ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA

ABSTRAK

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA MAHASISWA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
DI SMA

Oleh:
Murniati

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bentuk-bentuk dan faktor penyebab
alih kode dan campur kode pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia dan implikasinya pada pembelajaran bahasa Indonesia di
SMA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi alih kode yaitu alih kode intern dan
alih kode ekstern. Alih kode intern berlangsung antarbahasa yakni dari bahasa
Indonesia ke bahasa Jawa, bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, dan dari bahasa
Indonesia ke bahasa Lampung dan antarragam yakni dari ragam resmi ke ragam
usaha, ragam usaha ke ragam resmi, ragam usaha ke ragam santai, ragam akrab ke
ragam santai, dan ragam santai ke akrab. Alih kode ekstern berlangsung dari
bahasa Arab ke bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia ke bahasa Arab. Faktor
penyebab alih kode adalah penutur memperoleh keuntungan dari tindakannya,
mitra tutur terlebih dahulu beralih kode, mitra tutur kurang bersikap baik,
perubahan situasi formal ke informal dan informal ke formal, dan berubahnya
topik pembicaraan. Selain itu, terjadi peristiwa campur kode dalam bentuk kata,
frasa, baster, dan klausa. Campur kode berwujud kata terdiri atas nomina,
adverbia, verba, pronomina, interjeksi, dan adjektiva. Campur kode berwujud
frasa terdiri atas frasa verba, frasa nomina, frasa fatis, frasa adverbia, frasa
preposisi, dan frasa pronomina. Campur kode berwujud baster dari bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris. Campur kode berwujud klausa terdiri atas klausa
lengkap dan tak lengkap. Faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode
adalah latar belakang sikap penutur dan kebahasaan. Latar belakang sikap penutur
terdiri atas penutur memperhalus ungkapan, penutur menunjukkan kemampuan

dalam berbahasa, dan penutur memperoleh hasil yang dikehendaki. Kebahasaan
meliputi lebih mudah diingat, memperoleh hasil yang dikehendaki, keterbatasan
kata, dan tidak menimbulkan kehomoniman. Hasil penelitian tersebut dapat
dijadikan sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Indonesia di SMA yaitu
menulis naskah drama.

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA MAHASISWA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
DI SMA

Oleh
MURNIATI

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2015

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Serdang, Tanjung Bintang pada 4 Oktober 1993. Penulis
merupakan anak pertama dari empat bersaudara, buah hati dari Bapak Ngadiman
dan Ibu Rominah.

Penulis memulai pendidikan formal pada tahun 1999 di SD Negeri 2 Serdang,
Tanjung Bintang selama 1 tahun, saat kelas 2 penulis melanjutkan di SD Negeri
13 Kelapa, Bangka Barat yang diselesaikan pada tahun 2005. Penulis melanjutkan
pendidikan di SMP Panca Karya dan selesai pada tahun 2008 dan pada tahun yang
sama melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang kemudian,
tergabung ke dalam Palang Merah Remaja (PMR) dan lulus tahun 2011.

Di tahun yang sama, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, melalui jalur
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Sejak tahun 2011
penulis melibatkan diri dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Seni (HMJPBS) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas
(BEM F).

PERSEMBAHAN

Dengan segala ketulusan dan kerendahan hati, penulis persembahkan karya kecil
ini untuk orang-orang tercinta.
1. Kedua orang tuaku bapak Ngadiman dan ibu Rominah yang telah
melahirkan, membesarkan serta mencurahkan seluruh cinta dan hidupnya
untuk kebahagiaanku.
2. Adik-adikku Alfian, Satya Ramaditya, dan Zhaky Alfarizi terima kasih
atas kasih sayang, doa, dan keceriaan yang diberikan.
3. Almarhum nenekku Jauyah yang telah memberikanku motivasi serta doa
tulusnya.
Almamater Universitas Lampung yang telah mendewasakanku.

MOTO

Dengan menyebut Nama Allah yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang
“1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? 2. dan Kami telah
menghilangkan daripadamu bebanmu, 3. yang memberatkan punggungmu? 4. dan
Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, 5. karena Sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan. 6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan. 7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, 8. dan hanya kepada Tuhanmulah
hendaknya kamu berharap.”
(Quran Surat Alam Nasrah: 1-8)

Moto penulis dalam surat Alam Nasrah terletak pada ayat 6-8 yaitu sesungguhnya
sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari
sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan
hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Ayat tersebut telah
memotivasi penulis dalam mengerjakan sesuatu janganlah berputus asa sebab di
balik kesulitan pasti ada kemudahan. Jika kesulitan telah terselesaikan maka
bersungguh-sungguhlah dalam menjalaninya dan hanya kepada Allah kamu
berserah diri.

SANWACANA

Assalamualaikum Warrahmatullahiwabarakatu.
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga
tetap tercurah kepada Muhammad SAW. Penulis banyak menerima bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih setulus-tulusnya kepada:
1. Dr. Wini Tarmini, M. Hum., sebagai pembimbing I yang telah membimbing,
membantu, mengarahkan, dan memberi nasihat kepada penulis sampai proses
proposal selesai.
2. Dr. Munaris, M. Pd., sebagai pembimbing I yang telah banyak membantu,
membimbing, penuh kesabaran, mengarahkan, dan memberikan saran
kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
3. Dr. Farida, Ariyani M. Pd., sebagai pembimbing II yang juga telah
membimbing dan mengarahkan serta memberikan saran yang sangat
bermanfaat bagi penulis;
4. Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M. Pd., sebagai penguji yang telah memberikan
nasihat, arahan, saran, dan motivasi kepada penulis;
5. Drs. Iqbal Hilal, M. Pd., sebagai pembimbing akademik yang senantiasa
memberikan dukungan, memberikan pengarahan, nasihat dan saran-saran.

