PENGERTIAN ILMU KALAM DAN RUANG LINGKUP

PENGERTIAN ILMU KALAM DAN RUANG LINGKUP ILMU
KALAM
Oleh: Irfan S, Rizal, Saeful, Zihan m.
Revalution12345@gmail.com
STAI Al-Aulia
ABSTRAK
Secara harfiah kata kalam artinya pembicaraan tetapi bukan dalam arti
pembicaraan sehari hari (omongan) melainkan pembicaraan yang bernalar dan
logika (akal). Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membicarakan bagaimana
menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan (agama islam) dengan buktibukti yang yakin. Ilmu Kalam membahas soal soal keimanan yang sering juga
disebut Ilmu Aqaid atau Ilmu Ushuluddin. Pokok bahasan ilmu tauhid
memfokuskan pada keesaan Allah baik dzat maupun keesaan-Nya. Ilmu kalam
juga disebut dengan Ilmu Aqidah atau Ilmu Ushuludin. Ilmu kalam dinamakan
ilmu ushuluddin karena membahas tentang pokok-pokok kepercayaan dalam
Islam spt : ketauhidan, kenabian, hari akhir dll. Hal ini dikarenakan banyak
membicarakan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kepercayaankepercayaan dan dasar-dasar ajaran agama. ruang lingkup Ilmu Kalam
diantaranya ; membahas tentang segala yang berhubungan dengan Allah SWT,
Nabi-nabi danRasul, alam ghoib, serta segala sesuatu yang hanya bisa diketahui
lewat dalil naqli yaitu qur’an dan hadits. Metode yang digunakan dalam makalah
ini menggunakan metode deskriftif analitik. Sumber data makalah ini, penulis
mengutip dari jurnal.
Kata Kunci: Pengertian Ilmu Kalam dan Ruang Lingkup Ilmu Kalam
PENDAHULUAN
Pengertian konsep dikemukan oleh beberapa pakar. Konsep didefinisikan
sebagai suatu arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang
sama. Konsep diartikan juga sebagai suatu abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang
mempermudah komunikasi antar manusia dan memungkinkan manusia untuk
berpikir. Pengertian konsep yang lain adalah sesuatu yang umum atau representasi
intelektual yang abstrak dari situasi. Konsep ilmu dapat dipahami sebagai rencana
atau ide serta gambaran pemikiran kita menjalankan pendidikan.
Setelah konsep kita buat maka akan terbentuknya sistem, sistem sendiri
merupakan sebuah susunan aturan yang dibuat. Yang mana sebagai alat untuk
mempermudah proses pendidik dalam menuntut ilmu. Selain itu sitem keilmuan
yang kita ketahui adalah tahapan serta proses ketikan kita menuntut ilmu. Sistem
pendidikan yang kita ketahui yaitu Tk, Sd, Sltp/Mts, Slta/Aliyah/Smk. Sitem
tersebut telah dibuat oleh pemerintah, dan kita sebagai peserta didik yang akan
menjalaninya. Sistem yang dibuat oleh pemerintah merupakan sebuah tahapan

peserta didik dalam proses mencapai titik akhir prasarjana. Namun masih banyak
sistem lain yang dibentuk oleh pemerintah.
Pendidikan merupakan suatu proses untuk mencapai sebuah kehidupan
yang bermanfaat, karena pendidikan merupakan usaha yang sengaja dan
terorganisir untuk mengkonstruk dan membantu perkembangan potensi manusia,
agar nanti mengejahwantahkan spesifikasi individu dan universalnya bagi
kehidupan sosial. Sasaran pendidikan adalah manusia. Sebuah term yang sangat
spesifik bagi manusia, karena dengan pendidikan diharapkan manusia agar
mempunyai sifat humanisme yang menjadikan makhluk yang sempurna dan yang
mengoptimalkan otak.
Pendidikan adalah proses dua arah yang melibatkan pemberian
pengetahuan sebagai upaya pemberian petunjuk dan peringatan, serta sekaligus
upaya perolehan pengetahuan untuk mendapatkan ketakwaan, bukan menonjolkan
diri dan keangkuhan (intelektual).pendidikan dapat pula diartikan usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan.
Sistem pendidikan atau sistem ilmu adalah kemampuan untuk menyusun
gambar tentang dampak yang akan ditimbulkan oleh kecenderungankecenderungan yang sedang berjalan dalam sebuah akademi. Untuk mencapai
hasil yang diinginginkan oleh pendidik. Hasil yang akan kita capai sesuai dengan
sejauh mana kita menjalankan sisem yang ada. Jika semua sistem berjalan dengan
baik maka kita akan sampai pada hasil yang kita inginkan.


