JAMINAN KESEHATAN DALAM SISTEM JAMINAN S

1

JAMINAN KESEHATAN DALAM SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL
DI INDONESIA
H. Kurniawan Arianto, SKM
NIM : 11/323232/PMU/7100, Email: arieanto_165@yahoo.com
Mahasiswa Kelas Bappenas Program Magister Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada

________________________________________________________________________________
ABSTRAK
Kesehatan adalah salah satu unsur utama dalam setiap kehidupan seseorang karena sangat
menunjang dalam aktivitas setiap manusia. Pembangunan kesehatan dalam kehidupan berbangsa
sangat besar nilai investasinya terutama terhadap sumber daya manusia. Salah satu amanat dari
UU Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah Jaminan kesehatan
dimana negara berkewajiban memberikan jaminan kesehatan kepada setiap penduduk agar
mendapatkan akses pelayanan kesehatan dengan mutu yang terjamin dan memenuhi kebutuhan
dasar kesehatan. Kondisi pembiayaan kesehatan suatu negara sangat berpengaruh terhadap
kemampuan negara dalam penyediaan jaminan kesehatan bagi setiap warga negaranya. Banyak
faktor yang mempengaruhi kebijakan sistem jaminan sosial bidang kesehatan, diantaranya adalah
faktor kemampuan keuangan negara dan pengaruh politik. Kemampuan keuangan suatu negara
ikut menentukan besarnya anggaran yang dialokasikan untuk jaminan kesehatan dan pelayanan
kesehatan warga negara. Paper ini mendiskusikan tentang bagaimana sistem jaminan sosial
nasional bidang kesehatan di Indonesia masa sekarang dan solusi sistem jaminan kesehatan
Indonesia dimasa yang akan datang.
Kata Kunci : Sistem Jaminan Sosial Nasional, Jaminan Kesehatan, Pelayanan Kesehatan
ABSTRACT
Health is one of the main element in every person's life because it is very supportive in every
human activity. Health development in the life of the nation is very much the value of its
investments primarily on human resources. One of the mandate of Law No. 40 of 2004 on National
Social Security System is a health insurance scheme under which the state is obliged to provide
health insurance to every resident in order to gain access to health services with quality-assured
and meet basic health needs. A country's health financing conditions greatly affect the ability of
the state in providing health coverage for every citizen. Many factors influence the policy of social
security systems in health, including the financial capacity factor of the state and political
influence. Financial capacity of a country also determines the amount of budget allocated to
health insurance and health care of citizens. This paper discusses how the national social security
system in Indonesia health field today and the solution Indonesia health insurance system in the
future.
Keywords: National Social Security System, Health Insurance, Health Services

PENDAHULUAN
2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

2

Paper ini mendiskusikan pentingnya jaminan kesehatan dalam sistem jaminan sosial nasional di
Indonesia, kondisi dimasa sekarang dan solusi sistem jaminan kesehatan Indonesia dimasa yang
akan datang. Undang-undang Nomor 40 tahun 2002 tentang sistem jaminan sosial nasional
menyebutkan bahwa setiap orang berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan
dasar hidup yang layak dan meningkatkan martabatnya menuju terwujudnya masyarakat
Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur. Cara yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi hak
warga negara tersebut adalah penerapan sistem jaminan sosial nasioal (SJSN) yang Undangundang nya sudah disahkan sejak tahun 2004 tetapi penerapannya belum dilaksanakan hingga
saat ini. Sedangkan Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan
bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di
bidang kesehatan, mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu
dan terjangkau dan berhak secara mandiri dan bertanggung jawab mementukan sendiri pelayanan
kesehatan yang diperlukan bagi dirinya. Pemerintah Indonesia berkewajiban memberikan jaminan
untuk terpenuhinya hak hidup sehat setiap warga negaranya, tanggung jawab pemerintah tersebut
dilakasanan melalui sistem jaminan sosial nasional yang salah satu bentuknya adalah jaminan
kesehatan bagi seluruh warga negara.
Berdasarkan catatan sejarah, tidak bisa dihindari kenyataannya bahwa sistem jaminan sosial
nasional bidang jaminan kesehatan di Indonesia baru mulai serius di urusi pemerintah seiring
dengan disahkannya UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional dan UU
tentang badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) yang baru saja disahkan oleh Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada tanggal 28 Oktober 2011. Jaminan kesehatan sebagai
salah satu komponen sistem jaminan sosial nasional merupakan aplikasi dari penerapan sistem
jaminan sosial nasional. Tetapi hingga saat ini belum seluruh warga negara memiliki jaminan
kesehatan dalam hidupnya. Berdasarkan data dari kementerian Kesehatan tahun 2010, dari 237,5
juta jiwa penduduk Indonesia, masih tedapat 116,9 juta jiwa penduduk Indonesia (49,2%) yang
belum memiliki jaminan kesehatan (Kementerian Kesehatan RI : 2011).
Sebagai salah satu unsur utama dalam setiap kehidupan seseorang, kesehatan sangat menunjang
dalam setiap aktivitas manusia. Pembangunan kesehatan dalam kehidupan berbangsa sangat
besar nilai investasinya terutama terhadap sumber daya manusia. Dengan adanya penduduk suatu
bangsa yang terjaga kesehatannya dengan baik, bangsa tersebut akan memiliki sumber daya yang
manusia yang lebih optimal dalam pembangunan. Kesehatan juga merupakan salah satu indikator
dalam penentuan nilai Indeks pembangunan manusia suatu bangsa. Nilai Indeks Pembangunan
Manusia ( Human Development Indeks ) tahun 2010 berada pada peringkat 108 dari 169 negara
dan kembali menurun menjadi peringkat 124 dari 183 negara di tahun 2011 versi UNDP 1. HDI
adalah ukuran keberhasilan suatu negara yang dinilai dari parameter pembangunan ekonomi,
kesehatan dan pendidikan (Bappenas ; 2011).
Rendahnya komitmen pemerintah untuk memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh warga
negara dapat dinilai sebagai bentuk rendahnya penghargaan pemerintah akan pentingnya sektor
1