6. Drs. Kahfie Nazaruddin, M. Pd., sebagai Ketua Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia.
7. Dr. Mulyanto Widodo, M. Pd., sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa
dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung;
8. Dr. Bujang Rahman, M. Si., sebagai Dekan FKIP Universitas Lampung,
beserta stafnya;
9. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat.
10. Kedua orang tuaku bapak Ngadiman dan ibu Rominah atas segala bentuk
cintanya kepada ananda yang selalu memberikan doa, motivasi, bantuan
moril serta material, semoga Allah selalu melimpahkan ramhat-Nya kepada
keluarga kita.
11. Kepada keluarga bapak Suparno dan Maryati yang telah banyak membantu
semoga Allah membalas semuanya dengan sebaik-baik balasan.
12. Sahabat-sahabatku Kakap’s (Ervina Meria Sari Pohan, Lisda Syary, Septi
Husnul Khotima, Tika Febi Astuti, Yesie Lia Dirwanti, dan Yulia Kartika
Sari) yang selama ini telah menjadi saudaraku ketika sulit mendera,
memberi

motivasi,

dukungan,

mengingatkan

ketika

salah,

saling

mendoakan, saling menghibur di setiap kesedihan, dan saling melengkapi,
semoga persahabatan dan kasih sayang kita akan kekal selamanya;
13. Teman-teman Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
angkatan 2011 terima kasih atas persahabatan, doa serta kebersamaan yang
telah teman-teman berikan;

14. Teman-teman seperjuangan KKN/PPL di SMP Negeri 2 Sumberejo (Desy
Rahmawati, Dewi Khoirun Nisa, Henitya Pertiwi, Ibnu Arifin, Indri Julianti
Afnil, Lita Afrisia, Marina Sari, Rahman Marlingga, dan Yulina
Suhardiyanti).

Bandarlampung, Agustus 2015
Penulis

Murniati

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL ..................................................................................
ABSTRAK .....................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN ...........................................................................
RIWAYAT HIDUP .......................................................................................
MOTTO .........................................................................................................
PERSEMBAHAN ..........................................................................................
SANWACANA ..............................................................................................
DAFTAR ISI ..................................................................................................

i
ii
iv
ix
x
xi
xii
xiv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................
1.2 Rumusan Masalah .....................................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................................
1.5 Ruang Lingkup Penelitian .........................................................................

1
9
9
10
10

BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Variasi Bahasa ...........................................................................................
2.2 Kedwibahasaan dan Dwibahasawan .........................................................
2.3 Diglosia .....................................................................................................
2.4 Alih Kode ..................................................................................................
2.4.1 Bentuk-Bentuk Alih Kode ..............................................................
2.4.2 Sebab-Sebab Alih Kode ..................................................................
2.5 Campur Kode ............................................................................................
2.5.1 Bentuk-Bentuk Campur Kode ........................................................
2.5.2 Sebab-Sebab Campur Kode ............................................................
2.6 Konteks ....................................................................................................
2.6.1 Unsur-Unsur Konteks .....................................................................
2.6.2 Peranan Konteks dalam Komunikasi ..............................................
2.7 Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA ..................................................
2.7.1 Fungsi, Tujuan, dan Manfaat Pembuatan Bahan Ajar ....................
2.7.2 Analisis Kebutuhan Bahan Ajar ......................................................

12
14
16
22
25
27
29
31
35
36
37
39
40
42
46

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian ....................................................................................... 49
3.2 Data dan Sumber Data .............................................................................. 50

3.3 Teknik Pengumpulan ................................................................................ 51
3.4 Teknik Analisis Data ................................................................................. 52
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Alih Kode ..................................................................................................
4.1.1 Bentuk-Bentuk Alih Kode ...............................................................
4.1.2 Faktor Penyebab Terjadinya Alih Kode...........................................
4.2 Campur Kode ............................................................................................
4.2.1 Bentuk-Bentuk Campur Kode .........................................................
4.2.2 Faktor Penyebab Terjadinya Campur Kode ....................................
4.3 Implikasi Alih Kode dan Campur Kode pada Pembelajaran Bahasa
Indonesia di SMA .....................................................................................

57
57
63
78
78
92
98

BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ................................................................................................... 103
5.2 Saran .......................................................................................................... 104
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 105
DAFTAR KAMUS ........................................................................................ 107
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan
manusia bermasyarakat. Bahasa berfungsi sebagai alat untuk berinteraksi atau alat
untuk berkomunikasi. Bahasa diartikan sebagai alat untuk menyampaikan pikiran,
gagasan, konsep, atau juga perasaan. Bahasa tidak dapat lepas dari kehidupan kita
sehari-hari. Manusia selalu melakukan kegiatan setiap hari dan untuk menunjang
kegiatan tersebut dibutuhkan sebuah komunikasi yang nantinya akan menghasilkan sebuah keuntungan bersama. Bahasa merupakan alat paling efektif dalam
penyampaian pesan. Ketika ingin menyampaikan pesan, seseorang mengemasnya
dalam sebuah bahasa. Bahasa seseorang mempengaruhi sikap orang tersebut.
Dalam hal ini, bahasa memiliki peran penting dalam masyarakat.

Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman baik suku,
budaya, dan bahasa. Di Indonesia, terdapat tiga macam bahasa yaitu bahasa
nasional, bahasa daerah, dan bahasa asing. Ketiga bahasa tersebut memiliki
kedudukan dan fungsinya masing-masing. Bahasa Indonesia berkedudukan
sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Kedudukannya dimulai sejak diikrar-

2

kannya Sumpah Pemuda pada tangggal 28 Oktober 1928, sedangkan sebagai
bahasa negara tercantum dalam UUD 1945, Bab XV, pasal 36.

Sebagian besar penduduk Indonesia, bahasa daerah merupakan bahasa ibu atau
bahasa pertama yang dikuasai sejak mereka mengenal bahasa atau mulai berbicara. Mereka menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi atau berinteraksi antarsuku baik dalam situasi resmi atau tidak resmi (kedaerahan). Ada
juga penduduk Indonesia yang menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa kedua
dan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertamanya. Mereka menggunakan kedua
bahasa tersebut secara bergantian sesuai dengan situasi dan kondisi. Kemampuan
dalam menguasai lebih dari satu bahasa disebut billigual atau kedwibahasaan.
Masyarakat yang dapat menggunakan dua bahasa atau lebih disebut masyarakat
billigual. Penggunaan dari dua bahasa tersebut dapat menyebabkan masalah terjadinya alih kode dan campur kode.

Alih kode adalah peristiwa peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain
(Suwito, 1983: 86). Jadi, apabila seorang penutur mula-mula menggunakan
bahasa Indonesia kemudian beralih menggunakan bahasa Jawa maka peristiwa
peralihan pemakaian bahasa seperti itu disebut alih kode (code switching).
Peristiwa alih kode tidak hanya berlangsung antar bahasa saja tetapi juga antar
ragam, varian, dan register. Aspek lain dari saling ketergantungan bahasa dalam
masyarakat multilingual ialah terjadinya gejala campur kode (code maxing).
Campur kode, menurut Chaer dan Agustina (2010: 116) adalah percampuran
serpihan kata, frasa, dan klausa suatu bahasa di dalam bahasa lain yang di-

3

gunakan. Peristiwa ini terjadi saat penutur sedang menggunakan bahasa tertentu
tetapi, di dalamnya terdapat serpihan-serpihan dari bahasa lain.