KONSEP ILMU
Pengertian Pendidikan
Pengertian pendidikan menjadi hal yang sebaiknya kita juga perlu ketahui
untuk menambah wawasan kita terhadal hal yang selalu berkaitan dengan
kehidupan kita sehari – hari, karena kita selalu melewati proses pendidikan maka
oleh sebab itulah kita sebagai pelaku harus paham juga apa pengertian pendidikan
itu sendiri.
Pengertian pendidikan bukan hanya untuk di ketahui belaka melainkan
dengan memahaminya lalu berusaha untuk menjalankan perosesnya berdasarkan
apa yang memang tertuang dalam pengertian pendidikan tersebut. Kita terlalu
sering melihat berbagai kejadian nyata yang mencoreng nama baik dari
pendidikan tersebut mungkin salah satu penyebabnya adalah dikarenakan mereka
tidak menguasai nilai – nilai apa yang di artikan dalam kata pendidikan itu sendiri.
Berkaitan dengan Pengertian Pendidikan para Ahli telah menyampaikan
pendapat mereka masing – masing tentang apa itu penertian pendidikan, namun
sebelum kependapat para Ahli kita akan bahas tentang kata Pendidikan itu sendiri.
Kata Pendidikan berdasarkan KBI berasal dari kata ‘didik’ dan kemudian
mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses
atau cara atau perbuatan mendidik. Kata Pendidikan Juga berasal dari Bahasa
yunani kuno yaitu dari kata “ Pedagogi “ kata dasarnya “ Paid “ yang berartikan “
Anak “ dan Juga “ kata Ogogos “ artinya “ membimbing ”. dari beberapa kata

tersebut maka kita simpulkan kata pedagos dalam bahasa yunani adalah Ilmu yang
mempelajari tentang seni mendidik Anak .
Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata
laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
upaya pengajaran dan pelatihan yang sesuai prosedur pendidikan itu sendiri.
Pendidikan dapat pula diartikan usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi
pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih
mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah
satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati
generasi.
Pendidikan diperlukan bagi manusia adalah sebagai media transformasi
pengetahuan manusia, serta sebagai usaha mengembangkan pengetahuan tersebut.
Dalam Muqaddimahnya Ibnu Khuldun mengungkapkan sebagai mana dikutip M.
Sholehuddin dalam telaahnya terhadap Muqaddimah Ibnu Khuldun bahwa:
Untuk mentransformasikan, melestarikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang diciptakan dan dirumuskan oleh generasi masa lalu kepada
generasi selanjutnya, maka diperlukan penyelenggaraan pendidikan. Alasannya
adalah pada asalnya manusia adalah Makhluk yang bodoh (tidak memiliki
pengetahuan ketika dilahirkan kedunia). Akan tetapi, ia dapat menjadi pandai
melalui upaya pendidikan . oleh karena itulah, Ibnu Khuldun menyatakan inna alinsan jahilun bi al-dzat, ’alimunn bi al-kasz (sesungguhnya manusia pada
dasarnya adalah bodoh ia dapat pandai melalui usaha)
Dari kutipan tersebut dapat disimpul pada dasarnya kita tidak bisa
melakukan apapun, dan tidak tahu apapun. Karna adanya konsep pendidikan yang
membuat kita bisa memahami lebih jauh lagi batasan dan kemampuan pola fikir
kita. Mengembangkan apa yang kita sanggupi dari proses pendidikan dengan
menjlankan konsep yang telah di rencanakan.
Para ahli filsafat pendidikan, menyatakan bahwa dalam merumuskan
pengertian pendidikan sebenarnya sangat tergantung kepada pandangan terhadap
manusia, hakikat, sifat-sifat atau karakteristik dan tujuan hidup manusia itu
sendiri. Perumusan pendidikan tergantung kepada pandangan hidupnya. Apakah
manusia dilihat sebagai kesatuan badan dan jasmani, jiwa dan roh atau jasmani
dan rohani? Pertanyaan-pertanyaan diatas, memerlukan jawaban yang
menentukan pandangan terhadap hakikat dan tujuan pendidikan, dan dari sini juga
sebagai pangkal perbedaan rumusan pendidikan atau timbulnya aliran-aliran
pendidikan seperti, pendidikan Islam, Kristen, Liberal, progresif atau pragmatis,
komunis, demokratis dan lain-lain.
Konsep dasar Pendidikan
Terdapat beberapa pandangan mengenai pengertian pendidikan, seperti
yang lazim digunakan dalam praktik pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai
berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan
bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik

terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama. Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada
lima unsur utama pendidikan, yaitu 1). Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan,
pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar. 2). Ada pendidik,
pembimbing atau penolong. 3). Ada yang dididik, atau si terdidik. 4). Adanya
dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut. 5). Dalam usaha itu tentu ada alat-alat
yang dipergunakan(Ahmad D. Marimba, 1962:19).
Menurut Ahmad Tafsir definisi tersebut dinilai sebagai definisi yang belum
mencakup semua yang dikenal sebagai pendidikan. Definisi tersebut cukup
memadai bila pendidikan dibatasi hanya pada pengaruh seseorang kepada orang
lain, dengan sengaja (sadar). Pendidikan oleh diri sendiri dan oleh lingkungan,
nampak belum mencakup ke dalam batasan pendidikan dalam pandangan A.D.
Marimba tersebut. Namun demikian Ahmad Tafsir lebih lanjut mengatakan
bahwapengertian mana yang akan anda ambil, boleh saja, terserah kepada anda
(Ahmad Tafsir, 1994:25).
Formulasi pendidikan selanjutnya seperti yang diajukan oleh tokoh
pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan adalah usaha yang
dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan
kebahagiaan manusia. Pendidikan tidak hanya bersifat pelaku pembangunan tetapi
meremerupakan perjuangan pula. Pendidikan berarti memelihara hidup tumbuh
kearah kemajuan, tidak boleh melanjutkan keadaan kemana menurut alam
kemarin. Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasas peradaban, yakni
memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan (Ki Hajar Dewantara,
1962:166).
Rumusan pendidikan ini nampak memberikan kesan dinamis, modern dan
progressif. Pendidikan tidak boleh hanya memberikan bekal untuk membangun,
tetapi seberapa jauh didikan yang diberikan itu dapat berguna untuk menunjang
kemajuan suatu bangsa. Semangat progresif yang terkandung dalam rumusan
pendidikan K.H. Dewantara tersebut dapat dikaitkan dengan apa yang menjadi
pesan Khalifah Umar Ibn al-Khattab yang mengatakan anak-anak masa sekarang
adalah generasi muda di masa yang akan datang. Dunia dan kehidupan yang akan
mereka hadapi berbeda dengan dunia yang sekarang. Untuk itu apa yang diberikan
kepada anak didik harus memperkirakan kemungkinan-kemungkinan relevansi
dan kegunaannya di masa datang. Dengan cara demikian eksistensi dan fungsi
lulusan anak didik tetap terpelihara dengan baik.


