KONSEP KEADILAN DALAM ISLAM. pdf

BAB II
KONSEP KEADILAN DALAM ISLAM
A. Keadilan Menurut Islam
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keadilan sosial didefinisikan
sebagai sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang
benar, berpegang pada kebenaran.1 Kata adil (al-'adl) berasal dari bahasa
Arab, dan dijumpai dalam al-Qur'an, sebanyak 28 tempat yang secara
etimologi bermakna pertengahan.2 Pengertian adil, dalam budaya Indonesia,
berasal dari ajaran Islam. Kata ini adalah serapan dari kata Arab ‘adl.3
Secara etimologis, dalam Kamus Al-Munawwir, al’adl berarti perkara
yang tengah-tengah.4 Dengan demikian, adil berarti tidak berat sebelah, tidak
memihak, atau menyamakan yang satu dengan yang lain (al-musâwah). Istilah
lain dari al-‘adl adalah al-qist, al-misl (sama bagian atau semisal). Secara
terminologis, adil berarti mempersamakan sesuatu dengan yang lain, baik dari
segi nilai maupun dari segi ukuran, sehingga sesuatu itu menjadi tidak berat
sebelah dan tidak berbeda satu sama lain. Adil juga berarti berpihak atau
berpegang kepada kebenaran.5 Menurut Ahmad Azhar Basyir, keadilan adalah
meletakkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya atau menempatkan sesuatu
pada proporsinya yang tepat dan memberikan kepada seseorang sesuatu yang
menjadi haknya.6
Al-Qur'an memerintahkan perbuatan adil dan kebajikan seperti bunyi
firman-Nya,
1

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002, hlm. 8
Muhammad Fu'ad Abd al-Baqiy, Al-Mu'jam al-Mufahras li Alfaz Al-Qur'an alKarim, Dar al-Fikr, Beirut, 1981, hlm. 448 – 449.
3
M.Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan KonsepKonsep Kunci, Paramadina, Jakarta, 2002, hlm. 369.
4
Ahmad Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap,
Pustaka Progressif, Yogyakarta, 1997, hlm. 906.
5
Abdual Aziz Dahlan, et. all, (editor), Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 2, PT Ichtiar
Baru Van Hoeve, Jakarta, 1997, hlm. 25
6
Ahmad Azhar Basyir, Negara dan Pemerintahan dalam Islam, UII Pres,
Yogyakarta, 2000, hlm. 30.
2

20

21

ِ ‫ﹾ ِ ِﻹ‬
ِ ‫ِ ﱠ ﹼﹾ‬
Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan
berbuat kebajikan" (QS Al-Nahl [16]: 90).7
Ihsan (kebajikan) dinilai sebagai sesuatu yang melebihi keadilan.
Namun dalam kehidupan bermasyarakat, keadilan lebih utama daripada
kedermawanan atau ihsan. Ihsan adalah memperlakukan pihak lain lebih baik
dari perlakuannya, atau memperlakukan yang bersalah dengan perlakuan yang
baik. Ihsan dan kedermawanan merupakan hal-hal yang baik pada tingkat
antar individu, tetapi dapat berbahaya jika dilakukan pada tingkat masyarakat.
Imam Ali r.a. bersabda, "Adil adalah menempatkan sesuatu pada
tempatnya, sedangkan ihsan (kedermawanan) menempatkannya bukan pada
tempatnya." Jika hal ini menjadi sendi kehidupan bermasyarakat, maka
masyarakat tidak akan menjadi seimbang. Itulah sebabnya, mengapa Nabi Saw
menolak memberikan maaf kepada seorang pencuri setelah diajukan ke
pengadilan, walau pemilik harta telah memaafkannya.8
Potensi dan kemampuan manusia berbeda-beda, bahkan potensi dan
kemampuan para rasul pun demikian (QS Al-Baqarah [2]: 253). Perbedaan
adalah sifat masyarakat, namun hal itu tidak boleh mengakibatkan
pertentangan. Sebaliknya, perbedaan itu harus mengantarkan kepada kerja
sama yang menguntungkan semua pihak. Demikian kandungan makna firmanNya pada surat Al-Hujurat (49): 13. Dalam surat Az-Zukhruf (43): 32 tujuan
perbedaan itu dinyatakan:

ِ‫ِ ِ ﹾ ـ‬
‫ﹰ‬
‫ﹶ ﻀـ ﻀـ‬
ِ ِ‫ﺳ‬
(32 :‫ﹶ ) ﻑ‬

‫ﹶ‬
‫ﺾ‬
‫ﺳ‬


 ‫ﹶ ﹾِ ﹶ ﹶ‬
‫ﹶ ﻀﹶ‬

‫ﹰ‬
ِ

Artinya: Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?
Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka
7
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, Al-Qur’an
Terjemahnya, Departemen Agama 1986, hlm. 415
8
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur'an, Mizan, Bandung, 2003, hlm. 124.

dan

22

dalam kehidupan di dunia, dan Kami telah meninggikan
sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat,
agar sebagian mereka dapat saling mempergunakan sebagian
yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan (Az-Zukhruf 43: 32).9
Setiap

anggota

masyarakat

dituntut

untuk

fastabiqul

khairât

(berlomba-lombalah di dalam kebajikan) (QS Al-Baqarah [2]: 148). Setiap
perlombaan menjanjikan "hadiah". Di sini hadiahnya adalah mendapatkan
keistimewaan bagi yang berprestasi. Tentu akan tidak adil jika peserta lomba
dibedakan atau tidak diberi kesempatan yang sama. Tetapi, tidak adil juga bila
setelah berlomba dengan prestasi yang berbeda, hadiahnya dipersamakan,
sebab akal maupun agama menolak hal ini.

‫ﻏ ﹸِ ﻀِﹾ ِـ ﹶ‬
‫ِ ﲔﹶ‬
ِ ‫ﹶِ ﹶِﹾ‬
‫ﱠ ِﹾ‬
ِِ ‫ﹶ‬
‫ﹶ ﹼﹾ ِِ ِـ‬
‫ﹶ ِِ ﹶﹸِِﹶﻀ‬
ِِ‫ِ ِِ ﹼ‬
:‫) ﺀ‬
‫ﹼﹾ‬
‫ﹶِِ ﹰ ﹸـ‬
‫ﹶﹸِِ ﹶ ﹾ‬
(95
Artinya: Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (tidak berjuang)
kecuali yang uzur dengan orang yang berjuang di jalan Allah
dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orangorang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas
orang-orang yang duduk (tidak ikut berjuang karena uzur)
satu derajat. Dan. kepada masing-masing mereka Allah
menjanjikan imbalan baik...(QS Al-Nisa [4]: 95).10

(9 :

)...‫ﹾ ِ ﱠِ ﹶ ﹶ ﱠِ ﹶ ﹶ ﹶ‬...

Artinya: Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui? (QS Al-Zumar [39]: 9).11
9

Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir
Terjemahnya, Departemen Agama 1986, hlm. 798
10
Ibid, hlm.136
11
Ibid, hlm. 747

al-Qur’an,

Al-Qur’an

dan

23

Keadilan seperti terlihat di atas, bukan mempersamakan semua
anggota masyarakat, melainkan mempersamakan mereka dalam kesempatan
mengukir

prestasi.

