MOTIVASI POLIGAMI AKTIVIS TARBIYAH (Studi Kasus Poligami Keluarga Aktivis Dakwah Tarbiyah di Salatiga dan Klaten) SKRIPSI Disusun Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
MOTIVASI POLIGAMI AKTIVIS TARBIYAH
(Studi Kasus Poligami Keluarga Aktivis Dakwah Tarbiyah di
Salatiga dan Klaten)
SKRIPSI
Disusun Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Hukum
Oleh
Miftah Ilham Irfani
211-12-002
JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
2017
MOTIVASI POLIGAMI AKTIVIS TARBIYAH
(Studi Kasus Poligami Keluarga Aktivis Dakwah Tarbiyah di
Salatiga dan Klaten)
SKRIPSI
Disusun Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Hukum
Oleh
Miftah Ilham Irfani
211-12-002
JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
2017
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
“Agama adalah seberkas cahaya Allah yang menembus jiwa,
menerangi kegelapan dan mencerahkan cakrawalanya. Jika ia
telah tertanam kuat di dalam jiwa maka semua bakal disiapkan
untuk menjadi tebusannya.” (Hasan Al-Banna)
PERSEMBAHAN
Untuk orang tua tercintaku dan orang-orang yang teru
membersami dalam do’a serta kasih sayang.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil„alamiin, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Robbi yang Maha Rahman dan Maha Rahim yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. Dengan petunjuk dan tuntunan- Nya, penulis mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Agung Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing kita dari jaman kebodohan menuju zaman yang terang benderang yang penuh dengan ilmu pengetahuan, sehingga dapat menjadikan kita bekal hidup kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Sebagai insan yang lemah dan penuh dengan keterbatasan, penulis menyadari bahwa tugas penulisan ini bukanlah tugas yang ringan, tetapi merupakan tugas yang berat. Akhirnya dengan berbekal kekuatan, kemauan dan bantuan semua pihak, maka penyusunan skripsi dengan judul:
“MOTIVASI POLIGAMI AKTIVIS
TARBIYAH (Studi Kasus Poligami Keluarga Aktivis Dakwah Tarbiyah
di Salatiga dan Klaten) bisa terselesaikan.Dengan terselesaikannya skripsi ini, penulis haturkan banyak terima kasih yang tiada taranya kepada:
1. Bapak Dr. H. Rahmat Haryadi, M. Pd, selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Ibu Siti Zumrotun M.Ag., selaku Dekan Fakultas Syariah.
3. Bapak Sukron Ma‟mun, S.H.I.,M.Si.,selaku Kajur Hukum Keluarga Islam.
4. Bapak Farkhani, S. H.,S.HI.,M.H. selaku Dosen Pembimbing Skripsi.
5. Bapak Ibu Dosen di lingkungan Fakultas Syariah IAIN Salatiga.
6. Orang tua tercinta dan semua saudara-saudaraku yang terus mendoakan tanpa terhenti sampai saat ini.
7. Bapak/Ibu jamaah Masjid Al-Anshor yang terus membantu dalam proses selama kuliyah.
8. Kawan-kawan PD KAMMI Semarang, Segenap keluarga besar KAMMI Komisariat Salatiga, LDK FA IAIN Salatiga, SSC IAIN Salatiga.
9. Dan kepada semua teman-temanku yang sangat membantuku dalam penyelesaian skripsi ini.
Atas segala hal tersebut, penulis tidak mampu membalas apapun selain hanya memanjatkan doa, semoga Allah SWT mencatat sebagai amal sholeh yang akan mendapat balasan yang berlipat dari Allah SWT. Aamiin yaa robbal
„aalamiin. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini banyak kekurangannya, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan guna kesempurnaan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengharapkan semoga skripsi ini nantinya dapat bermanfaat, khususnya bagi almamater dan semua pihak yang membutuhkannya.
Atas perhatiannya, penulis mengucapkan terima kasih.
Salatiga, 14 Februari 2017 Penulis
ABSTRAK
Irfani, Miftah Ilham. 2016. Motivasi Poligami Aktivis Tarbiyah (Studi Motivasi Poligami Keluarga Aktivis Dakwah Tarbiyah di Salatiga dan Klaten. Skripsi.
Jurusan Hukum Keluarga Islam. Fakultas Syariah. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Pembimbing: Farkhani, S. H.,S.HI.,M.H.
Kata Kunci:Poligami, Aktivis Tarbiyah
Penelitian ini merupakan upaya untuk menggali motivasi Aktivis Tarbiyah dalam hal melakukan praktek pernikahan poligami. Pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana pandangan Aktivis Tarbiyah tentang konsep pernikahan poligami, (2) Bagaimana motivasi Aktivis Tarbiyah melakukan praktek pernikahan poligami ditinjau dari hukum Islam.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan
pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia .
Sedangkan jenis penelitian ini adalah Penelitian Kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya.
