KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM (1)

KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM
MAKALAH

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

KELOMPOK 4
ABDI DIRWANSYAH
AGUS SAF4RIZAL
EDI SAPUTRA
FAJAR AFRIANSHAH
MUHAMMAD TAUFIK
OKI ALFIANSYAH
WARDATUL SAMAWI

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ABULYATAMA
ACEH BESAR
2016

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT. atas limpahan rahmat,
taufik dan inayah-Nya serta nikmat sehat sehingga penyusunan makalah guna memenuhi
tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam ini dapat selesai sesuai dengan yang
diharapkan. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah Nabi Muhammad
SAW. dan semoga kita selalu berpegang teguh pada sunnahnya, Amin.
Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji
melalui berbagai sudut pandang dan aspek kehidupan. Islam sebagai Agama telah
berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu
diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan maupun realitas sosial,
politik, ekonomi dan budaya.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis
hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak
lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang
penulis hadapi teratasi.
Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai informasi serta untuk menambah
wawasan khususnya mengenai “Konsep Ketuhanan Dalam Islam” yang kami sajikan
berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas
Abulyatama Aceh. Dan tidak lupa kami mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah
ini terdapat kesalahan baik dalam kosa kata ataupun isi dari keseluruhan makalah ini.
Kami sebagai penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing kami meminta masukannya demi
perbaikan makalah di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca.

Lampoeh Keudee, 17 Oktober 2016

Anggota Kelompok 4

1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................
DAFTAR ISI ............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................
A. Latar Belakang..................................................................................................
B. Rumusan Masalah.............................................................................................
C. Tujuan Penulisan...............................................................................................

i
ii
1
1
1
2

BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................
A. Filsafat Ketuhanan dalam Islam .......................................................................
B. Keimanan dan Ketakwaan................................................................................

3
4
6

BAB III PENUTUP..................................................................................................
A. Kesimpulan.......................................................................................................
B. Kritik dan Saran................................................................................................

12
12
12

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................

13

2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam agama Islam, Tuhan disebut Allah dan diyakini sebagai Zat Maha
Tinggi Yang Nyata dan Esa, PenciptaYang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Maha
Abadi, Penentu Takdir, serta Hakim bagi sekalian alam.
Pengetahuan tentang Tuhan merupakan dasar bagi setiap agama, baik agama
langit maupun agama bumi. Namun tiap agama memiliki konsep ketuhanan yag
berbeda. Didalam agama Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang
Maha Tunggal dan Maha Kuasa. Penciptaan dan penguasaan alam semesta
dideskripsikan sebagai suatu tindakan kemurahhatian yang paling utama untuk semua
ciptaan yang memuji keagungan-Nya dan menjadi saksi atas keesan-Nya dan kuasaNya.
Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Tunggal dan Maha Kuasa, namun juga
Tuhan yang personal: Menurut Al-Quran, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat
nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika
mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang
lurus, “jalan yang diridhai-Nya”.
Tuhan yang hakiki adalah Tuhan yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul
yakni, Tuhan hakiki itu bukan di langit dan di bumi, bukan di atas langit, bukan di
alam, tetapi Dia meliputi semua tempat dan segala realitas wujud.
Dalam makalah yang kami buat ini, kami akan membahas lebih dalam
mengenai Konsep Ketuhanan Dalam Islam.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, ada beberapa masalah yang akan dibahas
dalam makalah ini, yaitu:
1. Filsafat Ketuhanan dalam Islam
2. Keimanan dan Ketakwaan

C. Tujuan Penulisan
1

1.
2.
3.
4.
5.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
Untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Pendidikan Agama.
Untuk mengenal lebih dalam tentang konsep Ketuhanan dalam Islam.
Untuk mengetahui dan memahami filsafat Ketuhanan daalam Islam.
Mengkaji siapa Tuhan itu, bukti-bukti Ketuhanan dalam Islam, serta pemikiran
manusia tentang Tuhan.
Mengetahui penjelasan iman dan takwa, proses terbentuknya iman dan takwa,
tanda-tanda orang yang beriaman dan bertakwa, dan kolerasi antara keimanan
dan ketakwaan.

