Dewinta Ayu Hapsari C0108025

CARIYOS ANÈH-ANÈH

(SUATU TINJAUAN FILOLOGIS)

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan guna Mencapai Gelar Sarjana Sastra Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas sebelas Maret

Disusun Oleh

Dewinta Ayu Hapsari

C0108025

JURUSAN SASTRA DAERAH FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

commit to user

commit to user

commit to user

PERNYATAAN

Nama : Dewinta Ayu Hapsari NIM : C0108025

Menyatakan bahwa sesungguhnya skripsi yang berjudul Cariyos Anèh-Anèh (Suatu Tinjauan Filologis) adalah benar-benar karya sendiri, bukan plagiat, dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Hal-hal yang bukan karya saya dalam skripsi ini diberi tanda citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari pernyataan ini terbukti tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh dari skripsi tersebut.

Surakarta, 12 November 2012 Yang membuat pernyataan

Dewinta Ayu Hapsari

commit to user

MOTTO

“ Aku tak berharap lebih pada dirimu, kecuali kesetiaanmu pada agamamu dan pada negaramu. “ ( Akis Dharma )

“ Kebenaran itu, wajah-wajah tanpa nafas, mari kita cari warna kita sendiri.“ ( Oka Rusmini, Warna Kita )

“ Yèn siya iku ambêking kewan, wêlasan iku ambêking manungsa.” Terjemahan: Apabila tindak semena-mena adalah watak hewan, maka welas asih

adalah watak manusia. ( C. F Winter, Cariyos Anèh-Anèh )

commit to user

PERSEMBAHAN

Perempuan-perempuan terhebat dalam hidupku; Ibuku tercinta (Ibu Sri), Mbah Ninik dan Mbah „Iji (Almh.)

Bapakku (Pak Trisno)

Pakdhe Dhiono (Alm.)

Almamaterku

commit to user

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan segala rahmat, taufik, hidayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Cariyos Anèh-Anèh (Suatu Tinjauan Filologis)”.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dalam proses penyusunan skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis

mengucapkan terimakasih kepada:

1. Drs. Riyadi Santosa, M.Ed, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Drs. Supardjo, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Sastra Daerah dan pembimbing pertama yang telah membimbing penulis selama studi di Jurusan Sastra Daerah sampai pada proses penulisan skripsi.

3. Dra. Dyah Padmaningsih, M. Hum., selaku pembimbing akademik yang telah membimbing penulis selama studi.

4. Dra. Endang Tri Winarni, M.Hum., selaku pembimbing kedua yang telah berkenan membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi.

5. Bapak dan ibu dosen Jurusan Sastra Daerah yang telah berkenan memberikan ilmunya kepada penulis.

6. Kepala dan staf perpustakaan pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta serta perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa.

commit to user

Perpustakaan Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta, Sasana Pustaka, Reksa Pustaka dan Radya Pustaka Surakarta.

8. Bapak dan Ibu yang penuh kasih sayang. Mbah Ninik, Om Agus, Om Bambang, Budhe Ning Dhiono, adikku Ama dan Ibu Sukasmiyati di Jogja, terima kasih untuk seluruh perhatian serta do‟a.

9. Muhammad Akis Dharmaputra, A. Md yang senantiasa sabar dan penuh perhatian, terima kasih untuk seluruh imaji, imanen, kenangan dan harapan.

10. Keluarga Besar Teater TESA, give but never give up!

11. Sedulur-sedulur GUPITA, Komunitas Kelas Puisi Malna dan Afrizal Malna terima kasih untuk pengalaman menulis yang tak terlupakan.

12. Teman-teman Sastra Daerah angkatan 2008, terutama teman-teman bidang Filologi yang selalu memberikan semangat kepada penulis.

13. Teman-teman eks-Laßaro (kelas Bahasa II 2008 SMA Negeri 6 Surakarta) dan teman-teman Sekolah Vokasi D3 Tourism UGM.

Penulis menyadari dengan sepenuh hati, bahwa skripsi ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, diharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi perbaikan selanjutnya. Akhirnya, semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan pemerhati masalah filologi di Indonesia.

Surakarta, 12 November 2012

Penulis

commit to user

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Nama rêrênggan, têmbang, jumlah pupuh dan pada CAA ................... 51 Tabel 2.1 Varian Lakuna kesalahan pemenuhan metrum têmbang .................... 61 Tabel 2.2 Varian Adisi kesalahan pemenuhan metrum têmbang ....................... 64 Tabel 3.1 Varian Lakuna kesalahan penulisan kata .......................................... 65 Tabel 3.2 Varian Adisi kesalahan penulisan kata ............................................. 66 Tabel 4. Varian Hipercorect

........................................................................... 67

Tabel 5. Varian Ketidakkonsistenan Penulis ...................................................... 69 Tabel 6. Varian Corrupt .................................................................................... 70 Tabel 7. Varian Transposisi ................................................................................. 71 Tabel 8. Varian kesalahan pemenuhan metrum têmbang (guru lagu) ............... 71

commit to user

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

A. Singkatan

CAA : Cariyos Anèh-Anèh cm

: centi meter EYD

: Ejaan Yang Disempurnakan

g : gatra hlm.

: halaman No.

: Nomor KBBI

: Kamus Besar Bahasa Indonesia MSB

: Museum Sonobudaya P

: pupuh p

: pada SK

: Studi Koleksi

B. Lambang

Ê : dibaca “ ǝ ” seperti kata “benang” è

: dibaca “E” seperti kata “sketsa” /

: tanda untuk memperjelas bagian gambar dan contoh

/ : menandai batas setiap baris //

: menandai batas setiap bait #

: edisi teks yang sesuai dengan konvensi tembang

* : edisi teks berdasarkan pertimbangan linguistik @

: edisi teks berdasarkan konteks kalimat

commit to user

Lampiran 31. Halaman 229 naskah CAA .......................................................... 277 Lampiran 32. Halaman 230 naskah CAA ........................................................ 278 Lampiran 33. Halaman 231 naskah CAA .......................................................... 279 Lampiran 34. Halaman 232 naskah CAA .......................................................... 280 Lampiran 35. Sampul belakang naskah CAA .................................................. 281 Lampiran 36. Watermark naskah CAA ............................................................ 282 Lampiran 37. Countermark naskah CAA ........................................................... 283

commit to user

Gambar 31. Pembatalan aksara dengan sandhangan lebih dari satu ................... 47 Gambar 32. Pembatalan aksara menyisipkan huruf atau sandahangan .............. 48 Gambar 33. Penanda pergantian bait ................................................................... 48 Gambar 34. Penanda pergantian baris ................................................................. 48 Gambar 35. Mandrawapada pupuh I Dhandhanggula ....................................... 48 Gambar 36. Mandrawapada pupuh XI Kinanthi .............................................. 48 Gambar 37. Mandrawapada pupuh XXV Dhandhanggula ................................ 48