Data temuan di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas kader Aktivis Tarbiyah yang rutin mengikuti Halaqah yang dilaksanakan tiap pekan memiliki pemahaman yang seragam terkait konsep pernikahan poligami yaitu pernikahan yang dilakukan oleh suami dengan memperistri dua atau lebih dalam satu waktu dengan alasan poligami adalah ajaran Islam, disampaikan dalam Al-
Qur‟an, dilaksanakan pula oleh Nabi Muhammad SAW dan juga dilakukan para sahabat terdahulu. Pemahaman terkait praktik poligami ini disampaikan dalam materi Halaqah yaitu pada kajian pembentukan keluarga Islami. Dalam hal ini penulis meneliti dua Ustadz dari Aktivis Tarbiyah yang berpoligami. Dua Ustadz tersebut memiliki kualifikasi keilmuan yang bagus. Alasan ustadz pertama berpoligami adalah untuk mempunyai anak, karena dengan usia perkawinan menginjak sepuluh tahun dengan istri pertama tidak menghasilkan keturunan dan ustadz yang kedua ingin mempunyai keturunan yang banyak.
DAFTAR ISI
JUDUL...................................................................................................................... iLEMBAR BERLOGO ............................................................................................ ii
JUDUL...................................................................................................................... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................................... iv
PENGESAHAN KELULUSAN ............................................................................. v
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .............................................................. vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN .......................................................................... vii
KATA PENGANTAR ............................................................................................. viii
ABSTRAK................................................................................................................ x
DAFTAR ISI ............................................................................................................ xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ................................................................. 1 B. Rumusan Masalah .......................................................................... 8 C. Tujuan Penelitian............................................................................ 9 D. Kegunaan Penelitian ....................................................................... 9 E. Penegasan Istilah ............................................................................ 9 F. Kajian Pustaka ................................................................................ 10 G. Metode Penulisan Sekripsi ............................................................. 12 H. Sistematika Penulisan ..................................................................... 14 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Poligami ....................................................................... 16 B. Sejarah Poligami ............................................................................ 17 C. Dasar Hukum Poligami .................................................................. 20 D. Pandangan Ulama tentang Poligami .............................................. 22 BAB III HASIL PENELITIAN A. Sejarah Aktivis Tarbiyah ............................................................. 25 B. Pemikiran dan Doktrin-Doktrin ................................................... 26
C.
Struktur Organisasi ...................................................................... 30 D.
Sejarah dan Perkembangan di Indonesia ..................................... 32 E. Kurikulum Pengembangan Kader ................................................ 35 F. Media Pengembangan Kader ....................................................... 40 G.
Kualifikasi Murobbi ..................................................................... 52 H. Pandangan tentang Pernikahan Poligami ..................................... 54
BAB IV ANALISIS DATA A. Analisi Pandangan Aktivis Tarbiyah tentang Poligami ................. 58 B. Analisis Hukum Islam tetang Motivasi Poligami di Kalangan Aktivis Tarbiyah ............................................................................. 61 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan..................................................................................... 73 B. Saran ............................................................................................... 73
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 75
LAMPIRAN-LAMPIRANBAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial dalam masyarakat tidak bisa hidup dan
memenuhi kebutuhannya sendiri, baik itu kebutuhan secara jasmaniah maupun rohaniah. Kebutuhan jasmani diasumsikan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, baik secara biologis maupun non biologis seperti makan, minum, olahraga dan beruhubungan intim.
Dalam pemenuhan kebutuhan tersebutlah terjadi interdependensi satu dengan yang lainnya. Aristoteles (384-322 SM) menyebutnya sebagai zoon politicon atau
de men is een social wezen , artinya manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya
selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya. Ibnu Khaldun, seseorang sosiolog muslim menyebut manusia sebagai
mujtama‟ bi thabi‟iy. (Farkhani, 2014:9)
Salah satu kebutuhan jasmani yang paling urgent adalah kebutuhan biologis yaitu hubungan intim atau sex. Hubungan intim atau sex merupakan fitrah yang dikaruniakan oleh Allah kepada setiap insan. Badiatul Muchlisin (2016:1) menganggap kebutuhan akan sex merupakan suatu hal yang normal dan lazim yang bersifat alamiah dan inheren dengan perkembangan fisiologis dan psikologis manusia. Namun walaupun bersifat lazim tetapi harus dijalankan dengan benar dengan jalan yang halal. Islam membingkai penyaluran seks yang halal melalui sebuah syariat yaitu pernikahan.
Pernikahan menjadi salah satu media untuk penyaluran fitrah seks. Seks menjadi sah (halal) untuk dilakukan atau diekspresikan. Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhori dari „Uqbah bin „Amir Nabi Muhammad SAW bersabda
َِجُسُفْناِِِّتِْىُرْهَهْحَرْسااَيِِِّتِىِفُْٕيِ ٌَْأِِطُْٔسُّشناُِّقَحَأٌَِّ ِِإ “Sesungguhnya syarat-syarat yang paling utama dipenuhi adalah syarat untuk menjadikan kamu halal dengan kemaluan- kemaluan perempuan”. (HR.
Bukhori No. 1418 Kitab Annikah) Pernikahan sendiri secara etimologi mempunyai arti persetubuhan. Adapula yang mengartikan sebagai sebuah perjanjian (al-
„aqdu). Sedangkan secara
terminologi menurut Imam Syafi‟i adalah akad yang menjamin diperbolehkannya persetubuhan (Kamal Muchtar, 1974:11).
Dalam pemenuhan keinginan seks seseorang membutuhkan medium yang kadang tidak cukup satu, namun ada yang lebih. Berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Faktor yang melatarbelakangi pun bervariasi, misalnya kekuatan dan tenaga seseorang (hypersex). Islam memberikan solusi yaitu dengan adanya praktik poligami atau beristri lebih dari satu. Bagi perempuan yang bersuami lebih dari satu dinamakan poliandri.