United Nation Development Programme, Lembaga Internasional yang bernaung di Bawah Perserikatan BangsaBangsa yang mengatur masalah pembangunan manusia

2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

3

kesehatan sebagai salah satu elemen pendukung dalam proses pembangunan manusia Indonesia.
Bila hal ini terus diabaikan akan menimbulkan banyak masalah baru yang justru akan menguras
keuangan negara yang lebih besar lagi. Belum diaplikasikannya sistem jaminan kesehatan secara
nasional seperti yang diamanatkan dalam sistem jaminan sosial nasional membuat warga negara
harus lebih bersabar dan menunggu lebih lama lagi untuk bisa menikmati jaminan kesehatan
seperti yang dijanjikan pemerintah. Persoalan tidak hanya berhenti sampai disini saja karena
sesungguhnya menurut pasal 19 ayat 1 UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN menyebutkan
bahwa jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan
prinsip ekuitas. Maksud dari kalimat ini adalah secara fundamental kewajiban negara dalam
memberikan jaminan kesehatan dialihkan menjadi kewajiban rakyat karena setiap warga negara
yang menjadi peserta jaminan sosial diharuskan membayar iuran sesuai dengan tingkat
penghasilan yang mereka dapatkan, sedangkan pemerintah hanya menanggung iuran orang miskin
dan tidak mampu. Hal ini tentu saja menjadi masalah besar yang perlu dicarikan solusi bersama
untuk mengatasinya.
Oleh karena itu, masalah jaminan kesehatan dalam sistem jaminan sosial nasional di Indonesia
sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut dan bagaimana praktiknya dimasa sekarang dan
mendatang serta faktor apa saja yang mempengaruhinya. Tulisan ini mencoba menjelaskan
masalah tersebut mengingat ke depan masalah kesehatan cenderung akan menjadi prioritas
dimasa yang akan datang. Setidaknya ada beberapa alasan terkait dengan pentingnya masalah
jaminan kesehatan : (1) sektor Kesehatan merupakan salah satu indikator penilaian Indeks
Pembangunan Manusia atau HDI ( Human Development Indeks ) ; (2) semakin bertambahnya
jumlah penduduk Indonesia yang ikut berkontribusi pada semakin meningkatnya dana yang
diperlukan dalam pembiayaan sektor kesehatan dalam pembangunan ; (3) adanya tuntutan
demokratisasi dan bertambahnya jumlah penduduk miskin dari waktu ke waktu mengharuskan
negara membuat kebijakan pembiayaan kesehatan melalui jaminan kesehatan dalam sistem
jaminan sosial nasional yang bisa dinikmati oleh seluruh warga negara tanpa terkecuali ; (4)
kesehatan adalah salah satu unsur utama dalam setiap kehidupan seseorang karena sangat
menunjang dalam aktivitas setiap manusia.
Untuk membahas masalah sistem jaminan sosial nasional bidang jaminan kesehatan dalam paper
ini, bagian berikut ini akan membahas tentang sistem jaminan sosial nasional di Indonesia ;
konsep dan pendekatan, selanjutnya praktik jaminan kesehatan dalam sistem jaminan sosial
nasional di Indonesia, bagian berikutnya menjelaskan tentang jaminan kesehatan dimasa sekarang
dan faktor yang mempengaruhinya. Bagian akhir akan didiskusikan tentang jaminan kesehatan
dalam sistem jaminan sosial nasional Indonesia di masa mendatang.
SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DI INDONESIA : KONSEP DAN PENDEKATAN
Sebagai salah satu unsur utama dalam setiap kehidupan seseorang, kesehatan sangat menunjang
dalam setiap aktivitas manusia. Pembangunan kesehatan dalam kehidupan berbangsa sangat
besar nilai investasinya terutama terhadap sumber daya manusia. Dengan adanya penduduk suatu
bangsa yang terjaga kesehatannya dengan baik, bangsa tersebut akan memiliki sumber daya yang
manusia yang lebih optimal dalam pembangunan. Dalam Undang-undang Nomor 36 tahun 2009

