KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI

INDEKS DESA MEMBANGUN

KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL
DAN TRANSMIGRASI

Indeks Desa Membangun 2015

Pengarah :
Anwar Sanusi
Syaiful Huda
Penanggung Jawab :
Ahmad Erani Yustika

Tim Penyusun :
Hanibal Hamidi (Ketua)
FX. Nugroho Setijonegoro (Sekretaris)
Fujitriartanto
Armen Sa’id
Harioso
Huda
Andik Hardiyanto
Bambang Waluyanto
Indra Sakti Gunawan Lubis
Dani Setiawan
Hadi Prayitno
Ana Fitrotul Mu’arofah

Tim Pendukung :
Heryadi
Ali Mashuda
Muhammad Rahmat

Diterbitkan oleh :
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi
Alamat : Jl. TMP Kalibata no. 17 Jakarta Selatan

ii 
 

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ……………………………………………… …………….. iii
PRAKATA MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH
TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI ……………………………...…. v
I.

PENDAHULUAN ……....……………………………….………….. 1

II.

IDM DAN PENGEMBANGAN PROGRAM …………………….... 3

III. KLASIFIKASI DAN STATUS DESA ……………………..………. 5
IV. METODE PENYUSUNAN IDM ………………….……………….. 7
V.

PETA DESA BERDASARKAN INDEKS DESA MEMBANGUN... 8

VI. SITUASI DESA-DESA DI PERBATASAN BERDASARKAN
INDEKS DESA MEMBANGUN (IDM) 2015 ….………..………... 12

DAFTAR TABEL
INDIKATOR DESA MEMBANGUN
INDEKS DESA MEMBANGUN PER KABUPATEN / KOTA 2015
LOKASI SASARAN PRIORITAS PEMBANGUNAN 15.000 DESA

DAFTAR GAMBAR
TIGA DIMENSI INDEKS DESA MEMBANGUN
JUMLAH DAN KLASIFIKASI DESA BERDASARKAN STATUS IDM
2015
STATUS DESA BERDASARKAN IDM 2015
INDEKS DESA MEMBANGUN PER PROVINSI
JUMLAH DAN STATUS DESA BERDASAR IDM PER PROVINSI
INDEKS DESA MEMBANGUN PER PROVINSI DI PULAU BESAR
JUMLAH DAN STATUS DESA BERDASARKAN IDM DI DAERAH
PERBATASAN

iii 
 

iv 
 

Men
nteri Desa, Pembangu
P
unan Daera
ah Tertingg
gal, dan Traansmigrasii
R
Republik In
ndonesia
PRAKA
ATA

NAWA
WACITA Jok
kowi–Jusuf Kalla telahh diarusutam
makan
menjaadi strategii pembang
gunan di ddalam Ren
ncana
Pembaangunan Jaangka Men
nengah Nassional (RPJJMN)
2015-22019.

Paada

NAW
WACITA

Ketiga

telah

dimanndatkan

un
ntuk

“Mem
mbangun

Indonesia

dari

pinggiiran dengan
n memperkuat daerah dan Desa””. Hal
itu dim
maksudkan untuk menjawab persooalan kemiskinan
dan kerenttanan akibaat dari ketim
mpangan pem
mbangunan yang telah dilakukan.
Realisasi kebijakan tentu
t
saja tiidak dapat dilakukan secara
s
sekalligus, melainkan
secara beertahap. Ag
genda satuu tahun pertama dim
maksudkan sebagai upaya
u
membanguun fondasi untuk melaakukan akseelerasi yang
g berkelanjuutan pada tahuntahun beriikutnya, di samping m
melayani keebutuhan-keebutuhan ddasar masyaarakat
yang terggolong men
ndesak. Deengan berllandaskan fondasi yaang lebih kuat,
pembanguunan pada tahun-tahunn berikutny
ya dapat diilaksanakann dengan laancar.
Sementaraa, agenda taahun kedua sampai tahu
un kelima sendiri diharrapkan jugaa akan
meletakkaan fondasi yang kokooh bagi taahap-tahap pembangunnan selanju
utnya.
Dengan deemikian, strrategi pembbangunan jangka menen
ngah, termaasuk di dalaamnya
strategi paada tahun pertama, addalah strateegi untuk menghasilka
m
kan pertumb
buhan
bagi sebessar-besar keemakmuran rakyat secaara berkelan
njutan.
Sehingga pemerintah
h bertangggung jawab
b untuk meelakukan uupaya peceepatan
pemerataaan

dan

keadilan
k

m
melalui

menciptakan
m
n

pertumbbuhan

ink
klusif,

memperbeesar investaasi padat pekkerja, memb
berikan perhatian khussus kepada usaha
u
ekonomi yang tradeable, mennjamin perrlindungan sosial, meeningkatkan
n dan


 

memperluas pelayanan dasar bagi masyarakat kurang mampu, memperluas
ekonomi perdesaan dan mengembangkan sektor pertanian, serta menjaga stabilitas
harga dan menekan laju inflasi.
Penggunaan istilah “pembangunan Desa” atau “Desa membangun” merupakan
pilihan paradigmatis yang sarat makna. Pengakuan dan penghormatan Negara
kepada Desa yang disertai dengan redistribusi sumberdaya dan kewenangan
pembangunan secara penuh sebagaimana mandat Undang-Undang No. 6 Tahun
2014, memberikan tanda yang jelas bahwa dari situlah Desa harus menjadi
tumpuan untuk membangun Indonesia.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik
Indonesia menyambut Undang-Undang tersebut sebagai titik tolak atas lahirnya
(kembali) Desa baru, sekaligus menjadi momentum untuk membuang jauh-jauh
paradigma Desa lama.
Pada hakekatnya Desa merupakan entitas bangsa yang telah membentuk Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melalui pengembangan paradigma dan
konsep baru tata kelola Desa secara nasional, berlandaskan prinsip keberagaman
serta mengedepankan asas rekognisi dan subsidiaritas, tidak lagi menempatkan
Desa sebagai “latar belakang Indonesia”, melainkan sebagai “halaman depan
Indonesia”.
Visi Desa Membangun Indonesia adalah irisan sinergis antara Catur Sakti dan Tri
Sakti yang merupakan pengejawantahan operasional Nawa Cita Presiden
Republik Indonesia. Catur Sakti bermakna Desa bertenaga secara sosial, berdaulat
secara politik, bermartabat secara budaya, dan mandiri secara ekonomi.
Cita-cita tersebut memberikan arah yang jelas kepada pemerintah untuk hadir
dalam kerangka fasilitasi, afirmasi, integrasi dan akselerasi menuju terciptanya
Desa Mandiri. Kebijakan yang lahir tidak lagi dalam kapasitas mengendalikan dan
mendikte, melainkan untuk memicu kreativitas asli Desa secara emansipatoris
serta mengisi kebutuhan pembangunan yang belum mampu diselenggarakan
sendiri oleh Desa.

vi 
 

Pengembangan Indeks Desa Membangun (IDM) didedikasikan untuk memperkuat
pencapaian sasaran pembangunan prioritas sebagaimana tertuang di dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015–2019, yaitu
mengurangi jumlah Desa Tertinggal sampai 5000 Desa, dan meningkatkan jumlah
Desa Mandiri sedikitnya 2000 Desa pada tahun 2019.
Indeks Desa Membangun (IDM) meletakkan prakarsa dan kuatnya kapasitas
masyarakat sebagai basis utama dalam proses kemajuan dan keberdayaan Desa
yaitu meliputi aspek ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi. Sehingga indeks ini
difokuskan pada upaya penguatan otonomi Desa melalui pemberdayaan
masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat Desa inilah yang akan menjadi tumpuan utama
terjadinya

proses

peningkatan

partisipasi

yang

berkualitas,

peningkatan

pengetahuan, dan peningkatan keterampilan, atau secara umum dapat disebut
sebagai peningkatan kapasitas dan kapabilitas masyarakat Desa itu sendiri.
Oleh karena itu terbitnya buku “INDEKS DESA MEMBANGUN” ini diharapkan
akan membantu Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi serta Kementerian Negara/Lembaga lainnya, maupun pemerintah
daerah baik Provinsi, Kabupaten dan Kota dalam menentukan lokus dan fokus
strategis sebagai sasaran pembangunan, dalam mencapai sasaran strategis
terentaskannya 5000 Desa Tertinggal (dan Desa sangat Tertinggal) serta
terwujudnya paling sedikit 2000 Desa mandiri pada tahun 2019.
Jakarta, Oktober 2015
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
Republik Indonesia

MARWAN JAFAR

vii 
 

Indeks Desa Membangun

I.