Sebelum Islam datang atau diwahyukan, praktik poligami sudah dilakukan oleh bangsa Yahudi, bahkan tidak mengenal batasan nominal artinya bangsa Yahudi boleh memperistri wanita berapapun jumlahnya (Ali Hasan, 2006:269). Selain bangsa Yahudi praktik poligami juga dilakukan oleh bangsa Ibrani, Cicilia dan Arab.
Dalam kitab suci agama Yahudi dan Nasrani, poligami merupakan jalan hidup yang diterima. Semua Nabi yang disebutkan dalam Talmud, perjanjian lama, dan al-Qur ‟an, beristri lebih dari seorang, kecuali Yesus/Nabi Isa as. Bahkan di Arab sebelum Islam telah dipraktikkan poligami tanpa batas. Bangsa Arab Jahiliyyah biasa kawin dengan sejumlah perempuan dan menganggap mereka sebagai harta kekayaan, bahkan dalam sebagian besar kejadian, poligami itu seolah-olah bukan seperti perkawinan. Karena perempuan-perempuan itu dapat dibawa, dimiliki dan dijual belikan sekehendak hati orang laki-laki (Abdurahman, 1990:207)
Ali Hasan (2006:271) berpendapat bahwa praktik poligami ini berkembang pada masyarakat yang mempunyai tatanan ekonomi yang sudah matang atau sering kita menyebutnya sebagai masyarakat maju. Hal ini diakui oleh sosiolog dan budayawan seperti Westermark, Hobbes dan Jean Bourge. Dari pendapat tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa pelaku (subjek) yang melakukan poligami adalah orang yang sudah mapan dalam hal ekonomi, mempunyai kedudukan dan kekuasaan. Ingin menambah istri adalah salah satu motivasinya.
Setelah Islam datangpun praktik poligami tetap diperbolehkan hanya saja ada pembatasan bilangan atau jumlah istri. Hal ini menandakan bahwa praktek poligami bukanlah suatu ajaran baru namun merupakan suatu budaya yang sudah ada sebelum Islam.
Praktek poligami dalam negeri yang menjadi perbincangan hangat di masyarakat adalah yang dilakukan ole h da‟i kondang KH. Abdullah Gymnastiar
(Aa Gym) dan Syekh Pujiono atau Syekh Puji yang berpoligami dengan menikahi gadis di bawah umur bernama Ulfa. Kedua fenomena tersebut mendapatkan respon dan tanggapan yang bervariasi dari masyarakat.
Melihat demografi wilayah secara luas, permasalahan poligami bukan hanya ada di Indonesia saja, melainkan juga di negara lain. Misalnya di Irak, poligami diwajibkaan oleh pemerintah serta pemberian sanksi bagi yang tidak melaksanakannya. Hal ini karena populasi di Irak mengalami penurunan yang signifikan karena perang.
Pernikahan poligami melibatkan dua subjek pelaku yaitu yang berpoligami dan dipoligami. Subjek yang berpoligami adalah suami dan satu subjek lainnya adalah yang dipoligami, yaitu istri.
Seiring berjalannya waktu motivasi praktik poligami mengalami perkembangan, misalnya Eko Suryono (2012:87) pelaku poligami dalam catatannya mengungkapkan bahwa poligami merupakan fitrah atau dorongan biologis akan cepat terlaksana jika dipengarui oleh beberapa faktor antara lain:
1. Kemampuan materiil seorang laki-laki 2.
Kondisi fisik yang menarik seorang laki-laki
3. Kemampuan sex seorang laki-laki 4.
Kemampuan agamanya seorang laki-laki dan perempuan baik.
Selain faktor di atas praktik poligami juga disebabkan keberadaan janda. Sebagaimana praktik poligami yang dilakukan oleh nabi Muhammad yang juga melakukan poligami. Nabi memiliki delapan istri dan dari ketujuh istri beliau adalah seorang janda pada masa itu. Motivasi Nabi Muhammad ketika itu ingin membantu para janda dalam memenuhi kebutuhannya. (Isham Muhammad, 2005:80)
Ketentuan legalitas menurut hukum Islam pembolehan poligami diatur dalam QS.An Nisa ayat 3
ِِءٓاَسُِّنٱِ ٍَِّيِىُكَنِ َباَطِاَيِْإُحِكَٱَفِ َٰىًَََٰرَيۡنٱِيِفِْإُطِسۡقُذِ َّلََّأِ ۡىُرۡفِخِ ٌِۡإَٔ ِ ۡۚۡىُكُُ ًََٰۡيَأِ ۡدَكَهَيِاَيِ َۡٔأًِجَدِح َََٰٕفِْإُنِد ۡعَذِ َّلََّأِ ۡىُر ِۡفِخِ ٌِۡئَفِ ََۖعََٰتُزََِٔثََٰهُثَِٔ َٰىَُۡثَي ِ ِْإُنُٕعَذِ َّلََّأَِٰٓىََ ۡدَأَِكِن ََٰذ
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-
wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu
takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-
budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak
berbuat aniaya”Para imam mazhab menggunakan dasar ( ميهدها) yang berbeda dalam memandang masalah poligami. Para ulama konvensional tersebut mengakui bahwa poligami boleh hukumnya, bukan dianjurkan (sunnah), apalagi wajib
(amar/perintah) seperti yang diasumsikan sebagian orang (Khoirudin Nasution, 2009:265).