Konsep Pendidikan Karakter
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi
dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional,
logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung
jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya,
jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut,
setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin,
antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien,
menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah,
cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki

kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu
bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi
perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan
perilaku).
Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang
berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama,
lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan
mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran,
emosi dan motivasinya (perasaannya). Pendidikan karakter adalah suatu sistem
penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen
pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilainilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of
all dimensions of school life to foster optimal character development”. Dalam
pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus
dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata
pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler,
pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga
sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu
perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus
berkarakter.1


Konsep Pendidikan Menurut John Dewey
John Dewey memperkenalkan konsep pendidikan progresif. Dewey
membangun konsep tersebut dengan beberapa landasan filosofis. Pertama teori
evolusi, Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles
Darwin (1809-1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan
suatu proses, dimulai dari tingkatan terendah dan berkembang maju dan
meningkat. Hidup tidak statis, melainkan bersifat dinamis. All is in the making,
semuanya dalam perkembangan. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi
dan kepercaya-annya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan
lingkungan masyarakat, khusunya malalui pendidikan. Menurut Dewey, dunia ini
penciptaannya belum selesai.
Segala sesuatu berubah, tumbuh, berkembang, tidak ada batas, tidak statis,
dan tidak ada finalnya. Bahkan, hukum moral pun berubah, berkembang menjadi
sempurna.. Teori ini juga digunakan untuk melihat suatu kebenaran. Bagi Dewey
kebenaran tidak akan pernah mencapai titik final artinya tidak ada kebenaran yang
absolut, yang ada adalah kebenaran sementara sebelum kebenaran lainnya datang.
Kedua, pragmatisme sebuah aliran filsafat yang lahir dari peradaban Barat,
khususnya Amerika yang dipelopori oleh Pierce, William James dan John Dewey
sendiri. Pragmatisme adalah paham filsafat yang menitik beratkan nilai
pengetahuan berdasarkan kegunaan praktisnya. kegunaan praktis artinya sesuatu
yang bisa memenuhi kepentingankepentingan subjektif individu. Sehingga
1 Syahroni , “Konsep Pendidikan Karakter” Diakses dari.
http://lampung.kemenag.go.id/file/file/subbagHukmas/wjkn1352768153.pdf Pada tanggal 9 Maret
2016

kebenaran dalam panda-ngan pragmatisme harus dikaitkan dengan konse-kuensikonsekuensinya (hasil atau kegunaannya). Suatu ide dikatakan benar apabila dapat
diuji secara objektif-empirik dan bermanfaat atau bernilai praktis bagi
kepentingan manusia serta memberikan kepuasan.
Pragmatisme John Dewey menekankan bahwa manusia adalah makhluk
yang bebas, merdeka, kreatif serta dinamis, Manusia memiliki kemampuan untuk
bekerjasama, dengannya ia membangun masyarakat. Pragmatisme mempunyai
keyakinan bahwa bahwa manusia mempunyai kemampuan-kemampuan yang
wajar, karena itu ia sanggup menghadapi serta mengatasi masalahmasalah yang
bersifat menekan atau mengancam diri dan lingkungnnya. Ketiga, psikologi
behaviorisme. Suatu kajian tentang kajian manusia yang diamati melalui
prilakuprilaku empirik manusia. Menurut paham ini prilaku atau perbuatan
manusia ditentukan oleh stimulus dari luar diri manusia, sehingga paham ini,
seperti diktakan oleh Erich From, tidak mempercayai adanya unsur kejiwaan yang
susunan dan ketentuannya berdiri sendiri. Menurut Dewey, pendidikan merupakan
all one with growing ; it has no end beyond it self, sehingga tidak akan pernah
permanen tapi selalu evolutif. Selain selalu on going process, Model pendidikan
partisipatif bertumpu pada nilai-nilai demokratis, partisipasi, pluralisme dan
liberalisme.
Sehingga di Amerika yang merupakan penganut filsafat Dewey, falsafah
pendi-dikannya lebih mementingkan kebebasan indidu. Karenanya setiap individu
dibimbing untuk mencapai kejayaan yang setinggi-tingginya dalam ilmu
pengetahuan dan kekayaan yang membawanya kesenangan hidup. Keberhasilan
pendidikan bagi Dewey terletak pada partisipasi setiap individu yang didukung
oleh kesadaran umum masyarakat. Konsep pendidikan yang diusung oleh John
Dewey ini dikenal dengan pendidikan progresifisme yaitu pendidikan yang
dijalankan secara demokratis. Pada tataran praktisnya, dalam penyelenggaraan
pendidikan di sekolah, peserta didik harus berperan aktif dalam proses belajar
ataupun dalam menentukan materi pelajaran. Fungsi pendidikan lebih sebagai
fasilitator yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk
berekspresi, berdialog, berdiskusi, berpikir, berkeinginan dan bertujuan.
Selain itu peserta didik juga harus diberikan kebebasan dalam menentukan
suatu kebenaran yang diperoleh melalui hasil pengalaman dan eksperimen.
Pendidik tidak bisa memaksakan kebenaran sepihak kepada peserta didik tanpa
terlebih dahulu dilakukan eksperimen atau observasi oleh peseta didik. Sehingga
kebenaran yang dihasilkan benar-benar berdasarkan kesepakatan dari peserta
didik. mengaktifkan peserta didik pada proses pembelajaran yang berlangsung.
Siswa dituntut untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional, keterampilan,
kreatifitas. Dengan cara melibatkan siswa secara langsung ke dalam proses
belajar. Sehingga nantinya peserta didik dapat secara mandiri mencari problem
solving dari masalah yang ia hadapi. Pola pemikiran Dewey tentang pendidikan
sejalan dengan konsepsi instrumentalisme yang dibangunnya, dimana konsepkonsep dasar pengalaman (experience), pertumbuhan (growth), eksperimen
(experiment), dan transaksi (transaction) memiliki kedekatan yang akrab,
sehingga Dewey mendeskrip-sikan filosofi sebagai teori umum pendidikan dan

