IBADAH DALAM ISLAM MAKALAH KELOMPOK

IBADAH DALAM ISLAM
MAKALAH KELOMPOK
Di Ajukan Guna Memenuhi Tugas Semester Genap
Pendidikan Agama Islam

Kelompok 5 :
Siti Rukaiyatul Hasanah (130210101066)
Nindi Indiana (130210101072)
Indah Figa Wardhani (130210101080)
Kelas: PAI 15

Dosen Pengampu :
Abdul Mu’is, S.Ag, M.Si.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu bagian dari syariah adalah ibadah. Ibadah artinya menghambakan
diri kepada Allah. Ibadah merupakan tugas hidup manusia di dunia, karena itu
manusia yang beribadah kepada Allah disebut ‘abdulla’ atau hamba Allah. Hidup
seorang hamba tidak memiliki alternatif lain selain taat, patuh, dan berserah diri
kepada Allah.
Banyak di antara kita yang menganggap ibadah itu hanyalah sekedar
menjalankan rutinitas sebagai kewajiban, seperti sholat dan puasa. Sayangnya, kita
lupa bahwa ibadah tidak mungkin lepas dari pencapaian kepada Tauhid terlebih
dahulu. Keduanya berkaitan erat, karena mustahil kita mencapai tauhid tanpa
memahami konsep ibadah dengan sebenar-benarnya. Dalam syarah Al-Wajibat
dijelaskan bahwa “Ibadah secara bahasa berarti perendahan diri, ketundukan dan
kepatuhan.” (Tanbihaat Mukhtasharah, hal. 28).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “IBADAH adalah
suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik
berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak
(lahir).
Dari definisi singkat tersebut, maka secara umum ibadah seperti yang kita
ketahui di antaranya yaitu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan
ramadhan (maupun puasa-puasa sunnah lainnya), dan melaksanakan haji. Selain
ibadah pokok tersebut, hal-hal yang sering kita anggap sepele pun sebenarnya bernilai
ibadah dan pahalanya tidak dapat diremehkan begitu saja, misalnya :


Menjaga lisan dari perbuatan dosa, misalnya dengan tidak berdusta dan
mengumbar fitnah, mencaci, menghina atau pun melontarkan perkataan yang
bisa menyakiti hati.



Menjaga kehormatan diri dan keluarga serta sahabat.



Mampu dan bersedia menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya dengan
penuh tanggung jawab.



Berbakti dan hormat kepada kedua orang tua atau orang yang lebih tua dari
kita.



Menyambung tali silaturahim dan kekerabatan.



Menepati janji.



Memerintahkan atau setidaknya menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar.



Menjaga hubungan baik dengan tetangga.



Menyantuni anak yatim, fakir miskin, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal
di perjalanan).



Menyayangi hewan dan tumbuh-tumbuhan di sekitar tempat tinggal kita.



Memanjatkan do’a, berdzikir, mengingat Allah kapan dan dimanapun kita
berada.



Membaca Al Qur’an.



Mendengarkan ceramah, dan lain sebagainya termasuk bagian dari ibadah.

Begitu pula rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, inabah
(kembali taat) kepada-Nya, memurnikan agama (amal ketaatan) hanya untuk-Nya,
bersabar terhadap keputusan (takdir)-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, merasa
ridha terhadap qadha/takdir-Nya, tawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat (kasih
sayang)-Nya, merasa takut dari siksa-Nya dan lain sebagainya itu semua juga
termasuk bagian dari ibadah kepada Allah” (Al ‘Ubudiyah, cet. Maktabah Darul
Balagh hal. 6).

1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan ibadah?
2. Apa saja macam-macam jenis ibadah dalam islam?
3. Apa sifat-sifat dari ibadah?
4. Apa ciri-ciri ibadah dalam islam?
5. Apa prinsip-prinsip ibadah dalam islam?
6. Apa tujuan manusia beribadah?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian ibadah
2. Mengetahui macam-macam ibadah dalam islam
3. Mengetahui sifat-sifat ibadah
4. Mengetahui ciri-ciri ibadah dalam islam
5. Mengetahui prinsip-prinsip ibadah dalam islam
6. Mengetahui tujuan manusia beribadah