Penggunaan alih kode dan campur kode dalam keseharian biasanya terjadi pada
situasi yang tidak formal, seperti dalam percakapan sehari-hari. Namun, tidak
menutup kemungkinkan pula dalam situasi yang formal terjadi alih kode dan
campur kode. Dosen yang menyisipkan bahasa daerah ketika mengajar, maka
dinamakan campur kode. Sedangkan alih kode dalam mengajar bisa juga terjadi
ketika dosen mengajar bahasa asing yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai
pengantarnya.

Penelitian mengenai alih kode dan campur kode sudah pernah dilakukan oleh
beberapa peneliti sebelumnya. Penelitian yang disusun oleh Sugiyarti dengan
judul Alih Kode dan Campur Kode dalam Proses Belajar Mengajar di Kelas 1
SDN I Argomulyo Kecamatan Sumberejo Tanggamus Tahun Pelajaran
2011/2012. Penelitian ini membuktikan bahwa terjadi alih kode yang dilakukan
guru meliputi alih kode eksternal dan alih kode internal. Faktor penyebab alih
kode internal di antaranya penutur menjelaskan maksud, penutur emosi, mitra
tutur beralih kode, mitra tutur tidak paham, dan berubahnya topik pembicaraan.
Alih kode yang dilakukan siswa berupa alih kode eksternal. Faktor penyebab alih
kode ini adalah penutur tidak paham, mitra tutur beralih kode, dan berubahnya
topik pembicaraan. Campur kode yang dilakukan guru meliputi: penyisipan unsurunsur berwujud kata, frasa, klausa, dan perulangan. Faktornya adalah latar
belakang sikap penutur dan faktor kebahasaan. Campur kode yang dilakukan

4

siswa meliputi: penyisipan unsur-unsur berwujud kata, frasa, dan perulangan.
Faktornya adalah faktor kebahasaan.

Penelitian selanjutnya yaitu Alih Kode dan Campur Kode dalam Novel Kembang
Jepun Karya Remy Sylado dan Implikasinya dalam Pembelajaran Bahasa
Indonesia di SMA yang disusun oleh Nurdewi Safitri. Dengan hasil penelitian,
alih kode eksternal dengan bahasa Belanda dan penyebabnya karena pengaruh
lawan tutur. Campur kode berwujud kata dalam bahasa Jawa dengan faktor
kebahasaan sebagai faktor penyebabnya. Ima Susanti dengan judul Alih Kode dan
Campur Kode dalam Film Laskar Pelangi Karya Monty Tiwa dan Implikasinya
pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Penelitian tersebut membuktikan
terjadi alih kode berupa alih kode internal bahasa Indonesia ke bahasa daerah
dengan penyebab pengaruh dari penutur dan bahasa Jawa dan alih kode eksternal
bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Campur kode berlangsung dalam delapan
bahasa dengan faktor penyebab latar belakang sikap penutur.

Peneliti merasa penting meneliti alih kode dan campur kode karena fenomena
kebahasaan yang dapat mempermudah dalam berkomunikasi. Dalam penelitian
ini, data yang diambil berupa percakapan mahasiswa karena dinilai lebih alami dibandingkan dalam novel ataupun film. Karena novel ataupun film menggunakan
naskah dalam berkomunikasi sehingga mereka mengikuti setiap kata yang ada
pada naskah tersebut. Jadi, pembicaraan dalam novel ataupun film telah
direkayasa sehingga akan menghasilkan data yang tidak alami. Sedangkan pada
mahasiswa tidak menggunakan naskah dalam berkomunikasi. Mereka berbicara

5

secara spontanitas dan apa adanya sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu.
Dengan demikian, pembicaraan tersebut dapat menghasilkan data yang alami dan
tidak direkayasa.

Penulis memilih Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia karena
penulis sendiri menempuh pendidikan Perguruan Tinggi pada Program Studi
tersebut. Selain itu, Program Studi ini juga sangat diminati oleh masyarakat. Hal
tersebut dapat dilihat pada jumlah penerimaan mahasiswa baru yang setiap tahunnya bertambah. Penulis meneliti mahasiswa sebagai sasaran penelitian karena
diharapkan mahasiswa memiliki kompetensi keterampilan berbahasa Indonesia
yang baik dan benar sesuai dengan konteknya. Namun, pada kenyataannya tidak
semua mahasiswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan buruknya kemampuan berbahasa Indonesia sebagian besar mahasiswa.
Buruknya kemampuan berbahasa tersebut dipengaruhi oleh beberapa sikap diantaranya sikap mental, tidak menghargai, tidak disiplin, tidak bertanggung
jawab, dan ikut-ikutan.

Sikap mental tercermin dalam perilaku mahasiswa yang menganggap bahasa
Indonesia sebagai bahasa sendiri yang secara alami dapat dikuasai tanpa harus dipelajari. Kenyataannya, sebagian besar mahasiswa menguasai bahasa Indonesia
sebagai bahasa kedua bukan bahasa pertama sedangkan untuk menguasai kedua
bahasa tersebut perlu belajar dari lingkungan dan orang lain. Jadi, keinginan untuk
menggunakan bahasa dengan baik dan benar harus disertai dengan keinginan
untuk belajar. Sikap tidak menghargai tercermin dalam perilaku berbahasa
mahasiswa yang ingin menghargai orang asing dengan mereka menggunakan