Sehubungan

dengan

itu,

Murtadha

Muthahhari

mmenggunakan kata adil dalam empat hal, pertama, yang dimaksud dengan
adil adalah keadaan yang seimbang; kedua, persamaan dan penafian
(peniadaan) terhadap perbedaan apa pun; ketiga, memelihara hak-hak individu
dan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya.12
Keadilan dalam pelaksanaannya tergantung dari struktur-struktur
kekuasaan dalam masyarakat, struktur-struktur mana terdapat dalam bidang
politik, ekonomi, sosial, budaya, dan ideologi. Maka membangun keadilan
berarti menciptakan struktur-struktur yang memungkinkan pelaksanaan
keadilan.13 Masalah keadilan ialah bagaimanakah mengubah struktur-struktur
kekuasaan yang seakan-akan sudah memastikan ketidakadilan, artinya yang
memastikan bahwa pada saat yang sama di mana masih ada golongangolongan miskin dalam masyarakat, terdapat juga kelompok-kelompok yang
dapat hidup dengan seenaknya karena mereka menguasai sebagian besar dari
hasil kerja dan hak-hak golongan yang miskin itu.
Menurut Juhaya S.Praja, dalam Islam perintah berlaku adil ditujukan
kepada setiap orang tanpa pandang bulu. Perkataan yang benar harus
disampaikan apa adanya walaupun perkataan itu akan merugikan kerabat
sendiri. Keharusan berlaku adil pun harus dtegakkan dalam keluarga dan
12

Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam, Terj. Agus
Efendi, Mizan anggota IKAPI, Bandung, 1981, hlm. 53 – 56. Dalam tulisannya “Rhetorica”,
Aristoteles membedakan dua macam keadilan, yaitu keadilan distributif dan keadilan
komutatif. Keadilan distributif adalah keadilan yang memberikan kepada setiap orang jatah
menurut jasanya (pembagian menurut haknya masing-masing). Ia tidak menuntut supaya tiaptiap orang mendapat bagian yang sama banyaknya; bukan persamaan, melainkan
kesebandingan. Sedangkan keadilan komutatif ialah keadilan yang memberikan pada setiap
orang sama banyaknya dengan tidak mengingat jasa-jasa perseorangan. Ia memegang peranan
dalam tukar menukar, pada pertukaran barang-barang dan jasa, dalam mana sebanyak
mungkin harus terdapat persamaan antara apa yang dipertukarkan. Keadilan komutatif lebih
menguasai hubungan antara perseorangan khusus, sedangkan keadilan distributif terutama
menguasai hubungan antara masyarakat (khususnya negara) dengan perseorangan khusus.
Lihat C.S.T.Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka,
Jakarta, 1986, hlm. 42
13
Franz Magnis Suseno, Kuasa dan Moral, PT Gramedia, Jakarta, 1988, hlm. 45

24

masyarakat muslim itu sendiri, bahkan kepada orang kafir pun umat islam
diperintahkan berlaku adil. Untuk keadilan sosial harus ditegakkan tanpa
membedakan karena kaya miskin, pejabat atau rakyat jelata, wanita atau pria,
mereka harus diperlakukan sama dan mendapat kesempatan yang sama.14
Senada dengan itu, Sayyid Qutb menegaskan bahwa Islam tidak mengakui
adanya perbedaan-perbedaan yang digantungkan kepada tingkatan dan
kedudukan.15
Salah satu sumbangan terbesar Islam kepada umat manusia adalah
prinsip keadilan sosial dan pelaksanaannya dalam setiap aspek kehidupan
manusia. Islam memberikan suatu aturan yang dapat dilaksanakan oleh semua
orang yang beriman. Setiap anggota masyarakat didorong untuk memperbaiki
kehidupan material masyarakat tanpa membedakan bentuk, keturunan dan
jenis orangnya. Setiap orang dipandang sama untuk diberi kesempatan dalam
mengembangkan seluruh potensi hidupnya.16
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa Islam
bertujuan membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid. Dalam
tatanan itu, setiap individu diikat oleh persaudaraan dan kasih sayang bagai
satu keluarga. Sebuah persaudaraan yang universal dan tak diikat batas
geografis. Islam menganggap umat manusia sebagai suatu keluarga.
Karenanya semua anggota keluarga itu mempunyai derajat yang sama dihapan
Allah. Islam tidak membedakan pria ataupun wanita, putih atau hitam. Secara
sosial, nilai yang membedakan satu dengan yang lain adalah ketakwaan,
ketulusan hati, kemampuan dan pelayanannya pada kemanusiaan.

14
Juhaya S.Praja, Filsafat Hukum Islam, Pusat Penerbitan Universitas LPPM
UNISBA, Bandung, 1995, hlm. 73.
15
Sayyid Qutb, “Keadilan Sosial dalam Islam”, dalam John J. Donohue dan John L.
Esposito, Islam dan Pembaharuan, Terj. Machnun Husein, CV Rajawali, Jakarta, 1984, hlm.
224.
16
Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, jilid 1, Terj. Soeroyo, Nastangin, PT
Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta, 1995, hlm. 74.

25

B. Aspek-Aspek Keadilan dalam Islam
1. Aspek Hukum
Hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintah-perintah dan
larangan-larangan) yang mengatur tata tertib dalam sesuatu masyarakat,
dan seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan, oleh
karena pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan
dari pihak pemerintah masyarakat itu.17 Menurut Siti Musdah Mulia,
hukum adalah aturan-aturan normatif yang mengatur pola perilaku
manusia. Hukum tidak tumbuh di ruang vakum (kosong), melainkan
tumbuh dari kesadaran masyarakat yang membutuhkan adanya suatu
aturan bersama.18 Sedangkan hukum Islam oleh TM. Hasbi Ash Shiddieqy
sebagaimana dikutip oleh Ismail Muhammad Syah dirumuskan sebagai
koleksi daya upaya para ahli hukum untuk menerapkan syari’at atas
kebutuhan masyarakat.19
Dalam kaitannya dengan aspek hukum, bahwa keadilan hukum
Islam bersumber dari Tuhan yang Maha Adil, karena pada hakikatnya
Allah-lah yang menegakkan keadilan (quiman bilqisth), maka harus
diyakini bahwa Allah tidak berlaku aniaya (zalim) kepada hamba-hambaNya (Q.S. 10/Yunus: 449). Oleh karena itu setiap perbuatan manusia akan
dipertanggungjawabkan kepada-Nya pada hari keadilan (Q.S. 4/al-Nisa:
110). Adil dalam pengertian persamaan (Equality), yaitu persamaan dalam
hak, tanpa membedakan siapa; dari mana orang yang akan diberikan
sesuatu keputusan oleh orang yang diserahkan menegakkan keadilan,
sebagaimana dimaksud firman Allah Q.S. 4/al-Nisaa': 58:

(58 :‫) ﺀ‬...ِ ‫ﹾ‬
ِ‫ﹸﹾ‬
17

‫ﹶ‬
ِ

‫ﹶﹶ‬
ِ...

E. Utrecht, Pengantar dalam Hukum Indonesia, Balai Buku Ihtiar, Jakarta, 1966,

hlm. 13.
18

Siti Musdah Mulia, “Pembaruan Hukum Keluarga Islam di Indonesia”, dalam
Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF (Editor), Islam Negara dan Civil Society,
Paramadina (Anggota IKAPI), Jakarta, 2005, hlm. 302.
19
Ismail Muhammad Syah, Filsafat Hukum Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1992, hlm.
19

26

Artinya: Dan ...Apabila kamu memutuskan perkara di antara manusia,
maka hendaklah engkau putuskan dengan adil.20
Ketegasan prinsip keadilan tersebut dijelaskan oleh salah satu ayat
al-Qur'an Q.S. 57/al-Hadid:25.

‫ﹾِ ﹾِ ﹶِﹸ‬
‫ ِﹶﹾ‬‫ﹾ‬
ِ ‫ﹶﹶﹾ ﹶ‬
‫ﹶ‬
)...ِ ِ ِ ِ ‫ﹾِ ِﹶﹾﹾ ِ ِِﹾ‬
ِ
(25 : ‫ﳊ‬
Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul dengan
membawa bukti-bukti nyata, dan Kami turunkan bersama
mereka al-Kitab dan al-Mizan padanya terdapat kekuatan
hebat dan berbagai manfaat bagi manusia...21
Pada ayat itu, terdapat kata mizan (keadilan) dengan hadid (besi).
Besi adalah suatu benda yang keras, dan dijadikan sebagai senjata.
Demikian pula halnya hukum dan keadilan harus ditegakkan dengan cara
apapun, jika perlu dengan paksa dan dengan kekerasan, agar yang bersalah
atau yang batil harus menerima akibatnya berupa sanksi atau kenistaan,
sedangkan yang benar atau yang hak dapat menerima haknya.22
Dalam prinsip keadilan hukum ini Nabi SAW menegaskan adanya
persamaan mutlak (egalitarisme absolut, al-musawah al-muthlaqah) di
hadapan hukum-hukum syariat. Keadilan dalam hal ini tidak membedakan
status sosial seseorang, apakah ia kaya atau miskin, pejabat atau rakyat
jelata, dan tidak pula karena perbedaan warna kulit serta perbedaan bangsa
dan agama, karena di hadapan hukum semuanya sama.
Konsep persamaan yang terkandung dalam keadilan tidak pula
menutup kemungkinan adanya pengakuan tentang kelebihan dalam
beberapa aspek, yang dapat melebihkan seseorang karena prestasi yang
20

Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir al-Qur’an, Al-Qur’an dan
Terjemahnya, Departemen Agama 1986, hlm. 128
21
Ibid, hlm. 904
22
Muhammad Tahir Azhari, Negara Hukum: Suatu Studi tentang Prinsip-Prinsipnya
Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya Pada Priode Negara Madinah dan Masa
Kini, Prenada Media, Jakarta, 2003, hlm. 117 – 124.

27

dimilikinya. Akan tetapi kelebihan tersebut tidaklah akan membawa
perbedaan perlakuan hukum atas dirinya. Pengakuan adanya persamaan,
bahkan dalam al-Qur'an dinyatakan sebagai "pemberian" Allah yang
mempunyai implikasi terhadap tingkah laku manusia, adalah bagian dari
sifat kemuliaan manusia (al-karamah al-insaniyah), yang juga bagian dari
ketetapan Tuhan (Q.S. 17/al-Isra: 70).
Martabat dan harkat manusia dalam pandangan al-Qur'an adalah
sebagai anugerah Allah SWT,. Oleh karena itu tidak ada satu kekuatan
apapun yang dapat merusakkan dan menghancurkannya, kecuali sesuai
dengan ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Pengakuan tentang adanya
harkat dan kehormatan ini sekaligus juga memperkuat adanya kewajiban
dan tanggungjawab manusia yang seimbang dalam kehidupan ini. Kecuali
itu, keadilan hukum berarti pula adanya keseimbangan dalam hukuman
terhadap kejahatan atau pelanggaran, hukuman seimbang atau setimpal
dengan kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan.
Penegakan keadilan secara adil dan merata tanpa pilih bulu adalah
menjadi keharusan utama dalam bidang peradilan, walaupun berkaitan
dengan diri sendiri, keluarga dekat, atau orang-orang yang memiliki
pengaruh atau kekuasaan, sebagaimana dikemukakan secara gamblang
dalam surat an-Nisa ayat 135.23 Untuk melihat bagaimana praktek
penerapan keadilan bidang hukum dalam sejarah, berikut ini dikemukakan
suatu peristiwa bahwa setelah penaklukan kota Mekah, ada seorang
perempuan keturunan suku Quraisy dari Bani Makhzum melakukan
pencurian. Menurut ketentuan hukum Islam, hukuman yang harus
dijatuhkan terhadap pencuri adalah potong tangan (Q.S. 5/al-Maidah: 38).
Mengetahui betapa beratnya hukuman tersebut, maka salah seorang
pemuka Quraisy menemui Usamah bin Zaid meminta agar Usamah
menemui Nabi SAW untuk menyampaikan permohonan suku Makhzum
ini kepada Nabi agar wanita tersebut diberi dispensasi, dibebaskan dari
hukuman pidana tersebut. Mendengar permintaan Usamah ini, Nabi SAW.
23

Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, Gema Insani, Jakarta, 2000, hlm. 215.

28

balik bertanya kepada Usamah, apakah mereka ini meminta syafa'at bagi
seseorang dalam kejahatan yang telah jelas hukumannya dari Allah.
Kemudian serta merta Nabi SAW. berdiri seraya memberikan penjelasan
singkat: sesungguhnya kebinasaan umat sebelummu bahwa jika terjadi
pencurian yang dilakukan orang dari golongan bangsawan, mereka
dibebaskan tidak dihukum, tetapi jika pencurian dilakukan oleh orang
lemah (rakyat biasa) mereka melaksanakan hukumannya, maka Nabi
SAW mengucapkan sumpah, Demi Allah jika Fatimah anak Muhammad
mencuri, niscaya aku potong tangannya.
Keadilan hukum dalam Islam tidak menyamakan hukuman di
antara orang kuat dan orang lemah, tetapi memiliki persepsi lain yang
belum pernah ada sebelumnya, dan tidak dapat disamakan dengan sistem
hukum manapun sekarang ini, bahwa hukuman bisa menjadi lebih berat
bila pelakunya orang besar, dan hukuman sesuai dengan tindakan pidana,
maka haruslah hukuman itu menjadi lebih berat sesuai dengan kelas
pelaku tindak pidana tersebut. Keadilan dalam hukum Islam membawa
suatu prinsip yang belum pernah dikenal sebelumnya. Sebagian negaranegara di dunia sekarang tidak memberikan hukuman terhadap tindakan
pidana yang dilakukan seorang kepala negara, karena hukum itu tidak
mengandaikan terjadinya tindakan pidana dari seorang kepala negara. Para
pembuat undang-undang menganggap pribadi kepala negara sebagai orang
yang dilindungi dan tidak dapat disentuh oleh hukum.24
Terlepas dari kenyataan itu semua, para fuqaha telah sepakat
bahwa para penguasa dan pemimpin tertinggi negara tetap bisa dikenakan
hukum seperti halnya kebanyakan orang, tanpa perbedaan apapun. Jadi,
tidak ada perbedaan antara pimpinan besar yang menjadi kepala negara
dan orang biasa dalam perlakuan hukum. Kedudukannya sebagai kepala
negara tidak dapat menyelamatkan dari ancaman hukuman bila terbukti
bersalah.

