EGALITARIANISME DALAM IBADAH HAJI. docx

EGALITARIANISME DALAM IBADAH HAJI
Makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Hadits
Dosen pengampu :
Tadjudin, M.Pd.i

OLEH :
AYU FARAH DHIA SUTIKNO
NIM : 1721143079

KELAS : PAI 2 A

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
TAHUN AKADEMIK 2014 – 2015

1

MUQADDIMAH
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Egalitarianisme
dalam Ibadah Haji”. Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Hadits.
Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita,
nabi agung, nabi besar, Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari
zaman jahiliyyah menuju zaman yang penuh barakah, manfaat, dan zaman
yang penuh akan cahaya ilmu.
Sebagai

sumber

hukum

yang

pokok setelah Al-Qur’an,

Hadits

mempunyai peran dan fungsi yang penting dalam kehidupan masyarakat.
Hadits juga merupakan penjelas dari Al-Qur’an dan menjadi sumber utama
dalam menetapkan hukum dalam Islam. Disebut penjelas karena hadits
menjelaskan ma’na dan kandungan yang ada dalam Al-Qur’an yang sekiranya
belum jelas.

1. Rumusan masalah
1. Bagaimana hadits bab haji yang berhubungan dengan egalitarian?
2. Bagaimana pendapat pakar terkait hadits tersebut?
3. Bagaimana pembahasan dan analisa mengenai egalitarian dalam
ibadah haji?

2. Tujuan masalah
1. Untuk mengetahui hadits bab haji yang berhubungan dengan
egalitarian.

2

2. Untuk mengetahui pendapat pakar terkait hadits tersebut.
3. Untuk mengetahui dan memahami pembahasan dan analisa mengenai
egalitarian dalam ibadah haji.

PEMBAHASAN
A. Hadits Bab Haji yang Terkait dengan Egalitarian

~‫ قال‬:‫حديث ابن عمر ~ رضي الله عنهما~ قال‬
‫ بني السإلما على‬:‫رسإول الله صلى الله عليه وسإلم‬
‫دا رسإول اللهه‬
‫م د‬
‫ه وأ ن‬
‫ شهادةه أ ن‬:‫خمس‬
‫ن مح م‬
‫ن لإله إلل ه‬
‫ن‬
‫ج وصوما ه رمضا ن‬
‫صلةه وإيتانء النزكَّاةه ولح ج‬
‫وإقاما ه ا ن‬.
[‫ب‬
‫{ با ب‬2} ِ،‫ن‬
‫{ كَّتاب اليما ه‬2} :‫أخرجه البخاري في‬
‫]دعاؤكَّم إيما نكم‬
Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra,ia berkata, Rasulullah saw
bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu: Kesaksian bahwa
tidak ada Ilah yang hak diibadahi selain Allah dan Muhammad saw
adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan shaum
Ramadhan.” (Disebutkan oleh Al-Bukhari pada kitab ke-2 Kitab Iman,
bab ke-2 Bab Doa Kalian Adalah Iman Kalian) 1

‫ن رج د‬
~‫ل‬
‫حديث عبدالله بن عمر ~ رضي الله عنهما~ أ م‬
‫ن الث جنياب قال‬
‫قال يا رسإول الله ما يلبس المحرما م ن‬
‫ ل يلبس القمص ول‬:‫رسإول الله صلى الله عليه وسإلم‬
‫ِ إل م‬،‫سراويلتا ول البرانس ول الخفاف‬
‫العمائم ول ال م‬
‫ِ وليقطعهما أسإفل من‬،‫فين‬
‫أحد ل يجد نعلين فليلبس خ م‬
1 Abdul baqi’, Kumpulan Hadits Shahih Bukhari Muslim Al-Lu’lu’ wal Marjan, (Solo:Insan
Kamil,2011),hal.11.