6

bahasa asing dan menomorduakan bahasa sendiri. Hal tersebut dapat dilihat pada
mahasiswa yang sering menggunakan istilah asing daripada menggunakan istilah
sendiri (bahasa Indonesia). Sikap tidak disiplin tercermin dalam perilaku berbahasa mahasiswa yang tidak mau atau malas mengikuti aturan atau kaidah
bahasa. Kesalahan tersebut dapat dilihat pada struktur kalimat yang tidak sesuai
dengan kaidah bahasa. Sikap tidak bertanggung jawab tercermin dalam perilaku
berbahasa mahasiswa yang tidak mau memperhatikan penalaran bahasa yang
benar terkait dengan kebenaran isi kalimat. Sifat ikut-ikutan tercermin dalam
perilaku mahasiswa yang selalu mengikuti saja ucapan orang lain yang sebenarnya secara gramatikal tidak benar. Sikap-sikap negatif tersebut telah melekat pada
sebagian besar mahasiswa yang mengakibatkan mereka tidak mampu menerapkan
bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa yang berinteraksi secara verbal terkadang dalam berbicara kurang
memperhatikan norma-norma yang ada. Hal ini tampak jelas terjadi dalam
aktivitas keseharian pada saat penelitian. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk
mengakrabkan dan menghangatkan suasana serta dapat menunjukkan identitas
sosial mahasiswa tersebut. Namun, di sisi lain penggunaan bahasa tersebut dapat
menimbulkan kekhawatiran persepsi generasi muda terhadap bahasa. Fenomena
kebahasaan yang terjadi pada mahasiswa saat ini adalah ketika mereka berbicara
dengan menggunakan bahasa tertentu maka dapat menimbulkan rasa kagum dari
pendengarnya dan dapat menunjukkan tingkat intelektualnya. Mereka beranggapan bahwa fenomena tersebut dapat memudahkan untuk mengekspresikan

7

perasaan, gagasan, kemauannya dengan cara yang benar-benar diterima secara
sosial.

Peristiwa campur kode pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia dapat dilihat di bawah ini.
Peristiwa Tutur 4
S : Waktu siang hari di depan ruang E5.
P : Ervina, Ichan, Murni, dan Yulia.
E : Seminar proposal Ichan.
A : Pemberitahuan.
K : Santai.
I : Bertatap muka.
N : Sopan.
G : Tidak resmi.
Ervina : Iya bareng gua, lo proposal.
Ichan : He’eh.. Kuwe hasil? Iyo tetep.
Ervina : Iya (sambil tertawa)
Peristiwa tutur di atas merupakan peristiwa campur kode berwujud kata. Hal
tersebut ditandai dengan adanya penyisipan unsur-unsur dari bahasa Jawa, yakni
kata kuwe. Kata kuwe dalam bahasa Jawa memiliki arti kamu. Dalam bahasa
Indonesia kata kuwe merupakan kata ganti persona kedua. Jadi, campur kode
tersebut adalah campur kode berwujud kata dari bahasa Jawa yakni kata kuwe.

Saat bersama dengan teman-temannya Ichan secara tidak sengaja menyisipkan
kata dari bahasa Jawa. Hal tersebut dilakukan Ichan karena Ervina ingin mengajaknya seminar bersama dan ia pun menyetujui ajakan Ervina. Ajakan tersebut
dimaksudkan Ervina agar Ichan segera seminar proposal dan ia seminar hasil.
Jadi, penyebab terjadinya campur kode tersebut karena latar belakang sikap
penutur ingin memperoleh hasil dari tindakannya.

8

Sementara itu, pembelajaran di sekolah di pihak lain penulis mengimplikasikan
hasil penelitian ke dalam bahan ajar. Hal ini juga dipertegas dengan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yakni dengan SK (Standar Kompetensi) dan
KD (Kompetensi Dasar) yang terdapat dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia
SMA kelas XI semester 2 (dua). Dalam bahan ajar tersebut penulis merasakan
bahwa alih kode dan campur kode yang penulis teliti memiliki kaitan teoritis yang
dapat dijadikan referensi oleh guru sehingga dapat memperlancar kegiatan pembelajaran pada siswa di SMA.

Berdasarkan latar belakang inilah peneliti merasa perlu melakukan penelitian
tentang alih kode dan campur kode. Dengan demikian, judul penelitian ini adalah
“Alih Kode dan Campur Kode pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia dan Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa Indonesia di
SMA”.

9

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah yang akan
diteliti dalam penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagaimanakah bentuk-bentuk alih kode pada mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia?
2. Faktor apa sajakah yang menyebabkan terjadinya alih kode pada mahasiswa
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia?
3. Bagaimanakah bentuk-bentuk campur kode pada mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia?
4. Faktor apa sajakah yang menyebabkan terjadinya campur kode pada
mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia?
5. Bagaimanakah implikasinya dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan bentuk-bentuk alih kode pada mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
2. Mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya alih kode pada mahasiswa
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
3. Mendeskripsikan bentuk-bentuk campur kode pada mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
4. Mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya campur kode pada mahasiswa
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

10

5. Mendeskripsikan implikasinya dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA.

1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoretis dan
paktis sebagai berikut.
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian di bidang
sosiolinguistik dan memberi masukan bagi pengembang kajian alih kode dan
campur yang berhubungan dengan percakapan yang dilakukan mahasiswa
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan gambaran bagi
pembaca tentang alih kode dan campur kode yang terjadi dalam percakapan
mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hasil
penelitian ini dapat memberi masukan khususnya bagi para guru SMA mengenai
pengaruh alih kode dan campur kode dalam penggunaan bahasa Indonesia yang
baik dan benar.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah bentuk-bentuk alih kode yang meliputi alih
kode intern dan alih kode ekstern. Adapun faktor penyebab terjadinya alih kode
yakni penutur, lawan tutur, perubahan situasi karena kehadiran orang ketiga,

11

perubahan situasi dari formal ke informal atau sebaliknya, dan berubahnya topik
pembicaraan. Selain itu, bentuk-bentuk campur kode meliputi campur kode berwujud kata, campur kode berwujud frasa, campur kode berwujud baster, campur
kode berwujud perulangan kata, campur kode berwujud ungkapan atau idiom, dan
campur kode berwujud klausa. Faktor penyebab terjadinya campur kode yakni
latar belakang sikap penutur dan kebahasaan. Hasil penelitian ini dijadikan bahan
ajar pembelajaran bahasa Indonesia di SMA.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Variasi Bahasa
Kridalaksana (2008: 24) mendeskripsikan bahasa sebagai berikut: 1) sistem
lambang bunyi yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk
bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri, 2) variasi bahasa, 3) tipe
bahasa, dan 4) alat komunikasi verbal. Chaer dan Agustina (2010: 62) dalam
variasi bahasa ini, terdapat dua pandangan. Pertama, variasi atau ragam bahasa
dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa dan keragaman
bahasa itu. Kedua, variasi atau ragam bahasa itu sudah ada untuk memenuhi
fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam.
Variasi bahasa dibedakan menjadi empat yaitu variasi bahasa dari segi penutur,
pemakaian, keformalan, dan sarana.

