Optimalisasi pemanfaatan kawasan pesisir untuk pengembangan budidaya tambak berkelanjutan di Kabupaten Sinjai , Sulawesi Selatan

OPTIMALISASI PEMANFAATAN KAWASAN PESISIR
UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA TAMBAK
BERKELANJUTAN DI KABUPATEN SINJAI,
SULAWESI SELATAN

ASBAR

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007

OPTIMALISASI PEMANFAATAN KAWASAN PESISIR
UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA TAMBAK
BERKELANJUTAN DI KABUPATEN SINJAI,
SULAWESI SELATAN

ASBAR

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa Disertasi Optimalisasi Pemanfaatan Kawasan
Pesisir untuk Pengembangan Budidaya Tambak Berkelanjutan di Kabupaten Sinjai, Sulawesi
Selatan adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam
bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun.

Sumber informasi yang berasal atau

dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor,

September, 2007

Asbar
NIM C226010131

RINGKASAN

ASBAR. Optimalisasi Pemanfaatan Kawasan Pesisir untuk Pengembangan Budidaya
Tambak Berkelanjutan di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Dibimbing oleh DEDI
SOEDHARMA sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan SUGENG BUDIHARSONO,
KADARWAN SOEWARDI, serta DIETRIECH G. BENGEN sebagai Anggota Komisi
Pembimbing.
Kawasan pesisir Kabupaten Sinjai memiliki sumberdaya alam yang cukup potensial,
salah satunya adalah untuk budidaya tambak. Permasalahan utama dalam pengembangan
budidaya tambak adalah tingginya (loading) nutrien dan bahan organik dari budidaya tambak
yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan. Hal ini dapat diatasi dengan alokasi
pemanfaatan lahan yang optimal untuk budidaya tambak berbasis kesesuaian lahan dan daya
dukung lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biofisik,
kesesuaian peruntukan lahan, kapasitas asimilasi, daya dukung lingkungan dan lahan yang
optimal untuk pengembangan budidaya tambak.
Metode survei digunakan untuk menilai karakteristik biofisik lingkungan sebagai dasar
penentuan kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan. Analisis kesesuaian peruntukan
lahan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS), analisis daya dukung
lingkungan dan optimalisasi pemanfaatan mengunakan program tujuan ganda (LGP).
Hasil analisis diperoleh lahan yang sesuai untuk budidaya tambak seluas 1.308,95 ha
dengan alokasi 417,22 ha untuk budidaya tradisional dan 891,73 ha untuk semi-intensif dan
intensif; 310,90 ha sesuai untuk konservasi mangrove; dan 2.205 ha sesuai peruntukan lain.
Volume air yang tersedia di pantai untuk tambak sekitar 68.934.266,17 m3 hr-1, dengan
kemampuan asimilasi perairan sebesar 515.570,87 kg. Hasil analisis dengan daya dukung jika
semua lahan dimanfaatkan untuk budidaya intensif seluas 245,51 ha. Jika semuanya
diperuntukkan semi-intensif seluas 449,93 ha dan tradisional plus seluas 1.473,06 ha. Hasil
analisis Skenario-1 (priotitas aspek ekologi), diperoleh alokasi pemanfaatan lahan untuk
budidaya intensif seluas 117 ha, 350 ha untuk semi-intensif, 525 ha untuk tradisional plus, 155
untuk polikultur (bandeng dan rumput laut), dan 99,89 ha untuk silvofishery, serta 471,78 ha
untuk konservasi mangrove. Hasil Skenario-2 (prioritas aspek sosial) diperoleh alokasi
pemanfaatan lahan seluas 117 ha untuk intensif, 370 ha untuk semi-intensif, 426 ha untuk
tradisional plus dan 255 ha untuk polikultur bandeng dan rumput laut, kemudian 451,81 ha
untuk konservasi mangrove. Hasil Skenario-3 (prioritas aspek ekonomi), mengalokasikan
pemanfaatan lahan untuk budidaya intensif seluas 117 ha, 449,92 ha untuk semi-intensif, 426
ha untuk tradisional plus, 255,15 ha untuk polikultur bandeng dan rumput laut, dan 371,92
untuk konservasi mangrove.
Kata Kunci :

Optimalisasi, pemanfaatan lahan, budidaya tambak, daya dukung lingkungan, dan
keberlanjutan

ABSTRACT

ASBAR. Optimalization of Coastal Area Utilization for Sustainable Brackish water ponds in
Sinjai Regency, South Sulawesi. Under supervision of DEDI SOEDHARMA, SUGENG
BUDIHARSONO, KADARWAN SOEWARDI, and DIETRIECH G. BENGEN.
The coastal area of Sinjai Regency has potential natural resources, one of them is
brackish water pond cultures. The problems in the development of them are loading of organic
substance and nutrients, they influence environmental carrying capacity. These matters can be
overcome by building model of optimal land use for brackish water ponds based on land
suitability and carrying capacity. The aims of this research are to study the characteristic of
biophysics, land suitability, assimilation capacities, carrying capacity and optimalization of
land for the development of fishpond cultures.
The survey methods used to assess characteristics of environmental biophysics which
are used for determination of land suitability and carrying capacity. The analyses are land
suitability, carrying capacity analysis, and optimalization of land utilization. Land suitability
analysis uses GIS and optimalization of land utilization employs linear goal programming
(LGP).
Results of land suitability show that only 1,308.95 hectares are suitable for brackish
water ponds, with allocation of 417.22 hectares for traditional culture and 891.73 hectares for
semi-intensive and intensive cultures, and 310.90 hectares for the mangrove conservation, and
the rest is 2,205.00 hectares. The water volume in coast to brackish water fishponds about
68,934,266.17 m3 hr-1, with assimilate capacity about 515,570.87 kgs. According to carrying
capacity analysis, the areas allocated for intensive, semi-intensive and traditional cultures
consecutively as follows 245.51 hectares, 449.93 hectares, and 1,473.06 hectares.
The result of scenario 1 (ecological priority) is the allocation of land utilization for
intensive shrimp culture 117 hectares, 350 hectares for the semi-intensive, 525 hectares for
traditional shrimp, 155 for the poly-culture of (milkfish and sea grass), and 99.89 hectares for
silvofishery, and also 471.78 hectares for the conservation of mangrove. The result of
scenario 2 (social priority) is the allocation of land optimal utilization for intensive shrimp
culture 117 hectares, 370 hectares for the semi-intensive of, 426 hectares to traditional plus
and 255 hectares for the poly-culture of milkfish and sea grass; then 451.81 hectares for the
conservation of mangrove. The result of scenario 3 (economical priority) is the allocation of
land optimal utilization for intensive shrimp culture 117 hectares, 449.92 hectares for the
semi-intensive of, 426 hectares to traditional plus, 255.15 hectares for the poly-culture of
milkfish and sea grass, and 371.92 hectares for the conservation of mangrove
Key Word: Optimalization, spatial utilization, brackish water ponds culture, carrying capacity
and sustainability

© Hak cipta milik IPB, tahun 2007
Hak cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumber :
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya
ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang menggunakan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam
bentuk apapun tanpa izin IPB.

Penguji pada Ujian Tertutup

: Dr. Ir. Eddy Supriono
Dr. Ir. Hefni Effendi, M.Phil

Penguji pada Ujian Tertutup

: Dr. Ir. Bambang Widigdo, M.Sc
Dr. Ir. Ketut Sugama, M.Sc

Judul Disertasi

:

Optimalisasi Pemanfaatan Kawasan Pesisir Untuk
Pengembangan Budidaya Tambak Berkelanjutan
di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan

Nama
NRP
Program Studi

: Asbar
: C 226010131
: Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (SPL)

Disetujui,
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Dedi Soedharma, DEA
Ketua

Dr. Ir. Kadarwan Soewardi
Anggota

Prof. Dr. Ir. Dietriech G. Bengen, DEA
Anggota

Dr. Ir. Sugeng Budiharsono
Anggota
Diketahui,

Ketua Departemen
Manajemen Sumberdaya Perairan

Dekan
Sekolah Pascasrjana

Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc

Prof.Dr.Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS

Tanggal Ujian : 28 September 2007

Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Buntu Lamba, Enrekang Sulawesi Selatan pada tahun
1964 sebagai anak keempat dari pasangan Maraguni dan Hj. Sia. Pendidikan sarjana
(S1) ditempuh pada Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP)
Jurusan Perikanan

Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Hasanuddin

(UNHAS) pada tahun 1989. Pada tahun 1991, Penulis diterima sebagai mahasiswa
pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) Program Studi Ilmu Perairan (AIR), dan
menamatkannya pada tahun 1994. Pada tahun 2001, penulis mendapat kesempatan
melanjutkan program doktor (S3) pada Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir dan Lautan (SPL), Institut Pertanian Bogor (IPB).
Penulis bekerja sebagai tenaga pengajar pada Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, sejak tahun 1989 –
sekarang. Mata kuliah yang diasuh antara lain : Dinamika Populasi Ikan, Manajemen
Sumberdaya Perikanan, dan Manajemen Penangkapan Ikan.
Pada tahun 1996, penulis menikah dengan Hj. Mutahharah Mas, SE dan telah
dikaruniai 3 orang anak Muhammad Faturrahman, Nur Fadhillah, dan Muhammad
Furqan.
Selama mengikuti S3 beberapa karya telah diterbitkan, diantaranya (1)
Hubungan Antara Berbagai Aktivitas Masyarakat pesisir dan Pola Sebaran
Komunitas Terumbu Karang di Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan telah
dipresentasikan pada Konperensi Nasional III 2002 Pengelolaan Sumberdaya Pesisir
dan Lautan di Bali dan diterbitkan pada Prosiding KONAS III 2002 PSPLI; (2)
Valuasi Ekonomi dan Pengembangan Konservasi Mangrove di Kawasan Pesisir
Kabupaten Berau Kalimantan Timur dipresentasikan pada Konperensi Nasional IV
2004 Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan di Balikpapan-Kalimantan Timur
dan diterbitkan pada Prosiding KONAS IV 2004 PSPLI.

PRAKATA
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan karunia dan
rakhmat-Nya sehingga disertasi ini dapat kami selesaikan. Tema yang penulis kaji
adalah ”Optimalisasi Pemanfaatan Kawasan Pesisir untuk Pengembangan Budidaya
Tambak Berkelanjutan di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan”.
Perhatian terhadap pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan yang sampai
saat ini masih rendah merupakan salah satu pemicu yang menginspirasi mengapa
penelitian ini perlu dilakukan. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan
sering kali hanya didasari atas pencapaian manfaat ekonomi serta tanpa
mengindahkan kaidah-kaidah ekologi yang telah menjadi pendukung bagi
keberlanjutan fungsi sumberdaya pesisir dan lautan bagi pemenuhan kebutuhan
manusia. Pemanfaatan sumberdaya yang melebihi kapasitas daya dukung lingkungan
pesisir dan lautan banyak dipraktekkan dan bahkan menjadi kecenderungan dalam
setiap aktifitas pemanfaatannya. Akibatnya adalah, resultante dampak yang
ditimbulkan oleh kegiatan pemanfaatan sering tidak memperhatikan kesesuaian
peruntukan lahan dan melebihi kapasitas asimilasi dari lingkungan perairan dalam
penerima beban pencemaran baik yang berasal dari kegiatan itu sendiri maupun
dampak akibat kegiatan sektor lainnya.
Dalam penelitian ini tekah diupayakan untuk mengkaji optimalisasi
pemanfaatan lahan pesisir melalui pengelolaan yang terpadu, agar kebutuhan manusia
dapat terpenuhi sekaligus menjaga sumberdaya agar tetap lestari. Upaya untuk
mencapai keseimbangan antara ketersediaan sumberdaya lahan dan kebutuhan
manusia adalah menentukan jenis komoditi, teknologi dan besaran aktivitas manusia
dengan daya dukung lingkungan untuk menampungnya. Dengan demikian, setiap
aktivitas ekonomi atau pembangunan di suatu kawasan harus didasarkan pada analisis
kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan.
Pengembangan budidaya tambak yang dilakukan dengan mempertimbangkan
kaidah-kaidah keberlanjutan berdasarkan aspek ekologi, ekonomi dan sosial, sebagai
dasar penentuan alokasi pemanfaatan lahan budidaya tambak secara optimal yang

didasarkan pada : (1) kesesuaian peruntukan lahan; dan (2) daya dukung lingkungan,
sebagai informasi ilmiah dalam memformulasikan kebijakan pengelolaan, regulasi
dan pemberian lisensi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada
Komisi Pembimbing yang diketuai oleh Bapak Prof. Dr. Ir. Dedi Soedharma, DEA,
dan Bapak Dr. Ir. Sugeng Budiharsono, Bapak Dr. Ir. Kadarwan Soewardi, dan Bapak
Prof. Dr. Ir.Dietriech G. Bengen, DEA, masing-masing sebagai anggota komisi
pembimbing, atas segala bimbingan, arahan, dan dukungannya sehingga disertasi ini
dapat kami selesaikan. Terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Ir.
Rokhmin Dahuri, MS dan Bapak Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA selaku Ketua dan
Sekertaris Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan beserta staf
atas bimbingan dan bantuannya selama penulis studi di IPB.
Pada kesempatan ini juga kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Rektor
Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar yang telah memberikan kesempatan
tugas belajar ke jenjang S3 di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Ditjen Dikti
Departemen Pendidikan Nasional, atas kerjasama dan bantuan Beasiswa Program
Pascasarjana (BPPS) yang telah diberikan.
Terima kasih yang tak terhingga penulis haturkan kepada Ibunda Hj. Sia dan
Ayahanda Maraguni yang telah banyak berkorban mulai sejak penulis lahir telah
mendidik, membimbing, membesarkan dan memberikan doa agar sukses dalam
meraih cita-cita, dan juga kepada kanda Drs. Anshar, Pahri, Drs. Ashri, MM, dan
adinda Andzir, serta seluruh keluarga atas dukungan moril, doa dan bantuannya
selama penulis studi.
Ucapan terima kasih tak terhingga dan terhusus kepada istri tercinta Hj.
Mutahharah Mas, SE dan anak-anakku tersayang Muhammad Fatur Rahman, Nur
Fadhillah, dan Muhammad Furqan yang telah memberikan cinta dan kasih sayang,
pengertian,

kesabaran, doa dan pengorbanannya, mulai dari awal studi sampai

disertasi ini terselesaikan.

Kami menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna, karena itu
saran dan perbaikannya akan sangat kami harapkan. Semoga disertasi ini bermanfaat
dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan.

Bogor,

September, 2007

Asbar

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................

i

KATA PENGANTAR .................................................................................

viii

DAFTAR ISI ..............................................................................................

xii

DAFTAR TABEL ......................................................................................

xv

DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xviii
PENDAHULUAN .......................................................................................

1

Latar Belakang .................................................................................
Pendekatan Masalah..........................................................................
Tujuan dan Kegunaan Penelitian .......................................................

1
2
5

TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................

6

Pembangunan Berkelanjutan.................................................................

6

Konsep Pengelolaan Budidaya Tambak Ramah Lingkungan...............

9

Beban Limbah Budidaya dan Dampaknya terhadap Lingkungan ........

10

Kelayakan Lahan Tambak.....................................................................

13

Daya Dukung Lingkungan untuk Tambak............................................

13

Kemampuan Pengenceran Limbah di Perairan Pantai ..........................

18

Konsep Konservasi................................................................................

20

Fungsi dan Manfaat Ekosistem Hutan Mangrove.................................

21

KERANGKA PEMIKIRAN......................................................................

27

METODOLOGI PENELITIAN...............................................................

35

Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................

35

Bahan dan Alat......................................................................................

35

Metode Penelitian ............................................................................... ..

35

Analisis Data .........................................................................................

40

Analisis Kesesuaian Peruntukan Lahan ..........................................

40

xii

Kesesuaian Lahan Konservasi Mangrove ...........................

42

Kesesuaian Kawasan Budidaya Tambak ............................
Analisis Potensi Ekosistem Mangrove............................................

43
44

Korelasi Antara Stasiun Pengamatan dengan Kualitas Air.............

46

Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Tambak ................................

46

Estimasi Nilai Ekonomi Ekosistem Mangrove ...............................

47

Kapasitas Asimilasi Perairan Terhadap Limbah Tambak...............

49

Kuantifikasi Limbah dari Kegiatan Pertambakan ...........................

52

Daya Dukung Kawasan Pesisir untuk Pengembangan Budidaya
Tambak............................................................................................
Metode Optimasi Pemanfaatan Kawasan Pesisir............................

53
54

HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................

59

Karakteristik Biofisik dan Kelayakan Bioteknis Kawasan Pesisir Sinjai
untuk Pengembangan Budidaya Tambak..............................................

59

Karakteristik Kawasan Pesisir Kabupaten Sinjai............................
Karakteristik Biofisik Perairan Pantai............................................
Parameter Kualitas Air....................................................................
Korelasi antara Parameter Kualitas Air dengan Stasiun Pengamatan
Parameter Biologi Perairan .............................................................
Produktivitas Primer .......................................................................
Parameter Kualitas Tanah ...............................................................

59
63
64
67
69
70
70

Potensi Pemanfaatan Lahan Kawasan Pesisir ......................................

73

Potensi Areal untuk Budidaya Tambak ..........................................

73

Potensi Areal untuk Konservasi Mangrove.....................................

78

Potensi Ekosistem Mangrove..........................................................
Produktivitas Ekosistem Mangrove ................................................
Kandungan Bahan Organik dan Unsur Hara...................................
Kerapatan dan Penutupan Hutan Mangrove ...................................

84
83
85
88

Kelayakan Usaha dan Valuasi Ekonomi Kawasan Pesisir....................

86

Estimasi Nilai Ekonomi Hutan Mangrove untuk Konservasi ...............

91

Analisis Manfaat Hutan Mangrove .......................................................

92

Kuantifikasi Air yang Tersedia di Pantai untuk Budidaya Tambak .....

94

xiii

Estimasi Daya Dukung Lingkungan untuk Budidaya Tambak.............

100

Daya Dukung Berdasarkan Volume Air Laut Penerima Limbah ..
Daya Dukung Perairan berdasarkan Ketersediaan Oksigen
Terlarut............................................................................................
Daya Dukung Perairan berdasarkan Kapasitas Asimilasi...............
Kombinasi Teknologi Budidaya Tambak Berdasarkan Daya
Dukung............................................................................................
Optimalisasi Pemanfaatan Kawasan Pesisir..........................................

100

Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Budidaya Tambak dengan Aspek
Ekologi Sebagai Prioritas Utama (P1) ............................................

101
103
105
107
113

Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Budidaya Tambak dengan Aspek
Sosial Sebagai Prioritas Utama (P1).. .............................................
115
Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Budidaya Tambak dengan Aspek
Ekonomi Sebagai Prioritas Utama (P1) ........................................ ..

116

Model Pemanfaatan Lahan Budidaya Tambak Secara Optimal ... ..

118

PENGELOLAAN BERKELANJUTAN KAWASAN PESISIR
BERBASIS KESESUAIAN LAHAN DAN DAYA DUKUNG
LINGKUNGAN.........................................................................................

121

KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................

130

Kesimpulan ..........................................................................................
Saran......................................................................................................

130
131

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

132

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................

141

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman
1.

Beberapa kriteria sistem budidaya tambak udang ..................................

10

2.

Penilaian daya dukung lahan untuk areal budidaya tambak..................

17

3.

Hubungan luas hutan mangrove dengan jumlah tangkapan udang ……

24

4.

Perkiraan luas mangrove Rhizophora yang dibutuhkan untuk asimilasi
limbah N dan P untuk satu hektar tambak semi-intensif dan intensif ...

26

Konversi kebutuhan areal mangrove dengan luasan lahan budidaya
perikanan ................................................................................................

26

6.

Parameter biofisik yang diukur serta alat dan metode yang digunakan .

37

7.

Parameter kualitas tanah dan metode analisis substrat tanah..................

38

8.

Matriks kesesuaian lahan untuk kawasan konservasi .............................

42

9.

Pembobotan dan pemberian skor parameter kesesuaian lahan untuk
kawasan konservasi ................................................................................

43

10.

Matriks kesesuaian lahan untuk budidaya tambak .................................

44

11.

Pembobotan dan pemberian skor parameter kesesuaian lahan untuk
budidaya tambak.....................................................................................

44

Luas dan produksi budidaya tambak di Kabupaten Sinjai ......................

63

13. Hasil pengukuran parameter kualitas air di lokasi tambak, mangrove
dan perairan pantai..................................................................................

65

14. Hasil pengukuran kualitas air pada musim hujan, peralihan dan
kemarau ..................................................................................................

65

15.

Matriks korelasi antara variabel kualitas air...........................................

68

16. Akar ciri dan kontribusi komponen utama variabel kualitas air .............

68

17. Parameter kualitas tanah yang diamati selama penelitian di pesisir
Kabupaten Sinjai.....................................................................................

70

18. Rata-rata produksi serasah (ton kering ha-1 th-1) .....................................

86

19.

Persentase laju dekomposisi serasah mangrove......................................

86

20. Hasil analisis (P, K, C dan N) daun mangrove di kawasan pesisir
Kabupaten Sinjai.....................................................................................

87

5.

12.

xv

21. Produktivitas bahan organik dan unsur hara hutan mangrove di
kawasan pesisir Kabupaten Sinjai ..........................................................

87

22. Estimasi nilai ekonomi usaha budidaya tambak di lokasi studi.............

89

23. Estimasi nilai ekonomi budidaya rumput laut di lokasi studi .................

89

24. Estimasi nilai ekonomi usaha penangkapan kepiting bakau ...................

90

25. Sebaran nilai ekonomi penangkapan kelelawar di lokasi studi..............

90

26. Nilai ekonomi ekosistem mangrove di Kabupaten Sinjai .......................

91

27. Nilai manfaat langsung ekosistem mangrove per hektar ........................

92

28. Nilai ekonomi total ekosistem hutan mangrove di kawasan pesisir
Sinjai berdasarkan masing-masing manfaat ...........................................

93

29. Hasil pengukuran kemiringan dasar pantai di lokasi studi......................

95

3

-1

30. Debit andalan Sungai Sinjai (m dt )......................................................

96

31. Debit air sungai, volume air di pantai dan rata-rata volume air perbulan
di pantai Kabupaten Sinjai......................................................................

97

32. Karakteristik perairan pantai Kabupaten Sinjai ......................................

98

33. Perhitungan luas tambak berdasarkan volume air di pantai dengan
volume limbah ........................................................................................

100

34. Daya dukung lingkungan untuk mendukung usaha budidaya intensif,
semi-intensif dan tradisional plus ...........................................................

101

35.

Kegiatan budidaya udang berdasarkan tingkat teknologi di kawasan
pesisir Kabupaten Sinjai .........................................................................

102

36. Daya dukung lingkungan berdasarkan kapasitas asimilasi limbah
budidaya tambak.....................................................................................

102

37.

Parameter dalam penentuan kapasitas asimilasi perairan pesisir ...........

103

38.

Konsentrasi N dan P di perairan pantai Sinjai pada kondisi
daya dukung lingkungan.........................................................................

104

39.

Pendugaan kapasitas asimilasi perairan pesisir Kabupaten Sinjai..........

104

40.

Luas tambak dan produksi udang pada berbagai kombinasi dalam batas
daya dukung produksi maksimum..........................................................

106

Luas lahan budidaya tambak, jumlah tenaga kerja dan kebutuhan air
masing-masing teknologi........................................................................

107

42. Kebutuhan tenaga kerja (TK), produksi, harga dan kebutuhan air ........

107

43. Peubah pengambilan keputusan untuk optimalisasi pemanfaatan lahan
budidaya tambak.....................................................................................

108

41.

xvi

44.

Model optimalisasi pemanfaatan lahan budidaya tambak dengan aspek
ekologi sebagai P1, ekonomi P2 dan sosial P3.......................................

119

45. Model optimalisasi pemanfaatan lahan budidaya tambak dengan aspek
ekonomi sebagai P1, sosial P2 dan ekologi P3......................................

119

46.

Model optimalisasi pemanfaatan lahan budidaya tambak dengan aspek
sosial sebagai P1, ekonomi P2 dan ekologi P3......................................

119

47. Kondisi bioekologi dan lingkungan pesisir Sinjai bagi pengembangan
budidaya tambak berkelanjutan ..............................................................

122

48. Arahan peruntukan kawasan pesisir Kabupaten Sinjai ...........................

128

xvii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1.

Bentuk pembangunan berkelanjutan yang didukung dengan
kerangka transdisiplin (Munasinghe, 2002) ........................................

7

2.

Bentuk segitiga pembangunan berkelanjutan (Charles, 2001).............

8

3.

Penentuan volume perairan pantai untuk pengenceran limbah............

19

4.

Kerangka pikir dalam penelitian ................................. .....................

33

5.

Kerangka analisis dalam penelitian......................................................

34

6.

Peta lokasi penelitian kawasan pesisir Kabupaten Sinjai Sulawesi
Selatan ..................................................................................................

36

7.

Peta administrasi Kabupaten Sinjai ......................................................

60

8.

Rata-rata curah hujan bulanan tahun 1995 - 2004 di Kab. Sinjai ........

61

9.

Kondisi klimatologi di kawasan pesisir Kabupaten Sinjai,
Tahun 1986-1998.................................................................................

61

10. Penutupan lahan berdasarkan hasil klasifikasi Citra Landsat ..............

62

11.

Data produksi perikanan tangkap dan budidaya Kabupaten Sinjai
Tahun 1994 – 2003 ..............................................................................

63

Histogram parameter kualitas air di perairan pesisir Kabupaten Sinjai
berdasarkan musim ..............................................................................

66

13. Fluktuasi perubahan oksigen terlarut selama 26 jam pengamatan
(17 – 18 Februari 2005) .......................................................................

66

14. Korelasi variabel fisik-kimia perairan pada sumbu faktorial utama
(F1 dan F2) ..........................................................................................

68

15. Korelasi variabel fisik-kimia perairan dan stasiun pada sumbu faktorial
utama (F1 dan F2)................................................................................

69

16.

Peta sebaran dasar sedimen perairan pantai di Kabupaten Sinjai........

72

17. Kondisi tambak ideal untuk budidaya udang tradisional dengan
sistem gravitasi ....................................................................................

74

18. Kelayakan areal budidaya tambak Tradisional, Semi-intensif dan
Intensif di Pesisir Kabupaten Sinjai.....................................................

74

12.

19. Layer-layer yang digunakan untuk kesesuaian peruntukan lahan budidaya
tambak di Pesisir Kabupaten Sinjai .....................................................
77

xviii

20.

Peta kelas kesesuaian lahan untuk budidaya tambak di kawasan
pesisir Kabupaten Sinjai ......................................................................

79

21. Layer-layer yang digunakan untuk penentuan kesesuaian lahan
konservasi mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Sinjai ................

80

22. Peta kesesuaian lahan untuk konservasi mangrove di kawasan pesisir
Kabupaten Sinjai..................................................................................

82

23. Peta komposit kesesuaian lahan di kawasan pesisir Kabupaten Sinjai

83

24.

Pola pemanfaatan kawasan konservasi mangrove di Tongke-Tongke
Kabupaten Sinjai..................................................................................

84

Perubahan penutupan lahan mangrove berdasarkan Citra Landsat TM
tahun 1989, 1999 dan 2002..................................................................

85

26. Grafik persentase serasah daun mangrove yang mengalami
dekomposisi berdasarkan waktu (hari) ................................................

86

27.

Volume air yang tersedia di pantai saat pasang ..................................

95

28. Debit air sungai Sinjai setiap bulan......................................................

97

29. Volume air yang tersedia di pantai untuk budidaya tambak ................

97

25.

30.

Alokasi pemanfaatan lahan yang optimal untuk budidaya tambak
dengan aspek ekologi sebagai prioritas utama.....................................

113

Alokasi pemanfaatan lahan yang optimal untuk budidaya tambak
dengan aspek sosial sebagai prioritas utama .......................................

116

Alokasi pemanfaatan lahan yang optimal untuk budidaya tambak
dengan aspek ekonomi sebagai prioritas utama ..................................

117

33. Skenario alokasi pemanfaatan lahan budidaya tambak berdasarkan
variabel optimalisasi ............................................................................

120

31.
32.

34.

Integrasi pemanfaatan ekosistem mangrove dan budidaya tambak
dengan sistem silvofishery ..................................................................

125

35. Alternatif peruntukan kawasan pesisir Kabupaten Sinjai untuk
pengembangan ekonomi regional berbasis budidaya tambak .............

127

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1.

Data klimatologi rata-rata bulanan dari tahun 1996 - 2005 .........

140

2.

Data pengamatan pasang surut satu bulan (tgl 1 – 28 Februari)
perairan pantai Kabupaten Sinjai .................................................

140

Konstanta harmoni pasang surut dan tipe pasang surut di perairan
pantai Kabupaten Sinjai ...............................................................

141

Pengukuran kecepatan arus pasang surut di muara dan hulu sungai
Sinjai pada waktu spring tide dan neep tide.................................

142

Hasil analisis kualitas air di perairan pesisir Kabupaten Sinjai
(Agustus 2004 s/d Januari 2005).................................................

143

Fluktuasi harian suhu, salinitas, DO, pH, ORP, TDS di tambak
(17-18 Februari, 2005) .................................................................

144

Kelimpahan phytoplankton (sel/l) pada musim kemarau,
September 2004 di kawasan pesisir Kabupaten Sinjai.................

145

Kelimpahan Phytolankton (sel/l) pada musim hujan, Januari 2005
di kawasan pesisir Kabupaten Sinjai............................................

146

Kelimpahan Zooplankton (sel/l) pada musim kemarau, September
2004 di kawasan pesisir Kabupaten Sinjai...................................

148

10. Kelimpahan Zooplankton (sel/l) pada musim Hujan, Januari 2005
di kawasan pesisir Kabupaten Sinjai...........................................

149

11. Parameter kualitas tanah di kawasan pesisir Kabupaten Sinjai ...

150

12. Analisis permukaan tanah tambak pada kedalaman ( 0 - 20 cm)
di kawasan pesisir Kabupaten Sinjai............................................

151

13. Parameter kriteria kesesuaian lahan untuk budidaya tambak ......

153

14. Parameter kriteria kesesuaian lahan untuk konservasi mangrove.

154

15. Hasil analisis diameter batang, jumlah pohon, tinggi pohon, angka
bentuk, volume tegakan dan penutupan hutan mangrove ...........

155

16. Analisis kelayakan usaha budidaya tambak udang dan bandeng.

156

17. Analisis kelayakan usaha budidaya rumput laut ..........................

156

18. Analisis kelayakan usaha penangkapan kepiting .........................

157

19. Analisis kelayakan usaha budidaya kepiting per hektar ..............

157

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

xx

20. Analisis kelayakan usaha penangkapan kelelawar per hektar......

157

21. Analisis kelayakan usaha penangkapan benur per hektar ............

157

22. Analisis kelayakan usaha penangkapan nener per hektar ............

158

23. Posis kedalaman perairan pesisir Sinjai tgl 12 Pebruari 2005 ....

158

24. Rata-rata curah hujan bulanan (mm) pada stasiun Baringin dan
Stasiun Panaikang ........................................................................

159

25. Proses perhitungan debit bulanan sungai Sinjai dari tahun
1995 – 2004..................................................................................

160

26. Perhitungan neraca air dengan pola tanam budidaya udang pada
MT pertama dan udang MT kedua..............................................

162

27. Perhitungan neraca dengan pola tanam budidaya udang pada MT
pertama dan bandeng pada MT kedua .........................................

163

28. Luas lahan tambak budidaya udang yang dapat dimanfaatkan
berdasarkan debit andalan bulanan sungai Sinjai........................

164

29.

Hasil analisis optimalisasi pemanfaatan lahan budidaya tambak dengan
aspek ekologi prioritas I, ekonomi II, dan sosial III .............................

165

30. Hasil analisis sensitivitas optimalisasi pemanfaatan lahan budidaya
tambak dengan aspek ekologi prioritas I, ekonomi II, dan sosial III....

166

31. Hasil analisis optimalisasi pemanfaatan lahan budidaya tambak
dengan aspek sosial prioritas I, ekonomi II, dan ekologi III......

168

32. Hasil analisis sensitivitas optimalisasi pemanfaatan lahan
budidaya tambak dengan aspek sosial prioritas I, ekonomi II,
dan ekologi III....................................................................... .......

169

33. Hasil analisis optimalisasi pemanfaatan lahan budidaya tambak
dengan aspek ekonomi prioritas I, sosial II, dan ekologi III.......

171

34. Hasil analisis sensitivitas optimalisasi pemanfaatan lahan
budidaya tambak dengan aspek ekonomi prioritas I, sosial II,
dan ekologi III..............................................................................

172

xxi

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kawasan pesisir Teluk Bone yang terajut oleh 15 kabupaten/kota di Provinsi
Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara dan membentang sepanjang kurang lebih
1.128 km garis pantai dengan luas sekitar 31.837 km2 (belum termasuk Selayar,
Muna, Buton dan kota Bau-Bau), memiliki potensi sumberdaya pesisir dan lautan
yang melimpah, sebagai aset pembangunan wilayah ini yang sangat penting.
Besarnya potensi sumberdaya Teluk Bone kini mendapatkan momentumnya
untuk dimanfaatkan secara optimal bagi pembangunan wilayah pesisir,

dengan

adanya UU No. 32 Tahun 2004 yang memberikan peluang besar bagi kabupaten/kota
dan provinsi di wilayah ini untuk mengelola pesisir dan laut dengan seluruh kekayaan
sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya. Pengelolaan sumberdaya alam
pesisir dan laut diharapkan dapat menciptakan perubahan dan pertumbuhan yang
bersifat mutlidimensional dan berkesinambungan
Permasalahan dalam pengelolaan pesisir Teluk Bone saat ini telah terjadi
kerusakan lingkungan, akibat konversi lahan mangrove menjadi tambak. Dari aspek
ekonomis dapat meningkatkan nilai ekspor perikanan, namun dari aspek ekologis
telah terjadi kerusakan lingkungan. Sebagai contoh kasus hutan mangrove di
Kabupaten Wajo pada tahun 1989 seluas 16.205 ha, 15.119 ha telah dikonversi
menjadi tambak. Akibatnya hanya dalam waktu 12 tahun terjadi abrasi pantai antara
400-1000 meter ke arah daratan (BAPEDAL WIL. III, 2000).
Abrasi pantai di pesisir Sinjai berawal dari rusaknya ekosistem terumbu
karang akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Akibatnya hampir
seluruh tambak di sepanjang pantai Tongke-Tongke terkikis oleh ombak (Taiyeb,
2000).

Upaya menyelamatkan lingkungan, maka pada tahun 1986 dimulai

rehabilitasi mangrove dengan swadaya masyarakat. Dalam waktu 13 tahun berhasil
ditanami mangrove seluas 786 ha. Dari aspek ekologi keberhasilan rehabilitasi
mangrove telah mendukung pengembangan usaha budidaya tambah ± 1.033 ha di
kawasan pesisir Sinjai, selain itu potensi sumberdaya perikanan di sekitar meningkat.

