REALITAS KASUS MAGDALENES LAUNDRY DI IRL

REALITAS KASUS MAGDALENE’S LAUNDRY DI IRLANDIA: RENTETAN
PELANGGARAN HAM DENGAN DALIH PERLINDUNGAN

Disusun sebagai Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Pengantar Studi Hak Asasi Manusia
Dosen Pengampu :
Dr. Dafri agussalim, MA
Randy W. Nandyatama, SIP, Msc.

Ester Margaretha
13/350078/SP/25923

Jurusan Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada
2014

"It is not easy to stand outside the mainstream and to continue to press for the truth, but we know
this is the way in which human rights defenders undertake their work in every country around
the world."— Dr. Maurice Manning, President, Irish Human Rights Commission
Manusia dan segala interaksi dengan sesamanya telah menjadi realitas tak terhindarkan
yang kadang saling bersinggungan bahkan bergesekan. Interaksi yang ada kemudian saling
membentuk konstelasinya tersendiri, menciptakan seperangkat aturan dan norma-norma yang
diharapkan dapat menjaga keteraturan dan tatanan yang ada. Berbagai batasan dirumuskan dan
ditetapkan oleh tiap-tiap kelompok, sehingga tak elak menimbulkan kesadaran akan kebebasan
dan persamaan terhadap individu dari manusia itu sendiri.
Jauh sebelum konsep aturan atau hukum internasional dicanangkan, ide mengenai hak
asasi manusia telah muncul sejak tahun 539 SM, Cyrus the Great. Setelah menaklukan kota
Babilonia, ia melakukan tindakan yang tidak terduga dimana ia membebaskan seluruh budak
untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Ia juga membebaskan rakyatnya dalam memilih
agama mereka masing-masing. The Cyrus Cylinder, catatan dari tanah liat yang memuat
pernyataannya tersebut merupakan deklarasi hak asasi manusia pertama dalam sejarah.
Pada perkembangannya, hak asasi manusia semakin meningkatkan kesadaran dan
perhatian dari masyarakat internasional mulai dari The Magna Charta (1215), The Petition of
Right (1628), dan berbagai dokumen internasional lainnya. Hingga kemudian terbentuklah
konsensus bersama, dokumen pertama yang mengidentifikasi 30 hak asasi yaitu The Universal
Declaration of Human Rights (1948). 1 Kepekaan masyarakat internasional dalam melihat
signifikansi dari penegakan hak asasi itu sendiri ditindak lanjuti dengan berbagai kovenan
maupun konvensi yang memuat lebih mendetail mengenai individu maupun tindakan tertentu.
Terkait dengan individu dan tindakan tertentu, perempuan dan anak merupakan objek
pelanggaran HAM yang kerap ditemui dalam realitas sosial masyarakat. Kedua golongan ini
seringkali mengalami penyiksaan, pelecehan seksual, dan berbagai tindakan pelanggaran lainnya.
Berbagai kasus baik dalam lingkup domestik maupun internasional terkait pelanggaran tersebut
menunjukkan betapa rentannya kedua golongan tersebut. Salah satu kasus yang memiliki
1

Anonim, “A Look at the Background of Human Rights”, Youth For Human Rights,
http://www.youthforhumanrights.org/what-are-human-rights/background-of-human-rights.html (diakses tanggal 2
Juli 2014).