pendidikan sebagai laboran yang di dalamnya perbedaan-perbedaan filosofis
menjadi kongkrit dan diuji.
Pendidikan dan filosofi saling membutuhkan satu sama lain; dimana tanpa
filosofi, pendidikan kering akan arahan inteligensi. Sebaliknya, tanpa pendidikan,
filosofi kehilangan implementasi praktis dan menjadi mandul. Pengalaman
merupakan basis dari keduanya, dimana pendidikan didefinisikan sebagai
rekonstruksi dan reorganisasi dari pengalaman yang memberi tambahan pada arti
pengalaman, dan yang meningkatkan kemampuan untuk mengarahkan
pengalaman berikutnya. Mendefinisikan hal itu menjadi lebih singkat, sebagai
suatu rekonstruksi yang terus menerus dari pengalaman dan dalam Democracy
and Education, Dewey mendefinisikan pendidikan sebagai penuntun secara
intelegensia terhadap pengembangan tentang kemungkinan-kemungkinan yang
melekat pada kebiasaan pengalaman. Jika dielaborasi lebih lanjut, pemikiran di
atas dapat diartikan bahwa untuk dapat tertarik pada sesuatu hendaknya terlibat
dalam transaksi yakni dengan mengalami.
Tesis ini berlaku baik pada anak maupun berbagai bentuk organisme lain.
Pengalaman adalah suatu proses yang bergerak terus menerus dari suatu tahap ke
tahapan rekonstruksi sebagaimana problem baru mendorong inteligensi untuk
memformulasikan usulan-usulan baru untuk bertindak. Pada prinsipnya,
pengembangan pengala-man datang melalui interaksi berbagai aktivitas (means)
di mana pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses sosial. Makna sosial
dalam pendidikan merupakan penekanan khusus dalam pemikiran pendidikan
Dewey dan menentukan pandangan keduanya, anak di sekolah dan sekolah di
masyarakat. Dalam banyak tulisannya, Dewey sering memberikan kritik terhadap
sistem persekolahan tradisional, yang dapat dijelaskan di sini bahwa dalam
sekolah tradisional, pusat perhatian berada diluar anak, apakah itu guru, buku, teks
dan sebagainya. Kondisi ini merupakan kegagalan untuk melihat anak sebagai
makhluk hidup yang tumbuh dalam pengalaman dan di mana dalam kapasitasnya
untuk mengontrol pengalaman dalam transaksinya dengan lingkungan.
Hasilnya pokok-persoalan terisolasi dari anak dan hubungan menjadi
formal, simbolik, statis, mati; sekolah menjadi tempat untuk mendengarkan, untuk
instruksi massal, dan selanjutnya terpisah dari hidup. Walaupun Dewey seorang
Pragmatis, namun ia lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah
instrumentalisme. Experience (pengalaman) adalah salah satu kunci dalam filsafat
instrumentalisme. Filsafat harus berpijak pada pengalaman penyelidikan serta
pengolahan pengalaman itu secara aktif-kritis. Dengan demikian filsafat akan
dapat menyusun system norma-norma dan nilainilai.2


