PRINSIP DASAR HUKUM POLITIK ISLAM DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

PRINSIP DASAR HUKUM POLITIK ISLAM DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN
MUTIARA FAHMI
Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Ar-Raniry
Email: mutiara_fahmi@ar-raniry.ac.id & mutiara_fahmi@yahoo.com

Abstrak: Kajian ini bertujuan merumuskan prinsip dasar hukum politik Islam menurut perspektif
Al-Quran mengingat hukum politik Islam (fiqh siyasah) adalah hukum yang terus berkembang
dengan cepat dan dinamis, Perkembangan ini memerlukan pengetahuan tentang prinsip-prinsip
dasar apa yang dirumuskan para ulama dalam bidang siyasah sehingga perkembangan hukum
politik Islam tidak lari dari rel dan norma standar yang telah disepakati. Menurut Islam, mekanisme
operasional pemerintahan dan ketatanegaran mengacu pada prinsip-prinsip syari’ah yang
bersumber dari Al-Quran dan Hadis. Prinsip-prinsip negara dalam Islam tersebut ada yang berupa
prinsip-prinsip dasar yang mengacu pada teks-teks syari’ah yang jelas dan tegas, dan ada pula
prinsip-prinsip tambahan yang merupakan kesimpulan dan termasuk ke dalam fiqh siyasah atau
Hukum ketatanegaraan dalam Islam. Prinsip-prinsip hukum politik Islam yang telah diuraikan oleh
para pakar politik Islam dalam berbagai referensi sangat variatif, dalam kajian ini prinsip-prinsip
siyasah dan penyelenggaraan negara dalam Alquran dapat diformulasikan tujuh prinsip dasar
hukum politik Islam. yaitu : 1). Prinsip kedaulatan; 2). Prinsip keadilan; 3). Prinsip musyawarah dan
Ijma’; 4). Prinsip persamaan; 5). Prinsip hak dan kewajiban negara dan rakyat; 6). Prinsip amar
ma’ruf nahi munkar.
Kata kunci: Prinsip Dasar, Politik Islam

Abstract: The principle is a norm or value that is agreed universally. The basic principles of the
electoral law is needed in order to run the state administration system in Islam which is very
dynamic and moves quickly.This study attempted to formulate some basic principles of the laws of
political Islam from the perspective of the Quran which is the law of political Islam (fiqh siyasah) is a
law that continues to grow rapidly and dynamically, This development requires a knowledge of the
basic principles of what defined the scholars in the field siyasah so that the legal development of
political Islam does not out of the track and norms that have been agreed upon, both in terms of
theory and application.According to Islam, the operating mechanism of the government and
constitutional refers to Shari'ah principles which is derived from the Quran and Hadits. The
principles of the Islamic state in any of these are basic principles that refer to the clear and
unequivocal texts of Shari'ah, and there are additional principles that is conclution and included to
fiqh siyasah or Islamic constitutional law.Legal principles of political Islam that has been described
by experts on political Islam in various references are very varied, but the study to the principles
siyasah and administration of the state in the Qur'an can be formulated seven basic principles of the
electoral law of Islam. namely: 1). The principle of sovereignty; 2). The principle of justice; 3). The
principle of syura and consensus'; 4). The principle of equality; 5). The principle of the rights and
obligations of the state and the people; 6). The principle of amar ma’ruf nahi munkar.
Keywords: Basic Principles, Islamic Political

47

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

1.

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

PENDAHULUAN
Hukum Islam atau sering dikenal dengan fiqh adalah hukum yang sangat dinamis. Sesuai

dengan makna fiqh yang berarti pemahaman atas teks dengan metode ijtihad maka sudah
sepatutnya fiqh berkembang dengan cepat seiring perkembangan peradaban manusia. Sebab teks
itu sendiri baik alquran maupun hadis sudah paripurna dan tidak dimungkinkan adanya
penambahan. Yang mungkin dilakukan hanyalah interpretasi atas teks itu sendiri mengikuti
prinsip dan syarat yang telah disepakati para fuqaha baik dalam bentuk konsesus ulama (ijma’)
maupun fatwa pribadi ahli (ijtihad).
Istilah ilmu politik( science politique) pertama kali digunakan oleh Jean Bodin di Eropa pada
tahun 1576, kemudian Thomas Fitzherbrt dan Jeremi Bentham pada tahun 1606. Akan tetapi
istilah politik yang dimaksud adalah ilmu negara sebagaimana tertulis dalam kaya-karya sarjana
Eropa. Dilihat dari sistemnya, politik adalah suatu konsep yang menfokuskan pada basis dan
penentuan serta siapa yang akan menjadi sumber otoritas Negara, dan kepada siapa
pemerintahan dipertanggungjawabkan dan bentuk tanggung jawab seperti apa yang harus buat.
Politik secara umum diartikan dengan cara atau taktik untuk mencapai satu tujuan. Politik secara
umum berhubungan dengan berbagai cara dalam pencapaian tujuan hidup manusia. Sedangkan
secara khusus penekanannya kepada kekuasaan dan pemerintahan.
Dalam literatur Islam, Hukum Politik Islam atau sering disebut dengan Fiqh
Siyasah/Siyasah Syar’iyyah adalah bagian dari fiqh muamalah yang sangat dinamis dan
berkembang secara cepat. Menariknya, banyak yang tidak sadar bahwa ijma’ pertama yang terjadi
dalam sejarah fiqh para sahabat justru dalam bidang fiqh siyasah bukan fiqh ibadah atau lainnya.
Sebelum ilmu fiqh dan kaedah-kaedah ushul fiqh disusun pada abad kedua hijriyah, para khulafa
al-rasyidin dan sahabat yang lain bukan hanya menyadari pertingnya arti kepemimpinan dan
pemerintahan dalam Islam, tetapi langsung menerapkannya dalam dunia nyata hanya beberapa
saat sepeninggalnya rasulullah saw.
Atas dasar ini, Harun nasution menyatakan bahwa sejarah politik dan ketatanegaraan
merupakan studi yang penting dalam Islam. Karena sejarah Islam pada hakikatnya adalah sejarah
negara yang corak dan bentuknya berubah menurut perkembangan zaman.1 Penulis buku Teori
Politik Islam Dhiyauddin Rais juga menegaskan bahwa penyelenggaraan negara dengan
menjalankan hukum Islam adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan karena itu merupakan
____________
1Ahmad