1

signifikansi erat terkait pelanggaran tersebut yakni kasus Magdalene’s Laundry pada tahun 1993
di Irlandia. Di era abad pertengahan tersebut, stigma mengenai sikap dan pergaulan perempuan
sangatlah rentan sehingga menjadikan mereka seringkali dikeluarkan dari rumah, dikucilkan,
hingga diabaikan oleh keluarga mereka sendiri. Hal ini menjadikan Magdalene’s Laundry
sebagai pilihan yang terasa lebih baik dibandingkan mereka harus hidup di jalanan. 2
Magdalene’s Laundry sendiri merupakan institusi yang terdapat di berbagai belahan
dunia yang muncul dan berkembang sekitar abad ke-18 hingga abad ke-20 pertama kali di
Irlandia. Institusi ini mengambil nama dari tokoh alkitab atau injil kristiani, Maria Magdalena,
seorang pelaku prostitusi yang bertobat dan melakukan pembaharuan spiritual. Pada awalnya,
institusi ini dijalankan oleh masyarakat awam dimana tidak dibawahi oleh Katolik. Namun,
Katolik sendiri memang berperan besar dalam perkembangannya 3. Selain itu, dinamakan laundry
atau binatu karena pada era tersebut industri binatu merupakan industri yang dapat menarik masa
atau lapangan kerja dalam jumlah banyak. Kontrak terhadap pihak atau kelompok tertentu juga
sangat intensif dan mudah untuk dilakukan.
Institusi yang ditemukan oleh Lady Arabella Denny ini diharapkan dapat menjadi suatu
gerakan untuk menyelamatkan dan menyediakan suatu pekerjaan alternatif bagi para pelaku
prostitusi. Hal ini disebabkan oleh latar belakang mereka yang sangat dianggap tabu saat itu dan
menjadikan mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. 4 Benar saja, institusi
Magdalene’s Laundry yang pertama ditemukan sekitar akhir 1758 di Whitechapel, Inggris ini
dianggap berhasil. Institusi dengan istilah Magdalene’s Asylum ini juga kemudian menginspirasi
Irlandia untuk turut mendirikan institusi serupa pada tahun 1767. Selain itu di Amerika Serikat
juga terdapat insitusi yang lagi-lagi serupa yaitu Magdalen Society of Philadelphia, ditemukan
pada tahun 1800. Adapun kota-kota di Amerika Utara seperti New York, Boston, Chicago, dan
Toronto dengan segera mengikuti tindakan Philadelphia tersebut dan membuka fasilitas
Magdalena untuk para parempuan yang telah “jatuh” atau berdosa.

2

Violet Veng, ”Magdalene Laundry”, Sunday Morning, 8 Agustus 2013, http://www.cbsnews.com/news/themagdalene-laundry/ (diakses tanggal 2 Juli 2014).
3
James M. Smith, Ireland’s Magdalen Laundries and the Nation’s Architecture of Containment
(Manchester: Manchester University Press, 2008), 40.
4
Garth Toyntanen (2008). Institutionalised, 4.

2

Institusi yang juga merupakan tempat rehabilitasi para pelaku prostitusi ini kemudian
meluas perananannya kepada para ibu yang tidak menikah dan remaja perempuan yang bagi
gereja dianggap suka memberontak 5. Selain itu anak perempuan yang terkait atau terlibat dalam
pelecehan seksual, memiliki pergaulan terlalu terbuka, bahkan hanya berpotensi menimbulkan
nafsu seperti terlalu cantik juga pun dapat untuk dikirimkan ke insitusi ini.6
Sebelum tahun 1900 sendiri, diperkirakan terdapat 40% sukarelawan yang menjadi
penghuni dan masuk dalam institusi ini dengan fleksibilitas untuk keluar-masuk insitusi. Namun
di akhir abad, beberapa pihak menganjurkan untuk memperpanjang periode penetapan para
penghuni institusi tersebut. Pada dasarnya para perempuan maupun anak perempuan ini
digolongkan dalam dua kelompok yaitu para wanita yang telah “jatuh” yaitu mantan pelaku
prostitusi dan juga para perempuan atau anak perempuan yang memasuki tempat tersebut sebagai
tindakan preventif. Mereka, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kira-kira mengalami
krisis moral. 7
Kemudian, para penghuni Magdalene’s Laundry pada dasarnya wajib mengikuti
beberapa peraturan yang berlaku. Salah salah satu yang cukup ekstrim adalah dimana mereka
hingga akhir hidupnya tinggal di tempat tersebut dan mengambil sumpah agama. Magdalene’s
Laundry dalam perspektif masyarakat di era tersebut boleh dikatakan dianggap sebagai tempat
penebusan dan pemurnian dosa. Namun demikian dalam pelaksanaannya, ternyata sangat
berbanding jauh dari ekspektasi yang diharapkan.
Terdapat berbagai penyimpangan yang terjadi dalam institusi yang dioperasikan oleh
empat ordo Katolik ini. Pengurusnya yaitu para biarawati ini telah melakukan berbagai bentuk
pelanggaran HAM terhadap lebih dari 10.000 perempuan dan anak perempuan sejak tahun 1922
hingga 1996. Mereka adalah orang-orang yang dianggap menyusahkan oleh keluarga, sekolah,
hingga negara dan telah menghabiskan waktu kira-kira enam bulan hingga setahun, terkunci