Pemikiran PendidikanAnak Menurut Intelektual Muslim
Pendidikan anak dalam Islam pada dasarnya adalah bagian dari pendidikan
Islam. Pendidikan Islam itu sendiri mempunyai sesuatu yang diharapkan terwujud
2 Tita rostitawati, “Konsep Pendidikan John Dewey” Diakses dari http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&ved=0ahUKEwi6wM_i9tDLAhWRBI4KHc6OBV
UQFghKMAU&url=http%3A%2F%2Fwww.journal.iaingorontalo.ac.id%2Findex.php%2Ftjmpi
%2Farticle%2Fview%2F239%2F179&usg=AFQjCNE8mykz83Skl6sAJk0E5ELhHUdTQ&bvm=bv.117218890,d.c2E&cad=rja. Pada tanggal 9 Maret 2016.

setelah orang mengalami pendidikan Islam secara keseluruhan, yaitu kepribadian
seseorang yang membuatnya menjadi "insan kamil."Dengan pola taqwa insan
kamil artiya dapat hidup dan berkembang secara wajar.dan normal karena
takwanya kepada Allah SWT. Dari sini dapat diambil pengertian bahwa
pendidikan anak dalam Islam diharapkan menghasilkan manusia yang berguna
bagi dirinya dan masyarakat, serta senang dan gemar mengamalkan dan
mengembangkan ajaran Islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan
manusia sesamanya, dapat mengambil manfaat yang semakin meningkat dan alam
semesta ini juga untuk kepentingan hidup di dunia dan di akhirat nanti.
Selanjutnya, pendidikan anak dalam Islam dapat dilihat dari pandangan
Menurut imam al-Ghazali anak dilahirkan tanpa dipengaruhi oleh sifat-sifat
kereditas kecuali hanya sedikit sekali, karena faktor pendidikan, lingkungan dan
masyarakat merupakan faktor yang paling kuat mempengaruhi sifat-sifat anak.
Pendapat beliau ini sejalan dengan pendapat para ahli psikologi (behaviorisme)
yang mengingatkan adanya pengaruh faktor keturunan ini secara mutlak.
Pandangan ini mirip dengan pandangan yang menyatakan bahwa anak lahir ke
dalam kehidupan dengan akal pikirannya bagaikan lembaran putih yang bersih
dari ukiran atau gambar-gambar (seperti teori tabula rasa, JohnLocke).
Oleh karena itu, dalam pandangannya seorang anak tergantung kepada, kedua
orang tua yang mendidiknya hati seorang anak itu bersih, murni, laksana permata
yang amat berharga, sederhana dan bersih dari gambaran apapun (Ali al-Jumbulati
Abdul Futuh al-Thwaisi,1994:147). Jelaslah pendapat beliau bahwa anak adalah
dilahirkan dalam fitrah yang netral, dimana orang tua keduanya yang membentuk
agamanya kapan saja dan di mana saja. Hal ini dapat kita buktikan bahwa anak
berwatak buruk karena belajar dari keburukan penlaku lingkungan di mana hidup
serta cara-cara bergaul dengan lingkungan itu, juga dengan kebiasaan-kebiasaan
yang berlaku di lingkungan tersebut. Sama halnya dengan tubuh anak waktu lahir
dalam keadaan kurang sempurna, kemudian menjadi sempurna dankuat melalui
pertumbuhan dan pendidikan serta makanannya.3
Sistem Pendidikan.
Komponen pokok dalam sistem pendidikan yaitu:
Proses Pendidikan :
Masukan Sumber

