PERMINTAAN DAN KEPUASAN KONSUMEN RUMAH TANGGA DALAM MENGONSUMSI KECAP DI BANDAR LAMPUNG

ABSTRAK

PERMINTAAN DAN KEPUASAN KONSUMEN RUMAH TANGGA
DALAM MENGONSUMSI KECAP DI BANDAR LAMPUNG

Oleh
Ludi Satria Ariesman

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji permintaan kecap di tingkat rumah
tangga dan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaannya serta untuk
menganalisis tingkat kepuasan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
konsumen rumah tangga dalam mengonsumsi kecap di Bandar Lampung.
Penelitian dilakukan menggunakan metode survei di Desa Beringin Raya
Kecamatan Kemiling dan Desa Sawah Brebes Kecamatan Tanjung Karang Timur,
Bandar Lampung. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 76 orang yang
diambil menggunakan metode Simple random sampling. Pengumpulan data
dilakukan dari bulan April sampai Juni 2014. Faktor yang mempengaruhi
permintaan konsumen dianalisis dengan Fungsi Cobb Douglas, tingkat kepuasan
menggunakan metode Customer Satisfaction Index (CSI), dan faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan konsumen rumah tangga menggunakan analisis regresi
logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan konsumen rumah
tangga akan kecap manis 501 ml/bulan. Faktor yang mempengaruhi permintaan
kecap adalah harga kecap manis, harga gula, tingkat pendapatan, dan jumlah
anggota keluarga. Sebanyak 53 konsumen merasa puas terhadap kinerja kecap
manis. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen adalah
usia, lama mengonsumsi, harga kecap manis, dan lokasi pembelian.
Kata kunci: kecap manis, kepuasan, konsumsi, permintaan

ABSTRACT

DEMAND AND SATISFACTION OF HOUSEHOLD CONSUMER IN
CONSUMING SOY SAUCE IN BANDAR LAMPUNG

By
Ludi Satria Ariesman

The objectives of this research were: to assess the demand of soy sauce at the
household level and its influencing demand factors, to analyze the degree of
satisfaction and the factors that influence consumer’s satisfaction in consuming
soy sauce in Bandar Lampung. The study was conducted by a survey method in
Beringin Raya Village of Kemiling Sub District and Sawah Brebes Village of East
Tanjung Karang Sub District, Bandar Lampung. The number of samples in this
research was 76 people who were taken by Simple random sampling method. The
data collection was conducted from April to June 2014. The factors that
influenced consumer demand were analyzed by Cobb Douglas Analysis Function;
the satisfaction of degree was analyzed by Customer Satisfaction Index (CSI),
whereas the factors that influenced satisfaction of household consumers was
analyzed by Logistic Regression Analysis. The result of this research showed that
the demand of soy sauce of the household consumer was 501 ml/month. The
factors that influenced the demand of soybean sauce were the price of soybean
sauce, the price of sugar, income level, and number of family members. A total of
53 consumers were satisfied with the performance of soy sauce. Factors that
influenced the level of customer satisfaction were age, duration of consumption,
the price of soy sauce, and location of purchase.
Keywords: consumption, demand, satisfaction, soy sauce,

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tasikmalaya 10 April 1992 dari
pasangan Bapak Denny Sudrajat dan Ibu Dinie Sugiarti
sebagai anak pertama dari tiga bersaudara.
Penulis menyelesaikan studi tingkat Sekolah Dasar di SD
Al-Kautsar, Bandar Lampung 2004, kemudian
menyelesaikan studi tingkat Sekolah Menengah Pertama di SMP Al-Kautsar
Bandar Lampung pada tahun 2007, kemudian melanjutkan studi tingkat Sekolah
Menengah Akhir di SMA Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2010. Pada
tahun yang sama penulis diterima di Universitas Lampung, Fakultas Pertanian,
Jurusan Agribisnis, melalui Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNPTN).

Selama di bangku kuliah, penulis pernah menjadi asisten dosen pada mata kuliah
Ekonometrika dan Pengantar Ilmu Ekonomi. Pada tahun 2013 penulis melakukan
Praktik Umum (PU) di PT. Sweet Indo Lampung. Penulis juga memiliki
pengalaman organisasi di Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian
sebagai Anggota Himaseperta pada tahun 2012/2013 sebagai Anggota Bidang II.

SANWACANA

Bismillahirrohmanirrohim
Alhamdullilahirobbil ‘alamin, segala puji hanya kepada Allah SWT, yang telah
memberikan cahaya dan hikmah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda
Rasulullah Muhammad SAW, yang telah memberikan teladan dalam setiap
kehidupan, juga kepada keluarga, sahabat, dan penerus risalahnya yang mulia.
Dalam penyelesaian skripsi yang berjudul “Permintaan dan Kepuasan
Konsumen Rumah Tangga dalam Mengonsumsi Kecap Manis di Bandar
Lampung”, banyak pihak yang telah memberikan sumbangsih, bantuan, nasehat,
serta saran-saran yang membangun. Oleh karena itu, dengan rendah hati penulis
mengucapkan terimakasih yang tak terhingga nilainya kepada:

1.

Dr. Ir. Fembriarti E. Prasmatiwi, M.S., sebagai Pembimbing Pertama dan
Ketua Jurusan Agribisnis, atas bimbingan, motivasi, masukan, arahan, saran,
dan nasihat yang telah diberikan selama penyelesaian skripsi ini.

2.

Dr. Ir. Yaktiworo Indriani, M.Sc., sebagai Pembimbing Kedua, atas
bimbingan, motivasi, masukan, arahan, saran, dan nasihat yang telah
diberikan selama penyelesaian skripsi ini.

3.

Ir. Suriaty Situmorang, M.Si., sebagai Dosen Penguji Skripsi, atas masukan,
bantuan, arahan, saran, dan nasihat yang telah diberikan.

4.

Keluarga tercinta, ayah Ir. Denny Sudrajat, M.P., ibunda Dra. Dinie Sugiarti,
adik tersayang Raka Satria Rainaudi dan Riki Satria Rainaudi, serta seluruh
keluarga yang selalu memberikan kasih sayang yang tidak akan tergantikan
oleh apapun dan siapapun. Doa, semangat, perhatian, dukungan yang luar
biasa kepada penulis dalam menjalankan kehidupan dan dalam
menyelesaikan skripsi ini.

5.

Ir. Begem Viantimala, M.Si., selaku Pembimbing Akademik, atas bimbingan,
arahan, dan nasihat yang telah diberikan.

6.

Seluruh Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian atas semua ilmu yang telah
diberikan selama Penulis menjadi mahasiswa di Universitas Lampung.

7.

