PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PERILAKU BERMAIN ANAK BERDASARKAN GENDER:(Studi Fenomenologi pada Orang Tua yang Memiliki Anak Usia di bawah Enam Tahun di Kecamatan Cicalengka).

No. Daftar. 07/PGPAUD/I/2015

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PERILAKU BERMAIN
ANAK BERDASARKAN GENDER
(Studi Fenomenologi pada Orang Tua yang Memiliki Anak Usia di bawah Enam
Tahun di Kecamatan Cicalengka)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program
Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

Disusun oleh
FITRI NURIANTI WIJAYA
1003509

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
DEPARTEMEN PEDAGOGIK
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015

Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku
Bermain Anak Berdasarkan Gender
(Studi Fenomenologi pada Orang Tua yang Memiliki Anak Usia di bawah Enam
Tahun di Kecamatan Cicalengka)

Oleh
Fitri Nurianti Wijaya

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana
pada Fakultas Ilmu Pendidikan

© Fitri Nurianti Wijaya 2015
Universitas Pendidikan Indonesia
Januari 2015

Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,
dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.

LEMBAR PENGESAHAN
FITRI NURIANTI WIJAYA
PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PERILAKU BERMAIN ANAK
BERDASARKAN GENDER
(Studi Fenomenologi pada Orang Tua yang Memiliki Anak Usia di bawah Enam Tahun
di Kecamatan Cicalengka)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:
Pembimbing I

Vina Adriany, M. Ed., Ph. D
NIP. 1976012620033122001

Pembimbing II

Cucu Eliyawati, M. Pd
NIP. 197010221998022001

Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia

Dr. Ocih Setiasih, M. Pd
NIP. 196007071986012001

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI
PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PERILAKU BERMAIN ANAK
BERDASARKAN GENDER
(Studi Fenomenologi pada Orang Tua yang Memiliki Anak Usia di bawah Enam Tahun
di Kecamatan Cicalengka)

Oleh:
Fitri Nurianti Wijaya
1003509

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:
Penguji I

Penguji II

I Gusti Komang A., M. Hum

Dr. Badru Zaman, M. Pd

NIP. 197703122008121001

NIP. 197408062001121002
Penguji III

Dr. Nur Faizah Romadona, M. Kes
NIP. 197011292003122001

Mengetahui,
Ketua Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia

Dr. Ocih Setiasih, M. Pd
NIP. 196007071986012001

ABSTRAK

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PERILAKU BERMAIN ANAK
BERDASARKAN GENDER
(Studi Fenomenologi pada Orang Tua yang Memiliki Anak Usia di bawah Enam Tahun
di Kecamatan Cicalengka)
Fitri Nurianti Wijaya
1003509
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya setiap anak mendapatkan
kesempatan dan kebebasan melakukan berbagai kegiatan bermain tanpa adanya
pengelompokkan kegiatan bermain yang diberi label khusus untuk gender tertentu.
Berkaitan dengan hal tersebut, orang tua sebagai lingkungan terdekat anak dalam hal ini
memegang peranan yang penting dalam kegiatan bermain dan perkembangan anak
khususnya perkembangan gender. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah studi fenomenologi. Penentuan subjek dalam penelitian ini dilakukan secara
purposive, subjek penelitian berjumlah empat orang yang terdiri dari dua pasangan orang
tua yang memiliki anak laki-laki maupun perempuan dengan usia di bawah enam tahun.
Penelitian ini mencoba mendapatkan berbagai pemahaman orang tua secara mendalam
tentang perilaku bermain anak berdasarkan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemahaman tentang kegiatan bermain berdasarkan gender, orang tua memahami
konstruksi anak laki-laki dan perempuan dengan peran gender laki-laki dan perempuan
yang berlaku di masyarakat. Hal ini yang kemudian menjadikan orang tua memberi label
bahwa kegiatan bermain memiliki kekhususan bagi gender tertentu saja. Orang tua
merasa khawatir bahwa kegiatan bermain yang tidak sesuai dengan gender yang dipahami
orang tua akan memberikan dampak terhadap perilaku anak di masa mendatang.
Rekomendasi dari penelitian ini ditujukkan bagi orang tua serta bagi setiap orang yang
berkepentingan dengan anak usia dini untuk memberikan kesempatan kepada anak
melakukan berbagai kegiatan bermain lintas gender sekalipun. Hal ini karena setiap anak
berhak mendapat kesempatan kegiatan bermain yang bervariatif untuk menambah
pengetahuan serta kaya dengan pengalaman.
Kata kunci: Orang tua, kegiatan bermain, gender.

i
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

ABSTRACT

PARENTS PERCEPTION OF CHILDREN PLAY BEHAVIOR BY GENDER
(Phenomenological Study on Parents Who Have Children Under Six Years of Age in the
District Cicalengka)

Fitri Nurianti Wijaya
1003509

This research is motivated by the importance of each child gets the opportunity
and freedom to do various activities play without grouping play activities specifically
labeled for a specific gender. In this regard, the child's parents as the immediate
environment in which it plays a crucial role in the development of children's play
activities and in particular the development of a gender. The method used in this research
is the study of phenomenology. Determination of the subjects in this study was
purposively, research subjects were four people consisting of two pairs of parents who
have boys and girls under the age of six years. This study tried to get a variety of in-depth
understanding of parents on children's play behavior by gender. The results showed that
an understanding of the play activities based on gender, parents understand the
construction of boys and girls with gender roles of men and women in society. This then
makes the label that parents play activities have specificity for a particular gender.
Parents are concerned that the play activities that do not conform to gender is understood
parents will have an impact on children's behavior in the future. Recommendations from
this study ditujukkan for parents and for everyone with an interest in early childhood to
give children the opportunity to perform various activities of cross-gender play though.
This is because every child is entitled to an opportunity to play the varied activities to
increase knowledge and rich experience.
Keywords: Parents, play activities, gender.

ii
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN
LEMBAR PERSEMBAHAN
ABSTRAK..............................................................................................

i

KATA PENGANTAR.............................................................................

ii

UCAPAN TERIMA KASIH.................................................................

iii

DAFTAR ISI .........................................................................................

v

DAFTAR TABEL..................................................................................

viii

DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................

ix

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................