2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

4

tentang kesehatan menjelaskan bawa pemerintah Indonesia bertanggungjawab penuh dalam
pemenuhan hak hidup sehat setiap warga negara termasuk penduduk miskin dan tidak mampu.
Tanggung jawab pemerintah termasuk didalamnya memberikan jaminan kesehatan bagi setiap
warga negara dan penyediaan layanan kesehatan yang mudah, murah dan dapat diakses oleh
seluruh masyarakat yang membutuhkan. Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 sesungguhnya
telah menjamin hak setiap warga negara atas jaminan sosial dalam pemunuhan kebutuhan dasar
hidup yang layak untuk meningkatkan martabatnya menuju masyarakat Indonesia yang sejahtera,
adil dan makmur.
Jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar
dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak (UU Nomor 40 tahun 2004 pasal 1).
Menurut Yaumil Agus Achir dalam jurnal ekonomi rakyat (www.ekonomirakyat.org) jaminan sosial
nasional adalah program pemerintah dan masyarakat yang bertujuan member kepastian jumlah
perlindungan kesejahteraan sosial agar setiap penduduk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya
menuju terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tarik ulur yang
dilakukan oleh pemerintah dalam penerapan sistem jaminan sosial nasional telah berlangsung
lebih dari enam tahun sejak disahkannya UU SJSN pada bulan Oktober 2004. Keterlambatan
penerapan SJSN terutama kali disebabkan karena besarnya anggaran yang harus disiapkan oleh
pemerintah untuk menanggung jaminan sosial bagi seluruh warga negara.
Di Indonesia jaminan sosial diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 27 ayat 2 dan juga dijamin dalam
Deklarasi Hak Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB tahun 1948 pasal 22 dan 25 yang
memberikan jaminan sosial secara universal (Ali Ghufron Mukti ; 2007 ; 5). Terdapat banyak cara
atau pendekatan yang biasa digunakan oleh suatu negara dalam memberikan perlindungan
jaminan sosial bagi warga negaranya yaitu ; (1) pendekatan asuransi sosial (compulsory social
insurance) yang pembiayaan nya diambil dari premi yang dibayarkan oleh setiap tenaga kerja dan
atau pemberi kerja yang besaranya selalu dikaitkan dengan besarnya upah atau penghasilan yang
dibayarkan oleh pemberi kerja ; (2) pendekatan bantuan sosial ( social assistance ) baik dalam
bentuk pemberian bantuan uang tunai maupun pelayanan dengan sumber pembiayaan dari
negara dan bantuan sosial masyarakat lainnya (Ali Ghufron Mukti ; 2007 ; 5).
Indonesia sebagai salah satu negara yang sistem perekonomiannya mengarah ke sistem negara
kesejahteraan telah memberikan jaminan sosial dalam beberapa bentuk seperti jaminan sosial
tenaga kerja (Jamsostek). Pada masa ini seiring dengan mulai diberlakukannya UU SJSN, Indonesia
mulai mengarah ke prinsip asuransi sosial karena dalam UU SJSN terdapat aturan yang mengatur
bahwa semua warga wajib menjadi peserta dan harus berkontribusi membayar iuran setiap
bulannya yang besaranya ditetapkan berdasarkan besarnya upah atau penghasilan dari setiap
warga negara, negara hanya menanggung iuran bagi warga miskin dan tidak mampu. Hal ini
dilakukan karena kemampuan keuangan negara yang berdasarkan perhitungan ahli ekonomi tidak
mampu menanggung beban anggaran jika harus membiayai iuran jaminan sosial seluruh warga
negara. Oleh karena itu kewajiban pembiayaan jaminan sosial yang seharusnya menjadi kewajiban
konstitusional pemerintah dialihkan menjadi kewajiban warga negara.

