke anak yang dikenal dengan istilah pensiun
ahli waris. Pensiun cacat berlaku bagi setiap tenaga kerja yang mengalami cacat total tetap
sebagai akibat dari kecelakaan yang terkait dengan hubungan kerja. Bagi tenaga kerja yang
mengalami cacat total tetap sebagamana ditetapkan dengan preskripsi dokter spesialis
kecelakaan kerja akan mendapatkan manfaat pensiun berkala seumur hidup sekalipun masa
kepesertaan kurang dari 20 tahun.
Program sakit dan persalinan adalah program pencegahan atas gangguan kesehatan
yang diberikan kepada setiap tenaga kerja beserta keluarganya dalam bentuk konsultasi
dokter umum/keluarga, konsultasi dokter spesialis sesuai rujukan, pharmasi, pemeriksaan
laboratorium, pemeriksaan persalinan dan layanan rawat inap termasuk layanan gawat
darurat. Layanan medis dalam sistem jaminan sosial ini tidak meliput kosmetik, kecuali
segala macam sakit secara alami.
Program kecelakaan yang dikaitkan dengan hubungan kerja berdasarkan sistem
jaminan sosial yang meliputi layanan-layanan medis, pemeriksaan laboratorium, penetapan
cacat sementara / cacat tetap dan pemberian rehabilitasi seperti alat bantu dan ortopedi. Selain
pelayanan medis, juga berlaku pemberian manfaat tunai khususnya tunjangan sementara tak
mampu bekerja karena kecelakaan yang terkait dengan hubungan kerja atau hal lain. Adapun
yang dimaksud dengan program sementara tidak bekerja adalah program asuransi
pengangguran (unemployment insurance) bagi tenaga kerja yang terkena PHK sebelum usia
pensiun. Program ini tidak sama dengan pesangon (severance pay) yang memberikan manfaat
sekaligus sesuai Pasal 156 UU No 13/2003. Program sementara tidak bekerja memberikan
manfaat berkala sampai dengan maksimal 1 tahun atau memberikan santuan sampai dengan
tenaga kerja yang terkena PHK dipekerjakan kembali melalui bursa tenaga kerja. Program
bantuan keluarga sebagai skema bantuan sosial merupakan skema berbasis pajak. Program
bantuan keluarga ini tidak dengan sendirinya diberikan kepada setiap anggota keluarga
kecuali yang keluarga miskin. Program bantuan keluarga ini diberikan sesuai permohonan
yang akan dilakukan secara selektif oleh BPJS.

TABEL 1. DASAR HUKUM PENYELENGGARAAN SISTEM JAMINAN SOSIAL

Sumber: US Social Security Administration (2009)
Dalam Tabel 1 disebutkan bahwa program pensiun yang memberikan manfaat berkala
seumur hidup berlaku di AS yang berdasarkan UU tahun 1935 tentang sistem jaminan sosial
dengan kepesertaan wajib bagi setiap perusahaan yang memperkerjakan 1 orang. Program
pensiun semacam ini juga diberikan di Korea dan Cina, kecuali Indonesia melaksanakan
pembayaran manfaat hari tua secara sekaligus dalam JHT Jamsostek walaupun program JHT
tersebut sesuai Pasal 14 UU No. 3/1992 dapat ditransformasi ke dalam pensiun berkala.
Program hari tua yang diselenggarakan Jamsostek meliput program asuransi kematian
sebagai asal usul berlakunya program tabungan wajib yang dikaitkan dengan asuransi
kematian. Dasar hukum program pensiun ini beragam, yaitu ada yang dikaitkan dengan
sistem jaminan sosial seperti UU tahun 1935 di AS; UU tahun 1953 tentang jaminan sosial di
Cina dan UU No. 3/1992 di Indonesia termasuk UU No 40/2004 tentang SJSN. Dasar hukum
program pensiun di Korea difokuskan pada UU pensiun jaminan sosial tahun 1973 yang
diamendemen menjadi UU tahun 1986 dan UU tahun 2007 tentang penyelenggaraan program
pensiun.
Program sakit dan persalinan diselenggarakan di AS, Korea dan Cina termasuk
Indonesia dengan kepesertaan yang bersifat opsi. Program sakit diatur dalam UU tahun 1965
tentang asuransi kesehatan sosial yang diamendemen dua (2) kali yaitu UU tahun 1972 dan
UU tahun 2003. UU asuransi kesehatan sosial tahun 1965 meliput seluruh tenaga kerja
termasuk kepesertaan lanjut usia atau pensiunan, sedangkan UU tahun 1972 memperluas
cakupannya untuk kepesertaan penyandang cacat terlepas terkait dengan kecelakaan kerja
atau tidak dan UU tahun 2003 memperinci tentang preskripsi / resep obat dokter. Dasar