Tujuan pendidik untuk membimbing aktifitas sistem

Peserta didik yang menjalani proses belajar menjadi bidikan utama sistem

Pengelolaan, untuk mengkoordinasikan, mengarahkan, dan mengevaluasi
sistem

Struktur dan jadwal, untuk mengatur dan mengelompokkan peserta didik
menurut tujuan tertentu

Isi, esensi dari apa yang hendak dipelajari oleh pseserta didik

Pendidik, yang membantu menetapkan esensi dan persiapan proses belajar

Fasilitas, tempat terselenggaranya proses pendidikan


3 Muhamad Isnaini, “Konsep Pendidikan anak” Diakses dari
http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/konseppendidikananak.pdf. Pada tanggal 9 Maret
2016.




Teknologi, semua teknik yang dipakai dalam kerja sistem
Pengawasan mutu, peraturan penerimaan peserta didik sasaran, pengujian,
standar

Hasil Pendidikan.4

Pengertian Sistem Pendidikan Agama Islam.
Secara etimologi, kata sistem pendidikan agama Islam terdiri atas “sistem”,
“pendidikan” dan “agama Islam”Roestijah N.K dengan mengutip Banathy Bela
mendefinisikan sistem sebagai suatu himpunan dari objekobjekyang disatukan
oleh bebarapa bentuk interaksi yang teratur atau saling bergantungan.Dalam
Kamus Umum Bahasa Indonesia, sistem ialah “Seperangkat unsur yang secara
teratur saling berkaitan sehingga membantu suatu totalitas” Sedangkan menurut
Oemar Hamalik, sistem merupakan seperangkat komponen atau unsur-unsur yang
saling terintregasi untuk mencapai suatu tujuan. Zahara Idris juga mengemukakan
bahwa sistem adalah suatu kesatuanyang terdiri atas komponen-komponen atau
elemen-elemen atau unsur-unsur sebagai sumber-sumber yang mempunyai
hubungan fungsional yang teratur, tidak sekedar acak, yang saling membantu
untuk mencapai suatu hasil.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sistem
merupakan seperangkat komponen yang salingberkaitan untuk mencapai suatu
tujuan. Sebagai contoh, tubuhmanusia merupakan suatu sistem yang terdiri atas
komponenkomponen,antara lain,jaringan daging, otak, urat-urat, darah,syaraf,
tulang-tulang. Setiap komponen itu mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Ada
fungsi satu sama lain saling berkaitan sehingga merupakan satu kesatuan yang
hidup.
Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1984/1985) setiap
sistem mempunya ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Tujuan
2.
Fungsi-fungsi
3.
Komponen-komponen
4.
Interaksi/saling berkaitan
5.
Penggabungan yang menimbulkan jalinan perpaduan
6.
Proses transformasi
7.
Umpan balik untuk koreksi
8.
Daerah batasan dan lingkungan
Sistem pendidikan nasional merupakan komponen pendidikan yang saling
terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional secara
menyeluruh. Komponen pendidikan adalah semua hal yang berkaitan dengan
jalannya proses pendidikan. Jika salah satu komponen tidak ada, proses
pendidikan tidak akan bias dilaksanakan.
Menurut Wiji Suwarno ada lima komponen sistem pendidikan, yaitu:
1. Tujuan.
4 Jurnal “Pendidikan Sebagai Suatu Sistem” Diakses dari
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Drs.%20Hiryanto,%20M.Si./Pendidikan
%20sebagai%20Sistem.pdf. Pada tanggal 9 Maret 2016.

