PENGAJARAN MENULIS HANZI DI KELAS X SMA NEGERI 4 SURAKARTA

(1)

commit to user

i

PENGAJARAN MENULIS HANZI DI KELAS X

SMA NEGERI 4 SURAKARTA

LAPORAN TUGAS AKHIR

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajad Ahli Madya pada Diploma III Bahasa China FSSR

Universitas Sebelas Maret

Oleh :

Lois Agita Kurnia Sari C9608027

PROGRAM DIPLOMA III BAHASA CHINA

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA


(2)

commit to user


(3)

commit to user


(4)

commit to user

iv

MOTTO

“Karena TUHAN yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.” (Amsal 2 : 6)

“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan yang menaruh harapannya pada

Tuhan.” (Yeremia 17 : 7)

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina didikan.” (Amsal 1 : 7)


(5)

commit to user

v

PERSEMBAHAN

Tugas Akhir ini penulis persembahkan untuk :  Tuhan Yesus Kristus


(6)

commit to user

vi

KATA PENGANTAR

Praktik Kerja Lapangan merupakan mata kuliah yang wajib ditempuh guna melengkapi persyaratan akademis dalam mencapai gelar Ahli Madya Program Studi DIII Bahasa China Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dalam jenjang pendidikan di perguruan tinggi, seorang mahasiswa tidak hanya diharapkan mengikuti kuliah dengan baik, tetapi juga dituntut untuk mendalami dan menguasai disiplin ilmu yang dipelajarinya sehingga dapat menerapkan dalam kehidupan nyata dan bermanfaat bagi masyarakat.

Laporan kerja praktik ini memberikan pemahaman dan membimbing mahasiswa mengenai konsep-konsep dasar dari pengajaran khususnya tentang permasalahan yang dihadapi siswa dalam kegiatan pembelajaran bahasa China. Laporan ini disusun berdasarkan data-data dan informasi yang diperoleh dari SMA Negeri 4 Surakarta dan ditunjang dengan studi pustaka di perpustakaan.

Dalam menyelesaikan tugas ini penulis sadar bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, penulis akan kesulitan dalam menyelesaikan kerja praktik dan pembuatan laporan ini. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Drs. Sudarno, M.A., selaku dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret

2. Dra. Endang Tri Winarni, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Program Diploma Bahasa China Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret.

3. Pan Shaoping dan Drs. Yohanes Suwanto, M.Hum., selaku dosen pembimbing dalam penyusunan laporan tugas akhir.

4. Bapak Drs. Unggul Sudarmo, M.Pd., selaku kepala sekolah SMA Negeri 4 Surakarta.

5. Bapak Danar Ary, A.Md., selaku guru pembimbing selama kerja praktek. 6. Bapak dan Ibu serta semua anggota keluarga tercinta yang selalu

memberikan dukungan dalam bentuk doa, dorongan moril, dan materi setiap waktu.


(7)

commit to user

vii

7. Herson yang telah memberikan inspirasi, doa dan dorongan moril dalam setiap waktu.

8. Teman-teman Program Studi Diploma III Bahasa China angkatan 2008. 9. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu yang telah

membantu dalam penyusunan laporan kerja praktik ini.

Dengan segala kerendahan hati dan keinginan untuk berbuat yang lebih baik, penulis menyadari bahwa laporan ini memiliki banyak kekurangan maupun kesalahan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar kualitas laporan kerja praktik dapat lebih baik.

Surakarta, Juni 2011

Penulis


(8)

commit to user

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN UJIAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR SINGKATAN... xiii

ABSTRAK ... xv

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Teknik Pengumpulan Data... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Pengertian Pendidikan ... 8

B. Pengertian Tulisan ... 9

C. Pengertian Menulis ... 10

D. Pentingnya Menulis ... 11

E. Kesulitan Menulis ... 12

F. Menulis Hanzi………... 13

BAB III. PEMBAHASAN ... 18

A. Gambaran umum SMA Negeri 4 Surakarta ... 18

1. Sejarah Berdirinya ... 18


(9)

commit to user

ix

3. Struktur Organisasi ... 21

4. Ekstrakurikuler ... 23

B. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran……… 25

C.Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas ... 26

D.Metode Pengajaran Dasar-Dasar menulis Hanzi………. 32

E. Kesulitan yang Dirasakan Siswa dalam Menulis Hanzi ... 33

F. Cara Mengatasi Kesulitan yang Dirasakan Siswa ... 37

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN... 41

A. Kesimpulan ... 41

B. Saran ... 43

DAFTAR PUSTAKA


(10)

commit to user

x

DAFTAR LAMPIRAN 1. Lampiran 1: Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran

Pertemuan Pertama……….1

2. Lampiran 2: Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan Kedua…4 3. Lampiran 3: Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan Ketiga….7 4. Lampiran 4: Materi pelajaran teks dalam tema tertentu………10

5. Lampiran 5: Materi LKS (mengerjakan latihan persiapan mid semester)………13

6. Lampiran 6: Materi LKS (memberikan tugas rumah)……… 15

7. Lampiran 7: Materi belajar lagu dan membacakan nilai mid semester 17 8. Lampiran 8: Soal dan hasil ujian materi Hanzi……… 19

9. Lampiran 9: Lembar Kuesioner ……… 31

10. Lampiran 10: Surat ijin magang………. 33

11. Lampiran 11: Lembar penilaian magang……… 36

12. Lampiran 12: Lembar konsultasi ……… 38


(11)

commit to user

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Struktur Organisasi SMA Negeri 4 Surakarta……… 22

Gambar 2 Aplikasi MemChinese 1.2……… 42

Gambar 3 Contoh urutan tulisan Hanzi……… 43

a. Gambar 3.1 běi……… 43

b. Gambar 3.2 dōng……… 43

c. Gambar 3.3 qián……… 44

Gambar 4 Kegiatan Belajar Mengajar Saat Magang di SMA Negeri 4 Surakarta……….45

a. Gambar 4.1 Siswa mendengarkan dan menirukan kalimat yang dibacakan guru magang……… 45

b. Gambar 4.2 Siswa diberi kesempatan maju kedepan kelas untuk mencoba membaca kalimat yang sudah dijelaskan 45 c. Gambar 4.3 Siswa menulis urutan goresan Hanzi……… 46

d. Gambar 4.4 Guru menulis dasar-dasar goresan Hanzi………… 46

e. Gambar 4.5 Siswa menulis Hanzi di whiteboard……… 47


(12)

commit to user

xii

DAFTAR TABEL

1. Tabel 1: Delapan Goresan dasar pembentuk Hanzi……… 16 2. Tabel 2: Aturan penulisan Hanzi……… 18 3. Tabel 3: Jadwal pelajaran kelas X ……… 32


(13)

commit to user

xiii

DAFTAR KATA-KATA SINGKATAN A.Md. : Ahli Madya

B. Sc. : Bachelor of Science Batual : Baca Tulis Al’quran Dra. : Doktoranda

Drs . : Doktorandus

ECC : English Conversation Club IPA : Ilmu Pengetahuan Alam IPS : Ilmu Pengetahuan Sosial KIR : Karya Ilmiah Remaja LKS : Lembar Kerja Siswa M.Ed. : Master of Education M.Hum.: Master Humaniora M.M. : Magister Manajemen M.Pd. : Magister Pendidikan

Ph.D. : Doctor of Philosophy PAL : Pecinta Alam

PMR : Palang Merah Remaja

RPP : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran SD : Sekolah Dasar

SDM : Sumber Daya Manusia S.H. : Sarjana Hukum


(14)

commit to user

xiv SMA : Sekolah Menengah Atas


(15)

commit to user

xv

摘要

我在

梭罗第四高中 年级实习时

发觉

那里的学生

习汉语

最大的困

是写

其主要

原因是因为学生

对汉语方面的认识

接触不多,

再加上汉语课

时间非

常短

,写字

时间

又特

少,而且教学

料也很少,

问题

影响学生学

汉语

兴趣

字不是拼音字母,是

象形字

这对

初学的学

生来

是个是生疏

复杂 难记

的文字

汉字确实

差异

很大,它

每字

明确的

音,拼音文字可以

字母和拼写了解

音,

字就不行,它

个字有它

自己意思,汉

字是一

门艺术

所以

学写

字一定

先学


(16)

commit to user

xvi ABSTRAK

Lois Agita Kurnia Sari. 2011. Pengajaran Menulis Hanzi di Kelas X SMA Negeri 4 Surakarta. Program Studi Diploma III Bahasa China. Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Laporan Tugas Akhir ini membahas tentang a. Metode pengajaran dasar-dasar menulis Hanzi siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta. b. Kendala yang dihadapi oleh siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta dalam menulis Hanzi. c. Upaya untuk menangani masalah atau hambatan dalam proses penulisan Hanzi.

Adapun tujuan dari laporan tugas akhir ini adalah a. Mendeskripsikan metode yang digunakan siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta. b. Menjelaskan kendala yang dihadapi oleh siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta dalam menulis

Hanzi. c. Menjelaskan upaya menangani masalah atau hambatan dalam proses penulisan Hanzi.