Gambar 38. Sasmita têmbang pupuh I Dhandhanggula ..................................... 49 Gambar 39. Sasmita têmbang pupuh V Pocung ................................................ 49 Gambar 40. Sasmita têmbang pupuh I Pocung ................................................... 49 Gambar 41. Watermark dalam naskah CAA ..................................................... 49 Gambar 42. Watermark bertuliskan Propatria Eiusque Libertate (Vryheyt) ...... 50 Gambar 43. Countermark dalam naskah CAA ..................................................... 50 Gambar 44. Penulisan nomor halaman dan nama têmbang naskah CAA ............ 51 Gambar 45. Purwapada pada awal penulisan naskah ....................................... 57 Gambar 46. Wêdana rênggan pada halaman 1 & 2 (pupuh I Dhandanggula) ... 58 Gambar 47. Wêdana rênggan pada halaman 1 & 2 (pupuh II Dhandanggula) .. 59 Gambar 48-49. Pemakaian tanda hubung untuk reduplikasi .............................. 73 Gambar 50-51. Penulisan dwipurwa (reduplikasi parsial) .................................. 73 Gambar 52-53. Penulisan teks dengan menggunakan (ô) .................................... 74 Gambar 54-55. Suntingan teks sastra laku ........................................................... 74 Gambar 56-57. Penggunaan sandhangan wyanjana ........................................... 74 Gambar 58-59. Suntingan teks fonem yang ditulis dengan /h/ ............................ 75 Gambar 60. K ekonsistenan penulis dalam menulis kata „namêr‟ ........................ 75 Gambar 61. Kekonsistenan penulis dalam menulis kata „batên‟ ......................... 75

commit to user

ABSTRAK

Dewinta Ayu Hapsari. C0108025. 2012. Cariyos Anèh-Anèh (Suatu Tinjauan Filologis) . Skripsi: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) bagaimanakah suntingan teks Cariyos Anèh-Anèh yang bersih dari kesalahan dan mendekati asli? (2) ajaran moral kepemimpinan apa sajakah yang terkandung dalam teks Cariyos Anèh- Anèh ?

Tujuan penelitian ini adalah (1) menyajikan suntingan teks Cariyos Anèh- Anèh yang bersih dari kesalahan dan mendekati asli. (2) mengungkapkan ajaran moral

kepemimpinan yaitu kepemimpinan Raja, prajurit, hakim dan jaksa yang terkandung dalam Cariyos Anèh-Anèh.

Bentuk penelitian ini adalah penelitian filologis yang bersifat deskriptif kualitatif. Jenis penelitiannya adalah penelitian pustaka (library research). Data dalam penelitian ini adalah naskah Cariyos Anèh-Anèh. Cariyos Anèh-Anèh berbentuk têmbang macapat dan berhuruf Jawa carik berjumlah 232 halaman. Teknik pengumpulan data melalui tahapan inventarisasi melalui katalog-katalog naskah yang tersimpan di perpustakaan atau instansi, judul didaftar, diadakan pengecekan kebenaran keberadaan naskah dan microfilm naskah ke lokasi penyimpanan naskah kemudian diadakan pengamatan, teknik reproduksi yaitu dengan teknik scan dari microfilm melalui microreader kemudian data tersebut ditransfer ke dalam komputer yaitu program Adobe Photoshop atau Microsoft Picture Manager, tahap selanjutnya Cariyos Anèh-Anèh ditransliterasi.

Teknik analisis data melalui deskripsi naskah, kritik teks, suntingan teks disertai dengan aparat kritik dan sinopsis. Metode standar (biasa) digunakan dalam penelitian Cariyos Anèh-Anèh. Kemudian dilanjutkan dengan analisis isi. Kajian isi untuk mengungkap ajaran moral yaitu ajaran moral kepemimpinan Raja, prajurit, hakim dan jaksa yang terkandung dalam teks Cariyos Anèh-Anèh.

Simpulan penelitian ini adalah (1) Cariyos Anèh-Anèh koleksi Perpustakaan Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta bernomor katalog MSB L.81/SK 93 Rol.60 no.3 merupakan naskah tunggal. Di dalamnya terdapat banyak varian seperti lacuna, adisi, hipercorrect, corrupt, transposisi, ketidakkonsistenan penulis meliputi ketidakkonsistenan penggunaan aksara rekan dan penulisan kata. Setelah melalui cara kerja filologi dimulai dari deskripsi naskah, kritik teks, aparat kritik hingga transliterasi, maka suntingan teks Cariyos Anèh-Anèh dalam penelitian ini merupakan teks yang bersih dari kesalahan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (2) Cariyos Anèh-Anèh adalah naskah yang berjenis sastra. Di dalamnya tertulis 58 dongeng yang ber-genre lelucon dan anekdot yang di dalamnya tertuang berbagai ajaran moral kepemimpinan, antara lain ajaran moral kepemimpinan Raja, prajurit, hakim dan jaksa. Ajaran moral tersebut tertuang dalam cerita-cerita yang ringan untuk dipahami. Ajaran moral kepemimpinan Raja yaitu adil, bijaksana, welas asih, tidak memikirkan diri sendiri dan berbudi bawalêksana. Ajaran moral kepemimpinan untuk prajurit yaitu ikhlas, berani, teguh hati dan pantang menyerah, sedangkan ajaran moral kepemimpinan untuk hakim dan jaksa adalah jujur, adil, tegas dan menolak suap.

commit to user

SARI PATHI

Dewinta Ayu Hapsari. C0108025. 2012. Cariyos Anèh-Anèh (Kajian Filologis). Skripsi: Jurusan Sastra Dhaerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Pawiyatan Luhur Sebelas Maret Surakarta Hadiningrat.

Prêkawis ingkang dipunrêmbag wontên panalitèn punika (1) kados pundi suntingan teks Cariyos Anèh-Anèh ingkang rêsik saking kalêpatan saha ingkang cakêt kalihan babon utawi aslinipun? (2) piwulang moral kepemimpinan punapa kemawon ingkang kaêwrat wontên ing teks Cariyos Anèh-Anèh?

Ancas ing panalitèn punika (1) angandharakên suntingan teks Cariyos Anèh-Anèh ingkang rêsik saking kalêpatan saha ingkang cakêt kalihan babon utawi aslinipun. (2) angandharakên piwulang moral kepemimpinan Raja, prajurit, hakim lan jaksa ingkang kaêwrat wontên ing teks Cariyos Anèh-Anèh.

Wujud panalitènipun inggih punika panalitèn filologi ingkang sipatipun deskriptif kualitatif. Jinis panalitènipun inggih punika panalitèn pustaka (library research ). Data panalitènipun inggih punika Cariyos Anèh-Anèh ingkang wujudipun têmbang macapat mawi aksara Jawa carik kanthi cacah kaca wontên 232. Teknik pengumpulan data kawiwitan saking inventarisasi mawi katalog-katalog naskah ingkang kasimpên wontên ing perpustakaan utawi instansi, irah-irahan naskah dipundhaptar, salajêngipun dipunwontênakên panalitèn lan ningali lêrêsipun kawontênan naskah saha microfilm naskah dhatêng panggenan ingkang nyimpên naskah kalawau. Salajêngipun teknik reproduksi, têgêsipun naskah dipun-scan saking microfilm mawi microreader lan data dipunlêbêtakên wontên ing komputer, inggih punika program Adobe Photoshop utawi Microsoft Picture Manager. Salajêngipun Cariyos Anèh-Anèh dipun-translit, têgêsipun ingkang wau sêratan Jawi kasêrat mawi sêratan Latin.