24

Abdurrachman Qadir, Zakat Dalam Dimensi Mahdah dan Sosial, hlm. 131 - 133

29

Sebagai ilustrasi, berikut ini dikemukakan pula suatu konsep
model konstitusi Islam yang ideal yang mengatur hak dan kewajiban
berdasarkan keadilan. Di antara isi konsep institusi itu adalah (1) setiap
orang berhak mendapat perlindungan bagi kebebasan pribadinya. (2)
setiap orang berhak

memperoleh

makanan, perumahan, pakaian

pendidikan dan perawatan medis. Negara harus mengambil semua langkah
yang diperlukan untuk menyediakan fasilitas untuk itu sesuai dengan
kemampuan. (3) setiap orang berhak mempunyai pikiran, mengemukakan
pendapat dan kepercayaan selama ia masih berada dalam batas-batas yang
ditetapkan oleh hukum. (4) semua orang sama kedudukannya dalam
hukum. (5) semua orang dengan kemampuan yang sama berhak atas
kesempatan yang sama, dan penghasilan yang sama atas pekerjaan yang
sama, tanpa membedakan agama, etnis, asal-usul dan sebagainya (6)
setiap orang dianggap tidak bersalah sampai akhirnya dinyatakan bersalah
oleh pengadilan, dan beberapa hak dan kewajiban yang menyangkut
beberapa aspek sosial, politik, ekonomi, pertahanan keamanan dan
sebagainya.25
Keadilan hukum menempatkan secara formal semua orang sama di
hadapan hukum. Martabat dan kehormatan manusia dalam pandangan alQur'an adalah anugerah Allah SWT. Oleh karena itu, tidak ada satu
kekuatan pun yang dapat merusakkan dan menghancurkannya, kecuali
sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan Allah. Berkaitan dengan
materi hukum, keadilan yang diterapkan adalah keadilan berimbang.
Dalam bidang hukum pidana, asas keberimbangan ini terlihat pada sanksi
yang diberikan kepada pelaku kejahatan. Semakin tinggi kualitas
kejahatan, semakin tinggi sanksi yang diberikan, dan semakin tinggi status
sosial dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, semakin berat
hukuman yang dijatuhkan. Sementara itu, dalam bidang hukum perdata
juga berlaku prinsip keadilan berimbang. Perbandingan dan perbedaan
porsi bagi ahli waris sebagaimana yang telah ditentukan oleh al-Qur'an,
25

Ibid, hlm. 133 – 134

30

adalah disesuaikan dengan perimbangan tanggung jawab yang dibebankan
antara laki-laki dan perempuan. Di sini kelihatan jelas sekali, bahwa
keadilan diterapkan dalam upaya menempatkan sesuatu pada tempat yang
semestinya.
Termasuk keadilan dalam hukum, adalah pengenaan denda atau
hukuman atas orang-orang yang melanggar ketentuan-ketentuan agama,
seperti seorang suami yang menzihari istrinya atau suami isteri yang
melakukan hubungan seksual pada siang hari bulan Ramadhan. Atas
mereka dikenakan kifarat (semacam hukuman), yaitu memberi makan 60
orang fakir miskin, sedangkan bagi orang yang mengambil haji tamattu';
kepadanya dikenakan denda, yaitu dalam bentuk memotong seekor
kambing sebagai dam.
Dari uraian di atas, penulis menyimpulkan bahwa keadilan sosial
dalam aspek hukum ditandai dengan adanya persamaan semua orang
dihadapan hukum, selain itu hukum ada di atas segalanya dan setiap orang
dilindungi hak-haknya.

2. Aspek Ekonomi
Perkataan ekonomi berasal dari perkataan Yunani “oikonomia”,
arti yang sesungguhnya dari perkataan tersebut ialah peraturan rumah
tangga (oekos = rumah dan nomos = peraturan).26 Sedangkan ekonomi
Islam merupakan sekumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang
disimpulkan dari al-Qur’an dan As-Sunnah, serta merupakan bangunan
perekonomian yang didirikan di atas landasan tersebut sesuai dengan
lingkungan dan masa.27
Dalam hubungannya dengan keadilan ekonomi, bahwa keadilan
dalam bidang ekonomi pada prinsipnya harta itu tidak boleh terpusat pada

26

Kaslan A. Thohir, Ekonomi Selayang Pandang, NV. Penerbitan W. Van Hoeve,
Bandung, 1951, jilid 1, hlm. 239.
27
Ahmad Muhammad Al-Asal dan Fathi Ahmad Abdul Karim, Sistem Ekonomi
Islam, Prinsip-Prinsip dan Tujuan-Tujuannya, Terj. Abu Ahmadi dan Anshori Sitanggal, PT
Bina Ilmu, Surabaya, 1980, hlm. 11

31

kelompok aghniya (golongan kaya) saja sebagaimana dikemukakan dalam
surat al-Hasyr: 7. Jika terjadi pemusatan kekayaan, maka akan timbul
ketimpangan sosial, akan terjadi kemiskinan dan proses pemiskinan. Islam
memandang bahwa kemunduran umat Islam bukan hanya terletak pada
kejahilan terhadap syariat Islam saja, tetapi juga pada ketimpangan
struktur ekonomi dan sosial. Ini dilukiskan oleh Al-Qur'an ketika
menjelaskan bahwa kemiskinan itu bukanlah semata-mata diakibatkan
oleh kemalasan individual, melainkan disebabkan tidak adanya usaha
bersama untuk membantu kelompok lemah, adanya kelompok yang
memakan kekayaan alam dengan rakus dan mencintai kekayaan dengan
kecintaan yang berlebihan (al-Fajr: 17-20).28
Kemiskinan dan keterbelakangan umat adalah tanggung jawab
bersama, ditegaskan berulang kali dalam Al-Qur'an maupun Sunnah
Rasul. Misalnya: pertama, menolong dan membela manusia yang lemah
(mustadh'afin), adalah tanda-tanda orang yang bertakwa (al-Ma'ârij: 2425). Kedua, mengabaikan golongan fakir miskin, acuh tak acuh terhadap
mereka, dan enggan memberikan pertolongan dianggap mendustakan
agama (al-Mâ'un: 1-3). Ketiga, Rasulullah Saw menyatakan bahwa
keberpihakan kepada golongan dhuafa akan menyebabkan mendapatkan
pertolongan dari Allah SWT. Umar bin Abdul Aziz berhasil membangun
kemakmuran rakyatnya melalui institusi zakat dalam waktu relatif singkat
melalui penegakan amanah dan keadilan yang ditegakkan oleh para
aparatnya. Sejalan dengan ini, menarik untuk dikaji, ungkapan dari ahli
sosiologi seperti Lappe, Collins, dan George yang dikutip Didin
Hafidhuddin menyatakan bahwa pengamatan yang cermat terhadap situasi
yang terjadi saat ini, menunjukkan pola ketidakadilan dan penghisapan
yang berakar dalam, baik yang tumbuh di dalam negeri maupun yang
"diimpor" dari luar negeri, merintangi orang miskin untuk mencukupi
kebutuhan pangannya. Atas dasar itu maka rasa keadilan harus terusmenerus ditumbuhkan dan diusahakan, mulai dari lingkungan yang kecil
28