2

BAB II
PEMBAHASAN
Tuhan dalam Bahasa Arab disebut Ilah yang berarti “ma’bud” (yang disembah).
Perkataan Ilah, juga diterjemahkan sebagai “Tuhan”, dalam Al-Qur’an dipakai untuk
menyatakan berbagai objek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia, misalnya dalam
surat Al-Furqan ayat 43.

‫أ وروءييت من ٱتخذ و إل ىوههۥ هوى و و‬
‫ت تو ن‬
‫كيلل‬
‫ن ع ول وييهك وو ك‬
‫كو ن‬
‫ه أفوأن و‬
‫و و ك ت و ك و ن و وى ن‬
‫و‬
Artinya:
”Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Tuhannya ?” (Al-Furqan/25: 43)
Tuhan (Ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia
sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai olehnya.
Perkataan tersebut hendaklah diartikan secara luas oleh kita. Tercakup di dalamnya yang
dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau
kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau
kerugian.
Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadanya,
merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat
berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo’a, dan bertawakkal kepadanya untuk
kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan
di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya. (M. Imaduddin, 1989: 56).
Berdasarkan definisi di atas dapat dipahami, bahwa Tuhan itu bisa berbentuk apa
saja, yang dipentingkan oleh manusia. Yang pasti ialah manusia tidak mungkin atheis,
tidak mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan logika al-Qur’an setiap manusia pasti
mempunyai sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian, orang-orang komunis
pada hakikatnya ber-Tuhan juga.

Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “Laa illaha illaa Allah”. Susunan kalimat
tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti
3

dengan suatu penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus
membersihkan dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, yang ada dalam hatinya hanya
satu Tuhan yang bernama Allah.

A. Filsafat Ketuhanan dalam Islam

‫م‬
‫ن ٱلتر ك‬
‫ووإ كل ىوهنك ن يم إ كل وىده ووى ك‬
‫حي ن‬
‫ه إ كتل هنوو ٱلترحي وى‬
‫ح ددد تل إ كل ىو و‬
‫م ن‬
Artinya:
“Dan Tuahanmu adalah Tuhan yang Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia.
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Al-Baqarah/2: 163).

Ayat ini mengindikasikan bahwa Allah Dzat Yang Maha Kuasa, yang
menetapkan segala ketentuan untuk seluruh makhluk, Yang memiliki Kebesaran,
Kesucian, Ketinggian dan hanya kepada-Nya manusia muslim menyembah dan
memohon pertolongan. Dialah Allah yang menentukan syari’ah bagi umat
manusia dengan wahyu yang disampaikan kepada
Nabi Muhammad s.aw.
sebagai agama. Wahyu ini membedakan antara agama Allah (revealed religion)
dengan agama budaya yang dirumuskan oleh manusia (natural atau
cultural
religion). Pernyataan tersebut dijelaskan dalam Al-Qur’an surat AlAn’am/6:102:

‫خل كقن ك ن ل‬
‫ل و‬
‫شييءء‬
‫ه إ كتل هن وود ىو‬
‫ه ورب بك نميد ول إ كل ىو و‬
‫م ٱلل ت ن‬
‫ذ ىول كك ن ن‬
‫و‬
‫ى كن ل‬
‫ل و‬
‫كيدل‬
‫شييءء وو ك‬
‫فوٱعيب ن ن‬
‫دو ههه ووهنوو ع ول ى‬
“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu;
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu,
maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (AlAn’am/6:102)