Karyawan-karyawan di Jurusan Agribisnis, Mba Iin, Mba Ayi, Mas Bukhari,
Mas Sukardi, Pak Margono, dan Mas Boim, atas semua bantuan yang telah
diberikan.

8.

Yulia Agustiara Putri, S.Pd, yang telah memberi motivasi, doa, masukan,
saran, dan dorongan selama penulis menyelesaikan skripsi.

9.

Teman-teman Agribisnis 2010 Yoandra, Danny I, Dani P, Dimash, Wayan,
Reza, Vanessa, Tunjung, Fitri, Ova, Dwi, Sinta, Huda, Asih, Neno, Ervina,
Hani, Iqbal, Jeni, Meta, Deby, Nita, Septa, Seta, Vega, Wida, Tyas, Aria,
Adel, Rizky PN, Rizky R, Novita, Eli, dan seluruh teman Agribisnis 2010
lainnya, terima kasih atas bantuan, doa, semangat, dan kebersamaan selama
ini

10. Kakak-adik Sosek 2006 – 2014 terima kasih atas segala bantuannya.

11. Almamater tercinta dan seluruh pihak yang telah membantu yang tidak dapat

disebutkan satu per satu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Semoga Allah SWT memberikan balasan terbaik atas segala bantuan yang telah
diberikan dan memberikan rahmat serta hidayah kepada kita semua. Semoga
karya kecil ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
Akhirnya, penulis meminta maaf jika ada kesalahan dan kepada Allah SWT
penulis mohon ampun.

Bandar Lampung, Oktober 2014
Penulis,

Ludi Satria Ariesman

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ...................................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR ..............................................................................

xiv

I.

PENDAHULUAN ...........................................................................

1

A. Latar Belakang ............................................................................

1

B. Tujuan Penelitian ........................................................................

7

C. Kegunaan Penelitian....................................................................

7

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ............

8

A. Tinjauan Pustaka .........................................................................

8

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kecap ......................................................................................
Perilaku Konsumen ................................................................
Teori Permintaan ....................................................................
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemintaan .......................
Teori Elastisitas ....................................................................
Kepuasan ...............................................................................
Kajian Penelitian Terdahulu ..................................................

8
10
11
14
17
20
24

B. Kerangka Pemikiran ...................................................................

26

III. METODE PENELITIAN ..................................................................

31

A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional .....................................

31

B. Lokasi, Waktu, dan Sampel Penelitian .......................................

37

C. Metode Penelitian dan Pengumpulan Data .................................

39

D. Metode Analisis Data ..................................................................

40

1. Analisis Fungsi Cobb Douglas .......................................

40

2. Perhitungan Elastisitas ....................................................

42

3. Uji Reabilitas dan Uji Validitas ......................................

43

4. Indeks Kepuasan Konsumen (Customer satisfaction Index) 45
5. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat kepuasan

46

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ...........................

50

A. Kota Bandar Lampung ................................................................

50

1.

Kecamatan Kemiling dan Tanjung Karang Timur ...............

53

2.

Monografi kelurahan Beringin Raya dan Sawah Brebes .....

55

3.

Merek Kecap Manis yang Beredar di Bandar lampung .......

55

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ..........................................................

57

A. Karakteristik Umum Responden .................................................

57

B. Permintaan Kecap Manis ............................................................

63

C. Analisis Tingkat Kepuasan .........................................................

72

D. Analisis faktor yang Mempengaruhi Kepuasan ..........................

83

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................

88

A. Kesimpulan .................................................................................

88

B. Saran ............................................................................................

89

Daftar Pustaka .........................................................................................

90

Lampiran .................................................................................................

93

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1.

Komposisi zat-zat gizi yang terkandung dalam 100 gram kedelai ..

2

2.

Ringksan penelitian terdahulu tentang permintaan dan kepuasan
konsumen. ........................................................................................

26

Luas wilayah, jumlah kelurahan, lingkungan dan RT di Kota
Bandar Lampung dirinci dari Kecamatan, Tahun 2012 ...................

51

Jumlah penduduk Kota Bandar Lampung menurut jenis kelamin
dan kepadatan penduduk tahun 2012 ...............................................

52

Jumlah penduduk, luas daerah, dan kepadatan penduduk menurut
keluharan di Kecamatan Kemiling tahun 2012 ................................

53

Jumlah penduduk, luas daerah dan kepadatan penduduk menurut
kelurahan di Kecamatan Tanjung Karang Timur pada tahun 2012 .

54

7.

Sebaran responden berdasarkan umur..............................................

57

8.

Tingkat pendidikan dan pekerjaan responden ..................................

58

9.

Sebaran responden berdasarkan suku ..............................................

59

10. Sebaran responden berdasarkan pendapatan per bulan ....................

60

11. Sebaran responden berdasarkan jumlah anggota keluarga ..............

60

12. Sebaran responden berdasarkan frekuensi pembelian dan ukuran
kemasan............................................................................................

61

13. Sebaran responden berdasarkan merek ............................................

62

14. Sebaran responden berdasarkan tempat pembelian .........................

62

15. Sebaran responden berdasarkan lama mengonsumsi .......................

63

16. Sebaran jumlah pembelian kecap manis setiap bulan ......................

63

3.

4.

5.

6.

17. Sebaran ukuran kecap manis ............................................................

64

18. Sebaran frekuensi pembelian responden ..........................................

64

19. Jumlah dan harga gula, saus sambal dan beras ................................

65

20. Hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan
kecap manis .....................................................................................

66

21. Hasil uji validitas dan reliabilitas tingkat kepentingan atribut
produk kecap manis .........................................................................

73

22. Hasil uji validitas dan reliabilitas tingkat kepuasan atribut produk
kecap manis ......................................................................................

74

23. Hasil uji validitas dan reliabilitas tingkat kepuasan individu atribut
produk kecap manis .........................................................................

75

24. Hasil uji validitas dan reliabilitas tingkat kinerja atribut produk
kecap manis ......................................................................................

76

25. Perhitungan Custumen Satiesfied Index (CSI) Kecap Manis ..........

77

26. Jumlah responden yang merasa puas dan tidak puas dalam
mengonsumsi kecap manis di Bandar Lampung tahun 2014 ...........

78

27. Penilaian tingkat kepuasan konsumen dalam mengonsumsi kecap
di Bandar Lampung tahun 2014 dilihat secara individu ..................

79

28. Perhitungan Custumen Satiesfied Index (CSI) kecap manis merek
Bango ...............................................................................................

80

29. Jumlah responden yang merasa puas dan tidak puas dalam
mengonsumsi kecap manis merek Bango di Bandar Lampung
tahun 2014 ........................................................................................