1

B. Rumusan Masalah.......................................................

5

C. Tujuan Penelitian.................................................... ....

5

D. Manfaat Penelitian..................................................... .

5

E. Sistematika Penelitian..................................................

5

BAB II KAJIAN TEORI
A. Persepsi.............................................................. ...........

7

1. Definisi Persepsi.....................................................

7

2. Mekanisme Persepsi...............................................

8

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi...........

8

B. Gender.........................................................................

10

1. Definisi Gender.....................................................

10

2. Identitas Gender....................................................

12

v
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

3. Teori-teori Perkembangan Gender.........................

12

4. Perbedaan antara Laki-laki dan Perempuan...........

15

5. Gender dan Budaya...............................................

16

6. Pandangan Agama Tentang Gender.......................

19

C. Bermain..........................................................................

21

1. Definisi Bermain......................................................

21

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bermain............

21

3. Perbedaan Gender dalam Bermain..........................

24

4. Peran Orang Tua Dalam Kegiatan Bermain
Berdasarkan Gender.................................................

26

D. Penelitian Terdahulu.......................................................

28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian..........................................................

29

B. Desain Penelitian....................................................... ....

29

C. Penjelasan Istilah.......................................................... .

30

D. Lokasi dan Subjek Penelitian........................................

31

E. Instrumen Penelitian..................................................... .

32

F. Teknik Pengumpulan Data...........................................

33

G. Analisis Data.................................................................

35

H. Uji Validitas dan Reabilitas.......................................... .

40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Subjek Orang Tua...............................

45

B. Hasil Penelitian................................... .........................

46

C. Pemahaman Orang Tua tentang Gender Anak.............

46

D. Pemahaman Orang Tua tentang Perilaku Bermain Anak
Berdasarkan Gender.......................................................
E. Peran Orang Tua dalam Kegiatan Bermain Anak
vi
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

51

Berdasarkan Gender.......................................................

60

F. Pembahasan....................................................................

62

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan........................................................................

68

B. Rekomendasi.................................................................

69

DAFTAR PUSTAKA..... ........................................................................ ..

71

LAMPIRAN.............................................................................................

75

vii
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak usia dini adalah investasi yang amat berharga bagi keluarga
dan aset penting penerus generasi bangsa. Pada rentang usia 0-6 tahun ini
anak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat
(Suyanto, 2005:7). Gender merupakan salah satu aspek penting yang
mempengaruhi

perkembangan

sosial pada

masa

awal kanak-kanak

(Desmita, 2005: 146). Perkembangan identitas gender menurut Papalia,
dkk

(2008:373) adalah kesadaran seseorang menjadi laki-laki atau

perempuan dan implikasinya dalam kehidupan di masyarakat.
Martin (2011) berpendapat bahwa perkembangan identitas gender
pada anak usia dua tahun mempelajari gender dari lingkungan sosial
dimana anak dibesarkan. Rogof (dalam Sheridan, 2011: 61) menjelaskan
bahwa anak mendapatkan pemahaman tentang gender dengan cara meniru
apa yang mereka lihat di lingkungan rumah, lingkungan sosial dan televisi
yang memperkuat pengetahuan gender mereka.
Seifert dan Hoffnung (dalam Desmita, 2005:147) mengemukakan
pada usia ini anak belum memahami ketetapan gender (gender constancy).
Konsepnya tentang gender lebih didasarkan pada ciri-ciri fisik, seperti
pakaian, model rambut, atau jenis permainan. Menurut Upton (2012: 203)
setelah anak menyadari bahwa terdapat dua gender dan anak mengetahui
dirinya adalah anggota salah satu gender, mereka mulai menunjukkan
motivasi yang jelas untuk berperilaku dengan cara yang seharusnya
anggota gender tersebut berperilaku, baik dalam hal berpakaian, memilih
teman, aktivitas, dan mainan-mainan yang sesuai dengan label tersebut.
Fenomena yang sering kita lihat di lapangan perilaku bermain pada
anak perempuan dan laki-laki menunjukkan perbedaan. Dalam sebuah
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

2

studi Ridgers, dkk. (dalam Upton, 2012: 144) mengungkapkan bahwa anak
perempuan terlibat dalam 13,8% aktivitas yang lebih banyak duduk dan
8,2% aktivitas yang kurang bertenaga dibandingkan teman sebaya laki-laki
mereka pada saat istirahat.
Ruble dan Ruble (dalam Desmita, 2005: 147) menyebutkan anakanak usia antara 2 dan 3 tahun, mempelajari stereotip gender konvensional
yang dihubungkan dengan berbagai aktivitas dan objek-objek umum. Pada
usia ini anak menunjukkan ketertarikan yang lebih besar kepada boneka
dan anak laki-laki menunjukkan ketertarikannya kepada mobil, dan kedua
jenis kelamin tersebut memilih untuk bersama dengan yang berjenis
kelamin sama. Mereka belajar mengasosiasikan gender dari lingkungan
dengan permainan umum, seperti misalnya bermain mobil-mobilan adalah
“untuk anak laki-laki” dan boneka “untuk anak perempuan”.
Orang tua sebagai lingkungan terdekat anak ikut berperan dalam
menentukan permainan bagi anak baik itu aktivitas maupun teman
bermain. Menurut Ladd, dkk (dalam Santrock, 2007: 164) orang tua
memainkan peran penting dalam membantu perkembangan anak dengan
memulai kontak antara anak dengan teman bermainnya yang potensial.
Selain itu, tidak sedikit orang tua memilih jenis permainan yang pantas
dimainkan oleh anaknya, meski terkadang anak tidak tertarik dengan
mainan yang dipilihkan orang tua.
Hasil penelitian di Ash Vale (Martin, 2011: 31) menyebutkan
bahwa anak laki-laki bermain menjadi superhero dan pertempuran, sepak
bola, bermain mobil, bermain konstruksi,

dan biasanya menghindari

kontak fisik dengan anak perempuan. Benenson (dalam Papalia, dkk,
2008: 389) menjelaskan bahwa anak perempuan cenderung kepada
permainan yang lebih tenang dengan satu teman bermain. Menurut
Patmonodewo