5

Violet Veng, ”Magdalene Laundry”, Sunday Morning, 8 Agustus 2013, http://www.cbsnews.com/news/themagdalene-laundry/ (diakses tanggal 2 Juli 2014).
6
Anonim, Documenting our Heritage: The Magdalen Asylum Co.Cork”, Abandoned Ireland,
http://www.abandonedireland.com/mc.html (diakses tanggal 2 Juli 2014).
7
Ronnie Pollaneckzy, “Woman Exposed Ireland: Magdalene Laundries Asylum”, Philladelphia, 23 Mei
2013, http://www.phillymag.com/articles/woman-exposed-ireland-magdalene-laundries-asylum/ (diakses tanggal 2
Juli 2014).

3

dalam insitusi ini dan harus melakukan pekerjaan manual tanpa digaji. Sebagian di antara mereka
bahkan terus berada di sana selama bertahun-tahun tanpa mereka inginkan.
Magdalene’s Laundry telah menjadi suatu mekanisme dimana masyarakat, perintah
agama dan bahkan negara untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap tidak dapat
menyesuaikan diri dan tidak lagi menjalankan suatu budaya yang “kudus” atau “suci” yang
seharusnya menjadi bagian daripada identitas orang Irlandia itu sendiri. Dikenal dan dicap
sebagai wanita yang telah “jatuh” dan penuh dosa, para penghuni atau pekerja ini diperbolehkan
untuk meninggalkan institusi tersebut hanya jika terdapat anggota keluarga yang mau
mengeluarkan mereka atau biarawati sebagai pengurus institusi tersebut menemukan pekerjaan
dan posisi yang tepat bagi mereka. Apabila mereka mencoba kabur dan keluar dari perbatasan
area institusi tersebut, mereka akan dibawa kembali oleh para polisi Irlandia. 8
Sayangnya, persayaratan tersebut sangatlah sulit dipenuhi. Dimana diketahui bahwa
ternyata identitas dari para penghuni ini sendiri telah diganti oleh para biarawati. 9 Hal ini
tentunya sangat menyulitkan keluarga yang bersangkutan yang ingin menemukan mereka. Selain
itu, janji para biarawati untuk menemukan dan memberikan pekerjaan dan posisi yang tepat dan
layak juga sulit untuk terpenuhi. Laporan mengejutkan lainnya adalah ternyata terdapat
keterlibatan negara terkait kasus ini. Magdalene’s Laundry yang sebelumnya telah diungkapkan
dimana banyak para penghuninya yang telah menghabiskan bertahun-tahun lamanya terkunci
dalam institusi ini, nyatanya menjadi penghuni karena rekomendasi pemerintah. Laporan yang
diungkapkan Time menyatakan bahwa terdapat 2.124 perempuan (26.5%) dari 10.012 yang
diakui dari 1922 hingga 1996 telah ditunjuk negara untuk menjadi bagian penghuni dari institusi
tersebut. Meskipun demikian, para pemerintah Irlandia telah menyangkal bahwa negara turut
campur dalam mengirimkan para wanita ke Magdalene’s Laundry.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa dalam institusi tersebut penghuni termuda
adalah anak perempuan berusia 9 tahun dan penghuni tertua adalah seorang wanita tua berusia 89
8

Dylan Matthews, “How Mid Century Ireland Dealt with Unwed Mothers and Their Children”, Vox, 5 Juli
2014, http://www.vox.com/2014/6/5/5779902/how-mid-century-ireland-dealt-with-unwed-mothers-and-theirchildren (diakses tanggal 2 Juli 2014).
9
Jerome Elan, “Sinead O’Connor Reveals Her Abuse Catholic Magdalan”, The Washington Times
Communities, 7 Februari 2013, http://communities.washingtontimes.com/neighborhood/heart-without-compromisechildren-and-children-wit/2013/feb/7/sinead-oconnor-reveals-her-abuse-catholic-magdalan/ (diakses tanggal 2 Juli
2014).