81

30. Perhitungan Custumen Satiesfied Index (CSI) kecap manis
merek ABC ......................................................................................

81

31. Jumlah responden yang merasa puas dan tidak puas dalam
mengonsumsi kecap manis merek ABC di Bandar Lampung
tahun 2014 ........................................................................................

81

32. Hasil analisis regresi logistik faktor-faktor yang mempengaruhi
kepuasan konsumen dalam mengonsumsi Kecap Manis di
Bandar Lampung tahun 2014 ...........................................................

83

33. Gambaran Umum Responden ..........................................................

93

34. Variabel yang mempengaruhi permintaan kecap manis .................

96

35. Hasil analisis regresi SPSS faktor-faktor yang mempengaruhi
permintaan konsumen dengan menggunakan Fungsi Cobb
Douglas ...........................................................................................

98

36. Hasil analisis regresi SPSS faktor-faktor yang mempengaruhi
permintaan konsumen dengan menggunakan metode Linear
Berganda ..........................................................................................

100

37. Skor penilaian terhadap pertanyaan tingkat kepentingan atribut
Kecap Manis ....................................................................................

101

38. Skor penilaian terhadap pertanyaan tingkat kepuasan atribut
Kecap Manis ....................................................................................

104

39. Skor penilaian terhadap pertanyaan tingkat kinerja atribut
Kecap Manis ...................................................................................

107

40. Skor penilaian terhadap pertanyaan tingkat kepentingan atribut
Kecap Manis merek ABC ................................................................

110

41. Skor penilaian terhadap pertanyaan tingkat kinerja atribut Kecap
Manis merek ABC ...........................................................................

111

42. Skor penilaian terhadap pertanyaan tingkat kepentingan atribut
Kecap Manis merek Bango ..............................................................

112

43. Skor penilaian terhadap pertanyaan tingkat kinerja atribut Kecap
Manis merek Bango .........................................................................

114

44. Uji validitas dan reliabilitas tingkat kepentingan atribut kecap
manis ................................................................................................

116

45. Uji validitas dan reliabilitas tingkat kepuasan atribut kecap
manis ................................................................................................

117

46. Uji validitas dan reliabilitas tingkat kinerja atribut kecap manis .....

118

47. Variabel yang mempengaruhi kepuasan konsumen kecap manis ....

119

48. Hasil analisis regresi logistik faktor-faktor yang mempengaruhi
kepuasan konsumen .........................................................................

121

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Penurunan kurva permintaan ……………………………….

12

2. Kerangka pemikiran permintaan dan kepuasan konsumen rumah
tangga dalam mengkonsumsi kecap manis di Bandar Lampung….

31

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebutuhan manuasia akan pangan merupakan hal yang sangat mendasar
karena berpengaruh terhadap eksistensi dan ketahanan hidup setiap manusia,
baik dipandang dari segi kualitas dan kuantitasnya. Mengingat kadar
kepentingan yang demikian tinggi, pada dasarnya pangan merupakan salah
satu kebutuhan dasar manusia yang sepenuhnya menjadi hak azasi setiap
rakyat Indonesia. Akan tetapi pada kenyataannya, hanya sebagian
masyarakat yang berasal dari keluarga mampu yang dapat memenuhi
kebutuhan pangan yang melebihi kebutuhan, sedangkan bagi keluarga yang
tidak mampu pada masa-masa tertentu sering mengalami kurang pangan.

Permasalahan akan gizi merupakan masalah yang ada di setiap negara, baik
negara berkembang maupun negara maju. Untuk negara berkembang,
cenderung yang ada adalah masalah gizi kurang, yang akhirnya berhubungan
dengan penyakit infeksi. Pada negara maju kecenderung masalah gizi yang
ada adalah gizi lebih (Soekirman, 2000). Indonesia yang termasuk dalam
salah satu negara berkembang menghadapi permasalahan gizi ganda, karena
perubahan gaya hidup dan pola makan yang terjadi di masyarakat.

2

Pada dasarnya permasalahan gizi kurang disebabkan oleh kemiskinan,
persediaan pangan yang kurang, baiknya kualitas lingkungan yang kurang,
serta pengetahuan masyarakat tentang gizi masih kurang. Masalah gizi lebih
disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu yang
disertai dengan kurangnya pengetahuan tentang gizi (Azrul,2004).

Industri pangan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin berperan penting
dalam pembangunan industri nasional sekaligus dalam perekonomian
keseluruhan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya industri yang telah
berkembang dalam hal mengolah bahan baku yang berasal dari sektor
pertanian, salah satunya adalah industri kecap yang menggunakan bahan
dasar kedelai.

Kedelai merupakan salah satu macam makanan dari kelompok biji-bijian
yang banyak mengandung gizi yang berguna bagi tubuh. Kedelai merupakan
sumber protein dan lemak nabati yang sangat penting peranannya dalam
kehidupan. Zat-zat gizi yang terkandung dalam kedelai adalah energi, air,
protein, lemak, serat kasar dan karbohidrat. Komposisi zat-zat gizi yang
terkandung dalam kedelai dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi zat-zat gizi yang terkandung dalam 100 gram kedelai
Bahan

Energi
(kal)

Kadar air
(%)

Protein
(%)

Lemak
(%)

Serat kasar
(%)

Karbohidrat
(%)

Kedelai
biji hitam

385

12,3

33,3

15,6

4,3

35,4

Kedelai
biji kuning

400

10,2

35,1

17,7

4,2

32,0

Sumber : Ginting, 2010

3

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa kedelai mempunyai komposisi zat gizi yang
sangat diperlukan dalam tubuh. Kandungan gizi kedelai biji hitam dan biji
kuning tidak jauh berbeda. Kandungan tertinggi yang terkandung dalam
kedelai adalah protein dan karbohidrat. Kandungan protein dalam kedelai
sangat tinggi berkisar antara 33,3 % hingga 35,1 % dan kandungan
karbohidratnya berkisar antara 32 % hingga 35,4 % dalam takaran 100 gram.
Zat-zat gizi yang terkandung dalam kedelai tersebut sangat bermanfaat
sebagai zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.

Kedelai dapat diolah menjadi berbagai macam makanan seperti tempe, tahu,
oncom, kecap dan susu. Menurut Sediaoetama (1988), sebelum dikonsumsi,
sebagian besar bahan makanan diolah dahulu di dapur, sehingga menjadi
hidangan yang bercita rasa lezat. Salah satu produk olahan kedelai yang
mempunyai aroma dan cita rasa yang khas serta dapat dijadikan bahan
pelengkap dalam pola konsumsi masyarakat sehari-hari adalah kecap.