(2003:111)

perbedaan

tersebut

disebabkan

karena

pengasuhan yang berbeda sejak anak dilahirkan. Hal-hal tersebut di atas
yang dapat menjelaskan mengapa mereka kemudian bermain secara
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

3

berbeda, dari cara orang tua mengasuh dan menuntut mereka masingmasing sehingga tingkah laku mereka dalam bermain akan sama atau
berbeda.
Orang

tua

cenderung

mengharuskan

anak

untuk

melakukan

kegiatan bermain yang sesuai dengan gendernya. Kegiatan bermain yang
memiliki kekhususan terhadap gender tertentu ini merupakan konsep yang
dibangun oleh pemahaman orang tua dan budaya setempat. Matsumoto
(dalam Dewi dan Idrus, 2011:3) menjelaskan bahwa proses pewarisan nilai
ini pada akhirnya akan menjadikan anak terus memegang ajaran apa yang
harus

dilakukan

oleh

anak

laki-laki dan

apa

yang

tidak

boleh

dilakukannya, demikian juga untuk anak perempuan ada seperangkat
aturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, konsep ini belakang dikenal
dengan ideologi peran gender (gender role ideology).
Menurut Idrus dalam (Dana, 2014: 13) lingkungan masyarakat
serta budaya setempat juga turut andil dalam perbedaan peran gender.
Salah satunya dalam menilai permainan anak, bahwa permainan tertentu
memiliki

kekhususan

untuk

gender

tertentu,

akibatnya

dunia

anak

dibangun dari perspektif orang dewasa. Pemahaman orang tua tentang
perkembangan

gender

ini memberikan

kontribusi terhadap

kegiatan

bermain anak.
Orang tua juga menunjukkan reaksi terhadap pemilihan kegiatan
bermain yang tidak sesuai dengan kekhususan gender tertentu. Hal ini
seperti dikemukakan oleh Sandnabba & Ahlberg

dalam (Papalia, dkk,

2008: 382) orang tua, terutama sang ayah, cenderung menunjukkan
ketidaknyamanan ketika anak laki-laki bermain boneka dibandingkan
ketika anak perempuan bermain. Anak perempuan memiliki lebih banyak
kebebasan dalam pakaian, mainan, dan pemilihan teman main mereka
dibandingkan dengan anak laki-laki.
Kegiatan

bermain

yang

identik

bagi

gender

tertentu

saja

menjadikan kesempatan anak bereksplorasi menjadi terbatas. Orang tua
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

4

seharusnya lebih banyak memberikan kesempatan pada anak untuk
menentukan berbagai pilihan kegiatan bermain. Fleer (dalam Miu, 2005:2)
menekankan bahwa potensi individu tidak

dapat direalisasikan jika

dibatasi gender. Posisi anak dalam peran gender tradisional mempersempit
asumsi alternatif posisi yang mungkin lebih kondusif untuk belajar dan
memaksimalkan potensi individu. Bukan hanya orang tua yang berperan
dalam kegiatan bermain anak,
menunjukkan

bahwa

banyak

MacNaughton (dalam Miu, 2005:2)
guru

melakukan

tidak

memperhatikan

pentingnya gender dalam pembelajaran anak-anak, akibatnya banyak
program anak usia dini tidak sensitif gender untuk meningkatkan kualitas
hidup dan pilihan bagi anak-anak.
Hal ini menunjukkan bagaimana persepsi orang tua tentang
pemahaman gender berperan dalam perilaku bermain anak. Fokus pada
penelitian ini yaitu untuk melihat bagaimana perilaku bermain anak
dipengaruhi oleh pemahaman orang tua yang memberikan label adanya
kegiatan bermain yang khusus bagi gender tertentu saja serta peran orang
tua dalam menentukan kegiatan bermain yang dilakukan oleh anak,
padahal setiap anak berhak mendapatkan kesempatan bermain yang
seluas-luasnya tanpa adanya label kegiatan bermain yang khusus bagi
gender tertentu agar kaya pengetahuan dan pengalaman.

Penelitian ini

mengambil subjek orang tua yang berada di daerah terpencil dikarenakan
masyarakatnya masih memegang nilai-nilai atau kelaziman budaya yang
berlaku di daerahnya sehingga masih bersifat konvensional terhadap halhal yang tidak biasa atau hal yang baru jika dibandingkan dengan
masyarakat yang tinggal di perkotaan yang lebih terbuka terhadap hal-hal
yang baru. Berdasarkan permasalahan yang berkembang di atas, maka
penelitian ini memfokuskan kajian pada “Persepsi Orang Tua Terhadap
Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender.”

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

5

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini dituangkan ke dalam pertanyaan
penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana pemahaman orang tua tentang konstruksi gender anak laki-laki
dan perempuan?
2. Bagaimana

pemahaman

orang

tua

tentang

perilaku

bermain

anak

berdasarkan gender?
3. Bagaimana peran orang tua dalam kegiatan bermain anak?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pemahaman orang tua tentang konstruksi gender anak
laki-laki dan perempuan.
2. Untuk mengetahui pemahaman orang tua tentang perilaku bermain anak
berdasarkan gender.
3. Untuk mengetahui peran orang tua dalam kegiatan bermain anak.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pihakpihak yang berkaitan dengan anak usia dini untuk memperoleh kajian
keilmuan

mengenai bagaimana

persepsi orang tua

tentang perilaku

bermain anak berdasarkan gender.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini dapat memberi masukan bagi pembaca dalam
menyikapi perilaku bermain anak berdasarkan gender.
E. Sistematika Penulisan
Penyusunan skripsi terdiri dari lima bagian yang terdiri dari:
Bab pertama menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode penelitian dan sistematika
penulisan.
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

6

Bab kedua memaparkan tentang landsan teoritik mengenai konsep
perkembangan

gender

anak

dan

bagaimana

gender

mempengaruhi

bermain.
Bab ketiga berisi penjabaran lebih rinci tentang metode penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode ethnografi. Semua
prosedur

serta

tahap-tahap

penelitian

mulai dari persiapan

hingga

penelitian berakhir.
Bab keempat mendeskripsikan proses pelaksanaan penelitian, hasil
temuan penelitian, bagian analisis dan pembahasan mengenai hasil temuan
penelitian, dimana pada bab ini mencoba menelaah persepsi orang tua
tentang perilaku bermain anak berdsarkan gender.
Bab

kelima

memaparkan

kesimpulan

terhadap

semua

hasil

penelitian yang diperoleh dan rekomendasi yang berdasarkan pada hasil
penelitian.