Setelah mengadakan penelitian kesimpulan yang diperoleh penulis adalah a. Siswa menggunakan aplikasi Mem-Chinese untuk belajar memahami urutan penulisan Hanzi. b. Kendala yang dihadapi siswa dalam pembelajaran bahasa Mandarin adalah sangat kurangnya pengetahuan siswa tentang bahasa Mandarin serta minimnya waktu belajar yang diberikan oleh pihak sekolah dan khususnya dalam hal menulis huruf China (Hanzi). c. upaya untuk menangani hambatan dalam menulis Hanzi adalah melatih siswa untuk menjabarkan Hanzi, memberikan umpan Tanya jawab kepada siswa tentang nama goresan Hanzi dan aturan menulis Hanzi.

Laporan Tugas Akhir ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dengan melakukan kegiatan belajar mengajar secara langsung dengan siswa, studi dokumentasi,studi pustaka dan kuesioner kepada siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta.


(17)

commit to user

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan komunikasi yang semakin modern, maka diperlukan peningkatan mutu bahasa. Hal yang paling mendasar dalam komunikasi adalah penulisan yang dipakai. Saat ini semakin meningkatnya kebutuhan berkomunikasi diberbagai bidang seperti lembaga–lembaga pendidikan, lembaga keterampilan bahasa, teknologi, dan industri membuat manusia semakin berusaha untuk membekali dirinya, terutama kemampuan berbahasa. Kemampuan berbahasa terhadap usaha pemenuhan kebutuhan berkomunikasi tidak hanya bertumpu kepada bahasa yang dikuasai, karena tidak semua manusia berasal dari latar belakang yang sama, tetapi dalam berkomunikasi besar kemungkinan untuk menggunakan bahasa yang berbeda atau bahasa asing. Tanpa bahasa, mungkin tidak akan terjadi suatu komunikasi yang lancar dalam melakukan kegiatan yang penting sampai aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, peran tulisan yang digunakan sangat membantu dan sangat penting. Kemampuan penguasaan bahasa asing yang belum sempurna akan mempengaruhi proses komunikasi. Apabila terjadi kesalahan dalam penggunaan berbahsa asing maka akan menimbulkan konflik dan berdampak negatif dalam proses komunikasi. Sehingga sangat jelas


(18)

commit to user

2

bahwa tulisan dalam penggunaan bahasa asing sangat penting bagi budaya dan negara yang berbeda.

Kita bisa melihat perkembangan berbagai lembaga pendidikan bahasa yang menjamur dan masuk di Indonesia, khususnya lembaga pendidikan bahasa Mandarin. Dalam bidang pendidikan, telah terjalin kerjasama antara China - Indonesia. Salah satunya melalui program pertukaran pelajar. Semenjak bahasa Mandarin menjadi bahasa internasional kedua sudah banyak lembaga–lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah termasuk di Surakarta yang mulai meliriknya untuk menjadikannya dalam ekstrakulikuler atau mata pelajaran. Mulai Taman Kanak–Kanak sampai Perguruan Tinggi memberikan pelajaran bahasa Mandarin masuk ke dalam pelajaran intrasekolah maupun ekstrasekolah.

Begitu juga dengan SMA Negeri 4 Surakarta, sekolah ini sudah memasukkan bahasa Mandarin sebagai mata pelajaran sekolah. Hal ini merupakan hal positif yang harus dicermati. Hal ini dimaksudkan agar sekolah ini dapat bersaing dengan sekolah–sekolah lain yang sudah menggunakan bahasa Mandarin.

Dalam hal ini bahasa Mandarin masih dalam tahap berkembang dan masih sangat baru sehingga membutuhkan perhatian lebih, terutama oleh pihak pengajar harus mampu menyampaikannya dengan jelas agar mampu diserap oleh siswa yang mempelajarinya baik secara lisan maupun tulis. Dalam mempelajari sesuatu hendaknya kita mengetahui dasar-dasarnya


(19)

commit to user

3

terlebih dahulu, begitu juga dalam belajar bahasa Mandarin diperlukan penguasaan dasar-dasarnya terlebih dahulu agar lebih mudah menerima dan menyerap objek yang dipelajari lebih lanjut. Selain itu yang harus dipelajari yaitu mengenai penulisan huruf Han dan tata bahasanya. Keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu : keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.

Saat mempelajari bahasa Mandarin, tidak setiap siswa mampu mempelajari semuanya dengan sempurna. Hal ini bisa disebabkan karena kondisi internal/eksternal dari subjek atau juga tingkat kesulitan dari objek itu sendiri. Beberapa dari mereka ada yang mampu menerima dengan baik mengenai nada, namun kurang mengerti dalam pelafalan. Ada juga yang mampu mengartikan sebuah kata dengan benar namun kesulitan dalam menuliskannya, ataupun sebaliknya. Kemungkinan untuk meneliti faktor internal maupun eksternal siswa sangat kecil, maka penulis mengadakan penelitian mengenai objek yang dipelajari, yaitu dengan mencari letak kesulitan yang dirasakan oleh siswa terhadap bahasa Mandarin, khususnya huruf Han ( Hanzi ). Tulisan merupakan komponen penting dalam sebuah ilmu. Kita juga bisa berkomunikasi dengan orang lain yang berjarak jauh seperti menulis surat, pesan singkat, e-mail, ataupun faksimili. Bahkan kemampuan menulis menjadi sebuah syarat pokok dalam beberapa profesi seperti: cerpenis, novelis dan pengarang.


(20)

commit to user

4

Begitu juga dalam bahasa Mandarin, tulisan ( yang terdiri dari Hanzi ) merupakan unsur pokok untuk dipelajari. Dalam bahasa mandarin ada tulisan hanzi tradisional dan tulisan Hanzi yang sudah disederhanakan. Oleh karena itu, seseorang yang berbahasa Mandarin dengan nada yang salah, maka orang yang diajak bicara bisa mengartikan berbeda, dan jalan keluar untuk masalah tersebut adalah dengan menuliskan kata yang dimaksudkan. Selain fungsinya sebagai salah satu cara berkomunikasi, tulisan Hanzi juga digunakan untuk mencari kata-kata didalam kamus, karena setiap tulisan Hanzi memiliki arti yang berbeda juga. Meskipun pengucapannya sama tidak akan mungkin dijumpai model tulisan Hanzi yang serupa. Dalam menulis Hanzi ada beberapa aturan yang harus dikuasai, seperti dasar-dasar goresan dan urutan penulisan goresan. Ketika menulis Hanzi diharapkan siswa akan muncul rasa keingintahuannya mengenai pelafalan huruf tersebut dan apakah artinya, karena tidak semua orang dapat menulis Hanzi dengan baik apabila tidak memiliki kemauan yang keras untuk berlatih menulis Hanzi secara rutin sehingga mereka akan termotivasi untuk belajar.

Berbagai manfaat menulis Hanzi yang disebutkan di atas mendorong penulis untuk mengangkat masalah-masalah yang dirasakan siswa dalam menuliskannya. Apabila kita tidak mengetahui letak kesulitan siswa dalam mempelajari sebuah materi, maka akan selalu muncul masalah ketika proses belajar berlangsung. Hal ini bisa menghambat pencapaian tujuan belajar. Begitu juga ketika menulis Hanzi, perlu diketahui bagian yang mereka


(21)

commit to user

5

rasakan kesulitan dan apa sebabnya. Titik masalah ini akan menjadi kajian bagi kami, untuk segera dicari solusinya agar proses pencapaian tujuan belajar menjadi lebih lancar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut

1. Bagaimanakah metode pengajaran dasar-dasar menulis Hanzi siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta ?

2. Kendala apa sajakah yang dihadapi oleh siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta dalam menulis Hanzi ?

3. Bagaimanakah upaya untuk menangani masalah atau hambatan dalam proses penulisan Hanzi ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah :

1. Mendeskripsikan metode pengajaran dasar-dasar menulis Hanzi siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta.

2. Mendeskripsikan kendala - kendala yang dihadapi oleh siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta dalam menulis Hanzi.

3. Mendeskripsikan cara-cara untuk menangani masalah atau hambatan dalam proses penulisan Hanzi


(22)

commit to user

6

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah : 1. Secara Teoretik :

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan yang positif dalam pengembangan ilmu pendidikan melalui pemahaman tentang kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam mempelajari sebuah materi, sekaligus cara mengatasinya.

2. Secara Praktis

a. Bagi guru pamong

Sebagai bahan pengetahuan mengenai kesulitan yang dirasakan siswa dalam menulis Hanzi, dan bisa menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan pemahaman siswa terhadap penulisan Hanzi. b. Bagi siswa

Siswa menjadi lebih mudah memahami Hanzi, mulai dari dasar-dasar penulisan, cara penulisan, sampai artinya. Pemahaman ini akan membantu mereka dalam menuliskan Hanzi yang berperan penting dalam proses mempelajari bahasa Mandarin.