PENDAHULUAN

Indeks Desa Membangun, atau disebut IDM, dikembangkan untuk
memperkuat upaya pencapaian sasaran pembangunan Desa dan Kawasan
Perdesaan sebagaimana tertuang dalam Buku Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional 2015 – 2019 (RPJMN 2015 – 2019), yakni mengurangi
jumlah Desa Tertinggal sampai 5000 Desa dan meningkatkan jumlah Desa
Mandiri sedikitnya 2000 Desa pada tahun 2019. Sasaran pembangunan tersebut
memerlukan kejelasan lokus (Desa) dan status perkembangannya. Indeks Desa
Membangun tidak hanya berguna untuk mengetahui status perkembangan setiap
Desa yang lekat dengan karakteristiknya, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai
instrumen untuk melakukan targeting dalam pencapaian target RPJMN 2015 –
2019 dan koordinasi K/L dalam pembangunan Desa.
IDM lebih menyatakan fokus pada upaya penguatan otonomi Desa. Indeks
ini mengikuti semangat nasional dalam upaya peningkatan kualitas kehidupan
Desa seperti yang dinyatakan sangat jelas dalam dokumen perencanaan
pembangunan nasional melalui optimalisasi pelaksanaan UU No. 6 Tahun 2014
Tentang Desa (UU Desa), serta komitmen politik membangun Indonesia dari
Desa melalui pembentukan kementerian Desa (Kementerian Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal dan Transmigrasi) dalam kepemimpinan pemerintahan Kabinet
Kerja Jokowi – Jusuf Kalla.
Banyak pihak telah memahami, UU Desa memberi inspirasi dan semangat
perubahan. Terkait Dana Desa misalnya, redistribusi asset negara bersumber
APBN itu membuktikan mampu menggerakan perubahan di Desa. Pembangunan
Desa tumbuh menjadi kehebatan dan semangat baru dalam kehidupan Desa.
Berdasar UU Desa tersebut, perubahan kehidupan Desa digerakan dalam kerangka
kerja: pengertian dan jenis Desa (yakni Desa dan Desa Adat atau yang disebut
dengan nama lain), tujuan pengaturan, azas-azas, kedudukan, kewenangan,
keuangan dan asset, tata pemerintahan, kelembagaan masyarakat dan adat,
pemberdayaan masyarakat Desa, pembangunan Desa dan Kawasan Perdesaan,
dan berikut dukungan pendamping Desa dan sistem informasi Desa. Dalam
kontekstual relevansi itulah IDM dikembangkan.
Azas-azas yang menjadi dasar pengaturan Desa dalam UU Desa dikuatkan
dengan penegasan tentang Kewenangan Desa. Kewenangan Desa itu sendiri
dijelaskan meliputi kewenangan yang meliputi penyelenggaraan pemerintahan
Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan
pemberdayaan masyarakat Desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul,
dan adat istiadat Desa. Dalam fokus kewenangan berdasar hak asal usul dan
kewenangan lokal berskala Desa, tiga hal yang disebut terakhir, yakni: prakarsa
masyarakat, hak asal usul dan adat istiadat Desa itu akan memperkuat pondasi
1

otonomi Desa. Dan dalam kerangka pemahaman itulah, pendekatan Indeks Desa
Membangun dikembangkan. IDM memandang penting prakarsa dan kuatnya
masyarakat Desa dalam proses kemajuan dan keberdayaan kehidupan Desa yang
di dalamnya memiliki ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
dibentuk untuk melaksanakan mandat UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa.
Undang- Undang Desa memberi dasar bagi cara pandang dan pendekatan baru
tentang
Desa, mengedepankan prinsip keberagaman, azas rekognisi dan
subsidiaritas itu serta menguatkannya dalam jenis-jenis kewenangan Desa. Pasal 4
Undang-Undang Desa menguraikan tujuan pengaturan Desa sebagai berikut:
a. memberikan pengakuan dan penghormatan atas Desa yang sudah ada
dengan keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
b. memberikan kejelasan status dan kepastian hukum atas Desa dalam
sistem ketatanegaraan Republik Indonesia demi mewujudkan keadilan
bagi seluruh rakyat Indonesia;
c. melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat
Desa;
d. mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat Desa untuk
pengembangan potensi dan Aset Desa guna kesejahteraan bersama;
e. membentuk Pemerintahan Desa yang profesional, efisien dan efektif,
terbuka, serta bertanggung jawab;
f. meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat Desa guna
mempercepat perwujudan kesejahteraan umum;
g. meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat Desa guna
mewujudkan masyarakat Desa yang mampu memelihara kesatuan
sosial sebagai bagian dari ketahanan nasional;
h. memajukan perekonomian masyarakat Desa serta mengatasi
kesenjangan pembangunan nasional; dan
i. memperkuat masyarakat Desa sebagai subjek pembangunan.
Tujuan pengaturan Desa tersebut di atas merefleksikan masalah dan
hambatan struktural dalam pembangunan Desa yang harus ditangani di satu sisi,
serta apa yang hendak diwujudkan melalui pelaksanaan Undang Undang Desa di
sisi yang lain. Secara teknokrasi pembangunan, pesan penting „membangun
Indonesia dari Desa‟ termuat dalam NawaCita yang juga telah diadopsi penuh
menjadi Agenda Pembangunan Nasional dalam RPJMN 2015 – 2019.
Desa Membangun Indonesia tetap dihadapkan pada kenyataan kemiskinan
kehidupan Desa. Wilayah Desa adalah tempat di mana sebagian besar penduduk

2

miskin tinggal. Maka di sini, ketersediaan data dan pengukuran dalam konteks ini
sangat dibutuhkan, terutama dalam pengembangan intervensi kebijakan yang
mampu menjawab persoalan dasar pembangunan dan pemberdayaan masyarakat
Desa. Pencapaian pemerataan keadilan merupakan isu penting dalam
pembangunan nasional, dan tentu juga dalam pembangunan Desa. Pertumbuhan
ekonomi yang diharapkan adalah pertumbuhan yang inklusif, di mana pengelolaan
potensi ekonomi Desa dan Kawasan Perdesaan tidak hanya mampu menyertakan
sebanyak-banyaknya angkatan kerja lulusan SD/SMP, tetapi juga ramah keluarga
miskin, mampu memperbaiki pemerataan dan mengurangi kesenjangan. Perhatian
khusus terhadap usaha mikro di Desa haruslah dikedepankan yang memang nyata
perlu dukungan dalam hal penguatan teknologi yang ramah lingkungan,
pemasaran, permodalan dan akses pasar.
Selain itu, Desa Membangun Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk
juga mampu memperluas ekonomi perdesaan dan mengembangkan sektor
pertanian. Produksi pertanian petani miskin, perikanan tangkap dan budidaya
tidak saja harus dilindungi, tetapi terus diberdayakan dengan dukungan
ketersediaan sarana dan prasarana perekonomian Desa dan Kawasan Perdesaan,
akses pada kredit keuangan dan sumber permodalan, riset dan teknologi, serta
penyediaan informasi.
Dengan demikian, pengembangan Indeks Desa Membangun harus mampu
menjangkau semua dimensi kehidupan Desa, yakni dimensi sosial, ekonomi, dan
ekologi atau lingkungan yang memberi jalan pada pembangunan Desa yang
berkelanjutan yang lekat dengan nilai, budaya dan karakteristik Desa.