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

29

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Berdasarkan

permasalahan

yang

telah

di

jelaskan,

metode

penelitian yang tepat untuk

dilakukan adalah dengan menggunakan

metode

Menurut

penelitian

kualitatif.

Denzin

dan

Lincoln

(dalam

Moleong, 2007: 5) metode penelitian kualitatif adalah penelitian yang
menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang
terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.
Sedangkan Sukmadinata (2011: 60) mendefinisikan penelitian kualitatif
merupakan

penelitian

yang

ditujukan

untuk

mendeskripsikan

dan

menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan,
persepsi, pemikiran orang secara individual.
Creswell (2013:44) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai
sebuah penelitian untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia
berdasarkan pada penciptaan gambar holistik yang dibentuk dengan katakata, melaporkan pandangan informan secara terperinci, dan disusun
dalam sebuah latar ilmiah.
Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan tujuan untuk
mendapatkan pemahaman orang tua yang lebih luas dan mendalam
terhadap isu-isu gender dalam kegiatan bermain yang berkembang di
masyarakat serta sejauh mana pandangan orang tua tentang adanya
perbedaan kegiatan perilaku bermain anak perempuan dan laki-laki.
B. Desain Penelitian
Kajian penelitian yang dibahas oleh penulis adalah tentang persepsi
orang tua tentang

perilaku bermain anak berdasarkan gender. Penelitian

kualitatif yang dilakukan untuk mendalami persepsi seseorang tentang
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

30

sesuatu

hal

adalah

fenomenologi.

Fenomenologi

adalah

penelitian

kualitatif yang mencakup fenomena yang berada di luar itu, seperti
persepsi, pemikiran, kemauan, dan keyakinan subjek tentang “sesuatu” di
luar

dirinya

(Idrus,

2009:59).

Tujuan

dari penelitian

fenomenologi

menurut Sukmadinata (2011: 63) adalah untuk mencari atau menemukan
makna dari hal-hal yang esensial atau mendasar dari pengalaman hidup.
Fenomenologi

berupaya memahami pikiran manusia terhadap

fenomena yang muncul dalam kesadarannya dan memahami fenomena
yang dialami manusia dan dianggap sebagai entitas yang ada di dunia.
Fenomenologi tidak berusaha untuk mencari pendapat benar dan salah,
tetapi untuk mereduksi kesadaran manusia dalam memahami fenomena
yang tampak dihadapannya (Kuswarno, 2008:21).
Penelitian
setting alamiah

dengan

pendekatan

fenomenologi

dilakukan

dalam

yang bertujuan untuk memahami pengalaman hidup

subjek dan kebermaknaannya dimana posisi subjek disini tidak dapat
dipisahkan dari lingkungannya. Ini diartikan bahwa fenomena-fenomena
yang dipahami subjek tidak dipengaruhi oleh apapun yang berasal di luar
dari dirinya, termasuk peneliti sekalipun. Hal ini sesuai dengan tujuan
fenomenologi itu sendiri, yaitu kembali pada realitas yang ada (Creswell,
2013).
Hal ini yang kemudian menjadi pilihan dari peneliti untuk
memahami persepsi orang tua tentang perilaku bermain anak berdasarkan
gender tanpa khawatir adanya intervensi atau pengaruh dari hal apapun
dan hanya terfokus pada sudut pandang subjek.
C. Penjelasan Istilah
1. Persepsi
Persepsi yang dimaksud disini adalah pandangan orang tua serta sikap
yang dilakukan oleh orang tua terhadap perilaku bermain anak
berdasarkan gender melalui pengamatan yang telah dialami.

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

31

2. Orang tua
Orang tua dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak
usia di bawah enam tahun baik itu laki-laki ataupun perempuan.
3. Perilaku Bermain
Perilaku bermain maksudnya adalah kegiatan atau tindakan anak
dalam kegiatan bermain yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Gender
Gender dalam penelitian ini berkaitan dengan bagaimana seharusnya
laki-laki dan perempuan bertindak sesuai dengan nilai-nilai budaya
setempat.
D. Lokasi dan Subjek Penelitian
Penentuan sumber data dalam penelitian ini dilakukan secara
purposive, yaitu teknik pemilihan sekelompok subjek yang didasarkan atas
ciri-ciri tertentu atau kriteria tertentu yang dianggap sesuai dengan tujuan
penelitian yang diharapkan penulis (Sukmadinata, 2011: 101). Selain itu,
pemilihan subjek tidak ada unsur pemaksaan namun atas dasar kesediaan
subjek menjadi informan dalam penelitian ini. Alasan lain yang mendasari
peneliti memilih subjek yang sudah dikenal sebelumnya adalah untuk
memiliki hubungan baik sebelumnya, sehingga peneliti tidak terlalu sulit
membangun hubungan terutama untuk mendapatkan banyak informasi
yang dibutuhkan selama penelitian.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sukmadinata (2011: 217)
bahwa keterbukaan responden untuk memberikan jawaban atau respon
secara objektif sangat ditentukan oleh hubungan baik yang tercipta antara
pewawancara dengan responden.
Penelitian ini mengambil subjek yaitu orang tua yang memiliki
anak, baik itu perempuan atau laki-laki yang berusia kurang dari enam
tahun. Penelitian dilakukan pada dua orang tua, yaitu pada ayah dan ibu
yang memiliki anak perempuan atau anak laki-laki usia di bawah enam

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

32

tahun. Jumlah sampel bergantung kepada kebutuhan dan tujuan dari
penelitian tersebut, juga disesuaikan dengan kesediaan sumber dan waktu.
Menurut Daymon dan Holloway (dalam Reza, 2012: 25) menjelaskan
bahwa dalam fenomenologi jumlah subjek bukan masalah karena hasil
dari penelitian bukan berupa generalisasi melainkan esensi dan gejala.
Kedua partisipan ini adalah dua keluarga berbeda yang memiliki
lokasi tempat tinggal yang berdekatan, yakni di Cicalengka, Kabupaten
Bandung.