4

tahun. Selain itu, hampir 900 wanita meninggal ketika bekerja di binatu tersebut, dimana yang
termuda adalah seorang remaja perempuan berumur 15 tahun. Penemuan ini tersebut
menunjukkan bagaimana keadaan tersebut sangat berdampak pada kondisi psikologis mereka
yang pastinya traumatis dan bertahan lama. 10
Penyiksaaan fisik, seksual, dan emosional sangat mudah ditemukan dalam institusi ini.
Salah satu korban yang selamat mengungkapkan tindakan pemerintah setelah ia mengalami
pelecehan seksual berupa pemerkosaan. Ibunya kemudian menelepon polisi dan melaporkan
tindak pemerkosaan tersebut, namun polisi justru datang dan menangkap anak perempuan
tersebut. Lebih jauh, hakim justru menganggap hal tersebut sebagai kesalahannya sendiri dan
menghukum dia untuk menjadi buruh kasar dalam Magdalene’s Laundry.
Para korban penghuni Magdalene’s Laundry dipaksa untuk bekerja dalam waktu yang
lama dan selama berjam-jam harus menahan diri untuk diam dalam hening. Hukuman yang
diberikan pula tidak tanggung-tanggung, seperti berbagai pukulan keras dan berat dan juga
dikunci di toilet selama berhari-hari. Penyerangan seksual bahkan menjadi suatu kejadian rutin di
lembaga ini dimana ketika mereka mencoba melakukan perlawanan malah mengakibatkan
hukuman yang lebih kejam 11. Dalam bukunya yang berjudul The Origins of the Magdalene
Laundry, Rebecca Lea McCarthy menjabarkan bagaimana kovenan Magdalena ini justru
menyebar di berbagai penjuru Eropa dan ditransisikan dari tempat perlindungan yang seolah
penuh harapan menjadi penjara penuh keputusasaan. 12
Akhirnya pada tahun 1993, salah satu insitutusi Magdalene’s Laundry terbesar di Irlandia
yang berlokasi di Dublin, menjual sebagian tanah kepada seorang pengembang property. Namun
ketika proyek tersebut baru saja dimulasi, penggalian masif menemukan terdapat 155 mayat
perempuan dimana hanya 75 diantaranya yang dapat diidentifikasi. Fakta tersebutlah yang
kemudian menjadikan masyarakat untuk terbuka dan benar-benar mencoba mencari tahu
10

Sorcha Pollak, “The Magdalene Laudries: Irish Report Exposes a National Shame”, Time, 7 Februari 2013,
http://world.time.com/2013/02/07/the-magdalene-laundries-irish-report-exposes-a-national-shame/ (diakses tanggal
2 Juli 2014).
11
Jerome Elan, “Sinead O’Connor Reveals Her Abuse Catholic Magdalan”, The Washington Times
Communities, 7 Februari 2013, http://communities.washingtontimes.com/neighborhood/heart-without-compromisechildren-and-children-wit/2013/feb/7/sinead-oconnor-reveals-her-abuse-catholic-magdalan/ (diakses tanggal 2 Juli
2014).
12
Rebecca Le McCarthy, Origins of the Magdalene Laundries: An Analytical History, 41.

5

kebenaran di balik insitusi ini dimana kala itu sangat sedikit informasi yang diketahui
masyarakat perihal kasus Magdalene’s Laundry ini. Eksistensi dan pengaruh gereja yang kuat di
Irlandia khususnya era tersebut memang sangat mendominasi agenda politik negara. Gereja dan
negara menjadi suatu kekuatan besar dahsyat dalam membendung berbagai tindak kejahatan
dalam insitusi tersebut. Bahkan meskipun berbagai fakta telah diungkapkan, sebagian besar
gereja memilih bungkam terkait kasus ini. 13 Hingga pada akhirnya institusi terakhir Magdalene’s
Laundry di Irlandia ditutup pada 25 September 1996. 14
Melalui pemaparan yang telah diungkapkan, terlihat jelas betapa banyak dan masifnya
pelanggaran HAM yang telah dilakukan institusi berbasis agama tersebut. Hal ini mungkin tidak
benar-benar menyita perhatian internasional namun tentu menjadi bahasan yang sangat
signifikan dimana negara bahkan agama turut menjadi pelaku atau subjek pelanggaran HAM.
Meskipun, perempuan dan anak menjadi korban atau objek pelanggaran HAM, dalam melihat
hal tersebut dibutuhkan interseksi yang tepat. Dalam hal ini, perempuan dan anak tidak dapat
dipisahkan eksistensinya sebagai dua komponen berbeda sehingga analisis yang dilakukan bukan
terkait hak perempuan dan anak yang diatur dalam CEDAW, CPRW, CRC maupun International
Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment.
Perempuan dan anak harus dalam persoalan ini harus dilihat dalam konteks sebagai warga
negara, bagian terpenting dimana negara seharusnya memberikan perlindungan terhadap hak-hak
mereka. Oleh karena landasan yang dipakai dalam menganalisis persoalan ini yaitu International
Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR).
ICCPR mengandung berbagai hak demokratis dan esensial, yang kebanyakan berkaitan
dengan fungsi suatu negara dan hubungannya dengan warga negaranya. Dalam hal ini, negara
sebagai suatu insitusi berdaulat memiliki kewenangan unutk melakukan pengurangan kewajiban
dalam ICCPR, namun terdapat beberapa hak yang tidak dapat dilakukan pengurangan antara
lain: hak hidup (Pasal 6), Bebas dari penyiksaan (Pasal 7), Bebas dari perbudakan (Pasal 8), dan
Kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama (Pasal 18).

13

Violet Veng, ”Magdalene Laundry”, Sunday Morning, 8 Agustus 2013, http://www.cbsnews.com/news/themagdalene-laundry/ (diakses tanggal 2 Juli 2014
14
Anonim, Documenting our Heritage: The Magdalen Asylum Co.Cork”, Abandoned Ireland,
http://www.abandonedireland.com/mc.html (diakses tanggal 2 Juli 2014).

6

Terkait dengan persoalan yang ada, dapat dilihat dengan jelas pasal berapa yang telah
dilanggar oleh negara sebagai institusi yang bertanggung jawab dan berkewajiban memberikan
perlindungan. Pasal 7 terkait larangan penyiksaan dan perlakukan atau penghukuman yang
kejam, tidak mausiawi dan merendahkan martabat manusia nyatanya telah dilanggar. Kaum
perempuan dan anak yang menjadi penghuni Magdalene’s Laundry telah terabaikan hak sipilnya
dimana justru hanya tinggal diam bahkan turut campur dalam melakukan pelanggaran HAM
tersebut. Jelas terlihat bahwa terdapat penyiksaan, penghukuman yang kejam dan tidak
manusiawi dalam insitusi dengan kedok agama dan moralitas tersebut 15.
Selain itu, terdapat beberapa hak sipil lain yang juga telah dilanggar yakni Pasal 8 terkait
larangan perbudakan, perdagangan budak dan kerja paksa atau kerja wajib, Pasal 10 terkait hak
semua orang yang berasal dari kebebasannya untuk diperlakukan secara manusiawi 16, dan Pasal
26 terkait hak atas persamaan di depan hukum dan perlindungan hukum yang sama. 17
Magdalene’s Laundry telah melakukan kerja paksa terhadap para penghuni institusi
tersebut dimana mereka tanpa digaji harus melakukan pekerjaan manual dalam hal ini pekerjaan
binatu. Selain itu mereka juga diperlakukan secara tidak manusiawi dimana para biarawati
tersebut melakukan berbagai tindakan tidak etis dan juga bermoral. Salah satu korban yang
selamat, menceritakan bagaimana institusi tersebut memaksanya untuk terpaksa memakan
makanan yang ada di lantai dan berbagai tindakan tidak manusiawi lainnya. Selain itu, seperti
yang telah diungkapkan, terdapat kecacatan hukum dimana hakim malah menjadikan korban
pelecehan seksual sebagai kesalahan yang harus ditanggung sendiri dan menghukum korban
dalam institusi Magadalene’s Laundry.
Meskipun kasus ini telah resmi ditutup, namun kegagalan Irlandia sebagai negara dalam
memberikan perlindungan terkait hak sipil jelas merupakan suatu hal yang amat memalukan dan
perlu menjadi pembelajaran tersendiri. Masyarakat sebagai komponen utama dalam negara juga
perlu lebih peka terhadap lingkungan di sekelilingnya. Berbagai pelanggaran HAM seharusnya
ditindak secara cepat dan tegas sehingga tidak berlarut-larut dan menimbulkan korban jiwa yang

15

Drs. Dafri Agus Salim, MA, “Diktat Mata Kuliah Pengantar Studi Hak Asasi Manusia (HAM): Semester
Genap”, 2013, 29.
16
Dafri, “Diktat Mata Kuliah Pengantar Studi Hak Asasi Manusia (HAM): Semester Genap” , 30.
17
Dafri, “Diktat Mata Kuliah Pengantar Studi Hak Asasi Manusia (HAM): Semester Genap”, 31.