4

‫و‬
‫و‬
‫و‬
‫ض‬
‫ن كو و‬
‫موىو ك‬
‫أوو ل ومي ي وور ٱل ت ك‬
‫فنرووا ا أ ت‬
‫ن ٱل ت‬
‫س ىو‬
‫ت ووٱليأري و‬
‫ذي و‬
‫و‬
‫ماكء ك ن ت‬
‫ل و‬
‫شييءء‬
‫قا فو و‬
‫كان ووتا ورتي ق‬
‫جعوليونا ك‬
‫ماد وو و‬
‫ن ٱلي و‬
‫فت وقين ىوهن و‬
‫م و‬
‫و‬
‫ن‬
‫ح ييه أفوول ي نؤي ك‬
‫مننو و‬
‫و‬
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya
langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami
pisahkan antara keduanya” (Al-Anbiya’/21: 30)
Ayat di atas dengan jelas telah mematahkan pandangan kaum
naturalist yang menyatakan bahwa alam terjadi dengan sendirinya seperti apa
yang sekarang ini. Pada hakikatnya semula langit dan bumi bersatu dan baru
kemudian dipisahkan. Hal ini berarti bahwa keberadaan kosmos ini mempunyai
awal, tidak seperti yang disangkakan oleh para ilmuan yang berpaham naturalisme
seperti tersebut di atas.
Berbeda dengan filsafat modern, para filosof pada abad tengah
(medieval philosophists) yang banyak didominasi oleh pemikir-pemikir muslim,
pemikiran filsafat tidak bisa dipisahkan dari konsep adanya Tuhan. Hampir dapat
dikatakan bahwa sebagia besar filosof baik di dunia Islam, seperti al-Kindi, alFarabi, Ib Zina, al-Gazali, Ibn Rusyd dan lain sebagainya, juga dari daratan
Eropa, seperti Anselm, ThomasAquinas, Bonaventure dan lain sebagainya.
Seluruhnya berbicara tentang dan mengakui adanya Tuhan, sehingga sulit untuk
membedakan posisi mereka sebagai theolog dan sebagai filosof.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa filsafat (akan) tidak
betentangan dengan wahyu, sebagaimana yang dinyatakan Ibn Rusyd melalui
pendapatnya yang sangat dikenal, yakni kesesuaian akal dengan wahyu. Apa yang
diproduksi oleh akal manusia haruslah sesuai dengan yang diwahyukan Tuhan. AlQur’an sangat banyak memotivaasi manusia untuk menggunnakan akalnya guna
memikirkan ciptaan Allah. Dan orang-orang dalam golongan inilah yang akan
memberikan pengakuaan akan keagungan Tuhan, Yang Maha Pencipta, dan Maha
Suci dengan ciptaan-Nya.
Pemikiran terhadap Tuhan yang melahirkan Ilmu Tauhid, ilmu Kalam, atau
ilmu Ushuluddin di kalangan umat Islam, timbul beberapa periode setelah wafatnya
Nabi Muhammad SAW. Yakni pada saat terjadinya peristiwa tahkim antara kelompok
Ali bin Abi Thalib dengan kelompok Mu’awiyyah. Secara garis besar, ada aliran yang
bersifat liberal, tradisional, dan ada pula yang bersifat di antara keduanya.Sebab
timbulnya aliran tersebut adalah karena adanya perbedaan metodologi dalam
memahami Al-Quran dan Hadis dengan pendekatan kontekstual sehingga lahir aliran
5

