Scale Up Keripik Apel

PERENCANAAN PROYEK PRODUK KERIPIK APEL

PAPER
diajukan guna melengkapi tugas Matakuliah Perencanaan Proyek Agroindustri

Oleh:
Kelompok 1
Maylatul Yessita

141710301013

Mita Lutfifatima PW

141710301016

Yan Bhagaskara Rachman

141710301022

Muhammad Al Imron

141710301046

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Agroindustri sebagai komponen dari sistem agribisnis merupakan industri
yang mengolah bahan baku dari hasil pertanian menjadi bahan setengah jadi atau
barang jadi. Oleh karena itu, agroindustri mempunyai peranan yang sangat
penting karena pada umumnya mampu menghasilkan nilai tambah dari produk
segar hasil pertanian. Kemajuan teknologi agroindustri saat ini bahkan mampu
mendorong produk untuk memenuhi kebutuhan manusia maupun pengguna
lainnya atau meningkatkan pangsa pasar hasil olahan. Tujuan agroindustri
pengolahan hasil pertanian dengan teknologi tertentu, antara lain adalah untuk
mendapatkan produk yang sesuai dengan kebutuhan manusia, baik selera maupun
nilai gizinya, memperpanjang masa simpan hasil pertanian yang mudah rusak,
memberi peluang bagi pergembangan industri dan memperluas pangsa pasar.
Karakteristik bahan agroindustri yang mudah rusak dapat mempercepat
kerusakan bahan sehingga diperlukan pengolahan lanjut untuk memperpanjang
masa simpan bahan dalam hal ini apel. Apel merupakan buah yang mudah rusak
dan musiman sehingga diperlukan pengolahan. Apel dapat diolah menjadi
beberapa olahan produk salah satunya produk keripik apel.
Keripik apel merupakan keripik hasil olahan buah apel yang digoreng
dengan cara khusus, biasanya menggunakan mesin penggoreng hampa. Jika
menggunakan cara penggorengan biasa yakni dengan menggunakan kuali/wajan
buah apel tidak akan menjadi keripik karena buah akan rusak terkena suhu panas
yang berlebih. Proses pengolahan keripik apel yang telah ada jika akan dilakukan
peningkatan kapasitas produksi maka dilakukan proses scale up, yaitu proses
peningkatan kapasitas produksi suatu proses dengan cara meningkatkan input
proses dan juga menambah kapasitas alat yang digunakan. Oleh karena itu,
diperlukan peningkatan kapasitas produksi dengan melakukan scale up.

1.2 Tujuan
Tujuan dari latar belakang diatas adalah untuk mengetahui peningkatan
kapasitas produksi dengan melakukan scale up pada produk keripik apel.

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Keripik Apel
Keripik apel biasanya dibuat dari apel yang sudah matang karena
kemudian dibuat keripik dengan menggunakan penggoreng biasa dan dapat
dilakukan dengan penggorengan modern. Namun dengan menggunakan mesin
penggoreng vakum, pisang masak dapat diolah menjadi keripik. Bahan yang
digunakan adalah apel yang masak 100%, yaitu apel yang daging buahnya sudah
berwarna kuning, tekstur buah cukup lunak, dan rasanya enak/manis.
2.1.1 Diagram alir
Bahan baku
apel
Sortasi
Air

Air

Pengupasan dan
pencucian

Kulit apel

Perajangan

Biji apel

Perendaman
Penirisan awal

Minyak
goreng

Air cucian

Penggoreng
dengan vacuum
frying
Peniriskan
dengan spinner
Pengemasan
Keripik apel

Air kotor
Uap air

Minyak
kotor

2.1.2 Fungsi perlakuan
1.

Persiapan bahan baku
Bahan baku yang dibutuhkan adalah buah apel yang sudah matang dan

masih berkualitas baik, dimana tidak ada kecacatan buah seperti adanya bintik
warna hitam, dan buah apael yang berukuran seragam.
2.

Sortasi
Sortasi merupakan proses pemisahan bahan baku atau memilah-milah

bahan baku seperti dari buah yang baik dari yang rusak atau cacat serta dari
adanya benda asing yang menempel pada buah. Tujuan dilakukan sortasi tersebut
yaitu untuk mendapatkan kualitas buah yang baik.
3.