E. Teknik Pengumpulan Data


(23)

commit to user

7

1. Studi dokumentasi

Studi dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang bersumber dari catatan atau dokumen-dokumen dari instansi atau lembaga terkait. Data-data dokumen tersebut diperoleh dari SMA Negeri 4 Surakarta. 2. Observasi

Observasi yang dilakukan adalah pengamatan secara langsung yaitu kelas X SMA Negeri 4 Surakarta.

3. Studi Pustaka

Studi pustaka merupakan proses perolehan data dengan cara mengkaji dan mengutip buku-buku yang berkaitan langsung dengan sector pendidikan, serta dengan cara browsing di internet untuk melengkapi data. 4. Kuesioner

Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada. Penulis memberikan kuesioner kepada siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta mengenai pelajaran menulis.


(24)

commit to user

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Manusia tidak akan pernah lepas dari suatu kegiatan yang bernama belajar. Dari belajar, manusia akan mengetahui dan memahami hal-hal yang pada awalnya belum mengerti menjadi mengerti. Manusia harus belajar berbagai aspek kehidupan dengan tujuan untuk mempertahankan kehidupan, prestasi dan untuk kepentingan lainnya.

Bagi seorang pelajar, belajar adalah proses untuk menamatkan suatu program studi. Seseorang yang berlatih mengendarai mobil, anak yang berlatih berbicara, dan anak yang berlatih berenang adalah contoh-contoh yang menggambarkan maksud istilah belajar. Masih banyak contoh-contoh untuk menggambarkan arti dari belajar sesuai dengan kondisinya masing-masing.


(25)

commit to user

B. Pengertian Tulisan

Didalam kehidupan sehari-hari tidak dipungkiri bahwa setiap hari kita melihat dan membaca tulisan. Tulisan adalah hal yang sangat penting ketika kita berkomunikasi dengan orang lain. Tulisan dapat dengan mudah kita temukan pada koran, buku, atau majalah yang sering kita baca, tulisan juga banyak kita lihat di tepi-tepi jalan besar, seperti pada poster, iklan, papan informasi, dan sebagainya. Tulisan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bentuk bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Sebagian pengetahuan dan informasi kita peroleh melalui tulisan, penemuan tulisan dan sistem perekaman yang tepat lebih besar perananannya dalam menaikkan martabat ras manusia dibanding setiap prestasi intelektual lainnya dalam karier manusia.

Tulisan hanya terdapat dalam peradaban, dan peradaban tidaklah ada tanpa tulisan. Melalui tulisan kita bisa mencatat suatu kejadian yang kita alami untuk dikenang, dan tidak ada batasan dari apa yang kita tulis. Banyak hasil karya seseorang yang kita nikmati karena kepandaian mereka mengungkapkan pengalaman, keadaan masyarakat, ataupun imajinasi mereka ke dalam tulisan. Tulisan bukan sekedar literal pictographic/sekedar inskripsi yang bersifat ideografic saja, tulisan dapat


(26)

commit to user

merupakan suatu totalitas termasuk kemampuannya untuk melampaui apa yang hanya bisa ditunjuk secara fisik. Orang dapat langsung membawakan pikirannya ke dalam bentuk tulisan tanpa melalui bahasa lisan. Bahkan para ilmuan yang sudah meninggal, ilmunya masih bisa kita pelajari karena dituangkan dalam bentuk tulisan. Pepatah latin mengatakan : Verba valent scripta manent , yang artinya adalah : ucapan cepat hilang, sedangkan tulisan abadi dikenang.

C. Pengertian Menulis

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat ekspresif dan produktif, dan merupakan komunikasi tidak langsung, untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, dan kehendak orang lain secara tertulis. Keterampilan menulis sudah kita latih sejak usia dini. Ketika pertama kali duduk di bangku sekolah, pelajaran menulis sudah kita terima. Hal ini tidak mengherankan karena keterampilan menulis memang tidak datang dengan sendirinya, tetapi menuntut latihan yang cukup dan teratur, serta pendidikan yang terprogram.

Menulis merupakan jenis keterampilan berbahasa yang menduduki level tertinggi setelah ketiga jenis keterampilan berbahasa lainnya yang


(27)

commit to user

berturut-turut dari yang paling rendah yaitu menyimak/ mendengarkan, berbicara, dan membaca. Cara yang terbaik untuk mempelajari bagaimana menulis dengan baik adalah dengan jalan menulis. Dari kutipan di atas bisa disimpulkan bahwa kita harus banyak berlatih menulis agar bisa menulis dengan baik.

D. Pentingnya Menulis

Menulis sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita. Banyak aktivitas yang membutuhkan kegiatan ini, mulai dari rutinitas sehari-hari seperti mencatat materi pelajaran bagi pelajar, menulis buku harian, merangkum materi, menulis surat, dsb. Sampai pada kegiatan yang formal dalam beberapa profesi seperti sekretaris, novelis, guru, wartawan, dan tentu saja penulis. Menulis juga merupakan salahsatu cara berbagi ilmu pengetahuan. Melalui tulisan, orang akan mentransfer ilmu yang dimilikinya untuk para pembacanya, kemudian kita bisa memanfaatkan keterampilan menulis untuk menuangkan semua imajinasi yang ada ataupun perasaan yang mungkin sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dengan menulis seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuannya.


(28)

commit to user

kelancaran proses belajar, karena kegiatan ini memaksa kita lebih menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang kita tulis, sehingga secara otomatis kita belajar aktif. Sehubungan dengan mempelajari huruf asing, menulis juga mendorong untuk membaca. Ketika kita menuliskan sesuatu, minimal pasti akan mengucapkan kata tersebut dalam hati. Semakin sering kita menulis, maka sesering itu pula kita berlatih membaca.

E. Kesulitan Menulis

Menulis merupakan salah satu cara kita untuk mengungkapkan sesuatu yang ingin kita sampaikan, namun tidak setiap orang berhasil mengutarakan maksud mereka dengan menulis. Untuk memperoleh keterampilan menulis, diperlukan suatu proses yang berupa pembelajaran dan pelatihan menulis. Berarti kita harus mengetahui teori-teori dalam menulis dan mempraktekkannya sampai kita bisa, setelah itu barulah kita sering berlatih untuk mendapatkan keterampilan menulis. Di sinilah kita akan menjumpai kesulitan-kesulitan yang sering dialami oleh para pemula. Seseorang yang baru mulai mencoba untuk menulis, biasanya tidak yakin mampu membuat tulisan yang bagus. Mereka cenderung kurang percaya diri mengungkapkan gagasan karena takut mendapat kritik jika idenya


(29)

commit to user

tidak sesuai dengan pendapat orang lain yang lebih memahami tentang hal yang akan diungkapkannya.

Dalam menulispun dibutuhkan motivasi untuk memberi dukungan pada seseorang agar memiliki tujuan menulis. Tanpa adanya motivasi, seseorang tidak akan lancar dalam menulis. Namun terlepas dari mental orang itu sendiri, terdapat hal-hal tekhnis yang membuat seseorang kesulitan dalam menulis. Diantaranya adalah:

a. Sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk digunakan. b. Kurangnya sumber acuan untuk menguatkan gagasan.

c. Kurangnya pemahaman tentang pemenggalan kata yang menimbulkan kerancuan kalimat sehingga mengaburkan makna. d. Kesulitan dalam menyusun kalimat yang efektif sehingga sering

terdapat pemborosan kata.

F. Menulis Hanzi

Menulis Hanzi sama artinya dengan menulis huruf China. Menuliskan Hanzi bagi pemula bukanlah hal yang mudah, karena Hanzi

bentuknya merupakan penggambaran dari objek yang dimaksud. Menulis

Hanzi berbeda dengan menulis huruf latin seperti yang kita tulis sehari-hari. Setiap Hanzi telah memiliki arti sendiri, dan penulisannya merupakan


(30)

commit to user

kombinasi dari bermacam-macam goresan dasar (Jerry, 2002 : 11).

Hanzi adalah aksara mandarin yang awalnya berupa simbol atau lukisan yang mengandung sebuah makna. Hanzi sudah ada sejak 3000 tahun yang lalu dan sudah mengalami beberapa kali perubahan sehingga menjadi huruf-huruf yang sederhana seperti sekarang ini.

Meskipun jumlah Hanzi sangat banyak, tetapi jumlah komponen/bagian dari aksaranya terbatas. Dalam penulisan Hanzi pasti tidak terlepas dari sejumlah goresan-goresan dasar. Agar menulis Hanzi

tidak menghambat proses mempelajari Bahasa Mandarin, maka muncullah usaha untuk memudahkannya. “Di daratan China, usaha pelatihan tulisan

Hanzi sudah dirintis pada abad ke-16 oleh para misionaris Jesuit dan berlangsung terus sampai ke masa pemerintahan Mao dze-dung. Tahun 1958, Kongres Rakyat Nasional secara resmi menerima abjad fonetik China (Hanyu-pin yin fang an) untuk tujuan penulisan bahasa itu dengan huruf latin. Hingga saat ini penulisan dengan huruf latin tersebut kita kenal dengan sebutan Hanyu-pinyin. Meskipun sebagian besar Hanzi merupakan gabungan goresan yang menunjukkan cara baca/arti, seseorang harus menguasai komponen-komponen dasar terlebih dahulu sebelum dapat memahami aturannya dan menerapkannya dalam menulis Hanzi (Harry Suryadi, 2001: 3). Goresan dasar pembentuk Hanzi ini berupa garis dan


(31)

commit to user

titik, yang terdiri dari 8 macam goresan sebagai berikut. Tabel 1

Delapan Goresan Dasar Hanzi

Sumber : Bahasa Mandarin untuk Pemula; Percakapan Dasar Bahasa Mandarin; New Practical Chinese Reader Textbook; 500 Basic Chinese Characters

Masing-masing goresan di atas memiliki nama dan cara penulisan sendiri. Cara penulisan inilah yang harus diingat oleh siswa agar lebih


(32)

commit to user

mudah mengingat goresan yang benar ketika menulis sebuah Hanzi.