Hukum Islam memberikan peluang untuk melakukan poligami dengan memberi batasan jumlah istri dan perilaku adil. Jumlah yang diperbolehkan adalah 4 istri dan perilaku adil baik materiil dan non materiil. Baltaji dalam bukunya “Poligami” berpendapat poligami disyariatkan bagi orang yang bisa berlaku adil terhadap dua atau lebih dari istri-istrinya. (Muhammad Baltaji. 2007:49).
Berbeda halnya syarat yang diberikan dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia. Syarat poligami tersebut diatur dalam pasal 4 UU No. 1 Tahun1974 jo
pasal 41 PP No. 9 Tahun 1975 jo pasal 57 Kompilasi Hukum Islam yaitu: 1. Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri 2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan 3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan Khoirudin Nasution menjelaskan bahwa perundang-undangan perkawinan di Indonesia tentang poligami berusaha mengatur agar laki-laki yang melakukan poligami adalah laki-laki yang benar-benar: (1) mampu secara ekonomi menghidupi dan mencukupi seluruh kebutuhan (sandang, pangan dan papan) keluarga (isteri-isteri dan anak-anak), serta (2) mampu berlaku adil terhadap isteri-isterinya. Sehingga istri-istri dan anak-anak dari suami poligami tidak disia- siakan. Perundang-undangan Indonesia terlihat berusaha menghargai isteri sebagai pasangan hidup suami. Suami yang akan berpoligami, harus lebih dahulu mendapat persetujuan istri. Untuk mencapai tujuan ini, semua perundang- undangan Indonesia memberikan kepercayaan yang sangat besar kepada hakim di Pengadilan Agama. Disisi lain hal ini tentunya membuka peluang bagi masyarakat untuk berpoligami.
Praktik poligami, dalam beberapa kasus di lakukan oleh masyarakat umum, kyai dan juga ulama, misalnya Aa‟ Gym dan Syaikh Puji. Selain itu praktik poligami juga dilakukan oleh beberapa aktivis, dimana aktivis ini sering kali mengisi sebuah kajian atau halaqoh kecil. Walaupun tidak semua tetapi ada beberapa ustadz (murobbi) yang melakukan praktek poligami dengan motivasi atau dorongan yang berbeda-beda.
Pada penelitian ini, penulis membawa masalah praktek poligami pada perspektif kalangan Aktivis Tarbiyah, dimana ada beberapa kasus tentang ustadz- ustadz yang melakukan poligami di komunitas ini. Ustadz yang melakukan poligami tentunya bukan orang yang awam tentang hukum Islam, apalagi hukum yang berkaitan tentang poligami. Dalam melakukan praktek poligamipun tentu dengan motivasi atau dorongan yang berbeda dengan satu muara pada hakikat diperbolehkannya poligami, sehingga penulis memberi judul pada penelitian ini
(Studi
“
MOTIVASI POLIGAMI AKTIVIS TARBIYAH”
Kasus Poligami Keluarga Aktivis Dakwah Tarbiyah di Salatiga dan
klaten) dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat umum tentang motivasi di balik praktik poligami yang dilakukan oleh Aktivis Tarbiyah.
B. Rumusan masalah
Untuk lebih menfokuskan pembahasan dan analisis pada kasus tersebut, maka penulis menyimpulkan permasalahan yang menjadi pertanyaan yaitu:
1. Bagaimana pemahaman tentang poligami dalam kalangan Aktivis Tarbiyah? 2.
Apa motivasi berpoligami di kalangan Aktivis Tarbiyah? C.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai setelah penulisan analisis ini adalah: 1. Untuk mengetahui pemahaman poligami dikalangan Aktivis Tarbiyah.
2. Untuk mengetahui motivasi berpoligami di kalangan Aktivis Tarbiyah D.
Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini oleh penulis adalah:
1. Memperkaya khasanah keilmuan dalam bidang hukum, khususnya yang berkaitan tentang poligami.
2. Laporan tugas akhir ini diharapkan menjadi acuan dan dorongan akademik untuk menjadikan tolak ukur atas keberhasilan selama ini dalam mendidik dan membekali ilmu bagi penulis sebelum masuk ke dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
3. Kegunaan praktis, sebagai sumbangan pemikiran bagi para pihak terkait dibidang ilmu hukum dan hukum perkawinan Islam khususnya pada bagian poligami dan syaratnya.
4. Memberikan pemahaman kepada masyarakat umum tentang alasan poligami yang dilakukan oleh Aktivis Tarbiyah.
E. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman atau penafsiran bagi para pembaca tulisan ini, maka penulis berkepentingan untuk menjelaskan arti dan maksud judul penelitian dan analisis ini, agar istilah-istilah yang tercantum dalam judul mempunyai arti yang tegas dan tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda antara penulis dan pembaca. Istilah yang perlu penulis jelaskan adalah sebagai berikut:
1. Poligami Asal mula kata ini adalah berasal dari bahasa Belanda yaitu Bigamie yang artinya kawin rangkap. Dalam KHI dijelaskan dalam pasal 55 yaitu Beristeri lebih satu orang pada waktu bersamaan, terbatas hanya sampai empat isteri.
