BAB V LAWAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN: MASYARAKAT PALANG KANTOR DAN INFRASTRUKTUR MILIK PEMERINTAH MENGGUNAKAN SIMBOL ADAT - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Resistensi Simbolik: Gerakan Perlawanan Simbol Adat terhadap Kebijakan

BAB V LAWAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN: MASYARAKAT PALANG KANTOR DAN INFRASTRUKTUR MILIK PEMERINTAH MENGGUNAKAN SIMBOL ADAT Pembangunan tidak melulu pada membangun infrastruktur

  tidak pula hanya menjadi tanggungjawab pemerintah semata dalam melaksanakan pembangunan, sementara masyarakat hanya ditempatkan pada posisi pengguna, penikmat hasil pembangunan. Keutamaan dalam pembangunan adalah bagaimana manusia dilibatkan dalam proses pembangunan sebagai subyek, artinya masyarakat diberi ruang untuk berproses sejak dini dalam merancang strategi pembangunan di daerah. Kekeliruan yang terjadi hingga saat ini adalah masyarakat dipandang sebagai obyek pembangunan, dalam hal ini masyarakat dipandang memiliki ketidaktahuan dalam segala hal, bukan sebaliknya masyarakat dilihat sebagai makhluk yang memiliki keinginan mengetahui, ingin terlibat berproses bersama pemerintah untuk merancang serta melaksanakan pembangunan. Kenyataannya, masyarakat masih dijadikan sebagai makhluk penunggu dalam wilayah mereka untuk membeli atau bertransaksi dengan pemerintah soal program pembangunan suatu daerah. Sebagai pembeli program, terkadang masyarakat berada pada posisi tawar yang sangat lemah sehingga membuka sejumlah peluang masalah bisa terjadi dalam proses pembangunan.

  Pada bagian ini, penulis akan menguraikan kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Kaimana yang berhubungan langsung dengan kebijakan pembangunan dan bagaimana masyarakat bereaksi terhadap kebijakan tersebut dengan menggunakan simbol-simbol adat. Pengaruh Simbol dalam Diri Manusia

  Setiap gerakan manusia pasti memberi arti dan makna menurut apa yang dia rasakan. Penulis meminjam bahasa iklan kecap 1 bango “karena rasa tidak pernah bohong” . Seorang bayi yang belum bisa berbicara, ketika ingin menyampaikan apa yang dia rasakan kepada orang lain, cara menyampaikan tentu berbeda dengan orang yang sudah bisa berbicara. Dengan cara menangis, seorang bayi menyampaikan pesan simbol kepada orangtuanya bahwa mungkin dia lapar, atau mungkin popoknya basah, atau mungkin si bayi masuk angin. Penulis menggunakan kata “mungkin” karena hanya si bayi itulah yang tauh bersama ibunya yang bisa mengerti bahasa bayi tersebut.

  Setelah anak itu mulai belajar berbicara, dengan mengucap kata- kata yang tidak habis terucap, maka pesan simbol yang disampaikan akan mengalami perubahan dengan berbagai macam cara. Misalnya, ketika seorang anak mulai belajar berbicara dan dia meminta makan saat lapar, maka bahasa yang digunakan lebih kurang seperti ini, ma’ am (ma=mama am=makan), di wilayah Timur Indonesia seorang bayi cenderung menggunakan pesan simbol seperti ini. Setelah anak tersebut bisa berbicara dengan jelas, maka pesan bahasa simbol akan semakin jelas.

  Dari uraian ini dipastikan, bahwa simbol yang digunakan manusia untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain, selalu mengalami evolusi berdasarkan perubahan-perubahan yang terjadi sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kebutuhan yang diinginkan. Walaupun terjadi evolusi terhadap simbol-simbol yang digunakan oleh manusia, namun yang pasti adalah, bahwa simbol yang digunakan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain akan selalu berhubungan dengan sesuatu dalam diri manusia.

  Bagitu kuatnya pengaruh simbol dalam diri manusia, hal itu 1 menunjukan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa simbol. Jika

  Sumber :iunduh pada tanggal 4 ditelusuri secara mendalam, maka peran simbol dapat disamakan 2 “password” file atau folder, dengan rahasia yang dipasang pada setiap maka untuk membuka file atau folder diharuskan penggunannya mengetahui dengan benar kode “password” yang digunakan.

  Simbol yang oleh penulis menyamakannya seperti “password” dalam kehidupan masyarakat adat, tidak hanya terdiri dari satu macam simbol, berbagai macam simbol ada dan dimiliki oleh mereka, salah satunya adalah simbol marga/klan. Pada bagian ini penulis akan menguraikan beberapa sub judul terkait dengan penggunaan simbol oleh masyarakat lokal di “Negeri 1001 Senja” atas implementasi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Marga sebagai simbol identitas masyarakat adat

  Penggunaan nama pada sebagian masyarakat di “Negeri 1001 Senja” rasanya tidak lengkap jika tidak disertai dengan sebutan marga/klan pada bagian akhir nama seseorang. Mungkin pada orang yang tidak menggunakan nama marga/klan akan menganggap hal tersebut biasa-biasa saja, namun pada komunitas lain yang 2 menggunakan marga/klan, nilai dari sebutan marga sangat mulia dan

  

Pada awal tahun 1960-an, Fernando Corbato mengubah dunia. Ia mengembangkan sistem password komputer pertama untuk sebuah proyek di Massachusetts Institute of

Technology (MIT), di mana beliau mencoba untuk menciptakan akun terpisah di

antara para peneliti yang ada di sana. Dari situlah terciptanya sebuah password di

komputer. Perubahan ini tak hanya memberikan pemahaman tentang bagaimana kita

menggunakan teknologi, tetapi juga memaksa kita untuk memikirkan tentang privasi

ketika menggunakannya. Tapi sekarang, di era Internet, mantan profesor MIT ini

percaya bahwa password telah menjadi mimpi buruk yang nyata. Dalam sebuah

wawancara dengan The Wall Street Journal, Corbato mengatakan bahwa sistem

password menjadi `mimpi buruk` untuk World Wide Web. Ia pun percaya bahwa

password telah menciptakan masalah yang tak hanya untuk hacker, tetapi juga kepada

pemilik password itu sendiri. “Sulit membayangkan bahwa ada orang yang bisa

mengingat semua password yang mereka miliki. Ini menimbulkan masalah besar,” kata

Corbato seperti dikutip dari blog The Wall Street Journal. Sumber:

Password adalah sandi yang harus dimasukan kedalam suatu sistem baik itu sistem komputer yang menggunakan system operasi windows atau bukan yang berupa

karakter tulisan, suara, atau ciri-ciri khusus yang harus diingat. Sumber :

diunduh pada memiliki maksud yang luar biasa. Ada alasan mendasar yang menyebabkan mengapa nama marga/klan tidak bisa dihilangkan pada komunitas penggunanya. Jika hal itu ditanyakan kepada komunitas yang paham benar tentang alasan penggunaan marga/klan, maka jawaban yang disampaikan adalah “marga/klan kami adalah nama leluhur kami, ada pula yang mengatakan bahwa marga/klan yang kami gunakan itu berasal dari nama gunung, ada pula yang menjelaskan nama kami berasal dari pohon, unggas, binatang melata, dan ada banyak hal bisa mereka sampaikan, tetapi ada pula yang tidak bisa menjelaskan, hal itu dikarenakan pada kalangan masyarakat tertentu, penjelasan merga/klan terhadap orang yang berada di luar komunitas mereka, hal itu masih dianggap sakral jika disampaikan pada orang yang berada di luar komunitas mereka”.

  Menurut salah satu tokoh masyarakat berinisial DM, saat dilakukan wawancara menjelaskan sebagai berikut: 3

  cukup

“sebenarnya simbol-simbol adat yang dimiliki suku Irarutu

banyak termasuk nama marga. Sama juga dengan marga-marga yang 4 5 digunakan oleh suku Kuri dan Mairasi . Nama marga memiliki tujuan masing-masing sesuai dengan asal-usul marga yang digunakan. Tujuan penggunaan marga untuk kita suku Irarutu sebenarnya memiliki tujuan untuk menunjukan asal suku, batas wilayah dan asal-usul leluhur masing-masing. Kalau tidak ada marga yang kita gunakan, maka kita menjadi orang asing disuatu tempat. Misalnya, kalau marga yang saya gunakan seperti marga maka orang akan mengetahui bahwa saya

  Ruwe, berasal dari suku Irarutu, kalau saya dari suku Irarutu, maka semua orang mengetahui asal-usul saya dan saya punya milik tanah sampai di mana. Karena itu, marga yang kami gunakan memiliki tujuan tentang kejelasan asal usul, batas-batas wilayah agar tidak menguasai hak milik 6 . 3 orang lain atau suku lain”

Salah satu nama suku dari delapan suku yang berada di Kabupaten Kaimana. Irarutu

berasal dua kata yaitu Iraru = bahasa/bicara tuturan, dan Tu = benar, sesungguhnya

dengan demikian, kata

  Irarutu mengandung pengertian bahasa yang benar, bicara 4 yang benar

Salah satu nama suku dari delapan suku yang berada di Kabupaten Kaimana. Kuri 5 artinya perempuan/ibu

Salah satu nama suku dari delapan suku yang berada di Kabupaten Kaimana. Mairasi artinya laki-laki hitam keriting. Penjelasan ini memberi gambaran bahwa penggunaan nama marga tidak hanya sebatas pada sebuah tanda yang menjelaskan asal- usul komunitas tertentu, melainkan melalui nama marga/klan, seseorang dapat mengetahui asal-usul dirinya (dari mana dia berasal), otoritas marga (kewenangan dan kekuasaan marga), milik pusaka (kepemilikan tanah adat), dan batas-batas kekuasaan (hak-hak dalam komunitas).

  Karena itu dipahami pula, bahwa nama marga/klan merupakan alat kontrol yang berfungsi sebagai pengingat yang menandai seseorang bahkan komunitas tertentu untuk tidak serakah, tidak mementingkan diri sendiri, tidak berlaku semena-mena terhadap orang lain. Pada fungsi yang lain, nama marga/klan juga berfungsi sebagai sabuk pengikat suatu komunitas. Dalam fungsi tersebut, penggunaan nama marga/klan bertujuan memberi kepastian hidup yang berhubungan dengan harapan-harapan akan masa depan, yang mengharuskan seseorang dalam komunitasnya untuk wajib tunduk dan mengamankan segala kekayaan yang dimiliki dalam sebuah komunitas marga tertentu.

  Fenomena yang masih terlihat hingga sekarang ini, bahwa dalam kehidupan masyarakat adat di beberapa kampung, masih ada masyarakatnya yang menggunakan hanya satu marga/klan. Walaupun mungkin telah ada tambahan beberapa marga/klan dalam satu komunitas tertentu, namun secara pasti dijelaskan oleh DM bahwa:

  “dulu setiap kampung hanya ada satu marga dalam suatu komunitas, dari marga tersebut menunjukan bahwa mereka hanya memiliki satu moyang atau leluhur. Sekarang ini muncul juga beberapa marga lain dalam sebuah komunitas tertentu, ceritanya begini; dulu itu, leluhur kita mengembara, pada saat mengembara mereka selalu lakukan Karena leluhur kami mengembara, maka seringkali terjadi “honge”. pertemuan leluhur yang satu dengan leluhur yang lain, biasanya leluhur yang telah menempati tempat tertentu, mengajak leluhur yang mengembara untuk tinggal bersama di tempat tersebut. Kalau dalam konteks ini, maka leluhur yang diajak tinggal tidak bisa menghilangkan marga yang dia gunakan. Berbeda jika mereka melakukan kalau honge, ada orang yang tertangkap dari pihak musuh, maka orang yang ditangkap wajib mengubah nama marganya. Alasan mereka mengubah marga orang yang dibawa dari tempat honge , agar orang yang dibawa bisa mengambil bagian dalam komunitas baru, dan bisa mendapat hak 7 waris dari marga yang dia gunakan ”.

  Melalui penjelasan tersebut dipahami bahwa penggunaan marga/klan pada masa lalu sangat selektif, seorang bisa saja bergabung dalam suatu komunitas namun ada persyaratan yang harus dipatuhi, yaitu harus disetujui dan disepakati bersama oleh komunitas penerima. Jika komunitas penerima setuju menerima individu tersebut maka nama marga/klan asal yang digunakan tetap melekat dalam diri individu tersebut, dalam konteks ini muncul kesepakatan bersama “saling menerima dan mengakui”

  Tetapi jika seseorang diterima dalam satu komunitas yang baru dan diubah nama marga/klan sesuai dengan marga/klan yang berlaku dalam komunitas tersebut maka orang tersebut merupakan hasil dari peristiwa honge (perang keseimbangan antar suku).

  Ada beberapa hal yang membuat seseorang mengubah atau diubah marga/klan aslinya, pertama: agar dia bisa diterima dalam komunitas baru, kedua: seseorang menjadi pemilik hak waris dari marga/klan dari komunitas baru, ketiga: menjadi bagian dari janji leluhur tentang masa depan berdasarkan cerita sakral yang dipelihara dan dijaga oleh komunitas baru.

  Dalam penjelasan lanjut, DM menuturkan sejarah marga 8 7 “Ruwead – Farisa”, Cerita sejarah Ruwead–Farisa, sebagai sebuah 8 Wawancara tanggal 8 Januari 2017

Mengapa marga Farisa memanggil kakak terhadap kami marga Ruwe, ceritanya

  pada masa lalu, sebenarnya moyang Farisa ini dia punya nama asli itu ada tapi saya

tidak bisa cerita untuk anak pendeta, moyang ini orang sebut dia Farisa karen kalau

dia perang honge dia selalu bergoyang seperti orang kemasukan. Pada masa honge, leluhur Farisa melakukan perang dari kepala air sampai ke muara Teluk Arguni, dan

turun sampai masuk wilayah Rauna. Di wilayah Rauna, Farisa bertemu dengan

seorang perempuan bernama Maru, dia punya mama namanya Weni. Weni memiliki sifat kanibal, pada saat Farisa bertemu dengan Maru yang sementara menebang pohon untuk berkebun, Maru mengajak Farisa untuk tinggal bersama, karena mamanya

memiliki sifat kanibal, maka Maru menyembunyikan Farisa dalam gulungan tikar. Pada saat Wenu kembali dari perjalanan mencari makan, dia mencium bauh manusia

dan menanyakan kepada anaknya, “maru ko simpan manusia di mana, mama ada cium

bau manusia di sekitar ini”, tetapi Maru bilang untuk dia pung mama, “mama jangan model dari sejarah masa lalu yang memiliki kaitan dengan simbol marga/klan di mana seorang individu tidak mengubah marganya ketika diminta bergabung dengan komunitas baru. Asal mula marga digunakan sebagai simbol

  Penggunaan marga/klan dalam suatu komunitas tertentu tidak bisa terpisah dari sisi cerita tentang asal mulanya. Hal ini menjadi sangat penting karena cerita asal mula penggunaan marga/klan selalu identik dengan muatan aturan-aturan atau kaidah-kaidah tertentu yang menjadi alasan bagi komunitas tersebut untuk menggunakannya.

  Jika diperhatian secara baik maka marga/klan yang digunakan merupakan potongan sebuah kata yang menerangkan sesuatu benda dan memiliki kaitan dengan benda-benda yang berada disekitar lingkungan penggunanya. Kondisi seperti ini memberi gambaran seakan manusia atau komunitas pengguna marga/klan memiliki hubungan yang sangat kuat dengan alam, alam menjadi sahabat, alam menjadi petunjuk, alam menjadi sumber kehidupan, bahkan alam dan manusia keduanya merupakan representasi satu dengan yang lain (alam Papua merupakan representasi dari manusia Papua begitu pula manusia Papua merupakan representasi dari alam Papua).

  

saya”, walaupun begitu, mamanya terus mencari dan menghancurkan tempat tinggal

mereka untuk mencari Farisa yang disembunyikan oleh Maru, pada saat itu Farisa berdiri dan bilang sama

  Maru, “ko bilang sama ko punya mama, saya jalan keliling

hutan besar ini tidak ada orang yang biking (buat) susah saya”, walaupun Maru sudah

bilang sama dia punya mama, tetapi mamanya terus melempar Farisa dengan tombak

(bahasa Irarutu = gaim, akirnya pace farisa pung (punya) papan pele-pele badan seperti

pace-pace (bapa-bapak) polisi biasa pakai kalau ada demo (tameng) yang digunakan

Farisa pecah, saat itu juga Farisa marah dan melempar gaim (tobak) di Weni dan

akirnya Weni mati. Setelah itu Farisa mengambil Maru menjadi istrinya. Pada saat

mereka dua mau kembali ke hulu sungai, tiba-tiba kabut tutup mereka dua punya

jalan, lalu dorang dua ingat

  Maru pung mama, kalau menurut kepercayaan kita suku

Irarutu, berarti mereka harus kembali untuk menyimpan Weni pung mayat baik-baik

barulah nereka lanjutkan . Pada saat mereka dua melakukan perjalanan pulang, dekat

Jasu mereka bertemu dengan Ruwead. Ruwead ini sementara kerja dia punya busur,

lalu Farisa bilang sama Maru, ooo.. ko lihat negeri di atas sana, itu gunung Sawi, lalu

Ruwead bilang kepada Farisa, tidak usah pulang, ko tinggal dengan saya di sini sudah, Dalam konteks masyarakat asli, alam dimaknai dapat memberi pesan-pesan khusus bagi mereka. Pesan-pesan ini dibawa dan disampaikan lewat sejarah asal mula nama marga/klan yang mereka gunakan. Misalnya, jika komunitas tertentu pengguna marga/klan yang berhubungan dengan nama hewan, dan tanpa sengaja bertemu dengan hewan tersebut dalam hutan belantara, maka mereka akan memaknai peristiwa itu sebagai sesuatu yang berbeda (peristiwa tersebut bisa dipahami positif tetapi bisa juga negatif) berdasarkan cerita asal mula mereka tentang cerita hewan tersebut. Untuk mengetahui maksud serta pesan yang muncul dari persitiwa tersebut, maka peristiwa itu dicocokan dengan cerita leluhur masa lalu.

  Menurut DR saat dilakukan wawancara menjelaskan sebagai berikut:

  “marga yang kami gunakan punya cerita sendiri-sendiri, ada nama marga yang berasal dari binatang, pohon, dll, misalnya: kalau marga 9 Ruwe , kita pakai moyang punya nama, nama ini diambil dari nama pohon. Ada juga marga yang diambil dari nama binatang seperti marga 10 Kambesu . Selain itu, ada marga yang diambil dari jenis unggas seperti 11 marga penggunaan marga masing-masing didasarkan pada

  Wamburye , cerita leluhur. Kalau kami yang menggunakan marga dasarnya

  Ruwe,

karena nenek moyang kami selalu menggunakan pohon kayu

ruwe sebagai senjata. Dulu moyang kami kalau mau dia (moyang) honge hanya potong dahang pohon kayu ruwe lalu dia bicara-bicara dengan kayu itu, trus nanti potongan kayu itu cari musuh dan berperang 12 sendiri, bunuh musuh yang datang.

  Ada pesan khusus dari cerita penggunaan marga/klan yang digunakan oleh komunitas tertentu di “Negeri 1001 Senja”. Jika dilihat dari sisi sejarah, penggunaan marga/klan oleh komunitas tertentu, 9 sebutan itu datang dari pihak lain yang disesuaikan dengan kebiasaan

  

Pohon kayu yang termasuk jenis pohon yang sangat keras. Dulu saat berperang,

leluhur mereka hanya memotong sebagian dari batang pohon kayu ruwe lelu menyruh

10 potongan pohon kayu tersebut berperang melawan musuh.

  

Nama marga/klen yang diambil dari nama jenis binatang kanguru yang disebut

dalam bahasa suku 11 Irarutu artinya Amor.

  

Nama marga/klen ini diambil dari jenis unggas kelewar, dalam bahasa suku Irarutu disebut Kakuri. leluhur tersebut. Hal ini terlihat jelas dari sebutan nama Ruwe yang diambil dari kebiasaan leluhur yang selalu menggunakan pohon kayu ruwe sebagai senjata pada masa perang honge. Tujuan menyebut nama Ruwe sesungguhnya memberi keterangan bahwa: pertama, terkait dengan kebiasaan leluhur Ruwe yang selalu menggunakan kayu ruwe sebagai senjata; kedua, secara etis untuk menyebutkan nama asli leluhur hal itu dianggap sangat tabu dan bisa dihukum atau kena sanksi adat, karena itu lebih etis mereka menyebutkan nama yang berhubungan dengan kebiasaannya; tiga, keterkaitan dengan hal kedua, menyebut tokoh tersebut dengan kebiasaannya, maka mereka menjaga identitas keaslian leluhur tersebut dari pihak lain di luar komunitas mereka. Keadaan ini masih kuat terasa dalam kehidupan sosial budaya masyarakat adat di “Negeri 1001 Senja”.

  Dalam perkembangan lebih lanjut, nama marga/klan yang digunakan tidak hanya sebatas melengkapi sebuah nama dari setiap individu dan komunitas tertentu. Dalam sejarah penggunaan simbol marga/klan oleh sebagian komunitas suku di Kabupaten Kaimana, dapat diistilahkan dengan simbol aksidental yang oleh Arthur Asa Berger menjelaskan sifatnya lebih individual, tertutup dan berhubungan dengan sejarah kehidupan seseorang Berger (2000a:85). Dengan demikian penggunaan marga/klan sebagai simbol baru hanya digunakan setelah komunitas pengguna marga/klan terbentuk dalam satu komunitas dengan tujuan untuk menyampaikan pesan kepada 13 orang lain . Pesan-pesan simbolik yang disampaikan dengan 13 menggunakan simbol marga/klan, secara prinsip merupakan tindakan

  

Misalnya, saya ini kan marga Ruwe, dengan demikian kalau saya ambil salah satu

keluarga punya barang di kabun, mungkin pisang, atau sayur, maka untuk kasih tahu

saya punya sodara, tidak perlu saya pergi ke sodara itu punya kampung, cukup saya

ambil daun pohon kayu ruwe dan saya letakan pada tempat di mana saya mengambil

barang milik sodara saya itu. Trus saya buat busur kecil dua, dan gata-gata papeda dua

saya taruh sama-sama dengan daun pohon kayu ruwe, nanti kalau saya punya sodara

datang di kebun dia akan lihat tanda simbol yang saya pasang. Mengapa saya pasang

daun pohon kayu ruwe, karena saya punya marga ruwe, lalu mengapa saya pasang busur kecil dua, karena saya punya anak laki-laki dua trus kenapa saya pasang gata-

gata papeda, karena saya punya anak perempua dua. Nah dari tanda simbol itu, maka

sodara itu akan tahu kalau orang yang ambil dia punya hasil kebun itu marga ruwe etis yang pada satu sisi menyampaikan pesan kepada orang lain, tetapi pada sisi lain karena berhubungan dengan pengalaman leluhur, maka pesan simbol itu sendiri menunjukan sifat komunitas pengguna yang sangat menghargai leluhur mereka.

  Pada saat dilakukan wawancara DM menjelaskan sebagai berikut:

  “penggunaan marga yang kami pakai dalam komunitas, kami sadar bahwa hal itu berkaitan dengan leluhur kami, sehingga dalam penggunaannya kami harus menjaga nama baik marga tersebut. Hal penting yang harus kami perhatikan adalah ketika kami menggunanakn marga sebagai nama dalam keluarga, hal itu menunjukan bahwa kami memiliki hubungan darah dengan leluhur kami. Pengakuan ini penting karena itu, kami dalam keluarga harus menjaga nama baik leluhur kami. Ada juga kalau kami mengambil sesuatu barang dari keluarga, entah di kebun atau di tempat lain, kami gunakan marga kami sebagai tanda, hal itu menunjukan bahwa kami ada kasih tinggal leluhur kami di tempat itu, seperti yang saya katakan pada bagian awal tadi, karena kami marga maka kalau kami ambil sesuatu di kebun orang lain, maka kami

  Ruwe

harus taruh tanda dengan cara begini; kami ambil ranting kayu

ruwe taruh di tempat itu artinya yang ambil hasil kebun itu marga ruwe, setelah itu kami buat juga busur panah artinya yang ambil hasil kebun itu marga ruwe yang punya anak laki-laki, kalau anak laki-laki dua, maka busurnya harus dua, seandainya keluarga tersebut punya anak perempuan ada maka harus buat tanda entong nasi atau tanda lain yang menampakan ciri khas perempuan. Cara membaca tada yang di taruh itu begini:

  “yang ambil hasil kebun keluarga marga ruwe, punya anak laki-laki dua dan anak perempuan” pemilik kebun akan mengetahui 14 secara pasti siapa sesungguhnya yang ambil hasil kebun .

  Lebih lanjut dijelaskan oleh DM bahwa melalui simbol yang digunakan maka orang lain akan membaca simbol tersebut dan ruwe, memastikan bahwa yang mengambil hasil kebun adalah keluarga hal itu terbaca dari material simbol yang digunakan.

  Penjelasan tersebut menunjukan betapa kuatnya aspek keterikatan manusia dengan alam, antara generasi masa lalu dengan generasi masa sekarang. Dalam konteks ini, simbol memiliki kemampuan untuk meredam konflik, sebagai rujukan dan jalan keluar serta memiliki kekuatan pengikat antar generasi.

Permainan Simbol Anak Negeri

  Sebagai sebuah wilayah pemerintahan yang baru, sudah tentu persoalan yang dihadapi oleh pemerintahan di “Negeri 1001 Senja” sangat multi dimensi, bahkan untuk membedakan mana masalah prioritas dan bukan prioritas sangatlah sulit diidentifikasi. Karena itu pemerintah mengupayakan berbagai solusi untuk mengatasi persoalan multi dimensi yang menjadi tantangan bagi pemerintah.

  Salah satu upaya yang dibuat oleh pemerintah dalam menanggulangi persoalan-persoalan yang dihadapi adalah peningkatan SDM (Sumber Daya Mansia) melalui jalur pendidikan, baik pendidikan dalam daerah maupun pendidikan di luar daerah termasuk mengirim anak-anak asli dari delapan suku untuk belajar di luar negeri. Optimisme pemerintah melalui kebijakan di dunia pendidikan diharapkan dapat menjawab persoalan multi dimensi yang dihadapi.

  Walau demikian, kebijakan yang dibuat selalu di pandang oleh masyarakat dengan cara pandang yang berbeda. Ada sebagian masyarakat yang memandang kebijakan dengan sudut pandang oposisi, ada pula yang memandang kebijakan pemerintah dari sudut pandang kualisi. Artinya, cara pandang oposisi masyarakat selalu diidentikan sebagai cara pandang yang mengontrol kebijakan pemerintah, sementara cara pandang kualisi adalah cara pandang masyarakat yang memiliki keinginan bersama pemerintah mendukung dan menjalankan program perencanaan pembangunan.

  Dua pandangan yang berbeda ini ketika bertemu pada satu muara yang sama maka muncullah perbedaan dan gesekan arus yang kuat. Berangkat dari fenomena tersebut, muncul reaksi dan gelombang protes terhadap berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah di “Negeri 1001 Senja” terkait dengan dunia pendidikan. Pada bagian ini akan diuraikan kebijakan pemerintah tentang pendidikan di beberapa Palang rumah di sudut sekolah Permasalahan pendidikan merupakan persoalan yang diakibatkan pada multi faktor, dalam pengertian bahwa penyebab persoalan dalam dunia pendidikan tidak disebabkan hanya pada satu atau dua faktor persoalan semata. Dalam hal ini permasalahan selalu dititikberatkan pada kesadaran orang tua murid diperkampungan. Sederhananya begini, kalau seorang guru ditanya, bagaimana dengan perkembangan pendidikan di sekolah, jika guru tersebut bertugas di wilayah pedalaman, maka jawabannya akan seperti ini “anak-anak negeri di sini belum memiliki kesadaran tentang pendidikan”. Tidak ada yang salah dari cara guru tersebut memberi jawaban, sebab jawaban tersebut merupakan bagian dari 1001 macam keluhan yang sudah dan akan disampaikan oleh guru.

  Menghadapi persoalan pendidikan yang multi faktor, terkadang pemerintah lebih senang menempuh solusi yang sangat klasik seperti melakukan mutasi ketimbang mengambil langkah-langkah pembinaan dan penyadaran terhadap oknum guru yang tidak betah melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang guru di tempat tugas.

  Mutasi merupakan hal yang sangat penting, namun terkadang mutasi yang dilakukan jika telah terjadi persoalan-persoalan antara guru dan masyarakat, jika tidak terjadi persoalan maka segala sesuatu dianggap aman-aman saja, sementara pada sisi lain, terkadang banyak guru mengeluh terhadap persoalan-persoalan yang mereka rasakan.

  Jika didalami secara baik, penempatan tenaga guru SD di wilayah Distrik Teluk Arguni dan Distrik Teluk Arguni Bawah (SD YPK Barari, SD YPK Jawera dan SD Inpres Bofuwer) banyak mengalami persoalan.

  Persoalan yang seringkali terjadi adalah berkaitan dengan fungsi serta tugas guru sebagai kepala sekolah yang seringkali meninggalkan tempat tugas.

  Menurut penjelasan masyarakat dari Kampung Bofuwer, persoalan pemalangan rumah kepala sekolah penyebabnya karena kepala sekolah meninggalkan tempat tugas. Hal ini dijelaskan oleh AK

  “pemalangan rumah kepala sekolah sebenarnya disebabkan kepala sekolah SD Inpres Bofuwer empat bulan tidak menjalankan tugas, sebagai orang tua kami merasa rugi kalau anak-anak kami tidak mendapat pelayanan pendidikan dengan baik, kitong (kita) orang tua ini sudah bodoh jadi kitong (kita) berharap jangan sampai anak-anak kami ini bodoh seperti kami. Bapa guru kepala sekolah ini tra (tidak) tahu dia kemana sampai empat bulan tra (tidak) tugas, bukan saja itu guru-guru lain juga sama saja. Tetapi kalau kepala tenang di tempat

15

tugas tentu ekor juga bisa tenang” .

  Menyikapi kebiasaan kepala sekolah bersama beberapa guru bantu yang sering meninggalkan tempat tugas, masyarakat mengambil sikap tegas dengan melakukan pemalangan terhadap rumah kepala sekolah, hal tersebut dijelaskan oleh AK sebagai berikut:

  “untuk masalah ini saya dengan beberapa orang tua buat rencana pemalangan, hari itu saya pergi lapor di POLSEK Bofuwer, saya ketemu dengan pak RR saya bilang “mohon ijin komandan, kami mau melapor bahwa hari ini kami akan melakukan pemalangan sekolah SD Inpres Bofuwer, setelah keluar dari dari kantor POLSEK Bofuwer kami sama- sama menuju sekolah, saat itu anak-anak sementara sekolah, dan sementara hanya ada satu guru (ibu guru AS). Karena anak-anak sementara belajar, ibu guru bilang “jangan kamu palang sekolah sebab ada aktivitas belajar”. Akhirnya kami batal melakukan pemalangan sekolah, kami langsung menuju sudut sekolah ada rumah kepala sekolah 16 dan kami palang rumah itu ”.

  Aksi pemalangan yang dilakukan para orang tua terhadap rumah kepala sekolah SD Inpres Bofuwer merupakan aksi kontrol masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan. Hal ini dilakukan ketika fungsi kontrol pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan terasa kendor. Mungkin saja aksi pemalangan dinilai brutal atau tidak beretika, tetapi terlepas dari etis atau tidak etis suatu tindakan, hal tersebut sangat tergantung pada situasi di mana tindakan itu terjadi.

  Masalah pemalangan rumah kepala sekolah pada titik penyelesaiannya harus berada di meja pimpinan POLSEK Teluk Arguni. Dalam pengurusan permasalahan tersebut AK menjelaskan 15 sebagai berikut:

  Wawancara tanggal 21 Mei 2017

  “waktu beliau lapor ke POLSEK Bofuwer lalu kami urusan, kepala sekolah mengancam kami dan dia bilang akan malapor di POLRES Kaimana, saya katakan silahkan saya siap kalau saudara lapor di POLRES Kaimana. Lalu dia menjelaskan bahwa dia tidak berada di tempat tugas karena dia menjalankan tugas perjalanan dinas dan ada Disposisi Kepala Dinas Pendidikan, saya katakan kepada kepala sekolah itu ko (kau) jangan pikir kami ini orang kampung jadi kami ini bodoh, ko (kau) mau tipu siapa, ko (kau) dapat aturan dari mana seorang kepala sekolah bisa menjalankan perjalanan dinas sampai empat bulan, ko (kau) kira kami masyarakat tidak tahu aturan kha, ko (kau) mau saya turun lapor ko (kau) di kepala dinas juga? Dari debat tersebut beliau 17 minta maaf lalu kami cabut palang itu.”

  Dari informasi yang disampaikan responden, munculkan kesan di sana seakan masyarakat dianggap sebagai individu yang masih belum paham tentang peran fungsi tugas seorang guru. Sikap seperti ini menunjukan bahwa seorang guru belum sanggup memainkan perannya sebagai pengajar yang baik bagi masyarakat di mana dia berada dan melaksanakan tugasnya sebagai aparatur pemerintah. Selain itu pula dalam kasus ini ternyata masyarakat masih dipandang sebelah mata oleh petugas pemerintah. Masyarakat dilihat sebagai makhluk sosial yang tidak paham soal aturan perjalanan dinas.

  Sementara untuk pemalangan SD YPK Jawera di wilayah Distrik Teluk Arguni Bawah, menurut beberapa responden yang diwakili oleh FR, bahwa sebenarnya sudah lama masyarakat ingin melakukan pemalangan, tetapi masyarakat masih punya kesabaran, hal itu diuraikan lebih lanjut bahwa:

  “kami orang tua marah saat itu karena guru-guru semua kasih tinggal sekolah selama satu tahun ajaran. Anak-anak tidak sekolah tiba-tiba mereka datang di kampung langsung bawa beberapa anak utuk ikut Ujian Nasioanl. Kami orang tua pikir-pikir apakah anak-anak bisa lulus ikut ujian atau tidak? Kalau mereka bisa saja lulus, tetapi apakah mereka bisa masuk sekolah di SMP? Jangan sampai di SMP mereka tidak bisa bertahan dan pulang kembali ke kampung, sebab banyak anak-anak yang dari kampung masuk SMP tetapi mereka pulang kembali ke kampung karena mereka belum bisa baca secara baik. Lalu kami bersama kepala Kampung Jawera menghadap kepala dinas, kami lapor dan minta tenaga guru baru. Pergantian guru baru juga sama, dia naik tunjuk muka saja lalu dia pulang ke dia punya kampung sampai mau ujian baru dia naik, akhirnya kami marah dan palang itu rumah 18 . kepala sekolah”

  Munculnya permasalahan guru di wilayah terpencil tidak hanya disebabkan pada satu faktor, ada banyak faktor sebagai indikator penyebab yang membuat seorang guru tidak betah melaksanakan tugas. Karena itu sikap dinas dalam menyikapi laporan masyarakat dengan menggunakan solusi mutasi sebagai satu-satunya tindakan tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Untuk tiba pada keputusan akhir, dinas terkait butuh kajian dan analisa yang tepat mendahului tindakan konkrit dilapangan.

  Persoalan yang sama dihadapi juga di SD YPK Barari. Hal ini dijelaskan oleh para responden, mereka menggunakan istilah “duluan libur, telat masuk”. Istilah ini mengindikasikan bahwa aktivitas belajar mengajar selalu melenceng dari kalender pendidikan. Artinya, masa libur sekolah selalu lebih cepat dilaksanakan, sementara pada saat kalender sekolah dimulai, kegiatannya selalu telat. Inilah fenomena pendidikan di Papua khususnya di wilayah-wilayah pedalaman di “Negeri 1001 Senja”, karena itu masyarakat tidak lagi kaget soal kebiasaan ini.

  Menghadapi situasi seperti ini, responden MN yang diwawancari oleh penulis menjelaskan cara mereka menanggapi persoalan tersebut sebagai berikut.

  “kami di kampung ini hanya lakukan pemalangan pada pintu pagar masuk, karena tanah yang kami kasih untuk bangun sekolah SD YPK ini moyang-moyang kasih dengan gratis, dengan harapan guru-guru serius mengajar. Bukan sekolah yang kami palang, sekolah itu bangunan pemerintah, tetapi tanah ini kami punya. Seandainya guru-guru mengajar dengan baik, tidak mungkin kami tidak lakukan pemalangan seperti ini. Saat ini guru yang mengajar hanya ada satu guru tenaga honorer, ade perempuan dia dari kampung ini dan dibiayai oleh dana kampung. Kami hanya minta guru-guru tolong bertugas baik-baik, sebab ada beberapa anak yang telah dibawah oleh orang mereka untuk turun pergi kasih sekolah di Kota Kaimana, mereka takut anak-anak 19 mereka tidak bersekolah dengan baik.

  Menelusuri sejarah Pendidikan Dasar di Papua, khususnya di wilayah-wilayah pedalaman yang menjadi basis PI (Pekabaran Injil), pada saat itu banyak sekolah-sekolah dasar di bangun oleh YPK (Yayasan Pendidikan Kristen). Pada masa itu, masyarakat merespon dengan memberikan tanah secara gratis, dan sikap masyarakat saat itu menunjukan keinginan masyarakat menyambut kehadiran pendidikan untuk bersekolah sangat tinggi. Terlepas dari konteks masa lalu dengan munculnya persoalan-persoalan pendidikan seperti sekarang ini, masyarakat menjadi marah karena tujuan pendidikan yang digumuli bersama antara para penginjil dengan para leluhur mereka sudah tidak terlihat. Karena itulah, masyarakat mulai berpikir untung rugi dari apa yang mereka berikan dengan apa yang akan mereka terima, hal tersebut tidak lagi menjadi nilai yang berdampak postif bagi generasi mereka. Solusi akhir yang ambil oleh masyarakat adalah melakukan sikap pemalangan.

  Upaya memahami sikap masyarakat tersebut, peneliti melakukan pendekatan terhadap dinas pendidikan sebagai instansi teknis yang yang menangani pendidikan di “Negeri 1001 Senja” untuk mengetahui sejauh mana langkah-langkah yang dibuat dalam menyikapi permasalahan pendidikan dasar. Menurut penjelasan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kaimana LR saat dilakukan wawancara menjelaskan bahwa:

  “memang persoalan pendidikan di setiap kampung sangat beragam. Kendisis ini mengakibatkan banyak guru yang bertugas di daerah- daerah terisolir terkadang tidak bisa bertahan sehingga mengakibatkan masyarakat melakukan penolakan. Namun saya perlu menjelaskan bahwa tenaga guru yang kami cari untuk ditempatkan di setiap kampung memang sangat susah, karena fasilitas untuk tenaga guru masih sangat minim dari apa yang harus disiapkan oleh pemerintah.

  Mulai dari fasilitas perumahan, kebutuhan sekolah dan masih banyak lagi yang menjadi kendala bagi tenaga guru yang bertugas di wilayah pedalaman. Karena itu ketika guru-guru dari kampung datang di kota, pasti mereka berlama-lama. Kalau saya bertemu dengan mereka dan bertanya kapan pulang ke tempat tugas, mereka hanya menjawab “maaf pak kami masih urusan”, kalau jawaban seperti ini sangatlah manusiawi dan kita beri waktu untuk mereka siapkan apa yang harus dibawa ke tempat tugas. Yang berikut perlu saya jelaskan bahwa kebiasaan masyarakat kita di wilayah pedalaman adalah mereka selalu meniru apa yang dibuat sodara mereka di kampung yang lain kalau berhadapan

20

dengan kasus-kasus seperti ini”.

  Senada dengan permasalahan tersebut di atas, penulis melakukan wawancara terhadap kepala BAPPEDA Kabupaten Kaimana ARP, saat diwawancara oleh penulis beliau menjelaskan sebagai berikut:

  “persoalan pendidikan dasar di Kabupaten Kaimana sangat berbeda antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lainnya. Jika ada fenomena orang menangis meminta tenaga guru disatu wilayah maka tidak berarti di daerah yang lainnya juga sama. Justru kita menemukan kalau satu daerah minta guru, yang lainnya menolak guru. Disatu daerah orang tua menyuruh anaknya ke sekolah, sementara pada wilayah lain mereka pergi jemput paksa anaknya keluar dari ruang kelas untuk bawa masuk ke hutan. Ini persoalan yang sulit ditangani secara merata oleh pemerintah. Karena itu pemerintah daerah khususnya instansi teknis harus lebih sabar dalam melihat aspek pendidikan yang sementara terjadi di wilayah-wilayah perkampungan. Kalau berkaitan dengan pemalangan baik dalam bentuk simbol adat maupun dalam bentuk simbol umum, secara kasar saya dapat mengatakan bahwa itu bawaan masyarakat yang sulit mereka hindari, kita jujur harus bilang bahwa itulah senjata mereka, jangankan pemerintah, agama pun di beberapa tempat di wilayah Kabupaten Kaimana bahkan kalah menandingin konsep masyarakat adat tersebut. Karena itu sebagai pemerintah, kita diminta untuk tetap sabar, kalau tidak sabar maka semua petugas tidak akan betah melakukan tugas pelayanan pemerintahan di wilayah-wilayah pedalaman atau pada 21 wilayah-wilayah masyarakat yang masih terisolir” .

  Dari penjelasan ARP, penulis menarik benang merah dari penekanan yang disampaikan, bahwa masalah pendidikan dasar yang berada di wilayah-wilayah pedalaman sangat beragam. Keberagaman masalah pendidikan dasar tersebut menyulitkan pemerintah khususnya 20 instansi teknis untuk melakukan tindakan penanggulangan secepat

  Wawancara tanggal 23 Maret 2017 mungkin. Memahami konteks seperti ini, pemerintah mencoba untuk bersabar menghadapi sikap masyarakat. Bahasa simbol “percepatan pembangunan” melirik peluang belajar di Negeri der Panzer

  Kebijakan pemerintah di “Negeri 1001 Senja” untuk mengirim “der delapan anak asli Kaimana mengikuti pendidikan di negeri

  Panzer” merupakan kebijakan yang harus diberi acungan jempol.

Mengapa tidak, sebab dalam sejarah delapan suku besar yang mendiami hutan belantara “Negeri 1001 Senja” menjadi bagian dari Kabupaten

  Fakfak, belum pernah ada anak Kaimana diberi kesempatan mengenyam pendidikan di luar negeri.

  Pemerintah Kabupaten Kaimana memang memiliki target khusus soal kebijakan mengirim delapan anak suku asli Kaimana untuk belajar di luar negeri. Target pendidikan ke luar negeri yang dibidik Pemerintah Kabupaten Kaimana tentu bermuara pada upaya peningkatkan dan pengembangkan SDM yang bertujuan untuk mengejar ketertinggalan daerah dari beberapa daerah lain di Provinsi Papua Barat.

  Upaya mengejar ketertinggalan daerah, Bupati Kaimana periode 2010-2015 berupaya menciptakan program ideal untuk nemajukan

  “Negeri 1001 Senja” hal itu terbukti dengan dunia pendidikan di dikirimnya delapan anak bersekolah di Jerman. Dari program ideal tersebut menurut kepala BAPPEDA Kabupaten Kaimana, kami termasuk salah satu kabupaten yang memiliki kemampuan bersaing dengan kabupaten-kabupaten tua di Provinsi Papua Barat ujar kepala 22 BAPPEDA Kabupaten Kaimana ARP saat dilakukan wawancara oleh penulis.