3

‫سه المزعفران أو‬
‫ِ ول تلبسوا من الثياب شيئا د م م‬،‫الكعبين‬
‫ورس‬.
[ ‫{ باب‬21} :‫{ كَّتاب الحج‬25} :‫أخرجه البخاري في‬
‫]ما ل يلبس المحرما من الثياب‬
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a , bahwa ada seorang lakilaki yang bertanya “Wahai Rasulullah, pakaian apa yang dikenakan oleh
orang yang sedang berihram?” Rasulullah saw bersabda, “ia tidak boleh
memakai gamis, sorban, celana pendek, pakaian yang bertudung
kepala, dan sarung kaki, kecuali orang yang tidak bisa mendapatkan
sandal hendaklah ia mengenakan sarung kaki dan potonglah agar lebih
pendek dari kedua mata kaki. Dan janganlah kalian memakai pakaian
yang dicelup dengan safron (kunyit) atau wars.” (Disebutkan oleh AlBukhari pada kitab ke-25 Kitab Haji, bab ke-21 Bab Pakaian yang TIdak
Boleh Dipakai Oleh Orang yang Sedang Berihram) 2

B. Pendapat Pakar
Dalam hadits yang tersebut pada point A disimpulkan bahwa bila
seorang laki-laki akan melakukan ihram, maka hendaknya melepaskan
pakaian yang berjahit. Ada perbedaan pendapat mengenai hukum dari
pakaian yang tidak berjahit. Menurut Imam Rofi’I, wajib melepas pakaian yang
berjahit. Imam Nawawi juga merasa mantap dengan pendapat ini
sebagaimana tersebut dalam kitab Syarah Muhazzab. Tapi apa yang tersebut
dalam kitab Muharror dan Minhaj dapat dipahami bahwa melepas pakaian
yang berjahit itu sunnah, dan hal ini ditegaskan oleh Imam Nawawi dalam
kitab Manasiknya.3
C. Egalitarian dalam Ibadah Haji
Haji berasal dari bahasa arab ( ‫ )الحج‬Menurut bahasa ialah tujuan.
Sedangkan menurut syariat ialah menuju ke Baitullah untuk melakukan amal.
Haji merupakan salah satu rukun (tiang agama) Islam setelah syahadat,
sholat, puasa, zakat. Perintah haji juga terdapat pada Kalamullah,

2 Ibid., hlm 307.
3 Abubakar Alhusaini, Kifayatul Akhyar, (Surabaya:Bina Ilmu), hlm. 521

4

‫ج يأتوك هرجال د و على كَّ ج‬
‫و أذ م ن فى المناس بالح م‬
‫ل ضامرر‬
‫}يأتين من كَّ ج‬
‫ الحج‬: 22} .‫ق‬
‫ج عن ه‬
‫لف ج‬
‫مي ر‬
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan
datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang
kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh”, 4 (Q.S Al-Hajj : 27)
Sedangkan egalitarian adalah suatu paham bahwa semua orang sama
rata dan dengan itu maka semua orang mendapat hak dan peluang yang
sama.5
Sesungguhnya Allah swt dalam ibadah-ibadah kolektif mengisyaratkan
untuk bersatu, berkumpul dalam satu kalimat, dan kaum muslimin berdiri
berbaris dengan bahu saling berhimpitan. Hal ini juga mengisyaratkan rasa
persaudaraan di antara umat Islam, saling memberi rasa cinta dan
mengokohkan tali persaudaraan.
Dalam hadits kedua yang disebut pada point A, dapat diambil
kesimpulan bahwa setiap umat Muslim yang melaksanakan ibadah haji harus
menggunakan pakaian yang serupa, yaitu pakaian yang tidak berjahit.
Perintah ini berlaku untuk semua umat muslim dengan tidak memandang
status sosialnya apakah dia dari kalangan terhormat atau tidak, kaya, miskin,
jabatan, serta pekerjaan tidak menjadi pembeda dalam memperoleh hak dan
kewajiban dalam pelaksanaan ibadah haji.
Dan pada pendapat pakar menyebutkan mengenai hukum perintah
berpakaian tersebut selain sebagai perintah, cara berpakaian juga
mengajarkan kesopanan, kerendahan hati dan merasa hina. Semua jama’ah
haji dari berbagai negara dengan banyak perbedaan secara lahir maupun
bathin serta bahasa yang berbeda berkumpul dalam satu tempat yang
dimuliakan oleh Allah SWT, menyebut dan memuji-Nya dengan harapan dan
tujuan yang sama yaitu ridho Ilahi. Jamaah akan merasa dirinya sangat hina
dihadapan Tuhannya. Seolah-olah
dalam keadaan demikian ia ingin
mengatakan: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku tidak memiliki apa-apa dari
diriku. Dan sesungguhnya segala sesuatu yang ada di alam ini, aku tidak
memiliki sesumbupun. Sesungguhnya Engkaulah Pemilik dari semua yang
ada dan yang akan ada. Dan inilah aku, ya Allah, sedang berdiri di hadapanMu, seperti pada hari ketika ibuku melahirkanku. Aku tidak memiliki apapun
dari kekayaan dunia kecuali pakaian yang hanya bisa aku pakai untuk sekedar
menutup aurat.”6
Seorang yang menyengaja berhaji, lalu bertaubat kepada Allah dan
berniat tidak mengulangi dosa-dosa dan kefasikan lagi. Pada saat nafsunya
membujuk untuk melakukan dosa, maka ia akan memerangi nafsu itu dan
4 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Pustaka Assalam, 2010)
5 V3nbaesy, http://v3nbaesy.blogspot.in/2010/04/egalitarian-atau-egalitarianisme_06.html
6 Sunarto, 161 Hikmah Dibalik Ajaran Islam, (Surabaya:Karya Agung,2010), hlm., 248.