Teknik analisis data kanthi deskripsi naskah, kritik teks, suntingan teks, dipunsarêngi aparat kritik lan sinopsis. Metode edisi kritis utawi metode standar (biasa) dipun-ginakakên ing penyuntingan naskah Cariyos Anèh-Anèh. Salajêngipun isi Cariyos Anèh-Anèh dipuntêliti. Kajian isi punika kangge hangandharakên piwulang moral kepemimpinan inggih punika ajaran moral kepemimpinan Raja, prajurit, hakim lan jaksa ingkang kasêrat wontên ing Cariyos Anèh-Anèh.

Dudutan wontên ing panalitèn punika (1) Cariyos Anèh-Anèh kagunganipun Perpustakaan Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta Hadiningrat kanthi angka katalog MSB L.81/SK 93 Rol.60 no.3 kasêbut naskah tunggal. Ing salêbêtipun wontên kathah varian inggih punika lacuna, adisi, hipercorrect, corrupt, transposisi , ketidakkonsistenan panyêrat inggih punika nyêrat aksara saha nyêrat têmbung. Sabibaripun dipuntêliti kanthi cara kerja filologi kawiwitan saking deskripsi naskah, kritik teks, aparat kritik, transliterasi , pramila suntingan teks Cariyos Anèh-Anèh wontên ing panalitèn punika katêlah teks ingkang rêsik saking kalêpatan saha sagêd dipuntanggêljawabakên kanthi ilmiah. (2) Cariyos Anèh-Anèh punika jinis sêrat sastra. Ing salêbêtipun kasêrat 58 dongeng ingkang jinisipun kalêbêt lelucon lan anekdot ingkang kakandhut ajaran moral, inggih punika ajaran moral kepemimpinan Raja, prajurit, hakim lan jaksa. Ajaran moral kepemimpinan Raja inggih punika adil, wicaksana, wêlas asih, lan berbudi bawalêksana. Ajaran moral kepemimpinan salajêngipun inggih punika kagêm para prajurit inggih punika ikhlas, wani, têtêg saha botên nguciwani, mênawi ajaran moral kepemimpinan kagêm hakim lan jaksa inggih punika jujur, adil lan tegas.

commit to user

ABSTRACT

Dewinta Ayu Hapsari. C0108025. 2012. Cariyos Anèh-Anèh (Philology Studies). Skripsi: Javanese Literature Program Faculty of Letters and Fine Arts Sebelas Maret University Surakarta.

Problem statements in this research are (1) how does the editing of Cariyos Anèh-Anèh which is no mistakes and close to the original version? (2) how does the leadership moral value contained in the Cariyos Anèh-Anèh?

The purposes of this research are (1) to present the editing version of Cariyos Anèh-Anèh which is close to the original version and no mistake in editing. (2) to describe any kind of leadership moral value in the Cariyos Anèh-Anèh.

The form of this research is philological research that has sort of descriptive qualitative. A kind of this research is library research. The data in this research are Cariyos Anèh-Anèh formed têmbang macapat and typed in Jawa Carik and consist of 232 pages. Techniques of data collection through inventory catalogs script stored in the library or institusions, the title is listed, checking the truth of the existence of the manuscript was held and microfilm manuscripts and manuscripts storage location to microfilm and held observations, namely reproduction technique with scans of the microfilm technique through microreader which data is transferred into the computer program Adobe Photoshop and Microsoft Office Picture Manager. The next step, Cariyos Anèh-Anèh transliterated.

Engineering analysis of data, through the description of a manuscript criticism of text, edits a text accompanied with an apparatus criticism and translation. The method or methods of the standard critical edition (commonly) used in the method editor Cariyos Anèh-Anèh. Then proceed with the analysis of the content. Studies to reveal contents of moral leadership teachings pertaining to king, soldier, judge and public prosecutor beings contained in the Cariyos Anèh-Anèh.

The conclusions ofthis research are (1) Cariyos Anèh-Anèh from Library Museum Negeri Sonobudoyo collection catalog number MSB L.81/ SK 93 Rol.60 no.3 is a single script. In Cariyos Anèh-Anèh there are many variants like lacuna, adisi, hipercorrect, corrupt, transpotition and author inconsistency which consist of inconsistency in using colleague script and writting word. After by philology procedure, starts from manuscripts description, text criticism, criticism apparatus, until transliteration, so editing of text Cariyos Anèh-Anèh in this research were no mistakes and can be scientific responsibilty. (2) Cariyos Anèh-Anèh is kind of literary script. In Cariyos Anèh-Anèh consist of 58 fairytale which have funny genre (jokes) and anecdotes. There are many leadership moral value, such as King leadership moral value, soldier, judge and public prosecutor. There are moral value in simple stories in Cariyos Anèh-Anèh and easy to understand. King leadership moral value like fair, wise, mercy, didn‟t think by one self and moral berbudi bawalêksana. Moral value for soldier there are sincere, brave, consience and never gave up, while leadership moral value for judge and public prosecutor are honest, fair, distinct and refuse bribe.

ABSTRAK

2012. Skripsi: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) bagaimanakah suntingan teks Cariyos Anèh-Anèh yang bersih dari kesalahan dan mendekati asli? (2) ajaran moral kepemimpinan apa sajakah yang terkandung dalam teks Cariyos Anèh-Anèh? Tujuan penelitian ini adalah (1) menyajikan suntingan teks Cariyos Anèh-Anèh yang bersih dari kesalahan dan mendekati asli. (2) mengungkapkan ajaran moral kepemimpinan yaitu kepemimpinan Raja, prajurit, hakim dan jaksa yang terkandung dalam Cariyos Anèh-Anèh . Bentuk penelitian ini adalah penelitian filologis yang bersifat deskriptif kualitatif. Jenis penelitiannya adalah penelitian pustaka (library research). Data dalam penelitian ini adalah naskah Cariyos Anèh-Anèh. Cariyos Anèh-Anèh berbentuk têmbang macapat dan berhuruf Jawa carik berjumlah 232 halaman. Teknik pengumpulan data melalui tahapan inventarisasi melalui katalog- katalog naskah yang tersimpan di perpustakaan atau instansi, judul didaftar, diadakan pengecekan kebenaran keberadaan naskah dan microfilm naskah ke lokasi penyimpanan naskah kemudian diadakan pengamatan, teknik reproduksi yaitu dengan teknik scan dari microfilm melalui microreader kemudian data tersebut ditransfer ke dalam komputer yaitu program Adobe Photoshop atau Microsoft Picture Manager , tahap selanjutnya Cariyos Anèh-Anèh ditransliterasi.