Dalam

proses

penelitian,

Ary

(dalam

Gina,

2014:21)

menyebutkan subjek memiliki hak untuk tetap dijaga kerahasiannya untuk
menciptakan kenyamanan sehingga peneliti memberikan nama samaran
pada setiap subjek.
Adapun penjelasan mengenai partisipan antara lain sebagai berikut:
1. Subjek 1 yaitu Ibu Heti dan subjek 2 yaitu Bapak Nawan. Ibu Heti dan
Bapak Nawan ini adalah orang tua yang memiliki 3 orang anak, yaitu
dua anak perempuan dan satu anak laki-laki. Anak bungsu dari
pasangan orang tua ini berusia lima tahun dan berjenis kelamin lakilaki. Bapak Nawan pemiliki salah satu toko meubel di Cicalengka dan
Ibu Heti adalah seorang ibu rumah tangga.
2. Subjek 3 yaitu Ibu Eva dan subjek 4 yaitu Bapak Adin. Ibu Eva dan
Bapak Nawan ini adalah orang tua yang memiliki enam orang anak,
yaitu tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Subjek 2 memiliki
anak yang berusia lima tahun dan berjenis kelamin perempuan. Baik
Ibu Eva maupun Bapak Adin berprofesi sebagai Kepala Sekolah di di
salah satu sekolah di Cicalengka.

E. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian kualitatif dikenal dengan istilah human
instrument, yang artinya dalam penelitian kualitatif si peneliti sendiri yang
bertindak sebagai instrumen penelitian (Idrus, 2009: 112). Kedudukan
peneliti cukup rumit, yaitu sebagai perencana, pelaksana pengumpulan
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

33

data, analis penafsir data, dan pelapor hasil penelitiannya. Pengertian
instrumen penelitian disini adalah alat pengumpulan data seperti pada tes
kuantitatif (Moleong, 2007: 168).
Data penelitian kualitatif bukan hanya sekedar terkait dengan katakata, tetapi sesungguhnya yang dimaksud adalah segala sesuatu yang
diperoleh dari yang dilihat, didengar, dan diamati. Data atau informasi
yang dicari oleh peneliti hendaknya tidak dibatasi pada data tertentu saja
sebab variasi data yang didapatkan peneliti akan menjadikan penelitian
memiliki daya dukung validitas dan reabilitas yang tinggi (Idrus, 2009:
113). Sehingga diharapkan peneliti dapat lebih peka dalam menggali
permasalahan-permasalahan yang muncul pada saat penelitian, dan juga
peneliti dapat bersikap netral.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, Creswell
(2013: 157-158) menyebutkan bahwa bentuk-bentuk baru dari teknik
pengumpulan data kualitatif terus muncul dalam literatur, tetapi semua
bentuk mungkin dikelompokkan menjadi empat tipe dasar informasi:
observasi (mulai dari non partisipan untuk partisipan), wawancara (mulai
dari tertutup-berakhir untuk membuka-berakhir), catatan lapangan (mulai
dari bahan pribadi ke publik), dan audiovisual (seperti foto, CD, dan kaset
video). Adapun pemaparan yang lebih rinci tentang teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Wawancara
Wawancara

banyak

digunakan

dalam penelitian

kualitatif,

bahkan sebagai teknik pengumpulan data utama. Wawancara adalah
teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dilakukan
secara

lisan

dalam

pertemuan

tatap

muka

secara

(Sukmadinata, 2011: 216).

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

individual

34

Wawancara

yang

dilakukan

dalam

penelitian

ini

yaitu

wawancara semi terstruktur. Saunder, dkk., (dalam Samiaji, 2011: 47)
menjelaskan bahwa wawancara semi terstruktur yaitu tipe wawancara
yang dimana pewawancara sudah menyiapkan topik dan daftar
pertanyaan

pemandu

sebelum aktivitas

wawancara

dilaksanakan.

Dalam pelaksanaan wawancara ini peneliti mengajukan pertanyaan
secara bebas tidak harus berurutan dan dapat dimodifikasi pada saat
wawancara berdasarkan situasinya untuk menggali lebih jauh jawaban
responden.
Wawancara dalam penelitian ini dilakukan selama empat kali
yaitu pada bulan Oktober, yaitu masing-masing dua kali untuk setiap
setiap pasangan orang tua dengan tujuan untuk mendapatkan informasi
yang mendalam mengenai persepsi orang tua terhadap perilaku
bermain anak berdasarkan gender.
Subjek 1 dan 2 yaitu Ibu Heti dan Bapak Nawan wawancara
pertama dilakukan secara bersamaan yaitu pada tanggal 10 Oktober
2014, kedua, Bapak Nawan pada tanggal 25 Oktober 2014 dan Ibu
Heti 26 Oktober 2014.
Subjek 3 dan 4 yaitu Ibu Eva dan Bapak Adin wawancara
pertama dilakukan bersamaan pada tanggal 12 Oktober 2014,
Wawancara kedua pada tanggal 25 Oktober 2014.
Peneliti pada saat melakukan wawancara menggunakan alat
bantu perekam berupa handphone untuk merekam seluruh pembicaraan
dengan tujuan untuk menghindari tidak tercatatnya hal-hal penting
yang disampaikan oleh responden.
Hasil wawancara yang telah direkam selanjutnya dibuat dalam
bentuk transkrip wawancara. Transkrip wawancara menjadi salah satu
bagian penting dalam proses wawancara, hal ini karena dengan
transrkip yang telah dibuat peneliti menulis seluruh hasil wawancara

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

35

yang ada dalam alat perekam. Transkrip wawancara ini juga membantu
peneliti

menganalisis

fenomenologis

atau

hasil

wawancara

kebermaknaan.