Industri kecap adalah salah satu industri pangan yang cukup pesat
perkembangannya di Indonesia. Kecap merupakan salah satu bahan makanan
yang banyak digunakan oleh masyarakat karena mengandung protein,
vitamin, dan mineral. Selain itu, kecap juga berfungsi sebagai penyedap
makanan dan sebagian masyarakat menjadikan kecap sebagai bagian dari
menu makanan harian, karena dapat memberikan rasa dan aroma yang khas
pada makanan atau masakan.

4

Kecap merupakan salah satu produk yang dapat dikonsumsi oleh semua
kalangan masyarakat, baik menengah ke bawah, hingga menengah ke atas.
Selain harganya murah, kecap juga memiliki kandungan gizi yang sangat
diperlukan oleh tubuh. Oleh karena itu, permintaan kecap terbilang cukup
besar, karena industri yang mengolah kecap di Indonesia memproduksi
mencapai 81.709.271 liter pada tahun 2010 (BPS, 2011). Hal tersebut
menunjukan bahwa tingkat konsumsi kecap di Indonesia cukup tinggi.

Pemahaman terhadap permintaan konsumen merupakan cara yang dilakukan
untuk mengetahui adanya masalah yang berkaitan dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan konsumen terhadap suatu produk, misalkan kecap.
Permintaan kecap dapat dipengaruhi oleh harga kecap itu sendiri, harga
barang lain, jumlah anggota keluarga, jumlah pendapatan dan pendidikan
konsumen. Kecap yang dipilih dalam penelitian ini adalah kecap manis.
Penetapan kecap manis sebagai produk yang diteliti karena kecap manis
merupakan kecap yang paling banyak dikonsumsi oleh kalangan rumah
tangga dibandingkan dengan kecap asin.

Dalam era globalisasi, perkembangan industri kecap yang cukup pesat
mengakibatkan adanya persaingan yang semakin ketat antar masing-masing
merek, guna merebut pasar. Produsen kecap manis berlomba untuk
memenuhi keinginan dari para konsumen. Tersedianya berbagai merek kecap
manis yang ditawarkan oleh produsen di pasaran dengan citra rasa, kemasan,
ukuran dan harga yang bervariasi, bertujuan agar masyarakat dapat memilih
produk kecap manis yang sesuai dengan selera dan keinginan dari konsumen.

5

Merek dari kecap manis yang paling diminati untuk dikonsumsi oleh
konsumen rumah tangga di Bandar Lampung adalah merek Bango, ABC,
Indofood, Sedaap dan Hoki (Dewi, 2013). Dengan adanya persaingan antara
industri kecap tersebut, maka setiap industri perlu mengetahui tingkat
kepuasan konsumen terhadap produknya.

Tingkat kepuasan konsumen sangat bergantung pada kualitas dan mutu suatu
produk tersebut, apabila kualitas produk yang ditawarkan oleh produsen
melebihi atau sama yang diharapkan oleh konsumen maka akan terjadi
kepuasan konsumen. Namun apabila kualitas yang ditawarkan produsen
dibawah harapan konsumen maka konsumen akan merasa tidak puas.
Dengan adanya kepuasan dari konsumen maka dapat menyebabkan
konsumen akan melakukan pembelian ulang (Supranto, 2006).

Bandar Lampung merupakan sentra kegiatan pemerintahan dan perekonomian
di Provinsi Lampung. Jumlah penduduk Kota Bandar Lampung pada tahun
2012 mencapai 1.251.642 jiwa (13,18% dari jumlah keseluruhan penduduk
Provinsi Lampung sebesar 9.541.492 jiwa) (BPS, 2012). Bandar Lampung
merupakan kota dengan jumlah penduduk terbesar di Provinsi Lampung.
Jumlah penduduk yang tinggi ini dapat menjadi pertimbangan bahwa terdapat
banyak rumah tangga yang mengonsumsi kecap di kota Bandar Lampung.

Bandar Lampung sebagai sentra kegiatan perekonomian memiliki berbagai
aksesibilitas dan sarana prasarana yang baik. Adanya aksesibilitas,
pertumbuhan penduduk , peningkatan penghasilan dan kesadaran penduduk
terhadap pemenuhan gizi diperkirakan akan berpengaruh positif terhadap

6

peningkatan konsumsi masyarakat terhadap kecap karena kecap merupakan
bahan pelengkap menu hidangan serta memiliki kandungan gizi yang
dibutuhkan oleh tubuh.

Kecap merupakan salah salah produk yang hampir ditemui di setiap rumah
karena kecap digunakan ibu rumah tangga sebagai salah satu pelengkap
masakan dan mengolah hidangan makanan yang biasa disajikan sehari hari di
rumah. Kecap memberikan tampilan dan aroma yang khas serta rasa manis
terhadap masakan. Hal tersebut dijadikan alasan mengapa ibu rumah tangga
menggunakan kecap dalam hidangan mereka. Ibu rumah tangga dalam
mendapatkan kecap sangat mudah, kecap tersedia dalam banyak kemasan dari
yang sachet hingga botol yang berukuran besar, sehingga hal tersebut
memudahkan konsumen dalam membeli sesuai dengan kebutuhannya.

Berdasarkan uraian sebelumnya, penelitian ini akan mengkaji tentang
permintaan kecap dan kepuasan konsumen rumah tangga terhadap kecap di
Kota Bandar Lampung. Masalah penelitian dapat diidentifikasi adalah :
1) bagaimanakah permintaan kecap tingkat rumah tangga serta faktor apa
saja yang mempengaruhi permintaan kecap di Bandar Lampung?
2) bagaimanakah tingkat kepuasan konsumen rumah tangga dalam
mengkonsumsi kecap dan faktor faktor apa saja yang mempengaruhi
kepuasan konsumen dalam mengkonsumsi kecap di Bandar Lampung?