hukum penyelenggaraan program sakit di Korea berlaku UU tahun 1976 tentang asuransi
sakit menyusul berlakunya UU tahun 1999 tentang asuransi kesehatan sosial dan UU 2007
tentang perawatan medis jangka panjang. Kemudian dasar hukum penyelenggaraan program
sakit di Cina berdasarkan UU tahun 1953 tentang jaminan kesehatan bagi tenaga kerja tetap
menyusul berlakunya UU tahun 1986 tentang pengaturan jaminan kesehatan bagi tenaga
kerja kontrak dan UU tahun 2007 tentang jaminan kesehatan bagi tenaga kerja usaha mandiri
di perkotaan. Program jaminan kecelakaan kerja pada umumnya memiliki kesamaan dan
diselenggarakan di AS, Korea, Cina dan Indonesia.
Program asuransi pengangguran diselenggarakan di AS berdasarkan UU tahun 1935
tentang sistem jaminan sosial akan tetapi dibiayai dengan pajak sebesar 0,8% upah, kemudian
di Korea berdasarkan UU tahun 1993 tentang jaminan sosial dan di Cina berdasarkan UU
tahun 1999 tentang jaminan sosial. Tujuan penyelenggaraan asuransi pengangguran di Cina
untuk mengantisipasi tingginya PHK sebelum usia pensiun sebagai konsekuensi penerapan
ekonomi pasar sejak tahun 2000. Namun Indonesia masih belum menyelenggarakan program
asuransi pengangguran dan sebagai gantinya diberlakukan program pesangon sebagaimana
diatur dalam Pasal 156 UU No.13/2003 tentang Ketenaga-kerjaan. Karena UU Ketenagakerjaan tersebut masih masih dinilai memberatkan pengusaha, maka dalam hal terjadinya
PHK sebelum usia pensiun berhak menarik JHT-Jamostek sepanjang memiliki masa
kepesertaan sampai dengan lima tahun.
TABEL 2. IURAN SISTEM JAMINAN SOSIAL SEBAGAI % UPAH

Sumber: US Social Security Administration (2009)
Tabel 2 menjelaskan mengenai ragam iuran sistem jaminan sosial sebagai persentase
upah. Iuran program hari tua di AS ditetapkan sebesar 12,4% dengan bagian pendanaan yang
sama antara perusahaan dan tenaga kerja, kemudian Korea sebesar 9% dengan bagian

pendanaan yang sama. Iuran program hari tua di Cina ditetapan maksimal 20% dari upah
yang menjadi beban perusahaan, kemudian tenaga kerja diwajibkan mengikuti program
tabungan wajib dengan iuran sebesar 8% upah. Program hari tua di Indonesia ditetapkan 6%
upah dengan perincian 4% beban perusahaan dan 2% beban tenaga kerja. Program hari tua
mencakup jaminan hari tua (JHT) yang dikaitkan dengan asuransi kematian dengan iuran
sebesar 0,3% sehingga iuran JHT sendiri ditetapkan sebesar 5,7% upah. Iuran program sakit
dan persalinan di AS ditetapkan 2,9% upah dengan paro pendanaan yang sama antara
perusahaan dan tenaga kerja. Iuran program sakit di Korea ditetapkan lebih tinggi dari AS
sebesar 5,0*% upah dengan bagian pendanaan yang sama antara perusahaan dan tenaga kerja.
Selanjutnya iuran program sakit di Cina ditetapkan sebesar 8% yang terdiri dari 6% iuran
beban perusahaan dan 2% iuran menjadi tanggungan tenaga kerja, menyusul iruan program
sakit yang berlaku di Indonesia dalam JPK Jamsostek ditetapkan sebesar 6% yang
sepenuhnya menjadi tanggungan perusahaan. Hampir semua negara menerapkan pendanaan
bersama dalam membiayai program sakit, kecuali Indonesia. Adapun iuran program
kecelakaan berlaku sama dengan iuran antara 0,7-1,6% upah yang menjadi beban perusahaan.
Iuran program sementara tidak bekerja ditetapkan sebesar 1,75% di Korea dan 3% di Cina,
sedangkan iuran program sementara tak bekerja di AS ditetapkan 0,8% upah tetapi
dibebankan pada pajak badan perusahaan yang sepenuhnya dibiayai oleh perusahaan.
TABEL 3. KEPESERTAAN SISTEM JAMINAN SOSIAL