Pengupasan dan pencucian
Pengupasan dilakukan untuk memisahkan antara kulit apel dengan daging

buah apel. Kemudian dilakukan pencucian buah apel dengan menggunakan air
yang mengalir. Pencucian merupakan proses yang mempunyai tujuan untuk
membersihkan apel, menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel sebelum
dilakukan proses selanjutnya.
4.

Perajangan
Proses perajangan ini digunakan untuk mencapai tujuan memperoleh

bentuk keripik apel yang diinginkan serta penggunaan mesin perajangan adalah
untuk mendapatkan bentuk dan ketebalan ± 0,5 cm yang sama di setiap produk
keripik apel.
5.

Perendaman
Perendaman dilakukan untuk menjaga kesegaran dari buah apel yang

sudah dirajang dengan ketebalan yang seragam.
6.

Penirisan awal
Penirisan awal dilakukan setelah proses perendaman buah yang sudah

dirajang tipis. Fungsinya yaitu untuk menurunkan kadar air yang meresap ke
dalam rajangan buah apel tersebut.
7.

Penggorengan
Penggorengan dilakukan dengan proses vacuum frying atau penggorengan

hampa. Vacuum frying merupakan suatu proses penggorengan yang tergolong

dalam kategori deep frying (penggorengan dalam – penggorengan celup), yaitu
proses penggorengan yang mana seluruh bahan yang digoreng tenggelam
seluruhnya di dalam minyak. Dengan menggunakan proses tersebut dapat
mengeringkan buah dengan kadar air tinggi dan beraroma yang khas.
Penggorengan dilakukan dengan suhu rendah (75 – 85oC) dan tekanan minimum
(-60 – 70 cmHg) sehingga akan menghasilkan produk kripik dengan tekstur dan
warna yang lebih bagus, penyerapan minyak yang rendah, dan aroma khas apel.
8.

Penirisan dengan spinner
Penirisan dengan menggunakan mesin spinner berguna untuk mengurangi

kadar minyak yang cukup tinggi pada keripik apel setelah digoreng (lebih cepat
berkurang). Tujuan penirisan menggunakan mesin tersebut untuk menjaga kualitas
produk seperti tekstur, cita rasa, aroma keripik.
9.

Pengemasan
Pengemasan

berfungsi

untuk

menjaga

kualitas

produk

dengan

menggunakan wadah berbahan alumunium foil. Sehingga dapat mempertahankan
masa simpan dari produk keripik apel.

2.1.3 Alat yang digunakan
No.
1.

Nama Alat
Mesin perajang
apel

Gambar

Spesifikasi Alat
Dimensi : 95cm x
60cm x 103cm
Bahan : Cover
Stainless, Pisau
Baja, Rangka Besi
Pendorong bahan :
otomatis
Kapasitas : 75-100

2.

Vacuum frying

kg/jam
Bahan : full
stainless steel
Dimensi mesin :200
x 180 x 120 cm
Jumlah : 2 buah
Kapasitas : 50 -80
kg/jam

3.

Spinner

Keranjang :
vorporasi stainless
steel
Tabung : stainless
steel
Kapasitas : 25 kg
/proses
Dimensi :
100x85x80 cm

4.

Mesin pengemas

Jenis Kemasan :
Lebar : 6-15mm
Tebal : 0.020.08mm
Printing Letters :
1 lines 15 letters
Suhu : 0-300°C
Kapasitas : 5kg
Dimensi

:

840x380x550 mm
5.

Pisau

6.