7

B. Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan untuk :
1) mengetahui permintaan kecap dan faktor apa saja yang mempengaruhi
permintaan kecap tingkat rumah tangga di Bandar Lampung.
2) mengetahui tingkat kepuasan dan faktor faktor apa saja yang
mempengaruhi kepuasan konsumen dalam mengkonsumsi kecap di
Bandar Lampung

C. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
1)

pelaku usaha, hasil penelitian diharapkan berperan sebagai bahan
masukan dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan sehingga
dapat meningkatkan kinerja dan usaha sehingga tetap dapat bersaing
dalam rangka memperluas pangsa pasar

2) pemerintah dan instansi terkait, sebagai bahan pertimbangan dalam
merumuskan kebijakan untuk mengembangkan industri kecap manis
dalam negeri.
3) peneliti lain, sebagai informasi dan bahan referensi dalam melakukan
penelitian lain yang sejenis.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

A. Tinjauan Pustaka

1. Kecap

Kecap merupakan cairan coklat gelap yang mengandung protein yang
dibutuhkan oleh tubuh, kecap dihasilkan melalui hasil fermentasi atau dengan
cara kimia (hidrolisis) kacang kedelai. Kecap adalah cairan yang berwarna
coklat gelap, dibuat dari fermentasi kacang kedelai yang mempunyai aroma
khas dan rasa asin yang biasa ditambahkan sebagai penyedap masakan
(Winarno, 1986). Kecap memiliki rasa yang khas dan sangat disukai oleh
berbagai kalangan masyarakat, oleh karena itu kecap cepat dikenal di
berbagai negara, terutama di negara belahan timur dengan berbagai nama dan
modifikasi dari segi penampilan dan komposisinya. Industri kecap terbesar
berada di negara Jepang tepatnya dikota Kikkoman, dengan jenis kecap yang
dihasilkan adalah shoru dan tamari (Achmadi, 1989).

Kecap memiliki bermacam kandungan gizi yang diperlukan oleh tubuh
karena kecap merupakan sumber protein yang mengandung asam amino
esensial yang cukup tinggi. Kecap juga selain sumber protein, kecap juga

9

mengandung zat gizi lain, seperti lemak, serat, dan vitamin yang jumlahnya
lebih rendah dibandingkan protein (Santoso dan Ranti, 1994).
Kecap di Indonesia dibuat dari kedelai hitam yang memberi citarasa dan
aroma yang lebih baik dibandingkan dengan kecap yang dibuat dari kedelai
kuning. Selain itu warna kecap yang dibuat dari kedelai hitam lebih mantap
sehingga lebih disukai oleh konsumen. Kecap dapat dibuat dengan tiga cara
berbeda, yaitu proses fermentasi, hidrolisa asam, atau kombinasi keduanya.
Dari ketiga proses tersebut, kecap yang dihasilkan melalui proses fermentasi
memiliki citarasa dan aroma yang lebih baik dari pada kedua proses lainnya.
Hal ini menyebabkan produk kecap melalui proses hidrolisis jarang
ditemukan.

Pembuatan kecap secara fermentasi pada prinsipnya memecah protein, lemak,
dan karbohidrat oleh aktivitas enzim dari kapang, ragi (khamir) dan bakteri,
menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana, yang menentukan cita rasa,
aroma dan komposisi kecap. Pembuatan kecap secara hidrolisis pada
dasarnya adalah pemecahan protein dengan menggunakan asam sehingga
menghasilkan peptida-peptida dan asam-asam amino. Pembuatan kecap
secara kombinasi merupakan gabungan kedua cara di atas, mula-mula
sebagian protein dihidrolisis dengan asam, kemudian dilanjutkan dengan
fermentasi (Santoso, 2005).

Penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2013) tentang pengambilan keputusan
rumah tangga untuk mengkonsumsi kecap manis. Kajian mengenai atributatribut kecap manis yang disukai dianalisis dengan konjoin sedangkan faktor

10

faktor yang mempengaruhi permintaan dianalisis dengan fungsi Cob Douglas.
Faktor –faktor yang mempengaruhi permintaan yaitu harga kecap, harga gula
pasir, harga gula merah, harga saus, merek, iklan dan lingkungan. Hasil
penelitian yaitu atribut kecap manis yang paling disukai responden adalah
warna, rasa, ukuran dan yang terakhir adalah kemasan. Sebagian besar
konsumen rumah tangga memiliki merek kecap Bango yang paling disukai.

2. Perilaku Konsumen

Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1994), perilaku konsumen adalah
suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang secara langsung di mana
konsumen tersebut terlibat untuk mendapatkan, mengkonsumsi, dan
menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului
dan mengikuti tindakan tersebut.

Konsumen sering diartikan sebagai dua jenis konsumen yaitu konsumen
individu atau konsumen organanisasi atau kelompok. Konsumen individu
membeli barang dan jasa yang bertujuan untuk digunakan sendiri. Jenis yang
ke dua adalah konsumen organisasi yang meliputi organisasi bisnis, yayasan,
lembaga sosial, kantor pemerintah, dan lembaga lainnya (sekolah, perguruan
tinggi dan rumah sakit). Semua jenis organisasi ini harus membeli produk
peralatan dan jasa-jasa lainnya untuk menjalankan seluruh kegiatan organisasi
(Sumarwan, 2004). Perilaku konsumen bersifat dinamis yang berarti bahwa
perilaku konsumen, group konsumen, ataupun masyarakat luas selalu berubah
dan bergerak sepanjang waktu. Dalam hal studi perilaku konsumen, salah

11

satu implikasi perilaku konsumen adalah bahwa generalisasi perilaku
konsumen biasanya terbatas untuk jangka waktu tertentu, produk, dan
individu atau grup tertentu (Setiadi, 2003).

3. Teori Permintaan

Menurut Daniel (2001) permintaan adalah keinginan konsumen membeli
suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode tertentu. Teori
permintaan menerangkan tentang ciri hubungan antara jumlah permintaan dan
harga. Dalam menganalisa permintaan perlu dibedakan antara permintaan
dan jumlah barang yang diminta merupakan banyaknya permintaan pada
tingkat harga tertentu. Hubungan antara jumlah permintaan dan harga ini
menimbulkan adanya hukum permintaan. Hukum permintaan pada
hakekatnya merupkan suatu hipotesis yang menyatakan bahwa semakin
rendah harga suatu barang maka semakin banyak permintaan atas barang
tersebut, begitupun sebaliknya. Menurut Sukirno (2003), hukum permintaan
pada hakekatnya merupakan suatu hipotesis yang menyatakan: “semakin
rendah harga suatu barang, maka semakin banyak permintaan terhadap
barang tersebut”. Hal tersebut dapat dilihat pada kurva permintaan Gambar 1.

12

XB

6

A

Price-Consumption Curve

5

U1

4

D
B

U3
U2

0

4

12

20

(a)

XA

PXA
Rp 20.000

E
Demand Curve

G

Rp 10.000
Rp 5.000

H

0

4

12

20

(b)

XA

Gambar 1. Penurunan kurva permintaan

Menurut Pindyck (2009) Gambar 1 menunjukkan ketika konsumsi makanan
(XA) dan pakaian (XB) berubah karena harga makanan berubah. Seseorang
akan mengalokasikan pendapatannya untuk dua jenis barang. Pada awalnya
ketika harga makanan adalah Rp 10.000, harga pakaian Rp 20.000, dan
pendapatan konsumen sebesar Rp 200.000, pilihan konsumsi yang paling

13

banyak kegunaannya adalah di titik B. Konsumen membeli 12 unit makanan
dan 4 unit pakaian. Pencapaian tingkat kepuasan yang saling berkaitan
dengan kurva indiferen U2.