1 Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah dengan NIM C0108025 2 Dosen Pembimbing I 3 Dosen Pembimbing II

hakim dan jaksa yang terkandung dalam teks Cariyos Anèh-Anèh. Simpulan penelitian ini adalah (1) Cariyos Anèh-Anèh koleksi Perpustakaan Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta bernomor katalog MSB L.81/SK 93 Rol.60 no.3 merupakan naskah tunggal. Di dalamnya terdapat banyak varian seperti lacuna, adisi, hipercorrect , corrupt, transposisi, ketidakkonsistenan penulis meliputi ketidakkonsistenan penggunaan aksara rekan dan penulisan kata. Setelah melalui cara kerja filologi dimulai dari deskripsi naskah, kritik teks, aparat kritik hingga transliterasi, maka suntingan teks Cariyos Anèh-Anèh dalam penelitian ini merupakan teks yang bersih dari kesalahan dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (2) Cariyos Anèh-Anèh adalah naskah yang berjenis sastra. Di dalamnya tertulis 58 dongeng yang ber-genre lelucon dan anekdot yang di dalamnya tertuang berbagai ajaran moral kepemimpinan, antara lain ajaran moral kepemimpinan Raja, prajurit, hakim dan jaksa. Ajaran moral tersebut tertuang dalam cerita-cerita yang ringan untuk dipahami. Ajaran moral kepemimpinan Raja yaitu adil, bijaksana, welas asih, tidak memikirkan diri sendiri dan berbudi bawalêksana. Ajaran moral kepemimpinan untuk prajurit yaitu ikhlas, berani, teguh hati dan pantang menyerah, sedangkan ajaran moral kepemimpinan untuk hakim dan jaksa adalah jujur, adil, tegas dan menolak suap.

commit to user

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebudayaan merupakan akar setiap bangsa, termasuk bangsa Indonesia yang memiliki kebudayaan yang beragam. Hal ini dapat terlihat dari peninggalan- peninggalan yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Sebagai pewaris kebudayaan, kita wajib melestarikan kebudayaan agar tidak hilang begitu saja. Kebudayaan merupakan hal yang sangat berguna dalam kehidupan sehari- hari. Peninggalan atau warisan budaya nenek moyang merupakan bentuk kebudayaan sebagai hasil sintesa dari pengalaman-pengalaman masa lalu yang terekam secara berkesinambungan dari kurun waktu yang cukup panjang.

Di antara warisan budaya tersebut adalah karya tulis yang tersimpan pada bahan yang lama seperti batu, logam, kulit binatang, kulit kayu dan kertas (Baried,dkk, 1994:1). Salah satu peninggalan tertulis yang kini kurang mendapatkan perhatian yaitu peninggalan yang berupa naskah. Naskah merupakan hasil tuangan ide, gagasan, sebuah saksi dari suatu dunia berbudaya dan suatu tradisi peradaban, serta mampu memberikan informasi yang luas dan mendalam tentang masyarakat pada zamannya (Baried,dkk, 1994: 1). Sebagai salah satu peninggalan tertulis naskah-naskah lama menyimpan berbagai informasi penting lebih banyak dari pada peninggalan sejarah yang lain dari masa lampau. Haryati Soebadio (1975 : 1) menyatakan bahwa,”naskah-naskah lama merupakan dokumen

commit to user

yaitu dapat memberikan informasi yang lebih luas dibanding puing bangunan megah seperti candi, istana raja dan pemandian suci yang tidak dapat berbicara dengan sendirinya tetapi harus ditafsirkan”.

Banyak naskah kuno yang ditemukan namun yang tersimpan dan terawat intensitasnya berkurang, karena perawatan yang relatif susah dan bahan-bahan naskah yang memang tidak dapat bertahan lama sejalan dengan bertambahnya umur naskah. Banyak pula jumlah naskah yang hilang atau bahkan rusak, sehingga usaha penyelamatan naskah-naskah tersebut perlu dikembangkan. Kondisi tersebut merupakan alasan perlunya naskah-naskah lama segera mendapatkan penanganan untuk mencegah kepunahannya.

Naskah Jawa merupakan hasil dari sebuah karya sastra dan setiap karya sastra tersebut tidak terlepas dari latar belakang kebudayaannya. Sastra merupakan ciptaan manusia yang berbentuk bahasa baik lisan maupun tertulis yang menimbulkan nilai estetis. Bahasa dalam karya sastra juga bersifat konotatif artinya bahasa dalam karya sastra memiliki banyak tafsir, tidak banyak menerangkan dan menyatakan apa yang dikatakan tetapi juga tidak bermaksud mempengaruhi sifat pembaca, membujuk dan mengubah pendirian pembaca.

Bidang ilmu yang erat kaitannya dengan penanganan naskah adalah bidang filologi. Penelitian filologi sangat diperlukan sebagai upaya untuk mendapatkan naskah yang bersih dari kesalahan dan tersusun kembali seperti semula atau mendekati aslinya. Hal tersebut disebabkan karena sebelumnya naskah mengalami penyalinan untuk kesekian kalinya yang disesuaikan dengan

commit to user

kenyataannya kurang diimbangi dengan usaha penelitian naskah untuk memberdayagunakan isi naskah yang terkandung di dalamnya.

Behrend (1990) menggolongkan naskah-naskah Jawa menjadi beberapa bagian untuk mempermudah dalam penelitian dan ditinjau dari segi isinya, yaitu : sejarah, agama Islam, silsilah, primbon dan pawukon, hukum dan peraturan, wayang, musik, bahasa sastra wayang, tari-tarian, sastra, piwulang dan suluk, adat istiadat, dan lain-lain. Dalam katalog lain pun naskah-naskah tersebut sudah diklasifikasikan, sehingga mempermudah peneliti untuk melakukan penelusuran ke tempat penyimpanan naskah. Berdasarkan klasifikasi dari Behrend (1990), peneliti tertarik untuk meneliti naskah jenis sastra berjudul Cariyos Anèh-Anèh.

Naskah Cariyos Anèh-Anèh ini berisi tentang cerita-cerita yang merupakan anecdotes dari Eropa, Timur Tengah dan Cina yang kemudian ditulis kembali dalam bahasa Jawa dengan bentuk prosa oleh C.F Winter. Namun juga ditemukan naskah lain dalam bentuk têmbang yang akhirnya dipilih sebagai objek penelitian ini. Dalam naskah yang berbentuk têmbang tersebut banyak ditemukan varian serta keunikan dan di setiap pupuhnya merupakan sebuah rangkaian cerita yang disertai rêrênggan atau wêdana yang melambangkan isi cerita tersebut, total seluruh cerita adalah 58 buah yang dituangkan dalam 62 pupuh. Maka dari itu amat disayangkan apabila naskah ini tidak diteliti secara filologis.

Inventarisasi naskah dilakukan dengan pembacaan beberapa katalog sebagai berikut:

commit to user

the Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta ( Girardet – Sutanto, 1983 ).