Sukardja, Piagam Madinah dan UUD 1945, Kajian Perbandingan Tentang Dasar Hidup Bersama
dalam Masyarakat Yang Majemuk, (Jakarta: UI Press), 1995, h. v

48

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

esensi agama Islam sepanjang sejarah politiknya. Penerapan syariat Islam dan penyiapan segala
bentuk sistem aturan maupun lembaga yang mendukungnya adalah bagian dari memelihara
agama dan umat (

‫ا‬

‫و‬

‫ا‬

) serta demi merealisasikan kemashlahatan umum.2

Oleh karena hukum politik Islam terus berkembang dengan cepat dan dinamis, maka
sangat diperlukan pengetahuan tentang prinsip-prinsip dasar apa saja yang dirumuskan para
ulama dalam bidang siyasah sehingga perkembangan hukum politik Islam tidak lari dari rel dan
norma standar yang telah disepakati, baik dalam teori maupun penerapannya. Namun sebelum
masuk dalam pembahasan prinsip dasar hukum politik Islam, akan dijelaskan terlebih dahulu
beberapa penjelasan istilah sebagai pengantar.
Dalam term politik Islam, Politik itu identik dengan siyasah, yang secara kebahasaan
artinya mengatur. Kata ini diambil dari akar kata “sasa-yasusu”,yang berarti mengemudikan,
mengendalikan mengatur dan sebagainya.3 Al Qaradhawy dalam bukunya Al Siyasah al Sya’iyyah
menyebutkan dua bentuk makna siyasah menurut ulama, yaitu arti umum dan arti khusus. Secara
umum siyasah berarti pengaturan berbagai urusan manusia dengan syari’at agama Islam. Secara
khusus siyasah bermakna Kebijakan dan aturan yang dikeluarkan oleh penguasa guna mengatasi
suatu mafsadat yang timbul atau sebagai solusi bagi suatu keadaan tertentu.4 Sementara Ahmad
Fathi Bahansi mendefinisikan Siyasah Syar’iyyah dengan Pengaturan kemaslahatan manusia
berdasarkan syara’.5
Berikut adalah beberapa definisi siyasah syar’iyyah (hukum politik Islam) menurut
berbagai ahli: 6
1. Menurut Ibnu Nujaim, siyasah syariyyah adalah: “Suatu tindakan atau kebijakan yang
dilakukan seorang penguasa demi kemaslahatan yang dipandangnya baik, meskipun
belum ada dalil/argumentasi yang terperinci yang mengaturnya.”
2. Menurut Ibnu ‘Aqil al Hanbali, siyasah syariyyah adalah: “Suatu tindakan atau kebijakan
yang membawa umat manusia lebih dekat kepada kemaslahatan dan menjauhkan
____________
Muhammad Dhiyauddin Ar Rais, Al Islam wa al Khilafah fi al ‘Asr al Hadis –Naqd Kitab al Islam wa Ushul al
Hukm-, (Kairo: Dar el Turats) cet ke I,Thn. 1972, h. 240
3 Ibnu Mandhur Jamaluddin Muhammad bin Mukrim, Lisaan al Arab, jilid 7, (Kairo: Dar al Shadir), 2003, h.
300-301
4 Dr. Akram Kassab, Al Siyasah al Syar’iyyah, Mabadi’ wa Mafahim, Dhawabith wa Mashadir, Makalah Jurnal
Online International Union for Muslem Scholars (IUMS) dari website http://iumsonline.org/ar/2/b9/ diakses
pada tanggal 28 Desember 2016.
5 Ahmad Fathi Bahansi, Al Siyasah al Jinayah fi al Syari’ah al Islamiyah, (Dar al Arubah), h. 61
6 Lihat: Dr. Akram Kassab, Al Siyasah al Syar’iyyah, Mabadi’ wa Mafahim, Dhawabith wa Mashadir, Makalah
Jurnal Online International Union for Muslem Scholars (IUMS) dari website http://iumsonline.org/ar/2/b9/
diakses pada tanggal 28 Desember 2016.
2