Pada Gambar (1b), menunjukkan hubungan antara harga makanan (PXA) dan
jumlah permintaan (XA). Sumbu X mengukur jumlah makanan yang
dikonsumsi, tetapi sumbu Y mengukur harga makanan. Titik G sama dengan
titik B. Pada titik G, harga makanan adalah Rp 10.000 dan konsumen
membeli 12 unit makanan.

Diperkirakan harga makanan naik menjadi Rp 20.000. Garis anggaran pada
Gambar (1a) bergeser masuk menuju sumbu Y, menjadi 2 kali sama tinggi
dengan sebelumnya. Harga makanan yang relatif lebih tinggi meningkatkan
kemiringan garis anggaran. Sekarang konsumen mencapai kepuasan
maksimum pada titik A, yang mana ditemukan pada kurva indiferen paling
rendah, U1 (karena harga makanan naik, kemampuan pembelian konsumen
dan kepuasan yang dapat dicapai telah menurun). Pada titik A, konsumen
memilih 4 unit makanan dan 6 unit pakaian. Pada Gambar (1b), konsumen
mengurangi konsumsinya yang ditunjukkan pada titik E, ketika pada harga
Rp 20.000 konsumen akan mengonsumsi 4 unit makanan. Jika harga
makanan turun hingga Rp 5000 maka garis anggaran sekarang bergeser ke
kanan, konsumen dapat mencapai tingkat kepuasannya yang lebih tinggi
dengan kurva indiferen U3 pada Gambar (1a), dengan pemilihan D, dengan
20 unit makanan dan 5 unit pakaian. Poin H pada Gambar (1b) menunjukkan
harga Rp 5000 dan jumlah permintaan 20 unit makanan.

14

Menurut Hanafie (2010), kurva permintaan bergerak turun dari kiri atas ke
kanan bawah (menurut kebiasaan internasional, harga P diukur pada sumbu
tegak dan jumlah Q diukur pada sumbu horizontal). Kurva permintaan pasar
diperoleh dari penjumlahan berbagai jumlah barang yang mau dibeli oleh
sekian banyak konsumen pada masyarakat dengan harga tertentu.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan

Permintaan seseorang atau suatu masyarakat terhadap suatu produk di pasaran
ditentukan oleh banyak faktor. Menurut Rahardja dan Manurung (2004)
terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi permintaan suatu barang,
yaitu:
a. Harga Barang Itu Sendiri
Permintaan suatu barang dipengaruhi oleh harga barang itu sendiri
karena jika harga suatu barang murah, maka permintaan konsumen
terhadap barang tersebut akan mengalami kenaikan. Begitu pula
sebaliknya, jika harga suatu barang semakin tinggi, maka permintaan
konsumen terhadap barang tersebut akan mengalami penurunan. Hal
tersebut sesuai dengan hukum permintaan yang menyatakan “Bila harga
suatu barang naik, cateris paribus, maka jumlah barang yang diminta
akan berkurang, dan sebaliknya”.
b. Harga Barang Lain Yang Terkait
Permintaan suatu barang dapat dipengaruhi oleh harga barang lain, tetapi
kedua macam barang tersebut mempunyai keterkaitan. Keterkaitan dua

15

macam barang tersebut dapat bersifat substitusi (pengganti) dan bersifat
komplemen (pelengkap).
(1) Barang substitusi (pengganti), yaitu barang yang menggantikan
barang lainnya, jika barang tersebut dapat menggantikan fungsinya.
Harga barang pengganti dapat mempengaruhi permintaan barang
yang dapat digantikannya. Sekiranya harga barang pengganti
bertambah murah, maka barang yang digantikannya akan
mengalami pengurangan dalam permintaan.
(2) Barang komplementer (pelengkap), yaitu barang yang dikonsumsi
bersama-sama atau berpasangan. Kenaikan atau penurunan
permintaan barang pelengkap selalu sejalan dengan perubahan
permintaan barang yang dilengkapinya. Jika permintaan barang
yang dilengkapi naik, maka permintaan barang pelengkap juga
naik.
c. Pendapatan
Tingkat pendapatan dapat mencerminkan daya beli dari seorang
konsumen. Makin tinggi pendapatan konsumen, maka daya beli makin
kuat, sehingga permintaan terhadap suatu barang akan mengalami
peningkatan.
d. Selera atau Kebiasaan Konsumen
Selera atau kebiasaan konsumen juga dapat mempengaruhi permintaan
suatu barang. Selera konsumen dapat disebabkan oleh perubahan umur,
perubahan pendapatan, perubahan lingkungan, dan sebagainya.

16

e. Jumlah Penduduk
Permintaan suatu barang berhubungan positif dengan jumlah penduduk.
Semakin banyak jumlah penduduk, maka kebutuhan akan bertambah,
sehingga permintaan terhadap barang akan meningkat.
f. Perkiraan Harga di Masa Mendatang
Bila seorang konsumen memperkirakan bahwa harga suatu barang akan
mengalami kenaikan di masa mendatang, maka konsumen akan merasa
sebaiknya membeli barang tersebut sekarang di saat harganya belum
mengalami kenaikan. Hal tersebut mendorong seorang konsumen untuk
membeli barang tersebut lebih banyak saat ini guna menghemat belanja
di masa mendatang.
g. Distribusi Pendapatan
Jika distribusi pendapatan buruk, berarti daya beli konsumen akan
melemah, sehingga permintaan akan suatu barang menurun.
h. Usaha-Usaha Produsen Meningkatkan Penjualan
Dalam perekonomian yang modern, bujukan para penjual untuk
membeli barang besar sekali peranannya dalam mempengaruhi
masyarakat, misalkan iklan, memungkinkan masyarakat untuk mengenal
suatu barang baru atau menimbulkan permintaan terhadap barang
tersebut. Untuk barang barang yang sudah lama, pengiklanan akan
mengingatkan orang tentang adanya barang tersebut dan menarik minat
untuk membeli.