Didin Hafidhuddin, op. cit, hlm. 216

32

(rumah tangga) sampai kepada lingkungan yang besar dalam semua
bidang kehidupan, agar kemakmuran yang dicita-citakan semakin
mendekat pada kenyataan.29
Islam tidak menuntut adanya pemerataan kekayaan dalam arti yang
sebenarnya secara harafiyah, karena distribusi kekayaan tergantung pada
kemampuan masing-masing individu yang satu sama lain tidak seragam.
Dengan demikian keadilan dalam arti yang mutlak menuntut agar imbalan
kepada semua orang sama-sama berbeda, dan bahwa sebagian di antara
mereka mendapatkan imbalan lebih besar daripada yang lain selama
keadilan dalam arti kemanusiaan itu dipertahankan dengan disediakannya
kesempatan yang sama bagi semua orang. Jadi tingkat atau kedudukan
seseorang, asal-usul atau kelas dalam masyarakat jangan sampai
menghalangi siapa saja untuk mendapatkan kesempatan itu, atau jangan
sampai ada orang yang terhalang kesempatannya untuk berusaha karena
belenggu itu. Keadilan juga harus dipertahankan dengan segala macam
nilai yang berlaku, dan dengan pembebasan fikiran manusia secara tuntas
dari pelaksanaan nilai-nilai ekonomik murni secara sewenang-wenang,
serta dengan meletakkan kembali nilai-nilai ditempatnya yang wajar.
Nilai-nilai ekonomik secara intrinsik tidak boleh ditempatkan pada posisi
yang tinggi, sehingga menguasai posisi masyarakat yang tidak memiliki
nilai-nilai yang pasti atau yang kurang memperhatikannya; sehingga
dalam kondisi semacam itu uang merupakan satu-satunya nilai yang
paling tinggi dan azasi.30
Islam menentang pendapat yang menyatakan bahwa hidup itu
dapat diperhitungkan dengan istilah cukup pangan, cukup sandang atau
cukup uang. Akan tetapi Islam pada saat yang sama menuntut adanya
kemampuan pada setiap individu untuk mengembangkan dirinya, dan
bahkan tidak hanya satu macam kemampuan, agar ia tidak tercekam oleh
perasaan takut menjadi miskin. Pada sisinya yang lain Islam juga
29

Ibid
Sayyid Qutb, “Keadilan Sosial dalam Islam”, dalam John J. Donohue dan John L.
Esposito, op. cit, hlm. 224
30

33

melarang kemewahan dan pemborosan yang melampaui batas yang dapat
menimbulkan kelas-kelas dalam masyarakat. Islam memberikan hak
kepada orang-orang miskin atas harta orang-orang kaya sekedar
memenuhi kebutuhan mereka, dan sesuai dengan kepentingan yang baik
bagi masyarakat, sehingga karenanya kehidupan masyarakat dapat
sempurna, adil dan produktif. Jadi Islam tidak memisah-misahkan aspekaspek kehidupan, antara material, intelektual, keagamaan dan duniawi;
akan tetapi Islam mengatur keseluruhannya sehingga satu sama lain dapat
dirangkaikan sebagai satu bentuk kehidupan yang utuh terpadu dan sulit
untuk diperlakukan dengan diskriminasi. Setiap bagian dari kehidupan ini
satu sama lain merupakan suatu kesatuan yang terorganisasi rapi, sama
seperti keteraturan organisasi alam semesta yang terpadu itu, keteraturan
hidup, keteraturan bangsa dan keteraturan seluruh umat manusia.31
Sesungguhnya diturunkan al-Qur'an adalah untuk membangun
suatu sistem masyarakat yang bermoral dan egalitarian. Hal ini terlihat
jelas di dalam celaan al-Qur'an terhadap disequilibrium ekonomi dan
ketidakadilan sosial, sebagaimana dikemukakan oleh Fazlur Rahman:
Al-Qur'an terus-menerus mengecam ketimpangan ekonomi itu
(yang terjadi di kota Mekkah. pen.), karena inilah yang paling sulit
untuk disembuhkan, dan ia merupakan inti dari ketimpangan
sosial.32
Celaan dan kritikan al-Qur'an terhadap ketimpangan sosial
ekonomi tampaknya dipertajam dengan perbandingan sikap dan perilaku
yang tidak berkeadilan umat terdahulu, seperti Qarun, Fir'aun dan Haman,
(al-Ankabut: 39 dan Q.S. 40/al-Mu'min: 24) yang mewakili kelompokkelompok

ekonomi,

politik

dan

teknokrat

dalam

masyarakat.

Ketidakadilan dalam aspek-aspek tersebut, jelas membawa dampak
kehancuran dan kebinasaan seperti diungkapkan dalam al-Qur'an, tentang
sikap orang-orang yang hidup bermewahan dalam suatu negeri, tetapi
mereka bersikap durhaka, bakhil dan berbuat zalim (Q.S. 17/al-Israa': 16).
31

Ibid, hlm. 224
Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Qur’an, Terj. Anas Mahyuddin, Pustaka, Bandung,
1996, hlm. 55
32

34

Dalam konsep keadilan ekonomi terkandung suatu prinsip, bahwa
manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh
kehidupan yang layak sebagai manusia, meskipun dalam kenyataannya
setiap orang dibedakan oleh Tuhan tentang potensi dan berbagai
kemampuan, balk fisik dan intelektual serta latar belakang profesi
kehidupan ekonomi, sehingga ada yang lebih mudah mendapat rezeki dan
ada yang sulit. Hal itu telah ditetapkan oleh Tuhan seperti dimaksud dalam
firman-Nya Q.S. 43/al-Zukhruf: 32:

ِ‫ِ ِ ﹾ ـ‬
‫ﹰ‬
‫ﹶ ﻀـ ﻀـ‬
ِ ِ‫ﺳ‬
(32 :‫ﹶ ) ﻑ‬

‫ﹶ‬
‫ﺾ‬
‫ﺳ‬


 ‫ﹶ ﹾِ ﹶ ﹶ‬
‫ﹶ ﻀﹶ‬

‫ﹰ‬
ِ

Artinya; Kami telah menentukan sumber kehidupan di antara
manusia, dan Kami juga yang melebihkan sebagian dari
sebagian yang lain, agar mereka dapat mempergunakan
sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhan lebih baik dari apa
yang mereka kumpulkan.33
Pengertian mempergunakan dalam ayat di atas termasuk berzakat.
Maka zakat merupakan sub sistem keadilan sosial ekonomi yang
ditegakkan oleh ajaran al-Qur'an, baik dilihat dari perspektif keadilan
Tuhan maupun dari keadilan sosial kemanusiaan. Mengingkari kenyataan
ini pasti akan melahirkan suatu bentuk masyarakat liberalistik-kapitalistik,
yang tidak mengenal adanya hubungan fungsional antara keyakinan
(akidah) dengan kegiatan ekonomi dan masyarakat, atau berdasarkan
pertimbangan moral dengan pertimbangan ekonomi material. Mereka
cenderung untuk melakukan segala cara dalam upaya mendapatkan harta
kekayaan dan menggunakannya sesuka hati, serta menganggap harta itu
sepenuhnya menjadi hak miliknya tanpa sedikitpun adanya keyakinan hak
orang lain di dalamnya. Sikap demikian akan menimbulkan sikap perilaku
33

Yayasan Penyelenggara
Terjemahnya, op. cit, hlm. 798

Penterjemah/Pentafsir

al-Qur’an,

Al-Qur’an

dan

35

egoistis tanpa kepedulian sosial berdasarkan pertimbangan akal yang sehat
dan rasa keadilan.
Konsep keadilan sosial ekonomi yang diamanatkan oleh al-Qur'an
tidak pula menghendaki dijalankannya prinsip kesamarataan mutlak,
seperti yang diajarkan oleh teori komunisme, karena jika prinsip ini
diterapkan, justru bertentangan dengan prinsip dan konsep keadilan yang
hakiki, di mana setiap orang akan menikmati perolehan yang sama,
padahal secara faktual setiap orang memiliki latar belakang kemampuan
yang berbeda, baik dari segi kualitas kecerdasan maupun dari segi
motivasi dan etos kerja serta faktor-faktor internal lainnya.
Fakta