2. Aktivis Tarbiyah
Aktivis Tarbiyah adalah subjek atau orang yang aktif mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh j amaa‟ah atau komunitas Tarbiyah yang dilaksanakan setiap sepekan sekali.
F. Kajian Pustaka
Banyak karya ilmiah atau penulisan yang membahas tentang kasus-kasus poligami, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk terus dikaji dan ditelusuri lebih dalam lagi. Banyaknya kasus yang berhubungan dengan poligami mendorong penulis mencoba mengungkap fenomena tersebut dari perspektif yang lain, sehingga diharapkan penelitian ini berbeda dengan penelitian yang sudah ada. Beberapa penelitian yang sudah ada dan ada relevansinya dengan penelitian diatas, diantaranya: 1.
Permohonan Ijin Poligami (Studi Penetapan Pengadilan Agama Salatiga No.
0525/pdt.G/2010.PA.SAL). Skripsi. Syariah Jurusan Al-Ahwal Al Syakhsiyah STAIN Salatiga, 2013. Penyusun M. Targhibul Hasan dengan kesimpulan bahwa perijinan poligami yang diajukan dengan alasan sesuai yang ada dalam undang-undang No 1 Tahun 1974 memang sudah seharusnya dijinkan, dalam studi putusan tersebut majelis hakim memberikan ijin poligami kepada pemohon.
2. Poligami Dalam Perspektif Keluarga Salafi (Studi Kasus Satu Keluarga Bapak AR di Desa Sumberejo Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang). Sekripsi.
Fakultas Syariah Jurusan Ahwal Al Syakhshiyyah IAIN Salatiga. 2016. Penyusun Sunarnoto dengan kesimpulan a.
Latar belakang bapak AR melakukan poligami adalah untuk merasakan yang namanya keadilan, menolong ibu MN, meningkatkan iman ibu MS, ibu MN dan bapak AR sendiri. Mempelajari dan mentaati ajaran syariat agama Islam .
b.
Konsep penataan keluarga bapak AR adalah melakukan pemerataan keadilan dalam hal pemberian nafkah dan waktu bermalam yaitu dengan pemisahan tempat tinggal.
3. Poligami di Kalangan Kyai (Studi Tentang Alasan Kyai Berpoligami di
Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal). Skripsi. Jurusan Hukum Perdata Islam Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang. 2009. Penyusun Siti Mahmudah dengan kesimpulan bahwa Kyai yang melakukan poligami dengan beberapa alasan: a.
Ingin mempunyai keturunan laki-laki walaupun dari mereka sudah punya anak perempuan.
b.
Istri mendapat cacat tubuh atau sakit yang tidak bisa dsembuhkan.
c.
Istri tidak dapat melahirkan keturunan.
d.
Takut terjerumus dalam perzinaan.
Dari beberapa penelitian di atas, penelitian pertama di fokuskan pada sebuah putusan. Dimana ijin poligami dilakukan karena ingin mempunyai keturunan. Penelitian kedua difokuskan pada satu keluarga yang terlibat dalam suatu kelompok atau jamaah Salafi dan pada penelitian ketiga difokuskan alasan secara global alasan Kyai berpoligami di Kendal. Maka dari itu penelitian yang memfokuskan pada perspektif kalangan Aktivis Tarbiyah belum ada, sehingga penulis tertarik meniliti lebih dalam apa yang menjadi motivasi berpoligami dikalangan Aktivis Tarbiyah.
G. Metode Penulisan Sekripsi
Metode dalam menyusun karya ilmiah seperti skripsi mempunyai peranan yang sangat penting. Peranan metode terkait tata cara (prosedur) memahami dan mengolah inti dari obyek penelitian. Pada penelitian ini, penyusun menggunakan metode-metode sebagai berikut:
1. Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah field research, yaitu mengambil informasi dari sumbernya (informan) secara langsung di lapangan yang diteliti . Obyek utama pada penelitian ini adalah Jamaah Aktivis Tarbiyah di beberapa tempat di wilayah Jawa Tengah .
2. Sifat Penelitian Metode yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah metode
deskriptif analisis . Metode deskripif dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan atau gejala-gejala lainnya.
Jadi deskriptif analisis adalah menganalisa data-data yang menggunakan metode deskripstif.
3. Data dan Sumber Data
Adapun jenis data yang penulis pergunakan dalam penulisan sekripsi ini meliputi: a.
Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung berupa keterangan- keterngan dan fakta langsung yang diperoleh dari lapangan melalui wawancara dengan para informan dan pihak-pihak yang dipandang mengetahui objek yang diteliti. Informan (objek) yang akan diwawancarai adalah beberapa jamaah Aktivis Tarbiyah yaitu terdiri dari Ustadz (Murobbi) dan jamaah yang melakukan praktik poligami.
b.
Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Hal ini dengan cara menelusuri data berupa catatan, transkip, buku-buku dan sebagainya.
4. Pendekatan Masalah Pendekatan yang digunakan dalam memecahkan masalah ini adalah pendekatan sosiologis, dimana penyusun menyoroti masalah poligami dengan terjun langsung dalam menyoroti motivasi berpoligami di kalangan Aktivis Tarbiyah serta mengaitkan permasalahan dengan teori yang sudah ada.