II. IDM DAN PENGEMBANGAN PROGRAM
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
melalui Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
telah mengembangkan program unggulan berdasar tiga (3) pendekatan yang
disebut sebagai pilar Desa Membangun Indonesia, yakni: (i) Jaring Komunitas
Wiradesa; (ii) Lumbung Ekonomi Desa; dan (iii) Lingkar Budaya Desa. Melalui
tiga (3) pilar tersebut diharapkan arah pengembangan program prioritas untuk
menguatkan langkah bagi kemajuan dan kemandirian Desa, yang juga mampu
dikembangkan sebagai daya lenting dalam peningkatan kesejahteraan kehidupan
Desa. Tiga (3) pilar yang dimaksud dapat dijelaskan sebagai berikut:


Jaring Komunitas Wiradesa. Memperkuat kualitas manusia dengan
memperbanyak kesempatan dan pilihan dalam upaya penduduk Desa
menegakkan hak dan martabatnya, serta peningkatan memajukan
3





4

kesejahteraan, mereka, baik sebagai individu, keluarga maupun
kolektiva warga Desa. Masalah yang dihadapi saat ini adalah
perampasan daya, yang ternyatakan pada situasi ketidakberdayaan dan
marjinalisasi. Fakta ketidakberdayaan itu telah berkembang menjadi
aspek, sebab, dan sekaligus dampak kemiskinan, yang menghalangi
manusia warga Desa itu hidup bermartabat dan sejahtera. Kemiskinan
dalam kehidupan Desa telah berkembang dalam sifatnya yang
multidimensi dan cenderung melanggar hak asasi. Di sini, pilar Jaring
Komunitas Desa harus melakukan tindakan yang mampu mendorong
ekspansi kapabilitas dengan memperkuat daya pada berbagai aspek
kehidupan manusia warga Desa yang menjangkau aspek nilai dan
moral, serta pengetahuan lokal Desa.
Lumbung Ekonomi Desa. Potensi sumber daya di Desa bisa
dikonversi menjadi ekonomi yang di dalamnya melibatkan adanya
modal, organisasi ekonomi, ada nilai tambah dan mensejahterakan
secara ekonomi. Lumbung Ekonomi Desa bukan hanya soal dan untuk
produksi, tapi dikapitasi memiliki nilai tambah melalui pendayagunaan
teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. Pengembangan Lumbung
Ekonomi Desa harus mampu menjawab masalah modal, jaringan dan
memiliki informasi yang kuat dan oleh karenanya, organisasi ekonomi
yang dikembangkan haruslah kompatibel dengan hal tersebut. Dalam
konteks pelaksanaan Undang-Undang Desa misalnya, BUMDes akan
kuat jika dibangun dan dikelola orang-orang Desa yang teruji secara
nilai dan moral, serta memiliki modal sosial yang kuat, mampu
mengembangkan kreasi dan daya untuk menjangkau modal, jaringan
dan informasi.
Lingkar Budaya Desa. Gerakan sosial pembangunan Desa tidaklah
tergantung pada inisiasi orang perorang, tidak tergantung pada insentif,
tapi lebih panggilan kultural. Berdasar Lingkar Budaya Desa, gerakan
pembangunan Desa haruslah dilakukan karena kolektivisme, di
dalamnya terdapat kebersamaan, persaudaraan dan kesadaran mau
melakukan perubahan secara kolektif. Pembangunan Desa hendaknya
melampaui pamggilan pribadi. Dana Desa dalam konteks memperkuat
pembangunan dan pemberdayaan Desa, misalnya, harus dikritisi agar
tidak menjadi bentuk ketergantungan baru. Tidak ada Dana Desa
tidaklah boleh sekali-kali dimaknakan sebagai tidak ada pembangunan.
Adanya Dana Desa haruslah menghasilkan kemajuan, bukan
kemunduran. Maka, pembangunan Desa dimaknai sebagai kerja budaya
dengan norma dan moral sebagai pondasinya, sebagai code of conduct,
dan dengan begitu perilaku ekonomi dalam kehidupan Desa akan
mampu menegakkan martabat dan mensejahterahkan. Di sini, Lingkar
Budaya Desa bertugas memastikan itu terjadi.

Tiga pilar tersebut di atas saling terkait. Komitmen untuk
mendayagunakan sebagai pendekatan
diharapkan dapat melipatgandakan
kemampuan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi dan K/L lainnya mencapai target dan menghasilkan dampak yang
bisa dipertahankan (sustained impact) untuk kemajuan dan kesejahteraan
kehidupan Desa.
Dalam kaitan penajaman fokus dan lokus dalam pengembangan program
prioritas (program unggulan dan kegiatan prioritas), pilar-pilar tersebut di atas
dapat menjadi pijakan untuk membangun instrumen program di mana Indeks Desa
Membangun berguna untuk penetapan lokus. Berdasar Indeks Desa Membangun
dapat ditetapkan 15.000 Desa yang menjadi lokus dari pelaksanaan program
pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa, yang terdiri dari 5.000 Desa
Sangat Tertinggal, 5.000 Desa Tertinggal, 2.500 Desa Berkembang, dan 2.500
Desa Maju, yang di dalam jumlah 15.000 Desa dengan semua status Desa itu
terdapat 1.138 Desa Perbatasan.

III. KLASIFIKASI DAN STATUS DESA
Indeks Desa Membangun mengklasifikasi Desa dalam lima (5) status,
yakni: (i) Desa Sangat Tertinggal; (ii) Desa Tertinggal; (iii) Desa Berkembang;
(iv) Desa Maju; dan (v) Desa Mandiri. Klasifikasi Desa tersebut untuk
menunjukkan keragaman karakter setiap Desa dalam rentang skor 0,27 – 0,92
Indeks Desa Membangun. Klasifikasi dalam 5 status Desa tersebut juga untuk
menajamkan penetapan status perkembangan Desa dan sekaligus rekomendasi
intervensi kebijakan yang diperlukan. Status Desa Tertinggal, misalnya, dijelaskan
dalam dua status Desa Tertinggal dan Desa Sangat Tertinggal di mana situasi dan
kondisi setiap Desa yang ada di dalamnya membutuhkan pendekatan dan
intervensi kebijakan yang berbeda. Menangani Desa Sangat Tertinggal akan
berbeda tingkat afirmasi kebijakannya di banding dengan Desa Tertinggal.
Dengan nilai rata-rata nasional Indeks Desa Membangun 0,566 klasifikasi
status Desa ditetapkan dengan ambang batas sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Desa Sangat Tertinggal
Desa Tertinggal
Desa Berkembang
Desa Maju
Desa Mandiri

: < 0,491
: > 0,491 dan < 0,599
: > 0,599 dan < 0,707
: > 0,707 dan < 0,815
: > 0,815

5

Desa Berkembang terkait dengan situasi dan kondisi dalam status Desa
Tertinggal dan Desa Sangat Tertinggal dapat dijelaskan dengan faktor kerentanan.
Apabila ada tekanan faktor kerentanan, seperti terjadinya goncangan ekonomi,
bencana alam, ataupun konflik sosial maka akan membuat status Desa
Berkembang jatuh turun menjadi Desa Tertinggal. Dan biasanya, jika faktor
bencana alam tanpa penanganan yang cepat dan tepat, atau terjadinya konflik
sosial terus terjadi berkepanjangan maka sangat potensial berdampak menjadikan
Desa Tertinggal turun menjadi Desa Sangat Tertinggal. Sementara itu,
kemampuan Desa Berkembang mengelola daya, terutama terkait dengan potensi,
informasi / nilai, inovasi / prakarsa, dan kewirausahaan akan mendukung gerak
kemajuan Desa Berkembang menjadi Desa Maju.
Klasifikasi status Desa berdasar Indeks Desa Membangun ini juga
diarahkan untuk memperkuat upaya memfasilitasi dukungan pemajuan Desa
menuju Desa Mandiri. Desa Berkembang, dan terutama Desa Maju, kemampuan
mengelola Daya dalam ketahanan sosial, ekonomi, dan ekologi secara
berkelanjutan akan membawanya menjadi Desa Mandiri.

Gambar 1. Tiga Dimensi Indeks Desa Membangun (IDM).
Indeks Desa Membangun merupakan komposit dari ketahanan sosial, ekonomi
dan ekologi. IDM didasarkan pada 3 (tiga) dimensi tersebut dan dikembangkan lebih
lanjut dalam 22 Variabel dan 52 indikator. Penghitungan IDM pada 73.709 Desa
berdasar data Podes 2014 dengan angka rata-rata 0,566 menghasilkan data sebagai
berikut:






6

Desa Sangat Tertinggal
Desa Tertinggal
Desa Berkembang
Desa Maju
Desa Mandiri

: 13.453 Desa atau 18,25 %
: 33.592 Desa atau 45,57 %
: 22.882 Desa atau 31,04 %
: 3.608 Desa atau 4,89 %
:
174 Desa atau 0,24%