5

melepaskan diri dari nafsu yang selalu membawa kepada keburukan. Selain
itu ia juga berusaha melakukan pengekangan terhadap nafsunya. Dalam
keadaan demikian, ia akan terus merasa takut kepada Allah swt dan selalu
merasa bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap hamba-Nya.
Sesungguhnya banyak pelajaran yang dapat diambil dari ibadah haji,
mulai dari bersabar terhadap diri sendiri sampai bersabar terhadap orang lain
karena tidak sedikit yang melaksanakan ibadah haji sehingga tidak jarang bila
jama’ah saling berebut tempat untuk menunaikan ibadahnya. Bertengkar pun
dilarang saat melaksanakan ibadah ini dan nafsu yang harus dilawan agar
ibadah berjalan dengan baik. Pendidikan akhlak ini tidak hanya diamalkan
saat ibadah haji saja namun diamalkan juga sepulang dari tanah suci. Sebab
itu akan sangat baik bila bila perbaikan akhlak saat haji menjadi kepribadian
yang baru dari umat muslim.

PENUTUP

Kesimpulan

Ibadah haji merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Ibadah ini
mengisyaratkan untuk bersatu, berkumpul dalam satu kalimat, mengisyaratkan
rasa persaudaraan di antara umat Islam dan memperkuat tali persaudaraan.
Banyak pelajaran yang dapat diambil dari ibadah haji, setiap pelaksanaannya
mengandung hikmah, salah satunya perintah berpakaian saat umrah. Perintah
ini disampaikan oleh Rasulullah saw. Selain sebagai perintah, cara berpakaian
juga mengajarkan kesopanan, kerendahan hati dan merasa hina. Seorang yang
berhaji dan bertaubat kepada Allah swt dengan sungguh-sungguh dan
berusaha untuk mengabaikan keinginan nafsunya demi mendapat keridhaan
Allah swt, akan mendapat pendidikan akhlak yang tak terganti dengan apapun.
Pelajaran dan latihan ini dapat menjadikan kepribadian orang yang
melaksanakannya menjadi lebih baik.

6

DAFTAR PUSTAKA

Alhusaini, Abubakar. Kifayatul Akhyar. Surabaya:Bina Ilmu.
Baqi’, Abdul.2011. kumpulan Hadits Shahih Bukhari Muslim Al-Lu’lu’ wal Marjan.
Solo:Insan Kamil.
Departemen Agama RI.2010. al-Qur’an dan Terjemahnya. Pustaka Salam.
Sunarto, Achmad.2010. 161 Hikmah Dibalik Ajaran Islam. Surabaya: Karya
Agung.
V3nbaesy, http://v3nbaesy.blogspot.in/2010/04/egalitarian-atauegalitarianisme_06.html

7

Dokumen yang terkait

Dokumen baru