2. Javanese Language Manuscrips of Surakarta Central Java A Pleriminary Descriptive Catalogus Level I and II ( Nancy K. Florida, 1996 )

3. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid I Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta (Behrend, 1990)

4. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 3-B (Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1998)

5. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Lindsay, 1994 )

6. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 2 Keraton Yogyakarta

7. Katalog Lokal Perpustakaan Museum Radya Pustaka dan Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran, Surakarta. Dari hasil inventarisasi yang dilakukan dari berbagai katalog, hanya

ditemukan satu manuskrip yang berjudul Cariyos Anèh-Anèh yaitu naskah carik berbentuk têmbang tersimpan di Perpustakaan Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta dengan nomor MSB/L81 (Behrend 1990), kode koleksi perpustakaan SK 93, yang kemudian dijadikan data utama oleh penulis. Microfilm dari naskah tersebut tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan kode Rol.60 No.3 dan tersimpan di Laboratorium Filologi, Jurusan Sastra Daerah, Universitas Sebelas Maret dengan kode microfilm Pos.MSB-60 (Rec.0014).

commit to user

judul naskah Cariyos Anèh-Anèh tersirat pada pupuh I (Dhandhanggula) pada 1 gatra ke 6.

Gb. 1 kolofon dalam naskah dan keterangan dalam kolofon (Pupuh I Dhandhanggula pada 1) yang menerangkan judul naskah, yaitu ‘... cariyos dêdongèngan, anèh-anèh....‟, (Cerita Dongeng, aneh-aneh) kemudian naskah tersebut lebih dikenal dengan judul Cariyos Anèh-Anèh.

Ditemukan pula buku cetak yang di tulis oleh C.F Winter dan diterbitkan di Betawi dalam bentuk prosa pada tahun 1864. Kedua buku cetak tersebut yaitu yang berjudul Cariyos Anèh-Anèh tersimpan di Perpustakaan Sasana Pustaka Kraton Kasunanan Surakarta dengan nomor katalog 17635/60ha dan yang berjudul Cariyos Anèh Tiga Bêlah di Perpustakaan Museum Radya Pustaka Surakarta dengan nomor katalog 38020/359 (Girardet: 1983). Dari kedua buku cetak tersebut yang keseluruhan ceritanya sama dengan versi têmbang adalah buku cetak yang tersimpan di Perpustakaan Sasana Pustaka yaitu yang berjudul

commit to user

penulisan ini.

Gb. 2 & 3 sampul depan buku cetak berjudul Cariyos Anèh-Anèh (17635/60ha) dan halaman judul buku tersebut yang terdapat keterangan nama pengarang, tempat terbit dan tahun terbit, yaitu tertulis „Cariyos Anèh-Anèh tinêdhak saking têmbung Walandi utawi saking têmbung Inggris, dening tuwan Karèl Frèdêrik Wintêr, juru basa ing nagari Surakarta. Kaêcap ing gêdhong pangêcapane Kanjêng Guvrêmèn ing Bêtawi, ing taun 1864.‟ Terjemahan: Cariyos Anèh-Anèh ditulis kembali dari Bahasa Belanda atau dari Bahasa Inggris, oleh tuan Carèl Frèdêrik Wintêr, ahli bahasa (transliteur) dari Surakarta. Dicetak di gedung percetakannya Kanjêng Guvrêmèn di Betawi, pada tahun 1864.

Cariyos Anèh-Anèh (selanjutnya disingkat CAA) yang tersimpan di Perpustakaan Negeri Sonobudoyo disajikan dalam bentuk puisi atau têmbang. Ukuran sampul naskah 20,5 cm X 33 cm, sedangkan ukuran teks 13,5 cm X 20 cm. Naskah ini terdiri dari 232 halaman. Cariyos Anèh-Anèh merupakan naskah tulisan tangan (manuscript) dengan huruf Jawa berbahasa Jawa Baru ragam krama serta banyak disisipi kata-kata dari bahasa Indonesia, bahasa Belanda dan bahasa Arab. Naskah ini disalin pada hari Sabtu tanggal 8 Jumadilakir, tahun Ehe 1780 sesuai dengan sengkalan „muluk bujangga wiku wong‟. Disebutkan naskah ditulis pada hari Sabtu tanggal 8, tetapi setelah dilakukan penelusuran tanggal 8

commit to user

diketahui secara pasti kebenarannya. Informasi ini tercantum pada awal penulisan naskah. Berikut kutipannya :

Gb. 4 keterangan kolofon pada naskah CAA yang berbunyi ” Ari sêptu ping astha ilallin, ing Jumadilakir Ehe warsa, muluk bujangga wiku wong, ” (Pupuh I Dhandhanggula, pada 1). Terjemahan: Hari Sabtu terhitung tanggal delapan, pada bulan Jumadilakir tahun Ehe, muluk bujangga wiku wong (merupakan sêngkalan yang menunjukkan angka tahun Jawa 1780).

Dalam kolofon yaitu pupuh I pada satu gatra delapan tertulis „tuwan Winter juru basa, Surakarta.... ‟, yang mengindikasikan bahwa naskah tersebut kemungkinan besar ditulis oleh seseorang bernama Winter.

Gb. 5 keterangan tentang nama penulis , ‟Tuwan Winter juru basa, Surakarta..‟(Pupuh I Dhandanggula , bait 1, gatra 8) Terjemahan: Tuan Winter transliteur (ahli bahasa dan penerjemah resmi) dari Surakarta.

commit to user

Belanda yang bekerja sebagai transliteur (penerjemah resmi) di Surakarta sejak tahun 1818 sampai akhir hayatnya yaitu tahun 1859. Prof. T. Roorda seorang dosen di Akademi Delf, Belanda bekerja sama dengan C.F Winter, menulis karya sastra Belanda ke dalam bahasa Jawa yang kemudian tulisan-tulisan tersebut dimuat di majalah-majalah mingguan di Belanda serta diterbitkan dalam bentuk buku di Indonesia (dalam artikel mingguan Djoko Lodang No.822, 1988). Salah satu karyanya ialah buku yang berjudul Cariyos Anèh-Anèh yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1864. Berikut adalah beberapa alasan mengapa Cariyos Anèh- Anèh ini dijadikan objek kajian dalam penelitian ini :

Pertama , dalam pandangan filologis di dalam Cariyos Anèh-Anèh ini terdapat banyak variant. Oleh karena itu perlu adanya kajian filologis guna mendapatkan suntingan teks yang bersih dari kesalahan. Di dalam teks Cariyos Anèh-Anèh ini ditemui banyak sekali permasalahan-permasalahan filologis, mulai dari ejaannya, gaya menulis pengarang, hal-hal baru yang diadopsi, dll. Berikut beberapa permasalahan-permasalahan filologis tersebut :

a. Kesalahan pemenuhan metrum (guru wilangan dan guru lagu) dalam têmbang . Lakuna

Gb. 6 kekurangan suku kata dalam têmbang Kinanthi (Pupuh XI, pada 8, gatra 4) yang tertulis 7i seharusnya 8i, “.....kang tinya amangsuli, thole sira ing....”, mengalami pembetulan berdasarkan pertimbangan konvensi têmbang menjadi “kang tinanya amangsuli”. Terjemahan: „... yang bertanya menjawab, bocah (anak lelaki) engkau...‟.

commit to user

Gb. 7 kelebihan kata dalam têmbang Mêgatruh (Pupuh XV, pada 11, gatra 5) yang tertulis 9o seharusnya 8o, “......prapti, wus sun pêsthi mulya mêngkono.”, mengalami pembetulan berdasarkan konvensi têmbang menjadi “wus pêsthi mulya mêngkono”. Terjemahan: „.... datang, sudah pasti saya memperoleh kemuliyaan‟.