Sumber: US Social Security Administration (2009)
Tabel 3 mengillustrasikan ragam kepesertaan tenaga kerja yang meliputi: a. Tenaga
kerja yang menerima upah secara regular pada sektor formal (TKUR), b. tenaga kerja usaha
mandiri (TKUM), c. tenaga kerja perusahaan kerata api (TKKA), d. tenaga kerja sector
industri dan perdagangan (TKIP) dan tenaga kerja sektor publik seperti karyawan BUMN

Perum (TKSP). Kepeseertaan program hari tua yang bersifat wajib di AS, Korea dan Cina
hanya berlaku bagi TKUR dan TKUM sedangkan kepesertaan program Jamsostek yang
meliputi program hari tua, kematian, kesehatan dan keckelakaan kerja pada umumnya
merupakan tenaga kerja yang menerima upah pada sektor formal. Kepesertaan program sakit
dan persalinan berlaku bagi TKUR dan TKKA, sedangkan kepesertaan program sakit di
Korea bersifat universal dalam arti keseluruhan penduduk menyusul Cina yang meliputi
petani dalam kepesertaan program sakit. Ada perbedaan perlakuan antara TKUR dan petani
di Cina. TKUR mengiur 2% upah dan perusahaan mengiur 6% sehingga berjumlah 8%
kepada BPJS, sedangkan iuran bagi para petani ditetapkan secara datar sebesar 20 Yuan/
tahun dan pemerintah provinsi mengiur sebesar 40 Yuan per tahun yang dibayarkan kepada
BPJS. Sementara kepesertaan program sakit dan persalinan berdasarkan opsi, bahwa
perusahaan yang telah menyelenggarakan program sakit lebih dulu sebelum tahun 1993
dikecualikan. Kepesertaan program JPK Jamsostek yang bersifat opsi merupakan salah satu
bentuk toleransi regulasi yang tidak dibernarkan untuk program wajib.
TABEL 4. BENTUK BADAN HUKUM BPJS DAN PEMBINA / PENGAWAS

Sumber: US Social Security Administration (2009)
Tabel 4 menginformasikan mengenai bentuk bentuk badan hukum BPJS seperti
bentuk badan hukum publik yang otonom (BHPO) dan bentuk badan hukum publik yang
semi otonom (BHPSO). Ada pemikiran baru perlunya membentuk badan hukum wali amanat
(Tripartite Board of Trustee) sebagai BPJS program hari tua yang didanai sepenuhnya oleh
peserta, karena melakukan praktek pengelolaan dana amanah, karena itu berlaku prinsip
nirlaba dalam penyelenggaraannya. Walaupun belum ada UU Wali Amanat, tidak berarti
tidak bisa dibentuk badan wali amanat. Badan wali amanat dapat dinyatakan dalam
Ketentuan UU BPJS. Adapun perbedaan yang mendasar antara BHPO dan BHPSO adalah

bahwa BHPO adalah salah satu lembaga negara yang melaksanakan fungsi sebagai regulator
dan memiliki program publik akan tetapi tidak dapat melaksanakannya sendiri seperti
Kementerian-Kementerian, sedangkan BHPSO adalah sebagai badan hukum kuasi yang
independen memiliki kapasitas penyelenggaraan suatu program publik seperti jaminan sosial
(Purwoko, 2010). Sebagai contoh Kementerian Pendidikan Nasional sebagai BHPO memiliki
program pendidikan tinggi, tetapi tidak bisa menyelenggarakan sendiri. Karena itu program
pendidikan tersebut diselenggarakan oleh PTN sebagai salah satu BHPSO. Contoh berikutnya
mengenai