BAB 2. PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Ibadah
Ibadah ( ‫ ) عبادة‬secara etimologi berasal dari kata ‘abd yang artinya abdi,

hamba, budak, atau pelayan. Jadi ‘ibadah berarti, pengabdian, penghambaan,
pembudakan, ketaatan, atau merendahkan diri. Sedangkan secara terminologis, Hasbi
Ash-Shiddieqy mengutip beberapa pendapat, antara lain; Mengesakan Allah,
menta’zimkan-Nya dengan sepenuh-sepenuhnya ta’zim serta menghinakan diri kita
dan menundukkan jiwa kepada-Nya. Ulama akhlak mengartikan ibadah dengan
mengerjakan segala taat badaniyah dan menyelenggarakan segala syariat (hukum).
Ulama fikih mengartikan ibadah dengan segala taat yang dikerjakan untuk mencapai
keridhaan Allah dan meng-harap pahala-Nya di akhirat.
Selanjutnya ulama tafsir, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa: Ibadah
adalah suatu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya sebagai
dampak dari rasa pengagungan yang bersemai dalam lubuk hati seseorang terhadap
siapa yang kepadanya ia tunduk. Rasa itu lahir akibat adanya keyakinan dalam diri
yang beribadah bahwa obyek yang kepadanya ditujukan ibadah itu memiliki
kekuasaan yang tidak dapat terjangkau hakikatnya.
Sedangkan. Abd. Muin Salim menyatakan bahwa: Ibadah dalam bahasa
agama merupakan sebuah konsep yang berisi pengertian cinta yang sempurna,
ketaatan dan khawatir. Artinya, dalam ibadah terkandung rasa cinta yang sempurna
kepada Sang Pencipta disertai kepatuhan dan rasa khawatir hamba akan adanya
penolakan sang Pencipta terhadapnya.
Adapun pendapat lain mengenai ibadah adalah:
‫التقرب ألى لله بامتثال أوامره واجتنا ب نواھیھ والعمل بما أذن بھ الشا رع وھي عامة وخاصة‬
Ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan perintahperintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Juga yang dikatakan ibadah

adalah beramal dengan yang diizinkan oleh Syari’ Allah Swt.; karena itu ibadah itu
mengandung arti umum dan arti khusus. Ibadah dalam arti umum adalah segala
perbuatan orang Islam yang halal yang dilaksanakan dengan niat ibadah. Sedangkan
ibadah dalam arti yang khusus adalah perbuatan ibadah yang dilaksanakan dengan
tata cara yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw. Ibadah dalam arti yang khusus
ini meliputi Thaharah, Shalat, Zakat, Shaum, Haji, Kurban, Aqiqah Nadzar dan
Kifarat.
Di sisi lain, dipahami bahwa ibadah adalah perbuatan manusia yang
menunjukkan ketaatan kepada aturan atau perintah dan pengakuan kerendahan
dirinya di hadapan yang memberi perintah. Adapun yang memberi perintah untuk
beribadah, adalah tiada lain kecuali Allah sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S.
al-Baqarah (2): 21,

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa.”
Dari ayat di atas, dapat dipahami bahwa sasaran ibadah hanyalah kepada Allah swt.
Dengan kata lain, bahwa manusia beribadah adalah untuk mengabdikan dirinya
kepada Allah sebagai Tuhan yang telah menciptakan mereka.
Pengertian-pengertian

ibadah

dalam

ungkapan

yang

berbeda-beda

sebagaimana yang telah dikutip, pada dasarnya memiliki kesamaan esensial, yakni
masing-masing bermuara pada pengabdian seorang hamba kepada Allah swt., dengan
cara mengagungkan-Nya, taat kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, dan cinta yang
sempurna kepada-Nya.
Makna pengabdian atau penghambaan yang akan dijelaskan adalah perkara
yang memuliakan manusia serta membedakan dengan hewan dan makhluk lainnya.
Apa yang difirmankan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat Adz-Dzaariyaat:56