7

lebih banyak lagi. Pemerintah Irlandia maupun gereja tidak seharusnya menutup-nutupi kasus
ini, karena pada akhirnya hal tersebut hanya justru semakin menjatuhkan kredibilitas mereka.
Sangat disayangkan ketika institusi seperti Magdalene’s Laundry seharusnya mampu
menjadi sarana perlindungan bagi kaum perempuan, tempat mereka melakukan penebusan dosa
malah berubah menjadi penjara yang sangat menyiksa. Hal ini seharusnya menjadi perhatian,
dimana perlu ada pengawasan mengenai insitusi-institusi terkait yang menjunjung tinggi
kebaikan bahkan mungkin hak asasi malah menjadi bentuk penyimpangan dengan berbagai
rentetan pelanggaran di dalamnya. Oleh karena itu, perlu adanya sinergitas antara pemerintah
dan masyarakat dalam penanganan berbagai pelanggaran HAM. Masyarakat maupun pemerintah
tidak boleh bersikap apatis. Magdalene’s Laundry merupakan salah satu sejarah menarik yang
kelam bagi Irlandia. Namun, diharapkan kasus serupa tidak akan terulang lagi dan hal ini
menjadi pelajaran berarti bagi pemerintah Irlandia maupun lainnya dan gereja-gereja terkait.

8

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. “A Look at the Background of Human Rights”. Youth For Human Rights,
http://www.youthforhumanrights.org/what-are-human-rights/background-of-humanrights.html (diakses tanggal 2 Juli 2014).
Anonim. Documenting our Heritage: The Magdalen Asylum Co.Cork”, Abandoned Ireland,
http://www.abandonedireland.com/mc.html (diakses tanggal 2 Juli 2014).
Elan, Jerome. “Sinead O’Connor Reveals Her Abuse Catholic Magdalan”. The Washington
Times Communities. 7 Februari 2013
http://communities.washingtontimes.com/neighborhood/heart-without-compromisechildren-and-children-wit/2013/feb/7/sinead-oconnor-reveals-her-abuse-catholicmagdalan/ (diakses tanggal 2 Juli 2014).
Matthews, Dylan. “How Mid Century Ireland Dealt with Unwed Mothers and Their Children”.
Vox/ 5 Juli 2014. http://www.vox.com/2014/6/5/5779902/how-mid-century-ireland-dealtwith-unwed-mothers-and-their-children (diakses tanggal 2 Juli 2014).
McCarthy, Rebecca Le. Origins of the Magdalene Laundries: An Analytical History. 2013.
Pollak, Sorcha. “The Magdalene Laudries: Irish Report Exposes a National Shame”. Time. 7
Februari 2013. http://world.time.com/2013/02/07/the-magdalene-laundries-irish-reportexposes-a-national-shame/ (diakses tanggal 2 Juli 2014).
Pollaneckzy, Ronnie. “Woman Exposed Ireland: Magdalene Laundries Asylum”. Philladelphia,
23 Mei 2013. http://www.phillymag.com/articles/woman-exposed-ireland-magdalenelaundries-asylum/ (diakses tanggal 2 Juli 2014).
Salim, Drs. Dafri Agus MA. “Diktat Mata Kuliah Pengantar Studi Hak Asasi Manusia (HAM):
Semester Genap”. 2013.
Smith, James M. Ireland’s Magdalen Laundries and the Nation’s Architecture of Containment.
Manchester: Manchester University Press. 2008.
Toyntanen, Garth. 2008. Institutionalised.
Veng, Violet. ”Magdalene Laundry”, Sunday Morning, 8 Agustus 2013,
http://www.cbsnews.com/news/the-magdalene-laundry/ (diakses tanggal 2 Juli 2014).

9


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1855 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 486 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 431 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 258 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 380 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 569 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 501 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 319 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 491 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 582 23