yang bersifat tradisional. Sedang sebagian umat Islam yang lain memahami dengan
pendekatan antara kontektual dengan tektual sehingga lahir aliran yang bersifat antara
liberal dengan tradisional. Aliran-aliran tersebut yaitu :
a. Qodariah
Berpendapat bahwa Tuhan terikat dengan kewajiban-kewajiban. Tuhan
wajib memenuhi janjinya. Ia berkewajiban memasukkan orang yang baik ke surga
dan wajib memasukkan orang yang jahat ke neraka, dan kewajiban-kewajiban
lain. Pandangan-pandangan kelompok ini menempatkan akal manusia dalam
posisi yang kuat.
b. Jabariah
Berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat (sifat 20, sifat 13, dan maha
sifat). Ia maha kuasa, memiliki kehendak mutlak. Kehendak Tuhan tidak terikat
dengan apapun. Karena itu ia mungkin saja menempatkan orang yang baik ke
dalam neraka dan sebaliknya mungkin pula ia menempatkan orang jahat ke dalam
surga, kalau Ia menghendaki. Dari faham Jabariah inilah ilmu-ilmu kebatinan
berkembang di sebagaian umat Islam.
Semua aliran itu mewarnai kehidupan pemikiran ketuhanan dalam kalangan
umat Islam periode masa lalu.Pada prinsipnya aliran-aliran tersebut di atas tidak
bertentangan dengan ajaran dasar Islam. Oleh karena itu umat Islam yang memilih
aliran mana saja diantara aliran-aliran tersebut sebagai teologi mana yang dianutnya,
tidak menyebabkan ia keluar dari Islam. Menghadapi situasi dan perkembangan ilmu
pengetahuan sekarang ini, umat Islam perlu mengadakan koreksi ilmu berlandaskan
Al-Quran dan Sunnah Rasul, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu.

B. Keimanan dan Ketakwaan

1.

Pengertian Iman
Iman menurut bahasa adalah yakin, keimanan berarti keyakinan. Dengan
demikian, rukun iman adalah dasar, inti, atau pokok – pokok kepercayaan yang
harus diyakini oleh setiap pemeluk agama Islam. Kata iman juga berasal dari kata
kerja amina-yu’manu – amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu iman berarti
percaya menunjuk sikap batin yang terletak dalam hati. Dalam surah Al-Baqarah
ayat 165:

6

‫و‬
‫داقدا‬
‫من ي وت ت ك‬
‫خذ ن ك‬
‫وو ك‬
‫ن ٱلل تهك أن و‬
‫س و‬
‫من ندو ك‬
‫م و‬
‫ن ٱلتنا ك‬
‫من نووا ا أ و و‬
‫حقببا‬
‫ين ك‬
‫ب ٱلل ت ههد ووٱل ت ك‬
‫شد ب ن‬
‫ح ل‬
‫حببون وهنمي ك و ن‬
‫ن وءا و‬
‫ذي و‬
‫ن ٱليعو و‬
‫ب‬
‫ل لل ت ههه وول ووي ي وورى ٱل ت ك‬
‫ذا و‬
‫مووا ا إ كذي ي ووروي و‬
‫ن ظ ول و ن‬
‫ذي و‬
‫و‬
‫و‬
‫ه و‬
‫ن ٱلي ن‬
‫ش ك‬
‫ج ك‬
‫ديد ن‬
‫ميقعا ووأ ت‬
‫قوتة و ل كل تهك و‬
‫أ ت‬
‫ن ٱلل ت و‬
‫ٱليعو و‬
‫ب‬
‫ذا ك‬
Artinya :
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan
selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika
seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka
melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya,
dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (AlBaqarah/2: 165)
Dalam hadits diriwayatkan Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan
dengan keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan
amal perbuatan (Al-Immaanu ‘aqdun bil qalbi waigraarun billisaani wa’amalun
bil arkaan). Dengan demikian, iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara
hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai pandangan
dan sikap hidup atau gaya hidup.
Definisi Iman Secara Istilah Syar’iy
1. Al-Imaam Ismaa’iil bin Muhammad At-Taimiy rahimahullah berkata :

‫اليمان في الشرع عبارة عن جميع الطاعات الباطنة والظاهرة‬
“Iman dalam pengertian syar’iy adalah satu perkataan yang mencakup
makna semua ketaatan lahir dan batin” [Al-Hujjah fii Bayaanil-Mahajjah,
1/403].
An-Nawawiy menukil perkataannya :

‫اليمان في لسان الشرع هو التصديق بالقلب والعمل بالركان‬
“Iman dalam istilah syar’iy adalah pembenaran dengan hati dan perbuatan
dengan anggota tubuh” [Syarh Shahih Muslim, 1/146].
7

2.