5. Analisis Data Analisis dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif, yaitu untuk mengungkap fenomena sosial agar ditemukan solusi atas masalah terkait.
Penalaran (pola pikir) yang digunakan yaitu secara induktif, yaitu setelah data- data terkumpul dari informan, data-data terkait masalah poligami akan dianalisis dengan teori yang tercantum dalam kerangka teoritik.
6. Lokasi dan kehadiran peneliti Lokasi penelitian ini adalah di wilayah Jawa Tengah, penulis bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Kehadiran penulis diperlukan sebagai partisipan penuh, membaur dengan subjek dan informan.
H. Sistematika penulisan sekripsi
Materi yang dibahas dalam penyusunan skripsi ini disusun dalam beberapa bab yang saling berkaitan agar dapat memudahkan pembaca dalam memahami skripsi ini, yakni:
Bab pertama pendahuluan yang terdiri dari beberapa sub bab. Latar belakang masalah, pokok masalah dan tujuan dan kegunaan berfungsi untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti dan signifikansinya. Telaah pustaka berfungsi untuk menginformasikan bahwa permasalahan yang akan diteliti belum pernah diteliti oleh orang lain.
Dilanjutkan dengan bab kedua yang membahas gambaran umum poligami yang meliputi pengertian, sejarah, dasar hukum Islam dan undang-undang mengenai poligami, serta pandangan beberapa ulama.
Bab ketiga, penyusun memaparkan gambaran umum tentang Aktivis Tarbiyah. Dimulai dari sejarah hingga kualifikasi untuk menjadi seorang murobbi dan membahas pandangan beberapa Aktivis Tarbiyah terkait tentang poligami.
Bab keempat merupakan analisis terhadap data di lapangan. Pada bab ini penyusun menggunakan tinjauan (perspektif) hukum Islam dalam menganalisis motivasi Aktivis Tarbiyah tentang poligami.
Bab kelima atau bab terkahir, seperti pada umumnya skripsi bab ini merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dari seluruh isi skripsi. Selain itu pada bab lima ini, diberikan juga sub bab tentang saran-saran yang bersifat membangun.
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Poligami Kata poligami berasal dari bahassa Yunani Polus artinya banyak, gamos
artinya perkawinan. Sistem perkawinan bahwa seorang laki-laki mempunyai lebih dari seorang istri dalam suatu saat (Hasan Shadily, 1994:2736). Dalam kamus Teologi disebutkan, kata poligami berasal dari bahasa Yunani yang berarti banyak perkawinan, mempunyai lebih dari satu istri pada waktu yang sama (Gerald D.
Collins, SJ. Edward G. Farrugia, 1991:259).
Poligami dalam kamus besar bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka mempunyai makna “sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan” (KBBI, 2005: 885). WJS. Poerwadarminta (1976:763) mengartikan sebagai adat seorang laki-laki beristri lebih dari seorang. Sedangkan dalam Kamus Ilmiah Populer, poligami adalah perkawinan antara seorang dengan dua orang atau lebih, namun cenderung diartikan perkawinan satu orang suami dengan dua istri atau lebih (Pius A.
Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, 1994:606) Menurut istilah, Siti Musdah Mulia (2004:43) merumuskan poligami merupakan ikatan perkawinan dalam hal mana suami mengawini lebih dari satu istri dalam waktu yang sama. Laki-laki yang melakukan bentuk perkawinan seperti itu dikatan bersifat poligami.
Dalam Fiqih Munakahat Abdurrahman Ghazaly (2003:129) yang dimaksud poligami adalah seorang laki-laki beristri lebih dari seorang, tetapi dibatasi paling banyak adalah empat orang. Karena melebihi dari empat berarti mengingkari kebaikan yang disyariatkan Allah bagi kemaslahatan hidup suami istri.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa poligami adalah perkawinan yang dilakukan seorang laki-laki (suami) yang mempunyai lebih dari seorang istri atau banyak istri dalam waktu yang sama dan dalam Islam dibatasi hanya empat istri.
B. Sejarah Poligami
Sebelum datangnya Islam, masyarakat (Arab khususnya) sebenarnya telah mengenal dan mempraktikkan poligami. Banyak dari mereka bahkan mempunyai istri lebih dari satu. Ada yang memiliki lima orang istri bahkan ada yang sampai dela pan istri („Iffah Qanita, 2016:17). Bangsa-bangsa terdahulu seperti Yahudi memperbolehkan penganutnya berpoligami, bahkan tanpa batasan tertentu (Ali
Hasan, 2006:269). Selain bangsa Yahudi praktik poligami juga dilakukan oleh bangsa Ibrani dan juga Cicilia.
Syed Ameer dalam bukunya The Spirit Of Islam (Api Islam) menyatakan bahwa sistem poligami sudah meluas dan berlaku pada beberapa bangsa sebelum Islam. Pada tingkatan tertentu dalam perkembangan sosial, poligami merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakkan. Peperangan yang sering terjadi antara kabilah mengakibatkan banyak korban, mengurangi jumlah laki-laki dan dalam sisi yang lain menambah jumlah wanita, serta adanya kekuasaan mutlak kepala- kepala suku menjadi awal mula kebiasaan poligami. Bangsa yang menjalankan poligami diantaranya adalah bangsa Barat purbakala, orang Hindu dan Israil (Supardi Mursalin, 2007:17). Selain itu juga bangsa Media dahulu kala, Babilonia, Assiria dan Parsi.
Sejarah mencatat para Nabi pun melakukan praktik poligami. Nabi Sulaiman a.s misalnya, memoligami seratus wanita dan sejumlah nabi lainnya yang berasal dari bangsa Bani Israil (As-Sayyid bin
„abd al-„Aziz as-Sa‟dany, 2009:158). Islam datang pada keadaan dimana sistem poligami telah menjadi sebuah kebiasaan atau tradisi dikalangan masyarakat Arab dan juga bangsa-bangsa terdahulu.
Nabi Muhammad ketika diutus oleh Allah kepada bangsa Arab tidak lantas melarang paktik poligami karena perintah Allah membolehkan poligami dengan memberi batasan jumlah istri (Supardi Mursalin, 2007:20).
Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa seorang sahabat bernama Ghailan bin Salamah ats-Tsaqafi, seorang jahili yang masuk Islam, ketika itu memiliki sepuluh istri. Lalu, Nabi Muhammad saw menyuruhnya untuk memilih empat istrinya dan melepaskan enam istrinya yang lain (Sunan Ibnu Majah No. Hadis 1953).
Dalam riwayat yang lain sahabat „Urwah bin Mas‟ud yang berkata: “Ketika aku masuk Islam, aku memiliki sepuluh orang istri, empat orang berasal dari bangsa Quraisy dan satu dari putri Abu Sufy an.” Lalu, Rasulullah saw. memerintahkanku untuk memilih empat diantara mereka dan membebaskan yang lainnya. Lalu, aku pun memilih empat dari semua istriku dan membebaskan yang lainnya, sebagaimana perintah Rasulullah saw (Sunan al-Kubra al Baihaqi, No.Hadist 13163).
Nabi Muhammad saw. telah menyatakan kebolehan berpoligami, sekaligus menjadi pelaku poligami dan selalu memotivasi umatnya untuk mengikuti jejaknya, itulah sebabnya para sahabat beliau dikenal dalam sejarah sebagai pelaku poligami, juga orang-orang yang hidup dengan para sahabat (As-Sayyid bin
„abd al- „Aziz as-Sa‟dany, 2009:163).
Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad saw adalah pelaku poligami, namun bukan berarti poligami Rosulullah atas dorongan nafsu syahwat tetapi berpoligaminya yaitu dalam rangka membina dan mempererat hubungan dengan kabilah-kabilah Arab (Ratna Batara Murti, 2005:160). Perlu kita ketahui bahwa Nabi Muhammad saw berpoligami pada usia sekitar lima puluh lima tahun yaitu ketika menikahi Saudah binti Zam‟ah, seorang wanita Quraisy dari Bani „Amir yang merupakan janda dari Sakran bin Amr („Iffah Qanita, 2016:68), dan seterusnya bahwa Nabi Muhammad berpoligami dengan menikahi para janda kecuali „Aisyah.
Hingga dewasa ini, praktik pernikahan poligami masih terus berlangsung di belahan bumi manapun. Sistem poligami ini masih berlaku dikalangan masyarakat Fiji, Australia, Tasmaniya, Tibet, Thailand dan juga di Indonesia (Achmad Sunarto, 2015:26).
C. Dasar Hukum Poligami menurut Islam dan Hukum di Indonesia Hukum adalah aturan normatif yang mengatur pola perilaku manusia.
Hukum tidak tumbuh di ruang fakum, melainkan tumbuh dari adanya aturan bersama (Sulistyowati Irianto, 2006:133). Begitu pula praktik pernikahan poligami ini mempunyai landasan yuridis.
Dalam hukum Islam poligami diatur dalam Al- Qur‟an surat An-nisa ayat 3:
ِِءٓاَسُِّنٱِ ٍَِّيِىُكَنِ َباَطِاَيِْإُحِكَٱَفِ َٰىًَََٰرَيۡنٱِيِفِْإُطِسۡقُذِ َّلََّأِ ۡىُرۡفِخِ ٌِۡإَٔ ِ ۡۚۡىُكُُ ًََٰۡيَأِ ۡدَكَهَيِاَيِ َۡٔأًِجَدِح َََٰٕفِْإُنِد ۡعَذِ َّلََّأِ ۡىُرۡفِخِ ٌِۡئَفِ ََۖعََٰتُزَِٔ َثََٰهُثَِٔ َٰىَُۡثَي ِْإُنُٕعَذِ َّلََّأَِٰٓىََ ۡدَأَِكِن ََٰذ
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Selain dasar dalam Al- Qur‟an, poligami dalam hukum Islam dipertegas oleh adanya hadits dari Rosulullah yang memperbolehkan poligami dengan ketentuan adil.
ُِمِئاَيُُِّقِشَِِٔحَياَيِقْناَِوَْٕيَِءاَجاًَُْاَدْحِِإَِلِاًََفٌَِِآذآَسْيِاَُِّنِ ْدَََِآكِ ٍَْي Barang siapa yang memiliki dua istri dan lebih memihak kepada salah satunya, maka dihari Kiamat nanti, ia akan datang dalam keadaan setengah badannya miring. (HR. Abu Daud No. Hadits 242) Dalam hukum positif yang ada di Indonesia, poligami diatur dalam pasal 3, 4 dan 5 Undang-undang No 1 Tahun 1974 dengan memberikan syarat bahwa poligami dapat dilaksanakan dalam beberapa keadaan, misalnya: 1.
Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri 2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan Sedangkan, dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) diatur pada pasal 56 yang menyebutkan:
1. Suami yang hendak beristri lebih dari seorang harus mendapat izin dari pengadilan agama (PA).
2. Pengajuan permohonan izin yang dimaksud pada ayat 1 dilakukan menurut tatacara sebagaimana diatur dalam Bab VIII Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975.
3. Perkawinan yang dilakukan dengan istri kedua, ketiga, atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama (PA), tidak mempunyai kekuatan hukum.
Pasal 57 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyatakan: pengadilan agama hanya memberikan izin kepada suami yang akan beristri lebih dari seorang apabila: 1.
Istri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri.
2. Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.
D. Pandangan Ulama tentang Poligami
Dalam menafsirkan QS. An-Nisa ayat 4 di kalangan mufasir serta ulama mengalami beberapa perbedaan, ada yang memperbolehkan dan ada juga yang mengharamkan praktik pernikahan poligami. Beberapa ulama dan pandangannya tentang kebolehan berpoligami, misalnya:
1. Muhammad Hasbi ash-Shiddiqi
Mencukupkan diri beristri satu dengan perempuan merdeka atau mencukupkan diri dengan budak-budak yang dimiliki lebih dekat dengan perilaku tidak curang. Beristri banyak sesungguhnya tidak diperbolehkan,kecuali dalam keadaan darurat, dan sangat kecil kemudaratannya.
Lebih lanjut Ash-Shiddiqi dalam Tafsir An-Nur menjelaskan bahwa poligami harus disertai dengan dapat berlaku adil. Adil yang dimaksudkan adalah kecondongan hati dan poligami bisa dilakukan ketika seorang laki-laki mempunyai kepercayaan diri akan keadilan dan terpelihara dari kecurangan.
(Ash-Shiddiqi, 2000:780-781) 2. Sayyid Sabiq
Menurut Sayyid Sabiq, Allah ta‟ala memperbolehkan berpoligami dengan empat orang dan mewajibkan berlaku adil kepada mereka dalam urusan makan, tempat tinggal, pakaian dan kediaman, atau segala yang bersifat kebendaan tanpa membedakan antara istri yang kaya dengan yang fakir, yang berasal dari keturunan tinggi dengan yang bawah. Jika suami khawatir akan berbuat dzalim dan tidak dapat memenuhi hak-hak mereka semua, maka diharamkan berpoligami (Sabiq, 1981. Juz 6: 141).
Sedangkan pendapat yang melarang praktik pernikahan poligami disampaikan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho, pelarangan tersebut disebabkan kekhawatiran apabila suami tidak bisa berbuat adil terhadap istrinya. Menurut Rasyid Ridho sendiri pernikahan yang paling ideal di dalam Islam sendiri adalah sistem pernikahan monogami, yakni menikah dengan satu istri saja (Khoiruddin Nasution, 1996: 104).
Pembolehan akan adanya praktik poligami tidak hanya dikemukakan dari ulama Islam saja melainkan juga dari filsuf-filsuf barat. Misalnya, seorang filosof sekaligus penulis terkenal, Goustaf Lauboun mengemukakan dalam bukunya “Hadarat al-„Arab”:
“Sesungguhnya, konsepsi poligami justru melindungi masyarakat dari kebejatan dan bahaya pelacuran serta memelihara bangsa dari munculnya genenrasi- generasi yang lahir tanpa ayah”. “Poligami yang diajarkan oleh Islam adalah aturan yang paling baik dan ideal untuk mengembangkan dan memajukan umatnya. Dengan konsepini, keutuhan keluarga menjadi kuat, terpelihara dan terlindungi”. Imbuhnya (As-
Sayyid bin „Abd al-Aziz as-Sa‟dany, 2006: 150).
BAB III HASIL PENELITIAN A. Sejarah Aktivis Tarbiyah Salah satu gerakan keagamaan transnasional yang berkembang baik
pemikiran maupun ideologi adalah Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul Muslimin resmi berdiri di Kota Isma‟iliyah, ditepi terusan Suez Mesir pada awal bulan Dzulqaidah 1347H/Maret 1928 dengan pendirinya Hasan Al-Banna. Tujuan gerakan ini yaitu melakukan dakwah yang benar dan menegakkan bendera tanah air Islam setinggi- tingginya di setiap belahan bumi, agar bendera Al-
Qur‟an berkibar megah di seluruh penjuru dunia. (Hasan Al-Banna,1998:49).
Kelahiran IM tidak dapat dilepaskan dari peran tokoh kuncinya yakni Hasan Al- Banna. Nama lengkapnya adalah Hasan Ahmad Abdurrahman Al-Banna Al- Sa‟ati, lahir pada tanggal 14 Oktober 1906 M. bertepatan dengan tanggal 25 Sya‟ban 1324 H. di kota
Mahmudiyah Provinsi Buhairah, Mesir. Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang taat beragama, yang menerapkan Islam secara nyata dalam seluruh aspek kehidupannya.