Kesalahan pemenuhan guru lagu

Gb. 8 kesalahan pemenuhan guru lagu dalam têmbang Kinanthi (Pupuh XLV, pada 27, gatra 4), “ amanggih sakêthi angsan,” yang tertulis 8a seharusnya 8i. Terjemahan: „ menemukan seratus ribu (uang emas) dalam laci lemari‟.

b. Kesalahan dalam penulisan kata, yaitu: Lacuna

Gb. 9 kelebihan suku kata pada pupuh XXV Dhandhanggula, pada 7, gatra 1 , “rumangsuking susum bayu ”, mengalami pembetulan berdasarkan pertimbangan linguistik menjadi “sungsum”. Terje mahan: „merasuk ke dalam sungsum badan...„

Adisi

Gb. 10 kelebihan suku kata pada pupuh VIII Pocung, pada 5, gatra 5, “mumpung dungrung lah dèn age... ”, mengalami pembetulan berdasarkan pertimbangan linguistik menjadi “durung”. Terjemahan: „.... kebetulan belum maka segeralah. „

commit to user

Gb. 11 pada Pupuh III Gambuh, pada 2, baris 4,” nalendra dyah”, mengalami pembetulan berdasarkan pertimbangan linguistik menjadi “narendra”.

c. Corupt adalah bagian naskah yang rusak atau berubah sehingga sulit terbaca.

Gb. 12 pada Pupuh XXVII Pocung, pada 3, gatra 3 „saèstu ju....‟ pada kata tersebut salah satu hurufnya mengalami corrupt disebabkan naskah asli yang berlubang, sehingga mengakibatkan kata tersebut tidak terbaca.

d. Ketidakkonsistenan menggunakan aksara dalam menulis sebuah kata. Misalnya saja ketidakkonsistenan menggunakan aksara rekan dalam menulis kata „khakim‟, kata „kakim‟ dan kata „khakhim‟, yaitu:

Gb. 13 penulisan kata „khakim‟ , “...ulun matur panduka khakim,..” (Pupuh I Dhandhanggula , pada 4, gatra 9) Terjemahan: „Saya berkata pada paduka hakim‟.

Gb. 14 penulisan kata „kakim‟ , “... kakim lon pasrangkara,...” (Pupuh I Dhandhanggula, pada

5, gatra 10) Terjemahan: „Hakim kemudian berkata pelan‟.

Gb. 15 penulisan kata „khakhim‟ , “.. kya khakhim inggih kawula,...” (Pupuh XLV Kinanthi, pada

12, gatra 5) Terjemahan: „Hakim, betul hamba....‟.

commit to user

kata.

Gb. 16 pertukaran letak sandhangan pada Pupuh LIII Asmaradana, pada 13, gatra

1, „sahega mangkat nak mami ‟, mengalami pembetulan pada kata „sahega‟ menjadi „saha ge‟ menurut konteks kalimat. Terjemahan: „ Segeralah berangkat anakku‟.

f. Kekeliruan dalam penggunaan huruf „dha‟ dan „da‟.

Gb. 17 kesalahan dalam penggunaan huruf „da‟ dan „dha‟ pada Pupuh I Dhandhanggula, pada

5, gatra 7,” jara kuncak dhadung”, kata „dadung‟ seharusnya ditulis „dhadhung‟. Pembetulan berdasarkan pertimbangan linguistik.

g. Penulisan aksara „nya‟ (v) dengan menggunakan varian aksara ja cêrêk.

Gb. 18 Ja cêrêk dibaca nya, “...ingkang nyêpêng sarogira,....” (Pupuh XI Kinanthi, pada 4) Terjrmahan: „.. yang memegang kuncinya.‟

h. Terdapat kata-kata serapan dari Bahasa Indonesia, Bahasa Arab dan Bahasa Belanda.

Gb. 19 contoh kata serapan dari Bahasa Indonesia pada pupuh XI Mijil, pada 1, gatra 6,” idhup’.

commit to user

gatra 5,” wakhyu kubra” dan pada pupuh XIV Sinom, pada 7, gatra 9, “ pratingkah batos lun walahualam ”

Gb. 22 contoh kata serapan dari Bahasa Belanda pada pupuh I Dhandhanggula, pada 4, gatra 2 dan pada pupuh XXXV Pangkur, pada 1, gatra 6 ,” landrat’.

i. Terdapat nama-nama asing misalnya nama orang, nama tempat atau negara, antara lain Siwitsêr, Frakik, Prêsman, Lodhuwik, Iskandar, Gramon.

Gb. 23 & 24 nama tempat atau negara pada pupuh XIII Pocung, pada 1, gatra 4,” nêgari Frakrik ” dan pada pupuh XI Kinanthi, pada 1, gatra 3, “ ing Siwitsêr nê...”.

Gb. 25 & 26 nama-nama orang asing pada pupuh XIII Pocung, pada 1, gatra 2,” Prabu Lodhuwik ” dan pada pupuh XIV Kinanthi, pada 1, gatra 9, “ Iskandar”.

Oleh karena banyaknya varian yang dipaparkan di atas, naskah Cariyos Anèh-Anèh perlu dikaji secara filologis. Kedua , dari segi isi naskah Cariyos Anèh-Anèh sangat menarik untuk diungkapkan sisi moralitasnya. Moral dalam cerita biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil dan ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca (Kenny 1966 dalam Burhan, 1995: 322). Pesan moral biasanya bersifat universal dan dapat diterapkan dalam berbagai segi atau aspek kehidupan baik diri sendiri, lingkungan keluarga, masyarakat luas serta dalam sebuah negara.

commit to user

genre anekdot ini sangatlah kompleks. Ke-58 cerita ini dituangkan dalam 62 pupuh , yaitu masing-masing cerita terdiri dari satu atau dua pupuh. Di dalamnya terdapat beragam cerita yang mengungkapkan sisi baik dan buruk dalam kehidupan yang diungkapkan secara ringan dan ada pula yang diungkapkan secara jenaka. Dari ke-58 cerita diatas beberapa diantaranya memuat pesan moral, antara lain ajaran kepemimpinan Raja, kepemimpinan prajurit, kepemimpinan hakim dan juga jaksa.

Ajaran moral kepemimpinan Raja tertuang dalam beberapa pupuh yang tertulis dalam naskah CAA. Salah satunya adalah ajaran kepemimpinan Raja yaitu menjadi seorang pemimpin tidak boleh egois atau mementingkan diri sendiri. Menjadi seorang pemimpin hendaknya memikirkan kepentingan bersama demi mencapai keselamatan dan kesejahteraan. Misalnya saja, pada Pupuh II naskah CAA yaitu kisah tentang seorang Raja bernama Prabu Dhariyus yang melarang prajuritnya agar tidak meruntuhkan jembatan demi keselamatan para prajurit yang masih tertinggal di medan perang.