IV. METODE PENYUSUNAN IDM
INDEKS DESA MEMBANGUN (IDM) disusun dengan memperhatikan
ketersediaan data yang bersumber dari Potensi Desa, yang diterbitkan oleh Badan
Pusat Statistik. Untuk perhitungan IDM 2015 digunakan sumber data PODES
tahun 2014.
IDM merupakan indeks komposit yang dibangun dari dimensi sosial,
ekonomi dan budaya. Ketiga dimensi terdiri dari variabel, dan setiap variabel
diturunkan menjadi indikator operasional.
Prosedur untuk menghasilkan Indeks Desa Membangun adalah sebagai
berikut :
1) Setiap indikator memiliki skor antara 0 s.d. 5; semakin tinggi skor
mencerminkan tingkat keberartian. Misalnya : skor untuk indikator akses
terhadap pendidikan sekolah dasar; bila Desa A memiliki akses fisik <= 3 Km,
maka Desa A memiliki skor 5, dan Desa B memiliki akses fisik > 10 Km,
maka memiliki skor 1. Ini berarti penduduk Desa A memiliki akses yang
lebih baik dibandingkan dengan penduduk Desa B.
2) Setiap skor indikator dikelompokkan ke dalam variabel, sehingga
menghasilkan skor variabel. Misalnya variabel kesehatan terdiri dari indikator
(1) waktu tempuh ke pelayanan kesehatan < 30 menit, (2) ketersediaan tenaga
kesehatan dokter, bidan dan nakes lain, (3) akses ke poskesdes, polindes dan
posyandu, (4) tingkat aktifitas posyandu dan (5) kepesertaan Badan
Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS). Total skor variabel selanjutnya
dirumuskan menjadi indeks :
∑ Indikator X
Indeks Variabel : _________
Nilai Maksimum (X)
3) Indeks dari setiap variabel menjadi Indeks Komposit yang disebut dengan
Indeks Desa Membangun (IDM).
IiIDM = 1/3 ( IS + IEK + IL )
IDM
IS
IEK
IL

:
:
:
:

Indeks Desa Membangun
Indeks Sosial
Indeks Ekonomi
Indeks Lingkungan (Ekologi)

7

4) Untuk menetapkan status setiap Desa dilakukan
klasifikasi dengan
menghitung range yang diperoleh dari nilai maksimum dan minimum. Nilai
range yang diperoleh menjadi pembatas status setiap Desa, sehingga
ditetapkan lima klasifikasi status Desa yaitu :

No.
1.
2.
3.
4
5.

Tabel.1. Klasifikasi Desa Berdasarkan Idm
STATUS DESA
NILAI BATAS
SANGAT TERTINGGAL
≤ 0,491
TERTINGGAL
> 0,491 dan ≤ 0,599
BERKEMBANG
> 0,599 dan ≤ 0,707
MAJU
> 0,707dan ≤ 0,815
MANDIRI
> 0,815

V. PETA DESA BERDASARKAN INDEKS DESA MEMBANGUN
Berdasarkan Permendagri No. 56 Tahun 2015 tentang Kode dan Data
Wilayah Administrasi Pemerintahan bahwa jumlah Desa yang telah memiliki
kode wilayah administrasi Desa adalah 74.754 Desa. Sedangkan jumlah Desa
berdasarkan sumber Potensi Desa, BPS, 2014 adalah 73.709 Desa dari total
82.190 Desa/kelurahan/UPT.
Berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) dihasilkan jumlah dan
proporsi Desa dengan status mandiri, maju, berkembang, tertinggal dan sangat
tertinggal ditunjukkan pada Gambar 2 dibawah ini.

Gambar 2. Jumlah dan Klasifikasi Desa Berdasarkan Status IDM 2015

8

Tabel 2 menampilkan jumlah Desa dan persentase Desa per provinsi berdasarkan
status mandiri, maju, berkembang, tertinggal dan sangat tertinggal. Provinsi
dengan jumlah status Desa tertinggal dan sangat tertinggal terbesar adalah
Provinsi Papua Barat 3.900 Desa (96,6%), sedangkan Provinsi dengan status
Desa mandiri terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Barat.

9

Tabel 2. Jumlah dan Persentase Desa Per Provinsi Berdasarkan Indeks Desa Membangun 2015
KDPROV

PROVINSI

IDM

MAJU

MANDIRI

BERKEMBANG

TERTINGGAL

Jml Desa

%

Jml Desa

%

Jml Desa

%

Jml Desa

0,08

105

1,61

1226

18,8

4211

%

SANGAT TERTINGGAL

Jumlah Desa

Jml Desa

%

64,7

963

14,8

6.510
5.406

11

ACEH

0,552

5

12

SUMATERA UTARA

0,540

0

-

39

0,72

1063

19,7

3019

55,8

1285

23,8

13

SUMATERA BARAT

0,619

7

0,79

119

13,43

377

42,6

332

37,5

51

5,8

886

14

RIAU

0,534

0

-

9

0,56

278

17,3

888

55,4

428

26,7

1.603

15

JAMBI

0,558

0

-

14

1,01

345

24,8

839

60,4

191

13,8

1.389

16

SUMATERA SELATAN

0,558

0

-

18

0,63

553

19,4

1990

69,8

290

10,2

2.851

17

BENGKULU

0,564

0

-

22

1,62

386

28,5

768

56,6

180

13,3

1.356

18

LAMPUNG

0,585

1

0,04

57

2,35

912

37,6

1302

53,7

151

6,2

2.423

19

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 0,593

0

-

7

2,27

127

41,1

169

54,7

6

1,9

309

21

KEPULAUAN RIAU

0,559

0

-

5

1,84

54

19,9

187

68,8

26

9,6

272

32

JAWA BARAT

0,639

39

0,73

726

13,64

3141

59,0

1355

25,5

60

1,1

5.321

33

JAWA TENGAH

0,629

21

0,27

868

11,12

4335

55,5

2535

32,5

50

0,6

7.809

34

D I YOGYAKARTA

0,694

32

8,16

136

34,69

175

44,6

49

12,5

0

-

392

35

JAWA TIMUR

0,634

33

0,43

929

12,03

4458

57,7

2262

29,3

39

0,5

7.721

36

BANTEN

0,581

4

0,32

53

4,28

396

32,0

674

54,5

110

8,9

1.237

51

BALI

0,690

27

4,25

248

38,99

279

43,9

78

12,3

4

0,6

636

52

NUSA TENGGARA BARAT

0,618

3

0,30

63

6,33

553

55,6

364

36,6

12

1,2

995

53

NUSA TENGGARA TIMUR

0,538

0

-

7

0,24

274

9,3

2206

74,8

464

15,7

2.951

61

KALIMANTAN BARAT

0,499

0

-

30

1,49

225

11,2

752

37,4

1002

49,9

2.009

62

KALIMANTAN TENGAH

0,499

0

-

8

0,56

118

8,3

643

45,1

658

46,1

1.427

63

KALIMANTAN SELATAN

0,557

1

0,05

16

0,86

411

22,0

1184

63,5

252

13,5

1.864

64

KALIMANTAN TIMUR

0,525

0

-

8

0,96

140

16,7

393

47,0

295

35,3

836

65

KALIMANTAN UTARA

0,472

0

-

4

0,90

33

7,4

117

26,4

290

65,3

444

71

SULAWESI UTARA

0,582

0

-

15

1,00

554

36,8

852

56,6

84

5,6

1.505

72

SULAWESI TENGAH

0,566

0

-

15

0,83

508

28,1

1084

59,9

202

11,2

1.809

10

KDPROV

PROVINSI

IDM

MAJU

MANDIRI

BERKEMBANG

TERTINGGAL

Jml Desa

%

Jml Desa

%

Jml Desa

%

Jml Desa

28

1,25

876

39,1

1181

%

SANGAT TERTINGGAL

Jumlah Desa

Jml Desa

%

52,7

154

6,9

2.240

73

SULAWESI SELATAN

0,582

1

0,04

74

SULAWESI TENGGARA

0,547

0

-

3

0,16

228

12,1

1410

74,6

250

13,2

1.891

75

GORONTALO

0,587

0

-

14

2,13

265

40,3

348

53,0

30

4,6

657

76

SULAWESI BARAT

0,548

0

-

4

0,70

151

26,3

286

49,7

134

23,3

575

81

MALUKU

0,507

0

-

16

1,52

120

11,4

431

41,0

483

46,0

1.050

82

MALUKU UTARA

0,527

0

-

10

0,94

150

14,1

557

52,3

349

32,7

1.066

91

PAPUA BARAT

0,460

0

-

5

0,34

63

4,2

364

24,4

1060

71,0

1.492

94

PAPUA

0,414

0

-

7

0,15

108

2,3

762

16,0

RATA RATA NASIONAL

0,566

174

0,24

3.608

4,89

22.882

31,0

33.592

45,57

3900

81,6

4.777

13.453

18,25

73.709

11

VI. SITUASI DESA-DESA DI PERBATASAN BERDASARKAN INDEKS
DESA MEMBANGUN (IDM) 2015
Desa-desa di daerah perbatasan sungguh memprihatinkan. Berdasarkan
ukuran Indeks Desa Membangun (IDM) 2015 jumlah Desa-Desa di perbatasan
yang memiliki status tertinggal dan sangat tertinggal sangat dominan. Sebanyak
644 Desa (45%) adalah Desa berstatus tertinggal dan 635 Desa (44%) berstatus
sangat tertinggal (lihat gambar 3). Rata rata Indeks Desa Membangun (IDM)
Desa perbatasan adalah 0,498, sedangkan rata rata IDM nasional adalah 0,566.
Situasi ini menggambarkan tingkat kesejahteraan Desa perbatasan yang masih
rendah.

Gambar 3. Status Desa di Perbatasan Berdasarkan IDM 2015

Gambaran yang menunjukkan bahwa Desa-Desa di perbatasan di dominasi
oleh situasi dan kondisi tertinggal dan sangat tertinggal memperlihatkan bahwa
pemerintah belum mengoptimalkan potensi sumberdayanya untuk dikembangkan,
sehingga mereka tumbuh berkembang tertatih tatih sesuai dinamika sosial
internalnya yang merupakan hak asal usul dan kewenangan lokal. Sedangkan
Desa-Desa yang berkembang dan maju lebih karena keberuntungan geografis dan
kebijakan pembangunan yang melintasinya.
Tekad dan semangat mengentaskan ketertinggalan perbatasan yang
demikian tentu membutuhkan bukan sekedar alokasi anggaran dan rencana
pembangunan mengintervensi dengan kebijakan umum, karena persoalan yang
membelenggu dan mendekapnya mencerminkan problem struktural dan
paradigma pembangunannya. Tindakan afirmasi dan perlindungan yang

12

menyeluruh diperlukan sehingga menghindarkan dari terpencar dan retaknya
masyarakat di Desa perbatasan.
Gambar 4. Perbandingan IDM Daerah Perbatasan dan Nasional
0,649 0,647
0,593
0,505

0,566
0,498

0,459
0,340
Perbatasan
Nasional

Indeks Ketahanan
Lingkungan

Indeks Ketahanan Indeks Ketahanan
Ekonomi
Sosial

IDM

13

Indikator Desa Membangun

INDIKATOR DESA MEMBANGUN

NO

DIMENSI
KESEHATAN

PENDIDIKAN

VARIABEL
1
Pelayanan Kesehatan

2

Keberdayaan Masyarakat utk
Kesehatan

3
4

Jaminan Kesehatan
Akses Pendidikan Dasar dan
Menengah

5

Akses Pendidikan Non Formal

3
4
5
6

INDIKATOR
Waktu Tempuh ke prasarana kesehatan < 30 menit
Tersedia tenaga kesehatan, bidan, dokter dan nakes
lain
Akses ke poskesdes, polindes dan posyandu
Tingkat aktivitas posyandu
Tingkat kepesertaan BPJS
Akses ke Pendidikan Dasar SD/MI <3 KM

7

Akses ke SMP/MTS < 6 km

8

Akses ke SMU/SMK < 6 km

1
2

9 Kegiatan pemberantasan buta aksara
10 kegiatan PAUD
11 Kegiatan PKBM/Paket ABC

MODAL SOSIAL

6

Akses ke Pengatahuan

7

Memiliki Solidaritas Sosial

8

Toleransi

12 Taman Bacaan Masyarakat atau Perpustakaan
Desa
13 Kebiasaan gotong royong didesa
14 Keberadaan ruang publik terbuka bagi warga yg
tidak berbayar
15 Ketersediaan fasilitas/lapangan olahraga
16 Terdapat kelompok kegiatan olahraga
17 Warga desa terdiri dari beberapa suku/etnis
18 Warga desa berkomunikasi sehari-hari
menggunakan bahasa yg berbeda
19 Agama yang dianut sebagian besar warga di desa

PERMUKIMAN

2

KETAHANAN
EKONOMI

9

Rasa Aman Penduduk

10

Kesejahteraan Sosial

11

Akses ke Air Bersih dan Air Minum
Layak

12

Akses ke Sanitasi

13
14

Akses ke Listrik
Akses Informasi dan Komunikasi

20 Warga desa membangun pemeliharaan poskamling
lingkungan
21 Partisipasi warga mengadakan siskamling
22 Tingkat kejadian perkelahian massal di desa
23 Penyelesaian/perdamaian perkelahian massal yg
sering terjadi
24 Terdapat akses ke Sekolah Luar Biasa
25 Terdapat Penyandang Kesejahteraan Sosial (Anak
Jalanan, Pekerja Seks Komersial dan Pengemis)
26 Terdapat Penduduk yang bunuh diri
27 Mayoritas penduduk desa memiliki sumber air
minum yang layak.
28 Akses Penduduk desa memiliki air untuk mandi dan
mencuci
29 Mayoritas penduduk desa memiliki Jamban.
30 Terdapat tempat pembuangan sampah.
31 Jumlah keluarga yang telah memiliki aliran listrik.
32 Penduduk desa memiliki telepon selular dan sinyal
yang kuat.
33 Terdapat siaran televisi lokal, nasional dan asing

Keragaman Produksi Masyarakat
Desa
Tersedia Pusat Pelayanan
Perdagangan

34 Terdapat akses internet
35 Terdapat lebih dari satu jenis kegiatan ekonomi
penduduk
36 Akses penduduk ke pusat perdagangan (pertokoan,
pasar permanen dan semi permanen)

17

Akses Distribusi/Logistik

37 Terdapat sektor perdagangan di permukiman
(warung dan minimarket)
38 Terdapat kantor pos dan jasa logistik

18

Akses ke Lembaga Keuangan dan
Perkreditan

39 Tersedianya lembaga perbankan umum (Pemerintah
dan Swasta)

15
16

40 Tersedianya BPR
41 Akses penduduk ke kredit

3

EKOLOGI

19

Lembaga Ekonomi

42 Tersedianya lembaga ekonomi rakyat (koperasi)
43 Terdapat usaha kedai makanan, restoran, hotel dan
penginapan

20

Keterbukaan Wilayah

21

Kualitas Lingkungan

22

Potensi/Rawan Bencana Alam

44 Terdapat moda transportasi umum (Transportasi
Angkutan Umum, trayek reguler dan jam operasi
Angkutan Umum)
45 Jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan bermotor
roda empat atau lebih (sepanjang tahun kecuali
musim hujan, kecuali saat tertentu)
46 Kualitas Jalan Desa (Jalan terluas di desa dengan
aspal, kerikil, dan tanah)
47 Ada atau tidak adanya pencemaran air, tanah dan
udara
48 Terdapat sungai yg terkena limbah
49 Pencemaran air, tanah dan udara
50 kejadian Bencana Alam (banjir, tanah longsong,
kebakaran hutan)
51 Upaya/Tindakan terhadap potensi bencana alam
(Tanggap bencana, jalur evakuasi, peringatan dini
dan ketersediaan peralatan penanganan bencana)
52 Upaya Antisipasi, Mitigasi bencana alam yg ada di
desa

Indeks Desa Membangun Per Kabupaten/Kota

INDEKS DESA MEMBANGUN PER KABUPATEN/KOTA, 2015
PROVINSI
ACEH

SUMATERA UTARA

SUMATERA BARAT

KD KAB

KABUPATEN/KOTA

IKL

IKE

IKS

IDM

11001 SIMEULUE

0,7551

0,4032

0,5495

0,5693

11002 ACEH SINGKIL

0,6261

0,3902

0,5918

0,5360

11003 ACEH SELATAN

0,6072

0,4354

0,5411

0,5279

11004 ACEH TENGGARA

0,6381

0,4683

0,5492

0,5519

11005 ACEH TIMUR

0,6281

0,4244

0,5859

0,5461

11006 ACEH TENGAH

0,6362

0,4135

0,5902

0,5466

11007 ACEH BARAT

0,6453

0,3850

0,5321

0,5208

11008 ACEH BESAR

0,6927

0,4259

0,5772

0,5653

11009 PIDIE

0,6551

0,4544

0,5489

0,5528

11010 BIREUEN

0,6442

0,4252

0,5832

0,5509

11011 ACEH UTARA

0,6507

0,3959

0,5466

0,5311

11012 ACEH BARAT DAYA

0,5943

0,4549

0,5996

0,5496

11013 GAYO LUES

0,6225

0,4498

0,5648

0,5457

11014 ACEH TAMIANG

0,6610

0,4128

0,6160

0,5633

11015 NAGAN RAYA

0,6393

0,4028

0,5618

0,5347

11016 ACEH JAYA

0,6736

0,4102

0,5566

0,5468

11017 BENER MERIAH

0,6698

0,3840

0,5970

0,5503

11018 PIDIE JAYA

0,6405

0,4875

0,5984

0,5755

11071 BANDA ACEH

0,7741

0,6219

0,7582

0,7181

11072 SABANG

0,7259

0,5323

0,7243

0,6609

11073 LANGSA

0,6556

0,5656

0,6966

0,6393

11074 LHOKSEUMAWE

0,6824

0,5341

0,6714

0,6293

11075 SUBULUSSALAM

0,6220

0,3981

0,5931

0,5377

12001 NIAS

0,6682

0,3243

0,4938

0,4955

12002 MANDAILING NATAL

0,6037

0,4447

0,5138

0,5207

12003 TAPANULI SELATAN

0,5934

0,4501

0,5428

0,5288

12004 TAPANULI TENGAH

0,6263

0,4283

0,5737

0,5428

12005 TAPANULI UTARA

0,6979

0,4817

0,5570

0,5789

12006 TOBA SAMOSIR

0,6291

0,4416

0,5699

0,5469

12007 LABUHAN BATU

0,5431

0,4562

0,6415

0,5469

12008 ASAHAN

0,6275

0,4349

0,6426

0,5683

12009 SIMALUNGUN

0,6354

0,4590

0,6138

0,5694

12010 DAIRI

0,6273

0,4717

0,5775

0,5589

12011 KARO

0,6578

0,4973

0,5759

0,5770

12012 DELI SERDANG

0,6279

0,4912

0,6353

0,5848

12013 LANGKAT

0,6275

0,4477

0,6324

0,5692

12014 NIAS SELATAN

0,6539

0,2802

0,4445

0,4595

12015 HUMBANG HASUNDUTAN

0,6545

0,4879

0,5865

0,5763

12016 PAKPAK BHARAT

0,6500

0,4262

0,6044

0,5602

12017 SAMOSIR

0,6396

0,4328

0,5692

0,5472

12018 SERDANG BEDAGAI

0,6436

0,4433

0,6526

0,5798

12019 BATU BARA

0,6397

0,5102

0,6353

0,5951

12020 PADANG LAWAS UTARA

0,6017

0,3722

0,4609

0,4783

12021 PADANG LAWAS

0,5945

0,4482

0,5086

0,5171

12022 LABUHAN BATU SELATAN

0,5821

0,5066

0,6539

0,5808

12023 LABUHAN BATU UTARA

0,6374

0,4538

0,6528

0,5814

12024 NIAS UTARA

0,6149

0,3231

0,5241

0,4874

12025 NIAS BARAT

0,6438

0,3174

0,5309

0,4974

12077 PADANGSIDIMPUAN

0,6254

0,4967

0,5927

0,5716

12078 GUNUNGSITOLI

0,6122

0,3693

0,5550

0,5122

13001 KEPULAUAN MENTAWAI

0,7969

0,3338

0,5532

0,5613

13002 PESISIR SELATAN

0,6663

0,5083

0,6110

0,5952

13003 SOLOK

0,6054

0,5556

0,6301

0,5970

PROVINSI

RIAU

JAMBI

SUMATERA SELATAN

BENGKULU

KD KAB

KABUPATEN/KOTA

IKL

IKE

IKS

IDM

13004 SIJUNJUNG

0,5817

0,5208

0,6505

0,5843

13005 TANAH DATAR

0,7076

0,6349

0,6929

0,6785

13006 PADANG PARIAMAN

0,6722

0,6243

0,6970

0,6645

13007 AGAM

0,6439

0,6258

0,6821

0,6506

13008 LIMA PULUH KOTA

0,5814

0,5933

0,6629

0,6125

13009 PASAMAN

0,5441

0,5936

0,6731

0,6036

13010 SOLOK SELATAN

0,5966

0,4982

0,6507

0,5818

13011 DHARMASRAYA

0,5513

0,5265

0,6775

0,5851

13012 PASAMAN BARAT

0,6000

0,7262

0,7822

0,7028

13073 SAWAH LUNTO

0,5531

0,5898

0,6690

0,6040

13077 PARIAMAN

0,7879

0,5703

0,6930

0,6837

14001 KUANTAN SINGINGI

0,5205

0,4432

0,5808

0,5148

14002 INDRAGIRI HULU

0,5753

0,4090

0,5974

0,5272

14003 INDRAGIRI HILIR

0,5980

0,4096

0,5575

0,5217

14004 PELALAWAN

0,6103

0,4037

0,5760

0,5300

14005 S I A K

0,6109

0,4095

0,6622

0,5609

14006 KAMPAR

0,5868

0,4490

0,5978

0,5445

14007 ROKAN HULU

0,5710

0,4825

0,6476

0,5670

14008 BENGKALIS

0,5549

0,4165

0,6226

0,5313

14009 ROKAN HILIR

0,5581

0,4505

0,6163

0,5416

14010 KEPULAUAN MERANTI

0,5813

0,3200

0,5788

0,4933

15001 KERINCI

0,6138

0,5019

0,5995

0,5717

15002 MERANGIN

0,6153

0,4416

0,5704

0,5424

15003 SAROLANGUN

0,6143

0,4296

0,6003

0,5481

15004 BATANG HARI

0,5960

0,4127

0,6217

0,5435

15005 MUARO JAMBI

0,5929

0,4298

0,6473

0,5567

15006 TANJUNG JABUNG TIMUR

0,6557

0,4203

0,6149

0,5637

15007 TANJUNG JABUNG BARAT

0,6175

0,4376

0,5909

0,5487

15008 TEBO

0,5607

0,4620

0,6296

0,5508

15009 BUNGO

0,6019

0,4882

0,5983

0,5628

15072 SUNGAI PENUH

0,6092

0,5466

0,6595

0,6051

16001 OGAN KOMERING ULU

0,6396

0,4408

0,5955

0,5586

16002 OGAN KOMERING ILIR

0,6367

0,4543

0,5880

0,5597

16003 MUARA ENIM

0,6444

0,4604

0,6142

0,5730

16004 LAHAT

0,6331

0,4661

0,5434

0,5476

16005 MUSI RAWAS

0,6577

0,4703

0,5985

0,5755

16006 MUSI BANYUASIN

0,6493

0,4332

0,6140

0,5655

16007 BANYU ASIN

0,6414

0,4113

0,5725

0,5418

16008 OGAN KOMERING ULU SELATAN

0,6460

0,4341

0,5585

0,5462

16009 OGAN KOMERING ULU TIMUR

0,6323

0,4211

0,6412

0,5649

16010 OGAN ILIR

0,6320

0,4764

0,5989

0,5691

16011 EMPAT LAWANG

0,6358

0,4760

0,5441

0,5520

16012 PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR

0,6441

0,4331

0,5788

0,5520

16013 MUSI RAWAS UTARA

0,6171

0,4711

0,5489

0,5457

16072 PRABUMULIH

0,6333

0,4357

0,6168

0,5619

17001 BENGKULU SELATAN

0,6709

0,4859

0,6015

0,5861

17002 REJANG LEBONG

0,6568

0,4825

0,5958

0,5784

17003 BENGKULU UTARA

0,6727

0,4103

0,5917

0,5582

17004 KAUR

0,6826

0,4540

0,5675

0,5681

17005 SELUMA

0,6524

0,3948

0,5637

0,5370

17006 MUKOMUKO

0,6910

0,4326

0,6224

0,5820

17007 LEBONG

0,6294

0,4595

0,5458

0,5449

17008 KEPAHIANG

0,6622

0,4917

0,6310

0,5950

17009 BENGKULU TENGAH

0,6380

0,4000

0,5883

0,5421

PROVINSI
LAMPUNG

KEP. BANGKA BELITUNG

KEPULAUAN RIAU

JAWA BARAT

JAWA TENGAH

KD KAB

KABUPATEN/KOTA

IKL

IKE

IKS

IDM

18001 LAMPUNG BARAT

0,6489

0,4018

0,6024

0,5510

18002 TANGGAMUS

0,6332

0,4458

0,6064

0,5618

18003 LAMPUNG SELATAN

0,6990

0,4944

0,6604

0,6179

18004 LAMPUNG TIMUR

0,6454

0,4875

0,6878

0,6069

18005 LAMPUNG TENGAH

0,6304

0,5209

0,6745

0,6086

18006 LAMPUNG UTARA

0,6431

0,4263

0,6098

0,5598

18007 WAY KANAN

0,6710

0,4482

0,6430

0,5874

18008 TULANGBAWANG

0,6345

0,4296

0,6382

0,5674

18009 PESAWARAN

0,6606

0,4531

0,6362

0,5833

18010 PRINGSEWU

0,6519

0,5008

0,6708

0,6078

18011 MESUJI

0,6749

0,4054

0,6170

0,5658

18012 TULANG BAWANG BARAT

0,6624

0,4226

0,6527

0,5792

18013 PESISIR BARAT

0,7276

0,4146

0,5715

0,5712

19001 BANGKA

0,5699

0,5204

0,6689

0,5864

19002 BELITUNG

0,6127

0,5181

0,6640

0,5983

19003 BANGKA BARAT

0,6044

0,5002

0,6509

0,5852

19004 BANGKA TENGAH

0,6179

0,5269

0,6733

0,6060

19005 BANGKA SELATAN

0,6067

0,4987

0,6238

0,5764

19006 BELITUNG TIMUR

0,6462

0,5274

0,6702

0,6146

21001 KARIMUN

0,6492

0,3867

0,6100

0,5486

21002 BINTAN

0,6667

0,4437

0,6895

0,6000

21003 NATUNA

0,6587

0,3930

0,6020

0,5512

21004 LINGGA

0,6373

0,4385

0,6122

0,5627

21005 KEPULAUAN ANAMBAS

0,6500

0,3888

0,5907

0,5432
0,6334

32001 BOGOR

0,5952

0,6057

0,6993

32002 SUKABUMI

0,6346

0,5807

0,6819

0,6324

32003 CIANJUR

0,6431

0,5579

0,6723

0,6244

32004 BANDUNG

0,5874

0,6398

0,7516

0,6596

32005 GARUT

0,6732

0,5861

0,6734

0,6442

32006 TASIKMALAYA

0,6539

0,5915

0,6684

0,6380

32007 CIAMIS

0,6912

0,5998

0,6997

0,6636

32008 KUNINGAN

0,6748

0,5489

0,6808

0,6348

32009 CIREBON

0,6270

0,5795

0,7203

0,6423

32010 MAJALENGKA

0,6586

0,5815

0,6914

0,6438

32011 SUMEDANG

0,6326

0,5792

0,7007

0,6375

32012 INDRAMAYU

0,6513

0,5749

0,6849

0,6371

32013 SUBANG

0,6563

0,5579

0,6992

0,6378

32014 PURWAKARTA

0,6364

0,5722

0,6756

0,6281

32015 KARAWANG

0,6382

0,5136

0,6920

0,6146

32016 BEKASI

0,6136

0,6154

0,6957

0,6416

32017 BANDUNG BARAT

0,6453

0,5826

0,7096

0,6458

32018 PANGANDARAN

0,6846

0,5827

0,6708

0,6460

32079 BANJAR

0,6917

0,6353

0,7941

0,7070

33001 CILACAP

0,7234

0,5840

0,7031

0,6702

33002 BANYUMAS

0,6837

0,6031

0,7162

0,6677

33003 PURBALINGGA

0,6375

0,5992

0,6817

0,6394

33004 BANJARNEGARA

0,6559

0,5740

0,6371

0,6223

33005 KEBUMEN

0,6682

0,5238

0,6553

0,6157

33006 PURWOREJO

0,6896

0,4995

0,6270

0,6054

33007 WONOSOBO

0,6613

0,5675

0,6476

0,6255

33008 MAGELANG

0,7164

0,5517

0,6518

0,6400

33009 BOYOLALI

0,6731

0,5777

0,6615

0,6374

33010 KLATEN

0,7277

0,5147

0,7059

0,6494

33011 SUKOHARJO

0,6387

0,5718

0,7372

0,6492

PROVINSI

D I YOGYAKARTA

JAWA TIMUR

BANTEN

KD KAB

KABUPATEN/KOTA

IKL

IKE

IKS

IDM

33012 WONOGIRI

0,7028

0,5468

0,6651

33013 KARANGANYAR

0,6453

0,5657

0,6881

0,6382
0,6330

33014 SRAGEN

0,6864

0,5944

0,7015

0,6608

33015 GROBOGAN

0,6513

0,5224

0,6668

0,6135

33016 BLORA

0,6920

0,4839

0,6213

0,5991

33017 REMBANG

0,6685

0,5266

0,6219

0,6057

33018 PATI

0,6379

0,5196

0,6534

0,6036

33019 KUDUS

0,6314

0,6115

0,7500

0,6643

33020 JEPARA

0,6696

0,5861

0,7016

0,6524

33021 DEMAK

0,6606

0,5344

0,6607

0,6186

33022 SEMARANG

0,6455

0,5889

0,7041

0,6462

33023 TEMANGGUNG

0,6602

0,5507

0,6522

0,6210

33024 KENDAL

0,6491

0,5592

0,6868

0,6317

33025 BATANG

0,6427

0,5463

0,6616

0,6169

33026 PEKALONGAN

0,6169

0,5322

0,6616

0,6036

33027 PEMALANG

0,6547

0,5678

0,6572

0,6266

33028 TEGAL

0,6410

0,5601

0,6788

0,6266

33029 BREBES

0,6425

0,5724

0,6862

0,6337

34001 KULON PROGO

0,6061

0,6003

0,7222

0,6429

34002 BANTUL

0,8151

0,7021

0,7677

0,7617

34003 GUNUNG KIDUL

0,6875

0,5942

0,7097

0,6638

34004 SLEMAN

0,7287

0,6638

0,8177

0,7367

35001 PACITAN

0,7112

0,6100

0,6743

0,6652

35002 PONOROGO

0,6463

0,5568

0,6661

0,6231

35003 TRENGGALEK

0,6526

0,5828

0,6776

0,6377

35004 TULUNGAGUNG

0,6802

0,5383

0,7120

0,6435

35005 BLITAR

0,6979

0,5445

0,6998

0,6474

35006 KEDIRI

0,6626

0,5473

0,6886

0,6328

35007 MALANG

0,6658

0,6033

0,7245

0,6645

35008 LUMAJANG

0,6737

0,5205

0,7168

0,6370

35009 JEMBER

0,6979

0,5759

0,7223

0,6654

35010 BANYUWANGI

0,6991

0,6105

0,7759

0,6952

35011 BONDOWOSO

0,6644

0,5459

0,6739

0,6281

35012 SITUBONDO

0,6273

0,5348

0,6958

0,6193

35013 PROBOLINGGO

0,6466

0,5631

0,6813

0,6303

35014 PASURUAN

0,6448

0,5562

0,6865

0,6292

35015 SIDOARJO

0,6110

0,5651

0,7479

0,6413

35016 MOJOKERTO

0,6493

0,5373

0,7101

0,6322

35017 JOMBANG

0,6691

0,5588

0,7049

0,6443

35018 NGANJUK

0,6520

0,5452

0,6849

0,6274

35019 MADIUN

0,6929

0,5907

0,7270

0,6702

35020 MAGETAN

0,6554

0,6017

0,7033

0,6535

35021 NGAWI

0,6638

0,5161

0,6829

0,6210

35022 BOJONEGORO

0,6784

0,5577

0,6852

0,6405

35023 TUBAN

0,6727

0,5046

0,6550

0,6108

35024 LAMONGAN

0,6495

0,5044

0,6667

0,6068

35025 GRESIK

0,6275

0,5251

0,7099

0,6208

35026 BANGKALAN

0,6623

0,5392

0,5946

0,5987

35027 SAMPANG

0,6448

0,5681

0,6698

0,6276

35028 PAMEKASAN

0,6472

0,5295

0,6642

0,6136

35029 SUMENEP

0,6610

0,5309

0,6244

0,6054

35079 BATU

0,6491

0,7122

0,7964

0,7192

36001 PANDEGLANG

0,6305

0,4698

0,6139

0,5714

36002 LEBAK

0,6127

0,4930

0,5904

0,5654

PROVINSI

BALI

NUSA TENGGARA BARAT

NUSA TENGGARA TIMUR

KALIMANTAN BARAT

KALIMANTAN TENGAH

KD KAB

KABUPATEN/KOTA

IKL

IKE

IKS

IDM

36003 TANGERANG

0,6003

0,5332

0,6980

0,6105

36004 SERANG

0,6288

0,4891

0,6404

0,5861