2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

5

PRAKTIK JAMINAN KESEHATAN DALAM SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL DI INDONESIA
Salah satu komponen dalam sistem jaminan sosial nasional adalah jaminan kesehatan, jaminan
kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas
(UU SJSN pasal 19). Dalam UU SJSN juga diatur bahwa kepesertaan jaminan kesehatan hanya
diberikan bagi setiap warga negara yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh
pemerintah terutama bagi warga miksin dan tidak mampu. Hal ini menjadi masalah karena
kategori warga negara yang dikatakan miskin yakni mereka yang pengelurannya dibawah Rp.
233.000,- per bulan (Harian Pikiran Rakyat ; 14 Juli 2011). Badan Pusat Statistik juga telah
menetapkan standar kemiskinan baru untuk wilayah perkotaan yaitu pengeluaran sebesar Rp.
217.000,- per bulan atau sebesar Rp. 7.000,- setiap harinya (www.hizbuttahrir.com).
Pengkategorian ini membuat setiap orang baik itu petani, pedagang, pengusaha kecil yang
berpenghasilan melebihi batas ketentuan tersebut tidak masuk dalam kategori miskin dan
diwajibkan membayar sendiri premi asuransi sosialnya. Bahkan berdasarkan peraturan perundangundangan, negara mempunyai hak untuk memaksa setiap warga negara untuk membayar iuran
asuransi sosial yang diselenggarakan oleh negara. Padahal, tingginya biaya hidup pada saat ini dan
komersialisasi berbagai aktivitas pelayanan publik yang seharusnya menjadi tanggung jawab
pemerintah membuat banyak warga negara mengalami kesulitan dalam masalah ekonomi keluarga
ditambah lagi dengan beban untuk membayar iuran asuransi sosial seperti yang diamanatkan
dalam SJSN.
Indonesia sesungguhnya sudah mengenal jaminan sosial bidang jaminan kesehatan sejak jaman
orde baru. Pada masa ini kita mengenal 3 macam asuransi kesehatan yaitu ; (1) Perum Husada
Bakti, sekarang PT. Askes, yang menangggung pembiayaan kesehatan bagi pegawai negeri sipil,
pensiunan , veteran dan anggota keluarganya : (2) PT. ASTEK, yang didirikan pada tahun 1977
berdasarkan PP Nomor 33 Tahun 1977 ( yang kemudian berubah menjadi PT. Jamsostek pada
tahun 1995 berdasarkan PP Nomor 36 Tahun 1995 ) yang menanggung pembiayaan kesehatan
bagi tenaga kerja sektor swasta dan BUMN : (3) PT. Asabri, yang menanggung pembiayaan
kesehatan bagi anggota TNI, Kepolisian RI, PNS Departemen Pertahanan beserta anggota
keluarganya ( dibentuk berdasarkan PP Nomor 44 Tahun 1971 yang disempurnakan lagi dengan PP
Nomr 67 Tahun 1991 ) (Kementerian Kesehatan RI ; 2011).
Pada masa reformasi dimana kondisi negara yang mengalami krisis ekonomi besar dimana terjadi
kenaikan harga berbagai komponen barang termasuk bahan bakar minyak (BBM) yang meningkat
membuat pemerintah mengambil kebijakan untuk mengurangi dampak tersebut terhadap
kehidupan warga negara. Dalam bidang jaminan kesehatan, kebijakan yang diambil adalah
program kompensasi pengurangan subsidi bahan bakar minyak - jaring pengaman sosial bidang
kesehatan (PKPS BBM – JPS BK) yang dimulai sejak tahun 1998 dengan tujuan memberikan
pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat tidak mampu disemua fasilitas pelayanan kesehatan
milik pemerintah. Program ini dilakukan untuk meminimalisir dampak yang dirasakan oleh
masyarakat kecil dan tidak mampu terutama dalam bidang kesehatan terhadap dampak krisis
ekonomi, ini adalah salah satu bentuk jaminan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah
terutama bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.