Artinya: “Tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
ber’ibadah (mengabdi, menghamba) kepada-Ku”. Arti ‘ibadah di sini adalah bahwa
jin dan manusia dalam hidupnya harus tunduk dan patuh terhadap aturan dan hukumhukum Allah. Ini berarti, bahwa tujuan Allah menciptakan jin dan manusia adalah
agar mereka:
Pertama, hanya setia kepada Allah saja dan tidak kepada yang lain, karena hanya Dia
Yang Maha Menghidupi dan Maha Memelihara. Kedua, agar mereka hanya
mengikuti perintah-perintah Allah saja dan tidak mendengarkan perintah siapa pun
yang bertentangan dengan perintah-Nya. Ketiga, hanya kepada satu Dzat saja mereka
harus menyembah dan mendekatkan diri (taqarrub), yaitu hanya kepada Allah
Subhanahu wa ta’ala dan tidak kepada yang lain.
Dalam situasi dan kondisi bagaimana pun, perbuatan seorang hamba yang
senantiasa mengikuti aturan dan hukum Allah, serta yang melepaskan diri dari ikatan
dan aturan hukum yang lain yang bertentangan dengan hukum Allah, maka itulah
yang disebut ‘ibadah. Dengan demikian, ‘ibadah adalah perbuatan sepanjang hidup
yang dijalani oleh seorang hamba dengan mengikuti ramburambu atau aturan-aturan
dan hukum Allah Ta ‘ala. Dalam hidup yang demikian ini, maka tidur kita, bangun
kita, makan dan minum kita, bahkan berjalan dan berbicara kita, semuanya adalah
‘ibadah. Setiap perbuatan seorang hamba yang ta’at akan selalu memperhatikan,
mana yang dibolehkan oleh Allah dan mana yang tidak dibolehkan oleh Allah, mana
yang halal dan mana yang haram, apa yang diwajibkan dan apa yang dilarang,
perbuatan apa yang membuat-Nya suka kepada kita dan perbuatan apa yang
membuat-Nya tidak suka kepada kita. Allah memberitahukan, tujuan penciptaan jin
dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah . Dan Allah
Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang
membutuhkan-Nya. Karena ketergantungan mereka kepada Allah , maka mereka
menyembah-Nya sesuai dengan aturan syari’at-Nya. Maka siapa yang menolak
beribadah kepada Allah , ia adalah sombong. Siapa yang menyembah-Nya tetapi
dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah).
Dan siapa yang hanya menyembah-Nya dan dengan syari’at-Nya, maka dia adalah
mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah ).

2.2

Macam-macam Ibadah

Secara umum ibadah terbagi menjadi 2, yaitu:
1. ‘Ibadah Mahdlah.
Yaitu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah SWT. Semua perbuatan
ibadah yang pelaksanaannya diatur dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam
Al-Quran dan sunnah. Contoh, salat harus mengikuti petunjuk Rasulullah
salallahu alaihi wassalaam dan tidak dibenarkan untuk menambah atau
menguranginya, begitu juga puasa, haji dan yang lainnya. Dengan shalat lima kali
sehari berarti memperingatkan kita, bahwa di mana pun dan kapan pun kita
berada adalah tetap budak Allah, dan hanya kepada-Nyalah kita harus
menghamba. Dengan shalat membawa manusia mendekatkan diri kepada Allah
Subhanahu wa ta’ala. ‘Ibadah mahdlah ini dilakukan hanya berhubungan dengan
Allah saja (hubungan ke atas/ Hablum Minallah), dan bertujuan untuk
mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Ta ‘ala. Ibadah ini hanya dilaksanakan
dengan jasmani dan rohani saja, karenanya disebut ‘ibadah badaniyah ruhiyah.
2. ‘Ibadah Ghairu Mahdlah,
yaitu ibadah yang membutuhkan keterlibatan orang lain atau ‘ibadah yang tidak
hanya sekedar menyangkut hubungan dengan Allah, tetapi juga menyangkut
hubungan sesama makhluk (Hablum Minallah Wa Hablum Minannas), atau di
samping hubungan ke atas, juga ada hubungan sesama makhluk. Hubungan
sesama makhluk ini tidak hanya sebatas pada hubungan sesama manusia, tetapi
juga hubungan manusia dengan lingkungan alamnya (hewan dan tumbuhan).
Contoh, zakat, infaq, sedekah, dll. Zakat menyadarkan kita akan kenyataan bahwa
harta yang kita peroleh adalah pemberian Allah Subhanahu wa ta’ala, bukan
sepenuhnya atas hasil usaha sendiri. Jangan kita habiskan harta itu hanya untuk
kepentingan kepuasan lahiriyah saja, tetapi haruslah kita berikan juga hak Allah,
mensucikan harta kita, membuktikan kepedulian kita kepada fakir miskin.