Variasi bahasa dari segi penutur adalah variasi bahasa yang bersifat individu dan
variasi bahasa dari sekelompok individu yang jumlahnya relatif yang berada pada
satu tempat wilayah atau area. Variasi bahasa ini terdiri dari (1) idiolek adalah
variasi bahasa yang bersifat individu atau perseorangan yang berkenaan dengan
warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya, (2)
dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif,
yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu, (3) kronolek adalah

13

variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu, dan (4)
sosiolek adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas
sosial para penuturnya (Chaer dan Agustina, 2010: 62-64).

Aslinda dan Syafyahya (2010: 19) menyatakan bahwa variasi bahasa dari segi
penggunaannya, pemakaiannya, atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam, atau
register. Variasi bahasa ini berhubungan dengan bidang pemakaian. Contohnya
dalam kehidupan sehari-hari, ada variasi di bidang militer, sastra, jurnalistik, dan
kegiatan ilmu lainnya. Namun, perbedaannya terdapat pada kosakatanya. Setiap
bidang akan memiliki sejumlah kosakata khusus yang tidak akan ada dalam
kosakata bidang ilmu lainnya.

Aslinda dan Syafyahya (2010: 19-20) membedakan variasi bahasa berdasarkan
keformalan atas lima bagian, yaitu: 1) gaya atau ragam baku (frozen) digunakan
dalam keadaan resmi atau khidmat. Ragam ini disebut sebagai ragam baku karena
pola dan kaidahnya sudah ditetapkan secara tetap dan tidak dapat diubah, 2) gaya
atau ragam resmi (formal) digunakan dalam buku-buku pelajaran, rapat dinas, dan
surat menyurat. Ragam ini digunakan pada situasi resmi, 3) gaya atau ragam
usaha (konsultatif) digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah atau rapatrapat. Ragam ini berada di antara ragam bahasa formal dan ragam bahasa santai,
4) gaya atau ragam santai (casual) digunakan dalam situasi santai. Ragam ini
sering digunakan pada situasi tidak resmi untuk berbicara dengan keluarga dan
teman-teman, dan 5) gaya atau ragam akrab (intimate) digunakan antara teman
yang sudah akrab, karib, dan keluarga. Ciri ragam ini adalah banyaknya

14

pemakaian kode bahasa yang bersifat pribadi, tersendiri, dan relatif tetap dalam
kelompoknya.

Variasi dari segi sarana dilihat dari sarana yang digunakan. Berdasarkan sarana
yang digunakan, ragam bahasa terdiri atas dua bagian, yaitu ragam bahasa lisan
dan ragam bahasa tulisan. Ragam bahasa lisan disampaikan secara lisan dan
dibantu oleh unsur-unsur suprasegmental, sedangkan ragam bahasa tulis unsur
suprasegmental tidak ada. Namun, unsur tersebut dituliskan dengan simbol dan
tanda baca (Aslinda dan Syafyahya, 2010: 21).

Negara Indonesia memiliki banyak suku bangsa, seperti Jawa, Lampung, Sunda,
Melayu, Batak, Semende, dan lainnya. Latar belakang suku yang berbeda
membuat masyarakat mampu berbicara setidaknya dalam dua bahasa. Mereka
dapat menggunakan bahasa daerah (bahasa ibu) dan bahasa Indonesia (bahasa
nasional). Saat ini, pengaruh globalisasi dan budaya asing menyebabkan banyak
sekali orang yang mampu berkomunikasi dengan bahasa asing. Penguasaan
beberapa bahasa mendorong orang-orang menggunakannya dalam situasi dan
tujuan tertentu. Oleh karena itu, fenomena alih kode dan campur kode tidak dapat
dihindari.

2.2 Kedwibahasaan dan Dwibahasawan
Masyarakat Indonesia umumnya dapat menggunakan lebih dari dua bahasa.
Mereka menguasai bahasa daerah sebagai bahasa pertama dan bahasa Indonesia

15

sebagai bahasa kedua ataupun sebaliknya dan menggunakannya dalam kehidupan
sehari-hari.

Kridalaksana (2008: 36) menjelaskan bahwa kedwibahasaan (bilingualism) adalah
penggunaan dua bahasa atau lebih oleh seseorang atau oleh suatu masyarakat.
Selain itu, Weinreich (dalam Chaer dan Agustina, 2010: 23) kedwibahasaan
adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian (the
pratice of alternately using two languages). Senada dengan Weinreich, Fasold
(dalam Aslinda dan Syafyahya, 2010: 24) menyatakan bahwa kedwibahasaan
merupakan kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih oleh seseorang.

Kridalaksana (2008: 36), dwibahasawan (bilingual) adalah 1) mampu atau biasa
memakai dua bahasa, 2) bersangkutan dengan atau mengandung dua bahasa
(tentang orang, masyarakat, naskah, kamus, dsb). Di samping itu, Tarigan (2009:
3) orang yang dapat berbicara dalam dua bahasa disebut dwibahasawan.
Sedangkan, Chaer dan Agustina (2010: 84) menyatakan bahwa dwibahasawan
diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian. Jadi, dwibahasawan (bilingual) adalah
kemampuan atau kesanggupan seseorang untuk menggunakan dua bahasa atau
lebih.

Masyarakat yang multibahasa muncul karena masyarakat tutur tersebut memunyai
atau menguasai lebih dari satu variasi bahasa yang berbeda-beda sehingga mereka
dapat menggunakan pilihan bahasa tersebut dalam kegiatan berkomunikasi.

16

Kegiatan ini terjadi pula dalam lingkungan pendidikan di perguruan tinggi
sehingga mereka yang terlibat di dalamnya disebut dwibahasawan.

2.3 Diglosia
Istilah diglosia pertama kali diperkenalkan dan digunakan oleh Ferguson sekitar
tahun 1958. Semula istilah tersebut diambil dari situasi kebahasaan dalam bahasa
Prancis yang disebut dengan diglossie. Dalam perkembangannya penggunaan
istilah tersebut kemudian semakin meluas di kalangan para sosiolinguis.