2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

6

Jaminan kesehatan sebagai bagian dari sistem jaminan sosial nasional diberikan pemerintah untuk
mejamin setiap warga negara terjamin dalam pembiayaan kesehatan dirinya dan anggota
keluarganya. Tingginya biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh warga negara pada saat ini
merupakan salah satu alasan kuat mengapa negara harus memberikan jaminan kesehatan bagi
setiap warga negara. Menurut Azrul Azwar (2004 : 125) biaya kesehatan adalah besarnya dana
yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan / atau memanfaatkan berbagai upaya
kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. Dari pengertian
tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat dua pihak yang terlibat yaitu pelaksana pelayanan
kesehatan ( provider ) dan pengguna jasa pelayanan kesehatan yaitu masyarakat. Bagi pelaksana
upaya kesehatan terkait dengan besarnya dana penyelenggaraan upaya kesehatan, sedangkan dari
sisi pengguna jasa layanan berhubungan dengan besarnya dana yang diperlukan untuk
mendapatkan manfaat suatu pelayanan kesehatan.
Dalam pembiayaan kesehatan warga negaranya suatu negara selalu mempertimbangkan
keikutsertaan sektor swasta yang ikut berperan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat. Dari sisi pemerintah, pembiayaan kesehatan dihitung pada besarnya dana yang
dikeluarkan oleh pemerintah dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi semua warga
negaranya, pengeluaran dana oleh pengguna jasa pelayanan kesehatan tidak diperhitungkan
sehingga total pembiayaan kesehatan Indonesia adalah jumlah biaya yang dikeluarkan oleh
pemerintah ditambah dengan jumlah dana yang dikeluarkan oleh pengguna jasa pelayanan
kesehatan untuk sektor swasta. Di berbagai negara, terdapat tiga model sistem jaminan kesehatan
atau pembiayaan kesehatan bagi warganya yang diberlakukan secara nasional yaitu model asuransi
kesehatan sosial (Social Health Insurance , model asuransi kesehatan komersial / privat
(Commercial / Private Health Insurance) dan model terakhir yaitu Pelayanan Kesehatan Nasional
(National Health Services) (Azrul Azwar (2004;126)
Model asuransi kesehatan berkembang pertama kali di beberapa negara benua Eropa pada tahun
1882 dan kemudian menyebar ke benua Asia. Kelebihan model ini adalah kemungkinan cakupan
yang mencapai 100 persen jumlah penduduk dan tarif yang relatif rendah dalam pembiayaan
kesehatan. Model asuransi komersial mulai berkembang di Amerika Serikat. Sistem ini tidak
berhasil mencapai cakupan 100 persen penduduk sehingga Bank Dunia merekomendasikan
pembaruan sistem asuransi kesehatan. Berdasarkan data Bank Dunia, Amerika Serikat merupakan
negara dengan pembiayaan kesehatan paling tinggi di dunia yang mencapai 13,7% dari GNP pada
tahun 1997, sementara negara Jepang yang pembiayaan kesehatannya hanya 7 % dari GNP tetapi
memiliki derajat kesehatan penduduk yang lebih tinggi yang dibuktikan dengan tingginya usia
harapan hidup penduduk Jepang yang mencapai 77,6 yahun untuk pria dan 84,3 tahun untuk
wanita (Fatmah Arianty : 2011).
JAMINAN KESEHATAN DALAM SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL INDONESIA DI MASA
SEKARANG DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
Dalam Koran Kompas terbitan tanggal 1 Mei 2010 terdapat berita tentang Purwoto (37 tahun)
yang semestinya hadir dalam pertemuan Komite Aksi Jaminan Sosial di Jakarta pada tanggal 29
April 2010, batal hadir karena sedang menjalani pengobatan di RSU Karyadi, Semarang, Jawa
2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

7

Tengah. Purwoto menderita penyakit yang memerlukan tindakan operasi oleh dokter demi
kesembuhannya dan semua itu dengan biaya mencapai 60 juta rupiah. Meskipun sudah bekerja
selama 15 tahun sebagai pekerja pabrik terpal dikawasan industri EJIP di daerah Bekasi, Jawa
Barat, ia hanya bergaji Rp 1,2 Juta per bulan. Kondisi tersebut membuat Purwoto tidak mampu
menanggung biaya operasi karena penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Meskipun sudah terdaftar sebagai peserta jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) di
perusahaan tempatnya bekerja, Purwoto harus menanggung biaya sekitar 50 juta rupiah karena
klaim yang dibayarkan oleh pihak Jamsostek hanya 10 juta rupiah (Koran Kompas ; 1 Mei 2010).
Kekurangan biaya tersebut seharusnya tidak dialami oleh Purwoto jika Indonesia sudah
menerapkan sistem jaminan sosial nasional terutama bidang jaminan kesehatan. Tanpa disadari
dengan baik oleh pemerintah, masih banyak warga negara lain yang mengalami masalah serupa
dengan Purwoto namun tidak diekspos ke muka publik.
Sejak disahkannya Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang SJSN, hingga sekarang
pemerintah belum juga melengkapinya dengan 10 peraturan pemerintah dan 9 peraturan presiden
seperti yang diamanatkan dalam UU tesebut. Kelambanan pemerintah ini menurut pengamatan
ahli ekonomi dikarenakan jika SJSN jadi terapkan di Indonesia diperkirakan akan menguras
anggaran negara dalam APBN sedikitnya Rp 98 triliun dan merupakan objek subsidi baru yang
harus ditanggung oleh pemerintah (www.kompas.com). Rendahnya kemampuan keuangan negara
membuat pemerintah terus menunda aplikasi sistem jaminan sosial nasional yang pada intinya
merupakan penerapan sila kelima dari pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Akibat dari kelambanan pemerintah tersebut, warga negara yang harus menanggung
akibatnya karena masih harus memikirkan biaya kesehatannya, hal ini sungguh memberatkan
terutama bagi warga miskin dan tidak mampu.
Pada tanggal 28 Oktober 2011 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia telah mengesahkan
UU baru tentang Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) yang di bagi menjadi ; (1) UU BPJS 1 yang
diasumsikan akan mulai beroperasi pada tanggal 1 Januari 2014 dengan tujuan penyelenggaraan
program jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk menampung pengalihan
program Jamkesmas, Askes, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan PT. Jamsostek dan PT. Asabri ; (2)
UU BPJS 2 yang diasumsikan mulai beroperasi pada tanggal 1 Januari 2014 atau selambatlambatnya 1 Juli 2015 dengan tujuan pengelolaan jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian,
jaminan hari tua dan jaminan pension yang merupakan transformasi dari PT. Jamsostek. Dengan
disahkannya UU tentang BPJS, diharapkan dimasa mendatang semua warga negara baik kaya
ataupun miskin sudah memiliki jaminan sosial yang terdiri dari jaminan kesehatan, jaminan
kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan pensiun dan jaminan hari tua.
Namun, tidak semua warga negara mendapatkan jaminan sosial seperti yang sudah diamanatkan
baik dalam UU Nomor 40 tahun 2004 tentang SJSN maupun UU BPJS I dan II yang barus saja
disahkan. Didalamnya terdapat beberapa kelamahan antara lain ; (1) pasal 17 ayat 5 yang
menjelaskan bahwa negara hanya menanggung jaminan kesehatan hanya bagi warga miskin dan
tidak mampu, sedangkan orang tua, anak-anak terlantar dan pengangguran tidak dijelaskan masuk

2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

8

ke golongan mana ; (2) pada tahap pertama iuran atau premi jaminan kesehatan bagi warga miskin
dan tidak mampu dibayarkan oleh pemerintah tetapi untuk selanjutnya tidak disebutkan siapa
yang akan menanggungnya ; (3) jaminan kesehatan hanya diberikan bagi peserta yang sudah
membayar iuran kepesertaan jaminan sosial, sedangkan mereka yang tidak mampu membayar
tidak mendapatkan jaminan kesehatan ; (4) besarnya iuran kepesertaan ditentukan berdasarkan
besarnya upah atau penghasilan para pekerja dan bagi pekerja yang mempunyai anggota keluarga
lebih dari 5 orang harus menambah iuran kepesertaan jaminan kesehatan ; (5) prinsip jaminan
kesehatan dalam sistem jaminan sosial nasional lebih mengarah ke prinsip asuransi sosial dimana
setiap warga negara untuk menjadi peserta harus dibebani dengan iuran.
Saat ini, Indonesia dengan jumlah penduduk tahun 2010 berjumlah 237,5 juta jiwa berdasarkan
data dari Kementerian Kesehatan RI (2011) masih terdapat 116,9 juta jiwa (49,22%) warga negara
yang belum memiliki jaminan kesehatan. Sementara itu jumlah masyarakat yang menjadi peserta
Askes 95,2 juta jiwa, Jamsostek 4,4 juta jiwa, Asabri 2 juta jiwa, asuransi komersial 8,8 juta jiwa
dan badan pelaksana asuransi sebanyak 5 juta jiwa. Pemerintah juga mengalokasikan dalam APBN
sebesar 6,3 triliun Rupiah untuk program jaminan kesehatan masyarakat yang diperuntukkan bagi
warga miskin dan tidak mampu dan juga untuk program jaminan persalinan (jampersal) yang
diperuntukkan bagi pembiayaan persalinan bagi seluruh ibu di Indonesia yang belum memiliki
jaminan kesehatan. Program jampersal ini merupakan program jaminan kesehatan baru yang
diluncurkan sejak bula Januari tahun 2011 yang ditujukan untuk percepatan pencapaian target
Millenium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan dan peningkatan Indeks Pembangunan
Manusia (Human Development Index / HDI) di Indonesia. Jaminan kesehatan masyarakat
diperuntukkan bagi 76,5 juta warga miskin yang telah memiliki kartu jamkesmas sesuai dengan
hasil pendataan terakhir dari Badan Pusat Statistik tahun 2009 ( Kementerian Kesehatan RI ; 2011)
Keanggotaan warga negara dalam berbagi jenis asuransi atau jaminan kesehatan tersebut tentu
saja tidak didapatkan secara gratis atau cuma-cuma, bagi seorang pegawai negeri sipil (PNS) harus
merelakan 2 % dari gaji pokoknya dipotong setiap bulan sebagi iuran kepesertaan dalam asuransi
kesehatan (ASKES), begitupun dengan para pekerja yang menjadai peserta Jamsostek harus rela
membayar iuran kepesertaan setiap bulannya yang besarannya ditentukan berdasarkan besarnya
penghasilan yang diterima setiap bulannya. Hal ini berarti tanggung jawab negara masih sangat
minim dalam penyediaan jaminan kesehatan bagi setiap warga negara karena warga negara masih
harus membayar atau menanggung sendiri iuran kepesertaan dalam jaminan kesehatan yang
seharusnya domain tersebut menjadi tanggung jawab negara sesuai dengan amanat UUD 1945
pasal 27 ayat 2. Mengingat masih banyaknya jumlah warga negara yang belum memiliki jaminan
kesehatan, membuat pemerintah harus lebih cepat mengambil kebijakan untuk mengatasi
masalah tersebut salah satunya melalui kebijakan sistem jaminan sosial nasional bidang jaminan
kesehatan.
JAMINAN KESEHATAN DALAM SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL INDONESIA DI MASA
MENDATANG

