Perancangan Sistem Informasi Manajemen Persediaan Pakan Ternak di PT. Gold Coin

(1)

(2)

Cara Menghubungkan Visual Basic dengan MYSQL

1. Membuka Microsoft Visual Basic 6.0

2. Membuka Mysql di localhost


(3)

Tampilan dan Coding Program 1. Master Produk Jadi

Coding

Private Sub CmdEdit_Click() If CmdEdit.Caption = "Edit" Then CmdEdit.Caption = "save" Adodc1.Recordset.Update

Kode_Produkjadi.Locked = False Nama_Produkjadi.Locked = False Satuan.Locked = False

Harga_Persatuan.Locked = False Else

Adodc1.Recordset.Update Kode_Produkjadi.Locked = True Nama_Produkjadi.Locked = True Satuan.Locked = True

Harga_Persatuan.Locked = True CmdEdit.Caption = "Edit" End If

End Sub

Private Sub CmdKeluar_Click() End

End Sub

Private Sub CmdKembali_Click() Master_Produkjadi.Hide

About.Show End Sub


(4)

Menghubungkan antar Komputer

1. Buka http-xampp

Data Persediaan

1. Data Permintaan

Tabel 1. Data Permintaan Produk Jadi pada Tanggal 25 Juli 2015

Permintaan

Produk 105 m

(Bag)

Produk 105 p (Bag)

Produk 201 c (Bag)

Produk 202 c (Bag)

Produk 801 sp

(Bag)

1 46 38 43 32 35

2 53 45 36 42 30

3 45 42 35 38 28

4 48 46 42 41 34

5 55 51 35 37 32

6 52 43 32

7 50 39

8 54 48

Total Permintaan 403 352 223 190 159

Laju Permintaan 50 44 27 23 19


(5)

2. Data Produksi

Tabel 2. Data Produksi pada Tanggal 25 Juli 2015

Produksi Produk 105 m (Bag) Produk 105 p (Bag) Produk 201 c (Bag) Produk 202 c (Bag) Produk 801 sp (Bag)

1 92 76 82 58 63

2 106 90 72 71 54

3 95 84 70 68 50

4 96 87 80 74 58

5 105 92 70 67 52

6 104 86 67

7 95 78

8 108 91

Total Produksi 801 684 441 338 277

Laju Produksi 100 85 55 42 34

Sumber : PT. Gold Coin Indonesia Medan-Mill

3. Biaya Setup

Biaya setup adalah biaya yang diperlurkan untuk memperlancar proses produksi yang timbul dari intensitas produksi yang dilakukan dalam periode tertentu. Biaya setup pada PT. Gold Coin Indonesia-Medan adalah sebesar Rp.40.000/production setup dalam satu hari

4. Biaya Penyimpanan

Biaya penyimpanan merupakan biaya yang ditimbulkan biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan, biaya modal, biaya penyusutan produ jadi dan lain-lain Biaya penyimpanan produk jadi yang ditetapkan perusahaan adalah biaya penyimpanan produk per hari x 50 (1 bag) = Rp. 24 x 50 = Rp. 1.200 /bag dalam satu hari.


(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Lead, Raymond, Mc. 2009. System Information Management. Jakarta: salemba. Peppard, Joe dan Philip Rowlannd. 1997. The Esserce Of Business Process

Re-Engineering. Yogyakarta: ANDI.

Pressman, Roger S. 2001. Software Engineering A Practitioner’s Approach. America : Mc Graw-Hill.

Rimawan, Erry. Analisa Perhitungan Perencanaan Pengendalian Produksi

Dengan metode Economic Production Quantity(EPQ) Pada PT XYZ.

Universitas Marcu Bauna.

Samsinar dan Anggraini Putrianti. 2015. Analisa dan Perancangan Sistem

Informasi Persediaan Obat Studi Kasus: Apotek Aini Farma. Yagyakarta:

SENTIKA)

Schneider, David I. 2005. An Introduction to Programming Using Visual Basic 2005. America: Pearson Prentice Hall

Sinulingga, Sukaria. 2008. Pengantar Teknik Industri. Yogyakarta : Graha Ilmu. Sugiri dan Haris Saputro. 2008. Pengolahan Database MySQL dengan

PhpMyAdmin. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tersine, Richard J. 1994. Principles of Inventory and Materials Management. America: Prentice-Hall.


(19)

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Sistem Informasi Manajemen

Sistem informasi manajemen- SIM (Management Information System) didefenisikan sebagai suatu sistem berbasis komputer yang membuat informasi tersedia bagi para pengguna yang memiliki kebutuhan serupa. Para pengguna SIM biasanya terdiri atas entitas-entitas organisai formal perusahaan atau sub unit anak perusahaannya. Informasi yang diberikan oleh SIM menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya dilihat dari apa yang telah terjadi dimasa lalu, apa yang sedang terjadi dan apa yang kemungkinan terjadi dimasa depan. SIM akan menghasilkan informasi ini melalui pengguna dua jenis perangkat lunak (Raymond, 2009).

a. Peranti lunak pembuat laporan (report-writing software) yang menghasilkan laporan berkala mauapun laporan khusus. Laporan berkala dikodekan dalam suatu bahasa program dan disiapkan sesuai jadwal tertentu. Laporan khusus yang sering disebut laporan ad hoc, dibuat sebagai tanggapan atas kebutuhan informasi yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya. Sistem manajemen basis data memiliki fitur-fitur yang dapat dengan cepat membuat laporan sebagai respons atas permintaan akan data atas informasi tertentu.

b. Model matematis menghasilkan informasi sebagai hasil dari suatu simulasi atas operasi perusahaan. Model-model matematis yang menggambarkan operasi perusahaan dapat ditulis mengunakan semua jenis bahasa


(20)

pemrograman. Akan tetapi permodelan khusus dapat menjadikan tugas lebih mudah dan lebih cepat diselesaikan.

Ouput informasi yang dihasilkan akan digunakan oleh pihak-pihak yang

akan memecahkan masalah dalam mengambil keputusan guna memecahkan masalah perusahaan.

Basis data tersebut memuat data yang diberikan oleh sistem transaksi. Selain itu, baik data maupun informasi dimasukkan dari lingkungan. Lingkungan menjadi terlibat ketika perusahaan bertransaksi dengan organisasi-organisasi lain, seperti pemasok, untuk membentuk suatu sistem informasi antar organisasi. Dalam kasus seperti ini, SIM akan memasok informasi ke anggota-anggota IOS yang lain sekaligus juga kepada para pengguna perusahaan. Model Sistem Informasi Manajemen (SIM) dapat dilihat pada Gambar 3.1. berikut.

Pihak Pemecah Masalah Organisasi

Perangkat Lunak permbuat laporan

Lingkungan

Data Informasi Model Matematis

B

a

s

is

Da

ta

Lingkungan


(21)

3.2. Pengembangan Sistem Informasi dengan Metode Waterfall

Kadang-kadang disebut siklus hidup klasik atau model waterfall, model sekuensial linier menunjukkan sistematis, pendekatan sekuensial untuk pengembangan perangkat lunak yang dimulai pada tingkat sistem dan kemajuan melalui analisis, desain, coding, pengujian dan dukungan pada gambar 3.2. menggambarkan model sekuensial linier untuk rekayasa perangkat lunak. Model setelah siklus rekayasa konvensional, model sekuensial linier meliputi kegiatan sebagai berikut (Pressman, 2001)

Gambar 3.2. Model Waterfall

1. Rekayasa dan pemodelan sistem

Karena sistem merupakan bagian dari sebuah sistem yang lebih besar, pemodelan ini dimulai dengan membangun syarat dari semua elemen sistem dan mengalokasikan beberapa subset dari kebutuhan ke software tersebut. Pandangan sistem ini penting ketika software harus berhubungan dengan elemen-elemen yang lain seperti software, hardware, manusia, dan database. Rekayasa dan pemodelan sistem menyangkut pengumpulan kebutuhan pada System/ information engineering


(22)

tingkat sistem engan sejumlah kecil analisis serta desain tingkat puncak. Tahap ini sering disebut dengan Project Definition.

2. Analisis kebutuhan software

Proses pengumpulan kebutuhan diintensifkan dan difokuskan, khususnya pada

software. Untuk memahami sifat dari program yang dibuat, maka software engineer harus memahami domain informasi software tersebut, misalnya

fungsi yang dibutuhkan, tingkah laku, unjuk kerja, dan user interface. Kebutuhan baik untuk sistem maupun software didokumentasikan dan ditunjukkan kepada pelanggan.

3. Desain

Proses ini digunakan untuk mengubah kebutuhan-kebutuhan diatas menjadi

representasi ke dalam bentuk “blue print” software sebelum coding dimulai.

Desain software sebenarnya adalah proses multi langkah yang berfokus pada empat atribut sebuah program yang berbeda, struktur data, arsitektur software, representasi interface, dan detail (algoritma) prosedural. Desain harus dapat mengimplementasikan kebutuhan yang telah disebutkan pada tahap sebelumnya. Proses desain menterjemahkan syarat/kebutuhan ke dalam sebuah representasi software yang dapat diperkirakan demi kualitas sebelum dimulai pemunculan kode. Sebagaimana 2 aktivitas sebelumnya, desain didokumentasikan dan menjadi bagian dari konfigurasi software.

4. Generasi kode

Untuk dapat dimengerti oleh mesin, dalam hal ini adalah komputer, maka desain tadi harus diubah bentuknya menjadi bentuk yang dapat dimengerti


(23)

oleh mesin, yaitu ke dalam bahasa pemrograman melalui proses coding. Tahap ini merupakan implementasi dari tahap desain yang secara teknis nantinya dikerjakan oleh programmer.

5. Pengujian

Setelah program dibuat, pengujian program dimulai. Proses pengujian berfokus pada logika internal software, memastikan bahwa semua pernyataan sudah diuji, dan pada eksternal fungsional, yaitumengarahkan pengujian untuk menemukan kesalahan – kesalahan dan memastikan bahwa input yang dibatasi akan memberikan hasil aktual yang sesuai dengan hasil yang diinginkan. Semua fungsi-fungsi software harus diujicobakan, agar software bebas dari error, dan hasilnya harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang sudah didefinisikan sebelumnya.