“Dengan menguasai komponen-komponen dasarnya, seseorang akan lebih

memahami & lebih mudah menulis berbagai kombinasi huruf yang

kompleks” (Harry Suryadi, 2001: 4). Goresan-goresan dasar di atas harus

dipelajari oleh siswa terlebih dahulu agar memahami komponen yang membentuk sebuah Hanzi sehingga tidak bingung ketika menuliskannya.

Aturan penulisan Hanzi

Jika goresan yang menyusun sebuah Hanzi memiliki cara penulisan, maka dalam menuliskan Hanzi itu sendiri juga terdapat aturan-aturan yang harus dipahami & diingat. Berbagai aturan ini akan memudahkan siswa dalam mengingat huruf tersebut dan akan mampu menuliskannya sendiri

tanpa harus melihat buku, “karena Hanzi selalu ditulis dengan cara yang

sama, sehingga siswa akan selalu mengulanginya ketika dia menuliskan

huruf tersebut” (Reni Limarga, 2000: 150). Selain itu kita dapat

menghindari kesalahan penulisan yang disebabkan oleh urutan yang berbeda, dan menulis lebih cepat dengan hasil akhir yang lebih indah dibandingkan menulis tanpa proses yang benar dan tepat (Suparto, 2004: 9).


(33)

commit to user

Tabel 2

Aturan Penulisan Hanzi

Sumber : Bahasa Mandarin untuk Pemula; Percakapan Dasar Bahasa Mandarin; New Practical Chinese Reader Textbook

Berbagai cara penulisan di atas, yang merupakan aturan utama adalah Hanzi ditulis dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan, sedangkan aturan lainnya merupakan aturan dalam menentukan goresan mana yang harus dituliskan terlebih dahulu sebelum goresan berikutnya dengan menyesuaikan bentuk Hanzi tersebut (Reni Limarga, 2000: 151).


(34)

commit to user

BAB III PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum SMA Negeri 4 Surakarta

1. Sejarah Berdirinya

SMA Negeri 4 Surakarta bukan suatu sekolah yang terbentuknya langsung SMA Negeri, akan tetapi diawali dengan suatu perjuangan dan proses yang panjang, karena sekolah ini sebelum diresmikan sebagai sekolah Negeri, merupakan sekolah swasta yang bernama Sekolah Bagian C, yang didirikan oleh Bp. Drs. M.Prawiro Negoro pada tahun 1946. Berdasarkan SK Menteri P&K No. 7371/13/1950 tanggal 2 September 1950, SMA Bagian C Swasta resmi menjadi SMA Negeri yang bernama SMA Negeri 3 Bagian C, dengan Kepala Sekolah Bp. Drs. M.Prawiro Negoro dan dibantu wakil kepala sekolah Bp. Drs. Kabul Dwijolaksono.

SMA Negeri 3 Bagian C menempati gedung SD Kesatriyan Baluwarti selama 1 tahun yaitu dari tahun 1950-1951, selanjutnya bertempat di gedung SMP Kristen Banjarsari dan gedung SMP Negeri 4 di jalan Irian Solo sampai tahun 1958. Sedangkan kegiatan belajar mengajarnya sendiri dilaksanakan pada siang hari pukul 13.00 WIB sampai sore hari pukul 18.00 WIB. SMA ini mulai menampakkan peningkatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Terbukti dengan adanya kepercayaan masyarakat menyekolahkan anak-anak mereka di SMA Negeri 3 Bagian C ini. Akibatnya daya tampung sekolah tidak


(35)

commit to user

mencukupi karena meningkatnya jumlah siswa. Akhirnya Menteri P&K mengeluarkan SK No. 4083/B III tanggal 5 Agustus 1955 yang membagi SMA Negeri 3 Bagian C menjadi 2 bagian, yaitu :

a. SMA Negeri 4 Bagian C dengan Kepala Sekolah Bp. Drs. M.Prawironegoro yang menempati gedung SMP Kristen Banjarsari Solo.

b. SMA Negeri 5 Bagian C dengan Kepala Sekolah Bp. Drs. Kabul Dwijolaksono menempati gedung SMP Negeri 4 Solo.

SMA Negeri 4 Bagian C pada bulan Agustus 1958 pindah ke gedung baru di Jalan Laksamana Adi Sucipto No.1 Solo, dan waktu pelaksanaan kegiatan belajar-mengajarnya adalah : pagi hari pukul 07.00 – 12.00 WIB. Sedangkan SMA Negeri 5 bagian C, sejak bulan September 1974 menempati gedung baru di daerah Bibis, Cengklik Surakarta, dan kegiatan belajar-mengajarnya dilaksanakan siang hari mulai pukul 13.00 – 18.00 WIB.

Tahun 1963 ada perkembangkan SMA melalui pembagian program pendidikan menjadi beberapa jurusan yaitu : ilmu pasti dan pengetahuan alam, ilmu sosial dan sastra budaya. Akhirnya SMA Negeri 4 Bagian C juga mengalami pembaharuan dalam namanya, yaitu menjadi SMA negeri 4 Surakarta dan menempati seluruh gedung di Jl.Adi Sucipto No.1 Solo. Dari mulai berdiri sampai saat ini, SMA Negeri 4 Surakarta telah mengalami 12 kali pergantian kepemimpinan, yakni :


(36)

commit to user

b. Tahun 1960 – 1972 dijabat oleh R.T. Tandonegoro. c. Tahun 1972 – 1978 dijabat oleh Bp. Drs. Prawiro Atmojo. d. Tahun 1978 – 1979 dijabat oleh Bp. Drs. Kartono.

e. Tahun 1979 – 1986 dijabat oleh Bp. Drs. Winoto Sugeng. f. Tahun 1986 – 1992 dijabat oleh Ibu. Sutami.

g. Tahun 1992 – 1994 dijabat oleh Bp. Achmad Sukri, SH. h. Tahun 1994 – 1995 dijabat oleh Bp. Soegimin, BSc. i. Tahun 1995 – 2000 dijabat oleh Bp. Drs. Sadiyat. j. Tahun 2000 – 2002 dijabat oleh Ibu Tatik Sutarti, MM. k. Tahun 2002 – 2007 dijabat oleh Bp. Drs. Soedjinto SF,MM. l. Tahun 2007 – 2011 dijabat oleh Bp. Drs. Edy Pudiyanto, M.Pd. m. Tahun 2011 –saat ini dijabat oleh Bp. Drs. Unggul Sudarmo, M.Pd.

2. Motto, Visi, dan Misi Sekolah a. Motto Sekolah

“ MEGAH, INDAH, JAYA ”

b. Visi Sekolah

“UNGGUL DALAM PRESTASI SANTUN DALAM

PERILAKU ”

Dengan indikator :

1) Unggul dalam perolehan nilai Ujian Nasional. 2) Unggul dalam persaingan SPMB.


(37)

commit to user

4) Unggul dalam hal mentalitas dan moralitas.

c. Misi Sekolah

Mencerdaskan kehidupan Bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan, dan diupayakan dengan cara :

1) Memperluas pengetahuan dan meningkatkan keterampilan siswa.

2) Menghantarkan siswa dalam menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

3) Menyediakan wahana pembinaan siswa melalui pengembangan IMTAQ.

4) Memperluas pengetahuan, dan meningkatkan SDM dalam pembelajaran.

3. Struktur Organisasi

Sekolah merupakan suatu lembaga yang bergerak di bidang pendidikan. Suatu lembaga pendidikan bertanggung jawab terhadap peningkatan pendidikan dan pembentukan generasi yang berbudi luhur. Untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut suatu lembaga harus


(38)

commit to user

mempunyai strategi dalam penanganannya. Oleh sebab itu, SMA Negeri 4 Surakarta dalam pengelolaannya memiliki struktur organisasi sebagai berikut.

Gambar 1

Struktur Organisasi SMA Negeri 4 Surakarta

Keterangan : ______ Garis komando

Garis Koordinasi

a. Dasar dari struktur organisasi di SMA Negeri 4 Surakarta yaitu: 1) Keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.

0371/0/1978 tertanggal 22 Desember 1978.

2) Juklak administrasi pendidikan di Sekolah kurikulum SMU ( Depdikbud 1964 hal.4 ).