yang

Adapun

memiliki
bentuk

nilai

trasnkrip

wawancara yang dibuat seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.1 Transkrip Wawancara
Transkrip Wawancara 1 Subjek 1
Nama
: Nawan
Tanggal Wawancara : 10 Oktober 2014
Kode
: Subjek 2
Alat Perekam
: Handphone Samsung GT S7500
Peneliti/subyek
Pertanyaan/jawaban
P
Iya begini, mau sedikit ngobrol-ngobrol tentang
keseharian anak. Nah, kan bapak punya anak
perempuan dan juga anak laki-laki, ingin tahu
tentang bagaimana perbedaan perilaku anak lakilaki dan perempuan menurut bapak seperti apa ?
S2
Anak perempuan mah kalau sudah besar banyak
sekali membantu pekerjaan ibu rumah tangga, iya
terus kalau anak laki-laki semakin gede jarang
yang mau membantu pekerjaan ibu rumah tangga.
P
Nah, menurut bapak kira-kira kenapa bisa begitu?
S2
Itu mungkin sudah menjadi, menjadi apa hehehehe
takdirnya anak
perempuan suka meniru-niru
pekerjaan ibunya. Kalau anak laki-laki mungkin
agak bandel tabiatnya. Jadi tidak banyak menurut
sama ibu untuk pekerjaan rumah tangga.
G. Analisis Data
Menurut Patilima (2011: 92) penelitian kualitatif, tidak memulai
dengan sebuah teori untuk menguji atau membuktikan. Sebaliknya, sesuai
dengan model induktif pemikiran, sebuah teori dapat muncul selama
pengumpulan data dan tahap analisis data yang kemudian digunakan
dalam proses penelitian, sebagai dasar perbandingan dengan teori lain.

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

36

Analisis

data

fenomenologi

kualitatif

ini

yang

yaitu

dilakukan

dalam

menggunakan

Interpretative Phenomenological Analysis

(IPA)

atau

penelitian
metode

biasa

dikenal

dengan Analisis Fenomenologis Interpretatif (AFI). Dalam Smith (2009)
dijelaskan

bahwa

IPA

bertujuan

umtuk

mengungkap

secara detail

bagaimana partisipan memaknai dunia personal dan sosialnya dengan
menekankan pada persepsi atau pendapat personal individu tentang objek
atau peristiwa. Penelitian AFI dilaksanakan dengan ukuran sampel kecil.
Menurut Smith (dalam Hajaroh, 2010) memaparkan tahap-tahap
Interpretative Phenomenological Analysis yang dilaksanakan sebagai
berikut: 1) Reading and re-reading; 2) Initial noting; 3) Developing
Emergent themes; 4) Searching for connections across emergent themes;
5) Moving the next cases; and 6) Looking for patterns across cases.
Masing-masing tahap analisis diuraikan sebagai berikut:
1) Reading and re-reading

Bentuk kegiatan tahap ini adalah menuliskan transkrip wawancara dari
rekaman audio ke dalam transkrip dalam bentuk tulisan. Dengan
membaca dan membaca kembali peneliti mendalami data yang
diperoleh dari transkrip yang telah dibuat akan membantu analisis
yang lebih menyeluruh.
2) Initial noting

Tahap ini merupakan tahap menguji konten dari kata, kalimat serta
bahasa yang disampaikan subjek pada saat wawancara. Pada tahap ini
peneliti dapat mencatat sesuatu yang menarik dari transkrip yang telah
dibuat.

Analisis ini dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan

seperangkat catatan dan komentar yang komprehensif dan mendetail
mengenai data. Langkah ini dilakukan peneliti

dengan cara memulai

dari membaca transkrip kemudian mencari teks-teks yang bermakna,
penting atau menarik.

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

37

Tabel 3.2 Teks Wawancara Fenomenologi
Peneliti/subyek
Pertanyaan/jawaban
P
Nah, bagaimana menurut bapak perbedaan antara
anak laki-laki dan perempuan dilihar dari sikap
atau perilakunya sehari-hari?
S4
Euhh, berdasarkan pengalaman kalau anak lakilaki itu, tingkat apa ya, keaaktifannya itu 2x lipat
dari anak perempuan, gitu. Jadi kalau misalkan
saya punya anak laki 3 perempuan 3 itu kaya-kaya
punya anak 9 hahahahaha. Soalnya kan laki-laki
itu 2x
aktifnya dari perempuan terus kalau
perbedaan antara perempuan yang menonjol dari
laki-laki jadi kalau perempuan itu cepet dewasa
lah, cepet mandiri gitu kan beda halnya dengan
anak
laki-laki.
Kalau
perempuan
yah,
Alhamdulillah meskipun yang paling besar baru
usia kelas 2 SD tapi Alhamdulillah dia sudah bisa
bantu-bantu orang tuanya. Beda halnya sama anak
laki-laki meskipun sudah kelas 5 SD belum lah
belum begitu keliatan euhhh, bisa membantu ke
orang tua.
3) Developing Emergent Themes

Tahap ini merupakan tahap mengembangkan kemunculan tema-tema.
Transkrip dibaca berulang kali, margin sebelah kiri digunakan untuk
untuk melampirkan keterangan terhadap apa yang menarik atau
bermakna mengenai apa yang dikatakan oleh subjek.
Tabel 3.3 Pengodean Subjek
Pengodean Subjek

Pertanyaan/jawaban

Nah, kira-kira kenapa bisa
begitu pa?
Itu mungkin sudah menjadi,
menjadi
apa
hehehehe
takdirnya anak
perempuan
suka meniru-niru pekerjaan
ibunya. Kalau anak laki-laki
mungkin
agak
bandel
tabiatnya. Jadi tidak banyak
menurut sama ibu untuk
pekerjaan rumah tangga.