2.3

Sifat, Ciri-ciri, dan Prinsip Ibadah dalam Islam
2.3.1

Sifat-sifat Ibadah

Suatu ibadah, agar menjadi seperti yang dituntut oleh Allah kepada kita,
seyogyanya disertai dengan 3 perkara,
yaitu:
- Al Hubbu (rasa cinta),
- Al Khouf (rasa takut), dan
- Ar Roja (rasa berharap).
1. Kita beribadah kepada Allah karena rasa cinta kita kepada-Nya. Allah telah
memuji hamba hamba-Nya dengan hal tersebut. Dia berfirman:

"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menembah tandingantandinganselain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai
Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.
Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika
mereka, melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan
Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka
menyesal)" (Al Baqoroh : 165)
2. Demikian juga kita beribadah kepada-Nya karena rasa takut kita dari adzab
Allah yang maha Suci. Allah ta'ala berfirman:

"Maka janganlah kalian takut pada mereka, takutlah kepada-Ku jika
seandainya kalian orang orang beriman." (Ali 'Imron : 175)
Dan Allah swt juga berfirman:
"Mereka menyeru Rob mereka dengan perasan takut dan rasa tamak"

Maksudnya, dengan penuh rasa takut dari adzab-Nya dan rasa tamak terhadap
ampunan-Nya, surga-Nya dan pahala-Nya.
3. Demikian juga rasa roja' (rasa berharap). Allah ta'ala berfirman:

"Dan mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut dari adzab-Nya,
sesungguhnya adzab Rabb mu adalah sesuatu yang harus ditakuti." (Al Isra' :
57).
Kita beribadah kepada Allah atas dasar rasa cinta kepada-Nya, rasa
takut dari dari adzab-Nya, dan rasa berharap kepada ampunan dan pahala-Nya
dalam satu waktu. Beginilah keadaan dan ciri orang orang sholeh dan
beginilah sifat yang benar yang diinginkan oleh Allah dari hamba hamba-Nya,
oleh karena itu sebagian para salaf berkata yang artinya:
"Barang siapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan rasa cinta saja,
maka dia adalah seorang zindiq. Dan barang siapa yang beribadah kepadaNya hanya dengan rasa takut saja, maka dia adalah seorang haruriy. Dan
barang siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan rasa roja' (berharap)
saja, maka dia adalah seorang murjiah.
Adapun ahlus sunnah, maka dia mengumpulkan semua perasaan
tersebut. Sebagaimana sebagian orang orang sufi mengaku ngaku bahwa
mereka adalah orang orang yang dicintai oleh Allah. Mereka beribadah
kepada-Nya hanya atas dasar cinta kepada-Nya saja dan bukan atas dasar
takut dari hukuman-Nya serta bukan pula atas dasar rasa roja' dan berharap
kepada ampunan dan pahala'Nya. Hal ini adalah salah satu sebab terbesar dari
kesesatan dan penyimpangan mereka. Karena mereka menyelisihi perintah
Allah swt, dimana Dia telah memerintah kita untuk beribadah kepada-Nya
dengan rasa takut dan rasa berharap secara bersamaan. Dia berfirman:

"Dan berdo'alah kalian kepada-Nya dengan rasa takut dan rasa tamak" (Al
A'Raf : 56).

2.3.2

Ciri-ciri Ibadah

Mustafa Ahmad al-Zarqa, seorang ahli ilmu fikih menyebutkan beberapa sifat
yang menjadi ciri-ciri ‘ibadah yang benar adalah:
1. Bebas dari perantara.
Dalam ber’ibadah kepada Allah Ta ‘ala, seorang muslim tidak memerlukan
perantara, akan tetapi harus langsung kepada Allah. Para alim ulama atau para
tokoh agama hanya berfungsi dan berperan sebagai pembimbing, petunjuk
dan penyampai kebenaran bagi muslim lainnya. Hal ini sesuai dengan firman
Allah Ta ‘ala:
‫جیبمو ال ي مي ا ھمولی ي مؤمنمو ب ي مي لھعل ھھمم‬
‫ب مد ھ‬
‫عوة ال ھدايع ايھذاھدعيان فمھلیمھست ي مھ‬
‫وا ھيھذاھسال ھھك عبا ھيدمي عن ي مھي فا ھين ي مھي ق ي مھری ب‬
‫ب ا ي مجی م‬
‫یھرثمدھون‬
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,
maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengkabulkan
permohonan orang yang berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu
memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mnereka beriman kepada-Ku,
agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. al-Baqarah, 2: 186).
2. Tidak terikat kepada tempat-tempat khusus.
Secara umum ajaran Islam tidak mengharuskan penganutnya untuk
melakukan ‘ibadah pada tempat-tempat khusus, kecuali ‘ibadah haji. Islam
memandang setiap tempat cukup suci sebagai tempat ‘ibadah. Rasulullah
salallahu alaihi wassalaam bersabda: “Seluruh tempat di bumi adalah tempat
bersujud, bersih dan suci” (HR. Bukhari dan Muslim).
Firman Allah Ta ‘ala:
‫ ا يھن ھلله وايبسع عل ي م بیم‬. ‫ب فا ھمھینھما تمھولھمواف ھشم موجھ يھلله‬
‫و ي ھلله ال ھممميشرمق وال ھممميغر م‬
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu
menghadap di situlah wajah Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”
(QS.al-Baqarah, 2:115).