BHPSO

adalah

Australia

Centre-link

sebagai

BPJS

yang

berwenang

menyelenggarakan program jaminan sosial dan sekaligus berwenang melakukan pengawasan
terhadap peserta atau penerima manfaat jaminan sosial apabila ditemukan kebohongan,
walaupun Australia memiliki Kementerian Jaminan Sosial (Commonwealth Ministry for
Family and Community Service Affairs). Kedua badan hukum publik tersebut sama sama
dibentuk dengan UU dan bertanggung-jawab secara langsung kepada Presiden.
Sebagaimana dilihat dalam Tabel 4 bahwa BPJS-BPJS di AS berkonsentrasi pada
penyelenggaraan program seperti lembaga admiistrasi jaminan sosial (LAJS) sebagai BPJS
untuk program hari tua dan sakit. Untuk program kecelakaan kerja dan program sementara
tak bekerja diselenggarakan oleh kantor program kompensasi pekerjaan (KPKP) serta kantor
program jaminan pekerjaan (KPJP). Departemen-departemen yang terkait dengan regulasi
program di AS meliputi Departemen Keuangan, Departemen Kesehatan dan Departemen
Perburuhan. Nampak BPJS di Korea mengikuti jejak AS, yaitu meliputi Lembaga jaminan
pensiun nasional (LJPN) yang menyelenggarakan program hari tua menyusul lembaga
asuransi kesehatan nasional (LAKN) sedangkan BPJS program kecelakaan kerja dan program
sementara tak bekerja adalah kantor program kompensasi pekerjaan (KPKP) dan kantor
program jaminan pekerjaan (KPJP). Akan tetapi hanya ada satu (1) regulator di Korea yaitu
Departemen Kesehatan, Kesehatan dan Keluarga (DKKK). Adapun BPJS di Cina pada
dasarnya sama dengan Indonesia yaitu BPJS per kepesertaan seperti Lembaga asuransi sosial
(LAS) dan Jamsostek. Perlu diketahui, bahwa bentuk bentuk badan hukum BPJS baik di AS,
Korea maupun Cina adalah sebagai bentuk badan hukum publik yang semi otonom, kecuali
Jamsostek – Indonesia sebagai BUMN Persero.

TABEL 5 PERSYARATAN MENDAPATKAN MANFAAT-MANFAAT

Sumber: US Social Security Administration (2009)
Sebagaimana dilihat dalam Tabel 5, bahwa program hari tua dan program sementara
tak bekerja di AS jauh lebih baik dibandingkan di Korea dan Cina. Manfaat pensiun TK
ditetapkan USD 2323 / bulan sehingga dapat memenuhi hari tua, sedang manfaat pensiun
keluarga ditetapkan sebesar USD 4065 / bulan jauh lebih baik. Demikian halnya Korea yang
mengikuti jejak AS walau manfaat pensiun yang ditetapkan 400.000-640.000 won setara
USD 400-640 / bulan. Walaupun manfaat pensiun di Korea masih belum signifikan
dibandingkan dengan manfaat pensiun AS akan tetapi program pensiun di Korea telah
berlaku wajib bagi seluruh tenaga kerja, sementara tidak ada data dan informasi tentang
manfaat pensiun di Cina.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
a. Risiko murni adalah potensi kerugian, karena adanya peristiwa yang berulang-ulang
seperti sakit dan kecelakaan menyusul adanya peristiwa yang terjadi sekali secara alami
seperti menjadi tua serta meninggal dunia. Penanganan risiko tersebut sebaiknya tidak
dikelola sendiri, melainkan dialihkan dalam skema asuransi sosial atau jaminan sosial agar
lebih efektif karena pendanaannya dapat dipikul bersama atau dilakukan dengan gotong
royong antara perusahaan dan tenaga kerja.
b. Kesejahteraan adalah suatu kemakmuran yang masih harus ditindaklanjuti dengan
implementasi sistem jaminan sosial. Tercapainya kesejahteraan biasanya ditandai dengan
keamanan ekonomi, yaitu terkendalinya tingkat inflasi dan rendahnya tingkat
pengangguran. Jaminan sosial adalah sistem proteksi yang ditujukan untuk mencegah
kemiskinan orang per orang, karena adanya peristiwa-peristiwa sakit, kecelakaan,
kematian prematur, PHK sebelum usia pensiun dan hari tua yang memungkinkan
hilangnya pekerjaan dengan sendirinya hilangnya penghasilan.
c. Teori