Wks.Kurikulum

Kepala Sekolah

Koor. Tata Usaha

Wks.Sarana Prasarana Komite Sekolah

Wks. Kesiswaan Wks. Humas

Siswa


(39)

commit to user

b. Tugas dan fungsi dari struktur organisasi adalah:

1) Sebagai unit pelaksana teknis, pendidikan jalur sekolah di lingkungan Depdiknas, berada dibawah tanggungjawab kepala kantor pendidikan pemuda dan olahraga kota Surakarta.

2) Melaksanakan pendidikan menengah umum di jalur sekolah bagian tamatan SMP.

3) Melaksanakan kurikulum yang berlaku.

4) Membina hubungan kerjasama dengan orangtua dan masyarakat.

5) Melaksanakan bimbingan konseling bagi siswa.

6) Melaksanakan urusan tata usaha dan rumah tangga sekolah.

4. Ekstrakurikuler

a. Tujuan Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk dapat lebih memperkaya dan memperluas wawasan, mendorong pembinaan nilai atau sikap serta memungkinkan penerapan lebih lanjut pengetahuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran dalam kurikulum, baik program inti maupun program khusus. Kegiatan ini mengutamakan pada kegiatan kelompok.

b. Asas Pelaksanaan

Persiapan yang mantap dalam hal program, pelaksanaan kemungkinan pembiayaan.


(40)

commit to user

1) Koordinasi antara kepala sekolah, wali kelas, maupun pihak lain yang berkelanjutan.

2) Pelaksanaan dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka termasuk pada hari libur.

3) Pelaksanaan diikuti semua siswa atau sebagian menurut jenis dan fungsinya.

c. Pelaksanaan

1) Pelaksanaan diatur oleh kepala sekolah dengan dibantu oleh wali kelas, guru, dan pihak.

2) Kegiatan dilaksanakan setiap hari Rabu, atau hari lain sesuai kesepakatan. Untuk Pramuka dilaksanakan setiap hari Jumat.

3) Sebagian pembiayaan dibebankan kepada orangtua atau siswa sesuai kemampuan.

4) Pelaksanaan harus memperhatikan keselamatan, kemampuan, minat siswa, serta kondisi lingkungan budaya.

5) Penilaian dinyatakan dengan notasi B ( baik ), C ( cukup ), K ( kurang ), yang akan dicantumkan dalam raport siswa. d. Jenis Kegiatan

Jenis kegiatan ekstrakurikuler di SMA negeri 4 Surakarta antara lain:


(41)

commit to user

2) Batual 3) KIR 4) PMR 5) Basket 6) Voli 7) ECC

8) Cheerleaders 9) Karate 10) Komputer 11) Teater 12) Band

13) Bahasa Jepang 14) Sepak bola 15) PAL 16) PBB 17) UKS 18) Multimedia

B. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran

Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana penyampaian bahan ajar mata pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu sebagai hasil dari seleksi,


(42)

commit to user

pengelompokan, pengurutan, dan penyajian materi kurikulum yang telah dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan setempat.

Komponen-komponen RPP : 1. Bidang studi yang diajarkan 2. Tingkat Sekolah

3. Semester

4. Pengelompokan kompetensi dasar 5. Materi pokok

6. Indikator 7. Tema

8. Strategi pembelajaran 9. Alokasi waktu

10.Strategi penghubung

Penyampaian materi Hanzi yang dilaksanakan oleh guru (penulis) di SMA Negeri 4 Surakarta sesuai dengan RPP yang telah dibuat dengan mengacu kepada silabus dari guru pamong. Penulis memiliki 6x pertemuan dengan 3 rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) untuk menyampaikan materi.

C. Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas

Jadwal pelajaran Bahasa Mandarin di kelas X (sepuluh) adalah pagi - siang hari, untuk kelas XD, XE, XB, XA,XH,XC setiap hari Senin pukul 07.30 – 13.15 WIB, dan kelas XI, XK, XJ, XG, XF setiap hari Selasa pukul


(43)

commit to user

06.45 – 13.15 WIB. Penulis juga terkadang oleh guru pamong untuk mengajar kelas XI IPA & IPS. Karena terkadang guru pamong sedang ada urusan atau tugas dari sekolah yang mendadak. Penulis mengajar kelas XI setiap hari Rabu – Kamis jam 6.45 – 13.15 WIB. Tetapi tidak setiap minggu penulis mengajar kelas XI IPA & IPS.

Pelajaran selalu dimulai dengan sapaan selamat pagi; zaoshang hao...dajia hao...( selamat pagi, kabar baik semua ) kemudian siswa menjawab dengan serempak; zaoshang hao laoshi...women hao...(selamat pagi guru, kami baik). Materi yang diajarkan merupakan lanjutan dari materi sebelumnya yang sudah ditentukan guru pamong. Selama mengadakan kerja praktek, materi yang dibahas adalah mengenai Hanzi. Pembahasan disesuaikan dengan Lembar Kerja Siswa (LKS). Guru (penulis) meminta siswa membuka LKS sesuai dengan halaman yang akan dibahas, kemudian menjelaskannya. Bagian dari materi yang berupa percakapan dan kosakata, pertama guru lebih dahulu megucapkannya untuk diikuti oleh siswa, kemudian siswa diminta untuk membaca berurutan satu persatu dan melakukan percakapan antar siswa. Sedangkan untuk menulis sebuah Hanzi, guru memberi contoh lebih dulu dengan menuliskan huruf tersebut pada whiteboard atau LCD serta menjelaskan urutan penulisannya, baru siswa mencoba menulis huruf yang lain pada buku catatan mereka. Ketika Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung, siswa mendengarkan dengan seksama. Terkadang ada siswa yang bertanya mengenai sesuatu yang belum dimengerti. Seperti; “laoshi kenapa harus ada aturan penulisan ?” maka guru menjelaskan


(44)

commit to user

sampai siswa tersebut paham. Pada awal materi ini dijelaskan, memang ada beberapa siswa yang masih bingung. Setelah beberapa kali pembahasan, akhirnya mereka paham dan mampu menulis Hanzi meskipun masih terdapat beberapa kesalahan dalam urutan penulisannya atau juga artinya. Jumlah siswa kelas X ± 34 siswa sehingga terkadang dijumpai perilaku misbehaviour/ penyimpangan oleh siswa yang hampir selalu ada pada setiap kelas. Hal ini bisa dimaklumi mengingat jumlah siswanya yang banyak sehingga daya serap dan kosentrasi siswa berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini khususnya terjadi kepada siswa yang duduk di bangku belakang, selain itu yang dibahas berupa materi baru yang tidak hanya berupa teori tetapi juga praktek yaitu menulis Hanzi. Ketika ada siswa yang melakukan penyimpangan, guru hanya mengingatkan melalui pandangan, apabila tidak berhasil, barulah menegur dengan mendekatinya atau juga langsung memintanya untuk tenang. Menulis Hanzi tidak sama dengan menulis huruf latin yang sering kita tulis. Selain tidak diajarkan sejak kecil, menulis Hanzi

juga memiliki aturan-aturan tersendiri dalam penulisannya, karena itu sebelum praktek menulis, guru terlebih dahulu menjelaskan teori-teori yang harus dimengerti oleh siswa untuk menulis sebuah Hanzi.

Setelah selesai menjelaskan, guru memberi pertanyaan ringan untuk mengetahui seberapa besar pemahaman siswa mengenai materi yang baru saja mereka terima. Guru menunjuk salah satu siswa untuk menjawab, apabila tidak bisa, maka guru tidak memarahinya namun justru memberinya dorongan untuk lebih memahami materi, kemudian pertanyaan langsung


(45)

commit to user

dilontarkan pada semua siswa dan bagi yang akan menjawab harus mengacungkan jari terlebih dahulu. Bagi mereka yang bisa menjawab dengan benar, guru memberi penguatan agar tetap mempertahankan prestasi mereka dalam menjawab. Ketika ada sisa waktu, guru membuka kesempatan pada siswa yang ingin bertanya, namun siswa kelas X jarang memanfaatkan waktu ini untuk bertanya, karena ketika kurang jelas atas penjelasan guru, mereka langsung mengangkat tangan dan menanyakan hal yang mereka rasa kurang jelas tersebut. 45 menit kemudian pelajaran usai, guru mengakhiri pelajaran

dan menutupnya dengan salam: “shijian dao le, xianzai xia ke. Xie xie dajia. Zaijian!” (waktunya sudah habis, sekarang pelajaran selesai. Terimakasih semuanya. Sampai jumpa). Kemudian siswa serempak menjawab: “Hao laoshi, bu xie. Zaijian!” (Iya guru, sama-sama. Sampai jumpa).

Selama mengajar, guru menerapkan beberapa metode pengajaran. Pertama adalah metode ceramah, yaitu ketika membuka pelajaran, menjelaskan materi, dan menutup pelajaran. Kemudian metode tanya jawab, yaitu ketika guru memberi pertanyaan ringan dan membuka kesempatan bertanya bagi siswa yang merasa belum jelas. Metode lainnya adalah metode menirukan, yaitu ketika guru mencatatkan di depan kelas maka siswa juga mencatatnya pada buku catatan mereka, begitu juga saat menjelaskan materi berupa kosakata guru membaca terlebih dahulu kemudian siswa menirukan membaca sesuai perkataan guru. Metode-metode yang cukup sederhana ini dipilih karena tidak terlalu rumit sehingga sesuai untuk mereka yang mempelajari materi baru. Untuk menghindari kejenuhan, guru mengadakan


(46)

commit to user

variasi dalam membuka dan menutup pelajaran seperti: “zhunbei hao le ma?