Baskom

Dim
: 388 x
307 x 126 mm
Kapasitas : 20kg

Penerimaan dan
Pengeluaran Bahan
Baku
Ruang Produksi
2.2 Penentuan
Lokasi Menggunakan Realchart
Gudang Bahan Baku
Laboratorium
Ruang Pengemasan
Sumber Air
Gudang Bahan Jadi
Kantor
Ruang Pembuangan
Limbah
Ruang Perlengkapan
Umum

A
A
A

I
O

I
I

U
I

I
I
O

I
U

I
U

U
I

X
O
I

X
U
O

O

X
O

U
X
U

I

I

U

E

I

O

I

I
U
X

U

O
A

2.3 Layout Ruang Produksi

2.4 Neraca Massa
1. Pencucian

Apel 225 kg



Ditimbang dan dicuci

Apel = 225 kg x 100% = 225 kg

Tabel neraca massa proses penimbangan dan pencucian

Apel 225 kg

Massa Masuk (in)

Massa Keluar (out)

Apel

Apel

225 kg

225

kg

Jumlah

225 kg
225 kg

2. Pengirisan/pemotongan (Slicing)

Pemotongan

Apel 225 kg

Apel 224 kg

Tabel neraca massa proses slicing
Massa Masuk (in)

Massa Keluar (out)

Apel

Apel
225 kg

224 kg

Jumlah

225 kg

224 kg

3. Perendaman

Irisan apel 224 kg
(k.a 84%)

Perendaman

Irisan apel 222,35 kg
(k.a 84,6%)

Loss : 1,65 kg


Massa komponen (total solid)
Mass in × 0,84 = Mass out × 0,85
224 × 0,84 = Mass out × 0,846
188,16 = 0,846 × mass out
Mass out = 222,35 kg

Tabel neraca massa proses perendaman
Massa Masuk (in)

Massa Keluar (out)

Apel

Loss

224 kg

1,65 kg

Jumlah

224 kg
222,35 kg

4. Penggorengan
Minyak 3,89 kg

Irisan apel 222,35 kg
(k.a 85%)

Penggorengan

Uap air 187,34 kg


Massa total
A+B=C+D
222,35 + B = C + D …….(i)



Massa komponen air
A x 0,85 + 0 = C . 0,04+ D. 1
222,35 x 0,85 = 0,04C + D
D = 188,9 – 0,04 C ……(ii)



Massa komponen minyak
0 + B . 1 = C. 0,1 + 0
B = 0,1 C …….(iii)



Substitusi persamaan (i), (ii), (iii)
222,35 + B = C + D
222,35 + 0,1 C = C + 188,9 – 0,04 C
33,45 = 0,86 C
C = 38,9 kg kripik apel

 B = 0,1 C
maka minyak yang masuk = 0,1 x 38,9 = 3,89 kg

Kripik apel 38,9 kg
(k.a 4%, k minyak 10%)

A+B=C+D
 222,35+ 3,89 = 38,9 + D
D = 187,34 kg uap air
Massa Masuk (in)

Massa Keluar (out)

Apel

Kripik apel
222,35 kg

38,9 kg

Minyak yang masuk

Uap air

3,89 kg

187,34 kg

Jumlah

226,24 kg
226,24 kg

5. Spinning

Kripik apel 38,9 kg

Spinning

(k.a 4 %, k m 9 %)

Kripik apel 37,3 kg
(k.a 4 %, k.m 5 %)

Minyak 1,6 kg


Massa komponen solid (dari minyak)
Kripik apel 1x 0,91 = Kripik apel 2 x 0,95 %
38,9 x 0,91 = Kripik apel 2 x 0,95
Kripik apel 2 = 37,3 kg

Massa Masuk (in)

Massa Keluar (out)

Kripik apel

Kripik apel

38,9 kg

37,3 kg
Minyak yang keluar
1.6 kg

Jumlah
38,9 kg

2.5 Neraca Energi
1. Pencucian
Masuk: M apel = 225 kg
k.a = 84 %
T = 25 ºC
C apel = 3640 J/Kg ºC
Q in = m.c. ΔT
= 225 x 3640 x 25
= 20.475.000 J

38,9 kg

= 20.475 KJ
Keluar: M apel = 225 kg
k.a = 84 %
T = 25 ºC
C apel = 3640 J/Kg ºC
Q in = m.c. ΔT
= 225 x 3640 x 25
= 20.475.000 J
= 20.475 KJ
Q Masuk (in)
Apel
20.475 KJ

Q Keluar (out)
Irisan apel
20.475 KJ

Jumlah
20.475 KJ

20.475 KJ

2. Pengirisan/ pemotongan
Masuk: M apel = 225 kg
k.a = 84 %
T = 25 ºC
C apel = 3640 J/Kg ºC
Q in = m.c. ΔT
= 225 x 3640 x 25
= 20.475.000 J
= 20.475 KJ
Keluar: M apel = 224 kg
k.a = 84 %
T = 25 ºC
C apel = 3640 J/Kg ºC
Q in = m.c. ΔT
= 224 x 3640 x 25

= 20.384.000 J
= 20.384 KJ
Q Masuk (in)
Apel
20.475 KJ

Q Keluar (out)
Irisan apel
20.384 KJ

Jumlah
20.475 KJ

20.384 KJ

3. Perendaman
Masuk: M apel = 224 kg
k.a = 84 %
T = 25 ºC
C apel = 3640 J/Kg ºC
Q in = m.c. ΔT
= 225 x 3640 x 25
= 20.384.000 J
= 20.384 KJ
Keluar: M apel = 222,35 kg
k.a = 84,6 %
T = 24 ºC
C apel = 3640 J/Kg ºC
Q in = m.c. ΔT
= 222,35 x 3640 x 24
= 19.424.496 J
= 19.424,496 KJ
Q Masuk (in)
Apel
20.384 KJ

Q Keluar (out)
Irisan apel
19.424,496 KJ

Jumlah
20.384 KJ

19.424,496 KJ

4. Penggorengan
Masuk: M apel = 222,35 kg
k.a = 84,6 %
T = 24 ºC
C apel = 3640 J/Kg ºC
Q in = m.c. ΔT
= 222,35 x 3640 x 24
= 19.424.496 J
= 19.424,496 KJ
M minyak = 3,89 kg
C minyak = 2,9 KJ= 2900 J
T = 25 ºC
Q in (minyak) = m.c. ΔT
= 3,89 x 2900 x 25
= 282.025 J
= 282,025 KJ
Keluar: M apel = 38,9 kg
k.a = 4 %
T = 80 ºC
Kadar lemak keripik apel = 0%
Cavg= 1674,72 (0) + 837,36 (0,807) + 3640 (0,04)= 0 + 675,74952 + 145,6 =
821,34952 J/Kg ºC
Q out (kripik apel) = m.cavg.ΔT
= 38,9 x 821,34952 x (80-25)
= 1.757.277,29 J
= 1.757,28 KJ
Q out (minyak) = m.c. ΔT
= 3,89 x 2900 x (80-25)
= 175.277,29 J
= 175,28 KJ

L= 2676 KJ = 2676000 J
M uap = 187,34 kg
Q out (uap) = m.L
= 2676000 x 187,34
= 501.321.840 J
= 501,321 KJ
Q Masuk (in)
Kripik apel
19.424,496 KJ
Jumlah
19.424,496 KJ

Q Keluar (out)
Kripik apel
1.757,28 KJ
Minyak
175,28 KJ
1932,56 KJ

Q masuk < Q keluar , berati ada energi yang diterima kedalam bahan.
5. Spinning (penirisan)
Masuk: M apel = 38,9 kg
k.a = 4%
T = 40 ºC
C apel = 3640 J/Kg.K
Q in (apel) = m.c. ΔT
= 38,9 x 3640 x 40
= 5.663.840 J
= 5.663,84 KJ
Keluar : M apel = 38,9 kg
Minyak = 1,6 kg
k.a = 4%
T = 25 ºC
C kripik = 2846,76 J/Kg.K
C minyak = 2900 J
Q out kripik apel = m.c. ΔT

= 38,9 x 2846,76 x 25
= 2.768.474,1 J
= 2.768,47 KJ
Q out minyak = m.c. ΔT
= 1,6 x 2900 x 25
= 116.000 J
= 116 KJ
Q Masuk (in)
Kripik apel
5.663,84 KJ
Jumlah
5.663,84 KJ