Imaam Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :

‫ ول عمل إل بنية‬،‫أجمع أهل الفقه والحديث على أن اليمان قول وعمل‬
“Para ahli fiqh dan hadits telah sepakat bahwasannya iman itu perkataan
dan perbuatan. Dan tidaklah ada perbuatan kecuali dengan niat” [AtTamhiid, 9/238].

3.

Al-Imaam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata :

،‫ وهو العتقاد‬،‫ قول القلب‬: ‫ والقول قسمان‬.‫حقيقة اليمان مركبة من قول وعمل‬
‫ وهو نيته‬،‫ عمل القلب‬: ‫ والعمل قسمان‬.‫ وهو التكيلم بكلمة السلم‬،‫وقول اللسان‬
‫ وإذازال‬،‫زال اليمان بكماله‬،‫ فإذا زالت هذه الربعة‬.‫ وعمل الجوارح‬،‫وإخلصه‬
‫ لم تنفع بقية الجزاء‬،‫تصديق القلب‬
“Hakekat iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. Perkataan ada dua :
perkataan hati, yaitu i’tiqaad; dan perkataan lisan, yaitu perkataan tentang
kalimat Islam (mengikrarkan syahadat – Abul-Jauzaa’). Perbuatan juga ada
dua : perbuatan hati, yaitu niat dan keikhlasannya; dan perbuatan anggota
badan. Apabila hilang keempat hal tersebut, akan hilang iman dengan
kesempurnaannya. Dan apabila hilang pembenaran (tashdiiq) dalam hati,
tidak akan bermanfaat tiga hal yang lainnya” [Ash-Shalaah wa Hukmu
Taarikihaa, hal. 35].
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian iman adalah pembenaran
dengan segala keyakinan tanpa keraguan sedikitpun mengenai yang datang dari
Allah SWT dan rasulNya.
2.

Wujud Iman
Akidah Islam dalam al-Qur’an disebut iman. Iman bukan hanya berarti
percaya, melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim untuk berbuat.
Oleh karena itu lapangan iman sangat luas, bahkan mencakup segala sesuatu yang
dilakukan seorang muslim yang disebut amal saleh.
Seseorang dinyatakan iman bukan hanya percaya terhadap sesuatu,
melainkan kepercayaan itu mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan
sesuatu sesuai dengan keyakinan. Karena itu iman bukan hanya dipercayai atau
diucapkan, melainkan menyatu secara utuh dalam diri seseorang yang dibuktikan
dalam perbuatannya.
Akidah Islam adalah bagian yang paling pokok dalam agama Islam. Ia
merupakan keyakinan yang menjadi dasar dari segala sesuatu tindakan atau amal.
Seseorang dipandang sebagai muslim atau bukan muslim tergantung pada
8

akidahnya. Apabila ia berakidah Islam, maka segala sesuatu yang dilakukannya
akan bernilai sebagai amaliah seorang muslim atau amal saleh. Apabila tidak
beraqidah, maka segala amalnya tidak memiliki arti apa-apa, kendatipun
perbuatan yang dilakukan bernilai dalam pendengaran manusia.
Akidah Islam atau iman mengikat seorang muslim, sehingga ia terikat
dengan segala aturan hukum yang datang dari Islam. Oleh karena itu menjadi
seorang muslim berarti meyakini dan melaksanakan segala sesuatu yang diatur
dalam ajaran Islam. Seluruh hidupnya didasarkan pada ajaran Islam.
Wujud Iman menurut Hasan Al-Bana di antaranya:
1. Ilahiyah
: Hubungan dengan Allah
2. Nubuwwah
: Kaitan dengan Nabi, Rasul, kitab, dan mukjizat
3. Ruhaniyah
: Kaitan dengan alam metafisik; Malaikat, Jin, Syetan, Ruh
4. Sam’iyah
: Segala sesuatu yang bisa diketahui melalui sam’i
3.