2.

3.
4.

5.



Tujuan pendidikan sesuatu yang ingin dicapai oleh kegiatan pendidikan.
Peserta didik.
peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan
tertentu
Pendidik.
Pendidik adalah anggota masyarakat yang bertugas membimbing, mengajar,
dan atau melatih peserta didik.
Alat pendidikan.
Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja membuat kondisi-kondisi yang
memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi juga mewujudkan
diri sebagaiperbuatan situasi yang membantu tercaoainya tujuan pendidikan.
Lingkungan pendidikan.
Lingkungan pendidikan adalah lingkungan yang melingkupi terjadinya proses
pendidikan. Lingkungan pendidikan meliputi lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, dan masyarakat5

PENUTUP
Ilmu, Teknologi dan Masyarakat setiap saat mengalami perubahan, hal ini
seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi yang terus-menerus
meningkat, mulai dari penemuan yang sederhana sampai dengan teknologi yang
super mutakhir. Kesejajaran perkembangan Ilmu, Teknologi dan Masyarakat
dengan perkembangan pengajaran dimungkinkan akan terjadi keseimbangan
pertumbuhan di masyarakat, baik secara fisik maupun psikis.
Ilmu, Teknologi dan Masyarakat (ITM) merupakan istilah yang diterapkan
sebagai upaya untuk memberikan wawasan kepada peserta didik secara nyata
dalam mengkaji ilmu pengetahuan. Konsep ITM mencakup keseluruhan spektrum
tentang peristiwa-peristiwa kritis dala proses pendidikan, meliputi tujuan,
kurikulum, strategi pembelajaran, evaluasi dan persiapan serta penampilan guru.
Ciri dasar keberadaan ITM adalah lahirnya warga Negara yang berpengetahuan
yang mampu memecahkan masalah-masalah krusial dan mengambil tindakan
secara efisien dan efektif.
Tulisan Pendekatan Konsep Ilmu, Teknologi, dan Masyarakat (ITM) Dalam
Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan sala
satu upaya dalam pembinaan/sebagai dasar/menambah wawasan yang harus
dikuasai/dipunyai bagi seorang guru IPS Tingkat MI dalam proses Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) di lapangan, sesuai dengan peran dan fungsi pendidik
seiring dengan bergesernya paradigma baru dalam bidang pendidikan. Karena
pendidik tidak hanya

5 “Sistem Pendidikan Agama Islam Bagi Narapdana” Diakses dari
http://eprints.walisongo.ac.id/1572/4/093111041_Bab2.pdf. Pada tanggal 9 Maret 2016.

DAFTAR PUSTAKA
Syahroni . “Konsep Pendidikan Karakter”.
http://lampung.kemenag.go.id/file/file/subbagHukmas/wjkn1352768153.pdf Pada
tanggal 9 Maret 2016
2

Rostitawati, Tita. “Konsep Pendidikan John Dewey”
http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&ved=0ahUKEwi6wM_i9tDLAhWR
BI4KHc6OBVUQFghKMAU&url=http%3A%2F
%2Fwww.journal.iaingorontalo.ac.id%2Findex.php%2Ftjmpi%2Farticle%2Fview
%2F239%2F179&usg=AFQjCNE8mykz83Skl6sAJk0E5ELhHUdTQ&bvm=bv.117218890,d.c2E&cad=rja. Pada tanggal 9 Maret 2016.
3

Isnaini, Muhamad.Konsep Pendidikan anak.
http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/konseppendidikananak.pdf. Pada
tanggal 9 Maret 2016.
4

“Pendidikan Sebagai Suatu Sistem”
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Drs.%20Hiryanto,
%20M.Si./Pendidikan%20sebagai%20Sistem.pdf. Pada tanggal 9 Maret 2016.
5

“Sistem Pendidikan Agama Islam Bagi Narapdana”
http://eprints.walisongo.ac.id/1572/4/093111041_Bab2.pdf. Pada tanggal 9 Maret
2016.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru