ANALISIS PENGARUH TAXES, GRANT, DAN UKURAN LEGISLATIF TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA

LEGISLATIF TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA

SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat

untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Disusun Oleh : AKHMAD RUSYID FAUZI NIM. F0308025 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA ABSTRAKSI AKHMAD RUSYID FAUZI F0308025

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan pajak (taxes), pendapatan sumbangan, donasi, hibah dan subsidi (grant) serta jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (ukuran legislatif) terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah diseluruh Indonesia yang dinyatakan dengan lima rasio keuangan yaitu current ratio, debt to equity ratio, asset turnover, operating revenue to total revenue dan operating revenue to operating expense . Kelima rasio tadi kemudian diproksikan menjadi satu variabel dependen yaitu variabel kinerja keuangan pemerintah daerah.

Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah berjumlah 709 yang berasal dari pemerintah daerah seluruh kabupaten yang tersebar diseluruh Indonesia. Penentuan sampel ini menggunakan metode purposive sampling yang kemudian dianalisis menggunakan alat analisis multiple regression (regresi berganda) dengan bantuan software komputer yaitu SPSS 17.

Setelah pengujian menggunakan alat analisis data regresi berganda, ditemukan bukti empiris bahwa terdapat pengaruh antara variabel taxes, grant dan ukuran legislatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa semua variabel yang dihipotesiskan dalam penelitian ini yaitu taxes, grant dan ukuran legislatif berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia.

Kata Kunci: taxes, grant, ukuran legislatif, DPRD, current ratio, debt to equity

ratio, asset turnover, operating revenue to total revenue, operating revenue to operating expense , kinerja keuangan

SIZE ON GOVERNMENT FINANCIAL PERFORMANCE IN INDONESIA ABSTRACT AKHMAD RUSYID FAUZI F0308025

The study was conducted with the aim to determine the effect of Taxes, contributions, donations, grants and subsidies (grants) and the Regional Representatives Council size on the financial performance of local government throughout Indonesia that represented by five financial ratios, namely current ratio, debt to equity ratio, asset turnover, operating revenue to total revenue and operating revenue to operating expense. The fifth ratio then measured into one dependent variable namely a variable the local government's financial performance.

The number of samples used in this study were derived from the total 709 local governments around the district throughout Indonesia. The determination of this sample using purposive sampling method, then analyzed using multiple regression analysis with the help of the computer software SPSS

17. After testing the data using multiple regression analysis, the result

found empirical evidence that there are influence between variable taxes, grants and legislative size on the financial performance of local governments in Indonesia. This study concluded that all variables hypothesized in this study, namely taxes, grants and legislative size have significantly affect the financial performance of local governments in Indonesia.

Key Word : taxes , grant, ukuran legislatif, DPRD, current ratio, debt to equity

ratio, asset turnover, operating revenue to total revenue, operating revenue to operating expense , financial performance

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang- orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.・Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”

[al Baqarah/2:155-157]

" Tidaklah seorang Muslim menderita karena kesedihan, kedudukan, kesusahan, kepayahan, penyakit dan gangguan duri yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah akan mengampuni dosa-dosanya."

(HR. BUKHORI)

"Achieve your mission with all your might. Despair not till your last breath. Make your death count.”

(ML Alternative OP)

Saya persembahkan penelitian ini teruntuk Allah SWT

My Beloved Family

M y Respectable Fr iend

And for my own future……….

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirobbil’alamin, Segala puja dan puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia, rahmat, nikmat dan kekuatan yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ANALISIS PENGARUH TAXES, GRANT, DAN

UKURAN LEGISLATIF

TERHADAP

KINERJA KEUANGAN

PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA” dengan kelancaran dan kemudahan.

Tugas skripsi ini disusun demi melengkapi salah satu syarat untuk mencapai kelulusan dan memperoleh gelar Sarjana Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis dalam penyusunan skripsi ini menyadari bahwa tidak sedikit dorongan, motivasi maupun bantuan dari banyak pihak. Oleh karenanya, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:

1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan tugas ini.

2. Dr. Wisnu Untoro, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.

yang sangat membantu untuk mencapai hasil skripsi yang terbaik.

4. Dra. Setianingtyas H. MM,Ak, selaku pembimbing akademik yang membantu saya selama masa perkuliahan.

5. Kedua orang tua tercinta yang tidak henti-hentinya memberikan inspirasi dan mendorong penulis untuk menyelesaikan skripsinya. Semoga Allah memberikan yang terbaik dan membalas jasa-jasa beliau baik di dunia maupun di akhirat.

6. Kakak maupun adik saya yang memicu diri saya untuk mengerjakan skripsi dengan sebaik-baiknya.

7. Teman-teman Kos Tsaqofi yang telah membantu membentuk jati diri yang cerdas dan senantiasa ingat kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan.

8. Teman-teman PUSIDI yang telah lulus dan membantu saya dalam meningkatkan skill saya tentang komputer.

9. Karyawan-karyawan PUSIKOM yang telah menemani masa kuliah saya di FE UNS semenjak masuk semester pertama.

10. Sahabat magangku, Chandra dan Andreas yang bersama-sama melewati masa sulit dipelosok nun jauh disana dan menghadapi keganasan HRD.

11. Sahabat seperjuangan skripsiku, Nanda, Habib dan Chandra yang senantiasa sabar dalam setiap cobaan.

12. Teman-teman ACCOUNTING 2008 yang kompak dan gokil.

keterbatasan tulisan.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan maupun kesalahan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangatlah diharapkan sehingga mampu mengembangkan dan memperbaiki diri saya menjadi yang lebih baik lagi.

Akhir kata, penulis mengharapkan agar skripsi yang saya tulis ini mampu bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya di masa mendatang.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Surakarta,

26 Juli 2012

Penulis

HALAMAN PERSETUJUAN ………………………………………

iii

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………

iv

HALAMAN MOTTO ……………………………………………….

HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………….

vi

KATA PENGANTAR ………………………………………………

vii

DAFTAR ISI ………………………………………………………...

DAFTAR TABEL …………………………………………………...

xii

DAFTAR GAMBAR ………………………………………………..

xiii

DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………...

xiv

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah ………………………………..

1.2 Tujuan Penelitian ………………………………………

1.3 Rumusan Masalah ………………………………………

1.4 Manfaat Penelitian ……………………………………...

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Laporan Keuangan dan Tujuan Laporan Keuangan …….

2.2 Jenis Laporan Keuangan ………………………………..

2.4 Analisis Laporan Keuangan Daerah …………………….

2.5 Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah ………………….

2.6 Kerangka Pemikiran …………………………………….

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian ………………………………………..

3.2 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel …..

3.3 Sumber Data …………………………………………….

3.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel …….…..

3.5 Teknik Analisis Data ……………………………….…..

3.6 Pengujian Data ………………………………………….

BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data …………………………………………..

4.2 Hasil dan Analisis Data …………………………………

BAB V. KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………….

LAMPIRAN …………………………………………………………

Tabel

Halaman

1 Sampel Penelitian ………………………………………………...

35

2 Deskripsi Statistik Data Penelitian ……………………………….

37

3 Normalitas Data …………………………………………………..

38

4 Normalitas Data Setelah Seleksi Data Outlier ……………………

39

5 Uji Autokorelasi ………………………………………………….

41

6 Uji Multikolinieritas ……………………………………………...

41

7 Uji Heterokedastisitas …………………………………………….

42

8 Uji Signifikansi-F ………………………………………………...

44

9 Uji Signifikansi-T ………………………………………………...

45

Gambar

Halaman

1 Kerangka Pemikiran Penelitian ………………………………

19

Lampiran

Halaman

1 Data Sampel ………………………………………………...

56

2 Output SPSS …………………………………………………

77

TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA ABSTRAKSI AKHMAD RUSYID FAUZI F0308025

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pendapatan pajak (taxes), pendapatan sumbangan, donasi, hibah dan subsidi (grant) serta jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (ukuran legislatif) terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah diseluruh Indonesia yang dinyatakan dengan lima rasio keuangan yaitu current ratio, debt to equity ratio, asset turnover, operating revenue to total revenue dan operating revenue to operating expense . Kelima rasio tadi kemudian diproksikan menjadi satu variabel dependen yaitu variabel kinerja keuangan pemerintah daerah.

Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah berjumlah 709 yang berasal dari pemerintah daerah seluruh kabupaten yang tersebar diseluruh Indonesia. Penentuan sampel ini menggunakan metode purposive sampling yang kemudian dianalisis menggunakan alat analisis multiple regression (regresi berganda) dengan bantuan software komputer yaitu SPSS 17.

Setelah pengujian menggunakan alat analisis data regresi berganda, ditemukan bukti empiris bahwa terdapat pengaruh antara variabel taxes, grant dan ukuran legislatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa semua variabel yang dihipotesiskan dalam penelitian ini yaitu taxes, grant dan ukuran legislatif berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia.

Kata Kunci: taxes, grant, ukuran legislatif, DPRD, current ratio, debt to equity

ratio, asset turnover, operating revenue to total revenue, operating revenue to operating expense , kinerja keuangan

SIZE ON GOVERNMENT FINANCIAL PERFORMANCE IN INDONESIA ABSTRACT AKHMAD RUSYID FAUZI F0308025

The study was conducted with the aim to determine the effect of Taxes, contributions, donations, grants and subsidies (grants) and the Regional Representatives Council size on the financial performance of local government throughout Indonesia that represented by five financial ratios, namely current ratio, debt to equity ratio, asset turnover, operating revenue to total revenue and operating revenue to operating expense. The fifth ratio then measured into one dependent variable namely a variable the local government's financial performance.

The number of samples used in this study were derived from the total 709 local governments around the district throughout Indonesia. The determination of this sample using purposive sampling method, then analyzed using multiple regression analysis with the help of the computer software SPSS

17. After testing the data using multiple regression analysis, the result

found empirical evidence that there are influence between variable taxes, grants and legislative size on the financial performance of local governments in Indonesia. This study concluded that all variables hypothesized in this study, namely taxes, grants and legislative size have significantly affect the financial performance of local governments in Indonesia.

Key Word : taxes , grant, ukuran legislatif, DPRD, current ratio, debt to equity

ratio, asset turnover, operating revenue to total revenue, operating revenue to operating expense , financial performance

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Reformasi pada tahun 1998 merupakan awal tonggak baru bagi Indonesia dalam melaksanakan demokrasi sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. Kejadian ini diawali dengan terjadinya krisis ekonomi pada awal tahun 1996 dan hingga puncaknya dengan tumbangnya pemerintahan orde baru dan tegaknya reformasi tahun 1998. Reformasi ini memunculkan perubahan diberbagai bidang, termasuk salah satunya di bidang perekonomian pemerintah yang mengatur tentang kebijakan otonomi daerah.

Kebijakan otonomi daerah ditetapkan dalam rangka percepatan pembangunan daerah dengan mendelegasikan sebagian wewenang pengelolaan keuangan kepada pemerintah daerah. Hal ini ditunjang dengan penetapan kebijakan otonomi daerah yang dikeluarkan pada tahun 1999 (Undang-undang No. 22/1999) dan diperbaharui pada tahun 2004 (Undang- undang No.32/2004) yang mengatur tentang kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat daerah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang- undangan. Diterbitkannya UU No. 25/1999 yang kemudian diperbaharui dengan UU No. 32/2004 tentang perimbangan antara Keuangan Pemerintah

reformasi dalam bidang keuangan negara. Melaksanakan otonomi daerah berarti menunjukkan bahwa adanya pemindahan sebagian besar wewenang yang sebelumnya berada pada pemerintahan pusat kemudian diserahkan kepada pemerintah daerah, yang diharapkan pemerintah daerah mampu memenuhi tuntutan masyarakat secara cepat dan tepat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kemampuan daerah masing-masing. Konsekuensi yang terjadi adalah muncul adanya tuntutan peningkatan kinerja keuangan yang semakin baik serta transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pengelolaan keuangan negara. Untuk mengetahui bahwa tujuan pemerintah daerah tersebut tercapai, maka salah satu cara adalah dengan melakukan pengukuran kinerja (Halacmi, 2005).

Pengukuran kinerja merupakan salah satu kunci sukses dari pembaharuan dalam sektor publik (Greiling, 2005). Pengukuran kinerja dilakukan untuk memenuhi tiga maksud (Mardiasmo, 2007) yaitu (1) untuk membantu memperbaiki kinerja pemerintah; (2) untuk mengalokasikan sumberdaya dan pembuatan keputusan; dan (3) untuk mewujudkan pertanggungjawaban publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.

Pengukuran kinerja sangat dibutuhkan karena terdapat fakta bahwa masih kurang baiknya kinerja pemerintah daerah di Indonesia. Hal Ini didasarkan pada temuan BPK tentang LKPD (Laporan Keuangan Pemerintah Daerah) tahun 2010, BPK memberikan opini WTP (wajar tanpa pengecualian) atas 32 LKPD, opini WDP (wajar dengan pengecualian) atas Pengukuran kinerja sangat dibutuhkan karena terdapat fakta bahwa masih kurang baiknya kinerja pemerintah daerah di Indonesia. Hal Ini didasarkan pada temuan BPK tentang LKPD (Laporan Keuangan Pemerintah Daerah) tahun 2010, BPK memberikan opini WTP (wajar tanpa pengecualian) atas 32 LKPD, opini WDP (wajar dengan pengecualian) atas

Pengukuran kinerja pemerintah tidak bisa dilepaskan dengan prinsip Value for Money. Value for money merupakan inti dari pendekatan kinerja organisasi pemerintah (Mardiasmo, 2007). Value for money adalah konsep pengukuran kinerja dengan menggunakan pendekatan pada tingkat ekonomis (pengelolaan secara hati-hati supaya tidak ada pemborosan), efisiensi (perbandingan antara output yang dihasilkan dengan input yang digunakan) dan efektifitas (hubungan optimal yang antara output dengan tujuannya). Untuk mengidentifikasi kinerja keuangan suatu laporan keuangan daerah, media yang biasanya digunakan adalah rasio keuangan (Suyono, 2010) sebagaimana yang digunakan Cohen (2006) dalam variabel penelitiannya.

Dari beberapa penelitian yang meneliti hubungan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan ditemukan bahwa terdapat beberapa faktor yang memiliki pengaruh terhadap kinerja keuangan daerah. Faktor- faktor tersebut antara lain adalah pendapatan pajak (taxes), grant, dan Ukuran Legislatif.

Pajak (taxes) merupakan jumlah penerimaan pajak yang menjadi hak dari pemerintah daerah dalam suatu periode tertentu (Suyono, 2010). Menurut

Suyono (2010), dengan pajak yang tinggi maka akan mampu meningkatkan Suyono (2010), dengan pajak yang tinggi maka akan mampu meningkatkan

Sedangkan grant merupakan jumlah sumbangan, donasi, subsidi dan hadiah yang diterima oleh suatu pemerintah daerah tanpa tuntutan tertentu pada suatu periode tertentu (Suyono, 2010). Dengan grant yang tinggi, diharapkan pemerintah mampu memanfaatkannya

sebagai sumber pembiayaan tambahan dalam memperlancar kegiatan operasional pemerintah daerah sehingga mampu meningkatkan kinerja keuangan pemerintah daerah.

Penelitian Steven dan McGowen (1983) juga menemukan bukti empiris bahwa tinggi rendahnya penerimaan pajak maupun grant suatu pemerintah daerah berpengaruh terhadap kinerja keuangan daerah, sehingga semakin tinggi pendapatan dari pajak maupun grant yang diterima oleh pemerintah daerah maka diharapkan kinerja keuangannya juga semakin membaik.

Selain beberapa faktor diatas, faktor lain yang mampu mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah adalah ukuran dewan legislatif (DPRD). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga yang memiliki posisi dan peran strategis terkait dengan pengawasan keuangan daerah (winarna dan Murni, 2007). Dewan legislatif memiliki tiga fungsi penting yaitu legislasi (perwakilan rakyat), anggaran, dan pengawasan (Pasal 292 & 343 Selain beberapa faktor diatas, faktor lain yang mampu mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah adalah ukuran dewan legislatif (DPRD). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga yang memiliki posisi dan peran strategis terkait dengan pengawasan keuangan daerah (winarna dan Murni, 2007). Dewan legislatif memiliki tiga fungsi penting yaitu legislasi (perwakilan rakyat), anggaran, dan pengawasan (Pasal 292 & 343

Terdapat beberapa penelitian terdahulu tentang kinerja keuanga n pemerintah daerah. Penelitian Steven dan McGowen (1983) tentang indikator keuangan dan tren keuangan pemerintah daerah dengan menggunakan variabel pendapatan dan pengeluaran, variabel pajak dan real estate, serta variabel composite yang terdiri grant to revenure ratio, grant to expenditure ratio dan debt to revenue ratio, ditemukan bahwa tren keuangan daerah dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah jumlah penduduk dan sumber pendapatan pemerintah daerah.

Penelitian Suyono (2010) mengenai hubungan kinerja keuanga n daerah yang diproksikan dengan menggunakan beberapa rasio keuangan yaitu Current Ratio, Asset Turnover, Debt to Equity, Operating Revenues to Total Revenues, dan Operating Revenues to Operating expenses, terhadap revenue, expenditure, real estate, capital, taxes , dan grant, diperoleh bukti empiris bahwa adanya pengaruh revenue terhadap kinerja keuangan daerah. Sedangkan lima variabel lainnya tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja keuangan daerah di Indonesia.

karakteristik pemerintah daerah dengan menggunakan variabel ukuran (size), kemakmuran (wealth), leverage, intergovermental revenue, dan ukuran legislatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah, ditemukan bahwa ukuran (size), leverage, dan intergovermental revenue berpengaruh terhadap kinerja keuangan daerah. Sedangkan variabel kemakmuran (wealth) dan ukuran legislatif tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan daerah.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Winarna (2010) yaitu tentang pengujian pengaruh revenue, expenditure, real estate, taxes, grant, population, tourist, GDP dan employment terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Jawa Tengah yang diproksikan dengan tiga rasio penilaian kinerja yaitu rasio kemandirian, rasio efisiensi, dan rasio efektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh revenue dan expenditure terhadap kinerja keuangan daerah. Sedangkan variabel taxes, grant, real estate, population, tourist, employment , dan GDP tidak memiliki pengaruh pada kinerja pemerintah daerah.

Penelitian Cohen (2006) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah menyatakan bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah, yaitu gross domestic product, population, real estate, tourist dan capital.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Cohen (2006), Steven dan McGowen (1983) dan Suyono (2010). Perbedaan antara penelitian

ini dengan sebelumnya adalah pertama, pemilihan sampel yang sebelumnya ini dengan sebelumnya adalah pertama, pemilihan sampel yang sebelumnya

Berdasarkan beberapa uraian diatas, peneliti ingin menguji kembali faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah yang diprosikan dengan lima rasio keuangan, yaitu: current ratio, debt to equity, assets turnover, operating revenues to total revenues, dan operating revenues to total expenses dengan menggunakan tiga variabel independen, yaitu taxes, grant dan ukuran legislatif. Maka judul yang digunakan pada penelitian ini

adalah “PENGARUH TAXES, GRANT, DAN UKURAN LEGISLATIF

TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH”.

1.2 TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk :

a) Mengetahui pengaruh dari taxes terhadap kinerja laporan keuangan pemerintah daerah di Indonesia.

b) Mengetahui pengaruh dari grant terhadap kinerja laporan keuangan pemerintah daerah di Indonesia.

keuangan pemerintah daerah di Indonesia.

1.3. RUMUSAN MASALAH

Sesuai dengan latar belakang dan judul penelitian, maka yang menjadi pokok permasalahan adalah:

a) Bagaimanakah pengaruh pendapatan yang berasal dari pajak daerah (taxes) terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia?

b) Bagaimanakah pengaruh pendapatan yang berasal dari grant terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia?

c) Bagaimanakah pengaruh ukuran anggota legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia?

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat termasuk:

a) Bagi Pemerintah, dapat memberikan kontribusi terhadap evaluasi pemerintah terhadap kinerja keuangan daerah sehingga diharapkan

mampu menjadi bahan evaluasi dalam penentuan kebijakan dan peraturan tentang keuangan daerah.

b) Bagi Lembaga Pemberi Investasi, Donasi dan Pinjaman, dapat memberikan referensi maupun informasi dalam pengambilan keputusan b) Bagi Lembaga Pemberi Investasi, Donasi dan Pinjaman, dapat memberikan referensi maupun informasi dalam pengambilan keputusan

c) Bagi kalangan akademis, bisa membantu referensi dalam penelitian- penelitian selanjutnya disamping sebagai sarana untuk menambah wawasan juga untuk referensi dalam memperdalam topik yang sama.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. LAPORAN KEUANGAN DAN TUJUAN LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan adalah suatu penyajian data keuangan termasuk catatan

yang

menyertainya, bila ada, yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sumber daya ekonomi (aktiva) dan/atau kewajiban suatu entitas pemerintah pada saat tertentu atau perubahan atas aktiva dan/atau kewajiban selama suatu periode tertentu sesuai dengan standar akuntansi pemerintah (Suyono, 2010). Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan terutama digunakan untuk mengetahui nilai sumber daya ekonomi yang dimanfaatkan untuk melaksanakan kegiatan operasional pemerintahan, menilai kondisi keuangan serta mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan, dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan (Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 2005).

Tujuan dari pelaporan keuangan pemerintah daerah secara umum adalah menyajikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna dalam pengambilan keputusan baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik, dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas dengan: Tujuan dari pelaporan keuangan pemerintah daerah secara umum adalah menyajikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna dalam pengambilan keputusan baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik, dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas dengan:

b. Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran;

c. Menyediakan informasi mengenai jumlah sumberdaya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai;

d. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya;

e. Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaanya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman;

f. Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah mengalami kenaikan, atau penurunan, sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode berjalan. (Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 2005)

Laporan keuangan pemerintah menggunakan dua pendekatan basis akuntansi, yaitu basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, transfer dan pembiayaan, dan basis akrual adalah untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas dana. Entitas pelaporan juga diperkenankan untuk menyelenggarakan Laporan keuangan pemerintah menggunakan dua pendekatan basis akuntansi, yaitu basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja, transfer dan pembiayaan, dan basis akrual adalah untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas dana. Entitas pelaporan juga diperkenankan untuk menyelenggarakan

2.2. JENIS LAPORAN KEUANGAN

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Publik dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah pusat dan daerah ada beberapa jenis, yaitu:

a. Neraca

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada periode tertentu (Suyono, 2010).

b. Laporan Realisasi Anggaran

Laporan Realisasi Anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah daerah pusat/daerah terhadap anggaran yang telah ditetapkan (APBN/APBD). Laporan Realisasi Anggaran menyajikan tentang ikhtisar sumber, alokasi dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah dalam suatu periode pelaporan. Laporan Realisasi Anggaran sekurang-kurangnya berisi unsur-unsur seperti berikut: pendapatan, belanja, transfer surplus/defisit, pembiayaan, sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran (Suyono, 2010).

c. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas menyajikan tentang informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama satu periode akuntansi, dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Laporan arus kas Laporan arus kas menyajikan tentang informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama satu periode akuntansi, dan saldo kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Laporan arus kas

1) Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum Negara/Daerah.

2) Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar ke Bendahara Umum Negara/Daerah.

d. Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam laporan realisasi anggaran, laporan perubahan saldo anggaran lebih, neraca, laporan operasional, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas (kerangka konseptual akuntansi pemerintah, paragraf 106).

Catatan atas laporan keuangan sekurang-kurangnya disajikan dengan susunan sebagai berikut (Suyono, 2010):

1) Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target.

2) Ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan.

3) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan- kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi- transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya.

Akuntansi Pemerintah yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.

5) Pengungkapan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas.

6) Informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.

7) Daftar dan skedul.

2.3. KARAKTERISTIK KUALITATIF ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH

Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Karakteristik kualitatif yang harus dipenuhi agar laporan keuangan pemenrintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki, adalah:

a. Relevan

Laporan keuangan dikatakan relevan apabila informasi yang terkandung dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pengguna dengan membantu dalam mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini dan memprediksi masa depan serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu (Suyono, 2010).

keuangan pemerintah dapat dikategorikan relevan apabila memenuhi kriteria berikut:

1) Feedback value (nilai umpan balik) Informasi memungkinkan

pengguna

untuk

menegaskan dan

mengoreksi ekspektasi mereka di masa lalu.

2) Predictive value (nilai prediktif) Informasi mampu membantu pengguna dalam memprediksi masa depan dengan berdasarkan pada peristiwa masa lalu dan masa kini.

3) Timelines (tepat waktu) Informasi tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan.

4) Completeness (Kelengkapan) Informasi disajikan selengkap mungkin, yaitu mencakup semua informasi yang mampu mempengaruhi pengambilan keputusan.

b. Reliabel

Laporan keuangan dikatakan reliable atau andal apabila informasi yang terkandung bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan berisi penyajian yang jujur atau tulus atau secara wajar (Bastian, 2010). Menurut kerangka konseptual akuntansi pemerintah, suatu laporan keuangan pemerintah dapat dikategorikan andal apabila memenuhi kriteria berikut:

Informasi menggambarkan penyajian yang jujur tentang transaksi dan peristiwa lainnya, dan disajikan secara wajar sesuai dengan situasi yang ada.

2) Verifiable (dapat diverifikasi) Informasi yang disajikan dapat diuji dan apabila pengujian dilakukan oleh pihak yang berbeda, hasil yang terjadi tidak berbeda jauh dengan simpulan yang ada.

3) Neutral (netralitas) Informasi yang dihasilkan tidak memihak pada kepentingan pihak tertentu.

c. Dapat dipahami

Laporan keuangan yang dihasilkan mudah dipahami oleh sebagian besar pengguna.

d. Dapat diperbandingkan

Laporan keuangan dapat dibandingkan antar periode akuntansi untuk mengidentifikasikan kecenderungan neraca dan kinerja keuangan (Bastian, 2001). Menurut kerangka konseptual akuntansi pemerintah, suatu laporan keuangan pemerintah akan lebih berguna apabila dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya secara eksternal maupun internal.

Analisis laporan keuangan dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan keuangan suatu perusahaan dengan cara melalui interpretasi atau analisis terhadap data keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Analisis laporan keuangan dimaksudkan untuk membantu bagaimana cara memahami laporan keuangan, bagaimana menafsirkan angka- angka dalam laporan keuangan bagaimana mengevaluasi laporan keuangan, dan bagaimana menggunakan informasi keuangan untuk pengambilan keputusan. Salah satu metode dalam analisis laporan keuangan adalah analisis rasio keuangan. Terdapat berbagai jenis rasio yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menginterpretasikan laporan keuangan. Hasil dari perhitungan rasio-rasio keuangan ini kemudian di interpretasikan, sehingga hasilnya dapat dievaluasi kinerja keuangannya dan dapat membantu dalam pengambilan keputusan tertentu (Suyono, 2010).

2.5. KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH

Pemerintah daerah sebagai pihak yang diserahi tugas menjalanka n roda pemerintahan, pembangunan, dan layanan sosial bagi masyarakat wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan daerahnya untuk menilai apakah pemerintah daerah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak (Suprapto, 2006). Hal ini bertujuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat tentang transparansi dan akuntanbilitas dalam menjalankan kegiatan ekonomi pemerintah, sehingga dapat dievaluasi kinerjanya dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.

(Government Accounting Standard Board, Concept Statement No. 2):

a. Indikator pengukuran Serfice Effort

Effort atau usaha adalah jumlah sumber daya keuangan dan non- keuangan, dinyatakan dalam uang atau satuan lainnya, yang dipakai dalam pelaksanaan suatu program atau jasa pelayanan. Pengukuran service effort meliputi pemakaian rasio perbandingan antara sumber daya keuangan dan non-keuangan terhadap ukuran lain yang menunjukkan permintaan potensial atas jasa usaha yangdiberikan

b. Indikator pengukuran Service Accomplishment

Jenis ukuran accomplishment atau prestasi ada dua yaitu outputs yang mengukur kuantitas jasa yang disediakan dan outcomes yang mengukur hanya sebatas kuantitas jasa yang disediakan atau mengukur kuantitas jasa yang disediakan yang memenuhi standar kualitas tertentu.

c. Indikator yang me nghubungkan effort dengan accomplishment

Pembandingan antara effort dengan accomplishment adalah untuk mengukur efisiensi yang memberikan informasi sejauh mana hasil yang diberikan sehubungan dengan jumlah sumber daya yang dipakai. (Suyono, 2010).

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, unit kerja pemerintahan, da n unit pelaksana teknis berkewajiban melaporkan laporan kinerja karena sebagai entitas dalam organisasi sektor publik. Pelaporan tersebut kemudian diserahkan kepada pengguna (user) yang dalam hal ini masyarakat secara Pemerintah pusat, pemerintah daerah, unit kerja pemerintahan, da n unit pelaksana teknis berkewajiban melaporkan laporan kinerja karena sebagai entitas dalam organisasi sektor publik. Pelaporan tersebut kemudian diserahkan kepada pengguna (user) yang dalam hal ini masyarakat secara

Pemerintah daerah sebagai pihak yang diserahi tugas menjalanka n roda pemerintahan, pembangunan, dan layanan sosial bagi masyarakat wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan daerahnya untuk menilai apakah pemerintah daerah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak (Suprapto, 2006). Hal ini bertujuan untuk memenuhi tuntutan masyarakat tentang transparansi dan akuntanbilitas dalam menjalankan kegiatan ekonomi pemerintah, sehingga dapat dievaluasi kinerjanya dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.

2.6. RERANGKA PEMIKIRAN

Penelitian ini bertujuan untuk menguji tentang pengaruh taxes, grant dan ukuran legislatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia dengan menggunakan dengan rasio CR, DER, AT, ORTR dan OROE sebagaimana digunakan oleh Suyono (2010).

Gambar 1 Kerangka Pemikiran

Taxes

Grant

Ukuran Legislatif

Kinerja Keuangan Kinerja Keuangan

Taxes atau Pajak dalam penelitian ini adalah pendapatan pajak yang berasal dari pajak daerah, bagi hasil pajak daerah provinsi maupun hasil bagi pajak pusat. Semakin tinggi pajak yang diperoleh suatu pemerintah daerah maka akan lebih menjamin sumber pendanaan dalam pembiayaan kegiatan operasionalnya, sehingga dapat menghasilkan tingkat kinerja yang tinggi bagi pemerintah daerah yang bersangkutan .

Penelitian Steven dan McGowen (1983) tentang pengaruh taxes terhadap kinerja, diperoleh bukti empiris yang menyatakan bahwa penerimaan pajak oleh suatu pemerintah daerah berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Hal ini diperkuat oleh penelitian Anderson (2004) yang mengindikasikan dengan meningkatnya pajak, maka akan meningkat nilai property pemerintah daerah dan yang berhubungan dengan pendapatan pemerintah daerah.

Atas dasar logika teori tersebut di atas, maka hipotesis pertama dalam penelitian ini dapat dinyatakan seperti berikut ini.

Terdapat

pengaruh taxes terhadap kinerja keuangan pe merintah daerah.

b. Pengaruh Grant terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah

Grant atau sumbangan atau hadiah atau donasi merupakan penerimaan yang diterima oleh pemerintah daerah yang bersumber dari pihak lain tanpa adanya tuntutan atau imbalan apapun. Pemberian grant Grant atau sumbangan atau hadiah atau donasi merupakan penerimaan yang diterima oleh pemerintah daerah yang bersumber dari pihak lain tanpa adanya tuntutan atau imbalan apapun. Pemberian grant

Penelitian Steven dan McGowen (1983) tentang pengaruh grant terhadap kinerja, diperoleh bukti empiris yang menyatakan bahwa penerimaan grant oleh suatu pemerintah daerah berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah. Hal ini diperkuat oleh penelitian Worthington dan Dollery (1999) yang menyatakan bahwa dengan meningkatnya jumlah grant, maka akan meningkat efisiensi dan efektivitas kinerja keuangan pemerintah daerah. Dengan demikian, semakin tinggi grant yang diterima oleh pemerintah daerah semakin tinggi tingkat efisiensi dan tingkat efektifitas kinerja keuangan pemerintah daerah.

Atas dasar logika teori tersebut di atas, maka hipotesis kedua dalam penelitian ini dapat dinyatakan seperti berikut ini.

Terdapat pengaruh Grant terhadap kinerja keuangan pe merintah daerah.

c. Pengaruh Ukuran Legislatif Terhadap Kinerja Keuangan Pe merintah Daerah

Lembaga legislatif atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga yang memiliki posisi dan peran strategis terkait dengan pengawasan keuangan daerah (Winarna dan Murni, 2007). Peranan dari legislatif terdapat dalam pembuatan kebijakan publik, termasuk Lembaga legislatif atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga yang memiliki posisi dan peran strategis terkait dengan pengawasan keuangan daerah (Winarna dan Murni, 2007). Peranan dari legislatif terdapat dalam pembuatan kebijakan publik, termasuk

Gilligan dan Matsusaka (2001) memperoleh bukti empiris yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif antara jumlah anggota legislatif terhadap kebijakan pemasukan dan pengeluaran suatu pemerintah daerah

Atas dasar logika teori tersebut di atas, maka hipotesis kedua dalam penelitian ini dapat dinyatakan seperti berikut ini.

H 3 : Terdapat pengaruh jumlah anggota DPRD terhadap kinerja keuangan pe merintah daerah.

METODE PENELITIAN

3.1. DESAIN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan studi empiris yang bertujuan untuk memperoleh bukti terkait ada tidaknya pengaruh taxes, grant, dan ukuran legislatif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia. Data dari penelitian ini diperoleh hanya sekali pada satu batasan waktu antara tahun 2008 sampai tahun 2010 sehingga penelitian ini merupakan penelitian dengan data cross section.

3.2. POPULASI, SAMPEL DAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

Populasi merupakan keseluruhan kelompok orang, kejadian, atau hal minat yang ingin peneliti investigasi (Sekaran, 2006). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan pemerintah daerah yang berasal dari kabupaten atau kota yang berada di Indonesia, dalam rentang waktu antara tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 yang didapatkan melalui data yang dikirimkan oleh BPK.

Sampel merupakan sejumlah anggota yang dipilih dari populasi. Dengan mempelajari sampel, peneliti akan mampu menarik kesimpulan yang dapat digeneralisasikan terhadap populasi penelitian (Sekaran, 2006). Teknik pengambilan sampel dari penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik Sampel merupakan sejumlah anggota yang dipilih dari populasi. Dengan mempelajari sampel, peneliti akan mampu menarik kesimpulan yang dapat digeneralisasikan terhadap populasi penelitian (Sekaran, 2006). Teknik pengambilan sampel dari penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik

a. Laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten atau kota di Indonesia tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 dengan opini audit wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion), wajar tanpa pengecualian dengan bahasa atau paragraf penjelas (unqualified opinion with explanation language ) maupun wajar dengan pengecualian (qualified opinion). Untuk Laporan keuangan dengan opini tidak wajar (adverse opinion) dan tidak memberi opini (disclamer opinion) tidak digunakan dalam sampel penelitian dengan pertimbangan bahwa informasi yang tersaji dalam laporan keuangan tersebut tidak wajar dan tidak dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan oleh pemakai laporan keuangan.

b. Laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten atau kota di Indonesia tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 yang mencantumkan seluruh data serta informasi yang diperlukan untuk pengukuran variabel dan analisis data untuk pengujian hipotesis dalam penelitian.

c. Terdapat data-data non keuangan pada sampel yang dipilih, seperti ukuran anggota legislatif.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder (secondary data) yaitu sumber data yang mengacu pada informasi yang dikumpulkan dari sumber yang telah ada (Sekaran, 2006). Sumber data dari penelitian ini adalah laporan keuangan pemerintah daerah di Indonesia tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 yang didapatkan melalui data yang dikirim oleh BPK maupun data non keuangan yang bersumber dari website lain, seperti data yang dipublikasikan melalui website setiap pemerintah daerah.

3.4. DEFINISI OPERASIONAL DAN PENGUKURAN VARIABEL

Dalam Penelitian ini, terdapat dua variabel yang akan diadakan pengujian secara sistematis, yaitu:

a. Variabel Dependen

Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan.

dipresentasikan dengan menggunakan lima rasio keuangan. Kelima rasio keuangan tersebut kemudian difaktorkan menjadi satu faktor dengan menggunakan program SPSS agar tidak terjadi kebiasan dalam pengambilan kesimpulan. Hasil yang diperoleh dari penggabungan tersebut merupakan proksi kinerja keuangan pemerintah daerah yang digunakan sebagai data untuk variabel dependen penelitian. Rasio yang digunakan dalam penelitian ini mengacu dipresentasikan dengan menggunakan lima rasio keuangan. Kelima rasio keuangan tersebut kemudian difaktorkan menjadi satu faktor dengan menggunakan program SPSS agar tidak terjadi kebiasan dalam pengambilan kesimpulan. Hasil yang diperoleh dari penggabungan tersebut merupakan proksi kinerja keuangan pemerintah daerah yang digunakan sebagai data untuk variabel dependen penelitian. Rasio yang digunakan dalam penelitian ini mengacu

1) Current Ratio (CR)

Current ratio merupakan perbandingan antara harta lancar dan kewajiban lancar. Rasio ini menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajiban lancarnya dengan harta lancar yang dimiliki. Data yang digunakan dalam perhitungan ini adalah data yang berasal dari laporan neraca pemerintah daerah. Formula untuk menentukan angka rasio ini adalah seperti berikut ini (Cohen, 2006).

CurrentLia bilities

CurrentAss ets

CurrentRat io =

2) Debt to Equity (DER)

Debt to Equity rasio merupakan perbandingan antara jumlah total utang

pemerintah dengan

total ekuitas

dana. Rasio ini menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam memberi jaminan pemenuhan seluruh jumlah utang dengan jumlah ekuitas dana yang dimilki oleh pemerintah pada tanggal tertentu. Kedua angka rasio ini ditentukan dengan menggunakan angka dalam neraca pemerintah. Formula untuk menentukan angka rasio ini adalah seperti berikut ini (Cohen, 2006).

Debt to Equity Ratio =

Equity

Debt

Assets turnover merupakan perbandingan jumlah pendapatan asli daerah dengan jumlah total asset yang dimiliki oleh Pemerinta h daerah. Rasio ini menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam memperoleh pendapatan asli daerah dengan menggunakan total asset yang dimiliki oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Data yang digunakan berasal dari neraca pemerintah. Formula untuk menentukan angka rasio ini adalah seperti berikut ini (Cohen, 2006).

Assets Turnover =

TotalAsset s

ting TotalOpera ting Re

4) Operating Revenues to Total Revenues (ORTR)

Operating revenues to total revenues adalah perbandingan antara jumlah pendapatan asli daerah dengan jumlah seluruh pendapata n yang diterima oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Kedua angka yang digunakan dalam penghitungan rasio ini diambil dari laporan realisasi anggaran pemerintah. Formula untuk menentuka n angka rasio ini adalah seperti berikut ini (Cohen, 2006).

ORTR =

Total venues

ting TotalOpera ting

Re

Re

5) Operating Revenues to Operating Expenses (OROE)

Operating revenues to operating expenses merupakan perbandinga n antara jumlah pendapatan asli daerah dengan jumlah belanja operasi daerah dalam suatu periode tertentu. Rasio menggambarka n Operating revenues to operating expenses merupakan perbandinga n antara jumlah pendapatan asli daerah dengan jumlah belanja operasi daerah dalam suatu periode tertentu. Rasio menggambarka n

OROE =

OperatingE xpenses

ting TotalOpera ting Re

b. Variabel Independe n

Variabel independen dalam penelitian ini menggunakan variabel independen sebagaimana digunakan pada penelitian Gilligan dan Matsutaka (2001), Cohen (2006) dan Suyono (2010). Yaitu:

1) Taxes (TAX)

Variabel ini merupakan jumlah penerimaan pajak yang menjadi hak dari pemerintah daerah dalam suatu periode tertentu. Variabel ini diukur berdasarkan jumlah penerimaan pajak oleh suatu pemerinta h daerah yang datanya diambil dari laporan realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah pada periode tertentu. Variabel ini diukur dengan nilai taxes atas jumlah pajak daerah yang tersaji dalam laporan keuangan pemerintah daerah.

2) Grant (GRANT) Variabel ini merupakan jumlah sumbangan, donasi, subsidi dan hadiah yang diterima oleh suatu pemerintah daerah tanpa tuntutan tertentu 2) Grant (GRANT) Variabel ini merupakan jumlah sumbangan, donasi, subsidi dan hadiah yang diterima oleh suatu pemerintah daerah tanpa tuntutan tertentu

3) Ukuran Legislatif

Variabel ini merupakan jumlah anggota legislatif yang dimiliki oleh Pemerintah daerah pada periode tertentu. Variabel ini diukur denga n jumlah anggota legislatif yang terpilih pada Pemerintah Daerah. Variabel ini dipilih karena anggota legislatif atau anggota DPRD memiliki peranan pengawasan yang penting terhadap perkembanga n era otonomi daerah (Winarna dan Murni, 2007). Penelitian Gilligan dan Matsusaka (2001) menunjukkan bahwa jumlah anggota legislatif memiliki pengaruh terhadap kebijakan pemasukan dan pengeluaran suatu pemerintah daerah.