3. Tidak memberatkan dan tidak menyulitkan.
Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa menghendaki kemudahan bagi hambaNya dan tidak menghendaki kesulitan. Rasulullah salallahu alaihi wassalaam
bersabda: “Kamu seharusnya melakukan pekerjaan yang kamu sendiri mampu
melakukannya, sesungguhnya Allah tidak menyenangi perbuatan suatu
perbuatan hingga kamu sendiri menyenanginya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Firman Allah Ta ‘ala:
‫ت‬
‫لی ھ مھ‬
‫ت ھوعلمھیھا ھ ماماكتھسب مھ‬
‫ لھھھامھاكھسب مھ‬،‫كل ھم يف مھلله نمھفسساا ي م ھلاموھسعھھا‬
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan
kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala dari kebajikan yang diusahakannya,
dan ia mendapatkan siksa dari kejahatan yang dikerjakannya” (QS. alBaqarah, 2: 286). Kendati demikian, tidak berarti mengenteng-entengkan
perbuatan ‘ibadah karena kemalasan dan tiada peduli terhadap pengetahuan
syar’iat.
3.3.3

Prinsip-prinsip Ibadah

1. Niat lillahi ta’ala (Al-Fatihah/1:5)
( ‫ ي‬٥ ) ‫( إيیا ھھك نمھعبمد وإيیا ھھك نمھستيھعمین‬٤ ) ‫( ماليك ی ي مھوم اليھديین‬٣ ) ‫( ال ھمرھحيمن ال ھيرحیيم‬٢ ) ‫ب امھلعاليھمھین‬
‫ب ي مسم ر ي ھ‬
‫حممد‬
‫( ال مھ م‬١ ) ‫ي ھ يھلله ال ھمرھحيمن ال ھيرحیيم‬
1. dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
4. yang menguasai di hari Pembalasan.
5. hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami
meminta pertolongan.
2. Tidak menyekutukan Allah SWT, secara langsung maupun tersembunyi.
Firman Allah SWT.

Artinya:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, ...... “ Q.S AnNisa ayat36
3. Dilaksanakan dengan penuh kepasrahan diri kepada Allah.
Firman Allah SWT.

Artinya:
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan
demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang
pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". Q.S Al-An’am ayat162-163
4. Dilaksanakan dengan penuh keikhlasan.
Firman Allah SWT.

Artinya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus,
dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian Itulah agama yang lurus. Q.S Al-Bayyinah: 5
5. Dilaksanakan dengan penuh kesabaran dan keteguhan hari.
Firman Allah SWT.

Artinya:

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara
keduanya, Maka sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepadaNya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang
patut disembah)?. Q.S Maryam; 65
6. Tidak menggunakan perantara (washilah) (Al-Baqarah/2: 186)
‫جیبموا ليي مولی ي مؤمنموا بيي لھعل ھھمم‬
‫ب مد ھ‬
‫عوة ال ھدايع إيھذا ھدعيان فمھلیمھست ي ھ‬
‫ھوإيھذا ھسأل ھھك عبا ھيدي عنيھي فإ ھينيھي قيھری ب‬
‫ب أيمجی م‬
‫یمھرمشدھون‬
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka
(jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka
itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
7. Dilakukan sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan sunnah
8. Seimbang antara dunia akherat (Al-Qashash/28:77)
‫ھوامبتيھغ فيھیما آتا ھھك مھلله ال ھدھار ايلھخرة ول تن مھھس نيھصیبھك ھمن الھمدنیا ھ وأ ي مھحمسن ھكما أمھحھسن مھلله إليیمھھك ول ت ي مھبغ‬
‫املفساھد فيي ا م‬
‫ب‬
‫ح ھم‬
‫لريض إ يھن ھلله ل ی ي م‬
‫ھ‬
‫ال ممميفيسدھین‬
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiaanmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan.
9. Tidak berlebih-lebihan (Al-A’raf/7:31)
‫ب ال ممميسرفيھین‬
‫یا ھ بن ھيي آھدم مخذوا زینتھ ھم‬
‫ح ھم‬
‫عھند يھكل مميسججد موكلموا وا مھشربموا ول ت ي مسرفموا إين ھھ ل ی ي م‬
‫كم م‬
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid,
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
10. Mudah (bukan meremehkan) dan Meringankan Bukan Mempersulit (AlBaqarah/2:286)