Q Keluar (out)
Kripik apel
2.768,47 KJ
Minyak
116 KJ
2884,47 KJ

Q masuk > Q keluar, berati ada panas yang terperangkap dalam alat atau
bahan.
2.6 Kebutuhan Utilitas
a. Kebutuhan Listrik
Listrik untuk Penerangan setiap ruang :
1. Pos Satpam masuk dan keluar
1 Pos satpam Luas = 2m x 4m = 8 m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 8
1125 x 0,5 x 0,7

N = 1,2 = 1 lampu
Untuk 2 pos satpam butuh 2 lampu
Daya : 1 lampu x 15 watt = 15 watt
Switch 20% : 15 watt x efisiensi 1,2 = 18 watt/16 m2 = 1,125 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 1 watt/m2.
2. Parkir Mobil dan Motor

Luas = 5 m x 7 m = 35 m2
Butuh 17 watt x 75 lumen = 1275 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 35
1275 x 0,5 x 0,7

N = = 4,7 = 5 lampu
Daya : 5 lampu x 17 watt = 85 watt
Switch 20%: 85 watt x efisiensi 1,2 = 102 watt/35 m2 = 2,9 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 3 watt/m2.
3. Taman 1
Luas = 3 m x 2 m = 6 m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 6
1125 0,5 x 0,7

N = 0,3 (1 lampu)
Daya : 1 lampu x 15 watt = 15 watt
Switch 20% : 15 watt x efisiensi 1,2 = 18 watt/6 m2 = 3 watt/m2
4. Taman 2
Luas = 10 m x 3 m = 30 m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 30
1125 x 0,5 x 0,7

N = 4,5 lampu = 4 lampu
Daya: 4 lampu x 15 watt = 60 watt
Switch 20% : 60 watt x efisiensi 1,2 = 72 watt/30 m2 = 2,4 watt/m2
5. Toilet 1

Luas = 2 m x 2 m = 4m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 4
1125 x 0,5 x 0,7

N = 0,6 lampu = 1 lampu
Daya : 1 lampu x 15 watt = 15 watt
Switch 20% : 30 watt x efisiensi 1,2 = 15 watt/10 m2 = 1.5 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 2 watt/m2 Maka daya pencahayaannya 3 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 3 watt/m2
6. Resepsionis
Luas = 5 m x 2 m = 10 m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 10
1125 x 0,5 x 0,7

N = 1,5 lampu = 2 lampu
Daya: 2 lampu x 15 watt = 30 watt
Switch 20%: 30 watt x efisiensi 1,2 = 36 watt/10 m2 = 3,6 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 4 watt/m2
7. Ruang Pertemuan
Luas = 5 m x 5 m = 25 m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 25
1125 x 0,5 x 0,7

N = 4 lampu

Daya: 4 lampu x 15 watt = 60 watt
Switch 20%: 30 watt x efisiensi 1,2 = 60 watt/25 m2 = 2,4 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 2 watt/m2
8. Toilet (dalam resepsionis)
Luas = 2,5 m x 3 m = 7,5 m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 7,5
1125 x 0,5 x 0,7

N = 1,2 lampu = 2 lampu(untuk pria dan wanita
Daya : 2 lampu x 15 watt = 30 watt
Switch 20% : 30 watt x efisiensi 1,2 = 36 watt/10 m2 = 3,6 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 4 watt/m2
9. Mushola (ada toilet)
Luas = 6 m x 5 m = 30 m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 30
1125 x 0,5 x 0,7

N = 4,5 lampu = 4 lampu
Daya: 4 lampu x 15 watt = 60 watt
Switch 20%: 60 watt x efisiensi 1,2 = 72 watt/24 m2 = 3 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 3 watt/m2
10. Kantin
Luas = 6 m x 5 m = 30 m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen

N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 30
1125 x 0,5 x 0,7

N = 4,5 lampu = 4 lampu

Daya : 4 lampu x 15 watt = 60 watt
Switch 20% : 60 watt x efisiensi 1,2 = 72 watt/24 m2 = 3 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 3 watt/m2
11. Sumber Air
Luas = 2 m x 2 m = 4 m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 4
1125 x 0,5 x 0,7

N = 0,6 lampu = 1 lampu
Daya : 1 lampu x 15 watt = 15 watt
Switch 20% : 30 watt x efisiensi 1,2 = 15 watt/10 m2 = 1.5 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 2 watt/m2
12. Laboratorium
Luas = 5 m x 5 m = 25 m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 25
1125 x 0,5 x 0,7