Peran
gender
anak
perempuan
Anak
laki-laki
nakal/membangkang

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

38

4) Searching for connection a cross emergent themes

Tahap ini adalah tahap mencari hubungan antar tema-tema yang
muncul dilakukan setelah peneliti menetapkan seperangkat subkategori
tema pada transkrip dan kemudian telah diurutkan secara kronologis.
Hubungan antar tema-tema ini dikembangkan dalam bentuk tabel atau
mapping/pemetaan dan memikirkan tema-tema yang bersesuaian satu
sama lain. Level analisis ini tidak ada ketentuan resmi yang berlaku.
Tabel 3.4 Tema-tema yang muncul
Kelompok Tema

Subtema
Pemahaman orang tua tentang
konstruksi anak laki-laki



Pemahaman orang
tua tentang gender
Pemahaman orang tua tentang
konstruksi anak perempuan

Pemahaman peran gender

Pemahaman orang tua tentang
bermain
Pemahaman orang
tua tentang kegiatan
bermain bagi anak
berdasarkan gender

Peran orang tua
dalam kegiatan
bermain
berdasarkan gender

















Jenis permainan
Faktor yang mempengaruhi
pemahaman orang tua tentang
kegiatan bermain anak






Subkategori Tema
Membangkang
Agresif
Aktif
Tidak sabar menunggu giliran
Dominan
Tidak menyepakati aturan/ bermain
curang
Anak laki-laki lebih banyak dibesarkan
dengan ayah
Patuh/ Nurut
Cepat dewasa
Senang berdandan/ kecantikan
Penyayang
Anak perempuan melakukan pekerjaan
rumah tangga
Perempuan patuh kepada laki-laki
Pemahaman orang tua tentang jenis
kegiatan bermain untuk gender
tertentu
Pemahaman orang tua tentang dampak
bermain terhadap anak
Jenis permainan anak laki-laki
Jenis permainan anak perempuan
Pengaruh lingkungan terhadap
pemahaman orang tua
Pengaruh media massa terhadap
pemahaman orang tua

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

39

5) Moving the next cases

Tahap analisis 1- 4 dilakukan pada setiap satu kasus/partisipan. Jika
satu kasus selesai dan dituliskan hasil analisisnya maka tahap
selanjutnya berpindah pada kasus atau partisipan berikutnya hingga
selesai semua kasus. Langkah ini dilakukan pada semua transkrip
partisipan, dengan cara mengulang proses yang sama.
Tabel 3.5 Perbandingan Analisis Kasus
Pertanyaan/jawaban
S1

Kalau laki-laki mah lebih dari gimana ya
jadi, perempuan mah diam, kalau disuruh
ini, nurut. Kalau laki-laki rada beda, rada
apa

namanya,

jadi

rada

Misalnya

ambil air,



Anak perempuan
patuh
Anak
laki-laki
membangkang

ada

membangkangnya kalau laki-laki mah.
S1



Pengodean

kalau perempuan



mah kan ambilin, kalau laki-laki mah ga

Anak perempuan
patuh

mau ah cape, atau ga mau ah sama
mamah, kadang laki-laki mah dia nya
yang nyuruh, gitu.
S2

Antara laki-laki dengan perempuan jadi



Anak

laki-laki

dominan

euh kalau anak laki-laki itu terkesan lebih
dominan, jadi memang udah keliatan sih
kalau dari gaya kepemimpinannya.
S2

Kalau

anak

laki-laki

bandel

tabiatnya.

Jadi

mungkin
tidak

agak
banyak



Anak

laki-laki

membangkang

menurut sama ibu untuk pekerjaan rumah
tangga.

Tabel pertama adalah percakapan wawancara dengan subjek 1
yang telah diberikan pengodean subjek. Pada tahap ini ketika transkrip
wawancara pada subjek 1 pengodean subjek telah selesai dibuat maka

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

40

langkah selanjutanya adalah melakukan pengodean pada kasus lain,
yang dimaksud kasus lain di sini adalah pengodean pada subjek
selanjutnya. Setiap pengodean yang muncul pada transkrip adalah
subkategori tema dan dapat terjadi tema-tema serupa akan muncul
ketika dilanjutkan ke transkrip berikutnya dan ketika hal tersebut
terjadi, maka judul tema yang sama akan diulang.
6) Looking for patterns across cases

Tahap akhir merupakan tahap keenam dalam analisis ini adalah
mencari

pola-pola

yang

muncul antar

kasus/partisipan.

Apakah

hubungan yang terjadi antar kasus, dan bagaimana tema-tema yang
ditemukan dalam kasus-kasus yang lain memandu peneliti melakukan
penggambaran dan pelabelan kembali pada tema-tema.
H. Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas merupakan suatu cara untuk menujukkan sejauh mana
hasil dari suatu pengukuran menggambarkan segi atau aspek yang diukur
(Sukmadinata,

2011: 228).

Sedangkan reliabilitas berkenaan dengan

tingkat keajegan atau ketetapan hasil pengukuran (Sukmadinata, 2011
229). Validitas dan reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
traingulasi dan refleksivitas.
1. Triangulasi
Triangulasi

dalam

penelitian

kualitatif

merupakan

teknik

pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di
luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding
terhadap data itu (Kuswarno, 2008: 65). Triangulasi ini terdiri dari
beberapa cara yaitu triangulasi sumber, metode, peneliti, dan teori
(Creswell, 2013: 251).
Triangulasi

yang

dilakukan

dalam

penelitian

ini

adalah

pengecekan data dengan metode atau teknik yang beragam. Misalnya,
peneliti mengambil data dengan melakukan wawancara dan untuk
mengecek

keabsahan

data

peneliti

juga

melakukan

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

observasi.