“rèh iktiyar pambêngana nênggih/ pambujunge mêngsah dalêm narpa/ nata alon timbalane/ iku ingsun tan rêmbug/ kêranane

pangèsthi mami/ yuswaning sun tan nêdya/ murwat kèh jinipun/ nganti ambelakna kapya/ umurira bala ngongkang mêksih kari/ anèng jroning bêbaya// kang pakewuh ewuh angluwihi/ binabujung dèn êluding mêngsah/ mêlayu ngungsi marene/ sumêdya labuh mring sun/ kawruhana cipta ngong mangkin/ tan darbe sêdya ala/ mung arja rahayu/ kapya-kapya wadyaningwang/ anusula ingambah karêtêk sami/ yèn wus kumpul ing pêrnah// ” (CAA, Pupuh II Dhandhanggula, pada 3 & 4)

Terjemahan: Memberi perintah menghalangi musuh dengan cara itu (meruntuhkan jembatan), perburuan musuh sang Raja, maka Raja berkata, itu aku lah yang tidak setuju, sebab menurutku, umurku ini

commit to user

mengorbankan sesama, umur seluruh prajuritku yang masih tertinggal, dalam sebuah bahaya. Sungguh tidak enak hati, sangat berbahaya perburuan musuhku (peperangan), hingga harus melarikan diri (mengungsi) di tempat ini, bersedia berkorban untukku, pahamilah apa yang aku ucapkan, agar tidak menemui keburukan, hanyalah sejahtera dan keselamatan, untuk seluruh prajuritku, semoga dapat menyusul melewati jembatan ini, dan dapat berkumpul kembali.

Dari kutipan diatas, Prabu Dhariyus terlihat begitu bijaksana dalam mengambil keputusan dan memikirkan keselamatan seluruh prajuritnya. Beliau tidak mau mengorbankan umur para prajuritnya dengan cara menolak meruntuhkan jembatan yang dilaluinya sebab beliau berharap prajurit yang lain dapat mengikutinya melewati jembatan tersebut untuk menyelamatkan diri.

Ajaran moral kepemimpinan prajurit juga terdapat pada beberapa pupuh naskah CAA. Salah satunya adalah kisah tentang seorang senapati atau komandan perang yang salah satu kakinya tertembus peluru hingga harus diamputasi. Menjadi seorang prajurit dibutuhkan sikap berani, keikhlasan serta rela berkorban. Teladan seorang prajurit dapat kita lihat dalam dua bait têmbang Kinanthi di bawah ini:

“rêmbage kang para dhukun/ kang tatu tan kêna mari/ sungsum balung katêrajang/ ing mimis angèl jinampin/ iyêg rêmbage wus

dadya/ kinêthok kang ponang rijlin// pêngagêng Prêsman kang tatu/ miyarsa dhukun kang dêling/ ayêm sêmu tan nglagewa/ pudhake asru anangis/ moring jalma kathah miyat/ tuwane kang nandhang kanin// alon dènira amuwus/ èh ya gene kowe nangis/ lah ta apa ora sira/ bêja kowe dina kari/ yèn kinêthok sikilingwang/ mung suci kêstiwêl siji// ” (CAA, Pupuh IX Kinanthi, pada 6-8)

Terjemahan: Kata para tabib, lukanya tidak dapat disembuhkan, tulang sungsum diterajang peluru, dan peluru tidak dapat dikeluarkan, hingga semuanya setuju, untuk mengamputasi salah satu kakinya. Komandan Perancis yang terluka, memperhatikan perkataan tabib, kabar yang tidak membahagiakan, pembantunya menangis tersedu-sedu, bersama orang-orang yang juga, menyaksikan derita tuannya. Pelan ia (tuan)

commit to user

beruntung di kemudian hari, jika kakiku harus dipotong, kamu hanya akan memakaikan satu sepatu saja ke kakiku.

Dari kutipan diatas terlihat bahwa menjadi seorang prajurit harus memiliki sifat ikhlas dan rela berkorban, seperti tokoh komandan dalam Pupuh IX yang merelakan salah satu kakinya diamputasi karena tertembus peluru saat berperang. Selain ajaran moral unruk prajurit, dalam naskah CAA juga terdapat ajaran moral kepemimpinan untuk seorang jaksa.

Ajaran moral kepemimpinan untuk jaksa tersebut tertuang dalam sebuah kisah yang tertulis pada Pupuh XXX têmbang Sinom, yaitu tentang seorang jaksa yang menolak suap. Kutipannya sebagai berikut:

“kari dhawuhkên kewala/ kalah siji mênang siji/ iyêg sakanca manira/ nanging tan rampung saiki/ yèn durung ingsun yêkti/ balèkkên darbèkmu wêdhus/ domba gêbirèn ingkang/ kowe kirimakên mami/ lah ta pira rêgane kang wêdhus domba// ing saiki ingsun bayar/ gugat amangsuli angling/ kula botên sade menda/ tan wrin aosirèng kambing/ inggih tuwan pirsani/ kanca panduka sêdarum/ kang sampun sami tampa/ rumiyin pakintun mami/ kula sampun lêga lila yya sumêlang// lah aja dadi tyasira/ yèn sira nora nampani/ baline wêdhusmu domba/ tan rampung sadina iki/ nuli bayar tinampin/ sapuluh rupiyah rampung/ wong gugat garundêlan/ tobat yèn manèh nglakoni/ amêminta adil marang ing pajêksan// ” (CAA, Pupuh XXX Sinom, pada 6, 7 & 8 )

Terjemahan: Tinggal menentukan saja, yang satu kalah dan satunya lagi menang, ucap majikan, namun tidak dapat selesai sekarang, jika belum aku tahu kebenarannya, ambil kembali kambing milikmu, tentu kambing ini, yang kau kirimkan padaku, berapa harga kambing itu katakanlah. Akan aku bayar sekarang, yang memiliki perkara menjawab, aku tidak menjual kambing ini, tidak tampakkah tujuanku memberikan kambing ini, ketahuilah tuan, teman anda semuanya, yang sudah diterima, yang sebelumnya sudah aku kirimkan, aku sudah ikhlas dan janganlah khawatir. Jangan menjadi sakit hatimu, jika kau tidak menerima, saat aku kembalikan kambingmu itu, maka hari ini juga, akan aku bayar, sepuluh rupiah dan selesai, orang yang menggugat bersumpah serapah, tidak akan mengulang lagi, jika menghadapi hukum di pengadilan.

commit to user

Dari kutipan diatas, terlihat sikap jaksa yang tegas segera menolak suap dalam menangani sebuah perkara. Sikap tersebut merupakan salah satu sikap yang patut menjadi tauladan dalam masa sekarang ini mengingat banyaknya kasus suap jaksa yang terkuak. Beberapa ajaran moral kepemimpinan Raja, prajurit, hakim dan jaksa seperti yang tertulis diatas sangat relevan jika diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan bersama demi memperoleh kesejahteraan.