2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

9

Seiring dengan akan mulai diberlakukanya sistem jaminan sosial nasional (SJSN) mulai 1 Januari
2014 mendatang, banyak hal yang harus menjadi perhatian banyak pihak baik pemerintah sebagai
penyedia jaminan kesehatan maupun warga negara sebagai penerima manfaat jaminan kesehatan.
Konsekuensinya antara lain jangka waktu pemberlakuan sistem jaminan sosial nasional yang
terhitung masih 3 tahun lagi, adanya peleburan perusahaan asuransi seperti ASKES, JAMSOSTEK,
ASABRI dan TASPEN menjadi badan publik yaitu Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) 1 dan
BPJS 2. Proses peralihan yang memakan waktu lama ini tentu saja memberikan dampak bagi warga
negara yang sudah lebih dulu menjadi peserta jaminan sosial dari perusahaan tersebut.
Besarnya jumlah dana yang dihimpun dalam BPJS saat penggabungan 4 BUMN asuransi nasional
menurut ahli ekonomi seperti yang dimuat dalam situs www.hizbuttharir.com bisa mencapai 190
triliun Rupiah. Besarnya jumlah dana tersebut tentulah sangat menggiurkan banyak pihak yang
terlibat didalamnya, padahal dalam RUU BPJS pasal 8 menyebutkan bahwa BPJS diberi
kewenangan untuk menempatkan dana jaminan sosial untuk investasi jangka pendek dan jangka
panjang dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas, kehati-hatian, keamanan dana
dan hasil yang memadai (www.dprri.go.id). Besarnya kewenangan yang diberikan oleh pemerintah
kepada BPJS dalam pengelolaan dana yang notabene adalah uang peserta asuransi tersebut
mengandung resiko jika ditempatkan dalam bentuk investasi di pasar saham ataupun obligasi
karena jika hal tersebut mengalami permasalahan maka warga negara lagi yang akan menanggung
resiko tersebut karena terancam tidak terpenuhi haknya dalam jaminan sosial.
Masalah lain yang perlu menjadi perhatian bersama dalam pemberlakuan sistem jaminan sosial
nasional adalah kemampuan warga negara dalam membayar iuran kepesertaan dalam jaminan
sosial, padahal dalam penjelasan pasal 4 UU Nomor 40 tahun 2004 menyebutkan bahwa sistem
jaminan sosial nasional menganut prinsip kepesertaan wajib dimana prinsip ini mengharuskan
seluruh penduduk menjadi peserta jaminan sosial yang dilaksanakan secara bertahap. Dalam bab
1 tentang ketentuan umum UU tersebut juga terdapat pasal 8 yang menyebutkan bahwa peserta
jaminan sosial adalah setiap orang termasuk orang asing yang telah bekerja selama minimal
6 bulan di Indonesia dan telah membayar iuran kepesertaan. Padahal tidak semua warga negara
mampu membayar iuran kepesertaan sebagai syarat utama menjadi peserta jaminan sosial.
Kebijakan pemerintah yang hanya membayar iuran kepesertaan bagi warga miskin dan tidak
mampu yang tidak jelas pengkategoriannya membuat sistem jaminan sosial berpotensi
menimbulkan permasalah dimasa mendatang.
Harapan masyarakat dimasa mendatang sistem jaminan sosial baik jaminan kesehatan, jaminan
kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua dan jaminan pensiun sepenuhnya menjadi
tanggung jawab negara dan sepenuhnya dibiayai oleh negara dari APBN yang sumber utamanya
adalah pajak yang notabene berasal dari pajak yang dibayar oleh rakyat. Namun sepertinya
harapan masyarakat tersebut sulit terkabul karena kemampuan keuangan negara yang sangat
kurang untuk membiayai seluruh iuran kepesertaan warga negara dalam sistem jaminan sosial
nasional. Indonesia yang sistem perekonomiannya pada masa mendatang mengarah ke tipe
negara kesejahteraan diharapkan bisa lebih mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan negara
yang bisa digunakan untuk pembiayaan jaminan sosial seluruh warga negara.
2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