fenomena

sosial

tentang

adanya

kaya

miskin

ini

sesungguhnya tidak mungkin dihapuskan sama sekali, karena ia
merupakan barometer untuk mengukur berfungsi atau tidaknya prinsip
keadilan sosial, namun ia tidak boleh dibiarkan berkembang sedemikian
rupa agar tidak terjadi jurang sosial yang terlalu dalam, yang dapat
menimbulkan perbedaan kelas, dan akhirnya dapat memicu terjadinya
kecemburuan sekaligus kerawanan sosial.
Upaya yang paling strategis dan efektif mengantisipasi kerawanan
sosial itu adalah menyuburkan rasa keadilan sosial melalui penggalakan
kesadaran berzakat, bersedekah, memberi pinjaman kebajikan (qardhan
hasan) kepada golongan ekonomi lemah agar mereka mampu mandiri,
karena dengan dana zakat yang sangat potensial itu dapat memberi
peluang dan kesempatan untuk berusaha, melakukan berbagai kegiatan
dan usaha-usaha ekonomi untuk mengaktualkan potensi yang ada pada
dirinya, meskipun persamaan kesempatan itu tidak sama bobotnya
sebagaimana pengertian yang dikembangkan oleh masyarakat liberalismekapitalisme.34
Menurut al-Qur'an, persamaan kesempatan itu memuat pengertian
bahwa, setiap orang mempunyai hak yang sama untuk memperoleh
kehidupan yang layak dan sejahtera berdasarkan rasa keadilan Ilahi, dan
34

Abdurrachman Qadir, op. cit, hlm. 143

36

rasa saling membutuhkan. Oleh karena itu, terdapat tuntutan sekaligus ada
pengakuan bahwa untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik perlu
diseimbangkan antara kepentingan jasmaniah dengan kepentingan
rohaniah.
Sesungguhnya al-Qur'an telah menggariskan suatu tatanan
masyarakat yang bermoral dan egalitarian yaitu terwujudnya suatu
masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan sosial, bukan disequilibrium
sebagaimana gambaran pada sikap Qarun, Fir'aun dan Hamman yang tidak
berperikeadilan sosial (Q.S. 28/ al-Qashash: 76) .
Beberapa bentuk keadilan tersebut, keadilan ekonomi dalam
bentuk kewajiban zakat adalah wujud keadilan sosial yang paling konkrit
yang mempunyai obyek dan tujuan yang luas, yaitu mengurangi berbagai
masalah sosial, seperti kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan dalam
masyarakat sebagai akibat dari sikap dan perilaku yang tidak berkeadilan
sosial. Konsep keadilan sosial Islami mengajarkan dan mengusahakan
untuk mendekatkan jarak antara yang kaya dan yang miskin, agar jangan
sampai terjadi jurang pemisah yang terlalu dalam dan terhindar dari
berbagai kerawanan sosial.
Konsep keadilan ekonomi ini mendapat perhatian penting bersama
pelurusan akidah (tauhid), oleh Fazlur Rahman disebut sebagai elan dasar
al-Quran. Hal itu dapat dilihat dari beberapa ayat al-Qur'an yang
diturunkan dalam periode Mekah (Makkiyah) yang mencela sikap
masyarakat jahiliah yang berlaku zalim dalam bidang ekonomi dengan
berbagai bentuk dan manifestasi.35
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsepsi
keadilan ekonomi yang Islami mempunyai ciri khas dari konsep ekonomi
yang lain, di antaranya: pertama, keadilan sosial Islami dilandasi prinsip
keimanan yaitu, bahwa semua yang ada di alam semesta adalah milik
Allah. (Q.S. 10/Yunus:55). Kedua, keadilan sosial dalam Islam berakar
35

Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual, Terj.
Ahsin Mohammad, Pustaka, Bandung, 2000, hlm. 21

37

pada moral, ketiga, secara filosofis, konsep keadilan sosial berlandaskan
pada

pandangannya

mengenai

sesuatu

yang

memaksimumkan

kebahagiaan manusia. Dengan kata lain, kebahagiaan adalah wujud apa
saja yang membahagiakan manusia.

3. Aspek Politik
Politik yang bahasa Arabnya as-siyasah (‫ ) اﻟ ّ ﺎ ﺔ‬merupakan
mashdar dari kata sasa yasusu (‫ﻮس‬

‫) ﺎس‬, yang pelakunya sa'is (

‫) ﺎﺋ‬.

Ini merupakan kosa kata bahasa Arab asli, Tapi yang aneh, ada yang
mengatakan bahwa kata ini diadopsi dari selain Bahasa Arab.36 Secara
terminologi, bahwa pada umumnya dikatakan, politik (politics) adalah
bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang
menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan
melaksanakan tujuan-tujuan itu.37
Hakikat politik adalah perilaku manusia, baik berupa aktivitas
ataupun sikap, yang bertujuan mempengaruhi ataupun mempertahankan
tatanan sebuah masyarakat dengan menggunakan kekuasaan. Ini berarti
bahwa kekuasaan bukanlah hakikat politik, meskipun harus diakui bahwa
ia tidak dapat dipisahkan dari politik, justru politik memerlukannya agar
sebuah kebijaksanaan dapat berjalan dalam kehidupan masyarakat.38
Wacana politik yang berkaitan dengan keadilan sosial akan
berhubungan langsung dengan demokrasi dan penegakan hak-hak asasi.
Pembahasan politik selalu diidentikkan dengan kekuasaan, padahal dalam
proses sejarah politik tidak harus dilihat dari kacamata kekuasaan belaka,
bahkan makna politik akan semakin absurd (kabur) jika hanya dilihat
dalam perspektif kekuasaan.

36

Yusuf al-Qardawi, As-Siyasah Asy-Syar’iyah, Maktabah Wahbah, Cairo, 1419
H/1998 M, hlm. 28.
37
Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 1982, hlm. 8.
38
Abdul Muin Salim, Fiqh Siyasah Konsepsi Kekuasaan Politik Dalam Al-Qur'an,
PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 37

38

Ada beberapa hal yang perlu dikaji, yang berhubungan dengan
keadilan dalam bidang politik:
a. Keadilan dalam memegang kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok
manusia untuk mempengaruhi tingkah lakunya seseorang atau
kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi
sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai
kekuasaan itu. Gejala kekuasaan ini adalah gejala yang lumrah
terdapat dalam setiap masyarakat, dalam semua bentuk masyarakat.39
Mekanisme perimbangan kekuasaan itu menjadi dasar semua tatanan
keadilan, yang jika manusia ikut serta dalam menegakkannya akan
menjadi jaminan bagi kelangsungan hidup masyarakat atau bangsa
sendiri.
Mekanisme kontrol dan perimbangan di zaman modern ini
telah dibentuk menjadi sistem kenegaraan, yaitu sistem demokrasi.
Prinsip utama dalam sistem demokrasi adalah kekuasaan ada di tangan
rakyat yang berjalan melalui mekanisme perwakilan. Di mana rakyat
berpartisipasi aktif dalam mekanisme pemerintahan baik melakukan
kontrol secara langsung maupun tidak langsung (wakil mereka).
Istilah demokrasi tersebut terdiri dari dua perkataan, yaitu
demos yang berarti rakyat dan cratein yang berarti pemerintah.
Dengan demikian dilihat dari arti kata-katanya demokrasi adalah
pemerintahan rakyat, yang kemudian diartikan pemerintahan dari
rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.40 Dalam hal ini, demokrasi dalam
bidang politik harus memandang dasar keadilan yang didampingi oleh
rasa kemerdekaan (hurrihyah) dan persamaan (musawah). Jika hal ini
digabungkan akan membentuk hukum yang "demokratis" tertinggi di
mana negara kerakyatan dapat memayungi rakyat dengan keadilan dan
39