  Sesungguhnya program studi ke negara yang dijuluki “der Panzer”, sudah diikuti oleh sebagian anak-anak Papua, namun hanya sebatas pada keluarga yang memiliki kemampuan finansial yang 22 mapan. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah

  Wawancara tanggal 17 Maret 2017 Kebupaten Kaimana yang mengandalakan keuangan APBD untuk mengirim delapan anak suku asli Kaimana berangkat studi ke luar negeri untuk mengikuti pendidikan. Kebijakan ini pada awalnya mendapat tanggapan dan respon positif dari masyarakat lokal delapan suku, walaupun dalam kenyataannya ada sebagian kelompok

  “der Panzer” masyarakat tertentu yang melihat program studi ke negeri sebagai bentuk kebijakan politik menjelang PILKADA (Pemelihan Kepala Daerah) 2015-2020.

  Sangatlah wajar jika ada pihak yang menilai kebijakan Bupati Kaimana untuk mengirimkan delapan anak asli Kaimana mengikuti pendidikan di negeri “der panzer“ sebagai sebuah kebijakan politik untuk kepentingan politik, hal ini disebabkan karena kebijakan tersebut dilakukan menjelang akhir masa bakti 2010-2015 dan menjelang PILKADA periode 2015-2020. Karena itu, ketika memasuki periode 2016-2020 muncul gejolak masa yang memprotes kebijakan Bupati Kaimana ketika empat orang anak dipulangkan kembali ke Indonesia.

  Demonstrasi massa yang dilakukan terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Kaimana dengan menggunakan simbol adat meminta Bupati Kaimana memperjelas kepulangan empat anak ke Indonesia menimbulkan ragam tanggapan masyarakat diantaranya tanggapan SA salah satu kepala suku ketika di wawancara menjelaskan sebagai berikut:

  “sebenarnya kalau kita bicara soal maju mundurnya Kabupaten Kaimana ini bukan hanya tergantung pada Bupati Kaimana dan jajarannya saja, sebenarnya semua suku harus berperan. Pada waktu itu dong (mereka) mau palang, lalu saya bilang, kamu mau palang tetapi persoalannya apa dulu, nah karena saya menghalangi mereka, lalu mereka bilang bahwa; “ah.. kepala suku Napiti dia selalu menghalangi pemalangan. Sebenarnya saya bukan menghalangi tetapi kita lihat persoalannya apa dulu, bukan karena Matias Mairuma Bupati Kaimana, itu anak dari suku jadi saya menghalangi, tetapi sebaiknya kita

  Napiti 23 lihat pada persoalannya dulu” . Lebih lanjut dia menegaskan duduk persoalan tersebut dengan meminta DPRD Kabupaten Kaimana untuk lebih transparan soal kepulangan keempat anak yang dipulangkan dari Jerman dengan mengatakan sebagai berikut:

  “kemarin, kenapa saya salahkan DPRD, mereka terima persoalan itu kan cuman dua anak saja, bukan semua delapan anak itu, kalau hanya dua saja, itu berarti persoalan pribadi, jadi DPR harus cek kembali. Setelah saya bicara itu baru mulai kita gali sana, gali sini baru ketemu, persoalannya anak yang satu, pencuri teman-teman punya uang, kumpul teman-teman punya kartu-kartu, dia mulai ambil satu punya, satu punya, tinggal mabok begitu, yang satu baku ikut dengan satu teman Afrika mabok, di sana kan sepeda taruh di depan rumah saja, jadi mau enak pake, pake saja, tapi kembalikan, harus taruh di situ lagi, dia tidak, bawa sepeda di situ, jatuh dan luka, karena mabok kerja pung

  (akibat mabok), baku ikut dengan teman, terus luka masuk rumah sakit, rumah sakit di sana itu, bukan ko (kau) masuk saja, tapi dia punya meteran pembayaran jalan, baru selesai periksa keluar bayar, tetapi dia keluar terus dia kabur, ini negara luar, dia di kejar, dia lari, akhirnya PEMDA Kabupaten Kaimana yang rugi, bayar lagi di sana, masalah rumah sakit di sana. Kalau mau kembali sekolah kan tidak mungkin, 24

.

sudah malu. Itu persoalannya”

  Karena itu menurutnya:

Dokumen yang terkait

Bab 1 Latar Belakang - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Analisis Penerapan Sistem Budidaya Padi dengan Metode System Rice Intensification dalam Pertanian: Studi pada Rumah Tangga Petani Padi Sawah di Desa Ringgit Kecamatan Ngo

0 0 8

Bab 2 Kajian Literatur - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Analisis Penerapan Sistem Budidaya Padi dengan Metode System Rice Intensification dalam Pertanian: Studi pada Rumah Tangga Petani Padi Sawah di Desa Ringgit Kecamatan N

0 0 16

Bab 3 Metodologi Penelitian - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Analisis Penerapan Sistem Budidaya Padi dengan Metode System Rice Intensification dalam Pertanian: Studi pada Rumah Tangga Petani Padi Sawah di Desa Ringgit Kecama

0 1 6

Bab 4 Analisis Data dan Pembahasan - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Analisis Penerapan Sistem Budidaya Padi dengan Metode System Rice Intensification dalam Pertanian: Studi pada Rumah Tangga Petani Padi Sawah di Desa Ringgit

0 0 38

Bab 5 Penutup - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Analisis Penerapan Sistem Budidaya Padi dengan Metode System Rice Intensification dalam Pertanian: Studi pada Rumah Tangga Petani Padi Sawah di Desa Ringgit Kecamatan Ngombol Ka

0 0 7

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pariwisata Nusa Tenggara Timur: Potensi dan Dinamika

0 0 23

BAB I PENDAHULUAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Resistensi Simbolik: Gerakan Perlawanan Simbol Adat terhadap Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kaimana

0 0 22

BAB II GERAKAN PERLAWANAN SIMBOL ADAT SEBAGAI GERAKAN SOSIAL DALAM RANAH KEKUASAAN KEBIJAKAN PUBLIK - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Resistensi Simbolik: Gerakan Perlawanan Simbol Adat terhadap Kebijakan Pemerintah Kabupaten

0 1 63

BAB III MENGUMPUL POTONGAN CERITA SIMBOLIK DI NEGERI 1001 SENJA1 PENGGUNAAN METODE PENELITIAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Resistensi Simbolik: Gerakan Perlawanan Simbol Adat terhadap Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kaima

0 1 23

BAB IV KESALAHAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MEMENGARUHI ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Resistensi Simbolik: Gerakan Perlawanan Simbol Adat terhadap Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kaimana

0 0 60