Xiuxi de zenmeyang?” (bagaimana istirahatnya...apakah sudah siap?); “hen

hao, nimen hen riqing, zaijan mingtian....jiayou!!!” (kalian begitu antusias, sangat bagus. Sampai jumpa besok....semangat!!!) selain itu guru juga sering menunjukkan sifat humorisnya agar siswa tidak tegang, dan memberi lagu sederhana untuk dinyanyikan bersama-sama jika ada sisa waktu setelah menjelaskan materi. “Dalam mempelajari bahasa asing, cara penyajian yang tidak biasa, imajinatif, & penuh humor lebih sering membuahkan hasil yang

efektif dari cara yang biasa” (Harry Suryadi, 2001: 4). Menyanyi merupakan salah satu hal yang disukai oleh siswa, karena selain menyenangkan juga bisa menambah perbendaharaan kosakata. Proses belajar yang nyaman dan menyenangkan, akan memudahkan siswa menyerap serta memahami pelajaran. Dalam KBM, keadaan kelas yang kondusif memang perlu diciptakan agar proses pencapaian tujuan belajar-mengajar menjadi lebih lancar.

Adapun jumlah tatap muka yang dilakukan adalah pertemuan dengan jadwal pelaksanaan seperti berikut.


(47)

commit to user

Tabel 3

Jadwal Pelajaran Kelas X

No Hari/tanggal Materi

1. Senin, 21-2-11 Bab II (你喜欢什么学习?)

2. Selasa, 22-2-11 Bab II (你喜欢什么学习?)

3. Senin, 28-2-11 Bab II (mengerjakan latihan persiapan mid semester) 4. Selasa, 1-3-11 Bab II (mengerjakan latihan persiapan mid semester)

5. Rabu, 2-3-11 Bab II (我的朋友) untuk kelas XI

6. Senin, 21-3-11 Bab III & memberi PR, belajar lagu 7. Selasa, 22-3-11 Bab III & memberi PR, belajar lagu 8. Rabu, 23-3-11 Bab III & membacakan nilai mid kelas XI 9. Kamis, 24-3-11 Bab III & membacakan nilai mid

10. Senin, 28-3-11 Bab III & mencocokkan PR 11. Selasa, 29-3-11 Ulangan Hanzi

12. Senin, 11-4-11 Mengisi kuisioner

13. Selasa, 12-4-11 Bab III (我的学校) & permainan

14. Senin, 25-4-11 Ujian magang & berpamitan 15. Selasa, 26-4-11 Ujian magang & berpamitan


(48)

commit to user

D. Metode Pengajaran Dasar-Dasar Menulis Hanzi

Dalam pertemuan pertama penulis mengamati keadaan kelas dan pemahaman siswa tentang penulisan huruf Hanzi melalui tanya jawab tentang dasar-dasar menulis hanzi dan aturan-aturan menulis Hanzi. Dari pengamatan yang diperoleh, kemudian penulis memberikan metode-metode yang mudah dipahami oleh siswa dan menyenangkan agar dalam proses belajar menulis

Hanzi tidak membosankan dan siswa merasa tertarik dengan tulisan Hanzi

yang diajarkan.

Metode yang digunakan oleh penulis dalam mengajar tulisan Hanzi

kepada siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta yaitu melalui buku paket yang tersedia, didalam buku paket terdapat 8 goresan dasar-dasar menulis Hanzi

dan juga aturan penulisan Hanzi. Dengan metode ini penulis meminta siswa untuk menjawab nama goresan sesuai dengan yang dituliskan penulis dipapan tulis. Metode yang kedua dengan menggunakan aplikasi Mem-Chinese, aplikasi ini memberikan banyak sekali contoh tulisan Hanzi mulai yang sederhana sampai rumit. Siswa dapat mengerti secara jelas bagaimana urutan menulis Hanzi karena aplikasi Mem-Chinesse ini dapat bergerak tiap goresan, dimulai dari urutan pertama sampai terakhir. Metode yang selanjutnya yaitu siswa diminta penulis untuk maju kedepan menuliskan huruf Hanzi secara benar sesuai dengan urutan dan aturan penulisan, juga siswa diberi tugas untuk menulis satu huruf Hanzi sebanyak sepuluh kali. Siswa juga diberi permainan sederhana yang menuntut siswa menulis Hanzi


(49)

commit to user

secara benar, dengan cara siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, orang yang paling belakang diberikan nama Hanzi kemudian siswa yang paling belakang membisikkan nama Hanzi kepada siswa yang ada didepannya begitu seterusnya sampai depan, orang yang ada didepan menuliskan huruf

Hanzi ke papan tulis, kelompok yang menuliskan dengan benar akan mendapat nilai.

Sehingga dengan metode seperti ini siswa lebih memahami secara jelas bagaimana dasar menulis Hanzi dan aturan yang digunakan dalam menulis Hanzi, siswa lebih merasa senang dan suasana kelas tidak membosankan.

E. Kesulitan yang Dirasakan Siswa dalam Menulis Hanzi

Dalam mempelajari sesuatu, sedikit banyak akan dijumpai kesulitan, termasuk dalam belajar menulis Hanzi. Kesulitan belajar dapat ditunjukkan rendah, hasil yang dicapai tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan, dan keterlambatan dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru. Dua dari ketiga hal tersebut dijumpai pada siswa kelas X, yaitu prestasi yang rendah dan keterlambatan mengerjakan tugas, sehingga bisa dipastikan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menulis Hanzi.

Hanzi jumlahnya lebih dari 50.000, yang sering dipakai ada 34 ribu huruf saja (Patrick Lin, 1996), dan masing-masing terdiri dari goresan-goresan yang tidak sama. Bagi pemula, mempelajari Hanzi termasuk salah satu yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran, karena tidak bisa langsung


(50)

commit to user

menulis huruf tersebut dengan mementingkan hasil yang sama tanpa memperhatikan aturan penulisan. Selama mengadakan penelitian pada siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta, penulis mendapati berbagai hal yang dirasakan sulit oleh siswa dalam penulisan Hanzi sebagai berikut.

1. Menghafalkan 8 goresan dasar.

2. Menentukan goresan yang harus ditulis terlebih dahulu. 3. Menjabarkan Hanzi sesuai goresan yang benar.

4. Menghitung jumlah goresan Hanzi yang sesuai.

Berbagai kesulitan ini muncul karena dalam sebuah materi memang terdapat kekurangan-kekurangan tersendiri sebagai objek yang mudah dipelajari. Salah satu hal yang dapat kita periksa untuk mengetahui penyebab kesukaran siswa belajar adalah materi yang diajarkan dianggap terlalu sulit. Termasuk di dalamnya adalah materi Hanzi. Menulis Hanzi berbeda dengan menulis latin. Setiap hurufnya terbentuk dari gabungan goresan-goresan dasar (Jerry, 2002: 11), dimana menurut siswa tidak mudah untuk dihafalkan, karena meskipun setiap goresan dasar ini hanya berupa garis dan titik, namun ada cara tersendiri dalam menuliskannya. Selain itu bentuk dari 8 goresan hampir sama, seperti antara heng dengan zhe, na dengan dian, dan shu dengan

pie, yang membuat siswa sering salah menyebutkan nama goresan yang dimaksud. Jadi secara keseluruhan, ketika siswa menuliskan sebuah goresan mereka harus tahu bagaimana menuliskannya dengan benar, goresan mana yang mereka maksud dan apa nama goresan tersebut.


(51)

commit to user

Kesulitan kedua adalah menentukan goresan yang harus ditulis terlebih dahulu, sama halnya dengan menuliskan goresan yang membentuknya, Hanzi memiliki urutan penulisan yang harus dijalankan, dari mana kita harus mulai menuliskan sebuah goresan pertama, baru goresan kedua, ketiga, dst. Hal ini menjadi sebuah kesulitan karena selain harus menentukan goresan yang tepat dengan huruf yang akan ditulis, mereka masih bingung huruf tersebut ditulis dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan, atau dari dalam ke luar, dsb. Karena jika arah penulisannya salah, maka hasilnya tidak akan sempurna bahkan tidak tepat. Siswa juga merasa sulit ketika harus mengingat huruf yang akan ditulis, dimana huruf tersebut dirasakan sangat rumit karena bentuknya tidak sesederhana huruf latin yang biasa mereka tulis. Kesulitan berikutnya adalah ketika harus menjabarkan

Hanzi sesuai goresan yang benar. Rata-rata siswa belum mampu menentukan goresan yang tepat yang membentuk huruf tersebut, karena bentuk goresan yang mirip dan mereka belum hafal. Mereka juga belum bisa menentukan

Hanzi yang akan dijabarkan tersebut ditulis dari arah mana, sehingga menjabarkannyapun juga kesulitan harus dari arah mana.