Persoalan-persoalan yang menyangkut diglosia adalah persoalan dialek yang
terdapat dalam masyarakat tutur, misalnya dalam suatu bahasa terdapat dua variasi
bahasa yang masing-masing ragamnya mempunyai peranan dan fungsi tertentu.
Penggunaan ragam-ragam variasi tersebut bergantung kepada situasi.
Untuk mengetahui diglosia lebih lanjut, perlu dikemukakan pandangan beberapa
ahli tentang diglosia tersebut di antaranya Ferguson, Fishman, dan Fasold.
Ferguson (dalam Chaer dan Agustina, 2010: 92) memberikan batasan diglosia
seperti di bawah ini.
Diglosia is a relatively stable language, in which in addition to the primary
dialects of the language, which may include a standard or regional standard,
there is a very divergent, higly codified, often gramatically more complex,
superposed variety, the vehicle of the large and respected body or written
literature, either of an eearlier period or in another speech community,
which is learned largely by formal education and is used for most written
and formal spoken purpose but is not used by any sector of the community
for ordinary conversion “Diglosia adalah suatu situasi bahasa yang relatif
stabil di mana, selain dari dialek-dialek utama suatu bahasa (yang mungkin
mencakup satu bahasa baku atau bahasa-bahasa baku regional), ada ragam
bahasa yang sangat berbeda, sangat terkodifikasikan (sering kali secara
gramatik lebih kompleks) dan lebih tinggi, sebagai wahana dalam
keseluruhan kesusasteraan tertulis yang luas dan dihormati, baik pada kurun

17

waktu terdahulu maupun pada masyarakat ujaran lain, yang banyak
dipelajari lewat pendidikan formal dan banyak dipergunakan dalam tujuantujuan tertulis dan ujaran resmi, tapi tidak dipakai oleh bagian masyarakat
apa pun dalam pembicaraan-pembicaraan biasa” (Chaer dan Agustina. 2010:
92).
Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu
masyarakat di mana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu. Dari definisi yang
diberikan Ferguson tentang diglosia dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
1) diglosia adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil, di mana selain
terdapat sejumlah dialek-dialek utama (lebih tepat: ragam-ragam utama) dari
satu bahasa, terdapat juga sebuah ragam lain.
2) dialek-dialek utama itu, di antaranya, bisa berupa sebuah dialek standar, atau
sebuah standar regional.
3) ragam lain (yang bukan dialek-dialek utama) itu memiliki ciri:
a. sudah (sangat) terkodifikasi,
b. gramatikalnya lebih kompleks,
c. merupakan wahana kesusastraan tertulis yang sangat luas dan dihormati,
d. dipelajari melalui pendidikan formal,
e. digunakan terutama dalam bahasa tulis dan bahasa lisan formal,
f. tidak digunakan (oleh lapisan masyarakat manapun) untuk percakapan
sehari-hari.

Diglosia dijelaskan oleh Ferguson (Chaer dan Agustina, 2010: 93) dengan mengetengahkan sembilan topik, yaitu fungsi, prestise, warisan sastra, pemerolehan,
pembakuan, stabilitas, tata bahasa, kosa kata, dan fonologi.

18

1) Fungsi
Menurut Ferguson dalam masyarakat diglosis terdapat dua variasi dari satu
bahasa: variasi pertama disebut dialek tinggi (disingkat dialek T atau ragam T)
dan yang kedua disebut dialek rendah (disingkat dialek R atau ragam R). Fungsi T
digunakan hanya pada situasi resmi seperti di dalam pendidikan, sedangkan fungsi
R hanya pada situasi informal dan santai seperti dalam pembicaraan dengan teman
karib, dan sebagainya.

2) Prestise
Dalam masyarakat diglosik para penutur biasanya menganggap dialek T lebih
bergengsi, lebih superior, lebih terpandang, dan merupakan bahasa yang logis.
Dialek R dianggap inferior; bahkan keberadaannya cenderung dihilangkan.
Prestise adalah tingkat rasa bangga yang ditimbulkan oleh bahasa itu sendiri
padapenuturnya.

3) Warisan Kesusastraan
Warisan tradisi tulis-menulis mengacu pada banyaknya kepustakaan yang ditulis
dalam ragam tinggi. Kebiasaan tersebut saat ini merupakan kelanjutan dari tradisi
besar masa lalu.

4) Pemerolehan Bahasa
Ragam T diperoleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal, sedangkan
ragam R diperoleh melalui pergaulan dengan keluarga dan teman-teman pergaulan. Oleh karena itu, mereka yang tidak pernah memasuki dunia pendidikan
formal tidak akan mengenal ragam T sama sekali. Mereka yang mempelajari
ragam R hampir tidak pernah menguasainya dengan lancar, selancar penguasaan-

19

nya terhadap ragam T. Alasannya, ragam T tidak selalu digunakan, dan dalam
mempelajarinya selalu terkendali dengan berbagai kaidah dan aturan bahasa;
sedangkan ragam R digunakan secara regular dan terus-menerus di dalam pergaulan sehari-hari.

5) Pembakuan
Karena ragam T dipandang sebagai ragam yang bergengsi, maka tidak mengherankan kalau pembakuan dilakukan terhadap ragam T tersebut melalui
kodifikasi formal. Kamus, tata bahasa, petunjuk lafal, dan buku-buku kaidah
untuk penggunaan yang benar ditulis untuk ragam T. Sebaliknya, ragam R tidak
pernah diurus atau diperhatikan. Kalau pun ada biasanya dilakukan oleh peneliti
dari masyarakat lain dan ditulis dalam bahasa lain.

6) Stabilitas
Kestabilan dalam masyarakat diglosis biasanya telah berlangsung lama di mana
ada sebuah variasi bahasa yang dipertahankan eksistensinya dalam masyarakat itu.
Pertentangan atau perbedaan antara ragam T dan ragam R dalam masyarakat
diglosis selalu ditonjolkan karena adanya perkembangan dalam bentuk-bentuk
campuran yang memiliki ciri-ciri ragam T dan ragam R. Peminjaman leksikal
ragam T ke dalam ragam R bersifat biasa; tetapi penggunaan unsur leksikal ragam
R dalam ragam T kurang begitu biasa, sebab baru digunakan kalau sangat
terpaksa.

20

7) Tata Bahasa
Ferguson berpandangan bahwa ragam T dan ragam R dalam diglosia merupakan
bentuk-bentuk bahasa yang sama; tetapi, di dalam gramatika ternyata terdapat
perbedaan.