Miriam Budiardjo, op. cit, hlm. 245
Sri Soemantri Martosoewignjo, Pengantar Perbandingan Antar Hukum Tata
Negara, CV.Rajawali, Jakarta, 1981, hlm. 25.
40

39

ketentraman.41 Jadi yang dimaksud keadilan di sini keadilan yang
harus

dipegang

perimbangan

atau

seorang
keadaan

pemimpin
seimbang,

yang

mengandung

tidak

pincang

arti
dalam

menunaikan tugas yang diamanatkan Allah ataupun rakyat kepada
dirinya, agar amanat itu dijalankan sebagaimana mestinya menurut
undang-undang dan hukum yang berlaku.
b. Keadilan dalam memberikan hak warga negara
Keadilan tidak akan pernah lepas dari masalah-masalah
penegakan hak-hak asasi. Di mana keadilan itu sendiri harus
ditegakkan lewat pemberian hak kepada yang berhak.
Keadilan itu yang dimaksud adalah keadilan dalam pemberian
hak-hak warga negara. Inilah keadilan yang tidak dapat diabaikan
dalam ranah politik. Adanya tingkat partisipasi politik yang tinggi,
dalam Islam itu berakar dalam adanya hak-hak pribadi dan hak-hak
masyarakat yang tidak dapat diingkari. Hak pribadi dalam masyarakat
menghasilkan adanya tanggung jawab bersama terhadap kesejahteraan
para warga. Hak masyarakat itu atas pribadi warga negaranya
menghasilkan kewajiban setiap pribadi warga itu kepada masyarakat.
Jadi, hak dan kewajiban adalah sesungguhnya dua sisi dari satu
kenyataan hakiki manusia, yaitu harkat dan martabatnya.42
Disinilah fungsi negara sebagai sistem kekuasaan, yaitu
menjamin kepada seluruh warganya untuk dapat menikmati hak-hak.
Hak-hak yang paling asasi yang dimiliki manusia bukanlah hadiah
dari negara tetapi merupakan kodrat martabat kemanusiaan yang telah
diberikan Tuhan sejak lahir. Di antara hak-hak dasar itu adalah hak
berpendapat, hak kebebasan beragama, hak hidup yang layak, hak
berserikat. Hak-hak ini harus selamanya dijamin dalam realisasinya

41
42

562.

H, Zainal Abidin Ahmad, Membangun Negara Islam, op.cit,, hlm, 44
Nurcholish Majid, Islam Doktrin dan Peradaban, Paramadina, Jakarta,1992, hlm.

40

dan jika negara atau orang lain merampasnya sudah seharusnya
dituntut.
C. Konsep Keadilan Gender dalam Islam
Inti keadilan adalah persamaan hak, sedangkan yang disebut gender
yakni suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang
dikonstruksi secara sosial maupun kultural.43 Pengertian lain menganggap
gender adalah suatu konsep kultural yang dipakai untuk membedakan peran,
perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan
perempuan yang berkembang dalam masyarakat.44 Gender adalah usaha
sebagai perbedaan yang tampak (kelihatan) antara laki-laki dan perempuan
dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Tetapi oleh beberapa ahli gender
keterangan itu mesti ditambah dan disempurnakan. Wilson yang dikutip
Yudhie R.Haryono menulis; gender adalah sumbangan laki-laki dan
perempuan pada kebudayaan kolektif (masyarakat), yang sebagai akibatnya
mereka menjadi laki-laki dan perempuan. Jadi ada aspek fungsi yang
membedakan antar keduanya, yaitu antara laki-laki dan perempuan.45
Gender adalah perbedaan sosial antara kaki-laki dan perempuan yang
di titik beratkan pada prilaku, fungsi dan peranan masing-masing yang
ditentukan oleh kebiasaan masyarakat dimana ia berada atau konsep yang
digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat
dari segi sosial budaya. Pengertian ini memberi petunjuk bahwa hal yang
terkait dengan gender adalah sebuah kontruksi sosial (social contruction).

43

Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2005, hlm. 8. Kata “kultural” berarti kebudayaan, dan kata kebudayaan menurut
E.B. Tylor yang dikutip Soerjono Soekanto yaitu kompleks yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan-kemampuan serta kebiasaan
yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Definisi yang singkat yaitu semua
hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Lihat Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar,
CV. Rajawali, Jakarta, 1984, hlm. 167.
44
Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 2004, hlm. 4.
45
Yudhie R.Haryono, Bahasa Politik Al-Qur'an, Gugus Press, Jakarta, 2002, hlm.
251.

41

Singkat kata, gender adalah interprestasi budaya terhadap perbedaan jenis
kelamin.46
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gender
adalah usaha mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari
segi-segi sosial budaya, psikologis bahkan moral etika dan seni. Inti dari
wacana gender itu sendiri adalah persamaan hak. Dari pengertian itu maka
keadilan gender itu sebenarnya sudah ada, tapi hakikat keadilan gender yang
memperkuat persamaan hak antara laki-laki dan perempuan itu dalam
pelaksanaannya seringkali mengalami distorsi.
Berbicara tentang konsep gender dalam Islam ditemukan sejumlah ayat
dalam Al-Qur'an, antara lain QS Al-Hujurat, [49]:13, Al-Nisa', [4]:1, Al-A'raf,
[7]:189, Al-Zumar, [39]:6, Fatir, [35]:11, dan Al-Mu'min, [40]: 67
menegaskan bahwa dari segi hakikat penciptaan, antara manusia yang satu dan
manusia lainnya tidak ada perbedaan, termasuk di dalamnya antara perempuan
dan laki-laki. Karena itu, tidak perlu ada semacam superioritas suatu
golongan, suku, bangsa, ras, atau suatu entitas jender terhadap lainnya.
Kesamaan asal mula biologis ini mengindikasikan adanya persamaan antara
sesama manusia, termasuk persamaan antara perempuan dan laki-laki.
Penjelasan di atas menyimpulkan bahwa Al-Qur'an menegaskan equalitas
perempuan dan laki-laki. Senada dengan Al-Qur'an, sejumlah hadis Nabi pun
menyatakan bahwa sesungguhnya perempuan itu mitra sejajar laki-laki.
Dengan demikian, pada hakikatnya manusia itu adalah sama dan sederajat,
mereka bersaudara dan satu keluarga.
Meskipun secara biologis keduanya: laki-laki dan perempuan berbeda
sebagaimana dinyatakan juga dalam Al-Qur'an, namun perbedaan jasmaniah
itu tidak sepatutnya dijadikan alasan untuk berlaku diskriminatif terhadap
perempuan. Perbedaan jenis kelamin bukan alasan untuk mendiskreditkan
perempuan dan mengistimewakan laki-laki. Perbedaan biologis jangan
menjadi pijakan untuk menempatkan perempuan pada posisi subordinat dan
46

Waryono Abdul Ghafur, Tafsir Sosial Mendialogkan Teks Dengan Konteks, elSAQ
Press, Yogyakarta, 2005, hlm. 103