51001 JEMBRANA

0,7187

0,5736

0,6577

0,6500

51002 TABANAN

0,8286

0,6264

0,6871

0,7140

51003 BADUNG

0,8174

0,6502

0,7509

0,7395

51004 GIANYAR

0,8385

0,6452

0,7519

0,7452

51005 KLUNGKUNG

0,8403

0,6066

0,6632

0,7034

51006 BANGLI

0,7843

0,4775

0,5844

0,6154

51007 KARANG ASEM

0,8302

0,6577

0,6718

0,7199

51008 BULELENG

0,6450

0,6000

0,6725

0,6392

51071 DENPASAR

0,6914

0,7543

0,7506

0,7321

52001 LOMBOK BARAT

0,6392

0,5755

0,6910

0,6352

52002 LOMBOK TENGAH

0,6451

0,5718

0,6887

0,6352

52003 LOMBOK TIMUR

0,6519

0,5490

0,6775

0,6261

52004 SUMBAWA

0,6510

0,5246

0,6799

0,6185

52005 DOMPU

0,6269

0,5503

0,6421

0,6064

52006 BIMA

0,6293

0,4951

0,6384

0,5876

52007 SUMBAWA BARAT

0,6363

0,4730

0,6749

0,5947

52008 LOMBOK UTARA

0,7273

0,5761

0,7108

0,6714

53001 SUMBA BARAT

0,6571

0,4623

0,5660

0,5618

53002 SUMBA TIMUR

0,6448

0,4092

0,5157

0,5232

53003 KUPANG

0,6538

0,4086

0,5777

0,5467

53004 TIMOR TENGAH SELATAN

0,6424

0,4310

0,5457

0,5397

53005 TIMOR TENGAH UTARA

0,6604

0,4300

0,5614

0,5506

53006 BELU

0,6029

0,4309

0,5488

0,5275

53007 ALOR

0,6397

0,3849

0,5187

0,5144

53008 LEMBATA

0,6815

0,4778

0,5392

0,5662

53009 FLORES TIMUR

0,6763

0,4657

0,5436

0,5619

53010 SIKKA

0,6585

0,4592

0,5678

0,5618

53011 ENDE

0,6575

0,4157

0,5213

0,5315

53012 NGADA

0,6370

0,4624

0,5544

0,5513

53013 MANGGARAI

0,6368

0,4576

0,5134

0,5359

53014 ROTE NDAO

0,6642

0,4328

0,5418

0,5463

53015 MANGGARAI BARAT

0,6407

0,3892

0,4903

0,5067

53016 SUMBA TENGAH

0,6574

0,4064

0,5745

0,5461

53017 SUMBA BARAT DAYA

0,6620

0,3638

0,5171

0,5143

53018 NAGEKEO

0,6385

0,4039

0,5433

0,5286

53019 MANGGARAI TIMUR

0,6515

0,3766

0,4797

0,5026

53020 SABU RAIJUA

0,6586

0,3402

0,5707

0,5232

53021 MALAKA

0,6614

0,4313

0,5730

0,5552

61001 SAMBAS

0,6186

0,4748

0,6288

0,5741

61002 BENGKAYANG

0,5923

0,4105

0,5512

0,5180

61003 LANDAK

0,6120

0,3699

0,5324

0,5048

61004 PONTIANAK

0,6356

0,4914

0,6705

0,5991

61005 SANGGAU

0,5910

0,3940

0,5666

0,5172

61006 KETAPANG

0,5981

0,3216

0,5268

0,4821

61007 SINTANG

0,6106

0,2741

0,4692

0,4513

61008 KAPUAS HULU

0,5954

0,3296

0,4946

0,4732

61009 SEKADAU

0,6084

0,3329

0,5715

0,5043

61010 MELAWI

0,5779

0,2987

0,5040

0,4602

61011 KAYONG UTARA

0,6589

0,4251

0,6664

0,5835

61012 KUBU RAYA

0,6205

0,4295

0,6050

0,5517

62001 KOTAWARINGIN BARAT

0,6634

0,4121

0,6320

0,5691

62002 KOTAWARINGIN TIMUR

0,6270

0,3466

0,5296

0,5011

PROVINSI

KALIMANTAN SELATAN

KALIMANTAN TIMUR

KALIMANTAN UTARA

SULAWESI UTARA

SULAWESI TENGAH

KD KAB

KABUPATEN/KOTA

IKL

IKE

IKS

IDM

62003 KAPUAS

0,6193

0,3479

0,5218

0,4963

62004 BARITO SELATAN

0,6132

0,3677

0,5840

0,5216

62005 BARITO UTARA

0,6330

0,3385

0,5292

0,5002

62006 SUKAMARA

0,6138

0,4356

0,6438

0,5644

62007 LAMANDAU

0,6108

0,3347

0,5626

0,5027

62008 SERUYAN

0,5973

0,3376

0,5128

0,4825

62009 KATINGAN

0,5303

0,3272

0,5219

0,4598

62010 PULANG PISAU

0,5733

0,4208

0,5687

0,5209

62011 GUNUNG MAS

0,6081

0,3242

0,4935

0,4753

62012 BARITO TIMUR

0,5967

0,3810

0,5888

0,5221

62013 MURUNG RAYA

0,5820

0,2928

0,5158

0,4635

63001 TANAH LAUT

0,5944

0,4590

0,6589

0,5707

63002 KOTA BARU

0,6370

0,4152

0,5674

0,5399

63003 BANJAR

0,6067

0,4672

0,5963

0,5567

63004 BARITO KUALA

0,6393

0,4384

0,5951

0,5576

63005 TAPIN

0,5884

0,4362

0,5973

0,5406

63006 HULU SUNGAI SELATAN

0,6458

0,4830

0,5975

0,5755

63007 HULU SUNGAI TENGAH

0,6327

0,4554

0,5903

0,5595

63008 HULU SUNGAI UTARA

0,5903

0,4635

0,5797

0,5445

63009 TABALONG

0,6160

0,4579

0,6183

0,5641

63010 TANAH BUMBU

0,6366

0,4651

0,6592

0,5870

63011 BALANGAN

0,5788

0,4439

0,6017

0,5415

64001 PASER

0,6086

0,4033

0,5986

0,5368

64002 KUTAI BARAT

0,6382

0,3402

0,5269

0,5018

64003 KUTAI KARTANEGARA

0,5907

0,4145

0,5958

0,5337

64004 KUTAI TIMUR

0,6239

0,3877

0,5931

0,5349

64005 BERAU

0,6247

0,3494

0,5648

0,5130

64009 PENAJAM PASER UTARA

0,6333

0,5000

0,6803

0,6045

64011 MAHAKAM HULU

0,7040

0,2929

0,4938

0,4969

65001 MALINAU

0,6208

0,2931

0,4957

0,4699

65002 BULUNGAN

0,6162

0,3808

0,5890

0,5287

65003 TANA TIDUNG

0,6529

0,3981

0,5570

0,5360

65004 NUNUKAN

0,6437

0,2592

0,4389

0,4473

71001 BOLAANG MONGONDOW

0,6338

0,4970

0,5884

0,5731

71002 MINAHASA

0,6570

0,5124

0,6049

0,5914

71003 KEPULAUAN SANGIHE

0,6929

0,4510

0,5528

0,5655

71004 KEPULAUAN TALAUD

0,7296

0,4217

0,5532

0,5682

71005 MINAHASA SELATAN

0,6495

0,5051

0,5857

0,5801

71006 MINAHASA UTARA

0,6549

0,4830

0,6467

0,5949

71007 BOLAANG MONGONDOW UTARA

0,6604

0,4768

0,6082

0,5818

71008 SIAU TAGULANDANG BIARO

0,7486

0,4679

0,5435

0,5867

71009 MINAHASA TENGGARA

0,6978

0,4980

0,6004

0,5987

71010 BOLAANG MONGONDOW SELATAN

0,6387

0,4688

0,5407

0,5494

71011 BOLAANG MONGONDOW TIMUR

0,6933

0,5009

0,6035

0,5993

71074 KOTAMOBAGU

0,6489

0,5401

0,7260

0,6383

72001 BANGGAI KEPULAUAN

0,6544

0,4702

0,5781

0,5676

72002 BANGGAI

0,6511

0,4734

0,5957

0,5734

72003 MOROWALI

0,6418

0,4148

0,5889

0,5485

72004 POSO

0,6371

0,4493

0,6361

0,5741

72005 DONGGALA

0,6110

0,4842

0,5907

0,5619

72006 TOLI-TOLI

0,6122

0,4921

0,6291

0,5778

72007 BUOL

0,6574

0,4555

0,6017

0,5715

72008 PARIGI MOUTONG

0,6079

0,5089

0,6354

0,5841

72009 TOJO UNA-UNA

0,6374

0,4229

0,5683

0,5429

PROVINSI

SULAWESI SELATAN

SULAWESI TENGGARA

GORONTALO

SULAWESI BARAT

MALUKU

KD KAB

KABUPATEN/KOTA

IKL

IKE

IKS

IDM

72010 SIGI

0,6788

0,4375

0,5871

0,5678

72011 BANGGAI LAUT

0,6487

Dokumen yang terkait

Dokumen baru