8) Kosa Kata
Sebagian besar kosakata pada ragam T dan ragam R adalah sama. Namun, ada
kosakata pada ragam T yang tidak ada pasangannya pada ragam R, atau sebaliknya, ada kosakata pada ragam R yang tidak ada pasangannya pada ragam T. Ciri
yang paling menonjol pada diglosia adalah adanya kosakata yang berpasangan,
satu untuk ragam T dan satu untuk R, yang biasanya untuk konsep-konsep yang
sangat umum.

9) Fonologi
Dalam bidang fonologi ada perbedaan struktur antara ragam T dan ragam R.
Ferguson menyatakan sistem bunyi ragam T dan ragam R sebenarnya merupakan
sistem tunggal. Namun, fonologi T merupakan sistem dasar, sedangkan fonologi
R, yang beragam-ragam, merupakan subsistem atau parasistem. Fonologi T lebih
dekat dengan bentuk umum yang mendasari dalam bahasa secara keseluruhan.
Fonologi R jauh dari bentuk-bentuk yang mendasar.

Konsep Ferguson mengenai diglosia, bahwa di dalam masyarakat ada pembedaan
ragam bahasa T dan R dengan fungsinya masing-masing dimodifikasi dan diperluas Fishman. Menurut Fishman (Chaer dan Agustina, 2010: 98) diglosia tidak
hanya berlaku pada adanya pembedaan ragam T dan ragam R pada bahasa yang

21

sama, melainkan juga berlaku pada bahasa yang sama sekali tidak serumpun, atau
pada dua bahasa yang berlainan. Jadi, yang menjadi tekanan bagi Fishman adalah
adanya pembedaan fungsi kedua bahasa atau variasi bahasa yang bersangkutan.

Fasold (Chaer dan Agustina, 2010: 98) mengembangkan konsep diglosia ini menjadi apa yang disebutkan broad diglosia (diglosia luas). Di dalam konsep broad
diglosia, perbedaan itu tidak hanya antara dua bahasa atau dua ragam atau dua
dialek secara biner, melainkan bisa lebih dari dua bahasa atau dua dialek itu.
Dengan demikian termasuk juga keadaan masyarakat yang di dalamnya ada diperbedakan tingkatan fungsi kebahasaan, sehingga muncullah apa yang disebut
Fasold diglosia ganda dalam bentuk yang disebut double overlapping diglosia,
double-nested diglosia, dan linear polyglosia.

Double overlapping diglosia adalah adanya situasi pembedaan derajat dan fungsi
bahasa secara berganda, sedangkan double-nested diglosia adalah dalam kemasyarakatan multilingual, yaitu terdapat dua bahasa yang diperbedakan: satu
sebagai bahasa T, dan yang lain sebagai bahasa R, tetapi baik bahasa T maupun
bahasa R itu masing-masing mempunyai ragam atau dialek yang masing-masing
juga diberi status masing-masing sebagai ragam T dan ragam R.

Untuk menjelaskan yang dimaksud dengan linear polyglosia Fasold (Caher dan
Agustina, 2010: 101) mengemukakan hasil penelitian Platt (1977) mengenai
situasi kebahasaan masyarakat Cina yang berbahasa Inggris di Malaysia dan
Singapura. Masyarakat Cina di kedua negara itu mempunyai verbal repertoire

22

yang terdiri atas bahasa Cina (yang antaranya dominan secara regional), bahasa
Melayu standar (bahasa Malaysia), dan bahasa Melayu bukan standar. Kalau kita
mengikuti pola yang terjadi di Khalapur, maka dapat kita lihat ada tiga pasangan
diglosia, yaitu (1) bahasa Cina yang dominan versus bahasa Cina yang tidak
dominan, (2) bahasa Ingris formal versus bahasa Inggris nonformal, dan (3)
bahasa Melayu standar versus bahasa Melayu nonstandar.

Dari pandangan ketiga ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa diglosia
merupakan suatu keadaan masyarakat yang menggunakan dua bahasa atau dua
ragam bahasa dari suatu bahasa yang masing-masing digunakan untuk fungsi atau
tujuan tertentu. Bagi masyarakat Bali, misalnya bahasa T (bahasa Indonesia)
antara lain digunakan jika berbicara dengan etnis lain, sedangkan bahasa R
(bahasa Bali) digunakan jika berbicara sesama etnis Bali. Bahasa Bali bentuk
hormat (sebagai bahasa T) digunakan jika orang Bali berbicara dengan orang yang
patut dihormati atau berbicara dalam situasi yang formal, sedangkan bahasa Bali
bentuk lepas hormat (sebagai bahasa R) digunakan jika orang Bali berbicara
dalam situasi nonformal/akrab.

2.4 Alih Kode
Sebelum membahas mengenai alih kode sebaiknya terlebih dahulu mengetahui
pengertian kode (code). Kridalaksana (2008: 127) mendeskripsikan kode (code)
sebagai berikut: 1) lambang atau sistem ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan makna tertentu. Bahasa manusia adalah sejenis kode; 2) sistem bahasa
dalam suatu masyarakat; dan 3) variasi tertentu dalam suatu bahasa. Sedangkan,

23

Pateda (2008: 83) menyatakan kode adalah berpindah bahasa. Perpindahan bahasa
tersebut terjadi ketika pemakai bahasa lain di atas bergabung dengan
kelompoknya.

Kridalaksana (2008: 9) mengemukakan alih kode (code switching) adalah penggunaan variasi bahasa lain atau bahasa lain dalam satu peristiwa bahasa sebagai
strategi untuk menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain, atau karena
adanya partisipan lain. Sedangkan, Appel (dalam Aslinda dan Syafyahya, 2010:
85), alih kode adalah gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubah situasi.
Berbeda dengan Apel maka Hymes (dalam Chaer dan Agustina, 2010: 107)
menyatakan bahwa alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa, melainkan juga
terjadi antara ragam-ragam bahasa dan gaya bahasa yang tedapat dalam satu
bahasa. Dengan demikian, alih kode itu merupakan gejala peralihan pemakaian
bahasa yang terjadi karena situasi dan terjadi antarbahasa serta antarragam dalam
satu bahasa.

Contoh peristiwa alih kode yang dikutip dari Chaer dan Agustina (2010: 106107), misalnya dua orang mahasiswa yang berbahasa ibu yang sama (bahasa
Sunda) bercakap-cakap dalam bahasa ibu mereka. Kemudian, masuklah seorang
mahasiswa yang berasal dari Tapanuli yang tidak dapat berbahasa Sunda dan turut
berbicara. Maka kedua mahasiswa itu beralih kode dengan menggunakan bahasa
Indonesia ragam santai.