49

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

mereka dari kerusakan, meskipun tidak ada hadis yang mengaturnya atau wahyu yang
turun (terkait hal itu).”
3. Menurut Abdurrahman Taj, siyasah syariyyah adalah: “Suatu nama bagi kumpulan
aturan dan prilaku dalam mengatur urusan ketatanegaraan Islam di bidang
pemerintahan, perundang-undangan, peradilan, dan semua kekuasaan eksekutif,
administratif, serta aturan hubungan luar negeri yang terkait dengan bangsa-bangsa
lain.”
4. Menurut Abdul wahab Khallaf, siyasah syariyyah adalah: “Suatu ilmu yang membahas
tentang urusan ketatanegaraan Islam dari sisi aturan perundang-undangan dan sistim
yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, meskipun tidak ada dalil khusus mengenai
hal itu.”
5. Menurut Yusuf Al Qaradhawi, siyasah syariyyah adalah: “Politik yang bersendikan
kaedah-kaedah, aturan dan bimbingan syara’.”
6. Menurut Abdul ‘Al ‘Atwah, siyasah syariyyah adalah: “Kumpulan hukum dan sistem
dalam mengatur urusan umat Islam dengan mempertimbangkan kesesuaiannya
dengan ruh syari’at, menjalankannya berdasarkan kaedah-kaedah yang umum, serta
merealisasikannya sesuai dengan tujuan masyarakat.”
7. Menurut Sa’ad bin Mathar al ‘Utaibi, siyasah syariyyah adalah: “Setiap kebijakan apa
saja yang ditetapkan oleh para pemimpin (ulil amri), berupa aturan-aturan serta teknis
prosedur pelaksanaan yang terkait dengan kemaslahatan, meski tidak ada dalil syara’
yang khusus terkait hal itu, selama tidak bertentangan dengan syari’at.”

Dari berbagai definisi tentang siyasah dapat disimpulkan bahwa hukum politik Islam
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. berorientasi kemaslahat individu dan umat
2. berlandaskan ideologi agama
3. memiliki aspek tanggungjawab akhirat
4. adanya seni dan kreasi penguasa dalam pengaturan pemerintahan maupun
perundang-undangan meski tidak diatur secara eksplisit dalam Alquran dan Hadis
5. Siyasah yang diinginkan adalah yang bersumber dari syariat agama dan bukan politik
atas dasar kepentingan, kezaliman maupun kecurangan

50

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

Garis besar Fiqh Siyasah meliputi Siyasah Dusturiyyah (konstitusi dan ketatanegaraan),
Siyasah Dauliyyah/Kharijiyah (hubungan luar negeri dan diplomasi internasional), Siyasah
Maliyyah (Sistem moneter negara). Siyasah Idariyah (hukum administrasi negara), Siyasah
Harbiyah (hukum perang), dan Siyasah Qadhaiyyah (hukum peradilan).7 Namun kadangkala ada
pakar yang merincinya hingga menjadi delapan bidang siyasah seperti TM. Hasbi Ash Shiddiqy
dalam buku Pengatar Siyasah Syar’iyyah.
Dalam konsep Islam, kedaulatan tertinggi adalah Allah swt. Ekspresi kekuasaan dan
kehendak Allah tertuang dalam Al-Qur'an dan Al sunnah. Oleh karena itu penguasa tidaklah
memiliki kekuasaan mutlak, ia hanyalah wakil (khalifah) Allah dimuka bumi, yang berfungsi
untuk merealisasikan hukum Allah dalam kehidupan nyata. Disamping itu, kekuasaan adalah
amanah Allah yang sementara diberikan kepada orang-orang yang berhak memilikinya.
Pemegang amanah haruslah menggunakan kekuasaan itu dengan sebaik-baiknya. Sesuai dengan
prinsip-prinsip dasar yang telah ditetapkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Tulisan ini ingin
menemukan jawaban terhadap sebuah pertanyaan mendasar “Bagaimana Prinsip Dasar Hukum
Politik Islam dalam perpektif Al-Quran?”

2. PEMBAHASAN
Menurut Islam, mekanisme operasional pemerintahan dan ketatanegaran mengacu pada
prinsip-prinsip syari’ah. Islam sebagai landasan etika dan moral direalisir dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Endang Saifuddin Anshari (1986:167) mengatakan,
“Negara adalah organisasi (organ, badan atau alat) bangsa untuk mencapai tujuannya.” Oleh
karena itu, bagi setiap Muslim negara adalah alat untuk merealisasikan kedudukannya sebagai
hamba Allah dan mengaktualisasikan fungsinya sebagai khalifah Allah, untuk mencapai keridhaan
Allah, kesejahteraan duniawi dan ukhrawi, serta menjadi rahmat bagi sesama manusia dan alam
lingkungannya.
Secara konseptual di kalangan ilmuwan dan pemikir politik Islam era klasik, menurut
Mumtaz Ahmad dalam bukunya State, Politics, and Islam, menekankan tiga ciri penting sebuah
negara dalam perspektif Islam, yakni adanya masyarakat Muslim (ummah), hukum Islam
(syari’ah), dan kepemimpinan masyarakat Muslim (khilafah).

____________
7

Lihat: Al Mawardy, dalam Al Ahkam al Sulthaniyah, Ibnu Taimiyah dalam Al Siyasah al Syar’iyyah, dan
Abdul Wahab Khallaf dalam Al Siyasah al Syar’iyyah.

51

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

Prinsip-prinsip negara dalam Islam tersebut ada yang berupa prinsip-prinsip dasar yang
mengacu pada teks-teks syari’ah yang jelas dan tegas. Selain itu, ada prinsip-prinsip tambahan
yang merupakan kesimpulan dan termasuk ke dalam fiqh.
Para pakar fiqh siyasah berbeda pandangan tentang berapa jumlah prinsip dasar hukum
politik Islam. Abdul Qadir Audah dalam bukunya Al-A’mal al-Kamilah: Al-Islam wa Audha’una alQanuniyah (1994: 211-223) mensistematiskan Prinsip-prinsip politik dalam Islam sebagai
berikut: 1) Persamaan yang komplit; 2) Keadilan yang merata; 3) Kemerdekaan dalam pengertian
yang sangat luas; 4) Persaudaraan; 5) Persatuan; 6) Gotong royong (saling membantu); 7)
Membasmi pelanggaran hukum; 8) Menyebarkan sifat-sifat utama; 9) Menerima dan
mempergunakan hak milik yang dianugerahkan Tuhan; 10) Meratakan kekayaan kepada seluruh
rakyat, tidak boleh menimbunnya; 11) Berbuat kebajikan dan saling menyantuni; dan 12)
Memegang teguh prinsip musyawarah).
Menurut Muhammad Salim ‘Awwa dalam bukunya Fi an Nidham al Siyasi li Ad Daulah al
Islamiyah ada lima hal Prinsip Dasar Konstitusi Islam : 8
1. Syura (QS. 42 : 38, QS. 3 : 159)
2. Keadilan (QS. 4:135, QS. 5:8, QS. 16:90, QS. 6:160)
3. Kebebasan (an nahl 125, Yunus: 99, An Naml: 64)
4. Persamaan (QS. 9 :13)
5. Pertanggungjawaban Pemimpin dan Ketaatan Umat (QS. 4 : 58, 14-13, QS. 4 : 59)
Dalam buku M. Tahir Azhary, Negara Hukum, Suatu Studi tentang Prinsip-prinsipnya
Dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasi Pada Periode Madinah dan Masa Kini, menyebutkan
bahwa dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah terkandung sembilan prinsip negara hukum,
yakni:
(1) Prinsip kekuasaan sebagai amanah (QS. 4 : 58, 14-13);
(2) Prinsip musyawarah (QS. 42 : 38, QS. 3 : 159);
(3) Prinsip keadilan (QS. 4:135, QS. 5:8, QS. 16:90, QS. 6:160);
(4) Prinsip persamaan (QS. 9 :13);
(5) Prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia (QS. 17 : 70, QS.
17 : 33, QS. 5 : 32, QS. 88 : 21, QS. 88 : 22, QS. 50 : 45, QS. 4 : 32);

____________
8

Lihat: Muhammad Salim ‘Awwa, Fi an Nidham al Siyasi li Ad Daulah al Islamiyah, (Kairo: Dar as Syuruq),
Cetekan ketiga 2008, h. 181, 207, 212, 226, dan 230.

52

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

(6) Prinsip pengadilan bebas (dialog Mu’adz dengan Rasulullah SAW ketika akan diangkat
menjadi hakim di Yaman);
(7) Prinsip perdamaian (QS. 2 : 194, QS. 2 : 190, QS. 8 : 61 –62);
(8) Prinsip kesejahteraan (QS. 34 : 15);
(9) Prinsip ketaatan rakyat (QS. 4 : 59)

H. A. Djazuli dalam bukunya Fiqh Siyasah membagi nilai-nilai dasar fiqh siyasah syar’iyyah
kepada 13 nilai dari Alquran dan 5 nilai dari Hadis. Sementara Suyuthi Pulungan membagi
prinsip-prinsip siyasah dalam hidup bermasyarakat dan bernegara kepada 16 prinsip dari
Alquran dan 11 prinsip dari Hadis.9 Kesemua nilai dan prinsip yang mereka utarakan pada
dasarnya sama dengan prinsip-prinsip yang telah sebutkan oleh pakar sebelumnya dengan sedikit
penambahan sesuai dengan dalil yang dikemukakan.
Meskipun para pakar politik dan hukum Islam yang menguraikan prinsip-prinsip negara
dalam syari’at Islam sangat bervariasi. Namun dalam kajian penulis terhadap prinsip-prinsip
siyasah dan penyelenggaraan negara dalam Alquran dapat diformulasikan bahwa prinsip-prinsip
dasar hukum politik Islam adalah : Prinsip kedaulatan; Prinsip keadilan; Prinsip musyawarah dan
Ijma’; Prinsip persamaan; Prinsip hak dan kewajiban negara dan rakyat; Prinsip amar ma’ruf nahi
munkar.

Pertama, Prinsip kedaulatan, yakni kekuasaan tertinggi dalam suatu negara. Kedaulatan
yang mutlak dan legal adalah milik Allah. Kedaulatan tersebut dipraktekkan dan diamanahkan
kepada manusia selaku khalifah di muka bumi.
Prinsip kedaulatan atau al Hukmiyah dapat ditemukan dalam Al Quran Surat Yusuf:40:
Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) Nama-nama yang
kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu
keteranganpun tentang Nama-nama itu. keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah
memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Prinsip kedaulatan juga terdapat dalam Al Quran Surat Al A’raf: 54, dan Al An’am: 57.
____________
9

Lihat: Prof. H. A. Djazuli dalam Fiqh Siyasah dan Dr. J. Suyuthi Pulungan, MA dalam Fiqh Siyasah: Ajaran,
Sejarah dan Pemikiran.

53

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

Dalam kajian teori konstitusi maupun tata negara, kata kedaulatan merupakan satu kata
kunci yang selalu muncul dan menjadi perdebatan sepanjang sejarah. Kedaulatan dalam
pandangan klasik tidak dapat dipisahkan dari konsep negara. Tanpa kedaulatan apa yang
dinamakan negara itu tidak ada, karena tidak berjiwa.10
Jean Bodin (1530-1596) adalah tokoh pertama di dunia yang membahas tentang ide
kedaulatan sebagai sebuah konsep kedaulatan tertinggi. Dalam karya monumentalnya Six Livres
de la Republique (1575) ia menjelaskan bahwa Majesty atau Sovereignty (kedaulatan) menurutnya
adalah

..the most high, absolute, and perpectual power over the citizens and subjects in a

commonweale.11
Dari pernyataan Bodin diatas, Jimly Asshiddiqie menjelaskan tiga hal; Pertama, kedaulatan
itu bersifat (1) mutlak, (2) abadi, (3) utuh, tunggal, dan tak terbagi-bagi atau terpecah-pecah, dan
(4) bersifat tertinggi, dalam artian tidak terderivasikan dari kekuasaan yang lebih tinggi. Kedua,
kekuasaan berdaulat dalam Negara itu berkaitan dengan fungsi legislatif, artinya Negara
berdaulat membuat hukum atau undang-undang dan atau menghapuskan hukum. Ketiga, hukum
itu sendiri merupakan perintah dari yang berdaulat tersebut yang pada masa itu dikenal dengan
Raja.12
Abu al-A’la al-Maududi menyebut kedaulatan dengan “asas pertama dalam teori politik
Islam.”

Al-Maududi

dalam

bukunya It’s

Meaning

and

Message (1976:

147-148)

menegaskan,”Kepercayaan terhadap keesaan (tauhid) dan kedaulatan Allah adalah landasan dari
sistem sosial dan moral yang dibawa oleh Rasul Allah. Kepercayaan itulah yang merupakan satusatunya titik awal dari filsafat politik dalam Islam.”
Kedaulatan ini terletak di dalam kehendak-Nya seperti yang dapat dipahami dari syari’ah.
Syari’ah sebagai sumber dan kedaulatan yang aktual dan konstitusi ideal, tidak boleh dilanggar.
Sedang masyarakat Muslim, yang diwakili oleh konsensus rakyat (ijma’ al-ummah), memiliki
kedaulatan dan hak untuk mengatur diri sendiri.
Sepanjang sejarah pemikiran hukum dan politik, umat manusia telah mengenal lima teori
atau ajaran tentang kedaulatan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, yaitu 1.) kedaulatan
Tuhan, 2.) kedaulatan Raja, 3.) kedaulatan Negara, 4.) kedaulatan rakyat, dan 5.) teori kedaulatan
hukum. Pada kurun waktu tertentu manusia cendrung mengidealkan satu teori diatas keempat
____________
Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstituaslisme Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika), cet II, th. 2011, h.101
Ibid.
12 Ibid.
10
11

54

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

teori lainnya, tetapi pada waktu lain teori yang sebelumnya dianggap ideal ditinggalkan dan
digantikan dengan teori baru.
Perubahan ini logis mengingat teori itu datang dari manusia yang notabene lemah dan
tidak sempurna. Pemikiran manusia hanya mampu berpikir sebatas kepentingan, atau situasi dan
kondisi

zamannya. Sementara Islam sebagai agama terakhir datang dengan syariat yang

paripurna dan menjadi solusi bagi manusia dalam setiap permasalahan hidup mereka, tidak
hanya untuk akhirat tapi juga di dunia sebagai ladang tempat bercocok tanam bagi alam akhirat.

Kedua, Prinsip Keadilan. Prinsip keadilan ditemukan dalam Al Quran Surat An Nisa:58
dan 135
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya
kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.
Sebagaimana prinsip ini juga didapati dalam surat As Syura:15. Prinsip keadilan adalah
kunci utama penyelenggaraan negara. Keadilan dalam hukum menghendaki setiap warga negara
sama kedudukannya didepan hukum. Ketika Rasulullah memulai membangun negara Madinah, ia
memulainya dengan membangun komitmen bersama dengan semua elemen masyarakat yang
hidup di Madinah dari berbagai suku dan agama. Prinsip keadilan dan persamaan dapat
ditemukan dalam pasal 13, 15, 16, 22, 23, 24, 37, dan 40 dari Piagam Madinah.13
Ketiga, Prinsip musyawarah dan Ijma’. Prinsip musyawarah ditemukan dalam Al Quran
Surat Al Imran: 159:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.14 kemudian apabila kamu telah

____________
13Ahmad

Sukardja, Piagam Madinah dan UUD 1945, Kajian Perbandingan Tentang Dasar Hidup Bersama
dalam Masyarakat Yang Majemuk, (Jakarta: UI Press), 1995, h. 78
14Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal keduniaan lainnya, seperti urusan politik, ekonomi,
kemasyarakatan dan lain-lainnya kecuali pada persoalan yang sudah ada nash secara qath’i maka
musyawarah tidak dapat dilakukan sesuai kaedah
‫رة ا‬
‫ا‬

55

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Prinsip musyawarah juga didapati dalam surat As Syura: 38. Syura dan Ijma’adalah proses
pengambilan keputusan dalam semua urusan kemasyarakatan yang dilakukan melalui konsensus
dan konsultasi dengan semua pihak. Kepemimpinan negara dan pemerintahan harus
ditegakkan berdasarkan persetujuan rakyat melalui pemilihan secara adil, jujur, dan amanah.
Sebuah pemerintahan atau sebuah otoritas yang ditegakkan dengan cara-cara otoriter dan tiran
adalah tidak sesuai dengan prinsip Islam.
Jika merujuk pada ayat Alquran diatas tidak ada isyarat khusus kepada siapa musyawarah
dilakukan, dan juga bagaimana pola dan teknisnya. Oleh karenanya Rusjdy Ali Muhammad
berpandangan bahwa syura dapat dilakukan dengan seluruh rakyat baik yang pro maupun kontra
dengan rezim penguasa. Syura tidak terbatas pada satu kelompok masyarakat tertentu
sebagaimana pandangan Rasyid Ridha15 dan Ja’far al Shadiq dalam tafsir mereka. Sebab ketika
hati pemimpin keras, tidak mau menerima saran dan bermusyawarah, maka dipastikan rakyat
akan lari dari penguasa tersebut. Lari itu dapat berbentuk sikap tidak lagi memilih pemimpin atau
partai tersebut dalam pemilu yang akan datang atau bentuk lainnya.16
Keempat, Prinsip persamaan. Prinsip persamaan ditemukan dalam Al Quran Surat Al
Hujarat: 10:
Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat.

Dan Surat Al Hujarat:13:
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah

____________
15

Lihat Rasyid Ridha, Tafsir Al manar, Juz IV, 1960, h. 126
Prof. Dr. Rusjdy Ali Muhammad, Managemen Konflik dalam Kearifan Khazanah Ajaran Islam, Suatu
Pengantar dalam buku Mutiara Fahmi Razali, Pergolakan Aceh dalam Perspektif Syariat, (Banda Aceh:
Yayasan Pena), Cetakan kedua, 2014, h. x-xi
16

56

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi
Maha Mengenal.
Ayat diatas jelas membuktikan pengakuan Islam terhadap adanya pluralitas dalam sosial
budaya masyarakat. Namun Islam tidak mentolerir paham pluralisme jika yang dimaksud adalah
kebenaran relatifitas seluruh ajaran agama atau semua agama adalah sama. Karena Allah
menutup ayat tersebut dengan kalimat Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa. Artinya parameter kebaikan dan kebenaran intinya
adalah Agama bukan akal apalagi perasaan.
Warga negara yang non-Muslim—memiliki hak-hak sipil yang sama. Karena negara ketika
itu adalah negara ideologis, maka tokoh-tokoh pengambilan keputusan yang memiliki posisi
kepemimpinan dan otoritas (ulu al-amr), mereka harus sanggup menjunjung tinggi syari’ah.
Dalam sejarah politik Islam, prinsip dan kerangka kerja konstitusional pemerintahan seperti ini,
termaktub dalam Konstitusi Madinah atau “Piagam Madinah” pada era kepemimpinan Rasulullah
di Madinah, yang mengayomi masyarakat yang plural.
Kalaupun ada tuduhan yang menyatakan Islam tidak menghormati prinsip persamaan
dalam bernegara karena tidak memberi ruang bagi non muslim untuk menjadi pemimpin misalnya-, maka itu pada dasarnya bukan karena Islam tidak menghormati hak minoritas, akan
tetapi lebih dikarenakan tidak terpenuhinya syarat dan kualifikasi yang telah ditetapkan sebagai
pemimpin. Hal seperti ini lumrah ditemukan dalam semua sistem aturan bernegara di dunia
moderen.
Kelima, hak dan kewajiban negara dan rakyat. Prinsip hak dan kewajiban negara dan
rakyat ditemukan dalam Al Quran Surat An Nisa: 59
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di
antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya.
Sebagaimana juga prinsip ini ditemukan dalam surat At Taubah: 41, Al Maidah:2, Al
Imran:110.

57

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

Semua warga negara dijamin hak-hak dasar tertentu. Menurut Subhi Mahmassani dalam
bukunya Arkan Huquq al-Insan, beberapa hak warga negara yang perlu dilindungi adalah: jaminan
terhadap keamanan pribadi, harga diri dan harta benda, kemerdekaan untuk mengeluarkan
pendapat dan berkumpul, hak untuk mendapatkan pelayanan hukum secara adil tanpa
diskriminasi, hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, pelayanan medis dan kesehatan,
serta keamanan untuk melakukan aktifitas-aktifitas ekonomi.
Prinsip hak-hak dasar manusia sangat banyak dijumpai dalam Al Quran, seperti hak untuk
hidup, hak untuk memiliki, hak kebebasan beragama, hak memelihara kehormatan manusia, hak
kontrol sosial, hak mendapatkan kehidupan yang layak, dan lain-lain. Diantaranya dalam surat Al
Isra:33, Al Baqarah: 256, Al Baqarah: 188, Al An Nur: 27, dll.
Sementara Prinsip kewarganegaraan ditemukan dalam Al Quran Surat Al Anfal: 72 dimana
asas kewarganegaraan dalam Islam dilandasi atas keimanan dan bukan atas dasar yang sempit
seperti suku, ras, atau bangsa.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan
jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan
pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindungmelindungi dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak
ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan
tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama,
Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada
Perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
Ayat-ayat diatas tidak hanya mengandung pesan moral maupun nilai-nilai mulia yang
wajib diikuti oleh setiap muslim, akan tetapi juga mengandung tafsir politik yang sangat tinggi
dan mendalam menyangkut prinsip dasar konstitusi negara dalam sistem politik Islam. Ayat-ayat
ini menegaskan bahwa sesungguhnya Al Quran mengandung nilai-nilai yang bersifat universal
dan komprehensif yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi
sekaligus berbicara tentang sistem bermuamalah dengan sesama manusia dalam kerangka
kehidupan yang majmuk dalam sebuah institusi negara. dimana umat Islam sebagai objek hukum
dituntut untuk mengamalkannya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Keenam, Prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Prinsip ini ditemukan dalam Alquran surat Al
Imran 104
58

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf17 dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang
yang beruntung.

Amar ma’ruf nahi munkar adalah sebuah mekanisme check and balancing dalam sistem
politik Islam. Sistem ini terlembaga dalam Ahlul Hilli wal ‘aqdi (parlemen), wilayat al Hisbah serta
wilayat al Qadha’. Seorang pemimpin dalam pandangan mayoritas Islam (sunni) bukan seorang
yang suci (ma’shum), oleh karenanya sangat mungkin untuk dikritisi dan dinasehati.
Filosofi pemimpin negara juga mirip dengan filosofi seorang imam dalam salat yang dapat
ditegur oleh makmumnya dengan cara-cara yang telah diatur. Sikap paling ekstrim yang bisa
dilakukan oleh makmum ketika tidak lagi ridha dengan imam adalah memfaraq diri dari jama’ah
tanpa merusak kesatuan salat jamaah itu sendiri. Tidak ada istilah penggantian imam ditengah
salat. Semua persoalan termasuk mengganti imam hanya bisa dilakukan selesai salam dan
membentuk jamaah baru dengan imam baru. Begitu juga kiasannya dalam system pergantian
kepemimpinan dalam Islam. Sikap oposisi, kritik membangun dan saran kepada pemerintah
dibenarkan selama tidak memprovokasi kesatuan umat dan bangsa.
Sebegitu pentingnya amar ma’ruf nahi munkar, Islam bahkan menjadikannya sebagai
salah satu tujuan bernegara sebagaimana Alquran surat Al Hajj: 41
(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya
mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

Peran amar ma’ruf nahi munkar tidak hanya diemban oleh para lelaki mukmin tetapi
Islam juga membebankannya kepada para wanita mukminah. Firman Allah dalam surat At
Taubah: 71

____________
17Ma'ruf

adalah segala perbuatan yang dianggap baik oleh syara’ serta mendekatkan kita kepada Allah,
sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang dianggap jelek oleh syara’ serta menjauhkan kita dari padaNya.

59

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf,
mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada
Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Atas dasar ayat ini sebagian ulama berpandangan bahwa wanita dapat bekerja sebagai
anggota parlemen karena fungsi parlemen pada hakikatnya adalah melakukan amar ma’ruf nahi
munkar atau check and balancing bagi penguasa.

3. PENUTUP
Prinsip adalah suatu norma atau nilai yang bersifat universal dan disepakati semua orang.
Prinsip-prinsip dasar hukum politik sangat diperlukan dalam rangka menjalankan sistem
ketatanegaraan dalam Islam yang sangat dinamis dan bergerak dengan cepat.
Kesemua prinsip dan nilai hukum politik Islam yang telah dibahas diatas telah terealisir pada
periode negara Madinah dibawah kepemimpinan Rasulullah saw. sebagaimana terpatri dalam
butir-butir pasal Piagam Madinah sebagai suatu kontrak perjanjian sosial untuk menetapkan
persamaan hak dan kewajiban diantara semua komunitas. Muatan piagam ini menggambarkan
hubungan antara Islam dan ketatanegaraan dan undang-undang yang diletakkan oleh rasul saw,
untuk menata kehidupan sosial-politik masyarakat Madinah yang majemuk.
Prinsip-prinsip tersebut sangat representatif untuk masa itu. Bahkan untuk dewasa ini
pun relevan karena nilai-nilainya universal. Sebab prinsip-prinsip tersebut telah menjadi
tuntunan berbagai bangsa di dunia, agar tegak dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, yaitu
tatanan masyarakat yang demokratis, adil, dan damai. Karena pada hakikatnya implementasi
prinsip-prinsip tersebut merupakan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia, dan akan
menumbuhkan sikap demokratis dalam berbagai aspek kehidupan
Selain prinsip-prinsip dasar negara yang konstitusinya berdasar syari’ah, ada juga prinsipprinsip tambahan yang merupakan kesimpulan dan termasuk ke dalam bidang fikih
siyasah (hukum ketatanegaraan dalam Islam). Prinsip-prinsip tambahan tersebut

adalah

mengenai pembagian fungsi-fungsi pemerintahan yaitu hubungan antara Badan Legislatif,
Eksekutif, dan Yudikatif.
60

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

Dalam hubungan ketiga badan (lembaga negara) tersebut prinsip-prinsip berkonsultasi
(syura) mesti dilaksanakan di dalam riset, perencanaan, menciptakan undang-undang dan
menjaga nilai-nilai syari’ah dengan memperhatikan otoritas (kewenangan) yang dimiliki masingmasing lembaga tersebut. Hasil dari syura tersebut kemudian menjadi kosesus bersama (Ijma’)
yang ketika diformilkan akan menjadi aturan perundang-undangan maupun hukum positif.

61

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
Ahmad Fathi Bahansi, Al Siyasah al Jinayah fi al Syari’ah al Islamiyah, (Dar al Arubah)

Al Mawardy, Al Ahkam al Sulthaniyah, (Beirut: Dar al Fikr) t.th
Abdul Wahab Khallaf, Al Siyasah al Syar’iyyah fi Syuun ad dusturiyah wal kharijiah wal Maliyah,
(Kuwait: Dar Al Qalam), 1988
Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan UUD 1945, Kajian Perbandingan Tentang Dasar Hidup
Bersama dalam Masyarakat Yang Majemuk, (Jakarta: UI Press), 1995
Prof. H. A. Djazuli, Fiqh Siyasah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group), 2003
Ibnu Mandhur Jamaluddin Muhammad bin Mukrim, Lisaan al Arab, jilid 7, (Kairo: Dar al Shadir),
2003
Ibnu Taimiyah, As Siyasah As Syar’iyyah fi Ishlah ar Ra’i war ra’iyyah, (Beirut: Dar al Kutub al
Arabiyah), 1966
Dr. J. Suyuthi Pulungan, MA dalam Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran. (Jakarta: Raja
Grafindo Persada), cet ke IV, thn. 1999
Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstituaslisme Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika), cet II, 2011

Muhammad Dhiyauddin Ar Rais, Al Islam wa al Khilafah fi al ‘Asr al Hadis –Naqd Kitab al Islam wa
Ushul al Hukm-, (Kairo: Dar el Turats) cet ke I, 1972
Muhammad Salim ‘Awwa, Fi an Nidham al Siyasi li Ad Daulah al Islamiyah, (Kairo: Dar as Syuruq),
Cetekan ketiga, 2008
Muhammad Siddiq Armia, Studi Epistemologi Perundang-Undangan, Banda Aceh: Teratai
Publisher, 2011.
Muhammad Siddiq Armia, Perkembangan Pemikiran Teori Ilmu Hukum, Jakarta: Pradnya
Paramita, 2009.
Rasyid Ridha, Tafsir Al manar, Juz IV, 1960

62

Petita, Volume 2, Nomor 1, April 2017

http://jurnal.ar.raniry.ac.id/index.php/petita/index
ISSN-P: 2502-8006 ISSN-E: 2549-8274

Prof. Dr. Rusjdy Ali Muhammad, Managemen Konflik dalam Kearifan Khazanah Ajaran Islam, Suatu
Pengantar dalam buku Mutiara Fahmi Razali, Pergolakan Aceh dalam Perspektif Syariat, (Banda
Aceh: Yayasan Pena), Cetakan kedua, 2014
Sumber Website:

Dr. Akram Kassab, Al Siyasah al Syar’iyyah, Mabadi’ wa Mafahim, Dhawabith wa Mashadir, Makalah
Jurnal Online International Union for Muslem Scholars (IUMS) dari website
http://iumsonline.org/ar/2/b9/ diakses pada tanggal 28 Desember 2016.

63

Dokumen yang terkait

Dokumen baru