Satu hal lagi kesulitan yang dirasakan siswa yaitu menghitung jumlah goresan Hanzi. Seringkali siswa menganggap goresan itu adalah satu gabungan padahal ada beberapa goresan Hanzi yang dipisah begitu juga sebaliknya, sehingga hal ini membuat siswa salah dalam menghitung. Berbagai kesulitan yang dirasakan siswa selain akibat dari tingkat kesulitan materi itu sendiri, juga dikarenakan beberapa faktor dari luar yang


(52)

commit to user

sebenarnya sudah ada sebelum materi tersebut akan dipelajari. Diantaranya adalah:

1. Hanzi merupakan huruf asing yang pelajarannya tidak diterima oleh siswa dari kecil.

Sebelum Bahasa Mandarin diresmikan menjadi bahasa internasional ke dua setelah Bahasa Inggris, siswa SMA Negeri 4 Surakarta kebanyakan dari kecil hanya menerima pelajaran menulis huruf latin, sehingga mereka merasa kesulitan ketika harus menulis sebuah huruf asing dengan berbagai kerumitan didalamnya yang tidak pernah mereka bayangkan mempelajari apalagi menuliskan huruf tersebut.

2. Kurangnya minat siswa mempelajari Hanzi

Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahui. Dalam hal menulis, agar bisa menuliskan sesuatu, maka harus tau tentang sesuatu itu. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh siswa, mereka belajar sesuatu yang belum mereka kenal sebelumnya. Kurangnya pengetahuan tentang Hanzi karena belum mempelajari lebih dalam, namun hal tersebut sangat berpengaruh terhadap minat mereka pada materi ini. Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, keinginan. Sebagian siswa masih belum menemukan sisi menarik dari Hanzi yang bisa menumbuhkan semangat untuk mempelajarinya. Kurangnya minat siswa ini membuat mereka merasa kesulitan dalam belajar menulis Hanzi.


(53)

commit to user

F. Cara Mengatasi Kesulitan yang Dirasakan Siswa

Kaitannya dalam belajar Bahasa Mandarin, seperti yang telah dikemukakan pada Bab I bahwa mempelajari tulisan Hanzi adalah penting. Terkadang karena terdesak waktu yang terbatas, secara tidak sengaja seorang guru menjadikan menulis hanya sebagai pelajaran yang berorientasi pada hasil, dan pembelajaran menulis sebagai prosespun terlupakan. Selama ini pembelajaran menulis masih dilakukan secara tradisional dengan menekankan pada hasil tulisan siswa, bukan pada proses yang seharusnya dilakukan, siswa langsung menulis tanpa belajar bagaimana caranya menulis, padahal ketika siswa menulis sesuai dengan tahap-tahap yang benar, terjadilah sebuah proses mengerti, memahami, dan menguasai, oleh sebab itu penulis lebih menekankan pada proses siswa menulis Hanzi, bukan hasil akhir dari tulisannya. Sebelum menulis Hanzi, siswa harus menguasai dasar-dasarnya terlebih dahulu agar bisa mengerti, kemudian memahami dan menguasai penulisannya. Hal yang paling dasar adalah 8 goresan dasar, dimana siswa merasa kesulitan menghafalkannya. Maka guru meminta siswa menuliskan masing-masing goresan sepuluh kali pada buku kotak-kotak yang khusus untuk menulis Hanzi kemudian dikumpulkan. Guru juga memberi permainan sederhana menebak nama goresan, guru hanya mengucapkan arah goresan kemudian siswa menebak nama goresan tersebut. Permainan ini bertujuan untuk melatih mereka mengingat bentuk sekaligus nama setiap goresan. Jika


(54)

commit to user

siswa sudah merasa senang, maka tulisannya akan lebih mudah diarahkan menjadi lebih baik. Melalui cara ini, siswa akan lebih mudah menghafalkan 8 goresan dasar tanpa mengalami kejenuhan. Hal mendasar berikutnya adalah cara menuliskan Hanzi yang benar dan tepat.

Setiap Hanzi yang terbentuk, memiliki aturan utama dalam pembentukkannya, di situlah akan ditentukan goresan pertama yang harus ditulis. Agar siswa mudah menentukannya, maka guru menjelaskan bahwa bentuk Hanzi ada yang kombinasi goresan dasarnya lebih dari satu, dan harus dilihat kombinasi tersebut berjajar atau tersusun ke bawah. Jika berjajar, maka aturan utamanya adalah Hanzi tersebut ditulis dari kiri ke kanan, namun jika

Hanzi tersusun ke bawah maka aturan utamanya adalah dari atas ke bawah. Teknik ini akan membantu siswa lebih memahami dan mampu menentukan goresan mana yang seharusnya lebih dahulu ditulis. Guru juga menjelaskan tujuan dan manfaat aturan penulisan Hanzi, bahwa sebenarnya dengan adanya aturan penulisan mulai dari goresan sampai terbentuknya Hanzi tersebut, akan memudahkan kita untuk menghafal dan mendapatkan hasil tulisan yang indah. Proses berikutnya adalah menjabarkan Hanzi. Ketika menjabarkan

Hanzi, goresan yang membentuknya harus jelas. Agar siswa tidak salah menuliskan goresan yang benar, maka guru memberitahu bagaimana cara membedakan goresan yang bentuknya mirip, kemudian melatih siswa dengan sering memunculkan beberapa huruf yang sama agar terbiasa dan ingat ketika harus menjabarkannya. Guru juga meminta siswa untuk sering berlatih mulai dari Hanzi yang sederhana dengan sedikit goresan sampai Hanzi yang


(55)

commit to user

kombinasi goresan dasarnya lebih dari satu. Cara yang terbaik untuk mempelajari bagaimana menulis dengan baik adalah dengan jalan menulis. Pada awal pelajaran, guru telah menjelaskan bahwa Hanzi digambar berdasarkan benda yang sesungguhnya, namun banyak huruf yang dipelajari oleh siswa saat ini telah mengalami penyederhanaan bentuk sehingga kurang menyerupai objek yang dimaksud. Hal ini memang memudahkan siswa menuliskannya tetapi juga membuat mereka sulit mengimajinasikan bentuk tersebut menjadi sebuah objek. Salah satu cara guru untuk membantu siswa mengetahui arti sebuah Hanzi adalah dengan mengenalkan dan mengakrabkan huruf-huruf yang sering muncul dan sering digunakan dalam batasan materi yang mereka terima. Ketika guru memberi contoh penulisan, guru menggambarkan bentuk itu dalam benda kemudian dituliskan dalam bentuk dasarnya sampai menjadi huruf, dengan begitu siswa akan lebih memahami bentuk dan mengingat arti huruf tersebut. Kemudian ketika siswa menulis

Hanzi, guru meminta mereka untuk langsung mengartikannya. Guru juga sering memunculkan huruf-huruf yang sama beserta artinya dalam memberikan contoh ataupun latihan agar siswa lebih akrab dan selalu ingat.

Agar mendapatkan hasil yang baik dalam menulis Hanzi, siswa diminta sering berlatih dan memahami proses terbentuknya huruf yang mereka tulis tersebut agar tercatat dalam ingatan dan mampu menuliskannya kembali tanpa

melihat buku, “untuk memperoleh keterampilan menulis, diperlukan suatu proses yang berupa pembelajaran dan pelatihan menulis. Guru menyadari hal ini membutuhkan niat dari diri siswa itu sendiri, oleh karena itu guru berusaha


(56)

commit to user

menumbuhkan minat belajar siswa dengan menjelaskan manfaat dari menulis

Hanzi, apa pengaruhnya dalam mempelajari Bahasa Mandarin, dan keuntungan yang akan mereka dapatkan dari kepandaian ini. Cara ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran mereka betapa pentingnya belajar demi masa depan mereka sendiri dan akhirnya tumbuh pula minat mereka untuk berlatih menulis Hanzi dengan sungguh-sungguh.


(57)

commit to user

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian pada kelas X SMA Negeri 4 Surakarta, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Metode pengajaran menulis Hanzi di SMA Negeri 4 Surakarta

a. Siswa merasa lebih memahami dasar-dasar menulis Hanzi menggunakan aplikasi Mem-Chinese karena aplikasi tersebut dapat bergerak tiap satu goresan.

b. Siswa lebih ingat dengan berlatih menulis Hanzi sepuluh kali dan merasa mampu menulis Hanzi didepan kelas.

c. Siswa mampu mengingat dasar-dasar menulis Hanzi dan aturan penulisan Hanzi dengan metode tanyajawab.

2. Masalah yang dihadapi dalam pengajaran bahasa Mandarin yaitu : a. Kurangnya minat siswa terhadap pelajaran bahasa Mandarin. Hal

ini dikarenakan pelajaran hanya diberikan dalam waktu satu minggu sekali.

b. Minimnya buku penunjang, sehingga siswa sulit mempelajari dan mengembangkan perbendaharaan huruf Hanzi.

c. Tidak adanya kesadaran siswa untuk mempelajari bahasa


(58)

commit to user

Mandarin, hal ini dapat dilihat dari tugas yang diberikan dirumah, sebagian besar tidak dikerjakan dengan sungguh-sungguh karena siswa merasa bahasa mandarin merupakan bahasa yang asing dan tidak begitu penting.