Contoh lain peristiwa alih kode yang dikutip dari Aslinda dan Syafyahya (2010:
86), berupa pembicaraan ibu-ibu rumah tangga dapat dikemukan berikut ini.

24

Latar belakang : Kompleks perumahan Balimbiang Padang.
Para pembicara : Ibu-ibu rumah tangga. Ibu Las dan Ibu Leni orang
Minangkabau, Ibu Lin orang Sulawesi yang tidak biasa
berbahasa Indonesia.
Topik
: Listrik mati
Sebab ali kode : Kehadiran Ibu Lin dalam peristiwa tutur.
Peristiwa tutur :
Ibu Las : Ibu Len jam bara cako malam lampu iduik, awaklah lalok sajak
jam sambilan (Ibu Len pukul berapa lampu tadi malam hidup,
saya sudah tidur sejak pukul sembilan).
Ibu Leni : Samo awak tu, awaklah lalo pulo sajak sanjo, malah sajak pukua
salapan, awak sakik kapalon (sama kita itu, saya sudah tidur pula
sejak sore, malah semenjak pukul delapan karena saya sakit
kepala). Bagaimana dengan ibu Lin tahu pukul berapa lampu hidup
tadi malam? (pertanyaan diajukan kepada ibu Lin).
Ibu Lin : Tahu bu, kira-kira pukul sepuluh lebih. Contoh 1
Pada contoh 1, terjadi pada tuturan Ibu Leni berikut tuturannya, “jam bara cako
malam lampu iduik, awaklah lalok sajak jam sambilan”. Alih kode tersebut terjadi dari bahasa Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia yang berarti “Ibu Leni
pukul berapa lampu tadi malam hidup, saya sudah tidur sejak pukul sembilan”.
Selanjutnya, peristiwa alih kode pun terjadi pada mitra tuturnya yaitu Ibu Leni
berikut tuturannya “Samo awak tu, awaklah lalo pulo sajak sanjo, malah sajak
pukua salapan, awak sakik kapalon. Bagaimana dengan ibu Lin tahu pukul berapa
lampu hidup tadi malam? (pertanyaan diajukan kepada ibu Lin)” yang berarti
sama kita itu, saya sudah tidur pula sejak sore, malah semenjak pukul delapan
karena saya sakit kepala. Bagaimana dengan ibu Lin tahu pukul berapa lampu
hidup tadi malam? (pertanyaan diajukan kepada ibu Lin). Jadi, peristiwa yang
terjadi pada tuturan di atas merupakan alih kode.

Dalam percakapan tersebut, ibu-ibu rumah tangga memulai percakapannya
dengan bahasa daerah (bahasa Minangkabau) karena tempatnya di kompleks
perumahan Balimbiang Padang dan yang dibicarakannya mengenai listrik mati.

25

Jadi, mereka berada pada situasi tidak formal. Ketika ibu Las dan ibu Leni sedang
berbicara dengan menggunakan bahasa Minangkabau mereka kehadiran orang
ketiga yaitu ibu Lin yang tidak mengerti bahasa Minangkabau dan percakapan
tersebut beralih kode menjadi bahasa Indonesia. Jadi, faktor yang menyebabkan
alih kode tersebut adalah faktor kehadiran orang ketiga.

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa alih kode merupakan gejala
peralihan pemakaian bahasa karena perubahan peran dan situasi. Alih kode
menunjukan adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual dan
situasional yang relevan dalam pemakaian dua bahasa atau lebih.

2.4.1 Bentuk-Bentuk Alih Kode
Alih kode mungkin terjadi antar bahasa, antar varian (baik rasioanl maupun
sosial), antar register, antar ragam ataupun antar gaya. Hymes (dalam Suwito,
1983: 69) mengatakan bahwa alih kode adalah istilah umum untuk menyebut
pergantian (peralihan) pemakaian dua bahasa atau lebih, beberapa gaya dari satu
ragam. Apabila alih kode itu terjadi antar bahasa-bahasa daerah dalam satu bahasa
nasional, atau antara dialek-dialek dalam satu bahasa daerah, atau antar beberapa
ragam dan gaya yang terdapat dalam satu dialek, alih kode seperti disebut bersifat
intern. Sedangkan apabila yang terjadi adalah antara bahasa asli dengan bahasa
asing, maka disebut alih kode ekstern. Dalam peristiwa tutur tertentu mungkin
saja terjadi alih kode intern dan ekstren secara beruntun, apabila fungsi
kontekstual dan siatuasi relevansialnya dinilai oleh penutur cocok untuk
melakukannya.

26

Contoh alih kode intern yang dikutip dari Suwito (1983: 70) berikut ini.
Contoh 2
Sekretaris : Apakah Bapak sudah jadi membuat lampiran untuk surat ini?
Majikan : O ya sudah. Inilah.
Sekretaris : Terima kasih.
Majikan : Surat itu berisi permintaan borongan untuk memperbaiki kantor
sebelah. Saya sudah kenal dia. Orangnya baik, banyak relasi dan
tidak banyak untung. Lha saiki yen usahane pengin maju kudu
wani ngono.... (Sekarang ... jika usahanya ingin maju harus
berani bertindak demikian ....)
Sekretaris : Panci ngaten, Pak. (Memang begitu. Pak).
Majikan : Panci ngaten priye? (Memang begitu bagaimana?)
Sekretaris : Tegesipun, mbok modalipin agenga kados menapa, menawi ....
(Maksudnya, betapa pun besarnya modal kalau ....)
Majikan : ... menawa ora akeh hubungane lan olehe mbathi kakehan,
usahane ora bakal dadi. Ngono karepmu? (... kalau tidak banyak
hubungan dan terlalu banyak mengambil untung, usahanya tidak
akan jadi. Begitu maksudmu?)
Sekretaris : Lha inggih, ngaten! (Memang begitu bukan?)
Majikan : O ya. Apa surat untuk Jakarta kemrin sudah jadi dikirim?
Sekretaris : Sudah Pak. Bersama surat Pak Ridwan dengan kilat khusus.
Dialog sekretaris dan majikan pada contoh 2 menunjukkan terjadinya peristiwa
alih kode intern antara bahasa Indonesia deng

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2959 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 756 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 653 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 424 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 972 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 888 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 539 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 796 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 959 23