17

5. Teori Elastisitas

Elastisitas permintaan mengukur perubahan relatif dalam jumlah unit barang
yang dibeli sebagai akibat perubahan salah satu faktor yang mempengaruhi
(Cateris paribus). Elastisitas yang dikaitkan dengan harga barang itu sendiri
disebut elastisitas harga (Price elasticity of demand), sedangkan elastisitas
yang dikaitkan dengan harga barang lain disebut elastisitas silang (croos
elasticity) dan bila dikaitkan dengan pendapatan disebut elastisitas
pendapatan (income elasticity) (Rahardja dan Manurung, 2004).
a. Elastisitas Harga Permintaan
Menurut Arsyad (2000) elastisitas harga adalah elastisitas yang
menunjukkan derajat kepekaan jumlah produk yang diminta terhadap
perubahan harga, cateris paribus. Dengan menggunakan rumus,
elastisitas harga bisa diperoleh dengan cara :
………………………….(1)
Angka elastisitas harga permintaan bernilai negatif. Semakin besar
nilai negatifnya, semakin besar elastis permintaannya, sebab perubahan
permintaan jauh lebih besar dibandingkan perubahan harganya.
b. Elastisitas Silang
Elastisitas silang (Ec) mengukur presentase perubahan permintaan suatu
barang sebagai akibat perubahan harga barang lain sebesar satu persen.

(2)

18

Menurut Arsyad (2000) elastisitas silang untuk barang-barang yang
subtitutif adalah positif (Ec>0), karena harga suatu barang dan
permintaan akan barang lainnya bergerak dengan arah yang sama,
sedangkan elastisitas silang untuk barang-barang yang komplementer
adalah negarif (Ec < 0 ), karena harga dan kuantitas bergerak dengan
arah yang berlawanan. Akhirnya, elastisitas silang sama dengan nol
untuk barang-barang yang tidak berhubungan, artinya perubahan harga
suatu barang tidak mempunyai pengaruh terhadap permintaan akan
barang lainnya.

c. Elastisitas Pendapatan
Elastisitas pendapatan (Ei) mengukur presentase perubah permintaan
suatu barang bila pendapatan berubah sebesar satu persen.

……………....(3)

Menurut Asyad (2000) umumnya nilai Ei positif, karena kenaikan
pendapatan akan meningkatkan permintaan. Semakin besar nilai Ei,
maka elastisitas pendapatan semakin besar. Barang dengan Ei > 0
merupakan barang normal (normal goods), dan bila nilai Ei antara 0
sampai 1, maka barang tersebut merupakan kebutuhan pokok (essential
goods). Barang dengan nilai Ei > 1 merupakan barang mewah (luxurius
goods). Ada barang dengan Ei < 0. Permintaan terhadap barang
tersebut justru menurun pada saat pendapatan nyata meningkat. Barang
tersebut disebut barang inferior (inferior good).

19

Pengukuran elastisitas permintaan kecap dinyatakan dalam ukuran koefisien
elastisitas permintaan. Koefisien permintaan merupakan ukuran
perbandingan persentase perubahan harga atas barang tersebut (Sukirno,
2003). Koefisien elastisitas permintaan dapat dirumuskan sebagai :

a. Permintaan Elastis
Permintaan elastis terjadi bila persentase perubah permintaan lebih besar
dari persentase perubah harga. Permintaan elastisitas ditunjukan dengan
koefisien (Ed) yang besarnya lebih dari satu (Ed >1). Barang yang sifat
permintaannya elastis adalah barang barang sekunder dan tersier (mewah)
serta barang yang memiliki subtitusi atau pengganti.

b. Permintaan inelastis
Permintaan inelastic terjadi apabila persentase perubahan permintaan lebih
kecil dari persentase perubah harga. Permintaan inelastic ditujukkan
dengan koefisien yang besarnya kurang dari satu (Ed < 1). Barang yang
mempunyai sifat permintaan inelastic adalah barang kebutuhan pokok,
misalnya beras dan jagung.

c. Permintaan Uniter
Permintaan uniter terjadi bila persentase perubahan permintaan sama
dengan persentase perubahan harga. Permintaan uniter ditunjukkan
dengan koefisien (Ed) yang besarnya sana dengan satu (Ed =1).
Permintaan ini terjadi pada berbagai macam barang pada saat tertentu
secara kebetulan.

20

d. Permintaan Elastis Sempurna
Permintaan ini terjadi bila persentase perubahan permintaan sebesar X
persen tetapi persentase perubahan harga sebesar nol persen (tidak ada
perubahan). Dengan kata lain, walaupun harga tidak berubah, permintaan
mengalami perubahan sebesar X persen. Permintaan ini ditunjukkan
dengan koefisien (Ed) yang sebesar tak terhingga. Contoh barang yang
bersifat permintaannya elastis sempurna adalah bahan bakar minyak,
seperti bensin dan minyak tanah.

e. Permintaan Inelastis Sempurna
Permintaan inelastic sempurna terjadi bila persentase perubahan
permintaan sebesar nol persen sedangkan persentase perubahan harga
sebesar X persen. Dengan kata lain, walaupun harga berubah X persen,
permintaan tetap tidak berubah (0%). Permintaan ini ditunjukkan dengan
koefisien elastisitas permintaan (Ed) yang besarnya sama dengan nol
(Ed=0). Barang yang sifat permintaan inelastic sempurna adalah barang
yang harganya murah dan relative tidak penting, seperti ketumbar dan
merica.

6. Kepuasan

Kepuasan adalah respon akan terpenuhinya ekspektasi dari seorang
konsumen. Hal tersebut adalah suatu pertimbangan bahwa fitur dari suatu
produk atau jasa yang ditawarkan memberikan sebuah tingkat kenikmatan
dan terpenuhinya ekspetasi dari seorang konsumen (Oliver, 1997). Menurut
Rangkuti (2003), kepuasan konsumen adalah suatu respon konsumen

21

terhadap ketidaksesuaian antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja
aktual yang dirasakan setelah pemakaian. Zeitaml dan Bitner (1996)
mengemukakan bahwa kepuasan konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor
berikut :
a.

Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan sangat bergantung pada tiga hal, yaitu system,
teknologi, dan manusia. Perusahaan yang bergerak dibidang jasa sangat
bergantung pada kualitas yang diberikan.

b.

Kualitas Produk
Konsumen merasa puas jika setelah membeli dan menggunkan produk,
ternyata kualitas produknya baik. Kualitas barang yang diberikan
bersama-sama dengan pelayanan akan mempengaruhi persepsi
konsumen. Ada delapan elemen dari kualitas produk, yakni kinerja, fitur,
reliabilitas, daya tahan, pelayanan, estetika, sesuai dengan spesifikasi,
dan kualitas penerimaan.

c.

Harga
Pembeli biasanya memandang harga sebagai indicator dari kualitas suatu
produk. Konsumen menggunakan harga sebagai dasar menduga kualitas
produk. Maka konsumen cenderung berasumsi bahwa harga yang lebih
tinggi mewakili kualitas yang tinggi.

22

d.

Faktor Situasi dan Personal
Faktor situasi atau lingkungan dan pribadi, mempengaruhi tingkat
kepuasan seseorang terhadap barang atau jasa yang dikonsumsinya.
Faktor situasi seperti kondisi dan pengalaman akan menuntut konsumen
untuk datang kepada suatu penyedia barang aau jasa, hal ini akan
mempengaruhi harapan terhadap arang atau jasa yang dikonsumsinya.
Efek yang sama terjadi karena pengaruh faktor personal seperti emosi
konsumen.

Kepuasan konsumen adalah hasil yang dirasakan oleh seorang konsumen
yang mengalami kinerja dari sebuah perusahaan yang sesuai dengan harapan
dari konsumen. Kepuasan dari seorang konsumen tercapai ketika harapan
mereka terpenuhi, dan mereka sangat gembira jika harapan mereka
terlampaui. Kepuasan konsumen muncul dari hati konsumen dengan
perasaan senang atau kecewa terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan
harapannya. Jika kinerja berada memenuhi harapan maka pelanggan puas
tetapi ketika kinerja berada di bawah harapan, maka konsumen merasa tidak
puas terhadap kinerja atau hasil dari suatu produk tersebut (Kotler, 2005).

Menurut Supranto (2006) dalam melakukan pengukuran tingkat kepuasan
konsumen dapat menggunakan metode Customer Satisfaction index (CSI).
Customer Satisfaction index adalah metode pengukuran untuk menentukan
tingkat kepuasan konsumen secara menyeluruh dengan mempertimbangkan
tingkat kepentingan dari atribut-atribut kualitas pelayanan jasa yang diukur.
Hasil dari pengukuran CSI dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan

23

sasaran terhadap peningkatan pelayanan kepada pelanggan. Metode
pengukuran CSI ini meliputi beberapa tahap, yaitu:
a.

Menghitung weighting factor (WF), yaitu mengubah nilai rata-rata
kepentingan menjadi angka persentase dari total rata-rata tingkat
kepentingan seluruh atribut yang diuji, sehingga didapatkan total WF
sebesar 100%.

b.

Menghitung weighting score (WS), yaitu nilai perkalian antara nilai
rata-rata tingkat kinerja (kepuasan) masing-masing atribut dengan WF
masing masing atribut.

c.

Menghitung weighting total (WT), yaitu menjumlahkan WS dari semua
atribut kualitas jasa.

d.

Menghitung satisfaction index, yaitu WT dibagi skala maksimal yang
digunakan (dalam penelitian ini skala maksimal adalah 5), kemudian
dikali 100%.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen dalam menentukan
kepuasan konsumen ada lima faktor yang harus diperhatikan oleh perusahaan
(Lupyoadi, 2001) yaitu :
a.

Kualitas produk
Pelanggan akan merasa puas bila sesuai dengan keinginann pelanggan,
hal tersebut menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan
berkualitas.

b.

Kualitas pelayanan atau jasa
Pelanggan akan merasa puas bila mereka mendapatkan pelayanan yang
baik atau sesuai dengan yang diharapkan.

24

c.

Emosi
Pelanggan akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa
orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk dengan
merek tertentu. Kepuasan yang diperoleh bukan karena kualitas dari
produk tetapi aspek sosial yang membuat pelanggan merasa puas
terhadap merek tertentu.

d.

Harga
Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga
yang relatif murah akan memberikan nilai kepuasan yang lebih tinggi
kepada pelanggan.

e.

Biaya
Pelanggan yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak
perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa
cenderung akan lebih puas terhadap produk atau jasa tersebut.

7. Kajian Penelitian Terdahulu

Peneliti terdahulu yang meneliti tentang permintaan dan kepuasan terhadap
pembelian produk makanan dan minuman antara lain dijelaskan dalam
Tabel 2

25

Tabel 2. Ringkasan penelitian terdahulu tentang permintaan dan kepuasan
konsumen
Nama Peneliti
Leko (2012)

Judul
Analisis
permintaan produk
susu bubuk balita
pada konsumen
rumah tangga di
Kecamatan Loli
Kabupaten Sumba
Barat

Darnilawati
(2009)

Analisis
permintaan
konsumen
terhadap minyak
makan di Kota
Pekanbaru

Ayuningtyas
(2009)

Analisis sikap dan
kepuasan
konsumen teh
hijau siap minum
merek Nu Green
Tea di Jakarta

Novian (2009)

Analisis proses
keputusan
pembelian dan
kepuasan
konsumen
terhadap Mid East
Cafe Lounge and
Sisha, Bogor

Metode
Analisis regresi
liner berganda

Kesimpulan
Faktor faktor yang
mempengaruhi
permintaan susu
bubuk balita adalah
pendapatan
keluarga, harga
susu dan jumlah
anak balita dalam
keluarga.
Analisis regresi
Permintaan minyak
liner berganda
makan di Kota
Pekan Baru
dipengaruhi oleh
faktor pendapatan,
jumlah anggota
keluarga dan harga.
Variabel yang
paling nyata
mempengaruhi
permintaan adalah
jumlah anggota
keluarga.
Metode analisis
Pada penelitian ini
Importance
diperoleh nilai total
Performance
sikap yang paling
analysis (IPA).
baik adalah teh
hijau siap minum
merek Nu Green
Tea yaitu sebesar
19,02 kemudian di
ikuti dengan merek
Frestea Green
sebesar 32,97,
Zeatea sebesar
48,48 dan Joy Tea
sebesar 54,88.
Metode analisis
atribut yang perlu
Importance
ditingkatkan
Performance
kembali dalam
analysis (IPA).dan jangka pendek
Customer
adalah atributsatisfaction Index atribut pada
(CSI).
kuadran satu yang
meliputi ukuran
atau porsi,
keramahan dan
kesopanan dan
paket promosi dapat

26

Tabel 2. Lanjutan
Nama Peneliti

Judul

Metode

Kesimpulan

menaikkan tingkat
kepuasan
konsumen untuk
mencapai angka
80 persen yang
berarti kepuasan.
Dewi, (2013)

Pengambilan
keputusan rumah
tangga dalam
mengkonsumsi
kecap manis di
kota bandar
lampung

Yulita, (2013)

Tingkat kepuasan
dan loyalitas
konsumen produk
susu cair dalam
kemasan KPBS di
Bandung.

Bangun, (2013)

Analisis
permintaan
semangka merah
tanpa biji di pasar
tradisional di
Bandar Lampung.

Analisis Konjoin,
Analisis Fungsi
Cobb Douglas.

Atribut kecap manis
yang paling disukai
responden adalah
warna, rasa, ukuran
dan yang terakhir
adalah kemasan.

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23