6. Pemeliharaan

Pemeliharaan suatu software diperlukan, termasuk di dalamnya adalah pengembangan, karena software yang dibuat tidak selamanya tetap seperti itu. Ketika dijalankan mungkin saja masih ada error kecil yang tidak ditemukan sebelumnya, atau ada penambahan fitur-fitur yang belum ada pada software tersebut. Software dapat mengalami perubahan setelah disampaikan kepada pelanggan (perkecualian yang mungkin adalah software yang dilekatkan), karena software harus disesuaikan untuk mengakomodasi perubahan – perubahan didalam lingkungan eksternalnya (contohnya perubahan yang dibutuhkan sebagai akibat dari perangkat peripheral atau sistem operasi yang baru), atau karena pelanggan membutuhkan perkembangan fungsional atau


(24)

unjuk kerja. Pengembangan diperlukan ketika adanya perubahan dari eksternal perusahaan seperti ketika ada pergantian sistem operasi, atau perangkat lainnya. Pemeliharaan software mengaplikasikan lagi setiap fase program sebelumnya dan tidak membuat yang baru lagi.

Model ini sangat popular karena pengaplikasiannya mudah. Selain itu, ketika semua kebutuhan sistem dapat didefinisikan secara utuh, eksplisit, dan benar di awal project, maka System Engineer dapat berjalan dengan baik dan tanpa masalah. Meskipun seringkali kebutuhan sistem tidak dapat didefinisikan seeksplisit yang diinginkan, tetapi paling tidak, problem pada kebutuhan sistem di awal project lebih ekonomis dalam hal uang (lebih murah), usaha, dan waktu yangterbuang lebih sedikit jika dibandingkan problem yang muncul pada tahap-tahap selanjutnya. Meskipun demikian, karena model ini melakukan pendekatan secara urut / sequential, maka ketika suatu tahap terhambat,tahap selanjutnya tidak dapat dikerjakan dengan baik dan itu menjadi salah satu kekurangan dari model ini. Selain itu, ada beberapa kekurangan pengaplikasian model ini, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Ketika problem muncul, maka proses berhenti, karena tidak dapat menuju ke tahapan selanjutnya. Bahkan jika kemungkinan problem tersebut muncul akibat kesalahan dari tahapan sebelumnya, maka proses harus membenahi tahapan sebelumnya agar problem ini tidak muncul. Hal - hal seperti ini yang dapat membuang waktu pengerjaan System Engineer.

2. Karena pendekatannya secara sequential, maka setiap tahap harus menunggu hasil dari tahap sebelumnya. Hal itu tentu membuang waktu yang cukup lama,


(25)

artinya bagian lain tidak dapat mengerjakan hal lain selain hanya menunggu hasil dari tahap sebelumnya. Oleh karena itu, seringkali model ini berlangsung lama pengerjaannya.

3. Pada setiap tahap proses tentunya dipekerjakan sesuai spesialisasinya masingmasing. Oleh karena itu, ketika tahap tersebut sudah tidak dikerjakan, maka sumber dayanya juga tidak terpakai lagi. Oleh karena itu, seringkali

pada model proses ini dibutuhkan seseorang yang “multi - skilled”, sehingga minimal dapat membantu pengerjaan untuk tahapan berikutnya.

Pengembang sering melakukan penundan yang tidak perlu. Sifat alami dari siklus kehidupan klasik membawa kepada blocking state di mana banyak anggota tim proyek harus menunggu tim yang lain untuk melengkapi tugas yang saling memiliki ketergantungan. Blocking state cenderung menjadi lebih lazim pada awal dan akhir sebuah proses sekuensial linier.

3.3. Business Process Reengineering (BPR)

Business Process Reengineering (BPR) sangat diperlukan sebelum melakukan perancangan sistem informasi manajemen. BPR merupakan filosofi perbaikan/penyempurnaan. BPR bertujuan mencapai perbaikan-perbaikan langkah dalam kinerja dengan mendesain ulang proses-proses dimana organisasi beroperasi, memaksimumkan kandungan nilai tambahnya dan meminimumkan kandungan tidak bernilai tambah. Pendekatan ini dapat diterapkan untuk level proses individual maupun untuk organisasi secara keseluruhan (Joe Peppard dan Philip Rowland, 1994).


(26)

Gagasan BPR lebih dipopulerkan oleh Michael Hammer dalam artikelnya

“Reengineering Work: Don’t Automate-Obliterate”. Ia menyarankan bahwa

organisasi perlu memikirkan ulang bisnisnya dengan mempergunakan kesempatan yang ditimbulkan oleh teknologi informasi baru. Ia memperkuat kembali pesan bahwa sebelum menerapkan teknologi informasi, pertama kali organisasi harus yakin bahwa prosesnya sudah benar. Hammer membantu mempromosikan pesan BPR ke seluruh dunia dan telah melakukan banyak hal untuk menjadikan topik tersebut sebagai perhatian semua level manajemen sampai level yang paling senior dalam bisnis.

Otomatisasi aliran kerja berkaitan erat dengan BPR karena otomatisasi merupakan jenis khusus sistem komputer yang berusaha mengkoordinasikan berbagai aktivitas. Aliran kerja dimulai dengan memeriksa dokumen, formulir bisnis, dan informasi lain yang melewati jalannya menuju organisasi. Prosedur ini memperlambat aktivitas perusahaan dan menambah biaya. Rute baru dibangun dan satu sistem aliran kerja diinstal untuk membawa informasi dengan segera ke bagian yang tepat baik dalam bentuk gambar digital faktur atau surat elektronik dari pelanggan.

Perangkat lunak aliran kerja membuat pergerakan dokumen menjadi otomatis, mengeliminasi kebutuhan orang untuk menetapkan siapa yang harus mendapatkan informasi berikutnya, mempersingkat waktu perjalanan, dan menghindari rute yang salah. Sistem tersebut dapat juga diprogram untuk mengirim dokumen sepanjang jalur berbeda, tergantung pada isinya.


(27)

Sebagai salah satu contoh aliran kerja dapat dilihat pada Gambar 3.3. yaitu proses pengapalan dari suatu perusahaan. Pesanan diterima oleh wakil penjualan dari pelanggan, kemudian berlanjut melalui proses verifikasi, perakitan/persiapan pesanan, dan pengepakan kemudian pengiriman ke pelanggan.

Gambar 3.3. Operasi Awal

Jika sistem aliran kerja diinstalasi untuk mendukung proses yang ada, beberapa manfaat dapat diperoleh melalui aliran informasi yang lebih cepat dan menghindari input ulang tertentu dari data ke dalam komputer lokal melalui setiap tahap. Gambar 3.4. menjelaskan proses baru yang setiap tahapnya menggunakan sistem aliran kerja.


(28)

Gambar 3.4. Aliran Kerja yang Telah Dirancang Ulang

3.4. Persediaan

Kontrol dan pemeliharaan persediaan adalah masalah umum untuk semua organisasi dalam setiap sektor ekonomi. Masalah persediaan tidak membatasi diri pada lembaga profit membuat tetapi juga ditemui oleh lembaga-lembaga sosial dan nirlaba. Persediaan yang umum untuk pertanian, produsen, grosir, pengecer, rumah sakit, gereja, penjara, kebun binatang, universitas dan nasional, negara bagian dan lokal gavernmants. Memang, persediaan juga relevan dengan unit keluarga dalam kaitannya dengan makanan, pakaian, obat-obatan, perlengkapan mandi dan sebagainya (Tersine Richard J, 1994).


(29)

Persediaan jangka dapat digunakan untuk berarti beberapa hal yang berbeda, seperti:

1. Saham tangan dari bahan pada waktu tertentu. 2. Diperinci daftar semua aset fisik.

3. Untuk menentukan jumlah jika item di tangan.

4. Nilai dari persediaan barang-barang yang dimiliki oleh sebuah organisasi pada waktu tertentu.

3.5. Tujuan Persediaan

Persediaan terjadi karena penyediaan dan permintaan sulit diselaraskan dengan tepat dan diperlukan waktu untuk melakukan kegiatan tersebut. Hal-hal berikut ini merupakan faktor-faktor yang mendukung fungsi persediaan, antara lain :

1. Faktor waktu, yang berhubungan dengan lamanya proses produksi dan distribusi yang terjadi sebelum barang sampai ke konsumen.

2. Faktor discontinuitas, maksudnya untuk menjaga barang tersedia terus menerus sehingga diperlukan penyediaan sehingga tidak terjadi discontinuitas. 3. Faktor ketidakpastian, maksudnya hal-hal yang tidak diduga yang terjadi

di dalam saat mesin breakdown, bencana, dan sebagainya, sehingga dibutuhkan persediaan guna mengantisipasi kemungkinan kejadian tersebut. 4. Faktor ekonomi, yang memberikan keuntungan perusahaan dalam

mengurangi biaya yang terdiri dari pemesanan barang, pembelian dengan discount, pengiriman, man power, dan sebagainya.


(30)

Hal diatas merupakan faktor pendukung adanya fungsi persediaan. Berikut ini adalah fungsi-fungsi persediaan :

1. Working Stock (Lot Size Stock)

Merupakan persediaan yang dibutuhkan dan diadakan dalam mendukung kebutuhan terhadap barang sehingga pemesana dapat dilakukan dalam bentuk

lot size dibandingkan dengan ukuran dasar yang dibutuhkan. Lot Size

mempunyai manfaat untuk mengurangi atau meminimaliasikan biaya pemesanan dan simpan, mendapatkan diskon pemesanan kuantitas, dan biaya pengiriman.

2. Stok Pengaman (Fluctuation Stock)

Merupakan persediaan yang diadakan dalam mengantisipasi ketidakpastian penyediaan dan permintaan. Stok pengaman pada umumnya dipakai selama waktu kedatangan barang yang telah dipesan sehingga tidak terjadi kekurangan atau kekurangan barang.

3. Anticipation Stock (Stabilization Stock)

Merupakan persediaan yang diadakan sehubungan dengan permintaan yang bersifat musiman, tidak menentu (program promosi, musim liburan) atau kurangnya kapasitas produksi.

4. Pipeline Stock (Work In Process)

Merupakan persediaan yang ada dalam perjalanan yang membutuhkan waktu dari penerimaan barang pada saat masuk, pengiriman bahan dalam proses produksi, pengiriman barang sampai ke outputnya. Secara ekternal, pipeline stock dapat digambarkan persediaan dalam perjalanan di


(31)

truk, kapal. Sedangkan secara internal, merupakan proses, menunggu diproses dan dipindahkan.

5. Decoupling Stock

Merupakan persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan tanpa tergantung pada supplier.

6. Physic Stock

Merupakan persediaan barang yang diadakan dalam bentuk pajangan untuk mendorong pembelian dan stock ini bersifat sebagai seorang sales yang berdiam diri.

3.6. Klasifikasi Masalah Persediaan

Masalah dalam persediaan dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara. Mereka diatur berdasarkan hal-hal berikut ini:

1. Repetitiveness (Frekuensi Pemesanan Barang)

a. Pesanan tunggal, hanya dilakukan sekali saja dan tidak diulangi lagi. b. Pesanan berulang, dilakukan terus menerus dan dilakukan secara rutin. 2. Sumber Persediaan

a. Persediaan dari luar, dilakukan pembelian item dari pemasok yang telah disetujui.

b. Persediaan dari dalam, item diproduksi sendiri oleh perusahaan. 3. Pengetahuan tentang persediaan

a. Permintaan yang konstan Permintaan yang berubah-ubah


(32)

b.Permintaan yang independen, tidak tergantung pada item yang lain.

Permintaan yang dependen, tergantung pada produksi akhir atau item yang lebih tinggi kedudukannya.

4. Pengetahuan tentang lead time a. Lead time konstan

b. Lead time berubah-ubah 5. Sistem Persediaan

a.Continous Review, pemesanan dilakukan bila sudah mencapai titik pemesanan kembali.

b. Periodic Review, pemesanan dilakukan secara berkala.

c. Material Requirement Planning, dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan yang direncanakan saja.

d. Distribution Requirement Planning

e. Single Order Quantity, untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek atau yang unik.

3.7. Model Economic Production Quantity

Proses produksi intermiten umumnya memerlukan sejumlah produk pada berbagi peralatan yang secara sama berputar. Produk yang sering dibuat pada siklus biasa dalam batch yang telah ditentukan. Panjang keseluruhan siklus produksi adalah waktu untuk menghasilkan satu urutan lengkap produk. Panjang siklus yang optimum harus ditetapkan untuk produk sebagai kelompok item bukan untuk setiap produk secara independen dari yang lain. Penggunaan produk tunggal


(33)

jumlah produksi ekonomi (EPQ) untuk setiap produk dalam kelompok menyiratkan bahwa peralatan akan tersedia saat dibutuhkan. Kecuali peralatan yang sangat kurang dimanfaatkan, mungkin ada penjadwalan masalah dan kesulitan memenuhi kebutuhan produk tunggal EPQ (Tersine Richard J, 1994)

Logika untuk beberapa item adalah serupa dengan item tunggal. Tingkat persediaan maksimum untuk yang diberikan pada barang adalah (Pi - ri) tpi dan persediaan rata-rata berjumlah satu. Dengan m sebagai jumlah siklus (produksi berjalan) per tahun, Qi = Pitpi = Ri / m. Jika ada item n, persediaan rata-rata untuk item tertentu memiliki besaran adalah sebagai berikut:

Jika stockouts tidak diizinkan, biaya tahunan total diberikan oleh rumus berikut:

Biaya = biaya total produksi tahunan + biaya pemasangan + memegang biaya TC (m) = ∑ + m ∑ +

Ketika n = 1, sistem mengurangi ke persamaan untuk produk tunggal EPQ dengan m = R / Q. Untuk mendapatkan jumlah biaya minimum produksi berjalan, kita mengambil turunan pertama dari total biaya sehubungan dengan jumlah produksi berjalan dan mengaturnya sama dengan nol:

= = ∑ - = ∑

=0

Memecahkan equition untuk m, jumlah optimum berjalan per tahun abtained:


(34)

M* = √∑

Ukuran menjalankan produksi untuk produk tertentu i ditentukan dengan rumus berikut:

Qi =

Mengganti m total tahunan biaya rumus oleh m * rumus total biaya minimum berikut ini didapat

TC (m*) = ∑ +

= ∑ + 2m* ∑

Model ini sesuai hanya jika jumlah hari operasional tahunan sama atau melebihi waktu permintaan tahunan:

N ≥ ∑

Waktu berlari untuk setiap siklus harus sama atau melebihi jangka waktu gabungan untuk setiap item:

≥ ∑

3.8.Visual Basic 6.0

Program visual basic menampilkan layar jendela bergaya (disebut bentuk) dengan kotak di mana pengguna jenis (di mana pengguna mengedit) informasi dan tombol yang mereka klik untuk memulai tindakan. Kotak dan tombol yang disebut sebagai kontrol. Pada bagian ini kita memeriksa bentuk dan tempat dari kontrol visual basic (Schneider David I, 2005).


(35)

Visual basic sebenarnya dapt dikatakan sebagai bahasa pemrograman

yang bermula pada kemunculan bahasa basic. Basc sendiri adalah suatu bahasa pemrograman yang merupak awal bahasa dari bahasa-bahasa tingkat tinggi. Basic dirancang pada tahun 1950-an ditunjukkan untuk dapat dugunakan oleh programmer pemula. Tetapi tidak perlu takut belajar visual basic karena visual basic akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi seorang pemula.

Bagian-bagian yang terdapat dalam tool visual basic adalah sebagai berikut:

a. Control menu adalah menu yang digunakan untuk memanipulasi jendela

visual basic, seperti merubah ukuran, memindahkan atau menutup jendela visual basic

b. Menu berfungsi sebagai perintah untuk menjalankan tugas tertentu.

c. Toolbar adalah tombol-tombol yang mewakili suatu perintah tertentu, dalam

icon ini terdapat icon-icon.

d. Form Window berfungsi sebagai media kerja dalam visual basic

e. Toolbox berisi icon-icon yang nantinya akan dipakai dalam pembangunan

program aplikasi.

f. Project Explorer adalah jendela yang mengandung semua file didalam aplikasi

visual basic.

g. Jendela propertis merupakan jendela yang mengandung semua informasi tentang objek yang terdapat pada aplikasi visual basic.

h. Form Layout window digunakan untuk menggambarkan posisi form terhadap


(36)

i. Form Window merupakan suatu objek yang dipakai sebagai tempat kerja

program aplikasi

Mengenal kontrol yang terdapat dalam visual basic adalah sebagai berikut

a. Label berfungsi untuk menampilkan teks

b. Text box adalah control yang berfungsi sebagai penerima input dari user dalam

bentuk teks yang diketikkan.

c. Command Button berfungsi sebagai eksekutor dari perintah-perintah tertentu.

d. Option button merupakan tombol pilihan dimana user diberikan pilihan untuk

memilih salah satu dari beberapa pilihan yang disediakan

e. Check box sama dengan kontrol option button perbedaannya jika pada tombol

option button user hanya diberikan satu pilihan sedangkan pada control check

box dapat memilih lebih dari satu.

f. Combo box merupakan control yang menyediakan pilihan-pilihan dan user

dapat menginputkan suatu nilai jika pilihan tersebut tidak tersedia pada

control combo box.

g. List box dapat digunakan oleh user untuk memili salah satu pilihan dari daftar

pilihan yang telah tersedia.

3.9.Pengolahan Database MySQL dengan PhpMyAdmin

MySQL termasuk kedalam kategori database management system yaitu

suatu database yang tersetruktur dalam pengolahan dan penampilan datanya.

MySQL meruapakan database yang bersifat client server, dimana data diletakkan


(37)

apabila komputer telah terhubung dengan server. Berbeda dengan database desktop dimana segala pemrosesan data harus dilakukan pada komputer yang bersangkutan (Sugiri dkk, 2008).

MySQL dibuat sekitar tahun 1994/1995 dan dikembangkan oleh sebuah

perusahaan di Swedia yang bernama MySQL AB dengan istilah T.c.X Data Konsult AB. Tujuannya adalah untuk mengembangkan aplikasi web yang dimiliki oleh kliennya. Saat ini Michael Widenius atau Monty merupakan satu-satunya pengembang MySQL di T.c.X, yang memiliki aplikasi UNIREG dan rutin ISAM. Dia membuat sendiri aplikasi tersebut dan mengembangkan interface SQL untuk dilankan pada MySQL. Pada awalnya T.c.X menggunakan mSQL atau mini SQL, namun ternyata tidak terlalu cepat dan fleksibel. Bahkan versi pertamanya tidak memiliki index, sehingga dia memutuskan untuk membuat sendiri mesin SQL yang interfacenya seperti mSQL tetapi memiliki kemampuan yang lebih. MySQL versi 1.0 dirilis Mei 1996 secara terbatas kepada empat orang rekannya. Kemudian di bulan Oktober versi 3.1.1.0 dilepas kemasyarakat umum.

Bila di install pada sistem operasi Microsoft Windows, maka MySQL berlisensi Shareware, tetapi tidak mempunyai expired date. Sedangkan bila diinstall pada sistem operasi lainnya, maka berlisensi free dengan General Public

Licence (GPL). Namun demikian ada beberapa hal yang tidak bersifat free.

Membuat database dan tabel pada MySQL adalah sebagai berikut. 1. Bukalah PhpMyAdmind melalui Browser contoh Internet Explorer

2. Kumudiaan masukkan nama database yang akan dibuat pada bagian create


(38)

3. Setelah itu klik tombol Create

4. Langkah selanjutnya membuat tabel, dimana tabel tersebut akan otomatis masuk kedalam database yang baru dibuat

- Masukkan nama tabel pada bagian Create new on database

- Kemudiaan masukkan jumlah kolom yang akan dibuat pada tabel pada bagian number of fields

- Setelah selesai kelik tombol Go

5. Langkah selanjutnya membuat kolom pada tabel tersebut

- Untuk membuat kolom masukkan nama kolom pada bagian Field - Pilih tipe data yang tepat untuk kolom tersebut pada bagian Type

- Kemudian masukkan jumlah karakter maksimal yang bias diisikan pada kolom tersebut melalui bagian Length/Values

- Untuk kolom dengan tipe date tidak perlu diisi

- Untuk kolom yang bisa dibuat secara otomatis, artinya tidak perlu memasukkan datanya karena sistem akan memasukkan secara otomatis - Untuk itu pada bagian extra pilih auto_increment

- Kemudian untuk member Primary key, pilih radio button sejajar dengan kolom yang akan dibuat primary key

- Pilihlah radio button dilakukan pada bagian yang bergambar kunci

6. Untuk menentukan tipe tabel, pergilah kebagian Storage Engine, kemudian pilih tipe tabel yang digunakan


(39)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan diPT. Gold Coin Indonesia yang bergerak dalam bidang produksi pakan ternak. Perusahaan ini berlokasi di Jl. Pulau Bali No.2 Kawasan Industri Medan II, Mabar-Sumatera Utara. Penelitian berlangsung dimulai dari tanggal 20 Juli 2015 sampai 10 Desember 2015.

4.2. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah action research yaitu penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan temuan-temuan praktis/untuk keperluan pengambilan keputusan operasional (Sinulingga, 2011). Karena tujuannya untuk pengambilan keputusan operasional guna mengembangkan keterampilan baru atau pendekatan baru pada suatu penelitian.

4.3. Objek Penelitian

Objek penelitian yang diamati adalahprodukjadi.PT. Gold Coin Indonesia menghasilkan produk jadi berupa pakan ternak yang disimpan sementara di gudang sebelum dikirim kekonsumen. Kondisi persediaan produk jadi digudang sangat banyak menumpuk sehingga biaya operasional perusahaan tinggi.


(40)

4.4. Variabel Penelitian

Variabel- variabel yang diguankan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Variabel Independen

Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini adalah : a. Total Permintaan

b. Laju Permintaan c. Laju Produksi d. Biaya Set Up e. Biaya Simpan 2. Variabel Independen

Variabel dependen (terikat) dalam penelitian ini adalah Jumlah Persediaan Produk Jadi.

3. Variabel Moderator

Variabel moderator dalam penelitian ini adalah Rancangan Sistem Informasi Persediaan Produk Jadi.

4.5. Kerangka Konseptual Penelitian

Suatu penelitian dapat dilaksanakan apabila tersedianya sebuah kerangkakonseptual yang baik sehingga langkah-langkah penelitian lebih sistematis. Kerangka konseptual inilah yang merupakan landasan awal dalam melaksanakan penelitian. Kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.1.


(41)

Persediaan Produk Jadi Ekonomis Persediaan Produk Jadi

Ekonomis Jumlah Persediaan Produk Jadi

Jumlah Persediaan Produk Jadi

Biaya Simpan Biaya Simpan

Laju Permintaan Laju Permintaan Laju Produksi Laju Produksi Biaya Setup Biaya Setup

Rancangan Sistem Informasi Persediaan Produk Jadi Rancangan Sistem Informasi

Persediaan Produk Jadi Total Permintaan

Total Permintaan

Gambar 4.1. Kerangka Konseptual Penelitian

4.6. Rancangan Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pada awal penelitian dilakukan studi pendahuluan untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi perusahaan.

2. Melakukan pengumpulan data.

Data yang dikumpulkan ada dua jenis yaitu: a. Data primer

1) Total permintaan 2) Laju permintaan 3) Lajuproduksi 4) Data biaya set up 5) Data biayasimpan b. Data sekunder


(42)

Data sekunder yang dikumpulkan adalah format databasedan sistem informasi aktual yang berkaitan dengan persediaan produk jadi perusahaan.

3. Dilakukan pengolahan data persediaan produk jadi dengan meggunakan metode Economic Production Quantity (EPQ).

4. Dilakukan perancangan sistem informasi dari persediaan produk jadi. 5. Dilakukan analisis terhadap hasil rancangan sistem informasi. 6. Ditarik kesimpulan dan diberikan saran untuk penelitian.


(43)

Identifikasi Masalah Awal

- Proses administrasi persediaan yang masih manual - Aliran informasi membutuhkan waktu yang lama - update data persediaan yang lama.

- Persediaan Produk jadi 3 kali lipat dari permintaan Identifikasi Masalah Awal

- Proses administrasi persediaan yang masih manual - Aliran informasi membutuhkan waktu yang lama - update data persediaan yang lama.

- Persediaan Produk jadi 3 kali lipat dari permintaan

Kesimpulan dan Saran Kesimpulan dan Saran

Mulai Mulai

Pengumpulan Data

Data Primer :

· Data permintaan konsumen

· Data produksi

· Data biaya set up

· Data biaya simpan Data Sekunder

· Format Database dan aliran informasi yang berkaitan dengan Persediaan produk jadi

Pengumpulan Data Data Primer :

· Data permintaan konsumen · Data produksi · Data biaya set up · Data biaya simpan Data Sekunder

· Format Database dan aliran informasi yang berkaitan dengan Persediaan produk jadi

Pembahasan

Membahas hasil yang diberikan oleh sistem yang dirsncang

Pembahasan

Membahas hasil yang diberikan oleh sistem yang dirsncang

Selesai Selesai Pengolahan Data

Melakukan perhitungan dengan metode EPQ 1. Menentukan produksi ekonomis 2. Menentukan jumlah order production 3. Menentukan Waktu produksi perorder Perancangan sistem informasi dengan metode Waterfall

1. Analisis Struktur Sistem 2. Perancangan

a. Perancangan Model 1) Physical System 2) Struktur Sistem

3) Logical Model

b. Perancangan Output c. Perancangan Input d. Perancangan Basis Data 1) Perancangan File 2) Perancangan ERD e. Perancangan Teknologi 1) Perangkat Keras (Hardware) 2) Perangkat Lunak (Software) 3) Perangkat Teknisi (Brainware) 3. Code

4. Testing 5. Penerapan Sistem

Pengolahan Data

Melakukan perhitungan dengan metode EPQ 1. Menentukan produksi ekonomis 2. Menentukan jumlah order production 3. Menentukan Waktu produksi perorder Perancangan sistem informasi dengan metode Waterfall

1. Analisis Struktur Sistem 2. Perancangan

a. Perancangan Model 1) Physical System 2) Struktur Sistem

3) Logical Model

b. Perancangan Output c. Perancangan Input d. Perancangan Basis Data 1) Perancangan File 2) Perancangan ERD e. Perancangan Teknologi 1) Perangkat Keras (Hardware) 2) Perangkat Lunak (Software) 3) Perangkat Teknisi (Brainware) 3. Code

4. Testing 5. Penerapan Sistem


(44)

4.7. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Lembar Catatan Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang diperlukan dengan cara mempelajari dan mengutip arsip-arsip dan catatan-catatan yang ada di laporan persediaan dan kebutuhan produk jadi.

2. Observasi

Melakukan pengamatan langsung di objek penelitian untuk menggali segala informasi data yang dibutuhkan untuk pemecahan masalah.

3. Studi Literatur

Mempelajari teori-teori tentang hal-hal yang berhubungan dengan cara pemecahan masalah dari buku-buku pendukung sehingga membantu dalam penyelesaian masalah dalam penelitian ini.

4.8. Perhitungan Persediaan

Metode pengendalian persediaan barang jadi dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Economic Production Quantity (EPQ). Metode EPQ memiliki variabel-variabel yakni:

1. Total permintaan

Total permintaan produk jadi dari pelanggan yang disampaikan ke sales center.

2. Laju Permintaan


(45)

3. Laju produksi

Laju produksi produk sesuai dengan perencanaan produksi yang didasarkan pada permintaan konsumen dan kondisi ketersediaan produk jadi digudang. 4. Biaya persiapan

Biaya persiapan diberikan oleh perusahaan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

5. Biaya penyimpanan

Biaya penyimpanan diberikan oleh perusahaan yaitu biaya penyimpanan produk per hari x 50 (1 bag).

Dari variabel-variabel diatas dapat dilakukan tahapan-tahapan perhitungan persediaan dengan metode EPQ yang dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Pengumpulan Data

§ Total permintaan

§ Laju permintaan

§ Laju produksi

§ Biaya persiapan

§ Biaya simpan

Pengumpulan Data § Total permintaan § Laju permintaan § Laju produksi § Biaya persiapan § Biaya simpan

Persediaan produk jadi yang ekonomis

Persediaan produk jadi yang ekonomis

Mulai Mulai

Selesai Selesai

Perhitungan Persediaan Metode EPQ

§ Perhitungan produksi ekonomis

§ Perhitungan jumlah order production

§ Perhitungan waktu produksi perorder

Perhitungan Persediaan Metode EPQ § Perhitungan produksi ekonomis § Perhitungan jumlah order

production

§ Perhitungan waktu produksi perorder


(46)

4.9. Perancangan Sistem

Perancangan sistem dalam peneitian ini menggunakan metode Waterfall. Inti dari metode waterfall adalah pengerjaan dari suatu sistem yang dilakukan secara berurutan. Langkah-langkah rancangan sistem pada sistem informasi, yakni:

1. Analisis struktur Sistem

Tahap ini mencari kebutuhan pengguna dan menganalisa kondisi yang ada sebelum dikembangkan sistem informasi yang baru serta usulan sistem yang akan dirancang.

2. Desain

Tahapan-tahapan desain adalah sebagai berikut: a. Rancangan Model

Rancangan model terdiri dari: 1. Perancangan Physical System

Pembuatan model sistem informasi dimulai dari permintaan produk jadi sampai ke bagian pengiriman produk jadi kekonsumen dalam bentuk flowchart.

2. Pembuatan Struktur Sistem

Pembuatan struktur sistem yang menggambarkan sistem input, proses transformasi, dan output.


(47)

Perancangan logical model yang dilakukan dengan pembuatan Data

Flow Diagram (DFD) dimulai dengan pembuatan DFD level 0,

kemudian dibuat lebih rinci DFD level 1. Demikian seterusnya. b. Perancangan Input

Perancangan ini bertujuan untuk menentukan data masukan yang akan digunnakan untuk mengoperasikan sistem. Data masukan ini berupa

form, faktur, dan sebagainya dari persediaan barang jadi.

c. Perancangan Output

Perancangan output berupa tampilan di layar monitor atau cetakan pada media kertas seperti laporan-laporan.

d. Rancangan Basis Data

Rancangan basis data terdiri dari:

1. Rancangan File merupakan rancangan basis data yang memperlihatkan diagram hubungan entitas berdasarkan DFD tingkatan yang terbentuk dari aliran informasi persediaan produkjadi.

2. Perancangan Entity Relationship Diagram (ERD) adalah diagram hubungan antar entitas dengan menggunakan ERD.

e. Rancangan Teknologi

Rancangan teknologi terdiri dari: 1. Perangkat Keras (Hardware)

Teknologi perangkat keras komputer terdiri dari alat masukan, alat pemrosesan, alat output, dan simpanan luar.


(48)

2. Perangkat Lunak (Software)

Teknologi perangkat lunak yang berupa software Visual Basic dan

MySQL.

Langkah-langkah membuatperangkatlunak adalah sebagai berikut: a. Mendesain Form

Desain Form dilakukan dengan memasukan objek yang diinginkan ke dalam form dan dilakukan perubahan terhadap nilai properties-nya

b. Mengisi Source Code

Setiap objek memiliki bahasa source code yang berguna untuk menjalankan program tersebut.

c. MenghubungkanVisual basic dengan MySQL

Setelah Software Visual basic dapatdijalankan, selanjutnya program tersebut dihungkan ke Software MySQl dengan ODBC. Data yang dimasukkan dari Software Visual Basic akan tersimpan di Software MySQL.

d. Membuat form di Software MySQL

Setalah form di Software Visual Basic selesai, selanjutnya dibuat form yang sama di software MySQL sebagai tempat penyimpanan data.

e. Menyimpan Form dan Project

Setelah form selesai, simpan hasil kerja tersebut ke dalam file yang bersatu dengan project yang dikerjakan


(49)

3. Perangkat Teknisi (Brainware)

Brainware merupakan orang-orang yang mengetahui teknologi dan

membuatnya dapat beroperasi.

3. Testing

Pada tahapan ini merupakan tahapan nyata dalam mengerjakan suatu sistem. Pada tahapan ini dilakukan pengujian terhadap program yang sudah dibuat. 4. Penerapan

Tahapan ini adalah tahapan terakhir setelah dilakukannya analisis stuktur sistem, desain, dan testing, maka sistem yang sudah jadi dapat digunakan oleh user.


(50)

Mulai

Mulai

Perancangan Model a. Physical System b. Struktur Sistem c. Logical Model

Perancangan Model a. Physical System b. Struktur Sistem c. Logical Model

Perancangan Output Perancangan Output Perancangan Input Perancangan Input Selesai Selesai

Perancangan Basis Data a. Perancangan File

b.Perancangan Entity Relationship Diagram (ERD)

Perancangan Basis Data a. Perancangan File

b.Perancangan Entity Relationship Diagram (ERD)

Perancangan Teknologi a. Perangkat Keras (Hardware) b. Perangkat Lunak (Software) c. Perangkat Teknisi (Brainware)

Perancangan Teknologi a. Perangkat Keras (Hardware) b. Perangkat Lunak (Software) c. Perangkat Teknisi (Brainware)

Analisis Struktur Sistem

Analisis Struktur Sistem

Testing Program Testing Program

Penerapan Sistem

Penerapan Sistem

Membuat code program yang dirancang

Membuat code program yang dirancang


(51)

4.10. Analisis Data

Analisa data dilakukan dengan menganalisis hasil identifikasi terhadap masalah yang terjadi pada sistem informasi persediaan produk jadi perusahaan. Hasil analisis yang didapatkan berupa perbaikan sistem informasi persediaan produk jadi pada PT. Gold Coin dengan menerapkan metode Waterfall.

4.11. Kesimpulan dan Saran

Tahap terakhir yang dilakukan adalah penarikan kesimpulan yang berisi hal-hal penting dalam penelitian ini. Kesimpulan merupakan perumusan dari tahap analisis sebelumnya. Saran-saran yang diberikan berguna untuk perbaikan hasil penelitian dan pemberian saran kepada pihak perusahaan untuk mengimplementasikan hasil penelitian ini.


(52)

BAB V

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Pengumpulan Data

5.1.1. Data Persediaan Produk Jadi

Data yang menyangkut persediaan di PT. Gold Coin antara lain: 1. Data Permintaan

Data total permintaan pakan ternak dari pelanggan perperiode atau dapat dilihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Data Permintaan Produk Jadi pada Tanggal 25 Juli 2015

Permintaan Produk 105 m (Bag) Produk 105 p (Bag) Produk 201 c (Bag) Produk 202 c (Bag) Produk 801 sp (Bag)

1 46 38 43 32 35

2 53 45 36 42 30

3 45 42 35 38 28

4 48 46 42 41 34

5 55 51 35 37 32

6 52 43 32

7 50 39

8 54 48

Total

Permintaan 403 352 223 190 159

Laju

Permintaan 50 44 27 23 19

Sumber : PT. Gold Coin Indonesia Medan

2. Data Produksi

Data laju produsi merupakan rata-rata jumlah produksi produk perperiode sesuai dengan perencanaan produksi yang didasarkan pada permintaan


(53)

konsumen dan kondisi ketersediaan produk jadi digudang. Data laju produksi dapat dilihat pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2. Data Produksi pada Tanggal 25 Juli 2015

Produksi Produk 105 m (Bag) Produk 105 p (Bag) Produk 201 c (Bag) Produk 202 c (Bag) Produk 801 sp (Bag)

1 92 76 82 58 63

2 106 90 72 71 54

3 95 84 70 68 50

4 96 87 80 74 58

5 105 92 70 67 52

6 104 86 67

7 95 78

8 108 91

Total Produksi 801 684 441 338 277

Laju Produksi 100 85 55 42 34

Sumber : PT. Gold Coin Indonesia Medan-Mill

3. Biaya Setup

Biaya setup adalah biaya yang diperlurkan untuk memperlancar proses produksi yang timbul dari intensitas produksi yang dilakukan dalam periode tertentu. Biaya setup pada PT. Gold Coin Indonesia-Medan adalah sebesar Rp.40.000/production setup dalam satu hari

4. Biaya Penyimpanan

Biaya penyimpanan merupakan biaya yang ditimbulkan biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan, biaya modal, biaya penyusutan produ jadi dan lain-lain Biaya penyimpanan produk jadi yang ditetapkan perusahaan adalah biaya penyimpanan produk per hari x 50 (1 bag) = Rp. 24 x 50 = Rp. 1.200 /bag dalam satu hari.


(54)

5.1.2. Uraian Struktur Sistem Aliran Informasi Persediaan PT. Gold Coin

Uraian kegiatan dari aliran informasi aktual yang terkait dengan persediaan produk jadi dengan bagain sales center dan bagian produksi pada perusahaan, yakni:

Kegiatan dan aliran informasi yang dilakukan pada PT. Gold Coin, yakni: 1. Permintaan Konsumen

Kegiatan dan aliran informasi yang dilakukan pada pemesanan konsumen, yakni:

a. Konsumen melakukan pemesanan pakan ternak kebagian sales center PT. Gold Coin.

b. Bagian sales center mengisi kertas permintaan konsumen seperti tanggal pemesanan, jenis pakan yang dipesan, jumlah permintaan, dan waktu pengambilan pesanan.

c. Bagian sales melakukan pengecekan kertas persediaan produk jadi sebelumnya dari laporan persediaan produk jadi dari gudang.

d. Jika persediaan masih tersedia digudang maka bagian sales center menginformasikan kebagian gudang untuk mengirim permintaan konsumen tersebut dan mengisi kertas pengeluran produk jadi

e. Jika permintaan tersebut tidak tersedia digudang maka bagian seles center menginformasikan bagian produksi untuk memproduksi permintaan konsumen tersebut.


(55)

INVENTORY SALES CENTER

KONSUMEN

1. Permintaan produk jadi

Form Perintah produksi

Stok Produk jadi

PERMINTAAN KOSUMEN Form Permintaan produk jadi Form Persediaan Produk Jadi

5. Melakuakan produksi sesuai dengan perintah produksi

Form Persediaan Produk jadi sebelumnya PRODUCTION 2 4 5 3 Form pengeluaran produk jadi 4 4. Pengiriman produk jadi

Sumber : Pengumpulan Data

Gambar 5.1. Model Aliran Informasi Aktual Permintaan Konsumen

2. Produksi Produk Jadi

Kegiatan dan aliran informasi yang dilakukan pada produksi produk jadi, yakni:

a. Bagian produksi mendapatkan informasi dari bagian sales center tentang jenis produk dan jumlah produk yang akan diproduksi dan dibuat dalam kertas perintah produksi.

b. Bagian produksi memproduksi sesuai dengan kertas perintah produksi yang diinformasikan.

c. Setelah produk tersebut selesai diproduksi maka bagian produksi akan mengisi laporan hasil produksi.


(56)

d. Bagian produksi selanjutnya mengirim produk yang diproduksi tersebut kebagian gudang produk jadi untuk disimpan sementara sebelum dikirim kekonsumen.

Model produksi produk jadi dapat dilihat pada Gambar 5.2.

INVENTORY SALES CENTER

Form Permintaan Konsumen

Stok Produk jadi

PRODUKSI PRODUK JADI

4. Menerima produk yang diproduksi

Form Perintah Produksi 1

PRODUCTION

1

2. Melakukan Produksi Form

Produksi

3 4. Mengirim produk

yang diproduksi

Sumber : Pengumpulan Data

Gambar 5.2. Model Aliran Informasi Aktual Produksi Produk Jadi

3. Penerimaan Produk Jadi

Kegiatan dan aliran informasi yang dilakukan pada penerimaan produk jadi, yakni:

a. Bagian gudang produk jadi akan menerima produk hasil produksi untuk disimpan sementara digudang sebelum dikirim kekonsumen.

b. Bagian gudang produk jadi akan mengisi ketas laporan persediaan produk jadi sesuai dengan produk yang diterimanya dari bagian produksi


(57)

c. Dengan adanya barang yang masuk kegudang selanjutnya bagian gudang melakukan perhitungan persediaan produk digudang.

Model penerimaan produk jadi dapat dilihat pada Gambar 5.3.

INVENTORY

Stok Produk jadi

PENERIMAAN PRODUK JADI

1. Menerima produk yang diproduksi PRODUCTION Form produksi 1 1.Mengirim produk

yang diproduksi Form

penerimaan produk jadi 2 Menambahkan ketersediaan produk jadi 3 SALES CENTER Persediaan produk jadi sebelumnya 3

Sumber : Pengumpulan Data

Gambar 5.3. Model Aliran Informasi Aktual Penerimaan Produk Jadi

4. Pengeluaran Produk jadi

Kegiatan dan aliran informasi yang dilakukan pada produksi, yakni:

a. Bagian gudang produk jadi akan memperoleh produk hasil produksi dan disimpan sementara gigudang dan akan dikrim setelah mendapatkan informasi dari bagian sales center mengenai produk yang akan dikirim ke konsumen. Informasi yang diproleh mengenai jenis produk jadi, jumlah pesanan, alamat pengiriman dan tanggal pengiriman pesanan.

b. Bagian gudang akan mengisi laporan persediaan produk jadi tentang kondisi produk jadi yang akan dikeluarkan.


(58)

c. Selanjunya bagian gudang akan melakukan perhitungan persediaan produk jadi digudang karena ada produk jadi yang keluar

d. Bagian gudang produk jadi mengirim produk yang dipesan konsumen tersebut kekonsumen.

Model pengeluaran produk jadi dapat dilihat pada Gambar 5.4.

INVENTORY SALES CENTER

KONSUMEN 4. Penerimaan

produk jadi

Stok Produk jadi

PENGELUARAN PRODUK JADI

1. Menerima Produk yang diproduksi Mengisi laporan pengeluran produk jadi 2 Form Permintaan konsumen 1 Mengisi data persediaan Produk jadi 3 4. Melakuakan pengeluaran produk PRODUCTION

1. Mengirim Produk yang diproduksi

Sumber : Pengumpulan Data

Gambar 5.4. Model Aliran Informasi Aktual Pengeluaran Produk jadi

Keluhan dan lama waktu yang diperoleh dari aliran informasi aktual di PT. Gold Coin dapat dilihat pada Tabel 5.3. dan Tabel 5.4.

Tabel 5.3. Waktu Aktual Aliran Informasi PT. Gold Coin

Aliran Informasi Aktual

Permintaan Konsumen 25 menit Perintah Produksi 20 menit

Data Produksi 40 menit

Penerimaan Produk Jadi 25 menit Pengeluaran Produk Jadi 30 menit Data Persediaan Produk Jadi 60 menit


(59)

Tabel 5.4. Keluhan yang Diperoleh dari Aliran Informasi Aktual di PT. Gold Coin

No. Arus

Informasi Data Keluhan

1.

Sales Center

- Menyimpan data pelanggan, menyimpan jenis-jenis produk yang diproduksi dan menyimpan data permintaan konsumen dalam form kertas tidak efektif

- Mengetahui kondisi persediaan selama 60 menit - Tidak dapat mengetahui kemampuan produksi - Menginformasikan permintaan konsumen

kebagian yang lain tidak update

2. Production

- Tidak dapat memperkirakan jumlah produksi - Menyimpan data hasil produksi dalam form kertas

tidak efektif

- Tidak dapat meng- update data hasil produksi

3.

Inventory

-Menyimpan data barang masuk dan batang keluar dalam form kertas membuat karyawan kewalahan -Susah mengetahui persediaan produk jadi melalui

form kertas

-Kesulitan menghitung persediaan produk jadi secara manual

- Informasi persediaan kebagian lain tidak update

Sumber : Pengumpulan Data

Secara umum, kebutuhan sistem PT. Gold Coin membutuhkan sistem informasi berbasis komputer yang dihubungkan melalui jaringan untuk mewujudkan kelancaran aliran informasi antar bagian yang terkait dengan bagian penerimaan dan produksi di setiap bagian yang membutuhkan data dan laporan seperti yang terlihat pada Tabel 5.5.


(60)

Tabel 5.5. Kebutuhan Data Setiap User

Nama Sistem Informasi Manajemen PT. Gold Coin

Sales Center Factory Manager Production Inventory

Form Permintaan

produk jadi

Form Perintah

produksi

Form Produksi

Form Pengeluaran

produk jadi

Form Penerimaan

Produk Jadi

Master Produk Jadi

Master Pembeli

Laporan Penjualan

Kartu Persediaan

Produk Jadi

Terminal setiap user PT. Gold Coin dapat dilihat pada Gambar 5.5.

Sales Center Inventory Production

Karyawan Sales Karyawan Inventory Basis Data TOP LEVEL MANAGEMENT

MIDDLE LEVEL MANAGEMENT

BOTTOM LEVEL MANAGEMENT Factory

Manager

Karyawan production


(61)

Uraian dari kebutuhan user berdasarkan terminal user dapat dilihat pada Gambar 5.6.


(62)

Sales Center

Form Permintaan produk jadi

Factory Manager

Form Perintah Produksi Master Pembeli

Kartu Persediaan Produk Jadi

Production

Form Perintah Produksi

Form Produksi

Inventory

Form Permintaan Produk Jadi

Form Penerimaan Produk jadi

Form Pengeluaran Produk Jadi Master Produk Jadi

Sistem Informasi Manajemen PT. Gold Coin

Laporan Penjualan

Kartu Persediaan Produk Jadi


(63)

5.2. Perangolahan Data

5.2.1. Perhitungan Pesediaan Produk Jadi

PT. Gold Coin merupakan perusahaan yang memproduksi beberapa jenis pakan ternak dengan mnenggunakan peralatan yang sama berdasarkan atas perputaran atau secara bergantian. Oleh karena itu penjadwalan (skedul) produksi untuk multi item harus diatur dengan baik agar siklus produksi berjalan lancar dan semua produk dapat diproses dengan permintaan. Sehingga metode perhitungan persediaan produk jadi PT. Gold Coin dengan menggunakan Economic

Production Quantity (EPQ) dan variable-variabel yang digunakan dalam

perhitungan adalah sebagai berkut. Ri = Total permintaan perperiode ri = Laju permintaan

Pi = Laju produksi

Hi = Biaya simpan perperiode Ci = Biaya setup produksi

m = Jumlah siklus produksi optimal perperiode Qi = Volume produksi optimal


(64)

Tabel 5.6. Perhitungan Metode EPQ Produk Total permintaan perhari (Ri) Laju Perminta an (ri) Laju Produksi (Pi) Biaya Simpan Perhari (Hi) (HiRi(pi-ri)/pi)

105 m 403 50 100 1.200 241800

105 p 352 44 85 1.200 203745.8824

201 c 223 27 55 1.200 136232.7273

202 c 190 23 42 1.200 103142.8571

801 sp 159 19 34 1.200 84176.47059

Total 769097.9374

Ci (Biaya Setup) = 40.000/hari

1. Perhitungan Jumlah Order Production

m* = √∑

m* = √

m* = 3,1006 = 3 kali

2. Perhitungan Waktu Produksi Perorder N / m* = 8/3 = 2,6667 = 2 jam 3. Total Produksi

Qi =

Q produk 105 m = 403/3,1006 = 130 Bag/Hari Q produk 105 p = 352/3,1006 = 113 Bag/Hari Q produk 201 c = 223/3,1006 = 72 Bag/Hari Q produk 202 c = 190/3,1006 = 61 Bag/Hari Q produk 801 sp = 159/3,1006 = 51 Bag/Hari


(65)

5.2.2. Perancangan Model

Perancangan model sistem aliran informasi ini dibagi menjadi perancangan

physical system, perancangan struktur sistem, dan perancangan logical model.

5.2.2.1.Perancangan Model Physical System

Physical system digambarkan berdasarkan business process reengineering

sesuai uraian aktivitas usulan untuk aliran informasi di PT. Gold Coin menerapkan peran komputer. Uraian sistem aliran informasi yang diusulkan adalah sebagai berikut:

1. Permintaan Konsumen

Kegiatan dan aliran informasi yang dilakukan pada pemesanan konsumen, yakni:

a. Konsumen melakukan pemesanan pakan ternak kebagian sales center PT. Gold Coin.

b. Bagian sales center mengisi form permintaan konsumen seperti nomor permintaan, tanggal pemesanan, jenis pakan yang dipesan, jumlah permintaan, dan waktu pengambilan pesanan. Kemudian jika konsumen merupakan pelanggan yang baru maka sales center terlebih dahulu mengisi form pembeli untuk menyimpanan identitas pembeli dan jika konsumen tersebut merupakan pelanggan tetap maka tidak perlu mengisi form pembeli. c. Setelah mengisi form permintaan konsumen, selanjutnya bagian sales center melakukan pengecekan kondisi persediaan produk jadi yang dipesan konsumen tersebut di tabel persediaan produk jadi.


(66)

d. Jika pesanan produk jadi yang diminta konsumen tersebut masih tersedia digudang maka bagi bagian sales center akan menginformasikan bagian gudang ptoduk jadi untuk mengeluarkan atau mengirim produk jadi yang diminta konsumen tersebut sesuai dengan form permintaan.

e. Jika pesanan konsumen tersebut tidak tersedia digudang maka bagian sales center akan menginformasikan kebagian produksi untuk memproduksi kekurangan produk jadi yang dipesan konsumen tersebut dan dibuat dalam form perintah produksi

Model Permintaan konsumen dapat dilihat pada Gambar 5.7.

INVENTORY SALES CENTER

KONSUMEN

1. Permintaan produk jadi

5. Form Perintah produksi

Stok Produk jadi

PERMINTAAN KOSUMEN

2. Form Permintaan

4. Persediaan Produk Jadi 5. Melakuakan produksi

sesuai dengan perintah produksi

3. Persediaan Produk jadi

PRODUCTION 4. Pengiriman

produk jadi

Gambar 5.7. Model Aliran Informasi Usulan Permintaan Konsumen

2. Produksi Produk Jadi

Kegiatan dan aliran informasi yang dilakukan pada produksi produk jadi, yakni:


(67)

a. Bagian produksi mendapatkan informasi dari bagian sales center tentang jenis produk dan jumlah produk yang akan diproduksi yang diisi diform perintah produksi

b. Bagian produksi memproduksi sesuai dengan form perintah produksi yang diinformasikan.

c. Setelah produk tersebut selesai diproduksi maka bagian produksi akan mengisi form produksi tentang produk yang telah diproduksinya.

d. Bagian produksi selanjutnya mengirim produk yang diproduksi tersebut kebagian gudang produk jadi untuk disimpan sementara sebelum dikirim kekonsumen dan mengisi form penerimaan produk jadi digudang.

Model produksi produk jadi dapat dilihat pada Gambar 5.8.

INVENTORY SALES CENTER

1. Form Permintaan

Stok Produk jadi

PRODUKSI PRODUK JADI

4. Menerima produk yang diproduksi 1. Form Perintah produksi

PRODUCTION

2. Melakukan Produksi

4.Mengirim produk yang diproduksi 2. Form produksi

4. Form Penerimaan Produk Jadi

Gambar 5.8. Model Aliran Informasi Usulan Produksi Produk Jadi


(68)

Kegiatan dan aliran informasi yang dilakukan pada penerimaan produk jadi, yakni:

a. Bagian gudang produk jadi akan menerima produk hasil produksi untuk disimpan sementara digudang sebelum dikirim kekonsumen.

b. Bagian gudang produk jadi akan mengisi form penerimaan produk jadi sesuai dengan produk yang diterimanya dari bagian produksi

c. Bagian gudang produk jadi selanjutnya melaporkan jumlah produk jadi yang masuk kegudang dengan mengisi form persediaan produk jadi agar bagian sales center mengetahui kondisi ketersediaan produk jadi digudang.

Model penerimaan produk jadi dapat dilihat pada Gambar 5.9.

INVENTORY

Stok Produk jadi

PENERIMAAN PRODUK JADI

1. Menerima produk yang diproduksi PRODUCTION

1. Form produksi

1.Mengirim produk yang diproduksi

2. Form penerimaan produk jadi 3. Menambahkan ketersediaan produk jadi

SALES CENTER

3. Persediaan produk jadi

Gambar 5.9. Model Aliran Informasi Usulan Penerimaan Produk Jadi

4. Pengeluaran Produk jadi


(69)

a. Bagian gudang produk jadi akan menerima hasil produksi yang akan dikirim ke konsumen berdasarkan informasi dari bagian sales center melalui form permintaan mengenai produk yang akan dikirim ke konsumen. Informasi yang diproleh mengenai jenis produk jadi, jumlah pesanan, alamat pengiriman dan tanggal pengiriman pesanan.

b. Bagian produk akan mengisi form pengeluaran produk jadi tentang kondisi produk jadi yang akan dikeluarkan.

c. Selanjunya bagian produk jadi akan melaporkan jumlah produk jadi yang keluar dari gudang dengan mengisi form pesediaan produk jadi agar bagian sales center mengetahui kondisi persediaan produk jadi digudang

d. Bagian gudang produk jadi mengirim produk yang dipesan konsumen tersebut kekonsumen.

Model pengeluaran produk jadi dapat dilihat pada Gambar 5.10.

INVENTORY SALES CENTER

KONSUMEN 4. Penerimaan

produk jadi

Stok Produk jadi

PENGELUARAN PRODUK JADI

1. Menerima Produk yang diproduksi

2. Form Pengeluaran produk jadi 1. Form Permintaan

3. pengurangan persediaan produk jadi 4. Melakuakan

pengeluaran produk

PRODUCTION

1. Mengirim Produk yang diproduksi 3. Persediaan produk jadi


(70)

5.2.2.2. Perancangan Struktur Sistem

Struktur sistem informasi informasi manajemen pada PT. Gold Coin Perdana adalah sebagai berikut:

1. Input

Input sistem informasi manajemen pada PT. Gold Coin adalah:

a. Manusia

- Karyawan pada bagian sales center yang menerima permintaan dari konsumen

- Karyarwan pada bagian production yang melakukan perintah produksi, penyimpanan data hasil produksi

- Karyawan pada bagian inventory yang menginput data barang masuk dan keluar dari gudang

- Factory Manager melihat dan mengesahkan laporan penjualan produk jadi b. Informasi

- Data permintaan konsumen. - Data perintah produksi. - Data Produksi

- Data pengeluaran produk jadi. - Data penerimaan produk jadi. - Biaya Simpan

- Biaya Setup c.Peralatan - Komputer


(71)

d.Modal berupa uang e.Metode

- Sistem Informasi adalah waterfall - Persediaan adalah EPQ

2. Proses

Proses transformasi pada sistem informasi manajemen pada PT. Gold Coin adalah

- Menghitung laporan penjulan produk jadi

- Menghitung jumlah persediaan produk jadi untuk di update

- Menghitung persediaan Ekonomis dengan menentukan jumlah produksi menggunkan metode EPQ

3. Output

Output yang dihasilkan berupa laporan yang ditampilkan di monitor atau

cetakan pada media kertas. Adapun laporan yang dihasilkan adalah laporan penjualan produk jadi, kartu persediaan produk jadi, hasil perhitungan persediaan produk jadi ekonomis dengan metode EPQ.

4. Lingkungan Sistem

Elemen yang berada diluar sistem selain input, proses transformasi dan output tetapi memiliki dampak bagi kinerja sistem dalam mencapai sasarannya. Lingkungan sistem ini terdiri dari supplier yang memasok bahan ke dalam perusahaan dan pembeli yang membeli produk dari perusahaan. Struktur sistem Informasi di PT. Gold Coin dapat dilihat pada Gambar 5.11.


(72)

INPUT a. Manusia

- Karyawan sales - Karyawan Inventory - karyawan Production - Factory Manager b. Informasi

- Data permintaan konsumen. - Data perintah produksi. - Data Produksi

- Data pengeluaran produk jadi. - Data penerimaan produk jadi. - Biaya Simpan

- Biaya Setup c.Peralatan - Komputer d.Modal berupa uang e.Metode

- Sistem Informasi adalah waterfall - Persediaan adalah EPQ

PROSES TRANSFORMASI Proses transformasi dari sistem adalah: · Menghitung laporan penjulan produk jadi · Menghitung jumlah persediaan produk jadi

untuk di update

· Menghitung persediaan Ekonomis dengan menentukan jumlah produksi menggunkan metode EPQ

OUTPUT Output dari sistem adalah: · Laporan Total Penjualan produk jadi · Laporan Jumlah Persediaan Produk jadi · Hasil perhitungan persediaan produk jadi Ekomomis

dengan metode EPQ

Konsumen Supplier

FEEDBACK

· Kelancaran Aliran Informasi pada bagian yang terkait

· Kelancaran dalam pengolahan data terkait dengan persediaan produk jadi

Gambar 5.11. Struktur Sistem Informasi di PT. Gold Coin

5.2.2.3. Perancangan Model Logik

Perancangan DFD untuk sistem informasi manajemen di PT.Gold Coin dilihat sebagai berikut:

1. Diagram Konteks

Diagram Konteks untuk model perancangan sistem informasi manajemen di PT. Gold Coin dapat dilihat pada Gambar 5.12.


(73)

Production

Konsumen Sales Center

Penjulan produk jadi disahkan Produk jadi sudah diterima konsumen

Laporan penjulan

Memesan produk jadi

Pesanan dapat dipenuhi

Pengiriman Produk jadi

Inventory

Pengiriman hasil produksi

Factory Manager

Produksi dapat terpenuhi

Perintah produksi

Gambar 5.12. Diagram Konteks

2. Diagram Level 0

Diagram Level Nol yang merupakan hasil perincian dari Diagram Konteks dapat dilihat pada Gambar 5.13.

1. Data permintaan konsumen Konsumen

Sales center Pesanan

konsumen

Jenis produk, jumlah dan Tanggal penerimaan produk Pesanan tersedia atau tidak Konfirmasi ketersediaan pesanan

Gambar 5.13. Level 0 dari Data Flow Diagram

3. Diagram Level 1

Diagram Level 1 yang merupakan hasil perincian dari Diagram Konteks dapat dilihat pada Gambar 5.14.


(74)

1. Data permintaan konsumen Konsumen Sales Center Pesanan konsumen

Jenis produk, jumlah dan Tanggal penerimaan produk Pesanan tersedian atau tidak Konfirmasi keterseiaan pesanan

2. Data persediaan produk jadi Inventory Pemesanan produk jadi Kondisi persediaan produk jadi

Jumlah produk jadi digudang Konfirmasi

ketersediaan produk

Gambar 5.14. Level 1 dari Data Flow Diagram

4. Diagram Level 2

Diagram Level Nol yang merupakan hasil perincian dari Diagram Konteks dapat dilihat pada Gambar 5.15.

1. Data permintaan konsumen Kosumen

Sales Center Pesanan

konsumen

Jenis produk, jumlah dan Tanggal penerimaan produk

Pesanan tersedia atau

tidak Konfirmasi

ketersediaan pesanan

2. Data persediaan produk jadi

inventory

3. Data perintah produksi Jumlah Produksi

Kondisi

produksi Perintah produksi Konfirmasi kemampuan produksi Production Pemesanan produk jadi Kondisi persediaan produk jadi Jumlah produk jadi digudang Konfirmasi ketersediaan produk


(75)

5. Diagram Level 3

Diagram Level 3 yang merupakan hasil perincian dari Diagram Konteks dapat dilihat pada Gambar 5.16.

1. Data permintaan konsumen Kosumen

Sales Center Pesanan

konsumen Tanggal penerimaan produkJenis produk, jumlah dan

Pesanan tersedia atau tidak Konfirmasi ketersediaan pesanan

2. Data persediaan produk jadi

Inventory

3. Data perintah produksi Jumlah Produksi Kondisi produksi Perintah produksi Konfirmasi kemampuan produksi Production Pemesanan produk jadi Kondisi persediaan produk jadi Jumlah produk jadi digudang Konfirmasi ketersediaan produk Penerimaan produk digudang

4. Data produksi

Hasil produksi

Gambar 5.16. Level 3 dari Data Flow Diagram

6. Diagram Level 4

Diagram Level 4 yang merupakan hasil perincian dari Diagram Konteks dapat dilihat pada Gambar 5.17.


(76)

1. Data permintaan konsumen Kosumen

Sales Center Pesanan

konsumen Tanggal penerimaan produkJenis produk, jumlah dan

Pesanan tersedia atau tidak Konfirmasi ketersediaan pesanan 2. Data persediaan produk jadi Inventory

3. Data perintah produksi Jumlah Produksi Kondisi produksi Perintah produksi Konfirmasi kemampuan produksi Production Pemesanan produk jadi Kondisi persediaan produk jadi Jumlah produk jadi digudang Konfirmasi ketersediaan produk Penerimaan produk digudang

4. Data produksi

Hasil produksi 5. Data pengeluaran produk Produk sudah diterima Pengeluaran produk Pengiriman produk Konfirmasi penerimaan produk

Gambar 5.17. Level 4 dari Data Flow Diagram

7. Diagram Level 5

Diagram Level 5 yang merupakan hasil perincian dari Diagram Konteks dapat dilihat pada Gambar 5.18.


(77)

1. Data permintaan konsumen Kosumen

Sales Center Pesanan

konsumen Tanggal penerimaan produkJenis produk, jumlah dan

Pesanan tersedia atau tidak Konfirmasi ketersediaan pesanan 2. Data persediaan produk jadi Inventory

3. Data perintah produksi Jumlah produksi Kondisi produksi Perintah produksi Konfirmasi kemampuan produksi Production Pemesanan produk jadi Kondisi persediaan produk jadi Jumlah produk jadi digudang Konfirmasi ketersediaan produk Penerimaan produk digudang

4. Data produksi

Hasil produksi 5. Data pengeluaran produk Produk sudah diterima Pengeluaran produk Pengiriman produk Konfirmasi penerimaan produk

6. Data penjualan

Factory Manager Hasil penjualan Laporan penjualan pengesahan Hasil pengesah

Gambar 5.18. Level 5 dari Data Flow Diagram

5.2.3. Perancangan Output

Output yang diperlukan oleh setiap user adalah sebagai berikut:

1. Kartu Persediaan Produk Jadi

Kartu Persediaan Produk Jadi PT. Gold Coin

Tanggal Persediaan 105 m Persediaan 105 p Persediaan 201 c Persediaan 202 c Persediaan 801 sp


(78)

2. Laporan Penjualan Produk Jadi

Laporan Penjualan Produk Jadi PT. Gold Coin

Tanggal

No

Permintaan Kode

Produk jadi

Jumlah Pengeluaran

Harga

Persatuan Harga Total

Gambar 5.20. Format Output Laporan Penjualan Produk Jadi

3. Hasil Perhitungan Metode EPQ

Hasil Perhitungan Metode EPQ PT. Gold Coin

Jumlah Produksi Jumlah Siklus Produksi Jumlah Hari kerja Tiap Siklus

Gambar 5.21. Format Output Hasil Perhitunga Metode EPQ

Penjelasan rancangan output sistem informasi pada PT. Gold Coin dapat dilihat pada Tabel 5.7.


(79)

Tabel 5.7. Penjelasan Rancangan Output Sistem Informasi pada PT. Gold Coin

No Output Arus Data Penjelasan Periode Struktur Data

1 Kartu Persediaan Produk Jadi Gudang produk jadi Manager Pabrik Data kondisi ketersediaan produk jadi Tidak ditentukan Tanggal, Persediaan 105 m, Persediaan

105 p, Persediaan 201 c, Persediaan 202 c, Persediaan

801 sp 2 Laporan

Penjualan Produk Jadi

Kantor  Manager Pabrik Laporan bulanan penjualan produk jadi

Bulanan Tanggal, No Permintaan, Kode Produk Jadi, Jumlah

Pengeluaran, Harga Persatuan, Harga

Total 3 Hasil

Perhitungan Metode

EPQ

Gudang  Produksi Hasil Perhitungan pesediaan produk jadi dengan metode EPQ

Hari Jumlah Produksi, Jumlah Siklus Produksi, Jumlah

Hari Kerja Tiap Produksi


(80)

5.2.4. Perancangan Input

Input yang dibutuhkan oleh setiap user adalah sebagai berikut: 1. Master Pembeli

Gambar 5.22. Format Input Master Pembeli

2. Master Produk Jadi


(81)

3. Form Permintaan Konsumen

Gambar 5.24. Format Input Form Permintaan Konsumen

4. Form Perintah produksi

Gambar 5.25. Format Input Form Perintah Produksi


(82)

5. Form Produksi

Gambar 5.26. Format Input Form Produksi

6. Form Penerimaan Produk Jadi

Gambar 5.27. Format Input Form Penerimann Produk Jadi


(83)

7. Form Pengeluaran Produk Jadi

Gambar 5.28. Format Input Form Pengeluaran Produk Jadi

Penjelasan rancangan Input sistem informasi pada PT. Gold Coin dapat dilihat pada Tabel 5.9.

5.2.5. Perancangan Basis Data 5.2.5.1.Perancangan File

Entitas dari setiap file pada perancangan sistem informasi manajemen ini adalah sebagai berikut:

1. Master Pembeli

Table 5.8. Entitas Master Pembeli

Nama Filed Deskripsi Tipe Data Length Key

Kode Pembeli No urut pembeli Varchar 30 PK Nama Pembeli Nama pembeli Text

Alamat Pembeli Alamat pembeli Text No Telepon No Telepon pembeli Text Alamat Penerima Alamat Pengiriman pesanan Text


(1)

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

1.1. Data Persediaan Produk Jadi pada Tanggal 25 Juli 2015 ... I-2 2.1. Persentase Penggunaan Bahan Baku untuk Pakan Ayam ... II-17 2.2. Mesin Produksi PT. Gold Coin Indonesia-Medan Mill ... II-25 2.3. Peralatan PT. Gold Coin Indonesia-Medan Mill ... II-26 5.1. Data Permintaan Produk Jadi pada Tanggal 25 Juli 2015 ... V-1 5.2. Data Produksi pada Tanggal 25 Juli 2015 ... V-2 5.3. Waktu Aktual Aliran Informasi PT. Gold Coin ... V-7 5.4. Keluhan yang Diperoleh dari Aliran Informasi Aktual

di PT. Gold Coin ... V-8 5.5. Kebutuhan Data Setiap User ... V-9 5.6. Perhitungan Metode EPQ ... V-12 5.7. Penjelasan Rancangan Output Sistem Informasi pada

PT. Gold Coin ... V-27 5.8. Entitas Master Pembeli ... V-31 5.9. Penjelasan Rancangan Input Sistem Informasi pada

PT. Gold Coin ... V-32 5.10. Entitas Master Produk jadi... V-33 5.11. Entitas Form Permintaan Produk Jadi ... V-33 5.12. Entitas Form Perintah Produksi ... V-33


(2)

DAFTAR TABEL (LANJUTAN)

TABEL HALAMAN

5.14. Entitas Form Permintaan Produk Jadi ... V-34 5.14. Entitas Form Pengeluaran Produk Jadi... V-34

6.1. Perbandingan Pengendalian Persediaan Aktual dengan

Metode EPQ ... VI-1 6.2. Perbandingan Bisnis Proses Aktual dengan Bisnis Proses

Usulan ... VI-3 6.3. Perbandingan Sistem Informasi Aktual dengan Sistem

Informasi Usulan ... VI-4 6.4. Perbandingan Waktu Aktual dengan Waktu Usulan ... VI-5


(3)

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN

2.1. Struktur Organisasi PT. Gold Coin Indonesia ... II-4 3.1. Model SIM ... III-2 3.2. Model Waterfall ... III-3 3.3. Operasi Awal ... III-9 3.4. Aliran Kerja yang Telah Dirancang Ulang ... III-10 4.1. Kerangka Konseptual Penelitian ... IV-3 4.2. Langkah-langkah Rancangan Penelitian ... IV-5 4.3. Langkah-langkah Perhitungan Persediaan ... IV-7 4.4. Langkah-langkah Perancangan Sistem Informasi dengan

Metode Waterfall ... IV-11 5.1. Model Aliran Informasi Aktual Permintaan Konsumen ... V-4 5.2. Model Aliran Informasi Aktual Produksi Produk Jadi ... V-5 5.3. Model Aliran Informasi Aktual Penerimaan Produk Jadi ... V-6 5.4. Model Aliran Informasi Aktual Pengeluaran Produk Jadi ... V-7 5.5. Terminal User PT. Gold Coin ... V-9 5.6. Kebutuhan Setiap User Sistem Informasi Manajemen

PT. Gold Coin ... V-10 5.7. Model Aliran Informasi Usulan Permintaan Konsumen ... V-14 5.8. Model Aliran Informasi Usulan Produksi Produk Jadi ... V-15


(4)

DAFTAR GAMBAR (LANJUTAN)

GAMBAR HALAMAN

5.10. Model Aliran Informasi Usulan Pengeluaran Produk

Jadi ... V-17 5.11. Struktur Sistem Informasi di PT. Gold Coin ... V-20 5.12. Diagram Konteks ... V-21 5.13. Level 0 dari Data Flow Diagram ... V-21 5.14. Level 1 dari Data Flow Diagram ... V-22 5.15. Level 2 dari Data Flow Diagram ... V-22 5.16. Level 3 dari Data Flow Diagram ... V-23 5.17. Level 4 dari Data Flow Diagram ... V-24 5.18. Level 5 dari Data Flow Diagram ... V-25 5.19. Format Output Kartu Persediaan Produk Jadi ... V-25 5.20. Format Output Laporan Penjualan Produk Jadi ... V-26 5.21. Format Output Hasil Perhitungan Metode EPQ ... V-26 5.22. Format Input Master Pembeli ... V-28 5.23. Format Input Master Produk Jadi ... V-28 5.24. Format Input Form Permintaan Konsumen ... V-29 5.25. Format Input Form Printah Produksi ... V-29 5.26. Format Input Form Produksi... V-30 5.27. Format Input Form Penerimaan Produk Jadi ... V-30 5.28. Format Input Form Pengeluaran Produk Jadi ... V-31


(5)

DAFTAR GAMBAR (LANJUTAN)

GAMBAR HALAMAN

5.29. Entity Relationship Diagram (ERD) ... V-35 5.30. Algoritma Program Persediaan Produk Jadi ... V-37 5.31. Desain Form pada Visual Basic ... V-38 5.32. Source Code Pada Visual Basic ... V-39 5.33. Menghubungkan Visual Basic dengan MySQL

Menggunakan Connector/ODBC ... V-39 5.34. Membuat Form di Software MySQL ... V-40 5.35. Menyimpan Form dan Project ... V-40 6.1. Tampilan Master Pembeli ... VI-6 6.2. Tampilan Master Produk Jadi ... VI-6 6.3. Tampilan Form Permintaan Konsumen ... VI-7 6.4. Tampilan Form Perintah Produksi ... VI-7 6.5. Tampilan Master Supplier ... VI-8 6.6. Tampilan Form Penerimaan Produk Jadi ... VI-8 6.7. Tampilan Form Pengeluaran Produk Jadi ... VI-9 6.8. Tampilan Data Stok Produk Jadi ... VI-9 6.9. Tampilan Laporan Penjualan Produk Jadi ... VI-10 6.10. Tampilan Data Stok Produk Jadi ... VI-10


(6)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN HALAMAN

1. Cara Menghubungkan Visual Basic dengan MySQL ... L-1

2. Tampilan dan Coding Program ... L-2 3. Menghubungkan antar Komputer ... L-3 4. Data Persediaan ... L-4 5. Form Tugas Akhir ... L-5 6. Surat Penjajakan ... L-6 7. Surat Balasan ... L-7 8. Surat Keputusan Tugas Akhir ... L-8 9. Lembar Asistensi ... L-9