2
Berdasarkan fungsi ekologi, hutan mangrove di kawasan pesisir Sinjai,
berperan untuk : (1) menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari
abrasi, menjadi penyangga terhadap limbah, serta mempercepat pertumbuhan daratan;
(2) penghasil detritus sebagai dasar rantai makanan dari berbagai jenis ikan, udang,
kepiting, kerang, dll; (3) mengurangi intrusi air laut ke pemukiman penduduk.
Secara ekonomi saat ini mulai berkembang : (1) penangkapan bibit (nener dan
benur), (2) penangkapan kepiting di alam, (3) kegiatan budidaya kepiting dengan
sistem kurungan bambu dan sistem karamba, dan (4) budidaya ikan/udang dan
kepiting dengan sistem empang parit dan komplangan (silvofishery).
Usaha budidaya intensif merupakan kegiatan ekonomi yang sangat produktif
dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan devisa negara, namun legitimasi
keberlanjutan ditentukan oleh dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya.
Budidaya udang intensif menghasilkan limbah organik terutama berasal dari sisa
pakan, feses, dan bahan-bahan terlarut, yang terbuang ke perairan dan secara
signifikan mempengaruhi kualitas lingkungan pesisir (Johnsen et al., 1993).
Pesatnya perkembangan budidaya tambak di pesisir Sinjai, jika tidak
dilakukan pengelolaan secara bijaksana, maka suatu saat akan menimbulkan
kerusakan lingkungan, sehingga pada akhirnya akan mengancam keberlanjutan
sumberdaya perikanan budidaya. Untuk mencapai keseimbangan antara ketersediaan
sumberdaya dan kebutuhan manusia, maka perlu menetapkan jenis dan besaran
aktivitas manusia yang didasarkan pada kesesuaian lahan dan daya dukung
lingkungan untuk menampungnya. Oleh karena itu, penelitian tentang ”Optimalisasi
pemanfaatan kawasan pesisir untuk pengembangan budidaya tambak berkelanjutan”
penting dilakukan sebagai dasar dalam pengelolaan sumberdaya pesisir secara
berkelanjutan.
Pendekatan Masalah
Masalah utama dalam pengembangan budidaya udang di kawasan pesisir
Sinjai adalah masukan akuainput dalam sistem budidaya intensif dan pengkayaan
nutrien dalam pakan berdampak potensial pada kualitas air, akibat beban (loading)
organik yang terutama berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dan faeses. Dari

3
jumlah pakan yang diberikan, sekitar 30 % tertinggal sebagai sisa pakan yang tidak
dikonsumsi dan 25-30% dari pakan yang dikonsumsi akan disekresikan (McDonald
et. al., 1996). Untuk usaha budidaya udang intensif 15% dari pakan yang diberikan
akan larut dalam air (tidak dikonsumsi) dan 20% dikembalikan ke lingkungan dalam
bentuk faeces (Primavera dan Apud, 1994).
Teknologi budidaya udang intensif dengan padat penebaran 210.000 ekor/ha
dengan luas tambak 5.000 m2, total pakan 3,6 ton menghasilkan limbah (TSS) sebesar
1.230 kg selama 120 hari (Soewardi, 2002). Boyd (1999) menyebutkan bahwa retensi
nitrogen antara 25-35% dan phosphor antara 15-25% yang tertinggal di dalam
jaringan udang. Untuk memproduksi 1 (satu) ton udang, sekitar 12,6 - 21,0 kg
nitrogen dan 1,8 - 3,6 kg phosphorous hilang ke dalam lingkungan perairan.
Komponen utama yang menentukan beban N dan P dalam sistem budidaya
udang bersumber dari pakan, penggantian air, pemupukan dan benur (bibit). Limbah
yang bersumber dari pakan sekitar 6 % N dan 1,3 % P, pada sistem budidaya semiintensif dengan jumlah pakan 3.000 kg ha-1 MT-1 menghasilkan N sekitar 162 kg ha-1
MT-1 dan 35,1 kg ha-1 MT-1 (Subandar, 2000).
Jumlah pakan yang tidak dikonsumsi dan hasil ekskresi umumnya dicirikan
oleh adanya peningkatan Total Suspended Solid (TSS), BOD, dan COD, dan
kandungan N dan P. Akan tetapi secara potensial penyebaran dampak buangan
limbah yang kaya nutrien dan bahan organik dapat mempengaruhi kualitas perairan
pesisir seperti : peningkatkan sedimentasi dan siltasi, hypoxia, hypernutrifikasi,
perubahan produktivitas dan struktur komunitas bentik (Barg, 1992).
Kesesuaian lahan budidaya tambak udang dicirikan oleh karakteristik biofisik
lingkungan perairan (volume air yang tersedia di pantai, tipe pantai, pasang surut,
arus, debit air tawar, fisika-kimia-biologi perairan, fisika-kimia tanah, iklim),
ketersediaan benih dan pakan baik kualitas maupun kuantitas, manajemen budidaya,
serta sarana dan prasarana produksi.
Alokasi pemanfaatan lahan budidaya tambak yang tidak terkendali akan
memicu penurunan kualitas lingkungan perairan dan berdampak pada proses biologis
dalam sistem produksi perikanan budidaya tambak, serta dampak ekologi yang lebih

4
luas.

Aspek sosial ekonomi merupakan faktor pendorong terjadinya tekanan

lingkungan yang menitikberatkan pada pencapaian target maksimasi keuntungan
dalam jangka pendek. Hal ini akan memicu terjadinya mismanagement dalam alokasi
sumberdaya budidaya yang mengarah pada kerusakan sumberdaya dan lingkungan
perairan.

Karena itu pola pendekatan optimalisasi pemanfaatan lahan budidaya

tambak harus didasarkan pada kemampuan daya dukung lingkungan perairan.
Pakan memberikan kontribusi terbesar dari total biaya produksi budidaya
udang, sekaligus pemasok limbah nutrien yang potensial, karena itu manajemen
pakan sangat menentukan efisiensi budidaya udang. Sisa pakan dan feses yang
terbuang ke badan air merupakan potensi sumber bahan organik, N dan P yang dapat
mempengaruhi kelayakan kualitas air bagi kehidupan budidaya udang dan ikan.
Upaya untuk mengatasinya, perlu dilakukan melalui pendugaan beban limbah organik
dari kegiatan perikanan budidaya udang di tambak.
Kapasitas asimilasi ditentukan oleh beban limbah organik, kondisi
oseanografi, dan karakteristik biofisik perairan, merupakan peubah penentu dalam
menentukan daya dukung lingkungan perairan sebagai acuan optimasi pemanfaatan
lahan budidaya tambak berkelanjutan, yang meliputi alokasi pemanfaatan lahan yang
optimal, kapasitas produksi, penerapan tingkat teknologi budidaya, dan pola tanam.
Permasalahan tersebut di atas, dapat diminimalisasi dengan menentukan
model alokasi pemanfaatan kawasan pesisir untuk pengembangan budidaya tambak
secara optimal, sehingga secara ekologi kualitas lingkungan tetap terjaga, secara
ekonomi meningkatkan pendapatan masyarakat, dan secara sosial menyerap tenaga
kerja dan diterima oleh masyarakat. Untuk mengatasi permasalahan di atas, maka ada
beberapa hal yang perlu dikaji secara mendalam dalam penelitian ini adalah :
1. Potensi sumberdaya pesisir, serta karakteristik biogeofisik kawasan pesisir untuk
pengembangan budidaya tambak secara berkelanjutan.
2. Lahan yang sesuai untuk pengembangan budidaya tambak dan konservasi
mangrove agar kelestarian lingkungan tetap terjamin
3. Kuantifikasi beban limbah organik dari kegiatan budidaya udang intensif, semi
intensif dan tradisional plus yang sesuai dengan asimilasi lingkungan.

5
4. Daya dukung lingkungan perairan yang dapat menunjang kegiatan budidaya
tambak secara berkelanjutan.
5. Luas lahan optimal yang dimanfaatkan untuk budidaya tambak intensif, semi
intensif dan tradisional plus yang layak berdasarkan aspek ekologi, ekonomi dan
sosial budaya masyarakat pesisir.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan Penelitian
Untuk menjawab permasalahan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui karakteristik biogeofisik, kelayakan bioteknis perairan dan sosialekonomi masyarakat dalam pengembangan budidaya tambak.
2. Menentukan luas lahan yang sesuai untuk pengembangan budidaya tambak.
3. Menentukan jumlah limbah organik yang berasal dari kegiatan budidaya tambak
dan kemampuan asimilasi perairan pesisir.
4. Mengestimasi daya dukung lingkungan untuk pengembangan budidaya tambak
ramah lingkungan di kawasan pesisir Sinjai.
5. Menentukan model pemanfaatan lahan budidaya tambak secara optimal
berdasarkan aspek ekologi, ekonomi dan sosial.
Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaan bagi :
1. Ilmu pengetahuan, dimana hasil penelitian ini dapat menjadi bahan informasi
dalam penerapan model pengelolaan sumberdaya pesisir dan kelautan secara
berkelanjutan.
2. Masyarakat dan investor, dimana hasil penelitian ini sangat berguna dalam
menentukan luas dan lokasi teknologi budidaya yang sesuai untuk dikembangkan.
3. Pemerintah, sebagai acuan dalam memformulasikan kebijakan pemanfaatan lahan
secara optimal untuk pengembangan budidaya tambak ramah lingkungan
berdasarkan kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan.

TINJAUAN PUSTAKA

Pembangunan Berkelanjutan
Dasar
berkelanjutan.

pemikiran

dari

penelitian

ini

adalah

konsep

pembangunan

Konsep pembangunan berkelanjutan adalah mengintegrasikan

perspektif ekonomi dan ekologi (WCED, 1987). Konsep konservasi hanya
mempertimbangkan kondisi sumberdaya alam dan lingkungan saja, sedangkan
pembangunan berkelanjutan mempertimbangkan manusianya.
Definisi pembangunan berkelanjutan menurut (FAO, 1995) dalam konteks
pengelolaan sumberdaya perikanan adalah: “pengelolaan dan konservasi berbasis
sumberdaya alam serta orientasi perubahan teknologi dan institusi dalam upaya untuk
memenuhi kebutuhan kebutuhan generasi masa kini, tanpa mengurangi kebutuhan
generasi mendatang”. Pembangunan berkelanjutan seperti sektor pertanian, kehutanan
dan perikanan, konversi lahan, sumberdaya air, tumbuhan, dan hewan, tidak
terdegradasi secara lingkungan, sesuai secara teknis, menguntungkan secara ekonomi,
dan dapat diterima secara sosial.
Menurut Palunsu (1996) pembangunan berkelanjutan mengandung tiga
pengertian yaitu : (1) memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan
masa yang akan datang, (2) tidak melampaui daya dukung lingkungan, dan (3)
mengoptimalkan manfaat sumberdaya alam dan sumberdaya manusia dengan
menyelaraskan manusia dan pembangunan dengan sumberdaya alam.
Munasinghe (2002) dalam pembangunan berkelanjutan terdapat tiga
komponen utama yang sangat diperhitungkan, yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan.
Setiap komponen saling berhubungan dalam satu sistem yang dipicu oleh kekuatan
dan tujuan. Sektor ekonomi untuk melihat pengembangan sumberdaya manusia,
khususnya melalui peningkatan konsumsi barang dan jasa pelayanan. Sektor
lingkungan difokuskan pada perlindungan integritas sistem ekologi. Sektor sosial
bertujuan untuk meningkatkan hubungan antar manusia, pencapaian aspirasi individu
dan kelompok, dan penguatan nilai serta institusi (Gambar 1).

7

Gambar 1 Bentuk pembangunan berkelanjutan yang didukung dengan
kerangka trans-disiplin (Munasinghe 2002)
Selanjutnya Munasinghe (2002) menyatakan pembangunan berkelanjutan
harus berdasar pada empat faktor, yaitu: (1) terpadunya konsep “equity” lingkungan
dan ekonomi dalam pengambilan keputusan; (2) dipertimbangkan secara khusus
aspek ekonomi; (3) aspek lingkungan; dan (4) dipertimbangkan secara khusus aspek
sosial budaya.
Gambar 2 menjelaskan bagaimana menggabungkan kerangka “sustainomics”,
dan dasar hubungan pengetahuan trans-disiplin, yang akan mendukung pendugaan
komprehensif dan keseimbangan trade-off dan sinergi yang mungkin terjadi dalam
pembangunan berkelanjutan antara dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan.
Pendekatan dalam pembangunan berkelanjutan terus berkembang seiring kemajuan
jaman, sehingga perlu adanya perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan tempat.
Konsep pembangunan berkelanjutan harus memperhatikan dimensi ekonomi, sosial,
ekologi/lingkungan, dan hukum untuk menjamin keberlanjutan sumberdaya pesisir
dan lautan yang efisien dan efektif (Munasinghe 2002).
Munasinghe (2002) menyatakan bahwa perkembangan dimensi ekonomi
seringkali dievaluasi dari makna manfaat yang dihitung sebagai ke

Dokumen yang terkait

Optimalisasi pemanfaatan kawasan pesisir untuk pengembangan budidaya tambak berkelanjutan di Kabupaten Sinjai , Sulawesi Selatan