kesejahteraan

adalah

konsep

kebutuhan

dasar

bagi

masyarakat

yang

membutuhkannya agar dapat melaksanakan kembali fungsi-fungsi sosialnya. Jaminan
sosial melakukan mitigasi risiko dalam menetapkan besarnya kompensasi penghasilan
(income substitute) dengan menetapkan besarnya income substitute maksimal 2/3 dari
penghasilan tenaga kerja yang masih aktif.
d. Secara teori, jaminan sosial adalah suatu skema proteksi yang ditujukan untuk tindakan
pencegahan khususnya bagi masyarakat yang memiliki penghasilan terhadap berbagai
risiko / peristiwa yang terjadi secara alami seperti sakit, kecelakaan, kematian prematur,
PHK sebelum usia pensiun dan hari tua. Keunikan dalam penyelenggaraan sistem jaminan
sosial adalah bahwa pemerintah disamping sebagai regulator, juga bertindak sebagai
fasilitator termasuk terlibat dalam pembiayaan program apabila diperlukan karena adanya
krisis ekonomi.
e. Sistem jaminan sosial sebagai program publik yang berdasarkan UU Jaminan Sosial
adalah hak dan kewajiban masyarakat, perusahaan serta negara melalui pemerintah yang
sah. Karena itu, implementasi sistem jaminan sosial mengacu pada asas, prinsip dan tujuan
serta tata kelola penyelenggaraan. Penyelenggaraan sistem jaminan sosial berpedoman
pada kaidah yang berlaku secara universal, yaitu pemusatan risiko (pooling of risk) untuk
penyebaran risiko melalui subsidi silang dalam program, antar kepesertaan dan antar
generasi yang tersebar di berbagai daerah.

f. Prinsip jaminan sosial yang hakiki adalah gotong royong dan kepesertaan wajib menurut
UU Jaminan Sosial. Oleh sebab itu, penyelenggaraan sistem jaminan sosial dilakukan
secara nasional yang bertujuan memberikan proteksi dasar bagi seluruh rakyat melalui
mitigasi riskio. Pertimbangan adanya mobilitas penduduk lintas batas, mutasi tenaga kerja
lintas

sektoral

dan

urbanisasi

masyarakat

lintas

wilayah

yang

memungkinan

penyelenggaraan secara nasional untuk memenuhi prinsip portabilitas.
g. Penyebab kepesertaan jaminan sosial yang bersifat wajib harus dengan UU jaminan sosial
yaitu karena UU Jaminan Sosial pada prinsipnya mengatur asas, prinsip, tujuan, program,
BPJS dan Dewan Pengawas. Berarti jaminan sosial bukan barang dagangan melainkan
sebagai hak dan kewajiban masyarakat, perusahaan bahkan negara melalui pemerintah
yang sah. Kepesertaan wajib dalam sistem jaminan sosial ditujukan untuk memenuhi
prinsip gotong royong vertikal dan horizontal. Hal ini merupakan prinsip dasar jaminan
sosial untuk terus meningkat perluasan kepesertaan sebagai satu satunya kinerja bagi
sukses tidaknya BPJS.
h. Sebagaimana dimaklumi bersama, bahwa penyelenggaraan sistem jaminan sosial di
samping memperhatikan asas, prinsip dan tata kelola yang baik, juga sarat dengan
berbagai fasilitas untuk memperluas kepesertaan dan memberikan pelayanan kesehatan
kepada peserta. Penyelenggaraan sistem jaminan sosial perlu ditopang dengan keberadaan
sektor formal sebagai penyumbang terhadap pajak penghasilan dan bursa tenaga kerja
yang berfungsi untuk penempatan kerja yang efektif memungkinkan untuk perluasan
kepesertaan tenaga kerja baru.
i. Adapun permasalahan yang mendasar dalam implementasi sistem jaminan sosial
mencakup lima masalah pokok yang sangat mendasar sebagai berikut: a) Masalah
kemiskinan menunjukkan bahwa 1/3 penduduk Indonesia miskin (76/230) menyusul
kesempatan kerja lebih dari 70% berada di sektor informal di tahun 2009; b) Rendahnya
upah minimum secara nasional yang hanya sebesar USD 2 per hari akan menyulitkan
dalam penetapan iuran jaminan sosial yang disarankan berkisar antara 14-17% upah; c)
Adanya range upah yang sangat mencolok yaitu 1:160, misalnya gaji Gubernur BI sebesar
Rp 160 juta akan tetapi masih ada tenaga kerja BUMN dengan gaji Rp 1 juta per bulan; d)
Keterbatasan pengawasan dan penindakan hukum dalam penyelenggaraan program
Jamsostek. Salah satu penyebabnya adalah tidak ada lagi perekrutan pegawai

Dokumen yang terkait

Dokumen baru