41

Observasi

ini

dilakukan

pada

saat

peneliti

selesai melakukan

wawancara terhadap subjek.
2. Refleksivitas
Penelitian kualitatif bersifat refleksif. Refleksivitas merupakan
pengkajian

yang

cermat

dan

hati-hati terhadap

seluruh proses

penelitian. Data yang ditemukan dianalisis secara cermat dan teliti,
disusun, dikategorikan secara sistematis, dan ditafsirkan berdasarkan
pengalaman, kerangka pikir dan persepsi peneliti tanpa prasangka dan
kecenderungan tertentu (Sukmadinata, 2011: 105).
Menurut Adriany (dalam Dana, 2014) bahwa semakin kuat
peneliti merefleksikan dirinya dalam proses penelitian maka akan
semakin

tinggi

nilai

validitas

dan

reliabilitas

penelitiannya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Creswell (2013: 216) bahwa
refleksivitas itu menyangkut posisi seseorang dalam sebuah komunitas
yang sedang diteliti.
Di

bawah

ini

selanjutnya

peneliti

akan

mengungkapkan

bagaimana refleksivitas saat proses penelitian berlangsung:
a. Subjektivitas Peneliti
Penelitian

kualitatif

dengan

metode

fenomenologi

ini

sebenarnya masih sangat awam dalam pemahaman peneliti. Belum
pernah

sebelumnya

peneliti mengenal dan memahami penelitian

fenomenologi ini. Namun karena

fokus kajian peneliti menggunakan

penelitian fenomenologi maka disini peneliti berusaha keras untuk
mempelajari

dan

memahami

penelitian

fenomenologi

guna

memberikan gambaran secara utuh bagi peneliti dalam pelaksanaan
penelitian.
Penelitian ini diawali dengan pemilihan subjek penelitian
yang memenuhi kriteria subjek penelitian yang telah dipaparkan
dalam poin sebelumnya. Peneliti memilih subjek penelitian yaitu
Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

42

saudara dan subjek yang lain adalah seseorang yang sudah dikenal
oleh peneliti. Alasan peneliti memilih saudara dan seseorang yang
sudah dikenal sebelumnya adalah dikarenakan subjek sesuai dengan
kriteria penelitian yang diharapkan dan peneliti memiliki hubungan
yang baik dan dekat sehingga ini dapat membantu memudahkan
peneliti

untuk

mendapatkan

informasi

yang

dibutuhkan

dalam

penelitian tanpa ada rasa canggung ataupun kaku.
Meskipun peneliti sudah kenal sebelumnya dengan subjek,
tetapi peneliti melakukan prosedur penelitian sebagaimana mestinya
dengan menyertakan surat izin penelitian dan surat kesediaan menjadi
subjek penelitian untuk menghindari adanya perlakuan yang istimewa
terhadap

subjek

memberikan

yang telah dikenal sebelumnya. Peneliti tidak

arahan

apapun

kepada subjek

untuk

memberikan

jawaban-jawaban tertentu pada saat wawancara untuk kebutuhan
penelitian. Hal ini dilakukan karena jika tidak seperti itu khawatir
mempengaruhi keobjektifan pada saat proses analisis data.
Untuk keobjektifan penelitian maka disini peneliti merekam
kegiatan wawancara untuk menghindari peneliti menulis hal yang
tidak sesuai atau yang tidak diungkapkan oleh subjek serta peneliti
juga melakukan transkrip hasil wawancara berdasarkan apa yang ada
dalam rekaman.
b. Pandangan Peneliti tentang Isu-isu Gender
Gender ini masih sangat dimaknai sebagian besar orang
adalah jenis kelamin. Pada awalnya peneliti juga berpikir demikian,
namun setelah membaca dan mempelajari tentang gender peneliti
mulai memahami bahwa gender berbeda dengan jenis kelamin.
Gender ini merupakan konsep yang membedakan peran dan fungsi
sosial laki-laki dan perempuan bukan tentang perbedaan secara fisik
antara laki-laki dan perempuan.

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

43

Pemahaman peneliti tentang gender dalam kegiatan bermain
awalnya sama seperti pandangan subjek yang menyatakan bahwa
kegiatan anak perempuan dan laki-laki haruslah berbeda. Anak
perempuan bermain boneka dan masak-masakan dan anak laki-laki
bermain sepak bola dan robot-robotan. Tetapi setelah membaca
tentang perbedaan gender dan jenis kelamin peneliti mulai memahami
bahwa laki-laki dan perempuan secara fisiknya sudah pasti berbeda
tetapi dalam kegiatan bermain anak perempuan dan laki-laki berhak
mendapatkan kesempatan yang sama mencoba berbagai kegiatan
bermain tanpa adanya kekhususan bagi gender tertentu.
Ketika
seringkali

kegiatan

peneliti

ketidaksetujuan

harus

terhadap

wawancara
menahan

dengan
diri

pernyataan

subjek

untuk
subjek

pandangan bahwa dalam kegiatan bermain anak

dilakukan,

menyampaikan
yang

memiliki

laki-laki dan

perempuan haruslah berbeda. Hal ini nampak seperti yang ada pada
jawaban pertanyaan di bawah ini:
“Mungkin tidak bisa atuh. Cara mainnya anak laki-laki
memang sudah beda dengan cara mainnya anak
perempuan. Kalau anak laki-laki bermain banyak yang
keperempuan-perempuanan nantinya banyak yang menjadi
merubah takdirnya. Jadi kewanita-wanitaan, takutnya
kalau anak laki-laki main yang anak perempuan nantinya
cenderung seperti ke waria.” (Wawancara 1, Bapak
Nawan)
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti untuk selalu
berusaha menjaga agar subjek memberikan penjelasan terhadap apa
yang dipahaminya tanpa ada intervensi dari peneliti.
c. Memposisikan Diri seperti Subjek
Pada saat kegiatan wawancara berlangsung seringkali peneliti
bergumam dalam hati ketika subjek mengungkapkan pernyataan yang
bertentangan dengan pemahaman peneliti “memangnya kenapa kalau

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

44

anak perempuan main boneka, kan pasti cara mainnya anak laki-laki
beda meskipun memainkan hal yang sama.”
Selesai melakukan wawancara kemudian peneliti membuat
transkrip wawancara. Pada saat menulis hasil wawancara peneliti
banyak merenung dan memposisikan diri sebagai orang tua yang
sudah memiliki anak. Lalu berpikir bahwa mungkin peneliti bersikap
tidak setuju ini karena peneliti belum memiliki anak dan belum
merasakan kekhawatiran yang akan terjadi seperti yang diungkapkan
oleh subjek.

Hal ini yang kemudian menjadi salah satu alat

pengontrol diri pada saat peneliti ingin menyanggah pernyataanpernyatan subjek yang bertentangan dengan pemahaman peneliti.

Fitri Nurianti Wijaya, 2015
Persepsi Orang Tua Terhadap Perilaku Bermain Anak Berdasarkan Gender
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

68

BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada ora

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3877 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1031 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1216 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1087 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23