Ketiga , berdasarkan informasi yang diperoleh dan pengamatan penulis, ternyata penelitian yang dilakukan terhadap naskah Cariyos Anèh-Anèh baru sebatas deskripsi naskah guna kepentingan pembuatan katalog, sedangkan penelitian secara filologis dan telaah isi belum pernah dilakukan. Selain itu, naskah Cariyos Anèh-Anèh ini merupakan naskah tunggal yang dikhawatirkan keselamatannya, baik dari segi fisik maupun isi, mengingat bahan yang digunakan berupa kertas yang tidak dapat bertahan lama sejalan dengan bertambahnya usia naskah.

B. Batasan Masalah

Adanya berbagai bentuk permasalahan dalam Cariyos Anèh-Anèh memungkinan naskah tersebut untuk diteliti dari berbagai sudut pandang. Permasalahan yang berkaitan dengan naskah pun sangat beragam. Antara lain adalah isi naskah yang luas jangkauannya, latar belakang penulisan naskah, keadaan fisik naskah, fungsi sosial naskah, dan lain sebagainya. Oleh karena itu

commit to user

dua kajian utama, yakni kajian filologis dan kajian isi. Kajian filologis menekankan pada penyajian suntingan naskah yang bersih dari kesalahan atau yang mendekati asli, sedangkan kajian isi dalam penelitian ini adalah pengungkapan ajaran-ajaran moral beberapa cerita yang terkandung dalam teks Cariyos Anèh-Anèh .

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian teks Cariyos Anèh-Anèh adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana suntingan teks Cariyos Anèh-Anèh yang bersih dari kesalahan atau yang mendekati asli sesuai dengan cara kerja penelitian filologi?

2. Bagaimana nilai ajaran moral yang terkandung dalam naskah dan teks Cariyos Anèh-Anèh ?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian adalah sebagai berikut :

1. Menyajikan suntingan teks Cariyos Anèh-Anèh yang bersih dari kesalahan atau yang mendekati asli sesuai dengan cara kerja filologi.

2. Mengungkapkan nilai ajaran moral yang terkandung di dalam naskah dan teks Cariyos Anèh-Anèh.

commit to user

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yakni manfaat praktis dan teoretis, sebagai berikut :

1. Manfaat Teoretis

a. Memperkaya penerapan teori filologi terhadap naskah.

b. Memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan lain.

2. Manfaat Praktis

a. Membantu peneliti lain yang relevan untuk mengkaji lebih lanjut naskah Cariyos Anèh-Anèh khususnya dan naskah Jawa pada umumnya dari berbagai disiplin ilmu.

b. Menyelamatkan data dalam Cariyos Anèh-Anèh dari kerusakan dan hilangnya data dalam naskah tersebut, sehingga dapat membantu dalam pelestarian sastra lama terutama karya sastra Jawa, dalam hal ini Cariyos Anèh-Anèh.

c. Mempermudah pemahaman isi teks Cariyos Anèh-Anèh, sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat tentang ajaran yang terkandung di dalamnya.

d. Menambah kajian terhadap naskah Jawa yang masih banyak dan belum terungkap isinya.

F. Sistematika Penulisan

commit to user

Bab ini merupakan uraian tentang latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

II. Landasan Teori Bab ini menguraikan pengertian filologi, objek penelitian filologi dan cara kerja filologi.

III. Metode Penelitian Bab ini menguraikan bentuk dan jenis penelitian, sumber data dan data, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.

IV. Pembahasan Pembahasan diawali dengan pembahasan kajian filologi kemudian dilanjutkan pembahasan kajian isi.

V. Penutup Berisi kesimpulan dan saran, pada bagian akhir dicantumkan daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar istilah dalam naskah Cariyos Anèh- Anèh . Daftar Pustaka Lampiran

commit to user

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Filologi

Filologi secara etimologis, berasal dari bahasa Yunani philologia yang berasal dari dua kata yaitu philos yang berarti “cinta” dan logos yang berarti “kata”. Sehingga filologi dapat diartikan sebagai “cinta kata” atau “senang bertutur”, yang kemudian berkembang menjadi “senang belajar”, “senang ilmu”, dan “senang kesastraan” atau “senang kebudayaan” (Baried, dkk, 1994 :1).

Dokumen yang terkait

HUBUNGAN KONSUMSI SERAT DENGAN KEJADIAN OVERWEIGHT PADA SISWA SMAN 3 CIMAHI TAHUN 2016 Susilowati), Ayu Laili Malik2 , Astrina Tarigan3 , Tya Nita Ariffah4

0 0 11

HUBUNGAN PARENTING STRESS, PENGASUHAN DAN PENYESUAIAN DALAM KELUARGA TERHADAP PERILAKU KEKERASAN ANAK DALAM RUMAH TANGGA Kinanti Ayu Ratnasari, Kuntoro Departemen Biostatistika dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga E-mail :

0 0 11

FAKTOR DOMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA PENYAKIT GINJAL STADIUM AKHIR YANG MENJALANI TERAPI HEMODIALISIS DI BRSU TABANAN-BALI I Gusti Ayu Puja Astuti Dewi

0 0 9

GAMBARAN SWAMEDIKASI ANALGESIK PADA LANSIA DENGAN NYERI SENDI DI PELAYANAN KOMUNITAS Description of self-medication for joint pain with anlagesic on geriatric patients at community Dwi Arymbhi Sanjaya1 , Ida Ayu Manik Damayanti2 , Ni Wayan Sukma Antari3,

0 0 7

Rini Afridayanti¹ Agus Dwi Wijaksono ² Turniningtyas Ayu Rachmawati³

0 0 9

PENGARUH PEOPLE, PROCESS DAN PHYSICAL EVIDENCE TERHADAP TINGKAT KEPUTUSAN MENJADI NASABAH BNI TAPLUS PADA BNI CABANG DAGO BANDUNG Dr. Hj. Nunung Ayu Sofiati (Efi), S.Pd., MM efi.ayu24yahoo.com ABSTRAK - View of PENGARUH PEOPLE, PROCESS DAN PHYSICAL EVIDEN

0 0 16

PENGARUH PROFITABILITAS DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP INTERNET FINANCIAL REPORTING PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA Putu Diah Putri Idawati1 , I Gusti Ayu Ratih Permata Dewi2

1 1 15

PERAN RESPON EMOSI DALAM MEMEDIASI PENGARUH KETIDAKPUASAN KONSUMEN TERHADAP PERPINDAHAN MEREK Kadek Aria Satriawan1 , I Gusti Ayu Ketut Giantari2

1 4 15

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI E-PROCUREMENT MODUL PADA PEMESANAN BARANG NON PRODUKSI DI PT TOYOTA MOTOR MANUFACTURING INDONESIA Angelina Ervina Jeanette Egeten, Yanes Hardianto S, Putri Ayu P, Okky Marita S. Universitas Bina Nusantara angelina

0 0 10

PERBEDAAN SISA MAKANAN PADA LAUK HEWANI BERDASARKAN PEMBERIAN GARNISH ( The Differences of Food Waste in Animal Side Dishes Based on Garnish Giving) Mustakim1 , Hapsari Sulistya Kusuma2 , Yuliana Noor Setiawati Ulvie3

0 0 6