10

CATATAN PENUTUP
Berdasarkan diskusi di atas, ada beberapa poin penting yang bisa disimpulkan dalam paper ini.
Pertama, kebijakan jaminan sosial terutama jaminan kesehatan sebagai salah satu instrumen
dalam pembangunan manusia Indonesia sudah dilaksanakan sejak zaman orde baru hingga
sekarang saat masa pemerintahan periode kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terus
mengalami fluktuatif baik dalam hal besarnya jaminan kesehatan maupun bentuk jaminan
kesehatan yang diaplikasikan di masyarakat. Kedua, faktor politik sangat kentara sekali kelihatan
pengaruhnya dalam penetapan kebijakan sistem jaminan sosial nasional dan anggaran negara
dalam APBN dalam pembiayaan jaminan kesehatan warga negara, hal ini dibuktikan dengan
lambannya peberapan sistem jaminan sosial nasional dimana UU SJSN Nomor 40 tahun 2004
sudah disahkan sejak tahun 2004, namun perangkat peraturan pengikutnya belum juga dibuat
hingga sekarang. UU tentang BPJS pun baru pada bulan Oktober 2011 disahkan oleh DPR dan
penerapan sistem jaminan sosial nasional baru mulai akan dilaksanakan pada tanggal 1 Januari
2014. Ketiga, aturan dalam UU SJSN yang menganut prinsip asuransi sosial yang mewajibakan
seluruh warga negara wajib menjadi peserta dan membayar iuran kepesertaan pada BPJS sebagai
syarat utama untuk mendapakan keanggotaan dalam SJSN. Negara hanya menanggung iuran
kepesertaan bagi warga miskin dan tidak mampu yang tidak jelas pengkategoriannya tentang
warga mana saja yang iurannya ditanggung oleh pemerintah
Kebijakan pemerintah dalam penerapan jaminan kesehatan dalam sistem jaminan sosial nasional
dimasa mendatang seharusnya lebih bijak, pada tahap awal penerapan sistem jaminan sosial
nasional hendaknya iuran kepesertaan menjadi tanggung jawab pemerintah mengingat beban
hidup yang harus ditanggung masyarakat pada saat ini sangat tinggi sehingga diasumsikan tidak
mampu menanggung beban iuran kepesertaan jaminan sosial. Dimasa mendatang, pemerintah
dalam menetapkan pembiayaan kesehatan diharapkan telah memenuhi standar minimal 5% dari
PDB dan minimal 15% dalam APBN sehingga sektor kesehatan bisa menjadi salah satu prioritas
dalam pembangunan di Indonesia dan menjamin terpenuhinya hak setiap warga negara untuk
hidup sehat dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

11

Daftar Pustaka
Buku Sumber
Arum Atmawikarta, 2004 “ Investasi Kesehatan Untuk Pembangunan Ekonomi “ Direktorat
Kesehatan dan Gizi Masyarakat, BAPPENAS RI, Jakarta
Azwar, Azrul, 1996, Pengantar Administrasi Kesehatan , Edisi ketiga, Penerbit Binarupa Aksara,
Jakarta
BAPPENAS RI, 2009, “ Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium
Indonesia “, Penerbit BAPPENAS RI, Jakarta
Ghufron, Ali Mukti, 2007. “ Sistem Jaminan Kesehatan : Konsep Desentralisasi Terintegrasi”
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Ghufron, Ali Mukti, 2001. “ Sistem Jaminan Sosial Dalam Otonomi Daerahi” Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Kementerian Kesehatan RI, 2011 “ Alokasi Anggaran Kesehatan 2011 “ Jakarta
Notoatmodjo, Soekidjo, 2005, Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Penerbit Rineka Cipta Jakarta
Prijono Tjiptoherijanto, 1994 “ Ekonomi Kesehatan “ , Penerbit PT. Rineka Cipta Jakarta
PT. Jamsostek ( Persero ) “ Laporan Tahunan 2010 “ Jakarta
Ramli, Lenny, 1996. “ Jaminan Sosial Tenaga Kerja Di Indonesia “ Penerbit Unair Surabaya
Retnandari, Nunuk Dwi, 2011. “ Mengenal Ilmu Ekonomi, Sebagai Dasar Pengambilan Kebijakan
Publik, Yogyakarta

2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

12

Peraturan Perundang-undangan
Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan
Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang sistem jaminan sosial nasional
Website
www.astaqauliyah.wordpress.com, diakses tanggal 11 Nopember 2011
www.depkes.go.id , diakses tanggal 11 Nopember 2011
www.dprri.go.id, diakses tanggal 23 Nopember 2011
www.ekonomirakyat.org, diakses tanggal 23 Nopember 2011
www.fatmaharianty.blogspot.com, diakses tanggal 23 Nopember 2011
www.hizbuttharir.com, diakses tanggal 23 Nopember 2011
www.kompas.com, diakses tanggal 4 Nopember 2011
www.ph_gmu.ac.id, diakses tanggal 11 Nopember 2011
www.radarbanten.com, diakses tanggal 23 Nopember 2011

2011 Jaminan Kesehatan Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional Di Indonesia
Written By H. Kurniawan Arianto, SKM

Dokumen yang terkait

Dokumen baru