42

laki-laki pada posisi superordinat. Perbedaan kodrati antara laki-laki dan
perempuan seharusnya menuntun manusia kepada kesadaran bahwa laki-laki
dan perempuan memiliki perbedaan dan dengan bekal perbedaan itu keduanya
diharapkan dapat saling membantu, saling mengasihi dan saling melengkapi
satu sama lain. Karena itu, keduanya harus bekerja sama, sehingga terwujud
masyarakat yang damai menuju kepada kehidupan abadi di akhirat nanti.47
Islam secara tegas menempatkan perempuan setara dengan laki-laki,
yakni dalam posisi sebagai manusia, ciptaan sekaligus hamba Allah Swt. Dari
perspektif penciptaan, Islam mengajarkan bahwa asal penciptaan laki-laki dan
perempuan adalah sama, yakni sama-sama dari tanah (saripati tanah), sehingga
sangat tidak beralasan memandang perempuan lebih rendah daripada laki-laki.
Pernyataan ini misalnya terdapat dalam QS. Al-Mukminun, [23]:12-16; AlHajj, [22]:5; dan Shad, [3 8] 71. Dari perspektif amal perbuatan, keduanya
dijanjikan akan mendapat pahala apabila mengerjakan perbuatan yang makruf
dan diancam dengan siksaan jika berbuat yang mungkar (Al-Nisa', [4]:24; AlNahl, [16]:97; Al-Maidah, [5]:38; Al-Nur, 2; Al-Ahzab,[33]:35-36; Al-An'am,
[6]: 94; Al-Jatsiyah, [45]:21-22; Yunus, [10]:44; Al-Baqarah, [2]:48; dan Ali
Imran, [3]:195). Sebagai manusia, perempuan memiliki hak dan kewajiban
untuk melakukan ibadah sama dengan laki-laki. Perempuan juga diakui
memiliki hak dan kewajiban untuk meningkatkan kualitas dirinya melalui
peningkatan ilmu dan takwa, serta kewajiban untuk melakukan tugas-tugas
kemanusiaan yang dalam Islam disebut amar ma'ruf nahi munkar menuju
terciptanya masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera (baldatun thayyibah
wa rabun ghafur).
Akan tetapi, dalam realitas sosiologis di masyarakat, perempuan
seringkali diperlakukan tidak setara dengan laki-laki. Kondisi yang timpang
ini muncul karena masyarakat sudah terlalu lama terkungkung oleh nilai-nilai
patriarkhi dan nilai-nilai bias gender dalam melihat relasi kuasa antara lakilaki dan perempuan. Nilai-nilai patriarki selalu menuntut pengakuan
masyarakat atas kekuasaan laki-laki dan segala sesuatu yang berciri laki-laki.
47

Siti Musdah Mulia, op. cit, hlm. 6

43

Dalam pandangan patriarki, laki-laki dan perempuan adalah dua jenis makhluk
yang berbeda sehingga keduanya perlu dibuatkan segregasi ruang yang ketat;
laki-laki menempati ruang publik, sedangkan perempuan cukup di ruang
domestik. Posisi perempuan hanyalah merupakan subordinate dari laki-laki.48
Karena itu, perlu sekali memberikan wawasan baru yang lebih
humanis dan lebih sensitif jender kepada para pemuka agama, laki-laki dan
perempuan, sehingga pada gilirannya nanti terbangun kesadaran di kalangan
mereka akan perlunya reinterprestasi ajaran agama, khususnya ajaran yang
berbicara tentang relasi gender. Tidak ada jalan lain untuk keluar dari kondisi
demikian selain melakukan pembongkaran (dekonstruksi) atas seluruh
penafsiran agama yang memposisikan perempuan sebagai objek. Selanjutnya,
akan terbangun penafsiran yang menempatkan perempuan sebagai manusia
yang utuh, sebagai subjek yang otonom yang memiliki kebebasan memilih
(freedom of choice) atas dasar hak-haknya yang sama dengan laki-laki.
Bukankah Al-Qur'an sudah menegaskan:

‫ﹰ‬
‫ ـ‬‫ﹶ ِ ﹰﹶ‬
‫ِﹶ‬
‫ﺜ‬
‫ﹶ‬
‫ﹶﹸ‬
‫ﹶﺳ‬
‫ﹶ‬ ‫ﹶﺻِﹰ‬
ِ
(97 : ) ‫ﹶ ِ ﹶﹾ ﹸﹶ‬
ِ ‫ﹶِ ﹶ‬
Artinya: "Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan, dalam keadaan beriman, sesungguhnya Kami
akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami
juga akan memberikan balasan berupa pahala yang lebih
baik daripada yang telah mereka kerjakan" (QS Al-Nahl,
[16]:97).49
Islam diturunkan sebagai pembawa rahmat keseluruh alam, termasuk
kepada kaum perempuan. Nilai-nilai fundamental yang mendasari ajaran Islam
seperti perdamaian, pembebasan, dan egalitarianisme termasuk persamaan
derajat antara lelaki dan perempuan banyak tecermin dalam ayat-ayat AlQuran. Kisah-kisah tentang peran penting kaum perempuan di zaman Nabi
48

Ibid, hlm. 8
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir
Terjemahnya, Departemen Agama 1986, hlm. 417
49

al-Qur’an,

Al-Qur’an

dan

44

Muhammad Saw., seperti Siti Khadijah, Siti Aisyah, dan lain-lain, telah
banyak ditulis. Begitu pula tentang sikap beliau yang menghormati kaum
perempuan dan memperlakukannya sebagai mitra dalam perjuangan.
Namun dalam kenyataan dewasa ini dijumpai kesenjangan antara
ajaran Islam yang mulia tersebut dengan kenyataannya dalam kehidupan
sehari-hari. Khusus tentang kesederajatan antara lelaki dan perempuan, masih
banyak tantangan dijumpai dalam merealisasikan ajaran ini, bahkan di tengah
masyarakat Islam sekalipun. Kaum perempuan masih tertinggal dalam banyak
hal dari mitra lelaki mereka. Dengan mengkaji data dan mencermati fakta
yang menyangkut kaum perempuan seperti tingkat pendidikan mereka, derajat
kesehatan, partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan, tindak kekerasan
terhadap perempuan, pelecehan seksual dan perkosaan, eksploitasi terhadap
tenaga kerja perempuan, dan sebagainya, kita dapat menyimpulkan betapa
masih memprihatinkannya status kaum perempuan.
Perjuangan untuk mencapai kesederajatan dengan kaum lelaki
sebagaimana diajarkan Al-Qur'an masih panjang dan memerlukan dukungan
dari semua pihak termasuk kaum lelaki. Bagaimanapun juga, masalah
perempuan adalah masalah kemanusiaan, termasuk di dalamnya kaum lelaki.
Sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an, lelaki dan perempuan itu saling
menolong, saling memuliakan, dan saling melengkapi.
Al-Qur'an tidak mengajarkan diskriminasi antara lelaki dan perempuan
sebagai manusia. Di hadapan Tuhan, lelaki dan perempuan mempunyai derajat
yang

sama.

Namun

masalahnya

terletak

pada

implementasi

atau

operasionalisasi ajaran tersebut. Banyak faktor seperti lingkungan budaya dan
tradisi yang patriarkat, sistem (termasuk sistem ekonomi dan politik), serta
sikap dan perilaku individual yang menentukan status kaum perempuan dan
ketimpangan gender tersebut.
Dalam kondisi seperti ini yang perlu dilakukan adalah pemberdayaan
terhadap kaum perempuan serta penyadaran akan hak dan status mereka yang
Islami. Penyadaran juga perlu dilakukan terhadap kaum lelaki sehingga
pengistimewaan telah berabad-abad mereka nikmati karena kultur yang

45

patriarkat dapat dikurangi. Kesejajaran akan tercapai jika perempuan di satu
sisi meningkatkan kemampuannya dan lelaki di sisi lain mengurangi tuntutan
akan pengistimewaan tersebut.50

Dokumen yang terkait

Dokumen baru