STRUKTUR FONOLOGI DAN MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

  ada unit IV dalam bahan ajar cetak mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia SD ini dibahas mengenai Struktur Fonologi dan Morfologi Bahasa

  

Indonesia . Unit ini terdiri atas 2 subunit yaitu: (1) Struktur Fonologi Bahasa

Indonesia, dan (2) Struktur Morfologi Bahasa Indonesia.

  Saudara, mungkin ada yang bertanya, untuk apa mempelajari struktur fonologi dan morfologi bahasa Indonesia. Pemahaman struktur fonologi dan morfologi bahasa Indonesia bagi guru, selain dapat menjadi bekal dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari juga dapat bermanfaat dalam pembinaan kemampuan berbahasa siswa.

  Dalam kaitannya dengan materi Kajian Bahasa Indonesia SD yang lain, pemahaman mengenai struktur fonologis dan morfologis akan bermanfaat untuk mempelajari materi sintaksis, semantik dan apresiasi bahasa dan sastra.

  Untuk itu, maka setelah mempelajari uni ini, Anda diharapkan mampu: 1. menjelaskan pengertian fonologi; 2. membedakan ilmu-ilmu bahasa yang tercakup dalam fonologi; 3. mengidentifikasi fonem-fonem bahasa Indonesia; 4. menjelaskan pengertian morfologi bahasa Indonesia; 5. mengidentifikasi morfem bahasa Indonesia.

  6. mengidentifikasi jenis kata ulang bahasa Indonesia 7. menjelaskan makna kata ulang. Untuk mencapai kemampuan yang diharapkan di atas, maka pelajarilah dengan baik materi yang disajikan pada setiap subunit. Setiap subunit disertai dengan latihan/tugas. Kerjakanlah latihan/tugas itu dengan cermat, sehingga

  P Unit

  4

STRUKTUR FONOLOGI DAN MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Muh. Faisal

  Anda dapat mengukur sejauh mana pemahaman Anda terhadap materi yang baru Anda pelajari.

  Selanjutnya, ada rangkuman yang dapat membantu Anda memahami garis besar dari uraian yang telah Anda pelajari. Pada akhir unit, juga disediakan tes formatif. Silakan kerjakan. Periksa jawaban Anda dan cocokkan dengan kunci jawaban.

  Selamat belajar, semoga sukses.

  Unit 4

Subunit 1 Struktur Fonologi Bahasa Indonesia

  alau kita perhatikan dengan baik, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak masyarakat kita yang memakai bahasa Indonesia tetapi

K

  tuturan/ucapan daerahnya terbawa ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Tidak sedikit seseorang yang berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan lafal atau intonasi Jawa, Batak, Bugis, Sunda dan lain sebagainya. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar bangsa Indonesia memposisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Sedangkan bahasa pertamanya adalah bahasa daerah masing-masing. Bahasa Indonesia hanya digunakan dalam komunikasi tertentu, seperti dalam kegiatan-kegiatan resmi.

  Selain itu, dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya di Sekolah Dasar, istilah yang dikenal dan lazim digunakan guru adalah istilah “huruf” walaupun yang dimaksud adalah “fonem”. Mengingat keduanya merupakan istilah yang berbeda, untuk efektifnya pembelajaran, tentu perlu diadakan penyesuaian dalam segi penerapannya.

  Oleh karena itu, untuk mencapai suatu ukuran lafal/fonem baku dalam bahasa Indonesia, sudah seharusnya lafal-lafal atau intonasi khas daerah itu dikurangi jika mungkin diusahakan dihilangkan; begitu pula pemakaian istilah “huruf dan fonem” perlu dibedakan, lebih-lebih bagi Anda karena akan memberikan pengaruh kepada siswa. Ingat, Anda adalah model dalam berbahasa bagi siswa.

Pengertian Fonologi

  Sebelum diuraikan mengenai fonologi, terlebih dahulu apa yang dimasud dengan struktur. Yang dimaksud dengan struktur di sini adalah penyusunan atau penggabungan unsur-unsur bahasa menjadi suatu bahasa yang berpola. Apakah yang dimaksud dengan fonologi? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian, fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa. Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian yakni (a) fonetik dan (b) fonemik.

  Fonetik yaitu ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia. Sedangkan menurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), fonetik diartikan: bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan.

  Selanjutnya, fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Terkait dengan pengertian tersebut, fonemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) diartikan: (1) bidang linguistik tentang sistem fonem; (2) sistem fonem suatu bahasa; (3) prosedur untuk menentukan fonem suatu bahasa.

  Selain pengertian fonetik dan fonemik, Anda perlu pula memahami apa yang dikasud dengan fonem. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi kekeliruan dalam penggunaan istilah “fonem” dan “huruf”. Supriyadi (1992) berpendapat bahwa yang dimaksud fonem adalah satuan kebahasaan yang terkecil. Pendapat tersebut dibuktikan dengan dengan cara menganalisis struktur fonologis kata dasar baca dengan menggunakan diagram pohon seperti berikut. buku bu ku b a c a atau kata dasar suku suku fonem fonem fonem fonem

  Unit 4

  Selain pendapat di atas, Santoso (2004) menyatakan bahwa setiap bunyi ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran yang membedakan arti ini disebut fonem. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti. Tidak berbeda dengan pendapat tadi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) tertulis bahwa yang dimaksud fonem: satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna, misalnya /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bara dan para beda maknanya. Terjadinya perbedaan makna hanya karena pemakaian fonem /b/ dan /p/ pada kata tersebut. Contoh lain: mari, lari, dari, tari, sari jika satu unsur diganti dengan unsur lain, maka akan membawa akibat yang besar yakni perubahan arti. Hal ini dapat pula terjadi jika diucapkan dengan salah, maka akan mengakibatkan perubahan arti juga.

  Lalu, apa yang dimaksud dengan huruf? Dalam bidang linguistik, huruf sering diistilahkan dengan grafem. Untuk membantu Anda dalam memahami struktur fonem, dan perbedaan antara fonem dan huruf (grafem) perhatikan contoh yang tertera dalam tabel berikut.

  Susunan Jumlah Fonem Susunan Huruf Jumlah Huruf Kata yang Fonem Terbentuk

  /adik/ 4 Adik 4 Adik /i

  ηat/ 4 Ingat 5 Ingat /N

  ani/ 4 Nyanyi 6 Nyanyi /pantay/ 5 Pantai 6 Pantai

  (Santoso, 2004) Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa antara fonem dan huruf (grafen) berbeda. Sudah dikemukakan bahwa fonem adalah satuan bunyi bahasa yang terkecil yang dapat membedakan arti. Sedangkan huruf (grafem) adalah gambaran dari bunyi (fonem), dengan kata lain, huruf adalah lambang fonem. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) bahwa huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan anggota abjaad yang melambangkan bunyi bahasa. Unit 4

  Untuk lebih memantapkan pemahaman Anda mengenai perbedaan fonem dengan huruf, perhatikan kata-kata yang tercetak miring pada kalimat berikut (Supriyadi, dkk, 1992).

  (1) Andi sedang belajar menyanyi. (2) Anak itu menganga di depan dokter gigi. (3) Dia sangat bersyukur atas prestasi yang diraihnya. (4) Orang itu sedang berkhotbah. Kata-kata yang dicetak miring pada kalimat di atas berkata dasar nyanyi,

  

nganga, syukur, dan khotbah . Struktur fonologis keempat kata dasar itu sebagai

berikut.

  (1) nyanyi nya nyi ny a ny i

  (2) nganga nga nga ng a ng a

  (1) syukur syu kur sy u k u r

  (2) khotbah khot bah kh o t b a h

  Dari tabel di atas jelas bahwa a, i, u, k, r, o, t, b, h tidak dapat diuraikan lagi atas unsur-unsurnya yang lebih kecil. Karena itu, masing-masing adalah

  

fonem . Bagaimana halnya dengan ny, ng, sy, dan kho? Dapatkah masing-masing

  diuraikan lagi atas unsur-unsurnya? Anda pasti tahu jawabannya, bukan? Kalau perlu, cobalah ucapkan atau dengarkan bunyi bahasanya. Bukankah ternyata ny,

  

ng, sy , dan kho masing-masing terjadi dalam satu peristiwa ucapan? Karena itu,

ny, ng, sy , dan kho tidak dapat diuraikan lagi atas peristiwa ucapan yang lebih

  kecil.

Sistem Fonologi dan Alat Ucap

  Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri atas: (a) fonem vokal 6 buah, (b) fonem diftong 3 buah, dan fonem konsonan 23 buah.

  Sebelum lanjut membaca uraian selanjutnya, kerjakan dahulu tugas berikut:

Latihan

  Tuliskanlah semua fonem resmi bahasa Indonesia! Rambu-rambu pengerjaan latihan.

  Tugas di atas akan mudah Anda kerjakan jika menghafal urutan abjad

bahasa Indonesia. Tuliskan semua abjad tersebut, kemudian kelompokkan

(dapat menggunakan tabel berikut.

  Vokal ...................................................................................................

  ... Diftong ...................................................................................................

  ... Konsonan ...................................................................................................

  ... Selanjutnya, pelajari baik-baik uraian mengenai fonetik berikut ini.

  Unit 4

  Sebagaimana yang sudah dikemukakan pada bagian awal subunit ini bahwa bentuk-bentuk fonem suatu bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dibahas dalam bidang fonetik. Terkait dengan hal itu, Samsuri (1994) menyatakan bahwa secara fonetis bahasa dapat dipelajari secara teoritis dengan tiga cara atau jalan, yaitu:

  (a) bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia, (b) bagaiamana arus bunyi yang telah keluar dari rongga mulut dan/atau rongga hidung si pembicara merupakan gelombang-gelombang bunyi udara, dan

  (c) bagaimana bunyi itu diinderakan melalui alat pendengaran dan syaraf si pendengar. Cara pertama disebut fisiologis atau artikuler, yang kedua disebut akustis, dan yang ketiga impresif atau auditoris (menurut pendengaran).

  Dalam bahasan struktur fonologis cara pertamalah yang paling mudah, praktis, dapat diberikan bukti-bukti datanya. Mengapa? Hampir semua gerakan alat-alat ucap itu dapat kita periksa, paru-paru, sekat rongga dada, tenggorokan, lidah, dan bibir.

  Alat ucap dibagi menjadi dua macam: (1)

  Artikulator; adalah alat-alat yang dapat digerakkan/digeser ketika bunyi diucapkan. (2) Titik Artikulasi; adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang dapat disentuh atau didekati.

  Untuk mengetahui alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bahasa, perhatikan bagan berikut.

  1. paru-paru

  2. batang tenggorokan 3. pangkal tenggorok 4. pita-pita suara 5. rongga kerongkongan

  6. akar lidah 7. pangkal lidah 8. tengah lidah 9. daun lidah

  10. ujung lidah 11. anak tekak 12. langit-langit lunak, langit-langit tekak

  13. langit-langit keras

  14. lengkung gigi, gusi 15. gigi atas 16. gigi bawah 17. bibir atas

  18. bibir bawah 19. mulut 20. rongga mulut 21. hidung

  22. rongga hidung (Verhaar, dalam Supriyadi, dkk, 1992).

  Fonem-fonem dihasilkan karena gerakan organ-organ bicara terhadap aliran udara dari paru-paru sewaktu sewaktu seseorang mengucapkannya. Jika bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan, maka bunyi atau fonem yang dihasilkan adalah vokal. Fonem vokal yang dihasilkan tergantung dari beberapa hal berikut.

  (a) Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi). (b) Tinggi rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi.

  (c) Maju-mundurnya lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan lengkung kaki gigi).

  Berdasarkan gerakan lidah ke depan dan ke belakang, vokal dibedakan atas: (a) vokal depan: /i/ dan /e/, (b) vokal tengah /a/ dan /

  ə/, (c) vokal belakang: /o/ dan /u/.

  Berdasarkan tinggi rendahnya gerakan lidah, vokal dibedakan atas: (a) vokal tinggi: /i/ dan /u/, (b) vokal madya: /e/, /

  ə/, dan /o/; (c) vokal rendah: /a/.

  Menurut bundar tidaknya bentuk bibir, vokal dibedakan atas: (a) vokal bundar: /a/, /o/, dan /u/; (b) vokal tak bundar: /e/, / ə/, dan /i/.

  Menurut renggang tidaknya ruang antara lidah dengan langit-langit, vokal dibedakan atas: (a) vokal sempit: /

  ə/, /i/, dan /u/; (b) vokal lapang: /a/, /e/, /o/. Jadi /a/ misalnya, adalah vokal tengah, rendah, bundar, dan lapang. Selanjutnya, jika bunyi ujaran ketika udara ke luar dari paru-paru mendapat halangan, maka terjadilah bunyi konsonan. Halangan yang dijumpai bermacam-macam, ada halangan yang bersifat seluruhnya, dan ada pula yang sebagian yaitu dengan menggeser atau mengadukkan arus suara sehingga menghasilkan konsonan bermacam-macam pula. Karena itu, dikenal klasifikasi konsonan seperti berikut.

  (a) Konsonan bibir (bilabial): /p/, /b/, /m/. (b) Konsonan bibir gigi (labiodental): /f/, /v/, /w/. (c) Konsonan gigi (dental): /t/, /d/, /s/, /z/, /l/, /r/, /n/. (d) Konsonan langit-langit (palatal): /c/, /j/, / Unit 4

  ŝ/, /y/, /ň/

  (e) Konsonan langit-langit lembut (velar): /g/, /k/, /x/, /

  ŋ/ (f) Konsonan pangkal tenggorok (laringal): /h/.

  Selain di atas, berikut ini klsifikasi lain dari konsonan adalah: (a)

  Konsonan letupan atau eksplosif, apabila aliran udara tertutup rapat, konsonan yang dihasilkan adalah: /p/, /t/, /c/, /k/, /b/, /d/, /j/, /g/. (b) Konsonan geseran atau spiran, bila udara masih bisa keluar dalam aliran yang demikian sempit, konsonan yang muncul adalah: /f/, /s/,

  / ŝ/, /z/, /x/. (c) Konsonan sengau atau nasal, jika udara keluar sebagian melalui hidung: /m/, /n/, /

  ň /, /ŋ/ (d)

  Konsonan lateral, kalau udara yang keluar melalui bagian kiri dan kanan lidah serta mengenai alur gigi: /l/. (e) Konsonan getar, bila terjadi letupan berturut-turut: /r/. Ada juga yang dinamakan konsonan bersuara dan konsonan tak

  

bersuara . Konsonan bersuara terjadi karena bergetarnya selaput suara: /b/, /m/,

  /w/, /d/, /n/, /z/, /j/, / ň/, /g/, /x/, /y/, /ŋ/. Sedangkan konsonan tak bersuara adalah konsonan yang terjadi tampa bergetarnya selaput suara: /p/, /t/, /s/, /c/, /k/, /h/,

  /r/, /l/ (Samsuri, 1994, Supriyadi, dkk. 1992, Santoso, 2004 dan Depdikbud, 1988).

  Berdasarkan klasifikasi di atas, /b/ misalnya, termasuk konsonan bibir, letupan, dan bersuara. Coba Anda sebutkan sifat konsonan lainnya berdasarkan klsifikasi di atas.

  Sekarang, coba perhatikan kata-kata berikut:

  pulau pantai amboi kicau belai sepoi lampau cerai sekoi

  Bagaimana pengucapan akhir kata-kata di atas? Fonem tersebut ditulis dengan dua buah huruf (grafem). Walaupun demikian, masing-masing dinyatakan sebagai sebuah fonem. Inilah yang disebut diftong. Diftong dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan sebagai vokal yang berubah kualitasnya. Dalam sistem tulisan, diftong dilambangkan oleh dua huruf vokal. Kedua huruf vokal itu tidak dapat dipisahkan. Bunyi /aw/ pada kata pulau adalah diftong, sehingga <au> pada suku kata –lau tidak dapat dipisahkan menjadi la-u seperti pada kata mau. Bagaimana? Anda sudah memahami uaraian di atas? Kalau sudah, untuk lebih memantapkan pemahaman Anda terhadap materi ini cobalah kerjakan latihan berikut.

Latihan Jelaskan setiap vokal bahasa Indonesia menurut atau sifat fonetisnya. Rambu-rambu pengerjaan latihan

  Latihan tersebut dapat Anda lakukan dengan langkah-langkah berikut.

  1. Buat kolom berdasarkan klasifikasi vokal menurut gerak lidah ke depan dan ke belakang.

  2. Buatlah baris tabel berdasarkan klasifikasi vokal menurut gerak lidah ke atas dan ke bawah.

  3. Bagilah setiap kolom berdasarkan klasifikasi vokal menurut bentuk bibir.

  4. Bagilah setiap baris berdasrkan klasifikasi vokal menurut segi kerenggangan lidah dengan langit-langit.

  5. Bentuk tabel yang akan diperoleh seperti berikut.

  Sifat Vokal Depan Tengah Belakang B TB B TB B TB Tinggi S L Madya S L Rendah S

L /a/*

  6. Masukkan setiap vokal bahasa Indonesia ke dalam baris dan kolom yang sesuai dengan sifat vokal. Contoh: /a/(*).

  Unit 4

Rangkuman

  Struktur adalah penyusunan atau penggabungan unsur-unsur bahasa menjadi suatu bahasa yang berpola. Fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa.

  Fonologi dalam tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian yakni (a) fonetik dan (b) fonemik. Fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Selanjutnya, fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Sedangkan yang dimaksud dengan fonem satuan kebahasaan yang terkecil yang dapat membedakan arti.

  Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri atas: (a) fonem vokal 6 buah, (b) fonem diftong 3 buah, dan fonem konsonan 23 buah.

  Secara fonetis, bahasa dapat dipelajari secara teoritis dengan tiga cara atau jalan, yaitu: (a) bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia

  (fisiologis atau artikuler), (b) bagaiamana arus bunyi yang telah keluar dari rongga mulut dan/atau rongga hidung si pembicara merupakan gelombang- gelombang bunyi udara (akustis), dan

  (c) bagaimana bunyi itu diinderakan melalui alat pendengaran dan syaraf si pendengar (impresif atau auditoris). Alat ucap dibagi menjadi dua macam:

  (1) artikulator; adalah alat-alat yang dapat digerakkan/digeser ketika bunyi diucapkan dan

  (2) titik artikulasi; adalah titik atau daerah pada bagian alat ucap yang dapat disentuh atau didekati.

  Fonem-fonem dihasilkan karena gerakan organ-organ bicara terhadap aliran udara dari paru-paru sewaktu sewaktu seseorang mengucapkannya. Jika bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan, maka bunyi atau fonem yang dihasilkan adalah vokal. Selanjutnya, jika bunyi ujaran ketika udara ke luar dari paru-paru mendapat halangan, maka terjadilah bunyi konsonan .

  Fonem vokal yang dihasilkan tergantung dari beberapa hal yaitu: (a) posisi bibir, (b) tinggi rendahnya lidah, dan

  (c) maju-mundurnya lidah.

  Atas dasar itu dikenal istilah: vokal depan, vokal belakang, vokal tinggi,

vokal rendah, vokal bundar, vokal tak bundar, vokal sempit dan vokal lapang.

Vokal yang yang memiliki perubahan kualitas diklasifikasikan sebagai diftong; misalnya au, ai, dan oi pada kata harimau, pantai, dan amboi.

  Klasifikasi konsonan adalah: (a) konsonan bibir (bilabial), (b) konsonan bibir gigi (labiodental), (c) konsonan gigi (dental), (d) konsonan langit-langit (palatal), (e) konsonan langit-langit lembut (velar), (f) konsonan pangkal tenggorok (laringal).

  Selain itu, klsifikasi lain dari konsonan adalah: (a) konsonan letupan atau eksplosif, (b) konsonan geseran atau spiran, (c) konsonan sengau atau nasal, (d) konsonan lateral, dan (e) konsonan getar.

  Ada juga yang dinamakan konsonan bersuara dan konsonan tak

bersuara . Konsonan bersuara terjadi karena bergetarnya selaput suara.

Sedangkan konsonan tak bersuara adalah konsonan yang terjadi tampa bergetarnya selaput suara.

  Unit 4

Tes Formatif 1

  Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan!

  1. Satuan fonologis yang terkecil adalah ...

  A. suku.

  B. kata.

  C. fonem.

  D. huruf.

  2. Ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur dan bagaimana bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia disebut ...

  A. fonem.

  B. fonetik.

  C. fonemik.

  D. fonologi.

  3. Perbedaan bentuk-bentuk setiap fonem dapat dimati dengan cara bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan oleh alat ucap manusia. Cara tersebut dipelajari dalam fonetik ...

  A. akustis B. auditoris C. artikuler

  D. impresif 4. Kata pantai pada kalimat “Mereka rekreasi di pantai Losari” terdiri atas ... fonem.

  A.

  5 B.

  6 C.

  7 D.

  8 5. Yang termasuk artikulator adalah...

  A. gigi atas

  B. bibir atas

  C. langit-langit lunak D. lidah 6. Bagian dari alat ucap manusia yang menjadi tujuan sentuh disebut ...

  A. titik artikulator

  B. artikulator

  C. titik artikulasi’ D. batang tenggorok

  7. Fonem vokal yang termasuk vokal atas dan depan adalah ...

  A. /e/

  B. /u/

  C. /o/ D.

  /i/ 8. Bila udara masih bisa keluar dalam aliran yang demikian sempit, konsonan yang muncul adalah...

  A. konsonan letupan B.

  konsonan geseran atau spiran C. konsonan sengau atau

  D. konsonan lateral 9. Konsonan yang terjadi karena bergetarnya selaput suara disebut...

  A. konsonan tak bersura B. konsonan lateral

  C. konsonan spiran

  D. konsonan bersuara

  10. Fonem pertama pada kata dasar tari, duduk, sukses, dan zakat, termasuk fonem ...

  A. dental

  B. labiodental

  C. palatal D. velar

  Unit 4

  Apakah semua soal sudah Anda kerjakan. Kalau Anda telah mempelajari materi dengan baik, pasti tidak akan sukit menjawab soal-soal tes formatif sub unit 1. Nah, sekarang cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif subunit 1 ini yang terdapat pada bagian akhir Unit IV ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat pemahaman Anda terhadap materi subunit 1. Rumus:

  Jumlah jawaban Anda yang benar Tingkat penguasaan = x 100%

  10 Arti tingkat penguasaan yang Anda capai: 90 – 100% = baik sekali 80 – 89% = baik 70 – 79% = cukup < 70% = kurang

  Apakah tingkat penguasaan Anda mencapai 80% ke atas, selamat! Anda sukses! Anda dapat meneruskan mempelajari unit berikutnya. Bila tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, jangan putus asa. Ulangilah mempelajari subunit 1, terutama bagian yang belum Anda kuasai.

Subunit 2 Struktur Morfologi Bahasa Indonesia

  audara, pada subunit ini Anda akan mempelajari tataran bahasa yang setingkat lebih kompleks daripada fonem yakni morfologi. Morfologi

  S merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata.

  Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan bahwa dalam bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat “dipotong-potong” menjadi bagian yang lebih kecil yang kemudian dapat diceraikan menjadi bagian yang lebih kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika dipotong lagi, tidak mempunyai makna. Kata memperhalus, misalnya, dapat dipotong sebagai berikut.

  mem-perhalus per-halus

  Jika halus diceraikan lagi, maka ha- dan –lus secara terpisah tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per- dan halus disebut morfem. Selain itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil.

  Sudah jelas? Kalau belum, perhatikan paparan Supriyadi (1992) berikut ini yang dapat lebih memudahkan Anda memahami morfem. Perhatikan kata- kata bergaris pada kalimat di bawah ini. (1) Bajunya putih. (2) Baju ini sudah memutih. (3) Putihkan baju itu. (4) Ia memutihkan baju itu.

  Kata putih, adalah unsur gramatis (telah mengandung makna tersendiri) yang sama yang terdapat pada setiap kalimat di atas. Unsur itu merupakan unsur gramatis yang terkecil. Artinya, unsur ini tidak dapat dibagi lagi menjadi unsur- unsurnya yang bermakna. Unsur pu dan tih tidak bermakna. Karena itu, putih merupakan unsur gramatis yang terkecil, sedangkan pu dan tih bukan unsur gramatis terkecil. Berdasarkan perangkat satuannya, putih merupakan satuan morfologis, sedangkan pu dan tih adalah satuan fonologis. Selain terdapat pada kata-kata di atas, unsur atau satuan putih tentu sering dijumpai pula kata-kata Unit 4 lainnya, misalnya: pemutih, diputihkan, memperputih, diperputih, keputihan,

  

terputih, seputih, dan sebagainya. Unsur atau satuan morfologis seperti itu

diklasifikasikan sebagai morfem.

  Bagaimana dengan me- atau –kan pada kata-kata di atas, apakah termasuk morfem juga? Satuan ini belum mengandung makna tersendiri, karena itu, tidak dapat langsung membentuk kalimat. Satuan seperti ini menurut Santoso (2004) disebut satuan non-gramatis. Untuk membentuk kalimat, maka satuan nongramatis seperti me- dan –kan harus digabung dengan satuan gramatis lain. Kedua macam satuan itu yakni gramatis dan non-gramatis disebut morfem. Mengapa yang non-gramatis termasuk juga morfem? Karena, me- dan –kan mempunyai makna juga yang biasa disebut dengan istilah makna struktural. Morfem seperti ini berfungsi sebagai pembentuk kata dasar dan hanya akan berfungsi atau bermakna bila dimbuhkan kepada kata dasar. Karena itu, morfem semacam ini disebut: “tambahan”, “imbuhan”, atau “afiks”.

  Morfem dalam bahasa Indonesia berdasarkan bentuknya ada dua macam yaitu: (1) morfem bebas, dan (2) morfem terikat.

Morfem Bebas dan Morfem Terikat

  Menurut Santoso (2004), morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kalimat. Dengan demikian, morfem bebas merupakan morfem yang diucapkan tersendiri; seperti: gelas, meja, pergi dan sebagainya.

  Morfem bebas sudah termasuk kata. Tetapi ingat, konsep kata tidak hanya morfem bebas, kata juga meliputi semua bentuk gabungan antara morfem terikat dengan morfem bebas, morfem dasar dengan morfem dasar. Jadi dapat dikatakan bahwa morfem bebas itu kata dasar.

  Morfem terikat merupakan morfem yang belum mengandung arti, maka morfem ini belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata, morfem ini harus digabung dengan morfem bebas. Menurut Samsuri (1994), morfem terikat tidak pernah di dalam bahasa yang wajar diucapkan tersendiri. Morfem-morfem ini, selain contoh yang telah diuraikan pada bagian awal, umpanya: ter-, per-, -i, -an. Di samping itu ada juga bentuk-bentuk seperti

  

juang, -gurau, -tawa, yang tidak pernah juga diucapkan tersendiri, melainkan

  selalu dengan salah satu imbuhan atau lebih. Tetapi sebagai morfem terikat, yang berbeda dengan imbuhan, bisa mengadakan bentukan atau konstruksi dengan morfem terikat yang lain.

  Morfem terikat dalam bahasa Indonesia menurut Santoso (2004) ada dua macam, yakni morfem terikat morfologis dan morfem terikat sintaksis. Morfem

  

terikat morfologis yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem dasar, adalah

  sebagai berikut: (a) prefiks (awalan): per-, me-, ter-, di-, ber- dan lain-lain (b) infiks (sisipan): -el-, -em, -er- (c) sufiks (akhiran): -an, kan, -i (d) konfiks (imbuhan gabungan senyawa) mempunyai fungsi macam- macam sebagai berikut. (a) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata kerja, yaitu: me-, ber-, per-, -kan, -i, dan ber-an.

  (b) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata benda, yaitu: pe-, ke-, -an, ke-an, per-an, -man, -wan, -wati.

  (c) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata sifat: ter-, -i, -wi, -iah. (d) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata bilangan: ke-, se-. (e) Imbuhan yang berfungsi membentuk kata tugas: se-, dan se-nya. Dari contoh di atas menunjukkan bahwa setiap kata berimbuhan akan tergolong dalam satu jenis kata tertentu, tetapi hanya imbuhan yang merupakan unsur langsung yang dapat diidentifikasi fungsinya sebagai pembentuk jenis kata. Untuk lebih jelasnya unsur langsung pembentuk kata dapat dilihat pada diagram berikut.

  Pakaian benda Ber Berpakaian kerja Berkemauan kerja Kemauan benda

  Ber- ke-an mau keterangan (Santoso, 2004)

  Dari diagram di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan imbuhan yang berbeda, morfem dasar yang sama, akan berbeda maknanya. Tetapi bagaimana jika imbuhannya sama, morfem dasarnya berbeda, apa yang dapat terjadi? Unit 4

  Contoh, akhiran –an pada morfem dasar tepi, darat, lapang; membentuk kata

  

tepian, daratan, lapangan; ternyata menunjukkan persamaan makna imbuhan,

  yaitu tempat. Berarti dengan imbuhan yang sama, morfem dasarnya berbeda, dapat menghasilkan persamaan makna imbuhan yaitu menghasilkan jenis benda.

  Morfem terikat sintaksis adalah morfem dasar yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kata. Perhatikan contoh berikut.

  Anak yang pintar dan sabar itu membaca buku.

  Dari deretan morfem yang menjadi unsur kata dalam kalimat di atas, jika diklasifikasikan berdasarkan morfemnya adalah: anak, pintar, sabar, baca, , adalah morfem bebas. Mem- adalah morfem terikat morfologis.

  buku

  Sedangkan morfem yang, dan morfem dan dalam kalimat di atas belum dapat berdiri sendiri sebagai kata karena tidak mengandung makna tersendiri. Gejala inilah yang tergolong morfem terikat sintaksis (Santoso, 2004).

Latihan

  Kerjakanlah latihan berikut! Lukiskan struktur morfologis kata-kata pada kalimat berikut.

  “Dia memperlakukan teman sepermainannya seperti saudaranya.” Rambu-rambu pengerjaan latihan.

  Latihan tersebut dapat Anda lakukan dengan langkah-langkah berikut.

  2. Bila salah satu di antaranya merupakan satuan yang dapat diuraikan atas unsur-unsur morfologisnya, lakukanlah sehingga ditemukan unsur morfologis terkecilnya.

  3. Lukiskan struktur kata-kata yang ditemukan pada langkah 2 dengan jalan: a. menuliskan kata yang diuraikan b. menuliskan unsur-unsur morfologis terkecil kata itu dengan jarak yang diperhitungkan menurut banyaknya uraian yang Anda lakukan pada butir 1 dan 2 c. menghubungkan unsur-unsur dari bawah ke atas hingga akhirnya bertemu pada kata yang diuraikan dengan menggunakan diagram

  Proses Perulangan Bahasa Indonesia

  Proses perulangan atau reduplikasi adalah pengulangan bentuk, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan disebut kata ulang, sedangkan bentuk yang diulang merupakan bentuk dasar (Ramlan, 1980). Pengulangan merupakan pula suatu proses morfologis yang banyak terdapat pada bahasa Indonesia. Perhatikan pemakaian kata yang tercetak miring berikut.

  (1) Dia membeli rumah di Makassar. (2) Rumah-rumah di perkampungan itu akan digusur. (3) Anak itu membuat rumah-rumahan untuk adiknya. (4) Perumahan-perumahan yang dibangun oleh pengembang banyak yang tidak layak huni.

  Berpatokan pada pendapat Ramlan di atas, maka jelas bahwa kata ulang yang terdapat pada kalimat (2), (3), dan (4) semuanya dibentuk dari bentuk atau unsur dasar rumah. Makna kata pada kalimat (1) dengan kalimat berikutnya berbeda. Pada kalimat (1) kata rumah berarti satu. Kata rumah-rumah dan

  

perumahan-perumahan pada kalimat (2) dan (4) berarti banyak atau jamak.

  Sedangkan kata rumah-rumahan pada kalimat (3) berarti menyerupai. Perbedaan makna ini disebabkan oleh adanya rumah dan perumahan sebagai morfem pertama dan rumah, rumahan, dan perumahan pada morfem kedua.

  Morfem rumah adalah morfem yang bermakna leksis, sedangkan morfem kedua merupakan morfem yang bermakna struktural.

  Berdasarkan fungsinya, morfem rumah dan perumahan merupakan unsur dasar atau morfem dasar kata rumah-rumah, rumah-rumahan, dan perumahan-

  

perumahan . Morfem kedua merupakan unsur pembentuk kata atau morfem

pembentuk rumah-rumah, rumah-rumahan, dan perumahan-perumahan.

  Contoh yang disajikan di atas memang mudah untuk menetukan bentuk dasarnya, tetapi perlu diingat bahwa tidak semua kata ulang dapat dengan mudah ditentukan bentuk dasarnya. Beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam menentukan bentuk dasar kata ulang sebagai berikut. (1) Pengulangan pada umumnya tidak mengubah jenis kata. Unsur dasar kata ulang sejenis dengan kata ulangnya. Dengan prinsip ini, dapat diketahui bahwa bentuk dasar kata ulang yang termasuk jenis kata benda berupa kata benda, bentuk dasar kata ulang yang termasuk jenis kata kerja berupa kata kerja, demikian pula bentuk dasar kata ulang kata sifat juga berupa kata sifat.

  Unit 4

  Contoh: − anak-anak (kata benda) − perumahan-perumahan

  megang

  (1) tanam-tanaman lempar-melempar karang-mengarang tembak-menembak tulis-menulis

  Kata-kata ulang yang dicontohkan di atas tidak sulit menentukan bentuk dasarnya, tetapi coba perhatikan contoh-contoh berikut.

  

megang

  − bentuk dasarnya memegang bukan

  berdesak

  − bentuk dasarnya berdesakan bukan

  mengata bukan ngatakan

  − bentuk dasarnya rumah bukan rumahan − bentuk dasarnya mengatakan atau

  − memegang-

  (kata benda) − melempar-lempar

  desakan

  − berdesak-

  ngatakan

  Contoh: − rumah-rumahan mengata-

  (2) Bentuk dasar dapat berdiri sendiri sebagai kata yang terdapat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar.

  (kata benda) − bentuk dasarnya melempar (kata kerja) − bentuk dasarnya menari (kata kerja) − bentuk dasarnya cepat (kata sifat) − bentuk dasarnya sifat (kata sifat)

  − bentuk dasarnya anak (kata benda) − bentuk dasarnya perumahan

  (kata kerja) − menari-nari (kata kerja) − cepat-cepat (kata sifat) − kecil-kesil (kata sifat)

  (2) membagi-bagikan berkejar-kejaran bersalam-salaman dipanas-panasi Unit 4

  Pada contoh (1), bentuk dasar kata ulang tanam-tanaman bukan tanam tetapi tanaman, perulangan diucapkan di muka bentuk dasarnya. Dengan kata lain, bentuk dasarnya berada pada unsur kedua. Begitu pula dengan contoh kata ulang yang berikutnya

  Kata Ulang Bentuk Dasar lempar-melempar karang-mengarang tembak-menembak tulis menulis melempar mengarang menembak menulis

  Sedangkan kata ulang pada contoh (2) bentuk dasarnya bukan pada unsur kedua tetapi pada unsur pertama ditambah akhiran (sufiks) yang terdapat pada unsur kedua, yaitu seperti berikut.

  Kata Ulang Bentuk Dasar membagi-bagikan berkejar-kejaran bersalam-salaman dipanas-panasi membagikan berkejaran bersalaman dipanasi

  Macam-macam Kata Ulang

  Berdasarkan macamnya, menurut Keraf (1978) bentuk perulangan dalam bahasa Indonesia terdiri atas empat bentuk seperti berikut. (1)

  Kata ulang suku kata awal. Dalam bentuk perulangan macam ini, vokal dari suku kata awal mengalami pelemahan bergeser ke posisi tengah menjadi ê (pepet). Contoh:

  tangga tanaman pohon laki luhur tatangga tatanaman popohon lalaki luluhur tetangga tetanaman pepohonan lelaki leluhur

  (2) Kata ulang seluruh kata dasar. Bentuk kata ulang terjadi dengan mengulang seluruh unsur dasar secara utuh. Kata ulang seperti ini biasa disebut kata

  ulang utuh .

  Contoh:

  buku buku-buku bangku bangku-bangku rumah rumah-rumah pedagang pedagang-pedagang rumah sakit rumah sakit-rumah sakit pasangan pasangan-pasangan

  (3) Kata ulang yang terjadi atas seluruh suku kata, tetapi pada salah satu unsur kata ulang tersebut mengalami perubahan bunyi fonem. Kata ulang semacam ini biasa disebut kata ulang salin suara atau kata ulang berubah bunyi .

  Contoh:

  gerak gerak-gerak gerak-gerik sayur sayur-sayur sayur-mayur balik balik-balik bolak-balik porak porak-porak porak-parik

  (4) Kata ulang yang mendapat imbuhan atau kata ulang berimbuhan.

  Contoh:

  anak anak-anakan main main-mainan rajin serajin-rajinnya kuda kuda-kudaan gila tergila-gila

  Makna Kata Ulang Sesuai dengan fungsi perulangan dalam pembentukan jenis kata, makna struktural kata ulang menurut Keraf (1978) adalah sebagai berikut.

  (1) Perulangan mengandung makna banyak yang tak tentu. Perhatikan contoh berikut: Kuda-kuda itu berkejaran di padang rumput.

  • Buku-buku yang dibelikan kemarin telah dibaca. -
  • Pohon-pohonan perlu dijaga kelestariannya. (banyak dan bermacam- macam pohon)

  • Daun-daunan yang ada dipekarangan sekolah sudah menumpuk.
  • Ibu membeli sayur-sayuran di pasar. (banyak dan bermacam-macam sayur)
  • Harga buah-buahan sekarang sangat murah. (banyak dan bermacam- macam buah)
  • Anak itu senang bermain kuda-kudaan. (menyerupai atau tiruan kuda) - Mereka sedang bermain pengantin-pengantinan di pekarangan rumah.
  • Perilakunya kebarat-baratan sehingga tidak disenangi oleh teman- temanya.
  • Sifatnya masih kekanak-kanakan.
  • Mukanya kemerah-merahan. (5) Menyatakan makna intensitas. Makna intensitas terdiri dari:
  • Pukullah kuat-kuat.
  • Anak itu belajar sebaik-baiknya.
  • Burung itu terbang setinggi-tingginya.
  • Agar tidak terlambat, ia berjalan secepat-cepatnya. (b) intensitas kuantitatif, contohnya:
  • Kuda-kuda itu berlari kencang.
  • Anak-anak bermain bola di pekarangan sekolah.
  • Ayah membawa buah-buahan dari Malang.
  • Rumah-rumah di kampung itu tertata dengan rapi.

  Unit 4

  (2) Perulangan mengandung makna bermacam-macam.

  Contoh:

  (banyak dan bermacam-macam daun)

  (3) Makna lain yang dapat diturunkan dari suatu kata ulang adalah menyerupai atau tiruan dari sesuatu.

  Contoh:

  (menyerupai atau tiruan pengantin) - Andi berteriak kegirangan setelah dibelikan ayam-ayaman. (menyerupai atau tiruan ayam)

  (4) Mengandung makna agak atau melemahkan ari.

  Contoh:

  (a) intensitas kualitatif, contohnya:

  (c) Intensitas frekuentatif. Contoh: - Ia mengeleng-gelengkan kepalanya.

  • Anak itu menyanyi sambil memukul-mukul meja. -

  Ia mondar-mandir saja sejak tadi.

  (6) Perulangan pada kata kerja mengandung makna saling atau pekerjaan yang berbalasan.

  Contoh:

  • Kita harus tolong-menolong. Tentara sedang tembak-menembak dengan seru. - Mereka tendang-menendang dan tinju-meninju saat sedang berkelahi. - Saat pertama kali bertemu mereka bersalam-salaman lalu berpeluk-
  • dengan eratnya.

  pelukan (7) Perulangan pada kata bilangan mengandung makna kolektif.

  Contoh:

  • Anak-anak berbaris dua-dua sebelum masuk kelas.

Rangkuman

  Morfologi merupakan bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata. Sedangkan morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil.

  Dalam bahasa Indonesia dikenal adanya morfem yang disebut satuan

  

non-gramatis . Satuan ini belum mengandung makna tersendiri, karena itu, tidak

  dapat langsung membentuk kalimat. Untuk membentuk kalimat, maka satuan nongramatis seperti me- dan –kan harus digabung dengan satuan gramatis lain. Morfem semacam ini disebut: “tambahan”, “imbuhan”, atau “afiks”. Morfem dalam bahasa Indonesia berdasarkan bentuknya ada dua macam yaitu: (1) morfem bebas, dan (2) morfem terikat.

  Morfem bebas adalah morfem yang mempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kalimat. Morfem terikat merupakan morfem yang belum mengandung arti, maka morfem ini belum mempunyai potensi sebagai kata. Untuk membentuk kata, morfem ini harus digabung dengan morfem bebas.

  Morfem terikat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yakni morfem terikat morfologis dan morfem terikat sintaksis. Morfem terikat morfologis yakni morfem yang terikat pada sebuah morfem dasar. Morfem ini meliputi prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks. Sedangkan morfem terikat sintaksis adalah morfem dasar yang tidak mampu berdiri sendiri sebagai kata, misalnya dan, yang, dari, di dan sebagainya. Proses perulangan atau reduplikasi adalah pengulangan bentuk, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam menentukan bentuk dasar kata ulang adalah:

  (1) Pengulangan pada umumnya tidak mengubah jenis kata. (2)

  Bentuk dasar dapat berdiri sendiri sebagai kata yang terdapat dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar.

  Berdasarkan macamnya, bentuk perulangan dalam bahasa Indonesia terdiri atas empat bentuk, yaitu: (1) Kata ulang suku kata awal. (2) Kata ulang seluruh kata dasar kata ulang utuh. (3) Kata ulang salin suara atau kata ulang berubah bunyi. (4) Kata ulang yang mendapat imbuhan atau kata ulang berimbuhan.

  Sesuai dengan fungsi perulangan dalam pembentukan jenis kata, makna struktural kata ulang adalah: (1) Mengandung makna banyak yang tak tentu. (2) Mengandung makna bermacam-macam. (3) Mengandung makna menyerupai atau tiruan dari sesuatu. (4) Mengandung makna agak atau melemahkan arti. (5) Menyatakan makna intensitas. Makna intensitas terdiri dari: (a) intensitas kualitatif, (b) intensitas kuantitatif, dan (c) intensitas frekuentatif. (6)

  Perulangan pada kata kerja mengandung makna saling atau pekerjaan yang berbalasan. (7) Perulangan pada kata bilangan mengandung makna kolektif.

  Unit 4

Tes Formatif 2

  A. perjuangan B. bertemu C. berlalu

  D. mandi 7. Contoh kalimat yang didalamnya terdapat morfem terikat sintaksis adalah ...

  C. telah

  B. dia

  D. bantuan 6. Yang tidak termasuk morfem bebas adalah ...kecuali: A. pergi

  C. ketua

  A. tua-tua B. tertua

  D. permintaan 5. Kata berimbuhan yang bermorfem dasar tua, terdapat pada kata ...

  Pilih salah satu jawaban yang paling tepat dari beberapa alternatif jawaban yang disediakan!

  1. Bagian dari tata bahasa, yang membahas tentang bentuk-bentuk kata adalah pengertian ...

  A. kemudian B. pengemudi C. perawan

  B. sintaksis C. morfem D. morfologi 3. Kata berikut yang di dalamnya terdapat satuan non-gramatis, adalah ...

  A. semantik

  D. morfologi 2. Satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil, pengertian dari ...

  C. morfem

  B. sintaksis

  A. semantik

  D. kelelawar 4. Morfem dasar yang bersifat terikat, terdapat pada kata ...

  Unit 4 A.


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1618 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 417 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 377 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 237 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 345 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 488 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 429 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 277 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 446 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 511 23