‫ت ربن ھا ھ ل تمھؤايمخذنا ھ إ يمن نيھسینا ھ أمھو أمھخھطأن ما ھ‬
‫ل ی مھ‬
‫ت ھوعل ھمیھا ھ ما ماكتھسب مھ‬
‫كل ھم يف مھلله نمھفسسا إيلا موھسعھا ھ لھھا ھ ما كھسب مھ‬
‫حممل علمھینا ھ إ ي مسصرا ھكما‬
‫ربن ھا ھ ول ت ي مھ‬
‫ت‬
‫ھحمملتھھ علھى ال يھذھین ممن قمھبلينا ھ ربن ھا ھ ول ت ي م ھ‬
‫حمملنا ھ ما ل ھطاقھة لن ھا ھ بيھ وماعمف عنا ھ وماغف ي مر لن ھا ھ وا مھرمحمنا ھ أن مھ ھ‬
‫ممولنا ھ فا ھن ممصرنا ھ علھى املق ي مھوم امھلكافيرھین‬
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat
siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami,
janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan
Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan
Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami
memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.”
2.4

Tujuan Ibadah dalam Islam
Tujuan ibadah adalah membersihkan dan menyucikan jiwa dengan mengenal

dan mendekatkan diri serta beribadat kepada-Nya. Sesungguhnya ibadah dengan
pengertian yang hakiki itu merupakan tujuan dari dirinya sendiri. Dengan melakukan
ibadah, manusia akan selalu tahu dan sadar bahwa betapa lemah dan hinanya mereka
bila berhadapan dengan kekuasaan Allah, sehingga ia menyadari benar-benar
kedudukannya sebagai hamba Allah. Jika hal ini

benar-benar telah dihayati, maka

banyak manfaat yang akan diperolehnya. Misalnya saja surga yang dijanjikan, tidak
akan luput sebab Allah tidak akan menyalahi janjinya. Jadi, tujuan yang hakiki dari
ibadah adalah menghadapkan diri kepada Allah SWT dan menunggalkan-Nya
sebagai tumpuan harapan dalam segala hal.
Kesadaran akan keagungan Allah akan menimbulkan kesadaran betapa hina
dan rendahnya semua makhluk-Nya. Orang yang melakukan ibadah akan merasa
akan terbebas dari beberapa ikatan atau kungkungan makhluk. Semakin besar
ketergantungan dan harapan seseorang kepada Allah, semakin terbebaslah dirinya
dari yang selain-Nya. Harta, pangkat, kekuasaan dan sebagainya tidak akan
mempengaruhi kepribadiannya. Hatinya akan menjadi merdeka kecuali dari Allah
dalam arti sesungguhnya. Kemerdekaan sesungguhnya adalah kemerdekaan hati.

BAB 3. PENUTUP
1.1 Kesimpulan
1. Pengertian Ibadah secara etimologi berasal dari kata ‘abd yang artinya abdi,
hamba, budak, atau pelayan. Jadi ‘ibadah berarti, pengabdian, penghambaan,
pembudakan, ketaatan, atau merendahkan diri. Sedangkan secara terminologis

DAFTAR PUSTAKA
Alqur’an dan terjemahan
Azra, Azyumardi dkk. 2002. Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi
Umum. Jakarta: Depag RI
Hana, Abu. 2012. Ibadah yang Benar dalam Islam. Jakarta
Kusnaedi, Dedy. 2009. Ibadah. Jakarta
Muhammad, Husein. 2008. Dari Ibadah Individual Menuju Ibadah Kemanusiaan.
Cirebon
Rachmawan, Hatib. 2012. Fiqih Ibadah dan Prinsip Ibadah dalam Islam.Yogyakarta:
Universitas Ahmad Dahlan
Yazid. 2007. Pengertian Ibadah dalam Islam. Bogor: Pustaka At-Taqwa

Dokumen yang terkait

Dokumen baru