N = 4 lampu
Daya: 4 lampu x 15 watt = 60 watt
Switch 20%: 30 watt x efisiensi 1,2 = 60 watt/25 m2 = 2,4 watt/m2

Maka daya pencahayaannya 2 watt/m2
13. Gudang Penyimpanan bahan baku
Luas = 9 m x 4 m = 36 m2
Butuh 35 watt x 75 lumen = 2625 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

100 x 36
2625 x 0,5 x 0,7

N = 3,9 lampu = 4 lampu
Daya: 4 lampu x 35 watt = 140 watt
Switch 20%: 140 watt x efisiensi 1,2 = 168watt/36 m2 = 4,6 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 5 watt/m2
14. Penerimaan dan Pengeluaran barang
Luas = 5 m x 4 m = 20 m2
Butuh 35 watt x 75 lumen = 2625 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

100 x 20
2625 x 0,5 x 0,7

N = 2 lampu
Daya: 2 lampu x 35 watt = 70 watt
Switch 20% : 70 watt x efisiensi 1,2 = 84watt/20 m2 = 4,2 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 4 watt/m2
15. Ruang Produksi
Luas = 10 m x 12 m = 120 m2
Butuh 40 watt x 75 lumen = 3000 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

200 x 120
3000 x 0,5 x 0,7

N = 22,8 lampu = 23 lampu

Daya: 23 lampu x 40 watt = 920 watt
Switch 20%: 920 watt x efisiensi 1,2 = 1104 watt/120 m2 = 9 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 9 watt/m2

16. Kantor
Luas = 5 m x 6 m = 30 m2
Butuh 40 watt x 75 lumen = 3000 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

200 x 30
3000 x 0,5 x 0,7

N = 5,7 lampu = 6 lampu
Daya: 6 lampu x 40 watt = 240 watt
Switch 20%: 240 watt x efisiensi 1,2 = 288 watt/30 m2 = 9,6 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 10 watt/m2
17. Ruang Pengemasan
Luas = 4 m x 6 m = 24 m2
Butuh 40 watt x 75 lumen = 3000 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

200 x 24
3000 x 0,5 x 0,7

N = 4,57 lampu = 5 lampu
Daya : 5 lampu x 40 watt = 200 watt
Switch 20% : 200 watt x efisiensi 1,2 = 240 watt/24 m2 = 10 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 10 watt/m2
18. Gudang Produk Jadi
Luas = 5 m x 6 m = 30 m2
Butuh 40 watt x 75 lumen = 3000 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

350 x 30
3000 x 0,5 x 0,7

N = 10 lampu

Daya: 10 lampu x 40 watt = 400 watt

Switch 20%: 400 watt x efisiensi 1,2 = 480watt/30 m2 = 15 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 15 watt/m2
19. Ruang Perlengkapan umum
Luas = 3 m x 2 m = 6 m2
Butuh 40 watt x 75 lumen = 3000 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

250 x 6
3000 x 0,5 x 0,7

N = 1,4 lampu = 1 lampu
Daya: 1 lampu x 40 watt = 40 watt
Switch 20%: 40 watt x efisiensi 1,2 = 48watt/6 m2 = 8 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 8 watt/m2
20. Pembuangan limbah
Untuk setiap ruang Luas = 4m x 2m = 8m2
Butuh 15 watt x 75 lumen = 1125 lumen
N=

ExA
Q x Cu x Llf

N=

60 x 8
1125 x 0,5 x 0,7

N = 1,3 lampu = 1 lampu
Daya: 1 lampu x 15 watt = 15 watt
Switch 20%: 15 watt x efisiensi 1,2 = 18watt/8 m2 = 2,25 watt/m2
Maka daya pencahayaannya 2 watt/m2
Ada 2 ruang pembuangan limbah, sehingga dibutuhkan lampu 1 x 2 ruang = 2
lampu


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

61 1242 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 347 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 291 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

5 200 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

17 274 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 367 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 334 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

7 195 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 346 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 387 23