3. Upaya penanganan masalah belajar bahasa Mandarin di SMA Negeri 4 Surakarta

a. Memberikan pengarahan kepada siswa tentang pentingnya pengetahuan bahasa dalam dunia pendidikan.

b. Memberikan suasana yang baru dalam proses KBM seperti praktik langsung dengan teman sebangku. Sehingga siswa akan merasa senang dalam belajar dan timbul minat yang besar untuk belajar bahasa Mandarin.

c. Memberikan tugas yang tidak terlalu berat, tugas yang diberikan adalah tugas yang dapat dipelajari dari sekitar siswa. Sebagai contoh mengenal kehidupan sekolah, sehingga siswa dapat menggunakan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari. 4. Hasil yang diperoleh dari praktik kerja di SMA Negeri 4 Surakarta

antara lain :

a. Setelah melakukan beberapa upaya dalam penanganan masalah belajar bahasa Mandarin di SMA Negeri 4 Surakarta hasil yang


(59)

commit to user

diperoleh mulai tampak dengan diadakan tes dan tugas-tugas, hasil tes yang diperoleh cukup baik, hal ini menunjukkan bahwa materi yang diajarkan terserap dengan baik walaupun ada beberapa siswa yang masih mendapatkan hasil yang belum memuaskan.

b. Siswa lebih giat dalam belajar bahasa Mandarin, hal ini dikarenakan mereka akan bangga walaupun hanya dengan mengucapkan salam dan menulis dengan bahasa Mandarin. Sehingga siswa lebih banyak menguasai perbandaharaan kata dan huruf Hanzi.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, penulis bermaksud menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

1. Dasar-dasar belajar bahasa Mandarin sebaiknya lebih ditekankan lagi agar siswa mudah memahami materi-materi baru yang berkesinambungan khususnya dasar-dasar menulis Hanzi.

2. Waktu untuk pelajaran bahasa Mandarin bagi siswa SMA sebaiknya ditambah menjadi dua kali dalam satu minggu, atau paling tidak dua jam pelajaran dalam satu kali pertemuan, agar guru bisa menyampaikan materi lebih mendalam, sehingga siswa lebih akrab dengan materi-materi dan tumbuh minat belajar mereka, khususnya dalam menulis Hanzi.


(60)

commit to user

3. Guru pengajar sebaiknya mengadakan variasi dalam menyampaikan materi-materi bahasa Mandarin, karena pelajaran ini merupakan hal baru bagi siswa. Dengan variasi tersebut, diharapkan bisa menghindari kejenuhan dalam proses belajar mengajar.


(1)

commit to user

kombinasi goresan dasarnya lebih dari satu. Cara yang terbaik untuk mempelajari bagaimana menulis dengan baik adalah dengan jalan menulis. Pada awal pelajaran, guru telah menjelaskan bahwa Hanzi digambar berdasarkan benda yang sesungguhnya, namun banyak huruf yang dipelajari oleh siswa saat ini telah mengalami penyederhanaan bentuk sehingga kurang menyerupai objek yang dimaksud. Hal ini memang memudahkan siswa menuliskannya tetapi juga membuat mereka sulit mengimajinasikan bentuk tersebut menjadi sebuah objek. Salah satu cara guru untuk membantu siswa mengetahui arti sebuah Hanzi adalah dengan mengenalkan dan mengakrabkan huruf-huruf yang sering muncul dan sering digunakan dalam batasan materi yang mereka terima. Ketika guru memberi contoh penulisan, guru menggambarkan bentuk itu dalam benda kemudian dituliskan dalam bentuk dasarnya sampai menjadi huruf, dengan begitu siswa akan lebih memahami bentuk dan mengingat arti huruf tersebut. Kemudian ketika siswa menulis Hanzi, guru meminta mereka untuk langsung mengartikannya. Guru juga sering memunculkan huruf-huruf yang sama beserta artinya dalam memberikan contoh ataupun latihan agar siswa lebih akrab dan selalu ingat.

Agar mendapatkan hasil yang baik dalam menulis Hanzi, siswa diminta sering berlatih dan memahami proses terbentuknya huruf yang mereka tulis tersebut agar tercatat dalam ingatan dan mampu menuliskannya kembali tanpa melihat buku, “untuk memperoleh keterampilan menulis, diperlukan suatu proses yang berupa pembelajaran dan pelatihan menulis. Guru menyadari hal ini membutuhkan niat dari diri siswa itu sendiri, oleh karena itu guru berusaha


(2)

commit to user

menumbuhkan minat belajar siswa dengan menjelaskan manfaat dari menulis Hanzi, apa pengaruhnya dalam mempelajari Bahasa Mandarin, dan keuntungan yang akan mereka dapatkan dari kepandaian ini. Cara ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran mereka betapa pentingnya belajar demi masa depan mereka sendiri dan akhirnya tumbuh pula minat mereka untuk berlatih menulis Hanzi dengan sungguh-sungguh.


(3)

commit to user

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian pada kelas X SMA Negeri 4 Surakarta, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Metode pengajaran menulis Hanzi di SMA Negeri 4 Surakarta

a. Siswa merasa lebih memahami dasar-dasar menulis Hanzi menggunakan aplikasi Mem-Chinese karena aplikasi tersebut dapat bergerak tiap satu goresan.

b. Siswa lebih ingat dengan berlatih menulis Hanzi sepuluh kali dan merasa mampu menulis Hanzi didepan kelas.

c. Siswa mampu mengingat dasar-dasar menulis Hanzi dan aturan penulisan Hanzi dengan metode tanyajawab.

2. Masalah yang dihadapi dalam pengajaran bahasa Mandarin yaitu : a. Kurangnya minat siswa terhadap pelajaran bahasa Mandarin. Hal

ini dikarenakan pelajaran hanya diberikan dalam waktu satu minggu sekali.

b. Minimnya buku penunjang, sehingga siswa sulit mempelajari dan mengembangkan perbendaharaan huruf Hanzi.

c. Tidak adanya kesadaran siswa untuk mempelajari bahasa


(4)

commit to user

Mandarin, hal ini dapat dilihat dari tugas yang diberikan dirumah, sebagian besar tidak dikerjakan dengan sungguh-sungguh karena siswa merasa bahasa mandarin merupakan bahasa yang asing dan tidak begitu penting.

3. Upaya penanganan masalah belajar bahasa Mandarin di SMA Negeri 4 Surakarta

a. Memberikan pengarahan kepada siswa tentang pentingnya pengetahuan bahasa dalam dunia pendidikan.

b. Memberikan suasana yang baru dalam proses KBM seperti praktik langsung dengan teman sebangku. Sehingga siswa akan merasa senang dalam belajar dan timbul minat yang besar untuk belajar bahasa Mandarin.

c. Memberikan tugas yang tidak terlalu berat, tugas yang diberikan adalah tugas yang dapat dipelajari dari sekitar siswa. Sebagai contoh mengenal kehidupan sekolah, sehingga siswa dapat menggunakan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-hari. 4. Hasil yang diperoleh dari praktik kerja di SMA Negeri 4 Surakarta

antara lain :

a. Setelah melakukan beberapa upaya dalam penanganan masalah belajar bahasa Mandarin di SMA Negeri 4 Surakarta hasil yang


(5)

commit to user

diperoleh mulai tampak dengan diadakan tes dan tugas-tugas, hasil tes yang diperoleh cukup baik, hal ini menunjukkan bahwa materi yang diajarkan terserap dengan baik walaupun ada beberapa siswa yang masih mendapatkan hasil yang belum memuaskan.

b. Siswa lebih giat dalam belajar bahasa Mandarin, hal ini dikarenakan mereka akan bangga walaupun hanya dengan mengucapkan salam dan menulis dengan bahasa Mandarin. Sehingga siswa lebih banyak menguasai perbandaharaan kata dan huruf Hanzi.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, penulis bermaksud menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

1. Dasar-dasar belajar bahasa Mandarin sebaiknya lebih ditekankan lagi agar siswa mudah memahami materi-materi baru yang berkesinambungan khususnya dasar-dasar menulis Hanzi.

2. Waktu untuk pelajaran bahasa Mandarin bagi siswa SMA sebaiknya ditambah menjadi dua kali dalam satu minggu, atau paling tidak dua jam pelajaran dalam satu kali pertemuan, agar guru bisa menyampaikan materi lebih mendalam, sehingga siswa lebih akrab dengan materi-materi dan tumbuh minat belajar mereka, khususnya dalam menulis Hanzi.


(6)

commit to user

3. Guru pengajar sebaiknya mengadakan variasi dalam menyampaikan materi-materi bahasa Mandarin, karena pelajaran ini merupakan hal baru bagi siswa. Dengan variasi tersebut, diharapkan bisa menghindari kejenuhan dalam proses belajar mengajar.