Tanda – Tanda Orang beriman
Beberapa tanda-tanda orang yang benar-benar beriman kepada Allah adalah:
1. Bila disebut nama Allah gemetarlah Hatinya
2. Apabila Dibacakan Ayat-ayat Allah bertambahlah Imannya
3. Mereka selalu bertawakal Kepada Allah
4. Mendirikan Shalat
5. Menafkahkan (berinfaq, shadaqoh)
Itulah tanda-tanda orang yang benar-benar beriman selain tanda-tanda yang lain
yang Allah Gambarkan dalam surat Al fatihah dan surat-surat yang lainnya.
1. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan (AlMukminun:3, 5)
2. Memelihara amanah dan menempati janji (Al-Mukminun:6)
3. Berjihad di jalan Allah dan suka menolang (Al-Anfal:74).
4. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin (An-nur:62).

9

4.

Pengertian Takwa
Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Sayyidina Ali bin Abi
Thalib tentang apa itu taqwa. Beliau menjelaskan bahwa taqwa itu adalah :
1. Takut (kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya
neraka.
2. Beramal dengan Alquran yaitu bagaimana Alquran menjadi pedoman dalam
kehidupan sehari-hari seorang manusia.
3. Redha dengan yang sedikit, ini berkaitan dengan rezeki. Bila mendapat rezeki
yang banyak, siapa pun akan redha tapi bagaimana bila sedikit? Yang perlu
disedari adalah bahawa rezeki tidak semata-mata yang berwujud uang atau
materi.
4. Orang yg menyiapkan diri untuk “perjalanan panjang”, maksudnya adalah
hidup sesudah mati.
Al- Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa taqwa adalah takut dan
menghindari apa yang diharamkan Allah, dan menunaikan apa-apa yang
diwajibkan oleh Allah. Taqwa juga bererti kewaspadaan, menjaga benar-benar
perintah dan menjauhi larangan.

5.

Koheresi Keimanan dan Ketakwaan
Keimanan pada keesaan Allah yang dikenal dengan istilah tauhid dibagi
menjadi dua, yaitu tauhid teoritis dan tauhid praktis. Tauhid teoritis adalah tauhid
yang membahas tentang keesaan Zat, keesaan Sifat, dan keesaaan Perbuatan
Tuhan. Pembahasan keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan berkaitan dengan
kepercayaan, pengetahuan, persepsi, dan pemikiran atau konsep tentang Tuhan.
Konsekuensi logis tauhid teoritis adalah pengakuan yang ikhlas bahwa Allah
adalah satu-satunya Wujud Mutlak, yang menjadi sumber semua wujud.
Adapun tauhid praktis yang disebut juga tauhid ibadah, berhubungan
dengan amal ibadah manusia. Tauhid praktis merupakan terapan dari tauhid
teoritis. Kalimat Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah) lebih
menekankan pengertian tauhid praktis (tauhid ibadah). Tauhid ibadah adalah
ketaatan hanya kepada Allah. Dengan kata lain, tidak ada yang disembah selain
Allah, atau yang berhak disembah hanyalah Allah semata dan menjadikan-Nya
tempat tumpuan hati dan tujuan segala gerak dan langkah.

10

Selama ini pemahaman tentang tauhid hanyalah dalam pengertian beriman
kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mempercayai saja keesaan Zat, Sifat, dan
Perbuatan Tuhan, tanpa mengucapkan dengan lisan serta tanpa mengamalkan
dengan perbuatan, tidak dapat dikatakan seorang yang sudah bertauhid secara
sempurna. Dalam pandangan Islam, yang dimaksud dengan tauhid yang sempurna
adalah tauhid yang tercermin dalam ibadah dan dalam perbuatan praktis
kehidupan manusia sehari-hari. Dengan kata lain, harus ada kesatuan dan
keharmonisan tauhid teoritis dan tauhid praktis dalam diri dan dalam kehidupan
sehari-hari secara murni dan konsekuen.
Dalam menegakkan tauhid, seseorang harus menyatukan iman dan amal,
konsep dan pelaksanaan, fikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks. Dengan
demikian bertauhid adalah mengesakan Tuhan dalam pengertian yakin dan
percaya kepada Allah melalui pikiran, membenarkan dalam hati, mengucapkan
dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan. Oleh karena itu seseorang
baru dinyatakan beriman dan bertakwa, apabila sudah mengucapkan kalimat
tauhid dalam syahadat asyhadu allaa ilaaha illa Alah, (Aku bersaksi bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah), kemudian diikuti dengan mengamalkan semua perintah
Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

11

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia
sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya. Dalam ajaran Islam diajarkan
kalimat “la illaha illa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan.
Yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan penegasan “melainkan
Allah”. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus membersihkan diri dari
segala macam Tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada
satu Tuhan yaitu Allah.
Manusia tidak mungkin atheis, tidak mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan
logika didalam Al-Quran, setiap manusia pasti ada sesuatu yang dipertuhankannya.
Dengan begitu, orang-orang komunis pada hakikatnya juga mempunyai Tuhan.
Adapun Tuhan mereka adalah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka sendiri.
Iman adalah adalah pembenaran dengan segala keyakinan tanpa keraguan
sedikitpun mengenai yang datang dari Allah SWT dan rasulNya. Wujud Iman ada 4,
yakni:
1)
Ilahiyah: Hubungan dengan Allah
2)
Nubuwwah: Kaitan dengan Nabi, Rasul, kitab, dan mukjizat
3)
Ruhaniyah: Kaitan dengan alam metafisik; Malaikat, Jin, Syetan, Ruh
4)
Sam’iyah: Segala sesuatu yang bisa diketahui melalui sam’i
Taqwa adalah takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah, dan
menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Taqwa juga bererti kewaspadaan,
menjaga benar-benar perintah dan menjauhi larangan.
Seseorang baru dinyatakan beriman dan bertakwa, apabila sudah
mengucapkan kalimat tauhid dalam syahadat asyhadu allaa ilaaha illa Alah, (Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah), kemudian diikuti dengan mengamalkan
semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

B. Saran

12

Sebagai seorang pemula, kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu saya mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun. Karena saran dan kritik itu akan bermanfaat bagi kami untuk
memperbaiki atau memperdalam kajian ini.

13

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.

Syafaat, Drs. H.M (1974). Islam Agamaku, Jakarta: Widjaya Jakarta.
Palungan, DR. Sahmiar, MA (2009). Penddidikan Agama Islam. Makalah pada

3.
4.
5.

Universitas Sumatra Utara, Medan.
Bertens, DR. K. (1987). Panorama Filsfat Modern, Jakarta: Gramedia.
At Tamimi, Syaikh Muhammad (2000) Kitab Tauhid, Yayasan Al-Sofwa.
Pamungkas, Dwi Arif, et al. (2014) Konsep Ketuhanan Dalam Islam. Makalah

6.

Universitas Islam Indonesia,
Kusuma, Candra Wangsa, et al. (2014) Konsep Ketuhanan Dalam Islam.

7.

Makalah pada STIE Sebelas April Sumedang, Sumedang.
Arsita, Sella Dewi, et al. (2013). Keimanan dan Ketakwaan. Makalah pada

8.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya, Surabaya.
Wahyuni, Dinda (2015). Keimanan dan Ketakwaan. Makalah pada Universitas
Trilogi, Jakarta Selatan.

14

Dokumen yang terkait

Dokumen baru